Nama: Dwiastri Iris Sarwastuti
NIM: 012023143084
Resume Dissection
1. Current Update in Thoracic Trauma: The Lethal Six- Prof. Puruhito
Trauma toraks terjadi 25% dari semua kematian akibat trauma. Sebagian sekitar 90% semua
pasien trauma toraks dapat dilakukan tindakan konservatif seperti drain toraks, analgesi,
monitoring. Peran dokter umum sebagai ‘garis depan’ dalam penangan trauma toraks ‘pre-
hospital’
Penyebab utama: kecelakaan lalu lintas 10-15% sedangkan trauma lain kematian 25%. Data
statistic trauma toraks 30% penderita meninggal sebelum sampai RS adalah trauma toraks.
Peneybab kematian dini: 1. Tension pneumotoraks, 2. Obstruksi jalan nafas, 3. Perdarahan.
Fisiologi pernafasan: Kontraksi diafragma dan otot-otot interkostal selama inspirasi
meningkatkan volume intratorakal, sehingga menurunkan tekanan intratorakal, memungkinkan
aliran pasif udara ke dalam paru-paru (inspirasi).
Pada trauma toraks proses aktif (inspirasi) terhambat menyebabkan nyeri, ketika ekspirasi (pasif)
CO2 menumpuk.
Pemeriksaan X-ray dada anteroposterior tetap menjadi titik awal dari pemeriksaan pencitraan.
Pencintraan lain seperti computed tomography (CT-scan) dapat menambahkan informasi penting
yang tidak tersedia pada radiografi konvensional. CT scan mampu menilai cidera aorta traumatis
akut, juga cidera paru, trakeobronkial, jantung, diafragma, dan tulang dada lebih baik dari X-ray.
Trauma toraks okulta akan dapat terlihat melalui pemeriksaan CT-scan toraks pada 71% dari
kasus: Kontusio pulmonum 22%, pneumotoraks 17%, hematotoraks 41%, fraktura kosta(e)
54%, fraktura sternum 0,5%, trauma pembuluh darah besar, perlukaan diafragma.
Tindakan awal saat menerima pasien trauma toraks saat di IGD yaitu MITT:
Mekanisme dari trauma toraks nya
Inspeksi dari apa yang ditemukan
Tanda dan gejala (respiratory rate, SpO2, nadi, tekanan darah)
Terapi yang telah diberikan pada pra-RS
Dasar penanganan trauma berdasarkan pedoman ATLS dengan
Primary Survey
A : Airway with C-spine control
B : Breathing with ventilation
C : Circulation with hemorrhage control
D : Disability : neurologic status
E : Exposure/environment with temperature control Resuscitation
Secondary Survey: head - toe evaluation and history
Reevaluation –> definitive care
Setelah survei primer, cedera yang mengancam jiwa harus segera disingkirkan seperti:
Airway obstruction, tension pneumothorax, open pneumothorax, massive haemothorax, flail
chest, cardiac tamponade 🡪 MENGANCAM JIWA AKUT ‘LETHAL SIX’
Survei sekunder akan memberikan informasi tentang cedera yang berpotensi mengancam jiwa:
Pulmonary contusion, myocardial contusion, aortic disruption, traumatic diaphragmatic rupture,
tracheobronchial disruption, oesophageal disruption 🡪 POTENSIAL MENGANCAM JIWA
Fraktur costae, fraktur sternum, hemathoraks ringan, simple pneumothorax 🡪 KURANG
MENGANCAM JIWA
Kejadian penyebab kematian meningkat jika: penurunan GCS (Glasgow Coma Scale), usia yang
lebih tua, fraktur costae multiple, perlukaan trakeo-bronkial, ruptur hepar/lien
Manjemen trauma toraks:
Open Pneumotoraks = sucking wound
High flow O2
Tutup sisi luka dengan perban / kasa steril dan diplester pada tiga sisinya
Manajemen jalan nafas secara progresif bila diperlukan
Tension Pneumotoraks
Konfirmasi : Auskultasi & Perkusi
Dekompresi Pleural: ruang interkostal-II pada mid-clavicular line, sisi atas tiga dengan
jarum besar: 14g 🡪 needle thoracocentesis
Membuat “kontra-ventil”: potongan sarung-tangan karet atau “Heimlich valve”
Pungsi kantung perikard sebagai diagnostic dan pengobatan di titik Larrey 🡪 di tusuk 2 cm
lateral sternum kemudian jarum di arahkan ke proksimal clavicula
Flail chest = paradoxal movement 🡪 pemberian analgesi atau anestesi local untuk penangan
gerak nafas. Cara penusukan: Dorong jarum suntik sampai menabrak iga, turunkan kearah bawah
tepi iga dan arahkan ke saraf interkostal. Untuk mencegah terkena pembuluh darah, lakukan
aspirasi sebelum menyuntikkan anestesi.
