0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan9 halaman

Klasifikasi dan Penanganan RDS Neonatus

RDS atau sindroma gangguan pernapasan merupakan gangguan pada sistem pernapasan neonates yang disebabkan oleh kurangnya surfaktan. Gejalanya meliputi dispnea, takipnea, sianosis, dan suara rintihan pada ekspirasi. Penyebabnya adalah kurangnya surfaktan yang berperan mencegah kolaps alveoli. Pemeriksaan diagnostik meliputi gas darah dan rontgen paru yang menunjukkan infiltrat alveolar. Pengobatannya meliputi oksig

Diunggah oleh

jelfi non
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
101 tayangan9 halaman

Klasifikasi dan Penanganan RDS Neonatus

RDS atau sindroma gangguan pernapasan merupakan gangguan pada sistem pernapasan neonates yang disebabkan oleh kurangnya surfaktan. Gejalanya meliputi dispnea, takipnea, sianosis, dan suara rintihan pada ekspirasi. Penyebabnya adalah kurangnya surfaktan yang berperan mencegah kolaps alveoli. Pemeriksaan diagnostik meliputi gas darah dan rontgen paru yang menunjukkan infiltrat alveolar. Pengobatannya meliputi oksig

Diunggah oleh

jelfi non
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

A.

Konsep Dasar Respiratory Distress Syndrome (RDS)


