0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Manajemen Risiko RSI Aminah 2022

Program Manajemen Risiko RSI Aminah Sidoarjo Tahun 2022 bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien melalui identifikasi dan pengurangan risiko klinis dan non-klinis. Program ini mencakup aktivitas komunikasi, penetapan lingkup dan kriteria risiko, penilaian risiko, penanganan risiko, serta monitoring dan review secara berkala untuk mengelola risiko sesuai toleransi rumah sakit.

Diunggah oleh

RSKB AL ISHAQIY
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan8 halaman

Manajemen Risiko RSI Aminah 2022

Program Manajemen Risiko RSI Aminah Sidoarjo Tahun 2022 bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan keselamatan pasien melalui identifikasi dan pengurangan risiko klinis dan non-klinis. Program ini mencakup aktivitas komunikasi, penetapan lingkup dan kriteria risiko, penilaian risiko, penanganan risiko, serta monitoring dan review secara berkala untuk mengelola risiko sesuai toleransi rumah sakit.

Diunggah oleh

RSKB AL ISHAQIY
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PROGRAM MANAJEMEN RISIKO

RSI AMINAH SIDOARJO


TAHUN 2022
A. PENDAHULUAN
Manajemen risiko sebagai aktivitas klinik dan administrative yang dilakukan oleh
rumah sakit untuk melakukan identifikasi, evaluasi dan pengurangan risiko terjadinya
cedera atau kerugian pada pasien, personil, pengunjung dan rumah sakit itu sendiri.
Kegiatan tersebut meliputi identifikasi risiko hokum ( legal risk ), memprioritaskan risiko
teridentifikasi, menentukan respons rumah sakit terhadap risiko, mengelola suatu kasus
risiko dengan tujuan meminimalkan kerugian ( risk control ) , membangun upaya
pencegahan risiko yang efektif dan mengelola pembiayaan risiko yang adekuat ( risk
financing ).
Manajemen risiko yang komprehensif meliputi seluruh aktifitas rumah sakit, baik
operasional maupun yang bersifat klinis, oleh karena risiko dapat muncul dari kedua
bidang tersebut. Bahkan akhir-akhir ini meliputi pula resiko yang berkaitan dengan
managed care dan resiko kapitasi, merger, dan akusisi, resiko kompensasi
ketenagakerjaan, corporate compliance dan etik organisasi.

B. LATAR BELAKANG
RSI Aminah Sidoarjo dalam upaya memberikan pelayanannya dituntut memberikan
pelayanan sebaik-baiknya sebagai public service. RSI Aminah Sidoarjo menyadari bahwa
dalam memberikan pelayanan baik medis maupun non medis mempunyai risiko-risiko.
Risiko didefinisikan sebagai kemungkinan sesuatu terjadi atau potensi bahaya yang terjadi
yang dapt memberikan pengaruh kepada hasil akhir. Risiko yang dicegah berupa risiko
klinis dan risiko non klinis. Risiko klinis adalah risiko yang dikaitkan langsung dengan
layanan medis maupun layanan lain yang dialami pasien selama di RS. Sementara risiko
non klinis ada yang berupa risiko bagi organisasi maupun produk layanan, proteksi data,
sistem informasi, dan semua risiko yang dapat mempengaruhi pencapaian organisasi.
Risiko financial adalah risiko yang dapat mengganggu control financial yang efektif, salah
satunya adalah sistem yang harusnya dapat menyediakan pencatatan akuntansi yang baik.
Program manajemen risiko berkelanjutan digunakan untuk melakukan identifikasi
dan mengurangi cedera dan mengurangi risiko lain terhadap keselamatan pasien dan staf.
Beberapa kategori risiko yang dapat berdampak pada rumah sakit antara lain strategis,
operasional, keuangan, kepatuhan dan reputasi. Proses pengurangan risiko ini
dilaksanakan minimal sekali dalam setahun dengan menerapkan manajemen risiko. Upaya
penerapan manajemen risiko di RSI Aminah Sidoarjo dibuatlah program manajemen risiko
RSI Aminah Sidoarjo Tahun 2022 disusun berdasarkan daftar risiko dari masing-masing unit
kerja.
C. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Meningkatnya mutu pelayanan kesehatan dan keselamatan pasien rumah sakit
melalui program peningkatan mutu dan keselamatan pasien.
2. Tujuan Khusus
a. Terciptanya budaya keselamatan pasien di RSI Aminah Sidoarjo
b. Meningkatkan akuntabilitas
c. Menurunnya kejadian tidak diharapkan
d. Terlaksananya program-program pencegahan sehingga tidak terjadi
pengulangan kejadian yang tidak diharapkan
e. Meminimalisir risiko yang mungkin terjadi di dimasa mendatang. Dengan
adanya antisipasi resiko, apabila terjadi insiden sudah terdapat alternative
penyelesaian.
f. Melindungi pasien, karyawan, pengunjung dan pemangku kepentingan
lainnya.

