0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan45 halaman

Nutrisi Microgreens Sawi dengan POC Bawang

Tugas akhir ini membahas pemenuhan nutrisi microgreens sawi sendok melalui pemberian pupuk organik cair kulit bawang merah. Pupuk organik cair ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan mengurangi limbah kulit bawang merah. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan produksi pertanian kota secara berkelanjutan.

Diunggah oleh

Ramadhan fikri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
104 tayangan45 halaman

Nutrisi Microgreens Sawi dengan POC Bawang

Tugas akhir ini membahas pemenuhan nutrisi microgreens sawi sendok melalui pemberian pupuk organik cair kulit bawang merah. Pupuk organik cair ini diharapkan dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman dan mengurangi limbah kulit bawang merah. Penelitian ini dilakukan untuk meningkatkan produksi pertanian kota secara berkelanjutan.

Diunggah oleh

Ramadhan fikri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

PEMENUHAN NUTRISI MICROGREENS SAWI SENDOK

(Brassica rapa L.) MELALUI PEMBERIAN PUPUK


ORGANIK CAIR (POC) KULIT BAWANG MERAH

TUGAS AKHIR

OLEH:

MUHAMMAD FIKRI RAMADHAN


05.01.20.2036

PRODI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN


JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN (POLBANGTAN) GOWA
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2024
i

PEMENUHAN NUTRISI MICROGREENS SAWI SENDOK


(Brassica rapa L.) MELALUI PEMBERIAN PUPUK
ORGANIK CAIR (POC) KULIT BAWANG MERAH

OLEH:
MUHAMMAD FIKRI RAMADHAN
05.01.20.2036

TUGAS AKHIR

Sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Terapan pada


Program Diploma IV

PRODI PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN


JURUSAN PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN (POLBANGTAN) GOWA
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN
KEMENTERIAN PERTANIAN
2024
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan laporan tugas akhir ini

dapat diselesaikan tepat pada waktunya, dengan judul “Pemenuhan

Nutrisi Microgreens Sawi Sendok (Brassica Rapa L.) Melalui Pemberian

Pupuk Organik Cair (POC) Kulit Bawang Merah”.

Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam

Laporan Tugas Akhir ini, oleh karena itu segala kritikan yang bersifat

membangun akan Penulis terima dengan baik dan diharapkan agar apa

yang telah diuraikan dalam Laporan Tugas Akhir ini dapat memberikan

manfaat.

Gowa, Januari 2024

Penulis
iii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN SAMPUL DEPAN

HALAMAN JUDUL i

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISI iii

DAFTAR TABEL v

DAFTAR GAMBAR vi

I. PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 5
C. Tujuan Penelitian 6
D. Manfaat Penelitian 6

II. TINJAUAN PUSTAKA 5

A. Aspek Teknis 7
B. Aspek Penyuluhan 14
C. Kerangka Pikir 18
D. Hipotesis 20

III. METODE PELAKSANAAN 21

A. Kajian 21
1. Tempat dan Waktu 21
2. Alat dan Bahan 21
3. Pelaksanaan Kajian 22
a. Metode Pelaksanaan Kajian 22
b. Teknik Pengumpulan Data 25
iv

c. Parameter Pengamatan 26
d. Analisis Data 26
B. Desain Penyuluhan 27
C. Pelaksanaan Penyuluhan 29
D. Parameter Pengamatan Penyuluhan 32
E. Evaluasi Penyuluhan 32
F. Definisi Operasional 35

DAFTAR PUSTAKA 36
v

DAFTAR TABEL
vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Tanaman Sawi Sendok 6

2. Skema Kerangka Pikir 17


1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Lahan merupakan aspek penting yang dapat digunakan untuk

bercocok tanam. Pertumbuhan penduduk yang menyebabkan terjadinya

alih fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman, berujung pada krisis

pembukaan lahan pertanian. Food and Agriculture Organization (FAO)

tahun 2008 memperkirakan tahun 2020, sekitar 75% penduduk negara

berkembang di Afrika, Asia dan Amerika Latin akan tinggal di perkotaan.

Situasi ini akan mendorong pemerintah dan masyarakat di perkotaan

untuk mulai berusaha memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.

Oleh karena itu, Urban Farming dapat menjadi solusi dalam mengatasi

masalah keterbatasan lahan pertanian terutama di perkotaan (Febriani et

al., 2019).

Urban Farming juga dapat menjaga ketahanan pangan, kegiatan

urban farming juga banyak dipengaruhi oleh gaya hidup sehat dan saat ini

sedang populer di masyarakat perkotaan karena menggunakan bahan-

bahan yang sepenuhnya organik. Salah satu contoh penerapan urban

farming adalah Microgreens.

Microgreens merupakan tanaman muda, lunak, serta tanaman yang

dipanen pada usia 7-14 hari setelah tanam, mempunyai kotiledon yang

sepenuhnya telah berkembang dan sepasang daun sejati (Verlinden,

2020). Microgreens memiliki ukuran panen 3-10cm dan dipanen tanpa akar.

Karena itu, tampilannya menarik serta rasa yang kuat, microgreens juga
2

dapat di jual sebagai produk mentah untuk digunakan di salad, sandwich,

ataupun sebagai hiasan makanan (Kaisar dan Ernst, 2018).

Microgreens memiliki lebih dari 60 jenis tanaman. Salah satunya

adalah microgreens tanaman sawi sendok (Brassica rapa L.). Sawi

sendok adalah tanaman sayuran yang mana panennya pendek yaitu umur

45 hari setelah tanam sudah dapat dipanen (Edi dan Bobihoe, 2010). Sawi

sendok menjadi salah satu tanaman microgreens yang masih sedikit

peminat untuk dibudidayakan.

Nutrisi yang cukup dapat membantu menghasilkan produksi yang

tinggi dan berkualitas. Nutrisi dapat dipasok oleh media tanam, dengan

pemupukan yang melimpah sebelum disemai, perlakuan pasca tumbuh,

atau dengan aplikasi gabungan pra tanam dan pasca tumbuh (kyriacou et

al., 2016). Media tanam yang baik untuk digunakan harus dipilih sesuai

dengan tujuan penanaman.

Pupuk sangat dibutuhkan oleh banyak orang untuk menambah

unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Anjuran penggunaan pupuk

ataupun bahan lain yang sifatnya organik dimaksudkan untuk mengurangi

masalah yang sekarang timbul akibat dipakainya bahan-bahan kimia yang

telah terbukti merusak tanah dan lingkungan. Dari strukturnya tergolong

mudah (Widiwurjani et al., 2019). Penggunaan pupuk organik cair dapat

meningkatkan kesuburan tanah yang dirusak oleh penggunaan pupuk

anorganik. Pupuk organik cair berfungsi meningkatkan pertumbuhan

tanaman. Salah satu bahan yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik


3

cair yaitu limbah, dimana limbah adalah buangan yang dihasilkan dari

suatu proses produksi baik industri maupun dome`stik yang tidak memiliki

nilai ekonomis. Salah satu limbah lingkungan yang akan di manfaatkan

sebagai hasil produk yang memiliki nilai jual yang cukup yaitu limbah kulit

bawang merah.

