0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan13 halaman

Kuat Tekan Beton Geopolimer Abu Sekam Padi

Dokumen tersebut membahas analisis kuat tekan beton geopolimer berbahan dasar abu sekam padi. Secara ringkas, dokumen menjelaskan tentang latar belakang permasalahan limbah abu sekam padi dan kebutuhan akan beton kuat tekan untuk konstruksi, rumusan masalah penelitian tentang penggunaan abu sekam padi sebagai bahan alternatif dalam pembuatan beton geopolimer, serta tujuan menganalisis pengaruh penambahan ab
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
12 tayangan13 halaman

Kuat Tekan Beton Geopolimer Abu Sekam Padi

Dokumen tersebut membahas analisis kuat tekan beton geopolimer berbahan dasar abu sekam padi. Secara ringkas, dokumen menjelaskan tentang latar belakang permasalahan limbah abu sekam padi dan kebutuhan akan beton kuat tekan untuk konstruksi, rumusan masalah penelitian tentang penggunaan abu sekam padi sebagai bahan alternatif dalam pembuatan beton geopolimer, serta tujuan menganalisis pengaruh penambahan ab
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISA BETON GEOPOLIMER BERBASIS ABU SEKAM PADI PADA KUAT

TEKAN FLOWING CONCRETE UNTUK KONSTRUKSI BERKELANJUTAN

Disusun Oleh:
Afrizal Abdillah
21540144013

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL


JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2023
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan serta pertumbuhan negara Indonesia dalam dunia
konstruksi sekarang ini dalam kemajuan yang besar, semakin tinggi kebutuhan
terhadap Pembangunan infrastruktur membuat pemakaian beton di Indonesia
semakin tinggi juga sehingga standar beton berubah dan kualitas beton juga
meningkat seiring perkembangan waktu. Dikarenakan Pembangunan infrastruktur
yang meningkat, beton dengan bentang yang lebar harus mempunyai kekuatan
yang tinggi. Menurut ASTM C 1017, Beton alir adalah beton yang memiliki nilai
workabilitas tinggi dengan nilai slump lebih dari 190mm tanpa terjadi bleeding
dan segregasi. Beton alir ini dapat mengalir tanpa menggunkan alat vibrator
(memadat sendiri).
Indonesia sendiri adalah suatu negara yang hamper semua wilayah di
Indonesia rawan terhadap gempa, sehingga perencanaan bangunan di Indonesia
harus didesain tahan gempa. Desain bangunan tahan gempa harus memerlukan
penulangan yang relatif lebih rapat, sehingga dibutuhkan jenis campuran beton
yang mudah untuk memadat meskipun tanpa vibrator.
Indonesia adalah suatu negara yang mayoritas penduduknya Bertani. Hasil
dari penggilingan padi di Indonesia menghasilkan limbah yang cukup banyak
berkisar antara 20% - 30%. Hasil penggilingan padi tersebut masih belum
termanfaatkan dengan baik, sehingga dengan banyaknya hasil sekam padi saat ini
bisa dijadikan abu yang dapat dimanfaatkan untuk alternatif pengganti semen.
Abu sekam padi (ASP) bersifat pozzolan yang dapat dipakai untuk meningkatkan
kualitas beton serta memberikan pengaruh yang baik bagi lingkungan
Penambahan abu sekam padi juga dapat digunakan sebagai bahan
pengganti semen untuk konstruksi dengan tujuan menambah nilai tambah dalam
proses pembuatan beton agar beton tersebut memiliki sifat-sifat yang lebih bagus
serta mengurangi penggunaan semen untuk mengurangi biaya pada saat
pengerjaan.
B. Identifikasi Masalah
Dari latar belakang di atas dapat diidentifikasikan masalah sebagai
berikut:

1. Pengunaan semen dalam pembuatan beton yang meningkat dan


mengakibatkan pemanasan global
2. Penggunaan sisa pembakaran sekam padi menjadi abu yang belum
dimanfaatkan secara maksimal

C. Batasan Masalah
Agar penelitian ini lebih mengarah pada latar belakang dan permasalahan
yang telah dirumuskan maka diperlukan batasan-batasan masalah guna membatasi
ruang lingkup penelitian sebagai berikut:

