100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
282 tayangan61 halaman

Penerapan PjBL untuk Pemahaman IPAS SD

Proposal ini membahas penelitian yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa kelas IV SD tentang materi IPAS tentang daerahku dan kekayaan alamnya melalui model pembelajaran project based learning. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran IPAS di sekolah dasar.

Diunggah oleh

Dede Ryanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (1 suara)
282 tayangan61 halaman

Penerapan PjBL untuk Pemahaman IPAS SD

Proposal ini membahas penelitian yang akan dilaksanakan untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa kelas IV SD tentang materi IPAS tentang daerahku dan kekayaan alamnya melalui model pembelajaran project based learning. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pembelajaran IPAS di sekolah dasar.

Diunggah oleh

Dede Ryanto
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROPOSAL PENELITIAN

PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING TERHADAP


KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP IPAS MATERI DAERAHKU
DAN KEKAYAAN ALAMNYA KELAS IV SD

Oleh

DINDHA NURMULIYA
NIM 11308505200056

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
INSTITUT SAINS DAN BISNIS INTERNASIONAL SINGKAWANG
SINGKAWANG
2024
PROPOSAL PENELITIAN

PENERAPAN MODEL PROJECT BASED LEARNING TERHADAP


KEMAMPUAN PEMAHAMAN KONSEP IPAS MATERI DAERAHKU
DAN KEKAYAAN ALAMNYA KELAS IV SD

Proposal Penelitian ini Ditulis untuk Diseminarkan Pada Departemen


Pendidikan Guru Sekolah Dasar

Oleh

DINDHA NURMULIYA
NIM 11308505200056

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
INSTITUT SAINS DAN BISNIS INTERNASIONAL SINGKAWANG
2024
i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’Ala


karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penyusunan
proposal penelitian ini dengan judul “Penerapan Model Project Based Learning
Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep IPAS Materi Daerahku Dan
Kekayaan Alamnya Kelas Iv SD”. Proposal ini di tulis untuk diseminarkan pada
program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar pada perguruan tinggi Institut
Sains dan Bisnis Internasional (ISBI) Singkawang. Penyusunan ini dapat
terlaksana dengan baik berkat dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu,
pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terimakasih yang sebesar-
besarnya kepada :
1. Bapak Dr. Eka Murdani, [Link]., [Link]. selaku Rektor ISBI Singkawang yang
telah memberikan motivasi dan kontribusi terhadap lembaga ISBI
Singkawang.
2. Wahyuni Oktavia, [Link]., [Link] selaku Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan
3. Ibu Emi Sulistri, [Link]., [Link] selaku Ketua Program Studi Pendidikan Guru
Sekolah Dasar ISBI Singkawang.
4. Ibu Rien Anitra, [Link]., [Link] selaku Sekteraris Program Studi Pendidikan
Guru Sekolah Dasar ISBI Singakawang
5. Ibu Rika Wahyuni, [Link]., [Link] selaku dosen pembimbing I yang telah
memberi bimbingan, saran, dan motivasi kepada penulis.
6. Ibu Evinna Cinda Hendriana, [Link]., [Link] selaku dosen pembimbing II yang
telah memberi bimbingan, saran, dan motivasi kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal ini masih jauh dari
kata sempurna, penulis mengharapkan saran dan kritik dari berbagai pihak yang
membangun demi perbaikan dan manfaat yang lebih baik dimasa yang akan datang.
Terima kasih.
Singkawang, Maret 2024
Penulis

Dindha Nurmuliya
ii
NIM 11308505200056
DAFTAR ISI

LEMBAR PERSETUJUAN.................................................................i
KATA PENGANTAR...........................................................................ii
DAFTAR ISI..........................................................................................iii
DAFTAR GAMBAR.............................................................................iv
DAFTAR TABEL..................................................................................v
DAFTAR LAMPIRAN.........................................................................vi
BAB I PENDAHULUAN......................................................................1
A. Latar Belakang............................................................................1
B. Masalah Penelitian......................................................................7
C. Tujuan Penelitian.........................................................................7
D. Manfaat Penelitian.......................................................................7
E. Variabel Penelitian......................................................................8
BAB II KAJIAN TEORI......................................................................10
A. Landasan Teori............................................................................10
1. Model Pembelajaran Project Based Learning........................10
2. Kemampuan Pemahaman Konsep..........................................22
3. Aktifitas Belajar .....................................................................26
4. Materi IPAS ...........................................................................26
B. Kajian Penelitian yang Relevan .................................................28
C. Kerangka Pikir.............................................................................29

BAB III METODE PENELITIAN......................................................31


A. Jenis dan Desain Penelitian.........................................................31
B. Tempat dan Waktu Penelitian.....................................................32
C. Populasi dan Sampel...................................................................32
D. Definisi Operasional....................................................................33
E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data..................................34
F. Teknik Analisis Data...................................................................41
DAFTAR PUSTAKA............................................................................45

iii
LAMPIRAN...........................................................................................48

iv
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Jawaban Soal Nomor 1........................................................4

Gambar 1.2 Jawaban Soal Nomor 2........................................................4

Gambar 1.3 Jawaban Soal Nomor 3........................................................4

Gambar 2.1 Hasil Pertanian dan Perkebunan di Pasar............................27

Gambar 2.2 Kerangka Pikir.....................................................................30

v
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 KD dan Indikator Materi.........................................................26


Tabel 3.1 Desain Penelitian.....................................................................31
Tabel 3.2 Populasi Penelitian..................................................................32
Tabel 3.3 Sampel Penelitian....................................................................33
Tabel 3.4 Kriteria Koefisien Validasi Isi................................................37
Tabel 3.5 Klasifikasi Koefisien Validitas Konstruk................................38
Tabel 3.6 Kriteria Koefisien Reliabilitas.................................................39
Tabel 3.7 Klasifikasi Interprestasi Koefisien Tingkat Kesukaran...........40
Tabel 3.8 Indeks dan Kategori Daya Pembeda.......................................41
Tabel 3.9 Kriteria Aktivitas Belajar Siswa..............................................44

v
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran A Modul Ajar Kelas Eksperimen...........................................48

Lampiran B Modul Ajar Kelas Kontrol..................................................54

Lampiran C LKPD..................................................................................58

Lampiran D Kisi-Kisi Soal Posttest........................................................59

Lampiran E Soal Postest.........................................................................61

Lampiran F Instrumen Aktifitas Belajar Siswa.......................................64

Lampiran G Surat Keterangan Prariset...................................................65

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Negara Indonesia merupakan suatu negara yang sedang berproses
untuk memperbaiki mutu pendidikan menjadi lebih baik dan cemerlang.
Pemerintah Indonesia melakukan berbagai cara dan metode sebagai bentuk
upaya dalam memajukan pendidikan Indonesia yang maju dan dapat
mengikuti perkembangan zaman. Salah satu diantara upaya tersebut adalah
dirubahnya kurikulum pendidikan. Kurikulum Merdeka merupakan
penyempurnaan dari Kurikulum 2013, mengingat kurikulum ini dirancang
untuk meningkatkan kompetensi siswa di sekolah,perubahan kurikulum
merdeka memberikan warna baru yaitu dengan adanya mata pembelajaran
IPAS. Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi
(kemendikbudristek) menyebutkan, pelajaran IPA dan IPS digabung
dijenjang pendidikan SD (Fauzia, 2022). Tujuan pembelajaran IPAS pada
kurikulum ini yaitu mengembangkan ketertarikan serta rasa ingin tahu,
berperan aktif, mengembangkan keterampilan inkuiri, mengerti diri sendiri
dan lingkungannya, dan mengembangkan pengetahuan dan pemahaman
konsep IPAS (Agustinaet, 2022).
Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) adalah ilmu pengetahuan
yang mengkaji tentang makhluk hidup dan benda mati di alam semesta serta
interaksinya, dan mengkaji kehidupan manusia sebagai individu sekaligus
sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. Secara
umum, ilmu pengetahuan diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan
yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan
akibat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016). Kementrian pendidikan,
kebudyaaan, riset dan teknologi menerangkan Pendidikan IPAS memiliki
peran dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila sebagai gambaran ideal
profil peserta didik Indonesia. IPAS membantu peserta didik menumbuhkan
keingintahuannya terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya.
Keingintahuan ini dapat memicu peserta didik untuk memahami bagaimana
1
2

alam semesta bekerja dan berinteraksi dengan kehidupan manusia di muka


bumi. Pemahaman ini dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi berbagai
permasalahan yang dihadapi dan menemukan solusi untuk mencapai tujuan
pembangunan berkelanjutan. Prinsip-prinsip dasar metodologi ilmiah dalam
pembelajaran IPAS akan melatih sikap ilmiah (keingintahuan yang tinggi,
kemampuan berpikir kritis, analitis dan kemampuan mengambil kesimpulan
yang tepat) yang melahirkan kebijaksanaan dalam diri peserta didik.
Sejalan dengan Tujuan IPAS oleh Badan Standar, Kurikulum, Dan
Asesmen Pendidikan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, Dan
Teknologi Republik Indonesia (2022) yaitu : 1. mengembangkan ketertarikan
serta rasa ingin tahu sehingga peserta didik terpicu untuk mengkaji fenomena
yang ada di sekitar manusia, 2. memahami alam semesta dan kaitannya
dengan kehidupan manusia, 3. berperan aktif dalam memelihara, menjaga,
melestarikan lingkungan alam, mengelola sumber inkuiri untuk
mengidentifikasi, merumuskan hingga menyelesaikan masalah melalui aksi
nyata, 4. mengerti siapa dirinya, memahami bagaimana lingkungan sosial dia
berada, memaknai bagaimanakah kehidupan manusia dan masyarakat
berubah dari waktu ke waktu, 5. memahami persyaratan yang diperlukan
peserta didik untuk menjadi anggota suatu kelompok masyarakat dan bangsa
serta memahami arti menjadi anggota masyarakat bangsa dan dunia, sehingga
dia dapat berkontribusi dalam menyelesaikan permasalahan yang berkaitan
dengan dirinya dan lingkungan di sekitarnya dan mengembangkan
pengetahuan dan pemahaman konsep di dalam IPAS serta menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Dilihat dari tujuan IPAS yang sangat kompleks, Pemahaman konsep
merupakan suatu aspek yang sangat penting dalam pembelajaran, karena
dengan memahami konsep siswa dapat mengembangkan kemampuannya
dalam setiap materi pelajaran termasuk IPAS. Pemahaman dapat diartikan
menguasai sesuatu dengan pikiran. Pemahaman berasal dari kata paham yang
artinya “mengerti benar”. Meletakkan hal tersebut dalam hubungannya satu
sama lain secara benar dan menggunakannya secara tepat pada situasi.
3

