0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan30 halaman

Laporan Kasus Tuberkulosis Paru 2022

Laporan kasus ini membahas tentang pasien dengan diagnosis tuberkulosis paru. Dokumen ini menjelaskan tentang definisi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan tuberkulosis paru. Laporan kasus ini juga menyertakan identitas pasien, keluhan utama, hasil pemeriksaan fisik, diagnosis kerja, dan prognosis pasien setelah mendapat penatalaksanaan.

Diunggah oleh

Anonymous aVzyk1QC
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan30 halaman

Laporan Kasus Tuberkulosis Paru 2022

Laporan kasus ini membahas tentang pasien dengan diagnosis tuberkulosis paru. Dokumen ini menjelaskan tentang definisi, etiologi, manifestasi klinis, diagnosis, dan penatalaksanaan tuberkulosis paru. Laporan kasus ini juga menyertakan identitas pasien, keluhan utama, hasil pemeriksaan fisik, diagnosis kerja, dan prognosis pasien setelah mendapat penatalaksanaan.

Diunggah oleh

Anonymous aVzyk1QC
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

TUBERKULOSIS PARU

LAPORAN KASUS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Dalam Pelaksanaan Program Dokter Internsip

Disusun Oleh:
dr. Moh Rian Maulana

Dokter Pembimbing:
dr. Dhiyani Wahyu Anggraeni

PROGRAM INTERNSHIP DOKTER INDONESIA


KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
PUSKESMAS CIPAGERAN
2022
HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KASUS TUBERKULOSIS PARU

Disusun oleh;
dr. Moh Rian Maulana
Laporan Kasus (Dibacakan)
Diajukan untuk Melengkapi Tugas dan Memenuhi Syarat
Menjalani Program Dokter Internship Indonesia
Puskesmas Cipageran
Jawa Barat, 2022

PUSKESMAS CIPAGERAN
JAWA BARAT

Jawa Barat, Oktober 2022


Pendamping

dr. Dhiyani Wahyu Anggraeni

ii
PRESENTASI LAPORAN KASUS DALAM FORUM ILMIAH
PUSKESMAS

Judul : Tuberkulosis Paru


Presentator : dr. Moh Rian Maulana
Tanggal/Tempat : / AULA Puskesmas Cipageran
Waktu :
Jumlah yang hadir : …………….. Orang
a. Koordinasi Wahana/Direktur RS
b. Dokter Umum
c. Tenaga Kesehatan Lainnya
d. Peserta PIDI

Kineja A/B/C

Jawa Barat, Oktober 2022


Pembimbing

dr. Dhiyani Wahyu Anggraeni

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur pada hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
juga karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas laporan kasus ini
dengan judul ‘Tuberkulosis Paru’. Shalawat beriring salam penulis sampaikan
kepada baginda Rasulullah SAW yang telah membawa umat manusia ke masa
yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Laporan kasus ini merupakan salah
satu dari tugas dalam menjalankan Program Dokter Internship Indonesia (PIDI) di
Puskesmas Cipageran.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan pada dr. Dhiyani Wahyu Anggraeni
yang telah bersedia membimbing penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas ini. Penulis mengharapkan kritik dan juga saran yang membangun dari
semua pihak terhadap laporan kasus ini. Semoga laporan kasus ini bermanfaat
bagi penulis dan orang lain.

Jawa Barat, Oktober 2022

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................... ii
DAFTAR ISI................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang..................................................................... 1

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Tuberkulosis Paru................................................................. 3
2.1.1. Definisi..................................................................... 3
2.1.2. Etiologi dan Transmisi TB....................................... 3
2.1.3. Faktor Risiko dan Patogenesis.................................. 5
2.1.4. Manifestasi Klinis..................................................... 7
2.1.5. Klasifikasi dan Tipe Pasien TB................................ 8
2.1.6. Diagnosis.................................................................. 11
2.1.7. Tatalaksana............................................................... 13

BAB III LAPORAN KASUS


3.1. Identitas Pasien..................................................................... 18
3.2. Anemnesis............................................................................ 18
3.2.1. Keluhan Utama......................................................... 18
3.2.2. Keluhan Tambahan.................................................. 18
3.2.3. Riwayat Penyakit Sekarang...................................... 18
3.2.4. Riwayat Penyakit Dahulu......................................... 18
3.2.5. Riwayat Penyakit Keluarga...................................... 18
3.2.6. Riwayat Penggunaan Obat....................................... 19
3.3. Pemeriksaan Fisik................................................................. 19
3.3.1. Vital Sign.................................................................. 19
3.3.2. Pemeriksaan Fisik.................................................... 19
3.4. Diagnosis Kerja.................................................................... 21
3.5. Penatalaksanaan.................................................................... 22
3.6. Prognosis.............................................................................. 22

BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Pembahasan........................................................................... 23

BAB V KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan............................................................................ 24

