Estimator Fourier untuk Kriminalitas Pamekasan
Estimator Fourier untuk Kriminalitas Pamekasan
Oleh:
Rini Kustianingsih
2014.01.01.0.0003
HALAMAN JUDUL
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM MADURA
PAMEKASAN
2018
i
LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL SKRIPSI
RINI KUSTIANINGSIH
2014.01.01.0.0003
Susunan
PEMBIMBING
Pembimbing I Pembimbing II
Mengetahui,
Kaprodi Si Jurusan Matematika
FMIPA UIM
FAISOL, [Link]
ii
NIDN. 07010486
KATA PENGANTAR
Bismillahirrohmanirrohim
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan
karunia-Nya sehingga dapat terselesaikannya Proposal Skripsi dengan judul
“Estimator Deret Fourier dalam Regresi Semiparametrik untuk Angka
Kriminalitas di Pamekasan”. Sholawat beserta salam semoga senantiasa tetap
mengalir deras kepadanya, Baginda Muhammad SAW beserta kepada para
sahabat dan seluruh pengikut Beliau yang insyaAllah tetap istiqomah hingga akhir
zaman, Amin.
iii
6. Bapak Seluruh Dosen FMIPA, terimakasih atas segala pengetahuan yang
telah diberikan, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat, yang berguna.
Semoga Allah menjadikan ilmu yang engkau berikan menjadi amal di
akhirat.
7. Untuk Mas Faris, terimakasih atas dukungan, inspirasi serta semangat
yang selalu kau berikan untuk adek selama ini.
8. My dear fellow, terimakasih untuk kalian yang selalu mendukung dan
terimakasih atas kebersamaan ini.
Penulis
iv
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL...............................................................................................i
LEMBAR PENGESAHAN...................................................................................ii
KATA PENGANTAR..........................................................................................iii
DAFTAR ISI...........................................................................................................v
DAFTAR TABEL................................................................................................vii
DAFTAR GAMBAR..........................................................................................viii
DAFTAR SIMBOL...............................................................................................ix
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................1
2.9.1 Tranpose...........................................................................................12
v
2.9.2 Invers Matriks..................................................................................15
2.9.3 Trace.................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................26
vi
vii
DAFTAR TABEL
viii
ix
DAFTAR GAMBAR
x
DAFTAR SIMBOL
yi : Respon ke – i
ti : Prediktor ke – i
f ( zi ) : Kurva regresi
2
σ : Varian
hingga derajat k
K : Parameter osilasi
n : Jumlah data
I : Matriks identitas
A [K ] : Matriks hat
xi
BAB I
PENDAHULUAN
1
2
47,71 persen. Persentase tersebut terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun
tergeser oleh sektor perdagangan dan jasa-jasa (Badan Pusat Statistik, 2017). Dari
hasil mata pencaharian tersebut terkadang tidak bisa memenuhi kebutuhan
ekonomi mereka, sehingga seringkali masyarakat cenderung melakukan tindakan
yang melanggar hukum, seperti: perampokan, pencurian, judi, penggunaan obat
terlarang, minum keras, dan lain- lain. Kasus kriminalitas menjadi berita hangat
yang dibicarakan dalam media elektronik ataupun di surat kabar. Jumlah kasus
kriminalitas yang terjadi disetiap wilayah rata-rata hampir sama tindak
kejahatannya. Jawa Timur merupakan salah satu provinsi dengan tingkat
kriminalitas yang tinggi di Indonessia. Jumlah kasus kriminalitas yang dilaporkan
(crime total) di Jawa Timur pada tahun 2013 adalah sebesar 34.260 kasus. Jumlah
ini mengalami peningkatan 5,67% dibandingkan dengan tahun 2012 (Badan Pusat
Statistik, 2014). Berdasarkan data tersebut Pamekasan juga termasuk di dalamnya
yang berisiko melakukan tindak kriminalitas. Risiko ini dapat dinyatakan dengan
sebuah pengukuran yang disebut tingkat kriminalitas (crime rate). Tingkat
kriminalitas merupakan angka yang menunjukkan resiko penduduk menjadi
korban tindak kriminalitas per 100.000 penduduk (Badan Puasat Statistik, 2013).
