0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan57 halaman

Memahami Persamaan Diferensial Parsial

Teks tersebut membahas tentang persamaan diferensial parsial (PDP). PDP adalah persamaan yang menghubungkan variabel bebas, variabel tak bebas, dan turunan parsialnya. Metode penyelesaian PDP yang dijelaskan adalah menggunakan garis karakteristik dan transformasi koordinat. Garis karakteristik memberikan hubungan antara variabel bebas sehingga nilai fungsi tak bebas bernilai konstan di sepanjang garis tersebut.

Diunggah oleh

andry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
75 tayangan57 halaman

Memahami Persamaan Diferensial Parsial

Teks tersebut membahas tentang persamaan diferensial parsial (PDP). PDP adalah persamaan yang menghubungkan variabel bebas, variabel tak bebas, dan turunan parsialnya. Metode penyelesaian PDP yang dijelaskan adalah menggunakan garis karakteristik dan transformasi koordinat. Garis karakteristik memberikan hubungan antara variabel bebas sehingga nilai fungsi tak bebas bernilai konstan di sepanjang garis tersebut.

Diunggah oleh

andry
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

L.H.

Wiryanto 1

BAB I
Pendahuluan

Persamaan diferensial parsial (PDP):


Suatu bentuk persamaan yang menghubungkan antara variabel bebas, tak bebas dan
beberapa turunan parsialnya.

• Bentuk:
F (x, y, u(x, y), ux, uy ) = 0

sebagai persamaan diferensial parsial orde satu dalam dua variabel. u(x, y)
merupakan fungsi yang tidak diketahui, dalam variabel x dan y. ux dan uy
sebagai turunan u terhadap x dan turunan terhadap y.

F (x, y, u, ux, uy , uxx , uxy , uyy ) = 0

sebagai persamaan diferensial parsial orde dua, dalam dua variabel.

u(x, y) yang memenuhi persamaan di atas disebut solusi atau jawab persamaan
diferensial.

• Pengertian linear pada persamaan diferensial adalah linear terhadap variabel


tak bebas dan turunannya.
Contoh:
xux + 3yuy = 6u − xy

u, ux dan uy pada persamaan diferensial di atas berpangkat satu dan tidak ada
perkalian diantaranya.

• Homogen/tak homogen: persamaan memuat suku-suku yang hanya merupakan


variabel bebas.
Contoh sebelum ini merupakan persmaan diferensial tak homogen karena ada
suku yang memuat variabel bebas, yaitu xy. Bila suku tersebut dihilangkan,
yaitu xux + 3yuy = 6u, persamaan diferensial menjadi homogen.
2 PDP

• Keuntungan dari sifat linear:

– Jika u dan v dua solusi dari persamaan diferensial maka kombinasi lin-
earnya w = αu + βv, α dan β konstan, juga solusi.

– Jika solusi dari persamaan diferensial tak homogen ditambah solusi solusi
homogen maka akan diperoleh solusi tak homogen.

Beberapa persamaan diferensial parsial sederhana

1. Tentukan semua jawab u(x, y) yang memenuhi uxx = 0.

• integralkan sekali terhadap x diperoleh fungsi sembarang dari y, yaitu


ux = f (y)

• integralkan lagi terhadap x diperoleh u(x, y) = f (y)x + g(y), dengan g


fungsi sebarang akibat pengintegralan pada tahap ini.

Dalam hal u = u(x), satu variabel dan persamaan menjadi persamaan diferen-
sial biasa (PDB), solusi berbentuk u(x) = ax + b dengan a dan b konstanta.
Perhatikan perbedaan dan kesamaan dari dua solusi u.

2. Tentukan solusi uxx + u = 0

• Dalam peninjauan PDB (satu variabel) solusi berbentuk u(x) = a cos x +


b sin x

• Dalam dua variabel (PDP) solusi berbentuk

u(x, y) = f (y) cos x + g(y) sin x

(Periksa apakah solusi ini memenuhi persamaan di atas, bagaimana men-


dapatkannya?)

3. Tentukan solusi uxy = 0

• Integralkan terhadap x: uy (x, y) = f (y), f fungsi sebarang.

• Integralkan terhadap y: u(x, y) = F (y) + g(x), dengan F ′ (y) = f (y).


L.H. Wiryanto 3

Persamaan diferensial linear orde satu


Perhatikan persamaan
aux + buy = 0 (1)

dengan a dan b konstan yang tidak nol bersama-sama.

• Terkait dengan turunan berarah. Jika kita mempunyai fungsi w(x, y), turunan
berarah w dalam arah s̄ = (a, b) dengan |s̄| = 1 adalah
!
∂w ∂w ∂w ∂w ∂w
= ∇w · s̄ = , · (a, b) = a +b
∂s̄ ∂x ∂y ∂x ∂y

Turunan berarah ini merupakan bilangan yang digunakan untuk menyatakan


kemiringan permukaan w(x, y), pada satu titik, bila dipotong oleh bidang tegak
melalui s̄.

• Bila kita bandingkan turunan berarah dari w dengan persaman diferensial di


atas, haruslah turunan berarah bernilai nol. Jadi u(x, y) bernilai konstan dalam
arah s̄ = (a, b), juga kelipatannya. Sedangkan persamaan diferensial berlaku
pada bidang x−y, jadi sepanjang garis yang lain, yang sejajar dengan s̄, berlaku
pula u(x, y) = konstan, dengan konstan yang berbeda. Garis yang berpadanan
dengan konstan tersebut berbentuk bx − ay = konstan, yang disebut garis
karakteristik.

• Persamaan garis karakteristik diperoleh dari hubungan dy/dx = b/a, kemiringan


garis sama dengan kemiringan vektor arah.

• Secara geometri: untuk setiap titik (x, y) pada garis bx − ay = k dengan suatu
k, memberikan u(x, y) = uk , untuk k yang lain akan memberikan nilai u yang
lain pula. Oleh karena itu, solusinya u(x, y) = f (bx−ay) bergantung pada satu
bentuk bx − ay, dengan f fungsi sebarang.

Untuk lebih memahami metoda di atas, berikut ini diberikan contoh menyelesaikan
persamaan diferensial.

1. Selesaikan persamaan 4ux − 3uy = 0.


4 PDP

• Sesuai bentuk (1), a = 4, b = −3. Garis karakteristik −3x − 4y = konstan


dan solusi u(x, y) = f (−3x − 4y).

• Bila persamaan disertai syarat u(0, y) = y 3, kita tentukan f dengan menuliskan


z = −4y sehingga

u(0, y) = f (−4y) = y 3 ⇒ f (z) = (−z/4)3

Jadi u(x, y) = −(−3x − 4y)3/64.

• Periksa kebenaran solusi, dengan mensubstitusikan turunan

ux = 9(3x + 4y)2/64, uy = 12(3x + 4y)2/64

pada persamaan yang menghasilkan

4ux − 3uy = 0

Persamaan dipenuhi. Sedangkan syarat yang ada


1
u(0, y) = (3 · 0 + 4y)3 = y 3
64
juga dipenuhi.

2. Selesaikan persamaan ux + 6uy = 0 dengan syarat u(x, 1) = 0.5 sin(6x + 3),


kemudian hitung u(x, y) sepanjang satu garis karakteristik.

• Dari a = 1, b = 6 diperoleh garis karakteristik 6x − y = konstan

• Solusi u(x, y) = f (6x − y) untuk sebarang fungsi f

• f ditentukan dari u(x, 1) = f (6x−1) = 0.5 sin(6x+3), dengan memisalkan


z = 6x − 1 ⇔ x = (z + 1)/6 sehingga f (z) = 0.5 sin(z + 4). Jadi u(x, y) =
0.5 sin(6x − y + 4).

• Tinjau garis karakteristik y = 6x (dipilih konstan=0), maka u(x, y =


6x) = 0.5 sin(6x − 6x + 4) = 0.5 sin 4 = −0.3784, bernilai konstan. Nilai
solusi sepanjang garis karakteristik y = 6x − π/4
1√
u(x, y = 6x+4−π/4) = 0.5 sin(6x−6x−4+π/4+4) = 0.5 sin(π/4) = 2
4
L.H. Wiryanto 5

• Pada Gambar 1 ditampilkan plot dari beberapa bidang yang melalui garis
karakteristik dan memotong permukaan u(x, y). Tampak perpotongannya
mempunyai ketinggian yang sama pada setiap bidang.

Gambar 1: Plot dari solusi u(x, y) dan bidang yang melalui garis karakteristik.

Selanjutnya diperkenalkan metoda lain dalam menyelesaikan persamaan (1), yaitu


menggunakan transformasi koordinat.

• Perkenalkan variabel baru berbentuk

x̃ = ax + by, ỹ = bx − ay

Secara geometri bidang yang ada dinyatakan menggunakan koordinat Kartesius


yang sumbu x̃ berimpit dengan vektor s̄ = (a, b) dan sumbu ỹ berimpit dengan
vektor t̄ = (b, −a). Tunjukkan kedua vektor s̄ dan t̄ saling tegak lurus.

• Turunan parsial pada (1) dinyatakan dalam variabel baru yang mempunyai
6 PDP

hubungan
∂u ∂ x̃ ∂u ∂ ỹ
ux = +
∂ x̃ ∂x ∂ ỹ ∂x

= aux̃ + buỹ

∂u ∂ x̃ ∂u ∂ ỹ
uy = +
∂ x̃ ∂y ∂ ỹ ∂y

= bux̃ − auỹ

• Substitusikan turunan partial di atas ke dalam persamaan (1)

aux + buy = a (aux̃ + buỹ ) + b (bux̃ − auỹ )

 
= a2 + b2 ux̃ = 0

Karena a2 + b2 6= 0 maka menyelesaikan (1) sama saja menyelesaikan ux̃ = 0,


yang lebih mudah diselesaikan dibandingkan (1), yaitu dengan mengintegralkan
terhadap x̃ yang menghasilkan

u(x, y) = f (ỹ) = f (bx − ay)

untuk sebarang fungsi f . Solusi yang diperoleh sama dengan menggunakan


metoda garis karakteristik.

Seringkali persamaan diferensial yang dihadapi mempunyai koefisien tidak konstan,


yang tentunya akan lebih sulit diselesaikan menggunakan metoda transformasi koor-
dinat.

1. Tentukan solusi ux + yuy = 0 dengan u(0, y) = y 3.

• Berdasar turunan berarah, vektor arah s̄ = (1, y)

• Kurva karakteristik diperoleh dari

dy
= y ⇔ y = Cex
dx
L.H. Wiryanto 7

Gambar 2: Kurva karakteristik y = Cex untuk beberapa nilai C.

dengan C parameter dari kurva karakteristik. Pada Gambar 2 diberikan


beberapa kurva karakteristik dari persamaan diferensial, dimana sepan-
jang satu kurva fungsi u bernilai konstan.

• Solusi sepanjang kurva y = Cex , untuk satu nilai C, bernilai sama yaitu
u(x, y = Cex ) = konstan, karena
d x ∂u ∂u ∂(y = Cex )
u(x, Ce ) = + = ux + Cex uy = 0
dx ∂x ∂y ∂x

• Kita bandingakan solusi sepanjang kurva karakteristik terhadap suatu po-


sisi x = 0, yaitu

u(x, y = Cex ) = u(0, C) = u(0, ye−x) = f (ye−x )

Di sini kita menggantikan C dari persamaan kurva C = ye−x , sehingga


diperoleh sebagai satu fungsi dari kesatuan variabel.

• Dengan syarat yang ada, u(0, y) = f (ye−0 ) = y 3 , memberikan f (y) = y 3 ,


sehingga u(x, y) = f (ye−x) = y 3e−3x .

