Program BK SMAN 1 Ciomas 2019/2020
Program BK SMAN 1 Ciomas 2019/2020
Disusun Oleh:
1
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT. Tuhan Yang Maha Esa
yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita, termasuk juga kemampuan untuk
menyusun Program Bimbingan dan Konseling tahun pelajaran 2019/2020 berbasis karakter dan
budaya bangsa, serta perencanaan individual peserta didik dalam penjurusan Kurikulum 2013.
Program Bimbingan dan Konseling ini kami susun sebagai pedoman dalam pelaksanaan
layanan Bimbingan kepada peserta didik sebagai bagian dari proses pendidikan di sekolah.
Program BK saat ini dituntut untuk mampu mengimbangi dan tetap menjaga eksistensinya
dalam menghadapi setiap perubahan yang sangat memerlukan kreativitas Guru BK/Konselor
dalam memberikan berbagai layanan yang dibutuhkan peserta didik untuk berkembang secara
wajar dan optimal, terutama berkaitan dengan pemilihan dan penetapan arah peminatan peserta
didik.
Program bimbingan dan konseling yang disusun di SMAN 1 Ciomas mengacu pada
standar kebutuhan siswa hasil dari assesmen dengan didukung oleh fasilitas sekolah yang
memberikan kemudahan untuk terlaksananya seluruh program yang direncanakan. Setiap tahun
selalu ada pertambahan terhadap rencana kegiatan, hal ini sebagai hasil evaluasi dari
pelaksanaan layanan pada tahun-tahun sebelumnya, yang diharapkan pada tahun mendatang
akan semakin lebih efektif dan optimal dalam rangka memenuhi kebutuhan siswa. Aspek yang
memudahkan dalam penyusunan program BK dengan kurikulum 2013 ini tidak memerlukan ada
keseragaman format dan bentuk kegiatan dengan sekolah lain karena seluruh layanan
mengacu pada kebutuhan siswa dengan tujuan yang sama yaitu siswa memiliki tataran
kompetensi dalam keterampilan hidup yang bisa membantu mereka dalam mengatasi persoalan
yang dihadapinya.
Akhirnya dengan tersusunnya Program Bimbingan dan Konseling diharapkan akan dapat
membantu kinerja kami dan dapat meningkatkan mutu pendidikan di SMA Negeri 1 Ciomas
khususnya dan pendidikan nasional pada umumnya. Amien ya Allah ya Robbal ‘alamien.
Hormat Kami
Penyusun
2
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.......................................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................................ ........
ii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
A. Rasional......................................................................................................... 1
B. Pengertian......................................................................................................
1
C. Visi dan Misi.................................................................................................... 2
D. Landasan BK................................................................................................... 2
E. Assesmen Kebutuhan dan Kompetensi Inti Layanan................................... 4
F. Tujuan BK........................................................................................................ 6
G. Fungsi BK........................................................................................................ 8
H. Prinsip dan Asas BK........................................................................................ 8
I. Struktur Program.............................................................................................
9
J. Format Program Layanan................................................................................. 15
K. Pendekatan Kegiatan Layanan......................................................................... 15
L. Sistematika Program........................................................................................
15
BAB I
PENDAHULUAN
A. RASIONAL
Salah satu peran Guru BK/Konselor di sekolah dalam mengimplementasikan
Kurikulum 2013 adalah mengembangkan program Bimbingan dan Konseling (BK) secara
terintegrasi dan terkoordinasikan dengan baik. Koordinator BK yang diberikan kewenangan
kebijakan di sekolah dalam menatakelola BK tidak berjalan kondusif, maka program BK sulit
diwujudkan dengan baik. Untuk itu kebijakan program BK jangan sampai terpisah-pisah
atau mengabaikan kebijakan program pendidikan lainnya di sekolah, seperti kebijakan
tentang program pembelajaran baik akademik maupun nonakademik, program kesiswaan,
serta program manajemen pendidikan di sekolah lainnya.
Untuk itu dalam penyusunan program BK dalam Kurikulum 2013, struktur dan
isi/materi programnya bersifat fleksibel, harus disesuaikan dengan kondisi atau kebutuhan
peserta didik berdasarkan hasil penilaian kebutuhan (needs assessment) di sekolah.
B. PENGERTIAN
4
kepribadian yang mantap, mandiri, serta mempunyai tanggung jawab terhadap diri,
masyarakat dan bangsanya.
2. Misi: Misi bimbingan dan konseling di sekolah adalah membantu pengembangan diri
peserta didik secara optimal agar mampu mandiri untuk dapat menjalani kehidupan
sehari-hari secara efektif, kreatif dan dinamis, serta memiliki kecakapan hidup untuk
masa depannya melalui:
F. LANDASAN BK.
Landasan yang Menjadi Acuan Pelayanan Bimbingan dan Konseling :
1) Landasan Formal/ Yuridis
1. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 1
butir 6 yang mengemukakan bahwa konselor adalah pendidik, Pasal 3 bahwa
pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik, dan
Pasal 4 ayat (4) bahwa pendidikan diselenggarakan dengan memberi keteladanan,
membangun kemauan, dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013, tentang perubahan atas PP No. 19
Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
3. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yang memuat pengembangan diri
peserta didik dalam struktur kurikulum setiap satuan pendidikan difasilitasi dan/atau
dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan
4. Dasar Standarisasi Profesi Konseling yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal
Pendidikan Tinggi Tahun 2007 untuk memberi arah pengembangan profesi konseling
di sekolah dan di luar sekolah.
5. Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan Konseling
Dalam Jalur Pendidikan Profesional Th. 2007.
6. SKB Mendikbud dan kepala BAKN No 0433/F/1993 No. 25 Th. 1993
7. Kebijakan Sekolah
6
2) Landasan Konseptual
Berlandaskan kepada manusia yang secara hakiki sebagai pribadi dan sebagai makhluk
sosial
a. Landasan Filosofis
1. Manusia sebagai makhluk sosial yang educable perlu mendapatkan pendidikan
untuk menjadikannya manusia dewasa dan mandiri. Manusia juga makhluk unik
yang berbeda antara satu dan lainnya dalam berbagai hal.
