Analisis Cost Overrun Konstruksi ISM
Analisis Cost Overrun Konstruksi ISM
20-37
ABSTRACT: Cost overruns are a common problem in the construction industry. Cost overruns
are one of the main keys to the project failure. Therefore, the problem of cost overruns really
needs to be considered. This study aims to determine the most dominant factors that cause
cost overruns in the construction projects in Indonesia and the relationship between those
factors. The Interpretive Structural Method (ISM) method is used to identify and analyze the
interactions between various factors. ISM is a method that can describe the structure of a
complex system through both graphics and words. This study uses a survey method and
questionnaires that coverthe fifteen factors that cause cost overruns. The respondents in this
study consist of eight experts who have long experience in the construction project. The results
of the study show that the biggest main problem that causes cost overruns in the construction
projects is limited human resources.
20
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
1. PENDAHULUAN
Industri konstruksi merupakan salah satu roda penggerak perekonomian yang memiliki
dampak besar pada suatu negara. Gencarnya pembangunan suatu negara mencerminkan
kemajuan serta kesejahteraan pada negara tersebut. Memiliki industri konstruksi yang stabil
dan berkembang secara berkelanjutan merupakan suatu hal yang penting (Enshassi &
Ayyash, 2014; Rahman et al., 2013), yang mendukung pertumbuhan dan pemulihan ekonomi,
dan dampak baik lainnya pada perekonomian yang lebih luas (Durdyev dan Ismail, 2012b).
2. LANDASAN TEORI
Proyek Konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang saling berkaitan guna mencapai
tujuan tertentu dalam batasan biaya, mutu dan waktu tertentu. Proses tersebut melibatkan
suatu organisasi yang saling berkoordinasi dari berbagai sumber daya seperti tenaga kerja,
peralatan konstruksi, material tetap maupun sementara, suplai dan fasilitas, dana, teknologi,
metode serta ketepatan waktu untuk menyelesaikan proyek, sesuai anggaran, sesuai dengan
standar kualitas dan kinerja yang dispesifikasikan oleh perencana proyek (Barie et al., 1995).
21
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
Proyek konstruksi terdiri dari proyek konstruksi bangunan perumahan, gedung, industri, dan
infrastruktur.
Pembengkakan biaya (cost overruns) didefinisikan sebagai selisih antara biaya proyek akhir
dengan biaya yang disepakati dalam kontrak proyek, di mana biaya aktual melebihi anggaran
awal (Shehu, Endut, & Akintoye, 2014). Pembengkakan biaya proyek merupakan
permasalahan yang perlu mendapat perhatian khusus, karena jarang ada proyek konstruksi
yang diselesaikan sesuai dengan anggaran yang telah direncanakan sebelumnya (Azis et al.,
2012). Pembengkakan biaya proyek ini menunjukkan adanya kondisi keuangan yang tidak
sehat pada suatu proyek konstruksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi biaya proyek
konstruksi bersifat kualitatif seperti tuntutan klien pada tenggat waktu penyelesaian proyek
konstruksi, perencanaan desain yang sesuai kemampuan kontraktor, metode pelaksanaan
yang diterapkan di proyek konstruksi, dan kondisi pasar (Elchaig et al., 2005).
Dari berbagai faktor penyebab pembengkakan biaya yang sudah dipelajari, peneliti
mengambil lima belas faktor utama yang menjadi dasar penelitian cost overruns dengan
metode Interpretive Structural Modeling dari penelitian terdahulu. Pemilihan faktor didasarkan
pada faktor paling berpengaruh pada lima belas penelitihan terdahulu. Masing-masing sumber
dan penjelasan faktor dijelaskan pada poin-poin dibawah ini :
2.3.1. Perencanaan dan Estimasi Pekerjaan yang Buruk (F1) (Morris, 1990)
Sebelum melakukan suatu aktivitas di proyek konstruksi, perlu dilakukan perencanaan yang
matang dari berbagai aspek mulai dari metode pelaksanaan, penjadwalan, hingga
perencanaan pembiayaan agar suatu proyek dapat berjalan lancar dan minim kesalahan.
Perencanaan merupakan tahapan terpenting untuk melakukan estimasi pekerjaan yang akan
dijalankan di kemudian hari (Zwikael, 2009).
Perubahan rencana pada desain suatu proyek berimbas pada kelangsungan suatu pekerjaan
di proyek konstruksi. Bila pergantian tersebut dilakukan secara mendadak tanpa
mempedulikan suatu keadaan proyek konstruksi, hal tersebut akan menimbulkan suatu
pembengkakan biaya akibat bertambahnya cakupan pekerjaan yang harus dilakukan (Wu et
al., 2005).
