Pengaruh Kepemilikan Institusional pada Pajak
Pengaruh Kepemilikan Institusional pada Pajak
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Menyelesaikan Studi
dan Memperoleh Gelar Sarjana Akuntansi ([Link])
Pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Oleh :
NIKEN MARETA RINDASARI
11021900010
1
PERSETUJUAN PEMBIMBING
DIPERSYARATKAN UNTUK UJIAN SIDANG SKRIPSI
SKRIPSI
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN
PAJAK
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SUB SEKTOR FARMASI
TAHUN 2018-2021)
Pembimbing I Pembimbing II
PIMPINAN
PROGRAM STUDI : AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BINA BANGSA
Ketua Sekertaris
2
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING
DAN PIMPINAN PERGURUAN TINGGI
SKRIPSI
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN
PAJAK
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SUB SEKTOR FARMASI
TAHUN 2018-2021)
DEKAN KETUA
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Akuntansi
REKTOR
Universitas Bina Bangsa
3
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING
DAN TIM DOSEN PENGUJI
SKRIPSI
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN PAJAK
(STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG
TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA SUB SEKTOR FARMASI
TAHUN 2018-2021)
Telah diuji dalam Sidang Skrispsi pada hari…. Tanggal….., bulan……, tahun….
Oleh Dewan Penguji dan Dinyatakan:
……………… dengan nilai Huruf ………….
Serang,……………..
Pembimbing I Pembimbing II
4
LEMBAR PERNYATAAN
TENTANG
KEABSAHAN PENULISAN SKRIPSI
Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi yang saya buat dengan judul:
1. Merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar
sarjana Akuntansi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa;
2. Seluruh isinya merupakan hasil karya sendiri, dan saya tidak melakukan
penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan norma,
kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.
3. Bagian-bagian tertentu dalam penulisan Skripsi yang saya kutip dari hasil
karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma,
kaidah dan etika penulisan karya ilmiah.
4. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung segala resiko / sanksi yang
dijatuhkan kepada saya apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau
sebagian Skripsi ini bukan hasil karya sendiri atau ada klaim dari pihak lain
terhadap keaslian karya saya ini, dan dipastikan serta ditemukan adanya
PLAGIAT dalam bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi berupa
pencabutan gelar akademik yang telah saya peroleh dan sanksi-sanksi lainnya
sesuai dengan peraturan perundangan.
Demikian surat pernyataan tentang keabsahan Skripsi ini, saya buat dengan
sebenarnya dalam keadaan sadar, sehat jasamani dan rohani serta tidak ada
paksaan dari pihak manapun, dan saya tandatangani di atas materai yang cukup.
5
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT, yang telah
memberikan rahmat dan karunianya-Nya pada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunanan Skripsi ini yang berjudul: “Pengaruh Kepemilikan
Institusional, Komisaris Independen dan Komite Audit Terhadap Manajemen
Pajak (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Sub Sektor Farmasi Tahun 2018-2021)”. Skripsi ini ditulis dalam
rangka memenuhi sebagaian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana
Akuntansi ([Link]) pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Bina Bangsa
Banten.
Penulis menyadari bahwa penulisan Skripsi ini tidak dapat terselesaikan
tanpa dukungan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Oleh karena itu,
penulis ingin menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang secara
langsung dan tidak langsung memberikan kontribusi dalam penyelesaian Skripsi
ini. Secara khusus pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih
kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. H. Furtasan Ali Yusuf, S.E.,[Link].,M.M. Selaku Rektor
Universitas Bina Bangsa yang telah memberikan kemudahan dalam
kegiatan akademis serta arahan yang sangat [Link] skripsi
berjalan lancar.
2. Bapak Ir. Naufal Affandi, M.M. Selaku Wakil Rektor I Bidang Akademik
Universitas Bina Bangsa, yang telah memberikan kesempatan bagi penulis
untuk melaksanakan penulisan skripsi ini.
3. Bapak Drs. Gatot Hartoko [Link]. Selaku Wakil Rektor II Bidang Keuangan
dan Sarana Prasarana Universitas Bina Bangsa, yang telah memberikan
kesempatan bagi penulis untuk melaksanakan penulisan skripsi ini.
4. Bapak Dr. Budi Ilham Maliki,[Link].,M.M. Selaku Wakil Rektor III Bidang
Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Bina Bangsa, yang telah
memberikan kesempatan bagi penulis untuk melaksanakan penulisan
skripsi.
6
5. [Link] Dwi Suseno,SE.,MM. Selaku Dekan Fakultas ekonomi dan
Bisnis, yang telah memberikan kesempatan bagi penulis untuk
melaksanakan penulisan skripsi ini.
6. Bapak Ibrohim, S.E.,[Link].,CTA.,ACTA. Selaku Ketua Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan motivasi
dan dukungan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi
ini.
7. Bapak Mohamad Husni, S.E.,[Link]. Selaku Sekretaris Program Studi
Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis yang telah memberikan motivasi
dan dukungan bagi penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi
ini.
8. Ibu Hj. Nugrahini Kusumawati, S.E.,[Link]. Selaku Dosen Pembimbing I
yang telah meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan
masukan kepada penulis dengan sabar, sehingga skripsi ini dapat
terselesaikan dengan baik.
9. Ibu Efi Tajuroh Afiah, S.E.,[Link]. Selaku Dosen Pembimbing II yang telah
meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan masukan kepada
penulis dengan sabar, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
10. Kedua orang tua, Ayahanda tercinta Rahmat dan Almarhumah Ibunda
tersayang Aliyatullailah serta adik tercinta Muhamad Firmansyah yang telah
memberikan motivasi dan dukungan baik moril maupun materil serta doa
yang tiada henti-hentinya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
11. Kepada seluruh dosen dan staf administrasi, termasuk rekan-rekan
mahasiswa yang telah menaruh simpati dan bantuan sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak
yang telah membantu, dan semoga Allah SWT melimpahkan karunianya dalam
setiap amal kebaikan kita dan diberikan balasan. Aamiin.
7
Serang, 25 Juni 2023
Penulis
8
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL................................................................................................i
PERSETUJUAN PEMBIMBING DIPERSYARATKAN UNTUK UJIAN
SIDANG SKRIPSI..................................................................................................ii
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING DAN PIMPINAN
PERGURUAN TINGGI.........................................................................................iii
PERSETUJUAN PENGESAHAN PEMBIMBING DAN TIM DOSEN PENGUJI
.................................................................................................................................iv
LEMBAR PERNYATAAN TENTANG KEABSAHAN PENULISAN SKRIPSI v
KATA PENGANTAR............................................................................................vi
DAFTAR ISI...........................................................................................................ix
ABSTRAK.............................................................................................................xii
ABSTRACT............................................................................................................xiv
DAFTAR TABEL..................................................................................................xv
DAFTAR GAMBAR............................................................................................xvi
DAFTAR GRAFIK..............................................................................................xvii
DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................xviii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
1.1 Latar Belakang Penelitian.................................................................1
1.2 Identifikasi Masalah.........................................................................12
1.3 Pembatasan Masalah........................................................................13
1.4 Rumusan Masalah............................................................................13
1.5 Tujuan Penelitian..............................................................................14
1.6 Manfaat Hasil Penelitian..................................................................14
BAB II KAJIAN TEORITIK..............................................................................16
2.1. Deskripsi Teoritik...............................................................................16
2.1.1. Teori Agensi (Agency Theory).................................................16
2.1.2. Manajemen Pajak.......................................................................18
ix
2.1.3. Kepemilikan Institusional..........................................................20
2.1.4 Komisaris Independen...............................................................21
2.1.5. Komite Audit.............................................................................23
2.2. Kerangka Berfikir................................................................................21
2.3 Hipotesis Penelitian......................................................................28
BAB III METODOLOGI PENELITIAN..........................................................30
3.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian.................................................30
3.2. Tempat dan Waktu Penelitian............................................................31
3.3. Metode Penelitian................................................................................32
3.4. Populasi dan Sampel...........................................................................33
3.5. Teknik Pengumpulan Data..................................................................35
3.6 Teknik Analisis Data..........................................................................40
3.7 Hipotesis Statistik................................................................................47
BAB IVHASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN........................................49
4.1. Deskripsi Data.....................................................................................49
4.2. Pengujian Persayaratan Analisis.........................................................52
4.2.1. Uji Asumsi Klasik......................................................................52
4.2.2. Uji Normalitas...........................................................................52
4.2.3. Uji Multikolinearitas..................................................................54
4.2.4. Uji Auto Korelasi.......................................................................55
4.2.5. Uji Heterokedastisitas................................................................56
4.3. Analisis Regresi Linier Berganda.......................................................57
4.4. Pengujian Hipotesis.............................................................................59
4.4.1. Uji Parsial (Uji t).......................................................................59
4.4.2. Uji Simultan (Uji F)...................................................................60
4.4.3. Koefisien Determinasi (R2).......................................................61
4.5. Pembahasan Hasil Penelitian..............................................................62
4.5.1 Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Manajemen
Pajak.........................................................................................62
4.5.2 Pengaruh Komisaris Independen terhadap Manajemen
Pajak.........................................................................................63
4.5.3 Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Pajak.........64
x
4.5.4 Pengaruh Kepemilikan institusional, komisaris independen
(KI) dan komite audit (KA) terhadap manajemen pajak....64
4.6. Keterbatasan Penelitian.......................................................................65
BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN..........................................67
5.1. Kesimpulan.........................................................................................67
5.2. Saran....................................................................................................68
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................70
LAMPIRAN-LAMPIRAN.....................................................................................73
xi
PENGARUH KEPEMILIKAN INSTITUSIONAL, KOMISARIS
INDEPENDEN DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN
PAJAK
(Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek
Indonesia Sub Sektor Farmasi Tahun 2018-2021)
ABSTRAK
xii
Maka, dapat disimpulkan bahwa secara parsial hanya 1 (satu) variabel
yang berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen pajak dan secara
simultan tidak ada yang berpengaruh secara signifikan terhadap manajemen pajak.
xiii
NIKEN MARETA RINDASARI
11021900010
nikenja99@[Link]
ABSTRACT
Tax management is an act of reducing tax payments that are usually carried
out by multinational companies. Usually done by exploiting loopholes through
weaknesses in existing rules. Some of the tax avoidance practices in this study
include; institutional ownership, independent commissioners and audit
committees.
This study aims to empirically determine the influence of Institutional
Ownership on tax management, to empirically determine the effect of Independent
Commissioners on tax management and to determine empirically the influence of
the Audit Committee on tax management. This research was conducted at
Manufacturing Companies listed on the IDX for the pharmaceutical sub-sector in
2018-2021.
