0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan99 halaman

Pengaruh Kepemilikan Institusional pada Pajak

Skripsi ini membahas pengaruh kepemilikan institusional, komisaris independen, dan komite audit terhadap manajemen pajak pada perusahaan manufaktur farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2021.

Diunggah oleh

Niken Rindasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan99 halaman

Pengaruh Kepemilikan Institusional pada Pajak

Skripsi ini membahas pengaruh kepemilikan institusional, komisaris independen, dan komite audit terhadap manajemen pajak pada perusahaan manufaktur farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2018-2021.

Diunggah oleh

Niken Rindasari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS

INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN


PAJAK
(Studi Empiris pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Sub Sektor Farmasi Tahun 2018-2021)

SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Studi
dan Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi ([Link])
Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Oleh :
NIKEN MARETA RINDASARI
11021900010

PROGRAM STUDI : AKUNTANSI


KONSENTRASI : AKUNTANSI PERPAJAKAN
PROGRAM PENDIDIKAN : SARJANA (S1)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS BINA BANGSA
SERANG
2023

1
PERSETUJUAN PEMBIMBING
DIPERSYARATKAN UNTUK UJIAN SIDANG SKRIPSI

SKRIPSI
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN
PAJAK
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SUB SEKTOR FARMASI
TAHUN 2018-2021)

NIKEN MARETA RINDASARI


NPM : 11021900010
JURUSAN : AKUNTANSI
KONSENTRASI : AKUNTANSI PERPAJAKAN
JENJANG PENDIDIKAN : SARJANA (S1)

Disetujui Untuk Dipertahankan Dalam Sidang Skripsi

Pembimbing I Pembimbing II

Surachman, SE., [Link] Evi Dora Sembiring, SE., [Link]


Tanggal : Tanggal :

PIMPINAN
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BINA BANGSA

Ketua Sekertaris

Mohamad Husni, SE.,M. Ak Novi Handayani, SE., [Link]


Tanggal : Tanggal :

2
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING
DAN PIMPINAN PERGURUAN TINGGI

SKRIPSI
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN
PAJAK
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SUB SEKTOR FARMASI
TAHUN 2018-2021)

NIKEN MARETA RINDASARI


NPM : 11021900010
JURUSAN : AKUNTANSI
KONSENTRASI : AKUNTANSI PERPAJAKAN
JENJANG PENDIDIKAN : SARJANA (S1)

Skripsi Telah Diterima dan Dinyatakan:


………. dengan Nilai Huruf: ……….
Oleh Tim Penguji Dalam Sidang Ujian Skripsi Program Sarjana (S1)
PROGRAM STUDI AKUNTANSI
Serang,…………
Pembimbing I Pembimbing II

Surachman, SE., [Link] Evi Dora Sembiring, SE., [Link]


NIDN : 0401016307 NIDN : 0409128003
PIMPINAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BINA BANGSA

DEKAN KETUA
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi

[Link] Rustandi, S.E., M.M Mohamad Husni, SE., [Link]


NIDN : 0405056503 NIDN : 0412067605

REKTOR
Universitas Bina Bangsa

[Link] Ali Yusuf,SE.,[Link],MM


NIDN: 0425046901

3
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING
DAN TIM DOSEN PENGUJI
SKRIPSI
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN PAJAK
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SUB SEKTOR FARMASI
TAHUN 2018-2021)

NIKEN MARETA RINDASARI


NPM : 11021900010
JURUSAN : AKUNTANSI
KONSENTRASI : AKUNTANSI PERPAJAKAN
JENJANG PENDIDIKAN : SARJANA (S1)

Telah diuji dalam Sidang Skrispsi pada hari…. Tanggal….., bulan……, tahun….
Oleh Dewan Penguji dan Dinyatakan:
……………… dengan nilai Huruf ………….

Serang,……………..
Pembimbing I Pembimbing II

Surachman, SE., [Link] Evi Dora Sembiring, SE., [Link]


NIDN : 0401016307 NIDN : 0409128003
TIM DOSEN PENGUJI
Tanggal Tanda Tangan
1
Nama Penguji 1
Ketua Penguji ………………. ……………………
2
Nama Penguji 2
Anggota ………………. ……………………
3
Nama Penguji 3
Anggota ………………. ……………………

4
LEMBAR PERNYATAAN
TENTANG
KEABSAHAN PENULISAN SKRIPSI

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:


Niken Mareta Rindasari, 11021900010, Program Akuntansi, Fakultas
Ekonomi dan Bisnis, Universitas Bina Bangsa

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya buat dengan judul:

PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS INDEPENDEN


DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN PAJAK
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR
DI BURSA EFEK INDONESIA SUB SEKTOR FARMASI TAHUN 2018-2021)

1. Merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar
sarjana Akuntansi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa;
2. Seluruh isinya merupakan hasil karya sendiri, dan saya tidak melakukan
penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan norma,
kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.
3. Bagian-bagian tertentu dalam penulisan Skripsi yang saya kutip dari hasil
karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,
kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.
4. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung segala resiko / sanksi yang
dijatuhkan kepada saya apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau
sebagian Skripsi ini bukan hasil karya sendiri atau ada klaim dari pihak lain
terhadap keaslian karya saya ini, dan dipastikan serta ditemukan adanya
PLAGIAT dalam bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi berupa
pencabutan gelar akademik yang telah saya peroleh dan sanksi-sanksi lainnya
sesuai dengan peraturan perundangan.

Demikian surat pernyataan tentang keabsahan Skripsi ini, saya buat dengan
sebenarnya dalam keadaan sadar, sehat jasamani dan rohani serta tidak ada
paksaan dari pihak manapun, dan saya tandatangani di atas materai yang cukup.

Serang, 04 Agustus 2023

Niken Mareta Rindasari


NPM: 11021900010

5
KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan karunianya-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunanan Skripsi ini yang berjudul: “Pengaruh Kepemilikan
Institusional, Komisaris Independen dan Komite Audit Terhadap Manajemen
Pajak (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Sub Sektor Farmasi Tahun 2018-2021)”. Skripsi ini ditulis dalam
rangka memenuhi sebagaian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Akuntansi ([Link]) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa
Banten.
Penulis menyadari bahwa penulisan Skripsi ini tidak dapat terselesaikan
tanpa dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Oleh karena itu,
penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang secara
langsung dan tidak langsung memberikan kontribusi dalam penyelesaian Skripsi
ini. Secara khusus pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih
kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. H. Furtasan Ali Yusuf, S.E.,[Link].,M.M. Selaku Rektor
Universitas Bina Bangsa yang telah memberikan kemudahan dalam
kegiatan akademis serta arahan yang sangat [Link] skripsi
berjalan lancar.
2. Bapak Ir. Naufal Affandi, M.M. Selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik
Universitas Bina Bangsa, yang telah memberikan kesempatan bagi penulis
untuk melaksanakan penulisan skripsi ini.
3. Bapak Drs. Gatot Hartoko [Link]. Selaku Wakil Rektor II Bidang Keuangan
dan Sarana Prasarana Universitas Bina Bangsa, yang telah memberikan
kesempatan bagi penulis untuk melaksanakan penulisan skripsi ini.
4. Bapak Dr. Budi Ilham Maliki,[Link].,M.M. Selaku Wakil Rektor III Bidang
Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Bina Bangsa, yang telah
memberikan kesempatan bagi penulis untuk melaksanakan penulisan
skripsi.

6
5. [Link] Dwi Suseno,SE.,MM. Selaku Dekan Fakultas ekonomi dan
Bisnis, yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk
melaksanakan penulisan skripsi ini.
6. Bapak Ibrohim, S.E.,[Link].,CTA.,ACTA. Selaku Ketua Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan motivasi
dan dukungan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi
ini.
7. Bapak Mohamad Husni, S.E.,[Link]. Selaku Sekretaris Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan motivasi
dan dukungan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi
ini.
8. Ibu Hj. Nugrahini Kusumawati, S.E.,[Link]. Selaku Dosen Pembimbing I
yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan
masukan kepada penulis dengan sabar, sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
9. Ibu Efi Tajuroh Afiah, S.E.,[Link]. Selaku Dosen Pembimbing II yang telah
meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan kepada
penulis dengan sabar, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
10. Kedua orang tua, Ayahanda tercinta Rahmat dan Almarhumah Ibunda
tersayang Aliyatullailah serta adik tercinta Muhamad Firmansyah yang telah
memberikan motivasi dan dukungan baik moril maupun materil serta doa
yang tiada henti-hentinya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
11. Kepada seluruh dosen dan staf administrasi, termasuk rekan-rekan
mahasiswa yang telah menaruh simpati dan bantuan sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak
yang telah membantu, dan semoga Allah SWT melimpahkan karunianya dalam
setiap amal kebaikan kita dan diberikan balasan. Aamiin.

7
Serang, 25 Juni 2023
Penulis

Niken Mareta Rindasari

8
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i
PERSETUJUAN PEMBIMBING DIPERSYARATKAN UNTUK UJIAN
SIDANG SKRIPSI..................................................................................................ii
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING DAN PIMPINAN
PERGURUAN TINGGI.........................................................................................iii
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING DAN TIM DOSEN PENGUJI
.................................................................................................................................iv
LEMBAR PERNYATAAN TENTANG KEABSAHAN PENULISAN SKRIPSI v
KATA PENGANTAR............................................................................................vi
DAFTAR ISI...........................................................................................................ix
ABSTRAK.............................................................................................................xii
ABSTRACT............................................................................................................xiv
DAFTAR TABEL..................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR............................................................................................xvi
DAFTAR GRAFIK..............................................................................................xvii
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................xviii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang Penelitian.................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah.........................................................................12
1.3 Pembatasan Masalah........................................................................13
1.4 Rumusan Masalah............................................................................13
1.5 Tujuan Penelitian..............................................................................14
1.6 Manfaat Hasil Penelitian..................................................................14
BAB II KAJIAN TEORITIK..............................................................................16
2.1. Deskripsi Teoritik...............................................................................16
2.1.1. Teori Agensi (Agency Theory).................................................16
2.1.2. Manajemen Pajak.......................................................................18

ix
2.1.3. Kepemilikan Institusional..........................................................20
2.1.4 Komisaris Independen...............................................................21
2.1.5. Komite Audit.............................................................................23
2.2. Kerangka Berfikir................................................................................21
2.3 Hipotesis Penelitian......................................................................28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................30
3.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian.................................................30
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian............................................................31
3.3. Metode Penelitian................................................................................32
3.4. Populasi dan Sampel...........................................................................33
3.5. Teknik Pengumpulan Data..................................................................35
3.6 Teknik Analisis Data..........................................................................40
3.7 Hipotesis Statistik................................................................................47
BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........................................49
4.1. Deskripsi Data.....................................................................................49
4.2. Pengujian Persayaratan Analisis.........................................................52
4.2.1. Uji Asumsi Klasik......................................................................52
4.2.2. Uji Normalitas...........................................................................52
4.2.3. Uji Multikolinearitas..................................................................54
4.2.4. Uji Auto Korelasi.......................................................................55
4.2.5. Uji Heterokedastisitas................................................................56
4.3. Analisis Regresi Linier Berganda.......................................................57
4.4. Pengujian Hipotesis.............................................................................59
4.4.1. Uji Parsial (Uji t).......................................................................59
4.4.2. Uji Simultan (Uji F)...................................................................60
4.4.3. Koefisien Determinasi (R2).......................................................61
4.5. Pembahasan Hasil Penelitian..............................................................62
4.5.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen
Pajak.........................................................................................62
4.5.2 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Manajemen
Pajak.........................................................................................63
4.5.3 Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Pajak.........64

x
4.5.4 Pengaruh Kepemilikan institusional, komisaris independen
(KI) dan komite audit (KA) terhadap manajemen pajak....64
4.6. Keterbatasan Penelitian.......................................................................65
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN..........................................67
5.1. Kesimpulan.........................................................................................67
5.2. Saran....................................................................................................68
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................70
LAMPIRAN-LAMPIRAN.....................................................................................73

xi
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN
PAJAK
(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Sub Sektor Farmasi Tahun 2018-2021)

NIKEN MARETA RINDASARI


11021900010
nikenja99@[Link]

ABSTRAK

Manajemen pajak adalah suatu tindakan mengurangi pembayaran pajak


yang biasa dilakukan oleh perusahaan multinasional. Biasanya dilakukan dengan
memanfaatkan celah melalui kelemahan aturan yang ada. Beberapa praktik
penghindaran pajak dalam penelitian ini diantaranya; kepemilikan institusional,
komisaris independen dan komite audit.
Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui secara empiris pengaruh
Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap manajemen pajak, Untuk
mengetahui secara empiris pengaruh Komisaris Independen berpengaruh terhadap
manajemen pajak dan Untuk mengetahui secara empiris pengaruh Komite Audit
berpengaruh terhadap manajemen pajak. Penelitian ini dilakukan pada Perusahaan
Manufaktur yang terdaftar di BEI Sub sektor farmasi tahun 2018-2021.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif
korelasional. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 36
perusahaan. Di mana penentuan sampel menggunakan metode purposive
sampling, sehingga diperoleh sampel sebanyak 9 (sembilan) perusahaan
berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Analisis data dalam penelian ini
menggunakan metode SPSS Versi 25.
Berdasarkan hasil pengujian hipotesis menunjukkan bahwa secara parsial
(1) Kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap variabel manajemen
pajak, (2) Komisaris Independen todak berpengaruh secara signifikan terhadap
Manajemen Pajak dan secara simultan (3) Komite Audit berpengaruh terhadap
Manajemen Pajak.

xii
Maka, dapat disimpulkan bahwa secara parsial hanya 1 (satu) variabel
yang berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen pajak dan secara
simultan tidak ada yang berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen pajak.

Kata Kunci : Kepemilikan institusional, Komisaris independent, komite


audit, Manajemen Pajak

xiii
NIKEN MARETA RINDASARI
11021900010
nikenja99@[Link]

ABSTRACT

Tax management is an act of reducing tax payments that are usually carried
out by multinational companies. Usually done by exploiting loopholes through
weaknesses in existing rules. Some of the tax avoidance practices in this study
include; institutional ownership, independent commissioners and audit
committees.
This study aims to empirically determine the influence of Institutional
Ownership on tax management, to empirically determine the effect of Independent
Commissioners on tax management and to determine empirically the influence of
the Audit Committee on tax management. This research was conducted at
Manufacturing Companies listed on the IDX for the pharmaceutical sub-sector in
2018-2021.
The method used in this research is correlational quantitative method. The
population used in this study amounted to 36 companies. Where the determination
of the sample using purposive sampling method, in order to obtain a sample of 9
(nine) companies based on certain criteria. Data analysis in this study uses the
SPSS Version 25 method.
Based on the results of hypothesis testing, it shows that partially (1)
institutional ownership has a negative effect on tax management variables, (2)
independent commissioners have no significant effect on tax management and
simultaneously (3) audit committee has an effect on tax management.
So, it can be concluded that partially only 1 (one) variable has a significant
effect on tax management and simultaneously nothing has a significant effect on
tax management.

Keywords: institutional ownership, independent commissioner, audit


committee, tax management

xiv
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1 1 Target dan Realisasi Pajak Penghasilan Badan 2012-2014...............3
Tabel 1 2 Kasus Lainnya Mengenai Perpajakan..............................................10

Tabel 2 1 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan 28

Tabel 3 1 Jadwal Waktu Penelitian


Tabel 3 2 Kriteria Sampel Penelitian
Tabel 3 3 perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018-2021
Tabel 3 4 Kisi-Kisi Instrumen (Effective Tax Rate)
Tabel 3 5 Kisi-Kisi Instrumen (Kepemilikan Institusional)
Tabel 3 6 Kisi-Kisi Instrumen (Komisaris Independen)
Tabel 3 7 Kisi-Kisi Instrumen (Komite Audit)
Tabel 4 1 Hasil Uji Statistik Deskriptif..............................................................51
Tabel 4 2 Uji Normalitas.....................................................................................53
Tabel 4 3 Uji Multikolinearitas...........................................................................55
Tabel 4 4 UJi Autokorelasi..................................................................................57
Tabel 4 5 Analisis Regresi Linier Berganda......................................................58
Tabel 4 6 Uji Parsial (Uji t).................................................................................60
Tabel 4 7 Uji Simultan (Uji F).............................................................................61
Tabel 4 8 Koefisien Determinasi (R2)................................................................62

xv
DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1 1 Pertumbuhan EPS dan Laba Bersih...............................................9

Gambar 2 1 Kerangka Berfikir 17

Gambar 3 1 Kepemilikan Institusional (INST), Komisaris Independen (KI)


dan Komite Audit (UKA) penerimaan Uji t
Gambar 3 2 Daerah Penerimaan dan Penolakan Uji F
Gambar 4 1 Grafik P-Plot...................................................................................54
Gambar 4 2 Scatterplot.......................................................................................57

xvi
DAFTAR GRAFIK

Halaman

xvii
DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

xviii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Pajak merupakan merupakan salah satu sumber penerimaan bagi


negara, dimana pajak merupakan kewajiban bagi warga negara (wajib
pajak) untuk membayar sejumlah uang yang didasarkan atas perundangan
yang berlaku yang pemanfaatannya diberikan oleh seluruh masyarakat
(Hantoyo, 2018, pp. 1-7).1 Pajak memiliki manfaat dalam membiayai
aktivitas publik, dimana pajak memiliki peranan untuk pembiayaan dalam
aktivitas pembiayaan fasilitas umum yang meliputi fasilitas pendidikan,
rumah sakit dan fasilitas lainnya (Kusumo, 2019). 0 Pajak juga menjadi
sumber pendapatan terbesar dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja
Negara (APBN) yaitu tercatat sebesar 1.498,9 triliun rupiah (85,6%) dari
total pendapatan Negara 1.753,3 triliun rupiah merupakan pendapatan pajak
Indonesia dalam APBN-P 2017 (kemenkeu, 2017).0 Tingginya pendapatan
sektor pajak juga menjadi bentuk nyata dari tingkat kepatuhan yang
dimiliki oleh wajib pajak.
Dalam pelaksanaannya terdapat perbedaan kepentingan antara Wajib
pajak dengan pemerintah. Wajib pajak berusaha untuk membayar pajak
sekecil mungkin karena dengan membayar pajak berarti mengurangi
kemampuan ekonomis wajib pajak (Brigham, 2006).0 Jadi dalam proses

