7
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Uraian Teoritis
2.1.1. Kinerja Pegawai
[Link]. Pengertian Kinerja Pegawai
Adhari (2020:77) mengatakan bahwa kinerja karyawan adalah hasil
yang diproduksi oleh fungsi pekerjaan tertentu atau kegiatan – kegiatan
pada pekerjaan tertentu selama periode waktu tertentu, yang
memperlihatkan kualitas dan kuantitas dari pekerjaan tersebut. Rerung
(2019:54) mengatakan bahwa kinerja karyawan adalah perilaku yang
dihasilkan pada tugas yang dapat diamati dan dievaluasi, diamana kinerja
karyawan adalah kontribusi yang dibuat oleh seorang individu dalam
pencapaian tujugan organisasi. Mangkunegara (2014:9) mengemukakan
definisi kinerja karyawan adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seseorang karyawan dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.
Priansa (2014:270), menyatakan bahwa kinerja merupakan hasil yang
di produksi oleh fungsi pekerjaan tentu atau kegiatan - kegiatan pada
pekerjaan tertentu selama periode waktu tertentu. Menurut Bastian
(2010:2) menyatakan bahwa kinerja adalah gambaran mengenai tingkat
pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan / program / kebijaksanaan dalam
mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi yang tertuang dalam
7
8
perumusan skema strategis (strategic planning) suatu organisasi. Fahmi
(2012:2) menyebutkan kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu
organisasi baik organisasi tersebut bersifat profit oriented dan non profit
oriented yang dihasilkan selama satu periode waktu.
Dari beberapa pengertian diatas maka penulis menyimpulkan bahwa
kinerja merupakan kemampuan mencapai persyaratan-persyaratan
pekerjaan, yaitu ketika target kerja dapat diselesaikan pada waktu yang
tepat atau tidak melampui batas waktu yang disediakan sehingga tujuannya
akan sesuai dengan moral maupun etika perusahaan.
[Link]. Tujuan Penilaian Kinerja
Menurut Wibowo (2017:50), tingkatan tujuan kinerja antara lain :
1. Corporate level
Merupakan tingkatan dimana tujuan dihubungkan dengan maksud,
nilai-nilai dan rencana strategi dari organisasi secara menyeluruh
untuk dicapai.
2. Senior management level
Merupakan tingkatan dimana tujuan pada tingkat ini mendefinisikan
kontribusi yang diharapkan dari tingkat manajemen senior untuk
mencapai tujuan organisasi.
3. Business-unit, functional atau department level
Merupakan tingkatan dimana tujuan pada tingkatan ini dihubungkan
dengan tujuan organisasi, target, dan proyek yang harus diselesaikan
oleh unit bisnis, fungsi atau departemen.
9
4. Team level
Merupakan tingkatan dimana tujuan tingkat tim dihubungkan dengan
maksud dan akuntabilitas tim, dan kontribusi yang diharapkan dari
tim.
5. Individual level
Yaitu tingkatan dimana tujuan dihubungkan pada akuntabilitas pelaku,
hasil utama, atau tugas pokok yang mencerminkan pekerjaan
individual dan fokus pada hasil yang diharapkan untuk dicapai dan
kontribusinya pada kinerja tim, departemen atau organsasi
Sagala (2011:551) menyebutkan tujuan penilaian kinerja atau prestasi
kinerja karyawan pada dasarnya meliputi :
1. Untuk mengetahui tingkat prestasi karyawan selama ini.
2. Pemberian imbalan yang serasi, misalnya untuk pemberian kenaikan
gaji berkala, gaji pokok, kenaikan gaji istimewa, insentif uang.
3. Mendorong pertanggung jawaban dari karyawan.
4. Untuk pembeda antar karyawan yang satu dengan yang lain.
5. Pengembangan SDM yang masih dapat dibedakan lagi ke dalam
Penugasan kembali, seperti diadakannya mutasi atau transfer. Promosi,
kenaikan jabatan. Training atau latihan.
6. Meningkatkan motivasi kerja
7. Meningkatkan etos kerja
8. Memperkuat hubungan antara karyawan dengan supervisor melalui
diskusi tentang kemajuan kerja mereka.
10
9. Sebagai alat untuk memperoleh umpan balik dari karyawan untuk
memperbaiki desain pekerjaan, lingkungan kerja, dan rencana karier
selanjutnya.
10. Riset seleksi sebagai kriteria keberhasilan/efektivitas
11. Sebagai salah satu sumber informasi untuk perencanaan SDM, karier
dan keputusan perencanaan seleksi.
12. Membantu menempatkan karyawan dengan pekerjaan yang sesuai
untuk mencapai hasil yang baik secara menyeluruh.
13. Dengan gaji, upah, insentif, kompensasi dan berbagai imbalan lainnya
14. Sebagai penyaluran keluhan yang berkaitan dengan masalah pribadi
maupun pekerjaan.
15. sebagai alat untuk menjaga tingkat Sebagai sumber informasi untuk
pengambilan keputusan yang berkaitan kinerja
16. Sebagai alat untuk membantu dan mendorong karyawan untuk
mengambil inisiatif dalam rangka memperbaiki kinerja.
