PT PLN ( PERSERO )
UNIT INDUK DISTRIBUSI JAKARTA RAYA
UNIT PELAKSANA PELAYANAN PELANGGAN CENGKARENG
RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT HIBAH GARDU DISTRIBUSI
( RKS )
NOMOR : 0638/RKS/DIS.01.01/MAN II REN/2023
TANGGAL : 27 November 2023
NAMA PEMOHON : PT PCDC Propco One
KEPERLUAN : PFK Geser Gardu Distribusi
ALAMAT : Jl. Daan Mogot Raya KM.18 No.18
PEKERJAAN : PEMBANGUNAN GARDU DISTRIBUSI OLEH PELANGGAN DENGAN POLA HIBAH
SYARAT UMUM
I. NAMA DAN LOKASI PEKERJAAN
PEKERJAAN : PEMBANGUNAN GARDU DISTRIBUSI OLEH PELANGGAN DENGAN POLA HIBAH
LOKASI : Jl. Daan Mogot Raya KM.18 No.18
II. SIFAT PEKERJAAN
Pekerjaan tersebut diatas dilaksanakan dalam rangka Program Pemasaran (PB/PD) PT PLN (Persero) Distribusi
Jakarta Raya UP3 Cengkareng sesuai surat pelanggan No. EM-ATR-BD-ACM/IV/2023002/v001 tanggal 12 aPRIL
2023 dan surat persetujuan PLN No 0436/AGA.01.01/2023 tanggal 27 April 2023.
III. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan dan segala kegiatan yang diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan pembangunan sesuai dengan
ketentuan-ketentuan yang berlaku, untuk Pekerjaan PEMBANGUNAN GARDU DISTRIBUSI OLEH PELANGGAN
DENGAN POLA HIBAH
IV. ISTILAH DAN PIHAK YANG BERSANGKUTAN
1. PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng
PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng adalah instansi yang menyetujui untuk pelaksanaan pekerjaan
pembangunan Gardu Distribusi oleh pelanggan dengan Pola Hibah dalam hal diwakili oleh Manager.
2. Perencana
Perencana adalah PT PLN (Persero) Distribusi Jakarta Raya UP3 Cengkareng
3. Direksi Pekerjaan
Direksi Pekerjaan adalah wakil PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng, untuk melakukan supervisi pelaksanaan
pekerjaan oleh Pelaksana Pekerjaan.
4. Pemilik Proyek
Pemilik Proyek adalah PT. PCDC Propco One yang mempunyai Proyek dan yang mengajukan kepada PLN
untuk melaksanakan pembangunan Gardu Distribusi oleh pelanggan dengan Pola Hibah
5. Pelaksana pekerjaan
Pelaksana pekerjaan adalah badan usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas (PT), Badan Hukum Milik
Negara (BHMN), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), joint operation (JO), Koperasi, Firma, commanditaire
vennotschap (CV), persekutuan perdata (Maatschap), dan/atau perorangan yang melaksanakan pekerjaan
yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek.
6. Biaya Pekerjaan
Biaya yang timbul akibat pekerjaan antara pemilik Proyek dengan pelaksana pekerjaan.
V. DOKUMEN RKS (RENCANA KERJA DAN SYARAT-SYARAT)
1. Dokumen Rencana Kerja dan Syarat-Syarat (RKS) adalah kumpulan dokumen yang harus dipergunakan
sebagai dasar pelaksanaan Pekerjaan yang terdiri dari semua persyaratan yang diperlukan baik administratif
maupun teknis termasuk keterangan lainnya.
2. Dokumen RKS, terdiri dari antara lain :
A. KETENTUAN UMUM
Pelaksanaan pekerjaan harus didasarkan pada ketentuan-ketentuan dan peraturan-peraturan dibawah
ini yang seterusnya berlaku dan mengikat yaitu:
1. Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) tahun 2000 dan Standar PLN (SPLN)
2. Undang-undang Nomor 18 tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi.
3. Standard Kontruksi PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi Jakarta Raya.
4. Uraian dalam Dokumen RKS beserta gambar-gambar standar konstruksi PLN.
5. Pola Kerja yang ditentukan dan petunjuk-petunjuk tertulis yang diberikan PT PLN (Persero) UP3
Cengkareng/Direksi Lapangan.
6. Peraturan-Peraturan keselamatan kerja dan peraturan-peraturan Pemerintah/Pemda setempat
yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.
7. Pelaksana pekerjaan harus menyelenggarakan atau mengerjakan sesuatu yang memang dan
seharusnya atau menurut pengetahuan harus dilaksanakan, agar pelaksanaan pekerjaan ini dapat
berjalan lancar dan menghasilkan pekerjaan yang baik, tepat waktu serta dapat diterima oleh PLN
UP3 Cengkareng
B. SYARAT-SYARAT ADMINISTRASI
1. Surat Permohonan Penyediaan Tenaga Listrik Oleh pemohon
2. Rekomendasi Sistem (Reksis) oleh PLN
3. Surat Persetujuan Penyediaan Tenaga listrik oleh PLN
4. Surat kesanggupan menyediakan material dan jasa pekerjaan Pembangunan Gardu Distribusi oleh
Pemohon
5. Perjanjian Hibah Guna Pakai Tanah Gardu Dengan Persyaratan:
Badan Hukum (contoh : Perseroan Terbatas) :
a. Sertifikat/ Bukti Kepemilikan Tanah
b. Copy SPPT PBB & bukti pelunasannya
c. Copy KTP yang menandatangani perjanjian pihak yang berhak
d. Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar terbaru perusahaan
e. Copy NPWP
f. Keterangan domisili perusahaan
f. Surat Kuasa Khusus untuk proses pengurusan listrik (apabila diwakilkan)
Perorangan :
a. Sertifikat/ Bukti Kepemilikan Tanah
b. Copy SPPT PBB & bukti pelunasannya
c. Copy KTP & NPWP yang menandatangani perjanjian/ pihak yang berhak;
*) Dipilih salah satu, jika penyambungan baru dibawah naungan suatu PT/Yayasan, mohon
melengkapi sesuai poin persyaratan untuk Badan Hukum.
6. Rencana Kerja dan Syarat (RKS)
7. Jadwal Waktu pelaksanaan.
8. Surat Permohonan Rikmatek
9. BA Rikmatek, dengan lampiran :
- Kwitansi Pembelian Material Asli
- Certificate of Original (COO)
- Certificate of Manufacturure (COM)
- SPM (Surat Penjaminan Mutu)
10. Surat Permohonan Pengawasan Pekerjaan
11. Laporan Pemeriksaan Pekerjaan (LPP)
12. Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan (BAPP)
13. Sertifikat Laik Operasi (SLO) oleh pemohon
14. BA Serah Terima Hibah Fisik, dengan lampiran :
- As Built Drawing
- Foto dokumentasi
- Rincian dan volume material terpasang
15. Penilaian Aktiva Tetap dan Material Hibah dari Tim Appraisal Independent oleh pemohon
16. Akta Hibah Guna pakai diterbitkan Notaris oleh pemohon
17. Bukti pembayaran Pajak terhadap asset yang dihibahkan ditanggung oleh Pemohon
18. Membuat surat pernyataan akan melaksanakan pekerjaan sesuai dengan RKS
C. SYARAT-SYARAT TEKNIS
1. LINGKUP PEKERJAAN.
Pekerjaan meliputi penyelesaian perijinan dari instansi yang berwenang, dan pengadaan serta
pembangunan fisik sampai dengan pengoperasiannya antara lain:
a. Penyelesaian perijinan dari Instansi yang berwenang dan pembangunan fisik sampai dengan
operasi.
b. Pengangkutan bahan dan material beserta Perlengkapannya.
c. Pembangunan pondasi
d. Pembangunan kolom, sloof, balok, dinding, lantai dan atap
e. Pekerjaan pemasangan pintu dan ventilasi
f. Pekerjaan pengecatan dan finishing
g. Pembangunan Instalasi Gardu(Jalur kabel, penerangan dll.)
h. Pekerjaan Instalasi Kubikel, Trafo, PHB TR (hanya untuk Gardu khusus pelanggan)
i. Pengoperasian.
