0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan40 halaman

Asuhan Keperawatan: Risiko Bunuh Diri

Laporan pendahuluan ini membahas konsep resiko bunuh diri, termasuk definisi, tanda dan gejala, tingkatan, klasifikasi, faktor predisposisi, dan rentang respon. Resiko bunuh diri merupakan kemungkinan seseorang untuk menyakiti diri sendiri yang dapat mengancam nyawa. Faktor-faktor seperti gangguan mental, riwayat keluarga, dan tekanan lingkungan dapat mempengaruhi resiko bunuh diri seseorang."

Diunggah oleh

Asri Kartika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
21 tayangan40 halaman

Asuhan Keperawatan: Risiko Bunuh Diri

Laporan pendahuluan ini membahas konsep resiko bunuh diri, termasuk definisi, tanda dan gejala, tingkatan, klasifikasi, faktor predisposisi, dan rentang respon. Resiko bunuh diri merupakan kemungkinan seseorang untuk menyakiti diri sendiri yang dapat mengancam nyawa. Faktor-faktor seperti gangguan mental, riwayat keluarga, dan tekanan lingkungan dapat mempengaruhi resiko bunuh diri seseorang."

Diunggah oleh

Asri Kartika
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN RESIKO BUNUH DIRI

Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas Stase Keperawatan Jiwa

Di susun oleh :

ASRI KARTIKA SUMIRAT

221FK04061

FAKULTAS KEPERAWATAN

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

UNIVERSITAS BHAKTI KENCANA BANDUNG


2022/2023

A. Konsep Resiko Bunuh Diri


1. Definisi
Bunuh diri adalah tindakan agresif yang merusak diri sendiri dan dapat
mengakhiri kehidupan. Perilaku bunuh diri yang tampak pada seseorang
disebabkan karena stress yang tinggi dan kegagalan mekanisme koping
yang digunakan dalam mengatasi masalah (Damayanti & Iskandar, 2014).
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko
untuk menyakiti diri sendiri untuk melakukan tindakan yang dapat
mengancam nyawa. Dalam sumber lain dikatakan bahwa bunuh diri
sebagai perilaku destruktif terhadap diri sendiri yang juka tidak dicegah
dapat mengarah kepada kematian. Perilkau destruktif diri yang mengcakup
setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu
menyadari hal ini sebagai sesuatu yang diinginkan (Damayanti &
Iskandar, 2014).
Bunuh diri adalah setiap aktivitas yang jika tidak dicegah dapat
mengarah pada kematian. Risiko bunuh diri adalah rentan terhadap
menyakiti diri sendiri dan cedera yang mengancam jiwa (keliat & dkk,
2015).
2. Tanda Dan Gejala
Menurut (Damayanti & Iskandar, 2014) tanda dan gejala dari resiko bunuh
diri adalah :
1) Subjektif
a Mempunyai ide untuk bunuh diri
b Mengungkapkan keinginan untuk mati
c Mengungkapkan rasa bersalah dan keputusasaan
d Pengangguran (tidak bekerja, kehilangan pekerjaan, atau
mengalami kegagalan dalam karier)
e Status perkawinan (mengalami kegagalan dalam perkawinan)
f Pekerjaan
g Latar belakang keluarga
2) Objrktif
a Implusif
b Menunjukkan perilaku yang mencurigakan (biasanya menjadi
sangat patuh)
c Memiliki riwayat percobaan bunuh diri
d Verbal terselubung ( berbicara tentang kematian, menanyakan
tentang obat dosis mematikan)
e Status ekonomi (harapan, penolakan, cemas meningkat, panik,
marah dan mengasingkan diri).
f Kesehatan mental (secara klinis, klien terlihat sebagai orang
yang depresi, psikosis dan menyalagunakan alkohol).
g Kesehatan fisik (biasanya pada klien dengan penyakit kronik
atau terminal)
h Umur 15-19 tahun atau diatas 45 tahun
i Konflik interperseonal
j Orientasi seksual
3. Tingkatan
a. Isyarat Bunuh Diri
Isyarat Bunuh Diri ditunjukkan dengan berperilaku secara
tidak langsung ingin Bunuh Diri, misalnya dengan mengatakan
“Tolong jaga anak-anak karena saya akan pergi jauh!” atau “segala
sesuatu akan lebih baik tanpa saya.” Pada kondisi ini Klien
mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya, tetapi
tidak disertai dengan ancaman dan percobaan Bunuh Diri. Klien
umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/
marah/ putus asa/ tidak berdaya. Klien juga mengungkapkan hal-
hal negatif tentang diri sendiri yang menggambarkan Risiko Bunuh
Diri.
b. Ancaman Bunuh Diri
Ancaman Bunuh Diri umunya diucapkan oleh Klien, yang
berisi keinginan untuk mati disertai dengan rencana untuk
mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk melaksanakan
rencana tersebut. Secara aktif Klien telah memikirkan rencana
Bunuh Diri, tetapi tidak disertai dengan percobaan Bunuh Diri.
Walaupun dalam kondisi ini klien belum pernah mencoba Bunuh
Diri, pengawasan ketat harus dilakukan. Kesempatan sedikit saja
dapat dimanfaatkan Klien untuk melaksanakan rencana Bunuh
Dirinya.
c. Percobaan Bunuh Diri
Percobaan Bunuh Diri adalah tindakan Klien mencederai atau
melukai diri untuk mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini,
Klien aktif mencoba Bunuh Diri dengan cara gantung diri, minum
racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan diri dari tempat yang
tinggi.
4. Klasifikasi