22
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
2.3.4. Pengelolaan dan Kondisi Keuangan yang Buruk (F4) (Elinwa & Buba, 1994)
Segala pengeluaran dana di suatu proyek diharapkan untuk memenuhi keperluan pekerjaan
di proyek konstruksi sehingga uang yang dikeluarkan akan efisien dan dapat mempercepat
suatu progres pekerjaan di proyek konstruksi. Kondisi keuangan yang buruk pada proyek akan
mempengaruhi perputaran uang, di mana hal tersebut dapat menghambat pengeluaran dan
akan menimbulkan pembengkakan biaya karena faktor yang saling berkaitan (Barnes,1988).
2.3.5. Keterlambatan Pekerjaan yang Tidak SesuaiRencana Jadwal (F5) (Bubshait & Al
Juwairah, 2002)
Manajemen proyek sangat berpengaruh bagi kelangsungan dan kesuksesan suatu proyek
konstruksi. Buruknya manajemen di suatu proyek akan mempengaruhi buruknya strategi
penjadwalan, pengaturan pekerja, dan pengaturan keuangan pada pembiayaan proyek
tersebut (Kaliba et al., 2009).
2.3.8. Adanya Praktik Kecurangan pada Internal Perusahaan (F8) (Omeregie & Radford,
2006)
Praktik kecurangan pada internal perusahaan merupakan masalah yang besar bagi suatu
perusahaan. Praktik kecurangan tersebut dapat dengan fatal merugikan pihak perusahaan
karena adanya korupsi atau monopoli demi keuntungan pribadi pekerja yang dapat
menyebabkan pembengkakan biaya (Kenny, 2009).
2.3.9 Perencanaan Tidak Sesuai dengan Implementasi di Proyek konstruksi (F9) (Le-
Hoai et al., 2008)
Perencanaan yang matang tidak selalu berjalan dengan baik. Perencanaan yang tidak dapat
diimplementasikan di proyek konstruksi akan menyebabkan pembengkakan biaya karena
metode yang hendak dipakai tidak sesuai dengan perencanaan dan strategi pekerjaan awal.
Perubahan tersebut dapat mempengaruhi suatu desain dan menambah pengeluaran tak
terduga untuk material yang menyebabkan pembengkakan biaya (Kaliba et al., 2009).
23
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
Dalam pelaksanaan suatu proyek, diharapkan material dapat siap di proyek konstruksi secara
cukup dan tidak berlebih. Keterlambatan suatu material akan mempengaruhi efektivitas
pekerjaan di proyek konstruksi yang mengakibatkan berkurangnya efektivitas pada
pendanaan pekerja. Sebaliknya, kelebihan material juga mengurangi ruang gerak suatu
pekerjaan yang dapat menyebabkan pekerja sulit sekali dalam beraktivitas dan menyebabkan
penurunan efektivitas pekerjaan yang menyebabkan pembengkakan biaya (Kaming et al.,
1997).
Kontraktor yang kurang berpengalaman pada suatu lingkup pekerjaan dapat dengan mudah
melakukan kesalahan pekerjaan yang akan menyebabkan pembengkakan biaya (El-sayegh,
2021).
2.3.12. Kontrak yang Tidak Menguntungkan Kontraktor (F12) (Durdyev et al, 2012)
Suatu kontrak yang tidak menguntungkan dapat menimbulkan banyak sekali permasalahan.
Dokumen kontrak yang tidak lengkap dapat menyebabkan miskomunikasi penyampaian isi
kontrak dengan pihak pelaksana yang bekerja di proyek konstruksi. Hal tersebut dapat
menyebabkan kesalahan pekerjaan sehingga akan menimbulkan pembengkakan biaya (Azis
et al., 2012).
2.3.13. Pengawasan Proyek konstruksi yang Buruk (F13) (Olawale et al., 2010)
Pengawasan pekerjaan pada proyek konstruksi perlu dilakukan agar proyek dapat terus
berjalan pada jalur yang sesuai rencana. Diharapkan dengan adanya pengawasan, akan
mengurangi risiko terjadinya kesalahan pengerjaan di proyek konstruksi (Ahbab & Celik,
2012).
Pekerjaan di proyek konstruksi dapat mengalami delay yang disebabkan karena perubahan
cuaca yang tidak menentu. Pada umumnya tiap daerah memiliki kondisi cuaca maupun iklim
yang berbeda-beda. Dampak cuaca yang tidak menentu terhadap pembengkakan biaya
adalah delay yang menyebabkan penambahan durasi pekerjaan yang menambah biaya
pekerjaan (Karunakaran, 2018).
