USULAN PENELITIAN
PENGARUH AIR REBUSAN DAUN BELIMBING WULUH
TERHADAP PENURUNAN KADAR GULA DARAH PADA
PASIEN DM TIPE II DI PUSKESMAS
TEGALLALANG II
TAHUN 2023
NI KADEK VANIA EKA SUCI
NIM C2122135
PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA USADA BALI
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Diabetes Mellitus
1. Pengertian Diabetes Mellitus
Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis dimana organ pankreas
tidak memproduksi cukup insulin atau ketika tubuh tidak efektif dalam
menggunakannya (World Health Organization, 2016).
Menurut International Diabetes Federation (2021) Diabetes Melitus
adalah penyakit yang terjadi ketika produksi insulin pada pankreas tidak
mencukupi atau pada saat insulin tidak dapat digunakan secara efektif
oleh tubuh (resistensi insulin). Insulin merupakan hormon yang
dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang berperan dalam memasukkan
glukosa dari aliran darah ke sel-sel tubuh untuk digunakan sebagai
sumber energi.
American Diabetes Association (ADA) tahun 2020, menjelaskan
bahwa Diabetes Melitus adalah suatu kelompok penyakit metabolik yang
ditandai dengan adanya hiperglikemia yang terjadi akibat pankreas tidak
mampu mensekresi insulin, gangguan kerja insulin, ataupun keduanya.
2. Klasifikasi Diabetes Mellitus
Ada beberapa tipe Diabetes Melitus, ada empat tipe utama Diabetes
Mellitus yaitu : Diabetes Tipe I , Diabetes Tipe II, Diabetes Gestasional,
dan Diabetes tipe spesifik lain. Klasifikasi Diabetes Melitus yang umum
menurut Clevo Rendy dan Margareth (2012) :
a. Diabetes Tipe I
Diabetes Mellitus Tipe I (insulin dependent dibetes mellitus [IDDM])
merupakan penyakit yang terjadi akibat kerusakan sel beta islet
Langerhans pada Pankreas, kerusakan sel beta menyebabkan insulin
tidak dapat diproduksi lagi. Diabetes Mellitus Tipe I sering terjadi pada
masa kanak-kanak dan remaja. Penyakit ini ditandai dengan
hiperglikemia, pemecahan lemak dan protein tubuh, dan pembentukan
ketosis (LeMone et al., 2016).
b. Diabetes Tipe II
Diabetes Melitus Tipe II (non-insulin-dependent diabetes mellitus
[NIDDM]) adalah kenaikan kadar gula darah puasa yang terjadi meski
tersedia insulin endogen. Diabetes Tipe II bisa terjadi pada semua usia
tetapi lebih banyak dijumpai pada usia lansia. (LeMone et al., 2016).
Menurut Haryono dan Ayu Dwi Sudanti (2019), Diabetes Mellitus
Tipe II merupakan sebuah kondisi gula darah mengalami kenaikan yang
disebabkan oleh sel beta pada pancreas memproduksi insulin dalam
jumlah sedikit dan adanya gangguan pada fungsi insulin (resistensi
insulin)
Tabel 2. 1
Klasifikasi Diabetes Mellitus
Klasifikasi Sekarang Klasifikasi Sebelumnya Ciri-ciri Klinik
Tipe I: Diabetes Melitus Diabetes juvenilis Awitan pada segala usia,
tergantung insulin Juvenile-onset diabetes tetapi biasanya usia muda
(IDDM) (5%-10% dari Diabetes cenderung- (<30 tahun)
seluruh penderita ketosis Brittle diabetes Biasanya berkebutuhan
diabetes) kurus pada saat
didiagnosis; dengan
penurunan berat yang baru
saja terjadi
Etiologi mencakup faktor
genetik, imunologi atau
limgkungan (misalnya,
virus)
Sering memiliki antibodi
sel pulau Langerhans
Sering memiliki antibodi
terhadap insulin sekalipun
belum pernah
mendapatkan terapi
insulin
Sedikit atau tidak
mempunyai insulin
endogen
Memerlukan insulin untuk
mempertahankan
kelangsungan hidup
Cenderung mengalami
ketosis jika tidak memiliki
insulin
Komplikasi akut
hiperglikimia:
ketoasidosis diabetik