Menurut (Damayanti & Iskandar, 2014) bunuh diri di bagi menjadi tiga
jenis yaitu :
a. Bunuh diri egoistic (faktor dalam diri seseorang)
Individu tidak mampu berinteraksi dengan masyarakat, ini di
sebabkan oleh kondisi kebudayaan atau karena masyarakat yang
menjadi individu itu seolah-olah tidak berkepribadian. Kegagalan
integrasi dalam keluarga dapat menerangkan mengapa mereka tidak
menikah atau lebih rentan untuk melakukan percobaan bunuh diri
dibandingkan mereka yang menikah. Contohnya orang yang putus
cinta atau putus harapan kerap membuat seseorang mengakhiri
hidupnya.
b. Bunuh diri allturuistik (terkait kehormatan seseorang)
Individu terkait pada tuntutan tradisi khusus atau dia
cenderung untuk bunuh diri karena identifikasi terlalu kuat dengan
suatu kelompok. Ia merasa kelompok tersebut sangat
mengharapkannya contohnya konsep kehormatan dapat mendorong
seseorang untuk melakukan ritual bunuh diri jika mereka percaya
bahwa mereka telah membawa aib pada kelompok sosial utama
mereka.
c. Bunuh diri anomik (faktor lingkungan dan tekanan)
Hal ini terjadi bila terjadi bila terdapat gangguan
keseimbangan integratis antara individu dan masyarakat, sehingga
individu tersebut meningggalkan norma-norma kelakuan yang
biasa. Individu kehilangan pegangan dan tujuan. Masyarakat atau
kelompoknya tidak memberikan kepuasaan padanya karena tidak
ada pengaturan atau pengawasan terhadap kebutuhan-kebutuhannya
contohnya angka bunuh diri cenderung meningkat karna individu
gagal menghadapi perubahan yang cukup drastis yang menimpa
dirinya.

5. Rentang Respon
(Damayanti & Iskandar,2014)
Respon adaptif respon maladaptif

Peningkatan berisiko destruktif diri pencederaan


Bunuh diri
Diri destruktif tidak langsung diri

Perilaku bunuh diri menunjukkan kegagalan mekanisme koping.


Ancaman bunuh diri mungkin menunjukkan upaya terakhir untuk
mendapatkan pertolongan agar dapat mengatasi masalah. Bunuh diri
yang terjadi merupakan kegagalan koping dan mekanisme adaptif pada
diri seseorang.
a. Peningkatan diri. Seseorang dapat menungkatkan proteksi atau
pertahanan diri secara wajar terhadap situasional yang
membutuhkan pertahanan diri. Sebagai contoh seseorang
mempertahankan diri dari pendapatnya yang berbeda mengenai
loyalitas terhadap pimpinan ditempat kerja.
b. Berisiko destruktif. Seseorang memiliki kecendrungan atau berisiko
mengalami perilaku destruktif atau menyalahkan diri sendiri
terhadap situasi yang seharusnya dapat mempertahankan diri,
seperti seseorang merasa patahsemangat bekerja ketika dirinya
dianggap tidak loyal terhadap pimpinan padahal suda melakukan
pekerjaan secara optimal.
c. Destruktif diri tidak langsung. Seseorang telah mengambil sikap
yang kurang tepat (maladaptif) terhadap situasi yang membutuhkan
dirinya untuk mempertahankan diri. Misalnya, karena pandangan
pimpinan terhadap kerjanya yang tidak royal, maka seseorang
karyawan menjadi tidak masuk kantor atau bekerja seenaknya dan
tidak optimal.
d. Pencederaan diri. Seseorang melakukan percobaan bunuh diri atau
pencederaan diri akibat hilangnya harapan terhadap situasi yang
ada.
e. Bunuh diri. Seseorang telah melakukan kegiatan bunuh diri sampai
dengan nyawanya hilang.
6. Faktor Predisposisi
Faktor predisposisi resiko bunuh diri menurut Stuart & Sundeen dalam
Intan (2018) adalah sebagai berikut:
1) Teori genetic dan biologis
a. Genetik
Perilaku bunuh diri merupakan sesuatu yang diturunkan
dalam keluarga kembar monozigot memiliki resiko dalam
melakukan bunuh diri.
b. Riwayat keluarga
Riwayat keluarga yang pernah melakukan bunuh diri
merupakan faktor penting yang dapat menyebabkan seseorang
melakukan tindakan bunuh diri
c. Hubungan Neurokimia
Neurotransmiter adalah zat kimia dalam otak dari sel ke
saraf, peningkatan dan penurunan neurotransmitter
mengakibatkan perubahan perilaku. Yang dikaitkan dengan
perilaku bunuh diri adalah dopamine, neuroepineprin, asetilkoln,
dan asam amino.
d. Diagnosis Psikiatri

