0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan117 halaman

Aktivitas Antibakteri Daun Bidara Arab

Skripsi ini membahas tentang uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, etil asetat, dan air dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi) terhadap bakteri Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Sampel diekstraksi menggunakan metode maserasi. Hasil uji fitokimia menunjukkan beberapa senyawa aktif dalam fraksi. Hasil uji antibakteri menunjukkan ketiga fraksi memiliki aktivitas antibakteri terhadap P.

Diunggah oleh

halfianitian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
59 tayangan117 halaman

Aktivitas Antibakteri Daun Bidara Arab

Skripsi ini membahas tentang uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, etil asetat, dan air dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi) terhadap bakteri Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Sampel diekstraksi menggunakan metode maserasi. Hasil uji fitokimia menunjukkan beberapa senyawa aktif dalam fraksi. Hasil uji antibakteri menunjukkan ketiga fraksi memiliki aktivitas antibakteri terhadap P.

Diunggah oleh

halfianitian
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

SKRIPSI

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI n-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN


AIR DARI DAUN BIDARA ARAB (Ziziphus spina-christi
(L.)Desf) TERHADAP BAKTERI Propionibacterium acnes
PENYEBAB JERAWAT

RISDA
F201901035

Skripsi Ini Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat


Untuk Memperoleh gelar Sarjana Farmasi

PROGRAM STUDI S1 FARMASI


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS MANDALA WALUYA
KENDARI
2023
ii
iii
ABSTRAK

Universitas Mandala Waluya


Fakultas Sains dan Teknologi
Program Studi Farmasi
Skripsi, September 2023

Risda (F201901035)
“UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI FRAKSI N-HEKSAN, ETIL ASETAT DAN AIR
DARI DAUN BIDARA ARAB (Ziziphus Spina Christi (L.) Desf) TERHADAP
BAKTERI Propionibacterium Acnes PENYEBAB JERAWAT ”
Pembimbing I : apt. Nur Herlina Nasir, [Link]., [Link]
Pembimbing II : apt. Bai Athur Ridwan, [Link]., [Link]
(xi, 106 Halaman, 3 Gambar, 8 Tabel, 14 Lampiran)

Jerawat adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi pada remaja
dan dewasa muda. Jerawat (acne) merupakan gangguan pada kulit yang ditandai dengan
adanya peradangan yang di sertai penyumbatan pada saluran kelenjar minyak dalam kulit.
Bakteri Propionibacterium acnes merupakan agen utama inflamasi pada jerawat. Salah
satu tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri adalah Bidara arab. Jenis penelitian ini
adalah penelitian eksperimental yang bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri
fraksi n-Heksan, etil asetat dan air daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)
terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes penyebab jerawat. Populasi
tanaman diperoleh di Desa Toburi, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.
Metode analisis uji statistik non parametrik yaitu uji Kruskal Wallis kemudian
dilanjutkan dengan uji Mann Whitney. Sampel di esktraksi menggunakan metode maserasi.
Pengujian skrining fitokimia pada fraksi n-heksan positif mengandung tanin, saponin,
steroid, triterpenoid. Fraksi etil asetat positif mengandung flavonoid, tanin, saponin,
triterpenoid. Dan fraksi air positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin, tanin dan
steroid. Hasil Uji antibakteri Fraksi air terhadap bakteri Propionibacterium acnes pada
konsentrasi 5% yaitu 9,56 mm kategori sedang, 10% yaitu 10,44 mm kategori sedang dan
20% yaitu 12,64 mm kategori kuat. Fraksi etil asetat pada konsentrasi 5% yaitu 9,48 mm
kategori sedang, 10% yaitu 10,76 mm kategori sedang, 20% yaitu 11,7 mm kategori kuat.
Dan fraksi n-heksan pada konsentrasi 10% yaitu 6,14 mm kategori sedang dan 20% yaitu
7,58 mm kategori sedang.
Berdasarkan hasil dari pengujian aktivitas antibakteri pada fraksi n-heksan, etil
asetat dan air dari daun bidara arab pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% terbukti
menghambat pertumbuhan bakteri. Diharapkan pada peneliti selanjutnya agar melakukan
penelitian lebih lanjut dengan mencari isolat/senyawa dalam fraksi daun bidara
arab,dilakukan penelitian lebih lanjut pada bakteri yang berbeda pada fraksi daun bidara
arab.

Kata Kunci : Fraksi, Daun bidara arab, Propionobacterium acnes


Daftar Pustaka : 85 (1987-2022)

iv
v
KATA PENGANTAR

Puji Syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah memberikan Rahmat

dan Karunia-Nya sehingga Penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Uji

Aktivitas Antibakteri Fraksi n-Heksan, Etil Asetat dan Air dari Daun Bidara Arab

(Ziziphus spina christi (L.) Desf) Terhadap Bakteri Propionibacterium Acnes

Penyebab Jerawat ” guna memenuhi salah satu persyaratan untuk menyelesaikan

pendidikan pada Program Studi Farmasi Di Universitas Mandala Waluya.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kata

kesempurnaan oleh karena itu saran-saran dari semua pihak yang sifatnya membangun

untuk meningkatkan mutu dari penulisan ini sangat Penulis harapkan.

Pada kesempatan ini Penulis tidak lupa menghanturkan rasa terima kasih yang

sebesar-besarnya kepada apt. Nur Herlina Nasir, [Link]., [Link]. Sci selaku

Pembimbing I dan kepada apt. Bai Athur Ridwan, [Link]., [Link]. Sci selaku

Pembimbing II atas semua waktu, tenaga dan pikiran yang telah diberikannya dalam

membimbing, mengarahkan, memberi saran maupun kritik sehingga skripsi ini menjadi

lebih baik.

Tak lupa pula Penulis haturkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Ketua Yayasan Universitas Mandala waluya Kendari

2. Rektor Universitas Mandala Waluya

3. Para Wakil Rektor Akademik, Non Akademik, Kemahasiswaan Universitas Mandala

Waluya

4. Dekan Fakultas Sains Teknologi Universitas Mandala Waluya

5. Ketua Prodi Farmasi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya

vi
6. Para Tim Penguji : Ibu Dr. Ratna Umi Nurlila, [Link]., [Link] selaku Penguji I, Ibu Dr.

apt. Citra Dewi, [Link]., [Link] selaku Penguji II, Ibu Selpirahmawati Saranani,

[Link]., [Link] selaku penguji III .

7. Seluruh Dosen dan Staf/Karyawan Universitas Mandala Waluya Kendari yang banyak

membantu penulis selama pendidikan.

8. Melalui kesempatan ini dengan segala bakti penulis mengucapkan terima kasih dan

penghormatan yang tak terhingga kepada kedua orang tua saya Rahman dan Andi

Riska Wati yang telah mendidik, dan mendoakan sepanjang proses penulis dalam

menyelesaikan studinya sampai selesai dan Saudara yang telah mendukung dan

membantu penulis, serta motivasi hingga menyelesaikan skripsi ini.

9. Teman-teman saya khususnya Dea K, Dea M, Atika, Melany, Majrah, Afdal, Masni,

Ayu, Anugrah, yang telah banyak membantu, dan mensuport penulis hingga penulis

mampu menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Serta seluruh teman-teman

angkatan 2019 Program Studi Farmasi yang telah memberikan bantuan dan motivasi

hingga selesainya Skripsi ini.

10. Terima kasih juga untuk orang yang bernama Serda [Link], terima kasih telah

menemani penulis dari awal perkuliahan sampai selesainya skripsi ini, selalu

mendengar keluh kesah penulis, selalu menjadi penyemangat, terima kasih kasih

karena selalu menyempatkan waktunya, meski jarak jauh.

Demikian semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan terutama pada

penulis dalam menyelesaikan pendidikan di Universitas Mandala Waluya , Aamiin.

Kendari, September 2023

Penulis

vii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ......................................................................................................... i


LEMBAR PERSETUJUAN ............................................................................................ ii
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................. iii
ABSTRAK.......................................................................................................................... iv
ABSTRACT....................................................................................................................... v
KATA PENGANTAR ....................................................................................................... vi
DAFTAR ISI......................................................................................................................viii
DAFTAR TABEL .............................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................................... xi
DAFTAR SINGKATAN ................................................................................................... xii
DAFTAR SIMBOL...........................................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................................xiv
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................... 4
C. Tujuan Penelitian............................................................................................ 4
D. Manfaat penelitian.......................................................................................... 5
E. Kebaruan Penelitian....................................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Umum Variabel Terikat................................................................... 7
B. Tinjauan Umum Variabel Bebas..................................................................... 12
C. Kajian Empiris ............................................................................................... 24
BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN
A. Dasar Pikir Penelitian..................................................................................... 26
B. Bagan Kerangka Konsep Penelitian............................................................... 27
C. Variabel Penelitian.......................................................................................... 27
D. Definisi Operasional dan Kriteria Obyektif................................................... 27

viii
BAB IV METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Desain Penelitian............................................................................ 29
B. Tempat penelitian .......................................................................................... 30
C. Populasi dan sampel ...................................................................................... 30
D. Alat dan Bahan Penelitian.............................................................................. 30
E. Prosedur Kerja................................................................................................ 30
F. Analisis data penelitian ................................................................................. 35
G. Etika penelitian .............................................................................................. 35
BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran umum penelitian........................................................................... 37
B. Analisis data.................................................................................................. 37
C. Pembahasan................................................................................................... 46
BAB VI PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................... 59
B. Saran.............................................................................................................. 59
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

ix
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Kebaruan penelitian............................................................................................ 6


Tabel 2. Hasil Ekstraksi Daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf)................... 38
Tabel 3. Rendamen fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air Daun Bidara Arab
(Ziziphus spina christi (L.) Desf) ....................................................................... 38
Tabel 4. Hasil Skrining Fitokimia Fraksi n-Heksan, Etil Asetat dan Air dari
daun bidara arab (Ziziphus zpina christi (L.) desf) ............................................ 39
Tabel 5. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun
bidara arab........................................................................................................... 40
Tabel 6. Hasil Uji Mann-Whitney Fraksi n-Heksan Terhadap Pertumbuhan
Bakteri Propionibacterium acnes ...................................................................... 42
Tabel 7. Hasil Uji Mann-Whitney Fraksi etil asetat Terhadap Pertumbuhan
Bakteri Propionibacterium acnes ...................................................................... 44
Tabel 8. Hasil Uji Mann-Whitney Fraksi Air Terhadap Pertumbuhan
Bakteri Propionibacterium acnes ...................................................................... 45

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Propionibacterium acnes ................................................................................ 10


Gambar 2. Tanaman Bidara arab ...................................................................................... 13
Gambar 3. Desain penelitian ............................................................................................. 29

xi
DAFTAR ARTI LAMBANG DAN SINGKATAN

Singkatan Arti
KHM Konsentrasi Hambat Minimum
NA Nutrient Agar
o
C Derajat Celcius
Mm Milimeter/mikrometer
G Gram
mL Mili liter
Mg Mili gram
cm Centimeter
M Meter
Depkes Departemen Kesehatan
Dpl Diatas permukaan laut
DMSO Dimetil sulfoksida
H2SO4 Asam Sulfat
FeCl3 Feri Klorida
HCl Hidroklorida

xii
DAFTAR SIMBOL

1. % : Persen
2. = : Sama dengan
3. X : Kali
4. ÷ : Bagi
5. ≤ : Kurang dari
6. ≥ : Lebih dari
7. µ : Mikro
8. ± : Kurang lebih
o
9. : Derajat

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak


Lampiran 2. kema kerja pembuatan Fraksi
Lampiran 3. Skema Kerja Uji Aktivitas Antibakteri
Lampiran 4. erhitungan
Lampiran 5. Hasil Anallisis SPSS
Lampiran 6. Hasil determinasi tanaman
Lampiran 7. Surat Izin Melakukan Penelitian
Lampiran 8. Surat Telah Melaksanakan Penelitian
Lampiran 9. Surat Keaslian Data Penelitian
Lampiran 10. Hasil Dokumentasi penelitian
Lampiran 11. Riwayat hidup

xiv
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penyakit kulit merupakan suatu penyakit yang menyerang pada permukaan

tubuh, dan disebabkan oleh berbagai macam penyebab yang paling umum dan

menginfeksi segala macam usia. Kulit merupakan bagian terluar dari tubuh yang terdiri

atas 2 lapisan yaitu lapisan dermis dan epidermis (Browns & Burns, 2005). Kulit

memiliki sifat asam dan sensitif terhadap kebanyakan mikroorganisme. Beberapa

mikroorganisme yang berkoloni di kulit memperoleh asupan makanan dari dalam kulit

diantaranya yaitu asam amino, asam lemak, garam, urea dan air. Hal tersebut

menyebabkan mikroorganisme tumbuh dan berkembang sehingga terjadi infeksi kulit,

salah satunya jerawat (Sari et al., 2015).

Jerawat adalah salah satu gangguan kulit yang paling umum terjadi pada remaja

dan dewasa muda. Jerawat dapat mempengaruhi psikis dan berpengaruh terhadap citra

diri serta memberi dampak negatif pada kualitas hidup (Franca, 2017). Jerawat (acne)

merupakan gangguan pada kulit yang ditandai dengan adanya peradangan yang disertai

penyumbatan pada saluran kelenjar minyak dalam kulit.

Pravalensi jerawat di Indonesia pada masa remaja cukup tinggi, yaitu berkisar

80-85%. Pravalensi ini meningkat setiap tahunnya. Studi yang dilakukan pada tahun

2019 sebanyak 69,7% wanita terkena jerawat dan pria sebanyak 30,3% (Sibero, et al.,

2020). Kemudian pada tahun 2021 berkisar 80 sampai 85% remaja berusia 15 sampai

18 tahun, 12% pada usia > 25 tahun dan 3% pada usia 33-44 tahun mengalami jerawat

(Lynn, et al., 2016). Sedangkan di Kota Kendari pada Tahun 2019 jerawat mencapai

367 orang dengan persentasi 38%. Penderita penyakit jerawat lebih tinggi pada wanita

dibandingkan pria, dengan puncak kejadian pada usia 15 tahun (Lestari, 2021).

1
Peradangan pada jerawat disebabkan oleh beberapa bakteri yaitu

Propionibacterium acnes, Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus Aureus

(Octy et., al 2013). Menurut Agustina (2019) Propionibacterium acnes merupakan

agen utama inflamasi pada jerawat. Bakteri ini merupakan salah satu bakteri non spora,

Gram positif dan bersifat anaerob yang merupakan flora normal pada kelenjar

pilosebase yang sering dijumpai pada kulit wajah , kulit kepala. [Link] dapat

menyebabkan infeksi oportunistik berupa jerawat terutama pada masa pubertas terjadi

peningkatan aktivitas androgen memicu pertumbuhan kelenjar minyak sebaseous dan

peningkatan produksi sebum (Armadany & Pratiwi, 2018).

Saat ini masyarakat telah banyak mengenal pengobatan terhadap jerawat salah

satunya dengan menggunakan obat antijerawat seperti klindamisin. Klindamisin

merupakan antibiotik yang paling sering digunakan masyarakat untuk mengobati

jerawat (Aida, et al., 2016). Mekanisme klindamisin sebagai antibakteri bekerja dengan

cara mengahambat reproduksi atau pertumbuhan dari bakteri yaitu dengan

penghambatan sintesa protein bakteri. Akan tetapi penggunaan antibiotik sintesis

jangka panjang dapat menyebabkan resistensi bahkan kerusakan organ dan

hipersensitivitas (efek alergi) seperti ruam kulit dan sesak nafas. Resistensi bakteri

dapat diminimalisir dengan menggunakan obat herbal tumbuhan (Rahmi, et al. 2015).

Pemanfaatan bahan alam sebagai obat tradisional akhir-akhir ini meningkat.

Penggunaan obat tradisional dinilai memiliki efek samping lebih kecil dibandingkan

dengan obat yang berasal dari bahan kimia, disamping itu harganya lebih terjangkau.

Sebagian besar masyarakat hidup dipedesaan dan kadang sulit dijangkau oleh tim

medis dan obat-obat modern. Mahalnya biaya pengobatan modern menyebabkan

masyarakat kabanyakan berpaling ke obat tradisional yang berasal dari alam.

2
Salah satu tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri penyebab jerawat yang

digunakan oleh masyarakat adalah Bidara (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) Daun

bidara (Ziziphus spina- christi (L.) Desf) merupakan salah satu bahan alam yang dapat

digunakan oleh masyarakat yang mempunyai efek pengobatan (Mauludiyah et al.,

2020). Kandungan didalam tanaman daun bidara seperti flavonoid, alkaloid, saponin,

dan polifenol. Berdasarkan senyawa tersebut dapat menghambat perkembangan bakteri

(Mauludiyah et al., 2020). Menurut penelitian Puteri dkk., (2019) menunjukkan bahwa

ekstrak etanol daun bidara Arab mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, tannin,

saponin dan steroid serta memiliki aktivitas antibakteri pada konsentrasi 2,5 - 40%.

Ekstrak etanol daun bidara arab (Ziziphus spina-christi L) yang memiliki aktivitas

antibakteri yang baik adalah pada konsentrasi 5% pada bakteri propionibacterium

acnes dengan diameter zona hambat 12,29mm, konsentrasi 10% dengan diameter zona

hambat 14,07mm dan pada konsentrasi 20% dengan diameter zona hambat 12,72mm.

Dimana menurut pendapat Bell (2016) suatu bahan dikategorikan memiliki aktivitas

antibakteri yang baik jika bahan tersebut memiliki diameter zona hambat yang

terbentuk lebih besar dari 6mm dan bila diameter zona hambat yang terbentuk lebih

kecil dari 6mm atau tidak terbentuk zona hambat, maka ekstrak tersebut dikategorikan

tidak memiliki aktivitas sebagai antibakteri (Bell, 2016).

