Aktivitas Antibakteri Daun Bidara Arab
Aktivitas Antibakteri Daun Bidara Arab
RISDA
F201901035
Risda (F201901035)
“UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR
DARI DAUN BIDARA ARAB (Ziziphus Spina Christi (L.) Desf) TERHADAP
BAKTERI Propionibacterium Acnes PENYEBAB JERAWAT ”
Pembimbing I : apt. Nur Herlina Nasir, [Link]., [Link]
Pembimbing II : apt. Bai Athur Ridwan, [Link]., [Link]
(xi, 106 Halaman, 3 Gambar, 8 Tabel, 14 Lampiran)
Jerawat adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi pada remaja
dan dewasa muda. Jerawat (acne) merupakan gangguan pada kulit yang ditandai dengan
adanya peradangan yang di sertai penyumbatan pada saluran kelenjar minyak dalam kulit.
Bakteri Propionibacterium acnes merupakan agen utama inflamasi pada jerawat. Salah
satu tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri adalah Bidara arab. Jenis penelitian ini
adalah penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri
fraksi n-Heksan, etil asetat dan air daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)
terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Populasi
tanaman diperoleh di Desa Toburi, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
Metode analisis uji statistik non parametrik yaitu uji Kruskal Wallis kemudian
dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Sampel di esktraksi menggunakan metode maserasi.
Pengujian skrining fitokimia pada fraksi n-heksan positif mengandung tanin, saponin,
steroid, triterpenoid. Fraksi etil asetat positif mengandung flavonoid, tanin, saponin,
triterpenoid. Dan fraksi air positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan
steroid. Hasil Uji antibakteri Fraksi air terhadap bakteri Propionibacterium acnes pada
konsentrasi 5% yaitu 9,56 mm kategori sedang, 10% yaitu 10,44 mm kategori sedang dan
20% yaitu 12,64 mm kategori kuat. Fraksi etil asetat pada konsentrasi 5% yaitu 9,48 mm
kategori sedang, 10% yaitu 10,76 mm kategori sedang, 20% yaitu 11,7 mm kategori kuat.
Dan fraksi n-heksan pada konsentrasi 10% yaitu 6,14 mm kategori sedang dan 20% yaitu
7,58 mm kategori sedang.
Berdasarkan hasil dari pengujian aktivitas antibakteri pada fraksi n-heksan, etil
asetat dan air dari daun bidara arab pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% terbukti
menghambat pertumbuhan bakteri. Diharapkan pada peneliti selanjutnya agar melakukan
penelitian lebih lanjut dengan mencari isolat/senyawa dalam fraksi daun bidara
arab,dilakukan penelitian lebih lanjut pada bakteri yang berbeda pada fraksi daun bidara
arab.
iv
v
KATA PENGANTAR
Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan Rahmat
dan Karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji
Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Heksan, Etil Asetat dan Air dari Daun Bidara Arab
Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kata
kesempurnaan oleh karena itu saran-saran dari semua pihak yang sifatnya membangun
Pada kesempatan ini Penulis tidak lupa menghanturkan rasa terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada apt. Nur Herlina Nasir, [Link]., [Link]. Sci selaku
Pembimbing I dan kepada apt. Bai Athur Ridwan, [Link]., [Link]. Sci selaku
Pembimbing II atas semua waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikannya dalam
membimbing, mengarahkan, memberi saran maupun kritik sehingga skripsi ini menjadi
lebih baik.
Tak lupa pula Penulis haturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
Waluya
5. Ketua Prodi Farmasi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya
vi
6. Para Tim Penguji : Ibu Dr. Ratna Umi Nurlila, [Link]., [Link] selaku Penguji I, Ibu Dr.
apt. Citra Dewi, [Link]., [Link] selaku Penguji II, Ibu Selpirahmawati Saranani,
7. Seluruh Dosen dan Staf/Karyawan Universitas Mandala Waluya Kendari yang banyak
8. Melalui kesempatan ini dengan segala bakti penulis mengucapkan terima kasih dan
penghormatan yang tak terhingga kepada kedua orang tua saya Rahman dan Andi
Riska Wati yang telah mendidik, dan mendoakan sepanjang proses penulis dalam
menyelesaikan studinya sampai selesai dan Saudara yang telah mendukung dan
9. Teman-teman saya khususnya Dea K, Dea M, Atika, Melany, Majrah, Afdal, Masni,
Ayu, Anugrah, yang telah banyak membantu, dan mensuport penulis hingga penulis
mampu menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Serta seluruh teman-teman
angkatan 2019 Program Studi Farmasi yang telah memberikan bantuan dan motivasi
10. Terima kasih juga untuk orang yang bernama Serda [Link], terima kasih telah
menemani penulis dari awal perkuliahan sampai selesainya skripsi ini, selalu
mendengar keluh kesah penulis, selalu menjadi penyemangat, terima kasih kasih
Demikian semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan terutama pada
Penulis
vii
DAFTAR ISI
viii
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian............................................................................ 29
B. Tempat penelitian .......................................................................................... 30
C. Populasi dan sampel ...................................................................................... 30
D. Alat dan Bahan Penelitian.............................................................................. 30
E. Prosedur Kerja................................................................................................ 30
F. Analisis data penelitian ................................................................................. 35
G. Etika penelitian .............................................................................................. 35
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran umum penelitian........................................................................... 37
B. Analisis data.................................................................................................. 37
C. Pembahasan................................................................................................... 46
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................... 59
B. Saran.............................................................................................................. 59
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
ix
DAFTAR TABEL
x
DAFTAR GAMBAR
xi
DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN
Singkatan Arti
KHM Konsentrasi Hambat Minimum
NA Nutrient Agar
o
C Derajat Celcius
Mm Milimeter/mikrometer
G Gram
mL Mili liter
Mg Mili gram
cm Centimeter
M Meter
Depkes Departemen Kesehatan
Dpl Diatas permukaan laut
DMSO Dimetil sulfoksida
H2SO4 Asam Sulfat
FeCl3 Feri Klorida
HCl Hidroklorida
xii
DAFTAR SIMBOL
1. % : Persen
2. = : Sama dengan
3. X : Kali
4. ÷ : Bagi
5. ≤ : Kurang dari
6. ≥ : Lebih dari
7. µ : Mikro
8. ± : Kurang lebih
o
9. : Derajat
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
xiv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
tubuh, dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab yang paling umum dan
menginfeksi segala macam usia. Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh yang terdiri
atas 2 lapisan yaitu lapisan dermis dan epidermis (Browns & Burns, 2005). Kulit
mikroorganisme yang berkoloni di kulit memperoleh asupan makanan dari dalam kulit
diantaranya yaitu asam amino, asam lemak, garam, urea dan air. Hal tersebut
Jerawat adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi pada remaja
dan dewasa muda. Jerawat dapat mempengaruhi psikis dan berpengaruh terhadap citra
diri serta memberi dampak negatif pada kualitas hidup (Franca, 2017). Jerawat (acne)
merupakan gangguan pada kulit yang ditandai dengan adanya peradangan yang disertai
Pravalensi jerawat di Indonesia pada masa remaja cukup tinggi, yaitu berkisar
80-85%. Pravalensi ini meningkat setiap tahunnya. Studi yang dilakukan pada tahun
2019 sebanyak 69,7% wanita terkena jerawat dan pria sebanyak 30,3% (Sibero, et al.,
2020). Kemudian pada tahun 2021 berkisar 80 sampai 85% remaja berusia 15 sampai
18 tahun, 12% pada usia > 25 tahun dan 3% pada usia 33-44 tahun mengalami jerawat
(Lynn, et al., 2016). Sedangkan di Kota Kendari pada Tahun 2019 jerawat mencapai
367 orang dengan persentasi 38%. Penderita penyakit jerawat lebih tinggi pada wanita
dibandingkan pria, dengan puncak kejadian pada usia 15 tahun (Lestari, 2021).
1
Peradangan pada jerawat disebabkan oleh beberapa bakteri yaitu
agen utama inflamasi pada jerawat. Bakteri ini merupakan salah satu bakteri non spora,
Gram positif dan bersifat anaerob yang merupakan flora normal pada kelenjar
pilosebase yang sering dijumpai pada kulit wajah , kulit kepala. [Link] dapat
menyebabkan infeksi oportunistik berupa jerawat terutama pada masa pubertas terjadi
Saat ini masyarakat telah banyak mengenal pengobatan terhadap jerawat salah
jerawat (Aida, et al., 2016). Mekanisme klindamisin sebagai antibakteri bekerja dengan
hipersensitivitas (efek alergi) seperti ruam kulit dan sesak nafas. Resistensi bakteri
dapat diminimalisir dengan menggunakan obat herbal tumbuhan (Rahmi, et al. 2015).
Penggunaan obat tradisional dinilai memiliki efek samping lebih kecil dibandingkan
dengan obat yang berasal dari bahan kimia, disamping itu harganya lebih terjangkau.
Sebagian besar masyarakat hidup dipedesaan dan kadang sulit dijangkau oleh tim
2
Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri penyebab jerawat yang
digunakan oleh masyarakat adalah Bidara (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) Daun
bidara (Ziziphus spina- christi (L.) Desf) merupakan salah satu bahan alam yang dapat
2020). Kandungan didalam tanaman daun bidara seperti flavonoid, alkaloid, saponin,
(Mauludiyah et al., 2020). Menurut penelitian Puteri dkk., (2019) menunjukkan bahwa
ekstrak etanol daun bidara Arab mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin,
saponin dan steroid serta memiliki aktivitas antibakteri pada konsentrasi 2,5 - 40%.
Ekstrak etanol daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L) yang memiliki aktivitas
acnes dengan diameter zona hambat 12,29mm, konsentrasi 10% dengan diameter zona
hambat 14,07mm dan pada konsentrasi 20% dengan diameter zona hambat 12,72mm.