Menurut penelitian yang dilakukan Putri (2020) menjelaskan bahwa

pemberian pupuk organik cair kulit bawang merah berpengaruh nyata

terhadap pertumbuhan tanaman. Penggunaan Limbah kulit bawang merah

berdasarkan penelitian Wilfrido et al., (2007) dalam (Rinzani dkk, 2020).

menjelaskan bahwa Kandungan yang terdapat dalam kulit bawang merah

membuatnya berpotensi untuk dijadikan sebagai pupuk organik cair yang

dapat mengurangi pemakaian dari pupuk kimia dan dapat menekan biaya

input dalam melakukan aktifitas budidaya .

Kulit bawang merah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N),

Kalium (K), Magnesium (Mg), Phosfor (P), dan Besi (Fe) (Banu, 2020).

Kulit bawang merah yang sudah menjadi pupuk organik cair mengandung

unsur hara nitrogen sebanyak 0,11%, phosfor sebanyak 0,13%, dan kalium

sebanyak 0,19%. Kulit bawang merah memiliki kandungan allicin sebagai

metabolit sekunder yang dapat mempercepat metabolisme dan mobilisasi

makanan yang diperlukan tanaman. Selain itu, kulit bawang merah juga

memiliki kandungan hormon berupa auksin dan giberelin, hormon auksin

berperan dalam pengaturan pembelahan sel dan diferensiasi sel,


4

sedangkan hormon giberelin akan menstimulasi pertumbuhan pada daun

maupun pada batang (Borlinghaus et al., 2014).

Bawang merah sendiri merupakan salah satu komoditas yang

strategis untuk memenuhi kebutuhan yang digemari oleh konsumen

Indonesia khususnya Makassar. Namun, menjadi permasalahannya

adalah kulit bawang merah yang banyak mengandung nutrisi untuk

tanaman dibuang begitu saja sehingga menyebabkan penumpukan limbah

dan dapat terjadi pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, dibutuhkan

penanganan dengan memanfaatkan limbah kuliat bawang merah sebagai

faktor memicu pertumbuhan tanaman (Widiwurjani et al., 2019)

Identifikasi Potensi Wilayah (IPW) yang dilakukan di Kota Makassar

menunjukkan jumlah penduduk 1.423.877 jiwa dengan laju pertumbuhan

1,23% dari tahun sebelumnya (BPS Kota Makassar, 2023). Dapat diketahui

bahwa masyarakat Kota Makassar banyaknya penduduk sebagian besar

tidak memanfaatkan lahan sempit seperti pekarangan dan menggunakan

bahan organik untuk bercocok tanam karena kurangnya informasi terkait

pertanian kota dan pertanian ramah lingkungan. Kecamatan di Kota

Makkassar yaitu Kecamatan Manggala mempunyai lahan yang sementara

tidak diusahakan seperti pekarangan rumah. Hal tersebut menunjukkan

bahwa masih ada lahan pertanian yang berpotensi untuk dikembangkan.

Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penting dilakukan

kajian terhadap penggunaan pemberian pupuk organik cair kulit bawang

merah terhadap pertumbuhan Microgreens sawi sendok (brassica rapa l.).


5

Tentunya hal ini juga perlu dilakukan penyuluhan untuk meningkatkan

pengetahuan, sikap dan keterampilan masyarakat sehingga dapat

memenuhi kebutuhan pangan sendiri dengan memanfaatkan pekarangan

rumah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang maka rumusan masalah adalah:

1. Bagaimana efektivitas pemenuhan nutrisi pada microgreens sawi

sendok (brassica rapa l.) melalui pemberian pupuk organik cair kulit

bawang merah?

2. Bagaimana tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan petani

terhadap pemenuhan nutrisi pada microgreens sawi sendok(brassica

rapa l.) melalui pemberian pupuk pemberian pupuk organik cair kulit

bawang merah?

C. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan yang akan dilakukan yaitu:

1. Mengetahui efektivitas pemenuhan nutrisi pada microgreens sawi

sendok (brassica rapa l.) melalui pemberian pupuk organik cair kulit

bawang merah.

2. Mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan petani

terhadap pemenuhan nutrisi pada microgreens sawi sendok (brassica

rapa l.) melalui pemberian pupuk organik cair kulit bawang merah.
6

D. Manfaat

Penulisan ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai bahan

informasi mengenai manfaat penggunaan pemberian pupuk organik cair

kulit bawang merah terhadap pertumbuhan Microgreens sawi sendok

(brassica rapa l.)


7

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Aspek Teknis

1. Microgreens

Microgreens adalah bibit muda dari tumbuh-tumbuhan, sayuran,

kacang- kacangan, dan biji-bijian yang dipanen pada usia yang sangat

muda, berkisar 7-14 hari setelah semai. Microgreens termasuk jenis

sayuran yang memiliki ukuran kecil. Sayuran microgreens memiliki

kandungan gizi dan vitamin yang lebih tinggi dibandingkan dengan

sayuran yang sudah dewasa. Kandungan vitamin yang terdapat dalam

sayuran microgreens di antaranya vitamin K, E, dan C. Ukuran sayuran

microgreens biasanya hanya sekitar 2-8 cm (Widiwurjani et al., 2019).

Proses pertumbuhan dari benih sampai microgreens. Benih

mengandung nutrisi, vitamin dan mineral untuk tumbuh. Saat proses benih

disemai (germinasi) maka akan muncul tunas. Tanaman akan mulai

menggunakan semua nutrisi yang disimpan di dalam benih untuk mulai

membentuk batang, akar dan daun pertama. Enzim- enzim yang terdapat

di dalam benih akan mulai aktif bekerja. Tanaman akan membentuk

kecambah yang memiliki akar, batang, dan daun yang mulai muncul.

Setelah kecambah terbentuk tahap selanjutnya microgreens yaitu

munculnya dua daun sejati.

Per gram microgreens memiliki kandungan nutrisi dan vitamin lebih

tinggi dibandingkan tanaman sayuran dewasa (Weber, 2016). Lebih lanjut

diperkuat dalam penelitian Widiwurjani et al., (2019), microgreens


8

mengandung senyawa folat, vitamin K, vitamin C, zat besi, kalium, serta

mengandung senyawa antioksidan seperti salforaphane. Sebagian besar

dipanen pada penampakan daun asli pertama, dengan cara memotong

bibit secara manual beberapa milimeter di atas permukaan media tanam

(Kyriacou et al., 2016).

Hasil penelitian Adryani (2019), bahwa faktor yang dapat

mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman microgreens

adalah varietas yang ditanam. Penggunaan bahan yang ramah

lingkungan disarankan pada proses microgreens, untuk hasil panen yang

berkualitas, karena microgreens merupakan salah satu bahan pangan

yang dikonsumsi secara langsung dalam keadaan segar tanpa

pengolahan.

2. Tanaman Sawi Sendok (Brassica rapa L.)

a. Klasifikasi Tanaman Sawi Sendok

Gambar 1. Tanaman Sawi Sendok (Istihanah, 2021).

Menurut Sambamurty (2013) dalam Sukajat (2020) tanaman sawi

sendok memiliki klasifikasi sebagai berikut:

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta
9

Kelas : Dicotyledonae

Ordo : Rhoeadales

Famili : Brassicaceae

Genus : Brassica

Spesies : Brassica rapa L.

b. Morfologi Sawi Sendok

Karakteristik morfologi tanaman sawi sendok mirip dengan kubis/kol

dikarenakan kekerabatan yang sangat dekat. Berikut Morfologi tanaman

sawi sendok (Rukmana, 2007 dalam Sukajat, 2020).