Fraktur tulang iga: iga 1-3 membutuhkan tenaga yang besar untuk dapat patah, iga 4-9 yang
paling sering mengalami patah, iga 9-12 jarang dapat patah🡪apabila patah, hipoventilasi
menyebabkan nyeri
Fiksasi patah iga dengan SHAPP (Setiono, Heru, Agung, Paul, Puruhito)
2. Current Approach and Management on Acute Abdomen – dr. Ismu
Akut abdomen disebabkan karena nyeri akibat dari masalah bedah dan non bedah secara tiba-tiba
yang dapat bergejala dan terdapat tanda. Jika terlambat dalam diagnosis dapat menyebabkan
kematian sehingga perlu resusitasi hingga tindakan pembedahan
Definisi akut abdomen:
Akut abdomen adalah suatu kegawatan abdomen yang dapat terjadi karena masalah nyeri
abdomen yang terjadi tiba-tiba dan berlangsung kurang dari 24 jam
kelainan nontraumatic timbul mendadak gejala utama pada abdomen dan tindakan bedah
segera
Epidemiologi
Kasus yang tinggi di IGD dengan segala usia, jenis kelamin, status sosio-ekonomi. di Amerika
Serikat 5% hingga 10% (5 hingga 10 juta) pasien unit gawat darurat menunjukkan gejala dan
tanda dari kondisi ini. Studi lainnya mencatat presentasi pasien unit gawat darurat sebesar 25%
yang mengeluhkan nyeri abdomen
Penyebab non bedah ada 3 kategori, yaitu :
Gangguan metabolik dan endokrin : uremia, krisis diabetic, krisis penyakit Addison.
Gangguan hematologi : krisis anemia sel sabit, leukemia akut, dan penyakit darah lainnya.
Obat-obatan dan racun : keracunan logam berat, ketergantungan obat narkotik.
Penyebab bedah ada 5, yaitu :
Perdarahan: ruptur aneurisma arteri, KET
Infeksi: appendicitis, kolesistitis,
Perforasi: perforasi kanker gastrointestinal, perforasi diverticulum
Obstruksi : adhesi obstruksi usus besar, hernia incarserata, kanker gastrointestinal.
Iskemia : thrombosis atau emboli arteri mesenterika, colitis iskemik, torsi ovarium, hernia
strangulata.
Lokasi nyeri abdomen:
Epigastrium: pankreatitis, ulkus gaster, ca pancreas
Hipokondrium kanan: kolesistitis, kolangitis, hepatitis
Hipokondrium kiri: nyeri limpa, abses subfrenikus, virus
Periumbilikus: pankreatitis, ca pancreas, aneurisma aorta
Lumbal: batu ginjal, pielonfefritis
Inguinal: penyakit kolon, ca ovarium, KET
Jenis dan letak nyeri
-Nyeri Visceral terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut,
misalnya karena cedera atau radang
- Nyeri Somatik terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi,
misalnya regangan pada peritoneum parietalis, dan luka pada dinding perut
Sifat nyeri: nyeri alih, kolik, kontinyu, iskemik, proyeksi/phantom
Onset dan progresifitas nyeri
Timbul nyeri mendadak (detik), cepat (jam), perlahan (beberapa jam), nyeri hebat mendadak
seluruh abdomen seperti perforasi, rupture aneurisma, KET, abses
Karakteristik nyeri
Sifat, lama, derajat
Nyeri superficialm tajam 🡪 perporasi ulkus, abse ovarium, KET
Nyeri kolik (kontraksi otot polos) 🡪 kolik ureter ada interval bebas nyeri
Nyeri iskemik/strangulate🡪 thrombosis vena mesentrika
Gejala
Muntah setelah nyeri juga tanyakan riwayat muntah. Rangsangan aferen visceral di medulla
(pusat muntah) lanjut ke eferen. Bisa juga karena obstruksi usus tinggi cepat menetap, rendah
lambat bertahan sampai jam-hari.
