Laporan Kasus Tuberkulosis Paru 2022
Laporan Kasus Tuberkulosis Paru 2022
LAPORAN KASUS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Pelaksanaan Program Dokter Internsip
Disusun Oleh:
dr. Moh Rian Maulana
Dokter Pembimbing:
dr. Dhiyani Wahyu Anggraeni
Disusun oleh;
dr. Moh Rian Maulana
Laporan Kasus (Dibacakan)
Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat
Menjalani Program Dokter Internship Indonesia
Puskesmas Cipageran
Jawa Barat, 2022
PUSKESMAS CIPAGERAN
JAWA BARAT
ii
PRESENTASI LAPORAN KASUS DALAM FORUM ILMIAH
PUSKESMAS
Kineja A/B/C
iii
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur pada hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
juga karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas laporan kasus ini
dengan judul ‘Tuberkulosis Paru’. Shalawat beriring salam penulis sampaikan
kepada baginda Rasulullah SAW yang telah membawa umat manusia ke masa
yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Laporan kasus ini merupakan salah
satu dari tugas dalam menjalankan Program Dokter Internship Indonesia (PIDI) di
Puskesmas Cipageran.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan pada dr. Dhiyani Wahyu Anggraeni
yang telah bersedia membimbing penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas ini. Penulis mengharapkan kritik dan juga saran yang membangun dari
semua pihak terhadap laporan kasus ini. Semoga laporan kasus ini bermanfaat
bagi penulis dan orang lain.
Penulis
iv
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..................................................................... 1
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan........................................................................... 23
BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan............................................................................ 24
DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 25
v
BAB I
PENDAHULUAN
Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai
di masyarakat terutama pada masyarakat dengan kondisi padat penduduk. TB paru
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis
dengan metode penularan melalui udara yang terkontaminasi oleh kuman bakteri.
Tuberkulosis sendiri merupakan penyebab kematian terbanyak di antara penyakit
menular lainnya. Berdasarkan Global Burden of Disease, TB menjadi penyebab
kematian ke-2 di dunia. Secara global, pada tahun 2017 sekitar 10 juta penduduk
terdiagnosis penyakit TB dengan jumlah 5,8 juta pria, 3,2 juta wanita, dan 1 juta
anak-anak. Dari hamper semua kasus di dunia, mayoritas populasi penderita TB
90% merupakan orang dewasa (usia ≥15 tahun). Sekitar 6,4 juta kasus dari TB
baru dilaporkan kepada WHO pada tahun 2017. Jumlah ini meningkat sejak tahun
2013, setelah 4 tahun dimana 5,7-5,8 juta kasus baru dilaporkan setiap tahun.1,2,3
Sesuai data WHO Global Tuberculosis Report 2018, Indonesia menempati
posisi kedua (11%) dengan beban TB tertinggi di dunia setelah India (26%). Data
dari WHO South-East Asia Region memperkirakan di Asia Tenggara ada sekitar
4,8 juta kasus prevalen dan sekitar 3,4 juta kasus insiden serta 450.000 kematian
pada tahun 2012 akibat TB. Untuk Indonesia jumlah kasus insidensi TB sebanyak
399/100.000 populasi dengan jumlah penduduk sebanyak 254.000.000 dan angka
kematian akibat TB sebanyak 41/100.000 populasi dengan penduduk sebanyak
254.000.000. Di antara semua kasus, TB BTA-positif baru, yang terdeteksi pada
tahun 2012 terbanyak di kalangan dewasa muda, terutama pada kelompok usia 25-
34 tahun.4,5,6
Menurut laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus di Indonesia,
namun yang baru tercatat pada Kementerian Kesehatan adalah sebanyak 420.000
kasus. Insiden kasus TB di Indonesia tidak pernah menurun, masih banyak kasus
yang belum terjangkau serta terdeteksi. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan
tingginya kasus TB di Indonesia. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (enam
sampai delapan bulan) menjadi penyebab dari penderita TB sulit sembuh karena
pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan
1
2
belum selesai. Selain itu, masalah pada TB diperberat dengan adanya peningkatan
kasus infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan
TB-Multi Drugs Resistant. Masalah lainnya adalah adanya penderita TB laten,
dimana penderita tidak sakit namun akibat dari daya tahan tubuhnya menurun,
penyakit TB akan muncul. Penyakit TB paru sendiri masihlah menjadi tantangan
dalam masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama dalam hal kepatuhan
minum obat dan berbagai hal terkait penyakit. Keberhasilan pengobatan TB paru
sangat ditentukan oleh adanya keteraturan minum obat anti tuberkulosis, dimana
hal tersebut dapat dicapai dengan kesadaran dari penderita untuk meminum obat
secara teratur. Kesadaran dan keteraturan minum obat ini sangat erat kaitannya
pada pengetahuan pasien TB terkait pencegahan dan juga pengendalian TB.4,7,8
Untuk itu, pembuatan makalah ini ditujukan mempelajari tuberculosis paru, dari
awal anamnesis hingga diagnosis, dan menyingkirkan diagnosis banding lainnya
hingga rencana penatalaksanaan di Puskesmas Cipageran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.1 Definisi
Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
sehingga sering dikenal dengan Basil Tahan Asam (BTA). Sebagian besar kuman
TB sering ditemukan menginfeksi parenkim paru dan juga menyebabkan TB paru,
namun bakteri ini juga memiliki kemampuan menginfeksi organ tubuh lainnya
(TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar limfe, tulang, dan juga organ ekstra paru
lainnya.8,9
3
4
dan bersifat sangat infeksius, dan dapat bertahan di dalam udara sampai 4 jam
oleh karena ukurannya yang sangat kecil, percik renik ini memiliki kemampuan
mencapai ruang alveolar dalam paru, dimana bakteri kemudian akan melakukan
replikasi. Ada tiga faktor yang menentukan transmisi M. TB:1,8,9,10
1. Jumlah organisme yang keluar ke udara.
2. Konsentrasi dari organisme dalam udara, ditentukan oleh volume ruang dan
ventilasi.
3. Lama seseorang menghirup udara terkontaminasi.
Satu batuk dapat memproduksi hingga 3,000 percik renik dan juga satu kali
bersin dapat memproduksi hingga 1 juta percik renik. Sedangkan, dosis yang
diperlukan terjadinya infeksi TB adalah 1-10 basil. Kasus yang paling infeksius
adalah penularan dari pasien dengan hasil pemeriksaan sputum positif, dengan
hasil 3+ merupakan kasus yang paling infeksius. Pasien dengan hasil pemeriksaan
sputum negative bersifat tidak terlalu infeksius. Kasus TB ekstra paru hampir
selalu tidak infeksius, kecuali apabila penderita juga memiliki TB paru. Individu
dengan TB laten tidak bersifat infeksius, karena bakteri yang menginfeksi mereka
tidak bereplikasi dan juga tidak dapat melalukan transmisi ke organisme lainnya.
Penularan TB biasanya terjadi dalam ruangan yang gelap, dengan minim ventilasi
di mana percik renik dapat bertahan di udara dalam waktu lebih lama. Cahaya
matahari langsung dapat membunuh tuberkel basili dengan cepat, namun bakteri
ini akan bertahan lebih lama di dalam keadaan yang gelap. Kontak dekat dalam
waktu yang lama dengan orang terinfeksi meningkatkan risiko penularan.1,8,9,10
Apabila terinfeksi, proses sehingga paparan tersebut berkembang menjadi
penyakit TB aktif bergantung pada kondisi imun individu. Pada individu dengan
sistem imun yang normal, 90% tidak akan berkembang menjadi penyakit TB dan
hanya 10% dari kasus akan menjadi penyakit TB aktif (setengah kasus terjadi
segera setelah terinfeksi dan setengahnya terjadi di kemudian hari). Risiko yang
paling tinggi terdapat pada dua tahun pertama pasca-terinfeksi, dimana setengah
dari kasus terjadi. Kelompok dengan risiko tertinggi terinfeksi adalah anak-anak