Tipe II: Diabetes Diabetes awitan dewasa Awitan terjadi di segala
Melitus tidak tergantung Maturity-onset diabetes usia, biasanya diatas 30
insulin (NIDDM) (90%- Diabetes resisten-ketosis tahun
95% dari seluruh Diabetes stabil (stable Biasanya bertubuh
penyandang diabetes diabetes) gemuk (obese) pada
obee—80% dari tipe II; saat didiagnosis
nonabase—20% dari Etiologi mencakup
tipe II) faktor obesitas,
harediter atau
lingkungan
Tidak ada antibodi sel
pulau Langerhans
Penurunan produksi
insulin endogen atau
peningkatan resistensi
insulin
Mayoritas penderita
obisitas dapat
mengendalikan kadar
glukosa darahnya
memulai penurunan
berat badan
Agens hipoglikimia
oral dapat memperbaiki
kadar glukosa darah
bila modifikasi diet dan
latihan tidak berhasil
Mungkin memerlukan
insulin dalam waktu
yang pendek atau
panjang untuk
mencegah
hiperglikemia Ketosis
jarang terjadi, kecuali
bila dalam
keadaan stres atau
menderita infeksi
Sumber: Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012
3. Patofisiologi Diabetes Mellitus
Diabetes adalah kumpulan penyakit metabolik akibat kerusakan
sekresi insulin yang ditandai dengan hiperglikemia. Patofisiologi DM
berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh dalam merombak glukosa
menjadi energi karena tidak ada atau kurangnya produksi insulin dalam
tubuh. Insulin adalah hormon pencernaan yang dihasilkan oleh kelenjar
pankreas yang berfungsi dalam pengolahan gula ke dalam sel tubuh untuk
digunakan sebagai sumber energi. Pada penderita DM, insulin yang
dihasilkan tidak mencukupi sehingga terjadinya penumpukan gula dalam
darahnya (Haryono dan Ayu Dwi Sudanti, 2019).
a. Patofisologi Diabetes Mellitus Tipe I
Diabetes mellitus tipe I terjadi karena kerusakan sel beta pankreas
(reaksi autoimun). Sel beta pankreas, merupakan satu-satunya sel tubuh
yang menghasilkan insulin yang berfungsi mengatur kadar glukosa
dalam tubuh. Bila kerusakan sel beta pankreas telah mencapai 80-90%
maka gejala DM muncul. Kerusakan ini paling cepat terjadi pada anak
dibanding dewasa (Marzel, 2021).
b. Patofisiologi Diabetes Mellitus Tipe II
Diabetes mellitus tipe II merupakan sindrom heterogen yang ditandai
dengan adanya kelainan metabolism karbohidrat dan lemak. Penyebab
terjadinya diabetes tipe II adalah multi-faktorial yang mencakup unsur
genetic dan lingkungan dapat mempengaruhi fungsi dari sel beta dan
jaringan seperti jaringan otot, hati, jaringan adiposa, dan pancreas agar
dapat sensitive terhadap insulin. Ada beberapa faktor yang
menghubungkan resistensi insulin dan disfungsi sel beta dalam
patogenesis diabetes tipe II. Faktor-faktor tersebut ditentukan dari
sebagian besar individu yang menderita diabetes tipe II, yaitu mengalami
obesitas, dengan pusat adipositas viseral. Oleh karena itu, jaringan
adiposa memainkan peran penting dalam patogenesis diabetes tipe II
(Haryono dan Ayu Dwi Sudanti, 2019).
Untuk mengatasi resisten insulin dan mencegah terbentuknya glukosa
dalam darah, harus terdapat peningkatan jumlah insulin yang
disekresikan. Pada penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini
terjadi akibat sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan
diperthankan pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun
demekian, jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan
kebutuhan akan insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi
diabetes tipe II (Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012).
