0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan36 halaman

Panduan Pemadaman Kebakaran Dasar

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang penanggulangan kebakaran dan manajemen penanggulangan kebakaran. 2. Dibahas proses timbulnya api, klasifikasi bahan bakar, dan unsur-unsur pemadam kebakaran. 3. Juga dijelaskan tentang manajemen penanggulangan kebakaran yang meliputi personil, peralatan, pelatihan, dan audit keselamatan kebakaran."

Diunggah oleh

Anggi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
10 tayangan36 halaman

Panduan Pemadaman Kebakaran Dasar

Ringkasan dokumen tersebut adalah sebagai berikut: 1. Dokumen tersebut memberikan penjelasan tentang penanggulangan kebakaran dan manajemen penanggulangan kebakaran. 2. Dibahas proses timbulnya api, klasifikasi bahan bakar, dan unsur-unsur pemadam kebakaran. 3. Juga dijelaskan tentang manajemen penanggulangan kebakaran yang meliputi personil, peralatan, pelatihan, dan audit keselamatan kebakaran."

Diunggah oleh

Anggi
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BASIC FIRE FIGHTING

REFRESHMENT
Tujuan
◼ Merefresh Kembali tentang alat pemadam api ringan secara
aman, tepat, dan efisien sesuai regulasi yang berlaku

◼ Mampu mengidentifikasi dan menempatkan alat pemadam


berdasarkan sumber kebakaran (fire classification).

◼ Memahami tindakan yang harus dilakukan dalam emergency


condition.
Filsafat Pemadaman Kebakaran

⚫ Jika terjadi kebakaran dalam operasi kita, keselamatan


manusia dalam penanggulangan darurat selalu
merupakan prioritas tertinggi dan tidak boleh sekali-kali
dinomor duakan.
⚫ Kebakaran awal/kecil digolongkan sebagai kebakaran yang dapat
dikendalikan dengan alat pemadam kebakaran jinjing, dry
chemical / foam hose station, atau selang air pemadam dengan
diameter 1-1/2 inci atau lebih kecil. Pemadaman kebakaran
tahap awal ini menjadi tanggungjawab orang yang melihatnya
baik karyawan, tamu atau kontraktor. Tidak diperlukan PPE
khusus pada waktu menggunakan alat pemadam kebakaran ini
dan kebakaran masih dalam tahap awal
⚫ Kebakaran lanjutan/besar, digolongkan sebagai kebakaran yang
membesar dan tidak dapat dikendalikan dengan APAR,
menjadi tanggungjawab petugas pemadam kebakaran
yang sudah terlatih, telah mendapatkan pelatihan dan
menggunakan PPE khusus (Bunker gear & SCBA)
Norma K3 Penanggulangan Kebakaran

UU No 1 tahun 1970
tentang Keselamatan Kerja Zero
Accident
Sasaran
K3
• Melindungi para pekerja dan orang lainnya di tempat
kerja

• Menjamin setiap sumber produksi agar dapat dipakai


secara aman dan efisien

• Menjamin proses produksi berjalan lancar


Norma K3 Penanggulangan Kebakaran

STRATREGI
PENANGGULANGAN KEBAKARAN
Pasal 3 ayat (1).
Dengan peraturan perundangan ditetapkan
syarat syarat keselamatan kerja untuk :
• mencegah, mengurangi, dan memadamkan
kebakaran,
• mencegah, mengurangi peledakan
• memberikan kesempatan jalan menyelamatkan diri
dalam bahaya kebakaran
• pengendalian penyebaran asap, gas dan suhu
Pasal 9 ayat (3).
Pengurus wajib membina K3 penanggulangan kebakaran
Manajemen Penanggulangan Kebakaran

Manajemen Penanggulangan Kebakaran (MPK) atau Fire


Safety Management (FSM) adalah segala upaya
memobilisasi personil, pemanfaatan biaya, penggunaan
bahan, peralatan dan metoda termasuk informasi untuk
pencegahan dan penanggulangan terhadap kebakaran dan
bahaya terkait lainnya yang sewaktu-waktu terjadi di
bangunan / unit industri.
Manajemen Penanggulangan Kebakaran

