LAPORAN PENDAHULUAN
STASE BAYI, BALITA DAN PRA SEKOLAH
“DIAPER RASH”
Dosen Pembimbing Pendidikan: Dr. Noviyanti, SST., [Link]., [Link]
Pembimbing Lapangan: Mariani, SST., Bdn
Disusun Oleh:
Adella Fitriani
2250351012
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI BIDAN
FAKULTAS ILMU TEKNOLOGI DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI
2022/2023
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN PENDAHULUAN
STASE BAYI, BALITA DAN PRA SEKOLAH
DIAPER RASH
TAHUN AKADEMIK 2022/2023
Dosen Pembimbing Pendidikan: Dr. Noviyanti, SST., [Link]., MH. Kes
Pembimbing Lapangan: Mariani, SST., Bdn
Cimahi, April 2023
Pembimbing Preceptor Mahasiswa
Dr. Noviyanti, SST., [Link]., [Link] Mariani. SST., Bdn Adella Fitriani
KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang. Penulis panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya,
yang telah melimpahkan rahmat, hidayat dan inayah-Nya kepada di kami,
sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Pendahuluan (LP) tentang
Diaper Rash.
Laporan Pendahuluan ini telah penulis susun dengan maksimal dan
mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar
pembuatan Laporan Pendahuluan (LP) ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam
pembuatan LP ini. Terlepas dari semua itu, penulis menyadari sepenuhnya
bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata
bahasanya. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat memperbaiki LP
ini.
Akhir kata penulis berharap Laporan Pendahuluan tentang Diaper
Rash ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi terhadap pembaca.
Bandung, April 2023
Penulis
i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................. i
DAFTAR ISI ............................................................................................... ii
BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................. 1
1.2 Tujuan............................................................................................... 2
1.3 Manfaat............................................................................................. 2
BAB II TINJAUAN TEORI ......................................................................... 3
2.1 Definisi Diaper Rash ......................................................................... 3
2.2 Gambaran Klinis Diaper Rash .......................................................... 3
2.3 Klasifikasi Diaper Rash ..................................................................... 3
2.4 Tanda Gejala Diaper Rash ............................................................... 5
2.5 Penyebab Diaper Rash..................................................................... 5
2.6 Penatalaksanaan Diaper Rash ......................................................... 7
2.7 Mind Map .......................................................................................... 9
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 10
ii
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bayi sangat sensitive terhadap apapun yang ada di lingkungan
sekitarnya. Karena pada kelahiran pertama, bayi baru beradaptasi
terhadap semua kondisi lingkungan sekitarnya, sehingga belum
terbiasa dengan keadaan yang dapat menyerang kondisi tubuhnya
terutama masalah kulit, semua bayi memiliki kulit yang sangat sensitive
pada bulan pertama, kondisi kulit pada bayi yang relatif lebih tipis
menyebabkan bayi lebih rentan terhadap infeksi, iritasi, dan alergi. Jika
orangtua kurang menjaga personal hygiene dengan mengganti popok
sesering mungkin dan membersihkan daerah yang tertutup popok bisa
mengakibatkan gangguan kulit. Diaper rash merupakan salah satu
masalah kulit pada bayi. Angka kejadian ruam popok berbeda-beda di
setiap negara, bergantung pada kebersihan bayi, pengetahuan orang
tua (pengasuh) tentang cara penggunaan popok dan mungkin juga
berhubungan dengan faktor cuaca.
Berdasarkan data dari WHO pada tahun 2012 prevalensi iritasi
kulit (ruam popok) pada bayi usia 0-12 bulan cukup tinggi 25% dari
[Link] bayi yang lahir di dunia kebanyakan menderita ruam
popok akibat penggunaan diaper. Insiden ruam popok di Indonesia
mencapai 7-35% yang menimpa pada bayi laki-laki dan perempuan
berusia dibawah 3 tahun, dengan prevalensi angka terbanyak pada bayi
usia 9-12 bulan. Popok sekali pakai bisa terjadi reaksi alergi terhadap
bayi karena ada beberapa kandungan zat kimia sehingga
mengakibatkan gangguan kulit. Gangguan kulit pada bayi yang sering
terjadi pada kulit bayi dan anak adalah diaper dermatitis/diaper rash
atau sering disebut dengan ruam popok. Diaper rash pada kulit bayi
ditandai dengan adanya ruam kemerahan pada tubuh bayi yang
tertutup popok, daerah kulit yang seringkali terjadi ruam dikarenakan
1
diapers yaitu sekitar bokong dan kemaluan, diaper rash juga
diakibatkan oleh jamur dan bakteri. Ruam popok akan semakin parah
jika terjadi gesekan antara kulit bayi dengan popok.