2. Bimbingan dan konseling adalah profesi yang menekuni masalah sikap,
kepribadian, serta keunikan manusia berupaya menelusuri dan mewujudkannya
menuju kedewasaan dan kemandirian sesuai bakat, minat serta keunikan
tersebut.
3. Arah peminatan adalah program yang dipilih peserta didik berdasarkan bakat,
minat, serta keunikannya meraih perestasi yang bermakna bagi diri dan masa
depannya.
b. Landasan Religius
Sebagai mahluk ciptaan Allah Tuhan YME dan Tuhan yang telah menunjukkan
bahwa agama adalah pedoman bagi kehidupan seluruh manusia, maka agama
merupakan acuan untuk melaksanakan kaidah-kaidah (aturan-aturan hukum)
keimanan dan ketaqwaan terhadap Allah Tuhan YME.
c. Landasan Psikologi
Manusia sebagai pribadi memiliki dan membawa “potensi” yang beragam dengan
kelebihan dan kekurangan yang berbeda-beda. Secara psikologis layanan
bimbingan dan konseling di sekolah merupakan usaha membantu peserta didik
menjalani tugas-tugas perkembangannya secara memadai
2. Bangsa Indonesia juga terdiri dari berbagai suku dan agama namun ada dalam
satu naungan yaitu Pancasila, kendatipun berbeda namun tetap berada dalam
kesatuan Republik Indonesia yang Bhineka Tunggal Ika.
f. Landasan Pedagogik
1. Pola pembelajaran yang berpusat pada peserta didik, jejaring berbasis alat
multimedia dan interaktif,
2. Pola pembelajaran berbasis massal menjadi kebutuhan pelanggan (users)
dengan memperkuat pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta
didik.
3. Pola pembelajaran ilmu pengetahuan tunggal menjadi pembelajaran ilmu
pengetahuan jamak.
4. Pola pasif menjadi pembelajaran kritis yang aktif-mencari dan berbasis kelompok
(tim-work)
5. Pola pembelajaran dengan penerapan didaktik metodik yang tepat agar peserta
didik dapat mengembangkan kemampuan berfikir holistik, kreatif, objektif, inovatif
dan logis sehingga merasa “nyaman” di kelas/di ruang BK yang pada akhirnya
memacu peserta didik untuk mengoptimalkan potensi dan mengembangkan
dirinya.
8
g. Landasan Manajemen
1. Tata kelola guru yang bersifat individualmenjadi tata kerja kolaboratif
2. Penguatan manajemen sekolah melalui penguatan kemampuan manajemen
kepala sekolah sebagai pimpinan kependidikan.
3. Penguatan sarana dan prasarana untuk kepentingan manajemen dan proses
pembelajaran
Berikut ini disajikan matrik kompetensi inti layanan bimbingan berdasarkan kajian ITP
10
terarah
Selain dengan ITP data kebutuhan peserta didik didukung pula oleh data dari hasil
Identifikasi Masalah Siswa (IMS) berdasarkan indikator pendidikan karakter atau DCM
dan Sosiometri. Identifikasi masalah siswa tersusun berdasarkan jenis layanan dan bidang
bimbingan terdiri atas 180 kebutuhan dan masalah yang mungkin dialami peserta didik,
sedangkan dalam sosiometri didapatkan hasil yang menyatakan beberapa siswa yang
dapat dikatakan sebagai ‘popular’ (paling disukai) dan ‘rejected’ (tidak disukai) dalam hal
belajar.
F. TUJUAN BK
Berdasarkan visi dan misi bimbingan dan konseling serta kebutuhan peserta didik,
maka tujuan bimbingan dan konseling adalah sebagai berikut :
12
c. Pemantapan pemahaman tentang bakat dan minat pribadi serta penyaluran dan
pengembangan melalui kegiatan-kegiatan yang kreatif dan produktif.
d. Pemantapan pemahaman tentang kelemahan diri dan usaha-usaha
penanggulangannya.
e. Pemantapan kemampuan mengambil keputusan dan mengarahkan diri secara
mandiri sesuai dengan sistem etika dan nilai, serta apresiasi seni.
f. Pemantapan dalam perencanaan dan penyelenggaraan hidup sehat baik secara
rohaniah maupun jasmaniah, termasuk perencanaan hidup berkeluarga.
4. Pengembangan Karir
a. Pemantapan pemahaman diri berkenaan dengan kecenderungan karir yang
hendak dikembangkan.
b. Pemantapan orientasi dan informasi karir pada umumnya khususnya karir yang
hendak dikembangkan.
c. Orientasi dan informasi terhadap dunia kerja dan usaha memperoleh penghasilan
untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan hidup berkeluarga, bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara.
d. Pengenalan berbagai lapangan kerja yang dapat dimasuki tamatan SMA.
e. Orientasi dan informasi terhadap pendidikan dan pelatihan tambahan dan
pendidikan yang lebih tinggi, khususnya sesuai dengan karir yang hendak
dikembangkan.
G. FUNGSI BK
Pelayanan bimbingan dan konseling secara keseluruhan dilaksanakan untuk
memenuhi secara optimal melalui fungsi-fungsi sebagai berikut.:
3. Fungsi Pencegahan, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik mampu
mencegah atau menghindarkan diri dari berbagai permasalahan yang dapat
menghambat perkembangan diri pada umumnya, dan kesuksesan studi serta peminatan
pada khususnya.
5. Fungsi Advokasi, yaitu fungsi pelayanan BK untuk membantu peserta didik memperoleh
pembelaan atas hak dan/atau kepentingannya, baik berkenaan dengan hak-hak
kehidupan pada umumnya, maupun yang berkenaan dengan hak kependidikan pada
khususnya yang kurang atau tidak mendapat perhatian.