Lebih dari 90% orang dewasa yang mengakhiri hidupnya

dengan bunuh diri mengalami gangguan jiwa. Ada 4 gangguan


jiwa yang beresiko menimbulkan individu untuk bunuh diri adalah

gangguan mood, penyalahgunaan zat, skizofrenia, dan gangguan

kecemasan.

e. Faktor biokimia

Data menunjukkan bahwa klien dengan resiko bunuh diri

terjadi peningkatan zat-zat kimia yang terdapat dalam otak seperti

serotonin, adrenalin, dan dopamine. Peningkatan zat tersebut dapat

diliham melalui rekaman gelombang otak electro encephalo graph

(EEG).

2) Faktor Psikologis

a. Kebencian terhadap diri sendiri Bunuh diri merupakan hasil

dari bentuk penyerangan atau kemarahan terhadap orang lain

yang tidak diterima dan dimanifestasikan atau ditunjukkan

pada diri sendiri.

b. Sifat kepribadian, Tiga tipe kepribadiaan yang erat


hubungannya dengan besarnya resiko bunuh diri adalah
antipati, implusif, dan depresi.
c. Menyatakan bahwa depresi karena kehilangan sesuatu yang

dicintai, keputusasaan, kesepian, dan kehilangan harga diri.

3) Factor sosial budaya

a. Lingkungan psikososial

Faktor predisposisi terjadinya perilaku bunuh diri, antaranya


adalah pengalaman kehilangan, kehilangan dukungan sosial,
kejadian- kejadian negatif dalam hidup, penyakit kronis,
perpisahan, atau bahkan perceraian. Kekuatan dukungan
social sangan penting dalam menciptakan intervensi yang
terapeutik, dengan terlebih dahulu mengetahui penyebab
masalah, respon seseorang dalam menghadapi masalah
tersebut, dan lai-lain.

7. Faktor Presipitasi

1) Faktor Biologis

a. Adanya Riwayat infeksi, kelainan struktur dan penyakit kronis

Biasanyah berhubungan dengan keadaan tertentu seperti


penyakit kronis medis tertentu misalnya stroke, gangguan
kerusakan kognitif, DM, penyakit arteri koronaria, kanker, HIV.
Biasanyah klien dengan penyakit kronik atau penyakit yang
mengancam kehidupan dapat melakukan prilaku bunuhdiri dan
seringkali orang ini secara sadar meninta untuk melakukan
tindakan bunuhdiri.

2) Faktor Psikologis

Perasaan marah, bermusuhan,hukuman pada diri sendiri, dan


keputusasaan.

3) Faktor Sosial Budaya

Struktur sosial dari kehidupan bersosial dapat menolong atau


bahkan mendorong klien melakukan perilaku bunuh diri. Isolasi
sosial dapat menyebabkan kesepian dan meningkatkan
keinginan seseorang untuk melakukan bunuh diri. Seseorang
yang aktif dalam kegiatan masyarakat lebih mampu menoleransi
stress dan menurunkan angka bunuh diri. Aktif dalam kegiatan
keagamaan juga dapat mencegah seseorang melakukan tindakan
bunuh diri.

8. Mekanisme Koping

Seseorang klien mungkin memakai beberapa variasi mekanisme koping


yang berhubungan dengan perilaku bunuh diri. Termasuk

a. Denial

Penyangkalan dikenakan pada seseorang yang dengan kuat


menyangkal dan menolak serta tak mau melihat fakta- fakta
yang menyakitkan atau tak sejalan dengan keyakinan,
pengharapan, dan pandangan- pandangannya.

b. rasionalization,

Dalam psikologi dan logika, rasionalisasi adalah mekanisme


pertahanan yang dianggap sebagai perilaku yang kontroversial
atau perasaan yang dijelaskan secara rasional atau logis untuk
menghindari penjelasan yang benar

c. Regression

menghadapi stress dengan perilaku, perasaan dan cara berfikir


mundur kembali ke ciri tahap perkembangan sebelumnya.

d. magical thingking.

Kepercayaan atau keyakinan yang dimiliki individu yang berupa


kepercayaan yang menghubungkan suatu sebab akibat maupun
kolerasu yang terjadi antara dua peristiwa yang tidak berasarkan
logika maupun bukti dan berdaarkan pada kepercayaan terhadap
mitos ataupun takhayul
Mekanisme pertahanan diri yang ada seharusnya tidak ditentang
tanpa memberikan koping alternatif. (Damaiyanti & Iskandar,
2014)

9. Proses Terjadinya Masalah


Penjabaran Krisis Bunuh Tindakan
Motivasi Niat
gagasan Diri Bunuh Diri

Hidup atau Konsep - Jeritan Minta Tolon


mati Bunuh Diri - Catatan Bunuh Diri

Setiap upaya percobaan bunuh diri selalu diawali dengan


adanya motivasi untuk bunuh diri dengan berbagai alasan, berniat
melaksanakan bunuh diri, mengembangkan gagasan sampai
akhirnya melakukan bunuh diri. Oleh karena itu, adanya percobaan
bunuh diri merupakan masalah keperawatan yang harus
mendapatkan perhatian serius. Sekali pasien berhasil mencoba
bunuh diri, maka selesai riwayat pasien. Untuk itu, perlu
diperhatikan beberapa mitos (pendapat yang salah) tentang bunuh
diri. (Yusuf, Firyasari, & Nihayati, 2015).