17. Untuk mengetahui efektivitas kebijakan SDM, seperti seleksi,
rekrutmen, pelatihan dan analisis pekerjaan sebagai komponen yang
saling ketergantungan dia antara fungsi-fungsi SDM.
18. Mengidentifikasikan dan menghilangkan hambatan-hambatan agar
kinerja menjadi baik.
19. Mengembangkan dan menetapkan kompensasi pekerjaan
20. Pemutusan hubungan kerja, pemberian sangat ataupun hadiah
11
[Link]. Manfaat Penilaian Kinerja
Menurut Sedarmayanti (2010:264) manfaat penilaian kinerja adalah
sebagai berikut :
1. Meningkatkan prestasi kerja
Dengan adanya penilaian, baik pimpinan maupun karyawan
memperoleh umpan balik dan mereka dapat memperbaiki
pekerjaan/prestasinya.
2. Memberi kesempatan kerja yang adil
Penilaian akurat dapat menjamin karyawan memperoleh kesempatan
menempati sisi pekerjaan sesuai kemampuanya.
3. Kebutuhan pelatihan dan pengembangan
Melalui penilaian kinerja, terdeteksi karyawan yang kemampuannya
rendah sehingga memungkinkan adanya program pelatihan untuk
meningkatkan kemampuan mereka.
4. Penyesuaian kompensasi
Melalui penilaian, pimpinan dapat mengambil keputusan dalam
menentukan perbaikan pemberian kompensasi, dan sebagainya.
5. Keputusan promosi dan emosi
Hasil penelitian kinerja dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan untuk mempromosikan atau mendemonstrasikan karyawan.
6. Mendiagnosis kesalahan desain pekerjaan
12
Kinerja yang buruk mungkin merupakan suatu tanda kesalahan dalam
desain pekerjaan. Penilaian kinerja dapat membantu mendiagnosis
kesalahan tersebut.
7. Menilai proses rekrutmen dan seleksi
Kinerja karyawan baru yang rendah dapat mencerminkan adanya
penyimpangan proses rekrutmen dan seleksi.
[Link]. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja
Mangkunegara (2009:18) menyebutkan faktor – faktor penentu kinerja
dalam organisasi atau perusahaan yaitu faktor individu dan faktor linkungan
kerja organisasi.
1. Faktor individu
Secara psikologis, individu yang normal adalah individu yang memiliki
integritas yang tinggi antara fungsi psikis (rohani) dan fisiknya
(jasmani). Dengan demikian adanya integritas yang tinggi antara fungsi
psikis dan fisik, maka individu memiliki konsentrasi diri yang baik.
2. Faktor lingkungan organisasi
Faktor lingkungan kerja organisasi sangat menunjang bagi individu
dalam mencapai prestasi kerja. Faktor lingkungan organisasi yang
dimaksud antara lain uraian jabatan yang jelas, autoritas memadai,
target kerja yang menantang, pola budaya organisasi kerja yang efektif,
hubungan kerja yang harmonis, iklim kerja respek dan dinamis, peluang
berkarier dan fasilitas kerja yang relatif memadai
13
[Link]. Indikator Kinerja Pegawai
Mangkunegara (2014:75) mengemukakan bahwa dimensi dan
indikator kinerja dapat diukur yaitu sebagai berikut :
1. Kualitas Kerja
Kualitas kerja adalah seberapa baik seseorang karyawan
mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan. Dimensi kualitas kerja
diukur dengan menggunakan tiga indikator, yaitu :
a. Kerapihan
b. Ketelitian
c. Hasil kerja
2. Kuantitas Kerja
Kuantitas kerja adalah seberapa lama seseorang karyawan dalam
satu harinya. Kuantitas kerja ini dapat dilihat dari kecepatan kerja
setiap karyawan itu masing-masing. Dimensi kuantitas kerja diukur
dengan dua indikator yaitu :
a. Kecepatan
b. Kemampuan
3. Tanggunng jawab
Tanggung jawab terhadap pekerjaan adalah kesadaran akan
kewajiban karyawan untuk melaksanakan pekerjaan yang diberikan
perusahaan. Dimensi tanggung jawab diukur dengan menggunakan
dua indikator, yaitu:
14
a. Hasil kerja
b. Mengammbil keputusan
4. Kerjasama
Kesediaan karyawan untuk berpartisipasi dengan karyawan atau
pegawai lain secara vertikal dan horizontal baik didalam maupun
diluar pekerjaan sehingga hasil pekerjaan semakin baik. Dimensi
kerja sama diukur dengan menggunakan dua indikator yaitu :
a. Jalinan kerjasama
b. Kekompakan
5. Inisiatif
Inisiatif dari dalam diri anggota perusahaan untuk melakukan
pekerjaan serta mengatasi masalah dalam pekerjaan tanpa menunggu
perintah dari atasan atau menunjukan tanggung jawab dalam
pekerjaan yang sudah menjadi kewajiban karyawan maupun
pegawai.
2.1.2. Sikap Kerja
[Link]. Pengertian Sikap Kerja
Robbins (2011) menjelaskan bahwa sikap kerja berisi evaluasi positif
atau negatif yang dimiliki oleh karyawan tentang aspek-aspek lingkungan
kerja mereka. Menurut Simamora (2018:258) sikap adalah ekspresi
perasaan (inner feeling), yang mencerminkan apakah seseorang bahagia
atau tidak bahagia, suka atau tidak suka, dan setuju atau tidak setuju
dengan suatu objek.