Penelitian tentang daun bidara (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) sudah banyak

dilakukan dan diketahui masih sebatas pada proses ekstraksi saja , tetapi pada bagian

fraksi daun bidara belum pernah dilakukan pengujian pada bakteri Propionibacterium

acnes. Maka dengan adanya fraksinasi diharapkan dapat meningkatkan aktivitas

antibakteri , dibandingkan aktivitas ekstraknya. Fraksi menggunakan pelarut n-heksan

bertujuan agar kandungan senyawa yang bersifat nonpolar dapat tersari dalam pelarut

n-heksan. Fraksi menggunakan pelarut etil asetat bertujuan agar kandungan senyawa

3
yang bersifat semi polar dapat tersari dalam pelarut etil asetat, sedangkan fraksi

menggunakan pelarut air bertujuan agar kandungan senyawa yang bersifat polar tersari

dalam pelarut air (Andriyanto et al., 2016).

Berdasarkan latar belakang diatas, maka peneliti tertarik melakukan penelitian

tentang Uji aktivitas fraksi n-heksan, etil asetat dan air daun bidara arab (Ziziphus

spina-Christi (L.) Desf) terhadap pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes

penyebab jerawat . Melihat hasil penelitian terdahulu tentang kandungan didalam daun

bidara yang begitu besar dan dapat dimanfaatkan menarik minat meniliti untuk

aktivitasnya terhadap bakteri Propionibacterium acnes yang diharapkan dapat menjadi

sumber acuan penelitian selanjutnya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Apa sajakah kandungan metabolit sekunder pada fraksi n-heksan, etil asetat dan air

dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) ?

2. Bagaimana aktivitas antibakteri fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air dari daun

bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) terhadap bakteri Propionibacterium

acnes Penyebab jerawat pada konsentrasi 5%, 10% dan 20%?

C. Tujuan penelitian

Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Tujuan umum

Untuk mengetahui manfaat dan aktivitas antibakteri fraksi n-Heksan, etil

asetat dan air dari daun bidara arab (ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap

bakteri Propionibacterium acnes penyebab jerawat

4
2. Tujuan Khusus

a) Untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder pada fraksi n-heksan, etil

asetat dan air dari daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)

b) Untuk mengetahui bagaimana aktivitas antibkteri fraksi n-Heksan, etil asetat

dan air dari daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap bakteri

Propionibacterium acnes penyebab jerawat pada konsentrasi 5%, 10% dan 20%

D. Manfaat Penelitian

1. Ilmiah

a) Dapat memberikan data ilmiah mengenai aktivitas antibakteri fraksi daun

bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap bakteri

Propionibacterium acnes penyebab jerawat

b) Dapat dijadikan sumber acuan untuk penelitian selanjutnya dalam

pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tentang pemanfaatan bahan

alam atau pembuatan formulasi sediaan.

2. Institusi

Dapat mewujudkan Peran Prodi Farmasi Fakultas Sains & Teknologi

Universitas Mandala Waluya dalam mengkaji permasalahan yang terjadi

dimasyarakat terkait tanaman lokal

3. Praktis

a. Peneliti dapat mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, etil asetat, dan

air dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) terhadap bakteri

Propionibacterium acnes penyebab jerawat

b. Dapat menambah wawasan dan pengetahuan peneliti mengenai antivitas

antibakteri daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) terhadap bakteri

Propionibacterium acnes penyebab jerawat.

5
E. Kebaruan Penelitian

Berdasarkan kajian literatur pengujian tentang Uji Aktivitas antibakteri Fraksi

n-Heksan, etil asetat dan air Daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)

terhadap Propionibacterium acnes penyebab jerawat belum pernah dilakukan

penelitian yang terkait dengan penelitian ini adalah

Tabel 1. Kebaruan penelitian


No Peneliti Judul Persamaan Perbedaan
1. Puteri Uji Aktivitas - Sampel dan Peneliti
dkk, 2019 Antibakteri Ekstrak Bakteri yang sebelumnya
Etanol Daun Bidara digunakan sama menguji Aktivitas
Arab (Ziziphus Spina- antibakteri
Christi L) Terhadap ekstrak dari daun
Bakteri Penyebab bidara
Jerawat
(Propionibacterium
Acnes) Dan
(Staphylococcus
Epidermidis)
2. Safitri Profil Antibakteri Dari - Sampel Yang Di Peneliti
dkk, 2021 Ekstrak Etanol 70% Gunakan Sama sebelumnya
Daun Bidara Arab Yaitu Daun menguji aktivitas
(Ziziphus Spina- Bidara Arab antibakteri dari
Christi) Terhadap (Ziziphus Spina- ekstrak etanol
Bakteri Christi) daun bidara
Propionibacterium
Acnes, Staphylococcus
Epdermidis Dan
Staphylococcus
Aureus
3. Marbun Uji Antibakteri - Sampel Yang Peneliti
dkk, 2022 Ekstrak Etanol Daun Digunakan Sama sebelumnya
Bidara Arab (Ziziphus - Menggunakan menggunakan
Jujuba Mill) Terhadap Etanol 70% bakteri yang
Bakteri S. Aureus Dan berbeda
S. Epidermidis Staphylococcus
aureus dan
Staphylococcus
epidermidis

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Teoritis Variabel Terikat

1. Tinjauan Umum Antibakteri

Antibakteri merupakan suatu zat yang dapat menghambat atau bahkan

membunuh pertumbuhan bakteri yang merugikan dan relatif aman digunakan oleh

manusia. Tujuan dari pengendalian adalah mencegah terjadinya infeksi, membasmi

bakteri pada inang yang telah terinfeksi serta mencegah terjadinya kerusakan yang

disebabkan oleh pembusukan mikroorganisme (Savitri et al., 2020).

Antibakteri harus memiliki sifat toksisitas selektif setinggi mungkin, artinya

zat harus bersifat sangat toksik terhadap bakteri, tetapi relatif tidak toksik untuk

hospes. Berdasarkan toksisitas selektif, antibakteri dibedakan menjadi dua. Yaitu

antibakteri yang bersifat menghambat pertumbuhan (bakteriostatik) dan antibakteri

yang bersifat membunuh bakteri (bakterisid).

Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibakteri dibagi dalam lima kelompok,

yaitu (Anggraeni et al., 2020):

a. Menghambat metabolisme sel bakteri

Pada mekanisme ini diperoleh efek bakteriostatik. Kerja antibakteri ini

adalah menghambat pembentukan asam folat. Bakteri membutuhkan asam folat

untuk kelangsungan hidupnya dan bakteri memperoleh asam folat dengan

mensintesis sendiri dari asam para amino benzoat (PABA). Apabila antibakteri

menang bersaing dengan PABA untuk diikutsertakan dalam pembentukan asam

folat, maka terbentuk analog asam folat yang nonfungsional. Akibatnya

kehidupan bakteri akan terganggu.

7
b. Menghambat sintesis dinding sel bakteri

Dinding sel bakteri terdiri dari peptidoglikan. Kerja antibakteri ini adalah

menghambat proses sintesis peptidoglikan sehingga mengakibatkan dinding sel

menjadi tidak. Akibatnya, tekanan osmotik dalam sel bakteri menjadi lebih

tinggi daripada tekanan di luar sel maka kerusakan dinding sel bakteri akan

menyebabkan lisis. Lisis merupakan dasar efek bakterisidal.

c. Mengganggu keutuhan membran sel bakteri

Sitoplasma dibatasi oleh membran sitoplasma yang merupakan

penghalang dengan permeabilitas yang selektif. Membran sitoplasma akan

mempertahankan bahan-bahan tertentu di dalam sel serta mengatur aliran

keluar-masuknya bahan-bahan lain. jika terjadi kerusakan pada membran ini,

maka akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan sel atau matinya sel.

d. Menghambat sintesis protein sel bakteri

Kehidupan sel bakteri tergantung pada terpeliharanya molekul-molekul

protein dan asam nukleat dalam keadaan alamiah. Jika kondisi atau substansi

yang dapat mengakibatkan terdenaturasinya protein dan asam nukleat, maka

dapat merusak sel tanpa dapat diperbaiki kembali. Penghambatan sintesis

protein terjadi dengan cara terikatnya salah satu komponen ribosom dengan

antibakteri. Akibatnya akan terbentuk protein yang abnormal dan nonfungsional

bagi sel bakteri.

e. Menghambat sintesis asam nukleat sel bakteri

Protein, DNA, dan RNA berperan penting dalam proses kehidupan

normal sel bakteri. Apabila terjadi gangguan pada pembentukan atau pada

fungsi zat-zat tersebut akan mengakibatkan kerusakan total pada sel.

8
Antibakteri akan berikatan dengan enzim RNA-polimerarse sehingga

menghambat sintesis RNA dan DNA oleh enzim tersebut.

Aktivitas antibakteri diukur secara in vitro agar dapat ditentukan

kemampuan suatu zat antibakteri. Aktivitas antibakteri ditentukan oleh

spektrum kerja (spektrum luas atau spektrum sempit), cara kerja (bakterisidal

atau bakteriostatik), dan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM). Suatu

antibakteri dikatakan mempunyai aktivitas yang tinggi apabila KHM terjadi

pada kadar yang rendah tetapi mempunyai daya bunuh atau daya hambat yang

besar.

Uji aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu (Aisyah et

al., 2020):

a. Metode Difusi

Prinsip metode difusi adalah pengukuran potensi antibakteri berdasarkan

pengamatan diameter daerah hambatan bakteri yang disebakan karena

berdifusinya zat antibakteri dari titik awal pemberian ke daerah difusi. Pada

metode ini dapat digunakan kertas cakram atau lubang sumuran yang

mengandung zat antibakteri di atas media yang diinkubasi pada suhu dan waktu

tergantung dari bakteri yang dihambat pertumbuhannya. Setelah

penginkubasian didapatkan diameter hambatan jernih sebagai daya antibakteri.

Kekuatan zat antibakteri bisa digolongkan sesuai dengan lebar diameter zona

hambat.

b. Metode Dilusi

Pada prinsipnya zat antibakteri diencerkan hingga diperoleh beberapa

konsentrasi. Pada dilusi cair, masing-masing konsentrasi antibakteri ditambah

suspensi kuman dalam media, sedangkan pada dilusi padat tiap konsentrasi

9
antibakteri dicampur dengan media agar lalu ditanami bakteri dan diinkubasi

pada suhu dan waktu disesuaikan dengan bakteri uji. Hasil inkubasi dengan

kekeruhan tertipis adalah konsentrasi yang dapat menghambat pertumbuhan

bakteri. Potensi antibakteri ditentukan dengan melihat konsentrasi terendah

yang dapat menghambat bakteri.

2. Tinjauan Umum Bakteri

Bakteri Propionibacterium acnes

a. Klasifikasi

Divisi : Protophyta

Kelas : Schizomycetes

Bangsa : Eubacteriales

Suku : Propionibacteriaceae

Marga : Propionibacterium

Spesies : Propionibacterium acnes

Gambar 1. Propionibacterium acnes


(Sumber : Bruggeman, 2010)

b. Sifat dan morfologi

Propionibacterium acnes merupakan organisme utama yang pada

umumnya memberi konstribusi terhadap terjadinya jerawat. Propionibacterium

acnes adalah termasuk gram-positif berbentuk batang, tidak berspora, tingkat

anaerob ditemukan dalam spesimen-spesimen klinis, beberapa strain/jenis

10
adalah aerotoleran, tetapi tetap menunjukkan pertumbuhan lebih baik sebagai

anaerob. Bakteri ini mempunyai kemampuan untuk menghasilkan asam

propionat, sebagaimana ia mendapatkan namanya (Khumaidi et al., 2020).

Mekanisme terjadinya jerawat disebabkan oleh bakteri Propionibacterium

acnes dengan cara merusak stratum corneum dan stratum germinat dengan cara

menyeksresikan bahan kimia yang menghancurkan dinding pori-pori. Kondisi

ini dapat menyebabkan inflamasi. Asam lemak dan minyak kulit tersumbat

kemudian mengeras. Jika jerawat disentuh maka inflamasi akan meluas

sehingga padatan asam lemak dan minyak kulit yang mengeras akan membesar.

3. Antibiotik

Penggolongan Antibiotik Infeksi bakteri terjadi bila bakteri mampu melewati

barrier mukosa atau kulit dan menembus jaringan tubuh. Pada umumnya, tubuh

berhasil mengeliminasi bakteri tersebut dengan respon imun yang dimiliki, tetapi

bila bakteri berkembang biak lebih cepat daripada aktivitas respon imun tersebut

maka akan terjadi penyakit infeksi yang disertai dengan tanda-tanda

inflamasiTerapi yang tepat harus mampu mencegah berkembang biaknya bakteri

lebih lanjut tanpa membahayakan host. (Kemenkes, 2011).

Penggolongan antibiotik berdasarkan struktur kimia dapat dibedakan sebagai

berikut (Katzung,2013) :

a. Beta laktam, penisilin (contohnya : penisilin, isoksazolil penisilin, ampisilin),

b. sefalosporin (contohnya sefadroksil, sefaklor),

c. monobaktam (contohnya : azteonam) dan karbapenem (contohnya: imipenem)

d. Tetrasiklin, contohnya tetrasiklin dan doksisiklin.

e. Makrolida, contohnya eritromisin dan klaritromisin

f. Linkomisin, contohnya linkomisin dan klindamisin

11
g. Kloramfenikol, contohnya kloramfenikol dan tiamfenikol

h. Aminoglikosida, contohnya streptomisn, neomisin dan gentamisin.

i. Sulfonamida (contohnya : sulfadizin, sulfisoksazol) dan kotrimoksazol

(kombinasi trimetroprim dan sulfametoksazol)

j. Kuinolon (contohnya: asam nalidiksat) dan fluorokuinolon (contohnya:

siprofloksasin dan levofloksasin)

k. Glikopeptida, contohnya vankomisin dan telkoplanin.

l. Antimikrobakterium, isoniazid, rifampisin, pirazinamid

m. Golongan lain, contohnya polimiksin B, basitrasin, oksazolidindion.

Pada penelitian ini digunakan antibiotik Clindamycin karena menurut Sukandar (2008),
clindamycin merupakan antibiotik lincosamide yang dapat bekerja sebagai bakteriostatik maupun

bakterisid tergantung dosis obat terjadinya infeksi dan organisme penyebab infeksi. Clindamycin

merupakan antibiotik yang berspektrum luas, dimana memiliki kepekaan terhadap bakteri aerobik

Staphylococcus dan Streptococcus, bakteri gram positif anaerob Propionibacterium, Peptococcus

dan Peptostreptococcus. Mekanisme clindamycin yaitu memperlambat sintesis protein bakteri

dengan mengikat subunit ribosom yang memperlambat terbentuknya ikatan tersebut.

B. Tinjauan Teoritis variabel bebas

1. Uraian tanaman daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf)

Bidara adalah sejenis pohon kecil yang selalu hijau penghasil buah yang

tumbuh didaerah Afrika Utara dan tropis serta Asia Barat, tumbuh didaerah israel

dilembah-lembah sampai ketinggian 500m. khususnya di Indonesia tanaman ini

banyak tumbuh di Sumbawa (Nusa Tenggara Barat) (Heyne K, 1987).

Tanaman ini berasal dari Timur Tengah dan telah menyebar di wilayah

Tropik dan subtropik, termasuk Asia Tenggara. Tanaman ini beradaptasi dengan

berbagai kondisi , tetapi tumbuhan ini lebih menyukai udara panas dengan curah

hujan berkisar 125mm dan diatas 2000mm. Suhu maksimum agar dapat tumbuh

12
baik adalah 37-48oC dengan suhu maksimum 7-13oC. Tanaman ini umumnya

ditemukan pada daerah dengan ketinggian 0-1000 m dpl (Dahiru, 2010)

a. Klasifikasi Bidara Arab

Kingdom : Plantae

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Ordo : Rhamnales

Famili : Rhammanaceae

Genus : Ziziphus

Spesies : Ziziphus spina-christi (L.) Desf (Tjitrosoepomo, 2012)

Gambar 2. Tanaman Bidara arab


(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

b. Kandungan daun Bidara arab

Ziziphus spina-christi (L.) Desf hanya tiga dari kandungan kimia yang

meliputi polifenol, saponin, dan tanin. Sterol seperti sitosterol, terpenoid,

pitosteroltritepernoid , alkaloid, saponin, flavonoid, glikosida dan tanin.

Tanaman bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf) memiliki

pkandungan fenolat flavonoid yang kaya akan manfaat. Senyawa fenolat adalah

senyawa yang mempunyai sebuah cincin aromatik dengan satu atau lebih gugus

13
hidroksi, senyawa yang berasal dari tumbuhan yang memiliki ciri sama, yaitu

cincin aromatic yang mengandung satu atau lebih gugus hidroksi

(Tjitrosoepomo, 2010).

1. Flavonoid

Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang tersebar luas di alam.

Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6

yang artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzene

tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon. Pengelompokan

flavonoid dibedakan berdasarkan cincin heterosiklik-oksigen tambahan dan

gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan pada rantai C3,

sesuai struktur kimianya yang termasuk flavonoid yaitu flavonol, flavon,

flavanon, katekin, antosianidin, dan kalkon.

2. Alkaloid

Alkaloid adalah suatu golongan senyawa organik yang terbanyak

ditemukan di alam. Hampir tumbuhan. Semua alkaloid mengandung

nitrogen yang sering kali terdapat dalam cincin eterosiklik, tetapi ada yang

terdapat dalam struktur alifatiknya, bersifat basa.

3. Tanin

Tanin merupakan golongan senyawa aktif tumbuhan yang termasuk

golongan flavonoid, mempunyai rasa sepat dan mempunyai kemampuan

menyamak kulit. Secara kimia tanin dibagi menjadi dua golongan, yaitu

tanin terkondensasi atau katekol dan tanin terhidrolis atau tanin galat.

4. Saponin

Saponin berasal dari bahasa latin sapo yang berarti sabun, karena

sifatnya menyerupai sabun. Saponin adalah senyawa aktif permukaan kuat,

14
menimbulkan busa jika dikocok dengan air dan pada konsentrasi rendah

sering menyebabkan hemolisis sel darah merah. Saponin dalam larutan

sangat encer dapat sebagai racun ikan, selain itu saponin juga berpotensi

sebagai antimikroba, dapat digunakan sebagai bahan baku sintesis hormon

steroid. Dua jenis saponin yang dikenal yaitu glikosida tritepenoid alkohol

dan glikosida struktur steroid. Aglikonnya disebut sapogenin, diperoleh

dengan hidrolisis dalam asam atau menggunakan enzim.