Hasil dari suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan spesifikasi rencana harus dikerjakan
ulang atau dibetulkan agar kualitas pekerjaan tersebut sesuai dengan spesifikasi di kontrak
awal. Pekerjaan yang berulang tersebut akan menjadi masalah yang dapat menyebabkan
suatu pembengkakan biaya pada proyek konstruksi (Kamaruddeen et al., 2020).
24
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
Metode ISM pertama kali dikembangkan untuk mengidentifikasi keterkaitan antar elemen
penyusun struktur suatu sistem. ISM merupakan metode yang dapat menggambarkan struktur
sistem yang kompleks melalui grafik maupun kata-kata. Metode ini dapat membantu untuk
menyederhanakan suatu permasalahan atau hubungan yang kompleks antar elemen dalam
sistem, sehingga akan didapatkan susunan tindakan apa saja yang dapat diambil untuk
memecahkan masalah tersebut (Warfield, 1974; 1979). Metode ISM dapat digunakan untuk
mengembangkan hubungan dan menentukan hierarki di antara berbagai faktor berdasarkan
opini ahli atau pakar yang mayoritas diperoleh secara subjektif (Jamil, 2016). Tenaga ahli
yang profesional sangat diperlukan sebagai kunci dalam memberikan pernyataan dan
tanggapan terkait tahap perencanaan dan pelaksanaan konstruksi proyek. Setelah itu,
tanggapan dari ahli mengenai keterkaitan antara faktor penyebab pembengkakan biaya
proyek tersebut dicatat sebagai masukan sekaligus pedoman sementara.
Dalam penelitian ini, metode ISM digunakan untuk membangun struktur hierarki yang
memodelkan hubungan antar sub-faktor pembengkakan biaya proyek konstruksi bangunan.
Hubungan antar sub-faktor yang berpengaruh secara signifikan tersebut akan dieksplorasi
melalui kuesioner perbandingan berpasangan (pairwise comparison) dengan melibatkan
beberapa ahli atau pakar yang mempunyai pengalaman praktis dalam bidang konstruksi.
Kuesioner perbandingan berpasangan yang dibagikan ke para ahli dirancang dengan metode
DEMATEL. Metode DEMATEL atau Decision-making trial and evaluation laboratory adalah
metode yang digunakan untuk menentukan keterkaitan yang terjadi antar kriteria evaluasi
kinerja supplier (Gulo, 2021) . Integrasi Metode DEMATEL dan ISM diperkenalkan oleh Zhou
et al (2006) dan telah banyak digunakan dalam berbagai area penelitian. Berikut ini adalah
langkah-langkah integrasi DEMATEL-ISM (Pangestu & Ester, 2022) :
25
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
Tahap 5 : Konversi Total-Relation Matrix (T) menjadi Initial Reachability Matrix (K).
Elemen 𝑓𝑖 dianggap mempengaruhi elemen 𝑓𝑗 apabila 𝑡𝑖𝑗 lebih besar dari threshold value.
Threshold value (α) adalah nilai rata-rata dari 𝑡𝑖𝑗 dalam Total-Relation Matrix. Initial
Reachability Matrix (K) digunakan untuk menunjukkan hubungan dari elemen 𝑓𝑖 ke elemen
𝑓𝑗 yang dinyatakan dalam bilangan biner 0 atau 1.
Tahap 7 : Menentukan himpunan reachability (R), himpunan antecedent (S), dan himpunan
irisan (R∩S).
Himpunan reachability (R) adalah serangkaian faktor yang sesuai dengan kolom di mana
semua faktor dalam baris i dari Final Reachability Matrix adalah 1. Himpunan antecedent
adalah serangkaian faktor yang sesuai dengan baris di mana semua elemen dalam kolom i
dari Final Reachability Matrix adalah 1.
Struktur diagram ini terdiri dari ketergantungan (sumbu X) dan daya penggerak (sumbu Y).
Kekuatan ketergantungan setiap elemen dihitung dari Final Reachability Matrix dengan
menambahkan semua angka di kolom yang sesuai. Sedangkan, kekuatan pendorong dari
setiap elemen dihitung dari Final Reachability Matrix dengan menambahkan semua angka di
baris yang sesuai. Kemudian nilai ketergantungan dan kekuatan penggerak setiap elemen
menjadi posisi setiap elemen yang mengacu pada sumbu x dan y dalam diagram kartesius.