15
Fauzan (2018:45) menjelaskan sikap adalah pola sifat dan
karakteristik tertentu, yang relatif permanen dan memberikan, baik
konsistensimaupun individualitas, pada perilaku yang akan dilakukan dan
ditonjolkan seseorang. Kenneth (2011:129) menjelaskan bahwa sikap kerja
merupakan sikap seseorang terhadap pekerjaannya yang mencerminkan
pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkan dalam
pekerjaannya serta harapan-harapannya terhadap pengalaman masa depan.
Dapat disimpulkan bahwa sikap kerja merupakan pikiran dan perasaan
puas atau tidak puas, suka atau tidak suka terhadap pekerjaannya dengan
kecenderungan respon positif atau negatif untuk memperoleh hal yang
diinginkannya dalam pekerjaannya.
[Link]. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Sikap Kerja
Menurut Robbins dalam Fauzan (2018:46), Faktor-faktor yang
mempengaruhi Sikap terbagi menjadi emapt bagian yaitu :
1. Keturunan, menunjuk pada faktor-faktor yang ditentukan pada saat
pembuahan.
2. Lingkungan, faktor-faktor yang menggunakan tekanan dalam
pembentukan sikap kita dibesarkan.
3. Situasi, mempengaruhi dampak keturunan dan lingkungan terhadap
sikap yang akan digunakan.
4. Kebiasaan, mempengaruhi dampak dari sikap, karena jika apa yang
sering kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik itu berbentuk
16
positif ataupun negatif, pasti tentunya akan menjadi sikap seseorang
dalam menjalankan kehidupan sehari-hari.
Menurut Blum and Nylon (2011) menyatakan beberapa faktor yang
mempengaruhi sikap kerja antara lain:
1. Kondisi kerja, meliputi lingkungan fisik maupun sosial berpengaruh
terhadap kenyamanan dalam bekerja.
2. Pengawasan atasan, pengawasan dan perhatian yang baik dari atasan
dapat mempengaruhi sikap dan semangat kerja.
3. Kerja sama dari teman sekerja, adanya kerja sama dari teman sekerja
juga berpengaruh dengan kualitas dan prestasi dalam menyelesaikan
pekerjaan.
4. Kesempatan untuk maju, jaminan terhadap karir dan hari tua dapat
dijadikan salah satu motivasi dalam sikap kerja.
5. Keamanan, rasa aman dan lingkungan yang terjaga akan menjamin
dan menambah ketenangan dalam bekerja.
6. Fasilitas kerja, fasilitas kerja yang memadai berpengaruh terhadap
terciptanya sikap kerja yang positif.
7. Imbalan, rasa senang terhadap imbalan yang diberikan baik berupa
gaji pokok maupun tunjangan mempengaruhi sikap dalam
menyelesaikan pekerjaannya.
[Link] Model Sikap Kerja
Menurut Fauzan (2018:46) Beberapa model sikap terbagi menjadi
lima bagian yakni :
17
1. Conscientiousness yaitu dimensi yang menunjukkan tingkat kenangan
seseorang dan hubungan.
2. Extraversion yaitu sikap yang berhubungan dengan emosi dan
perasaan senang terhadap dirinya sendiri dan lingkungan di
sekitarnya, serta kenyamanan seseorang saat bekerja bersama orang
lain.
3. Neuroticism yaitu besarnya sensasi negatif seseorang.
4. Agreeableness atau keramahan adalah tingkat ketaatan norma
individu.
5. Openness to experience atau terbuka terhadap pengalaman yaitu
tingkat kedalaman minat seorang terhadap penegtahuan
[Link]. Indikator Sikap Kerja
Menurut Robbins (2017:614) membagi sikap menjadi tiga komponen
yang dijelaskan sebagai berikut:
1. Komponen Kognitif (Cognitive Component)
Komponen yang terdiri dari pengetahuan. Pengetahuan inilah yang
akan membentuk keyakinan dan pendapat tertentu tentang sikap.
2. Komponen Afektif (Affective Component)
Komponen yang berhubungan dengan perasaan senang atau tidak
senang, sehingga bersifat evaluative. Komponen ini erat hubungannya
dengan system nilai yang dianut pemilik sikap.
3. Komponen Perilaku (Behavioral Component)
18
Komponen sikap yang berupa kesiapan seseorang untuk berperilaku
yang berhubungan dengan objek sikap
2.1.3. Disiplin Kerja
[Link]. Pengertian Disiplin Kerja
Menurut Rivai (2011:825) disiplin kerja adalah suatu alat yang
dipergunakan para manajer untuk berbudaya organisasi dengan karyawan
agar mereka bersedia untuk mengubah suatu perilaku serta sebagai suatu
upaya untuk meningkatkan kesadaran dan kesedian seorang dalam
memenuhi segala peraturan perusahaan. Menurut Hasibuan (2010:193)
kedisiplinan adalah kesadaran dan kesediaan seseorang mentaati semua
peraturan perusahaan dan norma-norma sosial yang berlaku. Sedangkan
kesadaran adalah sikap seseorang yang secara sukarela mentaati semua
peraturan dan sadar akan tugas dan tanggungjawabnya.
