100% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
1K tayangan7 halaman

Rencana Kontribusi Dokter Gigi Spesialis

Dokumen tersebut membahas rencana kontribusi penulis setelah menyelesaikan pendidikan spesialis bedah mulut di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman, Kalimantan Selatan. Penulis berencana menghidupkan kembali layanan bedah mulut di rumah sakit tersebut dengan memanfaatkan fasilitas yang ada seperti ruang operasi dan alat CT scan 3D, serta mengaktifkan kembali unit gigi bergerak untuk layanan masyarakat.

Diunggah oleh

derisa ari nugroho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
100% menganggap dokumen ini bermanfaat (4 suara)
1K tayangan7 halaman

Rencana Kontribusi Dokter Gigi Spesialis

Dokumen tersebut membahas rencana kontribusi penulis setelah menyelesaikan pendidikan spesialis bedah mulut di Rumah Sakit Gigi dan Mulut Gusti Hasan Aman, Kalimantan Selatan. Penulis berencana menghidupkan kembali layanan bedah mulut di rumah sakit tersebut dengan memanfaatkan fasilitas yang ada seperti ruang operasi dan alat CT scan 3D, serta mengaktifkan kembali unit gigi bergerak untuk layanan masyarakat.

Diunggah oleh

derisa ari nugroho
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Komitmen Kembali ke Indonesia

Saya yang lahir dan besar di bumi Lambung Mangkurat di Kota Banjarmasin pada Tahun
1989 dengan melihat punggung ayah yang merupakan seorang Dokter Pegawai Negeri Sipil (PNS)
dan berpindah-pindah dari satu kabupaten ke kabupaten lain di Kalimantan Selatan. Ayah saya
selalu menanamkan nilai integritas kepada anak-anaknya agar berkata, berpikir, berperilaku, dan
bertindak dengan baik dan benar. Beliau menunjukkan hal tersebut secara nyata kepada kami.
Beliau di usia yang saat ini sudah menginjak 70 tahun, sudah lewat 12 tahun masa purna bakti
beliau sebagai PNS, masih giat berpraktek sebagai dokter umum di Banjarmasin. Melayani
masyarakat di sebuah tempat yang jauh dari kampung halaman beliau di Klaten, Jawa Tengah.
Semua karena rasa cinta beliau pada Kalimantan Selatan, tanah tempat saya dilahirkan.

Sebelum mengikuti tes seleksi CPNS pada tahun 2019, kami diharuskan membaca dan
menandatangani selembar dokumen pernyataan tidak akan meminta pindah atau mengundurkan
diri selama 10 tahun setelah diangkat. Sehingga apabila LPDP mengamanahkan kepada saya
investasi dana pendidikan dengan syarat 2N+1, insyaallah hati ini tidak berat rasanya, karena sejak
awal tekad saya adalah berkontribusi membangun tempat kelahiran saya dengan profesi dan
profesionalisme yang saya miliki serta meningkatkannya sesuai dengan bidang ilmu spesialistik
yang menjadi passion saya yaitu menjadi dokter gigi spesialis bedah mulut yang insyaallah akan
saya baktikan di sini, sambil melayani masyarakat dan menjaga Ayah dan Ibu saya di sepanjang
usia mereka yang sudah senja. Bersama dengan istri saya yang juga merupakan seorang Dokter
PNS di Puskesmas Terminal Banjarmasin.

Rencana Pasca Studi dan Kontribusi bagi Negeri

Pada Tahun 2021 menurut data Persatuan Ahli Bedah Mulut dan Maksilofasial Indonesia
(PABMI) Pengurus Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah, dokter gigi spesialis bedah mulut di
Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah berjumlah 15 orang, dengan 10 orang yang berpraktik
di Kalimantan Selatan, dan hanya 6 orang saja yang berpaktik di Banjarmasin. Penduduk pada
tahun tersebut menurut Badan Pusat Statistik (BPS) berjumlah 4.200.000 jiwa sehingga rasio
dokter spesialis banding pasien di Kalimantan Selatan adalah 1:420.000. Sangat jauh dari rasio
ideal dokter spesialis berbanding jumlah penduduk menurut PERMENKUMHAM No. 34 Tahun
2016 yang seharusnya berada di angka 1:16.000.