1) Akar (Radix)

Sistem akar tunggang dengan percabangan akar tanaman yang

tumbuh menyebar dengan kedalaman tanah sebesar 30–40 cm. Akar

tanaman berfungsi dalam proses penyerapan air atau nutrisi serta akar

dapat berguna membantu memperkuat berdirinya tanaman.

2) Batang (Caulis)

sawi sendok memiliki ukuran batang pendek dan beruas-ruas,

sehingga batang tanaman tidak terlalu kelihatan jelas. Batang sawi

sendok termasuk jenis batang semu, karena pada tanaman pelepah daun

tumbuh berhimpitan, saling melekat dan tersusun rapat secara teratur.

Batang tanaman sawi sendok memiliki warna hijau muda yang digunakan

sebagai alat untuk membentuk dan menopang daun tanaman


10

3) Daun (Folia)

Daun tanaman sawi sendok berbentuk oval, berwarna hijau tua

agak mengkilat, daun tidak membentuk kepala atau krop, dan daun

tumbuh agak tegak atau setengah mendatar. Daun tanaman tersusun

dalam bentuk spiral yang rapat, dan melekat pada batang. Tangkai daun

tanaman berwarna hijau muda, gemuk, dan berdaging.

4) Bunga (Flos)

Struktur bunga sawi sendok tersusun dalam tangkau bunga

(inflorescentia) yang tumbuh memanjang (tinggi) dan bercabang banyak.

Tiap kuntum bunga terdiri atas empat helai kelopak daun, empat helai

mahkota bunga berwarna kuning cerah, empat helai benang sari, dan satu

buah putik yang berongga dua.

5) Biji (Semen)

Biji tanaman sawi sendok berwarna coklat kehitaman, bulat sedikit

keras, dan permukaan licin mengkilap. Pada tiap buah terdapat biji

sebanyak 2–8 butir.

c. Kandungan dan Manfaat Tanaman Sawi Sendok

Tanaman sawi sendok merupakan tanaman sayuran yang

mengandung mineral, vitamin, protein, dan kalori (Zulkarnain, 2010 dalam

Pasaribu, 2019). Menurut Fahrudin (2009) dalam Sukajat (2020) Tanaman

sawi sendok memiliki kandungan vitamin A, vitamin B, vitamin C, kalium,

forsfor, kalsium, asam oksalat, serat, zat besi, dan asam nikotinik.
11

Beberapa manfaat dari sawi sendok yaitu saat batuk dapat

menghilangkan rasa gatal tenggorokan, membenahi fungsi ginjal,

membersihkan darah, menyembuhkan sakit kepala, membenahi serta

melancarkan sistem pencernaan. Kadar vitamin A pada tanaman sawi

sendok berperan dalam kesehatan kornea mata. Mata normal biasanya

akan mengeluarkan cairan lemak yang kental oleh sel epitel mukosa yang

dapat mencegah terjadinya ganguan infeksi. Sedangkan kandungan

vitamin C berperan baik dalam mencegah penuaan dan sebagai

antioksidan utama dalam sel (Fahrudin, 2009 dalam Sukajat, 2020).

Menurut Tania dan Astina (2012) sayur sawi sendok memiliki manfaat

mencegah hipertensi, kanker, penyakit jantung, membantu kesehatan

pencernaan serta menjegah terjadinya anemia pada ibu hamil.

d. Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Sendok

Sawi sendok dapat ditanam di dataran tinggi maupun dataran

rendah. Akan tetapi, pada umumnya tanaman sawi sendok dibudidayakan

di dataran rendah, seperti di pekarangan, di ladang dan sejenisnya. Sawi

sendok adalah tanaman sayuran yang tahan hujan. Sehingga dapat

ditanam sepanjang tahun asalkan disediakan air yang cukup untuk

penyiraman pada musim kemarau (Roidi, 2016). Kondisi iklim yang

dibutuhkan dalam mendukung pertumbuhan sawi sendok adalah wilayah

dengan suhu 16–30˚C, intensitas sinar matahari 10–12 jam per hari dengan

kelembaban 80–90%. Budidaya sawi sendok membutuhkan curah hujan

sebesar 1000–1500 mm/tahun (Liferdi dan Cahyo, 2016). Ketinggian


12

wilayah sebesar 5–1200 mdpl cocok untuk pertumbuhan sawi sendok

tetapi juga dapat tumbuh pada wilayah dengan ketinggian 100–500 mdpl.

Tanaman sawi sendok memerlukan cahaya matahari untuk proses

fotosintesis (autotrof). Proses laju penguapan daun sawi sendok

dipengaruhi oleh intensitas cahaya sehingga menigkatnya laju penguapan

yang terjadi pada tanaman dipengaruhi oleh semakin tingginya intensitas

cahaya yang diterima oleh tanaman (Amitasari, 2016).

3. Pupuk Organik

Pupuk organik merupakan pupuk yang berasal dari bahan alami

seperti sisa buah-buahan, sayuran, kotoran ternak, serta organisme yang

telah mati. Pupuk organik berdasarkan bentuknya dibedakan menjadi dua

bentuk, padat dan cair. Pupuk organik padat sendiri ialah pupuk yang

secara fisik bentuknya padat, adapun yang termasuk pupuk padat seperti

pupuk kandang (Anggraeni, 2019).

Pupuk kandang merupakan pupuk organik yang berasal dari

fermentasi kotoran hewan/ternak. Kualitas pupuk kandang tergantung

pada jenis ternak, kualitas pakan, dan cara penampungan pupuk kandang.

Aplikasi pupuk kandang dapat meningkatkan kesuburan dan produksi

pertanian. Pupuk kandang mengandung lengkap unsur hara yang

dibutuhkan tanaman. Pupuk kandang yang berasal dari kotoran hewan

mengandung unsur hara makro yang baik untuk tanaman seperti nitrogen

(N), fosfor (P), kalium (K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan belerang (S)

(Kusuma, 2012).
13

Pupuk organik secara defenitif berdasarkan peraturan menteri

pertanian (Permentan) No.2/pert/HK.060/2/2006 adalah pupuk yang

sebagian besar atau seluruhnya terdiri dari bahan organik yang berasal

dari tanaman atau hewan yang telah melalui mengalami proses rekayasa,

dapat terbentuk padat atau cair yang digunakan untuk mensuplai bahan

organik, memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah (Firmansyah,

2011).

4. Limbah Kulit Bawang Merah

Bawang merah merupakan salah satu komoditas yang memiliki nilai

ekonomi yang tinggi, namun limbah bawang merah baik berupa daun

maupun kulitnya yang kering jika tidak dikelola dengan baik dapat

mengakibatkan pencemaran lingkungan (Banu,2020). Limbah ini dibuang

begitu saja oleh masyarakat karena dianggap sebagai sampah dan tidak

memiliki manfaat. Limbah bawang merah yang merupakan salah satu

limbah rumah tangga, jika diolah dengan tepat dapat menghasilkan

produk berupa pupuk organik yang berguna dalam pertanian karena dapat

memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah (Rinzani et al., 2020).