dibawah usia 5 tahun dan lanjut usia. Orang dengan kondisi imun buruk lebih
rentan mengalami penyakit TB aktif dibanding orang dengan kondisi sistem imun
yang normal. 5060% orang dengan HIV-positif yang terinfeksi TB mengalami
5
penyakit TB yang aktif. Hal ini juga dapat terjadi pada kondisi medis lainnya
dimana sistem imunitas mengalami penekanan seperti silikosis, diabetes melitus,
dan penggunaan obat kortikosteroid atau obat-obat imunosupresan lain dalam
jangka panjang.8,9,10
menuju nodus limfe hilus, masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke organ
lain. Beberapa organ dan juga jaringan diketahui memiliki resistensi terhadap
replikasi basili ini. Sumsum tulang, hepar dan limpa ditemukan hampir selalu
mudah terinfeksi kuman Mycobacteria. Organisme akan dideposit di bagian atas
(apeks) paru, ginjal, tulang, dan otak, di mana kondisi organ tersebut sangat
menunjang pertumbuhan bakteri Mycobacteria. Di beberapa kasus, bakteri dapat
berkembang dengan cepat sebelum terbentuknya respon imun seluler spesifik
yang dapat membatasi multiplikasinya.9,10
1. TB primer
Infeksi primer terjadi pada paparan pertama terhadap tuberkel basili. Hal ini
biasanya terjadi pada masa anak, oleh karenanya sering diartikan sebagai TB
anak. Namun, infeksi ini dapat terjadi pada usia berapapun di individu yang belum
pernah terpapar [Link] sebelumnya. Percik renik yang mengandung basili yang
terhirup dan menempati alveolus terminal pada paru, biasanya terletak di bagian
bawah lobus superior ataupun bagian atas lobus inferior paru. Basili kemudian
terfagosistosis oleh makrofag; produk mikobakterial akan mampu menghambat
kemampuan bakterisid yang dimiliki makrofag alveolus, sehingga bakteri dapat
melakukan replikasi di dalam makrofag. Makrofag dan monosit lain bereaksi
terhadap kemokin yang dihasilkan, kemudian bermigrasi menuju fokus infeksi
dan memproduksi respon imun. Area inflamasi ini kemudian disebut sebagai
Ghon focus. Basili dan antigen kemudian bermigrasi keluar dari Ghon focus
melalui jalur limfatik menuju Limfe nodus hilus dan membentuk kompleks
(Ghon) primer.1,8,9,10
Respon inflamasinya akan menghasilkan gambaran tipikal nekrosis kaseosa.
Di dalam nodus limfe, limfosit T membentuk suatu respon imun spesifik dan juga
mengaktivasi makrofag untuk menghambat pertumbuhan basili terfagositosis.
Fokus primer tersebut mengandung 1,000–10,000 basili yang akan melakukan
replikasi. Area inflamasi dalam fokus primer digantikan dengan jaringan fibrotik
dan kalsifikasi, yang didalamnya terdapat makrofag mengandung basili terisolasi
yang akan mati apabila sistem imun host adekuat. Beberapa basili tetap dorman
dalam fokus primer untuk beberapa bulan atau tahun, hal ini dikenal dengan
“kuman laten”. Infeksi primer biasanya bersifat asimtomatik dan menunjukkan
7
hasil tuberkulin positif dalam 4-6 minggu setelah infeksi. Dalam beberapa kasus,
respon imun tidak cukup kuat untuk menghambat perkembangbiakan bakteri dan
basili akan menyebar dari sistem limfatik ke aliran darah dan menyebar ke seluruh
tubuh, menyebabkan TB aktif dalam beberapa bulan. TB primer progresif pada
parenkim paru menyebabkan pembesaran fokus primer, sehingga dapat ditemukan
banyak area menunjukkan gambaran nekrosis kaseosa dan juga dapat ditemukan
kavitas, menghasilkan gambaran klinis yang serupa dengan TB post primer.1,8,9,10
2. TB pasca primer
TB pasca primer merupakan suatu pola penyakit yang terjadi pada host yang
sebelumnya pernah tersensitisasi bakteri TB. Terjadi setelah periode laten yang
memakan waktu bulanan hingga tahunan setelah infeksi primer. Hal ini dapat
dikarenakan reaktivasi kuman laten atau karena reinfeksi. Reaktivasi terjadi ketika
basili dorman yang menetap di jaringan selama beberapa bulan atau beberapa
tahun setelah infeksi primer, mulai kembali bermultiplikasi. Hal tersebut mungkin
merupakan respon dari melemahnya sistem imun host oleh karena infeksi HIV.
