Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus
Laporan Pendahuluan Diabetes Melitus
A. Definisi
Diabetes melitus adalah penyakit yang terjadi karena sekumpulan
gejala dalam tubuh manusia yang disebabkan oleh peningkatan kadar gula
darah/glukosa darah akibat penurunan sekresi insulin secara bertahap yang
disebabkan oleh resistensi insulin (Soegondo, 2015). Diabetes Melitus
merupakan salah satu penyakit metabolik yang ditandai dengan
hiperglikemia yang disebabkan oleh sekresi insulin yang abnormal, kerja
insulin yang tidak normal, atau keduanya (Ernawati, 2013).
B. Etiologi
Menurut (Association, 2020) etiologi diabetes melitus adalah :
1) Diabetes Tipe 1
a) Faktor genetik
Pasien diabetes sendiri tidak mewarisi diabetes tipe 1 dengan
sendirinya, tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kerentanan
genetik dari diabetes tipe 1, dan kerentanan genetik ini ada pada
individu dengan antigen tipe HLA.
b) Faktor-faktor imunologi
Terdapat reaksi autoimun yang merupakan reaksi abnormal di
mana antibodi secara langsung terarah pada jaringan manusia
normal dengan bereaksi terhadap jaringan yang dianggap sebagai
benda asing yaitu autoantibodi terhadap sel pulau Langerhans dan
insulin endogen.
c) Faktor lingkungan
Toksin atau virus tertentu yang dapat memicu proses autoimun
yang menimbulkan destruksi sel beta.
2) Diabetes Tipe 2
Mekanisme pasti yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan
sekresi insulin pada diabetes tipe 2 masih belum jelas. Faktor genetik
berperan dalam perkembangan resistensi insulin menurut (Utomo,
2020) adalah sebagai berikut :
a) Usia
b) Obesitas
c) Riwayat keluarga.
C. Manifestasi Klinis
Menurut (Febrinasari, 2020), manifestasi klinis diabetes melitus adalah :
1) Poliuria (sering kencing)
2) Polidipsia (sering merasa haus)
3) Polifagia (sering merasa lapar)
4) Penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya.
Selain hal-hal tersebut, gejala lain adalah :
1) Mengeluh lernah dan kurang energi
2) Kesemutan di tangan atau kaki
3) Mudah terkena infeksi bakteri atau jamur
4) Gatal
5) Mata kabur
6) Penyembuhan luka yang lama.
D. Klasifikasi
Klasifikasi diabetes melitus menurut (Lemone, 2016), sebagai berikut :
1) Diabetes Melitus tipe 1
Diabetes melitus tipe disebabkan karena destruksi autoimun sel ß
pankreas mengakibatkan defisiensi insulin secara absolut.
2) Diabetes Melitus tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 dikarenakan berkurangnya sel ß pankreas
secara
progresif yang dilatar belakangi dengan retsitensi insulin.
3) Diabetes melitus gestasional (diabetes melitus pada kehamilan)
Diabetes melitus gestasional diabetes yang muncul di trisemester
kedua
atau ketiga kehamilan yang tidak ada diabetes sebelum kehamilan.
4) Diabetes spesifik yang disebabkan di luar ketiga klasifikasi di atas
Jenis diabetes spesifik karena penyebab lain, misalnya, sindrom
diabetes monogenik (seperti diabetes neonatal dan onset matang pada
usia muda (Maturity-Onset of Diabetes of the Young/MODY), penyakit
pada pankreas eksokrin (seperti cystic fibriosis), dan obat atau diabetes
yang diinduksi bahan kimia (seperti penggunaan glukokortikoid,
dalam
pengobatan HIV/AIDS, atau setelah transplantasi organ).
