Persatuan dalam Keberagaman Masyarakat
Persatuan dalam Keberagaman Masyarakat
profil pelajar Pancasila. Keduanya memiliki kesamaan dalam prinsip-prinsip dan karakteristik
sehingga dapat disebut dengan profil pelajar. Pemahaman profil ialah mewujudkan pelajar yang
pola berpikir, bersikap dan berperilaku sesuai dengan tutunan Islam serta tinggi nilai-nilai luhur
Pancasila yang universal dan berkomitmen untuk toleransi demi terwujudnya persatuan dan
kesatuan bangsa serta perdamaian dunia. Maka, agar terwujud sesuai tujuan memiliki
pengetahuan dan keterampilan antaranya; berpikir kritis, memecahkan masalah, metakognisi,
berkomunikasi, berkolaborasi, inovatif, kreatif, berliterasi informasi,, berketakwaan, berakhlak
mulia, dan moderat dalam keagamaan.
Program profil pengajar ini mengkuatkan dalam berkontribusi kebangsaan, bersikap mentoleran
terhadap sesama serta prinsip menolak kekerasan baik secara fisik maupun verbal dan menghargai
tradisi. Tapi adanya profil pelajar lil a’lamin guru bisa merealisasikan terhadap diri pelajar yang
bisa memberikan kebahagiaan, dan keselamatan baik di dunia maupun akhirat bagi semua
golongan umat manusia, bahkan seluruh alam semesta.
Dalam profil pelajar terdapat dimensi dan nilai-nilai yang menjunjung tinggi jati diri bangsa
Indonesia yang berpondasi dalam rahmatan lil
31
sebagai bentuk persatuan dan kerukunan di negara Indonesia maupun dunia. Adapun nilai-nilai
profil pelajar rahmatan lil alamin, diantaranya :
Berkeadaban (ta’addub);
Keteladanan (qudwah);
Berimbang (tawāzun);
Lurus dan tegas (I’tidāl);
Kesetaraan (musāwah);
Musyawarah (syūra);
Toleransi (tasāmuh);
Pembentukan profil pelajar dengan sedemikian rupa diharapkan pelajar bisa mencintai bangsa
Indonesia dengan berbagai ragam budaya, serta tidak memecah belah dan harus percaya sesama.
Sebuah yang atas suku, ras, dan agama, para pelajar tetap tinggi nilai-nilai keagamaan,
kemanusiaan, persatuan, kenegaraan, dan keadilan. Sehingga nilai-nilai tersebut dapat
menumbuhkan kesadaran hidup bersama dengan rukun, gotong royong, harmonis, adil, makmur,
dan sejahtera.
Pembentukan profil pelajar dengan nilai-nilai rahmatan lil a’lamin yang berjalan selaras dengan
nilai Pancasila, para pelajar radikalisme yang mengesampingkan rasa kemanusian sehingga hal
itu sangat bangsa dan timbul perpecahan. Maka, untuk membentuk para hal tersebut
. Menggunakan media sosial dengan baik agar teihndar timbulnya konflik dan permusuhan. Jadi,
dengan adanya profil pelajar pada kurikulum merdeka dapat disimpulkan bahwa komitmen
kebangsaan diri pelajar untuk selalu menerapkan nila Pancasila serta subtansi Islam Rahmatan lil
Alamin agar menjadi kesatuan dalam dunia pendidikan. Dengan ini diharapkan akan semakin
lahir bangsa yang mampu kehidupan berbangsa yang harmonis, menjunjung tinggi toleransi,
demokrasi, semangat kebangsaan, cinta tanah air, cinta damai, peduli sosial, berkeadilan, dan
berkebhinekaan global.
Karakteristik projek profil pelajar Rahmatan Lil A’lamin ini salah satunya ialah sebagai fasilitas
sarana memberi kesempatan peserta didik untuk “mengalami pengetahuan” sebagai karakter dan
berkesempatan untuk belajar dari sekitarnya. Melaui pengoptimalan dalam penguatan projek
berkarakter, dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dan Islam Rahmatan Lil
Alamin.4
Penguatan projek profil rahmatan lil alamin membantu peserta didik menjadi pelajar yang
menjadi rahmat bagi semua umat manusia dan alam sekitar. Selalu merawat tradisi dan menyemai
gagasan yang ramah dan moderat kebhinekaan Indonesia tanpa harus mencabut tradisi dan
kebudayaan yang mendasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan. Maka pengaplikasian siswa didik
bisa dimulai dengan tema-tema atau isu seperti perubahan iklim,
32
Holistik
Nilai-nilai karakter pada peserta didik untuk kehidupan bersosial peril dilatih dan diasah melalui
kegiatan non kurikuler dan ekstrakurikuler. Melalui pengertian dan pemahaman medalam kepada
peserta didik. Beberapa kegiatan penunjang untuk pengembangan tersebut dengan nilai kerjasma
pada peserta didik agar terbentuk kedisiplinan, kejujuran terhadap yang lain. Kegiatan ini diluar
kelas melalui organisasi ataupun perkumpulan lain yang positif. Misalnya, akan belajar
menghargai orang lain yang keyakinan, justru dari pengalaman hidup bersama dengan keluarga
dan lingkungan yang bernilai lain.
Kontekstual
5 Ramdhani et al.
33
“bekerja” dan “mengalami” sendiri apa yang ada, tidak hanya sekedar “mengetahuinya”. Guru
bisa menciptakan peserta didik yang memaknai apa itu. Oleh karenanya, strategi pembelajaran
lebih utama dari sekedar hasil. Maka penekanan pada peserta didik ialah mampu akan apa
manfaatnya, dalam status apa yang diraih, dan bagaimana mencapainya. menyadari apa yang
dipelajari akan berguna bagi hidupnya kelak. Dengan demikian, peserta didik akan belajar lebih
dan penuh kesadaran.
Seorang guru juga harus mampu akan dalam memfasilitasi kepada peserta didik dalam
pembelajaran sampai peserta didik bisa menemukan hal yang baru. Jadi, peserta didik belajar
dengan sendiri dengan menyimpulkan dan hal yang baru selain yang diterangkan oleh guru.
Dengan demikian peserta didik akan bisa berfikir atau berfikir dan bertindak lebih produktif dan
inovatif. ditambah pembelajaran secara aktif kepada peserta didik dengan mental, intelektual dan
emosional guna menjadi peserta didik yang beretika dan berkarakter.
Berpusat pada peserta didik,
Berpusat pada peserta didik disini, merupakan pembelajaran yang mendorong peserta didik untuk
menjadi subjek pembelajaran. Agar aktif dalam mengelola kelas dengan berproses secara mandiri,
termasuk cara guru memberi kesempatan untuk memilih dan mengusulkan topik projek sesuai
Alamin.”
34
Guru memberikan apresiasi kepada para yang memberanikan diri tanpa ada rasa merendahkan
karena salah. Dengan selalu memngetahui karakteristik pada peseta didik dan bisa memberikan
rasa senang pada peserta didik akan tercapainya sebuah Pendidikan.
Eksploratif
Eksploratif merupakan pemberian semangat kepada peserta didik untuk membuka jalan berfikir
yang lebar bagi proses pengembangan diri dan berfikir kritis, baik sesuai materi maupun bebas.
Sehingga, peserta didik diberikan kesempatan untuk membangun secara mandiri. Dalam
kesempatan kepada peserta didik guru mempunyai tahapan-tahapan yang harus. Diantaranya;
pertama, tahap pemberian pada akan suatu masalah dari guru kepada didik dengan memberikan
suatu yang dalam kehidupan sekarang dan mengkaitkan permasalah tersebut dengan materi yang
akan diajarkan. Kelima, tahap ekspansi peserta didik individu dan mencari anomali mengenai
penyelesaian dari etis yang diberikan. Serta menambahkan inovasi baru untuk yang lebih baik.