Diagnosis
Diperlukan anamnesis, pemeriksaan fisik, penunjang
Anamnesis:keluhan utama, RPD, RPK, riwayat obat/alergi, mens, social-ekonomi
Pemfis: kesakitan, shock/dehidrasi, takikardi, febris/hipotermi, kesadaran baik/menurun
Inspeksi : datar/cembung, warna kulit,gambaran & gerakan usus
Auskultasi : bising usus
Perkusi : nyeri ketok, pekak hepar
Palpasi : nyeri tekan, nyeri lepas defense muskuler , massa tumor
Rectal Toucherfis: kesakitan, shock/dehidrasi, takikardi, febris/hipotermi, kesadaran
baik/menurun
Penunjang: darah lengkap, biokimia darah: amilase, glukosa, faal hepar, urinalisis
Imaging: USG&CT Scan
Tindakan penanggulangan darurat
Resusitasi = untuk memperbaiki sistim pernafasan dan kardiovaskular
Restorasi keseimbangan cairan dan elektrolit
Pencegahan infeksi dengan pemberian antibiotika
Tindakan penanggulangan definitive
Menghentikan sumber perdarahan
Menghilangkan kontaminasi
Mengembalikan kontinuitas passage usus
3. Management of Head & Brain Injury in Primary Care – Dr. Tedy
Definisi TBI = cedera otak dengan gangguan fungsi/ada patologi otak yang yang disebabkan
oleh pengaruh eksternal
Epidemiologi
Eropa: terdapat 47 - 694 kasus baru per 100.000 orang dalam satu tahun, usia dewasa tua
(≥75 tahun), usia anak-anak (0 - 4 tahun) dan dewasa muda (15 - 24 tahun)
Jenis kelamin: laki-laki memiliki persentase 78,8% dari semua kecelakaan TBI
Patofisiologi
TBI-induced neuronal depolarisasi (Na+, K+, Ca2+) menyebabkan degradasi membrane
(inflamasi neuron), apoptosis, energy failure (ketidakseimbangan ATP)
Klasifikasi TBI berdasarkan GCS
Cedera Otak Ringan (COR): GCS 14-15
Cedera Otak Sedang (COS): GCS 9-13
Cedera Otak Berat (COB): GCS ≤8
TBI akibat dari primer dan sekunder
Primer: ekstraparenkim (EDH, SDH, SAH) dan intraparenkim (ICH, contusion, traum
axonal)
Sekunder (menit, jam, hari) akibat dari sistemik (hipoksia, hipotensi, hipertermia,
hipo/hiperglikemi, gangguan elektrolit) dan intracranial (TIK tinggi, kejang, edema otak)
Prinsip tatalaksana cedera otak
- Penanganan cedera otak primer
- Mencegah dan menangani cedera otak sekunder
- Optimalisasi metabolisme otak
- Rehabilitasi
Tatalaksana awal di IGD
(PRIMARY SURVEY)
Airway & Breathing = Intubasi: Cedera Otak Berat, Cedera Maksilofacial berat,
penurunan kesadaran progresif, Saturasi >90%
Circulation= IV line sebanyak 2 untuk menjaga hemodinamik, pemeriksaan FAST
dilakukan segera bila ada kecurigaan cidera internal (abdomen), bleeding surgical control
tidak boleh ditunda terutama pada anak
Disabilities (Evaluasi GCS)
Exposure (Mencari jejas di extremitas lain)
(SECONDARY SURVEY)
Identitas: nama, umur, jenis kelamin, alamat dll
Keluhan (nyeri kepala hebat, penurunan kesadaran, kejang, vertigo), mekanisme, waktu
perjalanan trauma
Riwayat mabuk, alcohol, pasca operasi
Riwayat penyerta: jantung, epilepsy, asma, HT, DM, pembekuan darah
Pemeriksaan fisik
Inspeksi, RTpalpasi, perkusi, auskultasi dari ujung kepala-kaki, B1-B6
GCS, meningeal Sign, reflex pupil, reflek cahaya, motoric, sensorik, Reflek Fisiologis :
BPR/TPR/APR/KPR, Reflek Patologis : Babinski, Chadock, HT, Autonom
Pemeriksaan penunjang
X-ray cervical, CT Scan cervical, Thorax AP, CT Scan kepala tanpa kontras
Lab: DL, SGOT/SGPT, BUN, SK, serum elektrolit
Indikasi pemeriksaan foto polos kepala : Kehilangan kesadaran, amnesia, Nyeri kepala
