0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

Pengaruh Belimbing Wuluh pada Diabetes

Usulan penelitian ini membahas pengaruh air rebusan daun belimbing wuluh terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Pada bab tinjauan pustaka dijelaskan pengertian diabetes melitus, klasifikasi, patofisiologi diabetes melitus tipe I dan II serta faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya diabetes tipe II.

Diunggah oleh

vania eka suci
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
5 tayangan18 halaman

Pengaruh Belimbing Wuluh pada Diabetes

Usulan penelitian ini membahas pengaruh air rebusan daun belimbing wuluh terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II. Pada bab tinjauan pustaka dijelaskan pengertian diabetes melitus, klasifikasi, patofisiologi diabetes melitus tipe I dan II serta faktor-faktor yang berhubungan dengan terjadinya diabetes tipe II.

Diunggah oleh

vania eka suci
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

USULAN PENELITIAN

PENGARUH AIR REBUSAN DAUN BELIMBING WULUH


TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA
PASIEN DM TIPE II DI PUSKESMAS
TEGALLALANG II
TAHUN 2023

NI KADEK VANIA EKA SUCI

NIM C2122135

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA USADA BALI
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Diabetes Mellitus
1. Pengertian Diabetes Mellitus

Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis dimana organ pankreas

tidak memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak efektif dalam

menggunakannya (World Health Organization, 2016).

Menurut International Diabetes Federation (2021) Diabetes Melitus

adalah penyakit yang terjadi ketika produksi insulin pada pankreas tidak

mencukupi atau pada saat insulin tidak dapat digunakan secara efektif

oleh tubuh (resistensi insulin). Insulin merupakan hormon yang

dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang berperan dalam memasukkan

glukosa dari aliran darah ke sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai

sumber energi.

American Diabetes Association (ADA) tahun 2020, menjelaskan

bahwa Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang

ditandai dengan adanya hiperglikemia yang terjadi akibat pankreas tidak

mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin, ataupun keduanya.

2. Klasifikasi Diabetes Mellitus

Ada beberapa tipe Diabetes Melitus, ada empat tipe utama Diabetes

Mellitus yaitu : Diabetes Tipe I , Diabetes Tipe II, Diabetes Gestasional,


dan Diabetes tipe spesifik lain. Klasifikasi Diabetes Melitus yang umum

menurut Clevo Rendy dan Margareth (2012) :

a. Diabetes Tipe I

Diabetes Mellitus Tipe I (insulin dependent dibetes mellitus [IDDM])

merupakan penyakit yang terjadi akibat kerusakan sel beta islet

Langerhans pada Pankreas, kerusakan sel beta menyebabkan insulin

tidak dapat diproduksi lagi. Diabetes Mellitus Tipe I sering terjadi pada

masa kanak-kanak dan remaja. Penyakit ini ditandai dengan

hiperglikemia, pemecahan lemak dan protein tubuh, dan pembentukan

ketosis (LeMone et al., 2016).

b. Diabetes Tipe II

Diabetes Melitus Tipe II (non-insulin-dependent diabetes mellitus

[NIDDM]) adalah kenaikan kadar gula darah puasa yang terjadi meski

tersedia insulin endogen. Diabetes Tipe II bisa terjadi pada semua usia

tetapi lebih banyak dijumpai pada usia lansia. (LeMone et al., 2016).