The method used in this research is correlational quantitative method. The
population used in this study amounted to 36 companies. Where the determination
of the sample using purposive sampling method, in order to obtain a sample of 9
(nine) companies based on certain criteria. Data analysis in this study uses the
SPSS Version 25 method.
Based on the results of hypothesis testing, it shows that partially (1)
institutional ownership has a negative effect on tax management variables, (2)
independent commissioners have no significant effect on tax management and
simultaneously (3) audit committee has an effect on tax management.
So, it can be concluded that partially only 1 (one) variable has a significant
effect on tax management and simultaneously nothing has a significant effect on
tax management.
xiv
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 1 Target dan Realisasi Pajak Penghasilan Badan 2012-2014...............3
Tabel 1 2 Kasus Lainnya Mengenai Perpajakan..............................................10
xv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
xvi
DAFTAR GRAFIK
Halaman
xvii
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
xviii
BAB I
PENDAHULUAN
1
Hantoyo, S. S., Kertahadi, & Handayani, S. R, “Pengaruh Penghindaran Pajak Dan Sanksi Perpajakan
Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Pada Wajib Pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Tegal)”,
Jurnal Perpajakan (JEJAK) Vol. 9 No. 1, 2018, h.1-7
0
Kusuma, K. C, “Pengaruh Kualitas Pelayanan Pajak, Pemahaman Peraturan Perpajakan Serta Sanksi
Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Dalam Membayar Pajak Tahun 2014 (Studi
Kasus WP OP di Kantor Pelayanan Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan Wonosobo)”, Skripsi Universitas
Negeri Yogyakarta.
0
terian Keuangan Republik Indonesia, “Realisasi APBN 2017”, Diakses dari:
[Link] [Link],
2017
0
Brigham, Eugene F. Dan Joel F. Houston, “Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Edisi 10, Buku 2”,
Jakarta: Salemba Empat, 2006
1
pembayaran pajak yang dilakukan selama ini wajib pajak selalu membayar
pajak dengan nominal yang paling rendah dengan harapan mendapatkan
manfaat yang maksimal dari pemanfaatan pajak yang ditetapkan, hal
tersebut terkait secara langsung dengan kepauhan wajib pajak dalam
pemenuhan kewajiban perpajakannya.
Kepatuhan perpapajakan pada dasarnya merupakan kepatuhan yang
dilakukan oleh wajib pajak dalam menjalankan hak perpajakan dengan baik
dan benar sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. 0
Keinginan wajib pajak untuk melakukan pembayaran sesuai dengan
ketentuan menunjukkan adanya peran yang besar dari wajib pajak sehingga
pendapatan pajak sesuai dengan target yang telah ditetapkan. Namun
demikian kondisi yang terjadi yaitu wajib pajak sering melakukan
manajemen dalam proses pembayaran pajak sehingga potensi pajak yang
hilang mengalami peningkatan. Salah satu aturan misalnya terkait transfer
pricing, yakni tentang penerapan prinsip kewajaran dan kelaziman usaha
dalam transaksi antara wajib pajak dengan pihak yang mempunyai
hubungan istimewa (Perdirjen No. PER- 43/PJ/2010).
Permasalahan mengenai kepatuhan wajib pajak menjadi masalah
yang secara umum terjadi di seluruh negara-negara yang menerapkan
sistem perpajakan. Berbagai penelitian telah dilakukan dan kesimpulannya
adalah masalah kepatuhan dapat dilihat dari segi keuangan publik (public
finance), penegakan hukum (law enforcement), struktu organisasi
(organizational structure), tenaga kerja (employees), etika (code of
conduct), atau gabungan dari semua segi sehingga fungsi atau peranan
pajak tidak dapat berjalan sesuai dengan program yang telah ditetapkan.
Manajemen perpajakan secara umum dapat didefinisikan ` sebagai usaha
menyeluruh yang diupayakan oleh wajib pajak agar segala hal yang
berkaitan dengan perpajakan dapat dikelola dengan efektif, efisien, dan
[Link], metode ini merupakan proses untuk meminimalisir
0
Ilham Syah et al. dalam Lilis Ardiani, Pengaruh Pengtahuan Pajak, Sosialisasi Perpajakan, dan
Insentif Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor, Jurnal Ilmu dan Riset
Akuntansi, Vol. 11, No. 2 (2022), h. 1-18
2
beban pajak namun tetap berada pada jalurnya, yakni sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan yang
berlaku. Biasanya, metode ini dilakukan secara rutin atau reguler karena
transaksi yang dilakukan berulang atau selalu terjadi di sebuah perusahaan
guna mengelola dengan baik urusan perpajakannya.
Tabel 1.1 Target dan Realisasi Pajak Penghasilan Badan
2012-2014
3
pajak. Manajemen pajak sering dikaitkan dengan perencanaan pajak (tax
planning), di mana keduanya sama-sama menggunakan cara yang legal
untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan kewajiban pajak.
Kepemilikan institusional pada dasarnya memiliki peran penting
dalam memantau, mendisiplinkan dan mempengaruhi manajer sehingga
memiliki fokus dalam upaya memaksimalkan tanggung jawabnya kepada
perusahaan.0
Kepemilikan institusional dimanifestasikan sebagai kepemilikan
saham perusahaan yang mayoritas dimiliki oleh institusi atau lembaga
(perusahaan asuransi, bank, perusahaan investasi, asset management dan
kepemilikan institusi lain).0 Dengan adanya manajemen pajak, hal ini
membantu para pemilik saham institusional dalam mengetahui kejelasan
resiko pajak dari perusahaan tempat mereka berinvestasi. Penerapan
corporate governance juga dilatar belakangi oleh masalah struktur
kepemilikan. Pada penelitian kali ini, struktur kepemilikan perusahaan akan
difokuskan pada struktur kepemilikan institusional. Hal ini karena dengan
adanya kepemilikan institusional maka akan ada kontrol yang lebih baik.
Dengan adanya manajemen pajak, hal ini membantu para pemilik saham
institusional dalam mengetahui kejelasan resiko pajak dari perusahaan
tempat mereka berinvestasi. Selain itu jika ETR lebih kecil maka beban
pajak yang ditanggung oleh para pemegang saham akan lebih ringan.
Menurut penelitian Solihah et al. (2020),0 bahwa kepemilikan institusional
berpengaruh negatif terhadap effective tax rate, sedangkan berdasarkan
penelitian Yusuf et al. (2021), menegaskan bahwa kepemilikan saham
institusional memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap effective
0
Alghifari et al., Identifikasi Kompensasi Manajemen, Capital Intensity, dan Levarage Terhadap Tax
Avoidance, Prosiding Konferensi Riset Nasional Ekonomi, Manajemen, dan Akuntansi, Vol. 2 (2022), h.
1726-1743.
0
Yani & Saputra, Pengaruh Kepemilikan Asing, Kepemilikan Institusional dan Levarage terhadap
Pengungkapan Corporate Social Responsibility, e-Jurnal Akuntansi, Vol. 30, No. 5 (2020), h.
1191-1207.
0
Solihah et al., Tax Avoidance of Mining Companies from the Return on Assets, Institutional
Ownership, and Audit Committee Perspective, Journal of Business and Managemen Review, Vol.
1, No. 2 (2020), h. 77-89
4
tax rate.0
Kepemilikan institusional adalah tingkat kepemilikan saham oleh
institusi dalam perusahaan, diukur oleh proposi saham yang dimiliki oleh
institusional pada akhir tahun yang dinyatakan dalam persentase
menyatakan bahwa para investor institusional pada umumnya
menginvestasikan dananya lebih besar (Hermuningsih, 2019, pp. 15-27)0,
sehingga mereka memiliki sikap untuk memonitoring lebih insentif kepada
perusahaan, kepemilikan institusional memiliki peran penting dalam
memantau, mendisiplinkan, serta mempengaruhi keputusan manajemen
yang dibuktikan bahwa semakin besar kepemilikan saham investor institusi
maka semakin kuat untuk mendesak manajemen untuk bertindak sesuai
dengan tujuan investor tanpa memperdulikan kepentingan yang
lain(Suhardjo, 2022, pp. 148-163).0
Kepemilikan institusional memperlihatkan adanya kepemilikan
yangbersifat komparatif. Adanya kepemilikan institusional dalam suatu
perusahaan akan mendorong peningkatan dan pengawasan agar lebih
optimal terhadap kinerja manajemen, karena kepemilikan saham mewakili
suatu sumber kekuasaan yang dapat digunakan untuk mendukung atau
sebaliknya terhadap manajemen (Muzakir, 2022, pp. 13-24).0 Semakin
banyak nilai investasi yang diberikan kedalam sebuah organisasi, akan
membuat sistem monitoring dalam organisasi lebih tinggi.
Perusahaan yang kepemilikan sahamnya lebih besar dimiliki pihak
institusi lain maupun pemerintah, maka kinerja dari manajemen perusahaan
untuk dapat memperoleh laba sesuai dengan yang di inginkan akan
0
Yusuf et al., Pengaruh Corporate Gorvenance Terhadap Tax Avoidance dengan Profitabilitas
sebagai Pemoderasi, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 3, No. 1 (2021), h. 44-57.
0
Hermuningsih, S., & Kusumawardani, R, “Pengaruh kebijakan dividen, kebijakan hutang, profitabilitas
dan kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan yang terdaftar di BursaEfek Indonesia tahun 2015-
2019”, Stability: Journal of Management and Business, 4(1), 2021, h.15-27
0
Suhardjo, S., Yulianty, S., & Chandra, T, “PENGARUH STR UKTUR KEPEMILIKAN,
KEBIJAKAN HUTANG, PROFITABILITAS, DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP
NILAI PERUSAHAAN”, LUCRUM: Jurnal Bisnis Terapan, 1(1), 2022, h.148-163
0
Muzakir, M. F. A, “Struktur Kepemilikan, Kebijakan Deviden, Kebijakan Hutang dan Nilai
Perusahaan di Sektor Perbankan”, EKOMBIS REVIEW: Jurnal Ilmiah Ekonomi dan Bisnis, 10(1),
2022, h.13-24.
5
cenderung diawasi oleh investor institusi tersebut (Lestari, 2021, pp. 245-
256).0 Mekanisme memonitoring tersebut akan menjamin peningkatan dan
kemakmuran pemegang saham. Apabila pihak institusi merasa tidak puas
atas kinerja manajemen, maka mereka akan menjual sahamnya ke pasar
modal. Sehingga manajemen akan bertindak lebih sangat berhati-hati dalam
menentukan kebijakan.
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Sabli dan Noor (2012)
berpendapat bahwa komisaris independen memiliki pengaruh terhadap tarif
pajak efektif. Ini berarti bahwa proporsi komisaris independen yang lebih
tinggi akan memungkinkan mereka memastikan bahwa tindakan
manajemen telah sesuai dengan kepentingan pemegang saham yaitu
melakukan manajemen pajak sehingga hutang pajak yang ditanggung
perusahaan menjadi rendah0.
