BAB II
KAJIAN TEORI
A. Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
Model pembelajaran kooperatif tipe Teams Games Tournament
(TGT), atau pertandingan permainan tim dikembangkan secara asli oleh
David De Vries dan Keath Edward. Pada model ini siswa memainkan
permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh tambahan
poin untuk skor tim mereka.1 Pembelajaran kooperatif model TGT adalah
suatu teknik yang sama seperti STAD kecuali satu hal, yaitu TGT
menggunakan turnamen akademik, dan menggunakan kuis-kuis dan sistem
skor kemajuan individu, dimana para peserta didik berlomba sebagai
wakil tim mereka dengan anggota dari tim lain yang kinerja akademik
sebelumnya setara seperti mereka.2
Proses model pembelajaran TGT tercermin dalam firman Allah
SWT di surat Al Baqarah ayat 148 yang menjelaskan tentang perintah
Allah SWT untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan, yaitu:
”Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia
menghadap kepada-Nya. Maka berlomba-lombalah (dalam
membuat) kebaikan. dimana saja kamu berada pasti Allah
akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat).
1
[Link],CooperativeLearningTeori, Rise tdan Praktik,hlm.13.
2
Ibid., hlm.163.
14
15
Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.(QS.
al – Baqarah/2 : 148).3
Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap manusia harus
berkompetisi dalam hal kebaikan, salah satunya dalam menuntut ilmu.
Ayat tersebut berhubungan dengan metode pembelajaran TGT, karena
dalam metode pembelajaran TGT mempunyai tujuan untuk memudahkan
siswa dalam proses pembelajaran dengan berkompetisi bersama
temannya sehingga para siswa lebih baik dalam menerima materi
pelajaran yang diberikan oleh guru.
Ada beberapa penelitian terdahulu yang digunakan peneliti sebagai
dasar atau landasan peneliti dalam melakukan penelitiannya, yang pertama
penelitian yang dilakukan oleh Zaroul Mufida (2007) yang berjudul
“Efektifitas Penggunaan Pembelajaran Kooperatif (Model TGT/Teams
Games Tournament) dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Bahasa Arab
(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas II Madrasah Tsanawiyah
Almaarif 02 Singosari Malang tahun Pelajaran 2007-2008)”. Hasil
penelitian tersebut sebagi berikut:
“Terjadi peningkatan 34,36 % setelah menggunakan
pembelajaran kooperatif model TGT, hasil tersebut didasarkan
pada data yang terkumpul dari pree-test dan post-test yang
dilakukannya, sehingga penelitian ini menyimpulkan: 1) adanya
peningkatan kemampuan siswa dalam mufrodat, pemahaman isi
teks, kandungan kaidah nahwu dan sharaf dengan menggunakan
pembelajaran kooperatif model TGT, di samping temuan lainyakni:
2) Penerapan pembelajaran Kooperatif model TGT bisa menekan
egoisme siswa dan menumbuhkan rasa persaudaraan dan tolong
menolong dalam belajar, 3) Penerapan TGT pada sesi game
memberi kesempatan siswa untuk mengembangkan rasa percaya
dirinya “Seseorang ketika dipercaya, maka tumbuhlah rasa percaya
dirinya, dengan percaya diri muncul motovasi yang kuat, dengan
3
DepartemenAgamaRI, AlQur’andanTerjemahannya,hlm.24.