Dimana menurut pendapat Bell (2016) suatu bahan dikategorikan memiliki aktivitas
antibakteri yang baik jika bahan tersebut memiliki diameter zona hambat yang
terbentuk lebih besar dari 6mm dan bila diameter zona hambat yang terbentuk lebih
kecil dari 6mm atau tidak terbentuk zona hambat, maka ekstrak tersebut dikategorikan
Penelitian tentang daun bidara (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) sudah banyak
dilakukan dan diketahui masih sebatas pada proses ekstraksi saja , tetapi pada bagian
fraksi daun bidara belum pernah dilakukan pengujian pada bakteri Propionibacterium
bertujuan agar kandungan senyawa yang bersifat nonpolar dapat tersari dalam pelarut
n-heksan. Fraksi menggunakan pelarut etil asetat bertujuan agar kandungan senyawa
3
yang bersifat semi polar dapat tersari dalam pelarut etil asetat, sedangkan fraksi
menggunakan pelarut air bertujuan agar kandungan senyawa yang bersifat polar tersari
tentang Uji aktivitas fraksi n-heksan, etil asetat dan air daun bidara arab (Ziziphus
penyebab jerawat . Melihat hasil penelitian terdahulu tentang kandungan didalam daun
bidara yang begitu besar dan dapat dimanfaatkan menarik minat meniliti untuk
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Apa sajakah kandungan metabolit sekunder pada fraksi n-heksan, etil asetat dan air
2. Bagaimana aktivitas antibakteri fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air dari daun
C. Tujuan penelitian
1. Tujuan umum
asetat dan air dari daun bidara arab (ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap
4
2. Tujuan Khusus
asetat dan air dari daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)
dan air dari daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap bakteri
Propionibacterium acnes penyebab jerawat pada konsentrasi 5%, 10% dan 20%
D. Manfaat Penelitian
1. Ilmiah
2. Institusi
3. Praktis
a. Peneliti dapat mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, etil asetat, dan
air dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) terhadap bakteri
antibakteri daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) terhadap bakteri
5
E. Kebaruan Penelitian
n-Heksan, etil asetat dan air Daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)
6
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
membunuh pertumbuhan bakteri yang merugikan dan relatif aman digunakan oleh
bakteri pada inang yang telah terinfeksi serta mencegah terjadinya kerusakan yang
zat harus bersifat sangat toksik terhadap bakteri, tetapi relatif tidak toksik untuk
mensintesis sendiri dari asam para amino benzoat (PABA). Apabila antibakteri
7
b. Menghambat sintesis dinding sel bakteri
Dinding sel bakteri terdiri dari peptidoglikan. Kerja antibakteri ini adalah
menjadi tidak. Akibatnya, tekanan osmotik dalam sel bakteri menjadi lebih
tinggi daripada tekanan di luar sel maka kerusakan dinding sel bakteri akan
protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiah. Jika kondisi atau substansi
protein terjadi dengan cara terikatnya salah satu komponen ribosom dengan
normal sel bakteri. Apabila terjadi gangguan pada pembentukan atau pada
8
Antibakteri akan berikatan dengan enzim RNA-polimerarse sehingga
spektrum kerja (spektrum luas atau spektrum sempit), cara kerja (bakterisidal
pada kadar yang rendah tetapi mempunyai daya bunuh atau daya hambat yang
besar.
Uji aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu (Aisyah et
al., 2020):
a. Metode Difusi
berdifusinya zat antibakteri dari titik awal pemberian ke daerah difusi. Pada
metode ini dapat digunakan kertas cakram atau lubang sumuran yang
mengandung zat antibakteri di atas media yang diinkubasi pada suhu dan waktu
Kekuatan zat antibakteri bisa digolongkan sesuai dengan lebar diameter zona
hambat.
b. Metode Dilusi
suspensi kuman dalam media, sedangkan pada dilusi padat tiap konsentrasi
9
antibakteri dicampur dengan media agar lalu ditanami bakteri dan diinkubasi
pada suhu dan waktu disesuaikan dengan bakteri uji. Hasil inkubasi dengan
a. Klasifikasi
Divisi : Protophyta
Kelas : Schizomycetes
Bangsa : Eubacteriales
Suku : Propionibacteriaceae
Marga : Propionibacterium
10
adalah aerotoleran, tetapi tetap menunjukkan pertumbuhan lebih baik sebagai
acnes dengan cara merusak stratum corneum dan stratum germinat dengan cara
ini dapat menyebabkan inflamasi. Asam lemak dan minyak kulit tersumbat
sehingga padatan asam lemak dan minyak kulit yang mengeras akan membesar.
3. Antibiotik
barrier mukosa atau kulit dan menembus jaringan tubuh. Pada umumnya, tubuh
berhasil mengeliminasi bakteri tersebut dengan respon imun yang dimiliki, tetapi
bila bakteri berkembang biak lebih cepat daripada aktivitas respon imun tersebut
berikut (Katzung,2013) :
11
g. Kloramfenikol, contohnya kloramfenikol dan tiamfenikol
Pada penelitian ini digunakan antibiotik Clindamycin karena menurut Sukandar (2008),
clindamycin merupakan antibiotik lincosamide yang dapat bekerja sebagai bakteriostatik maupun
bakterisid tergantung dosis obat terjadinya infeksi dan organisme penyebab infeksi. Clindamycin
merupakan antibiotik yang berspektrum luas, dimana memiliki kepekaan terhadap bakteri aerobik
Bidara adalah sejenis pohon kecil yang selalu hijau penghasil buah yang
tumbuh didaerah Afrika Utara dan tropis serta Asia Barat, tumbuh didaerah israel
Tanaman ini berasal dari Timur Tengah dan telah menyebar di wilayah
Tropik dan subtropik, termasuk Asia Tenggara. Tanaman ini beradaptasi dengan
berbagai kondisi , tetapi tumbuhan ini lebih menyukai udara panas dengan curah
hujan berkisar 125mm dan diatas 2000mm. Suhu maksimum agar dapat tumbuh
12
baik adalah 37-48oC dengan suhu maksimum 7-13oC. Tanaman ini umumnya
Kingdom : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Ordo : Rhamnales
Famili : Rhammanaceae
Genus : Ziziphus
Ziziphus spina-christi (L.) Desf hanya tiga dari kandungan kimia yang
pkandungan fenolat flavonoid yang kaya akan manfaat. Senyawa fenolat adalah
senyawa yang mempunyai sebuah cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus
13
hidroksi, senyawa yang berasal dari tumbuhan yang memiliki ciri sama, yaitu
(Tjitrosoepomo, 2010).
1. Flavonoid
yang artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene
gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan pada rantai C3,
2. Alkaloid
nitrogen yang sering kali terdapat dalam cincin eterosiklik, tetapi ada yang
3. Tanin
menyamak kulit. Secara kimia tanin dibagi menjadi dua golongan, yaitu
tanin terkondensasi atau katekol dan tanin terhidrolis atau tanin galat.
4. Saponin
Saponin berasal dari bahasa latin sapo yang berarti sabun, karena
14
menimbulkan busa jika dikocok dengan air dan pada konsentrasi rendah
sangat encer dapat sebagai racun ikan, selain itu saponin juga berpotensi
steroid. Dua jenis saponin yang dikenal yaitu glikosida tritepenoid alkohol
5. Steroid
steroid yang penting ialah steroid alkohol atau sterol. Steroid lain asam-
kortikosteroid).
6. Kuinon
gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinon tanpa
15
warna dan juga terkadang dalam bentuk dimer. Dengan demikian
kuinon yang terdapat sebagai glikosida mungkin larut sedikit dalam air
sedikit dalam air, tetapi umumnya kuinon lebih mudah larut dalam lemak
klorofil.
mencegah timbulnya tumor. Orang Arab dan Badui telah menggunakan pasta
dari akarnya untuk pengobatan gusi. Orang Badui menggunakan teh dari buah
nya untuk meningkatkan produksi ASI dan untuk mengobati hati. Dalam
2. Metode ekstraksi
Ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah
obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan akan
diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan obat,
menggunakan pelarut yang cocok, uapkan semua atau hampir semua dari
pelarutnya dan sisa endapan atau serbuk diatur untuk ditetapkan standarnya
(Endang, 2016).
16
Teknik ekstraksi yang ideal adalah teknik ekstraksi yang mampu
dilakukan, murah, ramah lingkungan dan hasil yang diperoleh selalu konsisten jika
komponen kimia yang tidak tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai
tekstur yang lunak. Yang termasuk ekstraksi secara dingin adalah sebagai
berikut :
1) Metode maserasi
selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.
komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung
Penggunaan metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya
2) Metode Perkolasi
17
silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari
dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan
melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam
sendiri dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya
2014).
menguap yang mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga
1) Metode sokhletasi
balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk
kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon. Proses ini
beningnya cairan penyari yang melalui pipa sifon atau jika diidentifikasi
dengan kromatografi lapis tipis tidak memberikan noda lagi (Dirjen POM,
2014).
2) Metode Refluks
18
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi
penyari dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak,
ini biasanya dilakukan 3 kali dan setiap kali diekstraksi selama 4 jam (Tobo,
2011).
3. Fraksinasi
menggunkan dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Pelarut yang
umumnya dipakai untuk fraksinasi adalah n-heksan, etil asetat, dan metanol. Untuk
menarik lemak dan senyawa non-polar digunakan n-heksan untuk menarik senyawa
semi polar digunakan etil asetat, sedangkan metanol untuk menarik senyawa polar.
Prosedur pemisahan yang bertujuan untuk memisahkan golongan utama yang lain.
Senyawa- senyawa bersifat polar akan masuk dalam pelarut polar, begitu pula
senyawa yang bersifat non-polar akan masuk kepelarut non-polar (Sari, 2012).
tingkat kepolaran dan perbedaan bobot jenis antara dua fraksi, dimana fraksi yang
memiliki bobot jenis lebih besar akan berada pada fase bawah, sedangkan fraksi
yang memiliki bobot jenis yang lebih kecil berada pada fase bawah. (Pratiwi,
2019). Metode dari fraksinasi yang biasa digunakan adalah metode ekstraksi cair-
19
4. Fraksinasi Cair-cair
dikenal dengan ekstraksi cair-cair atau biasa dikenal dengan fraksinansi. Fraksinasi
senyawa-senyawa tersebut dalam dua pelarut yang tidak saling bercamput, biasanya
antara pelarut air dan pelarut organik seperti methanol, etanol, etil asetat, n-heksan
pemisah, dimana memasukan kedua pelarut yang tidak saling bercampur kedalam
corong pisah kemudian dikocok dan didiamkan. Solut atau senyawa organik akan
terhadap fase tersebut dan kemudian akan terbentuk dua lapisan. Pelarut yang
memiliki masa jenis yang lebih besar akan berada di lapisan yang paling bawah dan
pelarut yang memiliki masa jenis yang paling kecil akan berada di lapisan paling
atas.