Pemahaman konsep merupakan kemampuan siswa dalam menguasai suatu


konsep/materi yang terindikasi dalam ranah kognitif dan dengan memahamai
suatu konsep siswa dapat mengetahui, menjelaskan, mendeskripsikan,
membandingkan, membedakan, menggolongkan, memberikan contoh dan
bukan contoh, menyimpulkan dan mengungkapkan kembali suatu objek
dengan bahasanya sendiri dengan menyadari proses-proses yang dilaluinya
(Widyastuti, dkk. 2014).
Permendiknas No 22 Tahun 2006 mengungkapkan bahwa mampu
mengembangkan pemahaman konsep yang akan berguna dalam kehidupan
sehari-hari, maka dari itu kemampuan pemahaman konsep wajib dimiliki oleh
siswa sekolah dasar yang akan memudahkan penerapannya dalam kehidupan
sehari-hari. Namun kenyataannya di lapangan berdasarkan penelitian
Fatturahmaniah (2020), Membahas proses pembelajaran sains (IPA)
menekankan pada pemberian pengalaman langsung kepada siswa dengan
kemapuan pemahaman konsep siswa yang rendah, di lihat dari hasil tes
pemahaman konsep aspek pengetahuan rata-rata pre-test 57.95. Selanjutnya
Solihhudin (2019), dalam penelitiannya di sebutkan pembelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS), Bukti bahwa kemampuan pemahaman konsep
siswa masih rendah adalah dari hasil pretest nya yaitu pada kelas Eksperimen
43,87 dan kelas Kontrol 36,96. Dalam hal ini dapat di simpulkan bahwa
pemahaman konsep untuk kehidupan sehari-hari itu sangatlah penting.
Meskipun dalam penelitian tersebut masih memisahkan IPA dan IPS, tetap
dapat membuktikan pentingnya pemahaman konsep untuk pelajaran IPAS di
sekolah dasar.
Hal serupa juga terjadi di SDN 94 Singkawang, kemampuan
pemahaman konsep masih rendah ditunjukan dari hasil prariset pada
pembelajaran IPAS Singkawang belum menunjukkan hasil yang mengarah
terhadap kemampuan pemahaman konsep pada mata pelajaran IPAS,
berdasarkan hasil prariset tanggal 1 Desember 2023 pada kelas IV A dengan
jumlah 21 siswa terdapat permasalahan yaitu siswa belum bisa memahami
konsep materi tentang gaya yang sudah di pelajarinya. Siswa memang tidak
4

terlalu terpaku dengan buku, namun untuk pemahaman konsep, siswa tetap
harus di hadapkan dengan teori terlebih dahulu baru praktek kedepannya.
Kemampuan pemahaman konsep IPAS siswa masih rendah ditunjukkan
dengan hasil prariset ketika siswa diberi soal tes dengan indikator
kemampuan pemahaman konsep IPAS rata-rata siswa mendapat nilai
dibawah KKM, dan dalam hal ini menunjukan bahwa kemampuan
pemahaman konsep siswa masih rendah.

Berikut adalah gambar dari hasil prariset siswa A :

Gambar 1.1
Jawaban Soal No.1

Gambar 1.2
Jawaban Soal No.2

Gambar 1.3
Jawaban Soal No.3
5

Dari Gambar 1.1 diharapkan siswa dapat mendefinisikan gambar, dari


hasil gambar yang di berikan, namun kenyataannya siswa tidak dapat
mendefinisikan apa itu gaya, Jumlah siswa pada saat prariset yaitu 20 siswa.
hasil Prariset terdapat 1 siswa atau 5% yang dapat menjawab, 9 siswa atau
45% yang dapat menjawab benar bagian gambarnya saja, dan 10 siswa atau
50% menjawab salah. Gambar 1.2 di harapkan siswa dapat menentukan
gambar gaya tarik, yaitu pada gambar A dan B, namun kenyataanya siswa
masih banyak yang belum memahami konsep tersebut, dari hasil prariset
terdapat 10 atau 50% siswa menjawab benar, 8 atau 40% siswa menjawab
hanya 1 gambar, dan 2 atau 10% siswa menjawab salah. Gambar 1.3
Diharapkan siswa dapat menyebutkan apa saja pengaruh gaya terhadap
benda, dari hasil prariset terdapat 2 atau 10% siswa menjawab benar, dan 18
atau 90% siswa menjawab salah. Dari jawaban siswa tersebut penulis
mengindikasikan bahwa pemahaman konsep siswa kelas IV SDN 94
Singkawang tersebut masih rendah.
Selanjutnya pada saat wawancara wali kelas 4A juga mengungkapkan
kemampuan pemahaman konsep siswa itu beragam ada yang cepat
menangkapnya dan banyak juga yang lebih sulit menangkap pembelajaran,
bahkan memang ada siswa yang sangat sulit menerima pembelajaran apalagi
untuk kemampuan pemahaman konsep dalam kehidupan sehari-hari, dan
tentu saja ini juga akan berdampak pada hasil belajar siswa di kelas. Pada
saat observasi, penulis juga melihat cara siswa belajar yang masih rata-rata
pasif dan kurang aktif dalam pembelajaran, di karenakan kurangnya model
pembelajaran yang tepat, yang menjadikan siswa menjadi aktif. Untuk
pelajaran IPAS sendiri sangat di perlukan model pembelajaran yang tepat
agar siswa memiliki kemampuan pemahaman konsep yang baik.
Untuk mewujudkan sasaran tersebut diperlukan model pembelajaran
yang kondusif, menggairahkan siswa sehingga ada peningkatan semangat,
siswa bisa mengikuti proses pembelajaran IPAS di sekolah dasar. Upaya yang
dilakukan untuk meningkatkan pemahaman akan Daerahku dan kekayaan
6

alamnya yaitu melalui penerapan model Project Based Learning (PjBL).


(Hosnan, 2014) menyatakan project based learning merupakan model belajar
menggunakan masalah sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan
mengintegrasikan pengetahuan baru, berdasarkan pengalaman dalam
beraktivitas secara nyata. Model project based learning dirancang untuk
digunakan pada permasalahan kompleks yang diperlukan pelajar dalam
melakukan investigasi dan memahaminya. melalui proses menuju
pemahaman akan resolusi suatu masalah. Masalah tersebut dipertemukan
pertama-tama dalam proses pembelajaran..
Model pembelajaran project based learning merupakan model
pembelajaran yang menggunakan proyek (kegiatan) sebagai inti
pembelajaran. Dalam setiap kegiatan yang dilakukan siswa akan mendapat
pengalaman secara langsung yang nantinya dapat meningkatkan kreatifitas
serta pemahaman konsep anak. Model pembelajaran project based learning
ini dapat membantu siswa untuk menemukan konsep- konsep baru,
pengalaman baru, serta dalam meningkatkan siswa dalam memecahkan suatu
permasalah. Model project based learning juga berfokus pada prinsip dan
konsep utama suatu disiplin,yang melibatkan peserta didik dalam
memecahkan masalah dan tugas penuh makna lainnya, serta mendorong
siswa mengkonstruksi pembelajaran mereka sendiri melalui model project
based learning. Hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Fathurrahmaniah
(2020) dengan hasil pre-test 57.95, kemudian meningkat saat post-test
menjadi 84.45. Selain itu penelitian oleh Solihhudin (2019) dengan hasil
pretest 43.87, kemudian meningkat saat post-test menjadi 58.47, dari
penelitian tersebut menunjukkan bahwa Model project based learning dapat
meningkatkan kemampuan pemahaman konsep. Berdasarkan latar belakang
masalah dan penelitian sebelumnya Maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian yang berjudul “Penerapan Model Project Based Learning
Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep IPAS Materi Daerahku
Dan Kekayaan Alamnya Kelas IV SD”
7

B. Masalah Penelitian
1. Identifikasi Masalah:
Adapun identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah:
a. Kurangnya kemampuan pemahaman konsep siswa, hal ini dapat dilihat
dari hasil prariset yang menunjukan bahwa hasil belajar siswa masih di
bawah KKM.
b. Siswa belum tergolong aktif dalam proses pembelajaran, hal ini dapat di
lihat dari observasi langsung penulis di kelas IV, karna masih
menggunakan pembelajaran langsung.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas timbul beberapa permasalahan yang
menjadi topik peneliti, Yaitu :
a. Apakah terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep IPAS
pada siswa setelah di terapkan model pembelajaran project based
learning dengan model pembelajaran langsung pada materi Daerahku
dan Kekayaan Alamnya ?
b. Apakah aktivitas belajar siswa tergolong aktif saat di terapkan model
project based learning pada materi Daerahku dan Kekayaan
Alamnya ?
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan:
a. Untuk melihat perbedaan kemampuan pemahaman konsep IPAS pada
siswa dengan diterapkan model project based learning siswa kelas IV
SD.
b. Untuk mengetahui aktivitas belajar siswa saat diterapkan model project
based learning pada materi Daerahku dan Kekayaan Alanya di kelas IV
SD.
D. Manfaat Penelitian
8

Penelitian yang dilaksanakan diharapkan dapat memberikan manfaat


sebagai berikut :

1. Manfaat Praktis
a. Bagi siswa
Memberikan pengalaman baru bagi siswa dan mendorong siswa
untuk meningkatkan kemampuan pemahaman konsep siswa melalui
model project based learning pada materi Daerahku dan kekayaan
alamnya..
b. Bagi guru
1) Mempermudah guru dalam meningkatkan kemampuan
pemahaman konsep siswa dalam pelajaran IPAS
2) Membantu guru menemukan model pembelajaran yang kreatif
yang dapat menunjang keberhasilan belajar siswa khususnya
pemahaman konsep.
c. Bagi peneliti lain
Dapat menjadi tambahan informasi untuk peneliti lain untuk terus
mengembangkan Ilmu pengertahuan dalam dunia pendidikan.
2. Manfaat Teoritis
a. memberikan kontribusi dalam mengembangkan model pembelajaran,
khususnya dalaam pemebelajaran IPAS.
b. Sebagai referensi bagi kegiatan penelitian pengembangan model
pembelajaran dalam pembelajaran IPAS.
E. Variabel Penelitian
Sugiyono (2015) menyatakan bahwa variabel penelitian adalah suatu
atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai
variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajarai sehingga
diperoleh informasi tentang hal tersebut kemudian ditarik kesimpulannya.
Dalam penelitian ini menggunakan dua variabel, yaitu variabel bebas dan
9

variabel terikat. Adapun variabel bebas dan terikat pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
1. Variabel Bebas (Independent Variabel)
Variabel bebas adalah variable yang mempengaruhi atau yang
menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variable terikat (Sugiyono,
2017). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah model project based
learning.
2. Variabel Terikat
Variabel terikat adalah variable yang di pengaruhi atau menjadi
akibat, karena adanya variable bebas (Sugiyono, 2017). Variabel terikat
dalam penelitian ini adalah kemampuan pemahaman konsep siswa.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Teori
1. Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
a. Pengertian Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
Model pembelajaran secara sederhana dapat diartikan cara atau
teknik memfasilitasi anak untuk belajar yang baik. Octavia (2020)
menyebutkan model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang
dapat menggambarkan prosedur dengan sistematis dan teratur dalam
mengorganisasikan kegiatan belajar agar dapat mencapai tujuan
belajar sesuai dengan kompetensi belajar.
Menurut Sudrajat & Hernawati (2020) menyatakan bahwa
project based learning merupakan model pembelajaran yang
berpusat pada siswa dan memberikan pengalaman belajar yang
bermakna bagi siswa. Pengalaman belajar siswa maupun konsep
dibangun berdasarkan produk yang dihasilkan dalam proses
pembelajaran berbasis proyek. Kerja proyek memuat tugas-tugas
yang kompleks berdasarkan permasalahan yang akhir dari kerja
proyek tersebut adalah suatu produk yang antara lain berupa laporan
tertulis, presentasi atau rekomendasi.
Lestari & Yudhanegara (2017) menyatakan Project based
learning merupakan model pembelajaran yang berpusat pada proses,
relatif berjangka waktu, berfokus pada masalah, unit pembelajaran
bermakna dengan memadukan konsep-konsep dari sejumlah
komponen, baik itu pengetahuan, disiplin ilmu maupun pengalaman
lapangan. Disamping itu, penerapan pembelajaran berbasis proyek
ini mendorong tumbuhnya kreatifitas, kemandirian, tanggung jawab,
kepercayaan diri serta berpikir kritis dan analitis pada peserta didik.
Model pembelajaran Project Based Learning menuntut siswa untuk
membuat proyek yang berhubungan dengan mata pelajaran terkait.