Kulit bawang merah mengandung banyak senyawa kimia seperti

flavonoid, saponin, tannin, glikosida dan steroida atau triterpenoid

(Manullang, 2010). Kulit bawang merah juga mengandung ABA (asam

absisat), sitokinin, giberelin dan zat yang mempercepat pertumbuhan akar

serta zat yang dapat membunuh hama seperti ulat (Fadhil et al., 2018).

Selain itu, dalam kulit bawang merah juga terkandung ZPT (zat pengatur
14

tumbuh) yang memiliki peran seperti IAA (Indle Acetid Acid). ZPT sangat

dibutuhkan tanaman karena tanpa zat ini tanaman tidak dapat tumbuh

walaupun unsur haranya terpenuhi. Namun dalam kulit bawang merah

juga terkandung unsur hara seperti Kalium (K), Magnesium (Mg), Fosfor

(P), dan Besi (Fe) yang dapat menyuburkan tanaman (Rifani, 2015).

Beberapa hasil penelitian membuktikan bahwa limbah kulit bawang

merah memiliki potensi sebagai pupuk organik untuk membantu

pertumbuhan tanaman. Penelitian yang dilakukan oleh Fadhil et al., (2018)

menunjukkan bahwa larutan serbuk kulit bawang merah berpengaruh

terhadap pertumbuhan akar tanaman. Selanjutnya penelitian yang

dilakukan oleh Yikwa & Banu (2020), membuktikan bahwa pemberian

kompos kulit bawang merah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan

tanaman sawi5 dan cabai rawit. Penelitian yang dilakukan oleh Adam et

al., (2019) menunjukkan bahwa pemberian kompos dari bawang merah

berpengaruh pada pertumbuhan cabai.

B. Aspek Penyuluhan

1. Pengertian Penyuluhan Pertanian

Menurut Permentan (2018), penyuluhan pertanian adalah proses

pembelajaran bagi pelaku utama serta pelaku usaha agar mereka mau

dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses

informasi pasar, teknologi, permodalan, dan sumber daya lainnya, sebagai

upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan,


15

dan kesejahteraannya, serta meningkatkan kesadaran dalam pelestarian

fungsi lingkungan hidup.

2. Materi Penyuluhan Pertanian

Materi penyuluhan adalah bahan penyuluhan yang akan

disampaikan oleh para penyuluh kepada pelaku utama dan pelaku usaha

dalam berbagai bentuk yang meliputi nformasi teknologi, rekayasa sosial,

manajemen, hukum, dan pelestarian lingkungan (Permentan, 2018).

3. Metode Penyuluhan Pertanian

Metode penyuluhan pertanian adalah cara atau teknik

penyampaian materi penyuluhan oleh penyuluh pertanian kepada Pelaku

Utama dan Pelaku Usaha agar mereka tahu, mau, dan mampu menolong,

dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar,

teknologi, sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan

produktivitas, efisiensi usaha, pendapatan, dan kesejahteraannya, serta

meningkatkan kesadaran dalam pelestarian fungsi lingkungan hidup

(Permentan, 2018). Ada 3 macam metode penyuluhan berdasarkan jumlah

sasaran yang sering digunakan yaitu:

a. Metode penyuluhan massal, metode ini digunakan untuk menjangkau

sasaran yang lebih luas dan banyak, biasanya menggunakan media

seperti radio, televisi, slide, dan surat kabar.

b. Metode kelompok, metode ini diarahkan pada kegiatan kelompok

untuk melaksanakan kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja

sama.
16

c. Metode perorangan, metode ini didasarkan atas hubungan langsung

penyuluh dengan sasaran disisi lain kunjungan rumah dan kunjungan

usaha tani menciptakan rasa kekeluargaan.

4. Teknik Penyuluhan Pertanian

Menurut Mardikanto (2009), teknik penyuluhan dapat diartikan

sebagai cara yang ditempuh untuk mengimplementasikan metode yang

digunakan dalam penyuluhan. Adapun teknik yang paling sering

digunakan dalam kegiatan penyuluhan pertanian diantaranya sebagai

berikut:

a. Ceramah, merupakan teknik yang paling sederhana dan dapat

menyajikan materi yang luas dalam waktu yang relatif singkat.

b. Diskusi, teknik ini memberikan kesempatan yang lebih luas untuk

menyampaikan tanggapan sasaran kepada penyuluh, teknik diskusi

juga digunakan untuk memancing komunikasi yang lebih efektif

sehingga dapat menciptakan umpan balik antara penyuluh dengan

sasaran.

c. Demonstrasi cara, merupakan sebuah teknik yang menunjukkan cara

kerja atau membuktikan secara langsung tentang inovasi yang ingin

disampaikan.

5. Media penyuluhan pertanian

Kata media berasal dari bahasa latin medius yang secara harafiah

berarti “tengah”, “perantara”, atau “pengantar”. Media adalah perantara

atau pengantar pesan (messagge) dari pengirim (komunikator) ke


17

penerima pesan (komunikan). Sehingga dapat diartikan media penyuluhan

pertanian adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk

menyalurkan pesan kepada petani dan keluarganya serta masyarakat

pertanian dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan

kemauannya serta meningkatkan peran serta dalam pembangunan

pertanian (Rukka, 2019).

6. Sasaran Penyuluhan Pertanian

Sasaran dalam penyuluhan pertanian adalah pelaku utama dan

pelaku usaha. Pelaku utama adalah petani beserta keluarganya atau

koperasi yang mengelola usaha di bidang pertanian, wanatani, minatani,

agropastur, penangkaran satwa dan tumbuhan di dalam dan di sekitar

hutan, yang meliputi usaha hulu, usahatani, agroindustri, pemasaran dan

jasa penunjang. Sedangkan pelaku usaha adalah perorangan atau

korporasi yang dibentuk menurut hukum Indonesia yang mengelola usaha

pertanian, perikanan dan kehutanan (Undang-undang No. 16, 2006

tentang SP3K).

7. Evaluasi penyuluhan pertanian

Evaluasi penyuluhan pertanian adalah suatu metode yang

sistimatis untuk memperoleh informasi yang relevan tentang sejauh mana

tujuan program penyuluhan pertanian di suatu wilayah dapat dicapai dan

ditafsirkan informasi atau data yang dapat ditarik suatu kesimpulan

kemudian digunakan untuk mengambil keputusan dan pertimbangan-

pertimbangan terhadap program penyuluhan yang dilakukan. Untuk


18

mengetahui tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan petani atau

peternak digunakan analisis deskriptif yaitu menggambarkan sikap petani

dengan menggunakan data skala orginal (skala linkert) sedangkan alat

ukur tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan menggunakan Rating

Scale. Adapun skornya yang digunakan adalah, skor 4 sangat mengetahui

(SM), skor 3 mengetahui (M), skor 2 kurang mengetahui (KM) dan skor 1

belum mengetahui TM) (Padmowihardjo, 2002).

C. Kerangka Pikir

Pemanfaatan bahan organik dalam pemenuhan nutrisi pada

tanaman dapat mengurangi penggunaan pupuk kimia yang berlebihan.