Ketiga, tahap presentasi hasil berfikirnya dipresentasikan didepan teman kelasnya, begitu dengan
pendidik yang lain. Keempat, tahap eksplorasi kelompok dengan menyalurkan argumentasi dalam
pikirn dengan cara kelompok.
Jadi, kegiatan pembelajran ini yang diawali dengan pemberian masalah diharapkan peserta didik
mampu daya rangsang dan selalu mengatasi masalah secara sistematif. Selain itu juga, dengan
peserta didik diharapkan dapat bertumbuhkembang motinasi belajarnya serta mencari hal yang
baru untuk perubahan yang lebih inovasi.
35
Kebersamaan
Kemandirian merupakan strategi melalui kegiatan di madrasah merupakan prakarsa dari, oleh dan
warga madrasah. Kemandirian
Alamin.”
38
peserta mempunyai daya bersaing mengatasi masalah yang terjadi. Serta rasa percaya diri dalam
melaksanakan tugas yang telah diberi dengan penuh tanggung jawab. Dengan demikian
kemandirian dimaksud ialah perilaku peserta didik dalam mewujudkan yang ada dalam pikiranya
dengan tidak bergantung pada orang lain. Dalam hal ini, didik akan mandiri dengan cara
belajarnya sendiri yang penuh dengan efektif dan mudah dipahami. Serta tugas yang telah
diberikan dari guru secara mandiri dan penuh tanggung jawab.
Kebermanfaatan
Kebermanfaatan ialah peserta didik untuk ikut dan antusias dalam kegiatan di madrasah yang hal
tersebut akan memberikan berdampak positif peserta didik, madrasah dan masyarakat.
Madrasah diwajibkan untuk mmepunyai banyak fasilitas untuk memenuhi potensi-potensi pada
peserta. Guna untuk bagi madrasah dan masyarakat sekitar. Disisi lain potensi pada masyarakat
juga perlu untuk dipelajari dan diaplikasikan pada warga masyarakat.
Religiusitas,
Regiulitas dalam madrasah merupakan keseluruh warga madrasah dalam pelaksanaan kegiatan ,
dilakukan kepada Allah Swt. Dimulai dari para guru dan karyawan yang selalu untuk membentuk
para peserta didik yang berkarakter bermoral. Para peserta didik niat untuk ilmu dan
Ta‟addub merupakan masdar dari fi‟il mudhori (yata‟addub) yang mengikuti wazan (tafa‟ala)
yang memiliki makna (attaklif) yang bermakna disifati dengan sifat yang bagus. Kata ta‟addub
diambil dari “al-adab” ta‟addub jugasebuah proses manusia untuk martabat diri dari etika
(muru‟ah) dan menjadikan lebih manusiawi. Secara mendalam dan mengamalkan adab dalam
kehidupan sehari hari dengan karakter yang manusiawi
Ta‟addub diartikan sebagai bentukan karakter manusia, yang membedakan manusia dengan yang
lain. Karena manusia diberikan akal untuk mampu berfikir dan tidak yang mungkar. Adab juga
sebagai dan kebaikan budi pekerti manusia yang meliputi kesopanan, akhlak. Ta‟addub sudah
menjadi yang senantiasa ditanamkan dalam diri manusia sebagai identitas akan kualitas karakter
jiwa yang dimiliki.
Penanaman Taaddub pada madrasah dimulai bimbingan dari seorang guru dan pemberian contoh
kepada peseta didik tentang, bersalam dan santun dalam bertindak. Semua kea’adaban guru
menjadi peoritas
Qudwah merupakan arti dari keteladan seseorang untuk pembelajaran kepada orang lain.
Keteladaan dalam pendidikan meniru peserta didik terhadap guru; proses meniru yang anak-anak
orang dewasa; seperti ya orang tuanya keluarga, meniru murid terhadap gurunya dilingkup
madrasah dan meniru pada anggota masyarakat. Proses keteladanan dalam kehidupan terjadinya
tiru meniru yang disadari maupun tidak disadari.
Sebagai peniruan yang tidak disengaja pada pendidikan madrasah adalah didik yang harinya
melihat gurunya berpenampilan bersih dan rapi, maka secara tidak sadar peserta didik akan rapi
yang dilihat. guru adalah suatu keteladanan akhlak yang mulia dalam setiap lanhkahnya maka
peserta diidk akan tidak tersadari untuk menirunya.
Adapun peniruan yang dilakukan secara sadar ialah peniru sadar dengan yang dilakukan, karena
dan perasaan yang begitu penting dari sesuatu yang ditiru. Peserta didik bisa akan karakter, maka
secara sadar dan meniru dari guru. Jadi, peniruan peserta didik yang disengaja dalam keteladanan
gurunya sudah adanya pengetahuan karakter dan perasaan karakter pada dirinya.
Secara formal di Madrasah, pengetahuan dipelajari peserta didik melalui pembelajaran dengan
karakter, seperti pembelajaran Pendidikan
39
nusantara, Wali Songo sebagai pendukung laki-laki akan datang. Berasal kata “Roiyat” yang
berarti “pemimpin” yang bekerja bahu membahu dan tanggung jawab. Itulah mengapa
"komunitas" dan istilah ini masih digunakan sampai sekarang.
Istilah Syuro berasal dari kata syawara – yusawiru, yang berarti “membuat, menyatakan atau
menerima pernyataan”. Lain dari adalah Tasyawara, yang artinya perundingan, dialog, tukar
pikiran; sedangkan berarti ekspresi atau ide. Oleh karena itu, musyawarah cara atau suatu masalah
dengan berdialog dan berdiskusi untuk mencapai kesepakatan, terutama dengan asas bersama
Dalam kontek refleksi merupakan solusi untuk meminimalisir dan menghilangkan prasangka dan
di antara dan kelompok, karena refleksi dapat menciptakan komunikasi, keterbukaan, berekspresi,
dan alat persahabatan, yang berujung pada hubungan yang erat. dan dalam Ukhuwah Islamiyah,
Ukhuwah Watoniyah, Ukhuwah Basariyah dan Ukhuwah Insaniyah.
Tasamuh berasal dari bahasa Arab samhun, yang berarti “memudahkan”. Dari sini dapat kita
simpulkan bahwa perilaku yang menghargai sikap orang lain. Menghormati tidak berarti mereka
atau setuju untuk dan membenarkan mereka.
43
Toleransi dalam ketuhanan tidak dibenarkan secara agama. Layanan harus sesuai untuk ritual dan
lokasi. Moderasi bahwa setiap agama itu benar keyakinan pemeluknya, dan ada untuk
menganggap bahwa semua agama itu benar dan sama. Toleransi harus dipraktikkan di bidang
sosial dan kemanusiaan untuk menjaga kerukunan dan persatuan.
Tathawwur wa Ibtikar bersifat dinamis dan inovatif, yang berarti gerak dan pembaharuan, serta
selalu terbuka untuk berpartisipasi aktif dalam pelaksanaan yang tepat untuk umat. Jika kita
melihat ke masa lalu, Anang Sucipto mengatakan salah satu penyebab kemunduran umat Islam
adalah kemunduran pemikiran Islam. Ajaran smat Islam apa yang pada umat ditentukan oleh
kehendak Tuhan dan orang-orang dipandang tidak , nasib sendiri. Dari doktrin inilah gagasan
bahwa pintu ijtihad berpikir mencari solusi atas tertutup, umat Islam menjadi usang, buta terhadap
ketaklidan dan mempersulit tercapainya pembaruan dan pencerahan.
Itu sebabnya kita harus belajar melalui sejarah bahwa moderasi memungkinkan kita sebagai yang
untuk terus dan kecepatan kita sendiri untuk menciptakan inovasi dan terobosan baru, bukan
hanya duduk di pinggir lapangan. dan diri terhadap perubahan dan puas dengan apa yang sudah
kita miliki.