Lebih lanjut Sutrisno (2016:89) disiplin pegawai adalah perilaku
seseorang yang sesuai dengan peraturan, prosedur kerja yang ada atau
disiplin adalah sikap, tingkah laku, dan perbuatan yang sesuai dengan
peraturan dari organisasi baik tertulis maupun tidak tertulis.
Dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa disiplin
kerja merupakan perilaku seseorang dalam mentaati peraturan dan prosedur
kerja sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh organisasi baik tertulis
maupun tidak tertulis agar tiap pekerjan dapat berjalan dengan lancar dan
karyawan dapat mencapai prstasi kerja yang lebih baik.
19
[Link]. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Disiplin Kerja
Sutrisno (2016:89) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi
disiplin kerja adalah :
1. Besar kecilnya pemberian kompensasi
Para karyawan akan mematuhi segala peraturan yang berlaku, bila ia
merasa mendapat jaminan balas jasa yang setimpal dengan jerih
payahnya yang telah dikontribusikan bagi perusahaan.
2. Ada tidaknya keteladanan pimpinan dalam perusahaan
Keteladanan pimpinan sangat penting sekali, karena dalam lingkungan
perusahaan, semua karyawan akan selalu memperhatikan bangaimana
pimpinan dapat menegakkan disiplin dirinya dan bagaimana ia dapat
menggendalikan dirinya dari ucapkan, perbuatan, dan sikap yang dapat
merugikan aturan disiplin yang telah ditetapkan.
3. Ada tidaknya aturan pasti yang dapat dijadikan pegangan
Pembinaan disiplin tidak akan dapat terlaksana dalam perusahaan, bila
tidak ada aturan tertulis yang pasti untuk dapat dijadikan pegangan
bersama.
4. Keberanian pimpinan dalam mengambil tindakan
Dengan adanya tindakan terhadap pelanggaran disiplin, sesuai dengan
sangsi yang ada, maka semua karyawan akan merasa terlindungi, dan
dalam hatinya berjanji tidak akan berbuat hal yang serupa.
20
5. Ada tidaknya pengawasan pemimpin
Dalam setiap kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan perlu ada
pengawasan, yang akan mengarahkan karyawan agar dapat
melaksanakan pekerjaan dengan tepat dan sesuai dengan yang telah
ditetapkan.
6. Ada tidaknya perhatian kepada para karyawan
Karyawan adalah manusia yang mempunyai perbedaan karakter antara
satu dengan yang lain. Seorang karyawan tidak hanya puas dengan
penerimaan kompensasi yang tinggi, pekerjaan yang menantang, tetapi
juga mereka masih membutuhkan perhatian yang besar dari
pimpinannya sendiri.
7. Diciptakan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung tegaknya disiplin.
Kebiasaan-kebiasaan positif itu antara lain:
1) Saling menghormati, bila bertemu dilingkungan pekerjaa
2) Melontarkan pujian sesuai dengan tempat dan waktunya, sehingga
para karyawan akan turut merasa bangga dengan pujian tersebut.
3) Sering mengikutsertakan karyawan dalam pertemuan-pertemuan,
apalagi pertemuan yang berkaitan dengan nasib dan pekerjaan
mereka.
4) Memberi tahu bila ingin meninggalkan tempat kepeda rekan
sekerja, dengan menginformasikan, ke mana dan untuk urusan apa,
walaupun kepada bawahan sekalipun.
21
[Link]. Jenis – Jenis Disiplin Kerja
Menurut Sinambela (2012:239) terdapat dua jenis disiplin kerja, yaitu
disiplin preventif dan disiplin korektif.
1. Disiplin preventif
Adalah suatu upaya untuk menggerakkan pegawai untuk mengikuti dan
mematuhi pedoman dan aturan kerja yang ditetapkan oleh organisasi.
Dalam hal ini disiplin preventif bertujuan untuk menggerakkan dan
mengarahkan agar pegawai bekerja berdisiplin. Cara preventif
dimaksudkan agar pegawai dapat memelihara dirinya terhadap
peraturan-peraturan organisasi. Pimpinan organisasi bertanggungjawab
untuk membangun iklim organisasi yang mengarah pada penerapan
disiplin yang preventif. Di sisi lain para pegawai juga wajib
mengetahui, memahami dan melaksanakan semua pedoman, peraturan
bahkan Standar Operasi Prosedur yang ditetapkan dalam organisasi.
Oleh karenanya disiplin preventif merupakan suatu sistem yang
berhubungan dengan kebutuhan kerja untuk semua bagian sistem yang
ada dalam organisasi. Jika sistem dalam organisasi baik, akan lebih
mudah menegakkan disiplin kerja.
2. Disiplin korektif
Adalah suatu upaya penggerakkan pegawai dalam menyatukan suatu
peraturan dan mengarahkannya agar tetap mematuhi berbagai peraturan
sesuai dengan pedoman yang berlaku pada organisasi. Dalam disiplin
korektif, pegawai yang melanggar disiplin akan diberikan sanksi yang
22
bertujuan agar pegawai tersebut dapat memperbaiki diri dan mematuhi
aturan yang ditetapkan.