1. Tidak dilakukan uji kandungan abu sekam padi


2. Tidak meneliti reaksi kimia antar material yang dipakai dalam penelitian
3. Pengaruh suhu, udara diabaikan
4. Parameter pengujian hanya mengetahui kuat tekan dari masing-masing
variasi beton geopolimer
5. Tidak memperhitungkan efisiensi waktu dan biaya

D. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diangkat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah abu sekam padi dapat menjadi bahan alternatif untuk pembuatan
beton geopolimer?
2. Bagaimana pengaruh penggunaan abu sekam padi terhadap nilai kuat
tekan beton geopolimer?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini dilakukan percobaan mengenai kuat tekan beton
dengan menggunakan faktor air baru dan campuran yang berbeda dengan
penambahan limbah abu sekam padi. Beberapa permasalahan yang muncul antara
lain:
1. Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penambahan abu sekam padi
terhadap kuat tekan beton
2. Menganalisa kuat tekan beton geopolimer dengan bahan alternatif abu
sekam padi
3. Memanfaatkan limbah pangan untuk mengurangi pencemaran lingkungan

F. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan khususnya


dalam bidang inovasi pada beton
2. Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi tambahan untuk
penelitian-penelitian selanjutnya agar dapat dikembangkan menjadi
inovasi terbaru dalam perkembangan beton geopolimer
3. Penelitian ini diharapkan dapat mengurangi limbah abu sekam padi yang
belum dimanfaatkan secara maksimal
4. Penelitian ini diharapkan dapat diaplikasikan dalam dunia konstruksi
berkelanjutan
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Beton
Beton adalah material yang umum digunakan sebagai bahan kontruksi.
Secara global beton terdiri dari dua bagian utama yaitu pasta dan agregat.
Bagian pertama adalah pasta yang mempunyai fungsi utama sebagai pengikat
antar material. Selain sebagai pengikat, pasta memberikan sumbangan
kekuatan pada beton. Bagian kedua adalah bahan agregat yang
menyumbangkan sebagian besar kekuatan dari beton itu sendiri. Agregat
terdiri dari agregat kasar dan agregat halus (kerikil dan pasir).

Menurut SNI 03-2834-2000 beton adalah campuran antara semen


Portland atau semen hidraulik yang lain, agregat halus, agregat kasar dan air
dengan atau bahan tambah membentuk massa padat.

2. Geopolimer
a) Definisi Beton Geopolimer

Beton geopolimer adalah beton yang dihasilkan dengan


sepenuhnya mengganti semen portland dengan material geopolimer.
Sepanjang proses sintesifikasi, silika dan aluminium digabung untuk
membentuk blok bangunan, yang secara kimiawi dan struktural dapat
dibandingkan dengan ikatan batu alam. Davidovits juga menggunakan
istilah ―(siallate)” untuk geopolimer berbasis silika-aluminat. Siallate
adalah kependekan dari (siloxo-oxo-aluminate).

b) Kelebihan dan Kekurangan Beton Geopolimer


Kelebihan dan kekurangan beton geopolimer adalah sebagai berikut
1) Kelebihan Beton Geopolimer
a) Beton geopolimer mempunyai nilai susut yang kecil
b) Beton geopolimer lebih tahan reaksi alkali – silica
c) Mengurangi polusi udara
2) Kekurangan Beton Geopolimer
a) Proses pembuatannya lebih rumit daripada beton konvensional
karena jumlah material yang dibutuhkan lebih banyak daripada
beton konvensional