Salah satu contoh dari kasus bedah mulut dan maksilofasial adalah trauma
dentomaksilofasial pada kecelakaan lalu lintas. Menurut Dinas Kesehatan pada tahun 2021
terdapat 7150 kasus kecelakaan lalu lintas, dan 38% dari kecelakaan lalu lintas melibatkan fraktur
maksilofasial atau sekitar 2717 pasien dalam satu tahun. Jumlah ini baru menunjukkan satu kasus,
belum kasus-kasus seperti kelainan maksilofasial seperti bibir sumbing dan celah lelangit yang
mengenai 2 dari 1000 anak lahir, sedangkan menurut Badan Pusat Statistik dalam buku “Provinsi
Kalimantan Selatan dalam angka tahun 2021” menyebutkan terdapat 70.521 kelahiran bayi di
Provinsi Kalimantan selatan. Sehingga estimasi data anak lahir dengan bibir dan atau lelangit
sumbing adalah 140 anak setiap tahun. Angka ini belum termasuk kasus rutin bedah mulut seperti
pencabutan gigi dengan penyulit atau operasi gigi bungsu. Data di atas menunjukkan urgensi untuk
menambah jumlah dokter gigi spesialis bedah mulut dan maksilofasial di Provinsi Kalimantan
Selatan.

Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM) Gusti Hasan Aman tempat saya mengabdi merupakan
satu-satunya Rumah Sakit Gigi dan Mulut di Pulau Kalimantan, pulau terbesar di Indonesia. Di
rumah sakit ini hanya ada satu orang dokter gigi spesialis bedah mulut, dan hanya berpraktik 3 hari
dalam satu minggu, selebihnya beliau berpraktik di rumah sakit lain. Menurut analisis kebutuhan
SDM dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Prov. Kalsel, setidaknya diperlukan 5 orang dokter
gigi spesialis bedah mulut untuk berpraktik di RSGM Gusti Hasan Aman agar masyarakat dapat
terlayani dengan baik terutama dalam hal kegawatdaruratan.

Hal pertama yang membuat saya menyadari bahwa RSGM Gusti Hasan Aman ini memiliki
potensi yang begitu besar untuk maju adalah dukungan yang besar dari pemerintah Provinsi
Kalimantan Selatan terkait sarana prasarana. RSGM memiliki ruang operasi mayor dengan alat
bahan medis yang lengkap. Namun ruang operasi tersebut tidak difungsikan karena RSGM tidak
memiliki dokter gigi spesialis bedah mulut yang stand by untuk menggawanginya dan menjadi
penanggungjawab ruang operasi mayor. RSGM juga memiliki High Care Unit (HCU) dengan alat
dan bahan yang lengkap namun belum difungsikan karena tidak ada suplai pasien dari ruang
operasi mayor yang belum difungsikan. Selain itu RSGM juga memiliki pesawat sinar-x Cone
Based Computed Tomographic 3D (CBCT 3D) yang akan sangat bermanfaat sekali sebagai
penunjang diagnostik bagi kasus-kasus bedah mulut mayor dan implantologi. Namun pesawat
ronsen ini tidak juga difungsikan karena ruang operasi belum berfungsi.

Sebenarnya banyak pasien yang mengalami kasus-kasus seperti kecelakaan lalu lintas
menyebabkan patah gigi, rahang, dan/atau tulang muka, tumor kanker rahang, pencabutan gigi
bungsu yang perlu pembiusan total, dan kasus lainnya yang seharusnya bisa diselesaikan di ruang
operasi mayor oleh dokter gigi spesialis bedah mulut namun akhirnya harus dirujuk lagi RSUD.
Hal ini menjadi ironi bagi sebuah rumah sakit gigi dan mulut, tapi harus merujuk kasus gigi dan
mulut. Hal ini juga mengakibatkan menurunnya survival rate dari pasien, meningkatnya
morbiditas atau kesakitan pasien, meningkatnya cost pasien, serta menurunnya citra rumah sakit.

RSGM Gusti Hasan Aman juga memiliki Mobile Dental Unit yaitu mobil ambulans yang
didalamnya dipasang kursi gigi yang dilengkapi dengan alat dan bahan kedokteran gigi termasuk
sarana penunjang seperti pesawat ronsen, sterilisator, genset, AC, dan televisi yang memungkinkan
terlaksananya pelayanan kedokteran gigi di luar rumah sakit. Namun Mobile Dental Unit sendiri
keadaannya kurang diperhatikan dan kurang difungsikan sehingga alat dan bahannya kurang
lengkap, terutama untuk tindakan bedah mulut minor seperti pencabutan gigi dengan penyullit,
operasi gigi bungsu (odontektomi), tongue tie, dan lain sebagainya. Mobile Dental Unit milik
RSGM sendiri warna catnya sudah pudar banyak kerusakan di sana-sini.