Reinfeksi terjadi ketika seorang yang pernah mengalami infeksi primer terpapar
kembali dengan orang yang terinfeksi penyakit TB aktif. Dalam sebagian kecil
kasus, hal ini merupakan bagian dari proses infeksi primer. Setelah terjadinya
infeksi primer, perkembangan cepat menjadi penyakit intra-torakal lebih sering
terjadi pada anak dibanding pada orang dewasa. Foto toraks mungkin dapat
memperlihatkan gambaran limfadenopati intratorakal dan infiltrat pada lapang
paru. TB post-primer biasanya mempengaruhi parenkim paru namun dapat juga
melibatkan organ tubuh lainnya.1,8,9,10
Karakteristik dari TB post primer adalah ditemukannya kavitas pada lobus
superior paru dan juga kerusakan paru yang luas. Pemeriksaan sputum biasanya
menunjukkan hasil yang positif dan biasanya tidak ditemukan limfadenopati
intratorakal.1,8,9,10
1. Kasus baru TB: kasus yang belum pernah mendapatkan anti tuberkulosis
(OAT) atau sudah pernah menelan OAT dengan total dosis kurang dari 28
hari.
2. Kasus yang pernah diobati TB:
- Kasus kambuh: kasus yang pernah dinyatakan sembuh ataupun pengobatan
lengkap dan saat ini didiagnosis kembali dengan TB.
- Kasus pengobatan gagal: kasus yang pernah diobati dengan terapi OAT dan
dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.
- Kasus putus obat: kasus yang terputus pengobatannya selama minimal 2
bulan berturut-turut.
- Lain-lain: kasus yang pernah diobati dengan terapi OAT namun hasil akhir
pengobatan sebelumnya tidak diketahui.
Klasifikasi hasil uji kepekaan obat:9,10
1. TB Sensitif Obat (TB-SO)
2. TB Resistan Obat (TB-RO):
- Monoresistan: bakteri resisten terhadap salah satu jenis OAT lini pertama
- Resistan Rifampisin (TBRR): Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap
Rifampisin dengan atau tanpa resistensi terhadap OAT lain.
- Poliresistan: bakteri resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama,
namun tidak Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) bersamaan.
- Multi drug resistant (TB-MDR): resistan pada Isoniazid (H) dan Rifampisin
(R) secara bersamaan, dengan atau tanpa diikuti resistensi terhadap OAT
lini pertama lainnya.
- Pre extensively drug resistant (TB Pre-XDR): memenuhi kriteria TB MDR
dan resistan terhadap minimal satu florokuinolon.
- Extensively drug resistant (TB XDR): adalah TB MDR yang sekaligus juga
resistan terhadap salah satu dari OAT golongan fluorokuinolon dan minimal
salah satu OAT grup A (levofloksasin, moksifloksasin, bedakuilin, atau
linezolid)
Klasifikasi berdasarkan status HIV:9,10
1. TB dengan HIV positif
2. TB dengan HIV negatif
11
2.1.6 Diagnosis
Semua pasien terduga TB harus menjalani pemeriksaan bakteriologis untuk
mengkonfirmasi penyakit. Pemeriksaan bakteriologis merujuk pada pemeriksaan
apusan dari sediaan biologis (dahak ataupun spesimen lainnya), pemeriksaan
biakan dan identifikasi M. tuberculosis ataupun metode diagnostik cepat yang
telah mendapat rekomendasi WHO.1,9,10
WHO merekomendasikan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan minimal
terhadap rifampisin dan isoniazid pada kelompok pasien berikut:1,9,10
1. Semua pasien dengan riwayat pengobatan OAT. Hal tersebut dikarenakan
TB resistan obat banyak ditemukan terutama pada pasien yang memiliki
riwayat gagal pengobatan sebelumnya.
2. Semua pasien dengan HIV yang didiagnosis TB aktif. Khususnya mereka
yang tinggal di daerah dengan prevalensi TB resistan obat yang tinggi.
3. Pasien dengan TB aktif yang terpajan dengan pasien TB resistan obat.
4. Semua pasien baru di daerah dengan kasus TB resistan obat primer >3%.
5. Pasien baru atau riwayat OAT dengan sputum BTA tetap positif pada akhir
fase intensif. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan sputum BTA pada bulan
berikutnya.