16
motivasi yang kuat berpeluang untuk memperoleh hasil belajar
yang lebih baik”, 4) Pengelompokan siswa sesuai kemampuan
tidak dianggap sebagai diskriminasi tapi justru mengembangkan
rasa percaya diri untuk berpeluang mendapat poin, 5) Terkadang
penjelasan teman justru lebih memahamkan bagi temannya, 6)
Sulit mengaktifkan kelompok dengan jenis kelamin yang berbeda
di Madrasah jika belum terbiasa , 7) Hubungan kerjasama yang
solid membuat siswa mudah mencari solusi bagi kesulitan belajar
yang dihadapinya, dan 8) Terkadang perhatian antar siswa dalam
bekerjasama bisa menggantikan perhatian guru yang tidak selalu
bisa merata terhadap siswa.4
Penelitian yang kedua dilakukan oleh Umi Salamah (2009) dengan
judul ”Meningkatkan Kemampuan Berbicara dengan Pembelajaran
Kooperatif model Teams Games Tournaments (TGT) (Penelitian Tindakan
Kelas di MTsN Bakalan Rayung Jombang)”. Hasil penelitian tersebut
adalah sebagai berikut:
“Penerapan Pembelajaran Kooperatif model Teams Games
Tournaments efektif dalam memperbaiki dan meningkatkan
kemampuan berbicara siswa MTsN Bakalan Rayung Jombang. Hal
ini ditunjukkan dengan bukti tingkat keberhasilan siswa dalam tes
kemampuan berbicara siswa sebelum penerapan TGT rata-rata nilai
mencapai 69,43 meningkat menjadi 75,1 pada siklus I kemudian
meningkat mencapai 80,71 pada siklus II dan ketuntasan belajar
klasikal mencapai 84% meningkat menjadi 89% pada siklus I
kemudian meningkat mencapai 97% pada siklus II. Beberapa
faktor yang menjadikan pembelajaran Kooperatif model TGT
meningkat adalah: 1) Penerapan pembelajaran Kooperatif model
TGT menarik dan menyenangkan, 2) Pengelompokan siswa sesuai
kemampuan tidak dianggap diskriminasi tapi
justrumengembangkan rasa percaya diri untuk berpeluang
mendapatkan poin, 3) Meningkatkan semangat siswa untuk
mendapatkan poin dalam tournament 4) Pembelajaran berpusat
pada aktifitas siswa, 5) Penerapan pembelajaran Kooperatif model
TGT menekan egoisme siswa dan menumbuhkan rasa
persaudaraan dan tolong menolong dalam belajar, dan 6)
4
Zaroul Mufida, Efektifitas Penggunaan Pembelajaran Kooperatif (Model TGT/ Teams Games
Tournament) dalam Meningkatkan Kemampuan Baca Bahasa Arab(Penelitian Tindakan Kelas
pada Siswa Kelas II Madrasah Tsanawiyah Almaarif 02 Singosari Malang tahun Pelajaran 2007-
2008) Tesis, Program studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Pasca Sarjana Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2008.
17
Meningkatkan motivasi siswa dalam membiasakan berbicara
bahasa arab.5”
Dari kedua penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan, bahwa:
1. Metode pembelajaran TGT dapat diterapkan di sekolah pada
jenjang MTs
2. Penerapan metode TGT berpengaruh baik pada pemahaman
siswa dalam kegiatan belajar
3. Penerpan metode TGT membuat siswa mampu menekan rasa
egoisme dan meningkatkan rasa tolong menolong dalam
mencari solusi.
Kondisi awal:
[Link] dalam menerima materi
2. partisipasi siswa kurang
3. prestasi belajar kurang
Persiapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
Mengajar & Team Study Game Tournament tiap Team
memberikan dengan anggota dan kelompok recognition
motivasi mengerjakan LKS yang berbeda
[Link] dalam menerima materi
2. partisipasi siswa meningkat
3. prestasi belajar meningkat
Kompetensi yang diharapkan
tercapai
Bagan 2.1 Proses pembelajaran TGT
5
Umi Salamah, “Meningkatkan Kemampuan Berbicara dengan Pembelajaran Kooperatif model
Teams Games Tournaments (TGT) (Penelitian Tindakan Kelas di MTsN Bakalan Rayung
Jombang)” Tesis , Program studi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Pasca Sarjana Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang 2009.
18
Proses pembelajaran TGT dari persiapan guru penerapan sampai
pelaksanaan model pembelajaran TGT serta kelebihan dan kekurangan
model pembelajaran TGT sebagai berikut:
1. Perencanaan Guru Menerapkan TGT
Menurut Sumarmi perencanaan guru dalam menerapkan model
pembelajaran TGT ada tiga tahap, yaitu:6
a. Materi
Materi pembelajaran kooperatif model TGT dirancang untuk
pembelajaran kelompok. Sebelum penyajian materi, peneliti
mempersiapkan lembar kerja siswa (LKS) terlebih dahulu yang akan
dipelajari saat belajar kelompok. Selain itu, juga dipersiapkan soal-
soal untuk turnamen dan jawabannya.