2. Tentukan solusi dari ux + (y − x)uy = 0 yang memenuhi u(0, y) = cos πy

• Kurva karakteristik
dy
= y − x ⇔ y = Cex + x + 1
dx
8 PDP

• Solusi dinyatakan sebagai fungsi sebarang f , dengan membandingkan pada


x = 0 dan menggantikan C dalam variabel x dan y seperti dilakukan pada
contoh sebelumnya

u(x, y) = u(0, C + 1) = u(0, (y − 1 − x)e−x + 1) = f ((y − 1 − x)e−x + 1)

• Dengan syarat yang diberikan

u(0, y) = f (y − 1 + 1) = sin πy

sehingga diperoleh

u(x, y) = sin(π((y − 1 − x)e−x + 1))

Gunakan perubahan koordinat untuk menyelesaikan persamaan aux + buy + cu = 0.

• Gunakan transformasi

x̃ = ax + by, ỹ = bx − ay

sehingga persamaan menjadi


 
a2 + b2 ux = cu

• Dari PDB u′ = αu yang mempunyai solusi u(t) = Keαt dengan konstanta K,


PDP di atas menghasilkan
c
− x̃
u(x, y) = f (ỹ)e a2 +b2

c
− (ax+by)
= f (bx − ay)e a2 +b2

• Sebagai tugas, periksa solusi yang diperoleh di atas memenuhi persamaan difer-
ensial yang ditanyakan.

Berikut hendak diselesaikan persamaan diferensial tak homogen berbentuk

ux + uy + u = ex+2y

dengan syarat u(x, 0) = 0.


L.H. Wiryanto 9

• Dari persamaan diferensial sebelumnya, kita gunakan

x̃ = x + y, ỹ = x − y

sehingga persamaan menjadi

2ux̃ = −u + e3x̃/2 e−ỹ/2

• Tinjau ekivalensi persamaan dalam PDB

2u′ = −u + αe3t/2

dengan α konstanta, yang mempunyai solusi

1
u = Ae−t/2 + αe3t/2
4

• Dalam PDP, kita buat ekivalensi t ∼ x̃, α ∼ e−ỹ/2 dan A ∼ f (ỹ), sehingga
solusi PDP
1
u(x, y) = f (ỹ)e−x̃/2 + e−ỹ/2 e3x̃/2
4

1
= f (x − y)e−(x+y)/2 + e−(x−y)/2 e3(x+y)/2
4

• Syarat yang ada memberikan

1 1
0 = f (x)e−x/2 + e−x/2 e3x/2 ⇔ f (x) = − e3x/2
4 4

• Gantikan x dengan x − y diperoleh

1
f (x − y) = − e3(x−y)/2
4

dan solusi
1 1
u(x, y) = − e3(x−y)/2 e−(x+y)/2 + ex+2y
4 4

1 1
= − ex−2y + ex+2y
4 4
• Periksa solusi yang diperoleh memenuhi persamaan diferensial di atas dan
syarat yang ada.
10 PDP

Beberapa model terkait persamaan diferensial parsial

1. Persamaan transport sederhana


Suatu fluida mengalir di dalam pipa yang mempunyai diameter konstan dengan
kecepatan c dalam arah x. Suatu zat atau polutan dimasukka dalam aliran
tersebut. u(x, t) menyatakan konsentarasi zat tersebut dalam gram/cm pada
saat t. Banyaknya zat dalam selang [0, b] pada saat t adalah
Z b
M= u(x, t)dx
0

Pada saat t + h, molekul zat telah bergerak ke kanan sejauh ch. Jadi berlaku
Z b Z b+ch
u(x, t)dx = u(x, t + h)dx (2)
0 ch

Untuk mendapatkan persamaan dari u, turunkan kedua ruas dari (2) terhadap
b, diperoleh
u(b, t) = u(b + ch, t + h)

dan turunkan lagi terhadap h, diperoleh


∂u ∂(b + ch) ∂u ∂(t + h)
0= +
∂(b + ch) ∂h ∂(t + h) ∂h

∂u ∂u
0= c +
∂x ∂t
sebagai persamaan transport, dengan solusi u(x, t) = f (x − ct) untuk sebarang
f.

2. Getaran dawai
Dawai direntang seperti pada gitar dan dipetik, maka dawai akan bergetar.
Bagaimana getaran dawai tersebut. Untuk menjelaskan getaran tersebut, kita
tinjau sepenggal dawai dan gaya yang bekerja pada kedua ujung, seperti diberikan
sketsanya pada Gambar 3. Misalnya pada ujung x = x0 bekerja gaya tegang
T0 yang membentuk sudut α terhadap sumbu datar, dan pada ujung x = x1
bekerja gaya T1 yang membentuk sudut β. Untuk mengamati gerakan dawai,
kita proyeksikan kedua gaya sepanjang sumbu datar dan sumbu tegak.
L.H. Wiryanto 11

Gambar 3: Sketsa getaran dawai dan gaya yang bekerja.

• Pada arah horizontal, kedua gaya saling meniadakan, karena dawai tidak
gerakan ke arah ini, sehingga berlaku

T0 cos α = T1 cos β

dan kemudian kita sebut T .

• Pada arah vertikal, bekerja hukum Newton


∂2u
T1 sin β − T0 sin α = ρ(x1 − x0 )
∂t2
ρ menyatakan rapat massa dawai dan u menyatakan simpangan dawai.

Tiap suku kemudian dibagi dengan T , sehingga diperoleh


T1 sin β T0 sin α ρ ∂2u
− = △x 2
T1 cos β T0 cos α T ∂t

∂u ∂u
∂x x1
− ∂x x0 ρ ∂2u
=
△x T ∂t2
Dengan mengambil △x → 0, atau x1 → x0 , diperoleh
∂2u ρ ∂2u
=
∂x2 T ∂t2
Karena ρ > 0 dan juga T > 0, kita dapat menggunakan notasi c2 = T /ρ,
sehingga simpangan dawai pada setiap posisi x dan saat t memenuhi
∂2u 2
2∂ u
= c (3)
∂t2 ∂x2
12 PDP

sebagai persamaan getaran dawai, atau lebih dikenal sebagai persamaan gelom-
bang, gerakan naik turun dari dawai menimbulkan adanya perambatan gelom-
bang pada dawai.

Catatan:

(a) Bila tahanan udara r > 0 dilibatkan, gaya redam sebanding dengan ke-
cepatan ut , maka persamaan menjadi

utt − c2 uxx + rut = 0

(b) Jika terdapat gaya elastis; terjadi seperti pada senar gitar yang bagian
luarnya dilapis dengan dililit menggunakan senar lain atau kawat, dan
gaya elastis sebanding dengan simpangan; maka persamaan menjadi

utt − c2 uxx + ku = 0

k sebagai konstanta pembanding.

(c) Jika ada gaya luar f (x, t) yang dilibatkan dalam getaran, maka persamaan
menjadi
utt − c2 uxx = f (x, t)

berupa persamaan diferensial tak homogen.

(d) Beberapa phenomena dapat dimodelkan menjadi persamaan serupa, seperti


getaran batang yang lentur, gelombang suara dalam pipa dan juga gelom-
bang pada permukaan air.

(e) Perluasan dari getaran dawai dapat diperoleh pada membran; seperti gen-
dang dan bedug. Simpangan membran menjadi u(x, y, t) dan gaya total
(vertikal)
Z Z Z
T un̄ ds = (ma =) utt dxdy (4)
∂Ω Ω

Ω daerah membran dengan batas ∂Ω, un̄ = n̄·∇u sebagai turunan berarah
dari u dalam arah n̄ normal dari Ω.
L.H. Wiryanto 13

Teorema Green mengubah integral (tertutup) sepanjang batas ∂Ω menjadi


integral berulang pada daerah Ω. Teorema ini diterapkan pada integral di
ruas kiri dari (4)
Z Z
T un̄ ds = T ∇u · n̄ds
∂Ω ∂Ω

Z Z
= ∇ · (T ∇u)dxdy

sehingga diperoleh
T (∇ · ∇u) = ρutt

Tuliskan c2 = T /ρ maka diperoleh

utt = c2 (uxx + uyy )

sebagai persamaan getaran membran.

Perlu diingat

• Teorema Green:
Z Z Z
f¯ · n̄ds = ∇ · f¯dxdy
C D

dengan f¯ = (h, g) → ∇ · f¯ = hx + gy . C lintasan tertutup sebagai


batas dari daerah D.
• Notasi matematika
∂2u ∂2u
!
∂ ∂
∇= , → ∇ · ∇u = +
∂x ∂y ∂x2 ∂y 2
3. Persamaan Difusi
Suatu fluida mengisi penuh pipa, tanpa aliran, dan suatu bahan kimia seperti
bahan pencelup ditambahkan pada fluida tersebut, maka bahan kimia akan
menyebar sepanjang pipa.

Bahan kimia akan menyebar dari tempat yang konsentrasi tinggi ke rendah.
Proses ini berbeda dengan yang dijelakan pada persamaan transport, disebut
konveksi, zat akan terbawa oleh aliran. Hukum Fick mengatakan rata-rata
penyebaran sebanding dengan gradien konsentrasi.
14 PDP

Misalkan u(x, t) menyatakan konsentrasi dari zat pada posisi x di pipa dan pada
waktu t. Pada selang [x0 , x1 ], massa zat
Z x1
M(t) = u(x, t)dx
x0

dan perubahan massa


dM x1
Z
= ut (x, t)dx
dt x0

Massa pada selang tersebut akan berubah bila ada zat yang masuk atau keluar
selang tersebut. Sedangkan hukum Fick memberikan
dM
dt
= zat masuk - zat keluar

= kux (x1 , t) − kux (x0 , t)

k konstanta pembanding. Selanjutnya, samakan dM/dt yang ada


Z x1
ut dt = kux (x1 , t) − kux (x0 , t)
x0

Z x1
=k uxx dx
x0

sehingga diperoleh
ut = kuxx (5)

sebagai persamaan difusi.

Dalam dua dimensi, fluida berada diantara dua plat dengan luas D, dan zat
kimia dimasukkan, maka berlaku
Z Z Z
ut dxdy = k∇u · n̄ds
D ∂D

Dengan menggunakan teorema divergensi, integral sepanjang batas diubah men-


jadi integral berulang dxdy, maka diperoleh

ut = k (uxx + uyy ) (6)

sebagai persamaan diffusi dua dimensi. Sama halnya untuk tiga dimensi

ut = k (uxx + uyy + uzz ) (7)


L.H. Wiryanto 15

4. Perambatan Panas
Perhatikan benda pejal tiga dimensi D yang mempunyai temperatur u(x, y, z, t)
dan energi panas (heat) H(t) dalam kalori yang dimuat benda. Hubungan panas
dan temperatur dinyatakan dengan
panas = massa dikali temperatur dan kapasitas panas benda
dirumuskan dalam
Z Z Z
H(t) = cρudxdydz
D

dimana c menyatakan kapasitas panas dan ρ rapat massa, dan perubahan panas

dH
Z Z Z
= cρut dxdydz (8)
dt D

Sedangkan hukum Fourier mengatakan: panas yang mengalir dari daerah panas
ke daerah dingin sebanding dengan gradien temperatur (∇u). Selain itu, panas
tidak dapat hilang dari daerah D kecuali keluar melalui batas (dalam arah
normal n̄), sesuai hukum kekekalan energi. Oleh karena itu, perubahan energi
panas di D sama dengan fluk panas yang melintasi batas

dH
Z Z
= K n̄ · ∇uds (9)
dt ∂D

K faktor pembanding berupa konduktivitas panas. Dengan menggabungkan


kedua persamaan (8) dan (9), dan menggunakan teorema divergensi (integral
batas diubah menjadi integral pada daerah D, lipat 3), maka diperoleh
Z Z Z Z Z Z
cρut dxdydz = ∇ · K∇udxdydz ⇔ cρut = ∇ · K∇u (10)
D D

Untuk K konstan diperoleh

ut = C 2 (uxx + uyy + uzz ) (11)

dengan C 2 = K/(cρ), sebagai persamaan perambatan panas, yang mempunyai


bentuk sama dengan persamaan difusi.