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 25

v
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) paru merupakan salah satu penyakit yang sering dijumpai
di masyarakat terutama pada masyarakat dengan kondisi padat penduduk. TB paru
adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis
dengan metode penularan melalui udara yang terkontaminasi oleh kuman bakteri.
Tuberkulosis sendiri merupakan penyebab kematian terbanyak di antara penyakit
menular lainnya. Berdasarkan Global Burden of Disease, TB menjadi penyebab
kematian ke-2 di dunia. Secara global, pada tahun 2017 sekitar 10 juta penduduk
terdiagnosis penyakit TB dengan jumlah 5,8 juta pria, 3,2 juta wanita, dan 1 juta
anak-anak. Dari hamper semua kasus di dunia, mayoritas populasi penderita TB
90% merupakan orang dewasa (usia ≥15 tahun). Sekitar 6,4 juta kasus dari TB
baru dilaporkan kepada WHO pada tahun 2017. Jumlah ini meningkat sejak tahun
2013, setelah 4 tahun dimana 5,7-5,8 juta kasus baru dilaporkan setiap tahun.1,2,3
Sesuai data WHO Global Tuberculosis Report 2018, Indonesia menempati
posisi kedua (11%) dengan beban TB tertinggi di dunia setelah India (26%). Data
dari WHO South-East Asia Region memperkirakan di Asia Tenggara ada sekitar
4,8 juta kasus prevalen dan sekitar 3,4 juta kasus insiden serta 450.000 kematian
pada tahun 2012 akibat TB. Untuk Indonesia jumlah kasus insidensi TB sebanyak
399/100.000 populasi dengan jumlah penduduk sebanyak 254.000.000 dan angka
kematian akibat TB sebanyak 41/100.000 populasi dengan penduduk sebanyak
254.000.000. Di antara semua kasus, TB BTA-positif baru, yang terdeteksi pada
tahun 2012 terbanyak di kalangan dewasa muda, terutama pada kelompok usia 25-
34 tahun.4,5,6
Menurut laporan WHO 2017 diperkirakan ada 1.020.000 kasus di Indonesia,
namun yang baru tercatat pada Kementerian Kesehatan adalah sebanyak 420.000
kasus. Insiden kasus TB di Indonesia tidak pernah menurun, masih banyak kasus
yang belum terjangkau serta terdeteksi. Terdapat tiga faktor yang menyebabkan
tingginya kasus TB di Indonesia. Waktu pengobatan TB yang relatif lama (enam
sampai delapan bulan) menjadi penyebab dari penderita TB sulit sembuh karena
pasien TB berhenti berobat (drop) setelah merasa sehat meski proses pengobatan

1
2

belum selesai. Selain itu, masalah pada TB diperberat dengan adanya peningkatan
kasus infeksi HIV/AIDS yang berkembang cepat dan munculnya permasalahan
TB-Multi Drugs Resistant. Masalah lainnya adalah adanya penderita TB laten,
dimana penderita tidak sakit namun akibat dari daya tahan tubuhnya menurun,
penyakit TB akan muncul. Penyakit TB paru sendiri masihlah menjadi tantangan
dalam masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama dalam hal kepatuhan
minum obat dan berbagai hal terkait penyakit. Keberhasilan pengobatan TB paru
sangat ditentukan oleh adanya keteraturan minum obat anti tuberkulosis, dimana
hal tersebut dapat dicapai dengan kesadaran dari penderita untuk meminum obat
secara teratur. Kesadaran dan keteraturan minum obat ini sangat erat kaitannya
pada pengetahuan pasien TB terkait pencegahan dan juga pengendalian TB.4,7,8
Untuk itu, pembuatan makalah ini ditujukan mempelajari tuberculosis paru, dari
awal anamnesis hingga diagnosis, dan menyingkirkan diagnosis banding lainnya
hingga rencana penatalaksanaan di Puskesmas Cipageran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tuberkulosis Paru

2.1.1 Definisi
Tuberkulosis adalah suatu penyakit kronik menular yang disebabkan bakteri
Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang dan bersifat tahan asam
sehingga sering dikenal dengan Basil Tahan Asam (BTA). Sebagian besar kuman
TB sering ditemukan menginfeksi parenkim paru dan juga menyebabkan TB paru,
namun bakteri ini juga memiliki kemampuan menginfeksi organ tubuh lainnya
(TB ekstra paru) seperti pleura, kelenjar limfe, tulang, dan juga organ ekstra paru
lainnya.8,9

2.1.2 Etiologi dan Tranmisi TB


Terdapat 5 bakteri yang diketahui berkaitan erat dengan TB: Mycobacterium
tuberculosis, Mycobacterium bovis, Mycobacterium africanum, Mycobacterium
microti dan Mycobacterium cannettii. M. tuberculosis (M. TB), hingga saat ini
merupakan bakteri yang paling sering ditemukan, dan juga menular antar manusia
melalui udara. Tidak ditemukan hewan yang berperan sebagai agen dari penularan
[Link]. Namun, M. bovis dapat bertahan dalam susu dari sapi yang terinfeksi dan
melakukan penetrasi pada mukosa saluran cerna serta menginvasi jaringan limfe
orofaring saat seseorang mengonsumsi susu sapi yang terinfeksi tersebut. Angka
kejadian infeksi [Link] pada manusia sudah mengalami penurunan signifikan di
negara berkembang, hal ini dikarenakan pasteurisasi susu dan diberlakukannya
strategi kontrol tuberkulosis yang efektif pada ternak. Infeksi terhadap organisme
lain relatif jarang ditemukan.1,8,9,10
Tuberkulosis biasanya menular dari manusia ke manusia lainnya lewat udara
melalui percik renik atau droplet nucleus (<5 microns) yang keluar ketika seorang
yang terinfeksi TB paru atau TB laring batuk, bersin, atau bicara. Percik renik
dapat dikeluarkan saat pasien melalui prosedur pemeriksaan yang menghasilkan
produk aerosol seperti saat dilakukannya induksi sputum, bronkoskopi dan juga
saat dilakukannya manipulasi terhadap lesi atau pengolahan jaringan. Percik renik
yang merupakan partikel kecil berdiameter 1-5 µm dapat menampung 1-5 basilli,