b. Membagi siswa dalam kelompok belajar
Kelompok dalam pembelajaran kooperatif model TGT terdiri
dari empat orang siswa berdasarkan kemampuan akademik yang
berbeda-beda. Siswa diurutkan menjadi empat bagian yaitu kelompok
tinggi, sedang 1, sedang 2, dan kelompok rendah. Kelompok-
kelompok yang terbentuk diusahakan berimbang baik dalam hal
kemampuan akademiknya maupun jenis kelaminnya.
c. Membagi siswa di meja-meja turnamen
Dalam pembelajaran kooperatif model TGT, tiap meja
turnamen terdiri atas empat siswa yang berkemampuan homogen, hal
6
Sumarmi, Model-Model Pembelajaran Geografi(Malang: Aditya Media Publishing, 2012), hlm.
60-61.
19
ini bertujuan agar dalam pelaksanaan game tournament persaingan
dalam kelompok seimbang.
2. Pelaksanaan TGT
Di dalam pelaksanaan TGT dibagi ke beberapa tahap seperti: .7
a. Penyampaian Materi
Setiap pembelajaran kooperatif model TGT dimulai dengan
kegiatan penyajian materi sekilas oleh guru yang mencakup
kegiatan pembukaan, pengembangan, dan latian terbimbing.
1) Pembukaan
Guru memberitahukan apa yang akan dipelajari dan
mengapa itu penting dipelajari? Di sini seorang guru
dituntut bisa membangkitkan keingintahuan siswa.
Selanjutnya, guru membagi siswa menjadi beberapa
kelompok dalam pembelajaran kooperatif dan membagi
kelompok baru untuk turnamen, di mana kemampuan
akademik pada kelompok baru yang sama/homogen atau
hampir sama.
2) Pengembangan
Guru memberikan fokus yang akan dicapai dan
mendemonstrasikan konsep atau keterampilan secara aktif
dengan menggunakan media pembelajarannya. Selain itu,
guru juga harus sering menilai kemajuan siswa dengan
mengajukan banyak pertanyaan, sekaligus menjelaskan
mengapa jawaban itu benar atau salah.
7
Ibid., hlm. 61-62.
20
3) Latihan terbimbing
Setelah guru menjelaskan dan mendemonstrasikan
materi, langkah selanjutnya yang dilakukan guru adalah
meminta siswa untuk mengerjakan soal-soal atau memberi
tugas. Hal ini dilakukan untuk memantau siswa apakah
paham dengan konsep yang disampaikan.
b. Belajar Kelompok
Belajar kelompok, siswa belajar dengan menggunakan
LKS dan setiap kelompok mendapat LKS. Belajar kelompok
berfungsi untuk memastikan bahwa setiap anggota kelompok
memahami materi yang sedang dipelajari dan mempersiapkan
anggota kelompok untuk menghadapi turnamen. Jadi, dalam
belajar kelompok ini yang mengalami kesulitan belajar akan
dibantu oleh siswa yang lebih paham sehingga setiap anggota
kelompok mempunyai penguasaan materi yang sama.
Proses belajar kelompok setelah dilakukan, jika masih ada
pertanyaan yang sulit diselesaikan oleh semua kelompok atau
sebagian besar kelompok, guru bisa melakukan presentasi dengan
menunjuk perwakilan salah satu kelompok untuk menjelaskan ke
depan, kemudian diadakan pembahasan bersama-sama.
c. Turnamen/lomba
Bentuk turnamen secara rinci diuraikan sebagai berikut:
21
1) Dalam meja turnamen telah disediakan satu set seperangkat
pembelajaran yang sama untuk semua meja turnamen
2) Guru memberikan kartu nomor kepada masing-masing meja
turnamen. Kartu tersebut dikocok dan kemudian dibagikan kepada
anggota kelompok dalam meja turnamen. Siswa yang mendapatkan
kartu yang paling tinggi maka dia bertindak sebagai lider,
sedangkan kartu dari siswa lain dikembalikan lagi. Lider adalah
orang yang membaca soal sekaligus yang menjawabnya. Soal yang
dibacakan oleh lidermerupakan soal yang harus dikerjakan oleh
seluruh siswa dalam meja turnamen tersebut (celing). Searah
dengan putaran jarum jam maka celing-1, celing-2, celing-3,
celing-4 juga menjawab soal. Celing-4 bertugas melihat kunci
jawaban setelah semua siswa menjawab.8
3. Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran TGT
Kelebihan model pembelajaran TGT antara lain:9
a. Dalam kelas Teams Games Tournament siswa memiliki
kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya.
b. Rasa percaya diri siswa menjadi tinggi.
c. Perilaku mengganggu terhadap siswa menjadi kecil
d. Motivasi siswa menjadi bertambah.
e. Pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi.
f. Meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, toleransi antara siswa
dengan siswa dan antar siswa dengan guru.