Syarat batas dan syarat awal


16 PDP

1. Sampai sekarang dalam menentukan jawaban PDP diperoleh jawab ya ng memuat


fungsi tak diketahui. Kita dapatkan jawab yang lebih khusus setelah digunakan
suatu syarat.

2. Biasanya syarat yang digunakan terkait dengan keadaan fisis, berupa kondisi
awal (berhubungan dengan waktu) atau kondisi batas (berhubungan dengan
batas daerah).

• Persamaan difusi: kondisi awal u(x̄, t) = φ(x̄) dengan x̄ = (x, y, z) dan φ


menyatakan konsentrasi awal.

• Persamaan panas, sama seperti persamaan difusi, dengan φ(x̄) meny-


atakan temperatur awal.

• Persamaan gelombang diselesaikan menggunakan kondisi awal u(x̄, t0 ) =


φ(x̄) dan ut (x̄, t0 ) = ψ(x̄), sebagai simpangan dan kecepatan awal. Juga
daerah definisi dawai terbatas pada selang 0 < x < L, sehingga batas
daerah perlu diterapkan. Untuk membran batas daerah berupa kurva
tertutup.

3. Terkait dengan kondisi batas, terdapat 3 macam:

(a) nilai u tertentu disebut kondisi Direchlet, misal u(0, t) = 0 = u(L, t) untuk
dawai.

(b) nilai tertentu terkait turunan normal ∂u/∂n̄, disebut kondisi Neumann.
∂u
(c) gabungan ∂ n̄
+ au bernilai tertentu, disebut kondisi Robin.

4. Masalah well-posed
PDP dengan kondisi awal dan batas harusmemenuhi

• existensi: paling tidak ada satu solusi

• ketunggalan: paling banyak satu solusi

• stabil: solusi bergantung pada data dari masalah. Dengan perubahan data
yang kecil solusi juga berubah tidak terlalu besar.
L.H. Wiryanto 17

Keadaan stasioner.
Dalam persamaan gelombang 2-D, juga difusi atau persamaan panas, bila kita tinjau
keadaan sampai tidak berubah terhadap waktu, sehingga persamaan menjadi

uxx + uyy = 0 (12)

Keadaan seperti ini disebut stasioner dan persamaannya dikenal sebagai persamaan
Laplace.

Pengelompokan Persamaan Diferensial Parsial


Dalam pembahasan di atas kita telah dikenalkan dengan persamaan diferensial
parsial, dan dimana PDP dijumpai. Secara umum PDP linear dinyatakan:

1. Orde 1: aux + buy = cu

2. Orde 2: a11 uxx + 2a12 uxy + a22 uyy + a1 ux + a2 uy + a0 u = 0

Terkait dengan koefisien turunan kedua dari PDP orde 2, kita dapat kelompokkan
dalam

1. Eliptik jika a212 < a11 a22 , contoh persamaan jenis ini adalah persamaan Laplace.

2. Hiperbolik jika a212 > a11 a22 , contoh persamaan jenis ini adalah persamaan
getaran dawai.

3. Parabolik jika a212 = a11 a22 , contoh persamaan jenis ini adalah persamaan difusi
atau panas.

Transformasi koordinat
Kita perhatikan persamaan diferensial parsial orde 2 dalam bentuk

uxx + 2a12 uxy + a22 uyy = 0

karena pengelompokan hanya berdasar pada koefisien turunan kedua. Persamaan


jenis eliptik akan lebih sederhana dan mudah dilihat bila dinyatakan dalam

uξξ + uηη = 0 (13)

Masalah di sini, bagaimana menentukan transformasi (x, y) ↔ (ξ, η)


18 PDP

• Dalam bentuk operator, PDP orde 2


 
∂x2 + 2a1 2∂x ∂y + a22 ∂y2 u = 0

 
⇔ (∂x + a12 ∂y )2 u + a22 − a212 ∂y2 u = 0

• Bila kita mengharapkan PDP menjadi (13) maka kita harus menentukan trans-
formasi dengan menyamakan suku operator yang ada
 
(∂x + a12 ∂y )2 = ∂ξ2 , a22 − a212 ∂y2 = ∂η2

q
⇔ (∂x + a12 ∂y ) = ∂ξ , a22 − a212 ∂y = ∂η
q
selanjutnya kita gunakan b = a22 − a212 .

• Dalam aturan rantai

∂x ∂y ∂x ∂y
∂ξ = ∂x + ∂y , ∂η = ∂x + ∂y
∂ξ ∂ξ ∂η ∂η

• Samakan dengan uraian operator di atas


∂x ∂y
= 1, = a12
∂ξ ∂ξ

∂x ∂y
= 0, =b
∂η ∂η

• Dua pesamaan pertama, pada baris pertama, memberikan

x = ξ + K1 (η), y = a12 ξ + K2 (η)

Kemudian substitusi pada dua persamaan berikutnya, menghasilkan

K1′ = 0 ⇔ K1 = konstan, K2′ = b ⇔ K2 = bη + konstan

Untuk penyederhanaan, ambil konstan pada K2 bernilai nol, sehingga transfor-


masi
x = η, y = a12 ξ + bη
L.H. Wiryanto 19

Dengan cara sama kita dapat menentukan transformasi untuk dua jenis PDP yang
lain, gunakan sebagai latihan untuk mendapatkannya. Kita rangkum hasil keselu-
ruhan dalam tabel berikut.

Jenis Persamaan Transformasi


q
Eliptik uξξ + uηη = 0 x = ξ, y = a12 ξ + a22 − a212 η
q
Hiperbolik uξξ − uηη = 0 x = ξ, y = a12 ξ + a212 − a22 η
Parabolik uξξ = 0 x = ξ, y = a12 ξ

Dalam hal koefisien dari uxx , uxy dan uyy tidak konstant, tetapi fungsi dari x dan
y, kita dapat menentukan daerah berlakunya jenis PDP di atas pada bidang x − y.
Contoh:
Tentukan dimana persamaan yuxx − 2uxy + xuyy = 0 termasuk eliptik, hiperbolik dan
parabolik.
bf Jawab:
Persamaan di atas mempunyai koefisien a11 = y, a12 = −1, dan a22 = x. Sehingga

• Eliptik jika a212 < a11 a22 ⇔ 1 < xy

• Hiperbolik jika a212 > a11 a22 ⇔ 1 > xy

• Parabolik jika a212 = a11 a22 ⇔ 1 = xy

Pembagian daerah diilustrasikan pada Gambar 4. Persamaan jenis parabolik terjadi


pada kurva y = 1/x.
Sebagai latihan tentukan dimana persamaan (1 + x)uxx + 2xyuxy − y 2 uyy = 0
termasuk eliptik, hiperbolik dan parabolik.
20 PDP

Gambar 4: Pembagian daerah terkait jenis PDP.

BAB II
Persamaan Diferensial Parsial Orde 2
Pada bagian ini kita akan membahas satu persatu dari 3 jenis persamaan diferen-
sial parsial orde 2 yang ada melalui persamaan terkait model yang telah kita perke-
nalkan pada bagian depan.

Persamaan Gelombang
Pada bagian depan telah diperkenalkan persamaan gelombang dimensi satu, berben-
tuk
utt − c2 uxx = 0 (14)

Persamaan ini termasuk jenis hiperbolik. Dalam pembahasannya, kita tinjau untuk
dawai yang sangat panjang, −∞ < x < ∞. Sehingga dalam menentukan solusinya
kita tidak melibatakan kondisi batas.
Uraikan persamaan (14) dalam bentuk
! !
∂ ∂ ∂ ∂
−c +c u=0
∂t ∂x ∂t ∂x

Kemudian tuliskan !
∂ ∂
v= +c u
∂t ∂x
L.H. Wiryanto 21

sehingga (14) dapat dinyatakan sebagai persamaan orde 1


!
∂ ∂
−c v=0
∂t ∂x
yang mempunyai solusi
v(x, t) = F (x + ct)

untuk sembarang fungsi F , seperti dibicarakan di bagian depan. Selanjutnya, v yang


diperoleh ini digunakan untuk menentukan u dari
!
∂ ∂
+c u = v(x, t) = F (x + ct) (15)
∂t ∂x
yang berupa persamaan tak homogen.
Solusi homogen dari (15) adalah

uh (x, t) = g(x − ct)

Solusi partikular dari (15) dapat diperoleh dengan memisalkan

up (x, t) = f (x + ct)

f ditentukan dengan mensubstitusikan up pada (15) yang memberikan



∂up
= cf ′ (x + ct)



∂t




2cf ′ (x + ct) = F (x + ct)

∂up


= f ′ (x + ct)



∂x

Sebagai catatan di sini kita gunakan notasi aksen (.′ ) untuk menyatakan turunan f
terhadap x + ct, dan c pada turunan partial terhadap t sebagai hasil dari penggunaan
aturan rantai, hasil turunan x + ct terhadap t.
Untuk mendapatkan f , kita integralkan hubungan f dan F di atas, yang meng-
hasilkan
1
Z
f (x + ct) = F (z)dz
2c
dengan z = x + ct. Karena F masih sembarang dan agar nantinya kita tidak bergan-
tung pada F , maka kita dapat mengatakan f sebagai fungsi sebarang. Sehingga
solusi persamaan (14) adalah

u(x, t) = f (x + ct) + g(x − ct)


22 PDP

dengan f dan g dua fungsi sembarang.


Solusi u dari persamaan (14) dapat juga diperoleh dengan menggunakan trans-
formasi koordinat
ξ = x + ct, η = x − ct

Dalam variabel baru ini persamaan (14) menjadi

uξη = 0

Persamaan ini juga termasuk jenis hiperbolik, dan solusinya dapat diperoleh, seperti
dijelaskan dibagian depan,
u(x, t) = f (ξ) + g(η)

hasil yang sama seperti diperoleh dibagian atas, dengan f dan g sembarang.
Catatan:

1. Dari dua persamaan diferensial orde 1, kita mendapatkan dua garis karakteristik
l1 : x + ct = konstan dan l2 : x − ct = konstan

2. Bila kita tinjau secara geometri f (x + ct) merupakan bentuk gelombang yang
merambat ke kiri dengan tidak berubah bentuk sepanjang garis l1 , begitu juga
dengan g(x − ct) merambat sepanjang l2 , keduanya mempunyai kecepatan ram-
bat c.

Untuk mendapatkan solusi yang lebih spesifik, kita memerlukan 2 syarat, karena
terdapat 2 fungsi yang tidak diketahui. Kita gunakan keadaan fisis berupa kondisi
awal
u(x, 0) = φ(x), ut (x, 0) = ψ(x) (16)

berupa simpangan awal dan kecepatan awal. Dengan (16) diharapkan kita dapat
menentukan f dan g seperti dijelaskan di atas.
Kita bahas untuk dua kondisi awal (16) yang khusus, yaitu

u(x, 0) = sin x ut (x, 0) = 0.