[Link]. Indikator Disiplin Kerja
Hasibuan (2010:194) menyebutkan indikator yang mempengaruhi
tingkat kedisiplinan karyawan suatu organisasi, diantaranya:
1. Tujuan dan Kemampuan
Tujuan dan kemampuan ikut mempengaruhi tingkat kedisiplinan
karyawan. Tujuan yang akan dicapai harus jelas dan ditetapkan secara
ideal serta cukup menantang bagi kemampuan karyawan. Hal ini berarti
bahwa tujuan (pekerjaan) yang dibebankan, agar dia bekerja sungguh-
sungguh dan disiplin dalam mengerjakannya. Akan tetapi, jika
pekerjaan itu diluar kemampuannya atau jauh dibawah kemampuannya
maka kesungguhan dan kedisiplinan karyawan rendah.
2. Teladan Pimpinan
Teladan Pimpinan sangat berperan dalam menentukan kedisiplinan
karyawan karena pimpinan dijadikan teladan dan panutan oleh para
bawahannya. Pimpinan harus memberi contoh yang baik, berdisiplin
baik, jujur, adil, serta sesuai kata dengan perbuatan. Dengan teladan
pimpinan yang baik, kedisiplinan bawahanpun akan ikut baik. Jika
teladan pimpinan kurang baik (kurang berdisiplin), para bawahan pun
akan kurang disiplin.
23
3. Balas Jasa
Balas jasa (gaji dan kesejahteraan) ikut memperngaruhi kedisiplinan
karyawan karena balas jasa akan memberikan kepuasan dan kecitaan
karyawan terhadap perusahaan/pekerjaannya. Jika kecintaan karyawan
semakin baik terhadap pekerjaan, maka kedisiplinan mereka akan
semakin baik pula.
4. Keadilan
Keadilan yang dijadikan dasar kebijaksanaan dalam pemberian balas
jasa (pengakuan) atau hukuman akan merangsang terciptanya
kedisiplinan karyawan yang baik. Manajer/pimpinan yang cakap dalam
memimpin selalu berusaha bersikap adil terhadap semua bawahannya.
Dengan keadilan yang baik akan menciptakan kedisiplinan yang baik
pula. Jadi, keadilan harus diterapkan dengan baik pada setiap
perusahaan supaya kedisiplinan karyawan perusahaan baik pula.
5. Waskat
Waskat (pengawasan melekat) adalah tindakan nyata dan paling efektif
dalam mewujudkan kedisiplinan karyawan perusahaan. Dengan waskat
berarti atasan harus aktif dan langsung mengawasi perilaku, moral,
sikap, gairah kerja, dan prestasi kerja bawahannya. Hal ini berarti
atasan harus selalu ada/hadir di tempat kerja agar dapat mengawasi dan
memberikan petunjuk, jika ada bawahannya yang mengalami kesulitan
dalam menyelesaikan pekerjaannya. Waskat adalah tindakan nyata dan
efektif untuk mencegah/mengetahui kesalahan, membetulkan
24
kesalahan, memelihara kedisiplinan, meningkatkan prestasi kerja,
mengaktifkan peranan atasan dan bawahan, menggali sistemsistem
kerja yang paling efektif, serta menciptakan sistem internal kontrol
yang terbaik dalam mendukung terwujudnya tujuan perusahaan,
karyawan, dan masayarakat.
6. Sanksi Hukuman
Sanksi hukuman berperan penting dalam memelihara kedisiplinan
karyawan. Dengan sanksi hukuman yang semakin berat, karyawan akan
semakin takut melanggar peraturan-peraturan perusahaan, sikap, dan
perilaku indisipliner karyawan akan berkurang. Sanksi hukuman harus
ditetapkan berdasarkan pertimbangan logis, masuk akal, dan
diinformasikan secara jelas kepada semua karyawan. Sanksi hukuman
seharusnya tidak terlalu ringan atau tidak terlalu berat supaya hukuman
itu tetap mendidik karyawan untuk mengubah perilakunya. Sanksi
hukuman hendaknya cukup wajar untuk setiap tingkatan indisipliner,
bersifat mendidik, dan menjadi alat motivasi untuk memelihara
kedisiplinan dalam perusahaan.
7. Ketegasan
Ketegasan pimpinan menegur dan menghukum setiap karyawan yang
indisipliner akan mewujudkan kedisiplinan yang baik pada perusahaan
tersebut. Pimpinan harus berani dan tegas bertidak untuk menghukum
setiap karyawan yang indisipliner sesuai dengan sanksi hukuman yang
telah ditetapkan. Dengan demikian, pimpinan akan dapat memelihara
25
kedisiplinan karyawan perusahaan. Sebaliknya, jika pimpinan kurang
tegas atau tidak menghukum karyawan yang indisipliner, sulit baginya
untuk memelihara kedisiplinan karyawannya, bahkan sikap indisipliner
karyawan semakin banyak karena mereka beranggapan bahwa
peraturan dan sanksi hukumannya tidak berlaku lagi.