Menurut Haryono dan Ayu Dwi Sudanti (2019), Diabetes Mellitus

Tipe II merupakan sebuah kondisi gula darah mengalami kenaikan yang

disebabkan oleh sel beta pada pancreas memproduksi insulin dalam

jumlah sedikit dan adanya gangguan pada fungsi insulin (resistensi

insulin)
Tabel 2. 1
Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi Sekarang Klasifikasi Sebelumnya Ciri-ciri Klinik
Tipe I: Diabetes Melitus Diabetes juvenilis Awitan pada segala usia,
tergantung insulin Juvenile-onset diabetes tetapi biasanya usia muda
(IDDM) (5%-10% dari Diabetes cenderung- (<30 tahun)
seluruh penderita ketosis Brittle diabetes Biasanya berkebutuhan
diabetes) kurus pada saat
didiagnosis; dengan
penurunan berat yang baru
saja terjadi
Etiologi mencakup faktor
genetik, imunologi atau
limgkungan (misalnya,
virus)
Sering memiliki antibodi
sel pulau Langerhans
Sering memiliki antibodi
terhadap insulin sekalipun
belum pernah
mendapatkan terapi
insulin
Sedikit atau tidak
mempunyai insulin
endogen
Memerlukan insulin untuk
mempertahankan
kelangsungan hidup
Cenderung mengalami
ketosis jika tidak memiliki
insulin
Komplikasi akut
hiperglikimia:
ketoasidosis diabetik
Tipe II: Diabetes Diabetes awitan dewasa Awitan terjadi di segala
Melitus tidak tergantung Maturity-onset diabetes usia, biasanya diatas 30
insulin (NIDDM) (90%- Diabetes resisten-ketosis tahun
95% dari seluruh Diabetes stabil (stable Biasanya bertubuh
penyandang diabetes diabetes) gemuk (obese) pada
obee—80% dari tipe II; saat didiagnosis
nonabase—20% dari Etiologi mencakup
tipe II) faktor obesitas,
harediter atau
lingkungan
Tidak ada antibodi sel
pulau Langerhans
Penurunan produksi
insulin endogen atau
peningkatan resistensi
insulin
Mayoritas penderita
obisitas dapat
mengendalikan kadar
glukosa darahnya
memulai penurunan
berat badan
Agens hipoglikimia
oral dapat memperbaiki
kadar glukosa darah
bila modifikasi diet dan
latihan tidak berhasil
Mungkin memerlukan
insulin dalam waktu
yang pendek atau
panjang untuk
mencegah
hiperglikemia Ketosis
jarang terjadi, kecuali
bila dalam
keadaan stres atau
menderita infeksi

Sumber: Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012

3. Patofisiologi Diabetes Mellitus

Diabetes adalah kumpulan penyakit metabolik akibat kerusakan

sekresi insulin yang ditandai dengan hiperglikemia. Patofisiologi DM

berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh dalam merombak glukosa

menjadi energi karena tidak ada atau kurangnya produksi insulin dalam

tubuh. Insulin adalah hormon pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar

pankreas yang berfungsi dalam pengolahan gula ke dalam sel tubuh untuk

digunakan sebagai sumber energi. Pada penderita DM, insulin yang

dihasilkan tidak mencukupi sehingga terjadinya penumpukan gula dalam

darahnya (Haryono dan Ayu Dwi Sudanti, 2019).

a. Patofisologi Diabetes Mellitus Tipe I

Diabetes mellitus tipe I terjadi karena kerusakan sel beta pankreas

(reaksi autoimun). Sel beta pankreas, merupakan satu-satunya sel tubuh

yang menghasilkan insulin yang berfungsi mengatur kadar glukosa

dalam tubuh. Bila kerusakan sel beta pankreas telah mencapai 80-90%
maka gejala DM muncul. Kerusakan ini paling cepat terjadi pada anak

dibanding dewasa (Marzel, 2021).

b. Patofisiologi Diabetes Mellitus Tipe II

Diabetes mellitus tipe II merupakan sindrom heterogen yang ditandai

dengan adanya kelainan metabolism karbohidrat dan lemak. Penyebab

terjadinya diabetes tipe II adalah multi-faktorial yang mencakup unsur

genetic dan lingkungan dapat mempengaruhi fungsi dari sel beta dan

jaringan seperti jaringan otot, hati, jaringan adiposa, dan pancreas agar

dapat sensitive terhadap insulin. Ada beberapa faktor yang

menghubungkan resistensi insulin dan disfungsi sel beta dalam

patogenesis diabetes tipe II. Faktor-faktor tersebut ditentukan dari

sebagian besar individu yang menderita diabetes tipe II, yaitu mengalami

obesitas, dengan pusat adipositas viseral. Oleh karena itu, jaringan

adiposa memainkan peran penting dalam patogenesis diabetes tipe II

(Haryono dan Ayu Dwi Sudanti, 2019).