4. Faktor Risiko Diabetes Millitus
a. Diabetes Mellitus Tipe I
Diabetes mellitus tipe I ditandai oleh penghancuran sel-sel beta
pankreas. Kombinasi faktor genetik, imonologi dan mungkin pula
lingkungan ( misalnya, infeksi virus) diperkirakan turut menimbulkan
destruksi sel beta. Berikut faktor risiko diabetes millitus tipe I menurut
Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare (2012).
1) Faktor genetik
2) Faktor imunologi
3) Faktor lingkungan
b. Diabetes Mellitus Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resisten insulin dan
gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belom diketahui.
Faktor genetik diperkirakan memegang peranan dalam proses terjadi
resistensi insulin. Selain itu terdapat pula faktor-faktor risiko tertentu
yang berhubungan dengan proses terjainya diabetes mellitus tipe II.
Faktor-faktor ini adalah :
1) Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia dia atas 65
tahun)
2) Obesitas
3) Riwayat keluarga
4) Kelompok etnik (di Amerika Serikat, golongan Hispanik serta
penduduk asli Amerika Serikat tertentu memiliki kemungkinan yang
lebih besar untuk terjadinya diabetes tipe II dibandingkan dengan
golongan Afro-Amerika).
(Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012).
Pernyataan diatas didukung dengan penelitian oleh Azzahra Utomo et
al., (2020) yang bertujuan untuk mengetahui faktor risiko diabetes
mellitus tipe II. Penelitian pada kajian ini menggunakan metode
sistematik (systematic review). Strategi pencarian yang digunakan untuk
memperoleh artikel-artikel penelitian menggunakan fasilitas database
online melalui Google Scholar, Portal GARUDA, dan PubMed. Kata
kunci yang digunakan adalah sebagai berikut: Faktor Risiko Diabetes
Mellitus. Berdasarkan laporan penelitian yang sudah didapat dalam 10
tahun terakhir diabetes mellitus tipe II memiliki faktor risiko yang dibagi
menjadi dua yaitu faktor risiko yang tak bisa diubah dan faktor risiko
yang bisa diubah dengan pola hidup sehat. Faktor-faktor tersebut dapat
meninggikan risiko mengalami penyakit diabetes mellitus tipe II. Faktor
risiko yang tak dapat diubah yakni riwayat keluarga dan umur.
Sedangkan, obesitas, kurang melakukan aktivitas fisik, dislipidemia,
kebiasaan merokok, hipertensi, dan pengelolaan stres merupakan faktor
risiko yang dapat diubah.
5. Manifestasi Klinis Diabetes Mellitus
Pada tahap awal penderita dibetes mellitus biasanya tidak
menunjukkan gejala. Gejala umum penderita diabetes adalah sebagai
berikut (Baynest, 2015):
a. Meningkatknya rasa haus karena air dan elektrolit dalam tubuh
berkurang (polidipsia),
b. Meningkatnya rasa lapar karena kadar glukosa dalam jaringan berkurang
(polifagia),
c. Kondisi urin yang mengandung glukosa biasanya terjadi ketika kadar
glukosa darah 180 mg/dL (glikosuria),
d. Meningkatnya osmolaritas filtrate glomerulus dan reabsorbsi air
dihambat dalam tubulus ginjal sehingga volume urin meningkat
(poliuria),
e. Kehilangan berat badan disebabkan oleh kehilangan cairan tubuh dan
penggunaan jaringan otot dan lemak akan diubah menjadi energi.
Pada sebagian penderita diabetes tidak mengalami tanda dan gejala
sehingga memperburuk kondisi penderita. Diperkirakan 30-80% penderita
tidak terdiagnosis. Penderita dibetes yang tidak diobati dengan tepat dapat
menyebabkan pingsan, koma, dan kematian (Kharroubi, 2015).