5. Pelarut
Pemilihan larutan penyari juga harus memenuhi kriteria yaitu murah dan
mudah diperoleh, stabil secara kimia dan fisika, beraksi netral, tidak mudah
menguap dan tidak mudah terbakar, selektif yaitu menarik zat berkhasiat yang
dikehendaki, tidak mempengaruhin zat berkhasiat. Cairan penyari atau pelarut ada
3 macam yaitu pelarut polar, semi polar, dan nonpolar, contoh cairan penyari
a. Air
Air merupakan salah satu pelarut yang mudah, murah dan dipakai secara
luas oleh masyarakat. Pada suhu kamar, air merupakan pelarut yang baik untuk
20
melarutkan macam zat seperti garam-garam alkaloida, glikosida dan garam-
garam mineralnya. Kekurangan dari air sebagai pelarut yaitu diantaranya adalah
air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan jamur dan bakteri, sehingga
b. Etil Asetat
Etil asetat merupakan suatu cairan jernih, tidak berwarna, bau khas
seperti buah etil asetat larut dalam 15 bagian air, dapat tercampur dengan eter,
etanol, dan kloroform. Etil asetat ialah pelarut semi polar, mudah terbakar dan
terhindar dari panas. Senyawa yang larut dalam pelarut ini adalah flavonoid,
c. n-heksan
terdiri dari suatu campuran rangkaian hidrokarbon, tidak berwarna atau pucat,
tidak dapat larut dalam air, dapat larut dalam alkohol, benzene, kloroform,eter.
Uapnya mudah meledak bila berkaitan dengan udara, maka sebaiknya disimpan
pada tempat yang dingin. Pelarut ini adalah non polar yang dapat melarutkan
6. Sterilisasi
mikrobiologi. Untuk hal ini diperlukan peralatan dan media yang steril. Sterilisasi
21
merupakan proses mematikan mikroba baik yang ada pada media maupun pada
peralatan (Lestari, 2018). Ada beberapa macam sterilisasi yang umum digunakan,
pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga perlatan seperti
jarum suntik dan bahan-bahan yang tidak tembus uap. Suhu yang digunakan
Bahan yang mudah rusak jika disterilkan pada suhu tinggi, maka bisa
disterilkan secara kimiawi menggunakan gas atau radiasi. Bahan kimia yang
Bahan kimia ini digunakan pada suhu kamar. Lamanya perlakuan berkisar
antara 2 sampai 18 jam. Sterilisasi dengan radiasi dapat pula dilakukan dengan
22
Proses sterilisasi lain yang dilakukan pada suhu kamar adalah
larutan atau suspensi dari segala organisme yang hidup dengan cara
terdiri atas piring saringan asbes yang berdiameter pori 0,45 µm, tujuannya
bakteri dan sel-sel lain tertahan pada saringan tersebut. Bahan yang biasa
metode dilusi, metode difusi agar, dan metode difusi dilusi. Metode difusi adalah
metode yang sering digunakan untuk analisis aktivitas antibakteri. Ada 3 cara dari
metode difusi yang dapat dilakukan yaitu metode sumuran, metode cakram, dan
media padat dimana mikroba uji telah diinokulasikan. Hasil pengamatan yang
diperoleh berupa ada atau tidaknya daerah bening yang terbentuk di sekeliling
b. Metode sumuran dilakukan dengan membuat lubang yang dibuat tegak lurus
pada agar padat yang telah diinokulasi dengan bakteri uji. Jumlah dan letak
23
mengukur luas zona hambat yang terbentuk karena bakteri beraktivitas tidak
hanya di permukaan atas nutrien agar tetapi juga sampai ke bawah. Pembuatan
suatu media yang digunakan untuk membuat sumuran, selain itu juga besar
kemungkinan media agar retak atau pecah disekitar lokasi sumuran sehingga
sensitivitas.
uji. Setelah itu kertas cakram diletakkan pada permukaan media agar yang telah
jam pada suhu 35°C. Area atau zona bening di sekitar kertas cakram diamati
zona bening sebanding dengan jumlah mikroba uji yang ditambahkan pada
kertas cakram (Bonang, 1992). Kelebihan dari metoda cakram yaitu dapat
dilakukan pengujian dengan lebih cepat pada penyiapan cakram (Listari, 2009).
C. Kajian Empiris
Secara empiris pengobatan pada penyakit kulit berupa jerawat telah banyak
dilakukan, yaitu salah satunya dengan menggunakan tanaman herbal. Salah satu
tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri penyebab jerawat adalah daun bidara
(Ziziphus spina christi (L.) Desf). Tanaman Bidara (Zizhipus spina-christi (L.) Desf)
memiliki kandungan senyawa kimia yang berperan sebagai pengobatan antara lain
alkaloid, fenol, flavonoid, dan terpenoid. Kandungan fenolat pada tanaman bidara kaya
24
antifungi, dan mencegah timbulnya tumor. Orang Arab dan Badui telah menggunakan
pasta dari akarnya untuk pengobatan gusi. Orang Badui menggunakan teh dari buah
nya untuk meningkatkan produksi ASI dan untuk mengobati hati. Menurut
penulusuran dan analisis literatur Siregar (2020) menyatakan bahwa daun bidara
memiliki banyak manfaat. Manfaat terbesar daun bidara adalah sebagai antimikroba,
selain itu juga terdapat manfaat lain seperti analgetik, antipiretik dan antiinflamasi,
antikanker, serta dapat berfungsi sebagai pelindung sel-sel tubuh ginjal, hati dan otak.
Hal tersebut telah sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Puteri (2019)
dijelaskan bahwa Ekstrak Etanol daun bidara arab (Ziziphus spina christi- L) memiliki
25
26
BAB III
Berbagai macam bahan dari alam yang digunakan seabagai bahan obat
tradisional, salah satunya yaitu daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) yang
jerawat yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah Bidara. Daun bidara arab
(Ziziphus spina- christi L) merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan
Kandungan didalam tanaman daun bidara seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan
(Mauludiyah et al., 2020). Menurut penulusuran dan analisis literatur Siregar (2020)
menyatakan bahwa daun bidara memiliki banyak manfaat. Manfaat terbesar daun
bidara adalah sebagai antimikroba, selain itu juga terdapat banyak manfaat lain seperti
Dalam penelitian ini, peneliti menguji apakah fraksi daun bidara arab (Ziziphus
Propionibacterium acnes. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Puteri dkk.,
(2019) uji ekstraksi menunjukkan kemampuan Ekstrak etanol Daun Bidara Arab
27
B. Bagan Kerangka Konsep penelitian
: Variabel Dependent
: Variabel Independent
C. Variabel peneltian
Antibakteri
a. Fraksi n-heksan dari ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)
merupakan pelarut non polar. Golongan senyawa yang didapatkan dari partisi
28
b. Fraksi etil asetat dari ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf),
merupakan pelarut semi polar. Golongan senyawa yang didapatkan dari partisi
c. Fraksi air dari ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf),
Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat
karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktivitas
Kriteria objektif :
29
BAB IV
METODE PENELITIAN
1. Jenis penelitian
mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-Heksan, etil asetat dan air daun bidara
2. Desain penelitian
A2
K+
K-
Keterangan :
DBA : Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi. L)
EEDBA : Ekstrak Etanol Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi. L)
FEDBA : Fraksinasi Ekstrak Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi L)
A1 : Konsentrasi Fraksi n-heksan Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi.
L) 5%, 10%, 20% (Puteri dkk, 2019)
A2 : Konsentrasi Fraksi etil asetat Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi.
L) 5%, 10%, 20% (Puteri dkk, 2019)
3
A : Konsentrasi Fraksi Air Daun Bidara Arab (Ziziphus spina christi. L)
5%, 10%, 20% (Puteri dkk, 2019)
+
K : Kontrol positif (+) Klindamisin 150 mg
K- : Kontrol Negatif (-) DMSO
SKKF : Skirining kandungan kimia fraksi
ZH : Zona Hambat
DRZH : Diameter rata-rata zona hambat
30
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
1. Populasi
Populasi tanaman bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) yang didapatkan
2. Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah daun bidara arab (ziziphus spina-christi. (L)
Desf) yang telah dibuat fraksi n-Heksan, etil asetat dan air .
Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu gelas kimia, gelas ukur,
erlenmeyer, cawan petri, corong pisah, tabung reaksi, batang pengaduk, hotplate,
Rotary evaporator (Biobase RE 100-Pro), vial, jarum ose, inkubator, mistar, lampu
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun bidara (ziziphus spina-
christi L) , Aquadest, etanol 96%, larutan NaCl 0,9%, n-heksan, etil asetat, media NA
(Nutrient Agar), pereaksi wagner, pereaksi dragendorff, HCl pekat, serbuk magnesium,
E. Prosedur Kerja
1. Pengambilan sampel
Sampel berupa daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) yang diambil
sampel dilakukan pada saat pagi hari atau pada saat terjadinya fotosintesis.
31
2. Determinasi sampel
tumbuhan diantaranya bentuk, ukuran, jumlah, bagian daun, bunga, buah, biji dan
Waluya.
bidara, kemudian daun bidara yang sudah terkumpul dicuci bersih dengan air
langsung, lalu daun bidara yang telah kering diblender , diayak dan didapatkan
4. Ekstraksi sampel
residu yang didapatkan diekstraksi kembali menggunakan pelarut yang baru dengan
jumlah yang sama. Filtrat yang didapat kemudian di evaporasi dalam suhu 60 oC
sampai didapatkan ekstrak kental dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L)
Desf)
32
5. Fraksinasi Ekstrak Daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)
etil asetat, dan air. Ekstrak kental sebanyak 50 gram dilarutkann dengan
n-heksan : aquadest (1:1) sebanyak 250 ml, kemudian dikocok selama 10-15 menit.