B. Proses Keperawatan
1. Pengkajian
a. Data fokus
Format/data fokus pengkajian pada kliem dengan resiko bunuh diri
(Yusu,Firyasari & Nihayati, 2015)
1. Keluhan utama : keluhan yang muncul pada saat pengkajian
yang mengarah pada tanda-tanda resiko bunuh diri
2. Pengalaman masalalu yang tidak menyenangkan
a. Riwayat percobaan bunuh diri dan mutilasi diri
b. Riwayat keluarga terhadap bunuh diri
c. Riwayat gangguan mood, penyalahgunaan NAFZA dan
skizofrenia
d. Riwayat penyakit fisik yang kronik, nyeri kronik.
e. Klien yang memiliki riwayat gangguan kepribadian
boderline, paranoid, antisosial.
f. Klien yang sedang mengalami kehilangan dan proses
berduka
3. Konsep diri
Klien umumnya mengatakan hal yang negatif tentang dirinya,
yang menunjukkan harga diri rendah
4. Alam perasaan
a. Sedih
b. Putus asa
(klien umumnya merasakan kesedihan dan keputusasaan
yang sangat mendalam)
5. Interaksi selama wawancara
a. Tidak kooperatif
b. Defensive
c. Kontak mata kurang
d. Curiga
6. Afek
a. Datar
b. Tumpul
7. Mekanisme koping maladaptif
a. Mencederai diri
b. Menghindar
8. Masalah psikososial dan lingkungan
a. Masalah dengan dukungan keluarga
b. Masalah dengan perumahan

b. Analisis data
Data Fokus Etiologi Masalah Keperawatan

DS: Stres Resiko bunuh diri

- Klien sering ↓

mengancam untuk Isolasi sosial / HDR

bunuh diri ↓

- Euforia mendadak Respon protektif diri

setelah depresi ↓

- Klien mengatakan Koping maladaptif

kehadirannya tidak ↓

diinginkan Perilaku destruktif tidak

- Klien berbicara langsung

sesuatu tentang ↓

kematian
- DO Pencederaan diri

- Klien menarik diri ↓

- Klien mencari benda Isyarat bunuh diri

untuk mengakhiri ↓

hidupnya Ancaman bunuh diri

- Klien kehilangan ↓

sesuatu yang berharga Resiko bunuh diri

di hidupnya

DS: Harga diri rendah Resiko perilaku

- Klien sering ↓ kekerasan

mengamuk tanpa Perasaan tidak berguna

sebab atau merasa

- Klien pernah terintimidasi

mengalami gangguan ↓

jiwa di masa lalu dan Koping individu tidak

kambuh karena tidak efektif

minum obat ↓

- Klien pernah Perilaku destruktif diri

menyaksikan ↓

penganiayaan fisik Pencederaan diri


- Klien merasa tidak ↓

berharga bila telah Resiko perilaku

mendapatkan mencederai diri, orang

penolakan lain dan lingkungan

DO:

- Klien menyerang

orang lain

- Klien bersifat kasar

- Klien menatap dengan

tajam

- Tangan klien mengepal

- Klien sering

mengumpat dan

berbicara kasar

- Klien bicara cepat,

kasar, keras dan

mudah tersinggung

DS: Stressor Harga diri rendah

- Klien merasa tidak ↓


berharga bila telah Koping individu tidak

mendapatkan efektif

penolakan ↓

- Klien tidak menyukai Isolasi sosial

bentuk hidungnya ↓

- Klien tidak menyukai Harga diri rendah

pekerjaannya

- Klien tidak mengikuti

apapun di

lingkungannya

DO:

- Klien tampak menarik

diri

2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko bunuh diri

b Resiko perilaku kekerasan

c Harga diri rendah

3. Intervensi keperawatan
Resiko Bunuh diri
Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi
Pasien Setelah 1 x pertemuan, SP I
tetap pasien mampu : - Identifikasi benda-benda yang
aman dan - Mengidentifikas dapat membahayakan pasien
selamat i benda-benda - Amankan benda-benda yang
yang dapat dapat membahayakan pasien
membahayakan - Lakukan kontrak treatment
pasien - Ajarkan cara mengendalikan
- Mengendalikan dorongan bunuh diri
dorongan - Latih cara mengendalikan
bunuh diri dorongan bunuh diri
Setelah 1 x pertemuan, SP 2
pasien mampu : - Identifikasi aspek positif
Mengidentifikasi aspek pasien
positif dan mampu - Dorong pasien untuk berpikir
menghargai diri sebagai positif terhadap diri
individu yang berharga - Dorong pasien untuk
menghargai diri sebagai
individu yang berharga
Setelah 1 x pertemuan, SP 3
pasien mampu : - Identifikasi pola koping yang
Mengidentifikasi pola biasa diterapkan pasien
koping yang konstruktif - Nilai pola koping yang biasa
dan mampu dilakukan
menerapkannya - Identifikasi pola koping yang
konstruktif
- Dorong pasien memilih pola
koping yang konstruktif
- Anjurkan pasien menerapkan
pola koping yang konstruktif
dalam kegiatan harian
Setelah 1 x pertemuan, SP 4
pasien mampu : - Buat rencana masa depan
Membuat rencana yang realistis bersama pasien
masa depan yang - Identifikasi cara mencapai
realistis dan mampu rencana masa depan yang
melakukan kegiatan realistis
- Beri dorongan pasien
melakukan kegiatan dalam
rangka meraih masa depan
yang realistis
Keluarga Setelah 1 x pertemuan SP 1
mampu : keluarga mampu : - Diskusikan masalah yang
Merawat Merawat pasien dan dirasakan keluarga dalam
pasien mampu menjelaskan merawat pasien
dengan pengertian, tanda dan - Jelaskan pengertian, tanda
risiko gejala serta jenis dan gejala risiko bunuh diri
bunuh diri perilaku bunuh diri dan jenis perilaku bunuh diri
yang dialami pasien beserta
proses terjadinya
- Jelaskan cara-cara merawat
pasien risiko bunuh diri

Setelah 1 x pertemuan SP 2
keluarga mampu : - Latih keluarga
Merawat pasien dan mempraktekkan cara merawat
mampu melakukan pasien dengan risiko bunuh
langsung cara merawat diri
pasien - Latih keluarga melakukan cara
merawat langsung kepada
pasien risiko bunuh diri
Setelah 1 x pertemuan SP 3
keluarga mampu : - Bantu keluarga membuat
Membuat jadwal jadwal aktivitas di rumah
aktivitas di rumah dan termasuk minum obat
mampu melakukan - Jelaskan follow up pasien
follow up setelah pulang

RISIKO PERILAKU KEKERASAN

Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi


Pasien mampu : Setelah 1 x pertemuan, SP I
- Mengidentifikasi pasien mampu : - Identifikasi penyebab,
penyebab dan - Menyebutkan tanda dan gejala serta
tanda perilaku penyebab, akibat perilaku
kekerasan tanda, gejala kekerasan
- Menyebutkan dan akibat - Latih cara fisik 1 : Tarik
jenis perilaku perilaku nafas dalam
kekerasan yang kekerasan - Masukkan dalam
pernah - Memperagakan jadwal harian pasien
dilakukan cara fisik 1
- Menyebutkan untuk
akibat dari mengontrol
perilaku perilaku
kekerasan yang kekerasan
dilakukan Setelah 1 x pertemuan, SP 2
- Menyebutkan pasien mampu : - Evaluasi kegiatan yang
cara mengontrol - Menyebutkan lalu (SP1)
perilaku kegiatan yang - Latih cara fisik 2 :
kekerasan sudah Pukul kasur / bantal
- Mengontrol dilakukan - Masukkan dalam
perilaku - Memperagakan jadwal harian pasien
kekerasannya cara fisik untuk
dengan cara : mengontrol
- Fisik perilaku
- Sosial / kekerasan
verbal
- Spiritual Setelah 1 x pertemuan SP 3
- Terapi pasien mampu : - Evaluasi kegiatan yang
psikofarmaka - Menyebutkan lalu (SP1 dan 2)
(patah obat) kegiatan yang - Latih secara sosial /
sudah verbal
dilakukan - Menolak dengan baik
- Memperagakan - Meminta dengan baik
cara sosial / - Mengungkapkan
verbal untuk dengan baik
mengontrol - Masukkan dalam
perilaku jadwal harian pasien
kekerasan
Setelah 1 x SP 4
pertemuan, pasien - Evaluasi kegiatan yang
mampu : lalu (SP1,2&3)
- Menyebutkan - Latih secara spiritual:
kegiatan yang - Berdoa
sudah - Sholat
dilakukan - Masukkan dalam
- Memperagakan jadwal harian pasien
cara spiritual
Setelah 1 x pertemuan SP 5
pasien mampu : - Evaluasi kegiatan yang
- Menyebutkan lalu (SP1,2,3&4)
kegiatan yang - Latih patuh obat :
sudah - Minum obat secara
dilakukan teratur dengan
- Memperagakan prinsip 5 B
cara patuh - Susun jadwal
obat minum obat secara
teratur
- Masukkan dalam
jadwal harian pasien

Keluarga mampu : Setelah 1 x pertemuan SP 1


keluarga mampu - Identifikasi masalah
Merawat pasien di menjelaskan yang dirasakan
rumah penyebab, tanda dan keluarga dalam
gejala, akibat serta merawat pasien
mampu - Jelaskan tentang
memperagakan cara Perilaku Kekerasan :
merawat. - Penyebab
- Akibat
- Cara merawat
- Latih 2 cara merawat
- RTL keluarga / jadwal
untuk merawat pasien