Kondisi pertama memberikan

f (x) + g(x) = sin x (17)


L.H. Wiryanto 23

Kondisi kedua mengharuskan kita menentukan turunan

ut (x, t) = cf ′ (x + ct) − cg ′ (x − ct)

Kemudian kita terapkan kondisi kedua sehingga diperoleh

ut (x, 0) = cf ′ (x) − cg ′(x) = 0 (18)

f ′ dan g ′ diperoleh dengan lebih dahulu menurunkan (17) dan kemudian diselesaikan
bersama dengan (18), yang menghasilkan
1 1
f ′ (x) = cos x, g ′(x) = cos x
2 2
Hasil ini kemudian diintegralkan yang memberikan
1 1
f (x) = sin x + A, g(x) = sin x + B
2 2
A dan B dua konstanta yang memenuhi A + B = 0 karena f (x) + g(x) = sin x sesuai
simpangan awal, dan kita dapat mengambil A = 0, begitu juga dengan B, karena A
dan B tidak berpengaruh terhadap perubahan t. Sehingga solusi yang diperoleh
1
u(x, t) = [sin(x + ct) + sin(x − ct)] = cos ct sin x
2
Bentuk terakhir akan lebih mudah dijelaskan dari pada penjumlahan sinus, yaitu
dawai bergetar dengan bentuk sinusoidal dan amplitudo berubah mengikuti bentuk
cosinus, diantara − sin x dan sin x. Untuk memperlihatkan adanya dua gelombang
yang merambat ke kiri dan kekanan, plot dari f (x + ct), g(x − ct) dan u(x, t) dita-
mpilkan pada Gambar 5 untuk beberapa t. Plot dibuat sebagai hasil perhitungan
menggunakan c = 0.3. Bila diperhatikan, dengan bertambahnya t kita dapat menga-
mati kurva dari f semakin bergeser ke kiri, sedangkan g bergeser sebaliknya; jumlah
dari keduanya menampilkan simpangan dawai u yang terlihat naik-turun.
Contoh di atas diharapkan membarikan gambaran apa yang harus dilakukan un-
tuk menentukan f dan g. Kita ulang langkah yang telah dilakukan pada contoh
tetapi pada kodisi awal yang umum.

1. Kondisi awal memberikan

f (x) + g(x) = φ(x), cf ′ (x) − cg ′(x) = ψ(x)


24 PDP

Gambar 5: Plot f (x + ct), g(x − ct) dan u(x, t)

2. Selesaikan sistem persamaan dari f ′ dan g ′


!
′ 1 ψ
φ′ +

f ′ (x) + g ′ (x) = φ′ (x)  f (x) =
2 c






1

 !
′ ′
f (x) − g (x) = ψ(x)

 1 ψ
g ′(x) = φ′ −


c 2 c

3. Integralkan f ′ dan g ′
1 1 x
Z
f (x) = φ(x) + ψ(s)ds + A
2 2 0

1 1Z x
g(x) = φ(x) − ψ(s)ds + B
2 2 0
A dan B memenuhi A + B = 0, sesuai dengan simpangan awal.

4. Solusi
1 1 x+ct
Z
u(x, t) = [φ(x + ct) + φ(x − ct)] + ψ(s)ds
2 2c x−ct

dikenal sebagai solusi d’Alembert.


L.H. Wiryanto 25

Bila diperhatikan bentuk solusi d’Alembert, kesulitan akan muncul bila per-
samaan gelombang yang kita handapi melibatkan kecepatan awal tak nol u(x, 0) =
ψ(x). Berikut ini diberikan contoh terkait dengan kecepatan awal tersebut, yaitu kita
selesaikan
utt − uxx = 0

dengan syarat awal




 1, −a < x < a
u(x, 0) = φ(x) = 0, ut (x, 0) = ψ(x) =
0, a<x x < −a

 W

untuk konstan a. Secara fisis model matematika ini merupakan dawai yang awalnya
datar (tidak diberi simpangan), tetapi diberikan ketukan pada selang −a < x < a.
Akibat ketukan ini dawai akan bergetar.
Dari solusi d’Alembert, kita berhadapan dengan

u(x, t) = f (x + ct) + g(x − ct)

dengan
1 1
f ′ (x) = ψ(x), g ′(x) = − ψ(x)
2 2
Untuk mendapatkan f dan g, kita lakukan perhitungan integral dari selang [0, x] dan
[x, 0] secara terpisah

• Kasus x > 0

 x ds, 0<x<a
R
1 x 1
Z 
0
f (x) − f (0) = ψ(s)ds =
2 0 2  a ds,
 R
x>a
0

Pada saat mengintegralkan sampai x > a, selang [0, a] harus dilewati dengan
integran ψ(x) = 1, sedangkan lewat selang tersebut integran bernilai nol, se-
hingga cukup dituliskan integral kedua di atas. Sebagai hasil

1 x, 0<x<a


f (x) = f (0) +
2
 a, x>a
26 PDP

• Pada kasus x < 0, perhitungan integral dilakukan serupa dengan di atas, dan
menghasilkan 
1 −x, −a < x < 0


f (x) = f (0) −
2
 a, x < −a

Kedua kasus kemudian digabungkan, menghasilkan



−a, x < −a




1


f (x) = f (0) + x, −a < x < a
2

 a, x>a

Dari hasil ini, kemudian kita gunakan untuk menghitung g, yaitu



−a, x < −a




1


g ′ (x) = −f ′ (x) ⇒ g(x) = g(0) − x, −a < x < a
2

 a, x>a

Simpangan dawai diperoleh dengan menjumlahkan f dan g, setelah menggantikan


x dengan x + t untuk f dan x − t untuk g, sedangkan f (0) + g(0) bernilai nol, sesuai
simpangan awal. Jadi simpangan dawai
   
−a, x + t < −a a, x − t < −a

 
 
 


 
 
 

1 1

 
 
 

u(x, t) = x + t, −a < x + t < a  +  −x + t, −a < x − t < a
2
 
 2



 a, x+t> a  −a, x−t>a

 
 
 

 

Plot dari f , g dan u untuk beberapa t ditampilkan pada Gambar 6. Hasil tampilan
di sini diperoleh menggunakan a = 0.4 Terlihat adanya pergeseran f ke kiri dan g
kekanan dengan membesarnya t, sedangkan simpangan u terbentuk sebagai penjum-
lahan dari f dan g. Tampilan pada Gambar 6 dapat diamati dalam selang t yang
kontinu dengan membuat progam animasi.

Persamaan Gelombang Tak Homogen


Pada bagian ini hendak ditinjau kembali garis karakteristik dan penerapannya
dalam menyelesaikan solusi persamaan gelombang takhomogen. Dari persamaan
gelombang
utt − c2 uxx = 0
L.H. Wiryanto 27

Gambar 6: Plot f (x + t), g(x − t) dan u(x, t)

kita dapat menentukan dua garis karakteristik x+ct = konstan dan x−ct = konstan.
Pilih sebarang titik D(x0 , t0 ) pada bidang x−t dan buat garis karakteristik seperti
di atas berbentuk
x + ct = k+ , x − ct = k−

dengan k+ = x0 + ct0 , k− = x0 − ct0 . Masing-masing garis memotong sumbu x


pada x = k+ dan x = k− , sebut titik B dan A. Sekarang kita perhatikan segitiga
ABD seperti diilustrasikan pada Gambar 7. Dengan teorema Green, kita dapatkan
hubungan
Z Z I
2
utt − c uxx dΩ = ut dx + c2 ux dt (19)
Ω C

¯
dengan C lintasan tertutup ABDA sebagai batas dari Ω dengan arah berlawanan
perputaran jarum jam.
Kita hitung integral garis pada (19)

¯ t = 0 dan x berubah dari x0 − ct0 ke x0 + ct0 , memberikan


• Sepanjang garis AB,
28 PDP

Gambar 7: Sketsa dua garis karakteristik yang melalui D(x0 , t0 ).

dt = 0, sehingga integral garis di ruas kanan (19) menjadi


Z Z
2
ut dx + c ux dt = ut dx
¯
AB ¯
AB

¯ ≡ x + ct = k+ , berlaku diferensial dx = −cdt, sehingga


• Sepanjang garis BD
diperoleh integral garis
Z Z
ut dx + c2 ux dt = −cut dt − cux dx
¯
AB ¯
AB

Z u(x0 ,t0 )
= −c du
u(x0 +ct0 ,0)

= −c [u(x0 , t0 ) − u(x0 + ct0 , 0)]

¯ ≡ x − ct = k− , berlaku diferensial dx = cdt, sehingga


• Sepanjang garis DA
diperoleh integral garis
Z Z
ut dx + c2 ux dt = cut dt + cux dx
¯
BD ¯
BD

Z u(x0 −ct0 ,0)


=c du
u(x0 ,t0 )

= c [u(x0 − ct0 , 0) − u(x0 , t0 )]


L.H. Wiryanto 29

Kembali pada persamaan gelombang (homogen), bila kita integralkan kedua ruas
pada daerah Ω, diperoleh
Z Z
utt − c2 uxx dΩ = 0

Dari hasil uraian sebelumnya hubungan ini ekivalen dengan


Z
ut dx − c [u(x0 , t0 ) − u(x0 + ct0 , 0)] + c [u(x0 − ct0 , 0) − u(x0 , t0 )] = 0
¯
AB

Setelah menggabungkan suku-suku dalam kurung siku, nilai u pada D dapat dihitung
dengan menyusun kembali hasil terakhir menjadi

1 1
Z
u(x0 , t0 ) = ut dx + [u(x0 + ct0 , 0) + u(x0 − ct0 , 0)]
2c ¯
AB 2

Sekarang kita gunakan syarat awal

u(x, 0) = φ(x)

pada suku-suku yang berada di dalam kurung siku dan menggantikan integran meng-
gunakan syarat awal
ut (x, 0) = ψ(x),

maka diperoleh

1 x0 +ct0 1
Z
u(x0 , t0 ) = ψ(x)dx + [φ(x0 + ct0 ) + φ(x0 − ct0 )]
2c x0 −ct0 2

merupakan solusi d’Alembert.


Sekarang kita kembangkan pada persamaan gelombang tak homogen

utt − c2 uxx = G(x, t)

Dengan mengikuti prosedur di atas: integral kedua ruas pada daerah Ω, menerapkan
teorema Green untuk mengubah integral lipat menjadi integral garis dan menghi-
tungnya garis demi garis, dan menggunakan syarat awal; maka diperoleh

1 x0 +ct0 1 1
Z Z Z
u(x0 , t0 ) = ψ(x)dx + [φ(x0 + ct0 ) + φ(x0 − ct0 )] + G(x, t)dΩ
2c x0 −ct0 2 2c Ω

sebagai solusi persamaan tak homogen. Kita dapat melihat solusi ini memuat solusi
homogen.
30 PDP

Contoh:
Tentukan solusi
utt − uxx = 1

dengan syarat awal


u(x, 0) = sin x, ut (x, 0) = 0

Jawab:
Solusi dari persamaan homogen ini telah dibahas pada bagian depan. Sekarang kita
kerjakan langsung untuk persamaan tak homogen menggunakan hasil yang telah di-
jelaskan di atas. Kita ambil sebarang titik (x0 , t0 ), maka diperoleh
1 Z x0 +t0 1 1Z Z
u(x0 , t0 ) = 0dx + [sin(x0 + t0 ) + sin(x0 − t0 )] + dΩ
2c x0 −t0 2 2 Ω

Integral pertama bernilai nol dan integral kedua secara geometri merupakan luas Ω,
segitiga dengan titik sudut (x0 − t0 , 0), (x0 + t0 , 0) dan (x0 , t0 ), yaitu
Z Z
dΩ = t20

Jadi solusi
1 1
u(x, t) = [sin(x + t) + sin(x − t)] + t2
2 2

Latihan:

1. Tentukan solusi dari

utt − uxx = 0, untuk − ∞ < x < ∞

dengan syarat awal



b|x|

 b− a
, |x| < a,
u(x, 0) = φ() = , ut (x, 0) = ψ(x) = 0
0, |x| > a

untuk a dan b konstanta positif. Buat gambar u dan gelombang pembangunnya


yang begerak ke kiri dan ke kanan untuk beberapa nilai t.