1
Hantoyo, S. S., Kertahadi, & Handayani, S. R, “Pengaruh Penghindaran Pajak Dan Sanksi Perpajakan
Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Pada Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tegal)”,
Jurnal Perpajakan (JEJAK) Vol. 9 No. 1, 2018, h.1-7
0
Kusuma, K. C, “Pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak, Pemahaman Peraturan Perpajakan Serta Sanksi
Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Membayar Pajak Tahun 2014 (Studi
Kasus WP OP di Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan Wonosobo)”, Skripsi Universitas
Negeri Yogyakarta.
0
terian Keuangan Republik Indonesia, “Realisasi APBN 2017”, Diakses dari:
[Link] [Link],
2017
0
Brigham, Eugene F. Dan Joel F. Houston, “Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Edisi 10, Buku 2”,
Jakarta: Salemba Empat, 2006

1
pembayaran pajak yang dilakukan selama ini wajib pajak selalu membayar
pajak dengan nominal yang paling rendah dengan harapan mendapatkan
manfaat yang maksimal dari pemanfaatan pajak yang ditetapkan, hal
tersebut terkait secara langsung dengan kepauhan wajib pajak dalam
pemenuhan kewajiban perpajakannya.
Kepatuhan perpapajakan pada dasarnya merupakan kepatuhan yang
dilakukan oleh wajib pajak dalam menjalankan hak perpajakan dengan baik
dan benar sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 0
Keinginan wajib pajak untuk melakukan pembayaran sesuai dengan
ketentuan menunjukkan adanya peran yang besar dari wajib pajak sehingga
pendapatan pajak sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Namun
demikian kondisi yang terjadi yaitu wajib pajak sering melakukan
manajemen dalam proses pembayaran pajak sehingga potensi pajak yang
hilang mengalami peningkatan. Salah satu aturan misalnya terkait transfer
pricing, yakni tentang penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha
dalam transaksi antara wajib pajak dengan pihak yang mempunyai
hubungan istimewa (Perdirjen No. PER- 43/PJ/2010).
Permasalahan mengenai kepatuhan wajib pajak menjadi masalah
yang secara umum terjadi di seluruh negara-negara yang menerapkan
sistem perpajakan. Berbagai penelitian telah dilakukan dan kesimpulannya
adalah masalah kepatuhan dapat dilihat dari segi keuangan publik (public
finance), penegakan hukum (law enforcement), struktu organisasi
(organizational structure), tenaga kerja (employees), etika (code of
conduct), atau gabungan dari semua segi sehingga fungsi atau peranan
pajak tidak dapat berjalan sesuai dengan program yang telah ditetapkan.
Manajemen perpajakan secara umum dapat didefinisikan ` sebagai usaha
menyeluruh yang diupayakan oleh wajib pajak agar segala hal yang
berkaitan dengan perpajakan dapat dikelola dengan efektif, efisien, dan
[Link], metode ini merupakan proses untuk meminimalisir
0
Ilham Syah et al. dalam Lilis Ardiani, Pengaruh Pengtahuan Pajak, Sosialisasi Perpajakan, dan
Insentif Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor, Jurnal Ilmu dan Riset
Akuntansi, Vol. 11, No. 2 (2022), h. 1-18

2
beban pajak namun tetap berada pada jalurnya, yakni sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku. Biasanya, metode ini dilakukan secara rutin atau reguler karena
transaksi yang dilakukan berulang atau selalu terjadi di sebuah perusahaan
guna mengelola dengan baik urusan perpajakannya.
Tabel 1.1 Target dan Realisasi Pajak Penghasilan Badan
2012-2014

Tahun Target Realisasi %


Pajak (Trilyun (Trilyun Pencapaian
Rp.) Rp.)
2014 169,82 148,72 87,5%
2013 178,25 154,29 86,5%
2012 191,13 152,13 79,6%
2013 995,20 921,40 73,8%
2014 1.072,38 985,13 87,25%
2015 1.294,25 1.060,86 233,39%
2016 1.355,20 1.105,97 249,23%
2017 1.283,57 1.151,13 132,44%
2018 1.424,00 1.315,00 109%
2019 1.577,56 1.332,06 8,4%
2020 1.198,82 758,60 6,9%
2021 1.268,50
Sumber: Laporan Kinerja Tahunan Direktorat Jenderal Pajak

Jika dilihat ke tahun sebelumnya, berdasarkan Laporan Tahunan


Kinerja Direktorat Jenderal Pajak Tahun 2011, sampai dengan tanggal 31
Desember 2011, jumlah wajib pajak badan terdaftar adalah 1,9 juta wajib
pajak. Jumlah SPT Tahunan Badan yang disampaikan 466 ribu sedangkan
jumlah badan usaha yang berdomisili tetap dan aktif berdasarkan data BPS
berjumlah sekitar 12,9 juta. Data ini memberikan informasi bahwa, rasio
wajib pajak badan dan SPT Tahunan yang disampaikan terhadap jumlah
badan usaha aktif hanya mencapai 14,8% dan 3,6%. Dengan kata lain
tingkat kepatuhan wajib pajak badan juga masih rendah. Kepatuhan wajib
pajak yang rendah dapat menjadi indikasi adanya praktek manajemen

3
pajak. Manajemen pajak sering dikaitkan dengan perencanaan pajak (tax
planning), di mana keduanya sama-sama menggunakan cara yang legal
untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kewajiban pajak.
Kepemilikan institusional pada dasarnya memiliki peran penting
dalam memantau, mendisiplinkan dan mempengaruhi manajer sehingga
memiliki fokus dalam upaya memaksimalkan tanggung jawabnya kepada
perusahaan.0
Kepemilikan institusional dimanifestasikan sebagai kepemilikan
saham perusahaan yang mayoritas dimiliki oleh institusi atau lembaga
(perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, asset management dan
kepemilikan institusi lain).0 Dengan adanya manajemen pajak, hal ini
membantu para pemilik saham institusional dalam mengetahui kejelasan
resiko pajak dari perusahaan tempat mereka berinvestasi. Penerapan
corporate governance juga dilatar belakangi oleh masalah struktur
kepemilikan. Pada penelitian kali ini, struktur kepemilikan perusahaan akan
difokuskan pada struktur kepemilikan institusional. Hal ini karena dengan
adanya kepemilikan institusional maka akan ada kontrol yang lebih baik.
Dengan adanya manajemen pajak, hal ini membantu para pemilik saham
institusional dalam mengetahui kejelasan resiko pajak dari perusahaan
tempat mereka berinvestasi. Selain itu jika ETR lebih kecil maka beban
pajak yang ditanggung oleh para pemegang saham akan lebih ringan.
Menurut penelitian Solihah et al. (2020),0 bahwa kepemilikan institusional
berpengaruh negatif terhadap effective tax rate, sedangkan berdasarkan
penelitian Yusuf et al. (2021), menegaskan bahwa kepemilikan saham
institusional memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap effective

0
Alghifari et al., Identifikasi Kompensasi Manajemen, Capital Intensity, dan Levarage Terhadap Tax
Avoidance, Prosiding Konferensi Riset Nasional Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi, Vol. 2 (2022), h.
1726-1743.
0
Yani & Saputra, Pengaruh Kepemilikan Asing, Kepemilikan Institusional dan Levarage terhadap
Pengungkapan Corporate Social Responsibility, e-Jurnal Akuntansi, Vol. 30, No. 5 (2020), h.
1191-1207.
0
Solihah et al., Tax Avoidance of Mining Companies from the Return on Assets, Institutional
Ownership, and Audit Committee Perspective, Journal of Business and Managemen Review, Vol.
1, No. 2 (2020), h. 77-89

4
tax rate.0
Kepemilikan institusional adalah tingkat kepemilikan saham oleh
institusi dalam perusahaan, diukur oleh proposi saham yang dimiliki oleh
institusional pada akhir tahun yang dinyatakan dalam persentase
menyatakan bahwa para investor institusional pada umumnya
menginvestasikan dananya lebih besar (Hermuningsih, 2019, pp. 15-27)0,
sehingga mereka memiliki sikap untuk memonitoring lebih insentif kepada
perusahaan, kepemilikan institusional memiliki peran penting dalam
memantau, mendisiplinkan, serta mempengaruhi keputusan manajemen
yang dibuktikan bahwa semakin besar kepemilikan saham investor institusi
maka semakin kuat untuk mendesak manajemen untuk bertindak sesuai
dengan tujuan investor tanpa memperdulikan kepentingan yang
lain(Suhardjo, 2022, pp. 148-163).0
Kepemilikan institusional memperlihatkan adanya kepemilikan
yangbersifat komparatif. Adanya kepemilikan institusional dalam suatu
perusahaan akan mendorong peningkatan dan pengawasan agar lebih
optimal terhadap kinerja manajemen, karena kepemilikan saham mewakili
suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau
sebaliknya terhadap manajemen (Muzakir, 2022, pp. 13-24).0 Semakin
banyak nilai investasi yang diberikan kedalam sebuah organisasi, akan
membuat sistem monitoring dalam organisasi lebih tinggi.
Perusahaan yang kepemilikan sahamnya lebih besar dimiliki pihak
institusi lain maupun pemerintah, maka kinerja dari manajemen perusahaan
untuk dapat memperoleh laba sesuai dengan yang di inginkan akan

0
Yusuf et al., Pengaruh Corporate Gorvenance Terhadap Tax Avoidance dengan Profitabilitas
sebagai Pemoderasi, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 3, No. 1 (2021), h. 44-57.
0
Hermuningsih, S., & Kusumawardani, R, “Pengaruh kebijakan dividen, kebijakan hutang, profitabilitas
dan kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan yang terdaftar di BursaEfek Indonesia tahun 2015-
2019”, Stability: Journal of Management and Business, 4(1), 2021, h.15-27
0
Suhardjo, S., Yulianty, S., & Chandra, T, “PENGARUH STR UKTUR KEPEMILIKAN,
KEBIJAKAN HUTANG, PROFITABILITAS, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN”, LUCRUM: Jurnal Bisnis Terapan, 1(1), 2022, h.148-163
0
Muzakir, M. F. A, “Struktur Kepemilikan, Kebijakan Deviden, Kebijakan Hutang dan Nilai
Perusahaan di Sektor Perbankan”, EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis, 10(1),
2022, h.13-24.

5
cenderung diawasi oleh investor institusi tersebut (Lestari, 2021, pp. 245-
256).0 Mekanisme memonitoring tersebut akan menjamin peningkatan dan
kemakmuran pemegang saham. Apabila pihak institusi merasa tidak puas
atas kinerja manajemen, maka mereka akan menjual sahamnya ke pasar
modal. Sehingga manajemen akan bertindak lebih sangat berhati-hati dalam
menentukan kebijakan.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sabli dan Noor (2012)
berpendapat bahwa komisaris independen memiliki pengaruh terhadap tarif
pajak efektif. Ini berarti bahwa proporsi komisaris independen yang lebih
tinggi akan memungkinkan mereka memastikan bahwa tindakan
manajemen telah sesuai dengan kepentingan pemegang saham yaitu
melakukan manajemen pajak sehingga hutang pajak yang ditanggung
perusahaan menjadi rendah0.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi menajemen pajak adalah
dewan komisaris independen. Dewan komisaris memegang fungsi
pengawasan yang mengawasi kinerja dewan operasional dan pengambilan
keputusan. Dewan komisaris sendiri terdapat komisaris independen yang
diharapkan tidak terpengaruh dengan kepentingan pemilik saham. Dewan
komisaris independen dalam fungsinya juga memberikan saran dan
pendapat pada proses pengambilan keputusan. Dalam pengambilan proses
pengambilan keputusan komisaris independen tidak mengetahui banyak
mengenai internal perusahaan dan perencanaan manajemen pajak
melainkan lebih menjelaskan risiko biaya yang harus ditanggung
perusahaan akibat manajemen pajak.0 Oleh karena itu, semakin tinggi
proporsi dewan komisaris independen maka seharusnya semakin menurun

0
Lestari, S. P., Dahrani, D., Purnama, N. I., & Jufrizen, J, “Model Determinan Kebijakan Hutang
dan Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Farmasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”,
Maneggio: Jurnal Ilmiah Magister Manajemen, 4(2), 2021, h.245-256.
0
Sabli, Nurshamimi dan Noor, Rohaya. 2012. Tax Planning and Corporate Governance. 3 rd
International Conference on Business and Economic Research Proceeding. ISBN: 978-967-5705-
05-2
0
Pratika & Primasari, Pengaruh Komisaris Independen, Komite Audit, UkuranPerusahaan, Leverage, dan
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) Terhadap Integritas Laporan Keuangan, Jurnal Akuntansi dan
Keuangan, Vol. 9, No. 2 (2020), h. 109-120

6
praktik manajemen pajak yang dilakukan perusahaan.0
Hidayat (Hidayati, 2019, pp. 179-199) menemukan bahwa dewan
komisaris independen merupakan faktor yang mempengaruhi efisiensi
investasi perusahaan secara signifikan. Keberadaaan dewan komisaris
independen dapat menawarkan saran dan rekomendasi terhadap manajemen
atas permasalahan yang sedang dialami oleh perusahaan dan hal ini juga
akan membantu manajemen dalam memutuskan pemilihan investasi yang
tepat sesuai dengan kebutuhan perusahaan (Hidayati, 2019, pp. 179-199).0
Fungsi pengawasan komisaris independen harusnya memiliki dasar prinsip
yang erat dengan good corporate governance yang mana haruslah
memasuki prinsip independensi dalam arti tidak terkait dengan pihak
manapun sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan lebih produktif
yang menyebabkan efek terhindarnya manipulasi data keuangan
demikeuntungan pihak tertentu. Berdasarkan penelitian terdahulu, terdapat
juga ketidak konsistenan serta celah hasilnya.
Komisaris Independen merupakan bagian dari anggota dewan
komisaris yang independen dan tidak memiliki hubungan dengan anggota
komisaris yang lain, para pemegang saham, direktur serta manajer
perusahaan. (Amrizal, 2017,pp. 76-89) mengungkapkan bahwa peran
komisaris independen adalah untuk penyeimbang dalam pengambilan
keputusan, terutama terkait denganperlindungan terhadap pemegang saham
minoritas dan pihak terkait lain.0 Banyak jumlah komisaris independen
menunjukkan dewan komisaris telah menjalankan tugas dan koordinasinya
dengan baik. Karena jumlah komisaris independen mencerminkan integritas
kesalahan dewan direksi yang lebih tinggi.
Dewan komisaris yang merupakan orang-orang yang ditunjuk oleh
para pemegang saham untuk menjadi badan pengawas untuk mengawasi
0
Wirmie Eka Putra, Good Corporate Governance dan Praktek Penghindaran Pajak (Tax
Avoidance), Jurnal Manajemen Terapan dan Keuangan, Vol. 10, No. 3 (2021), h. 378-392.
0
Hidayati, S, “Pengaruh Tata Kelola Perusahaan Dan Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja
Perusahaan”, Manajemen Bisnis, 15(1989), 2019, h.179–199.
0
Amrizal, dan S. Rohmah, “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris
Independen, Komite Audit dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan”, Peran Profesi
Akuntansi Dalam Penanggulangan Korupsi, 2017, h.76-89.

7
dewan direksi dalam menjalankan perusahaan (OJK, 2014)0. Dewan
komisaris independen adalah seorang yang tidak terafiliasi dalam segala hal
dengan pemegang saham pengendali, tidak memiliki hubungan afiliasi
dengan direksi atau dewan komisaris serta tidak menjabat sebagai direktur
pada suatu perusahaan yang terkait dengan perusahaan pemilik. Dewan
Komisaris bertugas mengawasi kebijakan direksi dalam menjalankan
perusahaan serta memberikan nasihat kepada direksi (UU No.40 Tahun
2007). Dewan Komisaris sendiri terdiri dari Komisaris Independen dan
Komisaris non-independen. Komisaris Independen merupakan Komisaris
yang tidak berasal dari pihak terafiliasi, sedangkan Komisaris non-
independen merupakan komisaris yang terafiliasi. Pengertian terafiliasi
sendiri adalah pihak yang mempunyai hubungan bisnis dan kekeluargaan
dengan pemegang saham pengendali, anggota Direksi dan Dewan
Komisaris lain, serta dengan perusahaanitu sendiri. Pemegang saham publik
cenderung mentaati peraturan perpajakan, karena mengharapkan
perusahaan berperan serta dalam pembangunan bagi masyarakat.
Dewan komisaris independen merupakan fungsi pengawasan serta
sebagai pihak yang dapat memberikan saran dan masukan bagi jajaran
dewan direksi agar lebih bijak dalam melakukan penyusunan laporan
keuangan perusahaan serta menjadi pihak yang melakukan kontrol terhadap
manajemen dalam praktik penyusunan pada laporan keuangan (Wijaya,
2021, p. 183).0
Komite audit telah menjadi komponen umum dalam struktur
corporate governance perusahaan publik. Secara garis besar tugas dari
komite audit adalah membantu dewan komisaris dalam melakukan fungsi
pengawasan atas kinerja perusahaan. Menurut Ikatan Komite Audit
Indonesia IKAI (2004) hal tersebut terutama berkaitan dengan review
system pengendalian intern perusahaan, memastikan kualitas laporan
keuangan dan meningkatkan efektivitas fungsi audit. Komite Audit adalah
0
Peraturan OJK No.33/POJK.04/2014 tentang Proporsi Komisaris Independen
0
Wijaya, V. P., dan Cahyati, A. D, “Determinasi Efisiensi Investasi Pada Perusahaan Di
Indonesia”, Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 10(2), 2021, h.183.

8
sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk
mengerjakan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas- tugas khusus
atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan klien yang
bertanggungjawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan
independensinya dari manajemen.
Keberadaan komite audit dimaksudkan untuk memberikan pendapat
professional yang independen kepada dewan komisaris terhadap laporan
atau hal- hal yang disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris serta
mengidentifikasi hal- hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris
sehingga diharapkan keberadaan komite audit dapat mewujudkan
terciptanya tujuan perusahaan.0 Dan dapat memperbaiki kualitas pelaporan
keuangan yang dapat dilihat dari kualitas laba perusahaan.
Perpajakan sektor farmasi di Indonesia mengacu pada aturan dan
regulasi perpajakan yang berlaku untuk perusahaan-perusahaan farmasi di
negara ini. Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu dipahami
terkait dengan perpajakan sektor farmasi di Indonesia. Perusahaan farmasi
harus membayar PPh atas pendapatan yang diperoleh dari kegiatan
bisnisnya. PPh terdiri dari beberapa jenis, termasuk PPh Badan yang
dikenakan pada perusahaan farmasi sebagai badan hukum, dan PPh Pasal
21 yang dikenakan pada penghasilan karyawan. Tarif PPh Badan saat ini
adalah 22% dari laba bersih perusahaan.
Perusahaan farmasi juga harus memperhitungkan dan mengumpulkan
PPN atas penjualan produk farmasi. Tarif PPN saat ini adalah 11% dari nilai
penjualan, kecuali untuk beberapa produk farmasi tertentu yang dapat
dikenakan tarif 0%. Beleid ini juga mengatakan bahwa per 1 April 2022
Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan barang hasil
pertanian tertentu dapat memungut PPN yang dihitung dengan
menggunakan besaran tertentu yaitu 1,1% dari harga jual. Besaran tarif
1,1% ini diperoleh dari hasil perkalian 10% dengan tarif PPN umum yakni

0
Rudi Zulfikar, Peran Monitoring Terhadap Peningkatan Kinerja Keuangan di Industri Perbankan
Indoensia, Jurnal Ekonomi, Vol. XXVI, No. 1 (2021), h. 85-98.