3
4

dan bersifat sangat infeksius, dan dapat bertahan di dalam udara sampai 4 jam
oleh karena ukurannya yang sangat kecil, percik renik ini memiliki kemampuan
mencapai ruang alveolar dalam paru, dimana bakteri kemudian akan melakukan
replikasi. Ada tiga faktor yang menentukan transmisi M. TB:1,8,9,10
1. Jumlah organisme yang keluar ke udara.
2. Konsentrasi dari organisme dalam udara, ditentukan oleh volume ruang dan
ventilasi.
3. Lama seseorang menghirup udara terkontaminasi.
Satu batuk dapat memproduksi hingga 3,000 percik renik dan juga satu kali
bersin dapat memproduksi hingga 1 juta percik renik. Sedangkan, dosis yang
diperlukan terjadinya infeksi TB adalah 1-10 basil. Kasus yang paling infeksius
adalah penularan dari pasien dengan hasil pemeriksaan sputum positif, dengan
hasil 3+ merupakan kasus yang paling infeksius. Pasien dengan hasil pemeriksaan
sputum negative bersifat tidak terlalu infeksius. Kasus TB ekstra paru hampir
selalu tidak infeksius, kecuali apabila penderita juga memiliki TB paru. Individu
dengan TB laten tidak bersifat infeksius, karena bakteri yang menginfeksi mereka
tidak bereplikasi dan juga tidak dapat melalukan transmisi ke organisme lainnya.
Penularan TB biasanya terjadi dalam ruangan yang gelap, dengan minim ventilasi
di mana percik renik dapat bertahan di udara dalam waktu lebih lama. Cahaya
matahari langsung dapat membunuh tuberkel basili dengan cepat, namun bakteri
ini akan bertahan lebih lama di dalam keadaan yang gelap. Kontak dekat dalam
waktu yang lama dengan orang terinfeksi meningkatkan risiko penularan.1,8,9,10
Apabila terinfeksi, proses sehingga paparan tersebut berkembang menjadi
penyakit TB aktif bergantung pada kondisi imun individu. Pada individu dengan
sistem imun yang normal, 90% tidak akan berkembang menjadi penyakit TB dan
hanya 10% dari kasus akan menjadi penyakit TB aktif (setengah kasus terjadi
segera setelah terinfeksi dan setengahnya terjadi di kemudian hari). Risiko yang
paling tinggi terdapat pada dua tahun pertama pasca-terinfeksi, dimana setengah
dari kasus terjadi. Kelompok dengan risiko tertinggi terinfeksi adalah anak-anak
dibawah usia 5 tahun dan lanjut usia. Orang dengan kondisi imun buruk lebih
rentan mengalami penyakit TB aktif dibanding orang dengan kondisi sistem imun
yang normal. 5060% orang dengan HIV-positif yang terinfeksi TB mengalami
5

penyakit TB yang aktif. Hal ini juga dapat terjadi pada kondisi medis lainnya
dimana sistem imunitas mengalami penekanan seperti silikosis, diabetes melitus,
dan penggunaan obat kortikosteroid atau obat-obat imunosupresan lain dalam
jangka panjang.8,9,10

2.1.3 Faktor Risiko dan Patogenesis


Terdapat beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi untuk
mengalami penyakit TB, kelompok tersebut adalah:1,9,10
1. Orang dengan HIV positif dan penyakit imunokompromais lain.
2. Orang yang mengonsumsi imunosupresan dalam jangka waktu panjang.
3. Perokok
4. Konsumsi alkohol tinggi
5. Anak usia <5 tahun dan lansia
6. Memiliki kontak erat dengan penderita TB aktif yang infeksius.
7. Berada di tempat risiko tinggi TB (contohnya: lembaga permasyarakatan,
fasilitas perawatan jangka panjang)
8. Petugas kesehatan
Setelah inhalasi, nukleus percik renik terbawa menuju percabangan trakea-
bronkial dan dideposit di dalam bronkiolus respiratorik ataupun alveolus, di mana
nukleus percik renik tersebut akan dicerna oleh makrofag alveolus yang kemudian
akan memproduksi respon nonspesifik terhadap basilus. Infeksi bergantung pada
kapasitas virulensi bakteri dan kemampuan bakterisid makrofag alveolus yang
mencernanya. Apabila basilus dapat bertahan melewati mekanisme pertahanan
awal ini, basilus dapat bermultiplikasi di dalam makrofag. Tuberkel bakteri akan
tumbuh perlahan dan membelah setiap 23-32 jam sekali di dalam makrofag.1,9,10
Mycobacterium tidak memiliki endotoksin ataupun eksotoksin sehingga
tidak terjadi reaksi imun segera pada host yang terinfeksi. Bakteri kemudian akan
terus tumbuh dalam 2-12 minggu dan jumlahnya akan mencapai 10 3-104, yang
merupakan jumlah yang cukup untuk menimbulkan sebuah respon imun seluler
yang dapat dideteksi dalam reaksi pada uji tuberkulin skintest. Bakteri kemudian
akan merusak makrofag dan mengeluarkan produk berupa tuberkel basilus dan
juga kemokin yang kemudian akan menstimulasi respon imun. Sebelum imunitas
seluler berkembang, tuberkel basili akan menyebar melalui sistem limfatik
6

menuju nodus limfe hilus, masuk ke dalam aliran darah dan menyebar ke organ
lain. Beberapa organ dan juga jaringan diketahui memiliki resistensi terhadap
replikasi basili ini. Sumsum tulang, hepar dan limpa ditemukan hampir selalu
mudah terinfeksi kuman Mycobacteria. Organisme akan dideposit di bagian atas
(apeks) paru, ginjal, tulang, dan otak, di mana kondisi organ tersebut sangat
menunjang pertumbuhan bakteri Mycobacteria. Di beberapa kasus, bakteri dapat
berkembang dengan cepat sebelum terbentuknya respon imun seluler spesifik
yang dapat membatasi multiplikasinya.9,10
1. TB primer
Infeksi primer terjadi pada paparan pertama terhadap tuberkel basili. Hal ini
biasanya terjadi pada masa anak, oleh karenanya sering diartikan sebagai TB
anak. Namun, infeksi ini dapat terjadi pada usia berapapun di individu yang belum
pernah terpapar [Link] sebelumnya. Percik renik yang mengandung basili yang
terhirup dan menempati alveolus terminal pada paru, biasanya terletak di bagian
bawah lobus superior ataupun bagian atas lobus inferior paru. Basili kemudian
terfagosistosis oleh makrofag; produk mikobakterial akan mampu menghambat
kemampuan bakterisid yang dimiliki makrofag alveolus, sehingga bakteri dapat
melakukan replikasi di dalam makrofag. Makrofag dan monosit lain bereaksi
terhadap kemokin yang dihasilkan, kemudian bermigrasi menuju fokus infeksi
dan memproduksi respon imun. Area inflamasi ini kemudian disebut sebagai
Ghon focus. Basili dan antigen kemudian bermigrasi keluar dari Ghon focus
melalui jalur limfatik menuju Limfe nodus hilus dan membentuk kompleks
(Ghon) primer.1,8,9,10
Respon inflamasinya akan menghasilkan gambaran tipikal nekrosis kaseosa.
Di dalam nodus limfe, limfosit T membentuk suatu respon imun spesifik dan juga
mengaktivasi makrofag untuk menghambat pertumbuhan basili terfagositosis.
Fokus primer tersebut mengandung 1,000–10,000 basili yang akan melakukan
replikasi. Area inflamasi dalam fokus primer digantikan dengan jaringan fibrotik
dan kalsifikasi, yang didalamnya terdapat makrofag mengandung basili terisolasi
yang akan mati apabila sistem imun host adekuat. Beberapa basili tetap dorman
dalam fokus primer untuk beberapa bulan atau tahun, hal ini dikenal dengan
“kuman laten”. Infeksi primer biasanya bersifat asimtomatik dan menunjukkan
7