Lingkup MPK :
1. Melakukan pemeriksaan dan pemeliharaan sistem dan
peralatan proteksi kebakaran

2. Membentuk tim keadaan darurat yang dinamis

3. Membina dan mengembangkan pelatihan personil

4. Menyusun fire emergency & response plan (FERP)

5. Melaksanakan latihan kebakaran dan evakuasi

6. Melakukan audit keselamatan kebakaran secara berkala

7. Menyusun SOP-SOP menyangkut pelaksanaan kerja yang aman


terhadap bahaya kebakaran

8. Menerapkan fire-safe housekeeping

9. Menyelengarakan sosialisasi, kampanye tentang aman


kebakaran dan bencana lainnya
Manajemen Penanggulangan Kebakaran

Unit penanggulangan kebakaran dalam sebuah perusahaan


([Link].186/MEN/1999):
a. Petugas peran kebakaran (Klas D);
b. Regu penanggulangan kebakaran (Klas C);
c. Koordinator unit penanggulangan kebakaran (Klas B);
d. Ahli K3 spesialis penanggulangan kebakaran sebagai
penanggung jawab teknis (Klas A)
PENANGGUNG JAWAB UMUM
(PENGURUS)

DEPARTEMEN K3
(Safety Officer)

PENANGGUNG JAWAB
UNIT PENANGGULANGAN
KEBAKARAN
PETUGAS REGU
PENANGGULANGAN
KEBAKARAN
KOORDINATOR SUB UNIT
PENANGGULANGAN
KEBAKARAN

PETUGAS
PERAN KEBAKARAN
Manajemen Penanggulangan Kebakaran

Rasio jumlah minimum klasifikasi, kualifikasi dan kompetensi


Personil penanggulangan kebakaran Di tempat kerja dikaitkan
dengan resiko bahaya:

Keterangan :
• Tingkat D = Petugas Peran
Kebakaran

• Tingkat C = Regu
Penanggulangan Kebakaran

• Tingkat B = Koordinator
Unit Pananggulangan
Kebakaran

• Tingkat A = Ahli K3
Spesialis Penanggulangan
Kebakaran
Manajemen Penanggulangan Kebakaran
Bagaimana Proses Timbulnya Kebakaran?

Kebakaran adalah terjadinya api liar yang


tidak dikehendaki

Tiga elemen yang diperlukan:

BAHAN BAKAR (FUEL) – bisa berupa material yang mudah


FUEL terbakar yang berbentuk padat, cair atau gas

OKSIGEN (O2) – udara di atmosfir mengandung 21%


O2 oksigen

PANAS – panas adalah energy yang diperlukan untuk


PANAS menaikkan suhu bahan bakar sehingga mencapai titik api
pertama
Bagaimana Proses Timbulnya Api?

Oxigen

Reaksi Kimia API


API AWAL = FIRE TRIANGLE
Bisa ditimbulkan oleh reaksi yang melibatkan ketiga
elemen ini.
Fuel Heat/Fire
Oxigen
API LANJUTAN = Karena panas yg ditimbulkan
berlebihan mengakibatkan bahan kimia disekitar
bereaksi, menimbulkan API YANG MEMBESAR,
dapat menimbulkan ledakan dan gas beracun (FIRE
TETRAHEDRON = Kebakaran yang melibatkan
Reaksi Kimia = O2 + Fuel + Heat/Fire + Reaksi
kimia).

chemical
Fuel Heat/Fire
Proses Pembakaran

Apakah yang sedang terbakar dan Bentuk bahan bakar


secara fisik:

◼ Padat (Solid)

◼ Cair (Liquid)

◼ Gas

Pembakaran terjadi saat bahan bakar berubah bentuk


menjadi gas.
Proses Pembakaran

Proses pembakaran menghasilkan asap dan material lainnya.