9
11%. Tarif 1,1% merupakan tarif efektif. Tarif tersebut akan naik menjadi
1,2% pada saat tarif umum PPN 12% diberlakukan paling lama 1 Januari
2025.
Peraturan tersebut juga menjelaskan bahwa salah satu komoditas hasil
pertanian yang terkena PPN adalah padi. Jenis padi yang dimaksud dalam
aturan ini meliputi merang, sekam, bekatul, dedak, jerami, dan komposnya.
Sedangkan untuk beras, mendapatkan fasilitas PPN dibebaskan. Alasannya
adalah karena beras termasuk dalam kelompok barang kebutuhan pokok
yang dibutuhkan masyarakat banyak. Hal ini sesuai dengan Pasal 16B
Undang-Undang PPN tentang barang kena pajak yang mendapatkan
fasilitas PPN dibebaskan. Dalam beberapa transaksi bisnis tertentu, seperti
pembuatan akta notaris atau dokumen legal lainnya, perusahaan farmasi
harus membayar bea meterai sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pemerintah Indonesia memberikan berbagai insentif pajak untuk
mendorong pertumbuhan sektor farmasi. Misalnya, perusahaan farmasi
yang melakukan riset dan pengembangan (R&D) dapat memperoleh
pengurangan pajak, fasilitas pajak impor untuk bahan baku, atau fasilitas
pengurangan pajak investasi.

Tabel 1.2 Kasus Lainnya Mengenai Perpajakan

No Kasus (Tahun) Penjelasan


1. Kasus Century Kasus ini melibatkan dugaan korupsi,
Bank (2008-2013) penyalahgunaan wewenang, dan pencucian
uang yang terkait dengan bailout
(penyelamatan) Bank Century oleh pemerintah
pada tahun 2008. Kasus ini juga melibatkan
dugaan pelanggaran perpajakan terkait
manajemen pajak yang dilakukan oleh
beberapa individu dan
perusahaan yang terlibat dalam kasus tersebut.

10
2. Kasus Freeport Freeport Indonesia, salah satu perusahaan
Indonesia (2017) pertambangan terbesar di Indonesia, terlibat
dalam sengketa perpajakan dengan pemerintah
Indonesia terkait pembayaran royalti dan
dividen yang diperoleh dari kegiatan tambang.
Kasus ini mencakup perselisihan mengenai
jumlah dan waktu pembayaran pajak, serta
negosiasi perpanjangan kontrak tambang

3. Kasus Google (2016- Google, perusahaan teknologi global,


2018) terlibatdalam perselisihan perpajakan dengan
pemerintah Indonesia. Pemerintah menuduh
Google melakukan manajemen pajak dengan
tidak melaporkan pendapatan yang
diperolehnya secara akurat dan tidak
membayar pajak yang
seharusnya dibayarkan di Indonesia.

4. Kasus BP Migas Kasus ini melibatkan dugaan manipulasi pajak


(2009-2013) oleh Badan Pelaksana Kegiatan Usaha
HuluMinyak dan Gas Bumi (BP Migas), yang
mengatur kegiatan industri minyak dan gas di
Indonesia. Dalam kasus ini, BP Migas diduga
menghindari pembayaran pajak dengan
menggunakan metode akuntansi yang
merugikan
pemerintah.

Diperoleh dari berbagai sumber.


Penelitian ini menggunakan perusahaan manufaktur dengan
pertimbangan dalam memilih perusahaan manufaktur sebagai objek
penelitian yaitu didasarkan atas pertimbangan bahwa perusahaan
manufaktur dalam aktivitas usahanya terkait secara langsung dengan
perpajakan. Perusahaan manufaktur merupakan penyumbang pendapatan
negara terbesar selain industri perdagangan, keuangan dan perkebunan
serta perusahaan manufaktur beberapa kali masuk dalam daftar
pemeriksanaan direktorat jenderal pajak. Berdasarkan permasalahan

11
diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh kepemilikan
institusional, komisaris independen dan komite audit terhadap manajemen
pajak (pada perusahaanmanufaktur yang terdaftar di BEI Sub sektor
farmasi tahun 2018-2021).

1.2 Identifikasi Masalah


Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka identifikasi masalah
yang ditemukan ialah:

1. Adanya kesenjangan teori dan fakta data antara kepemilikan


institusional, komisaris independen dan komite audit terhadap
manajemen pajak. Hal ini dibuktikan dari peningkatan kepemilikan
institusional, dewan komisaris independen dan komite audit yang
diikuti dengan peningkatan manajemen pajak.

2. Adanya gejala tindakan manajemen pajak yang terjadi dalam


perusahaan diakibatkan oleh adanya perbedaan kepentingan antara
pemegang saham dan manajemen untuk menjalankan perusahaaan.

3. Kasus yang dilakukan oleh perusahaan manufaktur yang terdaftar di


BEI Sub sektor farmasi dalam penerapan corporate governance yang
tentunya akan membuat reputasi perusahaan menjadi kurang baik
dimata investor.

1.3 Pembatasan Masalah


Batasan masalah dalam penelitian ini antara lain:
a. Penelitian ini hanya menggunakan proksi kepemilikan institusional,
dewan komisaris independen, dan komite audit dari Corporate
Governance. Pemilihan Komite audit dan Komisaris independen
berdasarkan Komite Nasional Kebijakan Governance (KNKG)
sedangkan kepemilikan institusional berdasarkan teori agensi.
b. Penelitian hanya berfokus perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI

12
Sub sektor farmasi tahun 2018-2021.

1.4 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang
akandibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap manajemen
pajak pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Sub sektor
farmasi tahun 2018- 2021?
b. Apakah komisaris independen berpengaruh terhadap manajemen pajak
pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Sub sektor farmasi
tahun 2018- 2021?
c. Apakah komite audit berpengaruh terhadap manajemen pajak pada
perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI Sub sektor farmasi tahun
2018-2021?

1.5 Tujuan Penelitian


Berdasarkan rumusan masalah penelitian di atas, maka dapat diketahui
tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui secara empiris pengaruh Kepemilikan
Institusional berpengaruh terhadap manajemen pajak.
2. Untuk mengetahui secara empiris pengaruh Komisaris Independen
berpengaruh terhadap manajemen pajak.
3. Untuk mengetahui secara empiris pengaruh Komite Audit
berpengaruh terhadap manajemen pajak.

1.6 Manfaat Hasil Penelitian


Berdasarkan kepada perumusan masalah dan tujuan penelitian,
diharapakan hasil yang diperoleh didalam penelitian ini memiliki manfaat
bagi:
a. Akademisi hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan dan

13
wawasan pihak-pihak yang membaca penelitian ini terutama yang
berkaitan dengan bagaimana Pengaruh kepemilikan institusional,
komisaris independen dan komite audit terhadap manajemen pajak.

b. Praktisi, diharapkan penelitian ini dapat menjadi tambahan


pertimbangan pihak manjemen dalam melakukan manajemen pajak
yang benar dan efisien tanpa melanggar undang-undang perpajakan
yang berlaku, sehingga dapat lebih efisien dalam masalah pajak
perussahaan di masa mendatang.
c. Regulator, penelitian ini diharapkan mampu memberi masukan
terhadap regulator dalam membuat peraturan atau kebijakan-
kebijakan perpajakan sehingga potensi penerimaan negara dari sektor
pajak dapat dimaksimalkan.
d. Riset selanjutnya, hasil penelitian yang diperoleh dapat dijadikan
acuan atau daya tarik replikasi bagi peneliti di masa datang yang
dibahas dalam penelitian ini.

14
BAB II

KAJIAN TEORITIK

1.1. Deskripsi Teoritik

1.1.1. Teori Agensi (Agency Theory)


Menurut (Chairunesia, 2018, p. 232) teori agensi merupakan
suatu hubungan kerja sama antara agen (manajer) dan prinsipal
(pemegang saham).0 Ketika adanya sebuah kontrak, maka akan
muncul pertanggungjawaban antar prinsipal dan manajer. Pemegang
saham berharap ketika menyerahkan wewenang pengelolaan tersebut
kepada menejer maka mereka akan memdapatkan keuntungan atas
investasinya (Nuryono, 2019, pp. 199–212).0
Teori agensi memandang bahwa agen lebih mementingkan
kepentingan sendiri. Agen sebagai pengelola perusahaan tentu lebih
paham dan mengetahui mengenai informasi yang ada dalam
perusahaan daripada prinsipal. Maka dari itu, seharusnya agen
memberikan informasi kepada prinsipal berupa laporan keuangan
secara rutin dan transparan. Kenyataannya agen tidak memberikan
secara penuh informasi tersebut kepada prinsipal (Chairunesia, 2018,
p. 232).
Menurut (Alya, 2021, pp. 136–145), teori agensi merupakan
teori yang membangun hubungan antara pemegang saham (pemilik
perusahaan) yang memberikan perintah dengan manajer sebagai pihak
yang menjalankan perintah.0 Pemegang saham menginginkan manajer
0
Chairunesia, W., Sutra, P. R., & Wahyudi, S. M, “Pengaruh Good Corporate Governance dan Financial
Distress Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Indonesia yang Masuk Dalam Asean Corporate
Governance Scorecard”, Jurnal Profita, 11(2), 2018, h.232
0
Nuryono, M., Wijayanti, A., & Samrotun, Y. C, “Pengaruh Kepemilikan Manajerial,
Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen, Komite Audit, Serta Kualitas Audit Pada Nilai
Perusahaan”, Edunomika, 03(01), 2019, 199–212
0
Alya, & Yuniarwati, “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Leverage, Dan Ukuran Perusahaan
Terhadap Tax Avoidance”, Jurnal Multiparadigma Akuntansi, 3(2), 2021, 136–145

15
bekerja dengan tujuan memaksmimalkan kemakmuran pemegang
saham. Sebaliknya, manajer perusahaan bisa saja bertindak untuk
memaksimalkan kemakmuran mereka sendiri dan tidak
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham.

1.1.2. Manajemen Pajak


1. Definisi Manajemen Pajak
Prinsip ekonomi yang dianut oleh para pelaku bisnis
adalah bagaimana memperoleh penghasilan atau keuntungan
yang sebesar-besarnya denganmenekan biaya sekecil-kecilnya.
Namun, pada kenyataannya pemerintah berusaha menekan para
pelaku bisnis untuk melakukan pembayaran pajak. Pajak disisi
pemerintah, merupakan sumber penerimaan yang penting.
Tetapi, disisi pelaku usaha pajak dipandang sesuatu yang tidak
menguntungkan bagi perusahaan karena akan mengurangi laba
atau keuntungan.
Manajemen pajak adalah upaya yang dilakukan secara
legal dan aman bagi wajib pajak karena itu tidak bertentangan
dengan ketentuan perpajakan, dimana metode dan teknik yang
digunakan cenderung memanfaatkan kelemahan yang terdapat
dalam undang-undang dan peraturan perpajakan itu sendiri,
untuk memperkecil jumlah pajak yang terutang.0
Manajemen pajak merupakan segala bentuk kegiatan yang
memeberikan efek terhadap kewajiban pajak, baik kegiatan
yang diperbolehkan oleh pajak atau kegiatan khusus untuk
mengurangi pajak. Berikut adalah pengertian manajemen pajak
menurut beberapa para ahli yang telah melakukan penelitian
diantaranya:
1. Manajemen pajak merupakan aktivitas pengurangan
0
Barid & Wulandari., Loc, cit, p.218

16
nominal pajak secara eksplisit dari pendapatan sebelum
pajak.0
2. Manajemen pajak sebagai perencanaan pajak dengan
tujuan untuk menurunkan pendapatan kena pajak yang
mencakup aktivitas legal dan ilegal. Manajemen pajak
dilakukan dalam rangka penghematan pajak yang lebih
besar bagi perusahaan sehingga dapat mengurangi beban
pajak untuk meningkatkan laba.0
3. Manajemen pajak merupakan usaha menyeluruh yang
diupayakan oleh wajib pajak agar segala hal yang
berkaitan dengan perpajakan dapat dikelola dengan
efektif, efisien dan ekonomis.

Dari definisi-definisi manajemen pajak di atas terdapat


perbedaan- perbedaan tentang manajemen pajak sesuai
kebutuhan pelaku pajak.

2. Indikator Variabel Manajemen Pajak


Effective Tax Rate (ETR) adalah tingkat pajak efektif
perusahaan yang dapat dihitung dari beban pajak penghasilan
(beban pajak kini) yang kemudian dibagi dengan laba sebelum
pajak. Rumus yang digunakan untuk menghitung manajemen
pajak dalam penelitian ini menggunakan ETR (Effective Tax
Rate)adalah sebagai berikut

Sumber: Jurnal Melina Fajrin Utami & Ferry Irawan (2022)0


Semakin tinggi nilai Effective Tax Rate (ETR) maka
semakin kecil manajemen pajak yang dilakukan perusahaan.
Sebaliknya, semakin rendah nilai Effective Tax Rate (ETR)

0
Utami & Irawan., Loc, cit, p.388
0
Ibid., p.388
0
Utami & Irawan,Loc., cit.p.390

17
maka semakin besar manajemen pajak yang dilakukan
perusahaan.

1.1.3. Kepemilikan Institusional


1. Pengertian Kepemilikan Institusional
Menurut (setyasari, 2022, p. 69) kepemilikan institusonal
adalah kepemilikan saham oleh pihak institusi atau lembaga
pada periode waktutertentu.0 Kepemilikan institusional adalah
salah satu prosedur tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk
mengurangi masalah keagenan yang sering terjadi antara
manajer dan pemegang saham. Tata kelola perusahaan yang
baik adalah sebuah sistem yang terdiri dari proses yang dapat
digunakan untuk mengelola setiap kegiatan di perusahaan dan
memberikan sebuah pertanggungjawaban kepada pihak
pemegang sahamnya yang berlandaskan pada nilai, etika dan
peraturan perundang-undangan (Negara, 2019, pp. 46-61).0

Kepemilikan institusional dalam perusahaan akan


memberikanpeningkatan pengawasan dari institusi lain terhadap
kinerja yang dilakukan oleh manajemen. Manajemen dalam
pengambilan keputusan, terdapat keterlibatan dari para investor
institusional. Manajer tidak dapat mengambil keputusan sesuai
dengan kepentingannya sendiri, karena setiap keputusan yang
akan diambilnya akan selalu diawasi. Oleh karena itu,
kepemilikan institusional dapat mencegah tindakan pemborosan
dan memanipulasi laba yang dilakukan oleh manajer(Santoso,

0
Setyasari, N., Rahmawati, I. Y., Naelati Tubastuvi, N., & Aryoko, Y. P, “Pengaruh Kepemilikan
Manajerial, Kepemilikan Institusional, Board Diversity, Profitabilitas Dan Ukuran Perusahaan
Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listing Di Bursa
Efek Indonesia Tahun 2016 - 2020)”, Master: Jurnal Manajemen Dan Bisnis 78 Terapan, 2(1),
2022, 69
0
Negara, I. K, “Analisis Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan
dengan Corporate Social Responsibility Sebagai Variabel Pemoderasi (Studi Pada Indeks Sri-
Kehati yang Listed di BEI)”, 8(1), 2019, h.46–61.

18
2021, pp. 226–238).0

Kepemilikan institusional yang bertambah besar pada


suatu perusahaan, maka akan meningkat pula pengawasan yang
dilakukan oleh lembaga lain terhadap kinerja yang dilakukan
oleh manajemen. Hal tersebut akan tentu menjadi suatu dasar
motivasi yang besar oleh manajemen untuk mengoptimalkan
kinerjanya di perusahaan (Anggita, 2021, pp. 38–49).0 Semakin
optimal kinerja manajemen di suatu perusahaan, akan menjadi
daya tarik investor intuk berinvestasi sehingga akan
meningkatkan nilai perusahaan.

2. Indikator Kepemilikan institusional


Kepemilikan institusonal adalah kepemilikan saham yang
dimiliki oleh pihak institusi atau lembaga pada periode waktu
tertentu (setyasari, 2022, p. 69). Rumus menghitung
kepemilikan institusional adalah (Anggita, 2021, pp. 38-49) :

INST=
Jumlah saham yang dimiliki olehinstitusi lain
x 100 %
Jumlah Saham Beredar

2.1.4 Komisaris Independen


1. Pengertian Komisaris Independen

Menurut (Istiantoro, 2017, pp. 157–179) Komisaris


Independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak
mempunyai hubungan afiliasi dengan manajemen, pemegang
saham pengendali, dan anggota lain dari dewan komisaris, serta

0
Santoso, B. T, “Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR), Kepemilikan Institusional,
Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas dan Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan”, 1(2),
2023, h.226–238.
0
Anggita, R. T., Rinofah, R., & Sari, P. P, “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kebijakan
Hutang, Keputusan Investasi, dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan”. Journal of
Management, Accounting, Economic and Business, 02(01), 2021, h.38–49.

19
bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lain yang dapat
memengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.0
Pengukuran proporsi dewan komisaris independen dilakukan
dengan membandingkan persentase antara anggota komisaris
yang berasal dari luar atau independen dengan total dewan
komisaris yang ada di dalam perusahaan.
Fungsi komisaris independen untuk mengawasi kinerja
perusahaan apakah sesuai dengan kode etik yang berlaku dan
memberikan pendapat yang independent dan penilaian atas hasil
kinerja perusahaan secara menyeluruh, karena penilaian
komisaris independen bersifat netral tidak berhubungan dengan
perusahaan yang terkait. Adanya komisaris independen akan
membuat mekanisme tata kelola perusahaan semakin baik dan
dapat meminimalisir terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh
suatu perusahaan. Komisaris independen untuk meningkatkan
efektivitasnya, jumlah komisaris independen memiliki
persentase tidak kurang dari 30% dari jumlah dewan komisaris
(Nurbaiti et al., 2021).0
Komisaris independen merupakan seseorang yang tidak
memiliki afiliasi dengan pemegang saham direksi atau dewan
komisaris, serta tidak memiliki jabatan direksi dalam
perusahaan yang bersangkutan (Muliasari, 2020, pp. 28- 36).0
Menurut POJK nomor 33/POJK.04/2014 tentang direksi dan
komisaris emiten atau perusahaan publik pasal 20, dewan

0
Istiantoro, I., Paminto, A., & Ramadhani, H, “Pengaruh Struktur Corporate Governance terhadap
Integritas Laporan Keuangan Perusahaan pada Perusahaan LQ45 yang Terdaftar di BEI The
Influence of Corporate Governance Structure to Integrity of Company ’ s Financial Statementto
LQ45 Company Listed on IDX”, AKUNTABEL, 14(2), 2017, h.157–179.
0
Nurbaiti, A., Lestari, T. U., & Nabilah Alyani Thayeb, “Pengaruh Corporate Governance,
Financial Distress, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Study On
Property, Real Estate, And Company Size Companies Listed In Indonesia Stock Exchange 2014 -
2018 Period), Jurnal Ilmiah Manajemen Ekonomi & Akuntansi, 5(1), 2021, h.758–771
0
Muliasari, R., & Hidayat, A, “Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Komisaris Independen
Terhadap Agresivitas Pajak Perusahaan”, SULTANIST : Jurnal Manajemen dan Keuangan, 2020,
h.28-36.