Umumnya diaper rash disebabkan karena kurangnya
pengetahuan orang tua terhadap kebersihan bayi, yang tidak pernah
mengganti diapers bayi ketika urin atau feses bayi sudah penuh dan
terlalu lama. Bakteri dan amonia pada urin serta feses bayi dapat
menghasilkan zat yang bisa membuat iritasi kulit, ruam popok juga
disebabkan karena kualitas popok yang tidak baik atau terlalu kecil.
Ruam popok yang tidak segera diatasi segera bisa menyebabkan
kondisi yang semakin parah yaitu timbulnya bintik-bintik merah,
kemerahan, lecet, iritasi kulit, rasa tidak nyaman yang menyebabkan
bayi akan menjadi rewel, sering menangis, sensitive, berakibat pada
pola tidurnya yang kurang efektif sehingga membuat hormon
pertumbuhan dan perkembangannya terganggu. Pada pola tidur yang
efektif metabolisme otak berada pada tingkat paling tinggi sehingga
berpengaruh pada restorasi atau pemulihan emosi dan kognitif anak.
1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi diaper rash/ruam popok.
2. Untuk mengetahu faktor predisposisi diaper rash/ruam popok.
3. Untuk mengetahui klasifikasi diaper rash/ruam popok.
4. Untuk mengetahui gejala diaper rash/ruam popok.
5. Untuk mengetahui penatalaksanaan diaper rash/ruam popok.
1.3 Manfaat
Diharapkan dapat menambah pengetahuan ilmu kebidanan
khususnya mengenai diaper rash serta bisa melakukan pencegahan
pada kasus tersebut.
2
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1 Definisi Diaper Rash
Diaper rash atau diapers dermatitis atau ruam popok adalah iritasi
kulit yang meliputi area diapers yaitu daerah lipatan paha, perut bawah,
paha atas pantat, dan area genital. Diaper rash ditandai dengan bayi
gelisah dan timbul bintik-bintik merah atau tampak kemerahan pada kulit
daerah popok. Diaper rash adalah kelainan kulit (ruam kulit) yang timbul
akibat radang pada daerah yang tertutup diapers, yaitu kemaluan, sekitar
dubur, bokong, lipat paha, dan perut bagian bawah. Penyakit ini sering
terjadi pada bayi dan anak balita yang menggunakan diapers, biasanya
pada usia kurang dari 3 tahun, paling banyak pada usia 9 sampai 12 bulan.
2.2 Gambaran Klinis Diaper Rash
Tipe ruam yang paling banyak adalah irritant diaper dermatitis. Ruam
popok ini ditemukan pada siapa saja yang memakai popok, tanpa pengaruh
usia dan jenis kelamin. Predileksi tempat terjadinya iritasi pada ruam popok
dibagi menjadi 2 bentuk, yaitu: bentuk convexities dermatitis (daerah W,
yaitu area cembung bokong, perut bawah, pubis) dan bentuk creases
dermatitis (daerah Y, yaitu area cekungan lipatan inguinal, lipatan gluteal,
perineum, perianal). Predileksi atau tempat yang paling sering adalah pada
daerah gluteal, genital, bagian bawah abdomen, pubis dan paha atas.
Irritant diaper dermatitis menampakkan efloresensi berupa daerah eritema
atau kemerahan, lembab dan kadang timbul sisik pada gluteal dan genital
yang awalnya timbul pada daerah yang lebih sering kontak dengan popok
atau diaper.