Untuk mengatasi resisten insulin dan mencegah terbentuknya glukosa

dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang

disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini

terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan

diperthankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun

demekian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan

kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi

diabetes tipe II (Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012).


4. Faktor Risiko Diabetes Millitus

a. Diabetes Mellitus Tipe I

Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta

pankreas. Kombinasi faktor genetik, imonologi dan mungkin pula

lingkungan ( misalnya, infeksi virus) diperkirakan turut menimbulkan

destruksi sel beta. Berikut faktor risiko diabetes millitus tipe I menurut

Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare (2012).

1) Faktor genetik

2) Faktor imunologi

3) Faktor lingkungan

b. Diabetes Mellitus Tipe II

Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resisten insulin dan

gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belom diketahui.

Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadi

resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor risiko tertentu

yang berhubungan dengan proses terjainya diabetes mellitus tipe II.

Faktor-faktor ini adalah :

1) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia dia atas 65

tahun)

2) Obesitas

3) Riwayat keluarga

4) Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta

penduduk asli Amerika Serikat tertentu memiliki kemungkinan yang


lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan

golongan Afro-Amerika).

(Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012).

Pernyataan diatas didukung dengan penelitian oleh Azzahra Utomo et

al., (2020) yang bertujuan untuk mengetahui faktor risiko diabetes

mellitus tipe II. Penelitian pada kajian ini menggunakan metode

sistematik (systematic review). Strategi pencarian yang digunakan untuk

memperoleh artikel-artikel penelitian menggunakan fasilitas database

online melalui Google Scholar, Portal GARUDA, dan PubMed. Kata

kunci yang digunakan adalah sebagai berikut: Faktor Risiko Diabetes

Mellitus. Berdasarkan laporan penelitian yang sudah didapat dalam 10

tahun terakhir diabetes mellitus tipe II memiliki faktor risiko yang dibagi

menjadi dua yaitu faktor risiko yang tak bisa diubah dan faktor risiko

yang bisa diubah dengan pola hidup sehat. Faktor-faktor tersebut dapat

meninggikan risiko mengalami penyakit diabetes mellitus tipe II. Faktor

risiko yang tak dapat diubah yakni riwayat keluarga dan umur.

Sedangkan, obesitas, kurang melakukan aktivitas fisik, dislipidemia,

kebiasaan merokok, hipertensi, dan pengelolaan stres merupakan faktor

risiko yang dapat diubah.

5. Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus

Pada tahap awal penderita dibetes mellitus biasanya tidak

menunjukkan gejala. Gejala umum penderita diabetes adalah sebagai

berikut (Baynest, 2015):


a. Meningkatknya rasa haus karena air dan elektrolit dalam tubuh

berkurang (polidipsia),

b. Meningkatnya rasa lapar karena kadar glukosa dalam jaringan berkurang

(polifagia),

c. Kondisi urin yang mengandung glukosa biasanya terjadi ketika kadar

glukosa darah 180 mg/dL (glikosuria),

d. Meningkatnya osmolaritas filtrate glomerulus dan reabsorbsi air

dihambat dalam tubulus ginjal sehingga volume urin meningkat

(poliuria),

e. Kehilangan berat badan disebabkan oleh kehilangan cairan tubuh dan

penggunaan jaringan otot dan lemak akan diubah menjadi energi.