Setelah itu didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan yaitu lapisan n-heksan bagian atas
karena memiliki massa jenis yang lebih kecil dan lapisan bawah karena massa jenis
dalam gelas kimia. Lapisan air dimasukkan kembali kedalam corong pisah
kemudian ditambahkan pelarut etil asetat lalu dikocok kembali kedalam corong
pisah selama 10-15 menit setelah itu di diamkan hingga terbentuk 2 lapisan etil
asetat dan air. Dikeluarkan lapisan etil asetat dan air masing-masing ditampung
dalam gelas kimia. Sehingga diperoleh 3 fraksi yaitu fraksi n-heksan, fraksi etil
asetat dan fraksi air. Hasil fraksinasi ini kemudian dipekatkan denga Rotary
evaporator.
6. Skrining kandungan kimia fraksi n-Heksan, etil asetat dan air dari daun bidara arab
1) Uji alkaloid
a. Pereaksi wagrer
beberapa tetes pereaksi wagrer, reaksi positif jika terbentuk endapan coklat
b. Perekasi dragendorff
33
1 ml fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) ditambahkan
2) Uji flavonoid
beberapa tetes HCl pekat dan ditambah sedikit serbuk Mg. reaksi positif jika
3) Uji saponin
dengan terbentuknya buih yang stabil setinggi 1-10 cm selama tidak kurang dari
4) Uji tanin
ditambahkan dengan beberapa tetes larutan besi (III) klorida 10% jika terjadi
warna biru tua atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Arnold, 2017).
tetes. Larutan dikocok perlahan dan dibiarkan selama beberapa menit. Adanya
34
7. Prosedur pengujian aktivitas antibakteri
a. Sterilisasi alat
dimasukkan ke dalam oven pada suhu 180oC selama 2 jam. Alat-alat yang tidak
dimasukkan dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit (Putrajaya et al.,
2019).
masing 2 ose, kemudian digoreskan kedalam Nutrient Agar (NA) yang sudah
35
e. Pengujian luas zona hambatan fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun
Propionibakterium acnes.
Media NA yang telah disterilkan dalam tabung reaksi sebanyak 15ml, lalu
dalam cawan petri dan dibiarkan hingga memadat. Paper disk direndam pada
mistar.
dengan membandingkan hasil dari pengujian daya hambat fraksi terhadap bakteri
yaitu data masing-masing kelompok harus harus terdistribusi secara homogen (nilai
[Link] < 0,05), jika tidak sesuai maka analisis data dilanjutkan dengan uji
statistik, non parametrik yaitu uji Kruskal Wallis dan Monn Whitney.
G. Etika penelitian
Dalam melakukan suatu penelitian harus memenuhi syarat dan ketentuan etika
penelitian yaitu peneliti membuat surat persetujuan penelitian yang ditanda tangani
36
oleh pembimbing I, pembimbing II dan mengajukan surat izin melakukan penelitian
wajib menentukan alat dan bahan yang akan digunakan pada saat penelitian
37
BAB V
Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya dan Laboratorium Kimia Farmasi
dilakukan Determinasi sampel daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf) di
Mandala Waluya. Setelah itu, dilanjutkan dengan Maserasi, Fraksinasi dan Skrining
Fitokimia Sampel daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf) di Laboratorium
B. Analisis Data
1. Analisis Univariat
sebagai sampel dalam penelitian ini adalah daun bidara arab (Ziziphus spina-
simplisia awal, semakin tinggi nilai rendemen yang didapatkan maka semakin
tinggi pula kandungan zat yang tertarik dari simplisia. Hasil rendemen
38
memenuhi persyaratan Farmakope Herbal Indonesia, rendemen dikatakan baik
yaitu tidak kurang dari 7,2% (Depkes RI, 2000). Adapun hasil perhitungan
persen rendamen ekstrak etanol daun bidara arab (Ziziphus spina christi L)
sebagai berikut :
Tabel 2. Hasil Ekstraksi Daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf)
Sampel Berat simplisia Berat ekstrak Rendamen
(g) (g) (%)
Daun bidara arab 1000 143,9 14,39
(Ziziphus spina christi
(L.) Desf)
Rendamen dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut.
c. Hasil Rendamen Fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air Daun Bidara Arab
Tabel 3. Rendamen fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air Daun Bidara Arab
(Ziziphus spina christi (L.) Desf)
Bobot Ekstrak Jenis Pelarut Total bobot Rendamen (%)
(g) fraksi (g)
Fraksi n-Heksan 3,3 6,6
50 g Fraksi Etil asetat 9 18
Fraksi Air 20,7 41,1
39
d. Hasil Skrining Fitokimia Fraksi Daun Bidara Arab (Ziziphus spina christi (L.)
Desf)
Tabel 4. Hasil Skrining Fitokimia Fraksi n-Heksan, Etil Asetat dan Air dari
daun bidara arab (Ziziphus zpina christi (L.) desf)
No Golongan Pereaksi Hasil Keterangan
senyawa Fraksi Fraksi Fraksi
n-heksan etil air
asetat
1. Alkaloid Wagner - - + Terbentuk
endapan putih
Dragendo - - + Terbentuk
rff endapan
kuning-coklat
2. Flavonoid HCl - + + Perubahan
pekat + warna
serbuk kuning/merah
Mg.
3. Tanin FeCl3 + + + Terbentuknya
warna
biru/hijau
kehitaman
4. Saponin Air panas + + + Terbentuknya
buih (1-10 cm)
5. Steroid Asam - - + Terbentuknya
asetat warna
glasial + biru/hijau
H2SO4 kehitaman
6. Triterpenoid Asam + + - Terbentuknya
asetat warna
glasial + merah/ungu
H2SO4
Keterangan :
(+) : teridentifikasi golongan senyawa
(-) : tidak teridentifikasi golongan senyawa
40
Tabel 5. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, etil asetat dan air
dari daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap
Propionibacterium acnes.
Sampel Perlakuan Mean (mm) Kriteria Kekuatan
± SD Antibakteri
41
Gambar 3. Grafik persen zona hambat fraksi n-heksan, etil asetat dan air
dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)
30
Daya Hambat Pada Bakteri Propionibac-
Zona Hambat (mm)
25
terium acnes 24.921.42
21.56
20
15 10.76 11.712.64
9.489.56 10.44
10 6.14 7.58
5
0 0 0 0
0
5% 10% 20% K+ K-
Konsentrasi Sampel
Fraksi N Heksan Fraksi Etil Asetat Fraksi Air
2. Analisis Bivariat
> 0,05) hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi normal karena ada
kelompok perlakuan yang nilai signifikannya p < 0,05. Data tidak dapat
adalah uji Kruskal wallis untuk melihat bahwa fraksi n-heksan daun
< 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak.
42
Sehingga data dianggap berbeda bermakna dan dapat dikatakan bahwa
Whitney. Dimana bila nilai p > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan atau
hampir sama. Sebaliknya bila nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan
43
Hasil data berbeda signifikan bisa disebabkan oleh beberapa alasan
diantaranya aktivitas yang berbeda dan nilai rata-rata zona hambat yang
oleh aktivitas yang sama dan nilai rata-rata zona hambat yang sama.
2) Fraksi Etil Asetat Daun Bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)
konsentrasi 10% 0.311 dan konsentrasi 20% 0.335. Hasil uji normalitas
sehingga data tidak homogen dan tidak dapat dianalisis secara uji
bahwa fraksi etil asetat daun bidara arab memiliki aktivitas sebagai
antibakteri. Hasil uji Kruskal wallis menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05.
dianggap berbeda bermakna dan dapat dikatakan bahwa fraksi etil asetat
44
> 0,05 maka tidak terdapat atau hampir sama. Sedangkan bila nilai p <
diantaranya aktivitas yang berbeda dan nilai rata-rata zona hambat yang
Propionibacterium acnes
45
konsentrasi 10% 0.293 (p > 0,05) konsentrasi 5% 0.031 dan konsentrasi
20% 0.056 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi
0,05. Data tidak dapat dianalisis secara uji parametrik (Anova) karena
bahwa fraksi air daun bidara arab memiliki aktivitas sebagai antibakteri.
jika nilai P (probabilitas) < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan
dapat dikatakan bahwa fraksi air daun bidara arab dapat memberikan
uji Mann Whitney. Dimana bila nilai p > 0,05 maka tidak terdapat
perbedaan atau hampir sama. Sebaliknya bila nilai p < 0,05 maka
46
Konsentrasi 20% 0.009 Berbeda signifikan
Kontrol Konsentrasi 5% 0.005 Berbeda signifikan
negatif Konsentrasi 10% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 20% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi Konsentrasi 20% 0.009 Berbeda signifikan
5%
Konsentrasi Konsentrasi 5% 0.207 Tidak berbeda signifikan
10%
Konsentrasi Konsentrasi 10% 0.036 Berbeda Signifikan
20%
Keterengan :
Tidak berbeda signifikan : Nilai p > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan
atau hampir sama
Berbeda Signifikan : Nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan dari
masing-masing perlakuan
diantaranya aktivitas yang berbeda dan nilai rata-rata zona hambat yang
oleh aktivitas yang sama dan nilai rata-rata zona hambat yang sama.
C. Pembahasan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-
heksan, etil asetat dan air terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Sampel yang
digunakan dalam penelitian ini adalah daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)
Desf) daun bidara arab diperoleh dari Desa Toburi, Kec. Poleang Utara, Kabupaten
tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah benar daun bidara arab (Ziziphus
spina christi (L.) Desf) Determinasi dilakukan untuk memastikan kebenaran identitas
Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari karena menurut Dwinatari (2015)
saat pagi hari intensitas cahaya matahari masih rendah, kelembaban udara tinggi,
sehingga tingkat evaporasi rendah, transpirasi tanaman rendah, dan tekanan turgor
47
tanaman menjadi tinggi yang ditandai dengan kondisi fisik daun yang segar dan hijau.