5. Steroid

Steroid merupakan golongan lipid yang diturunkan dari senyawa

jenuh yang dinamakan siklopentano perhidrofenantrena, yang memiliki inti

dengan 3 cincin sikloheksana terpadu dan 1 cincin siklopentana yang

tergabung pada ujung cincin sikloheksana tersebut. Beberapa turunan

steroid yang penting ialah steroid alkohol atau sterol. Steroid lain asam-

asam empedu, hormone seks (androgen dan estrogen dan hormon

kortikosteroid).

6. Kuinon

Kuinon merupakan senyawa berwarna dan memiliki kromofor dasar

seperti kromofor dasar pada benzokuinon,yang terdiri dari dua gugus

karbonil yang berkonjugasi dengan 2 ikatan rangkap. Kuinon untuk tujuan

identifikasi dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu benzokuinon (kuinon dengan

kromofor yang terdiri dari 2 gugus karbonil yang berkonjugasi dengan 2

ikatan rangkap karbon-karbon), naftokuinon, antrakuinon dan kuinon

isoprenoid. Tiga kelompok pertama biasanya terhidroksilasi dan bersifat

senyawa fenol serta mungkin secara in vivo terdapat dalam bentuk

gabungan dengan gula sebagai glikosida atau dalam bentuk kuinon tanpa

15
warna dan juga terkadang dalam bentuk dimer. Dengan demikian

diperlukan hidrolisis asam untuk melepaskan kuinon bebasnya. Senyawa

kuinon yang terdapat sebagai glikosida mungkin larut sedikit dalam air

tetapi umumnya kuinon yang terdapat sebagai glikosida mungkin larut

sedikit dalam air, tetapi umumnya kuinon lebih mudah larut dalam lemak

dan akan terdeteksi dari tumbuhan bersama-sama dengan karetenoid dan

klorofil.

c. Manfaat daun Bidara

Kandungan fenolat pada tanaman bidara kaya akan manfaat biologis

antara lain sebagai antioksidan, antiinflamasi, antimikroba, antifungi, dan

mencegah timbulnya tumor. Orang Arab dan Badui telah menggunakan pasta

dari akarnya untuk pengobatan gusi. Orang Badui menggunakan teh dari buah

nya untuk meningkatkan produksi ASI dan untuk mengobati hati. Dalam

pengobatan tradisional Iran daunnya digunakan sebagai obat sakit perut,

emolien (pencegah kekeringan pada kulit) antiulcer (pengikat asam lambung),

desinfektan, dan anti jamur (Tjitrosoepomo, 2010).

2. Metode ekstraksi

Ekstraksi adalah penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah

obat dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan akan

larut. Sedangkan ekstrak merupakan sediaan sari pekat tumbuh-tumbuhan yang

diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan obat,

menggunakan pelarut yang cocok, uapkan semua atau hampir semua dari

pelarutnya dan sisa endapan atau serbuk diatur untuk ditetapkan standarnya

(Endang, 2016).

16
Teknik ekstraksi yang ideal adalah teknik ekstraksi yang mampu

mengekstraksi bahan aktif yang diinginkan sebanyak mungkin, cepat, mudah

dilakukan, murah, ramah lingkungan dan hasil yang diperoleh selalu konsisten jika

dilakukan berulang-ulang. Adapun teknik ekstraksi konvensional antara lain,

adalah: (Lully et al., 2016).

a. Ekstraksi Secara Dingin

Proses ektraksi secara dingin pada prinsipnya tidak memerlukan

pemanasan. Hal ini diperuntukkan untuk bahan alam yang mengandung

komponen kimia yang tidak tahan pemanasan dan bahan alam yang mempunyai

tekstur yang lunak. Yang termasuk ekstraksi secara dingin adalah sebagai

berikut :

1) Metode maserasi

Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang

dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari

selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya.

Metode ini digunakan untuk menyari simplisia yang mengandung

komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung

zat yang mudah mengembang, seperti benzoin, stiraks, dan lilin.

Penggunaan metode ini misalnya pada sampel yang berupa daun, contohnya

pada penggunaan pelarut eter atau aseton untuk melarutkan lemak/lipid

(Dirjen POM, 2014).

2) Metode Perkolasi

Perkolasi adalah cara penyarian/penarikan zat dengan mengalirkan

penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Prinsip ekstraksi

dengan perkolasi adalah serbuk simplisia ditempatkan dalam suatu bejana

17
silinder, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari

dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk tersebut, cairan penyari akan

melarutkan zat aktif dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampel dalam

keadaan jenuh. Gerakan ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya

sendiri dan tekanan penyari dari cairan di atasnya, dikurangi dengan daya

kapiler yang cenderung untuk menahan gerakan ke bawah (Dirjen POM,

2014).

b. Ekstraksi Cara Panas

Ekstraksi secara panas dilakukan untuk mengekstraksi komponen kimia

yang tahan terhadap pemanasan, seperti glikosida, saponin, dan minyak-minyak

menguap yang mempunyai titik didih yang tinggi, selain itu pemanasan juga

diperuntukkan untuk membuka pori-pori sel simplisia sehingga pelarut organic

mudah masuk ke dalam sel untuk melarutkan komponen kimia. Metode

ekstraksi yang termasuk cara panas yaitu (Tobo, 2011).

1) Metode sokhletasi

Sokhletasi merupakan penyarian simplisia secara

berkesinambungan, cairan penyari dipanaskan sehingga menguap, uap

cairan penyari terkondensasi menjadi molekul-molekul air oleh pendingin

balik dan turun menyari simplisia dalam klongsong dan selanjutnya masuk

kembali ke dalam labu alas bulat setelah melewati pipa sifon. Proses ini

berlangsung hingga penyarian zat aktif sempurna yang ditandai dengan

beningnya cairan penyari yang melalui pipa sifon atau jika diidentifikasi

dengan kromatografi lapis tipis tidak memberikan noda lagi (Dirjen POM,

2014).

2) Metode Refluks

18
Ekstraksi dengan cara ini pada dasarnya adalah ekstraksi

berkesinambungan. Bahan yang akan diekstraksi direndam dengan cairan

penyari dalam labu alas bulat yang dilengkapi dengan alat pendingin tegak,

lalu dipanaskan sampai mendidih. Cairan penyari akan menguap, uap

tersebut akan diembunkan dengan pendingin tegak dan akan kembali

menyari zat aktif dalam simplisia tersebut, demikian seterusnya. Ekstraksi

ini biasanya dilakukan 3 kali dan setiap kali diekstraksi selama 4 jam (Tobo,

2011).

3. Fraksinasi

Fraksinasi merupakan proses penarikan senyawa pada suatu ekstrak dengan

menggunkan dua macam pelarut yang tidak saling bercampur. Pelarut yang

umumnya dipakai untuk fraksinasi adalah n-heksan, etil asetat, dan metanol. Untuk

menarik lemak dan senyawa non-polar digunakan n-heksan untuk menarik senyawa

semi polar digunakan etil asetat, sedangkan metanol untuk menarik senyawa polar.

Prosedur pemisahan yang bertujuan untuk memisahkan golongan utama yang lain.

Senyawa- senyawa bersifat polar akan masuk dalam pelarut polar, begitu pula

senyawa yang bersifat non-polar akan masuk kepelarut non-polar (Sari, 2012).

Prinsip pemisahan pada proses fraksinasi adalah didasarkan pada perbedaan

tingkat kepolaran dan perbedaan bobot jenis antara dua fraksi, dimana fraksi yang

memiliki bobot jenis lebih besar akan berada pada fase bawah, sedangkan fraksi

yang memiliki bobot jenis yang lebih kecil berada pada fase bawah. (Pratiwi,

2019). Metode dari fraksinasi yang biasa digunakan adalah metode ekstraksi cair-

cair dan kromatografi (Hasanah, 2019).

19
4. Fraksinasi Cair-cair

Proses pemisahan selanjutnya masih menggunakan prinsip ekstraksi yang

dikenal dengan ekstraksi cair-cair atau biasa dikenal dengan fraksinansi. Fraksinasi

merupakan suatu metode pemisahan senyawa organik berdasarkan kelarutan

senyawa-senyawa tersebut dalam dua pelarut yang tidak saling bercamput, biasanya

antara pelarut air dan pelarut organik seperti methanol, etanol, etil asetat, n-heksan

dan petroleum eter (Basset et al., 1994).

Fraksinasi dengan menggunakan metode cair-cair menggunakan corong

pemisah, dimana memasukan kedua pelarut yang tidak saling bercampur kedalam

corong pisah kemudian dikocok dan didiamkan. Solut atau senyawa organik akan

terdistribusi kedalam fasenya masing-masing bergantung kepada kelarutannya

terhadap fase tersebut dan kemudian akan terbentuk dua lapisan. Pelarut yang

memiliki masa jenis yang lebih besar akan berada di lapisan yang paling bawah dan

pelarut yang memiliki masa jenis yang paling kecil akan berada di lapisan paling

atas.

5. Pelarut

Pemilihan larutan penyari juga harus memenuhi kriteria yaitu murah dan

mudah diperoleh, stabil secara kimia dan fisika, beraksi netral, tidak mudah

menguap dan tidak mudah terbakar, selektif yaitu menarik zat berkhasiat yang

dikehendaki, tidak mempengaruhin zat berkhasiat. Cairan penyari atau pelarut ada

3 macam yaitu pelarut polar, semi polar, dan nonpolar, contoh cairan penyari

adalah air, n-heksan, etil asetat. Pemilihan pelarut yang digunakan :

a. Air

Air merupakan salah satu pelarut yang mudah, murah dan dipakai secara

luas oleh masyarakat. Pada suhu kamar, air merupakan pelarut yang baik untuk

20
melarutkan macam zat seperti garam-garam alkaloida, glikosida dan garam-

garam mineralnya. Kekurangan dari air sebagai pelarut yaitu diantaranya adalah

air merupakan media yang baik untuk pertumbuhan jamur dan bakteri, sehingga

zat yang diekstrak dengan air tidak dapat bertahan lama.

b. Etil Asetat

Etil asetat merupakan suatu cairan jernih, tidak berwarna, bau khas

seperti buah etil asetat larut dalam 15 bagian air, dapat tercampur dengan eter,

etanol, dan kloroform. Etil asetat ialah pelarut semi polar, mudah terbakar dan

menguap, maka penyimpanannya dalam wadah yang tertutup rapat serta

terhindar dari panas. Senyawa yang larut dalam pelarut ini adalah flavonoid,

alkaloid, senyawa-senyawa fenolik seperti fenol-fenol, asam fenolat, fenil

propanoid, antrakinon dan xanton (Harborne, 2006).

c. n-heksan

n-heksan merupakan hasil penyulingan minyak tanah yang telah bersih,

terdiri dari suatu campuran rangkaian hidrokarbon, tidak berwarna atau pucat,

transparan, bersifat volatile, mudah terbakar, dan bau karakteristik. n-heksana

tidak dapat larut dalam air, dapat larut dalam alkohol, benzene, kloroform,eter.

Uapnya mudah meledak bila berkaitan dengan udara, maka sebaiknya disimpan

pada tempat yang dingin. Pelarut ini adalah non polar yang dapat melarutkan

senyawa-senyawa minyak lemak dan asam lemak tinggi, steroid, tritepenoid,

serta karetenoid (Harborne, 2006).

6. Sterilisasi

Sterilisasi merupakan suatu syarat keberhasilan suatu pekerjaan

mikrobiologi. Untuk hal ini diperlukan peralatan dan media yang steril. Sterilisasi

21
merupakan proses mematikan mikroba baik yang ada pada media maupun pada

peralatan (Lestari, 2018). Ada beberapa macam sterilisasi yang umum digunakan,

diantaranya (Lestari, 2018) :

a. Sterilisasi dengan Panas-Lembab

Sterilisasi basah atau panas lembab di lakukan menggunakan autoklaf

Sterilisator tersebut menggunakan uap air jenuh bertekanan 15 Ib/in² selama 15

menit pada suhu 121°C. Autoklaf digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan

yang dapat ditembus oleh kelembaban diantaranya adalah media biakan,

larutan, kapas, sumbat karet dan peralatan laboratorium.

b. Sterilisasi dengan Pemanasan Kering

Sterilisasi dengan panas kering digunakan pada bahan-bahan seperti

pipet, tabung reaksi, cawan petri dari kaca, botol sampel, juga perlatan seperti

jarum suntik dan bahan-bahan yang tidak tembus uap. Suhu yang digunakan

berkisar antara 160-170°C. Sterilisasi dengan panas kering dilakukan di oven.

c. Sterilisasi dengan Perlakuan kimia

Bahan yang mudah rusak jika disterilkan pada suhu tinggi, maka bisa

disterilkan secara kimiawi menggunakan gas atau radiasi. Bahan kimia yang

dapat digunakan yaitu etilana oksida, formaldehida, dan glutaraldehida alkalin.

Bahan kimia ini digunakan pada suhu kamar. Lamanya perlakuan berkisar

antara 2 sampai 18 jam. Sterilisasi dengan radiasi dapat pula dilakukan dengan

menggunakan sinar gamma, namun penggunaannya terbatas karena menuntut

persyaratan keamanan dan biaya yang tinggi.

d. Sterilisasi dengan Penyaringan

22
Proses sterilisasi lain yang dilakukan pada suhu kamar adalah

penyaringan. Dasar metode ini adalah proses mekanis yang membersihkan

larutan atau suspensi dari segala organisme yang hidup dengan cara

melakukannya lewat suatu saringan, misalnya saringan Seitz. Saringan Seitz

terdiri atas piring saringan asbes yang berdiameter pori 0,45 µm, tujuannya

bakteri dan sel-sel lain tertahan pada saringan tersebut. Bahan yang biasa

disterilkan adalah ekstrak tanaman, serum, larutan bikarbonat, enzim, toksin

bakteri, media sintetik tertentu dan antibiotik.

7. Penentuan Uji Aktivitas Antibakteri

Aktivitas antibakteri dapat dipelajari menggunakan beberapa metode, yaitu

metode dilusi, metode difusi agar, dan metode difusi dilusi. Metode difusi adalah

metode yang sering digunakan untuk analisis aktivitas antibakteri. Ada 3 cara dari

metode difusi yang dapat dilakukan yaitu metode sumuran, metode cakram, dan

metode silinder (Pratiwi, 2008).

a. Prinsip kerja metode difusi adalah terdifusinya senyawa antibakteri ke dalam

media padat dimana mikroba uji telah diinokulasikan. Hasil pengamatan yang

diperoleh berupa ada atau tidaknya daerah bening yang terbentuk di sekeliling

kertas cakram yang menunjukan zona hambat pada pertumbuhan bakteri

(Balaouri et al., 2016).

b. Metode sumuran dilakukan dengan membuat lubang yang dibuat tegak lurus

pada agar padat yang telah diinokulasi dengan bakteri uji. Jumlah dan letak

lubang disesuaikan dengan tujuan penelitian, kemudian lubang diisi dengan

sampel yang akan diuji. Setelah dilakukan inkubasi, pertumbuhan bakteri

diamati untuk melihat ada tidaknya daerah hambatan di sekeliling lubang

(Pelzcar, 2006). Metode sumuran memiliki kelebihan yaitu lebih mudah

23
mengukur luas zona hambat yang terbentuk karena bakteri beraktivitas tidak

hanya di permukaan atas nutrien agar tetapi juga sampai ke bawah. Pembuatan

sumuran memiliki beberapa kesulitan seperti terdapatnya sisa-sisa agar pada

suatu media yang digunakan untuk membuat sumuran, selain itu juga besar

kemungkinan media agar retak atau pecah disekitar lokasi sumuran sehingga

dapat mengganggu proses peresapan antibiotik ke dalam media yang akan

memengaruhi terbentuknya diameter zona bening saat melakukan uji

sensitivitas.

c. Metode difusi menggunakan cakram dilakukan dengan cara kertas cakram

sebagai media untuk menyerap bahan antimikroba dijenuhkan ke dalam bahan

uji. Setelah itu kertas cakram diletakkan pada permukaan media agar yang telah

diinokulasi dengan biakan mikroba uji, kemudian diinkubasikan selama 18-24

jam pada suhu 35°C. Area atau zona bening di sekitar kertas cakram diamati

untuk menunjukkan ada tidaknya pertumbuhan mikroba. Diameter area atau

zona bening sebanding dengan jumlah mikroba uji yang ditambahkan pada

kertas cakram (Bonang, 1992). Kelebihan dari metoda cakram yaitu dapat

dilakukan pengujian dengan lebih cepat pada penyiapan cakram (Listari, 2009).

C. Kajian Empiris

Secara empiris pengobatan pada penyakit kulit berupa jerawat telah banyak

dilakukan, yaitu salah satunya dengan menggunakan tanaman herbal. Salah satu

tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri penyebab jerawat adalah daun bidara

(Ziziphus spina christi (L.) Desf). Tanaman Bidara (Zizhipus spina-christi (L.) Desf)

memiliki kandungan senyawa kimia yang berperan sebagai pengobatan antara lain

alkaloid, fenol, flavonoid, dan terpenoid. Kandungan fenolat pada tanaman bidara kaya

akan manfaat biologis antara lain sebagai antioksidan, antiinflamasi, antimikroba,

24
antifungi, dan mencegah timbulnya tumor. Orang Arab dan Badui telah menggunakan

pasta dari akarnya untuk pengobatan gusi. Orang Badui menggunakan teh dari buah

nya untuk meningkatkan produksi ASI dan untuk mengobati hati. Menurut

penulusuran dan analisis literatur Siregar (2020) menyatakan bahwa daun bidara

memiliki banyak manfaat. Manfaat terbesar daun bidara adalah sebagai antimikroba,

selain itu juga terdapat manfaat lain seperti analgetik, antipiretik dan antiinflamasi,

antikanker, serta dapat berfungsi sebagai pelindung sel-sel tubuh ginjal, hati dan otak.