Faktor lain yang dapat mempengaruhi menajemen pajak adalah
dewan komisaris independen. Dewan komisaris memegang fungsi
pengawasan yang mengawasi kinerja dewan operasional dan pengambilan
keputusan. Dewan komisaris sendiri terdapat komisaris independen yang
diharapkan tidak terpengaruh dengan kepentingan pemilik saham. Dewan
komisaris independen dalam fungsinya juga memberikan saran dan
pendapat pada proses pengambilan keputusan. Dalam pengambilan proses
pengambilan keputusan komisaris independen tidak mengetahui banyak
mengenai internal perusahaan dan perencanaan manajemen pajak
melainkan lebih menjelaskan risiko biaya yang harus ditanggung
perusahaan akibat manajemen pajak.0 Oleh karena itu, semakin tinggi
proporsi dewan komisaris independen maka seharusnya semakin menurun
0
Lestari, S. P., Dahrani, D., Purnama, N. I., & Jufrizen, J, “Model Determinan Kebijakan Hutang
dan Nilai Perusahaan (Studi Pada Perusahaan Farmasi yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia)”,
Maneggio: Jurnal Ilmiah Magister Manajemen, 4(2), 2021, h.245-256.
0
Sabli, Nurshamimi dan Noor, Rohaya. 2012. Tax Planning and Corporate Governance. 3 rd
International Conference on Business and Economic Research Proceeding. ISBN: 978-967-5705-
05-2
0
Pratika & Primasari, Pengaruh Komisaris Independen, Komite Audit, UkuranPerusahaan, Leverage, dan
Ukuran Kantor Akuntan Publik (KAP) Terhadap Integritas Laporan Keuangan, Jurnal Akuntansi dan
Keuangan, Vol. 9, No. 2 (2020), h. 109-120
6
praktik manajemen pajak yang dilakukan perusahaan.0
Hidayat (Hidayati, 2019, pp. 179-199) menemukan bahwa dewan
komisaris independen merupakan faktor yang mempengaruhi efisiensi
investasi perusahaan secara signifikan. Keberadaaan dewan komisaris
independen dapat menawarkan saran dan rekomendasi terhadap manajemen
atas permasalahan yang sedang dialami oleh perusahaan dan hal ini juga
akan membantu manajemen dalam memutuskan pemilihan investasi yang
tepat sesuai dengan kebutuhan perusahaan (Hidayati, 2019, pp. 179-199).0
Fungsi pengawasan komisaris independen harusnya memiliki dasar prinsip
yang erat dengan good corporate governance yang mana haruslah
memasuki prinsip independensi dalam arti tidak terkait dengan pihak
manapun sehingga dapat menjalankan fungsinya dengan lebih produktif
yang menyebabkan efek terhindarnya manipulasi data keuangan
demikeuntungan pihak tertentu. Berdasarkan penelitian terdahulu, terdapat
juga ketidak konsistenan serta celah hasilnya.
Komisaris Independen merupakan bagian dari anggota dewan
komisaris yang independen dan tidak memiliki hubungan dengan anggota
komisaris yang lain, para pemegang saham, direktur serta manajer
perusahaan. (Amrizal, 2017,pp. 76-89) mengungkapkan bahwa peran
komisaris independen adalah untuk penyeimbang dalam pengambilan
keputusan, terutama terkait denganperlindungan terhadap pemegang saham
minoritas dan pihak terkait lain.0 Banyak jumlah komisaris independen
menunjukkan dewan komisaris telah menjalankan tugas dan koordinasinya
dengan baik. Karena jumlah komisaris independen mencerminkan integritas
kesalahan dewan direksi yang lebih tinggi.
Dewan komisaris yang merupakan orang-orang yang ditunjuk oleh
para pemegang saham untuk menjadi badan pengawas untuk mengawasi
0
Wirmie Eka Putra, Good Corporate Governance dan Praktek Penghindaran Pajak (Tax
Avoidance), Jurnal Manajemen Terapan dan Keuangan, Vol. 10, No. 3 (2021), h. 378-392.
0
Hidayati, S, “Pengaruh Tata Kelola Perusahaan Dan Struktur Kepemilikan Terhadap Kinerja
Perusahaan”, Manajemen Bisnis, 15(1989), 2019, h.179–199.
0
Amrizal, dan S. Rohmah, “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Dewan Komisaris
Independen, Komite Audit dan Kualitas Audit Terhadap Nilai Perusahaan”, Peran Profesi
Akuntansi Dalam Penanggulangan Korupsi, 2017, h.76-89.
7
dewan direksi dalam menjalankan perusahaan (OJK, 2014)0. Dewan
komisaris independen adalah seorang yang tidak terafiliasi dalam segala hal
dengan pemegang saham pengendali, tidak memiliki hubungan afiliasi
dengan direksi atau dewan komisaris serta tidak menjabat sebagai direktur
pada suatu perusahaan yang terkait dengan perusahaan pemilik. Dewan
Komisaris bertugas mengawasi kebijakan direksi dalam menjalankan
perusahaan serta memberikan nasihat kepada direksi (UU No.40 Tahun
2007). Dewan Komisaris sendiri terdiri dari Komisaris Independen dan
Komisaris non-independen. Komisaris Independen merupakan Komisaris
yang tidak berasal dari pihak terafiliasi, sedangkan Komisaris non-
independen merupakan komisaris yang terafiliasi. Pengertian terafiliasi
sendiri adalah pihak yang mempunyai hubungan bisnis dan kekeluargaan
dengan pemegang saham pengendali, anggota Direksi dan Dewan
Komisaris lain, serta dengan perusahaanitu sendiri. Pemegang saham publik
cenderung mentaati peraturan perpajakan, karena mengharapkan
perusahaan berperan serta dalam pembangunan bagi masyarakat.
Dewan komisaris independen merupakan fungsi pengawasan serta
sebagai pihak yang dapat memberikan saran dan masukan bagi jajaran
dewan direksi agar lebih bijak dalam melakukan penyusunan laporan
keuangan perusahaan serta menjadi pihak yang melakukan kontrol terhadap
manajemen dalam praktik penyusunan pada laporan keuangan (Wijaya,
2021, p. 183).0
Komite audit telah menjadi komponen umum dalam struktur
corporate governance perusahaan publik. Secara garis besar tugas dari
komite audit adalah membantu dewan komisaris dalam melakukan fungsi
pengawasan atas kinerja perusahaan. Menurut Ikatan Komite Audit
Indonesia IKAI (2004) hal tersebut terutama berkaitan dengan review
system pengendalian intern perusahaan, memastikan kualitas laporan
keuangan dan meningkatkan efektivitas fungsi audit. Komite Audit adalah
0
Peraturan OJK No.33/POJK.04/2014 tentang Proporsi Komisaris Independen
0
Wijaya, V. P., dan Cahyati, A. D, “Determinasi Efisiensi Investasi Pada Perusahaan Di
Indonesia”, Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, 10(2), 2021, h.183.
8
sekelompok orang yang dipilih oleh kelompok yang lebih besar untuk
mengerjakan pekerjaan tertentu atau untuk melakukan tugas- tugas khusus
atau sejumlah anggota Dewan Komisaris perusahaan klien yang
bertanggungjawab untuk membantu auditor dalam mempertahankan
independensinya dari manajemen.
Keberadaan komite audit dimaksudkan untuk memberikan pendapat
professional yang independen kepada dewan komisaris terhadap laporan
atau hal- hal yang disampaikan oleh direksi kepada dewan komisaris serta
mengidentifikasi hal- hal yang memerlukan perhatian dewan komisaris
sehingga diharapkan keberadaan komite audit dapat mewujudkan
terciptanya tujuan perusahaan.0 Dan dapat memperbaiki kualitas pelaporan
keuangan yang dapat dilihat dari kualitas laba perusahaan.
Perpajakan sektor farmasi di Indonesia mengacu pada aturan dan
regulasi perpajakan yang berlaku untuk perusahaan-perusahaan farmasi di
negara ini. Berikut adalah beberapa poin penting yang perlu dipahami
terkait dengan perpajakan sektor farmasi di Indonesia. Perusahaan farmasi
harus membayar PPh atas pendapatan yang diperoleh dari kegiatan
bisnisnya. PPh terdiri dari beberapa jenis, termasuk PPh Badan yang
dikenakan pada perusahaan farmasi sebagai badan hukum, dan PPh Pasal
21 yang dikenakan pada penghasilan karyawan. Tarif PPh Badan saat ini
adalah 22% dari laba bersih perusahaan.
Perusahaan farmasi juga harus memperhitungkan dan mengumpulkan
PPN atas penjualan produk farmasi. Tarif PPN saat ini adalah 11% dari nilai
penjualan, kecuali untuk beberapa produk farmasi tertentu yang dapat
dikenakan tarif 0%. Beleid ini juga mengatakan bahwa per 1 April 2022
Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang melakukan penyerahan barang hasil
pertanian tertentu dapat memungut PPN yang dihitung dengan
menggunakan besaran tertentu yaitu 1,1% dari harga jual. Besaran tarif
1,1% ini diperoleh dari hasil perkalian 10% dengan tarif PPN umum yakni
0
Rudi Zulfikar, Peran Monitoring Terhadap Peningkatan Kinerja Keuangan di Industri Perbankan
Indoensia, Jurnal Ekonomi, Vol. XXVI, No. 1 (2021), h. 85-98.
9
11%. Tarif 1,1% merupakan tarif efektif. Tarif tersebut akan naik menjadi
1,2% pada saat tarif umum PPN 12% diberlakukan paling lama 1 Januari
2025.
Peraturan tersebut juga menjelaskan bahwa salah satu komoditas hasil
pertanian yang terkena PPN adalah padi. Jenis padi yang dimaksud dalam
aturan ini meliputi merang, sekam, bekatul, dedak, jerami, dan komposnya.
Sedangkan untuk beras, mendapatkan fasilitas PPN dibebaskan. Alasannya
adalah karena beras termasuk dalam kelompok barang kebutuhan pokok
yang dibutuhkan masyarakat banyak. Hal ini sesuai dengan Pasal 16B
Undang-Undang PPN tentang barang kena pajak yang mendapatkan
fasilitas PPN dibebaskan. Dalam beberapa transaksi bisnis tertentu, seperti
pembuatan akta notaris atau dokumen legal lainnya, perusahaan farmasi
harus membayar bea meterai sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Pemerintah Indonesia memberikan berbagai insentif pajak untuk
mendorong pertumbuhan sektor farmasi. Misalnya, perusahaan farmasi
yang melakukan riset dan pengembangan (R&D) dapat memperoleh
pengurangan pajak, fasilitas pajak impor untuk bahan baku, atau fasilitas
pengurangan pajak investasi.