26
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
Tahap 10 : Menghitung nilai D+R (prominence) dan D-R (relation) dari Total-Relation Matrix
(T)
Total-Relation Matrix (T) selain dikonversi menjadi Initial Reachability Matrix (K) dalam
penelitian ini akan digunakan untuk mendapatkan nilai D+R (nilai prominence) dan nilai D-R
(nilai relation) yang menjadi dasar dalam analisis DEMATEL. Nilai D didapatkan melalui
Persamaan 2.3 sebagai berikut :
3. METODE PENELITIAN
Diagram alur penelitian dapat terlihat pada Gambar 1. Studi literatur dilakukan terlebih dahulu
guna mencari informasi yang dibutuhkan dalam melakukan penulisan. Studi literatur dilakukan
dengan mempelajari hasil dari sebuah analisa penyebab pembengkakan biaya yang sering
terjadi didi proyek konstruksi. Dari hasil studi literatur didapatkan lima belas faktor penyebab
pembengkakan biaya yang umum terjadi di proyek konstruksi
Sebelum menjalankan metode ISM, perlu adanya brainstorming akan faktor – faktor apa saja
yang mungkin menjadi penyebab pembengkakan biaya di proyek konstruksi. Brainstorming
merupakan langkah awal yang paling terkenal dari semua teknik yang tersedia untuk
pemecahan masalah secara kreatif (Rawlinson, 1986). Brainstorming bermanfaat untuk
mempelajari variabilitas dalam keterkaitan antar faktor yang berada di ruang lingkup
penelitian.
27
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
Studi literatur
Metode DEMATEL
Menyusun kuesioner
Mengumpulkan data
Metode ISM
Mengkonversi Total-Relation
Matrix menjadi Initial
Reachability Matrix
Menyusun himpunan
reachability, antecedent, dan
irisan
Membangun diagram
kartesius MICMAC
Menginterpretasi hasil
Memberikan rekomendasi
28
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
Proses pengisian kuesioner yang dilakukan oleh responden selalu didampingi oleh peneliti
sehingga menghindarkan misinterpretasi responden terhadap maksud dari setiap sub-faktor.
Pengisian kuesioner membutuhkan lebih dari satu pertemuan antara peneliti dan responden
karena perbandingan berpasangan yang diisi jumlahnya cukup banyak dan dibatasi oleh
waktu yang dimiliki responden untuk mengisi kuesioner tersebut.
Hasil pengisian kuesioner tersebut akan melalui tahap pengolahan data. Tahap pertama data
akan diolah dengan metode DEMATEL yang terdiri dari penyusunan initial-direct relation
matrix, normalisasi initial-direct relation matrix, perhitungan total-relation matrix, perhitungan
nilai prominence dan relation. Tahap kedua data akan diolah dengan metode ISM. Pada tahap
ini data akan diolah dengan mengembangkan structural self-interaction matrix, penyusunan
reachability matrix, dan mengelompokkan reachability matrix.
Hasil dari penelitian akan menghasilkan directed graph atau diagraph yang merupakan
representasi dari struktur hierarki hubungan sub-faktor, diagram kartesius MICMAC, nilai
prominence, dan nilai relation akan diinterpretasikan dan hasil interpretasinya akan
disampaikan dalam narasi yang koheren. Hasil interpretasi akan menjadi dasar penyusunan
rekomendasi tindakan atau strategi bagi para pelaku dalam industri konstruksi agar dapat
meminimalkan atau mengantisipasi pembengkakan biaya di proyek konstruksi.
Pengumpulan data yang dilakukan dengan metode DEMATEL melibatkan delapan orang
responden yang dikategorikan ahli dalam bidang konstruksi berdasarkan pengalaman
terdahulu. Penentuan jumlah responden didasari oleh penelitihan terdahulu yang dilakukan
oleh Pangestu & Ester (2022). Proyek konstruksi yang dimaksud dalam penelitian adalah
proyek high rise building di Indonesia. Pada penelitian ini, para ahli mengisi kuesioner
perbandingan berpasangan yang menyatakan hubungan antar faktor penyebab cost
overruns. Pengumpulan data dilakukan selama 5 (lima) bulan yaitu dari bulan Februari 2022
– Juni 2022. Langkah awal pengumpulan data adalah keseluruhan responden diminta untuk
mengisi kuesioner perbandingan berpasangan. Selanjutnya, pengolahan data kuesioner
dilakukan dengan metode DEMATEL-ISM untuk menghasilkan model struktur hierarki yang
menunjukkan hubungan antar faktor penyebab cost overruns.
Pengambilan data diambil dari delapan responden yang dikategorikan ahli dalam bidang
proyek high rise building. Responden memiliki rentang usia 34-57 tahun dengan pengalaman
dalam bidang high rise building rata-rata selama lima belas tahun. Masing-masing responden
memiliki pengalaman minimal tiga proyek high rise building di Indonesia. Dari delapan
responden penelitian 75% responden merupakan Project Manager, 12,5% koordinator Project
Manager, dan 12,5% direktur.