1. Pengertian RDS
Sindrom gangguan pernapasan atau Respiratory Distress Syndrome
(RDS) adalah gangguan pada system pernapas neonates, khususnya karena
kurangnya surfaktan yang lebih efektif dan kurangnya tekanan permukaan
alveoli untuk mencegah kolaps pada alveoli ) S. Saminto, 2017).
Respiratory Distress Syndrome (RDS) atau sindroma gagal nafas
merupakan istilah yang digunakan untuk disfungsi pernafasan pada neonatus.
Sindroma gangguan pernafasan ini merupakan penyakit yang berhubungan
dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru sehingga jumlah
surfaktan di dalam paru tidak adekuat (Rahardjo & Marmi, 2012).
Respiratory Distress Syndrome (RDS) dapat juga disebut dengan nama
Hyaline Membrane Disease (HMD) atau penyakit membran hialin. Gejala
dari dari penyakit RDS terdiri dari dispnea dan takipnea dengan frekuensi
pernafasan lebih dari 60x/menit, adanya sianosis, suara rintihan pada saat
melakukan eskpirasi dan otot pernafasan yang lemah. Penyakit ini menyerang
pada bayi preterm yang dimana sistem pernafasannya tidak mampu
melakukan pertukaran gas secara normal tanpa adanya bantuan (Surasmi,
2013).
2. Etiologi RDS
Penyebab terjadinya penyakit RDS dikarenakan kurangnya surfaktan,
yang dimana surfaktan tersebut adalah suatu zat aktif pada alveoli yang dapat
mencegah terjadinya kolaps paru. Menurut (Rahardjo & Marmi, 2012) yang
menjadi penyebab kegagalan pernafasan pada neonatus yaitu terdiri dari
faktor ibu, faktor janin, dan faktor persalinan.
1) Faktor Ibu
Faktor ibu meliputi hipoksia pada ibu, usia ibu kurang dari 20 tahun atau
lebih dari 35 tahun, sosial ekonomi rendah, maupun penyakit pembuluh
darah ibu yang mengganggu pertukaran gas janin seperti hipertensi,
penyakit jantunng, diabetes mellitus, dan lain-lain.
2) Faktor Plasenta
Faktor plasenta meliputi solusio plasenta, perdarahan plasenta, plasenta
kecil, plasenta tipis, plasenta tidak menempel pada tempatnya.
3) Faktor janin atau neonates
Faktor janin atau neonatus meliputi tali pusat menumbung, tali pusat
melilit leher, kompresi tali pusat antara janin dan jalan lahir, prematur,
kelainan kongenital pada neonatus dan lain-lain. 4. Faktor Persalinan
Faktor persalinan yang meliputi partus lama, partus dengan tindakan dan
lain-lain.
3. Klasifikasi RDS
Menurut Haryani dkk, (2021) klasifikasi RDS antara lain:
1) Sindrom gawat nafas klasik atau Classic Respiratory Distress Syndrome,
disebabkan karena kekurangan aerasi (underaration). Volume paru-paru
yang menurun, parenkim paru-paru yang memiliki polaretikulogranurer
difusi, dan terdapat gambaran bronkogram udara yang meluas ke perifer.
2) Sindrom gawat nafas sedang-berat atau Moderately Severe Respiratory
Distress Syndrome, pola retikulogranuler terlihat lebih menonjol dan
terdistribusi lebih merata. Paru-paru hypoaerated. Terlihat pada gambaran
bronkogram udara yang meningkat.
3) Sindrom gawat nafas berat atau Severe Respiratory Distress Syndrom,
terdapat retikulogranuler yang berbentuk opaque pada kedua paru-paru
pada area cystic pada paru-paru kanan yang dapat menunjukkan alveoli
yang berdilatasi atau empisemaintertitial.
4. Patofisiologi RDS
Faktor terjadinya kegawatan nafas atau RDS pada bayi prematur
disebabkan oleh alveoli yang masih kecil sehingga sulit untuk mengembang.
Pengembangan yang kurang sempurna terjadi karena dinding dada yang
lemah dan kurangnya produksi surfaktan. Telah diketahui bahwa defisiensi
surfaktan merupakan faktor terpenting dalam terjadinya RDS. Surfaktan
dihasilkan oleh pneumosit tipe 2 yang terdiri dari 90% lipid dan 10% protein
pada usia gestasi 24 – 28 minggu dan mulai berfungsi aktif pada usia gestasi
34–35 minggu. Fungsi dari surfaktan yaitu untuk mengurangi tegangan
permukaan cairan yang melapisi alveolar dan mempertahankan integritas
struktural alveoli (Suminto, 2017).
Penurunan surfaktan menyebabkan peningkatan usaha nafas untuk
ekspansi paru pada setiap nafas dan meningkatkan kemungkinan kolaps
alveolar pada akhir ekspirasi. Pasien RDS biasanya akan mengalami
ketidaksesuaian antara ventilasi-perfusi yang akan berakhir menjadi
hipoksemia. Pada saat bernafas, stres pada alveoli dan bronkiolus terminalis
terjadi akibat dari usaha repetitif untuk membuka kembali alveoli yang kolaps
dan distensi yang berlebih pada alveoli yang terbuka. Tekanan tersebut dapat
merusak struktur paru sehingga terjadi kebocoran debris proteinaseosa ke
jalan nafas. Debris dapat semakin mengganggu fungsi surfaktan sehingga
akan menyebabkan gagal nafas (Suminto, 2017).
5. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari RDS menurut (Hidajat & Firdaus, 2012) , antara lain:
1) Peningkatan frekuensi nafas : > 60x/menit