Tingginya tingkat kriminalitas di suatu wilayah sering kali dihubungkan dengan
faktor-faktor ekonomi, sosial dan demografi dimasyarakat (Badan Puasat Statistik,
2011). Selama periode tahun 2012, berdasarkan catatan Polres di 37 Kabupaten
atau Kota se-Jawa Timur jumlah tindak kejahatan mengalami fluktuasi yang
terbagi menjadi tiga jenis tindak kejahatan diantaranya adalah yang pertama,
tindak kejahatan terhadap fisik manusia meliputi pembunuhan, pemerkosaan,
penganiayaan ringan, penganiayaan berat, penculikan, dan KDRT. Kedua, tindak
kejahatan terhadap hak milik yang meliputi kebakaran, pencurian dengan
pemberatan, pencurian dengan kekerasan, pencurian kendaraan bermotor,
pencurian kawat telepon, pencurian kayu jati, dan pencurian hewan. Ketiga,
tindak kejahatan jenis lainnya yang meliputi narkotika, uang palsu, dan lainnya.
Berdasarkan tingkat Kabupaten di Madura, dari tiga jenis tindak kejahatan
tersebut rasio kejadian tidak kejahatan terhadap fisik, Pamekasan menempati
urutan ke-2, tindak kejahatan terhadap hak milik no urut ke-3, dan tindak
kejahatan jenis lainnya Pamekasan menempati no urut ke-1. Selain dari tiga jenis
3
Analisis regresi merupakan salah satu analisis statistik yang digunakan untuk
menyelidiki pola hubungan fungsional antara satu atau lebih variabel. Ada tiga
pendekatan analisis regresi untuk memperkirakan kurva regresi, yaitu pendekatan
regresi parametrik, regresi nonparametrik, dan regresi semiparametrik (Asrini dan
Budiantara, 2014). Dalam pendekatan regresi parametrik, ada asumsi yang sangat
kuat dan kaku yaitu bentuk kurva regresi yang diketahui, misalnya linier, kuadrat,
kubik, polinomial pangkat p, eksponen, dan lain-lain. pada regresi nonparametrik,
bentuk regresi kurva diasumsikan tidak diketahui dan terkandung dalam ruang
fungsi tertentu. Asumsi ini bergantung pada kelancaran properti yang dimiliki
oleh fungsi pola yang tidak diketahui (Budiantara, 2005). Regresi semiparametrik
muncul karena adanya kasus-kasus pemodelan dimana hubungan antar
variabelnya sebagian berpola linier, dan sebagian lainnya tidak diketahui bentuk
polanya (Salam, 2013).
4
TINJAUAN PUSTAKA
Pada dasarnya setiap individu akan dipengaruhi oleh beberapa faktor baik
intern maupun ekstern yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan
kriminal. Tingginya tingkat kriminalitas di suatu wilayah sering kali dihubungkan
dengan faktor-faktor ekonomi, sosial dan demografi dimasyarakat, diantaranya:
6
7
a. Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk
memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan, pakaian, tempat berlindung,
pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan juga terjadi di Indonesia, pada
bulan september 2016 jumlah penduduk miskin (penduduk dengan
pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan) mencapai
27,76 juta orang (10,70 persen) (Badan Pusat Statistik, 2017).
b. Jumlah Penduduk
Jumlah penduduk Jawa Timur dari hasil proyeksi yaitu sebesar 39.075.152
jiwa pada tahun 2016 atau naik sebesar 0,59 % dibandingkan tahun 2015
sebesar 38.847.561. Provinsi Jawa Timur merupakan jumlah penduduk
terbesar ke 2 di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2017)
c. Pengangguran
Jumlah pengangguran biasanya dipengaruhi oleh pertambahan jumlah
penduduk serta tidak didukung oleh tersedianya lapangan kerja baru.
Pengangguran juga terjadi di berbagai wilayah termasuk di Pamekasan.
Pada tahun 2015 jumlah penduduk yang menganggur di Pamekasan
sebanyak 18.948 jiwa. Tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2015
sebesar 4,26 %, dimana angka tersebut mengalami kenaikan dari tahun
sebelumnya sebesar 2,12 % (Badan Pusat Statistik, 2016)
derajat k
Jika f (t) fungsi genap, atau jika f (−t )=f ( t ) , maka koefisien Fourier b n=0.