8
Shohibul Kahfi, Pembelajaran Kooperatif dan Pelaksanaannya dalam Pembelajaran
Matematika (Malang: FMIPA UM, 2003), hlm.8
9
Tukiran Tanireja dkk. Model-model Pembelajaran Inovatif. (Bandung: Alfabeta, 2011) hlm. 72.
22
g. Interaksi belajar di dalam kelas menjadi lebih hidup dan tidak
membosankan.
Kelemahan model pembelajaran TGT antara lain: 10
a. Bagi pengajar pemula model ini membutuhkan waktu yang
banyak.
b. Membutuhkan sarana dan prasarana yang memadai.
c. Dapat menimbulkan suasana yang gaduh di dalam kelas.
B. Ilmu Tajwid
1. Pengertian ilmu tajwid
Tajwid secara bahasa berasal dari kata awwada, yujawwidu,
tajwidan yang artinya membaguskan atau membuat jadi bagus.
Sedangkan ilmu tajwid menurut istilah adalah suatu ilmu pengetahuan
cara membaca al-Qur’an dengan baik dan tertib menurut makhrojnya,
panjang pendeknya, tebal tipisnya, berdengung atau tidaknya, irama
dan nadanya, serta titik komanya yang sudah diajarkan oleh Rasulullah
kepada para sahabatnya.11Jadi ilmu tajwid ini sangat penting bagi para
pembaca al-Qur’an sebagai pengantar membaca al-Qur’an yang benar,
karena tanpa ilmu tajwid orang membaca al-Qur’an akan seenaknya
sendiri seperti membaca bacaan yang lain semisal syair. Untuk
menghindari kesalahan dalam membaca al-Qur’an maka dibutuhkan
pemahaman ilmu tajwid. Contoh: 12
10
Sumarmi,[Link]., hlm. 64.
11
Sei. H. DY. Tombak Alam, “Ilmu Tajwid Populer” 17 Kali Pandai(Jakarta: Bumi Aksara, 2002)
hlm. 15.
12
M. Basori Alwi Murtadho, Pokok-Pokok Ilmu Tajwid (Malang:CV Rahmatika,2009), hlm 32-37
23
ْن
a. Hukum nun mati ( ) dan tanwin ( ـٌـ ـ, ـٍـ ـ,)ـًـ ـ
1) Idhar halki (Terang)
Mengeluarkan huruf dari makhrojnya dengan jelas,
hurufnya ْنatau ـٌـــ, ـٍـــ, ـًـــbertemu dengan ھ, أ, غ, ع, خ,ح,
contoh : ِم ْنُهْم
2) Idghom Bighunnah (Melebur Dengan Mendengung)
ْنatau ـٌـــ, ـٍـــ, ـًـــbertemu dengan و, ن,م, dan يmaka huruf
nun sukun dileburkan dengan berdengung, contoh: ُّمَم َّدَد ٍة ِفى
َع َم ٍدharus dibaca Fīʿamadimmumaddadah.
3) Idghom Bilaghunnah (Melebur Tanpa Berdengung)
ْنatau ـٌـــ, ـٍـــ, ـًـــbertemu dengan huruf رdan ل, maka huruf
nun mati dileburkan tanpa dengung, contoh َثَم َر ٍة ِّر ْز ًقا dan ِم ْن
ِّر ِّبِهْم
Kecuali nun mati atau tanwin bertemu dengan keenam
huruf idgam tersebut tetapi ditemukan dalam satu kata, seperti
ِقْنَو اٌن, ُبْنَياٌن, dan ِص ْنَو اٌن, maka ْنatau ـٌـــ, ـٍـــ, ـًـــtersebut dibaca
jelas.
