0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Manfaat dan Mekanisme Stretching Otot

Dokumen tersebut membahas tentang stretching dan jenis stretching aktif yaitu active isolated stretching. Active isolated stretching adalah metode stretching yang melibatkan kontraksi otot secara terkontrol untuk memperpanjang otot secara perlahan guna mengendalikan refleks kontraksi otot dan meningkatkan fleksibilitas. Metode ini bekerja dengan memanfaatkan hukum inhibisi timbal balik untuk melemaskan otot secara aman dan efektif.

Diunggah oleh

Nieko Caesar Agung
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Manfaat dan Mekanisme Stretching Otot

Dokumen tersebut membahas tentang stretching dan jenis stretching aktif yaitu active isolated stretching. Active isolated stretching adalah metode stretching yang melibatkan kontraksi otot secara terkontrol untuk memperpanjang otot secara perlahan guna mengendalikan refleks kontraksi otot dan meningkatkan fleksibilitas. Metode ini bekerja dengan memanfaatkan hukum inhibisi timbal balik untuk melemaskan otot secara aman dan efektif.

Diunggah oleh

Nieko Caesar Agung
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Stretching

1. Definisi Stretching

Stretching merupakan suatu cara atau metode yang digunakan untuk

menjaga serta meningkatkan fleksibilitas, mobilitas dari otot dan area

persendian, stretching juga berfungsi dalam mengurangi cedera dan

masalah pada postur tubuh (Amin et al. 2015). Stretching adalah istilah

umum yang digunakan dalam menggambarkan manuver yang dirancang

untuk memperpanjang jaringan lunak, oleh karena itu stretching dapat

meningkatkan ROM (Longo, 2009). Stretching merupakan hal yang

penting dalam terapi dan latihan untuk meningkatkan range of motion

(Knudson, 2006).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa stretching

ialah suatu metode atau manuver yang digunakan untuk memperpanjang

jaringan lunak sehingga menjaga atau meningkatkan fleksibilitas dan

mobilitas otot agar mencegah atau mengurangi risiko cedera serta

meningkatkan range of motion.

2. Mekanisme Stretching

Kalsium dilepaskan di sarcoplasmic reticulum bagian pengikat aktin

akan terbuka. Kepala miosin dari filamen tebal akan menempel pada

tempat penempelan atau pengikat dan filamen tipis ditarik melewati

miosin menuju garis M yang menimbulkan pemendekan dari sarkomer.

Setiap kepala miosin yang menempel pada filament aktin akan

10
11

menciptakan jempabatn silang (cross brige), karena potensial aksi terus

bekerja, maka semua sarkomer terus berkontraksi (all or none principle).

Apabila otot membutuhkan kontraksi lebih besar makan jumlah jembatan

silang yang terbebtuk dalam sarkomer akan meningkat (Bernhart, 2013).

Gambar 2.1 : Sarcomer


(Sumber : Bernhart, 2013)

Sebalikanya, untuk otot yang diregangkan, filamen tipis ditarik dari

filamen yang tebal. Filamen titin mengambil lebih banyak perpindahan

yang dibuat oleh aktin dan miosin selama peregangan yang semakin

meningkat di dalam miofibril. Filamen titin diyakini bertanggung jawab

atas ekstensibilitas sarkomer dan ketahanan terhadap peregangan.

Peregangan ini tidak sama dengan kontraksi eksentrik hanya potensial aksi

dihilangkan dan sarkomer diperpanjang. Peregangan otot adalah gerakan

pasif dimana posisi tubuh menyebabkan perpanjangan otot. Pada kontraksi

eksentrik, impuls saraf dihilangkan untuk mengendalikan kecepatan

gerakan, kekuatan diprodukasi di dalam serat otot tetapi sama atau kurang

dari kekuatan lawan. Demikian pula, otot mengalami ketegangan selama


12

peregangan statis dan berada di bawah pengaruh golgi tendon dan spindel

reflexes untuk mencegah cedera (Bernhart, 2013).

Muscle Spindel adalah suatu reseptor yang menerima rangsangan

dari regangan otot. Regangan yang kuat akan menyebabkan spindle reflex

mengirimkan sinya ke medula spinalis dan akan menyebabkan kontraksi

otot yang kuat dan cepat. Muscle spindle dapat dijabarkan menjadi dua

fungsi yaitu sebagai pendeteksi perubahan panjang otot dan kecepatan

perubahan itu sendiri (Juliantine, 2010). Sehingga ketika ingin melakukan

peregangan (stretching) setidaknya dilakukan secara perlahan dikarenakan

peregangan yang dilakukan secara tiba-tiba maka refleks ini akan aktif.

Apabila refleks ini menjadi aktif maka otot akan berkontraksi dan

menghambat proses peregangan. (Juliantine, 2010).