Pada sebagian penderita diabetes tidak mengalami tanda dan gejala

sehingga memperburuk kondisi penderita. Diperkirakan 30-80% penderita

tidak terdiagnosis. Penderita dibetes yang tidak diobati dengan tepat dapat

menyebabkan pingsan, koma, dan kematian (Kharroubi, 2015).

6. Pemeriksaan Penunjang Diabetes Mellitus

Diabetes Melitus didiagnosis menggunakan tes laboratorium dengan

mengukur level glukosa (Hannon, Pooler, dan Porth, 2010). Tes glukosa

darah tersebut menurut Williams dan Hopper (2015) yaitu:

a. Gula Darah Puasa (GDP)/ Fasting Glucose Level (FPG)

Ada menyampaikan bahwa normal Glukosa Darah (GD) adalah

kurang dari 100 mg/dl. Pasien didiagnosa dengan Diabetes Melitus


apabila nilai GDP 126 mg/dl atau lebih, yang diambil minimal 8 jam

puasa. Jika GPD antara 100-125 mg/dl maka pasien mengalami Glukosa

Puasa Terganggu (GPT)/ Random Plasma Glucose (RPG).

b. Gula Darah Acak (GDA)/ Random Plasma Glucose (RPG)

GDA disebut juga sebagai Gula Darah Sewaktu (GDS). Pemeriksaan

GDS bertujuan untuk mengetahui kadar gula darah pasien dan ketentuan

program terapi medik tanpa ada persiapan khusus ataupun bergantung

pada waktu makan pasien. Diabetes Melitus ditegakkan apabila nilai

RPG/GDS 200 mg/dl atau lebih dengan gejala diabetes.

c. Tes Toleransi Glukosa Oral/ Oral Glucose Tolerance Test (OGTT)

OGTT dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis diabetes mellitus

pada pasien yang memiliki kadar gula darah dalam batas normal-tinggi

atau sedikit meningkat. OGGTT mengukur glukosa darah pada interval

setelah pasien minuman karbohidrat terkonsentrasi. Diabetes Melitus di

tegakkan bila level GD adalah 200 mg/dl atau lebih setelah 2 jam, jika

GD adalah 140-199 mg/dl setelah 2 jam didiagnosa dengan IFG dan

pradiabetes.

d. Glycohemoglobin Test

Glycohemoglobin disebut juga sebagai glycosylated hemoglobin

(HbA1c) atau hemoglobin A1C. HbA1c digunakan sebagai data dasar

dan memantau kemajuan kontrol diabetes. Nilai normal HbA1c adalah

4% hingga 6%, dikatakan Diabetes Melitus apabila HbA1c adalah 6,5%


atau lebih, sementara nilai HbA1c antara 6% hingga 6,5% berisiko tinggi

mempunyai diabetes (pradiabetes).

Smeltzer, Bare, Hinkle, dan Cheever (2010) pemeriksaan

laboratorium pada Diabetes Melitus adalah:

1) HbA1c (A1C)

2) Profil lipid puasa (Fasting lipid microalbuminuri)

3) Tingkat kreatinin serum (Serum creatinine level)

4) Urinalisis (Urinalysis)

5) Elektrokardiogram (Electrocardiogram)

7. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus

a. Penatalaksanaan Diet

Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari

penatalaksaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes

diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini:

1) Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin,

mineral)

2) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai

3) Memenuhi kebutuhan energi

4) Mencegah fluktuasi kadar glikosa darah setiap harinya dengan

mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-

cara yang aman dan praktis

5) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat

(Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012)


b. Obat Farmakologi

1) Terapi Insulin

Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, hormon insulin didekresikan

oleh sel-sel beta pulau Lsngerhans. Hormon ini bekerja untuk

menurunkan kadar glukosa darah postprandial dengan mempermudah

pengambilan serta penggunaan glukosa oleh sel-sel otot, lemak hati.

Selama periode puasa, insulin menghambat pemecahan simpanan

glukosa, protein dan lemak. ( Suzanne [Link] dan Brenda G.