Dengan demikian deret Fouriernya disebut deret cosinus Fourier. Jika f (t) dapat
diintegralkan pada interval [0 , L], maka deret cosinus Fouriernya sebagai berikut
a0 ∞
f ( t )= + ∑ a cos k ¿ t (2.5)
2 n=1 n
¿ nπ
dimana k ≈ :n=1 , 2 ,3 , … adapun koefisien Fourier ditentukan oleh formula
L
berikut
L
2
a 0=
L0
∫ f ( t ) dt
L
2
a n= ∫ f ( t ) cos k t dt
¿
L 0
11
( )
P K
α0 p
y i=β 0 + β 1 x i 1 +…+ β p xip + ∑ + γ p t ip + ∑ αk p cos k t ip + ε i (2.6)
p=1 2 k=1
(
α^ 0 p
)
P K
^y i= β 0 + β 1 x i 1 +…+ β p xip + ∑
^ ^ ^ + γ^ p t ip + ∑ α^ k p cos k t ip (2.7)
p=1 2 k=1
Untuk memperoleh model yang baik harus memperhatikan beberapa hal yaitu
nilai R2, GCV dan nilai MSE. Model yang baik adalah model yang dapat
meminimumkan GCV, menjelaskan variabilitas dari variabel respon dengan baik (
2
R tinggi) dan nilai MSE nya rendah.
optimal akan menghasilkan nilai yang tinggi. Nilai GCV dinyatakan dalam
persamaan berikut (Yani, et al., 2017):
MSE (K )
GCV ( K )= −1
(n trace(I − A [K ]))2
(2.9)
dengan,
K : Parameter osilasi
n : Jumlah data,
I : Matriks identitas,
A [K ] : Matriks hat
Koefisien Determinasi ( R2)
Salah satu kriteria yang digunakan dalam pemilihan model terbaik adalah
dengan menggunakan koefisien determinasi R2. Koefisien determinasi ( R2)
adalah besaran yang menggambarkan besarnya persentase variasi dalam
variabel respon yang dijelaskan oleh variabel prediktor (Nisa, 2017).
Diberikan rumus koefisien determinasi sebagai berikut:
( ^y − y )T (^y − y)
R 2= (2.10)
( y− y )T ( y− y )
dimana y merupakan vektor yang memuat rata-rata data respon. Model yang
baik dapat diukur dari nilai R2 yang besar (Mardianto, [Link]., 2017)
Tujuan utama dari metode ini adalah mengestimasi koefisien regresi untuk
meminimumkan jumlah kuadrat error (Irwan, 2015). Penaksir OLS diperoleh
dengan meminimumkan jumlah kuadrat error yaitu:
2.9.1 Tranpose
Jika A dilambangkan dengan A=( aij ) kemudian A' didefinisikan sebagai
' '
A =( aij ) =( a ji ) (2.12)
Notasi ini menunjukkan bahwa elemen dari barisidan kolom j dari A menjadi
baris j dan kolom i dari A' . Jika matrik A adalah n × p , maka A' adalah p ×n. Jika
sebuah matriks ditranpose dua kali, maka hasilnya matriks itu sendiri.
Teorema 2.9.1a
Jika A adalah semua matriks, maka
'
( A' ) = A (2.13)
Bukti
' ' '
Dari (2.12), A =( aij ) =( a ji ). Maka ( A' ) =( a ji )' =( aij )= A .