10
11

Proyek dalam PjBL dibangun berdasarkan ide siswa sebagai bentuk


alternatif pemecahan masalah secara langsung.
Brandsfor & Stein (2016) mendefinisikan pembelajaran berbasis
proyek sebagai pendekatan pengajaran yang komprehensif yang
melibatkan siswa dalam kegiatan penyelidikan yang kooperatif dan
berkelanjutan. Model Project Based Learning memberi peluang pada
sistem pembelajaran yang berpusat pada siswa, lebih kolaboratif,
siswa terlibat secara aktif menyelesaikan proyek-proyek secara
mandiri dan bekerja sama dalam tim dan mengintegrasikan masalah-
masalah yang nyata dan praktis. Tujuan yang ingin dicapai siswa
sangat beragam misalnya keterampilan berpikir, keterampilan sosial,
keterampilan psikomotor dan keterampilan proses.
Umamah & Andi (2015) menyatakan project based learning
sebagai sebuah pembelajaran berbasis proyek yang merupakan
pendekatan pembelajaran inovatif sangat menekankan pembelajaran
kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks. Fokus
pembelajaran terletak pada konsep-konsep dan prinsip-prinsip inti
dari suatu disiplin studi, melibatkan pembelajar dalam investigasi
pemecahan masalah belajar, memberi kesempatan kepada peserta
didik secara otonom untuk mengonstruk pengetahuannya sendiri
dengan menghasilkan produk nyata.
Ngalimun (2016) yang menyatakan bahwa model project based
learning berbeda dengan model yang lainnya. Model pembelajaran
ini lebih menekankan pada kegiatan belajar yang relative berdurasi
panjang, holistic-interdisipliner, dan berpusat pada siswa sehingga
siswa dapat terintegrasi dengan praktek dengan isu-isu dunia nyata.
Berdasarkan teori para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa
model pembelajaran Project Based Learning merupakan model
pembelajaran yang berpusat pada siswa dan memberikan
pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa. Model pembelajaran
Project Based Learning merupakan sebuah model pembelajaran
12

yang melibatkan suatu proyek didalam kegiatan dimana didalam


kegiatan proyek tersebut menghasilkan suatu ide, gagasan bahkan
produk terkait materi yang diajarkan, dan siswa lebih memiliki
keterampilan berfikir karna terjun langsung pada proyek yang di
buat.
Menurut penulis project based learning adalah model
pembelajaran yang berpusat pada siswa dan mendorong tumbuhnya
kreatifitas siswa dalam pembelajaran. Project based learning juga
menjadikan pembelajaran yang lebih bermakna untuk siswa
dikarenakan mengolah pengetahuan sehari-hari untuk menghasilkan
produk yang nyata.
b. Sintak Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
Menurut Joyce & Weil dalam Utomo (2020), sintaks
didefinisikan sebagai urutan kegiatan-kegiatan yang disebut fase.
Setiap model pembelajaran pun mempunyai alur fase yang berbeda-
beda. Maka dari itu, setiap sintaks yang dimiliki model pembelajaran
berisi serangkaian fase untuk mencapai ide pokok atau gagasan, serta
tujuan dari model pembelajaran tersebut.
Langkah- langkah model pembelajaran Project Based Learning
menurut Sudrajat & Hernawati (2020) yaitu:
1) Pengenalan masalah (Penentuan Pertanyaan Mendasar)
2) Penyusunan rancangan proyek
3) Penyusunan rencana kerja
4) Pelaksanaan dan Memonitoring proyek
5) Pengujian hasil
Widyantini (2014) menjabarkan langkah- langkah model
Project Based Learning adalah sebagai berikut:
1) Penentuan Pertanyaan Mendasar (Starts With The Essential
Quations)
Pembelajaran dimulai dengan pertanyaan esensial yaitu
pertanyaan yang dapat memberi penugasan kepada siswa dalam
13

melakukan suatu aktivitas. Topik penugasan sesuai dengan


dunia nyata yang relevan untuk siswa. dan dimulai dengan
sebuah investigasi mendalam.
2) Mendesain Perencanaan Proyek (Design A Plan For The
Project)
Perencanaan dilakukan secara kolaboratif antara guru dan siswa.
Dengan demikian siswa diharapkan akan merasa “memiliki”
atas proyek tersebut. Perencanaan berisi tentang aturan main,
pemilihan aktivitas yang dapat mendukung dalam menjawab
pertanyaan esensial, dengan cara mengintegrasikan berbagai
subjek yang mungkin, serta mengetahui alat dan bahan yang
dapat diakses untuk membantu penyelesaian proyek
3) Menyusun jadwal (Create A Schedule )
Guru dan siswa secara kolaboratif menyusun jadwal aktivitas
dalam menyelesaikan proyek. Aktivitas pada tahap ini antara
lain:
a) Membuat Timeline (alokasi waktu) untuk menyelesaikan
proyek,
b) Membuat Deadline (batas waktu akhir) penyelesaian
proyek,
c) Membawa siswa agar merencanakan cara yang baru,
d) Membimbing siswa ketika mereka membuat cara yang tidak
berhubungan dengan proyek, dan
e) Meminta siswa untuk membuat penjelasan (alasan) tentang
pemilihan suatu cara.
4) Memonitor peserta didik dan kemajuan proyek (Monitor The
Student An The Progress Of The Project)
Guru bertanggung jawab untuk melakukan monitor terhadap
aktivitas siswa selama menyelesaikan proyek. Monitoring
dilakukan dengan cara menfasilitasi siswa pada setiap proses.
Dengan kata lain guru berperan menjadi mentor bagi aktivitas
14

siswa. Agar mempermudah proses monitoring, dibuat sebuah


rubrik yang dapat merekam keseluruhan aktivitas yang penting.

5) Menguji Hasil (Assess The Outcome)


Penilaian dilakukan untuk membantu guru dalam mengukur
ketercapaian standar, berperan dalam mengevaluasi kemajuan
masing- masing siswa, memberi umpan balik tentang tingkat
pemahaman yang sudah dicapai siswa, membantu guru dalam
menyusun strategi pembelajaran berikutnya
6) Mengevaluasi Pengalaman (Evaluate The Experience)
Pada akhir pembelajaran, guru dan siswa melakukan refleksi
terhadap aktivitas dan hasil proyek yang sudah dijalankan. Proses
refleksi dilakukan baik secara individu maupun kelompok
Menurut Lestari & Yudhanegara (2015:62-63)
pembelajaran berbasis proyek menempuh tiga tahapan, yaitu :
1) Perencanaan proyek
Pada tahap ini Kegiatan yang dilakukan oleh siswa
adalah mengidentifikasi masalah nyata, menemukan alternatif
dan merumuskan strategi penyelesaian masalah, serta
melakukan perencanaan.
2) Pelaksanaan proyek
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan oleh siswa yaitu
pembimbingan dan penyelesaian tugas, melakukan pengujian
produk (evaluasi), dan presentasi antar kelompok.
3) Evaluasi proyek
Pada tahap ini kegiatan yang dilakukan oleh siswa adalah
penilaian proses dan produk yang meliputi: kemajuan belajar
proyek, proses akual dari penyelesaian masalah, kemajuan
kinerja tim dan individual, buku catatan dan catatan
penelitian, kontrak belajar, penggunaan computer, dan
15

refleksi. Sedangkan penialaian produk seperti dalam hasil


kerja dan presentasi, tugas- tugas nontulis,laporan proyek.
Faturohman (2015) menyebutkan bahwa langkah-langkah
dalam pembelajaran Project Based Learning adalah sebagai
berikut :
1) Penentuan Proyek
Pada langkah ini peserta didik menntukan tema/topik proyek
berdasarkan tugas proyek yang diberikan oleh guru. Peserta
didik diberi kesempatan untuk memilih dan menentukan
proyek yang akan dikerjakan secara kelompok atau mandiri.
Untuk proyek jangka pendek (satu kali pertemuan) penentuan
proyek dapat dimulai dengan mengajukan beberapa pertanyaan
guna memancing siswa untuk memikirkan proyek apa yang
akan dibuat.
2) Perancangan Langkah- langkah Penyelesaian Proyek
Pada langkah ini peserta didik merancang lngkah-langkah
kegiatan penyelesaian proyek dari awal sampai akhir beserta
pengelolaannya, pemilihan aktivitas yang dapat mendukung
tugas proyek, perencanaan atau persiapan alat dan bahan yang
akan digunakan.
3) Penyusunan Jadwal Pelakasanaan Proyek
Pada langkah ini peserta didik melakukan penjadwalan semua
kegiatan yang telah dirancangnnya beserta jangka waktu yang
dibutuhkan untuk menyelesaikan proyek tahap demi tahap.
4) Penyelesaian Proyek Dengan Fasilitas Dan Monitoring Dari
Guru.
Pada langkah ini peserta didik menerapkan rancangan proyek
yang telah dibuat untuk menghasilkan sebuah produk atau
menyelesaikan sebuah proyek. Peserta didik melaporkan
kemajuan proyek yang mereka lakukan kepada guru. Untuk
proyek jangka Panjang (satu semester), penyelesaian proyek
16

dapat dilakukan dirumah, sedangkan monitoring guru, siswa


dapat melaporkan hasil kerja proyeknya setiap kali pertemuan
dikelas untuk dilihat guru. Jika proyek jangka pendek (satu kali
pertemuan) penyelesaian proyek dilakukan dikelas atau
dilingkungan sekolah dengan bimbingan guru.
5) Penyusunan Laporan Dan Presentasi/ Publikasi Proyek
Pada langkah ini hasil proyek yang telah dibuat, baik itu
berupa produk karya tulis, karya seni atau karya teknologi
yang dipresentasikan dan dipublikasikan kepada teman-teman
dan guru.
6) Evaluasi Proses dan Hasil Proyek
Pada langkah ini, guru dan siswa pada akhir pembelajaran
melakukan refleksi terhadap aktivitas dan hasil tuugas proyek.
Proses refleksi pada tugas proyek dapat dilakukan secara
individu maupun kelompok. Pada tahap ini juga dilakukan
umpan balik terhadap proses dan produk yang telah dihasilkan
dengan cara mendiskusikan apa yang suskses dan apa yang
gagal serta berbagi ide untuk mengarah pada temuan baru.
Berdasarkan pemaparan teori menurut para ahli diatas maka
langkah-langkah model project based learning dalam penelitian
yang akan dilakukan sebagaimana yang dijabarkan oleh
Widyantini (2014) sebagai berikut; 1) Menentukan pertanyaan
mendasar, 2) Mendesain perancangan penyelesaian proyek, 3)
Penyusunan jadwal pelaksanaan proyek, 4) Pelaksanaan proyek,
5) Presentasi proyek dan 6) Evaluasi proses dari hasil proyek.