Tahap awal yang dilakukan yaitu daun bidara arab disortasi basah agar dapat
memisahkan daun dari kotoran dan benda asing lainnya, kemudian dicuci dan
dikeringkan. Tujuan dari dilakukan pengeringan yaitu untuk mengurangi kadar air yang
Daun bidara arab yang telah kering kemudian disortasi kering yang bertujuan
untuk memisahkan daun yang rusak ataupun ditumbuhi jamur selama proses
pengeringan. Selain itu daun turi diserbukkan agar menjadi kecil. Tujuan dari
memperkecil ukuran daun bidara (Ziziphus spina christi (L.) Desf) yaitu untuk
memperkecil ukuran simplisia agar luas permukaan meningkat dan pelarut nantinya
Setelah itu sampel diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode
maserasi. Sebanyak 1000 gram simplisia daun bidara arab direndam menggunakan
pelarut etanol 96% sebanyak 8 liter dengan selang waktu 3x24 jam, hal ini bertujuan
dalam sampel (Indarto et al, 2019) dan sesekali dilakukan pengadukan agar semua
terjadinya keseimbangan antara larutas zat aktif yang terdapat dalam sel dengan larutan
zat aktif yang terdapat diluar sel (Dirjen POM RI, 2000). Selama proses perendaman,
sampel disimpan dalam toples yang tertutup dan terlindung dari cahaya langsung.
sehingga banyak dipilih, selain itu juga karena prosedur dan alat yang digunakan
sangat sederhana serta mudah diperoleh (Nurhasnawati, 2017). Sedangkan pelarut yang
digunakan dalam proses maserasi adalah etanol 96%, penggunaan etanol 96% sebagai
48
cairan penyari karena lebih mudah dalam melarutkan semua zat yang bersifat polar,
semipolar, maupun non polar dan dapat menarik senyawa dari simplisa dengan baik.
Selain itu etanol 96% mampu berpenetrasi sampai kedinding sel sampel dibandingkan
dengan etanol yang konsentrasinya lebih rendah dan mudah diuapkan sehingga mudah
evaporator. Prinsip kerja dari rotary evaporator yaitu dengan menguapkan pelarut
ekstraksi dan hanya meninggalkan senyawa hasil ekstraksi yang disebut ekstrak.
Didapatkan ekstrak etanol daun bidara arab yang kental berwarna hijau pekat sebanyak
ekstrak yang diperoleh dengan simplisia awal, semakin tinggi nilai rendemen yang
didapatkan maka semakin tinggi pula kandungan zat yang tertarik dari simplisia. Hasil
Tahap selanjutnya yaitu fraksinasi daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)
Desf) dengan menggunakan metode partisi cair-cair. Penggunaan teknik partisi cair-
cair bertujuan untuk memaksimalkan proses partisi, dimana senyawa akan terekstraksi
yaitu dimulai dari pelarut non polar (n-heksan), semi polar (etil asetat) dan polar (air).
Fraksinasi ini dilakukan pertama dengan menggunakan pelarut n-heksan yang bersifat
non polar untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat non polar pada pelarut air yang
sebelumnya sudah mengandung ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)
Desf), fraksi n-heksan diambil dan selanjutnya pelarut air ditambahkan pelarut etil
asetat yang bersifat semi polar untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat semi polar
dalam pelarut air. Selain itu teknik ini juga dimaksudkan agar terjadi proses fraksinasi
49
dari pelarut non-polar ke pelarut polar. Senyawa-senyawa non-polar akan berada pada
Pada proses fraksinasi ini menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan air.
Tahap awal ditimbang 50 gram ekstrak kental daun bidara dilarutkann dengan
spina-christi (L.) Desf) disuspensikan dengan n-heksan : aquadest (1:1) sebanyak 250
ml, kemudian dikocok selama 10-15 menit. Setelah itu didiamkan hingga terbentuk 2
lapisan yaitu lapisan n-heksan bagian atas karena memiliki massa jenis yang lebih kecil
dan lapisan bawah karena massa jenis lebih tinggi. Kemudian dikeluarkan n-heksan
dan air masing-masing ditampung dalam gelas kimia. Lapisan air dimasukkan kembali
kedalam corong pisah kemudian ditambahkan pelarut etil asetat lalu dikocok kembali
kedalam corong pisah selama 10-15 menit setelah itu di diamkan hingga terbentuk 2
lapisan etil asetat dan air. Dikeluarkan lapisan etil asetat dan air masing-masing
ditampung dalam gelas kimia. Sehingga diperoleh 3 fraksi yaitu fraksi n-heksan, fraksi
etil asetat dan fraksi air. Hasil fraksinasi ini kemudian dipekatkan denga Rotary
evaporator. Berat hasil fraksinasi yang diperoleh yaitu fraksi n-heksan sebanyak 3,3
gram dengan total rendemen 6,6 %. Fraksi etil asetat sebanyak 9,9 gram dengan total
rendemen 18% dan fraksi air sebanyak 20,7 gram dengan total rendemen 41,1%. Sifat
polar dari pelarut air menyebabkan penarikan senyawa dari ekstrak menjadi besar.
Menurut penelitian Puteri., dkk (2019) Ekstrak etanol daun bidara arab mengandung
senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan steroid. Banyak faktor yang dapat
50
geografis, suhu, iklim, waktu panen dan kesuburan tanah disuatu wilayah (Usman et
al., 2021).
Hasil dari pengujian skrining fitokimia fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-
christi (L.) Desf), pada fraksi n-heksan positif mengandung tanin, saponin,steroid dan
triterpenoid. Pada fraksi etil asetat mengandung flavonoid, tanin, saponin dan
triterpenoid. Sedangkan pada fraksi air mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin,
dan steroid.
Berdasarkan hasil yang terlihat pada tabel 5, pada pengujian alkaloid fraksi n-
heksan dan fraksi etil asetat pada pereaksi wagner dan dragendorff menunjukkan hasil
negatif, sedangkan pada fraksi air positif alkaloid pada semua pereaksi. Pada pereaksi
wagner dikatakan positif jika terbentuk endapan putih, pereaksi wagner mengandung
iod dan kalium iodida. Sedangkan pada pereaksi draagendorff reaksi positif jika
klorida dan bismuth nitratdalam nitrit berair (Harbone, 1996). Perbedaan yang
ditemukan dari hasil pengujian yang dilakukan yaitu dari jenis pelarut yang digunakan.
flavonoid sedangkan pada fraksi etil asetat dan fraksi air positif mengandung flavonoid.
Pengujian flavanoid digunakan sebuk magnesium (Mg) dan HCl pekat. Penambahan
Mg dan HCl, dilakukan pada masing-masing fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-
christi (L) Desf) Menurut Sulistyarini (2020), senyawa flavonoid akan tereduksi
dengan Mg dan HCl sehingga menghasilkan warna merah, kuning atau jingga.
Flavonoid yaitu senyawa polar yang mudah larut dalam pelarut polar, seperti etanol,
methanol, butanol, aseton, dan lain-lain. Flavonoid merupakan golongan terbesar dari
fenol yang memiliki sifat efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara
inaktivasi protein.
51
Pada pengujian tanin menggunakan pereaksi asam klorida (FeCl 3) dan asam
sulfat pekat (H2SO4), dinyatakan positif apabila perubahan warna terjadi ketika
penambahan FeCl3 bereaksi dengan senyawa tanin. Menurut Arnold (2017) adanya
tanin ditandai dengan terbentuknya warna biru tua atau hijau kehitaman. Terbentuknya
warna hijau kehitaman pada ekstrak setelah ditambahkan FeCl 3 karena tanin akan
pada senyawa tanin terdapat banyak gugus OH yang menyebabkan sifat polar.
Meskipun demikian, pelarut etil asetat mampu menarik senyawa tanin dalam sampel
diduga gugus hidroksil pada senyawa tanin mampu berikatan dengan gugus metoksil
Pada pengujian saponin dilakukan uji busa atau buih, dengan cara dilarutkan
masing-masing fraksi kemudian ditambahkan dengan air panas dan dikocok kuat-kuat
selama 10 detik. Uji positif ditunjukkan dengan adanya terbentuknya buih yang stabil
setinggi 1-10 cm selama tidak kurang dari 10 menit (Arnold, 2017). Saponin memiliki
glikosil sebagai gugus polar serta gugus steroid atau triterpenoid sebagai gugus
nonpolar, sehingga bersifat aktif permukaan dan membentuk misel saat dikocok
dengan air. Pada struktur misel gugus polar menghadap ke luar sedangkan gugus
nonpolar menghadap ke dalam dan keadaan ini membentuk busa yang menjadi tanda
asam asetat glasial (CH3COOH) dan H2SO4 pekat. Menurut Arnold (2017) adanya
steroid ditunjukkan oleh warna biru atau hijau, sedangkan triterpenoid memberikan
warna merah atau ungu. Steroid dan triterpenoid merupakan senyawa yang dapat
terekstraksi dengan pelarut non polar atau semi polar (Harbone, 1987). Steroid
52
merupakan senyawa yang secara umum memiliki struktur siklik dan mempunyai gugus
sebagai bahan dasar pembuatan obat. Nurulita et al., (2008) menyebutkan senyawa
steroid merupakan komponen aktif yang telah digunakan sebagai antibakteri dan
antivirus.
menentukan kemampuan fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun bidara arab
menggunakan oven dan pembuatan media kemudian disterilkan dengan autoklaf untuk
menghilangkan mikroorganisme pada alat dan bahan yang akan digunakan, serta
membuat biakan bakteri dan larutan Mc. Farland 0,5% yang bertujuan untuk
membandingkan kekeruhan bakteri uji. Lalu, dilakukan pengujian bakteri dengan cara
kedalam cawan petri dan didiamkan hingga memadat. Setelah memadat masing-masing
dimasukkan paper disk yang telah dijenuhkan dengan konsentrasi larutan uji yang
mengandung nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan bakteri. Menurut Pelczar dan
komponen-komponen nutrisi yang ada pada media NA adalah ekstrak daging sapi,
pepton, dan agar. Media ini berbentuk padat karena mengandung agar sebagai bahan
53
pemadatnya. Media padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau
Kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah klindamisin 1%.
kemotaksis leukosit dimana secara in vivo dapat menekan inflamasi pada acne vulgaris
(Miratunnisa, 2015). Kontrol positif diperlukan sebagai pembanding, hal ini digunakan
Sedangkan Kontrol negatif yang digunakan yaitu DMSO. Alasan penggunaan DMSO
digunakan sebagai kontrol negatif karena DMSO merupakan pelarut yang dapat
melarutkan hampir semua senyawa polar maupun non polar, DMSO digunakan pula
Uji aktivitas antibakteri dari fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L)
Desf) dilakukan menggunakan metode difusi agar menggunakan paper disk (kertas
cakram), metode ini dipilih karena metode ini memiliki prosedur yang sederhana,
cepat, mudah dan efisien serta tidak memerlukan keahlian khusus dalam pengujian.