2) Pernafasan dangkal
3) Retraksi antar iga atau dada setiap kali bernafas
4) Nafas cuping hidung setiap kali bernafas
5) Apnea atau henti nafas
6) Suara merintih pada saat ekspirasi
6. Komplikasi RDS
Komplikasi RDS menurut (Haryani dkk, 2021), antara lain:
1) Komplikasi Jangka Pendek
a. Ruptur Alveoli
Bila di curigai terjadi kebocoran udara (pneumothoraks,
pneumomediastinum, pneumopericardium, emfisema interstitial) pada
bayi dengan RDS yang tiba-tiba kondisinya memburuk dengan gejala
apnea atau bradikardia.
b. Infeksi
Terjadi karena keadaan yang memburuk dan adanya perubahan jumlah
leukosit dan trombositopenia. Infeksi timbul karena tindakan invasif
seperti pemasangan alat respirasi dan jarum vena.
c. Perdarahan Intra Kranial leukomalasia periventrikular
Perdarahan intraventrikular terjadi pada 20–40% bayi prematur
dengan frekuensi terbanyak pada bayi RDS.
d. PDA (Peningkatan Duktus Arterious) dengan peningkatan shunting
dari kiri ke kanan
Komplikasi pada bayi dengan RDS terutama pada bayi yang
dihentikan terapi surfaktannya.
2) Komplikasi Jangka Panjang
a. Broncho Pulmonary Dysplasia (BPD)
Merupakan penyakit paru kronik yang disebabkan karena pemakaian
oksigen pada bayi dengan masa gestasi 36 minggu. BPD berhubungan
dengan tingginya volume dan tekanan yang digunakan pada waktu
menggunakan ventilasi mekanik karena adanya infeksi, inflamasi dan
defisiensi vitamin A.
b. Retinopaty Premature
Kegagalan fungsi neurologik terjadi sekitar 10–70% pada bayi yang
berhubungan dengan masa gestasi karena adanya hipoksia, komplikasi
intrakranial, dan adanya infeksi
7. Pemeriksaan Penunjang RDS
Pemeriksaan pada bayi dengan RDS, menurut Marfuah dkk, (2013) yaitu:
1) Nilai darah lengkap pada bayi RDS, terdiri dari:
a. Hb (normal 15 – 19 g/dL), biasanya Hb pada bayi dengan RDS
cenderung turun karena O2 dalam darah sedikit.
b. Leukosit lebih dari 10.0 (normal 4.0 – 10.0 10^3/µL) karena pada bayi
preterm, imunitas masih rendah sehingga beresiko tinggi terhadap
infeksi.
c. Trombosit (normal 100 – 300 10^3/µL)
d. Distrofiks pada bayi preterm dengan RDS cenderung turun karena
sering terjadi hipoglikemia.
2) Pemeriksaan Analisa Gas Darah karena didapatkan adanya hipoksemia
kemudian hiperkapnea dengan asidosis respiratorik.
a. apH (normal 7,36 – 7, 46)
b. PCO2 (normal 35 – 45 mmHg)
c. PO2 (normal 80 – 100 mmHg)
d. SaO2 (normal 95%-97%), <90% dapat mengidentifikasikan
hipoksemia.
e. HCO3 (normal 24 – 28 mEq/L)
f. SpO2 (normal 80 – 100%)
3) Pemeriksaan Radiologis, setelah 14 – 24 jam akan tampak infiltrat alveolar
tanpa batas yang tegas di seluruh paru.
4) Biopsi paru, terdapat adanya pengumpulan granulosit secara abnormal di
dalam parenkim paru.
8. Penatalaksanaan RDS
Prinsip penatalaksanaan pada bayi dengan RDS menurut (Suminto,
2017), adalah mencegah terjadinya hipoksemia dan asidosis respiratorik,
mencegah perburukan atelektasis dan edema pulmoner, mengurangi oxidant
lung injury, dan mengurangi kerusakan yang terjadi pada paru akibat dari
ventilasi mekanik. Berikut ini adalah penatalaksanaan pada bayi dengan RDS
(Haryani dkk, 2021) :
1. Antibiotika untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder.
2. Furosemid untuk memfasilitasi reduksi cairan ginjal dan menurunkan
cairan paru.
3. Vitamin E untuk menurunkan radikal bebas oksigen
4. Pertahankan PO2 dalam batas normal
5. Ventilasi dan oksigenasi (3 – 5 liter dengan menggunakan masker)
6. Metilksantin (teofilin dan kafein) untuk mengobati apnea dan untuk
pemberhentian dari pemakaian ventilasi mekanik.
7. Salah satu pengobatan terbaru dan telah diterima penggunaannya dalam
pengobatan RDS adalah pemberian terapi surfaktan eksogen. Surfaktan
eksogen merupakan derivat dari sumber alami misalnya manusia
(didapatkan dari cairan amnion, akan tetapi juga bisa berbentuk surfaktan
buatan). Dosis surfaktan diberikan secara bervariasi antara 100 mg/kgBB
sampai 200 mg/kgBB. Dengan dosis 100 mg/kgBB maka sudah dapat
memberikan oksigenasi dan ventilasi yang baik dan dapat menurunkan
angka kematian neonatus. Pemberian terapi surfaktan eksogen tersebut
dikombinasikan dengan menggunakan CPAP atau Continues Positives
Airway Pressure (Suminto, 2017).
B. Konsep Asuhan keperawatan
Pengkajian Pengkajian adalah proses pengumpulan data untuk mendapatkan
berbagai informasi yang berkaitan dengan masalah yang dialami oleh klien.
Pengkajian dilakukan dengan berbagai cara yaitu anamnesa, observasi,
pemeriksaan fisik, pemeriksaan diagnostik yang dilakukan di laboratorium
(Surasmi dkk, 2013).
1. Identitas : Nama bayi, umur, tanggal lahir, jenis kelamin, agama, anak ke
berapa dan identitas orang tua.