6. Pemeriksaan Penunjang Diabetes Mellitus
Diabetes Melitus didiagnosis menggunakan tes laboratorium dengan
mengukur level glukosa (Hannon, Pooler, dan Porth, 2010). Tes glukosa
darah tersebut menurut Williams dan Hopper (2015) yaitu:
a. Gula Darah Puasa (GDP)/ Fasting Glucose Level (FPG)
Ada menyampaikan bahwa normal Glukosa Darah (GD) adalah
kurang dari 100 mg/dl. Pasien didiagnosa dengan Diabetes Melitus
apabila nilai GDP 126 mg/dl atau lebih, yang diambil minimal 8 jam
puasa. Jika GPD antara 100-125 mg/dl maka pasien mengalami Glukosa
Puasa Terganggu (GPT)/ Random Plasma Glucose (RPG).
b. Gula Darah Acak (GDA)/ Random Plasma Glucose (RPG)
GDA disebut juga sebagai Gula Darah Sewaktu (GDS). Pemeriksaan
GDS bertujuan untuk mengetahui kadar gula darah pasien dan ketentuan
program terapi medik tanpa ada persiapan khusus ataupun bergantung
pada waktu makan pasien. Diabetes Melitus ditegakkan apabila nilai
RPG/GDS 200 mg/dl atau lebih dengan gejala diabetes.
c. Tes Toleransi Glukosa Oral/ Oral Glucose Tolerance Test (OGTT)
OGTT dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis diabetes mellitus
pada pasien yang memiliki kadar gula darah dalam batas normal-tinggi
atau sedikit meningkat. OGGTT mengukur glukosa darah pada interval
setelah pasien minuman karbohidrat terkonsentrasi. Diabetes Melitus di
tegakkan bila level GD adalah 200 mg/dl atau lebih setelah 2 jam, jika
GD adalah 140-199 mg/dl setelah 2 jam didiagnosa dengan IFG dan
pradiabetes.
d. Glycohemoglobin Test
Glycohemoglobin disebut juga sebagai glycosylated hemoglobin
(HbA1c) atau hemoglobin A1C. HbA1c digunakan sebagai data dasar
dan memantau kemajuan kontrol diabetes. Nilai normal HbA1c adalah
4% hingga 6%, dikatakan Diabetes Melitus apabila HbA1c adalah 6,5%
atau lebih, sementara nilai HbA1c antara 6% hingga 6,5% berisiko tinggi
mempunyai diabetes (pradiabetes).
Smeltzer, Bare, Hinkle, dan Cheever (2010) pemeriksaan
laboratorium pada Diabetes Melitus adalah:
1) HbA1c (A1C)
2) Profil lipid puasa (Fasting lipid microalbuminuri)
3) Tingkat kreatinin serum (Serum creatinine level)
4) Urinalisis (Urinalysis)
5) Elektrokardiogram (Electrocardiogram)
7. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus
a. Penatalaksanaan Diet
Diet dan pengendalian berat badan merupakan dasar dari
penatalaksaan diabetes. Penatalaksanaan nutrisi pada penderita diabetes
diarahkan untuk mencapai tujuan berikut ini:
1) Memberikan semua unsur makanan esensial (misalnya vitamin,
mineral)
2) Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai
3) Memenuhi kebutuhan energi
4) Mencegah fluktuasi kadar glikosa darah setiap harinya dengan
mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-
cara yang aman dan praktis
5) Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat
(Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012)
b. Obat Farmakologi
1) Terapi Insulin
Sebagaimana dinyatakan sebelumnya, hormon insulin didekresikan
oleh sel-sel beta pulau Lsngerhans. Hormon ini bekerja untuk
menurunkan kadar glukosa darah postprandial dengan mempermudah
pengambilan serta penggunaan glukosa oleh sel-sel otot, lemak hati.
Selama periode puasa, insulin menghambat pemecahan simpanan
glukosa, protein dan lemak. ( Suzanne [Link] dan Brenda G.
