TUGAS 1 PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
NAMA: AGUS SUWARNO
NIM: 051736721
UNIVERSITAS TERBUKA
2023
TUGAS 1 MKWU4101 Pendidikan Agama Islam
Berikut adalah soal Tugas ke-1 yang wajib Anda kerjakan. Bacalah pertanyaan dengan
cermat kemudian jawablah pertanyaan-pertanyaan tersebut.
1. Ibadah dibagi menjadi dua bentuk yaitu ibadah mahdlah dan ibadah ghairu
mahdlah. Coba jelaskan kedua pengertian berikut, serta berikan contoh masing-
masing dari jenis ibadah tersebut.
2. Tuliskan ayat dan tafsir yang menjelaskan tentang proses penciptaan manusia,
serta jelaskan tahapan penciptaan manusia menurut Al-Qur’an!
3. Al-Quran menyebutkan beberapa istilah untuk menyebut manusia. Jelaskan istilah-
istilah yang digunakan tersebut!
4. Manusia juga disebut sebagai khalifah. Jelaskan langkah-langkah yang dilakukan
manusia untuk merealisasikan peran sebagai khalifah!
5. Islam berjuang untuk tegaknya masyarakat yang beradab dan sejahtera. Jelaskan
prinsip-prinsip untuk menegakkan masyarakat yang beradab dan sejahtera!
Selamat mengerjakan tugas, perhatikan batas waktu pengiriman tugas, pastikan bahwa
tugas Anda sudah terkirim, dan file jawaban tugas dalam bentuk doc/docx/pdf hanya
diunggah pada tempat unggah tugas pada Tuton ini.
Mohon diperhatikan apabila ada permintaan penulisan Arab-al-Qur'an, sangat
disarankan menggunakan al-Qur'an cetakan dari Kementerian Agama guna menghindari
salah terjemah/tulisan. Bila kesulitan menggunakan aplikasi al-Qur'an, disarankan tulis
tangan saja dan ditaruh (hasil scan) pada jawabannya.
Jawaban
1. Ibadah dalam Islam dapat dibagi menjadi dua bentuk utama, yaitu ibadah mahdlah
(ibadah yang tertentu) dan ibadah ghairu mahdlah (ibadah yang tidak tertentu). Berikut
penjelasan dan contoh untuk masing-masing jenis ibadah tersebut:
Ibadah Mahdlah (Ibadah yang Tertentu): Ibadah mahdlah adalah jenis ibadah
yang dilakukan dengan cara yang sangat tertentu dan telah diatur secara rinci dalam
ajaran agama. Ibadah ini memiliki tata cara, waktu, dan syarat yang jelas. Masyarakat
Muslim diharapkan untuk menjalankan ibadah mahdlah sesuai dengan pedoman
agama.
Contoh-contoh ibadah mahdlah:
a. Shalat (Salat): Shalat adalah ibadah pokok dalam Islam yang memiliki waktu,
rukun, dan syarat yang telah ditentukan. Shalat lima waktu (subuh, dzuhur, ashar,
maghrib, isya) adalah contoh ibadah mahdlah.
b. Puasa: Puasa selama bulan Ramadan adalah ibadah mahdlah yang memiliki
waktu, cara berpuasa, dan aturan yang telah dijelaskan dalam Islam.
c. Haji: Ibadah haji adalah perjalanan ke Makkah yang memiliki waktu, syarat,
dan tata cara tertentu yang diatur secara ketat.
Ibadah Ghairu Mahdlah (Ibadah yang Tidak Tertentu): Ibadah ghairu mahdlah
adalah jenis ibadah yang tidak memiliki tata cara yang sangat khusus atau waktu yang
tertentu. Meskipun ini adalah ibadah yang lebih umum, mereka tetap dianggap
sebagai bentuk ibadah dalam Islam, tetapi tata cara dan pelaksanaannya tidak terlalu
terbatas.