2. riwayat kehamilan dan Persalinan: Apakah selama hamil, ibu menderita
penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, atau perdarahan.
3. Kaji riwayat neonatus: Apakah bayi lahir dengan gangguan pernafasan
seperti adanya takipnea atau dispnea, pernafasan cuping hidung, retraksi
dada serta adanya suara merintih pada saat ekspirasi dan apakah bayi
terpajan pada keadaan hipotermia.
4. Kaji riwayat penyakit keluarga: Apakah ada keluarga yang pernah
mengalami penyakit yang sama atau penyakit yang lainnya.
5. Kaji nilai APGAR bayi: Apabila rendah maka lakukan tindakan resusitasi
pada bayi. Pemantauan nilai APGAR score dilakukan pada menit ke 1
dan menit ke 5, apabila penilaian apgar 5 menit masih kurang dari 7
maka penilaian selanjutnya dilanjutkan tiap 5 menit sampai skor
mencapai 7 (Fida & Maya, 2012).
a. Bayi normal atau tidak asfiksia : Skor APGAR 8-10 dianggap
normal, tidak memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen secara
terkendali.
b. Bayi dengan asfiksia ringan (Vigorus Baby) Skor APGAR 5-7
dianggap bayi sehat dan tidak memerlukan tindakan seperti resusitasi
dan pemberian oksigen.
c. Bayi dengan asfiksia sedang (Mild Moderate Asphyksia) Skor
APGAR 3-4, pada saat dilakukan pemeriksaan fisik akan didapatkan
frekuensi jantung >100x/menit, tonus otot kurang baik atau baik,
terjadi sianosis, memerlukan tindakan resusitasi dan pemberian
oksigen sampai bayi dapat bernafas dengan normal.
d. Bayi dengan asfiksia berat Skor APGAR 0-3, akan memerlukan
tindakan resusitasi dan pemberian oksigen secara terkendali. Pada
saat dilakukan pemeriksaan fisik, akan didapatkan frekuensi jantung
>100 x/ menit, tonus otot memburuk, sianosis berat dan terkadang
pucat, serta reflex iritabilitas tidak ada.
6. Riwayat Perkembangan
a. personal sosial (kepribadian/tingkah)
Berhubungan dengan reflek menangis, bersosialisasi, dan
berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
b. Gerakan motorik halus
Berhubungan dengan kemampuan anak untuk mengamati sesuatu
untuk melakukan gerakan yang melibatkan bagian-bagian tubuh
tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan memerlukan
koordinasi cepar misalnya memegang ibu jari, memegang suatu
benda dan merentangkan tangan.
c. Gerakan motorik kasar
Berhubungan dengan pergerakan dan sikap tubuh.
d. Kognitif dan Bahasa
Kemampuan memberikan respon terhadap suara, mengikuti perintah
dan berbicara secara spontan.
7. Kaji Pola Aktivitas sehari-hari Pengkajian terhadap Activity Daily Life
yang meliputi pola nutrisi, pola eliminasi, pola tidur, kebersihan diri,
psikososial, dan spiritual.
8. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaat fisik menurut (Sudarti dkk, 2013), antara
lain:
a. B1 (Breathing)
Takipnea merupakan manifestasi awal distress pernafasan pada bayi.
Meningkatknya usaha nafas ditandai dengan respirasi cuping hidung,
retraksi dinding dada, dan yang sering dijumpai yaitu obstruksi jalan
nafas serta alveolar.
b. B2 (Blood)
Pemeriksaan nada sangat penting untuk mengetahui volume dan
aliran sirkulasi perifer nadi yang tidak adekuat dan tidak teraba pada
satu sisi yang menandakan berkurangnya aliran darah atau
tersumbatnya aliran darah.
c. B3 (Brain)
Terjadi imobilitas, kelemahan, dan penurunan suhu tubuh.
d. B4 (Bladder)
Akan terjadi penurunan produksi atau laju filtrasi glomerulus.
e. B5 (Bowel)
Biasanya pasien akan mengalami mual dan muntah, anoreksia akibat
pembesaran vena dan statis vena di dalam rongga abdomen serta
penurunan berat badan.
f. B6 (Bone)
Pada keadaan perfusi dan hipoksemia, warna kulit tubuh terlihat
berbercak, tangan dan kaki teraba dingin dan pucat. 2.6.2 Diagnosa
9. Keperawatan Diagnosa keperawatan yang muncul pada Respiratory
Distress Syndrome, (DPP PPNI, 2016) diantaranya:
1) Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan Ketidakseimbangan
Ventilasi-Perfusi (D.0003)
2) Pola Nafas Tidak Efektif berhubungan dengan Imaturitas Neurologis
(D.0005).
3) Resiko Hipotermia berhubungan dengan Berat Badan Lahir Rendah
(D.0140).
4) Resiko Infeksi ditandai dengan Ketidakadekuatan Pertahanan Tubuh
Sekunder : Leukopenia (D.0142).
5) Resiko Perdarahan ditandai dengan Trombositopenia (D.0012)
DAFTAR PUSTAKA

Haryani dkk. 2021. Asuhan Keperawatan dengan resiko Tinggi. Jakarta: CV


Trans Info Media.

Marni & Raharjo. 2012. Asuhan Keperawatan Neonatus, Bayi, Balita dan anak
Prasekolah. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Suminto, S dkk. 2017. Peranan Surfaktan Eksogen Pada Tatalaksana Respiratory


Distress Syndrome Bayi Prematur. 44.(8), 568-571.

Respiratory A. & Syndrome D. 2018. ackut Respiratory Distress Syndrome. 4(2),


51-60.

Anda mungkin juga menyukai