E. Patofisiologi
Patofisiologi diabetes melitus (Suddarth, 2013) :
1) DM tipe I
Pada diabetes tipe I terdapat ketidakmampuan pankreas menghasilkan
insulin karena hancumya sel-sel beta pankreas telah dihancurkan
dengan proses autoimun. Hiperglikemia puasa terjadi akibat produksi
glukosa yang tidak terukur oleh hati. Disamping itu, glukosa yang
berasal dari makanan tidak dapat disimpan dalam hati meskipun tetap
berada dalam darah dan menimbulkan hiperglikemia postprandial
(sesudah makan). Jika konsenterasi glukosa dalam darah cukup tinggi,
ginjal tidak dapat menyerap kembali semua glukosa yang tersaring
keluar, akibatnya glukosa tersebut muncul dalam urin (glukosaria).
Ketika glukosa yang berlebihan diekskresikan dalam urin, ekskresi ini
akan disertai pengeluaran cairan dan elektrolit yang berlebihan.
Keadaan ini dinamakan diuresis osmotik. Sebagai akibat dari
kehilangan cairan yang berlebihan, klien akan mengalami peningkatan
dalam berkemih (poliuria) dan rasa haus (polidipsia). Defisiensi insulin
juga menganggu metabolisme protein dan lemak yang menyebabkan
penurunan berat badan. Klien dapat mengalami peningkatan
selera makan (polifagia) akibat menurunnya simpanan kalori. Gejala
lainnya mencakup kelemahan dan kelelahan. Dalam keadaan normal
insulin mengendalikan glikogenelisis (pemecahan glukosa yang
disimpan) dan glukosaneogenesis (pembentukan glukosa baru dari
asam- asam amino serta substansi lain), namun pada penderita
defisiensi insulin, proses ini akan terjadi tanpa hambatan dan lebih
lanjut turut menimbulkan hiperglikemia. Di samping itu akan terjadi
pemecahan lemak yang mengakibatkan peningkatan produksi badan
keton yang merupakan produksi samping pemecahan lemak.
2) DM tipe II
Pada diabetes tipe II terdapat dua masalah utama yang berhubungan
dengan insulin, yaitu : resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin.
Normalnya insulin akan terikat dengan reseptor khusus pada
permukaan sel. Sebagai akibat terikatnya insulin dengan reseptor
tersebut, terjadi suatu rangkaian reaksi dalam metabolisme glukosa di
dalam sel. Resistensi insulin pada diabetes tipe II disertai dengan
penurunan reaksi intrasel ini. Dengan demikian insulin menjadi tidak
efektif untuk menstimulasi pengambilan glukosa oleh jaringan. Untuk
mengatasi resistensi insulin dan mencegah terbentuknya glukosa dalam
darah, harus terdapat peningkatan insulin yang disekresikan. Pada
penderita toleransi glukosa terganggu, keadaan ini terjadi akibat
sekresi insulin yang berlebihan, dan kadar glukosa akan dipertahankan
pada tingkat yang normal atau sedikit meningkat. Namun demikian,
jika sel-sel beta tidak mampu mengimbangi peningkatan kebutuhan
insulin, maka kadar glukosa akan meningkat dan terjadi diabetes tipe
II. Meskipun terjadi gangguan sekresi insulin yang merupakan ciri
khas diabetes tipe II, namun masih terdapat insulin yang mencegah
pemecahan lemak dan produksi badan keton yang menyertainya.
Karena itu, ketoasidosis diabetik tidak terjadi pada diabetes tipe II.
F. Pathway
G. Komplikasi
Komplikasi diabetes melitus sangat mungkin terjadi dan bisa menyerang
seluruh organ tubuh. Apabila kadar gula darah tidak dikendalikan maka
akan terjadi komplikasi baik jangka pendek (akut) maupun jangka panjang
(kronis). Menurut (Febrinasari, 2020) komplikasi diabetes melitus ada 2
(dua) yaitu :
1) Komplikasi diabetes melitus akut
Komplikasi diabetes akut dapat disebabkan oleh dua hal. yaitu naik
turunnya kadar gula darah secara drastis. Keadaan ini membutuhkan
perhatian medis segera, karena jika terlambat dapat menyebabkan
hilangnya kesadaran, kejang dan kematian. Terdapat 3 macam
komplikasi diabetes melitus akut :
a) Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan kondisi dimana turunnya kadar gula
darah
secara drastis akibat terlalu banyak insulin dalam tubuh, terlalu
banyak mengonsumsi obat penurun gula darah, atau terlambat
makan. Gejala berupa penglihatan kabur, detak jantung cepat, sakit
kepala. gemetar, berkeringat dingin dan pusing. Kadar gula darah
yang terlalu rendah dapat menyebabkan pingsan, kejang, bahkan
koma (Widiastuti, 2020).