menetap, Gejala neurologis fokal, Jejas pada kulit kepala, Kecurigaan luka tembus, Keluar
cairan cerebrospinal atau darah dari hidung atau telinga, Deformitas tulang kepala, yang
terlihat atau teraba, Kesulitan dalam penilaian klinis : mabuk, intoksikasi obat, epilepsi, anak,
Pasien dengan GCS 15, tanpa keluhan dan gejala tetapi mempunyai resiko :benturan
langsung atau jatuh pada permukaan yang keras, pasienusia > 50tahun
Indikasi ICP:
COB +Abnormal CT Scan atau COB + Normal CT Scan diikuti 2 tanda atau lebih yaitu Usia
> 40, Tensi < 90, Postur Abnormal bilateral/unilateral
CT Scan: bone window & brainwindow
Rules CT Scan= identitas, tipe CT Scan, skin/scalp, bone, epidural, subdural, subarachnoid
space, intraparenkim, intraventrikel
Indikasi operasi berdasarkan CT scan
EDH: tebal 1,5 cm, MLS 0,5 cm, Volume >30cc
SDH: 1 cm, 0,5 cm, - cc
ICH: -, 0,5cm, 20 cc atau 50 cc
Rumus Broderick (volume perdarahan) = Panjang X Lebar X Tinggi X 0.52
CT bawah: Panjang = 10 Skala = 10 cm, Lebar = 5 Skala = 5 cm
Jenis skull fracture 🡪 Linier fracture, Depressed fracture, Comminuted fracture, Diastase
fracture, Diastase fracture in 3D, Greenstick Fracture
Prognosis: IMPACT, Nijmegen score, Helshinki
4. Maxillofacial Fracture – Prof. Sunarto
Epidemiologi
895 kasus (170 kasus/tahun), jenis kelamin laki-laki:wanita = 6:1, paling banyak usia 21-30
tahun, penyebab terbanyak sepeda motor 61,49%
Emergency
Obstruksi airway: fraktur segmental mandibula anterior, fraktur impresif maxilla
Hemorrhage: Aspiration, exsanguination
Gejala klinis
Fraktur mandibula: Deformitas mandibula, nyeri, maloklusi, step defect, false movement
Fraktur maxilla: edema midface, nyeri, racoon eye/brill hematoma, floating maxilla,
maloklusi
Fraktur zygoma: deformitas malar, nyeri, gangguan sensoris, keterbatasan gerakan bola mata
Fraktur nasal: deformitas hidung, nyeri, hidung keluar darah, edema konka
Diagnosis
Klinis, imaging (X-ray, CT Scan) 🡪 panoramic photo pada fraktur mandibila, waters photo
pada fraktur zygoma, maxilla, nasal photo pada fraktur nasal
Le Fort I, II, III
Manajemen awal
ATLS🡪 primary survey, stabilisasi🡪 secondary survey
Airway secure:
Eksplorasi intra oral, suction, traksi lidah, orofaring tube, stabilisasi fragment
Perdarahan:
Menghentikan dengan penekanan kasa selama 10 menit, penjahitam, stabilisasi fragmen
Medikasi:
Antibiotic: Cefazolin, Analgesi, Antibodi tetanus pada fraktur terbuka yang kotor
Prinsip dasar terapi definitif fraktur maksilofasial meliputi reposisi, fiksasi, imobilisasi, dan
rehabilitasi. Fraktur nasal dilakukan reposisi, pemasangan tampon intranasal, dan
pemasangan gips kupu. Fraktur tulang maksilofasial yang lain, jika ada indikasi reposisi
terbuka maka pilihan untuk fiksasinya ialah pemasangan miniplate dan screw karena lebih
stabil daripada menggunakan wire
Transportasi: pasien sadar dan tidak sadar
5. Current Update on Burn: Treatment and Management – Prof. Sjaifuddin
Ada perubahan sistemik: kerusakan kulit, ketidakseimbangan elektrolit dan cairan, sistem
renal, digestif, sepsis
Etiologi
Api, cairan panas, bahan kimia, listrik, sunburn
Kejadian luka bakar paling banyak terjadi di rumah 82% pada dewasa
Respon luka bakar: zona koagulasi, stasis, hiperemi
Penilaian luka bakar: estimasi area dan kedalaman luka
Semakin luas luka = semakin tinggi risiko kematian
Regio badan dan ekstremitas bawah = 18% selain itu 9%