2. Diberikan persamaan gelombang uxx − 3uxt − 4uxx = 0.


L.H. Wiryanto 31

(a) Tunjukkan persamaan di atas termasuk persamaan hiperbolik.

(b) Tunjukkan persamaan di atas dapat diubah menjadi uξξ − uηη = 0

(c) Tentukan solusi u(x, t) jika diberikan syarat awal u(x, 0) = x2 dan ut (x, 0) =
ex .

3. Diberikan persamaan gelombang tak homogen

utt − uxx = 1

dengan syarat awal


u(x, 0) = cos x, ut (x, 0) = 0

Hitung u(0, π/3)

4. Tentukan solusi persamaan gelombang tak homogen

utt − uxx = 1

dengan syarat awal


u(x, 0) = x2 , ut (x, 0) = 1

5. Tentukan solusi persamaan gelombang tak homogen

utt − uxx = cos x

dengan syarat awal

u(x, 0) = sin x, ut (x, 0) = 1 + x

Persamaan Panas
Pada bagian depan telah diturunkan persamaan panas yang berbentuk

ut = kuxx (20)

Bentuk persamaan ini juga diperoleh dalam penyebaran zat di dalam fluida yang
kemudian dikenal sebagai persamaan difusi. k > 0 merupakan konstant yang terkait
32 PDP

dengan karakteristik material perambatan panas, atau konstanta pembanding dalam


hukum Fick tentang difusi. Persamaan ini merupakan contoh persamaan berjenis
parabola.
Ketunggalan solusi dari persamaan (20) dapat ditunjukkan menggunakan metoda
energi, untuk selang 0 < x < l.

• Misal u1 dan u2 solusi (20) dengan kondisi batas u(0, t) = g(t) dan u(l, t) = h(t),
dan kondisi awal u(x, 0) = φ(t).

• Sebut w = u1 − u2 , yang juga memenuhi (20) karena persamaannya linear, dan


memenuhi syarat yang ada

w(0, t) = u1 (0, t) − u2 (0, t) = 0

w(l, t) = u1 (l, t) − u2 (l, t) = 0

w(x, 0) = u1 (x, 0) − u2 (x, 0) = 0

• Dari persamaan panas dari w, kalikan kedua suku dengan w dan tuliskan

(wt − kwxx ) w = 0

1 2
 
⇔ w − (kwx w)x + kwx2 = 0
2 t

• Integralkan pada selang [0, l]


Z l Z l Z l
(w 2/2)t dx − k (wx w)x dx + k wx2 dx = 0
0 0 0

Integral pada suku kedua menghasilkan


Z l
(wx w)x dx = (wx w)x=l − (wx w)x=0 = 0
0

setelah menggunakan syarat batas dari w, sehingga integral menjadi

d l 1 2 l
Z Z
w dx = −k wx2 dx
dt 0 2 0
L.H. Wiryanto 33
Rl
ruas kanan bernilai negatif, karena integran dalam bentuk kwadrat. Jadi 0 w(x, t)2 dx
monoton turun dalam t, dan kita dapat bandingkan pada saat t = 0 yang berni-
lai nol sesuai syarat awal,
Z l Z l
2
w(x, t) dx ≤ w(x, 0)2dx = 0
0 0

Jadi hanya mungkin dipenuhi oleh w(x, t) = 0 atau u1 = u2 . Hal ini me-
nunjukkan bahwa solusi persamaan panas dengan syarat seperti di atas adalah
tunggal.

Dalam hal syarat awal berbeda pada u1 dan u2 , misalkan u1 (x, 0) = φ1 (x) dan
Rl
u2 (x, 0) = φ2 (x), proses penurunan di atas masih sama sampai 0 w(x, t)2 dx monoton
turun dalam t. Bila integral tersebut dibandingkan pada saat t = 0, diperoleh
Z l Z l Z l
w(x, t)2 dx = (u1 (x, t) − u2 (x, t))2 dx ≤ (φ1 (x) − φ2 (x))2 dx
0 0 0

yang menyatakan ukuran kedekatan antara dua solusi u1 dan u2 tidak pernah melebihi
kedekatan syarat awalnya. Hal ini menunjukkan bahwa solusi persamaan panas
adalah stabil, yaitu nilai awal yang dekat akan memberikan solusi yang dekat pula.
Sekarang kita tentukan solusi persamaan panas, tetapi untuk batang yang panjang
sekali −∞ < x < ∞, tidak ada syarat batas. Sebagai solusi, kita tinjau lebih dahulu
bentuk khusus dalam bentuk
Q(x, t) = g(p)

dengan p = x/ 4kt. Masalah di sini adalah bagaimana bentuk g. Berikut langkah-
langkah yang harus kita lakukan.

• Substitusi Q pada (20), dengan

∂Q dg ∂p 1
= = − pg ′ (p)
∂t dt ∂t 2t

∂Q 1
= √ g ′(p)
∂x 4kt

∂2Q 1 ′′
2
= g (p)
∂x 4kt
34 PDP

sehingga diperoleh
1 1 1
 
0 = Qt − kQxx = − pg ′(p) − g ′′(p)
t 2 4

2
⇔ g ′′ + 2pg ′ = 0 ⇔ g ′ (p) = C1 e−p

• Q diperoleh setelah mengintegralkan g ′



Z x/ 4kt 2
Q(x, t) = C1 e−p dp + C2
0

Konstanta C1 dan C2 diperoleh dengan menggunakan syarat awal khusus, yang


diberikan dalam bentuk


 1, untuk x > 0
Q(x, 0) =
0, untuk x < 0

• Hitung limit t → 0+

– Kasus x > 0

∞ π
Z
−p2
limt→0+ Q(x, t) = C1 e dp + C2 = C1 + C2 = 1
0 2

Dalam menghitung integral tak wajar, kita gunakan distribusi normal


(dalam statistik) berbentuk

1 ∞
Z
2
√ e−p dp = 1
π −∞

– Kasus x < 0

Z −∞
−p2
Z 0
−p2 π
limt→0+ Q(x, t) = C1 e dp+C2 = −C1 e dp+C2 = −C1 +C2 = 0
0 −∞ 2

Dari dua limit di atas diperoleh C1 = 1/ π dan C2 = 1/2, sehingga

1 1 Z x/ 4kt −p2
Q(x, t) = + √ e dp
2 π 0

untuk t > 0.

Dari Q yang sudah diperkenalkan di atas, kita akan menentukan solusi u terkait
dengan Q. Tetapi lebih dahulu kita perhatikan sifat-sifat berikut.
L.H. Wiryanto 35

• Jika u memenuhi ut − kuxx = 0 maka v = ux juga memenuhi persamaan


tersebut. Kita dapat menunjukkan dengan memeriksa apakah v memenuhi
persamaan, turunan dari v
!
∂ ∂u

vt =



∂t ∂x






vt − kvxx = (ut − kuxx ) = 0
!  ∂x
∂2

∂u 
vxx =



∂x2 ∂x

dipenuhi.

• Dengan Q seperti didefinisikan di atas,


∂Q
S(x, t) =
∂x
juga solusi persamaan panas. Hal ini dapat ditunjukkan, karena Q memenuhi
persamaan panas, dan sifat sebelum ini.

• Begitu juga S(x − y, t) memenuhi persamaan panas, dan juga


Z ∞
W (x, t) = S(x − y, t)g(y)dy
−∞

untuk sebarang g(y) asalkan integral konvergen.

Dengan sifat-sifat di atas dan pendefinisian S terkait dengan Q, maka u dapat


didefiniskan sebagai
Z ∞
u(x, t) = S(x − y, t)φ(y)dy
−∞

untuk t > 0, yang memenuhi persamaan panas. Masalah sekarang adalah apakah u
tersebut memenuhi kondisi awal u(x, 0) = φ(x)? Untuk itu, kita tuliskan u dalam Q
Z ∞ ∂Q
u(x, t) = (x − y, t)φ(y)dy
−∞ ∂x
sedangkan
∂Q ∂Q ∂y ∂(x − y) ∂Q ∂(x − y)
= =−
∂x ∂y ∂(x − y) ∂x ∂y ∂x
dan kita gunakan integral parsial, sehingga diperoleh
 Z ∞ 
u(x, t) = − Qψ|∞
−∞ − ′
Q(x − y, t)φ (y)dy
−∞
36 PDP

Suku pertama pada ruas kanan bernilai nol dengan menggunakan asumsi φ → 0
untuk |y| → ∞, sehingga diperoleh
Z ∞
u(x, 0) = Q(x − y, 0)φ′(y)dy
−∞

Sekarang kita gunakan

Q(x, 0) = 1 untuk x > 0 ⇔ Q(x − y, 0) = 1 untuk y < x

dan dengan uraian yang sama diperoleh Q(x − y, 0) = 0 untuk y > x. Bila hal ini
diterapkan pada integral, didapat
Z x
u(x, 0) = φ′ (y)dy = φ(x)
−∞

memenuhi syarat yang ada, dan secara eksplisit solusinya

1 ∞
Z
2 /4kt
u(x, t) = √ e−(x−y) φ(y)dy
4πkt −∞

Bentuk
∂Q 1 2
S= =√ e−x /4kt
∂x 4πkt
disebut fungsi Green atau solusi fundamental.

Contoh:
Tentukan solusi ut − kuxx = 0 untuk −∞ < x < ∞, dengan syarat awal

u(x, 0) = φ(x) = e−x

Jawab:
Dari uraian sebelum ini diperoleh

1 ∞
Z
2 /4kt
u(x, t) = √ e−(x−y) e−y dy
4πkt −∞
L.H. Wiryanto 37

Perlu diingat bahwa tidak semua bentuk integral ini dapat diselesaikan. Tetapi dalam
integral tersebut kita uraikan lebih dahulu pangkat dalam integran
(x − y)2 + y 1 h i
= (x − y)2 + 4kty
4kt 4kt

1 h i
= (x − y − 2kt)2 + 4ktx − 4k 2 t2
4kt

(x − y − 2kt)2
" #
= + (x − kt)
4kt
Sehingga solusi menjadi
1 ∞
Z
2 /4kt
u(x, t) = √ e−(x−y−2kt) e−(x−kt) dy
4πkt −∞
√ √
Selanjutnya gunakan substitusi z = (−x + y + 2kt)/ 4kt dengan dz = 1/ 4ktdy,
sehingga diperoleh

−(x−kt) 1
Z ∞ 2

u(x, t) = e √ e−z 4ktdz = e−(x−kt)
4πkt −∞

karena
1 ∞
Z
2
√ e−z dz = 1
π −∞

dari distribusi normal.

Latihan:

1. Diberikan persamaan panas

ut − kuxx = 0, untuk −∞ < x < ∞

dengan syarat awal u(x, 0) = φ(x) = x2 .

(a) Tunjukkan v(x, t) = uxxx memenuhi persamaan panas dengan syarat awal
v(x, 0) = 0, kemudian dengan menggunakan fungsi Green tunjukkan v(x, t) =
0.

(b) Tentukan u(x, t) dengan memisalkan u(x, t) = A(t)x2 + B(t)x + C(t) dan
menentukan A(t), B(t) dan C(t); jelaskan mengapa permisalan ini dapat
digunakan.
38 PDP

2. Substitusikan u(x, t) = e−bt v(x, t) pada ut − kuxx + bu = 0 pada −∞ < x < ∞,


kemudian tentukan solusi u yang memenuhi u(, 0) = φ(x), untuk b konstan.