b) Ketosiadosis diabetik (KAD)
Ketosiadosis diabetik merupakan keadaan darurat medis yang
disebabkan oleh kadar gula darah yang tinggi. Ini merupakan
komplikasi penyakit diabetes yang terjadi ketika tubuh tidak dapat
menggunakan gula atau glukosa sebagai sumber bahan bakar,
sehingga tubuh mengolah lemak dan menghasilkan keton sebagai
sumber energi. Jika tidak segera mencari pertolongan medis,
kondisi
ini dapat menyebabkan penumpukan asam yang berbahaya di
dalam
darah, sehingga dapat menyebabkan dehidrasi, koma, sesak napas,
bahkan kematian (Istianah, 2019).
c) Hyperosmolar hyperglycemic state (HIIS)
Situasi ini juga merupakan salah satu simasi darurat, dan tingkat
situasi ini juga merupakan salah satu simasi darurat dimana angka
kematian mencapai 20%. Terjadinya HHS disebabkan oleh
peningkatan mortalitas sebesar 20%. HHS terjadi karena lonjakan
kadar glukosa darah yang sangat tinggi selama periode waktu
tertentu. Gejala HHS ditandai dengan rasa haus, kejang, kelemahan
dan gangguan kesadaran yang menyebabkan koma. Selain itu,
penyakit diabetes yang tidak terkontrol juga dapat menyebabkan
komplikasi serius lainnya yaitu hiperglikemia non ketosis dan
sindrom hiperglikemia. Komplikasi akut diabetes adalah kondisi
medis serius yang memerlukan perawatan dan pemantauan oleh
dokter di rumah sakit (Mutia, 2021).
2) Komplikasi diabetes melitus kronis
Seringkali komplikasi jangka panjang secara bertahap terjadi saat
diabetes tidak terkontrol dengan baik. Tinggi kadar gula darah yang
tidak terkontrol dari waktu ke waktu akan menyebabkan kerusakan
serius pada semua organ tubuh Beberapa komplikasi jangka panjang
pada penyakit diabetes melitus menurut (Febrinasari, 2020) yaitu:
a) Gangguan pada mata (retinopati diabetik)
Tingginya kadar gula darah bisa membahayakan pembuluh darah
di retina yang berpotensial menyebabkan kebutaan. Kerusakan
pembuluh darah di mata juga meningkatkan risiko gangguan
penglihatan, seperti katarak dan glaukoma. Deteksi dini dan
pengobatan retinopati dapat dicegah atau ditunda secepat mungkin
kebutaan. Dorong penderita diabetes menjalani pemeriksaan mata
secara teratur.
b) Kerusakan ginjal (nefropati diabetik)
Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh DM disebut dengan
nefropati diabetik. Situasi ini bisa menyebabkan gagal ginjal dan
bahkan bisa mengakibatkan kematian jika tidak ditangani dengan
baik. Saat terjadi gagal ginjal, pasien harus melakukan dialisis
rutin atau transplantasi ginjal. Dikatakan bahwa diabetes adalah
silent killer, karena biasanya tidak menimbulkan gejala khas pada
tahap awal. Namun, pada stadium lanjut, gejala seperti anemia,
kelelahan,
pembengkakan pada kaki, dan gangguan elektrolit dapat terjadi.
Diagnosis dini, kontrol gula darah dan tekanan darah, manajemen
pengobatan pada tahap awal kerusakan ginjal, dan membatasi
asupan protein adalah cara yang bisa dilakukan dalam
menghambat
perkembangan diabetes yang menyebabkan gagal ginja
(Muhammad, 2018).
c) Kerusakan saraf (neuropati diabetik)
Diabetes juga dapat merusak pembuluh darah dan saraf, terutama
saraf di kaki. Kondisi ini disebut neuropati diabetes, ini karena
saraf
mengalami kerusakan baik secara langsung akibat tingginya gula
darah. maupun karena penurunan aliran darah menuju saraf.