Kedalaman luka bakar= epidermal, superficial, mid dermal, deep dermal, full thickness
Pertolongan pertama = berguling di tanah, lepas pakaian, cuci dengan air 15 derajat jangan es
batu
Airway= cek jalan nafas (chin lift/jawa thrust), waspada tanda trauma inhalasai
Di atas laring= intubasi endotrakeal, bawah laring=intubasi, O2 aliran tinggi, keracunan=O2,
proteksi pasien tidak sadar
Breathing dan ventilasi= eskarotomi, pasang pulse oximetry
Circulation= cek sentral dan perifer (pulsasi, CRT, temp, local/sistemik)
Control perdarahan: pasang IV line 2 buah ukuran besar, resus cairan agar tidak shock, ambil
darah untuk lab
Disability= AVPU, pemeriksaan pupil untuk trauma intracranial/mata
Exposure= lepaskan semua pakaian, log roll, nilai luas luka
FATT (Fluids, Analgesi, Tests, Tubes)
Fluids
Dewasa: 3ml (kristaloid) x BB x TBSA, anak2: + maintenance (glukosa 5% dalam NS 0,45%)
Pada 24 jam kedua dapat diberikan koloid (albumin 5%) : 0,5 x berat badan (kg) x % TBSA
Cairan maintenance pada anak-anak (<16 tahun):
“4:2:1” Rule
4 ml/kg/jam berat badan sampai 10 kg
2 ml/kg/jam berat badan 11-20 kg
1 ml/kg/jamr untuk setiap kg berat badan >20 kg
Cek urine output
Dewasa= 0,5 ml/kg/jam
Anak = 1 ml/kg/jam
Analgesi= morfin 0,05-0,1 mg/kg, ditritasi
Test= X-ray thorax, spine, pelvis, USG, FAST Scan
Tube= kateter urin, nasogastric, intubasi
Anamnesis: AMPLE (Alergi, medikasi, past illness, last meal, events)
Survey sekunder
MOI
Kapan kejadiannya?
Durasi terpapar?
Kejadian dalam ruangan tertutup?
Apa bahan pakaian yang dipakai?
Apa sudah dilakukan pertolongan pertama (first aid)?
Pemeriksaan ujung kepala-kaki
Dokumentasi: catat, meminta persetujuan, profilaksis tetanus
Reevaluasi survey primer, lab, radiologi, EKG
Rujukan ke burn centre 🡪 SPAM (Size, Person, Area, Mechanism)
Persiapan transfer
Sistem Respirasi
Sistem Sirkulasi
Luka Bakar
Pengelolaan Nyeri
Sistem Gastro-Intestinal
Tetanus
6. Resusitasi Cairan untuk Kasus Bedah – dr. Azril
Pendahuluan
Resusitasi cairan untuk kasus emergency= SKDI level 3
Resusitasi cairan ~ mengganti cairan 🡪 cegah syok hipovolemik
Tujuan: preventif (mencegah syok seperti dehidrasi), terapeutik (mengembalikan syok ke
kondisi normal seperti dehidrasi berat)
Patofisiologi
Turunnya cardiac output (syok kardiogenik, hipovolemik, obstruktif)
Turunnya resistensi vaskular (syok distributive, syok endokrin)
KOMBINASI KEDUANYA
Etiologi syok
Non-hemoragik: tension pneumothorax, tamponade jantung, syok hipovolemik, syok
neurogenic,kardiogenic, sepsis
Hemoragik: Perdarahan eksternal dan internal (Thoraks, Abdomen, Retroperitoneum, Pelvis,
Tulang Panjang)
Tanda-tanda syok
1. Takikardi
2. Hipotensi
3. Tekanan nadi menyempit
4. Takipnea, saturasi O2 ↓↓
5. CRT >2
6. Tanda hipoperfusi organ: gangguan kesadaran, oligouria, kulit dingin pucat
Factor perancu: Usia pasien, Derajat keparahan trauma, Waktu antara trauma dengan
penanganan awal, Terapi cairan prehospital, Obat - obatan yang digunakan pasien
Resusitasi cairan
Akses vena 🡪 dobel infus 🡪vena perifer, intraosseus, vena sentral, vena seksi
Ambil sampel darah (crossmatcthing), laboratorium, (toksikologi)
Pasang kateter 🡪 monitor resusitasi
Cairan isotonik hangat (RL, Hartmann)
Dosis awal: 1 L (dewasa), 20 mL/kg (anak <40 kg) termasuk cairan pada fase
prehospital
Resusitasi agresif