hasil tuberkulin positif dalam 4-6 minggu setelah infeksi. Dalam beberapa kasus,
respon imun tidak cukup kuat untuk menghambat perkembangbiakan bakteri dan
basili akan menyebar dari sistem limfatik ke aliran darah dan menyebar ke seluruh
tubuh, menyebabkan TB aktif dalam beberapa bulan. TB primer progresif pada
parenkim paru menyebabkan pembesaran fokus primer, sehingga dapat ditemukan
banyak area menunjukkan gambaran nekrosis kaseosa dan juga dapat ditemukan
kavitas, menghasilkan gambaran klinis yang serupa dengan TB post primer.1,8,9,10
2. TB pasca primer
TB pasca primer merupakan suatu pola penyakit yang terjadi pada host yang
sebelumnya pernah tersensitisasi bakteri TB. Terjadi setelah periode laten yang
memakan waktu bulanan hingga tahunan setelah infeksi primer. Hal ini dapat
dikarenakan reaktivasi kuman laten atau karena reinfeksi. Reaktivasi terjadi ketika
basili dorman yang menetap di jaringan selama beberapa bulan atau beberapa
tahun setelah infeksi primer, mulai kembali bermultiplikasi. Hal tersebut mungkin
merupakan respon dari melemahnya sistem imun host oleh karena infeksi HIV.
Reinfeksi terjadi ketika seorang yang pernah mengalami infeksi primer terpapar
kembali dengan orang yang terinfeksi penyakit TB aktif. Dalam sebagian kecil
kasus, hal ini merupakan bagian dari proses infeksi primer. Setelah terjadinya
infeksi primer, perkembangan cepat menjadi penyakit intra-torakal lebih sering
terjadi pada anak dibanding pada orang dewasa. Foto toraks mungkin dapat
memperlihatkan gambaran limfadenopati intratorakal dan infiltrat pada lapang
paru. TB post-primer biasanya mempengaruhi parenkim paru namun dapat juga
melibatkan organ tubuh lainnya.1,8,9,10
Karakteristik dari TB post primer adalah ditemukannya kavitas pada lobus
superior paru dan juga kerusakan paru yang luas. Pemeriksaan sputum biasanya
menunjukkan hasil yang positif dan biasanya tidak ditemukan limfadenopati
intratorakal.1,8,9,10

2.1.4 Manifestasi Klinis


Manifestasi TB tergantung pada lokasi lesinya sehingga dapat menunjukkan
manifestasi klinis sebagai berikut:9,10
1. Batuk berdahak
8

2. Batuk berdahak dapat bercampur darah


3. Dapat disertai nyeri dada
4. Sesak napas
Dengan gejala lain meliputi:9,10
1. Malaise
2. Penurunan berat badan
3. Menurunnya nafsu makan
4. Menggigil
5. Demam
6. Berkeringat di malam hari

2.1.5 Klasifikasi dan Tipe Pasien TB


Terduga TB adalah seseorang dengan gejala atau tanda TB. Gejala utama
dari pasien TB paru adalah batuk berdahak selama dua minggu atau lebih. Batuk
dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah,
sesak napas, lemas, nafsu makan yang menurun, berat badan menurun, malaise,
berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan.
Pada pasien dengan HIV positif, batuk sering kali bukan merupakan gejala dari
TB yang khas, sehingga gejala batuk tidaklah harus selalu selama 2 minggu atau
lebih.9,10
Kasus TB definitif yaitu pasien TB dan ditemukan kuman Mycobacterium
tuberculosis kompleks yang diidentifikasi dari spesimen klinik (jaringan, cairan
tubuh, usap tenggorok, dan lain-lain) dan kultur. Pada negara dengan keterbatasan
kapasitas laboratorium dalam mengidentifikasi [Link] maka kasus TB
paru dapat ditegakkan apabila ditemukan satu ataupun lebih dahak BTA positif.
Kasus TB juga dapat didefinisikan pada seorang pasien yang setelah dilakukan
pemeriksaan penunjang untuk TB sehingga didiagnosis TB oleh dokter maupun
petugas serta diobati dengan paduan dan lama pengobatan yang lengkap. Pada
dasarnya, kasus TB dibagi menjadi dua klasifikasi utama, yaitu:9,10
1. Pasien TB terkonfirmasi bakteriologis; yaitu pasien TB yang ditemukan
bukti infeksi dari kuman MTB berdasarkan pemeriksaan bakteriologisnya.
Termasuk di dalamnya adalah:
9