20
komisaris paling kurang terdiri dari 2 orang anggota dewan
komisaris, dalam hal dewan komisaris terdiri dari 2 orang
anggota dewan komisaris,1 diantaranya adalah komisaris
independen. Komisaris independen adalah bagian dari dewan
komisaris, dimana dewankomisaris terdiri lebih dari 2 orang,
dan anggota komisaris independen wajib paling sedikit
sebanyak 30% dari total keseluruhan anggota dewan komisaris
yang berasal dari luar perusahaan efek dan memenuhi
persyaratan dengan 1 diantara anggota dewan komisaris
diangkat menjadi komisaris utama atau presidenkomisaris.
Proporsi dewan komisaris Independen dapat diukur
dengan menggunakan rumus (Ainiyah, 2021, pp. 196–208):0

Jumlah komisaris independen


KI= x 100 %
Total komisaris

Sumber : Ainiyah (2021)

1.1.4. Komite Audit


1. Pengertian Komite Audit
(IAI, 2022) mendefinisikan audit komite merupakan
komite yang dibentuk oleh dewan komisaris yang dapat bekerja
secara independen0 dan profesional yang memiliki tugas untuk
memperkuat dan membantu fungsi dewan komisaris dalam
menjalankan pada proses pelaporan keuangan selain sebagai
fungsi pengawasan, risiko, audit dan penerapan tata kelola
perusahaan (Putri, 2020, pp. 1-16).0

0
Ainiyah, K., Darmayanti, N., & Rosyida, I. A, “Pengaruh Independensi, Good Corporate
Governance, Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2016-2020)”, Jurnal Analisa Akutansi Dan Perpajakan, 5(2), 2021, h.196–208
0
IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia). (2022). PSAK 1 Tentang Penyajian Laporan Keuangan.
0
Putri, R. G., & Supriati, D, “The Effect of Corporate Governance Mechanism, Company Size and
Leverage on the Integrity of Financial Statements”, Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Indonesia, 1(1), 2020, h.1–16.

21
Untuk kepentingan operasi audit dan keandalan, direksi
perusahaan membentuk komite audit. Badan tersebut
ditugaskan untuk mendukung tugas- tugas dari dewan
komisaris dalam memastikan bahwa penyajian laporan
keuangan dapat dilaporkan secara wajar mengikuti prinsip-
prinsip antara akuntansi yang berlaku umum, perusahaan telah
menerapkan struktur pengendalian internal dengan baik,
penerapan audit eksternal dan internal dilaksanakan sesuai
dengan prinsip- prinsip standar audit, dan ditindaklanjuti
temuan audit dibuat oleh manajemen. Dengan adanya komite
audit pada suatu perusahaan, maka proses laporan keuangan
perusahaan akan terpantau dengan baik (Istiantoro, 2017, pp.
157–179).
Komite audit termasuk dalam komponen mekanisme tata
kelola suatu perusahaan. Komite audit ditugaskan untuk
membantu dewan komisaris dalam tugas dan fungsinya dalam
menerapkan tata kelola perusahaan yang baik. Dewan direksi
akan melaporkan atau menyampaikan hal hal yang seharusnya
disampaikan kepada komite audit, komite audit memberikan
pendapat independen atas laporan yang telah disampaikan oleh
dewan direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi hal
hal yang memerlukan perhatian komisaris, dan membantu
tugas-tugas lainnya yang berhubungan dengan dewan komisaris
(Parinduri et al., 2018).0

2. Indikator Komite Audit


Peran komite audit adalah untuk memantau kinerja
manajemen dan memastikan bahwa laporan keuangan yang
disediakan oleh perusahaan sesuai dengan peraturan yang ada.

0
Parinduri, A. Z., Pratiwi, R. K., & Purwaningtyas, O. I, “Analysis Of Corporate Governance,
Leverage And Company Size On The Integrity Of Financial Statements. Indonesian Management
and Accounting Research”, 17(1), 2018, 18–35.

22
Komite Audit yaitu mekanisme tata kelola perusahaan yang
diasumsikan mengalami penurunan kesulitan keuangan.
Kompetensi komite audit adalah satu faktor yang memengaruhi
kinerja perusahaan. Bantuan komite audit kepada manajemen
adalah berkaitan dengan laporan keuangan dan penjelasannya,
sistem pengendalian internal, dan auditor independen. Komite
audit diukur dengan jumlah komite audit di sebuah perusahaan
(Ainiyah, 2021,pp. 196–208). Rumusan pengukuran komite
audit sebagai berikut:

UKA = jumlah anggota komite audit Penelitian Relevan

manajemen dan memastikan bahwa laporan keuangan


yang disediakan oleh perusahaan sesuai dengan peraturan yang
ada. Komite Audit yaitu mekanisme tata kelola perusahaan
yang diasumsikan mengalami penurunan kesulitan keuangan.
Kompetensi komite audit adalah satu faktor yang memengaruhi
kinerja perusahaan. Bantuan komite audit kepada manajemen
adalah berkaitan dengan laporan keuangan dan penjelasannya,
sistem pengendalian internal, dan auditor independen. Komite
audit diukur dengan jumlah komite audit di sebuah perusahaan
(Ainiyah, 2021,pp. 196–208). Rumusan pengukuran komite
audit sebagai berikut:

UKA = jumlah anggota komite audit Penelitian Relevan

23
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan
No Nama Judul Penelitian Nama Jurnal; Populasi, Temuan Perbedaan
Peneliti; Nama Sampel dan Penelitian Penelitian
(Tahun) Institusi/Lemba Metode dan yg akan
ga Penerbit Penelitian Kesimpulan dilaksanakn

1. Muhammad PENGARUH Prosiding Populasi Profitabilitas Objek


Apriadi dan PROFITABILIT Seminar Perusahaan tidak penelitian
Yudi AS, Nasional Asuransi yang berpengaruh yaitu
Partama KEPEMILIKAN Business Terdaftar di terhadap Perusahaan
Putra INSTITUSIONA Corporate BEI Periode pengelolaan Asuransi
L DAN ISSN 2016-2021 pajak, yang
(2023) UKURAN 2828-2728 dan Sampel 15 Kepemilikan Terdaftar di
PERUSAHAAN Volume 2, perusahaan institusional BEI Periode
TERHADAP Nomor 1, April asuransi di berpengaruh 2016-2021
MANAJEMEN 2023 BEI tahun terhadap
PAJAK PADA 2016-2021 manajemen Variabel
PERUSAHAAN pajak dan yang
ASURANSI metode ukuran digunakan
kuantitatif. perusahaan
berpengaruh
terhadap
manajemen
pajak.
1. Muhammad PENGARUH Prosiding Populasi Profitabilitas Objek
Apriadi dan PROFITABILIT Seminar Perusahaan tidak penelitian
Yudi AS, Nasional Asuransi yang berpengaruh yaitu
Partama KEPEMILIKAN Business Terdaftar di terhadap Perusahaan
Putra INSTITUSIONA Corporate BEI Periode pengelolaan Asuransi
L DAN ISSN 2016-2021 pajak, yang
(2023) UKURAN 2828-2728 dan Sampel 15 Kepemilikan Terdaftar di
PERUSAHAAN Volume 2, perusahaan institusional BEI Periode
TERHADAP Nomor 1, asuransi di berpengaruh 2016-2021
MANAJEMEN April 2023 BEI tahun terhadap
PAJAK PADA 2016-2021 manajemen Variabel
PERUSAHAAN pajak dan yang
ASURANSI metode ukuran digunakan
kuantitatif. perusahaan
berpengaruh
terhadap
manajemen
pajak.

17
2. Christanti PENGARUH Jurnal Riset Populasi Leverage, Perbedaan
Inviolit, LEVERAGE, Manajemen Perusahaan intensitas penelitian
Zirman dan INTENSITAS Sains yang terdaftar persediaan, objek
Devi Safitri PERSEDIAAN, Indonesia di BEI selain dan penelitian
(2022) DEWAN (JRMSI) | sektor kepemilikan yaitu
KOMISARIS, Vol 13, No. keuangan institusional perusahaan
DAN 2, 2022 periode 2017- berpengaruh yang
KEPEMILIKAN 2019 terhadap terdaftar di
INSTITUSIONA manajemen Bursa Efek
L TERHADAP Sampel yang pajak, Indonesia
MANAJEMEN digunakan sedangkan selain sektor
PAJAK adalah 252 dewan keuangan
perusahaan. komisaris periode
tidak 2017-2019
metode berpengaruh
kuantitatif. terhadap Variabel
manajemen yang
pajak digunakan
3. Maria Yovita PENGARUH Bulletin of Populasi Komisaris Perbedaan
Bet e (2022) KOMISARIS Management Perusahaan Independen penelitian
INDEPENDEN, and Business manufaktur berpengaruh objek
DEWAN Volume 3 sektor industri Positif penelitian
DIREKSI DAN Nomer 2, barang terhadap yaitu
KOMITE AUDIT Oktober konsumsi Manajemen perusahaan
TERHADAP 2022 Yang pajak. 2) manufaktur
MANAJEMEN Terdaftar di dewan sektor
PAJAK (STUDI BEI periode direksi industri
PADA 2016 – 2020. berpengaruh barang
PERUSAHAAN Sampel Negatif konsumsi
MANUFAKTUR Diperoleh terhadap Yang
SEKTOR sebanyak 13 manajemen Terdaftar di
INDUSTRI perusahaan pajak. 3) BEI periode
BARANG komite audit 2016 – 2020
KONSUMSI Metode berpengaruh
YANG Kuantitatif Positif
TERDAFTAR DI terhadap
BURSA EFEK Manajemen
INDONESIA pajak dan 4)
PERIODE 2016 – komisaris
2020) independen,
dewan
direksi dan
komite audit
berpengaruh
secara
simultan
terhadap
Manajemen

18
Pajak.
4. Deo Novrin CORPORATE DIPONEGOR Populasi Hasil jumlah Perbedaan
Hasiholan GOVERNANCE, O JOURNAL dalam kompensasi penelitian
Damanik dan KOMITE OF Perusahaan- dewan objek
Abdul Muid AUDIT, ACCOUNTI perusahaan komisaris dan penelitian
(2019) KUALITAS NG yang terdaftar direksi efek yaitu
AUDIT, DAN pada indeks negatif pada perusahaan-
MANAJEMEN LQ45 di BEI manajemen perusahaan
PAJAK tahun 2014- pajak, komite yang
2018. audit tidak terdaftar
berpengaruh pada indeks
Sampel 23 terhadap LQ45 di
perusahaan manajemen IndonesiaBu
pajak kualitas rsa Efek
Metode audit tahun 2014-
Kuantitatif berpengaruh 2018
negatif
terhadap
manajemen
pajak.
5. PRATAMA PENGARUH Universitas Populasi Berdasarkan Perbedaan
dan WINDA KOMPENSASI Putra Perusahaan hasil model penelitian
DIKA MANAJEMEN, Indonesia Manufaktur regresi data adalah objek
APRILIA KEPEMILIKAN "YPTK" Yang panel, terdapat penelitian
INSTITUSIONA Padang Terdaftar Di pengaruh yang yaitu
(2019) L DAN TATA BEI Tahun positif dan Perusahaan
KELOLA 2013-2017 signifikan Manufaktur
PERUSAHAAN antara Yang
TERHADAP Sample Kompensasi Terdaftar
MANAJEMEN diperoleh 21 Manajemen, Dibursa Efek
PAJAK perusahaan Kepemilikan Indonesia
PERUSAHAAN Institusional Tahun 2013-
Metode dan Tata 2017
Kuantitatif Kelola
Perusahaan Variabel
secara yang
bersama-sama digunakan
terhadap
Manajemen
Pajak
Perusahaan,

19
6. Noor Mita Pengaruh MAKSIMUM: Populasi dalam Hasil Perbedaan
Dewi (2019) Kepemilikan Media penelitian ini Penelitian penelitian
Institusional, Akuntansi yaitu Kepemilikan yang akan
Dewan Komisaris Universitas perusahaan institusional, dilaksanakan
Independen dan Muhammadiyah perbankan dewan dengan jurnal
Komite Audit Semarang Vol. yang terdaftar komisaris adalah objek
Terhadap 9, No. di Bursa Efek independen penelitian
Manajemen Pajak 1, 2019, pp: Indonesia dan komite yaitu
(Tax Avoidance) 40-51 periode 2012 – audit secara perusahaan
pada Perusahaan 2016. simultan perbankan
Perbankan yang Metode yang berpengaruh yang
Terdaftar di Bursa digunakan positif dan terdaftar di
Efek Indonesia dalam signifikan Bursa Efek
Periode 2012- penelitian ini terhadap tax Indonesia
2016 adalah avoidance periode 2012
metode pada – 2016
kuantitatif perusahaan
perbankan Variabel
yang terdaftar yang
di BEI digunakan
periode 2012
– 2016.
7. Ellena Sukma PENGARUH Seminar Populasi Hasil Perbedaan
Aryanti dan KOMISARIS Nasional perusahaan penelitian ini penelitian
Masfar Gazali INDEPENDE Cendekiawan sektor menunjukkan yang akan
(2018) N DAN ke 4 konstruksi bahwa dilaksanakan
PERTUMBUH Tahun 2018 BUMN yang komisaris dengan jurnal
AN terdaftar di independen adalah objek
PERUSAHAA BEI pada dan penelitian
N TERHADAP periode 2013- pertumbuhan yaitu
MANAJEMEN 2016 dan perusahaan perusahaan
PAJAK sampel 4 memiliki sektor
PERUSAHAA perusahaan pengaruh konstruksi
N SEKTOR konstruksi secara BUMN yang
KONSTRUKS BUMN simultan dan terdaftar di
I BUMN DI Metode signifikan BEI pada
BEI PERIODE kuantitatif. terhadap periode
2013- manajemen 2013-2016
2016 pajak,
kemudian
komisaris
independen
secara parsial
berpengaruh
negatif
terhadap
manajemen
pajak serta

20
pertumbuhan
perusahaan
secara parsial
berpengaruh
negatif
terhadap
manajemen
pajak.
8. Dwiputra& Pengaruh BKG Populasi Hasil Perbedaan
Reyhan Kepemilikan (Brawijaya perusahaan penelitian penelitian
Adiguna Institusional, Knowledge manufaktur menunjukkan yang akan
(2018) Komisaris Garden) yang terdaftar bahwa dilaksanakan
Independen, di BEI periode kepemilikan dengan jurnal
Dan Komite 2013- 2016 institusional adalah objek
Audit Terhadap sampel 43 dan komisaris penelitian
Manajemen perusahaan independen yaitu
Pajak (Survei manufaktur berpengaruh perusahaan
Pada yang terdaftar signifikan manufaktur
Perusahaan di BEI pada positif yang
Manufaktur periode 2013- terhadap terdaftar di
Yang Terdaftar 2016 yang manajemen
Di Bursa
Efek Indonesia

1.2. Kerangka Berfikir

Kerangka Berfikir merupakan model konseptual akan teori yang


saling berhubungan satu sama lain terhadap berbagai faktor yang telah
diidentifikasi sebagai masalah yang penting. Kerangka Berfikir akan
menghubungkan antara variabel- variabel penelitian, yaitu variabel bebas
dan variabel terikat.
Berdasarkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian yang telah
di sampaikan di atas, dan juga berdasarkan uraian tinjauan teoritis dan
tujuan penelitian terdahulu, maka variabel independen dalam penelitian ini
adalah Kepemilikan Institusional (X1), Komisaris Independen (X2),
Komite Audit (X3)dan Variabel dependennya adalah Manajemen pajak
(Y).
Berikut merupakan gambar dari kerangka pemikiran pada penelitian
ini:

21
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir

Kepemilikan
H1
Institusional
Manajemen
H2
Komisaris
Pajak
Independen
H3
H4
Komite Audit

2.2.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen


Pajak
Kepemilikan institusional merupakan kepemilikan saham

oleh institusi berbadan hukum, institusi keuangan, pemerintah,

institusi luar negeri, dan dana perwalian serta institusi lainnya

yang memiliki wewenang untuk melakukan pengawasan atas

kinerja manajemen (Ngadiman dan Puspitasari, 2014 dalam

(Kurnianti, 2021, p. 6)0 Zulkarnaen (2018) menjelaskan bahwa

bahwa pemilik saham institusional pada dasarnya mempunyai

kendali yang cukup besar dalam berlangsungnya kegiatan

perusahaan0. Sabli dan Noor (2017) berpendapat bahwa tingkat

kendali dan pengawasan yang tinggi dari investor institusional

0
Kurnianti, D, “PROFITABILITAS, CSR, CORPORATE GOVERNANCE DAN TAX
AVOIDANCE PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR PERIODE 2014 – 2018” Jurnal Riset
Manajemen Sains Indonesia, 12(1) ,2021, h. 6.
0
Zulkarnaen, Novriansyah. 2018. Analisis Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap
Manajemen Pajak. Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol.1 No.2, 2015. Universitas Islam Negeri

22
merupakan mekanisme corporate governance yang akan

memberikan aspek positif dari manajemen pajak perusahaan,

yaitu perencanaan pajak yang lebih baik, yang kemudian

mengakibatkan hutang pajak yang lebih rendah dan

meningkatkan nilai perusahaan0.