Permissive hypotension keseimbangan perfusi jaringan dengan potensi rebleeding
Transfusi darah
Perdarahan kelas III – IV
Balanced resuscitation PRC: FFP: TC = 1: 1: 1
Fungsi tranfusi: Oksigen carrier (PRC), Tekanan onkotik (plasma, FFP), Fungsi
koagulasi (FFP, platelet)
Asam traneksamat 1 g / 15-30 mg/kg diulang tiap 8 jam
Perdarahan eksterna: bebat tekan, haemostatic dressing, penekanan manual arteri
proksimal luka (tourniquet)
Indikasi torakotomi
Darah inisial >1500 mL
Darah 200 mL dalam 2-4 jam
Memerlukan tranfusi persisten
Luka tusuk di dada anterior
Fraktur pelvis 🡪pelvic sling/binder, C-clamp, operasi
Fraktur tulang panjang 🡪 traksi & splint 🡪cek pulsasi distal
7. Sprain dan Strain: Common Sport Injury – dr. Andre
Ketidakstabilan pergelangan kaki bisa menjadi masalah umum dan seringkali melemahkan. Gejala sisa
selanjutnya terkait dengan ketidakstabilan pergelangan kaki kronis dapat menyebabkan komplikasi
sekunder.
Kegagalan rehabilitasi fungsional setelah keseleo pergelangan kaki akut menyebabkan perkembangan
ketidakstabilan pergelangan kaki kronis. Gejala yang paling umum adalah persepsi pasien tentang
pergelangan kaki yang tidak normal yang merupakan sakit kronis tentang pergelangan kaki lateral dan
selokan lateral. Dan yang lainnya berulang kali menyerah tanpa keseleo, keseleo pergelangan kaki yang
menyakitkan berulang, persepsi pergelangan kaki yang tidak aman, tidak dapat diandalkan atau tidak
stabil, menghindari adaptasi aktivitas termasuk olahraga dan ADL.
Ada beberapa pemeriksaan seperti anterior drawer yang positif, stress varus test dan talar tilt
tambahan yang mungkin ada juga. MRI memungkinkan untuk menilai dan mengidentifikasi kelainan
tulang dan jaringan lunak pergelangan kaki secara komprehensif diperlukan untuk menentukan strategi
pengobatan yang tepatdan pencegahan komplikasi.
Ketidakstabilan pergelangan kaki kronis mungkin memerlukan intervensi bedah. Pilihan manajemen
bedah dan konservatif dapat dikembangkan dengan pengetahuan mendalam tentang anatomi
pergelangan kaki, biomekanik, dan patologi.
Perbaikan anatomi, augmentasi oleh tendon, atau keduanya adalah metode dasar intervensi bedah.
[Link] Syndrome and Emergency Fasciotomy – Dr. Dwikora
Definisi: Peningkatan tekanan dalam kompartemen osteofascial yang kaku yang
mengancam sirkulasi ke otot dan saraf yang tertutup
Epidemiologi
Laki-laki > perempuan (ratio 7,4/0,7 per 100.000 kasus), penyebab terbanyak adalah
fraktur tibia diafisis >> distal radius >> forearm, terbanyak kedua yaitu kerusakan soft
tissue
Etiologi
Konstriksi compartment🡪 penutupan defect kulit, scarring
Peningkatan isi cairan pada compartment 🡪 edema dari kapiler ke tulang atau soft
tissue akibat terbakar, trauma, obstruksi limfatik, perdarahan intrakompartemen
Kompresi eksternal 🡪 penggunaan splint/cast tebal yang terlalu lama
Faktor risiko: peningkatan volume (fraktur, trauma langsung, keruskan reperfusi) dan
expansi (terbakar, tourniquet, cast, extravasasi cairan)
Patofisiologi
Pefusi jaringan berkurang 🡪 perfusi tekanan berkurang 🡪 peningkatan tekanan kapiler🡪
penigkatan eksudasi🡪 peningkatan isi kompartemen 🡪 aliran kapiler darah berkurang 🡪
O2 hilang 🡪 nekrosis jaringan local 🡪 iskemi otot dan kerusakan saraf
Tanda awal: Sakit di luar proporsi, Nyeri dengan peregangan pasif, Kompartemen
tegang dan bengkak
Tanda klasik (5P): Pain, Paraesthesia, Pallor, Paralasis, Pulseness