Rusaknya saraf dapat menyebabkan gangguan sensorik dengan
gelaja berupa mati rasa, kesemutan, dan nyeri. Kerusakan saraf
juga bisa mempengaruhi saluran pencernaan (gastroparesis).
Gejalanya berupa mual, muntah dan cepat merasa kenyang saat
makan. Pada pria, komplikasi diabetes bisa menyebabkan
disfungsi ereksi atau
impotensi. Komplikasi ini dapat dicegah dan penundaan hanya
bila
diabetes terdeteksi sejak dini agar kadar gula darah bisa terkontrol
melalui pola makan dan gaya hidup sehat dan minum obat yang
sesuai rekomendasi dokter (Hikmawati, 2018).
d) Masalah kaki dan kulit
Komplikasi yang juga sangat umum adalah masalah kulit dan luka
pada kaki yang sulit sembuh. Ini karena kerusakan pembuluh
darah
dan saraf serta aliran darah kaki yang sangat terbatas. Gula darah
yang tinggi bisa mempermudah bakteri dan jamur berkembang
biak. Selain itu, akibat diabetes, kemampuan tubuh untuk
menyembuhkan dirinya sendiri juga berkurang. Jika tidak dirawat
dengan baik, kaki penderita diabetes berisiko mengalami cedera
dan infeksi, yang dapat menyebabkan gangren dan ulkus diabetes.
Perawatan luka di kaki penderita diabetes adalah dengan memberi
antibiotik, perawatan luka yang baik, hingga dapat diamputasi jika
jaringan rusak ini sudah parah.
e) Penyakit kardiovaskular
Kadar gula darah yang tinggi bisa menyebabkan rusaknya
pembuluh darah sehingga seluruh sirkulasi darah tersumbat
termasuk jantung. Komplikasi yang menyerang jantung dan
pembuluh darah yaitu penyakit jantung, stroke, serangan jantung
dan penyempitan arteri (aterosklerosis) (Istianah, 2019).
H. Pemeriksaan Penunjang
Menurut (Mubin, 2010) pemeriksaan penunjang pada diabetes melitus
adalah :
1) Kadar glukosa darah
2) Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2
kali
pemeriksaan :
a) Glukosa plasma sewaktu>200 mg/dl (11,1 mmol/L)
b) Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
c) Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemusian sesuda
mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (oo)>200
mg/dl).
3) Tes laboratorium DM
Jenis tes pada pasien DM dapat berupa tes saring, tes diagnostik, tes
pemantauan terapi dan tes untuk mendeteksi komplikasi.
4) Tes saring pada DM adalah:
a) GDP, GDS
b) Tes glukosa urin
5) Tes diagnostik
Tes-tes diagnostik pada DM adalah GDP, GDS, GD2PP (Glukosa
Darah 2 jam post prandial), glukosa jam ke-2 TTGO.
6) Tes monitoring terapi
a) GDP plasma vena, darah kapiler
b) GD2PP: plasma vena
c) A1c : darah vena, darah kapiler
7) Tes mendeteksi komplikasi
a) Mikroalbuminuria: urin
b) Ureum, kreatinin, asam urat
c) Kolesterol total : plasma vena (puasa)
d) Kolesterol LDL plasma vena (puasa)
e) Kolesterol HDL: plasma vena (puasa)
f) Trigliserida : plasma vena (puasa).
I. Penatalaksanaan
Menurut (Putra, 2018) penatalaksanaan diabetes melitus dikenal dengan 4
pilar penting dalam mengontrol perjalanan penyakit dan komplikasi.