Contoh-contoh ibadah ghairu mahdlah:
a. Dzikir (Mengingat Allah): Dzikir adalah ibadah yang melibatkan pengingatan
dan pengucapan nama Allah. Ini bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja,
tanpa tata cara yang sangat kaku.
b. Sedekah (Zakat): Memberikan sedekah kepada fakir miskin adalah ibadah,
dan seseorang dapat memberikannya kapan saja sesuai kemampuan mereka.
c. Doa (Mengucapkan Permohonan): Berdoa adalah ibadah ghairu mahdlah
yang dapat dilakukan kapan saja untuk meminta pertolongan, bimbingan, atau
memohon ampunan kepada Allah.
2. Proses penciptaan manusia dalam Al-Qur'an dijelaskan dalam beberapa ayat yang
memberikan gambaran tentang tahapan penciptaan manusia. Salah satu ayat yang
menjelaskan proses ini adalah Surah Al-Mu'minun (Surah 23), ayat 12-14:
"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.
Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh.
Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami
jadikan segumpal daging, kemudian segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang,
lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) yang lain. Maka terpujilah Allah, Pencipta yang Paling Baik."
Tafsir:
1) Ciptaan dari Tanah: Ayat ini menjelaskan bahwa manusia pertama kali diciptakan
dari "saripati" atau "tanah" oleh Allah. Ini menggambarkan asal usul manusia dari
unsur-unsur dasar alam.
2) Saripati Dari Air Mani: Selanjutnya, air mani adalah tahap berikutnya dalam
proses penciptaan manusia. Air mani ini digambarkan sebagai substansi yang
disimpan dalam tempat yang kokoh dalam tubuh manusia.
3) Segumpal Darah: Setelah tahap air mani, air mani tersebut kemudian menjadi
"segumpal darah." Ini mungkin merujuk kepada perkembangan embrio manusia
dalam rahim.
4) Segumpal Daging: Proses berlanjut dengan segumpal darah menjadi "segumpal
daging," menggambarkan tahap awal perkembangan embrio.
5) Tulang-Belulang: Selanjutnya, segumpal daging itu berkembang menjadi "tulang-
belulang." Ini menggambarkan perkembangan kerangka manusia.
6) Penutup dengan Daging: Tulang-belulang kemudian "dibungkus dengan daging,"
menggambarkan pembentukan otot dan jaringan tubuh.
7) Manusia yang (berbentuk) yang Lain: Akhirnya, manusia mencapai bentuk yang
sempurna dan unik sebagai makhluk yang berbeda dan terpisah dari tahap-tahap
sebelumnya dalam proses penciptaannya.
3. Al- Quran menggunakan berbagai istilah untuk merujuk kepada manusia, dan setiap
istilah memiliki nuansa dan makna tertentu. Berikut adalah beberapa istilah yang
digunakan dalam Al-Quran untuk merujuk kepada manusia:
o Insan ()ِإنَس ان: Istilah "insan" digunakan secara umum dalam Al-Quran untuk
merujuk kepada manusia. Ini adalah istilah yang mencakup semua individu
manusia tanpa memandang ras, agama, atau etnisitas. Contohnya, dalam surah Al-
At-Tin (Surah 95), Allah berbicara tentang penciptaan manusia sebagai "insan."
o Bani Adam ()َبِني آَدم: Istilah "Bani Adam" mengacu pada keturunan Nabi Adam
AS dan Hawa. Ini digunakan untuk mengingatkan manusia tentang akar
keturunan mereka dan bahwa mereka semua adalah keturunan Adam. Allah sering
menyebut "Bani Adam" dalam Al-Quran untuk mengingatkan manusia tentang
persatuan mereka sebagai keturunan yang sama.
o An-Nas ()الَّن اس: Istilah "An-Nas" digunakan dalam Al-Quran untuk merujuk
kepada manusia secara umum. Ini juga dapat merujuk kepada orang-orang atau
masyarakat dalam konteks tertentu. Surah Al-Nas (Surah 114) adalah salah satu
surah pendek yang memulai dengan istilah ini dan berbicara tentang perlindungan
dari kejahatan manusia.