Metode pengukuran
Kateter wick, manometer jarum, infus kateter, fibreoptic
Manajemen
Identifikasi dan penghilangan gaya tekan eksternal, dan pelepasan gips atau balutan
sampai ke kulit
Anggota badan di posisikan setinggi jantung
ΔP 30 mmHg adalah ambang aman untuk dekompresi pada sindrom kompartemen
akut, ICP meningkat, ΔP menurun dan kurang dari 30 mm Hg, dan tren ini
konsisten selama periode 2 jam
Waktu ideal untuk fasciotomy adalah dalam waktu 6 jam setelah cidera dan tidak
dianjurkan lebih dari 36 jam setelah cedera
Prinsip Fasciotomi terutam open fasciotomi: Sayatan yang memadai dan ekstensif,
Pelepasan lengkap semua kompartemen yang terlibat, Pemeliharaan struktur vital,
Debridemen menyeluruh, Pelepasan kulit setelah 7-10 hari
Manajemen luka
Pada 48 hingga 72 jam setelah fasiotomi, pasien harus dibawa kembali ke ruang
operasi untuk pemeriksaan ulang dan debridemen jaringan yang tidak dapat hidup.
Jika tidak ada sisa jaringan nekrotik, kulit akan tertutup secara longgar. Jika tidak
dapat menutup dengan sempurna metode seperti NPWT, Shoelace technique dapat
dilakukan.
Komplikasi
Kerusakan reperfusi: masuknya mioglobin, kalium, dan fosfor ke dalam sirkulasi
Infeksi
Amputasi
Kontraktur Volkmann
9. How to Diagnose and Manage Urogenital Tract Injury – Prof. Soetojo
Epidemiologi
Urogenital Injury sekitar 10% pasien trauma pada usia dewasa dan kurang dari 3% anak-
anak dengan trauma multiple. Cederanya jarang berdiri sendiri dan sering ditemukan
pada cedera multiple.
Macam-macam trauma urogenital
Upper tract: trauma ginjal, ureter
Lower tract: trauma kandung kemih, urethra, genital
Trauma urogenital sering pada laki-laki usia muda
Diagnosis Trauma Ginjal
Pemeriksaan Fisik : Flank pain, flank abrasi, ekimosis, fraktur kosta, distensi abdomen
Laboratorium : DL, RFT, UL, HCT
Radiologis
USG FAST (melihat cairan bebas di Morrison pouch (hepatorenal), splenorenal,
perivesika
IVP
CT Scan Abdomen Kontras
One Shot IVU
Tatalaksana Trauma Ginjal
Non Operatif :
Pada hemodinamik stabil Bed rest, DL, UL, observasi TTV, SE serial
Grade 1-3 non operatif
Grade 4-5 expectant manajemen, dengan antibiotik dan embolisasi.
Operatif Trauma Ginjal:
Pada hemodinamik tidak stabil, tidak respon resusitasi, expanding/pulsatile peri-renal
hematom dan cedera vaskuler grade 5
Epidemiologi Trauma Ureter
Jarang terjadi, biasa karena iatrogenic, pembedahan ginekologi, trauma dengan cedera
abdomen dan pelvis berat
Diagnosis
Radiologis: CT Multiphase
Hematuria tidak bisa digunakan sebagai indicator
Tatalaksana
Pencegahan trauma iatrogenik: bisa dilakukan inserri ureteral stent pre operatif
Cedera parsial 🡪nefrostomi tube
Pemasangan stent
Late diagnostic 🡪 stent/nefrostomy tube
Prinsip tatalaksana
Debridement jaringan nekrotik
Spatulasi ureter
Watertight mucosa to mucosa anastomosis
Internal stenting
Eksternal drain
Isolasi cedera dengan peritoneum atau omentum
Trauma Kandung Kemih
Epidemiologi
Kejadian: iatrogenic (operasi ginekologis, digestif, TURP TURB)
Hampir selalu berhubungan dengan fraktur pelvis
Peningkatan tekanan vesika urinaria
Diagnosis
Pemfis: Hematuria gross
Lab
Radiologi: USG, CT Sistografi (gross hematuria – fraktur pelvis, mikroheamturia-high
risk fraktur pelvis)
Tatalaksana
Konservatif: observasi klinis, drainase baldder, antibiotic profilaksis