Hasil ini sependapat dengan penelitian Adriyanti

Agustina Putri dengan judul “Pengaruh Kepemilikan

Institusional dan Kepemilikan Manajerial Terhadap

Penghindaran Pajak” dimana kepemilikan institusionaldan

kepemilikan manajerial mempunyai pengaruh terhadap

penghindaran pajak

Berdasarkan uraian di atas, dapat diambil hipotesis


bahwa:
𝐻1 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap
Manajemen Pajak
2.2.2 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Manajemen
Pajak
Menurut UU PT No. 34 Tahun 2007 Komisaris adalah
organ perseoran yang brtugas mengawasi secara umum dan atau
khusus sesuai dengan anggaran dasar dan memberi nasihat pada
direksi. Komisaris independen merupakan bagian dari
Corporate govenance. Menurut Surya dan Yustiavandana
(Prasetyo, 2018) dewan komisaris independen adalah dewan
komisaris yang bukan merupakan anggota manajemen,
pemegang saham mayoritas, pejabat atau berhubungan langsung
maupun tidak langsung dengan pemegang saham mayoritas
dari suatu perusahaan. Dengan adanya dewan komisaris

0
Sabli, Nurshamimi dan Noor, Rohaya. 2017. Tax Planning and Corporate Governance. 3 rd
International Conference on Business and Economic Research Proceeding. ISBN: 978-967-5705-
05-2

23
independen diharapkan dapat terjadi keseimbangan antara
manajemen perusahaan dan para stakeholder dalam perusahaan.
Menurut Peraturan Pencatatan No.I-A tentang Ketentuan
Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa, jumlah
komisaris independen minimum 30% dari seluruh dewan
komisaris. Berdasarkan Peraturan OJK No.33/POJK.04/2014,
proporsi komisaris independen dalam suatu perusahaan.

Penyelenggaraan Tata Kelola diandalkan untuk


menggerakkan beberapa hal, khususnya untuk mengangkat para
pemegang saham, individu-individu dari dewan komisaris dan
individu-individu dari direktorat sehingga dalam memutuskan
dan menyelesaikan kegiatan mereka dengan pertimbangan
kebajikan yang luar biasa dan sesuai dengan undang-undang
dan pedoman pemberdayaan pengembangan pemahaman dan
kewajiban sosial perusahaan kepada masyarakat umum.
Terlebih lagi menjaga wilayah utama yang dekat dengan
organisasi, meningkatkan nilai organisasi bagi pemegang saham
dengan terus memperhatikan mitra yang berbeda. Salah satu
kunci pelaksanaan tata kelola yang efektif adalah kelompok
pemimpin yang terkemuka yaitu dewan komisaris. Badan
Pimpinan atau dewan komisaris memiliki kedudukan yang
sangat besar dalam organisasi. Pada dasarnya, dewan komisaris
terkemuka bertanggung jawab untuk mengawasi tugas
manajemen (Hasina et al., 2018) 0.

Tugas penting dewan peninjau atau komite audit guna


memberikan hasil tata kelola perusahaan yang baik, guna
mempertahankan independensi komite audit dalam
melaksanakan tugas pengawasan. Kelompok Penasihat
Peninjauan atau komite audit adalah dewan yang dibentuk oleh
0
Hasina, G., Nazar, M. R., & Budiono, E. (2018). Pengaruh Ukuran Dewan Komisaris, Leverage
dan Ukuran Perusahaan terhadap Pengungkapan Enterprise Risk Management ( Studi Pada Sektor
Perbankan yang Listing di Bursa Efek Indonesia ( BEI ) tahun 2012 – 2016). EProceeding of
Management, 5(2), 2402–24

24
badan pejabat terkemuka organisasi atau dewan komisaris, yang
individu-individunya dinaikkan dan diberhentikan oleh
kelompok terkemuka atau dewan komisaris untuk membantu
dewan komisaris menyelesaikan pemeriksaan atau penelitian
yang dianggap penting dalam pelaksanaan kewajiban direksi
dalam menangani organisasi. Komite audit terdiri dari tidak
kurang dari 3 orang, dipimpin oleh seorang Komisaris
independen. Dengan adanya ukuran dewan peninjau atau
komite audit yang sesuai di dalam suatu organisasi, dipercaya
bahwa mereka benar-benar ingin mengurangi penggunaan
pendapatan dan tingkat tarif pajak efektif (ETR) yang
diharapkan dapat menurunkan tingkat perpajakan. Karena
komite audit yang independen dapat berlaku adil dengan pihak
yang terkait dengan perusahaan, dan tidak membawa
kepentingan dari pihak manapun namun berlaku adil kepada
segala pihak berkaitan dengan aktivitas pengecekan yang
dilakukan (Chrisdianto, 2021).0

Fungsi dari komisaris independen adalah untuk


mengawasi jalannya perusahaan dengan memastikan bahwa
perusahaan tersebut telah melakukanpraktik- praktik
transparansi, disclosure, kemandirian, akuntabilitas dan
praktekkeadilan menurut ketentuan yang berlaku di suatu
sistem perekonomian (negara).

Hasil ini sependapat dengan penelitian Noor Dewi


dengan judul “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Dewan
Komisaris Independen dan Komite Audit Terhadap
Penghindaran Pajak” dimana kepemilikan institusionaldan
Dewan Komisaris Independen mempunyai pengaruh terhadap
penghindaran pajak.

0
Chrisdianto, B. (2021). Peran Komite Audit Dalam Good Corporate Governance. Jurnal Riset
Akuntansi Dan Bisnis, 21(1), 1–8. [Link]

25
Berdasarkan uraian di atas dapat di ambil hipotesis
bahwa:

𝐻2 : Komisaris independen berpengaruh terhadap


Manajemen Pajak.

2.2.3 Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Pajak


Menurut penelitian sebelumnya (Ain & Subardjo, 2017)
Komite audit berpengaruh positif dan signifikan terhadap tarif pajak
efektif (ETR), Komite Audit yang berpengalaman dan mempunyai
pemahaman memadai tentang laporan keuangan dan pengawasan
internal berpengaruh terhadap tarif pajak efektif (ETR). Komite audit
berdasarkan fungsinya membantu dewan komisaris melakukan
pengawasan serta memberikan rekomendasi kepada manajemen dan
dewan komisaris terhadap pengendalian yang telah berjalan. Sehingga
dengan semakin banyaknya pengawasan yang dilakukan terhadap
komite audit pada perusahaan maka akan menghasilkan suatu
informasi yang berkualitas dan kinerja efektif termasuk juga dalam
menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan besaran tarif pajak
efektif (ETR), komite audit berperan memilih metode akuntansi yang
efektif dan tepat bagi perusahaan. Hal ini berkaitan dengan penelitian
yang dilakukan oleh Ria (2019) yang menyatakan bahwa Komite
Audit berpengaruh terhadap Tarif Pajak Efektif (ETR).

Komite audit yang melakukan pengawasan terhadap kinerja


perusahaan tidak memberikan pengaruh terhadap manajemen pajak,
hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas oleh komite audit tidak
dilakukan secara efektif sehingga pengendalian perusahaan tidak
dapat berjalan dengan baik serta kurang dapat mendukung corporate
governance perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian
Gunawan (2016) dan Novitasari (2016) yang menyatakan bahwa
komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen pajak0.
𝐻3 : Komite Audit Berpengaruh terhadap Manajemen
Pajak.

0
Gunawan, Christianto. 2016. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Manajemen Pajak Pada
Perusahaan Perbankan Yang terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014. Surabaya:
Repository, Universitas Katolik Widya Mandala

26
2.2.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen
dan Komite Audit Terhadap Manajemen Pajak
Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi memiliki
ETR yang rendah karena perusahaan-perusahaan tersebut
mendapatkan pengurangan atas pajak terutangnya karena
adanya beban bunga. Perusahaan multinasional mendapatkan
insentif untuk membiayai investasinya di negara lain dengan
utang apabila negara tersebut memiliki tarif pajak yang lebih
tinggi. Dengan demikian tingkat utang berpengaruh positif
terhadap manajemen pajak.
Dalam meminimalisir konflik keagenan dapat dengan
menambah porsi kepemilikan saham oleh manajerial dalam
suatu perusahaan. Kepemilikan manajerial adalah seorang yang
memiliki posisi dalam suatu perusahaan sekaligus pemilik
perusahaan melalui kepemilikan sahamnya yang memiliki tugas
dan tanggung jawab untuk meningkatkan nilai perusahaan.
Teori tersebut juga didukung oleh jurnal penelitian Dudi
Pratomo danRisa Aulia Rana (2021) yang menyatakan bahwa
kepemilikan institusional dan komisaris independen
berpengaruh negatif terhadap manajemen pajak, sedangkan
komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen pajak.
Penelitian tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Andini
Agisti Yunita Utami (2023) mengatakan bahwa kepemilikan
institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris
independen dan komite audit tidak berpengaruh signifikan
terhadap manajemen pajak pada perusahaan pertambangan di
BEI periode 2017-2021.
Pemerintah Indonesia melalui Otoritas Jasa Keuangan
atau OJK dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
55/POJK.04/2015 menjelaskan bahwa komite audit merupakan
komite yang dibentuk oleh dewan komisaris guna membantu
tugas dan fungsi dewan komisaris. Komite audit membantu

27
untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap aktivitas-
aktivitas perusahaan seperti memberikan pendapat atas
kelayakan laporan keuangan, mengawasi sistem pengendalian
internal dan melakukan efisiensi dan efektivitas atas fungsi
lainnya serta wajib membuat laporan kepada dewan komisaris
atas setiap penugasan yang diberikan.
Hasil ini sependapat dengan penelitian Noor Dewi (2021)
dengan judul “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Dewan
Komisaris Independen dan Komite Audit Terhadap Penghindaran
Pajak” dimana kepemilikan institusional dan Dewan Komisaris
Independen mempunyai pengaruh terhadap penghindaran pajak.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil hipotesis bahwa:
𝐻4 : Pengaruh Kepemilikan Institusional, Komisaris
Independen dan Komite Audit Terhadap Manajemen Pajak

2.3 Hipotesis Penelitian


Hipotesis merupakan kebenaran pada tingkat teori yang
sementaraditerima sambil menunggu dilakukan pengujian data-data yang
dikumpulkan. Hipotesis diajukan berdasarkan kebenaran yang dibangun
dalam kerangka berfikir dan merupakan kesimpulan kebenaran yang ditarik
secara logis dari teori-teori sebagai premis. Dalam hubungan ini maka
dapat dikatakan bahwa teori merupakan sumber hipotesis.0
Berdasarkan kajian teoritis dan kerangka berfikir yang telah
dideskripsikan, maka hipotesis penelitian yang dapat diajukan adalah
sebagai berikut:
𝐻1 : Diduga Kepemilikan Institusional berpengaruh terhadap
Manajemen Pajak.
𝐻2 : Diduga Komisaris Independen berpengaruh terhadap
Manajemen Pajak.
𝐻3 : Diduga Komite Audit berpengaruh terhadap Manajemen Pajak.
𝐻4 : Diduga Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen dan
Komite Audit berpengaruh Terhadap Manajemen Pajak.
0
Iwan Hermawan, , 2019, “Metode Penelitian Pendidikan Kualitatif, Kuantitatif dan Mixed
Method”, (Kuningan: Hidayatul Quran Kuningan), hlm.26

28
29
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

1.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian


Penelitian ini bertujan untuk mengetahui pengaruh anatara variabel
independen terhadap variabel dependen. Penelitian ini menguji pengaruh
dari variabel independen yang terdiri dari kepemilikan institusional,
komisaris independen dan komite audit terhadap variabel dependen yaitu
manajemen pajak.
Objek dari penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftar
di Bursa Efek Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018-2021.
Perusahaan manufaktur merupakan perusahaan yang menjual produknya
dengan proses produksi yang tidak terputus, mulai dari pembelian bahan
baku dan pengolohan bahan baku sampai menjadi produk yang siap untuk
dijual.
Bursa Efek Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX)
adalah pihak yang menyelenggarakan dan menyediakan sistem juga sarana
untuk mempertemukan penawaran jual dan beli efek pihak-pihak lain
dengan tujuan memperdagangkan efek di antara mereka. Bursa Efek
Indonesia (BEI) atau Indonesia Stock Exchange (IDX) merupakan Bursa
hasil penggabungan dari Bursa Efek Jakarta dengan Bursa Efek Surabaya,
demi efektivitas operasional dan transaksi, pemerintah memutuskan untuk
menggabung Bursa Efek Jakarta sebagai pasar saham dengan dengan Bursa
Efek Surabaya sebagai pasar obligasi dan derivatif menjadi Bursa Efek
Indonesia. Bursa Efek Indonesia (BEI) adalah Self Regulatoru Organization
(SRO) yang menyediakan infrastruktur untuk mendukung terselenggaranya
perdagangan efek yang teratur, wajar dan efisien serta mudah diakses oleh
seluruh pemangku kepentingan (Stakeholder). Bursa efek Indonesia (BEI)
memiliki visi untuk menjadi bursa yang kompetitif dengan kredibilitas

30
tingkat dunia. 0

1.2. Tempat dan Waktu Penelitian


3.2.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sedangkan objek penelitian berupa dokumentasi laporan
keuangan seluruh perusahaan manufaktur yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018-
2021 diperoleh dari website resmi yaitu [Link].
Penelitian tidak melakukan observasi langsung terhadap
industri barang konsumsi tetapi hanya menganalisis pada
laporan keuangan tahunan perusahaan multinasonal tersebut.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian berlangsung selama tiga bulan, dimulai pada bulan
Juni 2023 sampai dengan September 2023.

Tabel 3.1 Jadwal Waktu Penelitian

Juni Juli Agustus September


No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Pengajuan
Judul dan
1 Persetujuan
Judul Penelitian
Skripsi
Penyusuna
2 n
Instrumen
penelitian
3 Penentuan
Sampel
Pengolahan Data
4 dan Analisis Data
dengan Smart PLS

0
Indonesia Stock Exchange, “Sejarah Idx”, [Link] Efek Indonesia, ([Link]) ,10 juni
2022

31
5 Penulisan
Skripsi
6 Ujian Sidang
Skripsi
Perbaikan dan
7 Penggandaan
Skripsi

1.3. Metode Penelitian


Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data yang valid dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara
ilmiah berarti kegiatan penelitian yang didasari pada ciri-ciri keilmuan,
yaitu rasional, empiris dan sistematis. Rasional berarti kegiatan penelitian
itu dilakukan dengan cara-cara yang masuk akal, sehingga terjangkau oleh
penalaran manusia. Empiris berarti cara-cara yang dilakukan itu dapat
diamati oleh indera manusia, sehingga orang lain dapat mengamati dan
mengetahui cara-cara yang digunakan. Sistematis artinya, proses yang
digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkah- langkah tertentu
yang bersifat logis.0
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
pendekatan kuantitatif korelasional. Penelitian Korelasional merupakan
penelitian yang mempelajari hubungan dua variabel atau lebih, yakni sejauh
mana variasi dalam satu variabel berhubungan dengan variasi dalam
variabel lain”.0 Korelasi yaitu menguji perbedaan karakteristik dari dua atau
lebih variabel atau entitas. Data-data tentang kedua variabel atau lebih
tersebut akan disajikan dalam bentuk angka untuk kelanjutnya diolah dan
dianalisis dan melihat ada hubungan atau tidaknya dari variabel tersebut.
Hasil ini digunakan untuk membuat prediksi pada suatu populasi dimana
0
Sugiyono, 2018 “Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D”, (Bandung : Alfabeta),
hlm.2
0
Iwan Hermawan,Loc., Cit, p.39

32
sampel diambil.0

1.4. Populasi dan Sampel


3.4.1 Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek
atau subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang
ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik
kesimpulannya.0 Berdasarkan uraian di atas, maka populasi dalam
penelitian ini adalah perusahaan manufaktur yang terdaftardi Bursa
Efek Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018 sampai
dengan 2021.

3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut.0 Teknik pengambilan sampel yang
dipakai dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling yaitu
teknik penentuan sampel dengan kriteria atau pertimbangan tertentu.
Adapun kriteria untuk memilih sampel diantaranya:

[Link] Perusahaan manufaktur yang telah terdaftar di Bursa Efek


Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018 sampai
dengan 2021.
[Link] perusahaan manufaktur sub sector farmasi yang
mempublikasikan laporan keuangan per 31 Desember tahun
2018 sampai dengan 2021.
[Link] Perusahaan manufaktur Sub Sektor Farmasi yang laba bersih
sebelum pajak dan sesudah pajak tidak mengalami kerugian
selama tahun 2018- 2021.
[Link] Perusahaan manufaktur Sub Sektor Farmasi yang memiliki
0
Nikolatus Duli, 2019 “Metode Penelitian Kualitatif: Beberapa Konsep Dasar untuk Penulisan
Skripsi dan Analisis Data dengan SPSS”, (Yogyakarta: Deepublish), hlm.7
0
Sugiyono, [Link]., hlm.130
0
Ibid., hlm. 131

33
nilai CETR diantara 0 sampai dengan 1
[Link] Perusahaan manufaktur Sub Sektor Farmasi yang memiliki
data yang konsisten atau tidak ada kesenjangan data
[Link] Laporan keuangan yang memiliki data – data mengenai
variabel penelitian (kepemilikan institusional, komisaris
independent dan komite audit) pada tahun 2018 - 2021.
Adapun kriteria perusahaan tersebut diantaranya:

Tabel 3.2 Kriteria Sampel Penelitian perusahaan manufaktur yang


terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018-
2021

No Kriteria Penelitian Jumla


h
1 Perusahaan manufaktur yang telah terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 10
2018 sampai
dengan 2021
2 Perusahaan manufaktur sub sector farmasi yang
mempublikasikan laporan keuangan per 31 Desember 10
tahun
2018 sampai dengan 2021
3 Perusahaan manufaktur Sub Sektor Farmasi yang laba
bersih 10
sebelum pajak dan sesudah pajak tidak mengalami
kerugian selama tahun 2018-2021
4 Perusahaan dengan nilai (3)
CETR>1
5. Perusahaan manufaktur Sub Sektor Farmasi yang
memiliki data yang konsisten atau tidak ada 0
kesenjangan data
6. Laporan keuangan yang memiliki data – data mengenai
variabel penelitian (kepemilikan institusional, 9
komisaris
independent dan komite audit) pada tahun 2018 -
2021
Jumlah perusahaan yang memenuhi kriteria 9
Jumlah data (9 x 4 tahun) 36

Berdasarkan kriteria tersebut, maka diperoleh sampel


perusahaan yang memenuhi syarat adalah sejumlah 9 perusahaan,

34
dengan 4 tahun pengamatan sehingga unit analisis sebanyak 36 data
laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018- 2021.
Adapun data perusahaan yang dijadikan sampel adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.3 Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) Sub Sektor Farmasi Periode 2018-2021

NO KODE NAMA PERUSAHAAN


1.5. T
ek
1 DVLA Darya Varia Laboratoria Tbk
ni
2 KAEF Kimia Farma Tbk
k
3 KLBF Kalbe Farma.
4 MERK Merck Tbk.
5 PEHA Phapros Tbk.
6 PYFA Pyridam Farma Tbk.
7 SCPI Merck Sharp Dohme Pharma Tbk
8 Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul
SIDO Tbk.
9 TSPC Tempo Scan Pasific Tbk
Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam
penelitian, karena berbagai cara digunakan oleh peneliti untuk
mengumpulkan data yang diperlukan dalam penelitiannya. Pengumpulan
data dalam penelitian dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan,
keterangan, kenyataan-kenyataan dan informasi yang dapat dipercaya.0
Dalam hal ini data yang diambil peneliti adalah data sekunder yaitu
data yang dikumpulkan oleh lembaga pengumpul data dan dipublikasikan
kepada masyarakat pengguna jasa. Adapun sumber data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah data publikasi laporan keuangan tahunan
perusahaan, data ini diperoleh dari situs Bursa Efek Indonesia
([Link]). Dan prosedur atau metode pengumpulan data yang

0
Eri Barlian, 2017, “Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif”, (Padang: Sukabina Press),
hlm.42

35
dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Studi Dokumentasi
Dokumen artinya barang-barang tertulis dengan demikian
dokumentasi diartikan sebagai kegiatan penelitian dalam menyelidiki
benda-benda tertulisseperti buku, majalah, dokumen, peraturan-
peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya. Studi ini
berupaya mengumpulkan data melalui dokumen-dokumen, arsip
maupun catatan penting.0

2. Studi Kepustakaan
Studi Kepustakaan digunakan untuk memperoleh data yang
bersifat teoritis dengan mencari informasi tertulis dan sistematis dari
beberapa ahli yang dapat memperluas wawasan berfikir.0

1.5.1 Manajemen Pajak

[Link] Definisi Operasional


Tarif pajak Effective Tax Rate (ETR) adalah tingkat
pajak efektif suatu perusahaan yang dapat dihitung dengan
perbandingan antara beban pajak penghasilan dengan laba
sebelum pajak. Effective Tax Rate (ETR) dihitung atau
dinilai berdasrkan pada informasi keuangan yang
dihasilkan oleh perusahaan sehingga Effective Tax Rate
(ETR) merupakan bentuk perhitungan pada tarif pajak
perusahaan. Effective Tax Rate (ETR) digunakan untuk
megukur dampak perubahan kebijakan perpajakan atas
beban pajak perusahaan.