2. PEDOMAN DAN PERATURAN PELAKSANAAN PEKERJAAN.
a. Pekerjaan dilaksanakan sesuai RKS dan lampirannya, serta ketentuan lain yang berlaku (PUIL,
SPLN, Standar Konstruksi PLN, Ketentuan PEMDA / Instansi yang terkait perihal penggalian dan
perbaikan galian).
b. Pola kerja / SOP yang ditentukan dan petunjuk-petunjuk tertulis yang diberikan oleh Pengguna
Barang/Jasa
c. Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan gambar Perencanaan;
d. Mendokumentasikan pelaksanaan Pekerjaan dalam bentuk foto sebelum pelaksanaan, dalam
pelaksanaan dan setelah pelaksanaan (Perbaikan);
e. Menandatangani Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan (BAPP) yang dilaksanakan bersama
antara Pengawas Rekanan dan Pengawas PLN;
f. Melengkapi kebutuhan/perlengkapan pendukung pekerjaan konstruksi seperti rambu-rambu
peringatan dan perlengkapan lain yang dibutuhkan;
g. Melaksanakan perbaikan bekas pekerjaan seperti kondisi semula sebelum pelaksanaan;
h. Melakukan koordinasi dengan lingkungan sekitar untuk memastikan pekerjaan berjalan dengan
lancar.
3. KONSTRUKSI GARDU BETON
Standard lahan untuk pembangunan sipil gardu distribusi yang digunakan saat ini sebagaimana
tersebut pada table dibawah ini :
DIMENSI LAHAN DIMENSI BANGUNAN TRAFO TERPASANG
TYPE GARDU
(CM²) (CM²) (BH)
Khusus 2215 x 600 2215 x 515 1
Ketentuan Standart Pembangunan Sipil gardu distribusi adalah sebagai berikut:
a. Standard ketentuan R ( Right) = kanan adalah manhole sebelah kanan ,dari pintu masuk
gardu distri busi , L (Left) = kiri adalah manhole sebelah kiri termasuk gardu distribusi ST =
Special Type adalah special gardu dengan luas tanah besar / luas.
b. Tinggi bangunan gardu bagian dalam minimal 3 m dari lantai dalam gardu dan harus melihat
peil banjir dilingkungan gardu.
c. Lebar list plang yang terpasang luar gardu minimum = 0,5 m dan panjang disesuaikan dan
pinggir atas manhole diberi besi siku ukuran 50x50x5 mm.
d. Buordest adalah tutup lubang samping atau depan cubicle terbuat dari plat besi 4 mm
( berkembang / kasar ).
e. Pembangunan gardu tembok / beton mempergunakan daak beton untuk itu perlu besi sloop
dengan ukuran besi beton disesuaikan ( 12 inch ).
f. Pemasangan kawat untuk pembumian sistem dan peralatan bersamaan dengan
pembangunan sipilnya sebanyak 3 buah dan dihubungkan paralel dengan nilai tahanan 0,5 -
1 ohm.
g. Saat pemasangan daak dengan beton perlu dilihat kemiringan dari daak tersebut ( sudut >/= 5
derajat ), hal ini untuk menghindari genangan air diatas daak beton.
h. Lubang kabel naik ke PHB minimal sedalam 1,2 meter dan harus diberikan lobang kerja
(manhole) minimal ukuran 0,8 x 0,6 meter
i. Dasar manhole harus dibeton supaya tidak ada rembesan air, setelah kabel 20 kV masuk
kedalam manhole lubang kabel dirapatkan dengan karet atau semen, supaya air tidak
rembes.
j. Pintu gardu terbuat dari plat besi tebal = 3 mm dengan ukuran disesuaikan dengan type gardu
dan kusen terbuat dari besi kanal C dengan ukuran 15 mm.
k. Pintu Gardu Harus dilengkapi dengan Kunci Cyber.
l. Ventilasi untuk sirkulasi udara sebagai pendingin trafo disesuaikan pula dengan type gardu.
m. Ruang dalam gardu beton dilengkapi dengan penerangan dan pemasangan instalasi listrik
tegangan rendah ( 2 buah lampu, sakelar dekat dengan pintu gardu dan stop kontak ).
n. Cat digunakan didalam gardu untuk dinding luar dalam maupun lantai gardu. Untuk di dalam
gardu menggunakan jenis Cat Epoxy.
o. Untuk Warna Luar menggunakan Warna cat gardu pantone 3135c
3.1.1 Ketentuan Ventilasi
Lubang ventilasi diberikan cukup pada dinding dikiri kanan PHB TR/TM dengan luas
ventilasi (jumlah) adalah 1/5 dari luas muka dinding. Karena luasnya, maka perlu
diperhatikan konstruksi ventilasi harus bersirip miring tiap 10 cm (mencegah
masuknya percikan hujan). Pada keadaan khusus (untuk pencegahan masuknya
binatang) dapat saja dilengkapi kasa kawat baja. Pada gardu konsumen khusus yang
dibangun sebagai bagian konstruksi bangunan konsumen tersebut, harus diperhatikan
ruang bebas dan aliran angin yang diperlukan. Untuk kondisi tertentu dapat digunakan
exhaust-fan atau baling-baling ventilasi yang diletakkan di atap gardu.
3.1.2 Ketentuan Ketinggian Muka Lantai
Ketinggian Muka lantai gardu ditentukan minimal 30 cm dari muka air tertinggi yang
mungkin terjadi. Penempatan gardu pada basement bangunan sebaiknya
dihindari.
3.2 Konstruksi Instalasi Gardu Beton
3.2.1 Konstruksi Penunjang (konstruksi mekanis)
Beberapa peralatan konstruksi penunjang diperlukan dengan jumlah di sesuaikan
dengan kebutuhan setempat, yaitu berupa.
• Kabel Tray harus terbuat dari bahan anti korosif galvanis untuk keperluan tiap-tiap 3
meter jalur kabel.
• Klem kabel untuk memperkuat dudukan kabel pada ikatan statis atau kabel tray
terbuat dari kayu (Support cable).
• U- bolt clamp
• Spice plate (plate bar)
• Collar(penjepit kabel) pada Rak TR/TM yang terbuat dari kayu.
• Dyna Bolt ukuran 10 mm² panjang 60 mm, 120 mm • Insulating bolt, baut
dilapisi nilon, makrolon.
• Insulating slim, bahan bakelit, nilon, makrolon.
• Terminal hubung, plat dibawah sel TM.
• Clampping connector φ 9 mm, 13 mm, 17 mm.
• T- Connector (kuku macan) , unimog-clamp terbuat dari tembaga.
• Angle clamp connector (knee-konektor)
• Connecting blok terbuat dari tembaga
• Straight clamp connector
3.3 Instalasi Gardu
3.3.1 Instalasi Listrik
Seluruh rangkaian semua peralatan listrik harus dipasang/dirangkai dengan baik dan
benar sesuai petunjuk yang diberikan.
3.3.2 Heater dan Instalasi Penerangan Gardu
Catu daya listrik yang diperlukan harus diperoleh dan terpasang. Bila perlu catu daya
tersebut didapatkan dari Jaringan Tegangan Rendah diluar lokasi. Bila semua telah
terpasang pastikan ulang bahwa catu daya tersebut telah berfungsi dengan baik.
3.3.2 Instalasi Elektroda Pembumian
Bagian-bagian yang harus dibumikan pada gardu beton
adalah :
i. Titik netral sisi sekunder transformator
ii. Bagian konduktif terbuka (BKT) instalasi gardu
iii. Bagian konduktif ekstra (BKE)
Elektroda pembumian pada Gardu Beton memakai sistem mesh, dengan penghantar
Cu (tembaga) berpenampang 50 mm2 yang digelar di bawah pondasi bangunan
gardu. Pada titik tertentu elektroda pembumian ini dikeluarkan dan dihubungkan
pada instalasi ikatan ekuipotensial (equipotential coupling) yang dipasang setinggi 20
cm di atas lantai, mengelilingi bagian dalam dinding gardu. Material ikatan
ekuipotensial memakai pelat tembaga sekurang-kurangnya dengan penampang
berukuran 20x4 mm.