Bare, 2012)

2) Agen Antidiabetik Oral

Agens antidiabetik oral mungkin berhasiat bagi pasien Diabetes

Melitus tipe II yang tidak dapat diatasi hanya dengan diet dan latihan;

meskipun demikian, obat ini tidak dapat digunakan pada kehamilan.

Di Amerika Serikat, obat antidiabetik oral mencakup golongan

sulfonylurea dan biguanid ( Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare,

2012)

3) Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah

Diabetes Melitus merupakan sakit kronis yang memerlukan prilaku

penanganan mandiri yang khasus seumur hidup. Karena diet, aktivitas

fisik dan stres fisik serta emosional dapat mempengaruhi

pengendalian Diabetes Melitus, maka pasien harus belajar untuk

mengatur keseimbangan berbagai faktor. Pasien bukan hanya harus

belajar keterampilan untuk merawat diri sendiri setiap hari guna


menghindari penurunan atau kenaikan kadar glukosa darah yang

mendadak, tetapi juga harus memiliki prilaku preventif dalam gaya

hidup untuk mrnghindari komplikasi diabetik jangka panjang.

Penghargaan pasien tentang pentingnya pengetahuan dam

ketersmpilan yang harus dimiliki oleh penderita Diabetes Melitus

dapat membantu perawat dalam melakukan pendidikan dan

penyuluhan. ( Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012)

c. Pengobatan Nonfarmakologi

Selain obat yang diberikan oleh dokter, ada beberapa alternatif

pengobatan untuk diabetes mellitus. Penanganan non farmakologi

diabetes mellitus tipe II dapat menggunakan tanaman herbal. Beberapa

tanaman bisa digunakan sebagai bahan baku obat diabetes mellitus

satunya adalah tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) (Wasito,

2011). Tanaman belimbing wuluh secara empiris mempunyai khasiat

untuk pengobatan diabetes melitus. Sebagai bahan obat yang digunakan

adalah rebusan daun belimbing wuluh (Wijoyo, 2012).

Didukung oleh penelitian Maaruf et al., (2022) yang bertujuan untuk

mengetahui pengaruh terapi air rebusan daun belimbing wuluh terhadap

penurunan kadar gula di Puskesmas Simalingkar. Penelitian ini

menggunakan desainpre-ekperimen(one group pre-test dan post-test

design), dengan jumlah populasi yang berkisar 32 orang. Hasil penelitian

menunjukan bahwa semua responden yang melakukan terapi air


rebusan daun belimbing wuluh secara teratur relatif mendapatkan

nilai kadar gula turun dari kadar gula darah sebelumnya

Penelitian oleh Yazid & Suryani (2017) yang bertujuan untuk

mengetahui perbedaan kadar glukosa darah sebelum dan sesudah

pemberian ekstrak daun belimbing wuluh dan daun sirsak pada penderita

diabetes melitus di Desa Pekalongan. Penelitian ini menggunakan

analisis data dengan Uji Paired Sampel T Test. Berdasarkan uji Paired T

Test pada kadar glukosa daah penderita Diabetes Mellitus sebelum dan

sesudah pemberian rebusan belimbing wuluh di dapatkan hasil p = 0,003

(α = 0,05), menunjukkan adanya perebedaan yang signifikan antara kadar

glukosa darah pada penderita Diabetes Mellitus sebelum dan sesudah

pemberian rebusan daun belimbing wuluh. Sedangkan hasil uji Paired T

Test pada kadar glukosa darah penderita Diabetes Mellitus sebelum dan

sesudah pemberian rebusan sirsak di dapatkan hasil p = 0,000 (α = 0,05),

yang menunjukkan adanya perebedaan yang signifikan antara kadar

glukosa darah pada penderita Diabetes Mellitus sebelum dan sesudah

pemberian rebusan daun sirsak. Dari data tersebut didapatkan hasil

rebusan daun belimbing wuluh lebih efektif menurunkan kadar glukosa

darah pada penderita Diabetes Mellitus.