[Link] Kisi-Kisi Instrumen


Berdasarkan definisi operasional
tersebut, maka dapat dibuat kisi-kisi

0
Ajat Rukajat, 2018, “Pendekatan Penelitian Kuantitatif”, (Yogyakarta: Deepublish), h.38
0
Ibid.,p.38

36
instrument penelitian sebagai berikut:

Tabel 3.4 Kisi-Kisi Instrumen (Effective Tax Rate)


No Definisis Operasional Indikator Skala
Pengukuran
1. Prinsip ekonomi yang dianut Rasio
oleh para pelaku bisnis
adalah bagaimana
memperoleh
penghasilan atau
keuntungan yang sebesar-
besarnya dengan menekan
biaya sekecil- kecilnya.
Namun, pada kenyataannya
pemerintah berusaha
menekan para pelaku bisnis
untuk melakukan
pembayaran pajak.
Pajak disisi pemerintah,
merupakan sumber
penerimaan yang penting.
Tetapi, disisi pelaku usaha
pajak dipandang sesuatu
yang tidak menguntungkan
bagi perusahaan karena
akan mengurangi laba atau
keuntungan.

Sumber : Jurnal Melina Fajrin Utami dan Ferry Irawan (2022)0

3.4.3 Kepemilikan Institusional


[Link] Definisi Operasional
Kepemilikan institusional dalam perusahaan akan
memberikan peningkatan pengawasan dari institusi lain
terhadap kinerja yang dilakukan oleh manajemen..

[Link] Kisi-Kisi Instrumen


Berdasarkan definisi operasional tersebut, maka
dapat dibuat kisi-kisi instrument penelitian sebagai
berikut:

0
Utami & Irawan,Loc., cit, p.391

37
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen (Kepemilikan Institusional)
No Definisis Indikator Skala
Operasional Pengukuran
1. Kepemilikan INST= Rasio
institusional Jumlah saham yang dimiliki olehinstitusi lain
x 100 %
adalah salah Jumlah Saham Beredar
satu prosedur
tata kelola
perusahaan
yang bertujuan
untuk
mengurangi
masalah
keagenan yang
sering terjadi
antara manajer
dan pemegang
saham.
Sumber : (Anggita, 2021, pp. 38-49)

3.4.4 Komisaris Independen

[Link] Definisi Operasional


Menurut (Istiantoro, 2017, pp. 157–179) Komisaris
Independen adalah anggota dewan komisaris yang tidak
mempunyai hubungan afiliasi dengan manajemen,
pemegang saham pengendali, dan anggota lain dari
dewan komisaris, serta bebas dari hubungan bisnis atau
hubungan lain yang dapat memengaruhi kemampuannya
untuk bertindak independen.

[Link] Kisi-Kisi Instrumen


Berdasarkan definisi operasional tersebut, maka
dapat dibuat kisi-kisi instrument penelitian sebagai
berikut:

38
Tabel 3.6 Kisi-Kisi Instrumen (Komisaris Independen)
No Definisis Operasional Indikator Skala
Pengukuran
1. Komisaris independent KI= Rasio
merupakan seseorang Jumlah komisaris independen
x 100 %
yang tidak memiliki Total komisaris
afiliasi dengan pemegang
saham direksi atau
dewan komisaris, serta
tidak memiliki jabatan
direksi dalam
perusahaan yang
bersangkutan.
(Muliasari, 2020, pp. 28-
36).
Sumber : (Ainiyah, 2021, pp. 196–208)0

3.4.5 Komite Audit

[Link] Definisi Operasional


(IAI, 2022) mendefinisikan audit komite merupakan
komite yang dibentuk oleh dewan komisaris yang dapat
bekerja secara independen0 dan profesional yang memiliki
tugas untuk memperkuat dan membantu fungsi dewan
komisaris dalam menjalankan pada proses pelaporan
keuangan selain sebagai fungsi pengawasan, risiko, audit
dan penerapan tata kelola perusahaan (Putri, 2020, pp.
1-16).

[Link] Kisi-Kisi Instrumen


Berdasarkan definisi operasional tersebut, maka
dapat dibuat kisi-kisi instrument penelitian sebagai
berikut:

Tabel 3.7 Kisi-Kisi Instrumen (Komite Audit)

0
Ainiyah, K., Darmayanti, N., & Rosyida, I. A, “Pengaruh Independensi, Good Corporate
Governance, Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2016-2020)”, Jurnal Analisa Akutansi Dan Perpajakan, 5(2), 2021, h.196–208
0
IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia). (2022). PSAK 1 Tentang Penyajian Laporan Keuangan

39
No Definisis Operasional Indikator Skala Pengukuran
1. Komite audit termasuk dalam UKA = jumlah Nominal
komponen mekanisme tata kelola anggota komite
suatu perusahaan. Komite audit audit
ditugaskan untuk membantu
dewan komisaris dalam tugas dan
fungsinya dalam menerapkan tata
Kelola perusahaan yang baik.
Sumber : (Ainiyah, 2021, pp. 196–208)0

3.5 Teknik Analisis Data


Analisis data adalah suatu kegiatan setelah seluruh data terkumpul.
Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan
variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti,
melakukan perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.0
Setelah data diperoleh maka peneliti akan melakukan serangkaian
tahap untuk menghitung dan mengolah data tersebut, agar mendukung
hipotesis yang telah diajukan. Berdasarkan hipotesis dan rancangan
penelitian, data yang telah terkumpul akan dianalisis menggunakan
Software Statistical Product and Service Solution (SPSS) untuk menguji
hubungan antar variabel masing-masing hipotesis. Teknik analisis data
yang digunakan dalam peneltian ini adalah menggunakan analisis statistik
deskriptif, uji asumsi klasik, analisis regresi linear berganda, dan uji
hipotesis.
Mengenai data yang akan dianalisis pada penelitian ini, yakni untuk
mengetahui pengaruh antara variabel independen yang digunakan peneliti
dengan variabel dependennya, serta pengaruh variabel moderasi terhadap
pengaruh variabel independen terhadap dependennya. Tujuan dari pada
analisis ini, untuk menetapkan adakah pengaruh variabel bebas (X)
terhadap variabel terikat (Y) dengan tingkat signifikan dan apakah variabel
moderasi memperkuat atau memperlemah hubungan antara variabel X

0
Ainiyah, K., Darmayanti, N., & Rosyida, I. A, “Pengaruh Independensi, Good Corporate
Governance, Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2016-2020)”, Jurnal Analisa Akutansi Dan Perpajakan, 5(2), 2021, h.196–208
0
Sugiyono, [Link]., hlm.226

40
dengan variabel Y. Sehingga pada akhirnya disimpulkan dengan hasil
hipotesis diterima atau ditolak yang terdapatpada pengaruh variabel-
variabel tersebut.

3.6.1. Analisis Statistik Deskriptif


Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu
data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian,
maksimum, minimum, sum, range, kurtosis dan skewness (Ghozali,
2018, p. 19) (Ghozali, 2018, p. 19).

3.6.2. Uji Asumsi Klasik


Sebelum melakukan pengujian hipotesis yang diajukan dalam
penelitian perludilakukan pengujian asumsi klasik yang meliputi Uji
Normalitas, Uji Multikolinieritas dan Uji Heteroskedastisitas.

1) Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi variabel independen dan variabel dependen atau
keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak, variabel
penggangu atau residual memiliki distribusi normal. Model
regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau
mendekati normal. Cara untuk mendeteksi apakah residual
berdistribusi normal atau tidak dapat dilakukan dengan uji
statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S) test yang
terdapat di program SPSS. Teknik kolmogorov smirnov
memiliki kriteria jika signifikansi dibawah 0,05 maka data tidak
berdistribusi normal, sedangkan jika signifikansi diatas 0,05
maka data berdistribusi normal. Selain itu analsis grafik adalah
salah satu cara termudah untuk melihat normalitas data dengan
cara membandingkan antara data observasi dengan distribusi
yang mendekati distribusi normal probability plot. Normal
probability plot adalah membandingkan distribusi kumulatif dari

41
distribusi normal. Dasar pengambilan keputusan melalui
(Ghozali, 2018, pp. 161-167).

2) Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas yang bertujuan untuk menguji
apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel
bebas (independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2018, p.
107). Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel
ini tidakorthogonal. Untuk mendeteksi ada tidaknya
multikolinearitas di dalam regresi adalah dengan cara melihat
besaran dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan juga nilai
Tolerance. Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen
lainnya. dalam pengertian sederhana setiap variabel independen
menjadi variabel dependendan diregres terhadap variabel
independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variable
terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya.
Nilai yang dipakai untuk menunjukkan adanya gejala
multikolinearitas yaitu adalah
 Nilai Tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF >
10,00

 Nilai Tolerance > 0,10 atau sama dengan nilai VIF >
10,00 (Ghozali, 2018, p. 108).

3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah
dalam model regresi terjadi ketidak samaan variance dari
residual suatu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika varian
dari suatu pengamatan kepengamatan yang lain sama maka
disebut homokedastisitas dan jika varians berbeda maka disebut

42
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
homoskedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali,
2018, p. 137). Untuk mendeteksi ada tidaknya
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan Uji Glejser yaitu
dengan cara meregresikan nilai absolut residual terhadap
variabel independen. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai
berikut :

H0: β1 = 0 {tidak ada masalah heteroskedastisitas} H1: β1


≠ 0 {ada masalah heteroskedastisitas}

Jika nilai signifikan antara variabel independen dengan


absolut residuallebih dari 0,05 maka tidak terjadi masalah
heteroskedastisitas
4) Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada
periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t-1
(sebelumnya) (Ghozali, 2018, p. 111). Autokorelasi terjadi
karena observasi yang berurutan sepanjang waktu berkaitan satu
sama lainnya. Uji autokorelasi dilakukan dengan metode Durbin
Watson (DW). Dasar penentuan ada atau tidaknya kasus
autokorelasi didasari oleh kaidah berikut (Ghozali, 2018, p.
112):

1. 0 < d < dl = ada autokorelasi positif


2. dl ≤ d ≤ du = tidak ada autokorelasi positif
3. 4 – dl < d < 4 = ada autokorelasi negatif
4. 4 – du ≤ d ≤ 4 – dl = tidak ada autokorelasi negatif
5. du < d < 4 – du = tidak ada autokorelasi positif atau
negatif.

3.6.3. Analisis Regresi Linier Berganda


Untuk meramalkan variabel tidak bebas lebih baik

43
memperhitungkan variabel-variabel lain yang ikut mempengaruhi
variabel tidak bebas. Penelitian ini menggunakan metode regresi
berganda yang merupakan pengembangan dari regresi sederhana
karena melibatkan lebih dari satu variabel bebas. Dapat dikatakan juga
bahwa analisa regresi berganda merupakan suatu analisa yang secara
stimulan menginvestasikan pengaruh dua atau lebih variabel bebas
pada suatu skala intervalatau skala rasio variabel tidak bebas.

Metode analisis regresi linear berganda yang digunakan oleh


peneliti adalah untuk mengetahui berapa besar pengaruh variabel
bebas (Ln Total Asset dan Cash Ratio) terhadap variabel terikat
(Return on Assets). Untuk memperoleh hasil yang lebih terarah,
peneliti menggunakan bantuan SPSS for windows. Model Regresi
Linear Berganda yang digunakan adalah:

𝑌 = α + β1 INST + β2KI+ β3UKA + ε

Keterangan:

Y = Manajemen Pajak (ETR) α = Konstanta

β = Koefisien regresi variabel independen β1 = Koefisien

regresi X1

β2 = Koefisien regresi X2 β3 = Koefisien regresi X3

X1 = Kepemilikan Institusional (INST) X2 = Komisaris

Independen (KI)

X3= Komite Audit (UKA) ε = Error

3.6.4. Uji Hipotesis


Uji hipotesis dalam penelitian ini ada tiga tahap yaitu, uji
parsial (uji-t), uji simultan (uji-F) dan uji determinasi (R2) sebagai
berikut:

44
[Link] Uji Parsial (Uji t)
Uji parsial pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh
pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara
individual dalam menerangkan variasi variable dependen
(Ghozali, 2018, p. 57). Uji t dilakukan pada hipotesis untuk
mengetahui signifikansi pengaruh masing-masing variabel
independen yaitu Kepemilikan Institusional (INST), Komisaris
Independen (KI) dan Komite Audit (UKA) berpengaruh secara
individu terhadap variabel dependen Manajemen Pajak (ETR).
Pengujian menggunakan nilai signifikan (𝛼) 0.05 atau
tingkatkeyakinan 95%. Hipotesisi dari uji t adalah sebagai
berikut:

a. Kepemilikan Institusional
H0: ß2 = 0, artinya INST secara parsial berpengaruh
terhadap Manajemen Pajak (ETR).
H1: ß2≠ 0, artinya INST secara parsial tidak
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).
b. Komisaris Independen (KI)
H0: ß2 = 0, artinya KI secara parsial berpengaruh
terhadap Manajemen Pajak (ETR).
H1: ß2≠ 0, artinya KI secara parsial tidak
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).
c. Komite Audit (UKA)
H0: ß2 = 0, artinya Komite Audit secara parsial
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).
H1: ß2≠ 0, artinya Komite Audit secara parsial tidak
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).

Gambar 3.1 Kepemilikan Institusional (INST), Komisaris Independen (KI)


dan Komite Audit (UKA) penerimaan Uji t

45
Kepemilikan Institusional (X1), Komisaris Independen (X2) dan Komite Audit
(UKA) penerimaan uji t (positif) di bagian sebelah kanan

[Link] Uji Simultan (Uji F)


Uji F disini bertujuan untuk mengetahui apakah variabel
bebas (independen) secara bersama–sama berpengaruh terhadap
variabel terikat (dependen) (Ghozali, 2018, p. 56). Dalam
penelitian ini Uji statistik f tingkat signifikan yang digunakan
adalag 5% (0.05) yang berarti tesiko kesalahan pegambilan
keputusan adalah 0.05. Untuk mengetahui signifikansi pengaruh
yaitu Kepemilikan Institusional (INST), Komisaris Independen
(KI) dan Komite Audit (UKA) terhadap Manajemen Pajak
(ERP) secara Bersama-sama terdapat hipotesis dari uji F
sebagai berikut:

a.
H0: ß1 = ß2 = ß3 = 0, artinya semua variabel
independen secara simultan berpengaruh terhadap
variabel dependen
b.
H1: ß1 ≠ ß2 ≠ ß3 ≠ 0, artinya semua variabel independen
secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel
dependen
Kriteria keputusan sebagai berikut:

a.
Jika nilai probabilitas (F-stasistik) < 0.05 maka H0
diterima.
b.
Jika nilai probabilitas (F-stasistik) > 0.05 maka H0
ditolak.

46
Gambar 3.2 Daerah Penerimaan dan Penolakan Uji F

[Link] Koefisien Korelasi (R)


Koefisien korelasi (R) menunjukan tingkat pengaruh
variabel independen (X) dengan variabel dependen (Y). Nilai
koefisien harus terdapat dalam batas-batas -1 hingga +1 (-1 <
r < +1), menghasilkan beberapa kemungkinan, yaitu:

a. Jika r=0 atau mendekati 0, maka menunjukan korelasi


yang lemah atau tidak ada korelasi sama sekali antara
variabel-variabel yang diteliti.
b. Bila r = +1 atau mendekati +1, maka korelasi antar
variabel dikatakan positif.
c. Bila r = -1 atau mendekati -1, maka korelasi antar kedua
variabel dikatakan negatif.

[Link] Koefisien Determinasi (R2)


Uji koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur
tingkat kemampuan model dalam menerangkan variabel
dependen Manajemen Pajak (ERP) yang disebabkan oleh
variabel independen yaitu Kepemilikan Institusional (INST),
Komisaris Independen (KI) dan Komite Audit (UKA). Nilai
koefisien determinasi adalah antara 0 dan 1. Nilai yang
mendekati satu berarti variabel-variabel independen
memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk
memprediksi perubahan variabel dependen. Sebaliknya, nilai
koefisien determinasi yang kecil menandakan kemampuan
variabel independen dalam menjelaskan variasi variabel

47
dependen amat terbatas (Ghozali, 2018, p. 97).

3.6 Hipotesis Statistik

1. Hipotesis Pertama
a. H0 : P1 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara langsung
dari Kepemilikan Institusional (INST) (X1) terhadap
Manajemen pajak (Y).
b. H1: P1 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara langsung dari
Kepemilikan Institusional (INST) terhadap Manajemen pajak
(Y).

2. Hipotesis Kedua
a. H0 : P2 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara langsung
antara Komisaris Independen (X2) terhadap Manajemen pajak
(Y).
b. H1 : P2 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara langsung dari
Komisaris Independen (X2) terhadap Manajemen pajak (Y).