Seluruh bagian konduktif terbuka (BKT) dan bagian konduktif ekstra (BKE) gardu
dihubungkan ke ikatan ekui potensial tersebut.
Nilai tahanan pembumian tidak melebihi 1 ohm. Apabila konstruksi pembumian
tersebut tidak mencapai 1 ohm, harus ditambahkan sistem elektroda pembumian
lainnya, antara lain dengan elektroda batang, sehingga tercapai nilai tahanan
pembumiaan sebesar 1 ohm.
Khusus titik netral transformator distribusi dibumikan terpisah(tersendiri) dengan
pembumian BKT dan BKE. Penghantar pembumian menggunakan BC 50 mm2,
elektroda bumi memakai elektroda jenis batang.
Tabel 3.1 Instalasi Pembumian pada Gardu Distribusi Beton.
Ukuran minimal
No. Uraian
penghantar pembumian
1. Panel PHB TM (kubikel) BC solid 16 mm2
2. Rak kabel TM-TR BC 50 mm2
3. Pintu gardu/pintu besi/pagar besi BC pita 50 mm2 (NYAF)
4. Rak PHB TR BC 50 mm2
5. Badan transformator BC 50 mm2
6. Titik netral sekunder transformator BC 50 mm2
7. Ikatan ekipotential pada gardu kontruksi Pelat tembaga 2 mm x 20 mm
dalam
8. Semua BKT dan BKE gardu BC solid 16 mm2
9. Elektroda pembumian gardu beton BC 50 mm2 di bawah pondasi
3.4 Penyelenggaraan Konstruksi Gardu Beton
3.4.1 Persiapan Konstruksi
Perancangan konstruksi Gardu Beton lazimnya harus sudah menjadi satu kesatuan
dengan perencanaan jaringan TM-nya.
Seluruh komponen utama dan kelengkapan instalasi gardu harus dipersiapkan
dengan baik dan benar di lokasi.
3.4.2 Penandaan dan Prasasti Gardu
Setiap gardu harus diberi identitas yang meliputi :
• Nomor Gardu
• Tanda peringatan (antara lain lambang kilat, tulisan tanda bahaya, dll)
• Data Historis Gardu yang berisi tanggal dibangun, [Link], dan nama
pelaksana pekerjaan dalam bentuk prasasti (terbuat dari batu marmer).
Dinding bagian dalam gardu diberi warna dengan cat berwarna putih, dan dinding
bagian luar gardu diberi warna dengan cat berwarna abu–abu (silver-stone). Jenis cat
yang digunakan untuk bagian luar harus tahan perubahan cuaca, prasasti berada di
luar di tembok sebelah kanan..
3.4.4 Penyelesaian Akhir (finishing)
Setelah tahapan konstruksi pemasangan gardu selesai, maka dilanjutkan dengan uji
teknis dan komisioning sesuai dengan ketentuan yang berlaku, untuk kemudian
diterbitkan Sertifikat Laik Operasi (SLO) oleh Badan yang berwenang.
4. PELAKSANAAN PEKERJAAN.
4.1 Pekerjaan Persiapan
a. Pelaksana pekerjaan diwajibkan mengurus perijinan ke Pemda/Instansi setempat. Biaya
pengurusan izin dimaksud sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pelaksana pekerjaan
b. Pelaksana pekerjaan diwajibkan melakukan koordinasi apabila pekerjaannya terkait
dengan pekerjaan di Surat Perjanjian Kerja (SPK) yang lain.
4.2 Pelaksanaan Pekerjaan Sipil
a. Mengingat fungsi sipil gardu dalam pembangunan perluasan jaringan listrik ini sangat
penting sekali dalam melindungi / mengamankan instrumen / instalasi listrik yang ada
didalam gardu, maka pelaksanaan pembangunannya dituntut berkualitas tinggi sesuai
ketentuan-ketentuan yang [Link] menunjang pelaksanaan tersebut, perlu
ditaati dan dilaksanakan urutan-urutan pelaksanaannya sebagai berikut :
Setelah galian tanah selesai dilaksanakan, kemudian diperiksa dan telah ditentukan
bentuk pondasinya oleh Direksi Pekerjaan, maka pekerjaan dapat dilanjutkan
dengan : pemasangan pondasi (diberi perkuatan pondasi bila diperlukan),
pemasangan arde dan pengurugan pasir urug yang dipadatkan.
Bilamana pondasi dan sloof selesai dilaksanakan, diteruskan dengan pemasangan
dinding batu bata, pengecoran kolom-kolom, pemasangan pintu dan ventilasi
bersamaan juga pengecoran saluran TM/TR, lantai / rabat. Pengecoran lantai /
rabat dapat dilakukan setelah tanah dasar dan pasir urug dibawahnya betul-betul
telah dipadatkan dan pemasangan besi tulangan sudah disesuaikan dengan
gambar bestek, serta mendapat persetujuan dari Direksi Pekerjaan.
Pelaksanaan pengecoran kolom-kolom bersamaan dengan pekerjaan pemasangan
dinding batu bata, dan pengecoran kolom–kolom dilaksanakan setiap pasangan
dinding batu bata mencapai tinggi 1 meter, serta talang pembuangan air hujan
telah tertanam dalam kolom-kolom tepi sebelum kolom dicor.
Pemasangan kusen pintu dan ventilasi dilaksanakan bersamaan pemasangan
dinding batu bata, khusus untuk pemasangan kusen pintu diangkurkan ke kolom
praktis yang dipasang menjepit kusen pintu. Kolom praktis tersebut dibagian
bawah diangkurkan pada beton sloof sedangkan di bagian atas di angkurkan pada
ring balk atap daak. Ukuran kolom dan letaknya disesuaikan dengan gambar
bestek. Pintu Gardu Harus dilengkapi dengan Kunci Cyber, rumah kunci disiapkan
oleh pelanggan, untuk kuncinya disiapkan oleh PLN
Apabila pemasangan dinding bata dan pengecoran kolom-kolom selesai
dilaksanakan, pekerjaan dapat diteruskan dengan pekerjaan pemasangan
bekisting daak dan pemasangan pembesiannya. Pengecoran beton dapat
dilaksanakan setelah diperiksa dan mendapat persetujuan Direksi Pekerjaan.
Sambil menunggu pengeringan beton/pembongkaran bekisting pekerjaan dapat
diteruskan dengan pekerjaan plesteran dan acian dinding luar dan dalam.
Pekerjaan finishing harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya sesuai bestek dan
petunjuk Direksi Pekerjaan.
Semua bahan-bahan yang dipergunakan pekerjaan tersebut diatas harus memenuhi
ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam PBI-1971 dan telah mendapat
persetujuan dari Direksi Pekerjaan apabila ditolak oleh Direksi Pekerjaan maka
bahan-bahan tersebut harus segera dikeluarkan dari lapangan, semua biaya akibat
hal tersebut sepenuhnya menjadi tanggun jawab rekanan.
Agar kegiatan-kegiatan selalu dapat dipantau, maka dilapangan harus disediakan
Buku Laporan Harian, rencana kerja dan gambar bestek / gambar pelaksanaan.
Semua kegiatan pelaksanaan pekrjaan dilapangan harus dibuat foto dokumentasi
berwarna, mulai dari pekerjaan galian sampai dengan pekerjaan selesai.