29
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
Perhitungan iterasi dengan metode Interpretive Structural Modeling (ISM) dan DEMATEL
memberikan hasil akhir (output) berupa struktur hierarki dan tingkatan setiap faktor, MICMAC
Diagram, dan Prominence Net Diagram. Faktor-faktor yang mempengaruhi cost overruns
pada proyek konstruksi yang digunakan sebagai variabel penelitian ini dikelompokkan dengan
beberapa cara dalam ketiga output tersebut. Dalam struktur hierarki, terdapat lima belas faktor
yang dikelompokkan menjadi empat level berbeda yang diperoleh melalui hasil iterasi dimana
semakin besar level digambarkan semakin ke bawah dalam struktur mengartikan semakin
tingginya driving power. Faktor cost overruns terdiri dari F1-F15 yang telah dijelaskan pada
Bab 2. Gambar 2 merupakan hasil dari perhitungan metode ISM yang menunjukkan hubungan
antar faktor dengan level yang berdekatan.
Gambar 2. Hubungan antar faktor dengan level tepat di atasnya dalam struktur hierarki
Pelevelan hubungan antar faktor melalui metode ISM menghasilkan beberapa output, yaitu
struktur hierarki dan MICMAC diagram. Dalam MICMAC diagram terdapat lima belas faktor
yang dikategorikan ke dalam empat faktor berdasarkan kuadran diagram. Hasil pengolahan
data seluruh variabel dalam penelitian ini tersebar pada kuadran I, II, dan III. Hal ini berarti
seluruh faktor memiliki tingkat dependence dan driving power yang beragam. Seluruh faktor
akan digolongkan dalam dua kategori yaitu linkage dan independent berdasarkan nilai
dependence power. Melalui MICMAC diagram dapat disimpulkan faktor-faktor mana saja
30
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
yang perlu menjadi perhatian dan dianggap sebagai akar permasalahan berdasarkan nilai
driving power yang paling tinggi dengan hasil sama seperti struktur hierarki.
Output terakhir dari penelitian ini adalah berupa Prominence Net diagram dari metode
DEMATEL yang menempatkan variabel penelitian berdasarkan nilai (D+R) dan (D-R). Dari
diagram ini, faktor yang perlu menjadi perhatian adalah faktor yang memiliki kecenderungan
mempengaruhi faktor-faktor lain, yaitu faktor yang memiliki nilai (D-R) positif tertinggi seperti
pada Tabel 1.
Tabel 1. Faktor dengan nilai (D-R) positif tertinggi dan faktor paling terpengaruhnya
Jika dianalisis melalui hasil Total Relation Matrix, faktor perubahan cuaca tidak menentu (F14)
memberikan dampak terbesar pada faktor keterlambatan pekerjaan yang tidak sesuai pada
jadwal (F5). Tingkat pengaruh faktor perubahan cuaca terhadap keterlambatan pekerjaan
yang tidak sesuai jadwal adalah sebesar 0,1955. Hal ini sesuai dengan hasil diskusi dengan
para ahli yang menjadi responden pada penelitian, dimana jika cuaca di proyek tidak menentu
maka akan memiliki dampak yang besar pada jadwal proyek.
Faktor dominan kedua yang memiliki tingkat pengaruh terbesar adalah faktor keterbatasan
sumber daya manusia (F6). Faktor ini memiliki pengaruh paling besar pada faktor
keterlambatan pekerjaan yang tidak sesuai jadwal (F5). Tingkat pengaruh terbesar ini memiliki
nilai sebesar 0,2495. Hasil ini didukung oleh hasil yang diperoleh dari para ahli yang
menyebutkan bahwa faktor keterbatasan manusia mempengaruhi faktor keterlambatan
pekerjaan yang tidak sesuai jadwal. Pekerjaan di proyek sangat bergantung pada sumber
daya manusia. Pada setiap pengerjaan fabrikasi, pekerjaan pondasi, hingga pekerjaan atap
diperlukan sumber daya manusia untuk proses pekerjaannya.
Faktor ketiga yang memiliki tingkat pengaruh terbesar adalah kontraktor yang kurang
berpengalaman (F11). Faktor ini memiliki tingkat pengaruh terbesar sebesar 0,2917 pada
faktor keterlambatan pekerjaan yang tidak sesuai jadwal (F5). Kurangnya pengalaman yang
dimiliki kontraktor dapat menyebabkan beragam masalah yang dimulai dari perencanaan
biaya serta jadwal yang kurang tepat, rework, koordinasi yang tidak baik dan sebagainya. Hal
ini akan berdampak besar pada penjadwalan proyek yang memerlukan orang-orang yang
berpengalaman dalam pengerjaannya.