3. Hipotesis Ketiga
a. H0 : P3 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara langsung antara
Komite Audit (X3) terhadap Manajemen pajak (Y).
b. H1 : P3 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara langsung dari
Komite Audit (X3) terhadap Manajemen pajak (Y).

4. Hipotesis Keempat
a. H0 : P1, P2 & P3 = 0, artinya tidak ada pengaruh bersama
secara langsung antara Kepemilikan Institusional (X1),
Komisaris Independen (X2) dan Komite Audit (X3) terhadap
Manajemen pajak (Y).
b. H1 : P1, P2 & P3 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara
langsung antara Kepemilikan Institusional (X1), Komisaris

48
Independen (X2) dan KomiteAudit (X3) terhadap Manajemen
pajak (Y).

49
BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1.1. Deskripsi Data


Dalam penelitian di bab ini akan dijelaskan tahapan mengenai
pengolahan data yang kemudian akan dianalisis mengenai faktor-faktor yang
mempengaruhi manajemen pajak diantaranya Kepemilikan Institusional,
Komisaris Independen dan Komite Audit di dalam perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI Sub sektor farmasi tahun 2018-2021. Data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder yang bersumber dari laporan keuangan dan
laporan tahunan seluruh perusahaan multinasional yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia (BEI) pada tahun 2018-2021 berjumlah 9 perusahaan yang diakses
melalui situs resmi yaitu [Link]. Dalam penelitian ini metode yang
digunakan adalah metode purposive sampling, yakni penentuan sampel
berdasarkan kriteria-kriteria dengan tujuan agar sampel yang digunakan dapat
merepresentasikan penelitian yang dilakukan. Sehingga diperoleh sampel
berjumlah 9 perusahaan dikali 4 tahun menjadi 36. Metode analisis yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan aplikasi spss
versi 25. Berikut ini adalah deskriptif data hasil perhitungan dari setiap varibel
terkait dalam penelitian, sebagai berikut:

1.1.1. Analisis Deskriptif


Statistik deskriptif dapat digunakan untuk melihat distribusi data yang
digunakan sebagai sampel. Adapun tujuan dari dilakukannya analisa statistik
deskriptif ini yaitu untuk memberikan gambaran (deskripsi) mengenai suatu data
agar data yang sudah disajikan agar menjadi mudah dipahami serta informatif bagi
orang yang membacanya. Dalam penelitian ini, variabel dependen yang digunakan
yaitu effective tax rate (ETR)/Manajemen Pajak, sedangkan variabel independen
yang digunakan adalah kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan
komite audit (KA).
Analisa hasil uji statistik deskriptif ini memiliki tujuan untuk
memperlihatkan gambaran dan ukuran statistik terhadap masing-masing variabel
seperti nilai minimum, maksimum, mean, standar deviasi dan sebagainya. Pada
penelitian ini analisis deskriptif menggunakan SPSS versi 25. Hasil uji deskriptif
dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Tabel 4 1 Hasil Uji Statistik Deskriptif

Descriptive Statistics
Std.
Minimu Maximu Deviatio
N m m Sum Mean n
Kepemilika 36 0,22 0,99 23,15 0,7234 0,22173
n
Institusiona
l
Komisaris 36 0,20 0,50 13,89 0,4341 0,08012
Independe
n
Komite 36 3,00 4,00 102,00 3,1875 0,39656
Audit
Manajeme 36 0,05 9,10 28,71 0,8972 2,07526
n Pajak
Valid N 36
(listwise)

Sumber : Data di olah dari laporan keuangan

Berdasarkan hasil diatas memperlihatkan deskriptif statistik dari variabel


INST, KI, KA dan ETR. Diketahui bahwa kolom N merupakan jumlah data
sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu sejumlah 32, sesuai dengan
banyaknya jumlah observasi yang terdapat di dalam penelitian ini. Berdasarkan
hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
Variabel kepemilikan institusional (INST) menunjukkan nilai mean
sebesar 0,7234, dan nilai standar deviasi sebesar 0,22173. Hal ini berarti
kepemilikan perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia (BEI) cenderung
dikuasai oleh institusi, baik institusi dalam negeri maupun institusi asing, hal
tersebut dapat terlihat dari rata-rata sebesar 0,7234 atau sebesar 72,34%.

51
Variabel komisaris independen (KI) memiliki nilai ratarata sebesar
0,4341 (43,41%), dan nilai standar deviasi sebesar 0,08012 (8,012%). Nilai rata-
rata yang dihasilkan dewan komisaris independen lebih besar dibandingkan nilai
standar deviasinya. Hal ini menunjukan bahwa sebaran data cukup baik, sehingga
variabel dewan komisaris independen layak untuk diuji. Nilai rata-rata dewan
komisaris independen yang dimiliki perusahaan sampel sebesar sebesar 0,4341
(43,41%), berdasarkan hal tersebut berarti dapat dikatakan bahwa sebagian besar
perusahaan sampel mengikuti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor
33/POJK.04/2014 pasal 20 ayat 3 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten
atau Perusahaan Publik yang menyebutkan bahwa dewan komisaris terdiri lebih
dari 2 (dua) orang anggota dewan komisaris, jumlah komisaris independen wajib
paling sedikit 33% (tiga puluh tiga persen) dari jumlah seluruh anggota dewan
komisaris.
Variabel komite audit (KA) memiliki nilai rata-rata sebesar 3,1875 dan
nilai standar deviasi sebesar 0,39656. Nilai rata-rata yang dihasilkan komite audit
lebih besar dibandingkan nilai standar deviasinya. Hal ini menunjukan bahwa
sebaran data cukup baik, sehingga variabel komite audit layak untuk diuji. Nilai
rata-rata komite audit yang dimiliki perusahaan sampel sebesar 3,1875 ini berarti
perusahaan sampel telah mengikuti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
55/POJK.04/2015 pasal 4 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja
Komite Audit yang menyebutkan bahwa komite audit paling sedikit terdiri dari 3
(tiga) orang anggota yang berasal dari komisaris independen dan pihak dari luar
emiten atau perusahaan publik.
Variabel manajemen pajak yang diproksikan dengan ETR (effective tax
rate) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,8972 (89,72%), dan nilai standar deviasi
sebesar 2,07526 (2,07%). Nilai rata-rata yang dihasilkan manajemen pajak lebih
besar dibandingkan nilai standar deviasinya. Hal ini menunjukan bahwa sebaran
data cukup baik, sehingga variabel manajemen pajak layak untuk diuji. Nilai ETR
yang dimiliki perusahaan sampel relatif rendah jika dilihat dari rata-rata per tahun

52
yang didapatkan. Semakin kecil nilai ETR yang dimiliki oleh perusahaan berarti
penghindaran pajak yang dilakukan semakin besar.

1.2. Pengujian Persayaratan Analisis

1.1.1. Uji Asumsi Klasik


Berikut ini akan disajikan hasil pengujian dari uji asumsi klasik untuk
menguji kelayakan atas model regresi, yang meliputi uji normalitas data, uji
multikolinieritas, uji autokorelasi dan uji heterokedastisitas.

1.1.2. Uji Normalitas


Uji normalitas dilakukan dengan tujuan untuk menguji dan mengetahui
apakah data dalam penelitian yang digunakan memiliki distribusi yang normal
atau tidak. Uji normalitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan uji
One Sample KolmogorovSmirnov (K-S). Hasil uji normalitas dapat dilihat pada
tabel berikut ini:

Tabel 4 2 Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Unstandardized
Residual
N 32
Normal Parametersa,b Mean .0000000
Std. Deviation 1.58802115
Most Extreme Differences Absolute .289
Positive .230
Negative -.289
Test Statistic .289
Asymp. Sig. (2-tailed) .200c
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.

53
Berdasarkan hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov (K-S) pada
tabel diatas menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,200. nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) dikarenakan lebih besar dari 0,05 maka variabel-variabel
tersebut memiliki distribusi normal dan memenuhi persyaratan normalitas,
sehingga dapat disimpulkan bahwa residual data berdistribusi normal.
Dalam pengujian normalitas juga dapat melihat penyebaran data yang
ditunjukkan dalam grafik dan dinyatakan dengan titik. Model regresi memenuhi
syarat normalitas apabila penyebaran titiktitik berada disekitar garis diagonal
dalam grafik normal probability plot. Hasil uji normalitas dengan menggunakan
grafik normal probability plot dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Gambar 4 1 Grafik P-Plot

Pada grafik normal probability plot diatas, dapat dilihat bahwa sebaran
titik-titiknya menyebar sekitar garis diagonal dan cenderung dapat membentuk
garis lurus, sebaran error juga masih ada di sekitar garis diagonal. Hal ini
menunjukan bahwa asumsi kenormalan tidak dilanggar dan dapat dinyatakan lulus
uji normalitas. Sehingga dapat disimpulkan model regresi layak digunakan untuk
memprediksi pengaruh kepemilikan institusional, komisaris independent dan
komite audit terhadap manajemen pajak.

54
1.1.3. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinieritas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada atau
tidaknya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi autokorelasi, berarti
terdapat masalah multikolinieritas antar variabel independen. Untuk mendeteksi
ada atau tidaknya multikolinieritas dapat dilihat dari tolerance value dan variance
inflaction factor (VIF) dari pengujian SPSS 25. Apabila tolerance value > 0.1 atau
VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinieritas. Jadi jika nilai VIF < 10
menunjukkan bahwa korelasi antar variabel independen masih bisa ditolerir.
Berikut ini data hasil perhitungan uji multikolinieritas dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 4 3 Uji Multikolinearitas

Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Std. Toleranc
Model B Error Beta t Sig. e VIF
1 (Constant) -10,925 3,461 -3,156 0,004
Kepemilikan 1,662 1,503 0,178 1,106 0,278 0,811 1,233
Institusional
Komisaris 1,271 4,142 0,049 0,307 0,761 0,818 1,223
Independen
Komite Audit 3,159 0,765 0,604 4,128 0,000 0,978 1,023
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak

55
Dari tabel tentang hasil uji multikolinieritas dapat diketahui, variable
Kepemilikam Institusional yang diproksikan dengan INST menunjukkan nilai
tolerance 0,811 > 0,10 dan nilai VIF 1,233 < 10, variabel komisaris independen
yang diproksikan dengan KI menunjukkan nilai tolerance 0,818 > 0,10 dan nilai
VIF 1,233 < 10 dan variabel komite audit yang diproksikan dengan KA
menunjukkan nilai tolerance 0,978 > 0,10 dan nilai VIF 1,023 < 10. Berdasarkan
dari hasil tersebut menunjukkan bahwa semua variabel independen memiliki nilai
tolerance lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadinya multikolinieritas antar variabel independen
dalam model regresi oleh karena itu persamaan regresi ini layak digunakan untuk
analisis lebih lanjut.

1.1.4. Uji Auto Korelasi


Uji autokorelasi ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
terdapat suatu korelasi. Jika terjadi korelasi berarti mengalami yang namanya
masalah autokorelasi. Model regresi yang baik adalah model yang terbebas dari
masalah autokorelasi. Untuk mengetahui apakah model regresi terdeteksi ada atau
tidaknya autokorelasi maka salah satu caranya dengan melakukan uji Durbin
Watson (DW). Uji autokorelasi dapat dideteksi dengan menggunakan uji Durbin-
Waston dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Jika DW lebih kecil dari dL atau lebih besar dari (4-dL) maka hipotesis
nol ditolak yang berarti terdapat autokorelasi.
2. Jika DW terletak di antara dU dan (4-dU), maka hipotesis nol diterima
yang berarti tidak ada autokorelasi.
3. Jika DW terletak di antara dL dan dU atau diantara (4-dU) dan (4- dL),
maka tidak menghasilkan kesimpulan yang pasti atau adanya keragu-
raguan.

56
Berikut hasil uji autokorelasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4 4 UJi Autokorelasi

Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson
a
1 .644 .414 .352 1.67093 1.995
a. Predictors: (Constant), Komite Audit, Komisaris Independen, Kepemilikan
Institusional
b. Dependent Variable: Manajemen Pajak
Dari tabel diatas didapatkan nilai Durbin Watson sebesar 1,782, dengan
jumlah sampel (n) = 32, dengan k = 3 diperoleh du = 1.995 sehingga 4-du = 4 -
1,995 = 2,3461. Dalam penelitian ini, nilai DW terletak diantara dU dan (4-dU),
yaitu 1.995 < 1,782 < 2,004. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan pada model
regresi ini tidak terjadi masalah autokorelasi.

1.1.5. Uji Heterokedastisitas


Uji heteroskedastisitas dilakukan dengan tujuan untuk menguji dan
mengetahui apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan varians dari
residual satu pengamatan ke pengamatan lain. Jika varians dari residual satu
pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, dan jika
berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah tidak terjadi
heteroskedastisitas.
Dalam penelitian ini menggunakan pengujian scatterplot antara variabel
dependen (SRESID) dan variabel independen (ZPRED). Untuk mendeteksi ada
tidaknya heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat pola scatterplot
diagram. Hasil uji heteroskedastisitas disajikan pada gambar berikut ini :
Gambar 4 2 Scatterplot

57
Dari gambar diatas dilihat bahwa titik-titik menyebar secara acak. Dan
penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar
kemudian menyempit dan melebar kembali. Serta adanya penyebaran titik-titik
dan tidak berpola. Dengan demikian pada persamaan regresi linier berganda
dalam model ini tidak ada gejala atau tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga
model regresi layak dipakai untuk memprediksi ETR.

1.3. Analisis Regresi Linier Berganda


Dalam uji regresi linier berganda ini bertujuan untuk menguji pengaruh
variabel independen terhadap variabel dependen. Uji ini juga digunakan untuk
menunjukkan arah hubungan antara kepemilikan institusional, komisaris
independen (KI) dan komite audit (KA) dengan Manajemen Pajak (ETR). Berikut
ini hasil analisis regresi berganda dapat dilihat pada tabel 4.5 berikut ini :

Tabel 4 5 Analisis Regresi Linier Berganda

Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Std. Toleranc
Model B Error Beta t Sig. e VIF
1 (Constant) -10,925 3,461 -3,156 0,004
Kepemilikan 1,662 1,503 0,178 1,106 0,278 0,811 1,233
Institusional
Komisaris 1,271 4,142 0,049 0,307 0,761 0,818 1,223

58
Independen
Komite Audit 3,159 0,765 0,604 4,128 0,000 0,978 1,023
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak

Dari tabel tersebut dapat dibentuk persamaan regresi linier berganda


untuk penelitian ini, yaitu :
ETR = -10.925+1.662INST+1.271KI+3.159KA

Persamaan regresi tersebut dapat diinterprestasikan sebagai berikut :


1. Nilai konstanta sebesar -10.925, nilai ini menunjukkan bahwa apabila
variabel bebas (kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan
komite audit (KA)) bernilai 0, maka nilai variabel dependen yaitu
Manajemen Pajak (ETR) adalah sebesar -10.925.
2. Variabel kepemilikan institusional memiliki tingkat signifikansi sebesar
0,278 dengan nilai signifikansi 0,05. Hal ini menandakan bahwa variabel
kepemilikan institusional memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel
manajemen pajak, hal ini dapat diketahui dari signifikansi variabel yang
lebih tinggi dari nilai signifikan 0,05. Adapun nilai beta yang dihasilkan
adalah sebesar 1,662.
3. Variabel Komisaris Independen memiliki tingkat signifikansi sebesar
0,761 dengan nilai signifikansi 0,05. Hal ini menandakan bahwa variabel
Komisaris Independen memiliki pengaruh signifikan terhadap variabel
manajemen pajak, hal ini dapat diketahui dari signifikansi variabel yang
lebih tinggi dari nilai signifikan 0,05. Adapun nilai beta yang dihasilkan
adalah sebesar 1,271.
4. Variabel Komite Audit memiliki tingkat signifikansi sebesar 0,000
dengan nilai signifikansi 0,05. Hal ini menandakan bahwa variabel
Komite Audit tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel manajemen
pajak, hal ini dapat diketahui dari signifikansi variabel yang lebih rendah

59
dari nilai signifikan 0,05. Adapun nilai beta yang dihasilkan adalah
sebesar 3,159.

1.4. Pengujian Hipotesis

1.1.1. Uji Parsial (Uji t)


Uji t bertujuan untuk mengetahui apakah variabel independen
(kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan komite audit (KA))
secara parsial berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen
(manajemen pajak). Dimana derajat signifikan yang digunakan adalah 0,05.
Apabila nilai signifikan lebih kecil dari 0,05 maka terdapat pengaruh
antara variabel independen dengan variabel dependen. Dan apabila nilai signifikan
lebih besar dari 0,05 maka tidak terdapat pengaruh signifikan antara variabel
independen dengan variabel dependen. Dari hasil pengolahan data, maka
diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 4 6 Uji Parsial (Uji t)

Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Std. Toleranc
Model B Error Beta t Sig. e VIF
1 (Constant) -10,925 3,461 -3,156 0,004
Kepemilikan 1,662 1,503 0,178 1,106 0,278 0,811 1,233
Institusional
Komisaris 1,271 4,142 0,049 0,307 0,761 0,818 1,223
Independen
Komite Audit 3,159 0,765 0,604 4,128 0,000 0,978 1,023
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak

Berdasarkan tabel tersebut, maka dapat didapatkan kesimpulan hipotesa


sebagai berikut :

[Link] Hipotesis Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen


Pajak
Berdasarkan hasil uji hipotesa signifikansi parsial (uji t) pada tabel 4.13
pengujian variabel kepemilikan institusional (INST) memiliki tingkat signifikan

60
0,278 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional (INST)
tidak berpengaruh terhadap Manajemen Pajak, sehingga hipotesa pertama yang
diajukan dalam penelitian ini (H1) ditolak

[Link] Hipotesis Pengaruh Komisaris Independen terhadap Manajemen


Pajak
Berdasarkan hasil uji hipotesa signifikansi parsial (uji t) pada tabel 4.13
pengujian variabel komisaris independen (KI) memiliki tingkat signifikan 0,761 >
0,05, maka dapat disimpulkan bahwa komisaris independen berpengaruh terhadap
Manajemen Pajak, sehingga hipotesa kedua yang diajukan dalam penelitian ini
(H2) ditolak.

[Link] Hipotesis Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Pajak


Berdasarkan hasil uji hipotesa signifikansi parsial (uji t) pada tabel 4.13
pengujian variabel komite audit (KA) memiliki tingkat signifikan 0,000 < 0,05,
maka dapat disimpulkan bahwa komite audit tidak berpengaruh terhadap
manajemen pajak, sehingga hipotesa pertama yang diajukan dalam penelitian ini
(H1) diterima.