4) Ikhfa’ hakiki (Samar)
24
Apabila terdapat ْنatau ـٌـــ, ـٍـــ, ـًـــbertemu dengan salah
satu huruf dari ت ث د ذ ز س ش ص ض ط ظ ك ف ج قmaka huruf
Nun mati dibaca samar-samar, contoh: َم ْنُصْو ًر ا
5) Iklab (Mengubah)
Jika ْنatau ـٌـــ, ـٍـــ, ـًـــbertemu dengan huruf ب, maka Nun
mati berubah menjadi Mim mati, contoh: َلُيۢن َب َذ َّن
b. Hukum Mim Mati
1) Ikhfa’ Syafawi
Bertemunya huruf ْمdengan بmaka dibaca samar antara
مdengan بcontoh: َو ُه ْم َب اِر ُز ْو َن
2) Idhar Syafawi
Bertemunya ْمdengan huruf selain بdan مmaka cara
membacanya harus jelas, contoh:
3) Idghom Mislain/Mimi
Bertemunya ْمdengan huruf مmaka ْمdilebur sehingga
huruf مyang ke dua seperti bertasydid, contoh: َلُك ْم َم اِفى
2. Hukum mempelajari ilmu tajwid
Hukum dalam mempelajari ilmu tajwid sebagian ulama
berpendapat wajib hukumnya mempelajari ilmu tajwid itu. 13 Hal ini
diperkuat dengan adanya firman Allah pada surat Al-Muzammil ayat
4, yaitu:
…
“.... bacalah Al Quran itu dengan perlahan-lahan.”
13
I Sei. H. [Link]., hlm.16.
25
Maksud dari ayat di atas adalah anjuran untuk membaca ayat-
ayat Al-Quran dengan perlahan-lahan yaitu memperhatikan hukum
tajwid serta kaidah bacaannya sehingga dapat mengurangi resiko
kesalahan dalam membacanya dan membantu kita dalam memahami
isi serta makna dari ayat-ayat Al-Quran.
3. Tujuan mempelajari ilmu tajwid
Tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah mencapai
kesempurnaan dalam penetapan (pengucapan) lafadh Allah
sebagaimana yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW yang
lisannya lebih fasih. Tujuan yang lain yaitu untuk menjaga lisan dari
kesalahan saat membaca kitabullah.14Membaca Al-Quran dengan yang
diajarkan Nabi Muhammad SAW akan menghindarkan kita dari
kesalahan-kesalahn dalam membaca ayat Al-Quran yang dapat
merubah arti dari ayat Al-Quran tersebut.
C. Penerapan Model Pembelajaran Teams Games Tournament (TGT)
Dalam Materi Tajwid
Model pembelajaran Team Games Tournament (TGT) memiliki
sintak yang sesuai dengan struktur pembelajaran yang terdiri dari
pendahuluan, inti dan penutup. Menurut Amin suyitno Team Games
Tournament (TGT) merupakan model pembelajaran kooperatif untuk
pengelompokan campur yang melibatkan pengakuan tim dan tanggung
jawab kelompok untuk pembelajaran individu anggota. Penambahan skor
14
Syeh Muhammad al-Mahmud, Hidayatul Mustafid fi Ahkmit Tajwid (Semarang: Pustaka al-
Alawiyah, 1408 H), hlm. 4.
26
perolehan tim/kelompok setelah pelaksanaan kuis, antar kelompok
dipertandingkan suatu permainan edukatif (Edukative Games).15
Sedangkan menurut Melvin L. Silberman inti dari TGT adalah
menggabungkan kelompok belajar dan kompetisi tim, dan bisa juga
digunakan untuk meningkatkan pembelajaran beragam fakta, konsep, dan
ketrampilan.16
Pembelajaran kooperatif tipe TGT adalah salah satu tipe atau model
pembelajran kooperatif yang mudah diterapkan, melibatkan, aktivitas
seluruh peserta didik tanpa harus ada perbedaan status, melibatkan peran
aktif dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas
belajar dalam model pembelajaran kooperatif tipa TGT melibatkan
pengakutan tim dan tanggungjawab kelompok untuk pembelajaran
individu anggota. Inti kegiatan dalam TGT adalah:
1) Mengajar : guru mempresentasikan materi pelajaran
2) Belajar pada tim : peserta didik belajar melalui kegiatan kerja dalam
tim/kelompok mereka dengan dipandu oleh lembar kegiatan, untuk
menuntaskan materi pelajaran.