Menurut penulis langkah-langkah dalam project based


learning sebagai berikut ; 1) Memberikan pemahaman dasar, 2)
Mengarahkan siswa mendesain proyek, 3) Pelaksanaan proyek, 4)
Presentasi proyek, 5) evaluasi dari hasil proyek.
17

c. Karakteristik Model Pembelajaran Project Based Learning


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), karakteristik
adalah tanda, ciri, atau fitur yang bisa digunakan sebagai identifikasi.
Karakteristik juga bisa diartikan sebagai sesuatu yang bisa
membedakan satu hal dengan lainnya.
Kemendikbud (2013) menyebutkan karakteristik model Project
Based Learning meliputi :
1) Siswa membuat kerangka kerja
2) Memberikan tantangan atau permasalahan kepada siswa
3) Siswa merencanakan solusi dari permasalahan yang diberikan
4) Siswa secara kelompok bertanggung jawab mengakses dan
mengelola informasi untuk memecahkan masalah
5) Proses evaluasi dilakukan secara berkesinambungan
6) Siswa melakukan refleksi secara
7) berkala terhadap kegiatan yang sudah dilakukan
8) Produk di evalusi secara kualitatif, dan
9) Keadaan pembelajaran memberikan toleransi terhadap
perubahan dan kesalahan.
Faturohman (2015) menyebutkan bahwa beberapa karakteristik
dari model pembelajaran Project Based Learning yaitu :
1) Menuntun siswa untuk menyelidiki beberapa ide dan pertanyaan
penting.
2) Pelaksanaan harus mengandung proses penyelidikan.
3) Disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa.
4) Mengutamakan produk dan presentasi siswa daripada guru
menyampaikan informasi.
5) Menyimpulkan sebuah materi sekaligus membuat teori baru,
6) Berhubungan dengan masalah otentik dan dunia nyata.
Thomas (Kokotsaki, dkk., 2016), menyatakan bahwa, terdapat
lima karakteristik dalam Project Based Learning, yaitu:
1) Sentralitas
18

2) Menyesuaikan dengan persoalan


3) Investigasi konstruktif
4) Otonomi
5) Realisme atau keaslian.
Wahyu, R (2012) menyebutkan karakteristik dari model
pembelajaran Project Based Learning diantara nya :
1) Peserta didik membuat keputusan dan membuat kerangka kerja,
2) Terdapat masalah yang pemecahannya tidak ditentukan
sebelumnya,
3) Peserta didik merancang proses untuk mencapai hasil,
4) Peserta didik bertanggung jawab untuk mendapatkan dan
mengelola informasi yang dikumpulkan,
5) Peserta didik melakukan evaluasi secara kontinu,
6) Peserta didik secara teratur melihat Kembali apa yang mereka
kerjakan,
7) Hasil akhir berupa produk dan dievaluasi kualitasnya,
8) Kelas memiliki atmosfir yang memberi toleransi kesalahan dan
perubahan.
Berdasarkan pemaparan teori-teori diatas dapat disimpulkan
bahwa karakteristik model project based learning adalah diawali
dengan memberikan pertanyaan sebagai tahap pengenalan masalah
kepada siswa kemudian siswa secara kolaboratif ataupun secara
mandiri menyelesaikan atau menjawab pertanyaan tersebut dengan
suatu produk guna untuk menjawab pertanyaan yang diajukan
sebagai pemecahan dari permasalahan yang diberikan oleh guru
kemudian dengan pemahaman siswa, siswa dapat mengerjakan
project dari guru dengan arahan langsung.
Penulis menyimpulkan bahwa project based learning memiliki
karakter khusus yaitu pembelajaran berpusat pada siswa, dan guru
sebagai pengarah dalam pembelajaran untuk membimbing siswa
menyelesaikan proyek, point pentingnya adalah melatih kerjasama,
19

disiplin, keberanian, dan tanggung jawab siswa atas proyek yang


dikerjakan sehingga menjadi wujud yang nyata.
d. Kelebihan Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
Dalam model pembelajaran project based learning terdapat
beberapa kelebihan yang dapat menjadi pertimbangan guru untuk
menggunakan model pembelajaran ini. Sudrajat & Hernawati (2020)
Kelebihan dari pembelajaran Project Based Learning adalah sebagai
berikut :
1) Meningkatkan motivasi belajar siswa untuk belajar, mendorong
kemampuan mereka untuk melakukan pekerjaan penting, dan
mereka perlu untuk dihargai.
2) Meningkatkan kemapuan pemecahan masalah.
3) Membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan
problem-problem yang kompleks.
4) Meningkatkan kolaborasi.
5) Mendorong siswa untuk mengembangkan dan mempraktikkan
keterampilan komunikasi.
6) Meningkatkan keterampilan siswa dalam mengelola sumber.
7) Memberikan pengalaman kepada siswa didalam pembelajaran
dan praktik mengorganisasi proyek dan membut alokasi waktu
dan sumber- sumber lain seperti perlengkapan untuk
menyelesaikan tugas.
8) Menyediakan pengalaman belajar yang melibatkan siswa secara
kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai dunia nyata.
9) Melibatkan siswa untuk belajar mengambil informasi dan
menujukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian
diimplementasikan dengan dunia nyata.
10) Membuat suasana belajar menjadi menyenangkan, sehingga
peserta didik maupun pendidik menikmati proses pembelajaran.
Menurut Abidin (Cahyadi, 2019) Keunggulan model Project
Based Learning adalah salah satu model pembelajaran yang sangat
20

baik dan cocok dalam mengembangkan keterampilan dasar yang


harus dimiliki siswa termasuk keterampilan berpikir, keterampilan
membuat keputusan, kemampuan berkreativitas, kemampuan
memecahkan masalah, dan sekaligus dipandang efektif untuk
mengembangkan rasa percaya diri dan manajemen diri para siswa.
Hartono & Aisyah (2018) mengungkapkan keunggulan model
pembelajaran Project Based Learning sebagai berikut:
1) Membuat siswa termotivasi untuk belajar dalam pembuatan
proyek
2) Membuat siswa lebih kreatif dan inovatif dalam pembelajaran
dan mampu memecahkan masalah
3) Meningkatkan kolaborasi, yaitu peserta didik memerlukan kerja
sama dalam kelompok dan mampu membuat suasana
menyenangkan
4) Serta membuat sikap ilmiah seperti teliti, jujur, tanggung jawab,
dan kreatif
Daryanto (2014) menyebutkan kelebihan model Project Based
Learning yaitu dapat menumbuhkan stimulus belajar siswa, dapat
menumbuhkan keterampilan penyelesaian masalah, dapat
menjadikan siswa menjadi lebih giat dan dapat menyelesaikan
permasalahan-permasalahan yang rumit, dapat menciptakan
terjadinya kerja sama antar siswa, dapat memotivasi siswa untuk bisa
membangun dan menerapkan kemampuan komunikasi, dapat
menumbuhkan kemapuan siswa dalam mengolah bahan
pembelajaran, dapat membagikan pengetahuan kepada siswa dalam
pembelajaran dan implemetasi dalam mengkonstruksi proyek, dan
dapat menjadikan lingkungan belajar menjadi mengasyikkan,
sehingga siswa ataupun guru dapat menikmati proses pembelajaran.
Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
kelebihan dari model pembelajaran Project Based Learning adalah
dapat meningkat motivasi belajar, kemampuan kreatif siswa dalam
21

memecahkan masalah, meningkatkan kolaboratif siswa dalam proses


pembelajaran, serta siswa akan lebih mengingat apa yang sudah di
pelajarinya.
e. Kelemahan Model Project Based Learning
Model project based learning juga memiliki beberapa kelemahan
yang bisa menjadi antisipasi bagi guru dalam menggunakan
pembelajaran ini. Sudrajat & Hernawati (2020: 28) menyatakan
bahwa kelemahan dari model Project Based Learning yaitu:
1) Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan suatu masalah.
2) Membutuhkan biaya yang cukup banyak.
3) Banyak instruktur yang merasa nyaman dengan dengan kelas
tradisional,dimana instruktur memegang peran utama dikelas.
4) Banyaknya peralatan yang harus disediakan.
5) Siswa yang memiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpualan informasi akan mengalami kesulitan.
6) Ada kemungkinan siswa yang kurang aktif dalam kerja
kelompok.
7) Ketika topik yang diberikan masing-masing kelompok berbeda,
dikhawatirkan siswa tidak bisa memahami topik secara
keseluruhan.
Buck Institute For Education (2013) menyatakan bahwa
berdasarkan pengalaman yang ditemukan dilapangan Project Based
Learning memiliki beberapa kelemahan diantaranya :
1) Memerlukan banyak waktu untuk menyelesaikan masalah.
2) Membutuhkan biaya dan peralatan yang cukup banyak.
3) Siswa yang meiliki kelemahan dalam percobaan dan
pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
4) Ada kemungkinan siswa yang kurang aktif dalam kerja
kelompok
22

5) Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing


dikhawatirkan siswa tidak bisa memahami topik secara
keseluruhan.
Triana, dkk (2015) menyatakan bahwa kelemahan dari model
Project Based Learning adalah memerlukan banyak waktu untuk
menyelesaikan proyek, banyaknya peralatan yang digunakan, ada
kemungkinan siswa pasif dalam kelompok, dan membutuhkan biaya
cukup banyak. Akan tetapi kelemahan-kelemahan tersebut tidak akan
masalah selagi guru dapat menyusun pembelajaran dengan baik.

Berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan bahwa model


pembelajaran Project Based Learning ini memiliki kelemahan
diantaranya adalah memerlukan waktu yang cukup lama didalam
menyelesaikan suatu proyek, membutuhkan biaya yang cukup besar
untuk menyiapkan alat dan bahan, didalam pelaksanaannya
membutuhkan alat yang cukup banyak, kesulitan bagi beberapa siswa
didalam memecahkan suatu permasalahan yang tengah dihadapi,
sulitnya mengontrol kelas disaat proses pembelajaran berlangsung,
namun semua itu dapat diatasi dengan guru sudah menyusun rencana
pembelajaran, dan memberitahukan terlebih dahulu tujuan belajar
kepada siswa, agar pembelajaran dapat berjalan sesuai dengan
harapan.
2. Kemampuan Pemahaman Konsep
A. Pengertian Pemahaman Konsep
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di jelaskan
bahwa kemampuan adalah kewenangan (kekuasaan) untuk
menentukan (memutuskan) sesuatu (KBBI, 759). Menurut Hamalik
(2016) kemampuan dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu sebagai
berikut:
23

a. Kemampuan intrinsik adalah kemampuan yang tercakup di


dalam situasi belajar dan menemui kebutuhan dan tujuan-tujuan
murid.
b. Kemampuan ekstrinsik adalah kemampuan yang hidup dalam
diri dan berguna dalam situasi belajar yang fungsional.
Mampu adalah cakap dalam menjalankan tugas, mampu dan
cekatan. Kata kemampuan sama artinya dengan kecekatan. Mampu
atau kecekatan adalah kepandaian melakukan sesuatu pekerjaan
dengan cepat dan benar. Seseorang yang dapat melakukan dengan
cepat tetapi salah tidak dapat dikatakan mampu. Menurut Robbins
(2015) kemampuan bisa merupakan kesanggupan bawaan sejak
lahir, atau merupakan hasil latihan atau praktek. Adapun menurut
Sudrajat (2017), ability adalah menghubungkan kemampuan dengan
kata kecakapan. Setiap individu memiliki kecakapan yang berbeda-
beda. Berdasarkan beberapa kesimpulan tersebut membuktikan
bahwa kemampuan ini ada yang dari lahir dan juga bisa di latih
dengan latihan atau pembiasaan dan cara yang benar, salah satunya
dalam hal belajar.
Pemahaman menurut Bloom (Susanto, 2014) diartikan sebagai
seberapa besar siswa mampu menerima, menyerap, dan memahami
pelajaran yang diberikan oleh guru kepada siswa, atau sejauh mana
siswa dapat memahami serta mengerti apa yang dia baca, yang dia
lihat, yang dia alami, atau yang ia rasakan berupa hasil penelitian
atau observasi langsung yang dilakukan. Sejalan dengan Bloom,
Depdiknas (Mona, 2016) pemahaman konsep merupakan salah satu
kecakapan atau kemahiran yang diharapkan dapat tercapai dalam
belajar yaitu, dengan menunjukan pemahaman konsep yang
dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep, yang tepat
dalam pemecahan masalah. Menurut Aen (2020) pemahaman konsep
adalah tingkatan yang lebih tinggi daripada pengetahuan yang
diperoleh, sehingga perlu adanya pengenalan atau pengetahuan
24

untuk memahami. Artinya siswa dapat memahami suatu konsep


berdasarkan mata pelajaran yang di pelajarinya.
Selanjutnya Menurut Widyastuti (dkk 2014) disebutkan bahwa
pemahaman konsep merupakan kemampuan siswa dalam menguasai
suatu konsep/materi yang terindikasi dalam ranah kognitif dan
dengan memahamai suatu konsep siswa dapat mengetahui,
menjelaskan, mendeskripsikan, membandingkan, membedakan,
menggolongkan, memberikan contoh dan bukan contoh,
menyimpulkan dan mengungkapkan kembali suatu objek dengan
bahasanya sendiri dengan menyadari proses-proses yang dilaluinya.
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa
pemahaman konsep adalah proses individu menguasai dengan cara
menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari
pembelajaran yang dilihat melalui kemampuan bersikap, berpikir
dan bertindak yang ditunjukkan oleh siswa dalam memahami
definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat dan inti atau isi dari materi
dan kemampuan dalam memilih serta menggunakan prosedur secara
efisien dan tepat.
Penulis menyimpulkan kembali bahwa kemampuan pemahaman
konsep adalah upaya siswa untuk mengusai pembelajaran dan
mampu menunjukan pemahaman konsep yang dipelajarinya,
menjelaskan keterkaitan antar konsep, yang tepat dalam pemecahan
masalah, dan siswa dapat mengaplikasikan konsep yang dipelajari
untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk pembelajaran
selanjutnya.