Hasil yang spesifik dari proses pembakaran tergantung dari:

❑ Bahan bakar

❑ Suhu

❑ Jumlah oxygen yang tersedia

Di beberapa kejadian kebakaran mengkonsumsi semua bahan


bakar yang tersedia.
Cairan Mudah Terbakar

❑ Sifat fisik dari cairan : Molekul - molekul dari cairan adalah


bergerak bebas diantara mereka, namun molekul - molekul
tersebut tidak mempunyai kecenderungan untuk berpisah
sebagaimana sifat gas.
❑ Bahan bakar cair harus menguap sebelum terbakar.
❑ Konsentrasi minimum ataupun maksimum harus ada untuk dapat
menyalakan uap.
❑ Sebagian besar cairan mudah terbakar (flammable liquids) dapat
menyala dengan baik dibawah titik didih (boiling point). Kondisi-
kondisi yang diperlukan untuk pengapian (ignition):
▪ Campuran bahan bakar – udara dalam
batas yang memenuhi flammable limits.
▪ Sumber api dengan cukup energi.
▪ Terjadi kontak berkelanjutan antara sumber
api dan campuran bahan bakar – udara
Titik Nyala (Flash Point)

Titik Nyala adalah Suhu terendah dimana suatu cairan


mengeluarkan uap dalam konsentrasi yang cukup untuk
membentuk suatu campuran mudah terbakar dengan udara
yang terdapat diatas permukaan cairan. Mudah tidak nya suatu
bahan bakar cair untuk terbakar antara lain adalah ditentukan
oleh Titik Nyala.

Titik Nyala :
Gasoline 19.4° F (-7°C)
Diesel fuel 125° F (51.7°C)
Kerosine 140° F (60°C)
Propane gas
Butane gas
Condensate 20° F (-6,7°C)
Batasan Mudah Terbakar

Batasan Mudah Terbakar (Flammable Range) adalah batas


antara minimum (LFL) dan maksimum (UFL) konsentrasi
campuran uap bahan bakar dan udara normal, yang dapat
menyala/ meledak setiap saat bila diberi sumber panas. Di luar
batas ini tidak akan terjadi kebakaran.
Dalam penanganan cairan dan gas mudah terbakar yang perlu
diperhatikan adalah nilai LFL dan UFL.
Hydrogen 4% - 75%
Methane (Fuel gas) 5% - 14%
Propane (LP-gas) 2% - 9%
Butane (LP-gas) 2% - 8%
Condensate 2.1% - 7.1%
Gasoline 1% - 7%
Kerosine 1% - 5%
Acetylene 2% - 81%
Crude Oil 1% - 10%
Gas dan Cairan yang Mudah dan
Dapat Terbakar

DIFINISI

Menurut NFPA 30,


Flammable Liquid adalah suatu cairan yang mempunyai titik
nyala (Flash Point) dibawah 100ºF (37.8ºC) dan mempunyai
tekanan uap tidak lebih dari 40 psi pada suhu 100ºF,
Combustible Liquid mempunyai titik nyala (Flash Point) diatas
100ºF, meskipun cairan tersebut tidak mudah terbakar
sebagaimana cairan yang dikatagori kan sebagai Flammable
Liquid,namun mereka dapat terbakar pada keadaan tertentu dan
harus diperlakukan dengan baik
Risk classification:
Klas 1 = Kurang dari 100oF (resiko tinggi)
Klas 2 = 100 – 140oF (resiko sedang)
Klas 3 = Lebih dari 140oF (resiko rendah)
KLASIFIKASI KEBAKARAN (FIRE CLASS)

GOLONGAN KEBAKARAN (Permenakertrans No 04/MEN/1980)


▪ Kebakaran Bahan Padat Kecuali Logam (Klas A)
▪ Kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar (Klas B)
▪ Kebakaran Instalasi listrik berteganan (Klas C)
▪ Kebakaran Logam (Klas D)

NFPA 10 - 2002

▪ Kebakaran Bahan Padat Kecuali Logam (Klas A)

▪ Kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar (Klas B)

▪ Kebakaran Instalasi listrik berteganan (Klas C)

▪ Kebakaran Logam (Klas D)

▪ Kebakaran yang melibatkan media memasak (Minyak atau lemak


Nabati atau Hewani (Klas K)
Klasifikasi Kebakaran

Class A
Bahan mudah terbakar atau bahan berserat seperti
kayu, kertas, karet atau plastik
Biasanya setelah terbakar akan meninggalkan abu.