Penggunaan pupuk organik cair kulit bawang merah adalah bahan utama

dalam pemenuhan nutrisi microgreens sawi sendok. Pupuk organik cair

kulit bawang merah memiliki kandungan yang berfungsi sebagai

penunjang keberhasilan proses pertumbuhan tanaman. Pemberian pupuk

organik cair kulit bawang merah bertujuan untuk mengetahui efektifitas

digunakan dalam pemenuhan nutrisi tanaman dan perlu dilaksanakan

penyuluhan kepada petani, hal ini diharapkan dapat meningkatkan

pengetahuan, sikap dan keterampilan petani tentang pemenuhan nutrisi

microgreens sawi sendok (Brassica rapa L.) melalui pemberian pupuk

organik cair kulit bawang merah. Bagian kerangka pikir disajikan pada

Gambar 2.
19

PEMENUHAN NUTRISI PADA MICROGREENS SAWI SENDOK (Brassica


rapa L) MELALUI PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR KULIT BAWANG
MERAH

Rumusan masalah Tujuan

1. Bagaimana efektivitas pemenuhan 1. Mengetahui efektivitas pemenuhan


nutrisi pada microgreens sawi nutrisi pada microgreens sawi
sendok melalui pemberian pupuk sendok.
organik cair kulit bawang merah? 2. Mengetahui tingkat pengetahuan,
2. Bagaimana tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan petani
sikap dan keterampilan petani terhadap pemenuhan nutrisi pada
terhadap pemenuhan nutrisi pada microgreens sawi sendok melalui
microgreens sawi sendok melalui pemberian pupuk organik cair kulit
pemberian pupuk organik cair kulit bawang merah.
bawang merah?

Kaji widya

Evaluasi awal

Penyuluhan:
1. Materi : Pemanfaatan pemberian pupuk organik cair kulit bawang
merah pada tanaman microgreens sawi sendok
1. Metode : Individu dan Kelompok
2. Teknik : Ceramah, diskusi dan demonstrasi cara
3. Media : Peta Singkap dan folder
4. Sasaran : Kelompok Wanita Tani

Evaluasi akhir

Meningkatnya pengetahuan, sikap dan


keterampilan petani terhadap pemenuhan nutrisi
Tidak pada microgreens sawi sendok (Brassica rapa L.) Ya
melalui pemberian pupuk organik cair kulit
bawang merah

Gambar 2. Skema Kerangka Pikir


20

D. Hipotesis

1. Pemberian pupuk organik kulit bawang merah efektif dalam

pemenuhan nutrisi pada microgreens sawi sendok.

2. Melalui pendekatan penyuluhan tentang pemenuhan nutrisi pada

microgreens sawi sendok (Brassica rapa L.) melalui pemberian pupuk

organik kulit bawang merah dapat meningkatkan pengetahuan, sikap

dan keterampilan petani.


21

III. METODE PELAKSANAAN

A. Kajian

1. Tempat dan Waktu

Kaji widya ini terdiri dari percobaan dan penyuluhan. Kegiatan

percobaan akan dilaksanakan di Ruang Penyapihan Kampus I Politeknik

Pembangunan Pertanian (POLBANGTAN) Gowa pada bulan Februari –

Maret 2024. Sedangkan pelaksanaan penyuluhan dilaksanakan pada

Kelompok Wanita Tani Jaya Rasa Kecamatan Rappocini, Kota Makassar

yang dilaksanakan pada bulan April 2024

2. Alat dan Bahan

Alat yang akan digunakan dalam kaji widya adalah tray, sprayer,

kamera, mistar/penggaris, plastik ultraviolet (UV) 14%, staples tembak,

bambu, waring, gelas ukur, spanduk, timbangan analitik, chlorophyll meter,

jangka sorong dan alat tulis komputer. Sedangkan alat yang digunakan

dalam penyuluhan yaitu peta konsep dan folder.

Bahan yang akan digunakan dalam kaji widya adalah benih

tanaman sawi sendok, cocopeat, pupuk organik cair bawang merah.

Sedangkan bahan yang digunakan dalam kegiatan penyuluhan adalah

Lembar Persiapan Menyuluh (LPM), kuesioner dan sinopsis.


22

3. Pelaksanaan Kajian

a. Metode Pelaksanaan Kajian

1) Rancangan perlakuan

Kajian ini akan dilaksanakan dengan diawali percobaan, yaitu

mengaplikasikan pupuk organik cair bawang merah (P) pada microgreens

sawi sendok. Percobaan ini dirancang dengan menggunakan Rancangan

Acak lengkap (RAL) yangb terdiri dari 5 perlakuan konsentrasi POC kulit

bawang merah, yaitu : P0= kontrol (tanpa pupuk cair), P1= 1%, P2= 2%,

P3= 4%, P5= 7% POC kulit bawang merah.

Setiap perlakuan diulang sebanyak 4 kali, sehingga diperoleh 20

unit percobaan. Setiap unit terdapat 100 benih microgreen selada sendok,

sehingga total yang diperlukan adalah 2000 benih.

Parameter diamatai meliputi persentase daya kecambah, tinggi,

jumlah daun, berat segar, dan berat kering microgreen selada sendok.

P0= kontrol (tanpa pupuk cair)

P1= 1 % POC kulit bawang merah (10 Ml + 990 mL)

P2= 3 % POC kulit bawang merah (30 Ml + 970 mL)

P3= 5 % POC kulit bawang merah (50 Ml + 950 mL)

P4= 7 % POC kulit bawang merah (70 Ml + 930 mL)

Setelah hasil percobaan diperoleh, kemudian hasil terbaik akan

disuluhkan kepada kelompok Wanita Tani Jaya Rasa Kecamatan

Rappocini, Kota Makassar yang berjumlah 25 orang.


23

2) Percobaan microgreens sawi sendok

a) Persiapan pupuk organik cair kulit bawang merah

Limbah kulit bawang merah diambil dari tempat penjualan bawang

yang ada di pasar kota Pekanbaru. Kulit bawang merah ditimbang

sebanyak 500 g lalu dimasukkan ke dalam jerigen. Kemudian tambahkan

gula merah sebanyak 100 g dan air 10 liter. Selanjutnya ditambah EM4

sebanyak 100 ml. Pupuk diaduk hingga merata, kemudian ditutup dengan

rapat dan simpan ditempat yang teduh.

Diamkan selama 3 hari agar sari-sari dari kulit bawang merah dapat

lebih banyak keluar. Selama didiamkan, pupuk perlu diperiksa secara

berkala setiap harinya. Setelah 3 hari, pupuk organik cair dari kulit bawang

merah sudah bisa digunakan untuk menyuburkan tanaman, karena sudah

berwarna kuning kecoklatan, tekstur kulit bawang merah yang lunak, dan

tidak berbau menyengat. Lalu dilakukan penyaringan untuk memisahkan

cairan dan bahan organiknya. Pengenceran dilakukan sesuai masing-

masing perlakuan. Pemberian pupuk dilakukan setiap 2 hari sekali pada

pagi hari sebanyak 100 ml per wadah.

b) Persiapan media tanam

Media tanam yang digunakan adalah cocopeat. Sebelum

digunakan, cocopeat direndam dengan air selama 1 hari untuk

menghilangkan zat tanin. Cocopeat dijemur hingga kering, lalu siap

digunakan. Cocopeat dimasukkan ke dalam wadah tanam berukuran

25x10x3 cm.
24

c) Penanaman

Benih microgreen sawi sendok ditabur secara merata, benih yang

dibutuhkan untuk masing-masing wadah adalah 100 butir. Setelah benih

ditabur, siram media dengan air hingga lembab. Wadah diletakkan dan

disusun sesuai dengan layout penelitian. Tanaman diletak di tempat yang

teduh namun terkena sinar matahari.

d) Pemeliharaan

Penyiraman dilakukan sejak awal masa tanam sampai panen

secara teratur sekali sehari pada pagi hari. Pemberian POC kulit bawang

merah dilakukan 2 hari sekali pada umur 2,4,6,8,10 HST agar kelembaban

media tetap terjaga (Sisriana dkk, 2021). Pupuk diencerkan sesuai

perlakuan.