Hal tersebut telah sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Puteri (2019)

dijelaskan bahwa Ekstrak Etanol daun bidara arab (Ziziphus spina christi- L) memiliki

aktivitas sebagai antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes dan

Staphylococcus epidermidis yang merupakan bakteri gram positif.

25
26
BAB III

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

A. Dasar Pikir Penelitian

Berbagai macam bahan dari alam yang digunakan seabagai bahan obat

tradisional, salah satunya yaitu daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) yang

memiliki aktivitas antibakteri. Tanaman yang berpotensi sebagai antibakteri penyebab

jerawat yang banyak digunakan oleh masyarakat adalah Bidara. Daun bidara arab

(Ziziphus spina- christi L) merupakan salah satu bahan alam yang dapat digunakan

oleh masyarakat yang mempunyai efek pengobatan (Mauludiyah et al., 2020).

Kandungan didalam tanaman daun bidara seperti flavonoid, alkaloid, saponin, dan

polifenol. Berdasarkan senyawa tersebut dapat menghambat perkembangan bakteri

(Mauludiyah et al., 2020). Menurut penulusuran dan analisis literatur Siregar (2020)

menyatakan bahwa daun bidara memiliki banyak manfaat. Manfaat terbesar daun

bidara adalah sebagai antimikroba, selain itu juga terdapat banyak manfaat lain seperti

analgetik, antipiretik dan antiinflamasi, antikanker, serta dapat berfungsi sebagai

pelindung sel-sel tubuh ginjal, hati dan otak.

Dalam penelitian ini, peneliti menguji apakah fraksi daun bidara arab (Ziziphus

spina- christi (L.) Desf) mempunyai aktivitas antibakteri pada bakteri

Propionibacterium acnes. Pada penelitian sebelumnya telah dilakukan oleh Puteri dkk.,

(2019) uji ekstraksi menunjukkan kemampuan Ekstrak etanol Daun Bidara Arab

(Ziziphus spina- christi (L) Desf) untuk menghambat pertumbuhan bakteri

Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.

27
B. Bagan Kerangka Konsep penelitian

Fraksi n-Heksan, etil


asetat dan air dari daun Aktivitas Antibakteri
Bidara Arab

: Variabel Dependent

: Variabel Independent

: Menyatakan pengaruh antara variabel independe dan dependen

C. Variabel peneltian

1. Variabel dependen 1. Variabel terikat pada penelitian ini adalah aktivitas

Antibakteri

2. Variabel independen 2. Variabel bebas pada penelitian ini adalah fraksi n-

heksan etil asetat dan air ekstrak daun bidara arab

(Ziziphus spina - christi (L) Desf)

D. Definisi Operasional dan Kriteria Objektif

1. Definisi Operasional Variabel Independen

Variabel bebas (independen) merupakan variabel yang mempengaruhi

variabel terikat (dependen). Variabel independent adalah variabel-variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel

independent (Sugiyono, 2019).

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah :

a. Fraksi n-heksan dari ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)

merupakan pelarut non polar. Golongan senyawa yang didapatkan dari partisi

dengan pelarut n-heksan.

28
b. Fraksi etil asetat dari ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf),

merupakan pelarut semi polar. Golongan senyawa yang didapatkan dari partisi

dengan pelarut etil asetat.

c. Fraksi air dari ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf),

merupakan pelarut polar. Golongan senyawa yang didapatkan dari partisi

dengan pelarut air (Harbone, 2006).

Kriteria objektif : Dalam satuan gram

2. Definisi Operasional Variabel Dependen

Variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat

karena adanya variabel bebas. Variabel terikat dalam penelitian ini adalah aktivitas

antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. Antibakteri merupakan suatu zat

yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh bakteri.

Kriteria objektif :

Zona hambat > 20 mm : Daya hambat sangat kuat

Zona hambat 11-20 mm : Daya hambat kuat

Zona hambat 5-10 mm : Daya hambat sedang

Zona hambat 0-5 mm : Daya hambat lemah (Ashri, 2016

29
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian dan Desain penelitian

1. Jenis penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental yang bertujuan untuk

mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-Heksan, etil asetat dan air daun bidara

arab (Ziziphus spina christi (L) Desf) terhadap pertumbuhan bakteri

Propionibacterium acnes penyebab jerawat.

2. Desain penelitian

Adapun desain penelitian ini adalah sebagai berikut :


A1

A2

DBA EEDBA FEDBA A3 SKKF ZH DRZH

K+

K-

Gambar 3. Desain penelitian

Keterangan :
DBA : Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi. L)
EEDBA : Ekstrak Etanol Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi. L)
FEDBA : Fraksinasi Ekstrak Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi L)
A1 : Konsentrasi Fraksi n-heksan Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi.
L) 5%, 10%, 20% (Puteri dkk, 2019)
A2 : Konsentrasi Fraksi etil asetat Daun Bidara Arab (Ziziphus spina-christi.
L) 5%, 10%, 20% (Puteri dkk, 2019)
3
A : Konsentrasi Fraksi Air Daun Bidara Arab (Ziziphus spina christi. L)
5%, 10%, 20% (Puteri dkk, 2019)
+
K : Kontrol positif (+) Klindamisin 150 mg
K- : Kontrol Negatif (-) DMSO
SKKF : Skirining kandungan kimia fraksi
ZH : Zona Hambat
DRZH : Diameter rata-rata zona hambat

30
B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia dan

Laboratorium Mikrobiologi Farmasi Universitas Mandala Waluya Kendari.

C. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi tanaman bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) yang didapatkan

di Desa Toburi, Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah daun bidara arab (ziziphus spina-christi. (L)

Desf) yang telah dibuat fraksi n-Heksan, etil asetat dan air .

D. Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu gelas kimia, gelas ukur,

erlenmeyer, cawan petri, corong pisah, tabung reaksi, batang pengaduk, hotplate,

Rotary evaporator (Biobase RE 100-Pro), vial, jarum ose, inkubator, mistar, lampu

spritus, mikropipet, pinset, rak tabung, timbangan analitik.

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun bidara (ziziphus spina-

christi L) , Aquadest, etanol 96%, larutan NaCl 0,9%, n-heksan, etil asetat, media NA

(Nutrient Agar), pereaksi wagner, pereaksi dragendorff, HCl pekat, serbuk magnesium,

FeCl3, asam asetat glasial, H2SO4, pekat biakan propionibacterium acnes.

E. Prosedur Kerja

1. Pengambilan sampel

Sampel berupa daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) yang diambil

langsung dari Desa toburi, Kabupaten Bombana, Sulawesi tenggara. Pengambilan

sampel dilakukan pada saat pagi hari atau pada saat terjadinya fotosintesis.

31
2. Determinasi sampel

Determinasi tanaman dilakukan dengan mempersamakan sifat morfologi

tumbuhan diantaranya bentuk, ukuran, jumlah, bagian daun, bunga, buah, biji dan

lain-lain. Membandingkan dan mempersamakan ciri-ciri tumbuhan yang akan

diteliti dengan tumbuhan yang sudah dikenali identitasnya. Determinasi sampel

dilakukan di Laboratorium Farmakognosi dan Fitokimia Universitas Mandala

Waluya.

3. Pengolahan sampel daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf)

Pengolahan sampel diawali dengan pengumpulan bahan baku/panen daun

bidara, kemudian daun bidara yang sudah terkumpul dicuci bersih dengan air

mengalir kemudian ditiriskan, kemudian disortasi basah yang bertujuan untuk

memisahkan kotoran atau benda asing, kemudian daun bidara dipotong-potong

kecil, lalu pengeringan dengan cara di angin-anginkan tanpa sinar matahari

langsung, lalu daun bidara yang telah kering diblender , diayak dan didapatkan

serbuk simplisia. Kemudian disimpan dalam wadah yang tertutup rapat.

4. Ekstraksi sampel

Ekstraksi sampel dengan menggunakan metode maserasi. Serbuk simplisia

ditimbang sebanyak ± 1000 gram, kemudian dilakukan maserasi menggunakan

etanol 96% selama 3 x 24 jam, dimana tiap 1 x 24 jam sesekali dilakukan

pengadukan kemudian disaring untuk memisahkan antara filtrate dan residunya,

residu yang didapatkan diekstraksi kembali menggunakan pelarut yang baru dengan

jumlah yang sama. Filtrat yang didapat kemudian di evaporasi dalam suhu 60 oC

sampai didapatkan ekstrak kental dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L)

Desf)

32
5. Fraksinasi Ekstrak Daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)

Ekstrak kental difraksinasi dengan pelarut bertingkat yaitu pelarut n-heksan,

etil asetat, dan air. Ekstrak kental sebanyak 50 gram dilarutkann dengan

menggunakan aquadest terlebih dauhulu, setelah itu ekstrak disuspensikan dengan

n-heksan : aquadest (1:1) sebanyak 250 ml, kemudian dikocok selama 10-15 menit.

Setelah itu didiamkan hingga terbentuk 2 lapisan yaitu lapisan n-heksan bagian atas

karena memiliki massa jenis yang lebih kecil dan lapisan bawah karena massa jenis

lebih tinggi. Kemudian dikeluarkan n-heksan dan air masing-masing ditampung

dalam gelas kimia. Lapisan air dimasukkan kembali kedalam corong pisah

kemudian ditambahkan pelarut etil asetat lalu dikocok kembali kedalam corong

pisah selama 10-15 menit setelah itu di diamkan hingga terbentuk 2 lapisan etil

asetat dan air. Dikeluarkan lapisan etil asetat dan air masing-masing ditampung

dalam gelas kimia. Sehingga diperoleh 3 fraksi yaitu fraksi n-heksan, fraksi etil

asetat dan fraksi air. Hasil fraksinasi ini kemudian dipekatkan denga Rotary

evaporator.

6. Skrining kandungan kimia fraksi n-Heksan, etil asetat dan air dari daun bidara arab

(Ziziphus spina-christi (L) Desf)

1) Uji alkaloid

a. Pereaksi wagrer

1 ml fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) ditambahkan

beberapa tetes pereaksi wagrer, reaksi positif jika terbentuk endapan coklat

dan negatif jika terjadi perubahan warna (Ni Lu, 2015) .

b. Perekasi dragendorff

33
1 ml fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) ditambahkan

beberapa tetes pereaksi dragendorff, reaksi positif jika terbentuk endapan

berwarna kuning-merah (Harbone, 1996).

2) Uji flavonoid

1 ml fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf), ditambah

beberapa tetes HCl pekat dan ditambah sedikit serbuk Mg. reaksi positif jika

terjadi perubahan warna kuning (Ni Lu, 2015).

3) Uji saponin

Sebanyak 2-3 mL fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L)

Desf) dimasukkan kedalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air

panas kemudian dikocok kuat-kuat selama 10 detik. Uji positif ditunjukkan

dengan terbentuknya buih yang stabil setinggi 1-10 cm selama tidak kurang dari

10 menit (Arnold, 2017).

4) Uji tanin

Sebanyak 1 mL fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)

ditambahkan dengan beberapa tetes larutan besi (III) klorida 10% jika terjadi

warna biru tua atau hijau kehitaman menunjukkan adanya tanin (Arnold, 2017).

5) Uji steroid dan triterpenoid

Sebanyak 2 mL fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)

ditambahkan CH3COOH glasial sebanyak 10 tetes dan H 2SO4 pekat sebanyak 2

tetes. Larutan dikocok perlahan dan dibiarkan selama beberapa menit. Adanya

steroid ditunjukkan oleh warna biru atau hijau, sedangkan triterpenoid

memberikan warna merah atau ungu (Arnold, 2017).

34
7. Prosedur pengujian aktivitas antibakteri

a. Sterilisasi alat

Alat-alat disterilkan dalam oven dibungkus dengan kertas dan

dimasukkan ke dalam oven pada suhu 180oC selama 2 jam. Alat-alat yang tidak

dapat disterilisasi dengan menggunakan oven disterilkan dengan alkohol 70%

(Saputra et al., 2021).

b. Pembuatan media Nutrent Agar (NA)

Sebanyak 3 gram media Nutrient Agar (NA) dilarutkan dalam 150 mL

aquadest steril. Kemudian media dipanaskan dengan bunsen untuk memastikan

media tersuspensi sempurna. Setelah media tersuspensi sempurna, kemudian

dimasukkan dalam autoklaf pada suhu 121oC selama 15 menit (Putrajaya et al.,

2019).

c. Pembuatan suspensi uji

Bakteri yang digunakan Propionibakterium acnes diambil masing-

masing 2 ose, kemudian digoreskan kedalam Nutrient Agar (NA) yang sudah

disterilkan dan memadat didalam tabung reaksi. Kemudian di inkubasi pada

suhu 35o-37oC, selama 18-24 jam, kemudian diambil masing-masing 1 ose

inoculum yang telah berisi 10 ml NaCl dan dihomogenkan. Suspense bakteri

siap digunakan untuk uji aktivitas antibakteri.

d. Pembuatan larutan kontrol positif

Kontrol positif yang digunakan untuk pengujian daya hambat terhadap

bakteri Propionibacterium acnes menggunakan antibiotik klindamisin 150 mg.

Pembuatan suspense klindamisin yaitu ditimbang sebanyak 0,02 g klindamisin,

kemudian dicukupkan dalam 2 ml aquadest (Athaillah & Sugesti, 2020).

35
e. Pengujian luas zona hambatan fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun

bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) terhadap bakteri

Propionibakterium acnes.

Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi

agar dengan memakai paper disk, dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Media NA yang telah disterilkan dalam tabung reaksi sebanyak 15ml, lalu

ditambahkan 3 suspense bakteri, dihomogenkan, kemudian dimasukkan ke

dalam cawan petri dan dibiarkan hingga memadat. Paper disk direndam pada

masing-masing konsentrasi larutan uji fraksi, kemudian cakram tersebut

ditempelkan kepermukaan agar. Perlakuan ini diulang sebanyak 3 kali. Setelah

cawan petri diinkubasi selama 24 jam pada suhu 24-27oC.

f. Pengamatan dan pengukuran zona hambat

Pengamatan dan pengukuran diameter hambatan dilakukan setelah masa

inkubasi 24 jam. Zona hambatan yang terbentuk diukur dengan menggunakan

mistar.

F. Pengelolahan dan Analisis Data

Pengolahan data pada penelitian ini menggunakan perangkat program SPSS

dengan membandingkan hasil dari pengujian daya hambat fraksi terhadap bakteri

Propionibacterium acnes, maka diperlukan pemenuhan atas beberapa asumsi data,

yaitu data masing-masing kelompok harus harus terdistribusi secara homogen (nilai

[Link] < 0,05), jika tidak sesuai maka analisis data dilanjutkan dengan uji

statistik, non parametrik yaitu uji Kruskal Wallis dan Monn Whitney.

G. Etika penelitian

Dalam melakukan suatu penelitian harus memenuhi syarat dan ketentuan etika

penelitian yaitu peneliti membuat surat persetujuan penelitian yang ditanda tangani

36
oleh pembimbing I, pembimbing II dan mengajukan surat izin melakukan penelitian

kepada kepala laboratorium farmasi Universitas Mandala Waluya. Selanjutnya peneliti

wajib menentukan alat dan bahan yang akan digunakan pada saat penelitian

berlangsung dan tetap memperhatikan aturan yang berlaku dalam laboratorium

Universitas Mandala Waluya.

37
BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas

Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya dan Laboratorium Kimia Farmasi

Instrumen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya. Pertama

dilakukan Determinasi sampel daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf) di

Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas

Mandala Waluya. Setelah itu, dilanjutkan dengan Maserasi, Fraksinasi dan Skrining

Fitokimia Sampel daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf) di Laboratorium

Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya

dan kemudian dilakukan pengujian antibakteri di Laboratorium Kimia Farmasi

Instrumen Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Mandala Waluya.

B. Analisis Data

1. Analisis Univariat

Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran analisis dari setiap

variabel yang diteliti meliputi :

a. Hasil Determinasi Tanaman

Dari hasil deteminasi yang diperoleh dari tumbuhan yang digunakan

sebagai sampel dalam penelitian ini adalah daun bidara arab (Ziziphus spina-

christi L) dengan sinonim Rhamnus spina-christi L.

b. Perhitungan Persen Rendamen

Rendemen adalah perbandingan ekstrak yang diperoleh dengan

simplisia awal, semakin tinggi nilai rendemen yang didapatkan maka semakin

tinggi pula kandungan zat yang tertarik dari simplisia. Hasil rendemen

38
memenuhi persyaratan Farmakope Herbal Indonesia, rendemen dikatakan baik

yaitu tidak kurang dari 7,2% (Depkes RI, 2000). Adapun hasil perhitungan

persen rendamen ekstrak etanol daun bidara arab (Ziziphus spina christi L)

sebagai berikut :

Tabel 2. Hasil Ekstraksi Daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf)
Sampel Berat simplisia Berat ekstrak Rendamen
(g) (g) (%)
Daun bidara arab 1000 143,9 14,39
(Ziziphus spina christi
(L.) Desf)
Rendamen dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut.

berat ekstrak (Akhir)


Perhitunganrendemen : x 100 %
berat simplisia

Persen rendemen yang diperoleh untuk ekstrak daun bidara arab

(Ziziphus spina christi (L.) Desf) diperoleh sebesar 14,39%.

c. Hasil Rendamen Fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air Daun Bidara Arab

(Ziziphus spina christi (L.) Desf)

Tabel 3. Rendamen fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air Daun Bidara Arab
(Ziziphus spina christi (L.) Desf)
Bobot Ekstrak Jenis Pelarut Total bobot Rendamen (%)
(g) fraksi (g)
Fraksi n-Heksan 3,3 6,6
50 g Fraksi Etil asetat 9 18
Fraksi Air 20,7 41,1

39
d. Hasil Skrining Fitokimia Fraksi Daun Bidara Arab (Ziziphus spina christi (L.)