Metode paling umum digunakan untuk menentukan daya cepat sensitivitas bakteri dan
dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu : lemah ( ≤ 5 mm), sedang (5-10 mm),
54
kuat (11-20 mm), dan sangat kuat ( > 20 mm) (Ashri, H.N, 2016). Aktivitas daya
paper disk. Hasil dari masing-masing pengujian fraksi n-heksan daun bidara arab
P,acnes pada konsentrasi 10% dengan rata-rata zona hambat 6,14 mm, konsentrasi
20% rata-rata zona hambat 7,58 mm. Hasil pengujian fraksi etil asetat daun bidara arab
(Ziziphus spina-christi (L.) Desf) yaitu memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri
[Link] pada konsentrasi 5% dengan rata- zona hambat 9,48 mm, konsentrasi 10%
dengan rata-rata zona hambat 10,76 mm dan pada konsentrasi 20% dengan rata-rata
zona hambat 11,7 mm. Sedangkan hasil pengujian pada fraksi air daun bidara arab
(Ziziphus spina-christi (L.) Desf) yaitu memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri
[Link] yaitu pada konsentrasi 5% dengan rata-rata zona hambat 9,56 mm , konsentrasi
10% 10,44 mm dan pada konsentrasi 20% 12,64 mm. Dari hasil ketiga fraksi
menunjukkan bahwa zona hambat yang terbentuk umumnya meningkat seiring dengan
peningkatan jumlah konsentrasi. Hal ini karena senyawa aktif yang terdapat pada setiap
bakteri (antibakteri) semakin baik pula. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pelczar dan
Chan (2005) bahwa semakin tinggi konsentrasi zat anti mikroba maka semakin besar
Hasil uji aktivitas antibakteri dapat dilihat pada tabel 6 menunjukkan bahwa pada
fraksi n-heksan, etil asetat, dan air mempunyai aktivitas antibakteri yang berbeda-beda
ditandai dengan terbentuknya zona bening (Pratiwi, 2008). Aktivitas antibakteri yang
sekunder yang bekerja secara sinergis yaitu tanin, polifenol, alkaloid, saponin,
flavonoid, dan terpenoid (Dalimartha, 2008). Senyawa tanin memiiki mekanisme kerja
55
yaitu mengkerutkan dinding sel dimana akan mengakibatkan rusaknya permeabilitas
dapat menyebabkan sel bocor sebagai akibatnya mengakibatkan bakteri mati. Senyawa
dinding sel bakteri, mikrosom dan lisosom sebagai hasil interaksi antara flavonoid
dengan DNA bakteri (Wulandari & Andriani, 2020). Senyawa alkaloid bekerja
dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematin pada sel tersebut.
Steroid dilaporkan memiliki sifat antibakteri, korelasi antara membran lipid dan
hambat yang terbentuk dipengaruhi oleh tinggi rendahnya senyawa atau zat aktif yang
(Ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap bakteri [Link] membuktikan bahwa
kandungan senyawa aktif pada daun tumbuhan bidara arab berpotensial untuk
bakteri gram positif yang memiliki bentuk sel batang, panjang bervariasi antara 1-1,5
µm, nonmotil, tidak membentuk spora dan dapat tumbuh diudara dan memerlukan
oksigen mulai dari aerob atau anaerob fakultatif sampai ke anaerob. Bakteri ini mampu
dalam jumlah yang banyak (Nurlalita, 2017), sehingga bakteri ini mudah ditembus oleh
zat-zat polar yang berasal dari daun bidara arab dan lebih cepat
56
Dari hasil uji aktivitas bakteri daun bidara arab terhadap bakteri [Link] dengan
ke tiga fraksi, diperoleh senyawa bioaktif antibakteri daun bidara arab yang ditarik oleh
pelarut Air karena memiliki rata-rata zona hambat yang paling besar dibandingkan
dengan pelarut etil dan n-heksan. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi air merupakan
fraksi paling aktif bila dibandingkan dengan kedua fraksi lainnya. Sedangkan pada
fraksi n-heksan memiliki rata-rata zona hambat yang paling kecil dan pada konsentrasi
5% tidak adanya zoba bening, hal ini dikarenakan tidak adanya senyawa Flavonoid
yang terkandung dalam fraksi n-heksan. Dimana berdasarkan pernyataan Manik (2014)
kandungan flavonoid yang terdapat dalam suatu sampel maka semakin tinggi pula
cara merusak dinding sel, menonaktifkan kerja enzim, berikatan dengan adhesin, dan
program SPSS. Tahap pertama yang dilakukan yaitu uji normalitas menggunakan
metode Shapiro-Wilk terhadap daya hambat bakteri yang bertujuan untuk melihat
apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau tidak. Selanjutnya dilakukan uji
descriptives yang bertujuan untuk mencari mean dan SD. Kemudian dilakukan uji
homogen data menggunakan metode Variences untuk mengetahui apakah data yang
didapatkan homogen atau tidak dari masing-masing hasil uji ditunjukkan oleh nilai P
Pada uji normalitas fraksi n-heksan diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol
positif 0.020 dan konsentrasi 10% 0.024 (p < 0,05) sedangkan konsentrasi 20% 0.400
(p > 0,05) hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi normal karena ada kelompok
perlakuan yang nilai signifikannya p < 0,05. Pada uji normalitas fraksi etil asetat
57
diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol positif 0.229, konsentrasi 5% 0,075,
konsentrasi 10% 0.311 dan konsentrasi 20% 0.335. Hasil uji normalitas menunjukkan
bahwa data terdistribusi normal karena nilai p > 0,05. Selanjutnya dilakukan uji
homogenitas diperoleh nilai p = 0,044 < 0,05 sehingga data tidak homogen. Sedangkan
Pada uji normalitas fraksi air diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol positif
0.715 dan konsentrasi 10% 0.293 (p > 0,05) konsentrasi 5% 0.031 dan konsentrasi 20%
0.056 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi normal karena ada
kelompok perlakuan yang nilai signifikannya p < 0,05. Karena dari hasil pengujian
Selanjutnya dilakukan uji Kruskal Wallis karena hasil yang didapatkan tidak
homogen sehingga data tidak dapat dianalisis secara uji parametrik (ANOVA) dan
harus menggunakan non parametrik. Pengujian yang dilakukan adalah uji Kruskal
Wallis untuk melihat perbedaan aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, atil asetat dan air
dari daun bidara arab terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Hasil pengolahan
fraksi n-heksan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukkan nilai p = 0,000
< 0,05. Hasil pengolahan fraksi etil asetat menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05. Dan
hasil pengolahan fraksi air menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05. Berdasarkan hipotesis
penelitian jika nilai P (probabilitas) < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan
hipotesis nol ditolak. Sehingga data dianggap berbeda bermakna dan dapat dikatakan
bahwa fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun bidara arab dapat memberikan
aktivitas antibakteri.
Setelah diketahui hasil uji Kruskal Wallis maka dilakukan pengujian lanjutan
untuk mengetahui kelompok pengujian apa saja yang berbeda signifikan pada
penelitian menggunakan uji Mann-Whitney. Dimana bila nilai p > 0,05 maka tidak
58
terdapat perbedaan atau hampir sama. Sebaliknya bila nilai p < 0,05 maka terdapat
Propionibacterium acnes pada fraksi n-heksan dapat dilihat pada tabel 8, fraksi etil
asetat dapat dilihat pada tabel 9, dan fraksi air dapat dilihat pada tabel 10, dimana
masing-masing pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% dan kontrol positif
Berdasarkan hasil dari pengujian aktivitas antibakteri daun bidara arab dengan
konsentrasi 5%, 10%, 20% pada fraksi n-heksan, etil asetat dan air, terbukti
daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf) telah terbukti dalam menghambat
ekstrak etanol daun bidara arab memiliki aktivitas antibakteri pada konsentrasi 2,5-
40% terhadap P. acnes dengan DDH 11,57-14,07 mm. Zona hambat yang dihasilkan
pada penelitian sebelumnya pada ekstrak etanol daun bidara arab lebih besar
ekstrak yang dihasilkan lebih kompleks sehingga lebih cepat dalam menghambat
59
BAB VI
A. Kesimpulan
1) Hasil pengujian skrining fitokimia fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi
(L) Desf), pada fraksi n-heksan positif mengandung tanin, saponin, steroid,
triterpenoid. Pada fraksi etil asetat positif mengandung flavonoid, tanin, saponin,
triterpenoid. Dan pada fraksi air positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin,
2) Fraksi etil asetat dan fraksi air dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L)
hambat pada fraksi etil asetat 11,7 mm, pada fraksi air 12,64 mm. Sedangkan pada
acnes pada konsentrasi 20% menunjukkan aktivitas masih tergolong sedang dengan
B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan peneliti adalah :
1) Diharapkan pada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian lebih lanjut dengan
mencari isolat/senyawa dalam fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)
Desf)
2) Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut pada bakteri yang berbeda pada fraksi
60
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, N, et al., 2020. Analisis Fitokimia Dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun
Bidara (Ziziphus mauritiana L.) Terhadap Esherichia coli dan Staphylococcus
aureus. 2(3), 106-113.
Agustina Retnaningsih Agustina, Anisah F. 2019. Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol daun
Ungu (graptophylium pictum L. Griff) Terhadap bakteri Staphylococcus
epidermidis dan Bakteri Propionibacterium acnes Penyebab Jerawat dengan
Metode Cakram. Jurnal Analisis Farmasi. (4), 1-9.
Alvarez, C.U., 2015. Metabolic adaptation and biofilm formation in response to different
oxygen concentrations. FEMS Pathogens and Disease, 2015, Vol. 73.
Aida, A. N & Misnawi. 2016. Uji In Vitro Efek Ekstrak Etanol Biji Kakao (Theobroma
cacao) sebagai Antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. e-Jurnal Pustaka
Kesehatan, 4(1), 127–131
Andriyanto, B. E., et al., 2016. Skrining Fitokimia ekstrak daun belimbing hutan
(Baccaurea angulata). JKK, 5(4), 8-13.