10
2. Kasus Freeport Freeport Indonesia, salah satu perusahaan
Indonesia (2017) pertambangan terbesar di Indonesia, terlibat
dalam sengketa perpajakan dengan pemerintah
Indonesia terkait pembayaran royalti dan
dividen yang diperoleh dari kegiatan tambang.
Kasus ini mencakup perselisihan mengenai
jumlah dan waktu pembayaran pajak, serta
negosiasi perpanjangan kontrak tambang
11
diatas, maka peneliti tertarik untuk meneliti Pengaruh kepemilikan
institusional, komisaris independen dan komite audit terhadap manajemen
pajak (pada perusahaanmanufaktur yang terdaftar di BEI Sub sektor
farmasi tahun 2018-2021).
12
Sub sektor farmasi tahun 2018-2021.
13
wawasan pihak-pihak yang membaca penelitian ini terutama yang
berkaitan dengan bagaimana Pengaruh kepemilikan institusional,
komisaris independen dan komite audit terhadap manajemen pajak.
14
BAB II
KAJIAN TEORITIK
15
bekerja dengan tujuan memaksmimalkan kemakmuran pemegang
saham. Sebaliknya, manajer perusahaan bisa saja bertindak untuk
memaksimalkan kemakmuran mereka sendiri dan tidak
memaksimalkan kemakmuran pemegang saham.
16
nominal pajak secara eksplisit dari pendapatan sebelum
pajak.0
2. Manajemen pajak sebagai perencanaan pajak dengan
tujuan untuk menurunkan pendapatan kena pajak yang
mencakup aktivitas legal dan ilegal. Manajemen pajak
dilakukan dalam rangka penghematan pajak yang lebih
besar bagi perusahaan sehingga dapat mengurangi beban
pajak untuk meningkatkan laba.0
3. Manajemen pajak merupakan usaha menyeluruh yang
diupayakan oleh wajib pajak agar segala hal yang
berkaitan dengan perpajakan dapat dikelola dengan
efektif, efisien dan ekonomis.
0
Utami & Irawan., Loc, cit, p.388
0
Ibid., p.388
0
Utami & Irawan,Loc., cit.p.390
17
maka semakin besar manajemen pajak yang dilakukan
perusahaan.
0
Setyasari, N., Rahmawati, I. Y., Naelati Tubastuvi, N., & Aryoko, Y. P, “Pengaruh Kepemilikan
Manajerial, Kepemilikan Institusional, Board Diversity, Profitabilitas Dan Ukuran Perusahaan
Terhadap Nilai Perusahaan (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Listing Di Bursa
Efek Indonesia Tahun 2016 - 2020)”, Master: Jurnal Manajemen Dan Bisnis 78 Terapan, 2(1),
2022, 69
0
Negara, I. K, “Analisis Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap Nilai Perusahaan
dengan Corporate Social Responsibility Sebagai Variabel Pemoderasi (Studi Pada Indeks Sri-
Kehati yang Listed di BEI)”, 8(1), 2019, h.46–61.
18
2021, pp. 226–238).0
INST=
Jumlah saham yang dimiliki olehinstitusi lain
x 100 %
Jumlah Saham Beredar
0
Santoso, B. T, “Pengaruh Corporate Social Responsibility (CSR), Kepemilikan Institusional,
Kepemilikan Manajerial, Profitabilitas dan Struktur Modal Terhadap Nilai Perusahaan”, 1(2),
2023, h.226–238.
0
Anggita, R. T., Rinofah, R., & Sari, P. P, “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Kebijakan
Hutang, Keputusan Investasi, dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan”. Journal of
Management, Accounting, Economic and Business, 02(01), 2021, h.38–49.
19
bebas dari hubungan bisnis atau hubungan lain yang dapat
memengaruhi kemampuannya untuk bertindak independen.0
Pengukuran proporsi dewan komisaris independen dilakukan
dengan membandingkan persentase antara anggota komisaris
yang berasal dari luar atau independen dengan total dewan
komisaris yang ada di dalam perusahaan.
Fungsi komisaris independen untuk mengawasi kinerja
perusahaan apakah sesuai dengan kode etik yang berlaku dan
memberikan pendapat yang independent dan penilaian atas hasil
kinerja perusahaan secara menyeluruh, karena penilaian
komisaris independen bersifat netral tidak berhubungan dengan
perusahaan yang terkait. Adanya komisaris independen akan
membuat mekanisme tata kelola perusahaan semakin baik dan
dapat meminimalisir terjadinya kecurangan yang dilakukan oleh
suatu perusahaan. Komisaris independen untuk meningkatkan
efektivitasnya, jumlah komisaris independen memiliki
persentase tidak kurang dari 30% dari jumlah dewan komisaris
(Nurbaiti et al., 2021).0
Komisaris independen merupakan seseorang yang tidak
memiliki afiliasi dengan pemegang saham direksi atau dewan
komisaris, serta tidak memiliki jabatan direksi dalam
perusahaan yang bersangkutan (Muliasari, 2020, pp. 28- 36).0
Menurut POJK nomor 33/POJK.04/2014 tentang direksi dan
komisaris emiten atau perusahaan publik pasal 20, dewan
0
Istiantoro, I., Paminto, A., & Ramadhani, H, “Pengaruh Struktur Corporate Governance terhadap
Integritas Laporan Keuangan Perusahaan pada Perusahaan LQ45 yang Terdaftar di BEI The
Influence of Corporate Governance Structure to Integrity of Company ’ s Financial Statementto
LQ45 Company Listed on IDX”, AKUNTABEL, 14(2), 2017, h.157–179.
0
Nurbaiti, A., Lestari, T. U., & Nabilah Alyani Thayeb, “Pengaruh Corporate Governance,
Financial Distress, Dan Ukuran Perusahaan Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Study On
Property, Real Estate, And Company Size Companies Listed In Indonesia Stock Exchange 2014 -
2018 Period), Jurnal Ilmiah Manajemen Ekonomi & Akuntansi, 5(1), 2021, h.758–771
0
Muliasari, R., & Hidayat, A, “Pengaruh Likuiditas, Leverage dan Komisaris Independen
Terhadap Agresivitas Pajak Perusahaan”, SULTANIST : Jurnal Manajemen dan Keuangan, 2020,
h.28-36.
20
komisaris paling kurang terdiri dari 2 orang anggota dewan
komisaris, dalam hal dewan komisaris terdiri dari 2 orang
anggota dewan komisaris,1 diantaranya adalah komisaris
independen. Komisaris independen adalah bagian dari dewan
komisaris, dimana dewankomisaris terdiri lebih dari 2 orang,
dan anggota komisaris independen wajib paling sedikit
sebanyak 30% dari total keseluruhan anggota dewan komisaris
yang berasal dari luar perusahaan efek dan memenuhi
persyaratan dengan 1 diantara anggota dewan komisaris
diangkat menjadi komisaris utama atau presidenkomisaris.
Proporsi dewan komisaris Independen dapat diukur
dengan menggunakan rumus (Ainiyah, 2021, pp. 196–208):0
0
Ainiyah, K., Darmayanti, N., & Rosyida, I. A, “Pengaruh Independensi, Good Corporate
Governance, Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2016-2020)”, Jurnal Analisa Akutansi Dan Perpajakan, 5(2), 2021, h.196–208
0
IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia). (2022). PSAK 1 Tentang Penyajian Laporan Keuangan.
0
Putri, R. G., & Supriati, D, “The Effect of Corporate Governance Mechanism, Company Size and
Leverage on the Integrity of Financial Statements”, Jurnal Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Indonesia, 1(1), 2020, h.1–16.
21
Untuk kepentingan operasi audit dan keandalan, direksi
perusahaan membentuk komite audit. Badan tersebut
ditugaskan untuk mendukung tugas- tugas dari dewan
komisaris dalam memastikan bahwa penyajian laporan
keuangan dapat dilaporkan secara wajar mengikuti prinsip-
prinsip antara akuntansi yang berlaku umum, perusahaan telah
menerapkan struktur pengendalian internal dengan baik,
penerapan audit eksternal dan internal dilaksanakan sesuai
dengan prinsip- prinsip standar audit, dan ditindaklanjuti
temuan audit dibuat oleh manajemen. Dengan adanya komite
audit pada suatu perusahaan, maka proses laporan keuangan
perusahaan akan terpantau dengan baik (Istiantoro, 2017, pp.
157–179).
Komite audit termasuk dalam komponen mekanisme tata
kelola suatu perusahaan. Komite audit ditugaskan untuk
membantu dewan komisaris dalam tugas dan fungsinya dalam
menerapkan tata kelola perusahaan yang baik. Dewan direksi
akan melaporkan atau menyampaikan hal hal yang seharusnya
disampaikan kepada komite audit, komite audit memberikan
pendapat independen atas laporan yang telah disampaikan oleh
dewan direksi kepada dewan komisaris, mengidentifikasi hal
hal yang memerlukan perhatian komisaris, dan membantu
tugas-tugas lainnya yang berhubungan dengan dewan komisaris
(Parinduri et al., 2018).0
0
Parinduri, A. Z., Pratiwi, R. K., & Purwaningtyas, O. I, “Analysis Of Corporate Governance,
Leverage And Company Size On The Integrity Of Financial Statements. Indonesian Management
and Accounting Research”, 17(1), 2018, 18–35.
22
Komite Audit yaitu mekanisme tata kelola perusahaan yang
diasumsikan mengalami penurunan kesulitan keuangan.