B. Indikator Pemahaman Konsep

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), indikator


adalah sesuatu yang dapat memberikan petunjuk atau keterangan.
Indikator juga dapat menjadi acuan dalam mencapai suatu tujuan.
25

Indikator dapat digunakan untuk mengetahui faktor perubahan dalam


mencapai mencapai tujuan tersebut.
Indikator pemahaman konsep dalam Mona (2012) menurut Badan
Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tahun 2006 antara lain:
a) Menyatakan ulang sebuah konsep.
b) Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai
dengan konsepnya.
c) Memberikan contoh dan non contoh dari konsepnya.
Selanjutnya adalah Indikator yaitu alat ukur dalam sebuah
proses mencapai tujuan, Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP)
tahun 2006 menyebutkan indikator pemahaman konsep antara lain :
Menurut Bloom (Dewi, 2016) terdapat 7 indikator yang
dapat dikembangkan dalam tingkatan proses kognitif pemahaman
(understands) diantaranya adalah :
a. Interpreting (menafsirkan) artinya mengubah dari bentuk yang
satu ke bentuk yang lain.
b. Exemplifying (mencontohkan) berarti menemukan contoh
khusus atau ilustrasi dari suatu konsep atau prinsip.
c. Classifying (mengklasifikasikan), hal ini terjadi ketika siswa
dapat menentukan sesuatu yang dimiliki oleh suatu kategori.
d. Summarizing (merangkum), terjadi ketika siswa dapat
mengungkapkan satu kalimat yang mewakili informasi yang
diperolehnya.
e. Inferring (menginferensi), terjadi ketika siswa mampu
menemukan suatu pola dalam kejadian-kejadian yang tidak ada
dalam pembelajaran.
f. Comparing (membandingkan), siswa mampu mengidentifikasi
suatu persamaan dan perbedaan antara beberapa peristiwa, ide,
objek, masalah maupun situasi.
g. Explaining (menjelaskan), siswa harus mampu membangun
suatu model dari sebab akibat suatu sistem.
26

Berdasarkan pemaparan diatas penulis menyimpulkan bahwa


kemampuan pemahaman konsep dapat di katakan berhasil saat siswa
bisa menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari
pembelajaran yang dilihat melalui kemampuan bersikap, berpikir
dan bertindak yang ditunjukkan oleh siswa dalam memahami
definisi, pengertian, ciri khusus, hakikat dan inti atau isi dari materi
dan kemampuan dalam memilih serta menggunakan prosedur secara
efisien dan tepat, berdasarkan pemahaman konsep siswa yang di juga
di dapat dengan mengaitkan pembelajaran dalam kehidupan sehari-
hari. Penulis juga menyimpulkan bahwa siswa dapat dikatakan
berhasil yaitu saat siswa mampu; 1) Menyatakan ulang sebuah
konsep, 2) Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu
sesuai dengan konsepnya, 3)Memberikan contoh dan non contoh dari
konsepnya.
3. Aktivitas Belajar Siswa
A. Pengertian Aktivitas Belajar Siswa
Menurut Sadirman A.M (2014) menyatakan bahwa aktivitas
belajar adalah aktivitas yang bersifat mental. Dalam kegiatan belajar
kedua aktivitas itu harus terikat. Dengan demikian, kaitan antara
keduanya akan menghasilkan aktivitas belajar yang optimal.
Menurut Aliwanto (2017) aktivitas belajar adalah aktivitas yang
bersifat fisik maupun mental. Dalam proses belajar kedua aktivitas itu
harus saling berkaitan. Prinsip aktivitas adalah berbuat, berdasarkan teori
behavioristik keaktifan dalam proses belajar adalah kemauan dan
kemampuan individu untuk merespon stimuli yang datang dari luar
dirinya. Dan berdasarkan teori kognitif, keaktifan dalam belajar adalah
kesadaran mental dalam memproses informasi yang tertangkap oleh indra
(Kurniawan, Deni 2014).
Menurut Sadirman (2011) aktivitas belajar merupakan prinsip atau
asas yang sangat penting dalam interaksi belajar mengajar. Dengan kata
lain, tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas, karena pada perinsipnya
27

belajar adalah berbuat. Berbuat untuk mengubah tingkah laku yaitu


melakukan kegiatan.
Ketika siswa belajar dengan aktif, berarti siswa yang mendominasi
aktivitas pembelajaran, dengan ini mereka secara aktif menggunakan
otak, baik untuk menemukan ide pokok dari materi, memecahkan
persoalan, atau mengaplikasikan apa yang baru mereka pelajari ke dalam
persoalan yang ada dalam kehidupan nyata, dengan belajar aktif ini,
siswa diajak untuk turut serta dalam semua proses pembelajaran tidak
lanya mental akan tetapi juga melibatkan fisik.
Berdasarkan pendapat sebelumnya, dapat dikatakan bahwa
aktivitas belajar siswa adalah kegiatan siswa yang lebih mendominasi
aktivitas pembelajaran ketika proses pembelajaran berlangsung. Dengan
ini mereka secara aktif selalu berusaha meningkatkan mutu
kemampuannya, seperti berani bertanya, mengeluarkan pendapat,
mendengarkan penjelasan guru dengan baik, dan mengerjakan tugas
dengan tepat waktu.
Berdasarkan pemaparan di atas penulis penyimpulkan bahwa
aktivitas belajar adalah kegiatan yang melibatkan fisik dan mental secara
berkesinambungan agar dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan
optimal. Aktivitas belajar ini juga sangat penting untuk siswa gunanya
agar siswa aktif dalam interaksi belajar mengajar sehingga siswa dapat
bertanya, berpendapat, mendengarkan guru, dan mengerjakan tugas
dengan baik.

B. Ciri-ciri Aktivitas Belajar Siswa


Keaktifan siswa dalam belajar menurut Paul B. Diedrich dalam
Sardiman (2014) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Visual activities, yang termasuk didalamnya misalnya membaca,
b. Memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang
lain.
28

c. Oral activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya,


memberi
d. Saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi.
e. Listening activities, sebagai contoh mendengarkan: percakapan,
diskusi,musik, pidato.
f. Writing activities, seperti menulis cerita, karangan, laporan,
angket,
g. Menyalin.
h. Drawing activities, misalnya menggambar, membuat grafik, peta,
diagram
i. Motor activities, yang termasuk didalamnya antara lain:
melakukan
j. Percobaan, membuat konstruksi, bermain.
k. Mental activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi,
mengingat,
l. Memecahkan soal, menganalisa, mengambil keputusan.
m. Emotional activities, seperti: menaruh minat, merasa bosan,
gembira,
n. Bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Aktivitas yang dapat dilakukan oleh siswa di sekolah sangat beragam,
aktivitas siswa tidak hanya mendengarkan dan mencatat seperti yang
lazim terdapat di sekolah-sekolah tradisonal. Menurut Sudjana (2010),
Keaktifan belajar siswa dapat dilihat dari:
a. Partisipasi aktif dalam melaksanakan tugas belajarnya
b. Terlibat dalam pemecahan masalah
c. Bertanya kepada siswa lain/kepada guru apabila tidak memahami
persoalan yang dihadapinya
d. Berusaha mencari berbagai informasi yang diperoleh untuk
pemecahan masalah
e. Melaksanakan diskusi kelompok
f. Menilai kemampuan dirinya dan hasil yang diperolehnya
29

g. Melatih diri dalam memecahkan soal atau masalah, yaitu siswa


dapat mengerjakan soal atau masalah dengan mengerjakan LKS
h. Kesempatan menggunakan/menerapkan apa yang diperolehnya
dalam menyelesaikan tugas/persoalan yang di hadapinya.

Menurut Djamarah (2010), indikator cara belajar siswa aktif dapat dilihat
dari komponen aktivitas belajar anak didik meliputi:

a. Anak didik belajar secara individual untuk menerapkan konsep,


prinsip, dan generalisasi
b. Anak didik belajar dalam bentuk kelompok untuk memecahkan
masalah
c. Setiap anak didik berpartisipasi dalam melaksanakan tugas
belajarnya melalui berbagai cara
d. Anak didik berani mengajukan pendapat.
e. Ada aktivitas belajar analisis, sintesis, penilaian dan kesimpulan
f. Antar anak didik terjalin hubungan sosial dalam melaksanakan
kegiatan belajar
g. Setiap anak didik bisa mengomentari dan memberikan tanggapan.
Berdasarkan uraian yang dikemukakan oleh para ahli mengenai
keaktifan maka dapat disimpulkan keaktifan siswa adalah suatu kegiatan
dimana siswa terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Keaktifan yang
ditekankan dalam kegiatan pembelajaran adalah aktivitas pada siswa,
sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses kegiatan belajar
terciptalah situasi belajar yang aktif. Keaktifan siswa selama proses
pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya keinginan atau
motivasi siswa untuk belajar.
Beberapa Indikator keaktifan belajar menurut beberapa ahli dapat
penulis menyimpulkan yaitu:
a. Turut serta dalam melaksanakan tugas belajar
b. Terlibat dalam sosialisasi di kelompok
c. Dorongan dan kebutuhan belajar
30

4. Materi Daerahku Dan Kekayaan Alamnya


Materi bangun ruang ditemukan di kelas IV Semester 2 dengan
Capaian Pembelajaran (CP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dan
Tujuan Pembelajaran (TP) dengan materi Daerahku dan Kekayaan
alamnya sebagai berikut.

Tabel 2.1
CP, ATP dan TP Materi Daerahku Dan Kekayaan Alamnya

Capaian Alur Tujuan Tujuan


Pembelajaran Pembelajaran Pembelajaran
Di akhir fase B ini a. Menganalisis a. Peserta didik dapat
peserta didik mampu ragam bentang menganalisis ragam
mengamati fenomena alam di daerah bentang alam di
dan peristiwa secara tempat daerah tempat
sederhana dengan tinggalnya tinggalnya dengan
menggunakan benar melalui
pancaindra dan dapat b. Menyimpulka kegiatan proyek
mencatat hasil n kekayaan
pengamatannya. alam yang ada b. Peserta didik dapat
Peserta di daerah menyimpulkan
didik mengidentifikasi tempat kekayaan alam yang
ragam bentang alam tinggalnya ada di daerah tempat
dan keterkaitannya tinggalnya dengan
dengan profesi benar melalui proyek
masyarakat. perkelompok yang
sudah di rencanakan.

Berdasarkan CP, ATP dan TP materi Daerahku dan Kekayaan


Alamnya pada kelas IV maka dapat diringkas materi yang berkaitan
31

dengan buku IPAS kelas IV yang di rancang oleh


KEMENDIKBUDRISTEK (2021).
Daerahku dan Kekayaan Alamnya :
Pertanyaan Esensial :
1. Apa saja kekayaan alam di daerah tempat tinggalku?
2. Bagaimana pengaruh geografis daerah tempat tinggalku
terhadap kekayaan alamnya?
3. Bagaimana cara bijak untuk memanfaatkan kekayaan alam
di daerah tempat tinggalku?