14
dan pelaksanaan pelayanan, mengacu pada pelayanan yang efektif dan efisien, untuk
kehidupan yang cerdas dan berkarakter. Yaitu sebagai berikut:
a. Sasaran layanan; (1) melayani semua individu tanpa memandang usia, jenis
kelamin, suku, agama dan status sosial ekonomi, (2) memperhatikan tahapan
perkembangan individu, (3) perhatian adanya perbedaan individu “individual
defferencies” dalam layanan.
b. Permasalahan yang dialami individu / konseli; (1) menyangkut pengaruh kondisi
mental maupun fisik individu terhadap penyesuaian pengaruh lingkungan baik di
rumah, di sekolah dan masyarakat sekitar, (2) Timbulnya masalah pada individu oleh
karena adanya kesenjangan sosial ekonomi dan budaya.
c. Program Pelayanan BK; (1) BK bagian integral dari upaya pendidikan dan
pengembangan diri konseli, (2) harus fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan
konseli maupun lingkungan, (3) untuk SMA disusun dengan mempertimbangkan
adanya tahapan perkembangan individu, (4) perlu diadakan penilaian hasil layanan.
d. Tujuan dan pelaksanaan pelayanan; (1) diarahkan untuk pengembangan individu
yang akhirnya mampu secara mandiri, (2) pengambilan keputusan yang diambil oleh
konseli hendaknya atas kemauan diri sendiri, (3) permasalahan individu dilayani
oleh tenaga ahli / profesional yang relevan dengan permasalahan individu, (4) perlu
adanya kerja sama dengan personil sekolah dan orangtua siswa serta bila perlu
dengan pihak lain yang berkewenangan dengan permasalahan individu, (5) proses
pelayanan BK melibatkan individu yang telah memperoleh hasil pengukuran dan
penilaian layanan.
I. STRUKTUR PROGRAM
Layanan Bimbingan dan Konseling merupakan usaha membantu peserta didik dalam
pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kegiatan belajar serta perencanaan dan
pengembangan karir. Pelayanan Bimbingan dan Konseling memfasilitasi pengembangan
peserta ddik, secara individual, kelompok dan atau klasikal, sesuai dengan kebutuhan,
potensi, bakat, minat, perkembangan, kondisi, Serta peluang-peluang yang dimiliki.
Pelayanan ini juga membantu mengatasi kelemahan dan hambatan serta masalah yang
dihadapi peserta didik.
Muro & Kottman (1995) mengemukakan struktur program bimbingan dan konseling
diklasifikasikan ke dalam empat jenis layanan : 1) Layanan dasar bimbingan, 2) Layanan
responsive, 3) Perencanaan individual, dan 4) Dukungan sistem.
Merupakan proses pemberian bantuan kepada peserta didik secara sistematis melalui
kegiatan-kegiatan klasikal atau kelompok. Layanan dasar bimbingan merupakan inti dari
16
pendekatan perkembangan yaitu layanan bantuan bagi seluruh siswa (for all) melaui
kegiatan-kegiatan kelas atau di luar kelas, yang disajikan secara sistematis, dalam rangka
membantu siswa mengembangkan potensinya secara optimal. Layanan dasar bimbingan
diberikan melaui jenis-jenis layanan pemberian informasi dan diskusi atau sharing pendapat
(brain-storming).
Pemberian informasi dan diskusi ini berkaitan dengan aspek-aspek pribadi, sosial,
belajar dan karir, Layanan pemberian informasi akan berguna bagi pengembangan diri,
penyesuaian diri, dan pengambilan keputusan. Layanan diskusi atau curah pendapat dapat
memfasilitasi para peserta didik untuk belajar menghargai pendapat orang lain, bersikap
respek terhadap orang lain dan membanggakan kepercayaan dirinya.
Layanan dasar bertujuan untuk membantu semua siswa agar memperoleh perkem-
bangan yang normal, memiliki mental yang sehat, memperoleh keterampilan dasar hidupnya.
Tujuan layanan dasar ini dapat juga dirumuskan sebagai berikut :
Memiliki kesadaran (pemahaman) tentang diri dan lingkungannya (pendidikan, pekerjaan,
sosial budaya, dan agama).
Mampu mengembangkan keterampilan untuk mengidentifikasi tanggung jawab atau
seperangkat tingkah laku tepat (memadai) bagi penyesuaian dirinya dengan
lingkungannya.
Mampu mengembangkan dirinya dalam rangka mencapai tujuan hidupnya.
Strategi pelaksanaan layanan dasar dapat dilakukan baik melalui kontak langsung
maupun tidak langsung. Strategi ini dapat dilakukan melalui pelayanan klasikal, orientasi,
informasi, bimbingan kelompok, dan pelayanan pengumpulan data. Masing-masing strategi
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut;
1) Bimbingan Klasikal
Bimbingan klasikal adalah proses memfasilitasi perkembangan konseli (peserta
didik) dengan cara melakukan kontak langsung di kelas secara terjadwal dalam bentuk
diskusi kelas atau brain storming (curah pendapat).
a) Layanan Orientasi
Layanan orientasi adalah suatu kegiatan yang memungkinkan konseli dapat
memahami dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, iklim, dan budaya sekolah. Melalui
layanan orientasi peserta didik diharapkan mengenal lingkungan, personel sekolah
(Kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dewan guru, pegawai tata usaha, petugas
laboratorium, petugas perpustakaan, pengurus OSIS, dan lain-lain), kegiatan di sekolah,
dan budaya sekolah tempat siswa belajar.
b) Layanan Informasi
Layanan informasi adalah pemberian informasi tentang berbagai hal yang
dipandang bermanfaat bagi konseli melalui komunikasi langsung maupun tidak langsung.
Layanan informasi bertujuan membantu peserta didik memperoleh informasi yang
berkenaan dengan pribadi, sosial, belajar, dan karir.
2) Bimbingan Kelompok
Bimbingan kelompok adalah pelayanan yang diberikan oleh konselor kepada
peserta didik melalui kelompok kecil (5 sampai dengan 10 orang). Tujuan bimbingan
kelompok adalah merespon kebutuhan dan minat peserta didik mengenai masalah yang
bersifat umum yang dirasakan sebagai masalah bersama.
