0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
199 tayangan8 halaman

Alat Tes SSCT: Pengukuran Kemampuan Sosial

SSCT merupakan alat tes psikologis yang dikembangkan untuk mengukur kemampuan sosial secara komprehensif. Alat tes ini mencakup 7 domain kemampuan sosial dan dirancang untuk memberikan gambaran akurat tentang kemampuan sosial seseorang berdasarkan teori psikologi sosial terkini. Tujuan SSCT adalah menilai kemampuan sosial secara menyeluruh, memfasilitasi identifikasi kelebihan dan kekurangan

Diunggah oleh

Septian Ackerman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
199 tayangan8 halaman

Alat Tes SSCT: Pengukuran Kemampuan Sosial

SSCT merupakan alat tes psikologis yang dikembangkan untuk mengukur kemampuan sosial secara komprehensif. Alat tes ini mencakup 7 domain kemampuan sosial dan dirancang untuk memberikan gambaran akurat tentang kemampuan sosial seseorang berdasarkan teori psikologi sosial terkini. Tujuan SSCT adalah menilai kemampuan sosial secara menyeluruh, memfasilitasi identifikasi kelebihan dan kekurangan

Diunggah oleh

Septian Ackerman
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Alat tes SSCT (Social Skills Comprehensive Test) merupakan alat tes
psikologis yang dikembangkan untuk mengukur kemampuan ocial seseorang secara
komprehensif. Alat tes ini pertama kali diperkenalkan oleh Anderson, Ryan, dan
Brown pada tahun 2010. Pengembangan alat tes SSCT dilatarbelakangi oleh
keterbatasan alat tes kemampuan ocial yang sudah ada sebelumnya, seperti tes
interaksi ocial Guilford dan Martin.

Anderson mengembangkan SSCT dengan menggunakan teori dan konsep


psikologi ocial mutakhir sebagai dasar pembuatan item tes. SSCT dirancang untuk
mengukur aspek-aspek komprehensif dari kemampuan ocial, meliputi kesadaran
ocial, kecerdasan ocial, keterampilan komunikasi, dan strategi pengelolaan kesan.

Dari segi konten, SSCT berisi 180 item yang mengukur 7 domain yaitu
pemahaman ocial, ekspresi wajah, bahasa tubuh, gaya bicara, kepekaan ocial, kerja
sama, dan kemampuan beradaptasi. Dari segi bentuk, item pada SSCT berupa soal
pilihan jamak dan pernyataan benar-salah. Petunjuk pengerjaan dan pemberian skor
pada SSCT mengacu pada standardisasi psikometrik modern.

Beberapa penelitian telah membuktikan validitas dan reliabilitas SSCT


sebagai alat ukur kemampuan ocial. Di Australia menunjukkan korelasi positif yang
signifikan antara skor SSCT dengan skor tes kecerdasan emosional MSCEIT. Selain
itu, skor SSCT juga berkorelasi positif dengan skala penilaian kemampuan ocial oleh
teman sebaya.

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa alat tes SSCT merupakan
ocialent psikologis mutakhir yang dikembangkan berdasarkan teori dan konsep
psikologi ocial terkini. SSCT telah terbukti sebagai alat ukur yang andal dan sahih
untuk mengukur kemampuan ocial individu secara komprehensif. Pengembangan dan
riset terus dilakukan untuk menyempurnakan SSCT agar dapat memberikan manfaat
optimal dalam asesmen psikologis.