2.3 Klasifikasi Diaper Rash
a. Derajat I (Ringan)
1) Terjadi kemerahan samar-samar pada daerah diapers
3
2) Terdapat kemerahan kecil pada daerah diapers
3) Kulit mengalami sedikit kekeringan
4) Terjadi benjolan (papula) sedikit
b. Derajat II (Sedang)
1) Terjadi kemerahan samar-samar pada daerah diapers yang lebih besar
2) Terjadi kemerahan pada daerah diapers dengan luas yang kecil
3) Terjadi kemerahan yang intens pada daerah sangat kecil
4) Terjadi benjolan (papula) dan tersebar
5) Kulit mengalami kekeringan skala sedang
c. Derajat III (Berat)
1) Terjadi kemerahan pada daerah yang lebih besar
2) Terjadi kemerahan yang intens di daerah yang lebih besar
a. Kulit mengalami pengelupasan
b. Banyak terjadi benjolan (papula) dan tiap benjolan terdapat cairan
(pustula)
c. Kemungkinan terjadi edema (pembengkakan)
4
2.4 Tanda Gejala Diaper Rash
Dengan ciri-ciri kulit di area popok terlihat merah, bengkak dan
meradang pada bagian bokong, paha, dan alat kelamin, dan pada kasus
tertentu timbul jerawat. Ruam popok akan mebuat iritasi bayi dan jika tidak
ditangani akan berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius, termasuk
infeksi-infeksi tertentu. Beberapa gejala ruam popok lainnya adalah bayi
merasa tidak nyaman, menangis lebih sering dan keras, serta
memperlihatkan ketidaksenangan secara umum. Tanda dan gejala dari
diaper rash yaitu :
a. Gejala yang dapat dilihat pada diaper rash oleh kontak dengan iritan yaitu
kemerahan yang meluas dan berkilat, seperti luka bakar, timbul bintikbintik
merah, lecet atau luka seperti bersisik, basah dan bengkak pada daerah
yang paling lama kontak dengan diapers, seperti pada bagian dalam dan
lipatan paha.
b. Gejala yang terlihat akibat gesekan yang berulang pada tepi diapers,
yaitu bercak kemerahan membentuk garis tepi batas diapers pada paha dan
perut.
c. Gejala diaper rash disebabkan oleh jamur ditandai dengan bercak atau
bintik kemerahan berwarna merah terang, basah dengan lecet-lecet pada
selaput lendir dan kulit sekitar anus, dan terdapat lesi di sekitarnya.
2.5 Penyebab Diaper Rash
Penyebab ruam bisa muncul karena bayi terlalu lama memakai
popok yang sudah basah, sehingga bagian pantatnya menjadi lembab dan
memudahkan jamur untuk tumbuh. Bisa juga disebabkan karena bahan
yang tidak cocok untuk kulit bayi. Penyebab ruam popok atau diaper rash
pada bayi adalah terlambat mengganti popok terutama ketika bayi buang
air besar karena tinja bayi bersifat lebih asam daripada air seni bayi. Faktor-
faktor yang berperan dalam timbulnya diaper rash :
a. Iritasi akibat urin/tinja Terlalu lama terpapar urin/tinja dapat mengiritasi
kulit bayi yang sensitif. Bayi yang baru lahir dapat mengeluarkan urin 20 kali
5
dalam 24 jam. Frekuensi ini berkurang menjadi rata-rata 7 kali dalam 24
jam pada usia 12 bulan. Adanya kerja enzim di feses yaitu enzim protease
dan lipase yang memecah urea di urin bayi menjadi ammonia akan
meningkatkan pH urin, mempermudah terjadinya iritasi kulit, dan menjadi
penyebab utama ruam popok. Hal ini membuktikan pentingnya pengaruh
pH urin. Semakin tinggi atau alkali pH urin, semakin rentan bayi untuk
mengalami ruam popok. Meskipun begitu, urin yang bersifat alkali tidak
membahayakan secara langsung
b. Gesekan Penggunaan popok atau pakaian yang ketat akan membuat
kulit lebih mudah mengalami gesekan sehingga menyebabkan ruam.
Gesekan antara kulit dan popok merupakan faktor yang penting dalam
beberapa kasus ruam popok. Hal ini yang sering terkena ruam popok yaitu
di tempat yang paling sering terjadi gesekan, misalnya pada permukaan
dalam paha, permukaan genital, bokong dan pinggang
c. Diperkenalkannya makanan baru Ketika bayi mulai makan makanan
padat, tekstur, dan komposisi tinja bayi berubah, yang meningkatkan
kemungkinan terjadinya ruam popok. Bayi yang mendapat ASI dapat
mengalami ruam popok akibat makanan yang dikomsumsi ibu, misalnya
berbahan dasar tomat.
d. Iritasi dari produk baru Berhenti merek popok, deterjen, atau pelembut
untuk pakaian bayi, semuanya dapat mengiritasi pantat bayi yang lembut.