18
pengumpulan data adalah menghimpun berbagai data peserta didik yang dapat djadikan
rujukan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling.
2 Layanan Responsif
Layanan responsif adalah layanan bantuan bagi para siswa yang memiliki kebutuhan
atau masalah yang memerlukan pertolongan dengan segera. Layanan ini bertujuan untuk
membantu para siswa dalam memiliki kebutuhan yang dirasakan pada saat ini, atau para
siswa yang dipandang mengalami hambatan (kegagalan) dalam menyelesaikan tugas-tugas
perkembangannya. Selain itu juga bertujuan membantu para pesera didik agar dapat
memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dihadapinya, baik berupa
hambatan atau kegagalan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya. Indikator dari
kegagalan itu berupa ketidakmampuan untuk menyesuaikan diri atau perilaku yang
bermasalah (maladjustment).
Layanan responsif dapat dilakukan dengan beberapa strategi antara lain melalui
konseling individual, konseling kelompok, referal, kolaborasi, bimbingan teman sebaya,
konferensi kasus, dan kunjungan rumah. Masing-masing srtategi tersebut dapat dijelaskan
sebagai berikut :
a. Konseling Individual
Konseling individual adalah proses memfasilitasi konseli agar mampu menyadari
dan berkomitmen terhadap pentingnya keluar dari masalah, menjaga diri agar tidak
bermasalah, dan pentingnya pengembangan diri melalui komunikasi konseling baik secara
berhadapan maupun melalui media.
Tujuan konseling individual adalah membantu konseli dalam mengidentifikasi
masalah yang dihadapinya, membantu konseli dalam menemukan penyebab masalah
membantu konseli dalam menemukan alternatif pemecahan masalah dan membantu
konseli mengambil keputusan secara tepat.
Prediksi masalah dalam konseling kelompok adalah sejumlah peserta didik yang
memiliki permasalahan yang sama (disadari atau tidak disadari), konseli yang memiliki
masalah dengan teman di sekolahnya, dan masalah yang meliputi permasalahan pribadi,
sosial, belajar, dan karir.
c. Referal
Referal yaitu kegiatan atau proses mengalihtangankan kasus dari konselor
kepada pihak yang lebih kompeten baik internal maupun eksternal. Tujuannya adalah agar
konseli mendapat pennganan yang lebih tepat dan tuntas atas masalah yang dialaminya,
dengan jalan memindahkan penanganan kasus dari satu pihak kepada pihak lain yang
lebih ahli/kompeten.
20
Kolaborasi dengan orang tua adalah suatu kerjasama yang memungkinkan
terjadinya saling memberi informasi, pengertian dan tukar pikiran antara konselor dengan
orang tua, dalam upaya mengembangkan potensi konseli atau memecahkan masalah
yang dihadapi. Tujuan konselor melakukan kolaborasi dengan orang tua adalah untuk
membangun kerja sama yang harmonis dengan orang tua dalam membantu konseli dan
membangun komitmen bersama dalam menangani permasalahan konseli.
g. Konsultasi
Layanan konsultasi merupakan layanan yang dilaksanakan oleh konselor
terhadap seorang atau lebih pihak (guru, orang tua, pimpinan sekolah) sehingga pihak-
pihak tersebut memahami kondisi, kesamaan sikap dalam menangani permasalahan
konseli. Layanan ini bertujuan agar konselor dapat membantu menyelesaikan
permsalahan konseli.
i. Konferensi Kasus
Konferensi kasus yaitu pembahasan permasalahan secara spesifik. Peserta didik
tertentu dalam suatu forum diskusi yang dihadiri oleh pihak-pihak terkait (seperti konselor
sebagai penyelenggara, wali kelas, guru mata pelajaran, kepala sekolah, orang tua dan
tenaga ahli lainnya) untuk memudahkan terentaskannya permasalahan yang dihadapi
konseli. Tujuan dari konferensi kasus adalah terhimpunnya data dan keterangan yang
relevan, jelas, mendalam, dan konperhensif tentang permasalahan konseli kepada pihak-
pihak yang berkepentingan atau yang bersangkutan, sehingga penanganan masalah itu
menjadi lebih mudah dan tuntas.
j. Kunjungan Rumah
Kunjungan rumah yaitu kegiatan yang bertujuan untuk memperoleh berbagai
keterangan (data) yang diperluan dalam pemahaman lingkungan dan permasalahan
konseli, yang ditujukan untuk pembahasan serta pengentasan permasalahan konseli.
Kunjungan rumah memiliki tujuan sebagai berikut :
1) Untuk memperoleh berbagai keterangan tambahan yang diperlukan dalam memahami
lingkungan dan permasalahan konseli terutama mengenai keadaan orang
tua/keluarganya.
2) Untuk mengkomunikasikan kepada orang tua tentang permasalahan yang sedang
dihadapi konseli.
3) Membangun komitmen orang tua terhadap pembahasan dan pengentasan
permasalahan konseli.
4. Dukungan Sistem
Dukungan sistem adalah kegiatan-kegiatan manajemen yang bertujuan memantapkan,
memelihara, dan meningkatkan program bibmbingan dan konseling secara menyeluruh melalui
pengembangan profesional, hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf
22
ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas, manajemen program, penelitian dan
pengembangan.
Secara utuh Kerangka Utuh Program Kerja Bimbingan dan Konseling dapat
digambarkan sebagai berikut :
Permasalahan Pelayanan
Layanan khusus arah
Yang perlu Perencanaan peminatan akademik siswa
Indiviual Peminatan perguruan tinggi
Peminatan karir
(Perencanaan Pendalaman mata pelajaran
Pendidikan, Karir,
Personal, Sosial)
Akses Informasi dan teknologi
Dukungan Sistem Pengembangan Profesi
(Aspek Manajemen Manajemen program
Dan pengembangan) Riset dan Pengembangan
Asesmen
Perkembangan Harapan dan
konseli Kondisi Konseli
1) Program Kerja Umum, yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi
seluruh kegiatan selama satu tahun untuk masing-masing tingkatan kelas di sekolah.