Imam Al-Ghazali mempunyai nama lengkap adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin
Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi An- Naysaburi Al-Faqih Ash-Shufi Asy-Syafi’i Al-Asy’ari. Ia
mendapat gelar al- Hujjah al-Islam Zaynuddin al-Thusi. Ada dugaan, kata Al-Ghazali, desa di
Khurasan Iran tempat dimana Al-Ghazali di lahirkan. Ada pendapat lain, Al- Ghazali berasal dari
kata Ghazzal al-Shuf, berarti pemintal benang wol, yaitu profesi ayah Imam Al-Ghazali untuk
menghidupi keluarga. Jadi, sebutan Al- Ghazali berasal dari dua Ghazala
Imam Al-Ghazali dilahirkan pada tahun 450 H/1058 M di kota Thus yang merupakan kota kedua
di Khurasan setelah Naysabur. Beliau berasal dari keluarga Muslim dengan anggota keluarganya
sebagai pemintal wol. Imam Al- Ghazali dikenal sebagai seorang filsuf, teolog, ahli hukum, dan
Sufi. Imam Al- Ghazali wafat di Thus pada hari senin, 14 Jumada al-Akhir 505 H/1111 M dalam
usia 55 tahun. Al-Hujjah al-Islam Zaynuddin al-Thusi Abu Hamid Muhammad bin Muhammad
AlGhazali di kuburkan di Zhahir.
Al-Ghazali masuk dalam pendidikan dimulai bersama Ahmad Al-Razkani di Thus. Di Thus, Al-
Ghazali belajar ilmu fiqih secara
dalam menuntut ilmu tidak hanya di Thus bersama Ahmad Al-Razkani, Al- Ghazali pun pergi ke
Naysabur untuk menuntut ilmu lebih luas. Di sana ia belajar ilmu mantik (logika) dan ilmu kalam
(teologi) kepada al-Juwaini, yang dikenal dengan imam Haramain. Ia kecerdasan tinggi karena
pandai menggunakan logika. Kemampuannya menguasai ilmu dan diskusi ilmiah diakui oleh
teman- temannya.
Al-Ghazali juga aktif menulis dalam berbagai bidang ilmu dengan susunan dan metode yang
sangat bagus. Ada sebuah riwayat, bahwa ketika Al-Ghazali menulis bukunya Al-Mankhul dan
kepada gurunya untuk meminta pendapatnya tentang karyanya itu, Imamul Haramain mendesah
ketika dengan sungguh- sungguh: “Wahai, engkau telah memudarkan ketenaranku sebagai
seorang penulis, sampai-sampai aku berasa telah mati.” Pada saat kematiannya, Imam Haramain
meninggalkan beberapa karya terkemuka dan empat ratus ulama istimewa sebagai murid-
muridnya, tetapi Al-Ghazali melampaui mereka semua. Al-Ghazali mempunyai pemikiran yang
sangat cerdas, berwawasan luas,
kuat hafalan, berpandangan mendalam, menyelami makna, dan memiliki hujjah- hujjah
(argumen) yang akurat. Ketika Imam Haramain Al-Juwaini wafat, Al- Ghazali pergi menemui
Perdana Menteri Nizham Al-Mulk. Al-Ghazali mendapat sambutan hangat darinya dan
kedudukan yang agung karena ketinggian derajatnya dan pandangan yang cemerlang. Majelis
Nizham al-Mulk senantiasa dipadati para ulama dan didatangi para imam. Pada suatu kesempatan
Al-Ghazali pandangannya yang sesuaikannya, dan menjadi tokoh yang terkenal dengan
pemikirannya yang tajam dan cemerlang.
Di Baghdad, Al-Ghazali meraih sukses besar sebagai ahli hukum Islam. Akan tetapi, walaupun
demikian, Al-Ghazali merasa masih perlu untuk terus menuntut ilmu. Ia lalu meninggalkan
Baghdad dan menuntut ilmu ke berbagai kota, ia menuju Syria untuk bermujahadah dan ber’uzlah
(mengasingkan diri dari kehidupan dan keramaian) selama dua tahun, guna mencari esensi hakiki
kehidupan. Al-Ghazali juga berziarah ke makam Rasulullah SAW dan juga ke makam para aulia
untuk pendekatan diri kepada Allah SWT.
Di Damaskus, beliau tinggal selama sepuluh tahun, disitu beliau mulai menulis bukunya, Ihya’
Ulumiddin. Selain itu, beliau juga membaktikan dirinya untuk ibadah, terus-menerus mengaji Al-
Qur’an dan menyebarkan pengetahuan serta memutuskan kontak dengan orang-orang. Kemudian
setelah mengunjungi Yerusalem dan Iskandariah, ia kembali ke rumahnya di Thus, tempat
universitas untuk melatih dan mempersiapkan ulama-ulama yang kelak bisa memberikan
petunjuk dan kepemimpinan yang dibutuhkan bagi dunia Islam.
Al-Ghazali diminta kembali untuk menjadi Guru Besar di Universitas Nizamiyah di Naysabur.
Al-Ghazali menyetujuinya dan ia pun kembali pada kehidupan kemasyarakatan pada tahun 500 H
atau tahun 1106 M. Namun setelah mengajar beberapa waktu, ia berhenti dari jabatannya dan
kembali untuk hari- harinya di kota asalnya Thus. Di samping rumahnya dia mendirikan
madrasah untuk para fuqaha (ahli fiqih) dan kamar-kamar untuk para Sufi. Dia membagi
waktunya untuk mengkhatamkan al-Qur’an, berdiskusi dengan ulama lain,
mengkaji ilmu, dan terus mendirikan shalat, puasa dan ibadah- k nya yang Al- il ang
ibadah lainnya hingga wafat ar berjumlah Ghazali. m awam,
Al-Ghazali meninggal dengan husnul khatimah pada hari a hampir Ia dengan u dan
senin tanggal 14 juamadil akhir tahun 505 H/1111M di n seratus tekun ya memil
Thusia. Jenazahnya dikebumikan di samping makam Al- g buah belajar ng iki
Firdausi, seorang ahli syair yang termasyhur. Sebelum a banyaknya dam tid kekuat
meninggal Al-Ghazali pernah mengucapkan kata-kata yang di n- Dahulu menuntut ak an
ucapkan pula oleh Francis Bacon seorang filsuf Inggris, yaitu k ada ilmu dari di jiwa.
“Ku letakkan arwahku di hadapan Allah dan tanamkanlah ar seorang beliau ket Pada
jasadku dilipat bumi yang sunyi senyap. Namaku akan bangkit a santri yang sehingga ah suatu
kembali menjadi sebutan dan buah bibir umat manusia di n mengabdi menguas ui hari,
masa depan”. Tokoh pemikir Islam Al-Ghazali meninggalkan g dan ai daqoiq ole ilmu
sebuah kemanfaatan yang tidak dapat dilupakan oleh umat a berkhidma al-ilm, h yang
muslimin pada khususnya dan dunia pada umumnya dengan n h kepada ilmu- or mana
22 Sufyan Mubarak.
47
yang tidak bermanfaat bagiku, sehingga akan kami tinggalkan. k permasala Ayyuhal W ketika
Pikiran-pikiran itu selalu melekat dan menghantui dirinya, e han yang Walad ala disaat
sehingga ia menulis surat pada gurunya, Al-Ghazali. Penulisan g dihadapi Al- d menun
surat bertujuan fatwa, menanyakan beberapa masalah, el oleh Ghazali me tut
memohon nasehat dan do’a, sambil mengatakan: “walaupun is muridnya dalam ng ilmu.