Desf)

Tabel 4. Hasil Skrining Fitokimia Fraksi n-Heksan, Etil Asetat dan Air dari
daun bidara arab (Ziziphus zpina christi (L.) desf)
No Golongan Pereaksi Hasil Keterangan
senyawa Fraksi Fraksi Fraksi
n-heksan etil air
asetat
1. Alkaloid Wagner - - + Terbentuk
endapan putih
Dragendo - - + Terbentuk
rff endapan
kuning-coklat
2. Flavonoid HCl - + + Perubahan
pekat + warna
serbuk kuning/merah
Mg.
3. Tanin FeCl3 + + + Terbentuknya
warna
biru/hijau
kehitaman
4. Saponin Air panas + + + Terbentuknya
buih (1-10 cm)
5. Steroid Asam - - + Terbentuknya
asetat warna
glasial + biru/hijau
H2SO4 kehitaman
6. Triterpenoid Asam + + - Terbentuknya
asetat warna
glasial + merah/ungu
H2SO4
Keterangan :
(+) : teridentifikasi golongan senyawa
(-) : tidak teridentifikasi golongan senyawa

e. Hasil pengujian Antibakteri

Berikut merupakan hasil pengukuran zona hambat pada bakteri

Propionibacterium acnes dengan varian konsentrasi dan dilakukan pengulangan

sebanyak 5 kali, hasil replikasi dapat dilihat pada tabel 6.

40
Tabel 5. Hasil uji aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, etil asetat dan air
dari daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap
Propionibacterium acnes.
Sampel Perlakuan Mean (mm) Kriteria Kekuatan
± SD Antibakteri

F1 5% 0 Tidak ada zona hambat

F1 10% 6,14 ± 0,87 Sedang


Fraksi n-Heksan F1 20% 7,58 ± 0,54 Sedang
K+ 24,9 ± 1,32 Sangat kuat
K- 0 Tidak ada zona hambat
F2 5% 9,48 ± 0,52 Sedang
F2 10% 10,76 ± 0,55 Sedang
F2 20% 11,7 ± 0,58 Kuat
K+ 21,42 ± 1,35 Sangat kuat
Fraksi Etil K- 0 Tidak ada zona hambat
asetat
F3 5% 9,56 ± 1,13 Sedang
F3 10% 10,44 ± 1,25 Sedang
F3 20% 12,64 ± 0,96 Kuat
Fraksi Air K+ 21,56 ± 1,47 Sangat kuat
K- 0 Tidak ada zona hambat
Keterangan :
R : Replikasi (pengulangan)
K+ : Kontrol positif (klindamisin 1%)
K- : Kontrol negatif (DMSO)
F1 5% : Fraksi n-Heksan Daun bidara arab 5%
F1 10% : Fraksi n-Heksan Daun bidara arab 10%
F1 20% : Fraksi n-Heksan Daun bidara arab 20%
F2 5% : Fraksi Etil asetat daun bidara arab 5%
F2 10% : Fraksi Etil asetat daun bidara arab 10%
F2 20% : Fraksi Etil asetat daun bidara arab 20%
F3 5% : Fraksi Air daun bidara arab 5%
F3 10% : Fraksi Air daun bidara arab 10%
F3 20% : Fraksi Air daun bidara arab 20%

41
Gambar 3. Grafik persen zona hambat fraksi n-heksan, etil asetat dan air
dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)

30
Daya Hambat Pada Bakteri Propionibac-
Zona Hambat (mm)
25
terium acnes 24.921.42
21.56
20
15 10.76 11.712.64
9.489.56 10.44
10 6.14 7.58
5
0 0 0 0
0
5% 10% 20% K+ K-
Konsentrasi Sampel
Fraksi N Heksan Fraksi Etil Asetat Fraksi Air

2. Analisis Bivariat

1) Fraksi n-Heksan Daun Bidara arab (Ziziphus spina-christi (L.) Desf)

Pada Bakteri Propionibacterium acnes

a. Hasil uji statistik fraksi n-heksan daun bidara arab

Hasil pengukuran zona hambat dianalisis menggunakan uji

Shapiro-Wilk dalam menentukan normalitas data. Pada uji normalitas

diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol positif 0.020 dan

konsentrasi 10% 0.024 (p < 0,05) sedangkan konsentrasi 20% 0.400 (p

> 0,05) hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi normal karena ada

kelompok perlakuan yang nilai signifikannya p < 0,05. Data tidak dapat

dianalisis secara uji parametrik (Anova) karena tidak terdistribu normal

maka harus menggunakan uji non parametrik. Pengujian yang dilakukan

adalah uji Kruskal wallis untuk melihat bahwa fraksi n-heksan daun

bidara arab memiliki aktivitas sebagai antibakteri. Hasil pengolahan

data dengan menggunakan uji Kruskal wallis menunjukkan nilai p =

0,000 < 0,05. Berdasarkan hipotesis penelitian jika nilai P (probabilitas)

< 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak.

42
Sehingga data dianggap berbeda bermakna dan dapat dikatakan bahwa

fraksi n-heksan daun bidara arab dapat memberikan aktivitas

antibakteri. Setelah diketahui hasil uji Kruskal wallis maka dilakukan

pengujian lanjutan untuk mengetahui kelompok pengujian apa saja yang

berbeda signifikan pada penelitian dengan menggunakan uji Mann

Whitney. Dimana bila nilai p > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan atau

hampir sama. Sebaliknya bila nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan

dari masing-masing kelompok perlakuan.

b. Hasil Uji Mann-Whitney

Hasil uji Mann-Whitney diameter zona hambat pada bakteri

Propionibacterium acnes dapat dilihat pada tabel pada Tabel 7.

Tabel 6. Hasil Uji Mann-Whitney Fraksi n-Heksan Terhadap


Pertumbuhan Bakteri Propionibacterium acnes
Kelompok Kelompok P Keterangan
Pembanding Value
Kontrol positif Kontrol negatif 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 5% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 10% 0.007 Berbeda signifikan
Konsentrasi 20% 0.008 Berbeda signifikan
Kontrol negatif Konsentrasi 5% 1.000 Tidak berbeda
signifikan
Konsentrasi 10% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 20% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 5% Konsentrasi 20% 0,005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 10% Konsentrasi 5% 0,005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 20% Konsentrasi 10% 0,044 Berbeda signifikan
Keterengan :
Tidak berbeda signifikan : Nilai p > 0,05 maka tidak terdapat
perbedaan atau hampir sama
Berbeda signifikan : Nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan dari
masing-masing perlakuan

43
Hasil data berbeda signifikan bisa disebabkan oleh beberapa alasan

diantaranya aktivitas yang berbeda dan nilai rata-rata zona hambat yang

berbeda. Sedangkan hasil data tidak berbeda signifikan bisa disebabkan

oleh aktivitas yang sama dan nilai rata-rata zona hambat yang sama.

2) Fraksi Etil Asetat Daun Bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf)

Pada Bakteri Propionibacterium acnes

a. Hasil Uji Statistik

Hasil pengukuran zona hambat dianalisis menggunakan uji Shapiro-

Wilk dalam menentukan normalitas data. Pada uji normalitas diperoleh

nilai p masing-masing yaitu kontrol positif 0.229, konsentrasi 5% 0,075,

konsentrasi 10% 0.311 dan konsentrasi 20% 0.335. Hasil uji normalitas

menunjukkan bahwa data terdistribusi normal karena nilai p > 0,05.

Selanjutnya dilakukan uji homogenitas diperoleh nilai p = 0,044 < 0,05

sehingga data tidak homogen dan tidak dapat dianalisis secara uji

parametrik (Anova) dan harus menggunakan uji non parametrik.

Pengujian yang dilakukan adalah uji Kruskal wallis untuk melihat

bahwa fraksi etil asetat daun bidara arab memiliki aktivitas sebagai

antibakteri. Hasil uji Kruskal wallis menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05.

Berdasarkan hipotesis penelitian jika nilai P (probabilitas) < 0,05 maka

hipotesis alternatif diterima dan hipotesis nol ditolak. Sehingga data

dianggap berbeda bermakna dan dapat dikatakan bahwa fraksi etil asetat

daun bidara arab dapat memberikan aktivitas antibakteri. Setelah

diketahui uji Kruskal wallis maka dilakukan pengujian lanjutan untuk

mengetahui kelompok pengujian apa saja yang berbeda signifikan pada

penelitian dengan menggunakan uji Mann Whitney. Dimana bila nilai p

44
> 0,05 maka tidak terdapat atau hampir sama. Sedangkan bila nilai p <

0,05 maka terdapat perbedaan dari masing-masing kelompok perlakuan.

b. Hasil Uji Mann-Whitney

Hasil uji Mann-Whitney diameter zona hambat pada bakteri

Propionibacterium acnes dapat dilihat pada tabel pada Tabel 8.

Tabel 7. Hasil Uji Mann-Whitney Fraksi etil asetat Terhadap


Pertumbuhan Bakteri Propionibacterium acnes
Kelompok Kelompok P Keterangan
Pembanding Value
Kontrol positif Kontrol negatif 0.005 Berbeda Signifikan
Konsentrasi 5% 0.008 Berbeda signifikan
Konsentrasi 10% 0.009 Berbeda signifikan
Konsentrasi 20% 0.009 Berbeda signifikan
Kontrol negatif Konsentrasi 5% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 10% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 20% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi Konsentrasi 20% 0.008 Berbeda signifikan
5%
Konsentrasi Konsentrasi 5% 0.008 Berbeda signifikan
10%
Konsentrasi Konsentrasi 10% 0.045 Berbeda signifikan
20%
Keterangan :
Berbeda Signifikan : Nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan dari
masing-masing perlakuan

Hasil data berbeda signifikan bisa disebabkan oleh beberapa alasan

diantaranya aktivitas yang berbeda dan nilai rata-rata zona hambat yang

berbeda dari setiap kelompok perlakuan.

3) Fraksi Air Daun Bidara arab (Ziziphus spina-christi L) Pada Bakteri

Propionibacterium acnes

a. Hasil Uji Statistik

Hasil pengukuran zona hambat dianalisis menggunakan uji

Shapiro-Wilk dalam menentukan normalitas data. Pada uji normalitas

diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol positif 0.715 dan

45
konsentrasi 10% 0.293 (p > 0,05) konsentrasi 5% 0.031 dan konsentrasi

20% 0.056 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi

normal karena ada kelompok perlakuan yang nilai signifikannya p <

0,05. Data tidak dapat dianalisis secara uji parametrik (Anova) karena

tidak terdistribusi normal maka harus menggunakan uji non parametrik.

Pengujian yang dilakukan adalah uji Kruskal wallis untuk melihat

bahwa fraksi air daun bidara arab memiliki aktivitas sebagai antibakteri.

Hasil pengolahan data dengan menggunakan uji Kruskal wallis

menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05. Berdasarkan hipotesis penelitian

jika nilai P (probabilitas) < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan

hipotesis nol ditolak. Sehingga data dianggap berbeda bermakna dan

dapat dikatakan bahwa fraksi air daun bidara arab dapat memberikan

aktivitas antibakteri. Setelah diketahui hasil uji Kruskal wallis maka

dilakukan pengujian lanjutan untuk mengetahui kelompok pengujian

apa saja yang berbeda signifikan pada penelitian dengan menggunakan

uji Mann Whitney. Dimana bila nilai p > 0,05 maka tidak terdapat

perbedaan atau hampir sama. Sebaliknya bila nilai p < 0,05 maka

terdapat perbedaan dari masing-masing kelompok perlakuan.

b. Hasil Uji Mann-Whitney

Hasil uji Mann-Whitney diameter zona hambat pada bakteri

Propionibacterium acnes dapat dilihat pada tabel pada Tabel 9.

Tabel 8. Hasil Uji Mann-Whitney Fraksi Air Terhadap Pertumbuhan


Bakteri Propionibacterium acnes
Kelompok Kelompok P Keterangan
Pembanding Value
Kontrol Kontrol negatif 0.000 Berbeda signifikan
positif Konsentrasi 5% 0.000 Berbeda signifikan
Konsentrasi 10% 0.009 Berbeda signifikan

46
Konsentrasi 20% 0.009 Berbeda signifikan
Kontrol Konsentrasi 5% 0.005 Berbeda signifikan
negatif Konsentrasi 10% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi 20% 0.005 Berbeda signifikan
Konsentrasi Konsentrasi 20% 0.009 Berbeda signifikan
5%
Konsentrasi Konsentrasi 5% 0.207 Tidak berbeda signifikan
10%
Konsentrasi Konsentrasi 10% 0.036 Berbeda Signifikan
20%
Keterengan :
Tidak berbeda signifikan : Nilai p > 0,05 maka tidak terdapat perbedaan
atau hampir sama
Berbeda Signifikan : Nilai p < 0,05 maka terdapat perbedaan dari
masing-masing perlakuan

Hasil data berbeda signifikan bisa disebabkan oleh beberapa alasan

diantaranya aktivitas yang berbeda dan nilai rata-rata zona hambat yang

berbeda. Sedangkan hasil data tidak berbeda signifikan bisa disebabkan

oleh aktivitas yang sama dan nilai rata-rata zona hambat yang sama.

C. Pembahasan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri fraksi n-

heksan, etil asetat dan air terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Sampel yang

digunakan dalam penelitian ini adalah daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)

Desf) daun bidara arab diperoleh dari Desa Toburi, Kec. Poleang Utara, Kabupaten

Bombana. Sampel daun bidara arab dideterminasi dilakukan di Laboratorium

Universitas Mandala Waluya Kendari. Hasil determinasi tanaman membuktikan bahwa

tanaman yang digunakan pada penelitian ini adalah benar daun bidara arab (Ziziphus

spina christi (L.) Desf) Determinasi dilakukan untuk memastikan kebenaran identitas

suatu tanaman untuk menghindari kesalahan dalam penamaan tanaman.

Pengambilan sampel dilakukan pada pagi hari karena menurut Dwinatari (2015)

saat pagi hari intensitas cahaya matahari masih rendah, kelembaban udara tinggi,

sehingga tingkat evaporasi rendah, transpirasi tanaman rendah, dan tekanan turgor

47
tanaman menjadi tinggi yang ditandai dengan kondisi fisik daun yang segar dan hijau.

Tahap awal yang dilakukan yaitu daun bidara arab disortasi basah agar dapat

memisahkan daun dari kotoran dan benda asing lainnya, kemudian dicuci dan

dikeringkan. Tujuan dari dilakukan pengeringan yaitu untuk mengurangi kadar air yang

merupakan media pertumbuhan yang baik untuk mikroba.

Daun bidara arab yang telah kering kemudian disortasi kering yang bertujuan

untuk memisahkan daun yang rusak ataupun ditumbuhi jamur selama proses

pengeringan. Selain itu daun turi diserbukkan agar menjadi kecil. Tujuan dari

memperkecil ukuran daun bidara (Ziziphus spina christi (L.) Desf) yaitu untuk

memperkecil ukuran simplisia agar luas permukaan meningkat dan pelarut nantinya

bisa dapat berpenetrasi secara efektif atau sempurna (Narulita, 2014).

Setelah itu sampel diekstraksi menggunakan pelarut etanol 96% dengan metode

maserasi. Sebanyak 1000 gram simplisia daun bidara arab direndam menggunakan

pelarut etanol 96% sebanyak 8 liter dengan selang waktu 3x24 jam, hal ini bertujuan

untuk memaksimalkan proses pengambilan senyawa-senyawa kimia yang terdapat

dalam sampel (Indarto et al, 2019) dan sesekali dilakukan pengadukan agar semua

serbuk terendam pelarut dengan sempurna. Pengadukan dilakukan untuk mencegah

terjadinya keseimbangan antara larutas zat aktif yang terdapat dalam sel dengan larutan

zat aktif yang terdapat diluar sel (Dirjen POM RI, 2000). Selama proses perendaman,

sampel disimpan dalam toples yang tertutup dan terlindung dari cahaya langsung.

Ektsraksi menggunakan metode maserasi karena memiliki keuntungan yang tidak

menyebabkan penguraian pada bahan alam karena tidak menggunakan pemanasan

sehingga banyak dipilih, selain itu juga karena prosedur dan alat yang digunakan

sangat sederhana serta mudah diperoleh (Nurhasnawati, 2017). Sedangkan pelarut yang

digunakan dalam proses maserasi adalah etanol 96%, penggunaan etanol 96% sebagai

48
cairan penyari karena lebih mudah dalam melarutkan semua zat yang bersifat polar,

semipolar, maupun non polar dan dapat menarik senyawa dari simplisa dengan baik.

Selain itu etanol 96% mampu berpenetrasi sampai kedinding sel sampel dibandingkan

dengan etanol yang konsentrasinya lebih rendah dan mudah diuapkan sehingga mudah

diperoleh ekstrak etanol yang pekat (Wendersteyt et al, 2021).

Untuk memperoleh ekstrak kental maka dilakukan pemekatan dengan rotary

evaporator. Prinsip kerja dari rotary evaporator yaitu dengan menguapkan pelarut

ekstraksi dan hanya meninggalkan senyawa hasil ekstraksi yang disebut ekstrak.

Didapatkan ekstrak etanol daun bidara arab yang kental berwarna hijau pekat sebanyak

143,9 gram dan perhitungan rendamen 14,39%. Rendemen adalah perbandingan

ekstrak yang diperoleh dengan simplisia awal, semakin tinggi nilai rendemen yang

didapatkan maka semakin tinggi pula kandungan zat yang tertarik dari simplisia. Hasil

rendemen memenuhi persyaratan Farmakope Herbal Indonesia, rendemen dikatakan

baik yaitu tidak kurang dari 7,2% (Depkes RI, 2000).

Tahap selanjutnya yaitu fraksinasi daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)

Desf) dengan menggunakan metode partisi cair-cair. Penggunaan teknik partisi cair-

cair bertujuan untuk memaksimalkan proses partisi, dimana senyawa akan terekstraksi

berdasarkan sifat kepolarannya. Proses fraksinasi dilakukan dengan cara bertingkat

yaitu dimulai dari pelarut non polar (n-heksan), semi polar (etil asetat) dan polar (air).