12
mutasi pada gen yang berperan dalam mekanisme kerja obat antituberkulosis lini
1 dan lini 2. WHO merekomendasikan penggunaan Xpert MTB/RIF untuk deteksi
pada resistan rifampisin. Resistan pada obat OAT lini 2 direkomendasikan untuk
menggunakan second line line probe assay (SL-LPA) yang dapat mendeteksi
resistensi terhadap obat OAT injeksi serta juga obat antituberkulosis golongan
fluorokuinolon. Pemeriksaan molekuler untuk mendeteksi gen pengkode resistensi
OAT lainnya saat ini dapat dilakukan dengan metode sekuensing, yang tidak
dapat diterapkan secara rutin oleh karena memerlukan peralatan mahal dan juga
keahlian khusus dalam menganalisisnya. WHO telah merekomendasi pemeriksaan
molekular line probe assay (LPA) dan TCM, langsung pada specimen sputum.9,10
Pemeriksaan TCM dapat mendeteksi M. tuberculosis dan gen pengkode
resistan rifampisin pada sputum kurang lebih dalam waktu dua jam. Konfirmasi
hasil dari uji kepekaan OAT menggunakan metode konvensional masih digunakan
sebagai baku emas (gold standard). Penggunaan TCM tidak dapat menyingkirkan
metode biakan dan uji kepekaan konvensional yang diperlukan untuk menegakkan
diagnosis definitif TB, terutama pasien dengan pemeriksaan mikroskopis apusan
BTA negatif, dan hasil uji kepekaan OAT untuk mengetahui resistensi OAT selain
rifampisin. Pada kondisi tidak berhasil mendapatkan sputum secara ekspektorasi
spontan maka dapat dilakukan tindakan induksi sputum ataupun prosedur invasif
seperti bronkoskopi atau torakoskopi. Pemeriksaan tambahan pada semua pasien
TB yang terkonfirmasi bakteriologi maupun terdiagnosis klinis ialah pemeriksaan
HIV dan gula darah. Pemeriksaan lain dilakukan sesuai indikasi misalnya fungsi
hati, fungsi ginjal, dan lain-lain.9,10
2.1.7 Tatalaksana
Tujuan pengobatan TB adalah:9,10
a. Menyembuhkan, mempertahankan kualitas hidup dan produktivitas pasien
b. Mencegah kematian akibat TB aktif atau efek lanjutan
c. Mencegah kekambuhan TB
d. Mengurangi penularan TB kepada orang lain
e. Mencegah perkembangan dan penularan resistan obat
Obat anti-tuberkulosis (OAT) adalah komponen penting dalam pengobatan
TB. Pengobatan TB merupakan salah satu upaya paling efisien untuk mencegah
14
penyebaran lebih lanjut dari bakteri penyebab TB. Pengobatan yang adekuat harus
memenuhi prinsip:1,9,10
1. Pengobatan yang diberikan dalam bentuk paduan obat-obat yang meliputi
minimal empat macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap
OAT.
2. OAT diberikan dalam dosis yang tepat.
3. OAT ditelan secara teratur dan diawasi oleh pengawas menelan obat (PMO)
hingga masa pengobatan selesai.
4. OAT harus diberikan dalam jangka waktu yang cukup, meliputi tahap awal/
fase intensif dan tahap lanjutan. Pada umumnya lama pengobatan TB paru
tanpa komplikasi dan komorbid adalah 6 bulan. Pada TB ekstraparu dan TB
dengan komorbid, pengobatan dapat membutuhkan waktu lebih dari 6
bulan.
Pada tahap awal/fase intensif, OAT diberikan setiap harinya. Pemberian
OAT pada tahap awal bertujuan untuk menurunkan secara cepat jumlah kuman
TB yang terdapat dalam tubuh pasien dan meminimalisasi risiko penularan. Jika
pada tahap awal OAT ditelan secara teratur dengan dosis tepat, risiko penularan
umumnya sudah berkurang setelah dua minggu pertama tahap awal pengobatan.
Tahap awal juga bertujuan untuk memperkecil pengaruh sebagian kecil kuman
yang mungkin sudah resisten pada OAT sejak sebelum dimulai pengobatan.9,10
Durasi pengobatan tahap awal pada pasien TB sensitif obat (TB-SO) adalah
dua bulan. Pengobatan dilanjutkan dengan tahap lanjutan. Pada tahap lanjutan
bertujuan untuk membunuh sisa kuman TB yang tidak mati pada tahap awal
sehingga dapat mencegah kekambuhan. Durasi tahap lanjutan berkisar antara 4 –
6 bulan. Paduan OAT untuk pengobatan TB-SO di Indonesia ialah: 2RHZE/4 RH.