Anggraeni, V. J., et al. 2020. Fitokimia Dan Aktivitas Antibakteri Dari Tanaman Mangga
(Mangifera indica L). Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, 5(2),
102–113.
Armadany, F. I., & Pratiwi, A., 2018. Uji aktivitas antibakteri sediaan krim anti jerawat
ekstrak etanol terpurifikasi daun sirih (Piper betle L.) dengan basis vanishing
cream terhadap Propionibacterium acnes. Journal Pharmauho, 4 (September),
30.
Arnold A., Fahriana, Haryadi. 2017. Skrining fitokimia dan uji toksisitas ekstrak daun
balik angin (Mallotus Sp) terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode
brine shrimp lethality test (BSLT). Fullerene Journ. Of Chem. Vol.2 No.2: 77-81
Ashri, H.N, 2016. Uji Aktivitas dan Identifikasi Senyawa Kimia Antibakteri Ekstrak
Etanol Daun Bidara (Ziziphus spina christi L) Terhadap Bakteri Patogen, Skripsi,
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar.
Assidqi, K., Tjahjaningsih, W. & Sigit, S., 2012. Potensi Ekstrak Daun Patikan Kebo
(Euphorbia hirta) sebagai Antibakteri Terhadap Aeromonas hydrophila. Journal
of Marine and Coastal Science, 1(2), pp.113-24.
Athaillah A., Sugesti S. 2020. . Pemanfaatan Ekstrak Jagung Sebagai Pelembut Alami
Pada Kulit. Jurnal Education and Development ; 3(2) : 93-99
Balouiri M, Sadiki M, Ibnsouda SK. 2016. Methods for In Vitro Evaluating Antimicrobial
Activity. JPA ; 6 (2) : 74.
Basset, J, et al., 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi 4
Pudjaatmaka, A.H., Setiono, L., Penerjemah ; Pudjaatmaka, a.H ; editor. Jakarta
Including Elementary Instrumental Analysis.
Bell, S, N. 2016. Antibiotic sensitifity Testing by The CDS method, New South Wales.
Clinical Microbiology Update programme. Ed. N.D. Heriwig. The Prince wales
hospital.
Bonang, G., 1992. Mikrobiologi Untuk Profesi kesehatan Edisi 16. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Bruggeman, H. 2010 Skin, acne dan Propionibacterium acne Genomics. Handbook of
hydrocarbon and lipid mycrobiologi. (10) : 3216-3223.
Brown, R. G., & Burns, T. 2005. Lecture Notes on Dermatologi (8 ed.). Jakarta: Erlangga
Dahiru, D., Mamman, D. N., & Wakawa, H. Y. 2010. Ziziphus mauritiana fruit
Depkes RI, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Cetakan Pertama,
3-11, 17-19, Dirjen POM, Direktorat Pengawasan Obat Tradisional.
Depkes RI. 2011. Buletin Data dan Informasi Kesehatan : Situasi Diare di Indonesia.
Kementrian Kesehatan RI, Jakarta.
Depkes RI., 2014. Farmakope Indonesia Edisi Kelima, Direktorat jenderal Pengawasan
Obat Dan Makanan, Jakarta. Hal.7, 503.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen
Kesehatan RI, Jakarta. Halaman 3-5, 13-17, 30-31.
Djuanda, Adhi. 2016. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Halaman 288.
Dwinatari, I. K. Dan Y. B. Murti. 2015. Pengaruh Waktu Pemanenan Dan Tingkat
Maturasi Daun Terhadap Kadar Viteksikarpin Dalam Daun Legundi (vitex trifolia
l.). Jurnal ugm. Vol. 20 (2), p 105-111 issn : 1410-5918.
Endang, H., 2016. Analisis Fitokimia. Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Franca K, Keri J. 2017. Psychosocial Impact of Acne and Postinflammatory
Hyperpigmentation. An Bras Dermatol. ; 92 (4) : 505 - 9.
Harbone, J. B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Penerbit ITB : Bandung Hermans, M.H.E. 2005. A General Overview Of Burn
Care. Int Wound J 2005 ; 2 : 3, 206-220.
Harbone, J.B., 1996. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan,
Diterjemahkan Oleh Kosasih Padmawinata Dan Imam Sudiro, Edisi II, Hal 4-7 :
69-76, ITB. Bandung
Harbone, J.B. 2006. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Edisi kedua. Bandung : Penerbit ITB. Pp4-147.
Hasanah, A. M. 2019. Uji Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus spina- christi
L.) terhadap Pertumbuhan Propionibacterium acne. Pharmasipha, 3(1).
Heyne K. 1987. Tumbuhan berguna indonesia, jilid. 3. Yay. Arana Wana Jaya, Jakarta.
Hidayah N.D., 2016. Uji Aktivitas ekstrak metanol klika anak aara (Crotonoblangus burn
F.) terhadap bakteri prnyebab jerawat. Skripsi. Universitas Islam Negeri Alaudin,
Makassar.
Huda et al., 2019. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi dari Maserat Zibethinus folium
Terhadap Escherichia coli. Jurnal Sainhealth Vol. 3 No. 1
Indarto, et al., 2019. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Binahong Terhadap
Propionibacterium acnes. Jurnal Tadris Biologi Vol. 10. No. 1. Halaman 67-78.
Irvan Herdiana dan Nur Aji, “Fraksinasi Ekstrak Daun Sirih dan Ekstrak Ekstrak gambir
serta Uji Antibakteri Streptococcus murtans”, Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 19
No. 3 Tahun 2020.
Katzung, bertram G., et al. 2013. Farmakologi dasar dan klinik edisi bahasa indonesia,
Ricky Soeharsono edisi 12. EGC : Jakarta.
Kemenkes, 2011, Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, Kementrian Kesehatan RI,
Jakarta. 4-5.
Khumaidi, A. & Gunawan, F. 2020. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kapas
(Gossypium barbadense L.) terhadap Staphylococcus epidermidis dan
Propionibacterium acnes. Jurnal Farmasi Udayana, 9(1), 52.
[Link]
Lestari, F. W., Suminar E., & Mubarok S. 2018. Pengujian berbagai eksplan kentang
(Solanum tuberosum L.) dengan penggunaan konsentrasi BAP dan NAA yang
berbeda. Jurnal Agro, 5(1), 66 – 75.
Listari, Y. 2009. Efektifitas Penggunaan Metode Pengujian Antibiotik Isolat Streptomyces
dari Rizosferfamilia poaceae terhadap Escherichia coli. Jurnal online. PP.1.1–6.
Lully Hanni, Endarini 2016. Farmakognosi dan Fitokimia. Jakarta : Pusdik SDM
Kesehatan Kemenkes RI.
Lynn, D.D., et al. 2016. The Epidemology of acne Vulgaris in Late Adolescence.
Adolescent Health, Medicine and Therapeutics. 7 : 13-25.
Manik, D. F., Hertiani, T., & Anshory, H. (2014). Analisis Korelasi antara Kadar
Flavonoid dengan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Fraksi-Fraksi Daun
Kersen (Muntingia calabura L.) terhadap Staphylococcus aureus. Khazanah.
Mauludiyah, E.N., darusman, F., Cahaya, G., dan Darma, E. 2020. Skrining Fitokimia
Senyawa Metabolit Sekunder dari Simplisia dan Ekstrak Air daun Bidara Arab
(Ziziphus spina christi L). SPeSIA. 6(1) :1084-1089
Marbun E.D., Alfi sapitri., Artha Yuliana Sianipar, 2022. Uji Antibakteri Ekstrak Etanol
Daun Bidara Arab (Ziziphus jujuba Mill) Terhadap Bakteri S. aureus dan S.
Epidermidis . Forte Journal 2(1) : 32-41
Miratunnisa, Lanny, M., siti, H., 2015, Uji aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanolik Kulit
Kentang (Solanum Tuberosum L) Terhadap Propionibacterium., Fakultas MIPA,
Unisba : Bandung.
Munandar,K. 2016. Pengenalan Laboratorium IPA-BIOLOGI Sekolah. Bandung: Refika
Aditama.
Mukhriani, 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Aktif. Jurnal
Kesehatan. Vol. 7(2) : 361-367.
Nugraha, A.C., A.T. Prasetya, dan S. Mursiti. 2017. Isolasi, Identifikasi, Uji Aktivitas
Senyawa Flavonoid sebagai Antibakteri dari Daun Mangga. Indonesian Journal
of Chemical Science 6(2): 91-96.
Nurhasnawati, H., Sukarmi, dan F. Handayani. 2017. Perbandingan Metode Ekstraksi
Maserasi dan Sokletasi terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun
Jambu Bol (Syzygium malaccense l.). Jurnal Ilmiah Manuntung 3(1): 91-95.
Narulita, H., (2014), Studi Praformulasi Ekstrak Etanol 50% Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.), Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,
Jakarta.
Nurulita Y., H. Dhanutirto, A. A. Soemardji. 2008. Penapisan Aktivitas dan Senyawa
Antidiabetes Ekstrak Air Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans). Jurnal
Natur Indonesia 10 (2): 98- 103.
Octy, Syf. 2013. Uji Efektivitas Sediaan Gel Anti Jerawat Ekstrak Etanol Rimpang Jahe
Merah (Zingiber Officinale Rosc. Var. Rubrum) Terhadap Propionibacterium
Acnes dan Staphylococcus Epidermidis. Universitas Tanjungpura Pontianak.
Pratiwi, S. T., 2008. Mikrobiologi Farmasi, Jakarta, Erlangga. 17-18.
Pelczar, M. J dan E. C. S. Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta : Universitas
Indonesia Press.
Pelczar, Michael J dan Chan, E. C. S 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia (UI_Press)
Pelczar, Michael J dan Chan, E. C. S. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1. Jakarta : UI
Press.
Pollack, Robert A. Findlay Lorraine. Mondschein, Walter dan Modesto Ronald. (2016).
Praktikum Laboratorium Mikrobiologi Edisi 4. Jakarta:EGC. pp:114-117, 227.