Menurut saya semua potensi yang dimiliki RSGM Gusti Hasan Aman di bidang bedah
mulut dapat dijadikan layanan unggulan rumah sakit, terlebih RSGM sudah menempati prioritas
pertama SKPD di Lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan yang akan dijadikan
BLUD dengan realisasi di kuartal pertama tahun 2023, serta telah diajukan untuk ditingkatkan
kelasnya menjadi Rumah Sakit Khusus Kelas A sehingga bisa menjadi rujukan tertinggi (top
referral). Rencana saya pasca studi adalah:

1. Dengan menjadi dokter gigi spesialis bedah mulut dan maksilofasial yang organik dari RSGM
Gusti Hasan Aman, saya akan menggawangi dan menghidupkan ruang operasi mayor juga HCU
agar pasien-pasien dengan kasus yang memerlukan tindakan bedah mayor di wilayah Kalimantan
Selatan dan Tengah bisa terlayani.
2. Saya akan memanfaatkan pesawat sinar-x CBCT 3D untuk kasus-kasus bedah mulut dan
maksilofasial yang saya tangani, dan akan mempromosikan alat tersebut pada sejawat dokter dan
dokter gigi spesialis di Kalselteng bahwa RSGM memiliki alat tersebut dan bisa digunakan
sehingga bisa meningkatkan utilitas dan revenue bagi rumah sakit.

3. Saya akan merintis Cleft and Maxillofacial Surgery Center atau pusat rujukan operasi bibir
sumbing dan celah lelangit serta bedah mulut dan maksilofasial bagi masyarakat di Kalimantan
Selatan dan Kalimantan Tengah dengan menghimpun sejawat bedah mulut lainnya di wilayah
tersebut.

4. Menjadi dokter spesialis bedah mulut berarti setara dengan dokter bedah dan dokter spesialis
lainnya di rumpun ilmu kedokteran, saya akan berusaha menghimpun sejawat yang terlibat dalam
penanganan kasus bibir sumbing dan lelangit, serta kasus bedah mulut dan maksilofasial lainnya
termasuk dokter spesialis anak, ortodonsia, prostodonsia, kedokteran fisik dan rehabilitasi, gizi
klinik, maupun dokter anestesi sembari menjadi operator di bidang ilmu spesialisasi yang menjadi
passion saya yaitu ilmu bedah mulut. Menghimpun sejawat dapat dilakukan saat pendidikan bedah
mulut sedang berlangsung karena pendidikan dilakukan di rumah sakit pendidikan yang
didalamnya terdapat berbagai disiplin ilmu dan spesialistik.

5. Saya akan mengaktifkan kembali Mobile Dental Unit dan melengkapi alat dan bahannya agar
bisa digunakan secara rutin terutama untuk menangani kasus bedah maksilofasial yang minor
seperti odontektomi, maupun kasus kelainan bawaan seperti lip tie dan tongue tie. Mengapa
kelainan bawaan, terutama pada bayi dan balita yang menjadi perhatian? Karena kasus kelainan
bawaan terutama pada masyarakat awam yang dibiarkan seringkali berakhir dengan malnutrisi
yang menyebabkan untuk bisa dilakukan tindakan bedah harus terlebih dahulu memperbaiki
keadaan umumnya, meningkatkan kesulitan perawatan dan memperkecil tingkat keberhasilan
pasca tindakan. Intervensi yang tepat sedini mungkin diperlukan agar kebutuhan ASI dan nutrisi
mereka bisa terpenuhi, sehingga tidak terjadi malnutrisi atau bahkan stunting. Salah satu wujud
kontribusi nyata dalam mempersiapkan generasi Indonesia Emas 2045.

Mobile Dental Unit ini juga berguna dalam case finding kasus mayor seperti bibir sumbing
dan celah lelangit, sehingga apabila tidak bisa dikerjakan di mobil, temuan kasus kelainan bawaan
sebagai indikasi bedah mulut dan maksilofasial mayor, akan diarahkan untuk dikerjakan di ruang
operasi RSGM Gusti Hasan Aman sebagai cleft and maxillofacial surgery center. Dan apabila
kasusnya di suatu daerah ditemukan cukup banyak, bisa diupayakan kegiatan bakti sosial yang
melibatkan berbagai stakeholder seperti RSUD Ulin, RSUD Ansari Saleh, Persatuan Ahli Bedah
Mulut dan Maksilofasial (PABMI) Kalselteng, TNI-Polri, dinas kesehatan, Pemprov Kalsel, PDGI
Cabang dan PDGI Wilayah, dan lainnya dengan RSGM Gusti Hasan Aman sebagai pemrakarsa
utamanya dengan pendekatan interdisipliner.