kitab-kitab karangan guruku, Al-Ghazali, seperti kitab Ihya’ a tersebut. pesan en Beliau
Ulum al-Din dan lain-lain sudah mencakup jawaban masalah h Surat Al- beliau, ai berpes
dan problemku, namun aku ingin agar guruku, Al-Ghazali, a Ghazali ini yang pa an
menulis pada lembaran- lembaran kertas yang bisa selalu n kemudian tertuang ra pada
sepanjang umurku”. d dibukukan pada pel murid
Setelah mendapatkan surat yang berisi kegelisahan muridnya, a dan diberi kitab aja nya,
kemudian Al- Ghazali menulis surat sebagai jawaban atas n judul Ayyuhal r
“Wahai anakku, seberapa banyak malam-malam yang kau hidupkan untuk belajar ilmu,
mempelajari kembali kitab-kitab dan kau tahan dirimu dari tidur?. Aku tidak tahu apa motivasi
semua itu. Apabila untuk memperoleh penghargaan dunia, meraih jabtan-jabatan keduniawian
dan untuk menyombongkan kepada teman-teman dan sesama, maka celakalah
kamu, rugilah kamu. Jika tujuanmu untuk menghidupkan ajaran Nabi Muhammad Saw,
memperbaiki akhlakmu, dan untuk menakhlukkan nafsumu yang banyak memmrintahkan berbuat
keburukan, maka beruntunglah kamu, beruntunglah kamu”
Pesan yang beliau berikan menekankan masalah hati untuk disetiap para pelajar. Seorang pelajar
dalam menuntutnya. Serta menahan tidur untuk ibadah-ibadah kepada Allah Swt, yang pada
intinya menyedikitkan tidur untuk beribadah dan menelaah ilmu yang telah didapat.
Al-Ghazali dalam penekanan hati ketika menuntut ilmu, menerangkan bahwa, disaat para pelajar
memnpunyai motivasi menuntut ilmu untuk kepentingan duniawi, seperti harta, menarik jabatan,
yang didapat oleh pelajar hanyalah kesengan dunia semat. Tetapi, ganjaran dari Allah Swt untuk
kepentingan agama sangatlah penting karena kehidupan yang sebenarnya ialah pada di Akhirat.
Maka Al-Ghazali dalam pesan yang diberikan agar para pelajar bisa mendapatkan kebahagiaan
dunia dan akhirat, ialah ketika mencari ilmu, diniatkan untuk menhidupkan ajaran perjuangan
Nabi Muhammad Saw, memperbaiki akhlak dan melawan hawa nafsu yang selalu mengajak hal
yang kurang baik, maka niatan yang bertujuan tersebut atau niatan yang berkepentingan akhirat,
akan membuahkan hasil keberuntungan bagi pelajar didunia dan diakhirat.
Teladan yang dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad, lebih penekanan pada amal
sholeh agar tidak bangkrut diakhirat kelak. Maka Al-Ghazali berpesan
“Wahai anakku, janganlah kamu menjadi orang yang muflis (orang yang bangkrut) dari amal
perbuatan dan jangan pula jiwamu kosong dari perbuatan. Yakinlah, bahwa ilmu tanpa amal tidak
akan memberikan manfaat”
Pesan Al-Ghazali kepada muridnya, untuk selalu beramal dengan ilmu yang telah didapat. Agar
tidak mengalami rugi diakhirat nantinya. Dengan semua amal yang dilakukan akan berpengaruh
kemanfaatan kepada orang lain untuk meniru dan belajar agar ilmunya. Sehinga amal yang
istiqomah dilakukan berpengaruh orang yang disekitar dan akan amal yang didapat karena amal
sholeh yang bermaanfaat. Begitu juga diakhirat nanti akan menjadi orang yang beruntung karena
amal yang banyak serta kemanfaatn ilmu yang telah di amalkan. Sehingga pesan Al-Ghazali
untuk menghidari dari kebangkrutan amal, menjadi pemicu semangat untuk berbuat.
Kehidupan sosial yang ummat tetap rukun den g akhirnya me ut. perkataa
ditekankan oleh Al- dan harmonis, ialah gki saling hasut ng Dala n
Ghazali agar persatuan menhindari perkara yan dan has m Beliau.
“Kedengkian (hasud) dengan setiap perkataan dan perbuatan itu seperti sedang menyalakan api
pada ladang amalnya sendiri.”
Perbuatan hasud merupakan perbuatan yang kurang rasa syukur yang diberikan oleh Allah Swt.
Karena rasa ini tidak suka, rasa tidak senang dengan kenikmatan orang lain, baik itu dari segi
harta ataupun jabatan. Sehingga akan terjadi permusuhan mengharap kehidupan orang lain
menjadi lebih buruk. Penyakit hati ini akan menimbulkan perpecahan ummat tidak segra
dihindari. Lebih banyak bersyukur kepada Allah Swt dan sedekah agar, memahami bahwa semua
rezeki yang ada adalah dari Allah Swt, dan akan kembali kepada Allah Swt. Disisi lain,akan
menambah keharmonisan orang-orang yang desekitar karena saling membutuhkan dan memberi.
Sosial yang dibangun oleh Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad ialah menjaga ucapan dan
perbauatan agar bisa diterima diberbagai lapisan,
tidak mengurangi syariat dan aturan dipesank ke da nya.
sosial. Ucapan Al-Ghazali yang an pa murid
“Wahai Anakku, sebaiknya ucapan dan perbuatanmu itu sesuai dengan syariat. Karena ilmu dan
amal tanpa mengikuti syariat adalah sesat. Sebainya kamu tidak tertipu dengan keanehan dan hal-
hal menakjubkan para sufi. Karena menempuh perjalannan dijalan ini adalah dengan mujahadah,
menghentikan kesenangan nafsu dan memerangi dengan riyadoh yang diserupakan pedang, bukan
dengan keanehan dan perbuatan tak berguna.
Al-Ghazali menjelaskan dalam haruslah memahami dalam ucapan dan perbuatan. Karena ucapan
yang dilontarkan mempunyai rasa kedalam hati untuk menjaga perasaan dan keharmonisan.
Perbuatan yang tidak menyinggung dalam sosial dan terjaga akan menumbuhkan rasa kerukunan
untuk saling menerima satu sama lain. Serta tidak menuruti hawa nafsu mengikuti kesenganangan
sendiri. Jika seseorang menuruti hawa nafsunya akan terjadi dalam sosial dan memaksa dengan
sesuai kemauannya. Maka Al-Ghazali sangat menekankan untuk menata hati karena keluarnya
rasa terbentuk dari hati yang bersih dan Ikhlas.
urusan men pel ar tidak men aj ntuk B esa b
Pembelajaran yang di ajarkan oleh akhirat. gawa aja terlarut ingg ib bekal eli n
Al-Ghazali mengenai keseimbangan Al- si rn dalam alka a di au pad
terhadap pelajarnya, yaitu Ghazali kepa ya, duniawian n n akhirat be a
seimbangnya urusan dunia dan sangat da ag sampai kew u kelak. rp kita
“Wahai Anakku. Jadikanlah semangat dalam jiwamu, kalahkan dalam nafsumu, dan kematian
dalam badanmu, karena sesungguhnya tempat kembalimu adalah kubur. Sementara itu ahli kubur
menunggumu setiap saat, kapan kamu akan menyusul mereka?, berhati-hatilah jika kamu
menyusul mereka tanpa bekal”
Ajaran Al-Ghazali memberikan pesan agar jangan tersibukkan masalah dunia dan selalu ingat
kematian selalu datang kapan saja. Serta bekal yang dikumpulkan untuk akhirat harus di
28 Imam Al-Ghazali, Kitab Ayyuhal Walad.
29 Abi Azka Ahsanakallah, Petuah Imam Al-Ghazali Terhadap Santri.
5
11
utamakan dikala hidup. Pesan untuk semangat dalam jiwa ialah manusia dalam hidup di dunia
selalu bersemangat untuk memenuhi kewajiban Allah Swt, berniat untuk ibadah dan tidak
terjerumus cinta dunia. Serta pesan beliau yang selalu mengalahkan hawa nafsu untuk
membentengi diri dari rasa sombong dan angkuh. Karena, semua yang ada didunia milik Allah
Swt dan akan kembali
pada-Nya. Sehingga semangat dalam memenuhi kewajiban didunia telah uha n Al- ialah
dan selalu ingat kematian sebagai bentuk mendekat kepada Allah Swt. memb nny Ghazal
Nasihat Al-Ghazali kepada pelajarnya dalam bekerja ialah bekerja erikan a. i
keras dengan sungguh-sungguh dengan membentengi diri untuk tidak rezeki Dala kepada
melakukan hal yang syubhat dan haram. Bekerja dengan sebaik sesuai m pelajar
mungkin dan terhindar perkara yang tidak terpuji. Karena Allah Swt kebut pesa nya,
“Aku telah melihat setiap orang yang berusaha dengan sungguh- sunggguh dan bekerja keras
dengan sekuat tenaga untuk endapatkan makanan dan penghidupan hingga terjatuh pada perkara
syubhat dan haram, bahkan sampai menghinakan diri dan menurunkan derajatnya”.