4.3 Pekerjaan Beton Bertulang
a. Persyaratan Bahan-Bahan Untuk Pekerjaan Beton Bertulang
Semua bahan-bahan yang dipergunakan pada pekerjaan beton bertulang harus
memenuhi ketentuan dan syarat-syarat yang tercantum dalam PBI-1971, dan telah
mendapat persetujuan dari Direksi [Link] ditolak oleh Direksi Pekerjaan
maka bahan-bahan tersebut harus segera dikeluarkan dari lapangan, semua biaya
akibat hal tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Rekanan.
b. Port Land Cement
Port land cement yang dipergunakan adalah port land cement type I yang memenuhi
syarat standar cement Indonesia (NI-8-1972) dan Standar Industri Indonesia
(SII.0013-81). Cement harus masih dalam keadaan baik dan cement yang sebagian
sudah mengeras/membantu tidak boleh dipergunakan.
c. Pasir
Pasir adalah jenis pasir beton yang memenuhi syarat PBI-1971 (NI-2) atau ASTMPasir
tidak mengandung lumpur lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat kering) dan yang
diartikan lumpur adalah bagian-bagian yang dapat melalui ayakan 0,063 [Link]
harus bersih dan bebas dari segala macam kotoran baik bahan organis lumpur, tanah,
garam dll (pasir laut tidak boleh dipergunakan).Harus berupa crushed yang
mempunyai susunan gradasi yang baik, cukup syarat kekerasannya, padat dan tidak
porous.
d. Split/Koral
Sesuai dengan persyaratan pada PBI-1971 atau [Link] terdiri butir-butir yang
keras, tidak berpori dan tidak mudah [Link] boleh mengandung lumpur, bersih
dari segala macam kotoran dan tidak boleh mengandung zat yang merusak beton.
e. Baja Tulangan
Baja tulangan yang dipakai adalah minimal harus sesuai dengan PBI-1971, setaraf
produksi krakatau steel dengan jenis sebagai berikut :
Baja tulangan jenis besi polos dengan mutu BJPT.24 dengan tegangan leleh
karakteristik 2.400 kg/cm2. Baja tegangan harus bebas dari kotoran-kotoran, karat,
minyak, cat serta bahan lain yang mengurangi daya lekat terhadap beton
f. Bekisting
Bekisting harus dibuat dengan konstruksi sedemikian rupa yang betul-betul kuat
sehingga tidak ada perubahan bentuk dan kuat menahan beban-beban sementara
sesuai dengan proses pekerjaan pembetonan.
Khususnya untuk bekisting atap plat daak gardu semua permukaan dilapis triplex
dengan sambungan rata dan rapat. Bila digunakan penunjang harus menggunakan
kayu yang bermutu baik (kaso/dolken) untuk menjamin kekuatannya, adapun bahan
bambu tidak boleh dipergunakan.
4.4 Pekerjaan Pengecoran Beton
a. Persiapan
Sebelum dituangkan adukan beton/dicor, bekisting harus bersih dari kotoran-kotoran
antara lain serbuk gergaji, potongan-potongan kawat pengikat besi beton, dll.
Pekerjaan pengecoran beton baru dapat dilaksanakan setelah Direksi Pekerjaan
memeriksa dan menyetujui bekisting, tulangan, beton decking dll, serta bekisting
harus dibasahi dengan air sebelum dituangkan adukan beton.
b. Pelaksanaan
Perbandingan campuran bahan atau mutu beton disesuaikan dengan bestek.
Proses pengadukan bahan campuran beton harus menggunakan mixer/molen dan
lamanya pengadukan minimal 1,5 menit.
Adukan beton yang sudah siap harus segera dituangkan pada acuan yang sudah
disiapkan.
Adukan harus dipadatkan dengan baik atau dengan alat penggentar (vibrator) yang
berfrekuensi dalam adukan paling sedikit 6000 putaran/menit.
Pengecoran harus dilakukkan terus menerus sampai pekerjaan selesai, tetapi
bilamana tidak bisa dilakukan maka pemberhentian pengecoran tidak boleh
disembarang tempat.
Tidak boleh melakukan pengecoran beton diwaktu hujan terkecuali dilakukan
tindakan pencegahan / pengamanan yang telah mendapat persetujuan Direksi
Pekerjaan.
Setelah selesai pengecoran atap plaat daak dan setelah permukaan bagian atas
diratakan, halus, serta dimiringkan / dibuat healing kearah talang pembuangan,
maka beton harus selalu dibasahi/direndam air paling sedikit 7 hari terus menerus
serta pembongkaran bekisting baru dapat dilakukan minimal 14 hari sejak
pengecoran beton.
4.5 Teknis Pelaksanaan
a. Pondasi gardu sipil menggunakan sistim cor beton sebelumnya dengan bor pile atau
tiang pancang sebanyak 6 bh ( 4 bh disudut dan 2 bh ditengah ) dan badan pondasi
harus dicor sebagai pondasi awal dan tidak mengunakan pondasi batu kali
b. Pemasangan bouwplank harus waterpas dan siku sesuai dengan ukuran-ukuran peil
yang telah ditetapkan dalam gambar bestek/notulen penjelasan di lapangan, dimana
harus lebih tinggi dari peil banjir, dengan ketentuan sebagai berikut :
Bilamana peil banjir lebih tinggi 10 s/d 25 cm dari gambar bestek, maka kenaikan
peil lantai gardu ditentukan 30 cm.
Bilamana peil banjir lebih tinggi 35 s/d 45 cm dari gambar bestek, maka kenaikan
peil lantai gardu ditentukan 50 cm, dan seterusnya.
c. Apabila menggunakan pondasi plat beton bertulang, sebelumnya harus dipasang
cerucuk bambu ø 8 cm – 30 cm (as) sekeliling galian pondasi, termasuk lantai dan
rabat, baru dipasang arde 50 mm2 (Sampai menemukan tahanan pembumian tidak
boleh melebihi 1Ω),, kemudian pekerjaan dilanjutkan dengan pemasangan lantai kerja
tebal 5 cm. maksimal
Apabila tanah bekas rawa atau gambut perlu ditambahkan pondasi Strouspal dengan
diameter ø 30 cm dengan kedalaman 6 m / sampai dengan tanah cadas pada masing-
masing ujung sisinya.
d. Pada saat Pengeceran lantai untuk lokasi trafo dipasang cerucuk bambu, sesuai
gambar.
e. Adapun campuran-campuran spasi untuk pondasi sebagai berikut :
Lantai kerja tebal 5 cm adukkan 1 PC : 2 PS : 3 KR
Pondasi Plaat beton bertulang 1 PC : 2 PS : 3 KR.
Pondasi penguat/strouspal ø 30 cm, 1 PC : 2 PS : 3 KR (kedalaman pondasi
penguat/ strouspal sampai dengan tanah cadas.
f. Beton bertulang untuk sloop (ukuran sesuai gambar), kolom tengah (ukuran sesuai
gambar), kolom tepi (ukuran sesuai gambar) dan kolom praktis 15/15 cm
menggunakan adukan 1 PC : 2 PS : 3 KR.
g. Untuk lantai, rabat dan saluran TM/TR tebal 10 cm, dan khusus saluran TM dekat
dinding setebal 20 cm sebelum dicor adukan 1 PC : 2 PS : 3 KR dasar lantai harus
diurug dengan pasir urug setebal 15 cm padat.
h. Pasangan batu bata 1 batu untuk trasram dan pasangan batu bata setinggi 20 cm dari
lantai serta pondasi rabat menggunakan adukan 1 PC : 2 PS berikut plesterannya.
i. Beton bertulang untuk daak/atap menggunakan adukan 1 PC : 1,5 PS : 2,5 KR /
readymix dengan tebal plaat 10 cm dengan diplester 1 PC : 2 PS, bagian atas daak
kemudian diaci dan dimiringkan kearah pipa talang, dengan ketinggian/ketebalan
adukan 5 cm pada as daak.
j. Konstruksi daak beton ini terutama untuk yang luas diperkuat dengan balok-balok
beton sebagai berikut :
Balok utama dan ring balk ukuran sesuai gambar
Balok pembantu (bila perlu) ukuran sesuai gambar
Balok listplank ukuran sesuai gambar
Guna dapat menghasilkan betonan yang rapi dan memudahkan cara pembongkaran
bekisting, maka papan bekisting dilapisi triplek.
k. Setelah daak beton diplester dan diaci, kemudian selama 15 hari kalender harus selalu
direndam air. Pengecoran daak beton harus menggunakan beton molen,agar
menghasilkan mutu beton yang dapat [Link]
bekisting dilakukan setelah beton daak berumur minimum 14 (empat belas) hari
kalender, terhitung sejak dari pengecoran beton daak tersebut.