Class B
Bahan mudah menyala atau cairan yang mudah
terbakar seperti bensin, minyak tanah, cat, thiner cat

Class C
Peralatan yang menggunakan listrik seperti alat-alat
listrik (kotak panel, kabel), peralatan listrik

Class D
D D Material logam yang mudah terbakar seperti
magnesium, Litium dan sodium

Class K
K Kebakaran dapur yang menyangkut minyak sayur
dan minyak hewani
Karakteristik Alat Pemadam Api Ringan

TIPE APAR PEMADAMAN EFEKTIFITAS

PRESSURIZED COOLING
WATER
CARBON SMOTHERING,
DIOXIDE COOLING
MULTIPURPOSE
SMOTHERING
DRY CHEMICAL
SMOTHERING
HALON Breaking Chain
/Pengganti Reaction

COMBUSTIBLE
SMOTHERING D
METAL
COOLING/
WET CHEMICAL SMOTHERING Breaking
6
Chain Reaction
Teknik Pemadaman Kebakaran

a. Penurunan suhu (Cooling)

b. Menghambat Oksigen (Smothering)

c. Pemisahan Bahan Bakar (Starvation)

d. Memutus Rantai Reaksi Pembakaran


(Breaking Chain Reaction)

6
Sistem Proyeksi Aktif

APAR (ALAT PEMADAM API RINGAN)


Ref :
Pert. Menaker No Per-04/Men/1980
▪ Dapat di gunakan (di operasikan) oleh satu orang
▪ Digunakan hanya untuk kebakaran Kecil (Awal)

Harus Siap Pakai pada waktunya

✓Mudah di lihat dan di ambil

✓Kondisi Baik

✓Setiap orang dapat mengoperasikan dengan ben


ar, tidak membahayakan dirinya
TIPE/JENIS ALAT PEMADAM KEBAKARAN

JENIS BASAH : JENIS KERING :


1. Air 1. DRY POWDER
2. Busa 2. CO
3. CLEAN AGENT
Pemeriksan Singkat Alat Pemadam Api

◼ Pastikan jenis pemadam sesuai dengan tipe kebakaran


yang mungkin terjadi di area tsb
◼ Pastikan pin masih terpasang pada tabung pemadam
◼ Lihat pressure gauge dan ukur beratnya
⚫ Tipe yang mempunyai pressure gauge. Tekanan yang
diperlukan harus berada pada posisi “Hijau”
⚫ Tipe yang tidak mempunyai pressure gauge, harus
diukur beratnya
◼ Pastikan pin, nozzle dan nameplat masih utuh terpasang

6
Sebelum Menggunakan Alat Pemadam

Hal - hal yang perlu di perhatikan sebelum


Menggunakan Alat Pemdam Api Ringan:

• Terlatih untuk menggunakan Alat Pemadam Api


Ringan

• Mengetahui Apa yang terbakar

• Api belum dengan cepat menyebar

• Asap dan Panas belum memenuhi ruangan

• Terdapat Jalan keluar dari ruangan yang terbakar

6
Cara Penggunaan Alat Pemadam
Api Ringan
1. Tenang, jangan panik.
2. Letakkan APAR dilantai, dan cabut PIN pengamannya
3. Pastikan anda berdiri searah angin dan punggung mengarah ke pintu keluar
4. Pegang gagang Nozzle (Jangan pegang selangnya) dan tekan lever
penghembus
5. Lakukan test fungsi arahkan nozzle keatas. Jika APAR tidak berfungsi baik,
maka ganti dengan yang lain .
Jika baik maka teruskan ke langkah 6
6. Dekati api dari arah angin dan berhentilah pada posisi kira kira 3 Meter dari api.
7. Mulailah menyemprot pangkal api sambil maju dan mengibaskan nozzle kekiri
dan kanan
8. Segera menghindar bila media APAR habis namun api belum padam.
9. Bila api padam , yakinkan . Kemudian balikkan posisi tabung dan semprotkan
keatas , untuk membunag sisa gas pendorong tanpa mengikutkan bubuknya .