6. Saya akan dengan aktif mensosialisasikan kepada masyarakat bahwa di daerah kebanggaan
mereka ada sebuah cleft and maxillofacial surgery center di RSGM Gusti Hasan Aman yang
membaktikan diri demi kemanusiaan melalui bagian promosi kesehatan Rumah Sakit baik via
media cetak maupun media elektronik, membuat berbagai seminar untuk masyarakat awam
maupun tenaga medis dan/atau tenaga kesehatan, serta aktif mensosialisasikan kepada fasilitas
pelayanan kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas, klinik pratama, bekerjasama dengan
rumah sakit lainnya yang belum memiliki fasilitas, SDM dan kewenangan untuk menangani kasus
cleft dan bedah maksilofasial baik di dalam maupun di luar kota hingga luar provinsi agar dapat
memanfaatkan pusat rujukan Cleft and Maxilofacial Surgery Center di RSGM Gusti Hasan Aman.

7. Untuk menjangkau dan mengedukasi masyarakat di daerah yang tidak terjangkau atau jauh dari
pelayanan kesehatan seperti masyarakat di daerah pegunungan meratus, Mobile Dental Unit akan
digunakan sebagai “RSGM keliling” atau bahkan “Maxillofacial Center” keliling.

Rencana pasca studi ini tersusun beranjak dari mimpi agar semua orang di Indonesia,
terutama di Kalimantan Selatan bisa tersenyum dengan sehat. Dan senyuman yang sehat
dimungkinkan apabila masalah gigi dan mulut pada daerah tersebut dapat diatasi dengan
bertambahnya seorang ahli bedah mulut dan maksilofasial di Kalimantan Selatan dengan
dukungan LPDP. Adapun rencana pasca studi ini telah saya diskusikan dengan direktur RSGM
Gusti Hasan Aman dan segaris dengan peta jalan dari instansi.

Mengapa memilih Universitas Indonesia Sebagai Prioritas Utama?

Mengapa saya memilih Universitas Indonesia sebagai pilihan pertama? Universitas


Indonesia pada bulan Juli 2022 menempati peringkat pertama versi Webometrics berdasarkan
indikator visibility, transparency, dan excellence. Webometrics melakukan penilaian berdasarkan
aspek kehadiran dan visibilitas web sebagai indikator kinerja global sebuah universitas. Indikator-
indikator tersebut memperhitungkan komitmen dalam mengajar, berbagai hasil penelitian, the
perceived international prestige, hubungan dengan komunitas termasuk sektor industri dan
ekonomi dari universitas. Sehingga harapan saya, proses transfer ilmu dapat berlangsung dengan
lebih optimal berkat dukungan aksesibilitas bahan belajar.

Selain bahan belajar yang aksesibel, Dosen-dosen Bedah Mulut dan Maksilofasial UI
memiliki bidang keilmuan dan riset-riset yang sangat mendukung untuk mewujudkan mimpi-
mimpi dalam rencana pasca studi saya. Seperti Prof. Dr. drg. Benny Sjarief Sjah Latief, [Link]
(K) yang riset beliau berfokus kepada analisis morfologis dan sefalometris dari pasien cleft yang
dioperasi dan tidak dioperasi maupun di bidang material seperti pembuatan organ buatan dengan
bahan Polieter Eter Keton (PEEK) untuk optimalisasi rekonstruksi tumor ameloblastoma. Dengan
ekspertis beliau dan dengan menjadikan beliau sebagai mentor, bisa membantu untuk
mengembangan RSGM tempat saya mengabdi saat ini untuk kepentingan masyarakat.

Kurikulum pendidikan bedah mulut dan maksilofasial dari FKG UI menyisipkan banyak
dosen tamu dari luar negeri baik itu dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, negara
di Asia Timur seperti Jepang dan Korea, maupun dosen tamu dari Eropa dan Amerika, sehingga
residen bedah mulut di UI terkenal memiliki wawasan keilmuan yang luas, juga kemampuan untuk
berbicara menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar ilmu pengetahuan di seluruh
dunia dengan baik.

Bedah mulut dan maksilofasial Universitas Indonesia sendiri juga memiliki satu stase luar
negeri yaitu stase Universitas Kagoshima Jepang, di mana semua residen bedah mulut dan
maksilofasial akan diberangkatkan untuk mengikuti kuliah-kuliah pakar, diskusi, melihat langsung
tindakan-tindakan operasi dari dokter gigi spesialis bedah mulut di Universitas Kagosima. Adanya
stase ini akan sangat memperkaya wawasan mengenai bedah mulut dalam skala global, bukan
hanya skala nasional. Wawasan-wawasan ini yang insyaallah nantinya akan membantu saya
mengabdikan diri dengan segala potensi dan ilmu yang saya dapatkan di Program Pendidikan
Dokter Gigi Spesialis Bedah Mulut dan Maksilofasial dengan dukungan dari LPDP, dengan izin
Allah Subhanahu Wata’ala.

Anda mungkin juga menyukai