Bilamana pengecoran daak beton menggunakan obat untuk mempercepat pengerasan
beton, pembongkaran dapat dilakukan dalam waktu 7 (tujuh) hari kalender, dengan
syarat bahwa selama 7 (tujuh) hari kalender daak beton harus direndam air terus
menerus (tidak boleh kering), kemudian diplester 1 PC : 2 PS dan diaci.
l. Tentang pemakaian besi-besi beton untuk pondasi plat, sloof, kolom beton, strouspal,
lantai/rabat dan daak beton + balok-balok harus disesuaikan dengan gambar
penjelasan bestek yang telah ditetapkan.
m. Pekerjaan besi pada pembangunan sipil gardu ini meliputi :
Pintu besi dengan rangka besi union 4/4 cm dilapisi plat besi tebal 3 mm (tidak
termasuk cat) luar dalam, diperkuat engsel 3 (tiga) buah ø 3 cm – 10 cm,
dilengkapi dengan kunci yang akan diberikan ke PLN, untuk kemudian akan
diganti dengan kunci CYBER (oleh PLN) dan overpal dari besi L.60.60.6 – 8 cm
dan handel pintu ø 12 mm diperkuat dengan angkur 30 cm.
Ventilasi menggunakan besi plat tebal 2 mm (tidak termasuk cat), bagian
belakang/dalam dilapisi ram kawat/bank gaas ø 2 mm, lubang ukuran 6 mm2
dengan rangka L.30.30.3 dan dijepit plat strip dan dipasang sistem bout/mur.
Kusen/pintu maupun ventilasi menggunakan besi C.15 cm dengan diperkuat angkur
di beberapa tempat, sehingga kedudukannya selalu rata dan waterpas.
Besi untuk dudukan LV/TR dan cubicle menggunakan besi siku 50.50.5. Pada
dudukan cubicle saluran TM besi double siku 50.50.5 dipasang pada jarak 60 cm
(as). Saluran TR/LV besi siku 5 dikaitkan dengan besi L.50.50.5 dan bagian tepi
dipasang besi strip 6/20 mm dengan tutup plat bordes tebal 4 mm lebar 30 cm,
lubang single core cukup dipasang besi L.50.50.5 bagian tepinya dipasang besi
strip 6/20 mm ditutup plat bordes tebal 4 mm (yang dapat dibuka).
n. Pemakaian pipa-pipa PVC ukuran-ukurannya sebagai berikut :
Pipa PVC ø 15 cm tebal 6 mm digunakan untuk saluran TM dengan kedudukan pipa
– 1,35 m.
Pipa PVC ø 10 cm dipasang pada – 0,50 m dan – 0,40 m untuk saluran single core,
serta dipasang pada 0,60 m untuk saluran TR/LV.
Pipa PVC ø 3” dilengkapi boch atas bawah untuk talang air dan letaknya ditanam
dalam kolom beton tepi.
Untuk penerangan didalam ruang gardu dipasang pipa PVC ø 3 cm (ø 1,25”),
diambil dari TR/LV dipasang sesuai gambar bestek.
o. Pekerjaan laburan/cat-catan meliputi laburan tembok, plafond, lisplank dan cat-catan
pada pintu/kusen, ventilasi berikut rangka TM/TR/LV plaat bordes.
Laburan tembok menggunakan cat merk matex,vinilex, super vinilex, warna agung,
atau merk lain yang setara dan sebelum dicat tutup, harus diplamur tembok
dahulu hingga rata dan bersih.
Warna cat bagian dalam warna white, sedangkan bagian luar warna sesuai standar
gambar konstruksi.
Cat-catan besi dapat menggunakan merk warna agung/nippon paint atau merk lain
yang setara dan sebelum dicat tutup, dimenie besi dahulu hingga rata.
Warna cat untuk pintu dan ventilasi ditentukan kemudian, tetapi warna cat plat
bordes, rangka-rangka adalah warna standar gambar konstruksi termasuk cat list
bawah gardu keliling, dan nomor gardu.
p. Dipasang marmer ukuran 30 x 40 cm sebagai prasasti dengan digrafir tulisan sebagai
berikut :
Nomor Gardu :
Mulai Tanggal :
Selesai Tanggal :
Pelaksana :
Operasi TM Tanggal :
Operasi TR Tanggal :
Tulisan-tulisan tersebut dengan huruf cetak yang bagus dan dicat hitam. Letak
pemasangannya pada dinding bagian dalam diatas saluran TM ± 1 meter dari
lantai (sebelah kanan, bila akan keluar gardu).
q. Untuk penerangan di dalam gardu dipasang Instalasi Lampu sebanyak 1 (dua) titik
(untuk gerak kecil, 3 atau 4 untuk yang besar) lengkap dengan lampu pijar @ 40 watt
dan stop kontak kwalitas baik. Pemasangan kabel di dalam pipa PVC 3 cm dengan
kabel NYM kwalitas yang telah disyahkan PLN, dipasang mulai dari titik lampu sampai
dengan LV.
r. Pada prinsipnya pembangunan sipil gardu ini harus berdiri sendiri tanpa dipengaruhi
oleh bangunan lain, tetapi bilamana pada suatu lokasi gardu, sipil gardu menjadi satu
dengan bangunan konsumen, maka demi keamanan teknis gardu tersebut, harus
mempunyai dinding tersendiri, dengan pengertian dinding gardu tidak menjadi satu
dengan dinding bangunan lain.
s. Segala kerusakan dan atau kekurangan selama dalam masa pemeliharaan
sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelaksana. Apabila perbaikan atas kerusakan
dan atau kekurangan tersebut belum dilaksanakan, maka penyerahan kedua setelah
masa pemeliharan berakhir tidak dapat diterima.
t. Mengingat fungsi bangunan sipil gardu dalam pembangunan perluasan jaringan listrik
ini sangat penting sekali dalam melindungi/mengamankan Instalasi Listrik yang ada di
dalam gardu, maka pelaksanaan pembangunannya dituntut kwalitas tinggi sebagai
syarat-syarat yang telah [Link] pemasangan instalasi gardu termasuk
dalam lingkup standard konstruksi instalasi gardu adalah seluruh instalasi dalam gardu
distribusi.
Instalasi gardu harus menyesuaikan dengan bentuk sipil gardu bangunan gardu yang
kadangkala dibatasi oleh tersedianya tanah lokasi gardu.
4.6 Peralatan dan Tenaga Kerja
[Link].
- Dalam melaksanakan pekerjaan, Kontraktor diwajibkan menggunakan peralatan
sesuai dengan
- kebutuhan pembangunan Sipil Gardu
[Link] Kerja.
- Dalam melaksanakan pekerjaan untuk sipil minimal harus terdiri dari :
1 (satu) orang tenaga pengawas, 5 (lima) orang tenaga kerja
4.7 Bahan-bahan
Harus mengutamakan produksi dalam negeri.
a. Bahan material, sesuai spesifikasi teknik.
b. Seluruh material yang disediakan oleh Kontraktor harus terlebih dahulu diperiksa dan
mendapatkan persetujuan Direksi Pekerjaan.