Adapun beberapa sifat transpose matriks:
Bukti:
[ ][ ]
a 11 a12 … a1 n b11 b 12 … b1 n
a21 a22 … a2 n b 21 b 22 … b2 n
¿ +
⋮ ⋮ ⋱ ⋮ ⋮ ⋮ ⋱ ⋮
am 1 a m 2 … amn bm 1 bm 2 … b mn
14
[ ]
a11 + b11 a12 +b12 … a1 n +b1 n
a21+ b21 a22 +b22 … a2 n +b2 n
¿
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
am 1+ bm 1 am 2 +bm 2 … amn +b mn
[ ]
a11 + b11 a21+ b21 … a m 1+ bm 1
a12+ b12 a22+ b22 … a m 2+ bm 2
¿
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
a1 n+ b1 n a 2 n+ b2 n … a mn+ bmn
[ ][ ]
a11 a 12 … a1 n a 11 a21 … am 1
a21 a 22 … a2 n a21 a22 … am 2
→
⋮ ⋮ ⋱ ⋮ ⋮ ⋮ ⋱ ⋮
am 1 am 2 … amn a1 n a 2n … a mn
[ ][ ]
b11 b 12 … b1 n b11 b21 … bm 1
b 21 b 22 … b2 n b21 b22 … bm 2
→
⋮ ⋮ ⋱ ⋮ ⋮ ⋮ ⋱ ⋮
bm 1 bm 2 … b mn b 1 n b2 n … b mn
Terbukti bahwa sifat matriks transpose berlaku pada( A+ B)'= A ' + B ' dengan
syarat A , B berordo sama (m ×n).
Bukti:
[ ][ ]
a 11 a12 … a1 n k . a11 k . a12 … k . a1 n
a 21 a22 … a2 n k . a21 k . a22 … k . a2 n
¿k =
⋮ ⋮ ⋱ ⋮ ⋮ ⋮ ⋱ ⋮
am 1 a m 2 … a mn k . a m 1 k . am 2 … k .a mn
[ ]
k . a11 k . a21 … k . a m 1
k . a12 k . a22 … k . a m 2
¿
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
k . a 1n k . a2 n … k . amn
[ ]
a 11 a21 … am 1
a12 a22 … am 2
¿k
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
a1 n a 2n … a mn
15
Bukti:
[ ][ ]
a 11 a12 … a1 n b11 b 12 … b1 n
a21 a22 … a2 n b21 b 22 … b2 n
¿ ∙
⋮ ⋮ ⋱ ⋮ ⋮ ⋮ ⋱ ⋮
am 1 a m 2 … amn b m1 bm 2 … b mn
[ ]
a11 b11 + a12 b 21+ a1 n b m 1 a 11 b12+ a12 b 22+ a1 n b m 2 … a 11 b1 n+ a12 b2 n+ a1 n bmn
a 21 b11 + a22 b 21+ a2 n bm 1 a21 b12+ a22 b22+ a2 n bm 2 … a21 b1 n +a22 b2 n +a2 n bmn
¿
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
am 1 b 11 +a m 2 b 21+a mn b m 1 a m 1 b12 +a m 2 b 22+a mn b m 2 … a m 1 b1 n +a m 2 b 2 n+ amn bmn
[ ]
a 11 b11 + a12 b 21+a 1n b m 1 a21 b 11 +a 22 b21 +a2 n bm 1 … a m 1 b 11 +a m 2 b 21+a mn b m 1
a11 b 12+ a12 b 22+ a1 n b m 2 a21 b 12+a 22 b22 +a 2n b m 2 … a m 1 b12 +a m 2 b 22+ amn b m 2
¿
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
a11 b1 n +a12 b2 n +a1 n bmn a21 b1 n+ a22 b2 n+ a2 n bmn … am 1 b 1 n+ am 2 b2 n +a mn b mn
[ ]
b 11 a11 +b 21 a 12+b m 1 a 1n b11 a21 +b 21 a22 +bm 1 a2 n … b 11 am 1 +b21 am 2 +b m 1 a mn
b12 a11 + b22 a 12+b m 2 a1 n b 12 a 21+b 22 a22 +b m 2 a 2n … b12 am 1 +b 22 am 2 +b m 2 amn
¿
⋮ ⋮ ⋱ ⋮
b 1 n a 11 +b2 n a12 +bmn a1 n b1 n a21+ b2 n a22+ bmn a2 n … b 1 n a m 1+ b2 n am 2 +bmn a mn
[ ][ ]
b 11 b21 … bm 1 a11 a21 … am 1
b12 b22 … bm 2 a 12 a22 … am 2
¿ ∙
⋮ ⋮ ⋱ ⋮ ⋮ ⋮ ⋱ ⋮
b 1 n b2 n … b mn a1 n a 2 n … amn
Terbukti transpose matriks ( AB )' =B ' A' , dengan syarat A , B berordo sama
(m ×n)
−1 −1
AA = A A=I (2.14)
16
jika A persegi dan kurang dari pangkat penuh, maka tidak memiliki invers dan
dikatakan tunggal (singular). Perhatikan matriks persegi panjang pangkat penuh
tidak memiliki invers pada (2.14) dari definisi (2.14), jelas bahwa A adalah invers
dari A−1;
−1
( A−1 ) = A (2.15)
Teorema 2.9.2a
Jika A adalah nonsingular, maka A' adalah nonsingular dan invers dapat
diperoleh sebagai berikut:
−1 '
( A' ) =( A−1 ) (2.16)
Teorema 2.9.2b
Jika A dan B adalah matriks nonsingular dengan ukuran yang sama, maka AB
adalah matriks nonsingular.