Pada fase intensif pasien diberikan kombinasi 4 obat berupa rifampisin (R),
isoniazid (H), pirazinamid (Z), dan etambutol (E) selama 2 bulan dilanjutkan
dengan pemberian isoniazid (H) dan rifampisin (R) selama 4 bulan pada fase
lanjutan. Pemberian obat fase lanjutan diberikan sebagai dosis harian (RH) sesuai
dengan rekomendasi WHO. Pasien dengan TB-SO diobati menggunakan OAT lini
pertama. Dosis OAT lini pertama yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2.1.9,10
Tabel 2.1 Dosis Rekomendasi OAT Lini 1 Untuk Dewasa
15
Untuk menunjang kepatuhan konsumsi obat, paduan OAT lini pertama telah
dikombinasikan dalam obat Kombinasi Dosis Tetap (KDT). Satu tablet KDT
RHZE untuk fase intensif berisi Rifampisin 150 mg, Isoniazid 75 mg, Pirazinamid
400 mg, dan Etambutol 275 mg. Sedangkan untuk fase lanjutan yaitu KDT RH
yang berisi Rifampisin 150 mg + Isoniazid 75 mg diberikan setiap hari. Jumlah
tablet KDT yang harus diberikan dapat disesuaikan dengan berat badan pasien.
Secara ringkas perhitungan dosis pengobatan TB menggunakan OAT KDT dapat
dilihat pada tabel 2.2.9,10
Tabel 2.2 Dosis OAT menggunakan KDT
Nama : Ny. EH
Tanggal Lahir : 46 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Cimenteng RT 1/RW11
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Masuk RS : 09 09 2022
3.2. Anamnesis
18
19
Leher
Bentuk : Kesan simetris
KGB : Kesan simetris, Pembesaran (-)
Axilla : Pembesaran KGB (-)
Thorax
Thorax Anterior
Inspeksi
Bentuk dan Gerak : Normochest, pergerakan simetris
Tipe Pernafasan : Abdominal Thoracal
Retraksi : (-)
Auskultasi :
Suara Pokok Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru tengah Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru bawah Vesikuler Vesikuler
Suara Tambahan Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru tengah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru bawah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Thoraks Posterior
Inspeksi
Bentuk dan Gerak : Normochest, pergerakan simetris
Tipe pernafasan : Abdominal Thoracal
Retraksi : (-)
Perkusi
Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Sonor Sonor
Lap. Paru tengah Sonor Sonor
Lap. Paru bawah Sonor Sonor
21
Auskultasi
Suara pokok Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru tengah Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru bawah Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru tengah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru bawah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Jantung
Auskultasi : BJ I > BJ II, reguler, bising (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Kesan simetris, distensi (-)
Palpasi : Soepel (+), nyeri tekan (-) epigastrium, organomegali (-)
Perkusi : Tympani (-), asites (-)
Auskultasi : Peristaltik usus kesan normal
Ekstremitas : Akral Hangat, CRT < 2 Detik
Ekstremitas Superior Inferior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Sianotik - - - -
Edema - - - -
Ikterik - - - -
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Tonus otot N N N N
Sensibilitas N N N N
- TB Kategori I on Pengobatan
22
3.5. Tatalaksana
3.6. Prognosis
4.1 Pembahasan
23
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA
24
1. Departemen Kesehatan (DEPKES). Pedoman Nasional Penanggulangan TB
Indonesia. DEPKES RI. 2016.
2. World Health Organization. Global tuberculosis report 2018 - Geneva.
WHO report. 2018.
3. World Health Organization. Ending TB in South-East Asia Region:
Regional Strategic Plan 2016–2020. Regional Strategic Plan. 2016
4. Riskesdas 2018. Riskesdas 2018. Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. 2018.
5. Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan. InfoDatin Tuberkulosis.
Infodatin. 2015.
6. World Health Organization. Global Tuberculosis Report. Blood. 2015.
7. Phelan E, El-Gammal A, O’Connor TM. Tuberculosis. In: Encyclopedia of
Environmental Health. 2019.
8. Pai M, Behr MA, Dowdy D, Dheda K, Divangahi M, Boehme CC, et al.
Tuberculosis. Nature Reviews Disease Primers. 2016.
9. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran; Tatalaksana Tuberkulosis. KEMENKES RI. 2020
10. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosa dan Tatalaksana
TB di Indonesia. Jakarta. 2021
25