3. Tentukan solusi dari ut − kuxx + bt2 u = 0 pada −∞ < x < ∞ dan syarat awal
3 /3
u(x, 0) = φ(x), dengan lebih dahulu mensubstitusikan u(x, t) = e−bt v(x, t),
untuk b konstan.

4. Tentukan solusi dari ut − kuxx + vux = 0 untuk −∞ < x < ∞ dan syarat awal
u(x, 0) = φ(x), dimana v konstan, dengan lebih dahulu mentransformasikan
menggunakan y = x − vt.

Persamaan Laplace
Sekarang kita tinjau persamaan panas dan persamaan difusi dalam dua dimensi
dalam bentuk
ut = k(uxx + uyy )

Di sini media yang diamati berupa daerah dimensi dua, yaitu mempunyai panjang
dan lebar. Dalam kordinat Kartesius daerah tersebut dinyatakan dalam {(x, y) : 0 ≤
x ≤ L, 0 ≤ y ≤ D} Dalam menentukan solusi u, kita dapat memisalkan

u(x, y, t) = uT (x, y, t) + uS (x, y)

yang disebut sebagai solusi transient untuk uT , dan solusi steady untuk uS . Pada
solusi kedua kita berhadapan dengan fungsi yang tidak bergantung pada waktu, ter-
jadi pada waktu yang cukup lama. Bila bentuk solusi di atas disubstitusikan pada
persamaan panas
uTt = k(uTxx + uTyy ) + k(uSxx + uSyy )

yang dapat dinyatakan dalam dua persamaan

uTt = k(uTxx + uTyy )

dan persamaan Laplace


uSxx + uSyy = 0
L.H. Wiryanto 39

yang termasuk dalam persamaan jenis eliptik.

Metoda Pemisah Variabel


Penyelesaian persamaan panas atau difusi satu dimensi, persamaan gelombang
dan persamaan Laplace untuk daerah terbatas diselesaikan menggunakan metoda
pemisah vaiabel, yang akan dibahas secara bersama untuk ketiga jenis persamaan.
Dalam metoda pemisah variabel, syarat batas dari masalah berperan penting dalam
mendapatkan solusi. Di sini kita hanya kan membahas untuk syarat batas Direchlet
dan Neumann.
Untuk menjelaskan metoda pemisah variabel, kita tinjau kembali persamaan
gelombang
utt = c2 uxx untuk 0 < x < l

dengan syarat batas


u(0, t) = 0 = u(l, t)

dan kondisi awal seperti pada bagian depan

u(x, 0) = φ(x), ut (x, 0) = ψ(x)

Dalam menentukan solusi, kita misalkan u(x, t) sebagai perkalian dari dua fungsi
yang masing-masing merupakan fungsi dari satu variabel yang ada

u(x, t) = X(x)T (t)

Karena bentuknya ini, metoda yang kita gunakan dinamakan pemisah variabel.
Bentuk permisalan di atas bila diturunkan akan memberikan

utt = X(x)T ′′ (t), uxx = X ′′ (x)T (t)

dan persamaan gelombang menjadi

XT ′′ = c2 X ′′ T

Dengan menyatukan fungsi yang mempunyai variabel yang sama, persamaan di atas
menjadi
T ′′ X ′′
− = − =λ
c2 T X
40 PDP

dan pembagian yang diperoleh haruslah konstan, sebut λ, karena hanya konstan
itulah yang mungkin dalam menyamakan pembagian fungsi t dan pembagian fungsi
x. Oleh karena itu, kita peoleh dua persamaan diferensial biasa

T ′′ + c2 λT = 0 dan X ′′ + λX = 0 (21)

Sedangkan dari kondisi batas yang ada, pemisahan variabel memberikan

u(0, t) = X(0)T (t) = 0 ⇔ X(0) = 0


(22)
u(l, t) = X(l)T (t) = 0 ⇔ X(l) = 0

Persamaan diferensial (21) dengan kondisi (22) memungkinkan kita menentukan


solusi X, karena syarat batas yang dimiliki terkait dengan X, dan sekaligus menen-
tukan λ. Sealin itu karena kita berhadapan dengan persamaan diferensial orde dua
linear, ada tiga kemungkinan solusi yang bergantung dari λ. Akan tetapi hanya un-
tuk λ > 0 yang memberikan u tak trivial. Tulisakan λ = β 2 , dan masalah nilai batas
kita
X ′′ + β 2 X = 0

X(0) = 0 = X(l)
X yang memenuhi adalah
X(x) = sin βx

dengan β = nπ/l untuk n = 1, 2, · · · Karena solusi yang diperoleh mempunyai perioda


yang berbeda-beda, tergantung dari n, maka kita gunakan indek n pada X

nπx
Xn (x) = sin
l

Selanjutnya nilai β yang diperoleh digunakan dalam menentukan T dari per-


samaan (21), memberikan

nπct nπct
Tn (t) = An cos + Bn sin
l l

Di sini digunakan indeks n untuk menyatakan T yang terkait dengan n dari β, begitu
juga koefisien dari cos dan sin. Sehingga solusi persamaan gelombangnya merupakan
L.H. Wiryanto 41

kombinasi linear dari un = Xn Tn . Agar tidak terlalu banyak menggunakaan kon-


stanta, kita tuliskan
∞ 
nπct nπct nπx
X 
u(x, t) = An cos + Bn sin sin (23)
n=1 l l l

dengan An dan Bn dimungkinkan berbeda dengan yang ada pada Tn .


Masalah selanjutnya adalah menentukan An dan Bn pada (23). Ini dapat di-
lakukan dengan menggunakan syarat awal dari persamaan gelombang. Simpangan
awal memberikan

X nπx
An sin = φ(x)
n=1 l
dan kecepatan awal memberikan

X nπc nπx
Bn sin = ψ(x)
n=1 l l

Perlu diperhatikan pada kedua kesamaan ini bahwa π dan ψ hanya terdefinisi pada
selang (0, l), sedangkan penjumlahan pada ruas kiri merupakan fungsi periodik ganjil,
terdefinisi pada seluruh bilangan riil. Oleh karena itu perlu dilakukan perluasan
selang ganjil pada φ dan ψ dengan periode 2l, yaitu


 φ(x), 0<x<l
Φ(x) =
−φ(−x), −l < x < 0

dan Φ(x + 2l) = Φ(x). Begitu juga dengan ψ. Selanjutnya dengan menggunakan
uraian derer Fourier, koefisien An dan Bn dapat diperoleh dalam bentuk

2 l nπx
Z
An = φ(x) sin dx (24)
l 0 l
2 l nπx
Z
Bn = ψ(x) sin dx (25)
nπc 0 l

Contoh:
Tentukan solusi utt = 0.04uxx pada selang 0 < x < 10 dengan syarat batas u(0, t) = 0,
u(10, t) = 0 dan syarat awal u(x, 0) = 0.1 sin 0.3πx, ut (x, 0) = 0.

Jawab:
Dari metoda pemisah variabel, masalah nilai batas dari persamaan gelombang di atas
42 PDP

mempunyai solusi seperti (23) dengan menggantikan c = 0.2 dan l = 10



X
u(x, t) = [An cos(0.02nπt) + Bn sin(0.02nπt)] sin(0.1nπx)
n=1

Kemudian An dan Bn ditentukan menggunakan (24) dan (25), menghasilkan



2
Z 10

 0.1, n=3
An = 0.1 sin(0.3πx) sin(0.1nπx)dx =
10 0 
 0, n 6= 3

dan
2 10
Z
Bn = 0 sin(0.1nπx)dx = 0
0.2nπ 0

Jadi solusi
u(x, t) = 0.1 cos(0.06πt) sin(0.3πx)

Bandingkan cara penyelesaian di atas dengan menerapkan syarat awal pada (23)
dan menguraikannya

• Kecepatan awal:

X
ut (x, t) = 0.02nπ [−An sin(0.02nπt) + Bn cos(0.02nπt)] sin(0.1nπx)
n=1


X
ut (x, 0) = 0.02nπBn sin(0.1nπx) = 0
n=1

• Simpangan awal:

X
u(x, 0) = [An + Bn 0] sin(0.1nπx) = 0.1 sin 0.3πx
n=1

A1 sin(0.1πx) + A2 sin(0.2πx) + A3 sin(0.3πx) + · · · = 0.1 sin 0.3πx

Dari dua hasil yang diperoleh dan karena {sin(0.1nπx)} merupakan himpunan yang
bebas linear maka haruslah

A1 = 0, A2 = 0, A3 = 0.1, A4 = 0, · · · ; Bn = 0 untuk n = 1, 2, · · ·

Diperoleh hasil yang sama. Cara kedua ini akan lebih mudah, karena tidak perlu
menghitung integral, tetapi tentunya terbatas pada syarat awal yang berbentuk satu
atau beberapa suku dari {sin(nπx)/l}.
L.H. Wiryanto 43

Selanjutnya kita terapkan metoda pemisah variabel pada persamaan difusi atau
panas
ut = kuxx , untuk 0 < x < l, 0 < t < ∞

dengan syarat batas u(0, t) = 0 = u(l, t) dan syarat awal u(x, 0) = φ(x), cukup
diberikan satu syarat awal. Berikut langkah-langkah yang dilakukan.

1. Misalkan u(x, t) = X(x)T (t)

2. Substitusi permisalan di atas ke masalah nilai batas, memberikan 2 PDB

X ′′ + λX = 0, dengan X(0) = 0, X(l) = 0

T ′ + kλT = 0

dengan λ konstanta, akibat mengelompokkan dan menyamakan fungsi x dan


fungsi t.

3. λ yang memenuhi agar u tidak trivial adalah λ > 0, kita tuliskan λ = β 2 . PDB
dari X menghasilkan λ = (nπ/l)2 dan

nπx
Xn (x) = sin
l

untuk n = 1, 2, 3, · · ·. Sedangkan PDB dari T menghasilkan

2 kt
Tn (t) = An e−(nπ/l)

dengan An konstanta.

4. Solusi

2 kt nπx
An e−(nπ/l)
X
u(x, t) = sin
n=1 l

5. Syarat awal digunakan untuk menentukan An , menggunakan deret Fourier,


menghasilkan
2 l nπx
Z
An = φ(x) sin
l 0 l
44 PDP

Sebagai catatan, kalau kita perhatikan, baik pada persamaan gelombang maupun
panas, dalam metoda pemisah variabel kita mendapatkan λ dan Xn (x), yang disebut
nilai-eigen dan fungsi-eigen. Nama serupa dijumpai pada matrik. Istilah tersebut
digunakan karena adanya keserupaan dari PDB X ′′ + λX = 0 dan Ax̄ + λx̄ = 0 pada
matrik A. Bila penulisan PDB tersebut menggunakan operator A = d2 /dx2 , kita
peroleh bentuk yang sama dengan persamaan matrik yang ada.
Kembali pada persamaan gelombang, kita tentukan getaran dawai dengan meli-
batkan kondisi Newmann. Secara fisis dawai yang panajangnya l direntang dan kedua
ujung dibiarkan bergerak bebas secara mendatar. Oleh karenanya, kondisi batas dari
persamaan gelombang termasuk kondisi Newmann, berupa

ux (0, t) = ux (l, t) = 0

Metoda pemisah variabel diterapkan seperti sebelumnya.