D. KEGIATAN POKOK DAN RINCIAN KEGIATAN


Kegiatan pokok program manajemen resiko RSI Aminah Sdioarjo adalah sebagai
berikut :
1. Komunikasi dan Konsultasi
1. Dilakukan disetiap tahap proses manajemen resiko
2. Dibuat rencana ( KK ) di tahap awal tdd : risiko, konsekuensinya
3. Dan tindakan untuk mengelolanya
4. Komunikasi : proses interaktif dalam pertukaran informasi dan pendapat
mengenai risiko dan pengelolaannya. Proses secara internal
bagian/unit/eksternal
5. Konsultasi : proses kimunikasi antara bagian/unit dengan pemangku
kepentingan mengenai isu tertentu, terkait pengambilan keputusan termasuk
penerapan manajemen resiko.
Tujuannya untuk membantu pemangku kepentingan yang relevan dalam
memahami risiko, dasar pengambilan keputusan dan alasan mengapa tindakan
tertentu diperlukan. Adapun bentuk komunikasi dan konsultasi dapat berupa :
Rapat berkala; rapat insidentil;seminar/sosialisasi/workshop atau forum pengelola
resiko.
KK efektif : penanggungjawab penerapan proses manajemen risiko dan para
pemangku kepentingan memahami dasar pengambilan keputusan serta alasan
mengapa tindakan tersebut dibutuhkan.
2. Penetapan lingkup , Konteks dan kriteria
Penetapan lingkup manajemen resiko memperhatikan pemberlakukan
manajemen risiko dan penerapan ke depan.
Penetapan konteks internal manajemen resiko memperhatikan struktur
organisasi budaya organisasi, dan pencapaian organisasi.
Penetapan konteks eksternal manajemen resiko mendefinisikan sisi eksternal
organisasi yaitu pesaing, otoritas, perkembangan teknologi, dan hal-hal lain yang
dapat mempengaruhi pencapaian sasaran organisasi.
Penetapan kriteria manajemen resiko mendefinisikan parameter yang
disepakati bersama sebagai kriteria risiko. Kriteria risiko yang paling sering
digunakan diseluruh unit terdiri dari : dampak dan kemungkinan. RSI Aminah
Sidoarjo menetapkan kriteria untuk analisa resiko yaitu :
a. Grading matriks risiko untuk risiko klinis
b. Kriteria risiko untuk risiko non klinis
Direktur rumah sakit memiliki tanggungjawab tertinggi terhadap pelaksanaan
manajemen risiko. Direktur rumah sakit juga melakukan pemantauan dan
pengambilan keputusan.

3. Penilaian risiko
Penilaian/asesmen risiko adalah menilai dan memprioritaskan risiko sehingga
tingkat risiko dapat dikelola dalam batas toleransi yang ditentukan.
Tujian penilaian risiko :
1. Menilai seberapa besar risiko, di tingkat unit/organisasi agar manajemen
dapat memusatkan perhatian pada ancaman dan peluang yang paling penting
dan merespon risiko tersebut.
2. Menetukan probabilitas /frekuensi dan dampak kerugian (perspektif
keuangan dan operasional)
3. Memprioritaskan aktifitas manajemen risiko
4. Menentukan risiko mana yang akan dikelola.
5. Identifikasi metode risk control dan risk financing.
6. Identifikasi apakah isu harus ditangani internal atau eksternal

3.1 Identifikasi risiko


adalah pemeriksaan apa yang ada didalam organisasi, yang dapat
mengakibatkan kerugian pada organisasi dan cedera pada individu, sehingga bisa
ditentukan apakah organisasi sudah mengambil tindakan pencegahan (prevent),
mitigate, mendeteksi eror yang dapat menyebabkan cedera (harm).
Proses identifikasi potensi risiko dilakukan identifikasi terhadap : sumber risiko,
kejadian yang mungkin terjadi, penyebab serta area yang terkena dampak risiko
tersebut.

3.2 Analisis risiko


analisis masalah dilakukan dengan fish bone diagram oleh masing-masing unit
disertai action plan. Selain itu dilakukan untuk mengetahui peringkat risiko
kejadian dengan menggunakan kriteria yang telah ditetapkan oleh rumah sakit dan
kriteria tersebut tercantum dalam lembar pelaporan insiden maupun dalam risk
register dalam lembar pelaporan insiden, terdapat table kriteria untuk
konsekuensi kejadian serta kekerapan/probabilitas kejadian.