Fraksinasi ini dilakukan pertama dengan menggunakan pelarut n-heksan yang bersifat

non polar untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat non polar pada pelarut air yang

sebelumnya sudah mengandung ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)

Desf), fraksi n-heksan diambil dan selanjutnya pelarut air ditambahkan pelarut etil

asetat yang bersifat semi polar untuk mengekstraksi senyawa yang bersifat semi polar

dalam pelarut air. Selain itu teknik ini juga dimaksudkan agar terjadi proses fraksinasi

49
dari pelarut non-polar ke pelarut polar. Senyawa-senyawa non-polar akan berada pada

pelarut non-polar, begitupun sebaliknya senyawa-senyawa polar akan berada pada

pelarut polar (Irvan et al, 2020).

Pada proses fraksinasi ini menggunakan pelarut n-heksan, etil asetat dan air.

Tahap awal ditimbang 50 gram ekstrak kental daun bidara dilarutkann dengan

menggunakan aquadest terlebih dauhulu, setelah itu ekstrak disuspensikan (Ziziphus

spina-christi (L.) Desf) disuspensikan dengan n-heksan : aquadest (1:1) sebanyak 250

ml, kemudian dikocok selama 10-15 menit. Setelah itu didiamkan hingga terbentuk 2

lapisan yaitu lapisan n-heksan bagian atas karena memiliki massa jenis yang lebih kecil

dan lapisan bawah karena massa jenis lebih tinggi. Kemudian dikeluarkan n-heksan

dan air masing-masing ditampung dalam gelas kimia. Lapisan air dimasukkan kembali

kedalam corong pisah kemudian ditambahkan pelarut etil asetat lalu dikocok kembali

kedalam corong pisah selama 10-15 menit setelah itu di diamkan hingga terbentuk 2

lapisan etil asetat dan air. Dikeluarkan lapisan etil asetat dan air masing-masing

ditampung dalam gelas kimia. Sehingga diperoleh 3 fraksi yaitu fraksi n-heksan, fraksi

etil asetat dan fraksi air. Hasil fraksinasi ini kemudian dipekatkan denga Rotary

evaporator. Berat hasil fraksinasi yang diperoleh yaitu fraksi n-heksan sebanyak 3,3

gram dengan total rendemen 6,6 %. Fraksi etil asetat sebanyak 9,9 gram dengan total

rendemen 18% dan fraksi air sebanyak 20,7 gram dengan total rendemen 41,1%. Sifat

polar dari pelarut air menyebabkan penarikan senyawa dari ekstrak menjadi besar.

Daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L) Desf) mempunyai kandungan

senyawa kimia yaitu polifenol, saponin, tanin, alkaloid, flavonoid, triterpenoid.

Menurut penelitian Puteri., dkk (2019) Ekstrak etanol daun bidara arab mengandung

senyawa alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan steroid. Banyak faktor yang dapat

menentukan kandungan senyawa metabolit sekunder didalam tumbuhan seperti letak

50
geografis, suhu, iklim, waktu panen dan kesuburan tanah disuatu wilayah (Usman et

al., 2021).

Hasil dari pengujian skrining fitokimia fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-

christi (L.) Desf), pada fraksi n-heksan positif mengandung tanin, saponin,steroid dan

triterpenoid. Pada fraksi etil asetat mengandung flavonoid, tanin, saponin dan

triterpenoid. Sedangkan pada fraksi air mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, saponin,

dan steroid.

Berdasarkan hasil yang terlihat pada tabel 5, pada pengujian alkaloid fraksi n-

heksan dan fraksi etil asetat pada pereaksi wagner dan dragendorff menunjukkan hasil

negatif, sedangkan pada fraksi air positif alkaloid pada semua pereaksi. Pada pereaksi

wagner dikatakan positif jika terbentuk endapan putih, pereaksi wagner mengandung

iod dan kalium iodida. Sedangkan pada pereaksi draagendorff reaksi positif jika

terbentuk endapan berwarna kuning-merah, pereaksi dragendorff mengandung merkuri

klorida dan bismuth nitratdalam nitrit berair (Harbone, 1996). Perbedaan yang

ditemukan dari hasil pengujian yang dilakukan yaitu dari jenis pelarut yang digunakan.

Pada pengujian flavonoid yaitu pada fraksi n-heksan negatif mengandung

flavonoid sedangkan pada fraksi etil asetat dan fraksi air positif mengandung flavonoid.

Pengujian flavanoid digunakan sebuk magnesium (Mg) dan HCl pekat. Penambahan

Mg dan HCl, dilakukan pada masing-masing fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-

christi (L) Desf) Menurut Sulistyarini (2020), senyawa flavonoid akan tereduksi

dengan Mg dan HCl sehingga menghasilkan warna merah, kuning atau jingga.

Flavonoid yaitu senyawa polar yang mudah larut dalam pelarut polar, seperti etanol,

methanol, butanol, aseton, dan lain-lain. Flavonoid merupakan golongan terbesar dari

fenol yang memiliki sifat efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara

inaktivasi protein.

51
Pada pengujian tanin menggunakan pereaksi asam klorida (FeCl 3) dan asam

sulfat pekat (H2SO4), dinyatakan positif apabila perubahan warna terjadi ketika

penambahan FeCl3 bereaksi dengan senyawa tanin. Menurut Arnold (2017) adanya

tanin ditandai dengan terbentuknya warna biru tua atau hijau kehitaman. Terbentuknya

warna hijau kehitaman pada ekstrak setelah ditambahkan FeCl 3 karena tanin akan

bereaksi dengan ion Fe3+ dan akan membentuk senyawa kompleks

trisianoferitrikaliumFerri (III). Hal ini sesuai dengan pernyataan Sriwahyuni (2010),

pada senyawa tanin terdapat banyak gugus OH yang menyebabkan sifat polar.

Meskipun demikian, pelarut etil asetat mampu menarik senyawa tanin dalam sampel

diduga gugus hidroksil pada senyawa tanin mampu berikatan dengan gugus metoksil

atau gugus hidroksil pada pelarut etil asetat.

Pada pengujian saponin dilakukan uji busa atau buih, dengan cara dilarutkan

masing-masing fraksi kemudian ditambahkan dengan air panas dan dikocok kuat-kuat

selama 10 detik. Uji positif ditunjukkan dengan adanya terbentuknya buih yang stabil

setinggi 1-10 cm selama tidak kurang dari 10 menit (Arnold, 2017). Saponin memiliki

glikosil sebagai gugus polar serta gugus steroid atau triterpenoid sebagai gugus

nonpolar, sehingga bersifat aktif permukaan dan membentuk misel saat dikocok

dengan air. Pada struktur misel gugus polar menghadap ke luar sedangkan gugus

nonpolar menghadap ke dalam dan keadaan ini membentuk busa yang menjadi tanda

adanya senyawa saponin (Sangi et al., 2008).

Pada pengujian steroid dan triterpenoid yaitu masing-masing fraksi ditambahkan

asam asetat glasial (CH3COOH) dan H2SO4 pekat. Menurut Arnold (2017) adanya

steroid ditunjukkan oleh warna biru atau hijau, sedangkan triterpenoid memberikan

warna merah atau ungu. Steroid dan triterpenoid merupakan senyawa yang dapat

terekstraksi dengan pelarut non polar atau semi polar (Harbone, 1987). Steroid

52
merupakan senyawa yang secara umum memiliki struktur siklik dan mempunyai gugus

hidroksil. Mukhriani (2014) menyatakan bahwa senyawa steroid dapat digunakan

sebagai bahan dasar pembuatan obat. Nurulita et al., (2008) menyebutkan senyawa

steroid merupakan komponen aktif yang telah digunakan sebagai antibakteri dan

antivirus.

Selanjutnya yaitu pengujian aktivitas antibakteri yang bertujuan untuk

menentukan kemampuan fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun bidara arab

(Ziziphus spina christi (L) Desf) dalam menghambat pertumbuhan bakteri

Propionibacterium acnes. Pada penelitian ini diawali dengan sterilisasi alat

menggunakan oven dan pembuatan media kemudian disterilkan dengan autoklaf untuk

menghilangkan mikroorganisme pada alat dan bahan yang akan digunakan, serta

membuat biakan bakteri dan larutan Mc. Farland 0,5% yang bertujuan untuk

membandingkan kekeruhan bakteri uji. Lalu, dilakukan pengujian bakteri dengan cara

memasukkan media sebanyak 15 ml kedalam tabung reaksi dan ditambahkan suspensi

bakteri sebanyak 1 ml, lalu dihomogenkan. Kemudian media tersebut dimasukkan

kedalam cawan petri dan didiamkan hingga memadat. Setelah memadat masing-masing

dimasukkan paper disk yang telah dijenuhkan dengan konsentrasi larutan uji yang

berbeda-beda. Lalu dimasukkan kedalam inkubator selama 1x24 jam.

Dalam pengujian ini menggunakan media NA (Nutrient agar) karena media NA

mengandung nutrisi yang dapat mendukung pertumbuhan bakteri. Menurut Pelczar dan

Chan (2008), semua organisme termasuk bakteri membutuhkan nutrisi untuk

memenuhi kebutuhan yang diperlukan dalam pertumbuhan organisme tersebut. Adapun

komponen-komponen nutrisi yang ada pada media NA adalah ekstrak daging sapi,

pepton, dan agar. Media ini berbentuk padat karena mengandung agar sebagai bahan

53
pemadatnya. Media padat biasanya digunakan untuk mengamati penampilan atau

morfologi koloni bakteri (Munandar, 2016).

Kontrol positif yang digunakan dalam penelitian ini adalah klindamisin 1%.

Klindamisin merupakan antibiotik lincosamide yang dapat bekerja sebagai

bakteriostatik maupun bakterisid tergantung dosis obat terjadinya infeksi dan

organisme penyebab infeksi. Klindamisin merupakan antibiotik yang berspektrum luas,

dimana memiliki kepekaan terhadap bakteri aerobik Staphylococcus dan Streptococcus,

bakteri gram positif anaerob Propionibacterium, Peptococcus dan Peptostreptococcus.

Klindamisin mengahambat pertumbuhan Propionibacterium acne dengan menghambat

kemotaksis leukosit dimana secara in vivo dapat menekan inflamasi pada acne vulgaris

(Miratunnisa, 2015). Kontrol positif diperlukan sebagai pembanding, hal ini digunakan

untuk membandingkan perlakuan (sampel) dengan antibiotik murni (klindamisin).

Sedangkan Kontrol negatif yang digunakan yaitu DMSO. Alasan penggunaan DMSO

digunakan sebagai kontrol negatif karena DMSO merupakan pelarut yang dapat

melarutkan hampir semua senyawa polar maupun non polar, DMSO digunakan pula

untuk melarutkan ekstrak (Assidqi et al., 2012).

Uji aktivitas antibakteri dari fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L)

Desf) dilakukan menggunakan metode difusi agar menggunakan paper disk (kertas

cakram), metode ini dipilih karena metode ini memiliki prosedur yang sederhana,

cepat, mudah dan efisien serta tidak memerlukan keahlian khusus dalam pengujian.

Metode paling umum digunakan untuk menentukan daya cepat sensitivitas bakteri dan

resistennya obat-obat antimikroba dengan menggunakan kertas cakram kecil yang

masing-masing dijenuhkan dengan konsentrasi yang berbeda-beda (Pollack, 2016).

Pada pengujian antibakteri tersebut aktivitas zona hambat antibakteri

dikelompokkan menjadi empat kategori, yaitu : lemah ( ≤ 5 mm), sedang (5-10 mm),

54
kuat (11-20 mm), dan sangat kuat ( > 20 mm) (Ashri, H.N, 2016). Aktivitas daya

hambat antibakteri dinyatakan berdasarkan zona bening yang dihasilkan disekitar

paper disk. Hasil dari masing-masing pengujian fraksi n-heksan daun bidara arab

(Ziziphus spina-christi (L.) Desf) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri

P,acnes pada konsentrasi 10% dengan rata-rata zona hambat 6,14 mm, konsentrasi

20% rata-rata zona hambat 7,58 mm. Hasil pengujian fraksi etil asetat daun bidara arab

(Ziziphus spina-christi (L.) Desf) yaitu memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri

[Link] pada konsentrasi 5% dengan rata- zona hambat 9,48 mm, konsentrasi 10%

dengan rata-rata zona hambat 10,76 mm dan pada konsentrasi 20% dengan rata-rata

zona hambat 11,7 mm. Sedangkan hasil pengujian pada fraksi air daun bidara arab

(Ziziphus spina-christi (L.) Desf) yaitu memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri

[Link] yaitu pada konsentrasi 5% dengan rata-rata zona hambat 9,56 mm , konsentrasi

10% 10,44 mm dan pada konsentrasi 20% 12,64 mm. Dari hasil ketiga fraksi

menunjukkan bahwa zona hambat yang terbentuk umumnya meningkat seiring dengan

peningkatan jumlah konsentrasi. Hal ini karena senyawa aktif yang terdapat pada setiap

konsentrasi semakin besar sehingga daya kerja dalam menghambat pertumbuhan

bakteri (antibakteri) semakin baik pula. Hal ini sesuai dengan pernyataan Pelczar dan

Chan (2005) bahwa semakin tinggi konsentrasi zat anti mikroba maka semakin besar

pula kemampuannya untuk mengendalikan dan membunuh mikroorganisme tertentu.

Hasil uji aktivitas antibakteri dapat dilihat pada tabel 6 menunjukkan bahwa pada

fraksi n-heksan, etil asetat, dan air mempunyai aktivitas antibakteri yang berbeda-beda

ditandai dengan terbentuknya zona bening (Pratiwi, 2008). Aktivitas antibakteri yang

ditunjukkan pada masing-masing fraksi ditimbulkan oleh kandungan metabolit

sekunder yang bekerja secara sinergis yaitu tanin, polifenol, alkaloid, saponin,

flavonoid, dan terpenoid (Dalimartha, 2008). Senyawa tanin memiiki mekanisme kerja

55
yaitu mengkerutkan dinding sel dimana akan mengakibatkan rusaknya permeabilitas

dinding sel bakteri sehingga mengakibatkan kematian bakteri. Senyawa saponin

memiliki mekanisme kerja yaitu melakukan penurunan tagangan permukaan dimana

dapat menyebabkan sel bocor sebagai akibatnya mengakibatkan bakteri mati. Senyawa

flavonoid sebagai antibakteri yaitu menyebabkan terjadinya kerusakan permeabilitas

dinding sel bakteri, mikrosom dan lisosom sebagai hasil interaksi antara flavonoid

dengan DNA bakteri (Wulandari & Andriani, 2020). Senyawa alkaloid bekerja

mengganggu komponen penyusus peptidoglikan pada sel bakteri sehingga lapisan

dinding sel tidak terbentuk secara utuh dan menyebabkan kematin pada sel tersebut.

Steroid dilaporkan memiliki sifat antibakteri, korelasi antara membran lipid dan

sensitivitas senyawa steroid menunjukkan mekanisme dimana steroid menyebabkan

kebocoran liposom (Huda et al, 2019).

Berdasarkan dari hasil pengujian aktivitas antibakteri besaran diameter zona

hambat yang terbentuk dipengaruhi oleh tinggi rendahnya senyawa atau zat aktif yang

terkandung di dalam masing-masing fraksi. Kemampuan antibakteri daun bidara arab

(Ziziphus spina christi (L.) Desf) terhadap bakteri [Link] membuktikan bahwa

kandungan senyawa aktif pada daun tumbuhan bidara arab berpotensial untuk

dikembangkan sebagai bahan antibakteri. Bakteri Propionibacterium acnes merupakan

bakteri gram positif yang memiliki bentuk sel batang, panjang bervariasi antara 1-1,5

µm, nonmotil, tidak membentuk spora dan dapat tumbuh diudara dan memerlukan

oksigen mulai dari aerob atau anaerob fakultatif sampai ke anaerob. Bakteri ini mampu

melakukan fermentasi glukosa sehingga menghasilkan asam propionat dan asetat

dalam jumlah yang banyak (Nurlalita, 2017), sehingga bakteri ini mudah ditembus oleh

zat-zat polar yang berasal dari daun bidara arab dan lebih cepat

menghambat/membunuh pertumbuhan bakteri (Ashri, H.N, 2016).

56
Dari hasil uji aktivitas bakteri daun bidara arab terhadap bakteri [Link] dengan

ke tiga fraksi, diperoleh senyawa bioaktif antibakteri daun bidara arab yang ditarik oleh

pelarut Air karena memiliki rata-rata zona hambat yang paling besar dibandingkan

dengan pelarut etil dan n-heksan. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi air merupakan

fraksi paling aktif bila dibandingkan dengan kedua fraksi lainnya. Sedangkan pada

fraksi n-heksan memiliki rata-rata zona hambat yang paling kecil dan pada konsentrasi

5% tidak adanya zoba bening, hal ini dikarenakan tidak adanya senyawa Flavonoid

yang terkandung dalam fraksi n-heksan. Dimana berdasarkan pernyataan Manik (2014)

kandungan flavonoid berpengaruh pada aktivitas antibakteri. Semakin banyak

kandungan flavonoid yang terdapat dalam suatu sampel maka semakin tinggi pula

aktivitas antibakterinya. Mekanisme kerja flavonoid sebagai antibakteri adalah dengan

cara merusak dinding sel, menonaktifkan kerja enzim, berikatan dengan adhesin, dan

merusak membran sel (Nugraha, 2017).

Selanjutnya pada penelitian ini data-data yang terkumpul dianalisis menggunakan

program SPSS. Tahap pertama yang dilakukan yaitu uji normalitas menggunakan

metode Shapiro-Wilk terhadap daya hambat bakteri yang bertujuan untuk melihat

apakah data yang diperoleh terdistribusi normal atau tidak. Selanjutnya dilakukan uji

descriptives yang bertujuan untuk mencari mean dan SD. Kemudian dilakukan uji

homogen data menggunakan metode Variences untuk mengetahui apakah data yang

didapatkan homogen atau tidak dari masing-masing hasil uji ditunjukkan oleh nilai P

(sig) > 0,05.