3) Pemberian kuis: peserta didik mengerjakan kuis secara individu dan
tidak boleh kerjasama untuk menambah skor tim/kelompok setelah
pelaksanaan kuis, antar kelompok pertandingan suau permainan
edukatif (educative games).17
15
Amin Suyitno, Pemilihan Model-model Pembelajaran dan Penerapannya di SMP (Semarang:
UNNES, 2007), hlm 10.
16
Melvin L. Silberman, Active Learning 101 cara Belajar Siswa Aktif, (Bandung: Penerbit
Nusamedia Kerjasama dengan Penerbit Nuansa, 2004), hlm.181
17
Amin Suyitno, [Link], hlm.10
27
4) Penghargaan: pemberian penghargaan pada peserta didik yang
berprestasi dan tim/kelompok yang memperoleh skor tertinggi dalam
kuis.
Untuk itu guru harus mempersiapkan suatu permainan yang
mendidik yang dimainkan peserta didik setelah pelaksanaan kuis. Dengan
demikian, peserta didik memainkan permainan dengan anggota-anggota
kelompok lain untuk memperoleh tambahan skor/poin bagi tim mereka.
1. Perencanaan guru menerapkan model pembelajaran TGT
dalam materi tajwid
Perencanaan guru menerapkan model pembelajaran TGT
dalam materi tajwid dibagi menjadi tiga, yaitu:
a. Guru mempersiapkan materi tajwid
Pemberian materi tajwid dalam pembelajaran TGT
dirancang sedemikian rupa untuk pembelajaran kelompok dan
turnamen. Guru harus mempersiapkan work sheet yaitu materi
pada saat belajar kelompok, dan lembar jawab dari work sheet
tersebut. Selain itu guru juga harus mempersiapkan soal-soal
turnamen.18
b. Membagi siswa dalam kelompok belajar
Guru harus mengelompokkan siswa dalam satu kelas
menjadi 4-5 kelompok yang kemampuannya heterogen. Cara
pembentukan kelompok dengan mengurutkan siswa dari atas
18
Shohibul Kahfi, [Link],. hlm. 4
28
kebawah dan dari bawah berdasarkan kemampuan akademiknya. 19
Kemampuan akademik dilihat dari data tentang siswa atau nilai
yang pernah didapat,jika perlu diadakan sosiometri dan membuat
sosiogram dari kelas bersangkutan untuk mengetahui siswa yang
favorit, banyak teman, disukai, dan santri yang terisolasi.20
c. Membagi siswa di meja-meja turnamen
Pembagian kelompok turnamen terdiri dari 4-5 siswa yang
mempunyai kemampuan akademik yang sama (homogen) dan
berasal dari kelompok belajar yang berbeda.21
2. Pelaksanaan model pembelajaran TGT dalam materi tajwid
a. Guru menyampaian materi tajwid
1) Pembukaan
Guru menyampaikan materi tajwid yang akan
dipelajari pada awal pembelajaran dan memberikan
motivasi agar siswa lebih tertarik dalam mempelajari materi
tajwid.
2) Pengembangan
Penyampaian materi tajwid secara garis besar oleh
guru. Guru menjelaskan sekilas inti dari materi dengan
menggunakan berbagai ragam metode sesuai dengan
19
Ibid..
20
Kementrian agama RI,Panduan Model Pembelajaran Efektif Madrasah Diniyah Takmiliyah,
(Tahun 2014),hlm.37
21
Shohibul Kahfi, [Link],. hlm.4
29
kenyamanan guru, bias melalui ceramah, Tanya jawab, atau
bisa melalui demonstrasi.22
3) Latihan terbimbing
Pada tahap ini guru meminta siswa untuk
mengerjakan soal-soal materi tajwid atau member tugas.
Hal ini dilakukan untuk melihat pemahaman siswa dalam
penguasaan materi tajwid.
b. Belajar kelompok dengan materi tajwid
Guru membacakan anggota kelompok dan meminta siswa
untuk berkumpul sesuai dengan kelompoknya masing-masing.