Teknik atau cara pemberian POC yaitu dengan menyiramkan

larutan tersebut melalui bagian atas tanaman (dari atas tanaman).

e) Panen

Microgreens sawi sendok Microgreen dipanen pada umur yang

sangat muda, yaitu 10 hari setelah tanam. Cirinya yaitu telah tumbuh daun

kotiledon dan daun sejati pertama atau yang biasa disebut dengan daun

asli pertama, dengan tinggi 3-10 cm. Pemanenan microgreen dilakukan

dengan cara memotong bibit secara manual atau mekanis beberapa

milimeter di atas permukaan media tanam.


25

b. Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan antara lain:

1) Observasi (Pengamatan)

Observasi adalah teknik pengambilan data dengan melakukan

pengamatan secara langsung pada objek yang dikaji.

2) Dokumentasi

Dokumentasi merupakan pengamatan dalam bentuk gambar yang

diambil dari sumber hasil objek kajian yang dikaji untuk kelengkapan data.

3) Populasi dan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas

obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang

ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik

kesimpulannya.

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki

oleh populasi tersebut. Penentuan jumlah sampel dilakukan dengan teknik

purposive sampling (sampling pertimbangan) (Sugiyono, 2018). Setiap

perlakuan diulang sebanyak 4 kali, sehingga diperoleh 20 unit percobaan.

Setiap unit percobaan terdapat 100 benih microgreens sawi sendok,

sehingga total yang diperlukan adalah 2.000 benih

c. Parameter Pengamatan Percobaan Microgreens Sawi Sendok

1) Tinggi tanaman
26

Pengukuran tinggi tanaman dilakukan pada 5 dan 10 Hari Setelah

Tanam (HST). Pengukuran dilakukan dari pangkal batang hingga ujung

daun tertinggi menggunakan penggaris yang dinyatakan dengan

centimeter (cm).

2) Berat segar tanaman

Berat segar tanaman diukur pada saat panen microgreens sawi

sendok (10 HST) dengan menggunakan timbangan timbangan digital.

3) Volume akar

Volume akar diukur pada saat panen microgreens sawi sendok (10

HST) dengan menggunakan gelas ukur.

4) Klorofil

Klorofil diukur pada saat microgreens sawi sendok (10 HST)

sebelum panen dengan menggunakan chlorophyll meter.

5) Luas Daun

Luas daun diukur pada saat microgreens sawi sendok (10 HST)

dengan menggunakan jangka sorong. Pengukuran luas daun

menggunakan Rumus p x l x faktor koreksi (0,636) (Sitorus, 2021).

d. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam kajian ini yaitu menggunakan

analisis sidik ragam (Anova/Uji F) (Hanafiah, 2010). Data yang diperoleh

diolah dengan model matematik dan Software Statistical Product and

Service Solutions (SPSS) Statistic 24.


27

Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial menggunakan rumus

Model Linear sebagai berikut:

Hijk = µ + Ki + Pj + Pk + (Pj x Pk) + eijk

Keterangan:

Hijk = Hasil akibat perlakuan ke-j dan perlakuan ke-k pada

kelompok ke-i

µ = Nilai tengah umum

Ki = Pengaruh kelompok ke-i

Pk = Pengaruh faktor perlakuan ke-k

Pj x Pk = Interaksi perlakuan ke-J dan perlakuan ke-k

Eijk = Eror akibat perlakuan ke-j dan perlakuan ke-k pada

kelompok ke-i

I = 1,2, ………, k (k = kelompok)

J = 1,2, ………, p ke-1 (p = perlakuan ke-1)

K = 1,2, ………, p ke-2 (p = perlakuan ke-2)

Apabila ada perbedaan yaitu pengaruh nyata atau sangat nyata

maka dilanjutkan dengan uji Duncan menggunakan Software SPSS

Statistic.

B. Desain Penyuluhan

Desain penyuluhan merupakan suatu alat bantu bagi penyuluh

sebelum merencanakan penyuluhan dengan melihat pertimbangan

berbagai aspek analisis kebutuhan, masalah, tujuan yang ingin dicapai,

metode serta teknik penyuluhan yang akan digunakan agar proses


28

transfer informasi dan teknologi dapat diserap secara maksimal oleh

sasaran.

Pembuatan desain penyuluhan, dilaksanakan melalui tahap-tahap

sebagai berikut:

a) Identifikasi keadaan dan potensi wilayah

Identifikasi potensi wilayah dilakukan untuk memperoleh data

keadaan wilayah dengan menggunakan data primer maupun data

sekunder. Data primer diperoleh dilapangan baik dari petani maupun

masyarakat sedangkan data sekunder diperoleh dari monografi

desa/kecamatan/BPP atau dari sumber-sumber lain yang relevan.

b) Identifikasi petani responden

Identifikasi potensi sasaran dilakukan untuk mengetahui

karakteristik petani yang mencakup jumlah petani berdasarkan kelompok

umur, tingkat pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga.

c) Teknik penyuluhan

Teknik penyuluhan yang dilakukan yaitu pendekatan perorangan

dan pendekatan kelompok dimana pendekatan perorangan dilakukan

dengan wawancara, sedangkan pendekatan kelompok dilakukan dengan

ceramah, diskusi dan demonstrasi cara.

d) Tujuan Evaluasi penyuluhan

Memberikan informasi kepada masyarakat tentang pemenuhan

nutrisi pada microgreens sawi sendok (Brassica rapa L.) melalui

pemberian pupuk organik cair kulit bawang merah.


29

C. Pelaksanaan Penyuluhan

Pelaksanaan penyuluhan yaitu untuk memperkenalkan pada

pengguna teknologi (petani) sebagai sasaran penyuluhan bahan dasar

dan penanaman microgreens dengan harapan pengetahuan dan

pemahamannya dalam pemanfaatan bahan-bahan organik menjadi pupuk

organik lebih jelas secara utuh sehingga menumbuhkan kesadaran dalam

perubahan pola pikir dan adanya minat untuk memanfaatkan teknologi

yang disampaikan. Adapun teknis penanaman microgreens sawi sendok

pada kegiatan penyuluhan tahap pertama menjelaskan tentang

microgreens sawi sendok, pupuk organik cair kulit bawang merah.

Kegiatan penyuluhan tahap kedua menjelaskan cara penanaman

microgreens sawi sendok dengan perlakuan terbaik yang diperoleh dari

hasil percobaan sebelumnya. Adapun tahap pelaksanaan penyuluhan

antara lain:

1. Teknik pengumpulan data

a. Data primer

Data primer adalah data yang diperoleh dari hasil observasi dan

wawancara langsung dengan Kelompok Wanita Tani Permata Hijau

dengan cara menggunakan kuesioner (daftar pertanyaan).


30

b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh langsung melalui

dokumen-dokumen pada kantor BPP serta instansi terkait lainnya untuk

melengkapi data yang dibutuhkan.

Teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan beberapa tahap

yaitu:

1) Wawancara yaitu teknik pengumpulan data melalui pertemuan yang

dilakukan berulangkali untuk mendapatkan informasi dari berbagai

aspek.

2) Observasi yaitu mengumpulkan data dengan cara mengamati

langsung objek yang akan dikaji untuk melengkapi data yang diperoleh

dari wawancara dan pencatatan.

3) Dokumentasi, dilakukan dengan mengambil gambar untuk melengkapi

data yang diperoleh dalam kegiatan pelaksanaan penyuluhan.

2. Populasi dan sampel

Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh Kelompok Wanita Tani

tipe petani Hortikultura yang berada di Kecamatan Rappocini, Kota

Makassar. Dengan jumlah Kelompok Wanita Tani sebanyak 717 orang

yang bergabung dalam 34 Kelompok Wanita Tani. Penentuan jumlah

sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling, teknik ini merupakan

teknik pengambilan data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2018).

Adapun sampel yang akan diambil berdasarkan pendekatan secara

kelompok yaitu Kelompok Wanita Tani Jaya Rasa yang berjumlah 25


31

orang karena kelompok wanita tani sudah termasuk petani yang telah

lama budidaya tanaman hortikultura dan mempunyai lahan pekarangan.

3. Materi

Materi yang disampaikan dalam penyuluhan adalah tentang

pemanfaatan pupuk organik cair kulit bawang merah pada tanaman

microgreens sawi sendok.

4. Sasaran penyuluhan

Pemilihan sasaran penyuluhan sesuai dengan identifikasi lokasi

sasaran penyuluhan, lokasi wilayah Kelompok Wanita Tani Permata Hijau

Kelurahan Bangkala Kecamatan Manggala.

5. Tujuan Penyuluhan

Tujuan penyuluhan dilaksanakan yaitu untuk mengetahui tingkat

pengetahuan, sikap dan keterampilan petani terhadap pemenuhan nutrisi

pada microgreens sawi sendok melalui pemberian pupuk organik cair kulit

bawang merah.

6. Metode penyuluhan

Metode adalah cara yang dipilih untuk melakukan alih pengetahuan

kepada sasaran. Penyuluh menggunakan metode pendekatan perorangan

dan pendekatan kelompok terhadap para petani.

7. Media penyuluhan

Media penyuluhan yang digunakan adalah seperti peta singkap,

dan folder.
32

D. Parameter Pengamatan Penyuluhan

Parameter yang diamati pada pelaksanaan kegiatan penyuluhan ini:

1) Aspek kognitif (pengetahuan) petani adalah tingkat pengetahuan

petani sebelum pelaksanaan penyuluhan dan tingkat perubahan

kemampuan pengetahuan petani setelah pelaksanaan penyuluhan.

2) Aspek afektif (sikap) petani adalah tingkat persetujuan petani dalam

kecenderungannya menerima atau menolak inovasi teknologi yang

disampaikan sebelum pelaksanaan penyuluhan dan tingkat perubahan

kemampuan persetujuan petani dalam kecenderungannya menerima

atau menolak inovasi teknologi yang disampaikan setelah pelaksanaan

penyuluhan.

3) Aspek Psikomotorik (keterampilan) petani adalah tingkat keterampilan

petani sebelum pelaksanaan penyuluhan dan tingkat perubahan

kemampuan pengetahuan petani setelah pelaksanaan penyuluhan.

E. Evaluasi Penyuluhan

Alat yang digunakan untuk mengukur tingkat pengetahuan, sikap

dan keterampilan petani adalah kuisioner dengan jumlah pertanyaan

sebanyak 10, nilai tertinggi adalah 4 dan nilai terendah 1. Tinggi

rendahnya tingkat pengetahuan petani dapat ditentukan melalui jawaban

responden dari tiap-tiap pertanyaan dalam evaluasi awal dan evaluasi

akhir.
33

1. Sangat Mengetahui, sangat setuju, sangat terampil apabila responden

menjawab pertanyaan dengan sempurna dari pertanyaan yang

diberikan nilai 4

2. Mengetahui, setuju, terampil apabila responden menjawab pertanyaan

dengan kurang sempurna dari pertanyaan yang diberikan nilai 3

3. Kurang Mengetahui, kurang setuju, kurang terampil apabila responden

menjawab pertanyaan dengan tidak sempurna (lengkap) dari

pertanyaan yang diberikan nilai 2

4. Belum Mengetahui, belum setuju, belum terampil apabila responden

menjawab pertanyaan tidak sesuai dengan pernyataan yang diberikan

nilai 1

Evaluasi penyuluhan pada setiap indikator tingkat perubahan

kemampuan yang ingin dicapai pada pelaksanaan kegiatan penyuluhan

dapat diketahui dari hasil perhitungan beberapa unsur sebagai berikut.

1. Tingkat pengetahuan sebelum penyuluhan adalah tingkat pemahaman

sasaran penyuluhan terhadap teknologi yang akan disampaikan,

pengukurannya dengan memberikan beberapa pertanyaan (tes awal)

untuk mendapatkan data awal.

2. Tingkat pengetahuan setelah dilaksanakan penyuluhan yaitu untuk

mengetahui tingkat penerimaan/daya ingat sasaran penyuluhan

terhadap teknologi yang disampaikan setelah pelaksanaan penyuluhan.

Dengan memberikan beberapa pertanyaan yang sama seperti pada

tes awal sebagai (tes akhir).


34

3. Tingkat pemahaman dan persetujuan pada masing-masing aspek

pengetahuan, sikap dan keterampilan sebelum dan sesudah

penyuluhan diolah dan ditabulasi serta digambarkan secara umum

pada garis Continuum melalui urutan dan rumus sebagai berikut.

a. Jumlah skor yang diperoleh

b. Skor tertinggi yang dapat diperoleh

c. Skor terendah yang dapat diperoleh

Jumlah skor yang diperoleh


= ------------------------------------------ x 100 %
Jumlah skor tertinggi

Dan selanjutnya digambarkan secara umum menggunakan garis

Continuum.

4. Evaluasi penyuluhan tingkat pengetahuan, sikap dan keterampilan

diketahui dengan menggunakan rumus (Padmowihardjo, 2002).

PS - PR
EP = --------------------------- x 100%
N.4.Q - PR

Keterangan:

PS = Post Test (evaluasi akhir)

PR = Pre Test (evaluasi awal)

N = Jumlah responden

4 = Nilai tertinggi

Q = Jumlah pertanyaan
35

100 % = Pengetahuan yang ingin dicapai

Ps-Pr = Peningkatan pengetahuan

N.4.Q-Pr = Nilai kesenjangan

Selanjutnya untuk menghitung atau menentukan tingkat efektivitas

masing-masing aspek dinilai berdasarkan kriteria sebagai berikut:

a. Sangat efektif apabila nilai yang diperoleh > 76%

b. Efektif apabila nilai yang diperoleh 51% - 75%

c. Kurang efektif apabila nilai yang diperoleh 26% - 50%

d. Tidak efektif apabila nilai yang diperoleh < 25%

F. Definisi Operasional

1. Microgreens adalah bibit muda yang dipanen berkisar 5-10 hari

setelah semai. Microgreens memiliki kandungan gizi dan vitamin yang

lebih tinggi dibandingkan dengan sayuran dewasa.