Al-Ghazali menjelaskan bagi para pelajar dalam dunia kerja jangan sampai terjerumus. Sehingga
dalam bekerja akan merasakan Syukur atas nikmat Allah Swt yang diberikan dan tidak menggebu
dalam bekerja sampai tidak mengenal waktu. Karena, Rezeki sudah Allah Swt yang mengatur,
manusia hanya diperintahkan untuk ikhtiar semampu mungkin.
Al-Ghazali mengajarkan mengenai sosial antar manusia jangan sampai adanya sebuah
permusuhan. Dikarenakan tujuan mengakibatkan konflik antar manusia yang telah terhasut tipu
daya syetan. Dalam pesan yang diberikan, Al-Ghazali berkata :
Aku telah melihat sebgaian manusia saling bermusuhan swngan Sebagian yang lain karena suatu
tujuan dan suatu sebab. Lalu aku merenungkan firman Allah Swt : Sungguh, Syetan itu musuh
bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh. Maka , aku mengerti bahwa tidak boleh
memusuhi seorangpun selain syetan”.
Pengajran yang harus diamalkan ialah, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mempunyai
rasa atau tidak suka terhadap sesame manusia. Karena yang pantas seseorang untuk dimusuhi
hanyalah syetan. Karena syetan selalu menjerumuskan pada tercela dan berbuat jelek terhadap
manusia lainnya, maka sikap yang diamalkan membenci sifatnya tidak manusianya. Sehingga
akan muncul sebuah kehamonisan tanpa melihat perbedaan karena semua dimata Allah Swt sama,
dan manusia dituntut untuk saling menjaga dan menghargai.
Komunikasi yang dibangun agar saling membutuhkan dan memiliki perlu adanya musyawarah
yang mufakat dan kemanfaatn bagi banyak orang. Al-Ghazali dalam nasihatnya yang diberikan
kepada pelajarnya.
Nilai Ta’addub dalam nilai profil pelajar rahmatan lil alamin, bermakna proses pada diri manusia
untuk menjaga martabat dari perbuatan yang melanggar etika. Sehingga dalam bersosial nilai
Ta’addub menjadikan manuisa lebih manusiawi dalam bertindak dan menjaga perasaan terhadap
orang lain. Hidup dikemudian hari dan melatih diri untuk tidak sombong, serta ilmu diamalkan
untuk bisa hawa nafsu, memperbaiki akhlak dan menghidupkan ajaran nabi Muhammad Saw,
maka hal ini sangat beruntung dan disenangi oleh Allah Swt.
Dalam konteks pembelajaran nilai ta’addub dan adab penerima ilmu yang hasil pemikiran dari
Al-Ghazali tentu sangat berkaitan. Hal ini dikarenakan nilai ta’addub peserta didik yang
bermartabat dan beretika. Keadaban yang dibentuk tidak hanya dhohirnya saja, batiniyah yang
dibentuk untuk peserta didik melalui pemikiran Al-Ghazali dengan meniatkan berjuang karena
Allah Swt, menghidupkan ajaran Nabi Muhammad Saw, memperbaiki akhlak dan mampu untuk
nafsu diri yang banyak memerintahkan dalam hal keburukan. Al-Ghazali juga berpesan untuk
menjauhi niatan yang bertujuan keduniawian, seperti penghargaan dunia, meraih jabatan
duniawi dan
59
60
menyombongkan kelebihannya dengan orang lian, hal tersebut sangat rugi diakhirat kelak, maka
adab kepada Allah Swt mengenai hati sangat diperhatikan oleh Al-Ghazali agar peserta didik
dalam keadaban terhadap manusia dengan cara bersiosal yang menjaga rasa kerukunan, memiliki
kepekaan dalam keseharian dan menjauhi perpecahan. Dan menyatukan adab hati yang tidak
menyobongkan diri selalu rendah hati serta ingat kepada Allah Swt sehingga peserta didik akan
medapatkan kebahagian dunia dan akhirat.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa Nilai Ta’addub sangat berkaitan dengan adab
penerima ilmu yang ada. Karena Nilai Ta’addub membentuk diri peserta didik yang berakhlak,
menjaga dengan menghindari pelanggaran etika dan memiliki rasa manusiawi terhadap orang
lain. Ta’aadub juga mengatur manusia dengan Allah Swt untuk selalu melaksanakan apa yang
diperintahkan dan menjauhi apa yang dilarang. Hal tersebut berkaitan dengan penjelasan Al-
Ghazali yang secara sosial ilmu untuk menghidupkan ajaran Nabi Muhammad Saw serta tidak
untuk bohong kepada orang lain. Dan secara dengan Allah Swt ilmu harus diamalkan untuk Allah
Swt, menakhlukkan nafsu dan menata hati untuk bersih dan suci
Nilai Qudwah yang terdapat dalam nilai profil pelajar rahmatan lil alamin mempunyai arti sebuah
keteladan yang bertujuan kepada peserta didik. Nilai Qudwah atau ini memiliki tujuan untuk
membentuk peserta didik dengan cara meniru seorang guru maupun warga madrasah yang
mempunyai kepribadian yang baik dan indah. Keteladanan ini dibentuk secara sadar tidak
61
sadar. Keteladanan sadar, yaitu peserta didik mampu memahamkan perbuatan yang dilakukan
mempunyai nilai tinggi dan selalu menghayati kemanfatan bagi diri maupun orang lain.
Sedangkan keteladan tidak sadar, ialah peserta didik melakukan sebuah perbuatan yang diperoleh
dari meniru seseorang, baik guru atau lainya, yang secara bertindak tidak berfikir dahulu tetapi
tidak melakukkan, karena orang yang mereka lihat melakukkan hal trsebut. Sebagai contoh guru
selalu berpenampilan rapi sehingga peserta didik akan meniru dengan sendirinya.
Teladan dalam beramal yang dikemukaan oleh Al-Ghazali dalam kitab ayyuhal waladnya,
mempunyai maksud, bahwa Al-Ghazali peserta didiknya untuk selalu mengamalkan ilmu yang
telah didapat karena ketika ilmu sudah diamalkan secara istiqomah kemanfaatan akan baik untuk
dirinya maupun orang lian. Penjelasan Al-Ghazali mengenai pengamalan ilmu memiliki 2 (dua)
tujuan, diantaranya :
Ilmu yang diamalkan agar manusia dalam kehidupan dunia selalu mendapatkan tuntunan dan
menhindari kerugian di akhirat kelak.
Ilmu yang selalu diamalkan secara istiqomah akan terbentuk lah jiwa seseorang yang bertawakal
dan beretika dalam bertindak. Sehingga kemanfaatan bagi orang lain akan meniru perkara yang
baik tersebut dan menjadi teladan Bagai orang disekitarnya.