5. Keselamatan Ketenagalistrikan (K2) maupun Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
a. Pemilik Proyek wajib mematuhi prinsip – prinsip Keselamatan Ketenagalistrikan (K2) maupun
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) dalam pelaksanaan pekerjaannya di lapangan /
lingkungan kerja sesuai peraturan perundangan yang berlaku.
b. Pemilik Proyek wajib menyediakan peralatan kerja yang stándard dan Alat Pelindung Diri (APD)
untuk Keselamatan Kerja para pekerja dalam pelaksanaan pekerjaan dengan jumlah yang
cukup dan layak pakai sesuai stándard keselamatan yang berlaku.
c. Pemilik Proyek wajib memerintahkan kepada seluruh pekerja untuk menggunakan peralatan
kerja yang stándard dan menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang lengkap dan aman
sesuai kebutuhan selama pekerjaan dilaksanakan
d. Seluruh pekerjaan jasa wajib memiliki, menerapkan dan melaksanakan Standar Operasional
Prosedur (SOP) dan Instruksi Kerja (IK) yang berlaku di PT. PLN (Persero).
e. Seluruh SOP/IK dan tempat/lokasi pekerjaan harus melalui proses identifikasi bahaya dan
pengendalian resiko terlebih dahulu. Tabel Identifikasi Bahaya dan Pengendalian Resiko atau
disingkat HIRAC (Hazard Identification Risk Assesment Control) dan dijadikan sebagai lampiran
Surat Perjanjian Kerja (SPK).
f. Sesuai dengan hasil HIRAC, apabila pekerjaan dan atau tempat kerja didapati berpotensi
bahaya tinggi, sangat tinggi, fatal, dan seterusnya WAJIB, mengisi Job Safety Analyst (JSA)
dan Working Permit (Ijin Kerja)
g. Pengguna Barang/Jasa atau pejabat yang mewakili Pengguna Barang/Jasa berhak menegur
para pekerja, mandor atau kepada Pemilik Proyek jika dalam pelaksanaan pekerjaan tidak
menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) bahkan menghentikan sementara pekerjaan dimaksud
apabila sangat membahayakan bagi pekerja sebagaimana diatur dalam peraturan
perundangan yang berlaku.
h. Pemilik Proyek wajib menyediakan Kotak Obat / Kotak P3K dengan jumlah yang cukup untuk
sejumlah pekerja yang melaksanakan pekerjaan tersebut.
i. Pemilik Proyek bertanggung jawab dan wajib menyediakan sarana atas keamanan untuk
tempat kerja, hasil dari pelaksanaan pekerjaan, keselamatan tenaga kerja, kebersihan
lingkungan, tempat kerja, gudang, alat – alat dan bahan atau material untuk pelaksanaan
pekerjaan ini, sampai saat dilakukannya penyerahan pekerjaan kepada Pengguna Barang/Jasa
j. Apabila terjadi kecelakaan dan atau Penyakit Akibat Kerja (PAK) yang disebabkan karena
ketidak sesuaian dalam menjalankan prinsip – prinsip keselamatan kerja yang tertuang dalam
peraturan perundangan K2 / K3, maka semua biaya dan akibat yang timbul, sepenuhnya
menjadi beban dan tanggung jawab Pemilik Proyek.
k. Untuk pekerjaan dan Area Kerja Beresiko tinggi wajib menggunakan menerapkan buddy sistem
(Tidak boleh bekerja atau masuk kerja seorang diri).
l. Wajib menggunakan sistem Lock Out dan Tag Out pada pekerjaan beresiko tinggi.
m. Tempat kerja harus senantiasa dijaga dari kotoran-kotoran yang dapat menimbulkan penyakit.
n. Untuk pekerja-pekerja yang tinggal dalam lokasi, Pemilik Proyek harus membuat tempat MCK
yang cukup bersih.
o. Apabila terjadi penyakit menular diantara pekerjanya, maka Pelaksana pekerjaan harus
bertindak agar tidak menjalar lebih lanjut.
6. PETUNJUK KHUSUS.
6.1 Time Scedule
Dalam melaksanakan pekerjaan sangat diperlukan “ ketepatan serta ketelitian “ dari waktu
pelaksanaan. Oleh karena itu pelaksana harus mentaati benar time schedule yang telah
ditentukan / diajukan oleh pelaksana dan telah disetujui oleh pengawas PLN.
6.2 Pengawas Pelaksana
Pelaksana harus menunjuk seorang pengawas secara tertulis dan harus dilampirkan pada
surat penawaran.
Pengawas pelaksana harus :
a. Seorang yang menguasai bidang pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.
b. Bertanggung jawab penuh terhadap kelancaran pekerjaan.
c. Harus dapat dihubungi setiap saat dan siap untuk menerima / menjalankan perubahan-
perubahan pekerjaan sesuai dengan permintaan / perintah pengawas PLN.
d. Berkoordinasi dengan pengawas PLN sebelum melaksanakan pekerjaan
6.3 Foto Dokumentasi
a. Pelaksana diwajibkan untuk membuat foto dokumentasi yang berwarna mengenai
kemajuan pekerjaan.
b. Setiap foto selesai mengabadikan tiap kejadian / kegiatan harus ikut terekam pula label
yang mencantumkan data-data sebagai berikut :
- Nomor SPK / Kontrak
- Nama Pelaksana
- Lokasi kejadian / pekerjaan
- Uraian Pekerjaan / kegiatan
c. Kumpulan foto-foto tersebut harus diatur dalam album foto yang baik sebanyak 2 set. Tiap
foto berukuran 3x12 cm / post card. Dibawah setiap foto diberikan penjelasan seperlunya
mengenai sifat / jenis kegiatan.
d. Gambar jaringan terpasang (asbuild drawing) dilaksanakan sesuai ketentuan PLN dan
dengan data-data keadaan lapangan.
6.4 Penjagaan
Pelaksana diwajibkan menyediakan tanda-tanda peringatan berupa tulisan dipapan, bendera,
merah dan lampu-lampu merah di malam hari.
6.5 Berita Acara
a. Pelaksana diwajibkan untuk membuat Berita Acara dan foto dokumentasi yang berwarna
mengenai kemajuan pekerjaan.
b. Setiap foto selain mengabadikan tiap kejadian / kegiatan harus ikut terekam pula prasasti
yang wajib mencantumkan data-data sebagai berikut :
Nomor RKS
Nama Pelaksana
Lokasi kejadian / pekerjaan
Uraian pekerjaan / kegiatan
c Kumpulan foto-foto tersebut harus diatur dalam susunan foto yang baik sebanyak 2 (dua)
set. Tiap foto berukuran 3x12 cm / post card. Di bawah setiap foto diberikan penjelasan
seperlunya mengenai sifat / jenis kegiatan.
d Gambar JTR (asbuilt drawing) dengan GPS dilaksanakan sesuai ketentuan PLN dan
dengan data-data keadaan lapangan.
e Sebelum pelaksanaan pembangunan sipil gardu yang dihibahkan, rekomendasi sistem
terlebih dahulu harus disahkan oleh bidang Perencanaan UP3 terkait dan pelaksanaan
pembangunan sipil gardu harus diawasi oleh PT PLN (Persero).
f Segala biaya yang timbul akibat hibah tersebut menjadi tanggung jawab pelanggan.
g Pelanggan yang sudah membangun sipil gardu sendiri tanpa adanya supervisi dan
pengesahan oleh PT PLN (Persero) UP3 terkait maka penyambungan listrik dibatalkan
dan akan dilakukan restitusi biaya penyambungan (BP).
6.6 Masa Pemeliharaan
Masa pemeliharaan untuk Bangunan sipil Sekurang-kurangnya adalah selama 365 Hari atau 1
Tahun. Segala kerusakan dan atau kekurangan selama dalam masa pemeliharaan
sepenuhnya menjadi tanggung jawab pelaksana. Apabila perbaikan atas kerusakan dan atau
kekurangan selama dalam masa pemeliharaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab
pelaksana. Apabila perbaikan atas kerusakan dan atau kekurangan tersebut belum
dilaksanakan, maka penyerahan kedua setelah masa pemeliharaan berakhir tidak dapat
diterima.
7. PEKERJAAN AKHIR.
Penyelesaian akhir dilaksanakan dengan melakukan pemeriksaan fisik. Apabila diperlukan
pemangkasan pohon dilakukan untuk menjaga jarak aman terhadap lingkungan. Pekerjaan
dinyatakan selesai dengan baik setelah ada pernyataan dari pengawas PLN.
8. GAMBAR KONSTRUKSI
Konstruksi untuk pekerjaan sesuai gambar konstruksi (terlampir) dimengerti dengan baik oleh
pelaksana. Perubahan konstruksi hanya dapat dilaksanakan atas ijin Direksi Pekerjaan.