3. Bahan Pembentuk Beton Geopolimer


Bahan-bahan pembentuk beton geopolimer sebagai berikut:

a) Agregat Halus
Agregat halus adalah pasir yang didapat dari pelapukan batuan
secara alami atau pasir yang dihasilkan dari pemecahan batu yang semua
butirannya menembus ayakan dengan lubang 4,75 mm. Agregat halus
dalam beton berfungsi sebagai pengisi rongga-rongga antara agregat kasar.
b) Agregat Kasar
Agregat kasar adalah kerikil sebagai hasil desintegrasi alami dari
batu atau berupa batu pecah yang diperoleh dari industri pemecah batu dan
mempunyai ukuran butir antara 5 mm – 40 mm. Agregat kasar merupakan
penyumbang sebagian besar kekuatan dari beton. Faktor penting yang
perlu diperhatikan adalah gradasi atau distribusi ukuran butir agregat.
Apabila butir-butir agregat mempunyai ukuran yang seragam, dapat
menimbulkan volume pori yang besar, tetapi jika ukuran butirnya
bervariasi, maka volume pori menjadi kecil. Hal ini disebabkan butir yang
lebih kecil akan mengisi pori di antara butiran yang lebih besar dan
memungkinkan antar agregat dapat saling mengunci (interlocking).
Agregat adalah butiran mineral alami yang berfungsi sebagai bahan
pengisi dalam campuran beton (Tjokrodimulyo,1992). Untuk menunjukan
kehalusan butir agregat pada umumnya kerikil mempunyai Modulus
Halus Pasir 5-8 dan untuk berat jenis SSD adalah 2,40-2,90. (PUBI-1982)
c) Air
Air merupakan bahan penyusun beton yang berfungsi untuk
bereaksi dengan semen yang menyebabkan pengikatan dan
berlangsungnya pengerasan, membasahi agregat dan sebagai pelumas
campuran agar lebih mudah dalam pengerjaannya.
d) Abu Sekam Padi
Abu sekam padi adalah hasil pembakaran sekam atau kulit padi.
Pada daerah penghasil beras terdapat limbah abu sekam yang melimpah.
Abu sekam padi (ASP) merupakan salah satu zat yang bersifat pozzolan
dimana mampu menjadi unsur untuk meningkatkan kekuatan beton karena
menggandung pozzolan yang juga terdapat pada semen. Komposisi kimia
yang dominan terkandung dalam ASP yaitu SiO2 (Silika Oksida) sebesar
93,44%. Sedangkan Senyawa CaO (Kalsium Oksida), Al2O3
(Alumunium Trioksida), dan FeO3 (Ferro Trioksida ) cukup rendah.

4. Uji Slump Beton


Slump adalah penurunan ketinggian pada pusat permukaan atas beton
yang diukur segera setelah cetakan uji slump diangkat. Cara uji ini meliputi
penentuan nilai slump beton, baik di laboratorium maupun di lapangan. Nilai-
nilai yang tertera dinyatakan dalam satuan internasional (SI) dan digunakan
sebagai standar. Uji slump merupakan salah satu metode pengujian untuk
menentukan konsistensi dan kemudahan cetak beton segar. Uji ini
memberikan informasi mengenai kecenderungan beton untuk mengalir atau
menjadi kaku.

Alat uji harus berupa sebuah cetakan yang terbuat dari bahan logam
yang tidak lengket dan tidak bereaksi dengan pasta semen. Ketebalan logam
tersebut tidak boleh lebih kecil dari 1,5 mm dan bila dibentuk dengan proses
pemutaran (spinning), maka tidak boleh ada titik dalam cetakan yang
ketebalannya lebih kecil dari 1,15 mm.

Uji slump sangat penting dalam memastikan bahwa beton memenuhi


persyaratan konsistensi yang diperlukan untuk aplikasi konstruksi tertentu.
Hasil uji slump dapat memberikan indikasi awal tentang kemampuan beton
untuk diaplikasikan dan dipadatkan dalam bentuk yang diinginkan.
5. Uji Kuat Tekan
Pengujian ini dilakukan pada saat beton mencapai usia 28 hari dengan
tiap masing-masing variasi campuran bahan sebanyak 4 benda uji dari setiap
variabelnya. Benda uji menggunakan beton silinder dengan ukuran diameter
15 cm dan tinggi 30 cm. Pengujian beton dengan uji benda silinder
berdasarkan SNI 1974:2011. Rumus yang dipakai untuk mengetahui kuat
tekan beton yaitu :

f’c = P/A

Keterangan :

f’c = Kuat tekan (MPa) P = Beban tekan (N)

A = Luas penampang benda uji (mm2)