- Pasien TB paru BTA positif


- Pasien TB paru hasil biakan MTB positif
- Pasien TB paru hasil tes cepat MTB positif
- Pasien TB ekstraparu terkonfirmasi secara bakteriologis, baik dengan BTA,
biakan maupun tes cepat dari contoh uji jaringan yang terkena
- TB anak yang terdiagnosis dengan pemeriksaan bakteriologis.
2. Pasien TB terdiagnosis secara klinis; yaitu pasien TB yang tidak memenuhi
kriteria terdiagnosis secara bakteriologis, namun berdasarkan bukti lain
yang kuat tetap didiagnosis dan juga ditatalaksana sebagai TB oleh dokter.
Termasuk di dalam klasifikasi ini adalah:
- Pasien TB paru BTA negatif dengan hasil foto toraks mendukung TB.
- Pasien TB paru BTA negatif dengan tidak adanya perbaikan secara klinis
setelah diberikan antibiotika non OAT, dan mempunyai faktor risiko TB.
- Pasien TB ekstraparu yang terdiagnosis secara klinis maupun laboratoris
dan histopatologis tanpa konfirmasi bakteriologis.
- TB anak yang terdiagnosis dengan sistim skoring.
Pasien TB yang terdiagnosis secara klinis jika kemudian hari terkonfirmasi
secara bakteriologis harus diklasifikasi ulang menjadi pasien TB terkonfirmasi
bakteriologis. Selain berdasarkan hasil bakteriologis, terdapat beberapa klasifikasi
lain yang dapat digunakan untuk mempermudah komunikasi petugas kesehatan
dan pencatatan data.9,10
Klasifikasi berdasarkan lokasi infeksi:9,10
1. Tuberkulosis paru: yaitu TB yang berlokasi pada parenkim paru. TB milier
dianggap sebagai TB paru karena adanya keterlibatan lesi pada jaringan
paru. Pasien TB TB paru dan juga ekstraparu bersamaan diklasifikasikan
sebagai TB paru.
2. Tuberkulosis ekstra paru: TB yang terjadi pada organ selain paru dan dapat
melibatkan organ pleura, kelenjar limfa, abdomen, saluran kencing, saluran
cerna, kulit, meninges, dan tulang. Jika terdapat beberapa TB ekstraparu di
organ yang berbeda, pengklasikasian dilakukan dengan menyebutkan organ
yang terdampak TB terberat.
Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya:9,10
10

1. Kasus baru TB: kasus yang belum pernah mendapatkan anti tuberkulosis
(OAT) atau sudah pernah menelan OAT dengan total dosis kurang dari 28
hari.
2. Kasus yang pernah diobati TB:
- Kasus kambuh: kasus yang pernah dinyatakan sembuh ataupun pengobatan
lengkap dan saat ini didiagnosis kembali dengan TB.
- Kasus pengobatan gagal: kasus yang pernah diobati dengan terapi OAT dan
dinyatakan gagal pada pengobatan terakhir.
- Kasus putus obat: kasus yang terputus pengobatannya selama minimal 2
bulan berturut-turut.
- Lain-lain: kasus yang pernah diobati dengan terapi OAT namun hasil akhir
pengobatan sebelumnya tidak diketahui.
Klasifikasi hasil uji kepekaan obat:9,10
1. TB Sensitif Obat (TB-SO)
2. TB Resistan Obat (TB-RO):
- Monoresistan: bakteri resisten terhadap salah satu jenis OAT lini pertama
- Resistan Rifampisin (TBRR): Mycobacterium tuberculosis resisten terhadap
Rifampisin dengan atau tanpa resistensi terhadap OAT lain.
- Poliresistan: bakteri resisten terhadap lebih dari satu jenis OAT lini pertama,
namun tidak Isoniazid (H) dan Rifampisin (R) bersamaan.
- Multi drug resistant (TB-MDR): resistan pada Isoniazid (H) dan Rifampisin
(R) secara bersamaan, dengan atau tanpa diikuti resistensi terhadap OAT
lini pertama lainnya.
- Pre extensively drug resistant (TB Pre-XDR): memenuhi kriteria TB MDR
dan resistan terhadap minimal satu florokuinolon.
- Extensively drug resistant (TB XDR): adalah TB MDR yang sekaligus juga
resistan terhadap salah satu dari OAT golongan fluorokuinolon dan minimal
salah satu OAT grup A (levofloksasin, moksifloksasin, bedakuilin, atau
linezolid)
Klasifikasi berdasarkan status HIV:9,10
1. TB dengan HIV positif
2. TB dengan HIV negatif
11

3. TB dengan status HIV tidak diketahui

2.1.6 Diagnosis
Semua pasien terduga TB harus menjalani pemeriksaan bakteriologis untuk
mengkonfirmasi penyakit. Pemeriksaan bakteriologis merujuk pada pemeriksaan
apusan dari sediaan biologis (dahak ataupun spesimen lainnya), pemeriksaan
biakan dan identifikasi M. tuberculosis ataupun metode diagnostik cepat yang
telah mendapat rekomendasi WHO.1,9,10
WHO merekomendasikan pemeriksaan biakan dan uji kepekaan minimal
terhadap rifampisin dan isoniazid pada kelompok pasien berikut:1,9,10
1. Semua pasien dengan riwayat pengobatan OAT. Hal tersebut dikarenakan
TB resistan obat banyak ditemukan terutama pada pasien yang memiliki
riwayat gagal pengobatan sebelumnya.
2. Semua pasien dengan HIV yang didiagnosis TB aktif. Khususnya mereka
yang tinggal di daerah dengan prevalensi TB resistan obat yang tinggi.
3. Pasien dengan TB aktif yang terpajan dengan pasien TB resistan obat.
4. Semua pasien baru di daerah dengan kasus TB resistan obat primer >3%.
5. Pasien baru atau riwayat OAT dengan sputum BTA tetap positif pada akhir
fase intensif. Sebaiknya dilakukan pemeriksaan sputum BTA pada bulan
berikutnya.
12

Gambar 2.1 Alur Diagnosis TB


Pemeriksaan biakan dan uji kepekaan dapat dilakukan dengan 2 metode:9,10
1. Metode konvensional uji kepekaan obat
Pemeriksaan biakan kuman M. TB dapat dilakukan menggunakan 2 macam
medium padat (Lowenstein Jensen /LJ ataupun Ogawa) dan media cair MGIT
(Mycobacterium growth indicator tube). Biakan M. TB di media cair memerlukan
waktu yang singkat minimal 2 minggu, lebih cepat dibandingkan biakan pada
medium padat yang memerlukan waktu 28-42 hari.9
2. Metode cepat uji kepekaan obat (uji diagnostik molekular cepat)
Pemeriksaan molekular untuk mendeteksi DNA M. TB saat ini merupakan
metode pemeriksaan tercepat yang sudah dapat dilakukan di Indonesia. Metode
molekuler dapat mendeteksi kuman M. TB dan membedakannya dengan Non-
Tuberculous Mycobacteria (NTM). Selain itu metode molekuler dapat mendeteksi
13