( AB )−1=B−1 A−1 (2.17)
Ada pengecualian untuk invers pada beberapa matrik spesial , jika A simetri
dan nonsingular dan dipartisi sebagai berikut:
A=
( A 11 A 12
A 21 A 22 )
dan jika B= A 22 −¿
A21 A 11−1 A 12, , ¿ maka dengan syarat A11−1 dan B−1 ada. Invers dari A
diberikan oleh:
( )
−1 −1 −1 −1 −1 −1
A 11 + A 11 A 12 B A 21 A11 − A11 A12 B
A−1= −1 −1 −1 (2.18)
−B A21 A 11 B
A=
( A 11 a12
a 21 a22 )
dimana A adalah persegi a 22 adalah matriks 1 ×1 dan a 12adalah vektor maka jika
−1
A12 ada, A−1 dapat dinyatakan sebagai berikut:
17
( )
−1 −1 ' −1 −1
1 b A 11 + A11 a 12 a12 A 11 − A 11 a12
A−1= (2.19)
b '
−a12 A11
−1
1
( ) ( )
−1
A 11 O −1 A 11 O
= −1 (2.20)
O A 22 O A 22
Jika matriks persegi dari bentuk B+c c ' adalah nonsingular, dimana c adalah
vektor dan B adalah matriks nonsingular, maka:
−1 ' −1
( B+c c ' ) =B−1− B c' c −1
B
−1
(2.21)
1+ c B c
−1
( A+ PBQ )−1= A−1− A−1 PB ( B+ BQA−1 PB ) BQA−1 (2.22)
2.9.3 Trace
Trace dari n × n matrik A=( aij ) adalah fungsi skalar yang didefinisikan
n
sebagai jumlah elemen diagonal dari A ; dimana tr ( A )=∑ a ii.
i=1
Teorema 2.9.3a
i. Jika A dan B adalah n × n, maka:
tr ( A ± B )=tr ( A ) ± tr ( B ) (2.23)
tr ( AB )=tr ( BA ) (2.24)
Catatan dari (2.24) n bisa kurang dari, sama dengan atau lebih dari p
v. Jika A=( aij ) adalah n × p matriks dengan elemen representatif a ij, maka:
n p
tr ( A ' A ) =tr ( A A' ) =∑ ∑ a 2ij (2.27)
i=1 j=1
()
∂u
∂ x1
∂u
∂u
= ∂ x2 (2.31)
∂x
⋮
∂u
∂xp
Dua fungsi khusus adalah u=a' x =x' a, dan u=x' Ax . Turunan ini
berhubungan dengan x , diberikan dalam dua terorema berikut.
