DESIGN
THINKING
6DKVA
Group member
Alberta Adeline Marvel 2131113
Kalon Kennedy 2131011
Kellie Leslie 2131030
Raymond 2131024
Kelvin 2131135
Part One
WHat is design
thinking ?
DESIGN THInking
Design thinking adalah ideologi atau proses kreatif untuk
memecahkan masalah kompleks yang berpusat pada manusia
(pengguna), alias human-centric. Pada saat yang sama, Design
Thinking dilakukan secara berulang guna menciptakan solusi inovatif
yang tidak terpikirkan sebelumnya (out of the box).
DESIGN THInking
Design Thinking membantu kita mengamati dan mengembangkan
empati dengan target pengguna. Design Thinking membantu kita
dalam proses bertanya: mempertanyakan masalah, mempertanyakan
asumsi, dan mempertanyakan keterkaitannya. Design Thinking
melibatkan eksperimen yang sedang berjalan: membuat sketsa,
membuat prototype, testing, dan mencoba berbagai konsep dan ide.
Part two
stages in the
process of
design thinking
# 1 EMPathise ( empati )
Tahap pertama dari Design Thinking yaitu mendapatkan
pemahaman empatik tentang masalah yang dicoba untuk
diselesaikan.
Empati sangat penting untuk proses desain yang berpusat pada
manusia, dan empati memungkinkan pemikir desain untuk
mengesampingkan asumsi mereka sendiri tentang dunia untuk
mendapatkan wawasan tentang pengguna dan kebutuhan mereka.
# 1 EMPathise ( empati )
# 2 define ( menentukan )
Selama tahap Define, kita mengumpulkan informasi yang telah kita buat
dan kumpulkan selama tahap Empathise. Disinilah kita akan menganalisis
pengamatan dan mensistesisnya untuk menentukan masalah inti yang telah
diidentifikasi. Kita berusaha menidentifikasi masalah sebagai pernyataan
masalah dengan cara yang berpusat pada manusia.
Tahap Define akan membantu para desainer dalam sebuah tim untuk
mengumpulkan ide-ide hebat untuk membangun fitur, fungsi, dan elemen
lain yang akan memungkinkan mereka untuk menyelesaikan masalah atau,
paling tidak, memungkinkan pengguna untuk menyelesaikan masalah sendiri
dengan tingkat kesulitan minimal.
# 2 define ( menentukan )
# 3 ideate ( menghasilkan ide )
Tahap ketiga dari proses Design Thinking, desainer siap untuk mulai
menghasilkan ide. Kita telah tumbuh untuk memahami pengguna dan
kebutuhan mereka di tahap Empathize, dan kita telah menganalisis dan
mensistesis pengamatan Anda di tahap Define, dan berakhir dengan
pernyataan masalah yang berpusat pada manusia.
Ide dapat kita mulai dengan “berpikir di luar kotak” untuk
mengidentifikasi solusi baru untuk pernyataan masalah yang dibuat, dan
kita dapat mulai mencari cara alternatif untuk melihat masalah.
# 3 ideate ( menghasilkan ide )
# 4 prototype
Pada tahap prototype, tim akan menghasilkan sejumlah versi produk atau fitur
spesifik yang ditemukan dalam produk, sehingga mereka dapat menyelidiki solusi
masalah yang dihasilkan pada tahap sebelumnya.
Prototype dapat dibagikan dan diuji dalam tim itu sendiri, di departemen lain,
atau pada sekelompok kecil orang diluar tim desain. Ini adalah fase eksperimental,
dan tujuannya adalah untuk mengidentifikasi solusi terbaik untuk setiap masalah
yang diidentifikasi selama tiga tahap pertama. Solusi diimplementasikan dalam
prototype, dan satu per satu, mereka diselidiki dan diterima, diperbaiki dan
diperiksa ulang, dan ditolak berdasarkan pengalaman pengguna.
# 5 test
Desainer menguji produk lengkap secara ketat menggunakan solusi terbaik yang
diidentifikasi selama fase prototyping. Ini adalah tahap akhir dari design thinking,
tetapi dalam proses berulang, hasil yang dihasilkan selama fase testing sering
digunakan untuk mendefinikan kembali satu atau lebih masalah dan
menginformasi pemahaman pengguna, kondisi penggunaan, bagaimana orang
berpikir, berperilaku, dan merasakan, dan berempati. Bahkan selama fase ini,
perubahan dan penyempurnaan dilakukan untuk menyingkirkan solusi masalah dan
memperoleh pemahaman sedalam mungkin terhadap produk dan penggunanya.
EXAMPLE
Nadiem
EXAMPLE
lebih memilih naik ojek dibanding membawa
mobil sendiri untuk menghindari kemacetan
Jakarta
Nadiem
EXAMPLE lebih memilih naik ojek
dibanding membawa mobil
sendiri untuk menghindari
kemacetan Jakarta
Nadiem memahami seluk beluk perjuangan seorang ojek yang
bekerja selama 14 jam sehari dan tidak bertemu anak istri,
tetapi hanya dapat 4 penumpang. Ia merasa prihatin dengan
nasib tukang ojek.
EXAMPLE
Nadiem berusaha menjawab permasalahan yang ada dengan
menekankan bahwa konsumen menghadapi masalah
kemacetan setiap hari. Di sisi lain, terdapat ketidakpastian
penghasilan dari tukang ojek, bahkan setelah bekerja berjam-
jam dalam sehari.
EXAMPLE
Bermodal keresahan masyarakat atas kemacetan Jakarta, dan
nasib tukang ojek, Elsa merumuskan beberapa solusi. Salah
satunya adalah dengan menciptakan sebuah penghubung
antara kebutuhan penumpang dan tukang ojek.
EXAMPLE
Pada 2010, Nadiem membuat sebuah call center untuk ojek
konvensional yang berjumlah 20 orang pengemudi. Setelah
mendapat respons positif dari masyarakat, barulah Gojek
mengembangkan aplikasinya.
EXAMPLE
Pada 2015, Gojek merilis aplikasi Go-Ride untuk melihat respons
masyarakat. Tak lama, pengemudi berbondong-bondong mendaftar,
dari yang mulanya 20 orang menjadi 800 orang pada 2015. Gojek telah
sukses menjadi penghubung mitra ojek online dengan customer yang
membutuhkan transportasi alternatif untuk menghindari kemacetan
Jakarta.
thankyou