Bahan-bahan lain yang dapat memperberat masalah, termasuk bahan-
bahan yang ada pada bedak bayi, baby lotion, dan baby oil.
e. Bakteri atau jamur Infeksi kulit yang ringan dapat menyebar ke area lain.
Area tubuh yang tertutup popok, pantat, perut, dan kelamin, menjadi tempat
ideal bagi bertumbuhnya bakteri dan jamur. Ruam biasanya mulai di lipatan-
lipatan kulit dan timbul bintik-bintik merah di sekitar lipatan. Infeksi jamur
yang paling sering adalah Candida sp. Candida dapat hidup dilingkungan
mana saja, dan dapat berkembang biak di daerah yang hangat serta
6
lembab seperti dibawah popok. Jamur penyebab ruam popok tersebut
biasanya terdapat pada bayi dan balita yang tidak terjaga kebersihan dan
kekeringannya
f. Kulit sensitif Bayi dengan kondisi kulit tertentu seperti dermatitis atau
aksim, lebih besar kemungkinan terkena ruam popok. Kulit yang teriritasi
dermatitis dan eksim memengaruhi area di luar area popok.
g. Suhu Faktor yang dapat memperberat diaper rash salah satunya adalah
peningkatan suhu kulit, suhu yang meningkat akan mengakibatkan
pembuluh darah melebar dan mudah terjadi peradangan pada kulit.
2.6 Penatalaksanaan Diaper Rash
Strategi untuk mencegah diaper dermatitis yaitu dengan pemberian ruang
udara, penahan kulit, membersihkan dengan tepat, mengganti diaper
dengan tepat, dan edukasi. Boiko (1999) mempublikasikan untuk
pencegahan diaper dermatitis dengan akronim ABCDE, yaitu :Air, Barrier,
Cleansing, Diapering and Education (Merrill, L., 2015).
a. Air
Memaparkan area diaper ke udara segar dengan membiarkan diaper
terbuka minimal 5 menit.
b. Barrier
Mengoleskan barrier cream (zinc oxide atau petrolatum) pada area diaper
bayi yang beresiko diaper dermatitis atau area yang terjadi diaper
dermatitis. Pemakaian baby oil, VCO, dan minyak zaitun juga
direkomendasikan (Chasanah, N.F., 2011 & Cahyati, D., 2015).
c. Cleansing
Membersihkan area diaper dengan lembut menggunakan air dan lap
lembut. Menggunakan sabun ringan hanya jika area diaper sangat kotor.
Tisu basah tanpa alkohol dan pewangi juga bisa digunakan sebagai
pembersih. Cara membersihkan area diaper dengan cara menepuk pelan.
7
d. Diapering
Mengganti diaper bayi segera apabila basah atau kotor dengan
menggunakan diaper daya serap tinggi atau absorbent gelling material
(AGM). Mengganti diaper paling sedikit 1 sampai 3 jam selama sehari dan
sekali dalam semalam. Menggunakan diaper dengan ukuran yang tepat.
Diaper yang terlalu kecil menyebabkan pantat bayi tidak ada ruang udara
dan mudah terjadinya gesekan pantat dengan diaper. Memastikan area
plastik bersentuhan dengan kulit bayi dan merekatkan diapersedikit longgar
sehingga area diaperterdapat ruang udara.
e. Education
Memberikan edukasi kepada orang tua tentang perianal hygienedan
strategi pencegahan diaper dermatitis dengan Air, Barrier, Cleansing,
Diapering, dan Education.
8
2.7 Mind Map
9
DAFTAR PUSTAKA
Aisyah, S. (2015). Hubungan pemakaian diapers dengan kejadian ruam
popok pada bayi usia 6-12 bulan.
Ertiana, D. (2021). Hubungan Lama Pemakaian Diaper dengan Kejadian
Diaper Rash pada Bayi Usia 9-12 bulan. Jurnal Kesehatan Poltekkes
Kemenkes Pangkalpinang. Vol 9(1).
Naimah, A. (2019). Hubungan Pemakaian Popok Sekali Pakai Pada Balita
(Usia 0-3 tahun) Dengan Terjadinya Dermatitis Alergi Popok di
Purwoharjo Banyuwangi. The Indonesia Journal of Health Science.
Vol 11(2).
10