1. Misalkan u(x, t) = X(x)T (t)

2. Substitusi permisalan tersebut ke persamaan gelombang, memberikan 2 PDB

X ′′ + λX = 0, dengan X ′ (0) = 0, X ′ (l) = 0

T ′′ + c2 λT = 0

dengan λ konstanta, akibat mengelompokkan dan menyamakan fungsi x dan


fungsi t.

3. λ yang memenuhi agar u tidak trivial adalah λ > 0, kita tuliskan λ = β 2 . PDB
dari X menghasilkan λ = (nπ/l)2 dan

nπx
Xn (x) = cos
l

untuk n = 0, 1, 2, 3, · · ·. Sedangkan PDB dari T menghasilkan

nπct nπct
Tn (t) = An cos + Bn sin
l l

dengan An dan Bn konstanta.


L.H. Wiryanto 45

4. Solusi
∞ 
nπct nπct nπx
X 
u(x, t) = A0 + An cos + Bn sin cos
n=1 l l l

5. Syarat awal diperlukan untuk menentukan An dan Bn . Bila diberikan u(x, 0) =


φ(x) dan ut (x, 0) = ψ(x), perluasan fungsi genap dari φ dan ψ diperlukan
sebelum menggunakan deret Fourier, dan menghasilkan

1 l
Z
A0 = φ(x)dx
l 0

2 l nπx
Z
An = φ(x) cos dx
l 0 l
2 nπx
Z l
Bn = ψ(x) cos dx
nπc 0 l

Dengan cara sama kondisi Newmann dapat dijumpai pada persamaan panas, se-
cara fisis menyatakan batang yang dirambati panas diberi isolasi pada kedua ujung,
sehingga panas yang mencapai ujung tidak dipancarkan ke luar batang. Gunakan
sebagai latihan untuk mendapatkan solusi perambatan panas didalam batang. Se-
lanjutnya model yang ada (persamaan gelombang dan panas) dapat diikuti kondisi
batas yang merupakan gabungan antara Direchlet dan Newmann, yaitu u(0, t) = 0
dan ux (l, t) = 0.
Metoda pemisah variabel dapat juga digunakan pada persamaan Laplace, sebagai
persamaan steady dari perambatan panas pada bidang 0 < x < l, 0 < y < d. Model
matematika yang dihadapi berbentuk

uxx + uyy = 0

dengan kondisi batas u(0, y) = 0 dan u(l, y) = 0 untuk Direchlet. Tentukan solusi
yang memenuhi sebagai latihan, dengan memberikan kondisi batas dari y berupa
u(x, 0) = y0 dan u(x, d) = yd . Persamaan jenis eliptik ini akan dibahas lebih lengkap
pada bab berikutnya.
46 PDP

BAB III
Fungsi Harmonik

Pada bagian ini kita membicarakan fungsi yang memenuhi persamaan Laplace,
yang ditulisakan dalam bentuk ∇2 u = 0. Notasi ∇ menyatakan operator yang
berbentuk
∂ ∂ ∂
∇ := ī + j̄ + k̄
∂x ∂y ∂z
dan berlaku
∂2 ∂2 ∂2
∇2 = ∇ · ∇ = + +
∂x2 ∂y 2 ∂z 2
pada ruang x − y − z. Akan tetapi seringkali masalah yang kita hadapi tidak dalam 3
variabel, sehingga notasi ∇ di atas harus disesuaikan dengan variabel yang terlibat,
dan fungsi harmonik u memenuhi

1-D: uxx = 0

2-D: uxx + uyy = 0

3-D: uxx + uyy + uzz = 0

Dalam hal ruas kanan tidak nol, persamaan Laplace menjadi persamaan Poisson,
yaitu ∇2 u = f .
Terkait dengan persamaan Laplace, berikut ini diberikan contoh dimana per-
samaan Laplace dijumpai, selain yang sudah diperkenalkan pada bagian depan.

• Persamaan yang menyatakan kekekalan massa dari fluida tak termampatkan


dan aliran irrotasional. Kekekalan massa berbentuk ∇ · ρŪ = 0, dimana ρ
menyatakan rapat massa dan Ū merupakan vektor kecepatan. Karena fluida tak
termampatkan, maka ρ = konstan. Sedangkan dari sifat irrotasional (CurlŪ =
0) menjamin adanya fungsi potensial φ yang memenuhi Ū = ∇φ, sehingga
kekekalan massa menjadi
∇2 φ = 0
L.H. Wiryanto 47

Persamaan ini lebih praktis diselesaikan, hanya satu fungsi saja, dari pada
menentukan komponen-komponen Ū .

• Fungsi analitik pada fungsi kompleks


Kita perhatikan fungsi kompleks

f (z) = u(z) + iv(z)

Dengan menyatakan z = x + iy, bagian riil dan imaginer dari f dapat dit-
uliskan sebagai fungsi dua variabel u(x, y) dan v(x, y). Jika f analitik, berlaku
persamaan Cauchy-Reimann

ux = vy , uy = −vx

Persamaan ini kemudian kita turunkan, persamaan pertama terhadap x dan


persamaan kedua terhadap y, dan kemudian vxy dieliminasikan maka diperoleh

uxx = vyx







uxx + uyy = 0


uyy = −vxy


Sama halnya untuk v, persamaan Cauchy-Reimann diturunkan masing-masing


terhadap y dan x, dan uxy dieliminasi, maka diperoleh persamaan Laplace dari
v. Jadi bagian riir dan imaginer dari fungsi analitik adalah fungsi harmonik.

Contoh:
Tentukan bagian riil u dan imaginer v dari fungsi kompleks f (z) = iz 3 , kemudian
tunjukkan u dan v harmonik.

Jawab:
Tuliskan z = x + iy, maka
h  i
f (z) = i (x + iy)3 = i x3 − xy 2 − 2xy 2 + i 2x2 y + x2 y − y 3

Jadi bagian riil dan imaginer dari f adalah

u(x, y) = −2x2 y − x2 y + y 3 , v(x, y) = x3 − xy 2 − 2xy 2


48 PDP

Untuk memeriksa u dan v sebagai fungsi harmonik, kita periksa pada persamaan
Laplace

2 2 2
ux = −4xy − 2xy, uy = −2x + x + 3y






uxx + uyy = 0 dipenuhi



uxx = −6y, uyy = 6y


Sama halnya untuk v



vx = 3x2 − y 2 − 2y 2 , vy = −2xy − 4xy 



 
vxx + vyy = 0 dipenuhi



vxx = 6x, vyy = −6y


Karena u dan v memenuhi persamaan Laplace, maka bagian riil dan imaginer dari f
merupakan fungsi harmonik.
Dari kaitan antara analitik dan harmonik ini, pada fungsi kompleks sebenarnya
cukup diketahui bagian riil saja atau imaginer saja dan fungsi kompleknya dapat
diperoleh. Berikut contohnya.

Contoh:
Diberikan
u(x, y) = yex cos y + xex sin y

Tunjukkan u harmonik, kemudian jika u bagian riil dari fungsi analitik f tentukan
fungsi kompleks tersebut.

Jawab:

• u harmonik jika memenuhi persamaan Laplace



x x x
uxx = ye cos y + 2e sin y + xe sin y






uxx + uyy = 0 dipenuhi



uyy = −2ex sin y − yex cos y − xex sin y


• Dengan persamaan Cauchy-Reimann, v dapat ditentukan

ux = vy → vy = yex cos y + ex sin y + xex sin y

uy = −vx → vx = −ex cos y + yex sin y − xex cos y


L.H. Wiryanto 49

Integralkan vx terhadap x, menghasilkan

v = −ex cos y + yex sin y − cos y (xex − ex ) + K(y)

dengan K(y) sebagai konstanta integrasi, yang mempunyai kemungkinan seba-


gai fungsi y. K harus ditentukan dengan menurunkan hasil integral ini terhadap
y, dan disamakan dengan vy di atas, diperoleh K ′ (y) = 0 atau K benar-benar
konstan. Jadi fungsi kompleks yang dimaksud

f (z) = (yex cos y + xex sin y) + i [−ex cos y + yex sin y − cos y (xex − ex ) + K]

= ex cos y(y − ix) + ex (x + iy) sin y + iK

= −izez + iK

Metoda pemisah variabel pada persamaan Laplace


Salah satu metoda yang dapat digunakan untuk menyelesaikan persamaan Laplace
adalah metoda pemisah variabel, seperti yang diperkenalkan pada bagian sebelum-
nya. Untuk itu, syarat batas diperlukan. Berikut diberikan contoh penyelesaian
persamaan Laplace dua dimensi pada domain terbatas

uxx + uyy = 0

pada D = {(x, y) : 0 < x < a, 0 < y < b}, dengan kondisi u(0, y) = 0, ux (a, y) = 0;
dan uy (x, 0) + u(x, 0) = 0, u(x, b) = g(x).
Dengan memisalkan u(x, y) = X(x)Y (y), persamaan Laplace menjadi

−X ′′ Y ′′
= =λ
X Y

Kesamaan ini besera kondisi batas dari x menjadi dua persamaan diferensial biasa

X ′′ + λX = 0, X(0) = 0 = X ′ (0)

Y ′′ − λY = 0,
50 PDP

Persamaan diferensial dari X menghasilkan nilai-eigen

1 π2
λn = βn2 = (n + )2 2
2 a

untuk n = 0, 1, 2, · · · dan fungsi-eigen

(n + 12 )πx
Xn (x) = sin
a

Sedangkan persamaan Y dengan nilai-eigen yang sudah diperoleh, menghasilkan

Y (y) = A cosh βn y + B sinh βn y

dengan A dan B konstanta sebarang. Keduanya saling terkait, yang dapat diperoleh
dengan menggunakan syarat pada y = 0, yaitu

0 = Y ′ (0) + Y (0) = Bβn + A ⇔ A = −Bβn

Sehingga solusi u berbentuk



X
u(x, y) = Bn sin βn x (βn cosh βn y − sinh βn y)
n=0

Di sini kita gunakan notasi Bn sebagai gabungan dari konstanta dari Y dan konstanta
yang ada pada saat pembentukan kombinasi linear. Kita tentukan Bn menggunakan
kondisi batas pada y = b, yaitu

X
g(x) = Bn sin βn x (βn cosh βn b − sinh βn b)
n=0

berlaku untuk 0 < x < a. Selanjutnya dengan menggunakan deret Fourier, kita
peroleh
2 Z a
Bn = (βn cosh βn b − sinh βn b)−1 g(x) sin βn xdx
a 0

Untuk lebih jelas dalam menggunakan hasil di atas, gunakan sebagai latihan
dalam menentukan solusi
uxx + uyy = 0

pada domain D = {(x, y) : 0 < x < 10, 0 < y < π} dan syarat batas

u(0, y) = 0 = ux (10, y)
L.H. Wiryanto 51

dan
uy (x, 0) + u(x, 0) = 0, u(x, π) = (x − 10) sin πx

Formulasi Poisson
Pada bagian sebelum ini kita berhadapan dengan persamaan Laplace pada bidang
berbentuk persegi panjang, sehingga koordinat Kartesius digunakan dalam menyele-
saikan persamaan tersebut. Berikut ini kita akan meninjau persamaan Laplace pada
daerah yang berbentuk lingkaran, yaitu persamaan

uxx + uyy = 0

yang berlaku pada D = {(x, y) : x2 + y 2 < a2 } dan syarat batas u(x, y) = h(θ)
sepanjang lingkaran x2 + y 2 = a, dan θ menyatakan sudut dalam lingkaran tersebut.
Dalam menyelesaikan masalah nilai batas di atas, kita lakukan transformasi ko-
ordinat lebih dahulu, dari Kartesius (x, y) ke polar (r, θ) yang berlaku hubungan
y
x = r cos θ, y = r sin θ ⇔ r 2 = x2 + y 2 , tan θ =
x
Diferensial dari variabel yang ada
∂r x r cos θ
2r∂r = 2x∂x ⇒ = = = cos θ
∂x r r