Empat pilar tersebut adalah :
1) Edukasi
Edukasi yang diberikan adalah pahami perjalanan penyakitnya,
pentingnya pengendalian penyakit, komplikasi dan resikonya,
pentingnya intervensi obat dan pemantauan glukosa darah, bagaimana
menangani hipoglikemia, kebutuhan latihan fisik teratur, dan metode
menggunakan fasilitas kesehatan. Mendidik pasien bertujuan agar
pasien bisa mengontrol gula darah dan kurangi komplikasi serta
meningkatkan keterampilan perawatan diri sendirian. Diabetes tipe 2
biasanya terjadi pada saat gaya hidup dan perilaku terbentuk kuat.
Petugas kesehatan mendampingi pasien dan memberikan pendidikan
dalam upaya meningkatkan motivasi dan perubahan perilaku. Tujuan
jangka panjang yang ingin dicapai dengan memberikan edukasi antara
lain: Penderita diabetes bisa hidup lebih lama dalam kebahagiaan
karena kualitas hidup sudah menjadi kebutuhan seseorang, membantu
penderita diabetes bisa merawat diri sendiri sehingga kemungkinan
komplikasi dapat dikurangi, selain itu jumlah hari sakit bisa ditekan,
meningkatkan perkembangan penderita diabetes, sehingga bisa
berfungsi normal dan manfaatkan sebaik-baiknya (Imelda, 2019).
2) Terapi nutrisi
Perencanaan makan yang bagus merupakan bagian penting dari
manajemen diabetes yang komprehensif Diet keseimbangan akan
mengurangi beban kerja insulin dengan meniadakan pekerjaan insulin
dalam mengubah gula menjadi glikogen. Keberhasilan terapi ini
melibatkan dokter, perawat, ahli gizi. pasien itu sendiri dan
keluarganya. Intervensi nutrisi bertujuan untuk menurunkan berat
badan dan memperbaiki gula darah dan lipid darah pada pasien
diabetes yang
kegemukan dan menderita morbiditas. Penderita diabetes dan
kegemukan akan memiliki resiko yang lebih tinggi daripada mereka
yang hanya kegemukan (Nurdin, 2021).
3) Aktifitas fisik
Kegiatan fisik setiap hari latihan fisik teratur (3-4 kali seminggu
sekitar
30 menit), adalah salah satu pilar pengelolaan DMT2. Aktivitas
seharihari seperti berjalan kaki ke pasar, naik turun tangga, dan
berkebun tetap harus dilakukan untuk menjaga kesehatan, menurunkan
berat badan dan memperbaiki sensitivitas insulin. Latihan fisik
dianjurkan yaitu berupa senam aerobik seperti jalan kaki, bersepeda,
jogging, dan berenang, sebaiknya latihan fisik disesuaikan dengan
umur dan status kesegaran. Bagi mereka yang relatif sehat, dapat
meningkatkan intensitas latihan fisik, dan mereka yang mengalami
komplikasi diabetes dapat dikurangi (Kistianita, 2018).
4) Farmakologi
Terapi farmakologis diberikan bersamaan dengan diet dan latihan fisik
(gaya hidup sehat). Pengobatan termasuk dari obat-obatan oral dan
suntikan. Obat hipoglikemik oral berdasarkan cara kerjanya, OHO
dibagi menjadi 5 golongan: Memicu sekresi insulin sulfonylurea dan
glinid, peningkatan metformin insulin dan thiazolidinone, penghambat
glukoneogenesis. penghambat penyerapan glukosa: penghambat
glukosidase, penghambat [Link]-IV inhibitor pertumbuhan dan
status
gizi, usia, stres akut dan latihan fisik untuk mencapai dan
mempertahankan berat badan yang ideal. Total kalori yang dibutuhkan
dihitung berdasarkan berat tubuh ideal dikalikan dengan kebutuhan
kalori dasar (30 Kkal/kg BB untuk laki-laki dan 25 Kkal/kg BB untuk
wanita). Lalu tambahkan kalori yang dibutuhkan untuk aktivitas (10-
30% atlet dan pekerja berat bisa lebih banyak lagi, sesuai dengan
kalori yang dikeluarkan). Makanan berkalori berisi tiga makanan
utama pagi (20%), sore (30%) dan malam (25%) dan 2-3 porsi
(makanan ringan 10-15%) (Priyanto, 2018).