Dilihat pada Tabel 2, struktur hierarki dan MICMAC diagram dianalisis menggunakan metode
ISM memberikan hasil faktor kunci yang sebagian besar sama meskipun struktur hierarki
dibentuk dari hitungan iterasi, sedangkan MICMAC dibentuk dari nilai hasil perhitungan driving
dan dependence power. Faktor-faktor yang menjadi faktor akar permasalahan dalam
31
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
hubungan antar faktor ini merupakan faktor yang perlu mendapatkan perhatian lebih karena
jika terjadi kendala atau masalah, akan menimbulkan dampak pada mayoritas faktor lain yang
mempengaruhi cost overruns proyek.
Tabel 2. Perbandingan hasil analisis faktor penyebab cost vverruns dengan tiga metode
Dari hasil perbandingan metode Interpretive Structural Modeling dan DEMATEL terdapat tiga
faktor yang termasuk dalam akar masalah dari kedua metode. Ketiga faktor tersebut adalah :
Akar masalah dalam permasalahan cost overruns terdiri dari tiga faktor, yaitu keterbatasan
sumber daya manusia, manajemen kontraktor yang buruk, dan adanya praktik kecurangan
pada internal kontraktor. Faktor manajemen kontraktor yang buruk dan adanya praktik
kecurangan pada internal kontraktor merupakan faktor yang berada di dalam kontrol internal
kontraktor. Dalam menyikapi akar masalah, pelaku industri konstruksi dapat berusaha
mengendalikan dengan membuat manajemen dan sistem konstruksi seperti pemilihan
sumber daya manusia yang tepat, perencanaan yang baik dari segi jadwal dan biaya, dan
32
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
Faktor kedua adalah manajemen kontraktor yang buruk. Hal ini sangat berpengaruh bagi
kelangsungan dan kesuksesan suatu proyek. Manajemen kontraktor dapat mempengaruhi
keseluruhan proyek seperti strategi penjadwalan, pengaturan pekerja, dan pengaturan
keuangan dalam biaya proyek. Manajemen kontraktor yang buruk dapat terjadi karena tidak
adanya susunan diagram koordinasi dan pertanggungjawaban yang jelas. Hal ini dapat diatasi
dengan memperjelas hak dan kewajiban pada setiap komponen perusahaan, serta sistem
pertanggungjawaban.
Faktor ketiga adalah adanya praktik kecurangan pada internal kontraktor. Bentuk kecurangan
pada internal kontraktor adalah korupsi hingga monopoli yang menguntungkan kepentingan
pribadi. Faktor ini berada dalam kendali internal kontraktor. Praktik kecurangan dapat dicegah
dengan menggunakan sistem pembelian yang dapat dibuktikan jelas seperti adanya bukti
pembayaran, memberikan gaji yang sesuai dengan keahlian, dan pembukuan yang
transparan.
Penelitian ini telah berhasil membuktikan bahwa terdapat hubungan antar faktor-faktor yang
menyebabkan terjadinya cost overruns pada proyek konstruksi. Hubungan antar faktor
tersebut menjadi dasar dalam pembentukan model struktur hierarki dengan metode
Interpretive Structural Modeling (ISM). Dari hasil penelitian diperoleh empat level struktur
hierarki hubungan antar faktor-faktor yang dapat digunakan oleh kontraktor dan pemilik
proyek sebagai framework untuk mengurangi risiko terjadinya cost overruns. Level 1 terdiri
dari Perubahan Desain Pekerjaan (F2), Pengolahan dan Kondisi Keuangan yang Buruk (F4),
Keterlambatan Pekerjaan yang Tidak Sesuai pada Jadwal (F5), Perencanaan Tidak Sesuai
dengan Implementasi Proyek konstruksi (F9), Pengadaan Material yang Buruk (F10),
Kontraktor Kurang Berpengalaman (F11), Kontrak yang Tidak Menguntungkan Kontraktor
(F12), Pengawasan Proyek konstruksi yang Buruk (F13), dan Kualitas Pekerjaan yang Buruk
(F15). Level 2 terdiri dari Perencanaan dan Estimasi Pekerjaan yang Buruk (F1), Harga
Material yang Berubah-ubah (F3), dan Perubahan Cuaca yang Tidak Menentu (F14). Level 3
terdiri dari Manajemen Kontraktor yang Buruk (F7) dan Adanya Praktik Kecurangan pada
Internal Perusahaan (F8). Level 4 terdiri dari Keterbatasan Sumber Daya Manusia (F6).
Selanjutnya dari hasil metode ISM dengan menggunakan DEMATEL diketahui bahwa
terdapat 5 faktor dominan yang dapat menyebabkan terjadinya cost overruns berdasarkan
nilai urutan D+R, yaitu keterlambatan pekerjaan yang tidak sesuai pada jadwal, perencanaan
tidak sesuai dengan implementasi proyek konstruksi, kontraktor yang kurang berpengalaman,
pengadaan material yang buruk, perencanaan dan estimasi pekerjaan yang buruk.