Kompetensi komite audit adalah satu faktor yang memengaruhi
kinerja perusahaan. Bantuan komite audit kepada manajemen
adalah berkaitan dengan laporan keuangan dan penjelasannya,
sistem pengendalian internal, dan auditor independen. Komite
audit diukur dengan jumlah komite audit di sebuah perusahaan
(Ainiyah, 2021,pp. 196–208). Rumusan pengukuran komite
audit sebagai berikut:
23
Tabel 2.1 Hasil Penelitian Terdahulu yang Relevan
No Nama Judul Penelitian Nama Jurnal; Populasi, Temuan Perbedaan
Peneliti; Nama Sampel dan Penelitian Penelitian
(Tahun) Institusi/Lemba Metode dan yg akan
ga Penerbit Penelitian Kesimpulan dilaksanakn
17
2. Christanti PENGARUH Jurnal Riset Populasi Leverage, Perbedaan
Inviolit, LEVERAGE, Manajemen Perusahaan intensitas penelitian
Zirman dan INTENSITAS Sains yang terdaftar persediaan, objek
Devi Safitri PERSEDIAAN, Indonesia di BEI selain dan penelitian
(2022) DEWAN (JRMSI) | sektor kepemilikan yaitu
KOMISARIS, Vol 13, No. keuangan institusional perusahaan
DAN 2, 2022 periode 2017- berpengaruh yang
KEPEMILIKAN 2019 terhadap terdaftar di
INSTITUSIONA manajemen Bursa Efek
L TERHADAP Sampel yang pajak, Indonesia
MANAJEMEN digunakan sedangkan selain sektor
PAJAK adalah 252 dewan keuangan
perusahaan. komisaris periode
tidak 2017-2019
metode berpengaruh
kuantitatif. terhadap Variabel
manajemen yang
pajak digunakan
3. Maria Yovita PENGARUH Bulletin of Populasi Komisaris Perbedaan
Bet e (2022) KOMISARIS Management Perusahaan Independen penelitian
INDEPENDEN, and Business manufaktur berpengaruh objek
DEWAN Volume 3 sektor industri Positif penelitian
DIREKSI DAN Nomer 2, barang terhadap yaitu
KOMITE AUDIT Oktober konsumsi Manajemen perusahaan
TERHADAP 2022 Yang pajak. 2) manufaktur
MANAJEMEN Terdaftar di dewan sektor
PAJAK (STUDI BEI periode direksi industri
PADA 2016 – 2020. berpengaruh barang
PERUSAHAAN Sampel Negatif konsumsi
MANUFAKTUR Diperoleh terhadap Yang
SEKTOR sebanyak 13 manajemen Terdaftar di
INDUSTRI perusahaan pajak. 3) BEI periode
BARANG komite audit 2016 – 2020
KONSUMSI Metode berpengaruh
YANG Kuantitatif Positif
TERDAFTAR DI terhadap
BURSA EFEK Manajemen
INDONESIA pajak dan 4)
PERIODE 2016 – komisaris
2020) independen,
dewan
direksi dan
komite audit
berpengaruh
secara
simultan
terhadap
Manajemen
18
Pajak.
4. Deo Novrin CORPORATE DIPONEGOR Populasi Hasil jumlah Perbedaan
Hasiholan GOVERNANCE, O JOURNAL dalam kompensasi penelitian
Damanik dan KOMITE OF Perusahaan- dewan objek
Abdul Muid AUDIT, ACCOUNTI perusahaan komisaris dan penelitian
(2019) KUALITAS NG yang terdaftar direksi efek yaitu
AUDIT, DAN pada indeks negatif pada perusahaan-
MANAJEMEN LQ45 di BEI manajemen perusahaan
PAJAK tahun 2014- pajak, komite yang
2018. audit tidak terdaftar
berpengaruh pada indeks
Sampel 23 terhadap LQ45 di
perusahaan manajemen IndonesiaBu
pajak kualitas rsa Efek
Metode audit tahun 2014-
Kuantitatif berpengaruh 2018
negatif
terhadap
manajemen
pajak.
5. PRATAMA PENGARUH Universitas Populasi Berdasarkan Perbedaan
dan WINDA KOMPENSASI Putra Perusahaan hasil model penelitian
DIKA MANAJEMEN, Indonesia Manufaktur regresi data adalah objek
APRILIA KEPEMILIKAN "YPTK" Yang panel, terdapat penelitian
INSTITUSIONA Padang Terdaftar Di pengaruh yang yaitu
(2019) L DAN TATA BEI Tahun positif dan Perusahaan
KELOLA 2013-2017 signifikan Manufaktur
PERUSAHAAN antara Yang
TERHADAP Sample Kompensasi Terdaftar
MANAJEMEN diperoleh 21 Manajemen, Dibursa Efek
PAJAK perusahaan Kepemilikan Indonesia
PERUSAHAAN Institusional Tahun 2013-
Metode dan Tata 2017
Kuantitatif Kelola
Perusahaan Variabel
secara yang
bersama-sama digunakan
terhadap
Manajemen
Pajak
Perusahaan,
19
6. Noor Mita Pengaruh MAKSIMUM: Populasi dalam Hasil Perbedaan
Dewi (2019) Kepemilikan Media penelitian ini Penelitian penelitian
Institusional, Akuntansi yaitu Kepemilikan yang akan
Dewan Komisaris Universitas perusahaan institusional, dilaksanakan
Independen dan Muhammadiyah perbankan dewan dengan jurnal
Komite Audit Semarang Vol. yang terdaftar komisaris adalah objek
Terhadap 9, No. di Bursa Efek independen penelitian
Manajemen Pajak 1, 2019, pp: Indonesia dan komite yaitu
(Tax Avoidance) 40-51 periode 2012 – audit secara perusahaan
pada Perusahaan 2016. simultan perbankan
Perbankan yang Metode yang berpengaruh yang
Terdaftar di Bursa digunakan positif dan terdaftar di
Efek Indonesia dalam signifikan Bursa Efek
Periode 2012- penelitian ini terhadap tax Indonesia
2016 adalah avoidance periode 2012
metode pada – 2016
kuantitatif perusahaan
perbankan Variabel
yang terdaftar yang
di BEI digunakan
periode 2012
– 2016.
7. Ellena Sukma PENGARUH Seminar Populasi Hasil Perbedaan
Aryanti dan KOMISARIS Nasional perusahaan penelitian ini penelitian
Masfar Gazali INDEPENDE Cendekiawan sektor menunjukkan yang akan
(2018) N DAN ke 4 konstruksi bahwa dilaksanakan
PERTUMBUH Tahun 2018 BUMN yang komisaris dengan jurnal
AN terdaftar di independen adalah objek
PERUSAHAA BEI pada dan penelitian
N TERHADAP periode 2013- pertumbuhan yaitu
MANAJEMEN 2016 dan perusahaan perusahaan
PAJAK sampel 4 memiliki sektor
PERUSAHAA perusahaan pengaruh konstruksi
N SEKTOR konstruksi secara BUMN yang
KONSTRUKS BUMN simultan dan terdaftar di
I BUMN DI Metode signifikan BEI pada
BEI PERIODE kuantitatif. terhadap periode
2013- manajemen 2013-2016
2016 pajak,
kemudian
komisaris
independen
secara parsial
berpengaruh
negatif
terhadap
manajemen
pajak serta
20
pertumbuhan
perusahaan
secara parsial
berpengaruh
negatif
terhadap
manajemen
pajak.
8. Dwiputra& Pengaruh BKG Populasi Hasil Perbedaan
Reyhan Kepemilikan (Brawijaya perusahaan penelitian penelitian
Adiguna Institusional, Knowledge manufaktur menunjukkan yang akan
(2018) Komisaris Garden) yang terdaftar bahwa dilaksanakan
Independen, di BEI periode kepemilikan dengan jurnal
Dan Komite 2013- 2016 institusional adalah objek
Audit Terhadap sampel 43 dan komisaris penelitian
Manajemen perusahaan independen yaitu
Pajak (Survei manufaktur berpengaruh perusahaan
Pada yang terdaftar signifikan manufaktur
Perusahaan di BEI pada positif yang
Manufaktur periode 2013- terhadap terdaftar di
Yang Terdaftar 2016 yang manajemen
Di Bursa
Efek Indonesia
21
Gambar 2.1 Kerangka Berfikir
Kepemilikan
H1
Institusional
Manajemen
H2
Komisaris
Pajak
Independen
H3
H4
Komite Audit
0
Kurnianti, D, “PROFITABILITAS, CSR, CORPORATE GOVERNANCE DAN TAX
AVOIDANCE PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR PERIODE 2014 – 2018” Jurnal Riset
Manajemen Sains Indonesia, 12(1) ,2021, h. 6.
0
Zulkarnaen, Novriansyah. 2018. Analisis Pengaruh Good Corporate Governance Terhadap
Manajemen Pajak. Jurnal Bisnis dan Manajemen Vol.1 No.2, 2015. Universitas Islam Negeri
22
merupakan mekanisme corporate governance yang akan
penghindaran pajak
0
Sabli, Nurshamimi dan Noor, Rohaya. 2017. Tax Planning and Corporate Governance. 3 rd
International Conference on Business and Economic Research Proceeding. ISBN: 978-967-5705-
05-2
23
independen diharapkan dapat terjadi keseimbangan antara
manajemen perusahaan dan para stakeholder dalam perusahaan.
Menurut Peraturan Pencatatan No.I-A tentang Ketentuan
Umum Pencatatan Efek Bersifat Ekuitas di Bursa, jumlah
komisaris independen minimum 30% dari seluruh dewan
komisaris. Berdasarkan Peraturan OJK No.33/POJK.04/2014,
proporsi komisaris independen dalam suatu perusahaan.
24
badan pejabat terkemuka organisasi atau dewan komisaris, yang
individu-individunya dinaikkan dan diberhentikan oleh
kelompok terkemuka atau dewan komisaris untuk membantu
dewan komisaris menyelesaikan pemeriksaan atau penelitian
yang dianggap penting dalam pelaksanaan kewajiban direksi
dalam menangani organisasi. Komite audit terdiri dari tidak
kurang dari 3 orang, dipimpin oleh seorang Komisaris
independen. Dengan adanya ukuran dewan peninjau atau
komite audit yang sesuai di dalam suatu organisasi, dipercaya
bahwa mereka benar-benar ingin mengurangi penggunaan
pendapatan dan tingkat tarif pajak efektif (ETR) yang
diharapkan dapat menurunkan tingkat perpajakan. Karena
komite audit yang independen dapat berlaku adil dengan pihak
yang terkait dengan perusahaan, dan tidak membawa
kepentingan dari pihak manapun namun berlaku adil kepada
segala pihak berkaitan dengan aktivitas pengecekan yang
dilakukan (Chrisdianto, 2021).0
0
Chrisdianto, B. (2021). Peran Komite Audit Dalam Good Corporate Governance. Jurnal Riset
Akuntansi Dan Bisnis, 21(1), 1–8. [Link]
25
Berdasarkan uraian di atas dapat di ambil hipotesis
bahwa:
0
Gunawan, Christianto. 2016. Pengaruh Corporate Governance Terhadap Manajemen Pajak Pada
Perusahaan Perbankan Yang terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Periode 2012-2014. Surabaya:
Repository, Universitas Katolik Widya Mandala
26
2.2.4 Pengaruh Kepemilikan Institusional, Komisaris Independen
dan Komite Audit Terhadap Manajemen Pajak
Perusahaan dengan tingkat utang yang tinggi memiliki
ETR yang rendah karena perusahaan-perusahaan tersebut
mendapatkan pengurangan atas pajak terutangnya karena
adanya beban bunga. Perusahaan multinasional mendapatkan
insentif untuk membiayai investasinya di negara lain dengan
utang apabila negara tersebut memiliki tarif pajak yang lebih
tinggi. Dengan demikian tingkat utang berpengaruh positif
terhadap manajemen pajak.