Dari kedua konteks diatas dapat bahwa, Nilai Qudwah yang terdapat nilai profil pelajar rahmatan
lil alamin berkaitan dengan Teladan dalam beramal dari pemikiran Al-Ghazali. Karena, nilai
Qudwah bagi peserta didik, memberikan keteladanan dari guru maupun yang lebih tua secara baik
dan
62
terus menerus secara istiqomah. Hal tersebut akan memberikan dampak yang signifikan karena
lingkungan yang dipenuhi dengan ramah dan indah. Keterkaitan dengan Al-Ghazali ialah,
memerintahkan peserta didiknya untuk selalu mengamalkan ilmu secara Ikhlas dan istiqomah.
Hal tersebut sangat searah bagi seorang guru ataupun yang lebih tua untuk mengamalkan karena
sebagai bentuk ajaran bagi yang lebih muda. Dan dipahamkan dari ilmu yang didapat mempunyai
nilai positif dimasa yang sekarang dan masa yang akan datang.
Nilai Muwatanah dalam profil pelajar rahmatan lil a’lamin, menjelaskan mengenai kebangsaan
untuk mencintai tanah air agar kesatuan antar umat saling terjalin dan menghindari hal
perpecahan. Pendidikan kwarganegaraan juga berujuan untuk membentuk peserta didik yang
berfikir kritis bertindak secara demokratis karena penanaman kewarganegaraan menegenai hak-
hak warga. Dengan melatar adanya perbedaan suku, agama, dan ras, memwajibkan peserta didik
untuk mempelajari dan memahami agar saling bersatu untuk menanamkan rasa sadar disetiap
aktivitasnya melalui kritis dan demokratis.
Pemikiran Al-Ghazali dalam kehidupan Masyarakat menekankan persatuan, kerukunan dan
menhindari kedengkian. Hidup bermasyarat yang dijelaskan melalui Ayyuhal Walad, pesan
kepada peserta didik untuk perkataan dan perbuatan di hadapan orang lain. Karena akan
memberikan dampak yang negative apabila dengan tidak memikirkan sebuah . Sehingga Al-
Ghazali
63
menyamakan perbuatan tersebut seperti menyalakan api dialam ladang amal sendiri yang
mempunyai arti menhapus amal perbuatan baik yang telah diperbuat. Mengenai bertindak untuk
menjaga perkataan yang mempunyai kaitan dengan nilai muwatanah untuk menanamkan
kesadaran disegala aktivitas.
Kedua konteks mengenai nilai muwatanah dan hidup bermasyarakat dalam pikiran Al-Ghazali
untuk pembentukan peserta didik mempunyai keterkaitan dalam menjaga sesama manusia.
Keterkaitan yang sangat ditekankan ialah menjaga sebuah perkataan dan perbuatan. Karena,
perbedaan suku, budaya, agama dan ras sangat mudah munculnya konflik diakibatkan kurangnya
menjaga perasaan dan rasa persatuan. Maka, dengan adanya nilai muwatanah untuk pengenalan
suatu nilai-niai kebangsaan yang menyatukan sebuah perbedan sangat berkaitan untuk
mendukung nilai muwatanah dengan menjaga sebuah perkataan dan perbuatan yang telah
dijelaskan oleh Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal walad.
Nilai Tawassut pada profil pelajar rahmatan lil a’lamin ialah dalam betindak mempunyai sikap
tengah-tengah yang tindak condong kekanan maupun kekiri. Sikap tawassut diambil untuk
membentuk peserta didik yang mempunyai sikap yang adil dan lurus. Agar dalam kehidupan
bermasyarakat tidak terlalu ekstrim ataupun liberal. Pembentukan tawassut bertujuan peserta
didik bisa sikap moderat dengan tidak membedakan sebuah danselalu menjalin silaturahmi. Dan
sikap komnikasi yang selalu menerima dan menampung
64
pendapa orang lain dan mengendalikan emosional dengan adanya kritikan, saran dan masukkan
dari orang lain. Serta sikap yang lurus tidak melaggar agama dan etika sosial.
Dalam konteks Ayyuhal Walad yang dikemukakan oleh Al-Ghazali mengenai moderat, ialah
manusia dalam melakukan sebuah sosial haruslah sesuai dengan ajaran syariat Islam melalui
percakapan dan perbuatan. Dalam moderat haruslah tetap mejaga ajaran syariat Islam tanpa
perasan sebuah perbedaan. Dalam bertindak melalui percakapan maupun perbuatan tetap syariat
untuk menjauhi perkara yang selalu mengikuti nafsu atau kesenangan sendiri.
Dari kedua konteks diatas yang melandaskan pembelaran kepada peserta didik mempunyai kaitan
yang saling menguatkan. nlai tawassut yang ada di profil pelajar rahmatan lil alamin, peserta
didik untuk bersikap adil dan lurus. Dalam bersisosial peserta didik mengambil jalan Tengah
moderat tanpa meliat keekstriman maupun kebebasan. Maka Al-Ghazali dengan selalu beramal
atau bertindak sesuai dengan syariat Islam, ilmu dan amal tanpa mengikuti yang sesaui ajaran
islam, maka hal tersebut sesat. Selai itu, agar tawassut berjalan baik, seorang peserta didik juga
melatih dalam bertindak, memberikan keputusan yang tidak condong pada salah satu pihk dan
harus perkara yang mengikuti keinginan nafsu semata. Maka kedua konteks tersebuat mempunyai
kaitan untuk dilakukan agar kedua ursan dunia dan akhirat bisa berjalan dengan ridho Allah .
65
Nilai Tawazzun dalam profil pelajar rahmatan lil a’lamin, bertujuan untuk peserta didik bisa
menyikapi kehidupan dengan seimbang. Keseimbangan dalam kehidupan yang dimaksud, ialah
melaksankan dunia dan akhirat dilakukan dengan seimbang tidak condang pada satu pihak.
Manusia diwajibkan untuk bekerja melaksanakan perintah Allah Swt tetapi tidak sampai dengan
pekerjaannya yang pada akhirnya kewajiban urusan dengan Allah Swt sholat, puasa dan
kewajiban ibadah lainya. Selain itu, Allah Swt juga melarang bila hambanya hanya ibadah tanpa
bekerja ataupun ikhtiar untuk memenuhi kehidupannya. Maka Allah Swt mengajurkan untuk
ikhtiar bekerja dengan niatan ibadah sesuai dengan kemampuan yang juga seimbang dengan
melakukan ibadah-ibadah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebagai didik yang setiap
harinya mencari ilmu, maka peserta didik mampu mendalami ilmu urusan dunia dan urusan
akhirat. Sehingga bisa menyeimbangkan agar mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Keseimbangan dunia akhirat kitab Ayyuhal Walad yang dikemukakan oleh Al-
Ghazali,mempunyai arahan kepada pelajar atau peserta didik mengenai keseimbangan dunia dan
akhirat. Al-Ghazali menerangkan bahwa manusia memiliki jiwa yang kuat, jiwa tersebut harus
mampu mengendalikan diri dari keinginan nafsu banyak menjerumuskan dalam hal keburukan.
Maka, agar dalam kehidupan Al-Ghazali memerintahkan agar selalu ingat kematian yang datang
kapan saja. Karena didalam kubur hanyalah amal yang didapat harta tidak dibawa mati.
66
Dari kedua konteks diatas, peserta didik dapat mengambil pembalajran yang saling berkaitan
anatara nilai tawazzun keseimbangan dunia akhirat dalam Ayyuhal Walad. Tawazzun yang ada
pada rahmantan lil a’lamin menggerakkan peserta didik untuk seimbang
Hal tersebut berkaitan dengan pemikiran -Ghazali yang harus semangat dalam bekerja tetapi juga
mempersiapkan amal ibadah untuk kematian yang datang kapan saja. Sehingga, keseimbangan
harus dilakukan pada peserta didik ialah semangat dalam urusan dunia untuk memenuhi
kewajiban Allah Swt, berniat ibadah dan tidak cinta dunia. Serta mengalahkan hawa nafsu yang
menjerumuskan, menjauhi kesombongan menyiapkan amal untuk bekal kehidupan akhirat yang
kematian seseorang akan datang kapan saja.