Pada uji normalitas fraksi n-heksan diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol

positif 0.020 dan konsentrasi 10% 0.024 (p < 0,05) sedangkan konsentrasi 20% 0.400

(p > 0,05) hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi normal karena ada kelompok

perlakuan yang nilai signifikannya p < 0,05. Pada uji normalitas fraksi etil asetat

57
diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol positif 0.229, konsentrasi 5% 0,075,

konsentrasi 10% 0.311 dan konsentrasi 20% 0.335. Hasil uji normalitas menunjukkan

bahwa data terdistribusi normal karena nilai p > 0,05. Selanjutnya dilakukan uji

homogenitas diperoleh nilai p = 0,044 < 0,05 sehingga data tidak homogen. Sedangkan

Pada uji normalitas fraksi air diperoleh nilai p masing-masing yaitu kontrol positif

0.715 dan konsentrasi 10% 0.293 (p > 0,05) konsentrasi 5% 0.031 dan konsentrasi 20%

0.056 (p < 0,05). Hasil ini menunjukkan data tidak terdistribusi normal karena ada

kelompok perlakuan yang nilai signifikannya p < 0,05. Karena dari hasil pengujian

homogen data tidak homogenitas maka masing-masing kelompok tidak dapat di

analisis secara uji parametrik.

Selanjutnya dilakukan uji Kruskal Wallis karena hasil yang didapatkan tidak

homogen sehingga data tidak dapat dianalisis secara uji parametrik (ANOVA) dan

harus menggunakan non parametrik. Pengujian yang dilakukan adalah uji Kruskal

Wallis untuk melihat perbedaan aktivitas antibakteri fraksi n-heksan, atil asetat dan air

dari daun bidara arab terhadap bakteri Propionibacterium acnes. Hasil pengolahan

fraksi n-heksan dengan menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukkan nilai p = 0,000

< 0,05. Hasil pengolahan fraksi etil asetat menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05. Dan

hasil pengolahan fraksi air menunjukkan nilai p = 0,000 < 0,05. Berdasarkan hipotesis

penelitian jika nilai P (probabilitas) < 0,05 maka hipotesis alternatif diterima dan

hipotesis nol ditolak. Sehingga data dianggap berbeda bermakna dan dapat dikatakan

bahwa fraksi n-heksan, etil asetat dan air dari daun bidara arab dapat memberikan

aktivitas antibakteri.

Setelah diketahui hasil uji Kruskal Wallis maka dilakukan pengujian lanjutan

untuk mengetahui kelompok pengujian apa saja yang berbeda signifikan pada

penelitian menggunakan uji Mann-Whitney. Dimana bila nilai p > 0,05 maka tidak

58
terdapat perbedaan atau hampir sama. Sebaliknya bila nilai p < 0,05 maka terdapat

perbedaan dari masing-masing kelompok perlakuan. Hasil uji Mann-Whitney pada

Propionibacterium acnes pada fraksi n-heksan dapat dilihat pada tabel 8, fraksi etil

asetat dapat dilihat pada tabel 9, dan fraksi air dapat dilihat pada tabel 10, dimana

masing-masing pada konsentrasi 5%, 10%, dan 20% dan kontrol positif

memperlihatkan adanya perbedaan antara kontrol negatif, hal ini menunjukkan

perlakuan tersebut memperlihatkan aktivitas antibakteri.

Berdasarkan hasil dari pengujian aktivitas antibakteri daun bidara arab dengan

konsentrasi 5%, 10%, 20% pada fraksi n-heksan, etil asetat dan air, terbukti

menghambat pertumbuhan bakteri P. Acnes. Menurut penelitian sebelumnya ekstrak

daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf) telah terbukti dalam menghambat

berbagai jenis bakteri antara lain ; Staphylococcus epidermidis, S. Aureus ,

Propionibacterium acnes. Dalam penelitian Puteri dkk., (2019) menunjukkan bahwa

ekstrak etanol daun bidara arab memiliki aktivitas antibakteri pada konsentrasi 2,5-

40% terhadap P. acnes dengan DDH 11,57-14,07 mm. Zona hambat yang dihasilkan

pada penelitian sebelumnya pada ekstrak etanol daun bidara arab lebih besar

dibandingkan dengan fraksi dikarenakan pada senyawa metabolit sekunder pada

ekstrak yang dihasilkan lebih kompleks sehingga lebih cepat dalam menghambat

pertumbuhan bakteri (Safitri et al., 2021).

59
BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan :

1) Hasil pengujian skrining fitokimia fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina-christi

(L) Desf), pada fraksi n-heksan positif mengandung tanin, saponin, steroid,

triterpenoid. Pada fraksi etil asetat positif mengandung flavonoid, tanin, saponin,

triterpenoid. Dan pada fraksi air positif mengandung alkaloid, flavonoid, saponin,

tanin dan steroid.

2) Fraksi etil asetat dan fraksi air dari daun bidara arab (Ziziphus spina-christi (L)

Desf) memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium acnes pada

konsentrasi 20% menunjukkan aktivitas kuat dengan rata-rata diameter zona

hambat pada fraksi etil asetat 11,7 mm, pada fraksi air 12,64 mm. Sedangkan pada

fraksi n-heksan memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Propionibacterium

acnes pada konsentrasi 20% menunjukkan aktivitas masih tergolong sedang dengan

rata-rata diameter zona hambat 7,58 mm.

B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan peneliti adalah :

1) Diharapkan pada peneliti selanjutnya agar melakukan penelitian lebih lanjut dengan

mencari isolat/senyawa dalam fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.)

Desf)

2) Sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut pada bakteri yang berbeda pada fraksi

daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)

60
DAFTAR PUSTAKA

Aisyah, N, et al., 2020. Analisis Fitokimia Dan Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun
Bidara (Ziziphus mauritiana L.) Terhadap Esherichia coli dan Staphylococcus
aureus. 2(3), 106-113.
Agustina Retnaningsih Agustina, Anisah F. 2019. Uji Daya Hambat Ekstrak Etanol daun
Ungu (graptophylium pictum L. Griff) Terhadap bakteri Staphylococcus
epidermidis dan Bakteri Propionibacterium acnes Penyebab Jerawat dengan
Metode Cakram. Jurnal Analisis Farmasi. (4), 1-9.
Alvarez, C.U., 2015. Metabolic adaptation and biofilm formation in response to different
oxygen concentrations. FEMS Pathogens and Disease, 2015, Vol. 73.
Aida, A. N & Misnawi. 2016. Uji In Vitro Efek Ekstrak Etanol Biji Kakao (Theobroma
cacao) sebagai Antibakteri terhadap Propionibacterium acnes. e-Jurnal Pustaka
Kesehatan, 4(1), 127–131
Andriyanto, B. E., et al., 2016. Skrining Fitokimia ekstrak daun belimbing hutan
(Baccaurea angulata). JKK, 5(4), 8-13.
Anggraeni, V. J., et al. 2020. Fitokimia Dan Aktivitas Antibakteri Dari Tanaman Mangga
(Mangifera indica L). Indonesia Natural Research Pharmaceutical Journal, 5(2),
102–113.
Armadany, F. I., & Pratiwi, A., 2018. Uji aktivitas antibakteri sediaan krim anti jerawat
ekstrak etanol terpurifikasi daun sirih (Piper betle L.) dengan basis vanishing
cream terhadap Propionibacterium acnes. Journal Pharmauho, 4 (September),
30.
Arnold A., Fahriana, Haryadi. 2017. Skrining fitokimia dan uji toksisitas ekstrak daun
balik angin (Mallotus Sp) terhadap larva Artemia salina Leach dengan metode
brine shrimp lethality test (BSLT). Fullerene Journ. Of Chem. Vol.2 No.2: 77-81
Ashri, H.N, 2016. Uji Aktivitas dan Identifikasi Senyawa Kimia Antibakteri Ekstrak
Etanol Daun Bidara (Ziziphus spina christi L) Terhadap Bakteri Patogen, Skripsi,
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Alauddin
Makassar.
Assidqi, K., Tjahjaningsih, W. & Sigit, S., 2012. Potensi Ekstrak Daun Patikan Kebo
(Euphorbia hirta) sebagai Antibakteri Terhadap Aeromonas hydrophila. Journal
of Marine and Coastal Science, 1(2), pp.113-24.
Athaillah A., Sugesti S. 2020. . Pemanfaatan Ekstrak Jagung Sebagai Pelembut Alami
Pada Kulit. Jurnal Education and Development ; 3(2) : 93-99
Balouiri M, Sadiki M, Ibnsouda SK. 2016. Methods for In Vitro Evaluating Antimicrobial
Activity. JPA ; 6 (2) : 74.
Basset, J, et al., 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi 4
Pudjaatmaka, A.H., Setiono, L., Penerjemah ; Pudjaatmaka, a.H ; editor. Jakarta
Including Elementary Instrumental Analysis.
Bell, S, N. 2016. Antibiotic sensitifity Testing by The CDS method, New South Wales.
Clinical Microbiology Update programme. Ed. N.D. Heriwig. The Prince wales
hospital.
Bonang, G., 1992. Mikrobiologi Untuk Profesi kesehatan Edisi 16. Jakarta : Buku
Kedokteran EGC.
Bruggeman, H. 2010 Skin, acne dan Propionibacterium acne Genomics. Handbook of
hydrocarbon and lipid mycrobiologi. (10) : 3216-3223.
Brown, R. G., & Burns, T. 2005. Lecture Notes on Dermatologi (8 ed.). Jakarta: Erlangga
Dahiru, D., Mamman, D. N., & Wakawa, H. Y. 2010. Ziziphus mauritiana fruit
Depkes RI, 2000, Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat, Cetakan Pertama,
3-11, 17-19, Dirjen POM, Direktorat Pengawasan Obat Tradisional.
Depkes RI. 2011. Buletin Data dan Informasi Kesehatan : Situasi Diare di Indonesia.
Kementrian Kesehatan RI, Jakarta.
Depkes RI., 2014. Farmakope Indonesia Edisi Kelima, Direktorat jenderal Pengawasan
Obat Dan Makanan, Jakarta. Hal.7, 503.
Ditjen POM. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen
Kesehatan RI, Jakarta. Halaman 3-5, 13-17, 30-31.
Djuanda, Adhi. 2016. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Halaman 288.
Dwinatari, I. K. Dan Y. B. Murti. 2015. Pengaruh Waktu Pemanenan Dan Tingkat
Maturasi Daun Terhadap Kadar Viteksikarpin Dalam Daun Legundi (vitex trifolia
l.). Jurnal ugm. Vol. 20 (2), p 105-111 issn : 1410-5918.
Endang, H., 2016. Analisis Fitokimia. Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Franca K, Keri J. 2017. Psychosocial Impact of Acne and Postinflammatory
Hyperpigmentation. An Bras Dermatol. ; 92 (4) : 505 - 9.
Harbone, J. B. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Penerbit ITB : Bandung Hermans, M.H.E. 2005. A General Overview Of Burn
Care. Int Wound J 2005 ; 2 : 3, 206-220.
Harbone, J.B., 1996. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan,
Diterjemahkan Oleh Kosasih Padmawinata Dan Imam Sudiro, Edisi II, Hal 4-7 :
69-76, ITB. Bandung
Harbone, J.B. 2006. Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan.
Edisi kedua. Bandung : Penerbit ITB. Pp4-147.
Hasanah, A. M. 2019. Uji Efektivitas Ekstrak Etanol Daun Bidara (Ziziphus spina- christi
L.) terhadap Pertumbuhan Propionibacterium acne. Pharmasipha, 3(1).
Heyne K. 1987. Tumbuhan berguna indonesia, jilid. 3. Yay. Arana Wana Jaya, Jakarta.
Hidayah N.D., 2016. Uji Aktivitas ekstrak metanol klika anak aara (Crotonoblangus burn
F.) terhadap bakteri prnyebab jerawat. Skripsi. Universitas Islam Negeri Alaudin,
Makassar.
Huda et al., 2019. Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi dari Maserat Zibethinus folium
Terhadap Escherichia coli. Jurnal Sainhealth Vol. 3 No. 1
Indarto, et al., 2019. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Binahong Terhadap
Propionibacterium acnes. Jurnal Tadris Biologi Vol. 10. No. 1. Halaman 67-78.
Irvan Herdiana dan Nur Aji, “Fraksinasi Ekstrak Daun Sirih dan Ekstrak Ekstrak gambir
serta Uji Antibakteri Streptococcus murtans”, Jurnal Ilmiah Kesehatan, Vol. 19
No. 3 Tahun 2020.
Katzung, bertram G., et al. 2013. Farmakologi dasar dan klinik edisi bahasa indonesia,
Ricky Soeharsono edisi 12. EGC : Jakarta.
Kemenkes, 2011, Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik, Kementrian Kesehatan RI,
Jakarta. 4-5.
Khumaidi, A. & Gunawan, F. 2020. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Kapas
(Gossypium barbadense L.) terhadap Staphylococcus epidermidis dan
Propionibacterium acnes. Jurnal Farmasi Udayana, 9(1), 52.
[Link]
Lestari, F. W., Suminar E., & Mubarok S. 2018. Pengujian berbagai eksplan kentang
(Solanum tuberosum L.) dengan penggunaan konsentrasi BAP dan NAA yang
berbeda. Jurnal Agro, 5(1), 66 – 75.
Listari, Y. 2009. Efektifitas Penggunaan Metode Pengujian Antibiotik Isolat Streptomyces
dari Rizosferfamilia poaceae terhadap Escherichia coli. Jurnal online. PP.1.1–6.
Lully Hanni, Endarini 2016. Farmakognosi dan Fitokimia. Jakarta : Pusdik SDM
Kesehatan Kemenkes RI.
Lynn, D.D., et al. 2016. The Epidemology of acne Vulgaris in Late Adolescence.
Adolescent Health, Medicine and Therapeutics. 7 : 13-25.
Manik, D. F., Hertiani, T., & Anshory, H. (2014). Analisis Korelasi antara Kadar
Flavonoid dengan Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol dan Fraksi-Fraksi Daun
Kersen (Muntingia calabura L.) terhadap Staphylococcus aureus. Khazanah.
Mauludiyah, E.N., darusman, F., Cahaya, G., dan Darma, E. 2020. Skrining Fitokimia
Senyawa Metabolit Sekunder dari Simplisia dan Ekstrak Air daun Bidara Arab
(Ziziphus spina christi L). SPeSIA. 6(1) :1084-1089
Marbun E.D., Alfi sapitri., Artha Yuliana Sianipar, 2022. Uji Antibakteri Ekstrak Etanol
Daun Bidara Arab (Ziziphus jujuba Mill) Terhadap Bakteri S. aureus dan S.
Epidermidis . Forte Journal 2(1) : 32-41
Miratunnisa, Lanny, M., siti, H., 2015, Uji aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanolik Kulit
Kentang (Solanum Tuberosum L) Terhadap Propionibacterium., Fakultas MIPA,
Unisba : Bandung.
Munandar,K. 2016. Pengenalan Laboratorium IPA-BIOLOGI Sekolah. Bandung: Refika
Aditama.
Mukhriani, 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Aktif. Jurnal
Kesehatan. Vol. 7(2) : 361-367.
Nugraha, A.C., A.T. Prasetya, dan S. Mursiti. 2017. Isolasi, Identifikasi, Uji Aktivitas
Senyawa Flavonoid sebagai Antibakteri dari Daun Mangga. Indonesian Journal
of Chemical Science 6(2): 91-96.
Nurhasnawati, H., Sukarmi, dan F. Handayani. 2017. Perbandingan Metode Ekstraksi
Maserasi dan Sokletasi terhadap Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Daun
Jambu Bol (Syzygium malaccense l.). Jurnal Ilmiah Manuntung 3(1): 91-95.
Narulita, H., (2014), Studi Praformulasi Ekstrak Etanol 50% Kulit Buah Manggis
(Garcinia mangostana L.), Skripsi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah,
Jakarta.
Nurulita Y., H. Dhanutirto, A. A. Soemardji. 2008. Penapisan Aktivitas dan Senyawa
Antidiabetes Ekstrak Air Daun Dandang Gendis (Clinacanthus nutans). Jurnal
Natur Indonesia 10 (2): 98- 103.
Octy, Syf. 2013. Uji Efektivitas Sediaan Gel Anti Jerawat Ekstrak Etanol Rimpang Jahe
Merah (Zingiber Officinale Rosc. Var. Rubrum) Terhadap Propionibacterium
Acnes dan Staphylococcus Epidermidis. Universitas Tanjungpura Pontianak.
Pratiwi, S. T., 2008. Mikrobiologi Farmasi, Jakarta, Erlangga. 17-18.
Pelczar, M. J dan E. C. S. Chan. 2005. Dasar-dasar Mikrobiologi 1. Jakarta : Universitas
Indonesia Press.
Pelczar, Michael J dan Chan, E. C. S 2006. Dasar-dasar Mikrobiologi. Jakarta : Penerbit
Universitas Indonesia (UI_Press)
Pelczar, Michael J dan Chan, E. C. S. 2008. Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1. Jakarta : UI
Press.
Pollack, Robert A. Findlay Lorraine. Mondschein, Walter dan Modesto Ronald. (2016).
Praktikum Laboratorium Mikrobiologi Edisi 4. Jakarta:EGC. pp:114-117, 227.
Purwaningdyah, R. A. K. 2013. Profil Penderita Akne Vulgaris pada Siswa-Siswi di SMA
Shafiyyah Amaliyah Medan. Ejournal FK USU. 1(1) : 1-8
Puteri P.S., Arumsari A., dan Sukanta, 2019, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol
Daun Bidara Arab (Ziziphus spina christi L.) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
(Propionibacterium acnes) dan (Staphylococcus epidermidis), Prosidding
Farmasi, 5(2) : 669-673
Pratiwi, N. & Mailani, D. P., 2019. Pra Rancangan Pabrik Etil Asetat dari Asam Asetat dan
Etanol dengan Proses Esterifikasi Menggunakan Katalis Aberlyst-15 Kapasitas
57.000 Ton/Tahun. Jurnal Tugas Akhir Teknik Kimia, 4(2), 73–77.
Rahmi AH, Cahyanto T, Sujarwo T, Lestari RI 2015. Uji aktivitas antibakteri ekstrak daun
beluntas (Pluchea Indica (L.) Less. ) terhadap Propionibacterium Acnes
penyebab jerawat ; 9 (1) : 1979 - 8911.
Safitri E.I., et al. 2021. Profil Antibakteri dari Ekstrak Etanol 70% Daun Bidara Arab
(Ziziphus spina christi L) Terhadap Bakteri Propionibacterium acnes,
Staphylococcus epidermidis dan Staphylococcus Aureus , Pharmasipha, 5(2)
Sangi, M, et al. 2008. Analisis Fitokimia Tumbuhan Obat di Kabupaten Minahasa Utara.
Chemistry Progress. 1,47-53.
Saraswati, F.N., 2015. Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol 96% Limbah Kulit Pisang
Kepok Kuning (Musa balbisiana) Terhadap Bakteri Penyebab Jerawat
(Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan Propionibacterium
acne), Skripsi, Fakultas Kedokteran dan Ilmu kesehatan Program Studi Farmasi,
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Sari, cahyo IP. 2012. Kualitas Minuman Serbuk Kersen (Muntingia calabura L) dengan
variasi konsentrasi Maltodekstrin dan Ekstraksi Kayu Secang (Caesalpinia
sappan L). Skripsi. Fakultas Teknobiologi Universitas Atma Jaya Yogyakarta,
Yogyakarta.
Sari IP, Wibowo MA & Arreneuz S, 2015. Aktivitas Antibakteri Ekstrak Teripang Butoh
Keling (Holothuria leucospilota) dari Pulau Lemukutan terhadap Bakteri
Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis. JKK. 4 (4): 21-28.
Savitri, G. R., Triatmoko, B., & Nugraha, A. S. 2020. Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas
Antibakteri Ekstrak dan Fraksi Tumbuhan Anyang-Anyang (Elaeocarpus
grandiflorus J. E. Smith.) terhadap Escherichia coli. JPSCR: Journal of
Pharmaceutical Science and Clinical Research, 5(1), 22.
[Link]
Sibero H, Sirajuddin A, Anggraini D. 2020. Pravalensi dan Gambaran Epidemiologi Acne
Vulgaris di provinsi Lampung. Jk Unila, 3(3), pp. 1-5
Siregar, M. 2020. Berbagai Manfaat Daun Bidara (Ziziphus mauritiana Lamk.) Bagi
Kesehatan di Indonesia. Jurnal Pandu Husada. 1(2): 75-81.
[Link]
Sulistyarini Indah, Diah Arum Sari dan Tony Ardian Wicaksono, 2020. Skrining Fitokimia
Senyawa Metabolit Sekunder Batang Buah Naga (Hylocereus Polyrhizus).
Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi, Semarang.
Sugiarti L. Dieta Maudy Andriyani., Mega Putri P., Ratna Setyani. 2020, Aktivitas
Antibakteri Fraksi n-Heksan, Etil asetat dan Air Ekstrak Etanol Daun Pajiroto
(Medinilla speciosa Blume) Terhadap Propionibacterium acnes dan
Staphylococcus Aureus : Journal og Pharmacy, 4(2)
Sugiyono, 2019. Metode penelitian kuantitatif, kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta.
Sukandar, D., Hermanto, S., Dan Lestari, E., 2008. Uji toksisitas ekstrak daun pandan
wangi (Pandanus amaryllifolius Roxb.) dengan metode brine shrimp lethality test
(BSLT). Jurnal Kimia Valensi, vol. 1(2) : 41-47
Sriwahyuni, I. 2010. Uji Fitokimia Ekstrak Tanaman Anting-Anting (Acalypha indica
Linn) Dengan Variasi Pelarut dan Uji Toksisitas Menggunakan Brine Shrimp
(Artemia salina Leach). Naskah Skripsi S-1. Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim, Malang
Tobo, F. 2011. Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia 1, Unhas, Makassar.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2010. Taksonomi tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta :
Gadjah mada University Press.
Tjitrosoepomo, G. 2012. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Yogyakarta : gajah
Mada University Press.
Wardania, A. K., Malfadinata, S., & Fitriana, Y. 2020. Uji Aktivitas Antibakteri Penyebab
Jerawat Staphylococcus epidermidis Menggunakan Ekstrak Daun Ashitaba
(Angelica keiskei). Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian, 1(1), 14.
[Link]
Wendersteyt N.V., et al. 2021. Uji Aktivitas Antimikroba Dari Ekstrak Dan Fraksi
Ascidian herdmania Momus Dari Perairan Pulau Bangka Likupang Terhadap
Pertumbuhan Mikroba Staphylococcus aureus, Salmonella typhimurium Dan
Candida albicans. Pharmacon. Program Studi Farmasi, Fmipa, Universitas Sam
Ratulangi, 10 (1).
Wulandari & Ariyani, L. W. 2020. Nanongel Minyak Biji Bunga Matahari (Herlianthus
annus) sebagai Antibakteri Terhadap Bakteri Staphylococcus aureus. Jurnal
cendakia eksakt, 63-66.
LAMPIRAN
Lampiran 1. Skema Kerja Pembuatan Ekstrak