mutasi pada gen yang berperan dalam mekanisme kerja obat antituberkulosis lini
1 dan lini 2. WHO merekomendasikan penggunaan Xpert MTB/RIF untuk deteksi
pada resistan rifampisin. Resistan pada obat OAT lini 2 direkomendasikan untuk
menggunakan second line line probe assay (SL-LPA) yang dapat mendeteksi
resistensi terhadap obat OAT injeksi serta juga obat antituberkulosis golongan
fluorokuinolon. Pemeriksaan molekuler untuk mendeteksi gen pengkode resistensi
OAT lainnya saat ini dapat dilakukan dengan metode sekuensing, yang tidak
dapat diterapkan secara rutin oleh karena memerlukan peralatan mahal dan juga
keahlian khusus dalam menganalisisnya. WHO telah merekomendasi pemeriksaan
molekular line probe assay (LPA) dan TCM, langsung pada specimen sputum.9,10
Pemeriksaan TCM dapat mendeteksi M. tuberculosis dan gen pengkode
resistan rifampisin pada sputum kurang lebih dalam waktu dua jam. Konfirmasi
hasil dari uji kepekaan OAT menggunakan metode konvensional masih digunakan
sebagai baku emas (gold standard). Penggunaan TCM tidak dapat menyingkirkan
metode biakan dan uji kepekaan konvensional yang diperlukan untuk menegakkan
diagnosis definitif TB, terutama pasien dengan pemeriksaan mikroskopis apusan
BTA negatif, dan hasil uji kepekaan OAT untuk mengetahui resistensi OAT selain
rifampisin. Pada kondisi tidak berhasil mendapatkan sputum secara ekspektorasi
spontan maka dapat dilakukan tindakan induksi sputum ataupun prosedur invasif
seperti bronkoskopi atau torakoskopi. Pemeriksaan tambahan pada semua pasien
TB yang terkonfirmasi bakteriologi maupun terdiagnosis klinis ialah pemeriksaan
HIV dan gula darah. Pemeriksaan lain dilakukan sesuai indikasi misalnya fungsi
hati, fungsi ginjal, dan lain-lain.9,10

2.1.7 Tatalaksana
Tujuan pengobatan TB adalah:9,10
a. Menyembuhkan, mempertahankan kualitas hidup dan produktivitas pasien
b. Mencegah kematian akibat TB aktif atau efek lanjutan
c. Mencegah kekambuhan TB
d. Mengurangi penularan TB kepada orang lain
e. Mencegah perkembangan dan penularan resistan obat
Obat anti-tuberkulosis (OAT) adalah komponen penting dalam pengobatan
TB. Pengobatan TB merupakan salah satu upaya paling efisien untuk mencegah
14

penyebaran lebih lanjut dari bakteri penyebab TB. Pengobatan yang adekuat harus
memenuhi prinsip:1,9,10
1. Pengobatan yang diberikan dalam bentuk paduan obat-obat yang meliputi
minimal empat macam obat untuk mencegah terjadinya resistensi terhadap
OAT.
2. OAT diberikan dalam dosis yang tepat.
3. OAT ditelan secara teratur dan diawasi oleh pengawas menelan obat (PMO)
hingga masa pengobatan selesai.
4. OAT harus diberikan dalam jangka waktu yang cukup, meliputi tahap awal/
fase intensif dan tahap lanjutan. Pada umumnya lama pengobatan TB paru
tanpa komplikasi dan komorbid adalah 6 bulan. Pada TB ekstraparu dan TB
dengan komorbid, pengobatan dapat membutuhkan waktu lebih dari 6
bulan.
Pada tahap awal/fase intensif, OAT diberikan setiap harinya. Pemberian
OAT pada tahap awal bertujuan untuk menurunkan secara cepat jumlah kuman
TB yang terdapat dalam tubuh pasien dan meminimalisasi risiko penularan. Jika
pada tahap awal OAT ditelan secara teratur dengan dosis tepat, risiko penularan
umumnya sudah berkurang setelah dua minggu pertama tahap awal pengobatan.
Tahap awal juga bertujuan untuk memperkecil pengaruh sebagian kecil kuman
yang mungkin sudah resisten pada OAT sejak sebelum dimulai pengobatan.9,10
Durasi pengobatan tahap awal pada pasien TB sensitif obat (TB-SO) adalah
dua bulan. Pengobatan dilanjutkan dengan tahap lanjutan. Pada tahap lanjutan
bertujuan untuk membunuh sisa kuman TB yang tidak mati pada tahap awal
sehingga dapat mencegah kekambuhan. Durasi tahap lanjutan berkisar antara 4 –
6 bulan. Paduan OAT untuk pengobatan TB-SO di Indonesia ialah: 2RHZE/4 RH.
Pada fase intensif pasien diberikan kombinasi 4 obat berupa rifampisin (R),
isoniazid (H), pirazinamid (Z), dan etambutol (E) selama 2 bulan dilanjutkan
dengan pemberian isoniazid (H) dan rifampisin (R) selama 4 bulan pada fase
lanjutan. Pemberian obat fase lanjutan diberikan sebagai dosis harian (RH) sesuai
dengan rekomendasi WHO. Pasien dengan TB-SO diobati menggunakan OAT lini
pertama. Dosis OAT lini pertama yang digunakan dapat dilihat pada tabel 2.1.9,10
Tabel 2.1 Dosis Rekomendasi OAT Lini 1 Untuk Dewasa
15

Untuk menunjang kepatuhan konsumsi obat, paduan OAT lini pertama telah
dikombinasikan dalam obat Kombinasi Dosis Tetap (KDT). Satu tablet KDT
RHZE untuk fase intensif berisi Rifampisin 150 mg, Isoniazid 75 mg, Pirazinamid
400 mg, dan Etambutol 275 mg. Sedangkan untuk fase lanjutan yaitu KDT RH
yang berisi Rifampisin 150 mg + Isoniazid 75 mg diberikan setiap hari. Jumlah
tablet KDT yang harus diberikan dapat disesuaikan dengan berat badan pasien.
Secara ringkas perhitungan dosis pengobatan TB menggunakan OAT KDT dapat
dilihat pada tabel 2.2.9,10
Tabel 2.2 Dosis OAT menggunakan KDT