Dalam meminimalisir konflik keagenan dapat dengan
menambah porsi kepemilikan saham oleh manajerial dalam
suatu perusahaan. Kepemilikan manajerial adalah seorang yang
memiliki posisi dalam suatu perusahaan sekaligus pemilik
perusahaan melalui kepemilikan sahamnya yang memiliki tugas
dan tanggung jawab untuk meningkatkan nilai perusahaan.
Teori tersebut juga didukung oleh jurnal penelitian Dudi
Pratomo danRisa Aulia Rana (2021) yang menyatakan bahwa
kepemilikan institusional dan komisaris independen
berpengaruh negatif terhadap manajemen pajak, sedangkan
komite audit tidak berpengaruh terhadap manajemen pajak.
Penelitian tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Andini
Agisti Yunita Utami (2023) mengatakan bahwa kepemilikan
institusional, kepemilikan manajerial, proporsi dewan komisaris
independen dan komite audit tidak berpengaruh signifikan
terhadap manajemen pajak pada perusahaan pertambangan di
BEI periode 2017-2021.
Pemerintah Indonesia melalui Otoritas Jasa Keuangan
atau OJK dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
55/POJK.04/2015 menjelaskan bahwa komite audit merupakan
komite yang dibentuk oleh dewan komisaris guna membantu
tugas dan fungsi dewan komisaris. Komite audit membantu
27
untuk melakukan fungsi pengawasan terhadap aktivitas-
aktivitas perusahaan seperti memberikan pendapat atas
kelayakan laporan keuangan, mengawasi sistem pengendalian
internal dan melakukan efisiensi dan efektivitas atas fungsi
lainnya serta wajib membuat laporan kepada dewan komisaris
atas setiap penugasan yang diberikan.
Hasil ini sependapat dengan penelitian Noor Dewi (2021)
dengan judul “Pengaruh Kepemilikan Institusional, Dewan
Komisaris Independen dan Komite Audit Terhadap Penghindaran
Pajak” dimana kepemilikan institusional dan Dewan Komisaris
Independen mempunyai pengaruh terhadap penghindaran pajak.
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil hipotesis bahwa:
𝐻4 : Pengaruh Kepemilikan Institusional, Komisaris
Independen dan Komite Audit Terhadap Manajemen Pajak
28
29
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
30
tingkat dunia. 0
Pengajuan
Judul dan
1 Persetujuan
Judul Penelitian
Skripsi
Penyusuna
2 n
Instrumen
penelitian
3 Penentuan
Sampel
Pengolahan Data
4 dan Analisis Data
dengan Smart PLS
0
Indonesia Stock Exchange, “Sejarah Idx”, [Link] Efek Indonesia, ([Link]) ,10 juni
2022
31
5 Penulisan
Skripsi
6 Ujian Sidang
Skripsi
Perbaikan dan
7 Penggandaan
Skripsi
32
sampel diambil.0
3.4.2 Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang
dimiliki oleh populasi tersebut.0 Teknik pengambilan sampel yang
dipakai dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling yaitu
teknik penentuan sampel dengan kriteria atau pertimbangan tertentu.
Adapun kriteria untuk memilih sampel diantaranya:
33
nilai CETR diantara 0 sampai dengan 1
[Link] Perusahaan manufaktur Sub Sektor Farmasi yang memiliki
data yang konsisten atau tidak ada kesenjangan data
[Link] Laporan keuangan yang memiliki data – data mengenai
variabel penelitian (kepemilikan institusional, komisaris
independent dan komite audit) pada tahun 2018 - 2021.
Adapun kriteria perusahaan tersebut diantaranya:
34
dengan 4 tahun pengamatan sehingga unit analisis sebanyak 36 data
laporan keuangan perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia (BEI) Sub Sektor Farmasi periode 2018- 2021.
Adapun data perusahaan yang dijadikan sampel adalah sebagai
berikut:
Tabel 3.3 Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI) Sub Sektor Farmasi Periode 2018-2021
0
Eri Barlian, 2017, “Metodologi Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif”, (Padang: Sukabina Press),
hlm.42
35
dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Studi Dokumentasi
Dokumen artinya barang-barang tertulis dengan demikian
dokumentasi diartikan sebagai kegiatan penelitian dalam menyelidiki
benda-benda tertulisseperti buku, majalah, dokumen, peraturan-
peraturan, notulen rapat, catatan harian dan sebagainya. Studi ini
berupaya mengumpulkan data melalui dokumen-dokumen, arsip
maupun catatan penting.0
2. Studi Kepustakaan
Studi Kepustakaan digunakan untuk memperoleh data yang
bersifat teoritis dengan mencari informasi tertulis dan sistematis dari
beberapa ahli yang dapat memperluas wawasan berfikir.0
0
Ajat Rukajat, 2018, “Pendekatan Penelitian Kuantitatif”, (Yogyakarta: Deepublish), h.38
0
Ibid.,p.38
36
instrument penelitian sebagai berikut:
0
Utami & Irawan,Loc., cit, p.391
37
Tabel 3.5 Kisi-Kisi Instrumen (Kepemilikan Institusional)
No Definisis Indikator Skala
Operasional Pengukuran
1. Kepemilikan INST= Rasio
institusional Jumlah saham yang dimiliki olehinstitusi lain
x 100 %
adalah salah Jumlah Saham Beredar
satu prosedur
tata kelola
perusahaan
yang bertujuan
untuk
mengurangi
masalah
keagenan yang
sering terjadi
antara manajer
dan pemegang
saham.
Sumber : (Anggita, 2021, pp. 38-49)
38
Tabel 3.6 Kisi-Kisi Instrumen (Komisaris Independen)
No Definisis Operasional Indikator Skala
Pengukuran
1. Komisaris independent KI= Rasio
merupakan seseorang Jumlah komisaris independen
x 100 %
yang tidak memiliki Total komisaris
afiliasi dengan pemegang
saham direksi atau
dewan komisaris, serta
tidak memiliki jabatan
direksi dalam
perusahaan yang
bersangkutan.
(Muliasari, 2020, pp. 28-
36).
Sumber : (Ainiyah, 2021, pp. 196–208)0
0
Ainiyah, K., Darmayanti, N., & Rosyida, I. A, “Pengaruh Independensi, Good Corporate
Governance, Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2016-2020)”, Jurnal Analisa Akutansi Dan Perpajakan, 5(2), 2021, h.196–208
0
IAI (Ikatan Akuntansi Indonesia). (2022). PSAK 1 Tentang Penyajian Laporan Keuangan
39
No Definisis Operasional Indikator Skala Pengukuran
1. Komite audit termasuk dalam UKA = jumlah Nominal
komponen mekanisme tata kelola anggota komite
suatu perusahaan. Komite audit audit
ditugaskan untuk membantu
dewan komisaris dalam tugas dan
fungsinya dalam menerapkan tata
Kelola perusahaan yang baik.
Sumber : (Ainiyah, 2021, pp. 196–208)0
0
Ainiyah, K., Darmayanti, N., & Rosyida, I. A, “Pengaruh Independensi, Good Corporate
Governance, Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada Perusahaan
Manufaktur Sub Sektor Makanan Dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun
2016-2020)”, Jurnal Analisa Akutansi Dan Perpajakan, 5(2), 2021, h.196–208
0
Sugiyono, [Link]., hlm.226
40
dengan variabel Y. Sehingga pada akhirnya disimpulkan dengan hasil
hipotesis diterima atau ditolak yang terdapatpada pengaruh variabel-
variabel tersebut.
1) Uji Normalitas
Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam
model regresi variabel independen dan variabel dependen atau
keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak, variabel
penggangu atau residual memiliki distribusi normal. Model
regresi yang baik adalah memiliki distribusi data normal atau
mendekati normal. Cara untuk mendeteksi apakah residual
berdistribusi normal atau tidak dapat dilakukan dengan uji
statistik non-parametrik Kolmogorov-Smirnov (K-S) test yang
terdapat di program SPSS. Teknik kolmogorov smirnov
memiliki kriteria jika signifikansi dibawah 0,05 maka data tidak
berdistribusi normal, sedangkan jika signifikansi diatas 0,05
maka data berdistribusi normal. Selain itu analsis grafik adalah
salah satu cara termudah untuk melihat normalitas data dengan
cara membandingkan antara data observasi dengan distribusi
yang mendekati distribusi normal probability plot. Normal
probability plot adalah membandingkan distribusi kumulatif dari
41
distribusi normal. Dasar pengambilan keputusan melalui
(Ghozali, 2018, pp. 161-167).
2) Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinearitas yang bertujuan untuk menguji
apakah model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel
bebas (independent). Model regresi yang baik seharusnya tidak
terjadi korelasi antar variabel independen (Ghozali, 2018, p.
107). Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel
ini tidakorthogonal. Untuk mendeteksi ada tidaknya
multikolinearitas di dalam regresi adalah dengan cara melihat
besaran dari nilai VIF (Variance Inflation Factor) dan juga nilai
Tolerance. Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel
independen manakah yang dijelaskan oleh variabel independen
lainnya. dalam pengertian sederhana setiap variabel independen
menjadi variabel dependendan diregres terhadap variabel
independen lainnya. Tolerance mengukur variabilitas variable
terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen lainnya.
Nilai yang dipakai untuk menunjukkan adanya gejala
multikolinearitas yaitu adalah
Nilai Tolerance < 0,10 atau sama dengan nilai VIF >
10,00
Nilai Tolerance > 0,10 atau sama dengan nilai VIF >
10,00 (Ghozali, 2018, p. 108).
3) Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah
dalam model regresi terjadi ketidak samaan variance dari
residual suatu pengamatan kepengamatan yang lain. Jika varian
dari suatu pengamatan kepengamatan yang lain sama maka
disebut homokedastisitas dan jika varians berbeda maka disebut
42
heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang
homoskedastisitas atau tidak terjadi heterokedastisitas (Ghozali,
2018, p. 137). Untuk mendeteksi ada tidaknya
heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan Uji Glejser yaitu
dengan cara meregresikan nilai absolut residual terhadap
variabel independen. Hipotesis yang digunakan adalah sebagai
berikut :
43
memperhitungkan variabel-variabel lain yang ikut mempengaruhi
variabel tidak bebas. Penelitian ini menggunakan metode regresi
berganda yang merupakan pengembangan dari regresi sederhana
karena melibatkan lebih dari satu variabel bebas. Dapat dikatakan juga
bahwa analisa regresi berganda merupakan suatu analisa yang secara
stimulan menginvestasikan pengaruh dua atau lebih variabel bebas
pada suatu skala intervalatau skala rasio variabel tidak bebas.