Yang terdiri atas program tahunan, semesteran, bulanan, mingguan dan harian dalam
bentuk Satuan kegiatan layanan Bimbingan dan Konseling (Satlan-BK atau RPL/SKL-
BK) dan dilaksanakan sesuai dengan sasaran, substansi, jenis kegiatan, waktu, tempat,
dan pihak-pihak yang terkait. Rencana kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling ini
meliputi kegiatan di dalam kelas dan di luar kelas untuk masing-masing kelas peserta
didik yang menjadi tanggung jawab Guru BK/konselor masing-masing tingkatan kelas di
sekolah.
2) Program Kerja Khusus Penjurusan, yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling
yang dilaksanakan mulai siswa diterima di kelas XI (sebelas)
1. Pendekatan Individual, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
peserta didik secara perorangan.
2. Pendekatan Kelompok, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.
3. Pendekatan Klasikal, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
sejumlah peserta didik dalam satu kelas.
4. Pendekatan Lapangan, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.
5. Pendekatan Diperluas, yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani
kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat
memberikan akses atau kemudahan.
L. SISTEMATIKA PROGRAM
24
Program ini di buat dalam kerangka garis besar sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan membahas tentang rasional layanan BK, pengertian, visi dan misi,
landasan BK, assesmen kebutuhan dan kompetensi inti layanan, tujuan, fungsi,
prinsip dan azas BK, struktur program, format program layanan, pendekatan
kegiatan layanan dan sistematika program.
Bab III : Pengelolaan layanan Bimbingan dan Konseling membahas tentang personil
pelaksana kegiatan, organisasi pelayanan Bimbingan dan Konseling,
mekanisme kerja dan pola penanganan siswa bermasalah di sekolah, sarana,
prasarana dan pembiayaan.
Bab IV : Evaluasi, pelaporan dan tindak lanjut membahas mengenai kegiatan evaluasi
program, pelaporan dan pengawasan, tindak lanjut serta penutup.
BAB II
2) Pelayanan Pengembangan
Yaitu pelayanan untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tahap-
tahap dan tugas-tugas perkembangannya. Dengan pelayanan pengembangan yang
cukup baik peserta didik akan dapat menjalani kehidupan dan perkembangan dirinya
dengan wajar, tanpa beban yang membatkan, memperoleh penyaluran bagi
pengembangan potensi yang dimiliki secara optimal, serta menatap masa depan
dengan cerah. Pelayanan BK yang dilaksanakan oleh Guru BK/Konselor selalu
diarahkan dan mengacu kepada tahap dan tugas perkembangan peserta didik.
4) Pelayanan Teraputik
Yaitu pelayanan untuk menangani permasalahan yang diakibatkan oleh gangguan
terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan, serta pelayanan peminatan.
Permasalahan tersebut dapat terkait dengan kehidupan pribadi, kehidupan sosial,
kehidupan keluarga,kegiatan belajar, dan karir. Dalam upaya menangani permasalahan
peserta didik, Guru BK/Konselor memiliki peran dominan. Peran pelayanan teraputik
oleh Guru BK/Konselor dapat menjangkau aspek-aspek pelayanan dasar, pelayanan
pengembangan, dan pelayanan peminatan.
5) Pelayanan Diperluas
Yaitu pelayanan dengan sasaran di luar diri peserta didik pada satuan pendidikan,
seperti personil satuan pendidikan,orangtua, dan warga masyarakat lainnya yang
semuanya itu terkait dengan kehidupan satuan pendidikan dengan arah pokok
terselenggaranya dan suksesnya tugas utama satuan pendidikan, proses
pembelajaran, optimalisasi pengembangan potensi peserta didik. Pelayanan diperluas
ini dapat terkait secara langsung ataupun tidak langsung dengan kegiatan pelayanan
dasar,pengembangan peminatan, dan pelayanan teraputik tersebut di atas.
B. BIDANG PELAYANAN
Dengan arah pelayanan sebagaimana tersebut di atas, bidang pelayanan BK pada
satuan pendidikan pada khususnya adalah bidang pengembangan kehidupan pribadi,
sosial, kemampuan belajar dan pengembangan karir. Keempat bidang ini diintegrasikan
secara simultan dan menyeluruh dengan pelayanan pembelajaran oleh guru mata
pelajaran, peserta didik diarahkan untuk menjadi pribadi yang utuh, berkembang secara
optimal, tangguh, mandiri dan berkemampuan mengendalikan [Link]:
1) Pengembangan Kehidupan Pribadi, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan potensi dan kecakapan,
bakat dan minat, serta kondisi kehidupan yang berkarakter cerdas dan beragamana
sesuai dengan karakteristik kepribadian dan kebutuhan dirinya secara realistik
26
2) Pengembangan Kehidupan Sosial, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu
peserta didik dalam memahami, menilai, dan mengembangkan kemampuan hubungan
sosial yang sehat, efektif dan berkarakter-cerdas dengan teman sebaya, anggota
keluarga, dan warga lingkungan sosial yang lebih luas.
3) Pengembangan Kemampuan Belajar, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu
peserta didik mengembangkan kemampuan belajar sesuai program studi dan arah
peminatannya, berdisiplin, ulet dan optimal dalam rangka mengikuti pendidikan pada
jenjang/jenis satuan pendidikannya, serta belajar secara mandiri.
4) Pengembangan Karir, yaitu bidang pelayanan BK yang membantu peserta didik dalam
menerima, memahami dan menilai informasi serta memilih dan mengambil keputusan
arah karir secara jelas, objektif dan bijak.