Operatif: cedera rektal, rupture intraperitoneal, bone fragmen
Follow up: sistografi, kateter dilepas 5-10 hari post OP
Trauma uretra
Epidemiologi
Klasifikasi: iatrogenic (katerisasi transureter, operasi), non-iatrogenic (cedera urethra
anterior-posterior)
Pemfis: hematuria, dysuria, darah pada MUE
Radiologis: USG, uretrografi
Tatalaksana
Trauma uretra Anterior (Trauma Tumpul) :
Parsial, sistostomi 2 minggu
Komplit, sistostomi 3 minggu
Laserasi>2 cm di uretra 🡪 spatulasi & anastomosis
Operatif:
Uretra posterior <48 jam: Sistostomi, PER, >3 bulan=uretroplasti
Trauma genital
Prevalensi trauma genitalia 33-66% dari trauma urogenitalital
Macam Trauma Genitalia
Fraktur Penis
Ruptur Testis
Trauma Tumpul Vulva
Faktor resiko: aktivitas seksual, masturbasi, usia, ras, pengguna motor
Pemfis: suara cracking atau popping, perlu pemeriksaan USG
Tatalaksana
Fraktur penis: eksplorasi diikuti intervensi pembedahan untuk menutup tunica
albuginea
Zipper Injury:
Penile block + lubrikasi minyak + pelepasan zipper dari kulit
Trauma Tumpul Testis
Tidak perlu intervensi bedah dan dapat diberikan analgesik non-steroid saja
Ruptur Testis
Eksplorasi + evakuasi gumpalan darah dan hematoma
10. Congenital Urogenital Tract Defect in Pediatrics – Dr. Adria
Kelainan eksternal laki-laki
a. Fimosis = kulit preputium sempit dan kulit tidak dapat ditarik ke proksimal glans penis
Etiologic= primer dapat terpisah secara spontan oleh karena:
- Deskuamasi sel epitel ke arah proximal
- Pembentukan smegma
- Perkembangan penis
- Ereksi internmitten
Sekunder= scarring, gejala : infeksi saluran kencing, retensi urin, pancuran kencing
tidak normal
Grading I-IV
Manajemen:
Non Operatif:
Krim steroid 2-3x selama 6 minggu
erapi/perawatan infeksi terlebih dahulu
Operatif: Sirkumsisi
Parafimosis
Prepusium yang fimosis dipaksakan ditarik ke bagian proximal glans, dan tidak
diposisikan kembali ke distal/posisi normal
Manajemen:
Bungkus penis dengan kain kasa dibasahi saline
Dorsal slit insisi atau sirkumsisi
Hipospadia
Muara uretra berada di bagian ventral penis, dan dapat berada dimana saja mulai dari
perineal hingga glanular, didapatkan lengkung penis
Webbed penis
Kelainan kongenital atau didapat yang ditandai dengan adanya kulit skrotum hingga
bagian ventral penis.
Buried penis
kelainan dimana penis tersembunyi/ tidak nampak di dalam bantalan lemak. Penis
berkembang secara normal namun tersembunyi oleh lemak pada suprapubic.
Kategorinya obesitas, sikatrik, kulit preputium berlebih
Torsio penis
Penis mengalami deformitas rotasi yang berlawanan arah jarum jam
Kelainan genitalia externa perempuan
Beberapa jenis, yaitu: agenesis (tidak terbentuknya) vagina, obstruksi dari vagina
(seperti himen imperforate), malformasi sinus urogenital, malformasi kloaka, dan
kelainan ginekologis lainnya, seperti adhesi labia (sinekia vulva).
Hidronefrosis antenatal
Hidronefrosis yang ditemukan pada masa antenatal, saat bayi masih berada dalam
perut ibu. Diagnosis: berdasarkan pemeriksaan diameter anteroposterior pelvis renalis
fetus, didapatkan diameter antero posterior > 4 mm pada USG trimester kedua dan >=
7 mm pada trimester ketiga
DD: transient hidronefrosis, ginjal multikistik disiplin
Pemeriksaan tambahan
USG= dilakukan minggu pertama kelahiran, jika dicurigai oligohidramnion,
hidronefrosis bilateral
Manajemen
Antibiotic profilaksis dengan hidronefrosis berat