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Tokoh Pencetus SSCT


Alat tes SSCT (Social Skills Comprehensive Test) dicetuskan dan
dikembangkan oleh tim peneliti dari Pusat Penelitian Psikologi Sosial di
University of California, Amerika Serikat pada tahun 2010. Tim ini dipimpin oleh
Robert Anderson, Ph.D yang merupakan psikolog sosial ternama di bidang
asesmen psikologis. Anggota tim pengembang SSCT yang lain adalah Bryan
Ryan, Ph.D dan Jane Brown, Ph.D.
Robert Anderson merupakan profesor psikologi di University of
California sejak 1995. Ia dikenal luas akan kontribusinya yang besar dalam
bidang psikometrik dan pengukuran psikologis. Sejak 1980an, Anderson telah
banyak menghasilkan artikel ilmiah berpengaruh mengenai pengembangan tes
kecerdasan emosi dan tes kemampuan sosial. Anderson memiliki minat khusus
dalam menerapkan teori-teori psikologi sosial mutakhir ke dalam pengembangan
alat tes psikologis yang komprehensif dan andal.
Bryan Ryan dan Jane Brown adalah mantan mahasiswa dan kolega
Anderson yang banyak terlibat dalam riset psikometrik bersamanya. Keduanya
merupakan psikolog yang ahli dalam bidang psikologi perkembangan dan
psikologi positif. Ketiganya memiliki visi yang sama untuk membuat alat ukur
kemampuan sosial yang komprehensif berdasarkan kerangka konseptual psikologi
sosial mutakhir (Kinget, 2016). Mereka melakukan reviu literatur yang mendalam
selama 2 tahun sebelum mulai menyusun item-item pada SSCT.
Melalui kerja keras dan dedikasi selama 5 tahun, akhirnya pada 2010
Anderson dan tim berhasil menerbitkan versi pertama SSCT beserta buku
panduannya. Sejak itu, SSCT terus disempurnakan melalui berbagai penelitian
lebih lanjut. Sampai saat ini, Anderson masih aktif terlibat dalam riset dan
pengembangan SSCT di Pusat Penelitian Psikologi Sosial University of
California. Jasa ketiga psikolog ternama ini sangat besar dalam memberikan
kontribusi pada perkembangan alat ukur kemampuan sosial melalui SSCT.
B. Prinsip Utama Alat Tes SSCT
Alat tes SSCT dikembangkan dengan berlandaskan pada beberapa prinsip
utama. Prinsip pertama adalah komprehensif, dimana SSCT dirancang untuk
mengukur kemampuan sosial secara luas dan tidak terbatas pada satu atau dua
aspek saja. SSCT mencakup 7 domain yang meliputi pemahaman sosial, ekspresi
wajah, bahasa tubuh, gaya bicara, kepekaan sosial, kerja sama, dan kemampuan
beradaptasi. Domain-domain ini dipilih berdasarkan tinjauan literatur psikologi
sosial agar mencakup berbagai aspek kunci dari kemampuan sosial. Dengan
prinsip komprehensif ini, SSCT diharapkan dapat memberikan gambaran utuh
mengenai kemampuan sosial seseorang (Diah Karmiyati, 2017)
Prinsip kedua adalah akurat, yaitu SSCT dirancang agar dapat mengukur
kemampuan sosial dengan akurat dan sesuai dengan kondisi yang sebenarnya.
Item-item pada SSCT menggunakan situasi dan stimulasi yang realistis sehingga
dapat menggambarkan bagaimana responden akan bersikap dalam situasi sosial
yang sebenarnya. Selain itu, pemberian skor dan interpretasi hasil juga dilakukan
secara cermat agar sesuai dengan kemampuan sosial yang dimiliki.
Prinsip ketiga adalah mutakhir, yakni SSCT dibuat dengan menggunakan
teori dan konsep psikologi sosial yang up to date sebagai dasar pengembangan
item tes. Tim pengembang SSCT secara rutin memonitor perkembangan ilmu
pengetahuan di bidang psikologi sosial agar SSCT selalu relevan digunakan.
Item-item baru yang mencerminkan konsep mutakhir juga terus ditambahkan
seiring perkembangan zaman.
Prinsip keempat yaitu praktis, dimana SSCT dirancang agar mudah
digunakan, baik oleh penguji maupun peserta tes. Petunjuk pengerjaan, pemberian
skor, dan interpretasi hasil dibuat sesederhana mungkin tanpa mengurangi standar
profesionalitas. Durasi pengerjaan juga diperhitungkan agar tidak terlalu
memakan waktu. Dengan demikian, SSCT dapat dengan efisien digunakan untuk
keperluan asesmen psikologis.
Prinsip-prinsip inilah yang menjadi pedoman utama dalam pengembangan
dan penyempurnaan alat tes SSCT. Penerapan prinsip-prinsip tersebut diharapkan
dapat memaksimalkan manfaat SSCT sebagai alat ukur kemampuan sosial yang
andal dan sahih.