2. Sawi sendok adalah jenis sayuran yang popular termasuk keluarga

Brassicaceae. Sawi sendok mudah dibudidayakan dan dapat dimakan

segar atau diolah.

3. Kulit bawang merah merupakan salah satu limbah rumah tangga yang
memiliki banyak senyawa kimia seperti flavonoid, saponin, tannin,

glikosida dan steroida atau triterpenoid, kulit bawang merah dapat

dijadikan sebagai Pupuk organik cair yang mempercepat pertumbuhan

akar serta zat yang dapat membunuh hama seperti ulat.


36

DAFTAR PUSTAKA

Amitasari. 2016. Pertumbuhan Tanaman Sawi Caisim (Brassica Juncea L.)


Secara Hidroponik pada Media Pupuk Organik Cair dari Kotoran
Kelinci dan Kotoran Kambing. [Skripsi]. Surakarta: Universitas
Muhammadiyah Surakarta.

Anggraeni, Indri. 2019. Pemberian Pupuk Organik Cair Dan Padat


Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi (Brassica Juncea). [Skripsi].
UIN Raden Intan Lampung.

Badan Pusat Statistik Kota Makassar. 2021. Makassar Municipality in


Figures 2021. Makassar.

Banu, L.S. 2020. Review: Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang Merah dan
Ampas Kelapa sebagai Pupuk Organik terhadap Pertumbuhan
Beberapa Tanaman Sayuran. Jurnal Ilmiah Respati, 11(2): 148-156.

Borlinghaus, J., F. Albrecht, M.C.H. Gruhlke, I.D. Nwachukwu, and A.J.


Slusarenko. 2014. Allicin: chemistry and biological properties.
Molecules, 19: 12591-12618

Edi, S., Bobihoe, J. 2010. Budidaya Tanaman Sayuran. Balai Pengkajian


Teknologi Pertanian. Jakarta.

Food ang Agriculture Organization (FAO). 2008. Urban Agriculture For


Sustainable Poverty Alleviation and Food Security. 84p.

Firmansyah. M. Anang., (2011). Peraturan tentang Pupuk, klasifikasi


Pupuk Alternatif dan Peranan Pupuk Organik dalam peningkatan
produksi pertanian. Palangkaraya.

Febriani, V., Nasrika, E., Munasari, T., Permatasari, Y. and Widiatningrum,


T. 2019. Analisis Produksi Microgreens Brassica oleracea
Berinovasi Urban Gardening Untuk Peningkatan Mutu Pangan
Nasional. Journal of Creativity Student, 2(2), pp. 58-66.

Hanafiah, K., A. 2010. Rancangan Percobaan: Teori dan Aplikasi. Ed.


Ketiga. Jakarta: Rajawali Pers.

Kusuma, M.E. 2012. Pengaruh Beberapa Jenis Pupuk Kandang Kualitas


Bokashi. Jurnal Ilmu Hewani Tropika, 1(2): 41-46.

Kyriacou, M. C., Rouphael, Y., Di Gioia, F., Kyratzis, A., Serio, F., Renna,
M., De Pascale, S., & Santamaria, P. 2016. Micro-scale vegetable
37

production and the rise of microgreens. Trends Food Sci. Technol.


57, 103–115. doi:10.1016/[Link].2016.09.005.

Kementerian Pertanian. 2018. Peraturan Menteri Pertanian Nomor


03/Permentan/SM.200/1/2018 Pedoman Penyelenggaraan
Penyuluhan Pertanian. Ditjen Perundang-undangan dalam Berita
Negara Republik Indonesia. Jakarta.

Kaiser, C., Ernst, M. 2018. Microgreens. CCDP-104. Center for Crop


Diversification. University of Kentucky College of Agriculture, Food
dan Environment. Lexington. USA.

Liferdi L. dan Cahyo, S. 2016. Vertikultur Tanaman Sayur. Penebar


Swadaya: Jakarta.

Mardikanto, T. 2009. Sistem Penyuluhan Pertanian. Sebelas Maret


University Press. Surakarta.

Padmowihardjo. S, 2002. Evaluasi Penyuluhan Pusat. Universitas Terbuka,


Jakarta.

Pasaribu, M, Y, A., 2019. Pengaruh Pemberian Pupuk Kompos Plus


Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Sendok (Brassica rapa L.).
[Skripsi]. Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma.

Putri, H. H. (2020). Pengaruh Komposisi Media Tanam, Waktu Panen Dan


Populasi Berbeda Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Bayam Merah
(Amaranthus Tricolor L.) Metode Terapung. [Skripsi]. Sumatera
Selatan: Universitas Sriwijaya.

Roidi, 2016. Pengaruh Pemberian Pupuk Cair Daun Lamtoro (Leucaena


leucocephala) Terhadap Pertumbuhan Dan Produktivitas Tanaman
Sawi (Brasicca chinensis L.). Program Studi Pendidikan Biologi.
Universitas Sanata Dharma. Yogyakarta.

Rinzani, F., Siswoyo, dan Azhar. 2020. Pemanfaatan Limbah Kulit Bawang
Merah Sebagai Pupuk Organik Cair Pada Budidaya Tanaman
Bayam di Kelurahan Benteng Kecamatan Ciamis Kabupaten
Ciamis. Jurnal Inovasi Penelitian, 1 (3): 197-206.

Rukka, H. 2019. Diktat Media Penyuluhan Pertanian. Badan


Pengembangan SDM Pertanian. Sekolah Tinggi Penyuluhan
Pertanian Gowa.

Sukajat, N, K., 2020. Pengaruh Kombinasi Serbuk Sabut Kelapa dan


Arang Sekam Terhadap Pertumbuhan Tanaman Sawi Pakcoy
38

(Brassica Rapa Subsp. Chinensis) Pada Sistem Hidroponik Dft


(Deep Flow Technique). [Skripsi]. Surabaya: Universitas Islam
Negeri Ampel.

Sitorus, D. (2021). Pengaruh Paparan Musik Gamelan dan Noise pada


Pertumbuhan Tanaman Pakcoy (Brassica rapa L.). [Skripsi].
Sumatera Utara: Universitas Sumatera Utara.

Tania, N., Astina, & Budi, S. (2012). Pengaruh pemberian pupuk hayati
terhadap pertumbuhan dan hasil jagung semi pada tanah podsolik
merah kuning. Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian, 1(1), 10-15.
Undang–undang RI No. 16 Tahun 2006. Tentang Sistem Penyuluhan
Pertanian, Perikanan, dan Kelautan. Biro Hukum Depertemen
Pertanian. Jakarta.

Verlinden, S. 2020. Microgreens: Definitions, Product Types, and


Production Practices. Horticultural Reviews, 47(1), pp. 85-124.

Weber, C. F. 2016. Nutrient Content of Cabbage and Lettuce Microgreens


Grown on Vermicompost and Hydroponic Growing Pads. Journal of
Horticulture, 3(4), pp. 1-5.

Widiwurjani, Guniarti, Putri, A., 2019. Status Kandungan Sulforaphane


Microgreens Tanaman Brokoli (Brassica Oleracea L.) Pada
Berbagai Media Tanam Dengan Pemberian Air Kelapa Sebagai
Nutrisi. Jurnal Ilmiah Hijau Cendekia, Vol. 4, No. 1,
(hthp://[Link]/[Link]/HijauCendekia,
diakses 12 Januari 2024).

Anda mungkin juga menyukai