9. PERSIAPAN-PERSIAPAN PELAKSANAAN
Selambat-lambatnya satu minggu setelah Surat Persetujuan di keluarkan dari PLN UP3 Cengkareng
dan Pelaksanapekerjaan diharuskan membuat bagan waktu pelaksanaan (construction schedule)
untuk mendapat persetujuan dari Pengawas PLN UP3 Cengkareng.
Sambil menunggu bagan waktu pelaksanaan disetujui oleh Pengawas PLN UP3 Cengkareng,
Pelaksana pekerjaan harus mempersiapkan segala yang dibutuhkan (alat dan material yang akan di
pasang)
10. WAKTU PELAKSANAAN PEKERJAAN
Pelaksanaan pekerjaan pada lokasi harus dapat diselesaikan dan diserahkan kepada PT PLN
(Persero) UP3 Cengkareng selambat-lambatnya dalam jangka waktu 45 (Empat Puluh Lima) hari
kalender.
Jangka waktu pelaksanaan tersebut diatas sudah termasuk hari Minggu dan hari libur resmi serta
telah termasuk hari untuk pemeriksaan pekerjaan (Test Comissioning)
11. SERAH TERIMA PEKERJAAN
Penyerahan pekerjaan tahap pertama atas pekerjaan ini dilakukan setelah pekerjaan selesai
seluruhnya dan telah memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan serta telah dinyatakan baik oleh
Direksi Pekerjaan dan dituangkan dalam Berita Acara Penyerahan Pertama yang ditanda tangani
oleh Pemohon (Yang menyerahkan) dan PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng (Yang Menerima),
yang akan dilanjutkan dengan berita acara hibah sipil gardu.
12. PAJAK-PAJAK, BEA-BEA DAN ONGKOS-ONGKOS
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) besarnya adalah 11 % dari Nilai Jaringan Tenaga Listrik yang
menjadi Dasar Pengenaan Pajak (DPP) sesuai hasil penilaian Nilai Serah Terima Operasi
ditanggung oleh Pemohon.
13. PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN PEKERJAAN
13.1 Dalam rangka melaksanakan pengendalian pekerjaan Pengguna Barang/Jasa PT PLN
(Persero) Unit Induk Distribusi Jakarta Raya UP3 Cengkareng menunjuk Manager bagian
Konstruksi Sebagai Direksi Pekerjaan.
13.2 Pengawasan pekerjaan sehari-hari dilakukan oleh pengawas yang bertanggung jawab kepada
Direksi Pekerjaan. Mengenai personalia yang akan bertugas dilapangan akan diberitahukan
secara tertulis kepada Pemilik Proyek.
Apabila ada bagian pekerjaan yang telah selesai dan harus diperiksa, maka Pemohon
mengajukan permohonan pemeriksaan pekerjaan kepada Direksi Pekerjaan.
13.3 Semua hasil pekerjaan baik kwalitas / mutu maupun kebenaran ukuran tetap menjadi
tanggung jawab Pemohon.
13.4 Apabila Penyedia Pemohon tidak memberitahukan mengenai bagian pekerjaan yang telah
selesai dan tanpa persetujuan pengawas dan atau konsultan pengawas (bila ada)
melanjutkan pekerjaan, maka Direksi Pekerjaan berhak untuk memeriksa pekerjaan dan juga
berhak untuk memerintahkan/melakukan pembongkaran pekerjaan yang menghalangi
pemeriksaan. Ongkos-ongkos pembongkaran dan pembuatan kembali karena kelalaian ini
menjadi beban Pemohon.
14. PIMPINAN PELAKSANA (SITE MANAGER)
14.1 Pemohon diwajibkan menempatkan Pimpinan Pelaksana (Site Manager) yang cukup cakap
dan berpengalaman untuk memimpin pelaksanaan pekerjaan, dengan rincian sebagai berikut :
a. Untuk pekerjaan Jasa Jaringan, Pimpinan pelaksana harus dari Penanggung Jawab
Teknik yang tercantum dalam SPJT atau SPPJT.
14.2 Pimpinan pelaksana dapat mempunyai seorang wakil atau lebih disamping pembantu-
pembantu lain dan harus senantiasa berada dilapangan agar pekerjaan berjalan lancar.
14.3 Pimpinan pelaksana yang ditunjuk oleh Pemilik Proyek harus mendapat kuasa penuh untuk
bertindak atas nama Pemilik Proyek dalam pelaksanaan pekerjaan.
14.4 Sebelum pekerjaan dimulai, Pemohon diharuskan memberitahukan secara tertulis kepada PT
PLN (Persero) UP3 Cengkareng Direksi Pekerjaan tentang susunan organisasi, nama petugas,
keahlian dan tugas dari wakil Pemilik Proyek dilapangan.
14.5 Apabila selama pekerjaan berlangsung, Direksi Pekerjaan dapat membuktikan bahwa
Pimpinan Pelaksana Pemilik Proyek atau petugas-petugas lainnya tidak cukup cakap atau
mempunyai reputasi yang tercela (pemabuk, sering membuat onar, mesum, dll semacamnya),
maka PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng / Direksi Pekerjaan berhak memerintahkan kepada
Pemohon untuk mengganti pelaksana atau petugasnya dan dalam waktu yang singkat Pemilik
Proyek harus dapat menunjuk penggantinya.
14.6 Tempat tinggal & contact person Pemohon dan Pimpinan Pelaksana harus dapat
diberitahukan dengan jelas kepada PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng / Direksi Pekerjaan,
untuk menjaga kemungkinan diperlukannya hubungan diluar jam kerja.
15. ALAT-ALAT KERJA DAN BAHAN
15.1 Semua alat-alat kerja yang diperlukan pada pelaksanaan pekerjaan disediakan oleh
Pelaksana pekerjaan vendor yang ditunjuk oleh pemilik Proyek.
15.2 Bahan/material yang akan dipakai semuanya disediakan oleh Pemilik Proyek/Pemohon.
15.3 Material yang disediakan harus memenuhi Kriteria yang disyaratkan dan memperhitungkan
kebutuhan daya akan datang (kekuatan hantar arus)
16. BUKU HARIAN, LAPORAN HARIAN, MINGGUAN & FOTO-FOTO LAPANGAN
16.1 Buku Harian
Pelaksana lapangan harus menyediakan buku harian dilapangan dan alat-alat tulis yang
diperlukan ditempat kerja Pimpinan Pelaksana atau dilokasi pekerjaan
Dalam buku harian harus diisi perintah Direksi Pekerjaan, Pengawas dan laporan harian,
antara lain berisi jumlah pegawai, pekerjaan yang sedang dan telah dilaksanakan, keadaan
cuaca serta kejadian-kejadian penting sehari-hari. Buku harian yang telah ditanda tangani
oleh masing-masing pihak dipakai sebagai dasar proses selanjutnya.
16.2 Laporan Harian dan Mingguan
a. Pelaksana pekerjaan harus membuat laporan harian dan mingguan, yang ditanda
tangani oleh Pimpinan Pelaksana ( Site Manager ) dan Direksi Pekerjaan.
b. Laporan harian dibuat dalam rangkap 3 (tiga) dan merupakan lembaran-lembaran lepas
dengan pembagian : 2 (dua) eksemplar untuk Direksi Pekerjaan dan 1 (satu)
eksemplar untuk arsip Pemilik Proyek.
c. Pada laporan harian harus diisi jumlah pegawainya, pekerjaan yang dilaksanakan,
keadaan cuaca, kejadian-kejadian penting sehari-hari dan bahan-bahan/material yang
masuk dilapangan.
d. Pada akhir minggu, Pemilik Proyek harus membuat laporan mingguan secara akumulatip
dalam rangkap 3 (tiga) dengan pembagian seperti butir 3.24.2.b tersebut diatas.
e. Apabila Pemilik Proyek lalai membuat laporan harian / laporan mingguan, maupun buku
harian, maka Pemilik Proyek akan dikenakan sangsi sebagai akibat kelalaiannya.