Pengembangan pengobatan TB paru yang efektif merupakan hal yang


penting untuk menyembuhkan pasien TB serta mencegah TB-RO. Pengembangan
strategi DOTS untuk mengontrol epidemi penyakit TB merupakan prioritas utama
WHO. International Union Against Tuberculosis and Lung Disease (IUALTD)
dan WHO menyarankan untuk menggantikan paduan obat tunggal/lepasan dengan
Kombinasi Dosis Tetap dalam pengobatan TB primer sejak tahun 1998.9,10
Keuntungan Kombinasi Dosis Tetap antara lain:9,10
1. Penatalaksanaan sederhana dengan kesalahan pembuatan resep minimal.
16

2. Peningkatan kepatuhan dan penerimaan pasien dengan penurunan kesalahan


pengobatan yang tidak disengaja.
3. Peningkatan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap tatalaksana yang benar
dan standar.
4. Perbaikan manajemen obat karena jenis obat lebih sedikit.
5. Menurunkan risiko penyalahgunaan obat tunggal serta terjadinya resistensi
obat akibat penurunan penggunaan monoterapi.
Penentuan dosis terapi Kombinasi Dosis Tetap 4 obat berdasarkan rentang
dosis yang telah ditentukan oleh WHO, merupakan dosis yang efektif atau masih
termasuk dalam batas dosis terapi dan non toksik. Pada pasien yang mendapat
OAT KDT harus dirujuk pada rumah sakit/dokter spesialis paru/fasilitas yang
mampu menangani jika mengalami efek samping yang serius.9,10
Pengobatan tuberkulosis standar dibagi menjadi:9,10
1. Pasien baru; paduan obat yang dianjurkan 2HRZE/4HR dengan pemberian
dosis setiap hari.
2. Pada pasien dengan riwayat pengobatan TB lini pertama, maka pengobatan
sebaiknya berdasarkan hasil uji kepekaan individual. Fasilitas kesehatan
perlu melakukan uji kepekaan obat, pasien dapat diberikan OAT kategori 1
selama menunggu hasil uji kepekaan. Pengobatan selanjutnya disesuaikan
dengan hasil uji kepekaan.
3. Pengobatan pasien TB resisten obat (TB-RO) di luar cakupan pedoman ini
Tuberkulosis paru kasus gagal pengobatan dirujuk pada dokter spesialis
paru sedangkan kasus TB-RO dirujuk ke pusat rujukan TB-RO. Tuberkulosis paru
dan ekstraparu diobati dengan jenis regimen pengobatan yang sama dan lama
pengobatan berbeda yaitu:9,10
1. Meningitis TB, lama pengobatan 9-12 bulan karena berisiko kecacatan dan
mortalitas. Etambutol sebaiknya digantikan dengan Streptomisin.
2. TB tulang belakang, lama pengobatan 9-12 bulan.
3. Kortikosteroid diberikan pada meningitis TB, TB milier kondisi berat, dan
perikarditis TB.
17

4. Limfadenitis TB lama pengobatan 6 bulan dan dapat diperpanjang hingga


12 bulan. Perubahan ukuran kelenjar (membesar ataupun mengecil) tidak
dapat menjadi acuan dalam menentukan durasi pengobatan.
BAB III
LAPORAN KASUS

3.1. Identitas Pasien

Nama : Ny. EH
Tanggal Lahir : 46 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Cimenteng RT 1/RW11
Agama : Islam
Pekerjaan : IRT
Masuk RS : 09 09 2022

3.2. Anamnesis

3.2.1 Keluhan Utama


Batuk

3.2.2 Keluhan Tambahan


Sesekali lemas

3.2.3 Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang diantar keluarga untuk kontrol ulang penyakit yang diderita.
Pasien selama ini mengkonsumsi obat paketan TB. Pasien sekarang mengeluhkan
batuk dan hanya sesekali lemas. Berat badan sudah mulai naik dan nafsu makan
sudah mulai membaik.

3.2.4 Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien diketahui belum pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya.
Pasien tidak memiliki riwayat penyakit lainnya seperti diabetes mellitus dan HT.

3.2.5 Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak terdapat anggota keluarganya yang mengalami keluhan sama dengan
pasien. Keluarga tidak memiliki riwayat penyakit menular atau keturunan lainnya.

3.2.6 Riwayat Penggunaan Obat


Pasien ada berobat namun tidak mengetahui obat apa yang diminum pasien.

18
19

3.3. Pemeriksaan Fisik

3.3.1 Vital Sign


Kesadaran : Compos Mentis
Tekanan Darah : 120/70 mmHg
Nadi : 78 kali/menit
Frekuensi Nafas : 20 kali/menit
Suhu Tubuh : 36.90 C
VAS :3
SpO2 : 99% tanpa O2

3.3.2 Pemeriksaan Fisik


Kulit
Warna : Sawo matang
Turgor : Baik
Ikterus : (-)
Anemia : (-)
Sianosis : (-)
Oedema : (-)
Kepala
Bentuk : Normocepali
Rambut : Hitam, sukar dicabut
Mata : Reflek cahaya (+/+), sklera ikterik (-/-), konjungtiva
palpebra inferior pucat (+/+), RCL (+/+), RCTL (+/+)
Telinga : Sekret (-/-), perdarahan (-/-)
Hidung : Sekret (-/-), perdarahan (-/-), NCH (-/-)
Mulut
Bibir : Pucat (-), dianosis (-), kering (-)
Lidah : Papil atrofi (-), Beslag (-), Tremor (-), Kesan Kotor (-)
Mukosa : Kering (-)
Tenggorokan : T1/T1
Faring : Hiperemis (-)
20

Leher
Bentuk : Kesan simetris
KGB : Kesan simetris, Pembesaran (-)
Axilla : Pembesaran KGB (-)
Thorax
Thorax Anterior
Inspeksi
Bentuk dan Gerak : Normochest, pergerakan simetris
Tipe Pernafasan : Abdominal Thoracal
Retraksi : (-)
Auskultasi :
Suara Pokok Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru tengah Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru bawah Vesikuler Vesikuler
Suara Tambahan Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru tengah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru bawah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)