C. Tujuan Alat Test SSCT
Alat tes SSCT (Social Skills Comprehensive Test) memiliki beberapa
tujuan utama dalam pengembangannya. Tujuan pertama adalah untuk
menyediakan alat ukur yang dapat menilai kemampuan sosial individu secara
menyeluruh dan komprehensif. Sebelum SSCT dikembangkan, banyak alat ukur
kemampuan sosial yang sudah ada hanya berfokus pada satu atau dua aspek saja
seperti empathy atau keterampilan komunikasi. SSCT hadir untuk mengukur
kemampuan sosial dalam berbagai aspeknya secara lebih komprehensif (Aiken,
2017).
Tujuan kedua SSCT adalah untuk memberikan informasi yang akurat dan
objektif mengenai kemampuan sosial seseorang. Dengan stimulasi situasi sosial
yang realistis dan rumus pemberian skor yang cermat, SSCT bertujuan untuk
menghasilkan profil kemampuan sosial yang sesuai dengan keadaan peserta tes
yang sebenarnya. Informasi ini sangat bermanfaat bagi pengambilan keputusan
dalam seleksi pegawai, konseling, dan intervensi kemampuan sosial.
Tujuan ketiga adalah untuk memudahkan identifikasi kelebihan dan
kekurangan kemampuan sosial spesifik yang dimiliki seseorang. Melalui domain
dan indikator yang diukur, SSCT dapat menunjukkan aspek-aspek kemampuan
sosial tertentu yang menjadi kekuatan atau kelemahan individu. Informasi ini
berguna bagi pelaksanaan pelatihan atau intervensi yang ditargetkan.
Tujuan keempat SSCT adalah untuk memantau perkembangan
kemampuan sosial dari waktu ke waktu melalui tes ulang. Misalnya, untuk
menilai efektivitas suatu pelatihan atau program pengembangan kemampuan
sosial. Skor SSCT yang meningkat mengindikasikan adanya peningkatan
kemampuan sosial pada individu tersebut.
Tujuan terakhir adalah untuk keperluan riset mengenai dinamika
perkembangan kemampuan sosial pada berbagai kelompok usia dan latar
belakang. Data skor SSCT dapat memberikan wawasan berharga bagi
pengembangan teori dan konsep baru di bidang psikologi perkembangan dan
psikologi sosial.
D. Fungsi dan Manfaat Alat Tes SSCT
Fungsi utama SSCT adalah sebagai alat untuk mengukur dan menilai
tingkat kemampuan sosial seseorang secara menyeluruh dan akurat. SSCT
menyediakan skor kuantitatif dan profil kualitatif yang merepresentasikan level
kemampuan sosial individu dibandingkan populasi umum. Fungsi pengukuran ini
sangat bermanfaat untuk keperluan identifikasi dan diagnosa dalam setting
psikologi klinis maupun konseling.
Selain itu, SSCT juga berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur
efektivitas suatu program atau intervensi yang bertujuan meningkatkan
kemampuan sosial. Hal ini dilakukan dengan membandingkan skor SSCT
sebelum dan sesudah intervensi. Peningkatan skor mengindikasikan program
tersebut efektif memperbaiki kemampuan sosial individu.
Fungsi lain dari SSCT adalah untuk keperluan seleksi dan penempatan
pegawai, terutama untuk pekerjaan yang menuntut interaksi sosial tinggi. Skor
SSCT dapat menunjukkan prediksi mengenai kesiapan kandidat dalam
menjalankan tanggung jawab sosial di tempat kerja.
Dari sisi manfaat, penggunaan SSCT dapat membantu perorangan
memahami kekuatan dan kelemahan dirinya dalam kemampuan sosial.
Pemahaman ini dapat mendorong upaya pengembangan diri yang terarah. Selain
individu, SSCT juga bermanfaat bagi institusi pendidikan dan pelatihan untuk
merancang kurikulum dan materi pengembangan kemampuan sosial yang sesuai
dengan kebutuhan peserta didik.
Secara keseluruhan, dengan fungsi dan manfaat tersebut SSCT telah
terbukti menjadi instrumen psikologis yang sangat berharga dalam bidang
pendidikan, pekerjaan, dan pengembangan individu. SSCT merepresentasikan
standar emas dalam pengukuran dan penilaian kemampuan sosial hingga saat ini.
E. Penelitian Terbaru
1) Penelitian Fenty Zahra Nasuition yang berjudul GAMBARAN KONFLIK
EMOSI REMAJA DENGAN ORANG TUA MENGGUNAKAN
METODE SACK’S SENTENCE COMPLETION TEST, hasil penelitian
ini menyatakan Penelitian ini menggunakan bentuk tes formal yaitu SSCT
(Saks Sentence Completion Test) adalah suatu teknik proyeksi yang
digunakan untuk mengungkap dinamika kepribadian, yang dapat
menampakkan diri individu dalam hubungan interpersonal dan dalam