Nilai I’tidal yang dibagun dalam profil pelajajar rahmatan lil alamin, ialah peserta didik yang
mempunyai sikap yang jujur, peduli, adil dan bertanggung jawab. Dimulai dengan melatih diri
dengan konsisten dalam berucap dan berikir dahulu sebelum bertindak, r apa yang dilakukan
sikap yang I’tidal terhadap diri dan semua orang sebuah nilai luhur yang harus diamalkan agar
rasa ketentraman bisa diperoleh dan memperbanyak Syukur kepada Allah Swt.
Nasihat Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad, memberikan pesan mengenai Integritas Kerja.
Dalam dunia kerja seseorang bekerja dengan jujur serta menghindari perkara yang haram dan
syubhat. Ketika seseorang mau
67
menjalankan dengan sesuai perintah dan bersungguh-sungguh maka akan menaikkan derajat
seseorang. Sehingga pesan bagi peserta didik disetiap harinya, ialah bersungguh-sungguh dan
menghindari perkara haram dan Syubhat.
Konsep nilai I’tidal yang terdapat pada rahmatan lil alamin, sanagt berkaitan dengan pemikiran
Al-Ghazali mengenai adil dan tanggung jawab, menjadi sebuah kesatuan dan penjabaran dengan
pemikiran Al-Ghazali yang bersungguh-sungguh dalam tanggung jawab menghindari perkara
haram dan syubhat. Agar dalam kehidupan tidak menurunkan pada diri sendiri karena mampu
lakukan dengan bersih dan amanah. Maka, pembentukkan peserta didik yang sesuai I’tidal ini
harus selalu mengingatkan dan bersama-sama melaksanakan secara hati-hati agar semua yang
dilakukan di ridhoi oleh Allah Swt.
Nilai Musawah pada profil pelajar rahmatan lil alamin, mempunyai pemahaman mengenai
kesetaraan. Tujuan adanya musawah menjadikan peserta didik menggap semua sama karena yng
ada pada didunia ini menentukan di masyarakt. Maka perkara hal yang membuat orang
bermusihan dan saling menggunjing harus dihindari dengan merangkul dan berkomunikasi
dengan baik.
Petuah Al-Ghazali dalam kitabnya Ayyuhal Walad, menjelaskan mengenai menghargai
perbedaan. Al-Ghazali memberikan arahan bahwa,
68
dalam sosial jangan sampai adanya sebuah permusuhan. Dkarenakan adanya perbedaan yang
tidak sama pada dirinya. Sytan sangat pintar menghasut manusia yang akhirnya membuat konflik
dan perkelahian. Maka, manusia yang mempunyai beda dari segi budaya, tradisi, suku dan ras
membuat mudah untuk di adu domba dan permusuhan. Salah satunya dalam pesan Al-Ghazali
dikarenakan hasutan syetan yang kuat. Selain itu, ada pendapat juga menjadi pemicu konflik,
sehingga saling menghargai sebuah perbedaan demi kedamaiaan sangat di utamakan.
Dari kedua konteks diatas, mempunyai kaitan antara nilai musawah yang ada pada profil pelajar
rahmatan lil alamin dan perbedaan di kitab Ayyuhal Walad. Nilai musawah yang sangat
menjunjung tinggi kesetaraan yang saling mempunyai rasa sama tanpa ada yang lebih tinggi.
Dengan sebuah perbedaan suku, ras budaya di Indonesia menjadikan peserta didik untuk
menghindari sebuah kesombongan karena merasa yang lebih baik. Hal tersebut sangat berkaitan
dengan nasihat Al-Ghazali untuk permusuhan karena perbedaan dan permusuhan terjadi karena
selalu menuruti hasutan dari setan. Oleh sebab itu, saling menghargai dengan banyaknya
perbedaan, dan saling merasa dalam bersosial. Tidak menyombongkan diri dan tidak ikut hasutan
setan dengan mementingkan kesatuan dan keharmonisan.
Nilai Syura’ dalam profil pelajar rahmatan lil alamain, mempunyai arti sebuah perdebatan,
bertukar pikiran dengan permasalahan dan memberikan
69
gagasan untuk mencapai kemaslahatan bersama. Dengan adanya musyawarah dalam profil pelajar
memberikan diidkan untuk saling berkomunikasi, keterbukaan anatara guru dan murid, dan
menjadikan tali persabahatan untuk kebersamaan. Dengan adanya nilai syura’, rasa kepedulian
peserta didik karena saling memberikan masukan dan perbaikan. Disisi lain, dampak positifnya,
peserta didik yang dialami akan terhindar dari individual dalam sosial juga perlu banget untuk
berkomunikasi.
Al-Ghazali dalam menerangkang mengenai musyawarah, dalam kitab Ayyuhal Walad ialah
berkomunikasi yang memberikan nyaman dan tidak menyakiti. Dalam nasihat yang ditulis,
memberikan perhatian ketika seseorang dalam sebuah argument atau gagasan, hal dengan
memberikan rasa kenyamanan dan bisa mmeberikan Keputusan yang berguna bagi orang banyak.
Dari kedua konteks dapat diambil keterkaitan antara nilai Syura dan komunikasi mufakat pada
kitab Ayyuhal Walad. Keterkaitan untuk pembelajaran kepribadian peserta didik ialah, memilki
perasaan peduli dalam bersosil melalui diskusi dan mengambil tindakan untuk kepentingan
bersama. Selain itu, mejadikan peserta didik yang peka dalam sosial dari sifat individualis. Hal
tersebut sejalan dengan pemikiran Al-Ghazali yang ketika memberikan pesan atau
bermusyawarah untuk kepentingan bersama bisa dirasakan ketika pesan tersebut dilakukannya.
Hal tersebut, bertujuan untuk menunjukkan etika dalam bermusyawarah agar tidak menggebu-
gebu yang harus sesuai dengan pikirannya.
70
Nilai tasamuh dalam profil pelajar rohmatan lil alaim, bisa disebut dengan toleransi yang
bertujuan untuk membentuk perilaku peserta didik yang bisa hargai teman sebayanya dan saling
menyayangi. Selain itu, tasamuh juga membentuk untuk tidak mengoreksi dengan mencari
kesalahan untuk merendahkan peserta didik lainya. Mencetak generasi yang berjuan untuk
kebenaran dan mejauhi perkara yang buruk. Toleransi ini diajarkan untuk bisa menjaga sebuah
kerukunan dan persatuan dengan membatasi hal-hal yang dilarang agama, tetapi tetap bisa
menjaga perasaan dengan baik dan harmonis.
Nasihat Al-Ghazali dalam kitab Ayuuhal walad mengenai problematika sosial, menjelaskan selalu
menjaga perilaku lisan dan perbuatan, karena hal tersebut jika tidak diperhatikan akan membuat
serta didiknya untuk tidak saling mencela dan menggunjing satu sama lain. Karena perpecahan
biasa terjadi sikap mencela dan tidak mau menghargai. Sehingga Al-Ghazali juga menambah
untuk penentram batin bahwa Allah Swt lah yang menentukan dan memberikan kehidupan
didunia yang akhirnya semua akan kembali juga kepada Allah Swt.
Dari Kedua konteks diatas saling berkaitan anatara Toleransi yang ada pada profil pelajar
rohmatan lil Alamin, dan problematika sosial yang ada pada kitab Ayuuhal Walad. Titik dari
keduanya, ialah dengan agama Islam. Yang berkaitan dengan prblematika sosial yang mana
nasihat kepeserta didik cara untuk kesatuan dan kerukunan bisa terjaga tanpada ada perpecahan.