J. Asuhan Keperawatan
1) Pengkajian
a) Identitas Klien : Nama, usia, jenis kelamin, alamat, [Link],
status pernikahan, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, lama
bekerja, No. RM, tanggal masuk, tanggal pengkajian, sumber
informasi, nama keluarga dekat yang bias dihubungi, status, alamat,
[Link], pendidikan, dan pekerjaan.
b) Identitas penanggungjawab (nama, umur, pekerjaan, alamat ,
hubungan dengan pasien
c) Keluhan utama : seperti cemas, Lelah, anoreksia, mual, muntah,
nyeri abdomen, nafas pasien mungkin berbau aseton, gangguan
pola tidur, poliuri, polidipsi, penglihatan kabur, kelemahan, sakit
kepala.
d) Riwayat penyakit sekarang : berisi tentang kapan terjadinya
penyakit, penyebab terjadinya penyakit serta upaya yang telah
dilakukan oleh penderita untuk mengatasinya.
e) Riwayat kesehatan terdahulu : Adanya riwayat penyakit diabetes
melitus atau penyakit-penyakit lain yang ada kaitannya dengan
defisiensi insulin misalnya penyakit pankreas. Adanya riwayat
penyakit jantung, obesitas, maupun arterosklerosis, tindakan medis
yang pernah didapat maupun obat-obatan yang medis biasa
digunakan oleh penderita.
f) Riwayat keluarga : riwayat atau adanya faktor resiko, riwayat
keluarga tentang penyakit, obesitas, riwayat pankreatitis kronik,
riwayat melahirkan anak lebih dari 4 kg, riwayat glucosuria selama
stres (kehamilan, pembedahan, trauma, infeksi, penyakit) atau
terapi
obat (glukokortikosteroid, diuretic tiasid, kontrasepsi oral).
g) Aktivitas/istirahat : menggambarkan pola latihan, fungsi pernapasan
dan sirkulasi. Pentingya latihan/gerak dalam keadaan sehat dan
sakit, gerak tubuh dan kesehatan berhubungan satu sama lain.
h) Pola eliminasi : menjelaskan pola fungsi eksresi, kandung kemih
dan sulit kebiasaan defekasi, ada tidaknya masalah defekasi,
masalah miksi (oliguri, disuri, dan lain-lain), penggunaan kateter,
frekuensi defekasi dan miksi, karakteristik urin dan feses, pola input
cairan, infeksi saluran kemih, masalah bau badan, perspirasi
berlebih.
i) Pola makan : menggambarkan masukan nutrisi, balance cairan dan
elektrolit, nafsu makan, pola makan, diet, fluktuasi BB dalam 6
bulan terakhir, kesulitan menelan, mual/muntah, kebutuhan jumlah
zat gizi, masalah/penyembuhan kulit, makanan kesukaan.
j) Pemeriksaan fisik
Keadaan umum : meliputi keadaan penderita tampak lemah atau
pucat. Tingkat kesadaran apakah sadar, koma, disorientasi.
Tanda-tanda vital : tekanan darah tinggi jika disertai hipertensi.
Pemapasan reguler atau ireguler, adanya bunyi napas tambahan,
Respiration Rate (RR) normal16-20 kali/menit, pernapasan
dalam atau dangkal. Denyut nadi reguler atau ireguler, adanya
takikardia, denyutan kuat atau lemah. Suhu tubuh meningkat
apabila terjadi infeksi.
Pemeriksaan Kepala dan Leher
Kepala: normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya
bulat dengan tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital
dibagian posterior
Rambut : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak
terlalu berminyak
Mata : simetris mata, refleks pupil terhadap cahaya, terdapat
gangguan penglihatan apabila sudah mengalami retinopati
diabetic
Telinga : fungsi pendengaran mungkin menurun
Hidung : adanya sekret, pernapasan cuping hidung,
ketajaman saraf hidung menurun
Mulut : mukosa bibir
Leher : ada atau tidak pembesaran kelenjar getah bening.