8. Hubungan Kemanusiaan
Hubungan kemanusiaan yang harmonis di antara sesama karyawan ikut
menciptakan kedisiplinan yang baik pada suatu perusahaan. Manajer
harus berusaha menciptakan suasana hubungan kemanusiaan yang
serasi serta mengikat, vertical maupun horizontal di antara semua
karyawannya. Terciptanya hubungan kemanusiaan yang serasi akan
mewujudkan lingkungan dan suasana kerja yang nyaman. Hal ini akan
memotivasi kedisiplinan yang baik pada perusahaan. Jadi, kedisiplinan
karyawan akan tercipta apabila hubungan kemanusiaan dalam
organisasi tersebut baik.
2.1.4. Kompetensi
[Link]. Pengertian Kompetensi
Moeheriono (2012:5) mendefenisikan kompetensi adalah sebagai
karakteristik yang mendasari seseorang berkaitan dengan efektivitas kinerja
individu dalam pekerjaannya atau karakteristik dasar individu yang memiliki
hubungan kausal atau sebagai sebab-akibat dengan kriteria yang dijadikan
acuan, efektif atau berkinerja prima atau superior ditempat kerja atau pada
situasi tertentu. Lebih lanjut Sedarmayanti (2011:126) mengemukakan
26
bahwa kompetensi adalah karakteristik mendasar yang dimiliki seseorang
yang berpengaruh langsung terhadap kinerja, atau dapat memprediksikan
kinerja yang sangat baik.
Menurut Kandula (2012:3) kompetensi adalah karakteristik yang
mendasari individu yang berkaitan dengan hubungan kausal atau sebab-
akibat pelaksanaan yang efektif dan/ atau unggul dalam pekerjaan atau
keadaan. Wibowo (2007:86) menyebutkan kompetensi adalah suatu
kemampuan untuk melaksanakan atau melakukan suatu pekerjaan atau tugas
yang dilandasi atas keterampilan dan pengetahuan serta didukung oleh sikap
kerja yang dituntut oleh pekerjaan tersebut.
Dari definisi yang disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa
kompetensi adalah karakteristik individu yang mencakup pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang menghasilkan pekerjaan efektif untuk
mencapai tujuan organisasi.
[Link]. Tujuan Kompetensi
Moeheriono (2012:54) menjelaskan kompetensi memberikan beberapa
manfaat kepada karyawan dan organisasi. Manfaat-manfaat tersebut, yaitu:
a. Karyawan
Manfaat-manfaat kompetensi bagi karyawan, yaitu:
1) Kejelasan relevansi proses pembelajaran sebagai pemegang jabatan
agar mampu untuk mentransfer keterampilan, nilai, kualifikasi dan
potensi pengembangan karir.
27
2) Adanya kesempatan bagi karyawan untuk mendapatkan program
peningkatan kompetensi melalui program-program pengembangan
karyawan yang disusun oleh perusahaan.
3) Penempatan sasaran sebagai sarana pengembangan karir
4) Kompetensi yang ada sekarang dan manfaatnya akan dapat
memberikan nilai tambah pada pembelajaran dan pengembangan
karyawan itu sendiri.
5) Pilihan perubahan karir yang lebih jelas. Untuk berubah pada
jabatan baru, karyawan dapat membandingkan kompetensinya
dengan persyaratan kompetensi pada jabatan yang baru.
Kompetensi baru yang dibutuhkan mungkin hanya berbeda 10%
dari yang telah dimilikinya.
6) Penilaian kinerja yang lebih objektif dan umpan balik berbasis
standar kompetensi yang ditentukan dengan jelas.
7) Meningkatkan keterampilan dan market ability sebagai karyawan.
b. Organisasi
Manfaat-manfaat kompetensi bagi organisasi, yaitu:
1) Pemetaan yang akurat dan objektif mengenai kompetensi tenaga
kerja yang dibutuhkan.
2) Meningkatkan efektivitas rekruitmen dengan cara menyesuaikan
kompetensi yang diperlukan dalam pekerjaan dengan yang dimiliki
pelamar kerja.
28
3) Pendidikan dan pelatihan difokuskan pada kesenjangan
keterampilan dan persyaratan keterampilan perusahaan yang lebih
khusus.
4) Akses pada pendidikan dan pelatihan yang lebih efektif dari segi
biaya berbasis kebutuhan industri dan identifikasi penyedia
pendidikan dan pelatihan internal dan eksternal berbasis
kompetensi yang diketahui.
5) Pengambil keputusan dalam organisasi akan lebih percaya diri
karena karyawan telah memiliki keterampilan yang akan diperoleh
dalam pendidikan dan pelatihan.
6) Penilaian pada pembelajaran sebelumnya dan penilaian hasil
pendidikan serta pelatihan akan lebih reliable dan konsisten.
7) Mempermudah terjadinya perubahan melalui identifikasi
kompetensi yang diperlukan untuk mengelola perubahan.
[Link]. Elemen Kompetensi
Kandula (2013:6) elemen kompetensi diklasifikasikan menjadi dua
jenis yaitu pengetahuan dan keterampilan (knowledge dan skills) dan
kompetensi perilaku/atribut personal (behavioural competencies/personal
attributes).
1. Pengetahuan (Knowledge)
Merujuk kepada penyimpanan pengetahuan. Contohnya seperti
seberapa informative seorang sekretaris mengenai kebijakan organisasi,
perpajakan, dan sebagainya.