1.1.2. Uji Simultan (Uji F)


Dalam penelitian ini hasil uji signifikansi simultan dapat dilihat pada
tabel 4.7 berikut ini :

Tabel 4 7 Uji Simultan (Uji F)

ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 55.332 3 18.444 6.606 .002b
Residual 78.176 28 2.792
Total 133.508 31
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak
b. Predictors: (Constant), Komite Audit, Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional

61
Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (uji F) didapatkan nilai
signifikan 0,002< 0,05, maka hipotesa keempat yang diajukan dalam penelitian ini
(H4) diterima karena kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan
komite audit (KA) secara simultan berpengaruh terhadap Manajemen Pajak.

1.1.3. Koefisien Determinasi (R2)


Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan
model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi
adalah antara nol dan satu.

Hasil penelitian menggunakan program SPSS versi 25 didapatkan nilai


koefisien determinasi sebagai berikut :

Tabel 4 8 Koefisien Determinasi (R2)

Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson
a
1 .644 .414 .352 1.67093 1.995
a. Predictors: (Constant), Komite Audit, Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional
b. Dependent Variable: Manajemen Pajak

Berdasarkan tabel di atas, hasil uji koefisien determinasi didapatkan nilai


adjusted R square (R2) sebesar 0,352 atau 35,2%. Nilai tersebut dipengaruhi oleh
variabel independen seperti kepemilikan institusional, komisaris independen (KI)
dan komite audit (KA) terhadap variabel dependen yaitu manajemen pajak.
Sedangkan sisanya sebesar 0,648 atau 64,8% dipengaruhi oleh variabel lain yang
tidak diteliti dalam penelitian ini. Sehingga dapat disimpulkan nilai R square yang
mendekati 0 berarti kemampuan variabel independen (kepemilikan institusional,
komisaris independen (KI) dan komite audit (KA)) dalam menjelaskan variabel
dependen (manajemen pajak) amat terbatas. Nilai yang mendekati 0 berarti

62
variabelvariabel independen belum mampu memberikan semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

1.5. Pembahasan Hasil Penelitian

1.1.2 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen Pajak


Berdasarkan hasil uji statistik t, variabel kepemilikan institusional
memiliki nilai beta sebesar 1.662, tingkat signifikansi sebesar 0,001. Dengan
demikian dapat dikatakan H1 ditolak, sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel
kepemilikan institusional memiliki pengaruh negatif signifikan terhadap variabel
tax avoidance. Hasil ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Alkurdi &
Mardini (2020) dan Risa Aulia Rana (2021).
Hubungan kepemilikan institusional dengan tindakan penghindaran pajak
menunjukkan hasil negatif dengan CFETR. Segala bentuk pengurangan pajak
melalui perencanaan pajak (Tax Planning) dapat diproses hukum oleh undang-
undang perpajakan. Dengan demikian, Pemilik institusional memiliki tujuan untuk
mendorong praktik penghindaran pajak dengan memodifikasi alokasi sumber daya
perusahaan dalam lingkup tax planning untuk mengurangi kewajiban pajak
(Annuar et al., 2014). Sebaliknya, apabila semakin kecil presentase kepemilikan
institusional pada entitas maka investor mengurangi keterlibatan dalam
penghindaran pajak. Hasil penelitian ini sejalan dengan Alkurdi & Mardini (2020)
bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan.
Dalam penelitiannya, Alkurdi & Mardini (2020) menyatakan bahwa
kepemilikan institusional memiliki pengaruh negatif terhadap tindakan tax
avoidance. Hal ini disebabkan karena para pemilik saham intitusional cenderung
menghindari resiko deteksi atas kegiatan penghindaran pajak dan tidak mau
mengambil resiko yang dapat menghancurkan reputasi perusahaan. Menurutnya
pula, pemilik saham institusional telah berfungsi sebagai control yang baik

63
terhadap manajemen perusahaan sehingga dapat mengurangi tindakan
penghindaran pajak.

1.1.3 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Manajemen Pajak


Dari hasil pengujian yang disajikan pada tabel 4.13, variabel dewan
komisaris independen menunjukkan nilai signifikan 1,271 lebih besar dari 0,05
sehingga dapat disimpulkan bahwa H2 diterima. Hal ini menunjukkan bahwa
variabel dewan komisaris independen berpengaruh terhadap manajemen pajak
pada perusahaan manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek
Indonesia tahun 2018-2021.
Dewan komisaris independen merupakan anggota dewan komisaris yang
tidak terafiliasi dengan manajemen, pemegang saham, dan anggota dewan
komisaris lainnya (Fitria, 2018). Tugas dewan komisaris independen dalam suatu
perusahaan adalah melakukan pengawasan terhadap manajemen perusahaan.
Terkait dengan pengawasan yang dilakukan tersebut, keberadaan dewan komisaris
independen dalam suatu perusahaan dapat merubah perilaku manajemen yang
opportunistic. Pengawasan yang dilakukan oleh dewan komisaris independen
mampu mengurangi kesempatan manajemen dalam melakukan praktik
penghindaran pajak.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh
Zurianti, et al. (2018) yang menyatakan bahwa dewan komisaris independen
berpengaruh negatif pada penghindaran pajak (tax avoidance). Serta penelitian
yang dilakukan oleh Putra dan Merkusiwati (2016) dan Wulandari (2018) yang
menyatakan bahwa komisaris independen berpengaruh terhadap tax avoidance.
Akan tetapi hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan
oleh Mahanani, et al. (2017), Asri dan Suardana (2016), dan Maghfirah (2019).

64
1.1.4 Pajak Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Pajak
Dari hasil pengujian yang disajikan pada tabel 4.13, variabel komite audit
menunjukkan nilai signifikan 0,000 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat
disimpulkan bahwa H1 tidak dapat diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel
komite audit berpengaruh terhadap manajemen pajak pada perusahaan manufaktur
subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2021.
Hasil ini tentu berlawanan dengan hipotesa peneliti yang menyatakan
bahwa komite audit memiliki pengaruh terhadap tax avoidance. Hal ini
menunjukan bahwa kinerja komite audit tidak berjalan dengan baik meskipun
jumlah komite audit sudah sesuai dengan peraturan OJK. Pengawasan yang
dilakukan oleh komite audit belum maksimal sehingga masih terdapat celah
(loopholes) bagi manajemen untuk melakukan penghindaran pajak. Sehingga
dapat dikatakan bahwa komite audit belum mampu merubah perilaku manajemen
perusahaan yang opportunistic.
Riset ini sependapat dengan riset Darma et al., (2019) yang menjelaskan
komite audit berpengaruh positif terhadappenghindaran pajak.

1.1.5 Pengaruh Kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan


komite audit (KA) terhadap manajemen pajak
Dari hasil uji signifikansi simultan (uji F) pada tabel 4.14 diatas
didapatkan nilai signifikan 0.002 lebih kecil dari 0,05, maka hasil yang didapat
H4 diterima karena Kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan
komite audit (KA) secara simultan berpengaruh terhadap manajemen pajak.
Hal ini menandakan bahwa semakin besar kepemilikan institusional,
semakin meningkatnya risiko perusahaan, dan semakin tingginya jumlah hutang
maka akan mempengaruhi manajemen pajak sebuah perusahaan. Hasil ini sejalan
dengan penelitian Ngadiman dan Puspasari (2018) yang mendapatkan bahwa
semakin tinggi kepemilikan institusional, maka semakin tinggi pula jumlah beban
pajak yang harus dibayarkan oleh perusahaan. Pemilik institusional berdasarkan

65
besar dan hak suara yang dimiliki, dapat memaksa manajer untuk berfokus pada
kinerja ekonomi dan menghindari peluang untuk perilaku mementingkan diri
sendiri.
Dewan komisaris independen menengahi agen dan prinsipal dalam
mengambil kebijakan perusahaan agar tidak melanggar hukum salah satunya yaitu
dalam menentukan kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan pembayaran
pajak. Baik dewan komisaris independen maupun komite audit merupakan bagian
dari corporate governance yang memiliki salah satu prinsip transparasi. Keduanya
dapat mengurangi pengukuran dan pengungkapan akuntansi yang tidak tepat
sehingga akan mengurangi tindakan kecurangan oleh manajemen dan tindakan
melanggar hukum lainnya, tidak terkecuali kecurangan dalam melakukan
penghindaran pajak serta memanipulasi laba.
Komite audit sesuai perannya dapat membantu dewan komisaris agar
asimetri informasi tidak terjadi dengan melakukan monitoring serta memberi
pertimbangan kepada manajemen pada pengendalian intern yang sedang
berlangsung di dalam perusahaan. Komite audit berhubungan erat dengan
kegiatan pemeriksaan terhadap resiko yang kemungkinan akan dihadapi
perusahaan di masa yang akan datang, serta ketaatan perusahaan terhadap
peraturan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan teori-teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
Kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan komite audit (KA)
terhadap manajemen pajak secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh
terhadap manajemen pajak.

1.6. Keterbatasan Penelitian


Pada dasarnya proses penelitian ini telah diusahakan semaksimal
mungkin, namun skripsi ini tetap memiliki sejumlah kekurangan yang menjadi
bagian dari keterbatasan penelitian. Dimana keterbatasan-keterbatasan penelitian
ini adalah sebagai berikut:

66
1. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada perguruan tinggi yang berstatus
swasta, sehingga masih perlu dikaji kembali apakah penelitian ini masih perlu
diuji kembali apakah hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan secara lebih
luas untuk perguruan tinggi yang berstatus negeri.
2. Pemilihan indikator untuk mengukur masing-masing variabel penelitian hanya
mengacu pada satu teori, sehingga dapat saja hasil pengukuran kurang
komprehensif.
3. Periode pengamatan terbatas selama tiga tahun pengamatan, yaitu periode
tahun 2018-2021.
4. Sampel variabel independen yang digunakan kurang general untuk mewakili
penelitian terhadap manajemen pajak.

67
BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

1.1. Kesimpulan
Penelitian ini menguji pengaruh Kepemilikan institusional, komisaris
independen dan komite audit terhadap manajemen pajak pada perusahaan
manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-
2021. Penelitian ini menggunakan 4 variabel yaitu komite audit, dewan komisaris
independen, dan profitabilitas sebagai variabel independen, sedangkan tax
avoidance sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan analisis regresi
linier berganda dan menggunakan program SPSS versi 25. Data sampel yang
digunakan sebanyak 9 perusahaan manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2021.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Kepemilikan
institusional, komisaris independen dan komite audit akan berpengaruh terhadap
manajemen pajak. Penelitian ini mengambil periode pengamatan dari tahun 2018
sampai dengan 2021, dimana sampel yang digunakan dalam penelitian ini
berjumlah 36 perusahaan multinasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI).
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dijelaskan
pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Variabel kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap variabel
manajemen pajak, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi kepemilikan
institusional, maka manajemen pajak akan semakin rendah. Hasil ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh Alkurdi & Mardini (2020)
bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan.
2. Berdasarkan hasil uji hipotesa kedua (H2) dalam penelitian ini, variabel
komisaris independen (KI) menunjukkan nilai signifikan 1,271 < 0,05.
Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
dewan komisaris independen berpengaruh terhadap manajemen pajak,
sehingga hipotesa kedua (H2) dalam penelitian ini ditolak.
3. Berdasarkan hasil uji hipotesa pertama (H3) dalam penelitian ini,
variabel komite audit (KA) menunjukan nilai signifikan 0,000 > 0,05.
Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
komite audit berpengaruh terhadap manajemen pajak, sehingga hipotesa
pertama (H3) dalam penelitian ini diterima.
4. Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (Uji F) dalam penelitian ini,
diperoleh nilai signifikan 0,002 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, maka
dapat disimpulkan bahwa Kepemilikan institusional, komisaris
independen dan komite audit secara simultan berpengaruh terhadap
manajemen pajak, sehingga hipotesa keempat (H4) dapat diterima.

1.2. Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan ilmu akuntansi yang khususnya berada pada bidang pajak
mengenai dampak dari aktivitas manajemen pajak. Penelitian ini dimasa
mendatang diharapkan dapat menyajikan hasil yang lebih berkualitas lagi dengan
adanya beberapa masukan mengenai beberapa hal diantaranya :

1. Penelitian selanjutnya dapat menggunakan pengukuran selain CETR


(Cash Effective Tax Rate) dalam mengukur manajemen pajak. Salah satu
contohnya adalah dengan menggunakan pengukuran book tax gap
(BTG).
2. Penelitian selanjutnya bisa mempertimbangan untuk meneliti manajemen
pajak untuk jangka panjang (4 tahun), Dyreng et al (2009) menyatakan
bahwa pengukuran tax avoidance yang tepat bagi perusahaan adalah
secara jangka panjang, karena diharapkan mampu menghapuskan

69
permanent difference sehingga benar-benar mencerminkan perilaku tax
avoidance yang dilakukan oleh perusahaan.
3. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti perusahaan sektor
industri lain selain sektor industri manufaktur. Dengan demikian dapat
diketahui pengaruh dari kepemilikan institusional, risiko perusahaan, dan
leverage terhadap manajemen pajak dari masing-masing sektor industri
yang ada.
4. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah atau mengganti
variabel independen lain yang mungkin mempengaruhi manajemen pajak
seperti ukuran perusahaan, kompensasi rugi fiskal, pertumbuhan
penjualan, dan insentif pajak.

70
DAFTAR PUSTAKA

Ainiyah, K. D. (2021). Pengaruh Independensi, Good Corporate Governance, Dan


Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada
Perusahaan Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang
Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2020). Jurnal Analisa
Akutansi Dan Perpajakan, 5(2), 196–208.

Alya, &. Y. (2021). PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL,


LEVERAGE, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP TAX
AVOIDANCE. Jurnal Multiparadigma Akuntansi, 3(2), 136–145.

Anggita, R. T. (2021). Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kebijakan Hutang,


Keputusan Investasi, dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan.
Journal of Management, Accounting, Economic and Business 02(01), 38–
49.

Aprianto, M. &. (2019). Pengaruh Sales Growth dan Leverage terhadap Tax
Avoidance dengan Kepimilikan Institusional Sebagai Variabel Moderasi.
Prosiding Seminar Nasional, November.

Chairunesia, W. S. (2018). Pengaruh Good Corporate Governance dan Financial


Distress Terhadap Manajemen Laba Pada Perusahaan Indonesia yang
Masuk Dalam Asean Corporate Governance Scorecard. Jurnal Profita,
11(2), 232.

Dewi, N. M. (2019). Pengaruh Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris


Independen dan Komite Audit Terhadap Penghindaran Pajak (Tax
Avoidance) Pada Perusahaan Perbankan yang Terdaftar di Bursa Efek
Indonesia Periode 2012-2016. MAKSIMUM: Media Akuntansi Universitas
Muhammadiyah Semarang, 9(1), 40-51.

Ghozali. (2018). Aplikasi Analisis Multivariate Dengan Program IBM SPSS.


Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 19-161.

Hastuti, D. B. (2020). Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan, Leverage, CSR, dan


Keputusan Investasi Terhadap Nilai Perusahaan Dengan GCG Sebagai
Variabel Moderasi Pada Perusahaan Manufaktur Periode 2012 – 2017.
Jurnal Ekonomi, Manajemen Dan Perbankan 6(2).
IAI. (2022). PSAK 1 Tentang Penyajian Laporan.

Indrasari, A. Y. (2016). Pengaruh Komisaris Independen, Komite Audit, Dan


Financial Distress Terhadap Integritas Laporan Keuangan. Jurnal
Akuntansi, 20(1), 117–133.

Istiantoro, I. P. (2017). Pengaruh Struktur Corporate Governance terhadap


Integritas Laporan Keuangan Perusahaan pada Perusahaan LQ45 yang
Terdaftar di BEI The Influence of Corporate Governance Structure to
Integrity of Company ’ s Financial Statement to LQ45 Company Listed on
IDX. AKUNTABEL, 14(2), 157–179.

Kurnianti, D. (2021). PROFITABILITAS, CSR, CORPORATE GOVERNANCE


DAN TAX AVOIDANCE PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR
PERIODE 2014 - 2018. Jurnal Riset Manajemen Sains Indonesia, 12(1),
6.

Marpaung, A. Y. (2021). Pengaruh Komisaris Independen, Komite Audit,


Kepemilikan Institusional Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan
Keuangan Di Perusahaan Sub Sektor Transportasi Yang Terdaftar Di BEI
Tahun 2017-2019. COSTING : Journal of Economic, Business and
Accounting, 5(1), 160-168.

Muliasari, R. &. (2020). Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Komisaris


Independen Terhadap Agresivitas Pajak Perusahaan. SULTANIST : Jurnal
Manajemen dan Keuangan, 28-36.

Negara, I. K. (2019). Analisis Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap


Nilai Perusahaan dengan Corporate Social Responsibility Sebagai
Variabel Pemoderasi (Studi Pada Indeks Sri-Kehati yang Listed di BEI).
8(1), 46–61.

Nuryono, M. W. (2019). Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan


Institusional, Komisaris Independen, Komite Audit, Serta Kualitas Audit
Pada Nilai Perusahaan. Edunomika, 03(01), 199–212.

Oktavianna, R. &. (2021). Analisis Manajemen Laba yang Dipengaruhi oleh


Komite Audit dan Firm Size Perusahaan LQ45 Tahun 2015-2019. JIAUP,
54-64.

Prasetyo, I. &. (2018). Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan


Institusional, dan Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Tax
Avoidance. JEBDEER: Journal of Entrepreneurship, Business
Development and Economic Educations Research, 20(2).

72
Primasari, N. H. (2019). LEVERAGE, UKURAN PERUSAHAAN,
PROFITABILITAS, PERTUMBUHAN PENJUALAN, PROPORSI
KOMISARIS INDEPENDEN DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP
TAX AVOIDANCE (studi emperis pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di bursa efek indonesia periode 2014-2016). Jurnal Akuntansi
Dan Keuangan, 8(3), 198.

Putri, R. G. (2020). The Effect of Corporate Governance Mechanism, Company


Size and Leverage on the Integrity of Financial Statements. Jurnal Sekolah
Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia, 1(1), 1–16.

Rahman, A. (2021). Pengaruh Corporate Social Responsibility dan Good


Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan Melalui Kinerja
Keuangan. Jurnal Ilmu Dan Riset Akuntansi, 10(8).

Santoso, B. T. (2021). Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR),


Kepemilikan Institusional, Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas dan
Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan. 1(2), 226–238.

setyasari. (2022). Pengaruh Kepemilikan Manajerial, Kepemilikan Institusional,


Board Diversity, Profitabilitas Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Nilai
Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listing Di
Bursa Efek Indonesia Tahun 2016 - 2020). Master: Jurnal Manajemen
Dan Bisnis 78 Terapan, 2(1), 69.

Shanti, Y. K. (2020). Pengaruh Komite Audit Terhadap Kinerja Keuangan


Dengan Dewan Komisaris Sebagai Variabel Intervening.
IQTISHADUNA : Jurnal Ilmiah Ekonomi Kita, 147-158.

73
LAMPIRAN-LAMPIRAN

74

Anda mungkin juga menyukai