B. Hasil Penelitian Yang Relevan


1. Lisantono dan Purnandani (2010) meneliti alternatif pengganti semen, beton
geopolimer menggunakan bahan limbah residu pembakaran batu bara (fly ash)
sebagai bindernya. Dalam riset ini dilakukan studi tentang pengaruh
penambahan kapur padam terhadap sifat mekanik beton geopolymer. Dibuat
benda uji silinder beton dengan diameter 150 mm dan tinggi 300 mm. Binder
pengganti semen yang digunakan adalah fly ash kelas C dan kapur padam.
Kadar fly ash: kapur dan water/binder (w/b) ratio yang digunakan adalah
25%:75% (w/b=0,58 dan 0,41), 40%:60% (w/b=0,53 dan 0,51), 50%:50%
(w/b=0,48 dan 0,46), 60%:40% (w/b=0,40 dan 0,39), dan 75%:25%
(w/b=0,37 dan 0,35). Perbandingan binder : agregat kasar : agregat halus yang
digunakan adalah 1:1:1. Selain itu larutan alkali yang digunakan adalah
larutan NaOH dan larutan sodium hidroksida. Kedua larutan ini digunakan
sebanyak 5% dari berat binder. Sifat karakteristik beton yang diuji adalah kuat
tekan dan modulus elastisitas pada umur 7, 14, 28, dan 56 hari. Jumlah
keseluruhan sampel adalah 172 buah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kuat tekan maksimum sampel pada umur 28 hari dengan kadar fly ash:kapur,
yaitu 75%:25% dan w/b ratio 0,35 mencapai 20,63 MPa dan pada umur 56
hari mencapai 21,38 MPa. Dari hasil uji modulus elastisitas beton variasi ini
mencapai 14676.533 MPa pada umur 28 hari dan 18535.788 MPa pada umur
56 hari. Dengan demikian proporsi yang optimum yang diperoleh dalam
penelitian adalah beton geopolymer dengan variasi 75%:25% dan w/b ratio
0,35. Pada penelitian Purnandani menggunakan fly ash , sedangkan pada
penelitian ini menggunakan abu sekam padi sebagai bindernya.
2. Prasetyo (2015) meneliti alternatif pengganti semen, beton geopoliomer
tersebut menggunakan bahan limbah residu pembakaran batu bara (fly ash)
sebagai bindernya. Alkaline Aktivator yang digunakan dalam penelitian ini
adalah Na2SiO3 (sodium silikat) dan NaOH (sodium hidroksida) konsentrasi
10M. Pada penelitian ini dilakukan pengujian kuat tekan beton terhadap benda
uji berbentuk kubus 15x15x15 cm 3 sebanyak 45 benda uji. Variasi aktivator
1:2, 2:2, 3:2, 4:2 dan 5:2, sedangkan variasi penggunaan agregat dan binder
(fly ash dan aktivator) adalah 75% : 25%, 70% :30% dan 65% : 35%. Curing
yang dipakai dengan cara didiamkan dalam suhu ruangan. Pengujian
dilakukan setelah beton berumur 28 hari. Berdasarkan hasil penelitian dapat
diperoleh grafik hubungan antara kuat tekan beton geopolymer terhadap
perbandingan aktivator. Untuk beton geopolymer 75 : 25, kuat tekan tertinggi
dimiliki oleh beton dengan perbandingan Na2SiO3:NaOH = 5:2 sebesar
135,407 kg/cm 2 . Untuk beton geopolymer 70 : 30, kuat tekan tertinggi
dimiliki oleh beton dengan perbandingan Na2 SiO3:NaOH = 5:2 sebesar
141,037 kg/cm 2 . Dan untuk beton geopolymer 65 : 35, kuat tekan tertinggi
dimiliki oleh beton dengan perbandingan Na2SiO3:NaOH = 4:2 sebesar
98,593 kg/cm 2 . Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi
perbandingan aktivator Na2SiO3:NaOH yang digunakan dalam beton, maka
terdapat kecenderungan semakin tinggi kuat tekan yang dihasilkan oleh
masing-masing beton. Pada penelitian prasetyo menggunakan fly ash,
sedangkan pada penelitian ini menggunakan abu sekam padi dan kapur
padam.
3. Chanhl (2008) dalam Septia (2011) meneliti penggunaan perkusor fly ash dan
alkaline activator campuran sodium silikat (Na2SiO3) dan sodium hidroksida
(NaOH) dalam pembuatan beton geopolimer. Sampel dicuring dengan suhu
40ºC, 60ºC, 80ºC, dan 90ºC selama 24-27 jam. Dari hasil penelitian kuat tekan
umur 7 hari kekuatan paling besar terjadi pada suhu curing 90ºC. Pada
penelitian Chanhl menggunakan fly ash, sedangkan penelitian ini
menggunakan abu sekam padi dan kapur padam.