Pemeriksaan Dada
Pernapasan: sesak nafas, batuk dengan tanpa sputum purulent
dan tergantung ada/tidaknya infeksi, panastesia/paralise
ototpernapasan (jika kadar kalium menurun tajam), RR
>24x/menit, nafas berbau aseton. Kardiovaskuler
takikardia/nadi
menurun, perubahan TD postural, hipertensi disritmia dan
krekel.
Pemeriksaan Abdomen
Adanya nyeri tekan pada bagian pankreas, distensi abdomen,
suara bising usus yang meningkat.
Pemeriksaan Reproduksi
Rabbas vagina (jika terjadi infeksi), keputihan impotensi pada
pria, dan sulit orgasme pada wanita.
Pemeriksaan Integumen
Biasanya terdapat lesi atau luka pada kulit yang lama sembuh.
Kulit kering, adanya ulkus di kulit, luka yang tidak kunjung
sembuh. Adanya akral dingin, capilarry refill kurang dari 3
detik,
adanya pitting edema.
Pemeriksaan Ekstremitas
Kekuatan otot dan tonus otot melemah. Adanya luka pada kaki
atau kaki diabetik.
Pemeriksaan Status Mental
Biasanya penderita akan mengalami stres, menolak kenyataan,
dan keputusasaan.
2) Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul
a) Ketidakstabilan kadar glukosa darah b/d hiperglikemia (SDKI :
D.0027 Hal : 71)
b) Nyeri akut b/d agen pencedera fisiologis (SDKI : D.0077 Hal :
172)
c) Defisit nutrisi nutrisi b/d ketidakmampuan mencerna makanan
(SDKI : D.0019 Hal : 56)
d) Hipovolemia b/d kehilangan cairan aktif (SDKI : D.0023 Hal : 64)
e) Gangguan integritas kulit b/d neuropati perifer (SDKI : D.0129 Hal
: 282)
f) Risiko jatuh b/d perubahan kadar glukosa darah ( SDKI : D.0143
Hal : 306)
(Tim Pokja SDKI DPP PPNI, 2017).
3) Intervensi
a) Ketidakstabilan kadar glukosa darah b/d hiperglikemia (SIKI :
Manajemen Hiperglikemia 1.03115 Hal : 180)
Observasi :
Identifikasi kemungkinan penyebab hiperglikemia
Monitor kadar glukosa darah
Monitor intake dan output cairan
Terapeutik :
Berikan asupan cairan oral
Fasilitasi ambulasi jika ada hipotensi
Edukasi :
Ajarkan monitor kadar glukosa darah secara mandiri
Ajarkan kepatuhan diet dan olahraga
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian insulin
Kolaborasi pemberian cairan IV
Kolaborasi pemberian kalium
b) Nyeri akut b/d agen pencedera fisiologis (SIKI : Manajemen Nyeri
1.08238 Hal : 201)
Observasi :
Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekensi, kualitas,
intensitas nyeri
Identifikasi skala nyeri
Identifikasi respon nyeri non verbal
Terapeutik :
Fasilitasi istirahat dan tidur
Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam pemilihan
strategi
meredakan nyeri
Edukasi :
Jelaskan, penyebab, periode, dan pemicu nyeri
Jelaskan strategi meredakan nyeri
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian analgetik, jika perlu
c) Defisit nutrisi nutrisi b/d ketidakmampuan mencerna makanan
(SIKI : Manajemen Nutrisi 1.03119 Hal : 200)
Observasi :
Identifikasi status nutrisi
Identifikasi kebutuhan kalori dan jenis nutrient
Monitor asupan makanan
Terapeutik :
Berikan makanan tinggi kalori dan protein
Berikan suplemen makanan, jika perlu
Edukasi :
Anjurkan posisi duduk, jika mampu
Ajarkan diet yang diprogramkan
Kolaborasi :
Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrien yang dibutuhkan
d) Hipovolemia b/d kehilangan cairan aktif (SIKI : Manajemen
Hipovolemia 1.03116 Hal : 184)
Observasi :
Periksa tanda dan gejala hypovolemia
Monitor intake dan output cairan
Terapeutik :
Hitung kebutuhan cairan
Berikan asupan cairan oral
Edukasi :
Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral
Kolaborasi :
Kolaborasi pemberian cairan IV isoton, IV hipotonis
e) Gangguan integritas kulit b/d neuropati perifer (SIKI : Perawatan
Luka 1.14564 Hal : 328)
Observasi :
Monitor karakteristik luka
Monitor tanda-tanda infeksi
Terapeutik :
Bersihkan jaringan nekrosis
Pasang balutan sesuai jenis luka
Edukasi :
6) Evaluasi
Merupakan tahap akhir serangkaian proses keperawatan guna
mengetahui sejauh mana rencana keperawatan pasien dengan diagnosa
stemi tercapai.