Bare, 2012)
2) Agen Antidiabetik Oral
Agens antidiabetik oral mungkin berhasiat bagi pasien Diabetes
Melitus tipe II yang tidak dapat diatasi hanya dengan diet dan latihan;
meskipun demikian, obat ini tidak dapat digunakan pada kehamilan.
Di Amerika Serikat, obat antidiabetik oral mencakup golongan
sulfonylurea dan biguanid ( Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare,
2012)
3) Pendidikan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah
Diabetes Melitus merupakan sakit kronis yang memerlukan prilaku
penanganan mandiri yang khasus seumur hidup. Karena diet, aktivitas
fisik dan stres fisik serta emosional dapat mempengaruhi
pengendalian Diabetes Melitus, maka pasien harus belajar untuk
mengatur keseimbangan berbagai faktor. Pasien bukan hanya harus
belajar keterampilan untuk merawat diri sendiri setiap hari guna
menghindari penurunan atau kenaikan kadar glukosa darah yang
mendadak, tetapi juga harus memiliki prilaku preventif dalam gaya
hidup untuk mrnghindari komplikasi diabetik jangka panjang.
Penghargaan pasien tentang pentingnya pengetahuan dam
ketersmpilan yang harus dimiliki oleh penderita Diabetes Melitus
dapat membantu perawat dalam melakukan pendidikan dan
penyuluhan. ( Suzanne [Link] dan Brenda G. Bare, 2012)
c. Pengobatan Nonfarmakologi
Selain obat yang diberikan oleh dokter, ada beberapa alternatif
pengobatan untuk diabetes mellitus. Penanganan non farmakologi
diabetes mellitus tipe II dapat menggunakan tanaman herbal. Beberapa
tanaman bisa digunakan sebagai bahan baku obat diabetes mellitus
satunya adalah tanaman belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) (Wasito,
2011). Tanaman belimbing wuluh secara empiris mempunyai khasiat
untuk pengobatan diabetes melitus. Sebagai bahan obat yang digunakan
adalah rebusan daun belimbing wuluh (Wijoyo, 2012).
Didukung oleh penelitian Maaruf et al., (2022) yang bertujuan untuk
mengetahui pengaruh terapi air rebusan daun belimbing wuluh terhadap
penurunan kadar gula di Puskesmas Simalingkar. Penelitian ini
menggunakan desainpre-ekperimen(one group pre-test dan post-test
design), dengan jumlah populasi yang berkisar 32 orang. Hasil penelitian
menunjukan bahwa semua responden yang melakukan terapi air
rebusan daun belimbing wuluh secara teratur relatif mendapatkan
nilai kadar gula turun dari kadar gula darah sebelumnya
Penelitian oleh Yazid & Suryani (2017) yang bertujuan untuk
mengetahui perbedaan kadar glukosa darah sebelum dan sesudah
pemberian ekstrak daun belimbing wuluh dan daun sirsak pada penderita
diabetes melitus di Desa Pekalongan. Penelitian ini menggunakan
analisis data dengan Uji Paired Sampel T Test. Berdasarkan uji Paired T
Test pada kadar glukosa daah penderita Diabetes Mellitus sebelum dan
sesudah pemberian rebusan belimbing wuluh di dapatkan hasil p = 0,003
(α = 0,05), menunjukkan adanya perebedaan yang signifikan antara kadar
glukosa darah pada penderita Diabetes Mellitus sebelum dan sesudah
pemberian rebusan daun belimbing wuluh. Sedangkan hasil uji Paired T
Test pada kadar glukosa darah penderita Diabetes Mellitus sebelum dan
sesudah pemberian rebusan sirsak di dapatkan hasil p = 0,000 (α = 0,05),
yang menunjukkan adanya perebedaan yang signifikan antara kadar
glukosa darah pada penderita Diabetes Mellitus sebelum dan sesudah
pemberian rebusan daun sirsak. Dari data tersebut didapatkan hasil
rebusan daun belimbing wuluh lebih efektif menurunkan kadar glukosa
darah pada penderita Diabetes Mellitus.