Daun bidara arab (Ziziphus


spina-christi L)

Disortasi basah, dicuci, dirajang,


dikeringkan, disortasi kering,
diserbukkan kemudian ditimbang.

Serbuk daun bidara arab


(Ziziphus spina-christi L)

Dimaserasi dengan etanol 96% selama 3


hari, sambil sesekali diaduk dan tiap 1x24
jam disaring serta diganti dengan pelarut
baru.

Ekstrak dipekatkan dengan


rotary evaporator

Ekstrak diuapkan Ekstrak kental daun bidara


dengan haid drayer arab (Ziziphus spina-christi
L)
Lampiran 2. Skema kerja pembuatan Fraksi

Ekstrak kental daun bidara


arab (Ziziphus spina-christi L)

 Ditimbang 50 gram
 Difraksinasi menggunakan pelarut n-heksan, etil
asetat dan air dengan perbandingan 1:1 sebanyak
100 mL
 Digojok selama 10-15 menit di dalam corong
pisah, dan didiamkan.

Fraksi n-heksan, etil asetat dan


air daun bidara arab (Ziziphus
spina-christi L)

Diuapkan pada rotary


evaporator

Fraksi kental n-heksan, etil


asetat dan air daun bidara arab
(Ziziphus spina-christi L)
Lampiran 3. Skema Kerja Uji Aktivitas Antibakteri

Pembuatan konsentrasi fraksi,


kontrol positif dan kontrol negatif

 Konsentrasi fraksi n-heksan (5%,10%,20%),


fraksi etil asetat (5%,10%,20%), dan fraksi air
(5%,10%,15%) dilarutkan dengan DMSO 2
mL.
 Kontrol positif (Klindamisin) 0,02 g dilarutkan
dengan 2 mL aquadest

Kontrol Fraksi n-heksan Fraksi etil Fraksi air Kontrol


positif 5%,10%20% asetat 5%,10%20% negatif
(klindamisin) (putri dkk, 5%,10%20% (putri dkk, (DMSO)
2019) (putri dkk, 2019)
2019)

Medium nutrient agar (NA)

Bakteri disuspensikan ke dalam NA

Pengukuran zona hambat

Analisis secara statistik


Lampiran 4. Perhitungan
1. Perhitungan % rendemen ekstrak daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)
Bobot sampel kering = 1000 g
Bobot total ekstrak = 143,9 g
bobot total ekstrak
Rendamen ekstrak = x 100 %
bobot sampel kering
143 , 9 g
= x 100 %
1000 g
= 14, 39 %
2. Perhitungan % rendemen fraksi daun bidara arab (Ziziphus spina christi (L) Desf)
bobot total fraksi
Rendamen fraksi = x 100 %
bobot ekstrak
3 ,3 g
Fraksi n- Heksan = x 100 %
50 g
= 6,6%

9g
Fraksi Etil asetat = x 100 %
50 g
= 18 %
20 ,7 g
Fraksi Air = x 100 %
50 g
= 41,1 %
3. Perhitungan medium Nutrient agar (NA)
20
Nutrient Agar (NA) = x 150 mL
1000
=3g
4. Perhitungan konsentrasi
5
a. Konsentrasi fraksi n-heksan 5% = x 2 mL
100
= 0,1 g
10
Konsentrasi fraksi n-heksan 10% = x 2 mL
100
= 0,2 g
20
Konsentrasi fraksi n-heksan 20% = x 2 mL
100
= 0,4 g
5
b. Konsentrasi fraksi etil asetat 5% = x 2 mL
100
= 0,1 g
10
Konsentrasi fraksi etil asetat 10% = x 2 mL
100
= 0, 2 g
20
Konsentrasi fraksi etil asetat 20% = x 2 mL
100
= 0, 4 g
5
c. Konsentrasi fraksi air 5% = x 2 mL
100
= 0,1 g
10
Konsentrasi fraksi air 10% = x 2 mL
100
= 0,2 g
20
Konsentrasi fraksi air 20% = x 2 mL
100
= 0,4 g
1
d. Konsentrasi klindamisin 1% = x 3 mL
100
= 0,03 g
e. DMSO = 2 mL
Lampiran 5. Hasil Anallisis SPSS

Fraksi N-Heksan

Uji Normalitas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Perlakuan Statistic df Sig. Statistic Df Sig.
Zona Hambat Kontrol Positif .419 5 .004 .732 5 .020
Kontrol Negatif . 5 . . 5 .
Konsentrasi 5% . 5 . . 5 .
Konsentrasi 10% .332 5 .074 .740 5 .024
Konsentrasi 20% .296 5 .174 .898 5 .400
a. Lilliefors Significance Correction

Uji Kruskal-Wallist
Kruskal-Wallis Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank
Zona Hambat Kontrol Positif 5 23.00
Kontrol Negatif 5 5.50
Konsentrasi 5% 5 5.50
Konsentrasi 10% 5 13.60
Konsentrasi 20% 5 17.40
Total 25

Test Statisticsa,b
Zona Hambat
Kruskal-Wallis H 22.973
Df 4
Asymp. Sig. .000
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Perlakuan

UJI MANN WHITNEY


Mann-Whitney Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 5% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 20% 5 3.00 15.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 5.50 27.50
Konsentrasi 5% 5 5.50 27.50
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 12.500
Asymp. Sig. (2-tailed) 1.000
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 10% 5 3.60 18.00
Konsentrasi 20% 5 7.40 37.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 3.000
Asymp. Sig. (2-tailed) .044
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Fraksi Etil Asetat

Uji Normalitas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Perlakuan Statistic df Sig. Statistic df Sig.
*
Zona Hambat Kontrol Positif .247 5 .200 .860 5 .229
Kontrol Negatif . 5 . . 5 .
Konsentrasi 5% .391 5 .012 .796 5 .075
*
Konsentrasi 10% .214 5 .200 .880 5 .311
Konsentrasi 20% .246 5 .200* .885 5 .335
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

Uji Homogenitas
Test of Homogeneity of Variances
Levene Statistic df1 df2 Sig.
Zona Hambat Based on Mean 2.985 4 20 .044

Uji Kruskal Wallis


Kruskal-Wallis Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank
Zona Hambat Kontrol Positif 5 23.00
Kontrol Negatif 5 3.00
Konsentrasi 5% 5 8.00
Konsentrasi 10% 5 13.60
Konsentrasi 20% 5 17.40
Total 25

Test Statisticsa,b
Zona Hambat
Kruskal-Wallis H 22.844
Df 4
Asymp. Sig. .000
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Perlakuan
Uji Mann Whitney
Mann-Whitney Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 10% 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 20% 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 5% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .008
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000

Asymp. Sig. (2-tailed) .008


a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 10% 5 3.60 18.00
Konsentrasi 20% 5 7.40 37.00
Total 10
Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 3.000
Asymp. Sig. (2-tailed) .045
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Fraksi Air
Uji Normalitas
Tests of Normality
Kolmogorov-Smirnova Shapiro-Wilk
Perlakuan Statistic df Sig. Statistic df Sig.
Zona Hambat Kontrol Positif .203 5 .200* .947 5 .715
Kontrol Negatif . 5 . . 5 .
Konsentrasi 5% .314 5 .120 .751 5 .031
Konsentrasi 10% .262 5 .200* .876 5 .293
Konsentrasi 20% .283 5 .200* .781 5 .056
*. This is a lower bound of the true significance.
a. Lilliefors Significance Correction

Uji Kruskal Wallis

Kruskal-Wallis Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank
Zona Hambat Kontrol Positif 5 23.00
Kontrol Negatif 5 3.00
Konsentrasi 5% 5 9.30
Konsentrasi 10% 5 12.20
Konsentrasi 20% 5 17.50
Total 25

Test Statisticsa,b
Zona Hambat
Kruskal-Wallis H 21.855
Df 4
Asymp. Sig. .000
a. Kruskal Wallis Test
b. Grouping Variable: Perlakuan
Uji Mann Whitney
Mann-Whitney Test
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 10% 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Positif 5 8.00 40.00
Konsentrasi 20% 5 3.00 15.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 5% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 10% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Kontrol Negatif 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .005
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 3.00 15.00
Konsentrasi 20% 5 8.00 40.00
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U .000
Asymp. Sig. (2-tailed) .009
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.

Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 5% 5 4.30 21.50
Konsentrasi 10% 5 6.70 33.50
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 6.500
Asymp. Sig. (2-tailed) .207
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Ranks
Perlakuan N Mean Rank Sum of Ranks
Zona Hambat Konsentrasi 10% 5 3.50 17.50
Konsentrasi 20% 5 7.50 37.50
Total 10

Test Statisticsa
Zona Hambat
Mann-Whitney U 2.500
Asymp. Sig. (2-tailed) .036
a. Grouping Variable: Perlakuan
b. Not corrected for ties.
Lampiran 6. Hasil determinasi tanaman
Lampiran 7. Surat Izin Melakukan Penelitian
Lampiran 8. Surat Telah Melaksanakan Penelitian
Lampiran 9. Surat Keaslian Data Penelitian
Lampiran 10. Hasil Dokumentasi penelitian
Gambar Keterangan

Proses pengambilan sampel Daun bidara

arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)

Proses Pengeringan sampel Daun bidara


arab (Ziziphus spina christi (L.) Desf)

Soratasi kering sampel Daun bidara arab

(Ziziphus spina christi (L.) Desf)


Sampel Daun bidara arab (Ziziphus
spina christi (L.) Desf) yang telah
dihaluskan menggunakan blender

Maserasi sampel Daun bidara arab


(Ziziphus spina christi (L.) Desf) selama
3 kali 24 jam, menggunakan etanol 96%

Evaporasi sampel untuk memperoleh


ekstrak kental

Ekstrak kental yang diperoleh sebanyak


143,9 gram
Ditimbang ekstrak sebanyak 50 gram
difraksinasikan dengan pelarut n-
heksan, etil asetat dan air

Proses fraksinasi dengan pelarut n-

heksan

Proses fraksinasi dengan pelarut etil

asetat

Hasil proses fraksinasi air


Hasil fraksi n-heksan diperoleh

sebanyak 3,3 gram

Hasil fraksi etil asetat diperoleh


sebanyak 9 gram

Hasil fraksi air sebanyak 20,7 gram

Skirining fitokimia fraksi Air :

Pegujian alkaloid pereaksi dragendorff


Pegujian alkaloid pereaksi wagner

Pengujian flavonoid

Pengujian saponin

Pengujian Tanin
Pengujian steroid

Skrining fitokimia fraksi etil asetat :

Pengujian alkaloid pereaksi wagner

Pengujian alkaloid pereaksi dragendorff

Pengujian flavonoid
Pengujian tanin

Pengujian saponin

Pengujian triterpenoid

Skrining fitokimia fraksi n-heksan :

Pengujian alkaloid pereaksi wagner


Pengujian alkaloid pereaksi dragendorff

Pengujian flavonoid

Pengujian tanin

Pengujian saponin
Pengujian triterpenoid

Uji antibakteri: Disterilkan Alat-alat


menggunakan Oven pada suhu 180C
selama 2 jam

Media NA ditimbang untuk media


pembiakan bakteri P. acnes

Proses pembuatan media NA untuk


medium bakteri Propionibacterium Acne
Media NA disterilkan menggunakan
Autoklaf dengan suhu 120C selama 15
menit

Inkubasi pembiakan bakteri


Propionibacterium Acne

Pembuatan suspense bakteri


Propionibacterium Acne

Perbandingan suspensi P. acnes dengan


larutan Mc. Farland
Sampel fraksi n-heksan, etil asetat dan
air dengan masing-masing konsentrasi
5%, 10%, dan 20%

Proses pengujian antibakteri dengan


metode paper disk

Proses inkubasi selama 1 kali 24 jam


pada alat inkubator

Replikasi I, II, III fraksi n-heksan


Replikasi IV dan V fraksi n-heksan

Replikasi I, II, III fraksi etil asetat

Replikasi IV dan V fraksi etil asetat

Replikasi I, II, dan III fraksi air


Replikasi IV dan V fraksi air

Lampiran 11. Daftar Riwayat Hidup

DAFTAR RIWAYAT HIDUP


1. Nama : Risda
2. Tempat/Tanggal lahir : Toburi, 08 Desember 2001
3. Agama : Islam
4. Alamat : Desa Toburi, Kec. Poleang Utara, Kab. Bombana Sulawesi
Tenggara
5. No. Hp : 082348011675
6. Status : Mahasiswa
7. Pendidikan Formal
A. SD : SD Negeri 78 Toburi
B. SMP : SMP Negeri 20 Poleang Utara
C. SMA : SMA Negeri 10 Bombana
8. Nama Orang Tua
A. Ayah : Rahman
B. Ibu : Andi Riska Wati
9. Pekerjaan Orang Tua
A. Ayah : Petani
B. Ibu : IRT
10. Jumlah Bersaudara :3
11. Anak Ke :2
12.
13.
14.

Anda mungkin juga menyukai