Gambar 2.1
Hasil Pertanian dan Perkebunan di Pasar

Tahukah kalian bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki ragam


bentang alam yang berbeda-beda? Lalu, tahukah kalian, bahwa hal ini
pun berpengaruh terhadap potensi sumber daya yang dimiliki oleh
masing-masing daerah? Kabupaten Bima, misalnya, memiliki bentang
alam yang terdiri dari dataran tinggi, dataran rendah, dan beberapa
daerahnya berbatasan langsung dengan lautan. Curah hujan yang rendah
juga, di dataran Kabupaten Bima, bawang merah dapat tumbuh dan
berkembang dengan baik. Bambu juga termasuk sumber daya alam yang
banyak dimanfaatkan. Perabotan rumah tangga, perabotan dapur, dan
dinding rumah terbuat dari bambu.
Bukan hanya itu, bambu juga digunakan sebagai alat musik dan
bahan membuat mainan. Di daerah kalian, pasti ada sesuatu yang bisa
32

dan biasa dimanfaatkan penduduknya. Bisa berupa tumbuhan atau


hewan. Bisa juga sungai, danau, rawa, gunung, dan sebagainya.
Indonesia memiliki beragam jenis biji kopi. Ada Kopi Aceh Gayo, Kopi
Toraja, Kopi Papua Wamena, Kopi Kintamani Bali, Kopi Flores Bajawa,
Kopi Java Ijen Raung, Kopi Rangsang Meranti Riau, dan masih banyak
lagi. Hal yang paling luar biasa, kopi dari Aceh hingga Papua memiliki
karakteristik dan cita rasa yang berbeda-beda. Wah, bagaimana bisa?
Ternyata hal ini dipengaruhi dari tanah serta ketinggian tempat kopi
tersebut ditanam. Tidak hanya tumbuhan. Ternyata beberapa hewan pun
memiliki lingkungan-lingkungan tertentu untuk tumbuh dan berkembang
biak. Itu sebabnya, di beberapa daerah kita mudah menemukan ikan
mas, tetapi di daerah lainnya kita hanya menemukan ikan bandeng. Lalu
bagaimana suatu daerah tetap menyediakan produk-produk yang tak
tersedia dari kekayaan alam daerahnya? Kita dapat mendatangkan yang
kita butuhkan dari daerah lain loh, begitu pun sebaliknya. Bahkan, kita
juga dapat mendatangkan dari luar negara Indonesia, begitu juga
sebaliknya.
Apa yang Sudah Aku Pelajari?
1. Potensi kekayaan alam di sebuah daerah bergantung pada
bentang alamnya.
2. Suatu daerah dapat mendatangkan kekayaan alam dari
daerah lain untuk memenuhi kebutuhan daerahnya.
3. Pengelolaan kekayaan alam yang bijak dapat membantu
mempertahankan keberadaannya hingga generasi berikutnya.

B. Kajian Penelitian yang Relevan


Adapun persamaan dan perbedaan dari tulisan ini dengan penelitian
terdahulu adalah :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Faturrahmaniah pada Tahun 2020 yang
berjudul “Penerapan Model Project Based Learning Untuk
Meningkatkan Pemahaman Konsep Ipa Siswa SMP” Meningkatkan
33

pemahaman konsep dan sikap peduli lingkungan siswa kelas VII SMP
Negeri 02 Wera. Hasil penilitian menunjukkan bahwa terdapat
peningkatan pemahaman konsep siswa pada pelajaran IPA dengan model
Project Based Learning.
Persamaan dan perbedaan antara penelitian ini dengan penelian
yang akan dilakukan Faturrahmaniah antara lain:
a. Tulisan ini dengan penelitian Faturrahmaniah adalah sama-sama
model pembelajaran Project Based Learning dan membahas
pemahaman konsep.
b. Penelitian Faturrahmaniah di lakukan pada anak SMP, sedangkan
penelitian ini dilakukan pada kelas IV SD.
c. Penelitian Faturrahmaniah pada pembelajaran IPA dan
mengedepankan sikap peduli lingkungan di dalamya, sedangkan
penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil belajar siswa.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Apip solihin, Ida Nurlaili Fajar, dan Galih
Dani Septian pada tahun 2019 yang berjudul “Meningkatkan
Kemampuan Pemahaman Konsep IPS Menggunakan Model Project
Based Learning untuk Kelas V SD”. Diketahui bahwa terdapat pengaruh
model Project Based Learning terhadap hasil belajar IPS dengan materi
Perjuangan Bangsa dalam Memperjuangkan Kemerdekaaan siswa kelas
V.
Persamaan dan perbedaan antara penelitian ini dengan penelian
yang akan dilakukan Apip solihin, Ida Nurlaili Fajar, dan Galih Dani
Septian antara lain:
a. Tulisan ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Apip solihin, Ida
Nurlaili Fajar, dan Galih Dani Septian yaitu sama sama menggunakan
metode penelitian kuantitatif eksperimen dan penggunaan model
pembelajaran Project Based Learning.
b. Penelitian yang dilakukan oleh Apip solihin, Ida Nurlaili Fajar, dan
Galih Dani Septian mengukur hasil belajar sedangkan penelitian yang
34

akan dilakukan adalah mengukur kemampuan pemahaman konsep


siswa.
C. Kerangka Pikir
Hasil Prariset yang di lakukan pada SDN 94 Singkawang Timur pada
mata pelajaran IPAS di temukan bahwa hasil belajar siswa masih di bawah
KKM, dan dari observasi langsung penulis ke sekolah siswa belum tergolong
aktif dalam proses pembelajaran, kelas tersebut masih menggunakan
pembelajaran langsung, sehingga pemahaman konsep siswa pada pelajaran
masih rendah.
Dalam pemahaman konsep, siswa dituntut untuk mengerti dan
memahami arti dari informasi yang diterima, dapat menganalisis, membuat
dugaan, dan kesimpulan dari informasi yang diberikan untuk menyelesaikan
suatu masalahnya. Project based learning merupakan salah satu model
pembelajaran yang menuntut siswa untuk aktif dan kreatif dalam pemecahan
masalah. Dalam model pembelajaran ini, pembelajaran dirancang sedemikian
rupa sehingga siswa dapat menemukan konsep dan prinsip melalui proses
mentalnya sendiri. Dengan demikian, pembelajaran melalui model project
based learning dapat meningkatkan kemampuan terhadap pemahaman konsep
IPAS siswa.

Kondisi Awal Treatment Kondisi Akhir

a. Kurangnya kemampuan Model Project [Link] perbedaan


pemahaman konsep Based Learning antara siswa kelas kontrol

siswa, hal ini dapat dan kelas ekperimen yang


[Link] telah diterapkan model
dilihat dari hasil pertanyaan
Project Based Learning
mendasar
prariset yang terhadap kemampuan
menunjukan bahwa [Link]
pemahaman konsep siswa
perencanaan
hasil belajar siswa proyek pada materi daerahku dan
kekayaan alamnya kelas IV
masih di bawah KKM. [Link]
jadwal di SDN 94 Singkawang.
b. Siswa belum tergolong
[Link] peningkatan
[Link]
aktif dalam proses siswa dan aktifitas siswa pada kelas
pembelajaran, di lihat kemajuan eksperimen di lihat dari
proyek
dari observasi langsung hasil belajar siswa yang
5. Menguji hasil meningkat pada materi
penulis di kelas IV,
[Link] daerahku dan kekayaan
karna masih pengalaman alamnya di kelas IV SDN
menggunakan 94 Singkawang.
pembelajaran langsung.
35

Gambar 2.2
Kerangka Pikir

D. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah
penelitian yang dikemukakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dikatakan
jawaban sementara karena berdasarkan teori-teori yang relevan belum
didasarkan pada fakta-fakta empiris yang dilakukan dalam pengumpulan data.
Hipotesis pada penelitian ini adalah:
1. Terdapat perbedaan antara siswa kelas kontrol dan kelas ekperimen yang
telah diterapkan model Project Based Learning terhadap kemampuan
pemahaman konsep siswa pada materi daerahku dan kekayaan alamnya
kelas IV di SDN 94 Singkawang.
2. Aktifitas siswa tergolong aktif pada kelas eksperimen di lihat dari
perbedaan hasil belajar siswa pada materi daerahku dan kekayaan
alamnya di kelas IV SDN 94 Singkawang.
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian


1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
penelitian kuantitatif. Hamdi & Bachrudin (2014:5) menyatakan bahwa
penelitian kuantitatif menekankan fenomena- fenomena objektif dan
dikaji secara kuantitatif, maksimalisasi objektivitas desain penelitian ini
dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik,
struktur dan percobaan terkontrol. Alasan memilih Pendekatan kuantitatif
yaitu untuk mendapatkan data angka berupa kemampuan pemahaman
konsep siswa dengan diterapkan model belajar project based learning di
kelas IV SDN 94 Singkawang.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah quasi
experimental design atau eksperimen semu. Dengan rancangan desain
yang di gunakan adalah Posttest Only Control Design. Hal ini dilakukan
dengan alasan untuk mendapatkan perbandingan antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Menurut Masyhuri dan Zainuddin (Andini, 2015),
eksperimen semu adalah penelitian mencari hubungan sebab akibat
kehidupan nyata dimana perubahan sulit atau tidak mungkin di lakuakn,
pengelompokan secara acak mengalami kesulitan dan sebagainya.
Adapun desain penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Desain Penelitian

R1 X1 O1

R2 O1

36
37

Keterangan :
R₁ : Kelas Eksperimen
R2 : Kelas Kontrol
X1 : Perlakuan pada kelas eksperimen ( model project based learning )
O1 : Posttest
(Sugiyono, 2014)
B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini akan di SDN 94 Singkawang yang terletak di Jl. Demang


Akub, Singkawang Utara. Sedangkan penelitian ini akan dilaksanakan pada
semester genap tahun ajaran 2023/2024.

C. Populasi dan Sampel Penelitian


1. Populasi
Populasi menurut Sugiyono (2017) adalah wilayah generalisasi
yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas dan
karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan
kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi bukan hanya manusia tetapi
juga objek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar
jumlah yang ada pada objek atau objek yang dipelajari, tetapi meliputi
seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subjek atau objek
tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa ke IV yang
terdiri dari siswa kelas IV Arasyid dan IV Al-Musshowwir di SDN 94
Singkawang yang terdiri dari 42 Siswa.
Tabel 3.2
Populasi Penelitian
No Kelas Jenis kelamin Jumlah
Laki-laki Perempuan Siswa
1. IV Arrasyid 12 9 21
2. IV Al-Musshowwir 12 9 21
Total 24 18 42
(Sumber: Observasi langsung)
38

2. Sampel
Sugiyono (2015) menyatakan bahwa sampel merupakan bagian
dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Penentuan
sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability
sampling, Sugiyono (2015) menyatakan bahwa nonprobability sampling
adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberikan
peluang/kesempatan yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk
dipilih menjadi anggota sampel. Sedangkan teknik yang digunakan dalam
penelitian ini adalah teknik sampling purposive yakni cara pengambilan
sampel dengan pertimbangan tertentu. Sampel yang diambil dalam
penelitian ini yaitu kelas IV Arrasyid.
Tabel 3.3
Sampel Penelitian
No Kelas Jumlah Siswa Keterangan
1. IV Arrsayid 21 Kelas Eksperimen
2. IV Al-Musshowwir 21 Kelas Kontrol
(Sumber: Observasi langsung)

D. Definisi Operasional
Untuk memahami istilah-istilah variabel dalam penelitian ini maka
dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Model Pembelajaran Project Based Learning (PjBL)
Project based learning adalah model pembelajaran yang berpusat
pada siswa dan mendorong tumbuhnya kreatifitas siswa dalam
pembelajaran. Project based learning juga menjadikan pembelajaran yang
lebih bermakna untuk siswa dikarenakan mengolah pengetahuan sehari-
hari untuk menghasilkan produk yang nyata. Adapun sintaks atau langkah-
langkah dalam project based learning sebagai berikut ; 1) Memberikan
pemahaman dasar, 2) Mengarahkan siswa mendesain proyek, 3)
Pelaksanaan proyek, 4) Presentasi proyek, 5) evaluasi dari hasil proyek.
2. Kemampuan Pemahaman Konsep
39

kemampuan pemahaman konsep adalah upaya siswa untuk mengusai


pembelajaran dan mampu menunjukan pemahaman konsep yang
dipelajarinya, menjelaskan keterkaitan antar konsep, yang tepat dalam
pemecahan masalah, dan siswa dapat mengaplikasikan konsep yang
dipelajari untuk kehidupan sehari-hari maupun untuk pembelajaran
selanjutnya. Penulis juga menyimpulkan bahwa siswa dapat dikatakan
berhasil yaitu saat siswa mampu; 1) Menyatakan ulang sebuah konsep, 2)
Mengklasifikasi objek-objek menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan
konsepnya, 3)Memberikan contoh dan non contoh dari konsepnya.
3. Materi Daerahku dan Kekayaan Alamya
Daerahku dan kekayaan alamnya adalah materi yang mengenalkan siswa
dengan kekayaan alam sekitarnya pada bab 5 kelas IV SD.

E. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


1. Teknik Pengumpulan Data
Sugiyono (2015) menyatakan Teknik pengumpulan data
merupakan langkah-langkah yang paling strategis dalam penelitian.
Karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Pada
penelitian ini pengumpulan data menggunakan teknik sebagai berikut.
a. Tes Pengukuran
Kusumastuti, dkk (2020) menyatakan bahwa tes merupakan
sejumlah butir soal atau tugas yang harus dikerjakan responden secara
jujur untuk mengukur suatu aspek pada individu. Tes yang diberikan
dalam penelitian adalah berupa tes kemampuan pemahaman konsep
berbentuk esai yang berjumlah 5 butir soal yang sesudah penerapan
model Project Based Learning. Tes ini diberikan kepada dua kelas
sampel yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol.
b. Non Tes
Teknik non tes adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan
selain tes. Dalam penelitian ini menggunakan teknik non-tes yaitu :
1) Observasi
40

Suharsimi (2013) menyatakan bahwa observasi sebagai


suatu aktivitas yang sempit, yakni memperhatikan sesuatu dengan
menggunakan mata. Didalam pengertian psikologik, observasi atau
yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan
pemusatan perhatian terhadap suatu objek dengan menggunakan
seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui
penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba dan pengecap.

2. Instrumen Pengumpulan Data


Kusumastuti (2020) menyatakan bahwa instrumen merupakan alat-
alat yang digunakan untuk memperoleh atau mengumpulkan data dalam
rangka memecahkan masalah penelitian atau mencapai tujuan penelitian.
Tujuan dari instrumen ini adalah untuk mengukur variabel dan telah
teruji validitas dan reabilitasnya. Instrumen pada penelitian ini adalah
sebagai berikut :
a. Lembar Tes
Tes adalah seperangkat alat atau prosedur yang digunakan
untuk mengetahui atau mengukur suatu dalam suasana, dengan cara
dan aturan-aturan yang sudah ditentukan (Suharsimi, 2018).
Penelitian ini menggunakan lembar tes kemampuan pemahamn
konsep siswa berbentuk uraian yang berjumlah 10 butir soal yang
memuat indikator kemampuan pemahaman konsep siswa yaitu : a)
Menyatakan ulang sebuah konsep. b) Mengklasifikasi objek-objek
menurut sifat-sifat tertentu sesuai dengan konsepnya. c)
Memberikan contoh dan non contoh dari konsepnya. Lembar tes
kemampuan pemahaman konsep ini akan di validasi oleh 2 dosen
pembimbing ISBI Singkawang dan 1 guru kelas SDN 94
Singkawang. Lembar tes kemampuan pemahaman konsep ini
digunakan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan pemahaman
konsep siswa mengenai materi daerahku dan kekayaan alamnya.
41

Adapun dalam penyusunan instrumen harus memperhatikan hal-hal


berikut :

1) Membuat kisi-kisi Soal


Kisi- kisi digunakan sebagai pedoman untuk penulisan soal agar
sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan sesuai dengan
tujuan tes yang akan diterapkan. Kisi- kisi soal yang disusun
harus memiliki beberapa aspek diantaranya indikator
kemampuan pemahaman konsep, skor soal dan nomor soal.
2) Penyusunan Butir Soal
Penyusunan butir soal berpedoman pada kisi-kisi soal dan buku
penunjang IPAS di kelas IV SDN 94 Singkawang.
3) Membuat Kunci Jawaban
Setelah pertanyaan/pernyataan dibuat sesuai dengan kisi-kisi,
selanjutnya dibuat kunci jawaban yang sesuai dengan
pertanyaan/pernyataan yang ada dan pemberian skor disesuaikan
dengan kisi-kisi soal yang telah dibuat.
4) Uji Validitas
Validitas merupakan derajat ketetapan antara data yang
terjadi pada objek penelitian dengan daya yang dapat dilaporkan
oleh peneliti. Validitas adalah ukuran yang menunjukkan
tingkat-tingkat kevalidan atau keshahihan suatu instrumen
(Suharsimi, 2018). Dengan demikian data yang valid adalah data
yang “tidak berbeda” antara data yang dilaporkan oleh peneliti
dengan data sesungguhnya yang terjadi pada objek penelitian.
Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa validitas
merupakan ukuran mengenai tingkat kevalidan atau keshahihan
suatu instrumen atau soal. Oleh karena itu penulisan soal
disusun berdasarkan kurikulum Merdeka maka validitas yang
42

penulis gunakan dalam penelitian ini meliputi validitas isi dan


validitas konstruk.
a) Validitas Isi
Menurut Suharsimi (2018) validitas isi berkaitan dengan
kemampuan suatu instrumen mengukur tujuan tertentu yang
sejajar dengan konsep yang harus diukur. Uji validitas ini
dilakukan untuk menguji kesesuaian soal tes dengan kisi-
kisi dan kesesuaian dengan kunci jawaban dengan peskroan
dan jumlah tes. Adapun rumus untuk menghitung validitas
isi, sebagai berikut :

x=
∑ xi
n
Keterangan:

x : rata -rata soal


∑ xi : skor yang diperoleh
n : banyaknya pernyataan
Kemudian setelah menghitung instrumen dengan
menggunakan rumus langkah selanjutnya adalah
mengklarifikasi kriteria koefisien validitas isi sebagai
Berikut :
Tabel 3.4
Kriteria Koefisien Validitas Isi
Nilai Kategori
1,0 ≤ x ≤ 1,8 Sangat kurang valid
1,8¿ x ≤ 2 , 26 Kurang valid
2,6 ¿ x ≤ 3 , 4 Cukup valid
3,4 ¿ x ≤ 4 , 2 Valid
4,2 ¿ x ≤ 5 , 0 Sangat valid
(Suharsimi,2015)
Setelah instrumen dikatakan valid, maka langkah
selanjutnya proses pengujian yang di lakukan dengan
validitas konstruk.
b) Validitas Konstruk
43

Suharsimi (2018) menyatakan bahwa validitas konstruk


merupakan validitas konstruksi apabila butir-butir soal yang
membangun tes tersebut untuk mengukur aspek berpikir
siswa. Untuk menentukan validitas konstruk maka soal diuji
dengan rumus produk moment sebagai berikut:

r xy = N ∑ xy−¿ ¿ ¿

Keterangan :
r xy: koefisien butir
N : banyaknya siswa yang menjawab tes
∑ X : jumlah skor siswa yang tes pertama
∑ Y : jumlah skor siswa yang tes kedua
Kemudian menghitung instrumen dengan menggunakan
rumus product moment langkah selanjutnya adalah
mengklasifikasikan koefisien validitas sebagai berikut :
Tabel 3.5
Klasifikasi koefisien validitas konstruk
Koefisien Validitas Interprestasi
0,80 ¿ r xy ≤ 1 , 00 Sangat tinggi
0,60¿ r xy ≤ 0 , 80 Tinggi
0,40¿ r xy ≤ 0,60 Sedang
0,20 ¿ r xy ≤ 0,40 Rendah
0,00¿ r xy ≤ 0,20 Sangat rendah
(Suharsim, 2018)
Adapun klasifikasi koefisien validitas konstruk dari
butir soal yang digunakan berada pada kategori sedang,
tinggi dan sangat tinggi. Adapaun koefisien validitas
konstruk rendah dan sangat rendah direvisi atau tidak
digunakan.
5) Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas adalah indeks yang menunjukkan sejauh


mana suatu alat ukur dapat dipercaya atau diandalkan. Suatu test
44

dikatakan reliabel jika test tersebut dipercaya (Suharsimi,2018).


Untuk mengukur keajegan soal digunakan perhitungan alpha
Cronbach sebagai berikut:

[ ][ ∑
]
2
n si
r 11 = 1
n−1 si
2

Keterangan :
r 11: koefisien reliabilitas
n: banyak butir soal

∑ si2: jumlah varians setiap butir soal


2
si : varians total

Dengan varians sebagai berikut:

(∑ X )
2

2
si = ∑x−2
N
N

N : jumlah subjek (siswa)

∑ x 2: jumlah kuadrat skor soal


2
( ∑ X ) : jumlah dari jumlah kuadrat setiap soal
Setelah menghitung reliabilitas soal dengan rumus Alpha
Cronbach langkah selanjutnya adalah mengklasifikasikan
interprestasi koefisien reliabilitas yang disajikan sebagai
berikut :
Tabel 3.6
Kriteria Koefisien Reliabilitas
Koefisiens Reliabilitas Interprestasi
r 11 ≤ 0,20 Sangat rendah
0,20 ¿ r 11 ≤ 0,40 Rendah
0 , 40< r 11 ≤ 0,70 Cukup
0,70¿ r 11 ≤ 0 , 90 Tinggi
0,90 ¿ r 11 ≤ 0,100 Sangat tinggi
(Suharsimi, 2015)
45

Adapun kriteria koefisien reliabilitas pada butir soal yang


digunakan dalam penelitian ini adlah cukup, tinggi,dan sangat
tinggi. Adapun kriteria koefisien reliabilitas yang rendah direvisi
atau tidak digunakan.
6) Indeks Kesukaran Soal
Suharsimi (2018) mengatakan bahwa taraf kesukaran bisa
disebut indeks kemudahan karena semakin mudah soal itu
semakin besar pula bilangan indeksnya. Semakin tinggi
indeksnya menunjukkan soal semakin mudah dan tetap disebut
indeks kesukaran. Adapun rumus untuk mencari indeks
kesukaran adalah sebagai berikut
Mean
TK =
Skor Maksimum Yang Ditetapkan

Nilai indeks tingkat kemudahan yang diperoleh,


diinterprestasikan dengan menggunakan kriteria tingkat
kemudahan pada tabel 3.11 sebagai berikut:

Tabel 3.7
Klasifikasi Interprestasi Koefisien Tingkat Kesukaran
Nilai Kategori
P = 0,00 Terlalu Sukar
0 , 00< P ≤ 0,30 Sukar
0 , 30< P ≤ 0 ,70 Sedang
0 , 70< P ≤ 0,100 Mudah
P = 100 Terlalu Mudah
(Suharsimi, 2018)

Adapun klasifikasi interprestasi koefisien tingkat


kesukaran butir soal yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sedang, sukar dan terlalu sukar. Adapun klasifikasi
interprestasi koefisien tingkat kesukaran butir soal yang mudah
dan terlalu mudah direvisi atau dibuang.
46

7) Daya Pembeda Soal


Suharsimi (2018) menyatakan bahwa daya pembeda adalah
kemampuan sesuatu soal untuk membedakan antara peserta
didik yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang
lemah (berkemampuan lemah). Adapun rumus untuk
menganalisis daya pembeda soal adalah sebagai berikut :

X A −X B
DP =
Skor Maksimum

Keterangan :
D : Daya pembeda
X A : Rata-rata kelompok kelas atas
X B : Rata-rata kelompok kelas bawah
skor maksimum : Skor tertinggi yang telah ditetapkan
Adapun indeks dan kategori daya pembeda dapat dilihat
pada tabel 3.9 sebagai berikut :
Tabel 3.8
Indeks dan kategori daya pembeda
Indeks Kategori
0,70¿ D ≤1,00 Sangat baik
0 , 40< D≤ 0,70 Baik
0 , 20< D ≤ 0 , 40 Cukup
0 , 00< D ≤ 0 , 20 Jelek
Negative Semua tidak baik/ diganti
(Suharsimi, 2015)
Adapun indeks dan kategori daya pembeda pada butir soal
yang digunakan dalam penelitian ini adalah cukup, baik dan
sangat baik. Sedangkan indeks dan kategori daya pembeda pada
butir soal jelek atau semua tidak baik maka direvisi atau tidak
digunakan.