Teorema 2.9.4a
'
Misalkan u=a' x =x' a dimana a =( a1 , a2 , … , a p ) adalah vector konsanta. Maka:
∂ u ∂ (a x ) ∂( x a)
' '
= = =a (2.32)
∂x ∂x ∂x
Bukti:
19
∂u ∂ ( a1 x 1+ a2 x 2 +…+ a p x p )
= =ai
∂ xi ∂ xi
()
a1
∂u a2
= =a
∂x ⋮
ap
Teorema 2.9.4b
Misalkan u=( x ' Ax ), dimana A adalah matriks simetris dari konstanta. Maka:
∂ u ∂ ( x Ax )
'
= =2 Ax (2.33)
∂x ∂x
Bukti:
Ditunjukkan dari persamaan (2.33) berlaku untuk kasus khusus dimana A
adalah matriks 3 ×3 . Ilustrasi ini dapat digeneralisasi ke simetris A dari berbagai
ukuran. Misalnya
() ( )( )
x1 a11 a 12 a13 a'1
x= x 2 dan A= a12 a 22 a23 = a'2
x3 a13 a 23 a33 a'3
' 2 2 2
maka x Ax=x1 a11 + 2 x 1 x2 a12 +2 x1 x 3 a 13+ x 2 a22+ 2 x 2 x3 a23 + x 3 a33, dan
mempunyai:
∂ ( x' Ax ) '
=2 x 1 a 13+2 x 2 a 23+2 x 3 a33=2 a3 x
∂ x3
( )( )()
'
a1 ( b1 , b2 , … , b p )
a '1 B a'1
a' b , b , … , b p ) ' '
AB= 2 ( 1 2 = a 2 B = a2 B , dan persamaan (2.31), dihasilkan
⋮ ⋮ ⋮
' '
a ( b 1 , b2 , … , b p )
n a B n a'n
( )
∂ ( x ' Ax )
∂ x1
()
'
a1 x
∂ ( x Ax ) ∂ ( x Ax )
' '
= =2 a '2 x =2 Ax
∂x ∂ x2 '
a3 x
∂ ( x Ax )
'
∂ x3
( )
∂u ∂u
∂u ⋯ ∂u
= ∂ x 11 ∂ x1 p ⋯ ¿ ¿
∂X ∂ x pp
⋮ ¿ ¿
(2.34)
Dua fungsi dari jenis tersebut adalah u=tr ( XA ) dan u=ln |X| untuk matriks
definit positif X (Rencher dan Schaalje, 2007).
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
1. Studi Literatur
Studi literatur yang dilakukan penulis yaitu dengan mengkaji sumber-
sumber pustaka melalui jurnal-jurnal dan penelitian-penelitian sebelumnya
yang berhubungan dengan metode estimator deret Fourier dalam regresi
semiparametrik untuk dijadikan sebagai landasan.
2. Pencarian Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder tahun
2016 yang diperoleh dari Polres Pamekasan. Unit observasi merupakan
seluruh Kecamatan atau Polsek yaitu sebanyak 13 Kecamatan atau Polsek
di Kabupaten Pamekasan.
3. Penentuan Variabel Penelitian
Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi
dua yaitu variabel respon dan variabel prediktor. Variabel-variabel
tersebut sebagai berikut:
Variabel Respon:
y : Jumlah kejadian kriminalitas (kasus)
Variabel Prediktor:
x : Jumlah penduduk tiap Kecamatan (jiwa)
t1 : Jumlah penduduk yang menganggur (jiwa)
t2 : Jumlah penduduk yang miskin (jiwa)
4. Analisis Deskriptif Data
Analisis deskriptif dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-
faktor yang mempengaruhi angka kriminalitas di Pamekasan. Analisis
21
22
Mulai
Studi Literatur
Pencarian Data
Statistik Deskriptif
Selesai
Mulai
Selesai
Mulai
Selesai
Bulan
Jenis
No Januari Februari Maret April
Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1 Studi
literatur
2 Pencarian
data
3 Statistik
Deskriptif
4 Estimasi
Regresi
Semiparamet
rik dengan
pendekatan
deret Fourier
5 Penerapan
estimator
deret Fourier
dalam regresi
semiparametr
ik
6 Prediksi dan
penarikan
kesimpulan
7 Membuat
laporan hasil
penelitian
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik, . (2014). Statistik Kriminalitas 2013. Jakarta: Badan Pusat
Statistik Indonesia.
Badan Pusat Statistik, . (2017). Provinsi Jawa Timur dalam Angka. Jawa Timur:
Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur.
Irwan, M. (2015). Least Square and Ridge Regression Estimation. Jurnal MSA
Vol. 3 No.2. ISSN: 2355-083X.
27
28