Setelah 1 x pertemuan SP 2
keluarga mampu - Evaluasi SP 1
menyebutkan kegiatan - Latih (simulasi) 2 cara
yang sudah dilakukan lain untuk merawat
dan mampu merawat pasien
serta dapat membuat - Latih langsung ke
RTL pasien
- RTL keluarga / jadwal
keluarga untuk
merawat pasien

Setelah 1 x pertemuan SP 3
keluarga mampu - Evaluasi SP 1 dan 2
menyebutkan kegiatan - Latih langsung ke
yang sudah dilakukan pasien
dan mampu merawat - RTL keluarga / jadwal
serta dapat membuat keluarga untuk
RTL merawat pasien
Setelah 1 x pertemuan SP 4
keluarga mampu - Evaluasi SP 1,2 &3
melaksanakan Follow - Latih langsung ke
Up dan rujukan serta pasien
mampu menyebutkan - RTL Keluarga :
kegiatan yang sudah - Follow Up
dilakukan - Rujukan
HARGA DIRI RENDAH

Tujuan Kriteria Evaluasi Intervensi


Pasien mampu : Setelah 1 x pertemuan SP I
- Mengidentifikasi klien mampu : - Identifikasi
kemampuan - Mengidentifikasi kemampuan positif
dan aspek kemampuan yang dimiliki.
positif yang aspek positif - Diskusikan bahwa
dimiliki yang dimiliki pasien masih
- Menilai - Memiliki memiliki sejumlah
kemampuan kemampuan kemampuan dan
yang dapat yang dapat aspek positif
digunakan digunakan seperti kegiatan
- Menetapkan / - Memilih pasien di rumah
memilih kegiatan sesuai adanya keluarga
kegiatan yang kemampuan dan lingkungan
sesuai dengan - Melakukan terdekat pasien.
kemampuan kegiatan yang - Beri pujian yang
- Melatih sudah dipilih realistis dan
kegiatan yang - Merencanakan hindarkan setiap
sudah dipilih, kegiatan yang kali bertemu
sesuai sudah dilatih dengan pasien
kemampuan penilaian yang
- Merencanakan negatif.
kegiatan yang - Nilai kemampuan
sudah yang dapat dilakukan
dilatihnya. saat ini
- Diskusikan dengan
pasien
kemampuan yang
masih digunakan
saat ini
- Bantu pasien
menyebutkannya
dan memberi
penguatan
terhadap
kemampuan diri
yang diungkapkan
pasien
- Perlihatkan respon
yang kondusif dan
menjadi
pendengar yang
aktif
- Pilih kemampuan
yang akan dilatih
- Diskusikan dengan
pasien beberapa
aktivitas yang
dapat dilakukan
dan dipilih sebagai
kegiatan yang akan
pasien lakukan
sehari-hari.
- Bantu pasien
menetapkan
aktivitas mana
yang dapat pasien
lakukan secara
mandiri.
- Aktivitas yang
memerlukan
bantuan minimal
dari keluarga
- Aktivitas apa saja
yang perlu bantuan
penuh dari
keluarga atau
lingkungan
terdekat pasien.
- Beri contoh cara
pelaksanaan
aktivitas yang
dapat dilakukan
pasien
- Susun bersama
pasien aktivitas
atau kegiatan
sehari-hari pasien
- Nilai kemampuan
pertama yang telah
dipilih
- Diskusikan dengan
pasien untuk
- menetapkan
urutan kegiatan
(yang sudah dipilih
pasien) yang akan
dilatihkan.
- Bersama pasien
dan keluarga
memperagakan
beberapa kegiatan
yang akan
dilakukan pasien.
- Berikan dukungan
atau pujian yang
nyata sesuai
kemajuan yang
diperlihatkan
pasien.
- Masukkan dalam
jadwal kegiatan
pasien
- Beri kesempatan pada
pasien untuk
mencoba kegiatan.
- Beri pujian atas
aktivitas / kegiatan
yang dapat dilakukan
pasien setiap hari
- Tingkatkan kegiatan
sesuai dengan
toleransi dan
perubahan sikap
- Susun daftar aktivitas
yang sudah dilatihkan
bersama pasien dan
keluarga.
- Berikan kesempatan
mengungkapkan
perasaannya setelah
pelaksanaan kegiatan.
Yakinkan bahwa
keluarga mendukung
setiap aktivitas yang
dilakukan pasien
SP 2
- Evaluasi kegiatan yang
lalu (SP1)
- Pilih kemampuan
kedua yang dapat
dilakukan
- Latih kemampuan
yang dipilih
- Masukkan dalam
jadwal kegiatan
pasien
SP 3
- Evaluasi kegiatan yang
lalu (SP1 dan 2)
- Memilih kemampuan
ketiga yang dapat
dilakukan
- Masukkan dalam
jadwal kegiatan
pasien
Keluarga mampu : Setelah 1 x pertemuan SP 1
Merawat pasien keluarga mampu : - Identifikasi masalah
dengan harga diri - Mengidentifikasi yang dirasakan dalam
rendah di rumah dan kemampuan merawat pasien
menjadi sistem yang dimiliki - Jelaskan proses
pendukung yang efektif pasien terjadinya HDR