16.3 Apabila terjadi sesuatu hal yang menyebabkan tidak ada kegiatan dilapangan, dalam jangka
waktu relatif panjang, maka buku laporan harian dan laporan mingguan dapat dibuatkan
secara akumulatif perbulan.
16.4 Khusus untuk pekerjaan jaringan, maka Pelaksana harus menunjuk petugas yang dapat
mengambil keputusan di lapangan dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan. Dan
harus disampaikan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan paling lambat dalam 7 (tujuh) hari
kalender setelah kontrak di tanda-tangani.
16.5 Khusus untuk pekerjaan jaringan, maka Pelaksana harus menunjuk petugas yang dapat
mengambil keputusan di lapangan dan bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan. Dan
harus disampaikan dan disetujui oleh Direksi Pekerjaan paling lambat dalam 7 (tujuh) hari
kalender setelah kontrak di tanda-tangani.
16.6 Selain laporan sebagaimana disebutkan pada pasal-pasal diatas Pemilik Proyek juga wajib
dan harus dapat menyajikan laporan kemajuan pekerjaan dalam bentuk “kurva S” (“S” curve).
16.7 Pelaksana pekerjaan harus melaporkan kepada PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng melalui
Direksi Pekerjaan tentang kemajuan pekerjaan yang telah dicapai dan langkah-langkah yang
akan dilakukan berikutnya, dalam rapat koordinasi proyek yang diselenggerakan sekurang-
kurangnya sekali dalam sebulan atau sesuai kebutuhan/sesuai petunjuk/permintaan Direksi
Pekerjaan.
16.8 Photo-photo Lapangan Dan Tagging Koordinat GPS
a. Pelaksana pekerjaan diharuskan membuat photo-photo dilapangan secara teratur pada
bagian-bagian yang penting dari pekerjaan, sehingga didapat gambaran visual yang dapat
memberikan informasi kemajuan pekerjaan maupun kesulitan-kesulitan yang dihadapi.
b. Photo-photo harus berwarna dan berukuran postcard
c. Photo-photo harus ditempelkan dalam album yang cukup baik dan pada akhir pekerjaan
diserahkan kepada PT PLN (Persero) UP3 Cengkareng / Direksi Pekerjaan.
17. PERIZINAN DAN LAIN-LAIN.
17.1 Permohonan surat izin dilakukan oleh PT. PLN (Persero) dan pengurusannya dilakukan oleh
Pemilik Proyek.
17.2 Pengurusan permohonan izin pemakaian jalan, jembatan dan lain-lain agar lancarnya
pembangunan menjadi tanggungan Pelaksana pekerjaan
17.3 Biaya pengurusan ijin ijin tersebut diatas menjadi tanggung jawab Pelaksana pekerjaan.
17.4 Kerusakan kerusakan prasarana umum maupun prasarana kantor PT PLN (Persero). bila ada,
akibat dari pelaksanaan pembangunan ini, adalah tanggung jawab Pemilik Proyek dan harus
diperbaiki
18. KEWAJIBAN MEMENUHI UNDANG - UNDANG DAN PERATURAN –PERATURAN
Semua biaya akibat undang-undang, peraturan-peraturan pemerintah atau izin-izin yang harus
diperoleh dari pemerintah, menjadi tanggung jawab Pemilik Proyek (Pemohon).
Jakarta, 27 November 2023
PIHAK KEDUA PIHAK KESATU
PT PLN (Persero)
UNIT INDUK DISTRIBUSI JAKARTA RAYA
UP3 CENGKARENG
NUGROHO WIDY PRASETYO
ASSISTAN MANAJER PERENCANAAN
Lampiran Gambar standar Konstruksi
1. Gambar Standar Konstruksi Pondasi Panel
2. Gambar Standar Konstruksi Batu Pengaman, Patok Kabel, Bata Merah
3. Gambar Standar Konstruksi Sipil
4. Gambar Rencana Pembangunan Sipil
2215
450 550 400 400 400
100
2215
450 550 400 400 400
70
120 120 120 120 120
365
285
240
240
240
240
240
65 60 65 65 60 65 65 65
100
50
50
50
50
50
50
60 60 60 60 60 60
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
515
515
70
70
45
180 180
45
180 180
365
240
240
365
100
100
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
2215
400 400 400 550 450
330
330
65 60 65 60 65 60 60 65 65 60 65 60
100
50
50
50
50
50
50
60 60 60 60 60 60
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
2215
4 PVC Ø 15 cm / AW 44 PVC
PVC ØØ1515
cmcm / AW
/ AW 4 PVC Ø 15 cm / AW4 PVC Ø 15 cm / AW 4 PVC Ø 15 cm / AW 4 PVC Ø 15 cm / AW 4 PVC Ø 15 cm / AW
450 550 400 400 400
185
180
180
PB TRAFO PB TRAFO
CBOM 167 LBS
515
LBS CBOM CBOM LBS
LBS CBOM CBOM CBOM CBOM
LBS LBS CBOM CBOM
180
180
LBS LBS LBS LBS
LBS LBS
120 120 120 120 120
2 PVC Ø 15 cm / AW 2 PVC Ø 15 cm / AW 2 PVC Ø 15 cm / AW 2 PVC Ø 15 cm / AW 2 PVC Ø 15 cm / AW 2 PVC Ø 15 cm / AW
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
515
450 550 400 400 400
2215
30
15
15
55
15
50
50
15
60 60
20
20
15
15
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
515
2215
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
515
2165
30
15
55
50
80
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
PT PLN (Persero) UID JAKARTA RAYA - UP3 CENGKARENG
STANDAR KONSTRUKSI JARING DISTRIBUSI
KELENGKAPAN BERKAS HIBAH GARDU
Perumahan :
Alamat :
No Uraian Ada/Tidak Tanggal KET
Surat Peraturan Direksi No 0992.K/DIR/2014 Mekanisme Penerimaan
PLN
1 Hibah
2 Surat permohonan SKTR dari Calon pelanggan Pemohon
3 Reksis PLN
4 Surat jawaban ke pelanggan PLN
5 Surat kesanggupan menyediakan material Pembangunan Gardu Pemohon
6 BA Kesepakatan Hibah PLN
Perjanjian Hibah Guna Pakai Tanah Gardu Dengan Persyaratan:
Badan Hukum (contoh : Perseroan Terbatas) :
a. Sertifikat/ Bukti Kepemilikan Tanah
b. Copy SPPT PBB & bukti pelunasannya
c. Copy KTP yang menandatangani perjanjian pihak yang berhak
d. Akta Pendirian dan Perubahan Anggaran Dasar terbaru perusahaan
e. Copy NPWP
7 f. Keterangan domisili perusahaan Pemohon
f. Surat Kuasa Khusus untuk proses pengurusan listrik (apabila
diwakilkan)
Perorangan :
a. Sertifikat/ Bukti Kepemilikan Tanah
b. Copy SPPT PBB & bukti pelunasannya
c. Copy KTP & NPWP yang menandatangani perjanjian/ pihak yang
berhak;
*) Dipilih salah satu, jika penyambungan baru dibawah naungan suatu
PT/Yayasan, mohon melengkapi sesuai poin persyaratan untuk Badan
Hukum.
8 Rencana kerja dan Syarat(RKS) PLN
9 Surat Permohonan Rikmatek Pemohon
10 BA Rikmatek, dengan lampiran : PLN
- Kwitansi Pembelian Material Asli Pemohon
- Certificate of Original (COO) Pemohon
- Certificate of Manufacturure (COM) Pemohon
11 Surat Permohonan Pengawasan Pekerjaan Pemohon
12 Perintah Pengawasan dari MA PLN
13 Laporan Pemeriksaan Pekerjaan (LPP) PLN
14 Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan (BAPP) PLN
15 Sertifikat Laik Operasi (SLO) Pemohon
16 BA Serah Terima Hibah Fisik, dengan lampiran : Pemohon
- As Built Drawing Pemohon
- Foto dokumentasi Pemohon
- Rincian dan volume material terpasang Pemohon