o Al-Bashar ()الَبَش ر: Istilah "Al-Bashar" mengacu kepada manusia sebagai makhluk
yang lemah dan rentan. Ini digunakan untuk menunjukkan sisi kerentanannya dan
keterbatasannya sebagai makhluk ciptaan Allah.
o Ibadi ()ِعَباِد ي: Allah sering merujuk kepada manusia sebagai "Ibadi" dalam Al-
Quran, yang berarti "hamba-hamba-Ku." Ini adalah panggilan yang mengingatkan
manusia tentang hubungan mereka dengan Allah sebagai hamba-Nya yang harus
tunduk dan patuh kepada-Nya.
o Khalifah ()َخ ِليَفة: Dalam Surah Al-Baqarah (Surah 2), manusia disebut sebagai
"khalifah" Allah di bumi, yang berarti wakil atau penguasa-Nya di dunia ini. Ini
menekankan tanggung jawab manusia untuk menjaga dan merawat bumi sebagai
amanah dari Allah.
o Ayyuha Al-Insan ()َأُّيَها اِإْل نَس ان: Al-Quran sering memulai ayat atau surah dengan
frase "Ayyuha Al-Insan" yang berarti "Wahai Manusia." Ini adalah panggilan
khusus
4. Dalam Islam, manusia dianggap sebagai "khalifah" atau wakil Allah di bumi. Ini berarti
manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga, merawat, dan memelihara alam
semesta sesuai dengan petunjuk Allah. Untuk merealisasikan peran sebagai khalifah,
manusia dapat mengambil langkah-langkah berikut:
Taat kepada Allah (Taubat dan Iman): Langkah pertama dalam merealisasikan peran
sebagai khalifah adalah memiliki iman yang kuat dan ketaatan kepada Allah. Ini
melibatkan keyakinan, kepatuhan terhadap perintah Allah, dan taubat terhadap dosa-
dosa.
Pengetahuan dan Pendidikan: Manusia harus terus meningkatkan pengetahuan
mereka tentang alam semesta, lingkungan, dan nilai-nilai moral dalam Islam.
Pendidikan adalah kunci untuk memahami tugas dan tanggung jawab sebagai
khalifah.
Merawat Lingkungan: Salah satu aspek penting dari peran sebagai khalifah adalah
menjaga lingkungan. Manusia harus berperan aktif dalam menjaga keberlanjutan
alam semesta, melindungi ekosistem, mengurangi polusi, dan memelihara
keanekaragaman hayati.
Berperilaku Baik: Manusia sebagai khalifah harus menunjukkan perilaku yang baik
dan etika yang tinggi dalam interaksi mereka dengan sesama manusia, hewan, dan
lingkungan. Ini termasuk menghindari tindakan merusak atau destruktif.
Menghindari Pemborosan: Manusia harus menghindari pemborosan dalam
penggunaan sumber daya alam, seperti air, makanan, dan energi. Sikap hemat dan
bijak dalam penggunaan sumber daya adalah bagian dari tanggung jawab sebagai
khalifah.
Bekerja untuk Keadilan Sosial: Manusia sebagai khalifah juga memiliki tanggung
jawab untuk memperjuangkan keadilan sosial. Ini melibatkan membantu mereka
yang kurang beruntung, menghindari ketidaksetaraan, dan memerangi penindasan.
Pengabdian Sosial: Membantu sesama manusia dan berkontribusi dalam masyarakat
adalah aspek penting dari peran sebagai khalifah. Ini melibatkan kerja amal, layanan
sukarela, dan partisipasi dalam proyek-proyek yang bermanfaat bagi masyarakat.
Doa dan Tawakal kepada Allah: Manusia sebagai khalifah harus selalu mengingat
Allah dalam segala tindakan mereka. Doa dan tawakal kepada Allah adalah cara
untuk mendapatkan petunjuk dan kekuatan dalam menjalankan peran sebagai
khalifah.