Kelompok biasanya terdiri dari 4 atau 5 siswa yang anggotanya
heterogen. Dilihat dari prestasi akademik, jenis kelamin, dan ras
atau etnis. Guru memerintahkan kepada siswa untuk belajar dalam
kelompok (kelompok asal). Fungsi kelompok adalah untuk lebih
mendalami materi bersama teman kelompoknya dan lebih khusus
untuk mempersiapkan anggota agar bekerja dengan baik dan
optimal pada saat game. Biasanya belajar kelompok ini
mendiskusikan masalah bersama-sama, membandingkan jawaban
dan memperbaiki pemahaman yang salah tentang suatu materi.
Kelompok merupakan bagian yang utama dalam TGT.
Dalam segala hal, perhatian ditempatkan pada anggota kelompok
agar melakukan yang terbaik untuk kelompok dan dalam
kelompok melakukan yang terbaik untuk membantu sesama
anggota. Jika ada satu anggota yang tidak bisa mengarjakan soal
22
Rudi Hartono,Ragam Model Mengajar yang Mudah diterima Murid,(Jogjakarta:DIVA
Press,2014),hlm.110.
30
atau memiliki pertanyaan yang terkait dengan soal tersebut, maka
teman sekelompoknya mempunyai tanggungjawab untuk
menjelaskan soal atau pertanyaan tersebut. Jika dalam satu
kelompok tersebut tidak ada yang bisa mengerjakan maka siswa
bisa meminta bimbingan guru. Setelah belajar kelompok selesai
guru meminta kepada perwakilan kelompok untuk
mempresentasikan hasil kerja kelompok. Dalam pembelajaran
TGT guru bertugas sebagai fasilitator berkeliling dalam kelompok
jika ada kelompok yang mengalami kesulitan.23
c. Turnamen/lomba dengan materi tajwid
Setelah siswa belajar kelompok, langkah selanjutnya
adalah diadakan turnamen. Dalam hal ini, guru membagi
kelompok yang terdiri dari 3-4 orang yang mempunyai
kemampuan akademik homogen. Dalam turnamen, setiap
anggota kelompok akan mengerjakan soal. Setiap anggota
kelompok mempunyai andil yang besar dalam memberikan
kontribusi skor pada kelompok karena sekor individu akan
menentukan skor kelompok sehingga setiap anggota kelompok
mempunyai tanggung jawab terhadap kelompok asalnya.
Prosedur turnamen yaitu:24
1) Setiap meja turnamen disediakan satu set perangkat
pembelajaran yang sama meliputi kartu soal, lembar jawab,
dan kartu pengocok. Lembar jawab bisa ditaruh di meja
23
Shohibul Kahfi,[Link].,hlm.6.
24
Sumarmi,[Link]., hlm.62-63.
31
turnamen atau menyatu dengan pertanyaannya sehingga
orang yang membacakan soal tidak boleh ikut menjawab.
2) Satu orang siswa dalam satu kelompok mengocok kartu,
dan secara bergiliran siswa yang bertugas mengocok kartu
tersebut mengambil satu kartu soal, kemudian membacakan
pada anggota kelompok lainnya dalam satu meja. Setelah
itu, anggota kelompok menjawab pertanyaan dari siswa
tersebut, begitu seterusnya dengan arah pemutaran soal
searah jarum jam.
3) Jika siswa sudah manjawab pertanyaan, dilanjutkan
kepertanyaan kedua dan seterusnya. Setiap siswa
mempunyai kesempatan beberapa kali untuk menocok kartu
dan membacakan soal tergantung jumlah kartu yang
disediakan guru, biasanya jumlahnya merupakan kelipatan
dari jumlah pemain.
4) Bagi meja yang telah menyelesaikan soal pertama segera
melanjutakan ke soal berikutnya, sampai kartu soal yang di
meja turnamen habis atau waktu yang disediakan guru
sudah habis.
5) Jika dalam turnamen ada kelompok yang sudah selesai
melakukan turnamen terlebih dahulu maka kelompok
tersebut segera mengumpulkan lembar skor turnamen pada
guru.
32
6) Setelah semua kelompok selesai melakukan turnamen maka
guru mencocokkan jawaban dengan cara menuliskan skor
di papan tulis.
7) Skor yang diperoleh anggota dalam turnamen digabungkan
dengan anggota kelompok lainnya, kemudian dilihat jumlah
skor keseluruhan dan diamati mana waktu yang terpendek.
8) Kelompok yang bermain paling cepat dan skor paling tinggi
itulah pemenangnya.