Thoraks Posterior
Inspeksi
Bentuk dan Gerak : Normochest, pergerakan simetris
Tipe pernafasan : Abdominal Thoracal
Retraksi : (-)
Perkusi
Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Sonor Sonor
Lap. Paru tengah Sonor Sonor
Lap. Paru bawah Sonor Sonor
21

Auskultasi
Suara pokok Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru tengah Vesikuler Vesikuler
Lap. Paru bawah Vesikuler Vesikuler
Suara tambahan Paru kanan Paru kiri
Lap. Paru atas Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru tengah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)
Lap. Paru bawah Rh (-), Wh (-) Rh (-), Wh (-)

Jantung
Auskultasi : BJ I > BJ II, reguler, bising (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi : Kesan simetris, distensi (-)
Palpasi : Soepel (+), nyeri tekan (-) epigastrium, organomegali (-)
Perkusi : Tympani (-), asites (-)
Auskultasi : Peristaltik usus kesan normal
Ekstremitas : Akral Hangat, CRT < 2 Detik
Ekstremitas Superior Inferior
Kanan Kiri Kanan Kiri
Sianotik - - - -
Edema - - - -
Ikterik - - - -
Gerakan Aktif Aktif Aktif Aktif
Tonus otot N N N N
Sensibilitas N N N N

3.4. Diagnosis Kerja

- TB Kategori I on Pengobatan
22

3.5. Tatalaksana

‐ Pro FDC 1x4 Tab


‐ N. Asetilsistein 3x200 mg
‐ Vit B Comp 1x1 Tab
‐ Curcuma 3x1 Tab

3.6. Prognosis

Quo et Vitam : Dubia ad Bonam


Quo et Functional : Dubia ad Bonam
Quo et Sanactionam : Dubia ad Bonam
BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Pembahasan

Berdasarkan hasil anamnesis pada pasien, pasien adalah penderita TB paru


yang rutin kontrol untuk mendapatkan obat paketan. Pasien hanya mengeluhkan
sesekali batuk dan juga lemas. Pasien ini setelah didiagnosis TB paru kemudian
diberikan pengobatan Pro FDC. Pada dasarnya, pengobatan pasien TB paru harus
dengan panduan beberapa obat anti-TB (OAT), berkesinambungan dan dalam
waktu tertentu sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Kesembuhan yang baik
akan memperlihatkan sputum BTA-, perbaikan radiologi dan juga menghilangnya
gejala penyakit. Tujuan utama pengobatan TB paru dengan jangka pendek adalah
memutuskan rantai penularan dengan menyembuhkan TB paru minimal 80% dari
keseluruhan dari kasus tuberkulosis paru BTA+ yang ditemukan, serta mencegah
resistensi (kekebalan kuman terhadap OAT). Obat TB paru akan diberikan dalam
bentuk kombinasi beberapa jenis, dalam jumlah cukup dan juga dosis tepat selama
enam bulan, supaya semua kuman (termasuk kuman persiter) dapat di bunuh.
Dosis tahap awal (intensif) dan juga dosis tahap lanjutan (intermiten) diberikan
sebagai dosis tunggal. Apabila paduan obat yang diberikan tidak adekuat (jenis,
dosis dan waktu pengobatan), kuman dari tuberkulosis akan berkembang menjadi
kuman yang kebal terhadap OAT (resisten).9,10
Untuk menjamin kepatuhan penderita, pengobatan perlu didampingi seorang
Pengawas Menelan Obat (PMO). Pengobatan diberikan dalam dua tahap yaitu
tahap awal dan tahap lanjutan. Pada tahap intensif penderita mendapat OAT setiap
hari selama dua bulan. Apabila di tahap intensif diberikan secara tepat, biasanya
penderita menular menjadi tidak menularkan lagi dalam kurun waktu dua minggu.
Sebagian besar dari penderita tuberkulosis paru BTA positif menjadi BTA negatif
(konversi) pada akhir pengobatan intensif. Pada tahap lanjutan, pasien mendapat
jenis OAT tiga kali seminggu, namun dalam jangka waktu empat bulan.9,10

23
BAB V
KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Tuberkulosis (TB) paru merupakan suatu penyakit infeksi yang disebabkan


oleh mycobacterium tuberculosis, yakni bakteri aerob yang dapat hidup terutama
pada paru ataupun berbagai organ tubuh lainnya yang mempunyai tekanan parsial
oksigen tinggi, karena disebabkan oleh bakteri maka penyakit TB dapat ditularkan
dari penderita kepada orang lain. Tuberkulosis paru merupakan penyakit sistemik,
artinya dapat menyerang seluruh bagian pada tubuh seperti kulit, tulang, otak,
mata, usus dan organ lainnya yang menimbulkan kerusakan yang progresif.

DAFTAR PUSTAKA

24
1. Departemen Kesehatan (DEPKES). Pedoman Nasional Penanggulangan TB
Indonesia. DEPKES RI. 2016.
2. World Health Organization. Global tuberculosis report 2018 - Geneva.
WHO report. 2018.
3. World Health Organization. Ending TB in South-East Asia Region:
Regional Strategic Plan 2016–2020. Regional Strategic Plan. 2016
4. Riskesdas 2018. Riskesdas 2018. Kementrian Kesehatan Republik
Indonesia. 2018.
5. Pusat Data Dan Informasi Kementerian Kesehatan. InfoDatin Tuberkulosis.
Infodatin. 2015.
6. World Health Organization. Global Tuberculosis Report. Blood. 2015.
7. Phelan E, El-Gammal A, O’Connor TM. Tuberculosis. In: Encyclopedia of
Environmental Health. 2019.
8. Pai M, Behr MA, Dowdy D, Dheda K, Divangahi M, Boehme CC, et al.
Tuberculosis. Nature Reviews Disease Primers. 2016.
9. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Nasional Pelayanan
Kedokteran; Tatalaksana Tuberkulosis. KEMENKES RI. 2020
10. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Pedoman Diagnosa dan Tatalaksana
TB di Indonesia. Jakarta. 2021

25

Anda mungkin juga menyukai