Setelah melakukan penelitian berikut merupakan beberapa saran yang dapat dipakai sebagai
bahan pertimbangan untuk penelitian selanjutnya :
1. Penggunaan metode Interpretive Structural Modeling (ISM) terbatas hanya berdasarkan
pendapat para ahli dimana dapat terjadi bias ketika melakukan penilaian antar sub-faktor
seperti pengetahuan dan pengalaman ahli yang berbeda-beda. Disarankan untuk
33
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
melakukan validasi lebih lanjut dengan menggunakan model pengujian statistik Structural
Equation Modeling (SEM).
2. Sebagai kelanjutan dari cara pengendalian terhadap faktor-faktor yang menjadi akar
masalah dalam penelitian, disarankan untuk dilakukan penelitian lanjut terkait tingkat
pengaruh dan pengendalian faktor keterbatasan sumber daya manusia terhadap cost
overruns dan faktor-faktor lain yang menjadi akar permasalahan.
6. DAFTAR REFERENSI
Ahbab, C., & Celik, T. (2012). “An Investigation on Delay, Cost Overrun, Quality, and Health
and Safety Problems in Construction Projects.” In 10th International Congress on
Advances in Civil Engineering, Ankara: Middle East Technical University.
Ahmed, S., Hoque, M. I., Islam, M. H., & Hossain, M. (2018). “A Reality Check of Status
Level of Worker Against Skilled Worker Parameters or Bangladeshi Construction
Industry.” Journal of Civil Engineering and Construction, 7(3), 132-140.
Ameh, O.J., Soyingbe, A.A. & Odusami, K.T. (2010). “Significant Factors Causing Cost
Overruns in Telecommunication Projects in Nigeria.” Journal Construction Dev.
Countries, 15, 49-67.
Aziz, A. A. A., Memon, A. H., Rahman, I. A., & Karim, A. T. A. (2012). “Controlling Cost Overrun
Factors in Construction Projects in Malaysia.” Research Journal of Applied Sciences,
Engineering and Technology, 5(8), 2621-2629.
Barie, D.S. Paulson, Jr. B.C. & Sudinarto. (1995). Manajemen Konstruksi Profesional.
Penerbit Erlangga.
Bubshait, A.A, ALJuwariah, Y.A. (2002). “Factors Contributing to Construction Cost in Saudi
Arabia.” Cost Engineering; 44,5: ABI/INFORM Global pg.30.
Creedy, G.D. (2005). “Risk Factors Leading to Cost Overrun in the Delivery of Highway
Construction Project.” Proceeding of Queensland University of technology research week
international conference, 4-8 July, Brisbane, Australia.
Durdyev, S., & Ismail, S. (2012b). “Pareto Analysis of On-Site Productivity Constraints and
Improvement Techniques In Construction Industry.” Scientific Research and Essays,
7(7), 824–833.
Durdyev, S., Ismail, S., & Abu Bakar, N. (2012). “Factors Causing Cost Overrun in
Construction of Residential Projects: Case Study of Turkey.” International Journal of
Science and Management, 1(1), 3–12.
Elchaig, T., Boussabinaine, A., & Ballal, T. (2005). “Critical Determinants of Construction
Tendering Costs: Quantity Surveyors’ Standpoint.” International Journal of Project
Management, 23, 538-545.
34
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
Elinwa, U. & Buba, S. (1993). “Construction Cost Factors in Nigeria.” Journal of Construction
Engineering and Management. Vol 119, No 4. 698-714.
El-Sayegh, S. M., Manjikian, S., Ibrahim, A., Abouelyousr, A., & Jabbour, R. (2021). “Risk
Identification and Assessment in Sustainable Construction Projects in the UAE.”
International Journal of Construction Management, 21(4), 327-336.
Enshassi, A., Al‐Najjar, J., & Kumaraswamy, M. (2009). “Delays and Cost Overruns in the
Construction Projects in the Gaza Strip.” Journal of Financial Management of property
and Construction.
Enshassi, A., & Ayyash, A. (2014). “Factors Affecting Cost Contingency in the Construction
Industry – Contractors’ Perspective.” International Journal of Construction
Management, 14(3), 215–239.
Durdyev, S., Ismail, S., & Abu Bakar, N. (2012). “Factors Causing Cost Overrun in
Construction of Residential Projects: Case Study of Turkey.” International Journal of
Science and Management, 1(1), 3–12.
Frimpong, Y., Oluwoye, J., & Crawford, L. (2003). “Causes of Delay and Cost Overruns in
Construction of Groundwater Projects in A Developing Countries; Ghana As A Case
Study.” International Journal of Project Management, 21(5), 321-326.