3.3 Evaluasi risiko


berdasarkan hasil analisa risiko, dilakukan evaluasi risiko yang dapat
membantu untuk memutuskan diterima atau tidaknya suatu risiko, menentukan
prioritas risiko dan menjadi masukan bagi penanganan risiko, kriteria untuk
pengambilan keputusan dalam evaluasi risiko haruslah konsisten dengan konteks
eksternal, internal, dan definisi manajemen risiko yang telah ditetapkan oleh
organisasi. Terdapat 4 ( empat ) dimensi risiko klinis di pelayanan kesehatan yang
perlu diperhatikan yaitu dimensi operasional, dimensi keuangan, dimensi politik,
dan dimensi legal. Dalam memutuskan risiko dapat diterima atau tidak kriteria
evaluasi yang dibuat harus mempertimbangkan dari berbagai sisi, selain tingkat
dampak maupun kemungkinan yang timbul termasuk toleransi terhadap risiko.
Evaluasi risiko dilakukan berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh
rumah sakit. Tingkat risiko atau kejadian yang ditemukan saat analisis menjadi
acuan untuk menetapkan prioritas risiko serta pelaporan yang perlu dilakukan
terkait dengan risiko tersebut. Jika risiko tergolong ekstrim , hal ini menjadi sangat
prioritas sehingga perlu dilakukan RCA secepatnya dan pelaporan perlu
disampaikan kepada Direktur, diterima atau tidaknya suatu risiko, selain dilihat
dari konseskuensi, kekerapan maupun tingkatannya, dilihat juga beberapa dimensi
yang menjadi dasar pertimbangan. Dengan memperhatikan keselamatan pasien,
image rumah sakit, serta biaya yang dikeluarkan Direktur rumah sakit menetapkan
risiko prioritas yang akan dianalisis secara proaktif.

4. Penanganan risiko
Dalam penanganan risiko, terdapat beberapa pilihan yang dapat diambil.
Salah satunya adalah memlalui proses penvegahan dan penanganan risiko.
Keberhasilan pengelolaan risiko tidak hanya sampai pada kegiatan pengurangan
risiko. Meski kegiatan pengurangan risiko telah dilakukan tetap disosialisasi,
monitoring serta audit perlu dilaksanakan agar tidak terjadi peningkatan risiko
ataupun pengulangan kejadian. Jika terjadi suatu kejadian sentinel, kejadian
tersebut harus dituntaskan dan tidak boleh terjadi kembali. Kunci keberhasilan
dari seluruh upaya pengurangan risiko di rumah sakit adalah kepemimpinan.

5. Monitoring dan review


Monitoring dan review merupakan pemantauan rutin dengan membandingkan
kinerja proses manajemen risiko dengan harapan yang ingin dicapai dan meninjau
ulang secara berkala kehiatan manajemen risiko yang telah dilakukan. Monitoring
dan review dapat dilakukan melalui pemantauan indikator mutu yang ditetapkan,
peninjauan ulang terhadap penanganan risiko maupun standar operasional,
pelatihan, peringatan dan lain-lain.
Segala sesuatu yang menjadi risiko perlu dipantau scara terus menerus.
Monitoring dan review terhadap suatu kondisi /kejadian dilakukan dalam setiap
proses manajemen risiko dan pelaksanaan monitoring dan review terhadap risiko
tersebut dapat berjalan dengan baik jika dilaksanakan dengan kedisiplinan.
Sedangkan data pencapaian dari pelaporan tersebut dijadikan salah satu indikator
terhadap keberhasilan proses monitoring dan review itu sendiri.

E. Cara melaksanakan kegiatan


1. Melaksanakan program meliputi :
a. Komunikasi dan konsultasi dengan terkait
b. Menetapkan lingkup, konteks, kriteria manajemen risiko dengan rapat
c. Identifikasi risiko
d. Analisa risiko
e. Evaluasi risiko
f. Pelaporan
g. Penyelidikan KTD, melalui RCA dan FMEA
h. Manajemen terkait tuntutan ( klaim )
2. Monitoring program manajemen risiko klinis dan risiko non klinis tentang
pencapaian program.
3. Melaksanakan koorddinasi dengan tim terkait.

F. Sasaran
1. Direktur RSI Aminah Sidoarjo
2. KPRS
3. Peningkatan Mutu RS
4. PPI
5. K3RS
6. Seluruh staf medis dan non medis

G. Jadwal pelaksanaan kegiatan


Sesuai jadwal kegiatan program tim manajemen risiko tahun 2022

H. Evaluasi pelaksanaan kegiatan dan pelaporan


1. Evaluasi pelaksaan kegiatan
Supervise terkait proses pengumpulan data dilakukan setiap hari oleh masing-
masing kepala ruangan di unit, evaluasi yang dilaksanakan oleh Tim manajemen
risiko
2. Pelaporan evaluasi kegiatan
Pelaporan manajemen risiko setiap bulan ke tim manajemen risiko RS, analisis
setiap 6 bulan dilaporkan ke Direktur.

I. Penutup
Demikian program manajemen risiko RSI Aminah Sidoarjo tahun 2022, semoga dapat
dilaksanakan sesuai dengan jadwal dan target yang telah ditetapkan.

Sidoarjo, 08 Juli 2022


Ketua Tim Mutu RS Mengetahui,
Direktur

Tri Fitrian Afrianto Endang Sulistyorini

Menyetujui,
Direktur Utama PT. DEFARIZ

Ir. Arif Hartanto

Anda mungkin juga menyukai