B. Tanaman Belimbing Wuluh
1. Taksonomi Tanaman
Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) kedudukannya dalam ilmu
taksonomi tumbuhan (Salam, 2023) adalah :
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae Kelas : Dicotyledonae
Ordo : Gerantales
Family : Oxallidaceae
Genus : Averrhoa
Jenis : Averrhoa bilimbi L.
2. Kandungan Daun Belimbing Wuluh
Menurut Salam (2023) kandungan yang terdapat dalam daun
belimbing wuluh adalah keloid, glikosida, senyawa fenolik, flavonoid,
steroid, terpenoid, tannin, saponin, asam-amino, protein, gula reduksi, pati
dan karbohidrat ditemukan di awal tes fitokimia. Zat aktif yang terdapat
dalam daun belimbing wuluh adalah saponin dan flavonoid. Saponin
berfungsi sebagai anti hiperglikemik dengan cara mencegah pengambilan
gllukosa pada brush border di usus halus. Flavonoid merupakan
alfaglukosidase yang berfungsi untuk menunda absorbsi karbohidrat
sehingga kadar glukosa darah menurun (Madduluri, S., Rao, K., Babu,
2013).
Didukung oleh penelitian Yanti dan Vera (2019), bertujuan untuk
skrining fitokimia ekstrak daun belimbing wuluh ( Averrhoa Bilimbi ).
Penelitian ini menggunakan uji fitokimia meliputi uji alkaloid, flavonoid,
saponin, tanin / polifenol, terpenoid dan steroid. Uji ini dilakukan untuk
mengidentifikasi senyawa metabolic sekunder yang terdapat pada ekstrak
daun belimbing wuluh. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah
daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) diambil dari Sadabuan,
Kecamatan Padangsidimpuan Utara Kota Padangsidimpuan. Berdasarkan
penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa ekstrak daun
belimbing wuluh mengandung alkaloid, flavonoid, tannin, saponin dan
steroid.
3. Kandungan Nutrisi dan Khasiat Pada Daun Belimbinng Wuluh
Analisis khasiat gizi pada daun belimbing wuluh menurut Salam
(2023), kadar protein (12,28%), kelembaban (9,539%9), abu (5,93%),
lemak (3,34%), serat (21,95%0) dan karbohidrat (46,97%) diperoleh dari
serbuk daun. Data ini menunjukkan bahwa daun kaya akan sumber
karbohidrat, serat, protein dan rendah lemak. Karbohidrat bisa berfungsi
sebagai suplemen untuk energi, karena berpotensi meningkatkan status
kesehatan penggunanya. Kandungan seratnya bisa membantu meningkatkan
fungsi gastrointestinal, mencegah sembelit dan dapat menurunkan
kandungan kolesterol. Oleh Karena itu averrhoa bilimbi L. memiliki
komponen nutrisi yang baik bagi kesehatan dan dapat menjadi nutrisi
pelengkap
4. Cara Pengolahan Daun Delimbing Wuluh
Cara mengolah daun belimbing wuluh kering untuk dijadikan teh,
menurut (Soedarsono, 2016) :
a. Siapkan 10-15 daun sirsak dan 3-7 daun.
b. Cuci dengan bersih, dan rebus keduanya dengan 2 gelas air.
c. Gunakan api kecil tunggu sampai mendidih hingga tersisa 1 cangkir air
matang.
d. Setelah itu diamkan sampai dingin, kemudian saring air rebusan dan
minum
e. Minum 2 kali sehari dalam 3 minggu
Diabetes Melitus Pengobatan
dengan
Farmakologis:
- Insulin
- Obat oral
Kadar Glukosa Darah
Pengobatan dengan
Nonfarmakologis:
Air rebusan Daun Belimbing
Wuluh
Flavonoid
Penurunan Kadar Gula Darah
Skema 2. 1
Kerangka Teori Pengaruh Pemberian Air Rebusan Daun Belimbing Wuluh
Terhadap Penurunan Kadar Glukosa Darah pada Pasien Diabetes Melitus
Tipe II