F. Teknik Analisis Data


47

Sugiyono (2015) menyatakan bahwa analisis data merupakan kegiatan


setelah pengumpulan data dari seluruh responden untuk dikumpulkan. Teknik
analisis data dalam penelitian kuantitatif menggunakan statistik. Kegunaan
dari analisis data adalah untuk mendapatkan data yang lebih akurat atau valid.
Untuk itu, peneliti harus memperhatikan langkah-langkah analisis data yang
diperoleh dari post-test. Teknik analisis data merupakan cara untuk menjawab
semua permasalahan pada penelitian yang akan diteliti. Untuk menjawab
rumusan masalah penelitian dilakukan sebagai berikut :
1. Untuk menjawab sub masalah yang pertama yaitu, Apakah terdapat
perbedaan kemampuan pemahaman konsep IPAS pada siswa setelah di
terapkan model pembelajaran project based learning dengan model
pembelajaran langsung pada materi Daerahku dan Kekayaan Alamnya.
menggunakan rumus sebagai berikut :
a. Uji Normalitas
Sugiyono (2019) menyatakan uji normalitas digunakan untuk
mengetahui data berdistribusi normal atau tidak sehingga langkah
selanjutnya tidak menyimpang dari kebenaran dan dapat dipertanggung
jawabkan. Sehingga untuk menentukan normalitas data menggunakan
uji Chi-Kuadrat. Adapun rumus chi-kuadrat adalah sebagai berikut :
k
(ƒ ˳−ƒₕ)
X² = ∑
i=1 ƒₕ
keterangan :
X ² = Chi- Kuadrat
ƒ˳ = frekuensi yang diobservasi
ƒₕ = frekuensi yang diharapkan
dalam pengujian normalitas dengan menggunakan chi- kuadrat (x²)
berlaku ketentuan bahwa Kriteria yang digunakan adalah Ho diterima
jika X 2hitung < X 2tabel dan Ho ditolak jika X 2hitung > X 2tabel .
b. Uji Homogenitas
Uji Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah data dalam
variabel X dan Y bersifat homogen atau tidak. Pengujian homogenitas
48

adalah pengujian yang mengenai sama tidaknya variansi-variansi dua


buah distribusi atau lebih. Untuk itu sebelum dilakukan analisis varian
untuk pengujian hipotesis, maka terlebih dahulu melakukan pengujian
homogenitas varian dengan uji F (Sugiyono, 2019). Berikut ini adalah
langkah-langkah yang dilakukan dalam uji homogenitas [Link]
uji F dengan rumus:
varians terbesar
F=
varians terkecil
Kriteria yang digunakan adalah Ho diterima jika F h itung ¿
F tabel dan data berarti homogen. Dan Ho ditotal jika F h itung ≥ F tabel
berarti data tidak homogen dengan menggunakan alfa= 5%. F tabel
diperoleh dengan dk pembilang N 1 – 1 dan dk penyebut N 2 – 1.
a. Uji- t
Jika kedua data sudah normal dan homogen maka untuk pengujian
hipotesisnya menggunakan statistik parametris yaitu Uji-t sebagai
berikut :
t x 1−¿ x
hitung=¿ 2
¿¿

√ [ ]
2 2
(n1−1) S ₁ + (n1−1) s2 1 1
+
n1 +n2−1 n1 n2

Adapun kriteria dari Uji- t adalah sebagai berikut :


a) Jika t hitung > ¿ t tabel, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
perbedaan kemampuan pemahaman konsep siswa setelah
diterapkan model Project Based Learning pada materi
daerahku dan kekayaan alamnya
b) Jika t hitung < ¿ t tabel, maka dapat disimpulkan bahwa tidak
terdapat perbedaan kemampuan pemahaman konsep siswa
setelah di terapkan model Project Based Learning pada materi
daerahku dan kekayaan alamnya.
2. Untuk menjawab sub rumusan masalah dua, yaitu Apakah aktivitas belajar
siswa tergolong aktif saat di terapkan model project based learning pada
materi daerahku dan kekayaan alamnya, Lngkah-langkah pengamatan
49

terhadap aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung adalah


sebagai berikut :
Presentase aktivitas siswa menggunakan rumus
Xi
P = N X 100%

Keterangan :
ES = Persentase frekuensi siswa untuk setiap kegiatan
Xi = Jumlah skor yang di peroleh siswa
N = Jumlah skor maksimal
Adapun kriteria presentase setiap kategori aktivitas pemebelajaran,
dapat di lihat pada tabel berikut :
Tabel 3.9
Kriteria Aktivitas Belajar Siswa

Jumlah persentase Kriteria


80% ˂ aktivitas ≤ 100% Sangat Tinggi
60% ˂ aktivitas ≤ 80% Tinggi
40% ˂ aktivitas ≤ 60% Cukup Tinggi
20% ˂ aktivitas ≤ 40% Rendah
0% ˂ aktivitas ≤ 20% Sangat Rendah
(Ahdini, 2011)
Dalam penelitian ini, aktivitas belajar siswa yang di harapkan
tergolong aktif, yaitu aktivitas siswa berada pada kategori tinggi dan
sangat tinggi.
DAFTAR PUSTAKA

Amri, Dkk. (2020). Mengkombinasikan Project Based Learning dengan STEM


Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Teknikal dan Karakter Kerja Siswa
SMK. Jurnal Teknologi, Kejuruan, dan Pengajarannya, 43(1)

Apriyanto, dkk. (2020). Perbandingan Model Pembelajaran Value Clarifications


Technique (VCT) Berbasis Brainstorming dan Berbasis Diskusi Terhadap
Pemahaman Konsep Matematika. Prosiding Seminar Nasional Sains 2020,
1(1)
Arkasari, dkk. (2014). Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Plus
Oleh Guru Matematika Di Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI)
SMPN 3 Jember. Jurnal [Link] , 3(4), 193-204
Budiwaluyo & Muhid, A. (2021). Manfaat Bermain Papercraft Dalam
Meningkatkan Kreativitas Berpikir Pada Anak Usia Dini. Jurnal Anak
Usia Dini dan Pendidikan Anak Usia Dini, 7(1)
Cahyadi, dkk. (2019). Peningkatan Hasil Belajar Tematik Terpadu Melalui Model
Project Based Learning Pada Siswa Sekolah Dasar. Jurnal Riset
Tekhnologi dan Inovasi Pendidikan, 2(1)

Darwanto. (2019). Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis. Jurnal Umko [Link],


9(2), 20-26

Djonoamiarjo. (2019). Pengaruh Model Problem Based Learning Terhadap Hasil


Belajar. Jurnal Pendidikan Ilmu Nonformal, 5(1)
Fahrurrozi & Hamdi. (2017). Metode Pembelajaran Matematika. NTB:
Universitas Hamzanwadi Press
Faturohman. (2015). Model-Model Pembelajaran Inovatif. Yogyakarta: Ar-Ruzz
media
Faturahman, I & Afriansyah, EA. (2020). Peningkatan Kemampuan Berpikir
Kreatif Matematis Siswa Melalui Problem Solving. Jurnal Pendidikan
Matematika, 9(1)
Hamdi, A.S., & Bachruddin, E. (2014). Metode penelitian Kuantitatif aplikasi
dalam pendidikan. Yogyakarta: Deepublish

Kartika, Y & Husna, N. (2018). Meningkatkan Pemahaman Konsep Siswa Pada


Materi Sifat-Sifat Bangun Ruang Dengan Model Pembelajaran Project
Based Learning Di Kelas VI SD Negeri 1 Sawang. Jurnal Pendidikan
Almuslim, 6(2)

Kusumastuti A, dkk. (2020). Metode penelitian kuantitatif. Semarang: CV Budi


Utama
50
51

Lestari & Yudhanegara. (2017). Penelitian Pendidikan Matematika. Bandung:


Refika Aditama
LP2M. (2023). Pedoman Penyusunan Skripsi STKIP Singkawang Tahun 2023.
Singkawang: STKIP
Meilawati, DF. (2020). Analisis Pemahaman Konsep Matematis Siswa Kelas 4
Sekolah Dasar. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, 2

Minarni A, dkk. (2020). Kemampuan Matematis. Medan: Harapan Cerdas


Publisher

Mulyadi, E. (2015). Penerapan Model Project Based Learning Untuk


Meningkatkan Kinerja dan Prestasi Belajar Fisika Siswa Smk. Jurnal
Pendidikan Teknologi dan Kejuruan, 22(4), 385-395
Nuha, R & Pedhu, Y. (2021). Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dan
Kemampuan Berpikir Kreatif Mahasiswa Program Studi Bimbingan Dan
Konseling. Jurnal Psiko-Edukasi. 19(2), 128-139
Nurfitriyanti, M. (2016). Model Pembelajaran Project Based Learning Terhadap
Kemampuan Pemecahan Masalah Matematika. Jurnal Formatif, 6(2), 149-
160
Octariani, D & Rambe, H, I. (2020). Model Pembelajaran Berbasis Project Based
Learning Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematika
Siswa SMA. , 11(1), 126-130
Purnomo,H & Ilyas,Y. (2019). Tutorial Pembelajaran Berbasis Proyek.
Yogyakarta: K-Media
Ranggawuni,dkk. (2014). Kemampuan Berpikir Kreatif Siswa Berdasarkan Pola
Asuh Orangtua Siswa kelas VII di SMP Negeri 8 Jakarta Pusat. Jurnal
Bimbingan dan Konseling, 3(2)
Rohana, RS & Wahyudin, D. (2017). Project Based Learning Untuk
Meningkatkan Berpikir Kreatif Siswa SD Pada Materi Makanan dan
Kesehatan. Jurnal Penelitian Pendidikan, 16(3)
Sari P., S, dkk. (2019). Penerapan Model Project Based Learning untuk
Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kreatif Peserta Didik. JP2AE, 5(2)
Setyowati. (2021). Upaya Peningkatan Motivasi Belajar dan Pemahaman Konsep
Tekanan Melalui Penerapan Model Pembelajaran Project Based Learning
(PjBL) Berbantuan Media Zoom Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 21
Kota Bekasi Tahun Ajaran 2020/2021. Jurnal Pendidikan Dasar, 9(8)
Suciani, dkk. (2018). Pemahaman Model Pembelajaran Sebagai Kesiapan Praktik
Pengalaman Lapangan (PPL) Mahasiswa Program Studi Pendidikan
Tataboga. Jurnal media,pendidikan,gizi dan kuliner, 7(1)
52

Sudrajat, A & Hernawati, E. (2020). Modul Model-Model Pembelajaran.


Pusdiklat Tenaga Teknis Pendidikan dan Keagamaan Kementrian Agama
RI
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV Alfabeta
Suharsimi, A. (2018). Prosedur Penelitian. Jakarta: PT Rineka Cipta
Wahyu, R. (2016). Implementasi Project Based Learning (Pjbl) ditinjau Dari
Penerapan Kurikulum 2013. Jurnal Tecnoscienza, 1(1)

Anda mungkin juga menyukai