Gulo, Y.K. (2021). “Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Calon Barista dengan
Menggunakan Metode Dematel dan Waspas (Studi Kasus : Coffee Corner Medan).”
Kajian Ilmiah Informatika dan Komputer, 1(5), 210-217.
Jamil, G. S., Xin Hu &Bo Xia (2016). “An Overview of the Application of Interpretive
Structural Modeling (ISM) in Construction Management Research.” International
Conference on Sustainable Built Environment.
Kaliba, C., Muya, M., & Mumba, K. (2009). “Cost Escalation and Schedule Delays in Road
Construction Projects In Zambia.” International Journal of Project Management,
27(5), 522-531.
Kamaruddeen, A. M., Sung, C. F., & Wahi, W. (2020). A Study on Factors Causing Cost
Overrun of Construction Projects in Sarawak, Malaysia. Labour (human), 2(7), 13.
Kaming, P. F., Olomolaiye, P. O., Holt, G. D., & Harris, F. C. (1997). “Factors Influencing
Construction Time and Cost Overruns on High-Rise Projects in Indonesia.”
Construction Management & Economics, 15(1), 83-94.
Karunakaran, P., Abdullah, A. H., Nagapan, S., Sohu, S., & Kasvar, K. K. (2018).
“Categorization of Potential Project Cost Overrun Factors in Construction Industry.”
In IOP Conference Series: Earth and Environmental Science (Vol. 140, No. 1, p.
012098). IOP Publishing.
35
Limantoro: Analisa Faktor Cost Overruns dengan Metode Interpretive Structural Modeling
Kasimu, M. A. (2012). “Significant Factors that Causes Cost Overruns in Building Construction
Project in Nigeria.” Interdisciplinary Journal of Contemporary Research in
Business, 3(11), 775-780.
Le-Hoai, L., Lee, Y.D., & Lee, J. Y. (2008). “Delay and Cost Overruns in Vietnam Large
Construction Projects: A Comparison with Other Selected Countries.” KSCE Journal of
Civil Engineering, 12(6), 367-377.
Memon, A. H., Rahman, I. A., Abdullah, M. R., & Azis, A. A. A. (2014). “Factors Affecting
Construction Cost Performance in Project Management Projects: Case of MARA Large
Projects.” International Journal of Civil Engineering and Built Environment, 1(1), 30-35.
Morris, S. (1990). “Cost and Time Overruns in Public Sector Projects.” Economic and
Political Weekly, 47, 68-154.
Olawale, Y.A. (2010). Cost and Time Control Practice of Construction Projects in the UK: The
Pursuit of Effective Management Control (Doctoral dissertation, University of the West of
England, Bristol).
Omoregie A. & Radford, D. (2006). “Infrastructure Delays and Cost Escalation: Causes and
Effects in Nigeria.” In Proceeding of Sixth International Post Graduate Research
Conference, 3rd, 7th April Delft University of technology and TNO, the Netherlands.
Owolabi, J. D., Amusan, L. M., Oloke, C. O., Olusanya, O., Tunji-Olayeni, P. F., Dele, O., &
Omuh, I. O. (2014). “Causes And Effect Of Delay On Project Construction Delivery
Time.” International Journal of Education and Research, 2(4), 197-208.
Pangestu, B. & Ester, P. (2022). Aplikasi Interpretive Structural Modeling untuk Analisis
Hierarki dan Interaksi antar Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Pekerja
Konstrusi. (Unpublished master’s thesis). Universitas Kristen Petra.
Rahman, I.A., Memon, A.H., & Karim A.T.A. (2013). “Examining Factors Affecting Budget
Overrun of Construction Projects Undertaken through Management Procurement
Method Using PLS-SEM Approach.” Social and Behavioral Science, 120, 120-128.
Shehu, Z. R., Endut, I., & Akintoye, A. (2014). “Factors Contributing to Project Time and
Hence Cost Overrun in the Malaysian Construction Industry.” Journal of Financial
Management of Property and Construction, 19(1), 55–75. doi:10.1108/JFMPC-04-
2013-0009.
36
Dimensi Utama Teknik Sipil, Vol.10 No.1 : 20-37
Wu, C. H., Hsieh, T. Y., & Cheng, W. L. (2005). “Statistical Analysis of Causes for Design
Change in Highway Construction on Taiwan.” International Journal of Project
Management, 23(7), 554-563.
Zhou, D. Q., Zhang, L., & Li, H. W. (2006). “A Study of The System's Hierarchical Structure
through Integration of DEMATEL and ISM.” In 2006 International Conference on
Machine Learning and Cybernetics, pp. 1449-1453, IEEE.
37