ARAH ANGIN

6
Cara Penggunaan Alat Pemadam
Api Ringan

Ingat singkatan P.A.S.S

P...Pull (tarik) pin

A...Aim (Arahkan) nozzle ke titik nyala api

S...Squeeze (Tekan) trigger sementara pegang tabung


dalam posisi tegak

S...Sweep (Sapuan) bahan pemadam dari sisi ke sisi,


menutup area api dengan bahan pemadam

6
Cara Penggunaan Alat Pemadam
Api Ringan
Jenis CO2

1. Tarik Ring Pin Pengaman


2. Tarik Horn dari Tempatnya
(Jangan memegang horn karena ia akan menjadi sangat dingin, gunakan handle yang
tersedia)

3. Tekan Tuas Handle Pengoperasian


4. Arahkan dan Kibaskan Semburan CO2 Kepangkal Nyala
Api Hingga Padam

6
Penyebab Kebakaran

Beberapa Penyebab Kebakaran antara lain :


Listrik
Housekeeping yang kurang baik
Penanganan Bahan mudah terbakar yang tidak baik
Kegiatan Memasak yang tanpa diawasi (unattended cooking)
Merokok

• Faktor Manusia
• Faktor Peralatan
• Faktor Alam
• Faktor Bahan Berbahaya
• Faktor Kecelakaan
Penyebaran Panas (Heat Transfer)

Ada 3 cara penyebaran panas yaitu :


1. Radiasi – Benda dapat terbakar bila diletakkan di dekat sumber panas yang
menyala. Energi panas akan berpindah melaui gas / udara secara langsung
2. Konveksi – Penyebaran panas dapat terjadi dari tingkat yang lebih rendah ke
tingkat yang lebih tinggi, sejalan dengan meningkatnya gas panas yang diproduksi
sumber api tersebut.
3. Konduksi – Panas dan Api dapat menjalar melalui benda padat dari bahan yang tak
terlindung
Sistem Proteksi Pasif

• MEANS OF ESCAPE
• KOMPARTEMEN
• SMOKE CONTROL
• FIRE DAMPER
• FIRE RETARDANT

6
Evakuasi

• Jangan panik.
• Jangan menggunakan lift.
• Berjalan dengan cepat dan teratur.
• Jangan lari.
• Segera menuju tangga darurat terdekat.
• Ikuti petunjuk petugas evakuasi.
• Dahulukan penghuni yg cacat/kelainan lain.
• Bantu terhadap tamu yg kurang mengetahui seluk beluk bangunan.
• Lepaskan sepatu yang berhak tinggi.
• Segera keluar menuju tempat berkumpul yang telah ditetapkan.
• Jangan berhenti atau kembali kelantai.

6
Posisi Saat Menghindari Asap

Jika terperangkap dalam ruangan berasap, SELAMATKAN DIRI


DENGAN CARA MERANGKAK. Udara dibagian bawah relatif lebih
bersih dari pengaruh asap
6
INGAT.....

◼ Bila jalan ke pintu keluar terancam tertutup oleh api

◼ Bila bahan pemadam kebakaran habis

◼ Bila pemadam kebakaran terbukti tidak efektif

◼ Bila anda tidak mampu untuk memadamkan kebakaran


dengan aman

...MAKA TINGGALKAN AREA SEGERA

Anda Tidak diharapkan menjadi Pemadam


Kebakaran maka jangan mengambil
resiko yang tidak perlu

Anda mungkin juga menyukai