C. KEGIATAN OPERASIONAL
1. Program Harian / Mingguan / Bulanan
Keterangan :
* : Kemungkinan dilaksanakan di ruang kelas
** : Dilaksanakan di ruang BK
*** : Bekerja sama dengan pihak lain ((wali kelas, guru mata pelajaran)
**** : Kegiatan rutin yang diselenggarakan setiap tahun
***** : Dilaksanakan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan
****** : Beban tugas maksimal guru BK dengan siswa asuh lebih dari 250 orang adalah
30 jam dan dihargai sama dengan 15 kegiatan
28
Sekiranya masalah siswa yang memerlukan penanganan khusus seperti dari Dokter,
Psikolog, Kepolisian maka siswa dialihtangankan (Referal) kepada yang berwenang di antara
tersebut di atas dengan mengisi formulir.
Layanan BK yang telah dilaksanakan dituangkan dalam formulir rekap pelaksanaan
program layanan Bimbingan dan Konseling. Berupa Laporan harian, mingguan dan bulanan
2. Program Semester
Untuk mengamati tingkah laku siswa terkait dengan tingkah lakunya baik di kelas
maupun di luar kelas guru BK berkoordinasi dengan guru-guru mata pelajaran dengan
mengisi formulir pedoman observasi.
Untuk lebih menjelaskan mengenai kegiatan layanan yang akan dilaksanakan oleh
guru BK masing-masing kelas, maka selain garis besar program semester, akan dijabarkan
pula masing-masing kegiatan layanan tersebut kedalam bentuk satuan kegiatan layanan, dan
bentuk satuan kegiatan pendukung untuk masing-masing kegiatannya. Berdasarkan layanan
bimbingan yang tersedia dalam setiap semester tersebut, Koordinator BK menyusun
personel BK yang terdiri dari guru BK beserta pembagian tugasnya. Setiap guru BK membuat
satuan kegiatan layanan bimbingan dan konseling (Satlan-BK) yang selanjutnya diajukan
kepada kepala sekolah untuk mendapatkan persetujuan.
Program layanan Bimbingan dan Konseling yang telah disetujui dan disahkan kepala sekolah
akan menjadi program kerja operasional Bimbingan dan Konseling.
Program Kerja Tahunan bimbingan dan konseling ini dibuat semata-mata sebagai
pola atau acuan umum bagi pelaksanaan program satuan layanan atau satuan pendukung,
Oleh karena program-program satuan layanan dan satuan pendukung merupakan wujud
nyata dari kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik dengan
segala karakteristik dan kebutuhannya, maka uraian kegiatan yang tertuang dalam program
kerja tahunan ini mungkin saja dalam pelaksanaannya di lapangan akan disesuaikan oleh
guru BK dengan program harian, mingguan atau bulanan melalui satuan kegiatan layanan
dan satuan kegiatan pendukung yang disesuaikan dengan situasi, kondisi dan kebutuhan
siswa saat ini.
Untuk program khusus BK arah peminatan peserta didik, terlebih dahulu guru BK
memberikan angket tentang program peminatan yang akan dipilih siswa sesuai bakat, minat
dan kemampuan prestasi belajar siswa. Kemudian angket tersebut direkap dalam form Data
30
minat dan kemampuan siswa sebagai salah satu pertimbangan dalam kriteria peminatan.
Rekapitulasi data peminatan kemudian diserahkan kepada bidang akademik/kurikulum yang
berhubungan dengan peminatan, wali kelas dan bidang kesiswaan. Substansi program
pelayanan peminatan ini sesuai dengan arah dan bidang layanan dan kegiatan pendukung,
format kegiatan, sasaran pelayanan, dan volume/beban tugas konselor.
Program bimbingan dan konseling yang berkaitan dengan pelayanan peminatan
seyogyanya memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antar arah
peminatan, pendalaman kelompok mata pelajaran dan/atau lintas peminatan, serta antar
jenjang kelas. Dan mensinkronisasikan program pelayanan bimbingan dan konseling dengan
kegiatan pembelajaran akademik dan kegiatan ekstra kurikuler (nonakademik), serta
mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas sekolah.
Untuk melengkapi data keperluan konseling pada umumnya dan arah peminatan
akademik pada khususnya, guru BK berkoordinasi dengan bagian kesiswaan, kurikulum dan
wali kelas untuk memperoleh data sebagai berikut:
D. PRIORITAS PELAYANAN
b. Layanan Repetition
Program Repetition adalah satu bentuk upaya bimbingan dan konseling untuk
mengantisipasi kegagalan peserta didik yang menghadapi kesulitan belajar pada mata
pelajaran tertentu hingga prestasi peserta didik berada di 27% atau 5 terendah di kelas,
melalui pembimbingan teman sebaya.
2) SBMPTN adalah ujian saringan masuk PTN melalui tes tertulis bagi peserta didik
yang berminat dengan biaya yang telah ditetapkan (di dalamnya terdapat peluang
bagi peserta didik yang kurang mampu dengan persyaratan yang telah ditetapkan
Bidikmisi, biaya nol rupiah)
3) UM, untuk peserta didik yang berminat masuk PTN di luar SNMPTN dan SBMPTN,
dengan kekhususan persyaratan masing-masing PTN.
4) Program penerimaan calon mahasiswa baru dari perguruan tinggi kedinasan,
Layanan diberikan dengan memberikan informasi-informasi tentang sekolah tinggi
kedinasan, diantaranya : STAN, STP, STPDN, IIP, dll.
32
akademis dengan mengarahkan supaya potensi tersebut berkembang, sehingga
tujuan pendidikan nasional mengenai generasi yang memiliki kecakapan hidup (life
skill) tercapai. Adapun bidang-bidang yang berkenaan dengan pengembangan
keterampilan non akademis terdiri dari :
e. Layanan Beasiswa
Layanan program beasiswa
1) Diprioritaskan bagi peserta didik yang berlatar belakang sosial ekonomi “sangat”
membutuhkan bantuan tanpa persyaratan prestasi akademis.
2) Diprioritaskan untuk peserta didik yang berprestasi masuk 10 besar namun sosial
ekonomi layak mendapat bantuan
3) Diprioritaskan untuk peserta didik yang mendapat prestasi akademis dan non
akademis dalam perlombaan pelajar teladan, olimpiade sains, olahraga, seni dan
pengembangan teknologi.