bagi pasien - Menyediakan - Jelaskan tentang cara
fasilitas untuk merawat pasien
pasien - Main peran dalam
melakukan merawat pasien HDR
kegiatan - Susun RTL keluarga /
- Mendorong jadwal keluarga untk
pasien merawat pasien
melakukan
kegiatan SP 2
- Memuji pasien - Evaluasi kemampuan
saat pasien SP 1
dapat - Latih keluarga
melakukan langsung ke pasien
kegiatan - Menyusun RTL
- Membantu keluarga / jadwal
melatih pasien keluarga untuk
- Membantu merawat pasien
menyusun SP 3
jadwal kegiatan - Evaluasi kemampuan
pasien keluarga
- Membantu - Evaluasi kemampuan
perkembangan pasien
pasien - RTL keluarga :
- Follow Up
- Rujukan
Diagnosa Keperawatan Tujuan Rencana tindakan Rasional
Resiko bunuh diri Setelah dilakukan tindakan Pencegahan bunuh diri Observasi
keperawatan selama 3x 24 Observasi 1. Agar kita
jam diharapkan control diri 1. Identifikasi mood (mis: mengetahui adakah
meningkat dengan kriteria tanda, gejala, Riwayat Riwayat penyakit
hasil : penyakit) yang menyeabkan
1. Verbalisasi ancaman 2. Identifikasi risiko klien menginginkan
kepada orang lain keselamatan diri atau untuk bunuh diri
menurun orang lain 2. Agar dapat
2. Verbalisasi umpatan 3. Monitor aktivitas dan melindungi klien
menurun tingkat stimulasi dan orang lain dari
3. Perilaku melukai diri lingkungan marabahaya
sendiri dan orang lain Terapeutik 3. Agar dapat
menurun 4. Fasilitasi pengisian memantau tingkah
4. Prilaku agresif amuk kuesioner self-report laku klien apakah
menurun (mis: beck depression ada yang
5. Berbicara ketus inventory, skala status membahayakan atau
menurun fungsional), jika perlu tidak
5. Berikan kesempatan
untuk menyampaikan
perasaan dengan cara Terapeutik
yang tepat (mis: 4. Untuk mengetahui
sandsack, terapi seni, tingkat depresi klien
aktivitas fisik) yang sebenarnya
Edukasi 5. Agar klien bisa
6. Jelaskan tentang merasa tenang, dan
gangguan mood dan tidsk menyalurkan
penanganannya perasaannya ke hal
7. Anjurkan berperan aktif yang negative
dalam pengobatan dan Edukasi
rehabilitasi, jika perlu 6. Agar klien dapat
8. Anjurkan rawat inap mengontrol mood
sesuai indikasi (mis: nya dengan baik
risiko keselamatan, 7. Agar emosi klien
deficit perawatan diri, dapat terkontrol
sosial) 8. Agar klien dapat
terawasi dengan
Kolaborasi baik
9. pemberian obat, jika
perlu
Kolaborasi
9. Agar klien bisa lebih
tenang
Resiko perilaku Setelah dilakukan tindakan Pencegahan prilaku kekerasan Observasi
kekerasan keperawatan selama 3x 24 Observasi 1. Agar tindak
jam diharapkan control diri 1. Monitor adanya benda membahayakan
meningkat dengan kriteria yang berpotensi klien dan orang lain
hasil : membahayakan (mis: 2. Agar klien tidak ada
6. Verbalisasi ancaman benda tajam, tali) kesempatan
kepada orang lain 2. Monitor keamanan barang menggunakan
menurun yang dibawa oleh barang berbahaya
7. Verbalisasi umpatan pengunjung apapun
menurun 3. Monitor selama 3. Agar klien tidak
8. Perilaku melukai diri penggunaan barang yang menggukannya
sendiri dan orang lain dapat membahayakan untuk menyakiti
menurun (mis: pisau cukur) dirinya dan orang
9. Prilaku agresif amuk Terapeutik lain
menurun 4. Pertahankan lingkungan Terapeutik
10. Berbicara ketus bebas dari bahaya secara 4. Agar klien slalu
menurun rutin aman
5. Libatkan keluarga dalam 5. Karena peran
perawatan keluarga sangat
Edukasi penting untuk
6. Anjurkan pengunjung dan kesembuhan klien
keluarga untuk Edukasi
mendukung keselamatan 6. Karena peran
pasien keluarga sangat
7. Latih cara penting untuk
mengungkapkan kesembuhan klien
perasaan secara asertif 7. Agar klien dapat
8. Latih mengurangi menyalurkan
kemarahan secara verbal perasaanya ke hal
dan nonverbal (mis: yang fositif
relaksasi, bercerita) 8. Agar klien dapat
mengontrol rasa
marahnya
Harga diri rendah Setalah dilakukan tindakana Promosi Harga Diri Observasi
situasional keperawatan 3x24 jam Tindakan : 1. Agar dapat