29
2. Keterampilan (Skills)
Merujuk pada kapabilitas pengaplikasian yang terdiri dari serangkaian
tindakan. Kemampuan mendemonstrasikan, memengaruhi, serta
mengendalikan suatu proses dalam mencapai sebuah tujuan.
3. Motif (Motives)
Motif adalah perhatian terus – menerus akan sebuah hasil atau kondisi
yang mendorong, mengarahkan, dan menentukan perilaku individu.
Dalam konteks kompetensi motif menggambarkan kebutuhan akan
pencapaian. Keinginan untuk melampaui kinerja dan standar normal
serta memaksimumkan potensi diri secara terus menerus.
4. Sifat (Traits)
Sifat bersifat unik bagi setiap individu. Sifat merupakan perilaku yang
selalu mirip atau sama yang ditunjukkan oleh individu dalam berbagai
situasi yang berbeda. Contohnya, seorang individu yang cenderung
menyerahkan pencapaian tujuan kepada faktor keberuntungan daripada
melalui usaha sendiri merupakan bentuk perwujudan dari sebuah sifat.
5. Citra Diri (Self-Image)
Citra diri adalah istilah yang menggambarkan opini/pemahaman
kepercayaan seseorang akan dirinya sendiri. Citra diri juga
melambangkan nilai-nilai yang dianut oleh individu.
[Link]. Pengelolaan Kompetensi
Adapun yang harus dilakukan dalam mengelola kompetensi menurut
Moeheriono (2014:292) adalah:
30
1. Merencanakan kompetensi
Pada tahap ini, organisasi harus berpijak pada visi dan misi instansi
yang kemudian diterjemahkan kedalam strategi fungsional yang ada.
Maksudnya visi dan misi ini diterjemahkan kedalam strategi
pengelolaan SDM-nya yang kemudian diterjemahkan menjadi tuntutan
kompetensi SDM yang harus dipenuhi.
2. Pengorganisasian kompetensi
Setelah pemetaan kompetensi diketahui, organisasi harus melakukan
pengelompokkan atas kompetensi tersebut. Pengelompokkan dilakukan
melalui penentuan bidang-bidang kompetensi inti yang merupakan
tonggak organisasi, maupun bidang kompetensi pendukung.
3. Mengembangkan kompetensi
Upaya ini dilakukan dengan melakukan penelitian terhadap kompetensi
yang saat ini telah dimiliki oleh SDM yang ada, kemudian
dibandingkan dengan pemetaan kompetensi yang telah dibuat sehingga
dapat diketahui kesenjangan/ketidakseimbangan antara kompetensi
yang seharusnya dimiliki dengan yang diharapkan. Berangkat dari
kondisi ini, selanjutnya organisasi melakukan berbagai upaya
pembangunan dan pengembangan kompetensi SDM sehingga peta
kompetensi tadi dapat terisi dengan baik.
4. Melakukan evaluasi terhadap kompetensi yang sudah dibangun dan
dikembangkan untuk mengetahui sejauh mana upaya yang telah
dilakukan telah mencapai peta kompetensi yang telah disusun. Upaya
31
evaluasi harus senantiasa memperhatikan perkembangan situasi yang
ada, sehingga apabila diperlukan, organisasi harus juga melakukan
berbagai penyesuaian baik terhadap peta kompetensi maupun program
pembangunan kompetensinya.
[Link]. Indikator Kompetensi
Wibowo (2012:324) mengemukakan terdapat tiga indikator kompetensi,
yaitu kemampuan, pengetahuan, dan sikap kerja. Ketiga indikator tersebut
dijabarkan oleh para ahli secara lebih jelas, yaitu sebagai berikut:
1. Kemampuan
kemampuan adalah karakteristik yang menonjol dari seorang individu
yang berhubungan dengan kinerja efektif dan superior dalam suatu
pekerjaan atau situasi.
2. Pengetahuan
Pengetahuan adalah semakin tinggi pendidikan seseorang, maka makin
mudah orang tersebut menerima informasi. Pengetahuan mempunyai 6
tingkatan yaitu:
a. Tahu, diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah
dipelajari sebelumnya.
b. Memahami, diartikan sebagai suatu kemampuan untuk
menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat
menginterprestasikan materi tersebut secara benar.
c. Aplikasi, diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari kepada situasi atau kondisi real sebenarnya.
32
d. Analisis, adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih didalam
suatu struktur organisasi dan masih ada kaitannya dengan satu
sama lain.
e. Sintesis, yaitu menunjuk kepada suatu kemampuan untuk
meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu
bentuk keseluruhan yang baru.
f. Evaluasi, yaitu berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap materi atau objek.