Keterangan:
regresi X1
Independen (KI)
44
[Link] Uji Parsial (Uji t)
Uji parsial pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh
pengaruh satu variabel penjelas atau independen secara
individual dalam menerangkan variasi variable dependen
(Ghozali, 2018, p. 57). Uji t dilakukan pada hipotesis untuk
mengetahui signifikansi pengaruh masing-masing variabel
independen yaitu Kepemilikan Institusional (INST), Komisaris
Independen (KI) dan Komite Audit (UKA) berpengaruh secara
individu terhadap variabel dependen Manajemen Pajak (ETR).
Pengujian menggunakan nilai signifikan (𝛼) 0.05 atau
tingkatkeyakinan 95%. Hipotesisi dari uji t adalah sebagai
berikut:
a. Kepemilikan Institusional
H0: ß2 = 0, artinya INST secara parsial berpengaruh
terhadap Manajemen Pajak (ETR).
H1: ß2≠ 0, artinya INST secara parsial tidak
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).
b. Komisaris Independen (KI)
H0: ß2 = 0, artinya KI secara parsial berpengaruh
terhadap Manajemen Pajak (ETR).
H1: ß2≠ 0, artinya KI secara parsial tidak
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).
c. Komite Audit (UKA)
H0: ß2 = 0, artinya Komite Audit secara parsial
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).
H1: ß2≠ 0, artinya Komite Audit secara parsial tidak
berpengaruh terhadap Manajemen Pajak (ETR).
45
Kepemilikan Institusional (X1), Komisaris Independen (X2) dan Komite Audit
(UKA) penerimaan uji t (positif) di bagian sebelah kanan
a.
H0: ß1 = ß2 = ß3 = 0, artinya semua variabel
independen secara simultan berpengaruh terhadap
variabel dependen
b.
H1: ß1 ≠ ß2 ≠ ß3 ≠ 0, artinya semua variabel independen
secara simultan tidak berpengaruh terhadap variabel
dependen
Kriteria keputusan sebagai berikut:
a.
Jika nilai probabilitas (F-stasistik) < 0.05 maka H0
diterima.
b.
Jika nilai probabilitas (F-stasistik) > 0.05 maka H0
ditolak.
46
Gambar 3.2 Daerah Penerimaan dan Penolakan Uji F
47
dependen amat terbatas (Ghozali, 2018, p. 97).
1. Hipotesis Pertama
a. H0 : P1 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara langsung
dari Kepemilikan Institusional (INST) (X1) terhadap
Manajemen pajak (Y).
b. H1: P1 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara langsung dari
Kepemilikan Institusional (INST) terhadap Manajemen pajak
(Y).
2. Hipotesis Kedua
a. H0 : P2 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara langsung
antara Komisaris Independen (X2) terhadap Manajemen pajak
(Y).
b. H1 : P2 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara langsung dari
Komisaris Independen (X2) terhadap Manajemen pajak (Y).
3. Hipotesis Ketiga
a. H0 : P3 = 0, artinya tidak ada pengaruh secara langsung antara
Komite Audit (X3) terhadap Manajemen pajak (Y).
b. H1 : P3 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara langsung dari
Komite Audit (X3) terhadap Manajemen pajak (Y).
4. Hipotesis Keempat
a. H0 : P1, P2 & P3 = 0, artinya tidak ada pengaruh bersama
secara langsung antara Kepemilikan Institusional (X1),
Komisaris Independen (X2) dan Komite Audit (X3) terhadap
Manajemen pajak (Y).
b. H1 : P1, P2 & P3 ˃ 0, artinya terdapat pengaruh secara
langsung antara Kepemilikan Institusional (X1), Komisaris
48
Independen (X2) dan KomiteAudit (X3) terhadap Manajemen
pajak (Y).
49
BAB IV
Descriptive Statistics
Std.
Minimu Maximu Deviatio
N m m Sum Mean n
Kepemilika 36 0,22 0,99 23,15 0,7234 0,22173
n
Institusiona
l
Komisaris 36 0,20 0,50 13,89 0,4341 0,08012
Independe
n
Komite 36 3,00 4,00 102,00 3,1875 0,39656
Audit
Manajeme 36 0,05 9,10 28,71 0,8972 2,07526
n Pajak
Valid N 36
(listwise)
51
Variabel komisaris independen (KI) memiliki nilai ratarata sebesar
0,4341 (43,41%), dan nilai standar deviasi sebesar 0,08012 (8,012%). Nilai rata-
rata yang dihasilkan dewan komisaris independen lebih besar dibandingkan nilai
standar deviasinya. Hal ini menunjukan bahwa sebaran data cukup baik, sehingga
variabel dewan komisaris independen layak untuk diuji. Nilai rata-rata dewan
komisaris independen yang dimiliki perusahaan sampel sebesar sebesar 0,4341
(43,41%), berdasarkan hal tersebut berarti dapat dikatakan bahwa sebagian besar
perusahaan sampel mengikuti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan nomor
33/POJK.04/2014 pasal 20 ayat 3 tentang Direksi dan Dewan Komisaris Emiten
atau Perusahaan Publik yang menyebutkan bahwa dewan komisaris terdiri lebih
dari 2 (dua) orang anggota dewan komisaris, jumlah komisaris independen wajib
paling sedikit 33% (tiga puluh tiga persen) dari jumlah seluruh anggota dewan
komisaris.
Variabel komite audit (KA) memiliki nilai rata-rata sebesar 3,1875 dan
nilai standar deviasi sebesar 0,39656. Nilai rata-rata yang dihasilkan komite audit
lebih besar dibandingkan nilai standar deviasinya. Hal ini menunjukan bahwa
sebaran data cukup baik, sehingga variabel komite audit layak untuk diuji. Nilai
rata-rata komite audit yang dimiliki perusahaan sampel sebesar 3,1875 ini berarti
perusahaan sampel telah mengikuti Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor
55/POJK.04/2015 pasal 4 tentang Pembentukan dan Pedoman Pelaksanaan Kerja
Komite Audit yang menyebutkan bahwa komite audit paling sedikit terdiri dari 3
(tiga) orang anggota yang berasal dari komisaris independen dan pihak dari luar
emiten atau perusahaan publik.
Variabel manajemen pajak yang diproksikan dengan ETR (effective tax
rate) memiliki nilai rata-rata sebesar 0,8972 (89,72%), dan nilai standar deviasi
sebesar 2,07526 (2,07%). Nilai rata-rata yang dihasilkan manajemen pajak lebih
besar dibandingkan nilai standar deviasinya. Hal ini menunjukan bahwa sebaran
data cukup baik, sehingga variabel manajemen pajak layak untuk diuji. Nilai ETR
yang dimiliki perusahaan sampel relatif rendah jika dilihat dari rata-rata per tahun
52
yang didapatkan. Semakin kecil nilai ETR yang dimiliki oleh perusahaan berarti
penghindaran pajak yang dilakukan semakin besar.
53
Berdasarkan hasil uji One-Sample Kolmogorov-Smirnov (K-S) pada
tabel diatas menunjukkan bahwa nilai Asymp. Sig. (2-tailed) sebesar 0,200. nilai
Asymp. Sig. (2-tailed) dikarenakan lebih besar dari 0,05 maka variabel-variabel
tersebut memiliki distribusi normal dan memenuhi persyaratan normalitas,
sehingga dapat disimpulkan bahwa residual data berdistribusi normal.
Dalam pengujian normalitas juga dapat melihat penyebaran data yang
ditunjukkan dalam grafik dan dinyatakan dengan titik. Model regresi memenuhi
syarat normalitas apabila penyebaran titiktitik berada disekitar garis diagonal
dalam grafik normal probability plot. Hasil uji normalitas dengan menggunakan
grafik normal probability plot dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Pada grafik normal probability plot diatas, dapat dilihat bahwa sebaran
titik-titiknya menyebar sekitar garis diagonal dan cenderung dapat membentuk
garis lurus, sebaran error juga masih ada di sekitar garis diagonal. Hal ini
menunjukan bahwa asumsi kenormalan tidak dilanggar dan dapat dinyatakan lulus
uji normalitas. Sehingga dapat disimpulkan model regresi layak digunakan untuk
memprediksi pengaruh kepemilikan institusional, komisaris independent dan
komite audit terhadap manajemen pajak.
54
1.1.3. Uji Multikolinearitas
Uji Multikolinieritas dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui ada atau
tidaknya korelasi antar variabel independen. Jika terjadi autokorelasi, berarti
terdapat masalah multikolinieritas antar variabel independen. Untuk mendeteksi
ada atau tidaknya multikolinieritas dapat dilihat dari tolerance value dan variance
inflaction factor (VIF) dari pengujian SPSS 25. Apabila tolerance value > 0.1 atau
VIF < 10 maka tidak terjadi multikolinieritas. Jadi jika nilai VIF < 10
menunjukkan bahwa korelasi antar variabel independen masih bisa ditolerir.
Berikut ini data hasil perhitungan uji multikolinieritas dapat dilihat pada tabel
berikut ini :
Tabel 4 3 Uji Multikolinearitas
Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Std. Toleranc
Model B Error Beta t Sig. e VIF
1 (Constant) -10,925 3,461 -3,156 0,004
Kepemilikan 1,662 1,503 0,178 1,106 0,278 0,811 1,233
Institusional
Komisaris 1,271 4,142 0,049 0,307 0,761 0,818 1,223
Independen
Komite Audit 3,159 0,765 0,604 4,128 0,000 0,978 1,023
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak
55
Dari tabel tentang hasil uji multikolinieritas dapat diketahui, variable
Kepemilikam Institusional yang diproksikan dengan INST menunjukkan nilai
tolerance 0,811 > 0,10 dan nilai VIF 1,233 < 10, variabel komisaris independen
yang diproksikan dengan KI menunjukkan nilai tolerance 0,818 > 0,10 dan nilai
VIF 1,233 < 10 dan variabel komite audit yang diproksikan dengan KA
menunjukkan nilai tolerance 0,978 > 0,10 dan nilai VIF 1,023 < 10. Berdasarkan
dari hasil tersebut menunjukkan bahwa semua variabel independen memiliki nilai
tolerance lebih dari 0,10 dan nilai VIF kurang dari 10. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa tidak terjadinya multikolinieritas antar variabel independen
dalam model regresi oleh karena itu persamaan regresi ini layak digunakan untuk
analisis lebih lanjut.
56
Berikut hasil uji autokorelasi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4 4 UJi Autokorelasi
Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson
a
1 .644 .414 .352 1.67093 1.995
a. Predictors: (Constant), Komite Audit, Komisaris Independen, Kepemilikan
Institusional
b. Dependent Variable: Manajemen Pajak
Dari tabel diatas didapatkan nilai Durbin Watson sebesar 1,782, dengan
jumlah sampel (n) = 32, dengan k = 3 diperoleh du = 1.995 sehingga 4-du = 4 -
1,995 = 2,3461. Dalam penelitian ini, nilai DW terletak diantara dU dan (4-dU),
yaitu 1.995 < 1,782 < 2,004. Oleh karena itu, maka dapat disimpulkan pada model
regresi ini tidak terjadi masalah autokorelasi.