C. Kerangka Pikir
Beton pada umumnya memerlukan penggetaran dalam pengerjaannya.
Tujuannya supaya beton mengisi seluruh celah pada cetakan. Maka diperlukan
vibrator dalam pengerjaan beton. Penggunaan vibrator selain menyebabkan
polusi suara, juga menambah biaya karena menambah tenaga pekerja.
Penggunaan Self Compacting Geopolymer Concrete (SCGC) atau beton
geopolimer memadat mandiri dapat menggabungkan keuntungan beton
geopolimer.

Pemanfaatan limbah abu sekam padi di Indonesia belum optimal. Apabila


tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat mencemari lingkungan. Abu
sekam padi mengandung unsur silika dan alumina yang tinggi. Kandungan
tersebut merupakan bahan dasar perekat geopolimer. Untuk mengurangi dampak
pencemaran lingkungan tersebut, dibuatlah beton dengan memanfaatkan
kandungan pada abu sekam padi sebagai pengganti semen.

Penelitian ini menguji variasi abu sekam padi sebagai substitusi parsial fly
ash. Pengujian yang dilakukan adalah uji slump flow, berat jenis, dan uji kuat
tekan. Sehingga diketahui fly ash dan abu sekam padi dapat dipakai sebagai
perekat geopolimer menggantikan semen pada beton

D. Hipotesis Penelitian
Berdasarkan latar belakang, rumusan masalah, tujuan, kajian teori, dan
tinjauan pustaka, maka hipotesis penelitian ini adalah abu sekam padi bisa
menjadi bahan alternatif untuk pembuatan beton geopolimer. Dan terdapat
pengaruh variasi abu sekam padi terhadap kuat tekan beton.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. Metode
eksperimental merupakan percobaan langsung di laboratorium sesuai dengan
data-data dari studi pustaka.

B. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Bahan Bangunan Teknik Sipil
Universitas Negeri Yogyakarta, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman,
Daerah Istimewa Yogyakarta.
2. Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan selama 3 bulan. Pembuatan

C. Variabel Penelitian
Variabel penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Penambahan Umur Pengujian Total


Abu Sekam Benda
Padi 7 Hari 14 Hari 28 Hari uji
70% 2 2 2 6
100% 2 2 2 6
Total 12
Pada setiap variasi dalam pemberian abu sekam padi pada benda uji dibuat
berjumlah 2 untuk setiap umur pengujian. Pada variasi penambahan abu sekam
padi 70% dan 100% dilakukan kuat uji tekan pada umur ke-7 dengan jumlah
sampel 2 buah, pada umur ke-14 dilakukan kuat uji tekan dengan jumlah sampel
2 buah, dan pada hari ke-28 dilakukan kuat uji tekan dengan jumlah sampel 2
buah. Sehingga sampel pada penelitian berjumlah 12 buah untuk masing-masing
variasi.
Y1

Y2

Keterangan:

X : Variabel Bebas (Variasi Abu Sekam Padi)

Y1 : Variabel Terikat (Slump Flow Beton)

Y2 : Variabel Terikat (Kuat Tekan Beton)

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data


XXX

E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen


XXX

F. Teknik Analisis Data


Mulai

Studi Perpustakaan/Literature

Persiapan Alat dan Bahan

Pengujian Agregat Halus dan


Agregat Kasar

Mix Design

Pengujian Slump

Pembuatan Benda Uji

Pengujian Kuat Tekan

Analisis Data

Kesimpulan

Selesai

Anda mungkin juga menyukai