diharapkan terjadi mengetahui foktor
peningkatan terhadap Observasi : yang menyebabkan
perasaan poitif terhadap diri 1. Identifikasi budaya, harga diri
sendiri , dengan kriteria hasil agama, ras, jenis rendahnyah
: kelamin, dan usis 2. Agar mengetahui
1. Penilaian diri positif terhadap harga diri verbal klien yang
meningkat (5) 2. Monitor verbalisasi menunjukan
2. Perasaan memiliki yang merendahkan diri hargadiri klien
kelebihan atau sendiri 3. Agar mengetahui
kemampuan positif 3. Monitor tingkat harga tingkat hargadiri
meningkat (5) diri setiap waktu,sesuai klien
3. Penerimaan penilaian kebutuhan
Terapeutik
positif terhadap diri
Terapeutik : 4. Agar meningkatkan
sendiri menngkat (5)
4. Motivasi terlibat dalam hargadiri klien
4. Minat mencoba hal
verbalisasi untuk diri 5. Agar klien lebih
baru meningkat (5)
sendiri termotivasi unutuk
5. Berjalan
5. Motivasi menerima melakukan hal baru
menampakkan wajah
tantangan atau hal baru 6. Agar mengetahui
meningkat (5)
6. Diskusikan pernyataan persepsi klien
6. Postur tubuh
tentang harga
menampakkan wajah
meningkat (5) harga diri dirinyah
7. Konsentrasi 7. Diskusikan 7. Agar dapat
meningkat (5) pengalaman yang mengetahui hal yang
8. Tidur meningkat (5) meningkatkan harga meninkatkan harga
9. Perasaan malu diri dirinya
menurun (5) 8. Diskusikan alasan 8. Untuk mengetahui
10. Perasaan bersalah mengkritik diri atau alasan klien
menurun (5) rasa bersalah mengeritik dirinyah
11. Perasaan tidak 9. Diskusikan bersama 9. Karena peran
mampu melakukan keluarga untuk keluarga sangat
apapun menurun (5) menetapkan harapab penting untuk
dan batasan yang jelas kesemuhan klien
10. Berikan umpan balik 10. Agar klien leih
postif atas peningkatan termotivasi lagi
mencapai tujuan 11. Agar klien isa
11. Fasilitasi lingkungan menyalurkan
dan aktivitas yang hoinyah
meningkatkan harga
Edukasi
diri
12. Karena peran
Edukasi : keluarga sangat
12. Jelaskan kepada penting untuk
keluarga pentingnya kesemuhan klien
dukungan dalam 13. Agar dapat
perkembangan konsep meningkatkan
positif diri pasein konsentrasi klien
13. Anjurkan 14. Agar klien dapat
mempertahankan merubah daya
kontak mata saat pikirnyahdan
berkomunikasi dengn menjadi pribadi
orang lain lebih baik
14. Anjurkan membuka Agar klien bisa
diri terhadap kritik berpikir lebih positif
negative lagi
15. Latih cara berpikir dn
berperilaku postitif
4. Implementasi Keperawatan
Tindakan keperawatan harus menggambarkan tindakan keperawatan
yang mandiri, serta kerja sama dengan pasien, keluarga, kelompok, dan
kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa lain.
Sebelum tindakan keperawatan diimplementasikan perawat perlu
mempalidasi apakah rencana tindakan yang ditetapkan masih sesuai
dengan kondisi pasien saat ini (here and now)perawat juga oerlu
mengevaluasi diri sendiri apakah mempunyai kemampuan
interpesonal,intelektual,dan teknikal sesuai dengan tindakan yang akan
[Link] tidak ada hambatan lagi,maka tindakan keperawatan
bisa [Link] mulai untuk tindakan implementasi tindakan
keperawatan,perawat harus membuat kontrak dengan pasien yang
[Link] oenting untuk diperhatikan terkait dengan standar
tindakan yang telah ditentukan dan aspek legal yaitu mendokumentasikan
apa yang telah dilaksanakan.
DAFTAR PUSTAKA

Azizah, L. M.,& Zainuri, I. (2016). Buku Ajar Keperawatan Kesehatan


Jiwa. Teori dan Aplikasi Praktik. Yogyakarta: Indonesia Pustaka.

Damayanti, M., & Iskandar. (2014). Asuhan Keperawatan Jiwa. Bandung:


PT. Refika Aditama.

Keliat, B. A., & dkk. (2015). Diagnosis Keperawatan :Definisi dan


Klasifikasi. Jakarta: EGC.

Yosep, I., & Sutini, T. (2014). Buku Ajar Keperawatan Jiwa dan Advance
Mental Health Nursing. Bandung: PT Refika Aditama.

Yusuf, A.H., Firyasari, R., & Nihayati, H. (2015). Buku Ajar


Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Anda mungkin juga menyukai