57
Dari gambar diatas dilihat bahwa titik-titik menyebar secara acak. Dan
penyebaran titik-titik data tidak boleh membentuk pola bergelombang melebar
kemudian menyempit dan melebar kembali. Serta adanya penyebaran titik-titik
dan tidak berpola. Dengan demikian pada persamaan regresi linier berganda
dalam model ini tidak ada gejala atau tidak terjadi heteroskedastisitas, sehingga
model regresi layak dipakai untuk memprediksi ETR.
Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Std. Toleranc
Model B Error Beta t Sig. e VIF
1 (Constant) -10,925 3,461 -3,156 0,004
Kepemilikan 1,662 1,503 0,178 1,106 0,278 0,811 1,233
Institusional
Komisaris 1,271 4,142 0,049 0,307 0,761 0,818 1,223
58
Independen
Komite Audit 3,159 0,765 0,604 4,128 0,000 0,978 1,023
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak
59
dari nilai signifikan 0,05. Adapun nilai beta yang dihasilkan adalah
sebesar 3,159.
Coefficientsa
Standardize
Unstandardized d
Coefficients Coefficients Collinearity Statistics
Std. Toleranc
Model B Error Beta t Sig. e VIF
1 (Constant) -10,925 3,461 -3,156 0,004
Kepemilikan 1,662 1,503 0,178 1,106 0,278 0,811 1,233
Institusional
Komisaris 1,271 4,142 0,049 0,307 0,761 0,818 1,223
Independen
Komite Audit 3,159 0,765 0,604 4,128 0,000 0,978 1,023
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak
60
0,278 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa kepemilikan institusional (INST)
tidak berpengaruh terhadap Manajemen Pajak, sehingga hipotesa pertama yang
diajukan dalam penelitian ini (H1) ditolak
ANOVAa
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
1 Regression 55.332 3 18.444 6.606 .002b
Residual 78.176 28 2.792
Total 133.508 31
a. Dependent Variable: Manajemen Pajak
b. Predictors: (Constant), Komite Audit, Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional
61
Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (uji F) didapatkan nilai
signifikan 0,002< 0,05, maka hipotesa keempat yang diajukan dalam penelitian ini
(H4) diterima karena kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan
komite audit (KA) secara simultan berpengaruh terhadap Manajemen Pajak.
Model Summaryb
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate Durbin-Watson
a
1 .644 .414 .352 1.67093 1.995
a. Predictors: (Constant), Komite Audit, Komisaris Independen, Kepemilikan Institusional
b. Dependent Variable: Manajemen Pajak
62
variabelvariabel independen belum mampu memberikan semua informasi yang
dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.
63
terhadap manajemen perusahaan sehingga dapat mengurangi tindakan
penghindaran pajak.
64
1.1.4 Pajak Pengaruh Komite Audit terhadap Manajemen Pajak
Dari hasil pengujian yang disajikan pada tabel 4.13, variabel komite audit
menunjukkan nilai signifikan 0,000 lebih kecil dari 0,05 sehingga dapat
disimpulkan bahwa H1 tidak dapat diterima. Hal ini menunjukkan bahwa variabel
komite audit berpengaruh terhadap manajemen pajak pada perusahaan manufaktur
subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2021.
Hasil ini tentu berlawanan dengan hipotesa peneliti yang menyatakan
bahwa komite audit memiliki pengaruh terhadap tax avoidance. Hal ini
menunjukan bahwa kinerja komite audit tidak berjalan dengan baik meskipun
jumlah komite audit sudah sesuai dengan peraturan OJK. Pengawasan yang
dilakukan oleh komite audit belum maksimal sehingga masih terdapat celah
(loopholes) bagi manajemen untuk melakukan penghindaran pajak. Sehingga
dapat dikatakan bahwa komite audit belum mampu merubah perilaku manajemen
perusahaan yang opportunistic.
Riset ini sependapat dengan riset Darma et al., (2019) yang menjelaskan
komite audit berpengaruh positif terhadappenghindaran pajak.
65
besar dan hak suara yang dimiliki, dapat memaksa manajer untuk berfokus pada
kinerja ekonomi dan menghindari peluang untuk perilaku mementingkan diri
sendiri.
Dewan komisaris independen menengahi agen dan prinsipal dalam
mengambil kebijakan perusahaan agar tidak melanggar hukum salah satunya yaitu
dalam menentukan kebijakan perusahaan yang berhubungan dengan pembayaran
pajak. Baik dewan komisaris independen maupun komite audit merupakan bagian
dari corporate governance yang memiliki salah satu prinsip transparasi. Keduanya
dapat mengurangi pengukuran dan pengungkapan akuntansi yang tidak tepat
sehingga akan mengurangi tindakan kecurangan oleh manajemen dan tindakan
melanggar hukum lainnya, tidak terkecuali kecurangan dalam melakukan
penghindaran pajak serta memanipulasi laba.
Komite audit sesuai perannya dapat membantu dewan komisaris agar
asimetri informasi tidak terjadi dengan melakukan monitoring serta memberi
pertimbangan kepada manajemen pada pengendalian intern yang sedang
berlangsung di dalam perusahaan. Komite audit berhubungan erat dengan
kegiatan pemeriksaan terhadap resiko yang kemungkinan akan dihadapi
perusahaan di masa yang akan datang, serta ketaatan perusahaan terhadap
peraturan yang telah ditetapkan.
Berdasarkan teori-teori di atas, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
Kepemilikan institusional, komisaris independen (KI) dan komite audit (KA)
terhadap manajemen pajak secara bersama-sama (simultan) memiliki pengaruh
terhadap manajemen pajak.
66
1. Ruang lingkup penelitian ini dibatasi pada perguruan tinggi yang berstatus
swasta, sehingga masih perlu dikaji kembali apakah penelitian ini masih perlu
diuji kembali apakah hasil penelitian ini dapat digeneralisasikan secara lebih
luas untuk perguruan tinggi yang berstatus negeri.
2. Pemilihan indikator untuk mengukur masing-masing variabel penelitian hanya
mengacu pada satu teori, sehingga dapat saja hasil pengukuran kurang
komprehensif.
3. Periode pengamatan terbatas selama tiga tahun pengamatan, yaitu periode
tahun 2018-2021.
4. Sampel variabel independen yang digunakan kurang general untuk mewakili
penelitian terhadap manajemen pajak.
67
BAB V
1.1. Kesimpulan
Penelitian ini menguji pengaruh Kepemilikan institusional, komisaris
independen dan komite audit terhadap manajemen pajak pada perusahaan
manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2018-
2021. Penelitian ini menggunakan 4 variabel yaitu komite audit, dewan komisaris
independen, dan profitabilitas sebagai variabel independen, sedangkan tax
avoidance sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan analisis regresi
linier berganda dan menggunakan program SPSS versi 25. Data sampel yang
digunakan sebanyak 9 perusahaan manufaktur subsektor farmasi yang terdaftar di
Bursa Efek Indonesia tahun 2018-2021.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah Kepemilikan
institusional, komisaris independen dan komite audit akan berpengaruh terhadap
manajemen pajak. Penelitian ini mengambil periode pengamatan dari tahun 2018
sampai dengan 2021, dimana sampel yang digunakan dalam penelitian ini
berjumlah 36 perusahaan multinasional yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
(BEI).
Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah dijelaskan
pada bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Variabel kepemilikan institusional berpengaruh negatif terhadap variabel
manajemen pajak, yang menunjukkan bahwa semakin tinggi kepemilikan
institusional, maka manajemen pajak akan semakin rendah. Hasil ini
mendukung penelitian yang dilakukan oleh Alkurdi & Mardini (2020)
bahwa kepemilikan institusional berpengaruh negatif dan signifikan.
2. Berdasarkan hasil uji hipotesa kedua (H2) dalam penelitian ini, variabel
komisaris independen (KI) menunjukkan nilai signifikan 1,271 < 0,05.
Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
dewan komisaris independen berpengaruh terhadap manajemen pajak,
sehingga hipotesa kedua (H2) dalam penelitian ini ditolak.
3. Berdasarkan hasil uji hipotesa pertama (H3) dalam penelitian ini,
variabel komite audit (KA) menunjukan nilai signifikan 0,000 > 0,05.
Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa variabel
komite audit berpengaruh terhadap manajemen pajak, sehingga hipotesa
pertama (H3) dalam penelitian ini diterima.
4. Berdasarkan hasil uji signifikansi simultan (Uji F) dalam penelitian ini,
diperoleh nilai signifikan 0,002 < 0,05. Berdasarkan hasil tersebut, maka
dapat disimpulkan bahwa Kepemilikan institusional, komisaris
independen dan komite audit secara simultan berpengaruh terhadap
manajemen pajak, sehingga hipotesa keempat (H4) dapat diterima.
1.2. Saran
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam
pengembangan ilmu akuntansi yang khususnya berada pada bidang pajak
mengenai dampak dari aktivitas manajemen pajak. Penelitian ini dimasa
mendatang diharapkan dapat menyajikan hasil yang lebih berkualitas lagi dengan
adanya beberapa masukan mengenai beberapa hal diantaranya :
69
permanent difference sehingga benar-benar mencerminkan perilaku tax
avoidance yang dilakukan oleh perusahaan.
3. Penelitian selanjutnya disarankan untuk meneliti perusahaan sektor
industri lain selain sektor industri manufaktur. Dengan demikian dapat
diketahui pengaruh dari kepemilikan institusional, risiko perusahaan, dan
leverage terhadap manajemen pajak dari masing-masing sektor industri
yang ada.
4. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah atau mengganti
variabel independen lain yang mungkin mempengaruhi manajemen pajak
seperti ukuran perusahaan, kompensasi rugi fiskal, pertumbuhan
penjualan, dan insentif pajak.
70
DAFTAR PUSTAKA
Aprianto, M. &. (2019). Pengaruh Sales Growth dan Leverage terhadap Tax
Avoidance dengan Kepimilikan Institusional Sebagai Variabel Moderasi.
Prosiding Seminar Nasional, November.
72
Primasari, N. H. (2019). LEVERAGE, UKURAN PERUSAHAAN,
PROFITABILITAS, PERTUMBUHAN PENJUALAN, PROPORSI
KOMISARIS INDEPENDEN DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP
TAX AVOIDANCE (studi emperis pada perusahaan manufaktur yang
terdaftar di bursa efek indonesia periode 2014-2016). Jurnal Akuntansi
Dan Keuangan, 8(3), 198.
73
LAMPIRAN-LAMPIRAN
74