Pemahaman Amanah: Manusia harus memahami bahwa alam semesta dan segala
isinya adalah amanah (amanat) dari Allah. Mereka harus menjalankan tugas sebagai
pemelihara amanah ini dengan penuh rasa tanggung jawab.
Pengembangan Karakter: Membangun karakter yang kuat dengan sifat-sifat seperti
kesabaran, kejujuran, keadilan, dan kasih sayang adalah penting dalam menjalankan
peran sebagai khalifah.
5. Dalam Islam, terdapat prinsip-prinsip penting yang bertujuan untuk menegakkan
masyarakat yang beradab dan sejahtera. Prinsip-prinsip ini memberikan dasar bagi
struktur sosial, ekonomi, dan moral yang mendukung kesejahteraan umat manusia dan
perkembangan peradaban. Beberapa prinsip utama yang digunakan untuk mencapai
tujuan ini adalah sebagai berikut:
Tauhid (Kepercayaan kepada Allah yang Esa): Tauhid adalah prinsip dasar dalam
Islam yang mengajarkan bahwa hanya Allah yang layak disembah dan diberikan
kepatuhan sepenuhnya. Memahami tauhid membantu membentuk dasar moral dan
etika yang kuat dalam masyarakat.
Keadilan (Adil): Prinsip keadilan merupakan nilai penting dalam Islam.
Masyarakat yang beradab dan sejahtera harus didasarkan pada prinsip kesetaraan dan
perlakuan yang adil terhadap semua individu tanpa memandang ras, agama, atau
status sosial.
Kasih Sayang dan Kepedulian: Islam mengajarkan pentingnya kasih sayang,
kepedulian, dan tolong-menolong dalam masyarakat. Masyarakat yang sejahtera
harus memiliki kesadaran sosial dan peduli terhadap kebutuhan sesama, termasuk
kaum miskin dan yang kurang beruntung.
Pendidikan (Ilmu): Islam mendorong pendidikan dan ilmu pengetahuan sebagai
sarana untuk meningkatkan pengetahuan, moralitas, dan kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat yang beradab harus aktif dalam pencarian ilmu dan peningkatan
pengetahuan.
Ketertiban Sosial dan Hukum: Masyarakat yang beradab membutuhkan hukum
dan ketertiban sosial yang berlaku secara adil. Islam menekankan pentingnya
penegakan hukum yang adil dan patuh terhadap peraturan sosial untuk menjaga
ketertiban.
Moralitas dan Etika: Moralitas dan etika yang kuat adalah fondasi masyarakat
yang beradab. Prinsip-prinsip etika Islam, seperti jujur, kejujuran, dan kebaikan,
harus diterapkan dalam semua aspek kehidupan sehari-hari.
Zakat dan Sedekah: Islam mendorong praktik zakat (pembayaran wajib) dan
sedekah (pemberian sukarela) untuk membantu yang membutuhkan dan mengurangi
ketidaksetaraan ekonomi. Ini membantu menciptakan masyarakat yang lebih merata
dan sejahtera.
Kesejahteraan Sosial dan Ekonomi: Islam mengajarkan pentingnya mengatasi
kemiskinan, mengurangi ketidaksetaraan ekonomi, dan menyediakan kesempatan
ekonomi bagi semua anggota masyarakat. Prinsip ekonomi Islam, seperti larangan
riba, juga berkontribusi pada stabilitas ekonomi.
Lingkungan Hidup yang Sehat: Masyarakat yang beradab harus merawat
lingkungan hidup. Islam mendorong untuk menjaga alam dan sumber daya alam
secara berkelanjutan.
Peradaban dan Budaya: Islam mendorong perkembangan seni, budaya, dan
peradaban yang bermanfaat bagi masyarakat. Masyarakat yang beradab harus
mempromosikan seni dan keindahan serta mendukung kehidupan intelektual.
Sumber Referensi :
*Bahan Ajar MKWU4101
*Al-Qur’an
*[Link] dan-ibadah-ghairu-
[Link]
*[Link]
[Link]
* [Link]