BAB III
1. Pelaksana kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling adalah Guru BK atau konselor
sekolah.
2. Guru BK/Konselor pelaksana kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah
wajib:
34
a. Menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional
bimbingan dan konseling.
b. Merumuskan dan menjelaskan peran profesional konselor kepada pihak-pihak
terkait, terutama peserta didik, pimpinan sekolah, sejawat pendidik, dan orang tua.
c. Melaksanakan tugas pelayanan profesional bimbingan dan konseling yang setiap kali
dipertanggungjawabkan kepada pemangku kepentingan, terutama pimpinan sekolah,
orang tua, dan peserta didik.
d. Mewaspadai hal-hal negatif yang dapat mengurangi keefektifan kegiatan pelayanan
profesional bimbingan dan konseling.
e. Mengembangkan kemampuan profesional bimbingan dan konseling secara
berkelanjutan.
3. Beban tugas wajib konselor ekuivalen dengan beban tugas wajib pendidik lainnya di
sekolah sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. Di SMA Negeri 1 Ciomas
belum menerapkan rasio seorang Guru BK/konselor untuk 150 orang peserta didik.
PENGAWAS SEKOLAH
TATA USAHA
Keterangan :
= Garis Komando
-------------------------------- = Garis Konsultasi/ Garis Koordinasi
36
Memastikan pelaksanaan program bimbingan konseling berjalan lancar
Mengevaluasi progran dan pelaksanaan kegiatan bimbingan konseling
Memberikan tindak lanjut terhadap hasil penilaian bimbingan dan konseling
3. Guru BK / Konselor Adalah guru yang diberi tugas utama sebagai pelaksana kegiatan
pelayanan Bimbingan dan konseling di sekolah, bertanggung
jawab terhadap semua kegiatan pelayanan yang terkait dengan
perkembangan siswa asuhnya, serta mempertanggungjawabkan
tugas dan kegiatan layanan BK kepada Koordinator BK.
2. Wali Kelas
38
Disamping sebagai orang tua kedua di sekolah, juga membantu mengkoordinir informasi
dan kelengkapan data yang meliputi : daftar nilai, angket siswa, observasi, catatan
anekdot, laporan observasi siswa, catatan home visit, catatan wawancara, dan laporan
kegiatan pengembangan diri/ekstrakurikuler.
3. Guru BK / Konselor
Disamping bertugas memberikan layanan Bimbingan dan Konseling kepada siswa juga
sebagai sumber data yang meliputi : Data Perkembangan Akademis dan Non Akademis
siswa, Catatan Konseling, Data Psikotes, Catatan Konferensi Kasus, Catatan Kasus dan
Catatan Pribadi Siswa.
4. Kepala Sekolah
Sebagai penanggung jawab pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah, Kepala
Sekolah perlu mengetahui dan memeriksa semua kegiatan yang dilakukan oleh guru
mata pelajaran, wali kelas, guru pembimbing /konselor dalam kaitannya dengan layanan
bimbingan dan konseling di sekolah.
Seorang siswa yang melanggar tata tertib atau hal-hal lain yang dapat digolongkan
ke dalam permasalahan siswa dapat ditindak oleh guru piket, wali kelas, wakil kepala
sekolah dan petugas lain bahkan langsung oleh Kepala Sekolah. Tindakan tersebut
diinformasikan kepada wali kelas sebagai sentral tindakan. Sementara itu guru BK/konselor
berperan dalam mengetahui sebab-sebab yang melatarbelakangi sikap, tindakan atau
perilaku tersebut. Guru BK/konselor bertugas membantu menangani masalah siswa dengan
meneliti latar belakang tindakan atau perilaku siswa melalui serangkaian wawancara dan
informasi dari sejumlah data, setelah wali kelas merekomendasikannya.
GURU PIKET
KOORD. BK &
GURU BK/
WALI KELAS
KONSELOR
GURU MP
SEKOLAH
PTK LAIN
Sarana dan prasarana yang diperlukan disesuaikan dengan kondisi SMA Negeri 1
Ciomas, agar layanan Bimbingan dan Konseling berjalan dengan lancar, maka sarana dan
prasarana yang diperlukan sebelum tahun pelajaran baru sudah dikonsultasikan oleh guru
BK/konselor, melalui Koordinator Bimbingan dan Konseling kepada bagian Sarana . Sarana
dan Prasarana yang diperlukan antara lain :
40
c. Pelengkapan teknis, seperti : buku Satlan BK, buku referensi BK, buku agenda
kerja, buku pedoman/juklak BK, buku informasi (pribadi-sosial-belajar-karir), modul
layanan peminatan, LKS BK.
d. Perlengkapan teknis lainnya, seperti : blangko surat, agenda surat, buku tamu,
alat-alat tulis, himpunan data, format-format layanan, dan sebagainya.
e. Perangkat Elektronik :
- Komputer untuk mengolah data hasil aplikasi instrumen
- Program khusus pengolahan hasil instrumen melalui komputer
- Program khusus BK melalui komputer/internet. Seperti ; bimbingan belajar,
informasi lanjutan studi, informasi lowongan kerja dan sebagainya.
3. Pembiayaan
A. Evaluasi
1. Tujuan Evaluasi
Dalam keseluruhan kegiatan layanan bimbingan dan konseling penilaian atau
evaluasi diperlukan untuk memperoleh umpan baik terhadap keefektifan layanan bimbingan
yang telah dilaksanakan. Dengan informasi dapat diketahui sampai sejauh mana derajat
keberhasilan kegiatan layanan bimbingan dan konseling. Berdasarkan informasi dapat
42
ditetapkan langkah tindak lanjut untuk memperbaiki dan mengembangkan program
selanjutnya.