B. Tanaman Belimbing Wuluh

1. Taksonomi Tanaman

Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) kedudukannya dalam ilmu

taksonomi tumbuhan (Salam, 2023) adalah :


Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Gerantales

Family : Oxallidaceae

Genus : Averrhoa

Jenis : Averrhoa bilimbi L.

2. Kandungan Daun Belimbing Wuluh

Menurut Salam (2023) kandungan yang terdapat dalam daun

belimbing wuluh adalah keloid, glikosida, senyawa fenolik, flavonoid,

steroid, terpenoid, tannin, saponin, asam-amino, protein, gula reduksi, pati

dan karbohidrat ditemukan di awal tes fitokimia. Zat aktif yang terdapat

dalam daun belimbing wuluh adalah saponin dan flavonoid. Saponin

berfungsi sebagai anti hiperglikemik dengan cara mencegah pengambilan

gllukosa pada brush border di usus halus. Flavonoid merupakan

alfaglukosidase yang berfungsi untuk menunda absorbsi karbohidrat

sehingga kadar glukosa darah menurun (Madduluri, S., Rao, K., Babu,

2013).

Didukung oleh penelitian Yanti dan Vera (2019), bertujuan untuk

skrining fitokimia ekstrak daun belimbing wuluh ( Averrhoa Bilimbi ).

Penelitian ini menggunakan uji fitokimia meliputi uji alkaloid, flavonoid,

saponin, tanin / polifenol, terpenoid dan steroid. Uji ini dilakukan untuk
mengidentifikasi senyawa metabolic sekunder yang terdapat pada ekstrak

daun belimbing wuluh. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah

daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) diambil dari Sadabuan,

Kecamatan Padangsidimpuan Utara Kota Padangsidimpuan. Berdasarkan

penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa ekstrak daun

belimbing wuluh mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan

steroid.

3. Kandungan Nutrisi dan Khasiat Pada Daun Belimbinng Wuluh

Analisis khasiat gizi pada daun belimbing wuluh menurut Salam

(2023), kadar protein (12,28%), kelembaban (9,539%9), abu (5,93%),

lemak (3,34%), serat (21,95%0) dan karbohidrat (46,97%) diperoleh dari

serbuk daun. Data ini menunjukkan bahwa daun kaya akan sumber

karbohidrat, serat, protein dan rendah lemak. Karbohidrat bisa berfungsi

sebagai suplemen untuk energi, karena berpotensi meningkatkan status

kesehatan penggunanya. Kandungan seratnya bisa membantu meningkatkan

fungsi gastrointestinal, mencegah sembelit dan dapat menurunkan

kandungan kolesterol. Oleh Karena itu averrhoa bilimbi L. memiliki

komponen nutrisi yang baik bagi kesehatan dan dapat menjadi nutrisi

pelengkap

4. Cara Pengolahan Daun Delimbing Wuluh

Cara mengolah daun belimbing wuluh kering untuk dijadikan teh,

menurut (Soedarsono, 2016) :


a. Siapkan 10-15 daun sirsak dan 3-7 daun.

b. Cuci dengan bersih, dan rebus keduanya dengan 2 gelas air.

c. Gunakan api kecil tunggu sampai mendidih hingga tersisa 1 cangkir air

matang.

d. Setelah itu diamkan sampai dingin, kemudian saring air rebusan dan

minum

e. Minum 2 kali sehari dalam 3 minggu


Diabetes Melitus Pengobatan
dengan
Farmakologis:
- Insulin
- Obat oral
Kadar Glukosa Darah

Pengobatan dengan

Nonfarmakologis:

Air rebusan Daun Belimbing


Wuluh

Flavonoid

Penurunan Kadar Gula Darah

Skema 2. 1
Kerangka Teori Pengaruh Pemberian Air Rebusan Daun Belimbing Wuluh
Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Melitus
Tipe II

Anda mungkin juga menyukai