Yang dijelaskan Al-Ghazali untuk tidak saling mencela dan menggunjing karena
71
sebuah perkumpulan permasalah pasti adanya dan diselesaikan dengan kerukunan dan persatuan.
Nilai Tatawur wa Ibtikar dalam profil pelajar rohmatan lil alamin menujukkan tujuan dari peserta
didik yang dinamis dan inovatif. Menjadikan peseta didik yang selalu terus menerus untuk
berjuan putus dalam usaha. Sehingga membentuk peserta didik yang selalu menemukan hal baru
menjadikan perubahan yang lebih baik. Berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang ada pada sekolah
untuk membentuk kesadaran berkemajuan dan kemaslahatan ummat. Kemaslahatan ummat
berarti bagi banyak orang yang memmudahkan dalam urusan berkat dinamis dan inovatifnya
peserta didik.
Al-Ghazali juga memahami peserta didiknya mengenai penguasaan ilmu bertujuan untuk
kemaslahatan bagi banyak orang. Kuasai sebuah kelebihan yang dimiliki dan di bagikan kepada
orang-orang. Dan Al-Ghazali memberikan himbauan untuk jangan yang terlalu ketika hal tersebut
tidak dikuasai. Karena akan menjadi kerugian bagi ummat ketika argument tidak sesuai dengan
keahlian yang dimiliki. Karena, dosanya orang mendebat yang dirinya sendiri kurang ahli itu
lebih besar dari pada kemanfaatanya.
Dari kedua konteks mengenai Tatawur wa ibtikar dengan penguasaan ilmu yang ada pada kitab
Ayyuhal Walad mempunyai keterkaitan untuk kemaslahatan banyak orang. Dengan potensi yang
ada pada diri peseerta didik untuk selalu bergerak dengan terus-menerus yang juga selalu
mempunyai ide
72
untuk kemaslahatan umat yang lebik lagi. Dan di penguasan ilmu dalam kitab Ayyuhal Walad,
mengingatkan untuk bersungguh-sungguh karena akan dampak bagi umat. Dan memberikan
himbauan untuk tidak dilakukan untuk peserta didik, mengenai perdebatan yang itu belum
dikuasai dengan baik dan menyeluruh. Maka kedua hal tersebut saling membangun menjadikan
peserta didik yang dinamis, inovatif dan ahli dalam ilmu yang didalam
Profil Pelajar Rahmatan Lil A’lamin merupakan sebuah konsep dalam kurikulum merdeka untuk
membentuk pelajar yang berpola berpikir, bersikap dan berperilaku sesuai dengan tutunan Islam
dengan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur Pancasila yang universal. Serta berperilaku toleransi
demi terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Adapun nilai-nilai Profil Pelajar Rahmatan Lil
A’lamin dalam Kurikulum Merdeka, ialah
74
Kitab Ayyuhal Walad, merupakan karya pemikiran Al-Ghazali yang disusun setelah mendapatkan
surat dari muridnya, karena kegelisahan seorang murid akan kemanfaatan ilmu dan dirinya,
sekaligus di ridhoi oleh Allah Swt. maka Kitab Ayyuhal walad ini berisikan nasihat-nasihat dari
Al-Ghazali kepada muridnya sehingga menjadi rujukan kitab hingga sekarang. Adapun pemikiran
Al-Ghazali yang berkaitan dengan Nilai-Nilai Rahmatan Lil- Alamin dalam kitab Ayyuhal
Walad, sebagai berikut :
Pemikiran Al-Ghazali dalam kitabnya Ayyuhal Walad mempunyai kaitan dengan nilai-nilai Profil
Pelajar Rahmatan Lil A’lamin yang dirancang untuk pembentukan peserta didik. Dalam kitabnya
yang mana nilai pelajar Rahmatan Lil A’lamin terdapat sepuluh nasihat, yaitu :
Nasihat adab penerima Ilmu, yang menjelaskan cara peserta didik untuk beretika dan kemanfatan
pelajar. Dengan meniatkan berjuang karena Allah Swt, menghidupkan ajaran, memperbaiki
akhlak dan mampu untuk
75
membentengi nafsu diri sehingga berkaitan dengan Nilai Ta’addub yang menjadikan peserta didik
bermartabat dan tidak melanggar etika.
Nasihat teladan dalam beramal yang mempunyai pemahaman untuk peserta didik mengamalkan
Ilmu yang telah didapatkan secara Istiqomah sehingga dapat memberikan kemanfaatan baik
dirinya maupun orang lain. Dan hal tersebut berkaitan dengan Nilai Qudwah yang melatih peserta
didik untuk memberikan tauladan bagi teman sebayanya maupun teman yang lebih muda.
Nasihat hidup bermasyarakat yang menjelaskan cara peserta untuk menjaga perkataan dan
perbuatan demi perasatuan di hadapan orang lain. Karena akan memberikan dampak yang
negative apabila bertindak dengan tidak memikirkan sebuah akibat. Maka berkaitan dengan nilai
muwatanah yang mewujidkan peserta didik yang bersifat perasatuan dan kewarganegaraan.
Nasihat moderat yang memahamkan pelajar ketika bersosial haruslah tetap mejaga ajaran syariat
Islam tanpa menyinggung perasan sebuah perbedaan melalui lisan dan perbuatan. Hal tersebut
berkaitan dengn nilai tawassut yang mengambil jalan tengah tetapi tetap sesuai dengan syariat
Islam.
Nasihat keseimbangan dunia dan akhirat yang meliputi pembentukan peserta didik untuk berjiwa
yang kuat, serta mampu mengendalikan diri dari keinginan nafsu dunia dengan mengingat sebuah
kematian. Hal tersebut berkaitan dengan nilai Tawazzu yang memberikan arahan kepada peserta
didik untuk hidup yang seimbang dengan tidak condong
76
pada salah satu pihak, serta seimbang dalam mencari ilmu mengenai urusan dunia dan urusan
akhirat.
Nasihat Integritas Kerja memahamkan peserta didik untuk berkerja dengan jujur dan menghindari
perkara haram dan Syubhat. Serta menjalankan dengan sesuai perintah dan bersungguh-sungguh
menjalankan Amanah. Hal tersebut berkaitan dengan nilai I’tidal bagi peserta didik untuk
bersikap adil dan lurus. Adil dalam bersosial kehidupan dan lurus menjalankan sesuai perintah
Allah Swt.
Nasihat menghargai perbedaan memahamkan peserta didik untuk bersosial dengan sesasama
jangan sampai terjadi sebuah permusuhan. Dikarenakan adanya perbedaan yang tidak sama pada
dirinya. membuat sytan sangat pintar menghasut manusia yang akhirnya membuat konflik. Hal
tersebut berkaitan dengan nilai musawah yang membentuk peserta didik untuk merasa sama
dengan teman lain.
Nasihat Komunikasi untuk mufakat merupakan berbicara yang memberikan kenyamanan dan
menjaga perkataan untuk tidak menyakiti ketika seseorang memberikan sebuah argument atau
gagasan yang tidak sesuai dengan dirinya. sehingga nasihat ini berkaitan dengan nilai Syura’ yang
mengartikan sebuah musyawarah dalam lingkungan sekolah.
Nasihat problematika sosial yang mengartikan sikap pada peserta didik untuk bisa menjaga lisan
dan perbauatan agar tenhindar dari konflik yang berujung perpecahan pada setiap kelompok.
Sehingga sangat berkaitan dengan nilai Tasamuh agar selalu tolerasi dengan siapapun karena
sebuah perbedaan.
77
Nasihat mengenai penguasaan Ilmu yang mengartikan bagi peserta didik untuk menguasai sebuah
ilmu yang nantinya bisa memberikan hal yang baru bagi orang banyak dan mendebat ketika
berbeda dalam ilmu yang dikuasai. Hal tersebut berkaitan dengan nilai Tatawur wa Ibtikar yang
mengarahkan peserta didik yang dinamis dan inovatif.
82
81