2. Jenis Evaluasi
Ada tiga macam kegiatan penilaian program bimbingan konseling yaitu :
a. Penilaian Program
Setelah pelaksanaan Bimbingan dan Konseling dievaluasi, ternyata hasilnya tidak
sesuai dengan yang diharapkan dalam program, maka dianalisa atau dicari penyebab
ketidakberhasilan layanan atau kegiatan Bimbingan dan Konseling tersebut, dengan
melihat hasil penilaian program, apakah terdapat ketidaksesuaian dengan yang
dibutuhkan atau apakah prosesnya atau pelaksanaannya tidak sesuai dengan waktu,
suasana, tempat dan lingkungan.
b. Penilaian Proses
Yang dimaksud dengan penilaian proses adalah untuk mengetahui sampai sejauh
mana keefektifan layanan bimbingan konseling dilihat dari prosesnya.
Layanan bimbingan dan konseling perlu dinilai untuk mengetahui efektifitas layanan
dan dampak positif yang diperoleh siswa. Penilaian proses juga perlu dilaksanakan
yang hasilnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas proses layanan tersebut.
c. Penilaian Hasil
Penilaian hasil dimaksudkan untuk memperoleh informasi keefektifan layanan
konseling dilihat dari hasilnya.
Penilaian hasil layanan meliputi tiga jenis yaitu penilaian segera, jangka pendek, dan
jangka panjang yang masing-masing dapat dilaksanakan melalui format lisan dan
tertulis. Misalnya fokus penilaian segera hasil layanan adalah diperolehnya
pemahaman baru, berkembangnya perasaan positif dan rencana kegiatan yang akan
dilaksanakan pasca layanan demi terentasnya masalah.
5. Penilai
Di tingkat sekolah, dilakukan oleh Kepala Sekolah dibantu Guru senior. Penilai di
Tingkat kota dilakukan oleh : Pengawas BK atau pejabat yang berwenang yang ditunjuk
Dinas pendidikan.
6. Teknik Penilaian
Penilaian dilakukan melalui teknik : wawancara, observasi, studi dokumenter, angket, tes
analisa hasil kerja siswa. (melalui pemantauan dan/atau pengamatan)
Penilaian perlu diprogramkan secara sistematis dan terpadu. Kegiatan penilaian baik
mengenai proses maupun hasil perlu dianalisis untuk kemudian dijadikan dasar dalam
tindak lanjut untuk perbaikan dan pengembangan program layanan bimbingan konseling.
44
yang harus diketahui oleh Kepala Sekolah, Wali Kelas dan guru mata pelajaran pada
saat rapat rutin bulanan. Dan hasil analisa ini dituangkan dalam form Laporan Analisis
Hasil Evaluasi.
C. TINDAK LANJUT
Bila hasil evaluasi dari layanan Bimbingan dan Konseling tidak memberikan
peningkatan, maka sesuai dengan analisis akan diadakan perbaikan program dan
perbaikan proses untuk program di masa mendatang, yaitu program yang tidak perlu dicoret
dengan menggantinya dengan yang dibutuhkan sesuai dengan perkembangan siswa. Dan
mengenai pelaksanaannya akan sangat memperhatikan waktu, suasana, tempat dan
lingkungan dan kegiatan ini dituangkan dalam Tindak Lanjut Pelaksanaan Layanan
Bimbingan dan Konseling.
Dari hasil evaluasi Program Pelayanan Bimbingan dan Konseling tahun yang lalu
kiranya sebagai tindak lanjut kami mengembangkan beberapa hal sebagai berikut :
1. Guru BK/konselor bagi siswa diatur secara berkelanjutan dari mulai masuk hingga yang
bersangkutan menamatkan sekolah di SMA Negeri 1 Kramatwatu .
2. Pelayanan Bimbingan dan konseling secara klasikal diselenggarakan secara terjadwal
sekurang-kurangnya 1 jam setiap minggu setiap kelasnya sesuai dengan pegangannya
kelas masing-masing guru BK/konselor.
3. Guru BK/Konselor bertanggung jawab terhadap siswa bimbingannya perihal administrasi
layanan BK yang bersangkutan.
4. Pengembangan Diri siswa diselenggarakan melalui kerja sama guru BK/konselor dengan
Wakil Kepala Sekolah terutama bidang kurikulum dan kesiswaan yang programnya
disesuaikan dengan bakat, minat siswa yang diidentifikasi melalui angket peminatan
siswa dalam meilih arah peminatan studi, pendalaman mata pelajaran, dan peminatan
kegiatan pengembangan diri ekstrakurikuler (nonakademik).
5. Dalam rangka meningkatkan wawasan karir sekolah menjalin hubungan dengan dunia
industri dan dunia usaha dan wawasan lanjutan studi kami menjalin hubungan dengan
Lembaga Perguruan Tinggi Negeri dan swasta dengan harapan para siswa lebih
mendapatkan informasi yang aktual sekaligus dapat memotivasi dalam mencapai cita-
cita dan pilihan karirnya.
6. Penyelenggaraan psikotes dilakukan dengan menginformasikan terlebih dahulu kepada
orang tua dengan penjelasan oleh Kepala sekolah tentang pentingnya data psikotes
dalam pemilihan dan penetapan arah peminatan akademik melalui rapat pertemuan
orang tua siswa baru kelas XI dan pembiayaan psikotes dibebankan sepenuhnya kepada
orang tua siswa.
D. PENUTUP
Layanan bimbingan dan konseling yang efektif tidak mungkin terlaksana dengan
baik tanpa adanya kerja sama dengan berbagai pihak yang terkait, baik di dalam maupun di
luar sekolah.
Demikian program ini kami susun dan kami menyadari bahwa program ini masih
belum sempurna, namun tahap demi tahap kami bertekad untuk mengadakan evaluasi demi
tercapainya visi, misi, dan tujuan yang diharapkan.
Tidak lupa kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Kepala
Sekolah dan Pengawas Sekolah yang telah memberikan pengarahan demi perbaikan dan
keberhasilan layanan bimbingan dan konseling di SMA Negeri 1 Ciomas ini.
Semoga program kerja bimbingan dan konseling ini bermanfaat bagi semua yang
berkepentingan.
46