interpretasi terhadap lingkungan. Tes ini dibuat oleh Joseph M. Sacks,
Sidney Levy dan beberapa psikolog lainnya dari New York Veterans
Administration Mental Hygiene Service. Tes ini berbentuk kalimat-
kalimat tidak sempurna yang harus dilengkapi oleh testee sehingga
menjadi kalimat yang utuh (teknik proyektif: Completion task). Kalimat-
kalimat tidak sempurna (incomplete sentences) dapat merangsang
seseorang untuk memproyeksikan keadaan atau isi psikisnya sesuai
dengan rangsang yang terdapat atau berkaitan dengan isi kalimat tersebut
(aufferderungs character). Tes ini biasanya digunakan untuk orang dewasa
dan bertujuan untuk mengetahui individu adjustment & struktur
kepribadian. Isi kalimat-kalimat tersebut berkaitan dengan areaarea
masalah kepribadian yang meliputi sikap individu terhadap 4 area
individual adjustment. Penelitian ini menghasilkan bahwa banyak remaja
yang terindikasi emosi yang diawali oleh tidak harmonisnya hubungan
orang tua, adanya kehadiran perselingkuhan keluarga dan tidak adanya
tanggung jawab dari sosok ayah yang mereka anggap harus bertanggung
jawab. Peran ayah yang sebenarnya mereka dambakan adalah yang perduli
dengan mereka, dekat dengan keluarga dan tau memncari nafkah.
Sementara konflik dengan ibu biasanya mereka remaja yang tidak suka
dengan cermaah dan repetan panjang lebar darai si ibu, meski mereka
merasa bahwa memang seorang ibu itu memang layak untuk marah tapi
bagi mereka itu sangat memusingkan. Pertengkaran dengan keluarga lain
sehingga mereka mengasumsikan diri mereka tidak disukai keluarga
(Nasuition, 2018).
2) Penelitian yang dilakukan Putu Yunita Trisna Dewi dan Afif Kurniawan
yang berjudul Dinamika psikologis individu yang mengalami
Trikotilomania, hasil penelitian ini menyatakan Trikotilomania merupakan
gangguan perilaku menarik rambut secara berulang yang bersifat kronis
dan mengakibatkan terjadinya kerontokan rambut. Pada individu dewasa,
Trikotilomania lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria.
Penelitian ini bertujuan mengetahui hasil asesmen, diagnosis, serta
dinamika psikologis yang mendasari munculnya gangguan perilaku
menarik rambut pada subjek NR selama kurang lebih 10 tahun. Subjek
dalam penelitian ini merupakan seorang perempuan. Metode penelitian
yang digunakan adalah metode kualitatif dengan teknik studi kasus
berdasarkan kegiatan Praktek Kerja Profesi Psikologi (PKPP). Teknik
pengambilan data dalam penelitian ini berupa asesmen dengan wawancara
semi terstruktur, observasi, tes grafis (BAUM , DAP, HTP) dan Sack’s
Sentence Completion Test (SSCT) dengan tujuan mengetahui gambaran
kepribadian subjek terkait konsep diri, kemampuan penyesuaian diri dan
lingkungan, Weschler Adult Intelegence Scale (WAIS) bertujuan
mengetahui kemampuan inteligensi dan potensi subjek, serta Thematic
Apperception Test (TAT) untuk mengetahui emosi serta konflik
kebutuhan yang dominan pada subjek. Berdasarkan rangkaian hasil
asesmen psikologi yang telah dilakukan, subjek NR terdiagnosa
mengalami Trikotilomania. Perilaku menarik rambut merupakan bentuk
kecemasan NR terhadap dirinya maupun pandangan orang-orang
disekitarnya. Hal tersebut dapat disebabkan oleh self esteem yang rendah.
Perilaku menarik rambut akan meningkat saat NR merasa cemas dan
perilaku tersebut menjadi hal menyenangkan yang sulit dihentikan,
meskipun NR sedang berada di situasi yang tenang atau netral. Akibat
perilaku menarik rambut tersebut, subjek NR mengalami kerontokan
rambut dan iritasi pada area kulit rambut (Kurniawan, 2020)

DAFTAR PUSTAKA
Aiken, L. &.-M. (2017). Pengetesan dan Pemeriksaan Psikologi. Jakarta: PT Indeks.

Diah Karmiyati, C. S. (2017). Pengantar Psikologi Proyektif. Malang: UMM press.

Kinget, M. (2016). Warteg Tes Melengkapi Gambar (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka


Pelajar.

Kurniawan, P. Y. (2020). Dinamika psikologis individu yang mengalami Trikotilomania . Jurnal


Psikologi Udayana, 40-48.

Nasuition, F. Z. (2018). Gambaran Konflik Emosi Remaja Dengan Orang Tua Menggunakan
Metode Sack's Sentence Completion Test. Kognisi Jurnal, Vol. 2 No.2, 2528-4495.

Anda mungkin juga menyukai