3. Sikap
Sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan (afeksi),
pemikiran (kognitif), dan predisposisi tindakan (konasi) seseorang
terhadap suatu aspek di lingkungan sekitarnya
2.2. Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
No Nama Judul Hasil
Peneliti
1 Agung Pengaruh Budaya organisasi Terdapat pengaruh budaya
(2015) Organisasi Terhadap Kinerja organisasi organisasi terhadap
Karyawan di Desa kinerja karyawan
Langenharjo Kecamatan
Grogol Kabupaten Sukoharjo
2 Arda Pengaruh Kepuasan Kerja Kepuasan kerja berpengaruh positif
(2017) dan Disiplin Kerja Terhadap dan signifikan terhadap kinerja
Kinerja Karyawan Pada Bank karyawan, disiplin kerja berpengaruh
Rakyat Indonesia Cabang positif dan signifikan terhadap
Putri Hijau Medan kinerja karyawan
3 Sutanto Pengaruh motivasi kerja dan Hasil penelitian ini menunjukkan
(2017) loyalitas karyawan terhadap bahwa motivasi kerja dan loyalitas
33
kinerja karyawan di cv karyawan secara parsial maupun
Hartono Flash Surabaya secara simultan memiliki pengaruh
positif dan signifikan terhadap
kinerja karyawan di CV Hartono
Flash Surabaya
4 Pradana Analisis pengaruh kepuasan Berdasarkan hasil uji t dan analisis
(2015) kerja, semangat kerja dan regresi linier berganda menunjukkan
lingkungan kerja non fisik bahwa kepuasan kerja, semangat
terhadap kinerja karyawan kerja, dan lingkungan kerja non fisik
(studi pada Bank Indonesia berpengaruh positif dan signifikan
Kota Semarang) berpengaruh terhadap kinerja
karyawan.
5 Hikmah, Pengaruh signifikan budaya Terdapat pengaruh signifikan budaya
(2015) organisasi organisasi terhadap organisasi organisasi terhadap
kinerja organisasi Badan kinerja organisasi Badan Pendidikan
Pendidikan Dan Pelatihan in Dan Pelatihan in Makassar City
Makassar City
Sumber : Agung (2015), Arda (2017), Hikmah (2015), Pradana (2015),
Sutanto (2017)
2.3. Kerangka Konseptual
Dalam kerangka berpikir, akan dijelaskan bagaimana suatu variabel
memiliki hubungan antara variabel yang akan diteliti. Diantaranya yaitu,
variabel sikap kerja, disiplin kerja dan kompetensi dan kinerja. Maka
kerangka berfikir menjelaskan bagaimana hubungan kedua variabel
(dependen dan independen) tersebut disertai teori-teori yang mendukung.
Pengaruh sikap kerja, disiplin kerja dan kompetensi terhadap kinerja
pegawai pada Kantor Camat Medan Maimun dapat digambarkan dalam
kerangka pemikiran di bawah ini :
34
Sikap Kerja
(X1)
H1
Disiplin Kerja (X2) Kinerja Pegawai
H2 (Y)
Kompetensi
H3
(X3)
H4
Gambar 2.1
Kerangka Konsep
Dalam kerangka konsep ini perlu dijelaskan secara teoritis antara
variabel independen dan variabel dependen. Menurut Nursalam (2017)
kerangka konsep penelitian merupakan abstraksi dari suatu realitas sihingga
dapat dibudaya organisasikan dan membentuk teori yang menjelaskan
keterkaitan atara variabel yang diteliti.
Dengan demikian maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah
kinerja pegawai Kantor Camat Medan Maimun sebagai variabel dependen
yang dipengaruhi disiplin kerja, budaya organisasi dan semangat kerja
sebagai variabel independen.
Jika sikap kerja di Kantor Camat Medan Maimun baik/tinggi yang
ditunjukkan dengan pikiran dan perasaan puas atau tidak puas, suka atau
tidak suka terhadap pekerjaannya dengan kecenderungan respon positif atau
35
negatif untuk memperoleh hal yang diinginkannya dalam pekerjaannya dan
hal tersebut akan membuat kinerja pegawai meningkat.
Jika disiplin kerja di Kantor Camat Medan Maimun baik/tinggi, yang
ditunjukkan dengan perilaku seseorang dalam mentaati peraturan dan
prosedur kerja sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh organisasi baik
tertulis maupun tidak tertulis agar tiap pekerjan dapat berjalan dengan lancar
dan karyawan dapat mencapai prstasi kerja yang lebih baikdan hal tersebut
akan meningkatkan kinerja pegawai di Kantor Camat Medan Maimun.
Jika kompetensi Kantor Camat Medan Maimun baik/tinggi yang
ditunjukkan dari karakteristik individu yang mencakup pengetahuan,
keterampilan, dan perilaku yang menghasilkan pekerjaan efektif untuk
mencapai tujuan organisasi maka akan membuat kinerja pegawai meningkat.
2.4. Hipotesis Penelitian
Pengertian hipotesis menurut (Sugiyono, 2018) adalah jawaban sementara
terhadap rumusan penelitian di mana rumusan penelitian telah dinyatakan
dalambentuk kalimat pertanyataan. Hipotesis merupakan dugaan sementara
yang mungkin bener dan mungkin salah sehingga dapat dianggap sebagai
kesimpulan yang sifat sementar, sedangkan penolakan atau penerimaan
suatu hipotesis tersebut tergantung dari hasil penelitian terhadap faktor-
faktor yang dikumpulkan, kemudian dambil suatu kesimpulan. Hipotesis
dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
36
H1 : Sikap kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada
Kantor Camat Medan Maimun.
H2 : Disiplin kerja berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai
pada Kantor Camat Medan Maimun.
H3 : Kompetensi berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada
Kantor Camat Medan Maimun.
H4 : Sikap kerja, disiplin kerja dan kompetensi secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap kinerja pegawai pada Kantor
Camat Medan Maimun.