∂r y r sin θ
2r∂r = 2y∂y ⇒ = = = sin θ
∂y r r
dan
−y ∂θ −y sin θ
sec2 θ∂θ = 2
∂x ⇒ = 2 cos2 θ = −
x ∂x x r

1 ∂θ 1 1
sec2 θ∂θ =∂y ⇒ = cos2 θ = cos θ
x ∂y x r
Untuk mendapatkan persamaan Laplace dalam koordinat polar, diperlukan oper-
ator turunan berikut. Turunan pertama
∂ ∂ ∂r ∂ ∂θ ∂ sin θ ∂
= + = cos θ −
∂x ∂r ∂x ∂θ ∂x ∂r r ∂θ

∂ ∂ ∂r ∂ ∂θ ∂ 1 ∂
= + = sin θ + cos θ
∂y ∂r ∂y ∂θ ∂y ∂r r ∂θ
52 PDP

Operator turunan kedua terhadap x


!2
∂2 ∂ sin θ ∂
= cos θ −
∂x2 ∂r r ∂θ

! !
∂ ∂ ∂ sin θ ∂
= cos θ cos θ − cos θ
∂r ∂r ∂r r ∂θ

! !
sin θ ∂ ∂ sin θ ∂ sin θ ∂
− cos θ +
r ∂θ ∂r r ∂θ r ∂θ

∂2 cos θ sin θ ∂ cos θ sin θ ∂ 2


= cos2 θ + −
∂r 2 r2 ∂θ r ∂r∂θ

∂2 sin θ ∂ 2
! !
sin θ ∂ sin θ cos θ ∂
− − sin θ + cos θ + +
r ∂r ∂r∂θ r r ∂θ r ∂θ2

∂2 cos θ sin θ ∂ cos θ sin θ ∂ 2


= cos2 θ + − 2
∂r 2 r2 ∂θ r ∂r∂θ

sin2 θ ∂ sin θ cos θ ∂ sin2 θ ∂ 2


+ + + 2
r ∂r r2 ∂θ r ∂θ2

∂2
2 sin2 θ ∂ sin2 θ ∂ 2
= cos θ 2 + + 2
∂r r ∂r r ∂θ2
Dengan cara sama operator turunan kedua terhadap y dinyatakan dalam variabel r
dan θ berbentuk
∂2 2 ∂
2
cos2 θ ∂ 2 cos2 θ ∂
= sin θ + +
∂y 2 ∂r 2 r 2 ∂θ2 r ∂r
Sehingga operator Laplace dalam varaibel r dan θ diperoleh dengan menggabungkan
operator turunan di atas
2
∂2 ∂2  ∂2 2
cos2 θ + sin2 θ ∂ 2
!

2 2 cos θ + sin θ ∂
+ = cos θ + sin θ + +
∂x2 ∂y 2 ∂r 2 r ∂r r2 ∂θ2

∂2 1 ∂ 1 ∂2
= + +
∂r 2 r ∂r r 2 ∂θ2
dan persamaan Laplace yang kita hadapi berbentuk
1 1
urr + ur + 2 uθθ = 0 (26)
r r
L.H. Wiryanto 53

Untuk mendapatkan solusi (26), kita tinjau lebih dahulu kasus yang hanya bergan-
tung pada r saja. Jika u menyatakan temperatur (steady) dalam batang, maka di sini
kita asumsikan perubahan temperatur yang terjadi hanya secara radial. Persamaan
(26) menjadi
1
urr + ur = 0
r

⇔ rurr + ur = 0

⇔ (rur )r = 0
Bentuk terakhir ini lebih mudah diselesaikan, dengan mengintegralkan, diperoleh

u(r) = c1 ln r + c2

dengan c1 dan c2 konstanta sebarang.


Misalkan batang yang kita tinjau berbentuk anulus dengan jari-jari dalam 1 dan
jari-jari luar 2; dan temperatur pada batas dalam dipertahankan u(1) = 100 dan
batas luarnya berbentuk ur (2) = −γ < 0, dengan γ konstan. Konstanta c1 dan c2
ditentukan dari kondisi ini, yaitu

u(1) = c1 ln(1) + c2 = 100 ⇒ c2 = 100

c1
ur (2) = = −γ ⇒ c1 = 2γ
2
Jadi distribusi temperatur dalam anulus

u(r) = −2γ ln r + 100

Oleh karena itu, γ dapat ditetapkan bila diinginkan misalnya agar u(2) = 20.
Selanjutnya, kita selesaikan persamaan

uxx + uyy = 1

pada domain D = {(x, y) : 1 < x2 + y 2 < 4} secara radial, dalam koordinat polar u
hanya bergantung pada r, dengan u(1) = 0 dan u(2) = 1. Dalam koordinat Kartesius,
persamaan yang kita hadapi termasuk persamaan Poisson. Untuk menyelesaikan
54 PDP

masalah tersebut, kita nyatakan dalam variabel polar sehingga persamaan yang kita
hadapi menjadi
(rur )r = r

Dengan mengintegralkannya diperoleh

r2
u(r) = + c1 ln r + c2
4

Dengan menggunakan syarat batas yang ada, diperoleh c1 = 1/(2 ln 2) dan c2 = −1/4.
Sekarang kita selesaikan persamaan (26) dengan kondisi u(a, θ) = h(θ). Metoda
pemisah variabel digunakan dengan memisalkan u(r, θ) = R(r)Θ(θ). Bila permisalan
ini disubstitusikan pada persamaan (26), diperoleh

1 1
R′′ Θ + 2
RΘ′′ + R′ Θ = 0
r r

Bagi persamaan ini dengan RΘ dan pisahkan suku-sukunya dalam variabel r dan θ
secara sendiri sebagai berikut

R′′ 1 Θ′′ 1 R′
+ 2 + =0
R r Θ rR

R′′ 1 R′ Θ′′
!
2
⇔ r + =− =λ
R rR Θ

sehingga kesamaan terakhir hanya mungkin terjadi kalau kedua ruas bernilai konstan,
kita sebut λ. Oleh karena itu kesamaan tersebut memberikan 2 persamaan

r 2 R′′ + rR′ − λR = 0

Θ′′ + λΘ = 0

Terkait dengan kondisi batas yang ada u(a, θ) = R(a)Θ(θ) = h(θ) sepanjang
x2 + y 2 = a2

• Sepanjang lingkaran Θ haruslah periodik dengan perioda 2π, karena θ0 dan


θ0 + 2π menunjuk titik tyang sama pada tepi domain. Jadi berlaku

Θ(θ + 2π) = Θ(θ), untuk −∞ < θ < ∞


L.H. Wiryanto 55

• Agar solusi u tidak trivial, nilai λ yang digunakan harus positif, sebut λ = p2 ,
sehingga persamaan diferensial dari Θ memberikan

Θ = A cos pθ + B sin pθ

untuk n = 1, 2, · · ·.

• Tinjau untuk λ = 0, persamaan diferensial dari Θ menjadi Θ′′ = 0, dipenuhi


oleh Θ = k1 θ + k2 . Dengan menggunakan pengertian periodik pada Θ, berlaku

Θ(θ + 2π) = k1 (θ + 2π) + k2 = k1 θ + k2 ⇔ k1 = 0, k2 sebarang

Sehingga jawab Θ sebelum ini berlaku untuk n = 0, 1, 2, · · ·.

Persamaan diferensial dari R mempunyai koefisien yang tidak konstan. Solusi


dimisalkan bentuk R(r) = r α , dengan α yang harus ditentukan. Kita substitusikan
pada persamaan diferensial dari R, diperoleh

r 2 α(α − 1)r α−2 + rαr α−1 − n2 r α = 0

⇔ α(α − 1) + α − n2 = 0 ⇔ α2 − n2 = 0
Jadi diperoleh α = ±n dan
R(r) = Cr n + Dr −n

Sedangkan untuk n = 0 persamaan menjadi r 2 R′′ + rR′ = 0, bila diintegralkan


diperoleh
R(r) = k0 ln r + k1

Penggabungan R dan Θ untuk mendapatkan solusi u

u0 (r, θ) = A (k0 ln r + k1 ) = Ak0 ln r + Ak1

 
un (r, θ) = Cenr + De−nr (A cos nθ + B sin nθ)
Dari domain untuk r, yaitu 0 ≤ r ≤ a, bentuk r −n dan ln r tidak mengijinkan
untuk r = 0, jadi solusi di atas harus diimbangi dengan D = 0 dan k0 = 0, sehingga
kombinasi linear dari {un }

1
r n (An cos nθ + Bn sin nθ)
X
u(r, θ) = A0 + (27)
2 n=1
56 PDP

Kita gunakan A0 /2 sebagai ganti dari Ak1 .


Kondisi batas pada r = a digunakan untuk menentukan koefisien dari deret

1
an (An cos nθ + Bn sin nθ)
X
h(θ) = A0 +
2 n=1
Deret Fourier memberikan
1 2π
Z
A0 = h(φ)dφ
2π 0

1 Z 2π
An = n h(φ) cos nφdφ
a π 0

1 2π Z
Bn =
h(φ) sin nφdφ
an π 0
Rumusan koefisien ini kemudian dieliminasikan pada (27) sehingga diperoleh

Z 2π dφ X r n Z 2π
u(rθ) = h(φ) + h(φ) (cos nφ cos nθ + sin nφ sin nθ) dφ
0 2π n=1 πan 0


rn
" #
2π dφ
Z X
= h(φ) 1 + 2 n
cos n(θ − φ)
0 n=1 a 2π
Suku-suku yang berada dalam kurung siku selanjutnya dituliskan dalam bentuk kom-
pleks, dan diuraikan. Kemudian nilai konvergen dari deret geometri digunakan
∞  n ∞  n
r in(θ−φ) r
e−in(θ−φ)
X X
1 + e +
n=1 a n=1 a


!n ∞
!n
X rei(θ−φ) X re−i(θ−φ)
= 1+ +
n=1 a n=1 a

rei(θ−φ) /a re−i(θ−φ) /a
= 1+ +
1 − ar ei(θ−φ) 1 − ar e−i(θ−φ)

rei(θ−φ) re−i(θ−φ)
= 1+ +
a − rei(θ−φ) a − re−i(θ−φ)
      
a − rei(θ−φ) a − re−i(θ−φ) + rei(θ−φ) a − re−i(θ−φ) + re−i(θ−φ) a − rei(θ−φ)
=
(a − rei(θ−φ) ) (a − re−i(θ−φ) )

a2 + r 2
=
a2 + r 2 − 2ar cos(θ − φ)
L.H. Wiryanto 57

Bentuk terakhir diperoleh setelah menguraikan bentuk kompleks yang ada. Jadi
solusi yang diperoleh

(a2 + r 2 ) 2π h(φ)
Z
u(r, θ) = dφ (28)
2π 0 a2 + r2 − 2ar cos(θ − φ)

yang dikenal sebagai rumus Poisson.


Sebagai contoh, kita tentukan solusi dari

uxx + uyy = 0

pada domain D = {(x, y) : x2 + y 2 < 4} dan berlaku u(x, y) = 2 pada x2 + y 2 = 4.


Dengan menggunakan rumus Poisson; a = 2, h(φ) = 2, diperoleh solusi

(4 + r 2 ) Z 2π 2
u(r, θ) = 2

2π 0 4 + r − 2ar cos(θ − φ)

(4 + r 2 ) 4π 2(4 + r 2 )
= =
2π |r 2 − 4| |r 2 − 4|

Anda mungkin juga menyukai