DAFTAR PUSTAKA
Association, A. D. (2020). Classification and Diagnosis of Diabetes. Standards of
Medical Care in Diabetes.
Ernawati. (2013). Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu. Jakarta: Mitra
Wacana Medika.
Febrinasari, R. P. (2020). Buku Saku Diabetes Melitus. UNS Press.
Hikmawati, I. N. (2018). Screening pola makan pada pasien Diabetes mellitus
dengan food frequency questioner. Jurnal Keperawatan Silampari. 2 (1),
270-284.
Imelda. (2019). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya diabetes Melitus
di Puskesmas Harapan Raya Tahun 2018. Scientia Journal, 8(1), 28-39.
Istianah. (2019). Mengidentifikasi Faktor Gizi pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe
2 di Kota Depok Tahun 2019. Jurnal Kesehatan Indonesia, X No 2, 72–78.
Kistianita, A. N. (2018). Analisis Faktor Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2 Pada
Usia Produktif dengan Pendekatan WHO Stepwise Step 1 (Core/Inti) di
Puskesmas Kendalkerep Kota Malang. Jurnal Universitas Negeri Malang.
Lemone, P. (2016). Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC Medical
Publisher.
Mubin, S. H. (2010). Karakteristik Dan Pengetahuan Pasien Dengan Motivasi
Melakukan Kontrol Tekanan Darah Di Wilayah Kerja Puskesmas Sragi I
Pekaplongan. Jurnal Unimus. Vol. 6 No. 1.
Muhammad. (2018). Resistensi Insulin Dan Disfungsi Sekresi Insulin Sebagai
Faktor Penyebab Diabetes Melitus Tipe 2. Jurnal Kesehatan Masyarakat.
8 (2).
Mutia, A. (2021). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian
Komplikasi Sirkulasi Perifer Pasien Dm Tipe 2 Di RS Haji Medan Tahun
2019-2020. Universitas Sumatera Utara.
Nurdin. (2021). Persepsi Penyakit dan Perawatan Diri dengan Kualitas Hidup
Diabetes Mellitus Type 2. Jurnal Keperawatan Silampari, 4(2), 566–575.
Priyanto, A. (2018). Hubungan tingkat pengetahuan dengan prilaku pencegahan
kekambuhan luka diabetik. Jurnal Ners Dan Kebidanan.
Putra, I. W. (2018). Empat Pilar Penatalaksanaan Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.
Majority, 4(9), 8–12.
Soegondo, e. a. (2015). Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Terpadu. Jakarta:
Edisi Kedua. Cetakan Ke-10 FKUI.
Suddarth, B. &. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8. Jakarta:
EGC.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. (2017). Standart Diagnosis Keperawatan
Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. (2018). Standart Internvensi Keperawatan
Indonesia. Jakarta: DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. (2022). Standart Luaran Keperawatan Indonesia.
Jakarta: DPP PPNI.
Utomo. (2020). Faktor Risiko Diabetes Mellitus Tipe 2. Jurnal Kajian dan
Pengembangan Kesehatan Masyarakat, 44–52.
Widiastuti. (2020). Acupressure dan Senam Kaki terhadap Tingkat Peripheral
Arterial Disease pada Klien DM Tipe 2. Jurnal Keperawatan Silampari,
694–706.