Purwaningdyah, R. A. K. 2013. Profil Penderita Akne Vulgaris pada Siswa-Siswi di SMA
Shafiyyah Amaliyah Medan. Ejournal FK USU. 1(1) : 1-8
Puteri P.S., Arumsari A., dan Sukanta, 2019, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol
Daun Bidara Arab (Ziziphus spina christi L.) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
(Propionibacterium acnes) dan (Staphylococcus epidermidis), Prosidding
Farmasi, 5(2) : 669-673
Pratiwi, N. & Mailani, D. P., 2019. Pra Rancangan Pabrik Etil Asetat dari Asam Asetat dan
Etanol dengan Proses Esterifikasi Menggunakan Katalis Aberlyst-15 Kapasitas
57.000 Ton/Tahun. Jurnal Tugas Akhir Teknik Kimia, 4(2), 73–77.
Rahmi AH, Cahyanto T, Sujarwo T, Lestari RI 2015. Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun
beluntas (Pluchea Indica (L.) Less. ) terhadap Propionibacterium Acnes
penyebab jerawat ; 9 (1) : 1979 - 8911.
Safitri E.I., et al. 2021. Profil Antibakteri dari Ekstrak Etanol 70% Daun Bidara Arab
(Ziziphus spina christi L) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes,
Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus Aureus , Pharmasipha, 5(2)
Sangi, M, et al. 2008. Analisis Fitokimia Tumbuhan Obat di Kabupaten Minahasa Utara.
Chemistry Progress. 1,47-53.
Saraswati, F.N., 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Limbah Kulit Pisang
Kepok Kuning (Musa balbisiana) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
(Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan Propionibacterium
acne), Skripsi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Program Studi Farmasi,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sari, cahyo IP. 2012. Kualitas Minuman Serbuk Kersen (Muntingia calabura L) dengan
variasi konsentrasi Maltodekstrin dan Ekstraksi Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L). Skripsi. Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
Yogyakarta.
Sari IP, Wibowo MA & Arreneuz S, 2015. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Teripang Butoh
Keling (Holothuria leucospilota) dari Pulau Lemukutan terhadap Bakteri
Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. JKK. 4 (4): 21-28.
Savitri, G. R., Triatmoko, B., & Nugraha, A. S. 2020. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas
Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Tumbuhan Anyang-Anyang (Elaeocarpus
grandiflorus J. E. Smith.) terhadap Escherichia coli. JPSCR: Journal of
Pharmaceutical Science and Clinical Research, 5(1), 22.
[Link]
Sibero H, Sirajuddin A, Anggraini D. 2020. Pravalensi dan Gambaran Epidemiologi Acne
Vulgaris di provinsi Lampung. Jk Unila, 3(3), pp. 1-5
Siregar, M. 2020. Berbagai Manfaat Daun Bidara (Ziziphus mauritiana Lamk.) Bagi
Kesehatan di Indonesia. Jurnal Pandu Husada. 1(2): 75-81.
[Link]
Sulistyarini Indah, Diah Arum Sari dan Tony Ardian Wicaksono, 2020. Skrining Fitokimia
Senyawa Metabolit Sekunder Batang Buah Naga (Hylocereus Polyrhizus).
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi, Semarang.
Sugiarti L. Dieta Maudy Andriyani., Mega Putri P., Ratna Setyani. 2020, Aktivitas
Antibakteri Fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air Ekstrak Etanol Daun Pajiroto
(Medinilla speciosa Blume) Terhadap Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus Aureus : Journal og Pharmacy, 4(2)
Sugiyono, 2019. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sukandar, D., Hermanto, S., Dan Lestari, E., 2008. Uji toksisitas ekstrak daun pandan
wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dengan metode brine shrimp lethality test
(BSLT). Jurnal Kimia Valensi, vol. 1(2) : 41-47
Sriwahyuni, I. 2010. Uji Fitokimia Ekstrak Tanaman Anting-Anting (Acalypha indica
Linn) Dengan Variasi Pelarut dan Uji Toksisitas Menggunakan Brine Shrimp
(Artemia salina Leach). Naskah Skripsi S-1. Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang
Tobo, F. 2011. Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia 1, Unhas, Makassar.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta :
Gadjah mada University Press.
Tjitrosoepomo, G. 2012. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta : gajah
Mada University Press.
Wardania, A. K., Malfadinata, S., & Fitriana, Y. 2020. Uji Aktivitas Antibakteri Penyebab
Jerawat Staphylococcus epidermidis Menggunakan Ekstrak Daun Ashitaba
(Angelica keiskei). Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, 1(1), 14.
[Link]
Wendersteyt N.V., et al. 2021. Uji Aktivitas Antimikroba Dari Ekstrak Dan Fraksi
Ascidian herdmania Momus Dari Perairan Pulau Bangka Likupang Terhadap
Pertumbuhan Mikroba Staphylococcus aureus, Salmonella typhimurium Dan
Candida albicans. Pharmacon. Program Studi Farmasi, Fmipa, Universitas Sam
Ratulangi, 10 (1).
Wulandari & Ariyani, L. W. 2020. Nanongel Minyak Biji Bunga Matahari (Herlianthus
annus) sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal
cendakia eksakt, 63-66.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak
Ditimbang 50 gram
Difraksinasi menggunakan pelarut n-heksan, etil
asetat dan air dengan perbandingan 1:1 sebanyak
100 mL
Digojok selama 10-15 menit di dalam corong
pisah, dan didiamkan.
9g
Fraksi Etil asetat = x 100 %
50 g
= 18 %
20 ,7 g
Fraksi Air = x 100 %
50 g
= 41,1 %
3. Perhitungan medium Nutrient agar (NA)
20
Nutrient Agar (NA) = x 150 mL
1000
=3g
4. Perhitungan konsentrasi
5
a. Konsentrasi fraksi n-heksan 5% = x 2 mL
100
= 0,1 g
10
Konsentrasi fraksi n-heksan 10% = x 2 mL
100
= 0,2 g
20
Konsentrasi fraksi n-heksan 20% = x 2 mL
100
= 0,4 g
5
b. Konsentrasi fraksi etil asetat 5% = x 2 mL
100
= 0,1 g
10
Konsentrasi fraksi etil asetat 10% = x 2 mL
100
= 0, 2 g
20
Konsentrasi fraksi etil asetat 20% = x 2 mL
100
= 0, 4 g
5
c. Konsentrasi fraksi air 5% = x 2 mL
100
= 0,1 g
10
Konsentrasi fraksi air 10% = x 2 mL
100
= 0,2 g
20
Konsentrasi fraksi air 20% = x 2 mL
100
= 0,4 g
1
d. Konsentrasi klindamisin 1% = x 3 mL
100
= 0,03 g
e. DMSO = 2 mL
Lampiran 5. Hasil Anallisis SPSS
Fraksi N-Heksan
Uji Normalitas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Perlakuan Statistic df Sig. Statistic Df Sig.
Zona Hambat Kontrol Positif .419 5 .004 .732 5 .020
Kontrol Negatif . 5 . . 5 .
Konsentrasi 5% . 5 . . 5 .
Konsentrasi 10% .332 5 .074 .740 5 .024
Konsentrasi 20% .296 5 .174 .898 5 .400
a. Lilliefors Significance Correction
Uji Kruskal-Wallist
Kruskal-Wallis Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank
Zona Hambat Kontrol Positif 5 23.00
Kontrol Negatif 5 5.50
Konsentrasi 5% 5 5.50
Konsentrasi 10% 5 13.60
Konsentrasi 20% 5 17.40
Total 25
Test Statisticsa,b
Zona Hambat
Kruskal-Wallis H 22.973
Df 4
Asymp. Sig. .000
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Perlakuan
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 5% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 20% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 5.50 27.50
Konsentrasi 5% 5 5.50 27.50
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 12.500
Asymp. Sig. (2-tailed) 1.000
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 10% 5 3.60 18.00
Konsentrasi 20% 5 7.40 37.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 3.000
Asymp. Sig. (2-tailed) .044
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Uji Normalitas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Perlakuan Statistic df Sig. Statistic df Sig.
*
Zona Hambat Kontrol Positif .247 5 .200 .860 5 .229
Kontrol Negatif . 5 . . 5 .
Konsentrasi 5% .391 5 .012 .796 5 .075
*
Konsentrasi 10% .214 5 .200 .880 5 .311
Konsentrasi 20% .246 5 .200* .885 5 .335
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Zona Hambat Based on Mean 2.985 4 20 .044
Test Statisticsa,b
Zona Hambat
Kruskal-Wallis H 22.844
Df 4
Asymp. Sig. .000
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Perlakuan
Uji Mann Whitney
Mann-Whitney Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 10% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 20% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 5% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 10% 5 3.60 18.00
Konsentrasi 20% 5 7.40 37.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 3.000
Asymp. Sig. (2-tailed) .045
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Fraksi Air
Uji Normalitas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Perlakuan Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Zona Hambat Kontrol Positif .203 5 .200* .947 5 .715
Kontrol Negatif . 5 . . 5 .
Konsentrasi 5% .314 5 .120 .751 5 .031
Konsentrasi 10% .262 5 .200* .876 5 .293
Konsentrasi 20% .283 5 .200* .781 5 .056
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction
Kruskal-Wallis Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank
Zona Hambat Kontrol Positif 5 23.00
Kontrol Negatif 5 3.00
Konsentrasi 5% 5 9.30
Konsentrasi 10% 5 12.20
Konsentrasi 20% 5 17.50
Total 25
Test Statisticsa,b
Zona Hambat
Kruskal-Wallis H 21.855
Df 4
Asymp. Sig. .000
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Perlakuan
Uji Mann Whitney
Mann-Whitney Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 10% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 20% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 5% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 4.30 21.50
Konsentrasi 10% 5 6.70 33.50
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 6.500
Asymp. Sig. (2-tailed) .207
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 10% 5 3.50 17.50
Konsentrasi 20% 5 7.50 37.50
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 2.500
Asymp. Sig. (2-tailed) .036
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Lampiran 6. Hasil determinasi tanaman
Lampiran 7. Surat Izin Melakukan Penelitian
Lampiran 8. Surat Telah Melaksanakan Penelitian
Lampiran 9. Surat Keaslian Data Penelitian
Lampiran 10. Hasil Dokumentasi penelitian
Gambar Keterangan
heksan
asetat
Pengujian flavonoid
Pengujian saponin
Pengujian Tanin
Pengujian steroid
Pengujian flavonoid
Pengujian tanin
Pengujian saponin
Pengujian triterpenoid
Pengujian flavonoid
Pengujian tanin
Pengujian saponin
Pengujian triterpenoid