Golgi Tendon adalah reseptor yang berfungsi sebagai stretch

receptor. Reseptor ini aktif ketika terjadi peregangan yang berlebihan,

letak dari golgi tendon itu sendiri berada di dalam tendon tepat di luar

perlekatannya pada serabut otot. Sinyal yang berasal dari golgi tendon

akan merambat ke medulla spinalis yang menghasilkan hambatan respon

pada kontraksi otot yang terjadi. Golgi tendon merupakan pelindung otot

yang berfungsi mencegah terjadinya perobekan otot akibat peregangan

yang berlebihan. Namun ia tidak bekerja sendiri, golgi tendon bekerjasama

dengan spindle reflex untuk mengontrol kontraksi otot. Secara detail

spindle reflex berfungsi sebagai pendeteksi perubahan panjang otot dan

golgi tendon berfungsi memeriksa ketegangan otot (Juliantine, 2010).


13

3. Indikasi Stretching

Wismanto (2011) menuliskan beberapa indikasi stretching, yaitu:

a. Myostatic Contracture.

b. Scar Tissue Contracture Adhesion.

c. Fibrotic Adhession.

d. Ireversibel Contracture.

e. Pseudomiastic contracture.

4. Kontraindikasi Stretching

Wismanto (2011) dalam jurnalnya menyebutkan kontraindikasi

stretching antara lain :

a. Terdapat fraktur daerah pinggul yang masih baru.

b. Pasca immobilisasi yang lama dikarenakan otot sudah kehilangan

daya regang.

c. Terlihat adanya tanda-tanda inflamasi.

5. Manfaat Stretching

Walker (2011) dalam bukunya yang berjudul “Ultimate Guide to

Stretching & Flexibility” menuliskan bahwa stretching dapat

meningkatkan ROM (range of motion), meningkatkan daya ledak (power),

menurunkan DOMS (delayed onset muscle sorenes), menurunkan

kelelahan, dapat membantu dalam memperbaiki postur, membangun

kesadaran akan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, meningkatkan energi

dan membuat relaksasi serta menurunkan kadar stress. Penelian lain

menyebutkan stretching dapat meningkatkan peningkatan performa,

mengurangi resiko cedera dan mnegurangi nyeri dengan meningkatkan

fleksibilitas otot (Bradley et al. 2007).


14

B. Active Isolated Stretching

1. Definisi Active Isolated Stretching

Active isolated stretching dikembangkan oleh Aaron L. Matters.

Metode peregangan diciptakan dengan tujuan mengendalikan reflekss

peregangan dari tendon. Ini adalah sebuah metode myofacial release yang

efektif memberikan penjajaran dinamis dari otot yang terisolasi,

mempromosikan pemulihan fungsi dan perbaikan fisiologis dari facia

(Bernhart, 2013). Longo (2009) menuliskan active isolated stretching

adalah pengobatan atau terapi myofacial technique untuk memulihkan

fungsi dan mengembalikan fisiologis otot, tendon, ligamen, dan sendi

untuk memfasilitasi permukaan facia yang lebih sehat. Active isolated

stretching merupakan stretching aktif yang melibatkan komponen sistem

neuromuskuler yang digunakan untuk terapi myofacia release dan

penguluran untuk otot yang dangkal maupun dalam, tendon dan facia

(Wismanto, 2011).

Active isolated stretching adalah sebuah metode stretching aktif

yang melibatkan sistem neuromuskuler dengan mengendalikan relfeks

peregangan dan kemudian teknik ini disebut metode Mattes (Wismanto,

2011).

2. Fisiologis Active Isolated Stretching

Active isolated stretching bekerja dengan menggunakan refleks

neurologi yaitu reciprocal inhibisi (Wismanto, 2011), reciprocal inhibisi

berguna untuk mengurangi ketegangan berlebihan yang tercipta saat

peregangan pasif pada otot. Efek dari reciprocal inhibition menghambat

kontraksi dari otot antagonis dan memfasilitasi dari otot agonis untuk
15

berkontraksi, hal ini akan menyebabkan otot antagonis menjadi rileks

(Wismanto, 2011).

Ketika otot disuatu sendi berkontraksi, otot yang berlawanan akan

mengirimkan sinyal neurologis ke otak agar rileks, ini adalah hukum

Serrington tentang hambatan timbal balik dan kontraksi otot. Hukum ini

terdapat dalam metode ini namun dilakukan dengan rentang yang lambat,

terkontrol dan berirama kurang atau sama dengan 2 detik. Peregangan

yang cepat akan memicu myotatic stretch reflex yang menyebabkan

kontraksi otot antagonis akan terbatasi yang akan membatasi potensi

peregangan dari otot (Longo, 2009).

Stretching ini sangat efektif dilakukan selama 1.5 – 2 detik, hal ini

untuk mencegah reflekss kontraksi (myotic stretch reflex) dari otot

antagonis. Menurut Bernhart (2013) stretching ini tidak lebih dari 2 detik

pada seluruh gerakan dan fleksibilitas tanpa aktivasi kelompok otot

antagonis, proses ini dilakukan 1 – 2 detik dan diulang sebanyak 8 – 10

kali agar lebih optimal.

3. Mekanisme Active Isolated Stretching Meningkatkan Vertical Jump

Pemberian active isolated stretching tidak akan menimbulkan nyeri

dikarenakan stretching ini dapat mengurangi efek iritasi pada saraf Aδ dan

tipe C karena adanya abnormal cross link. Pada metode ini akan

meluruskan kembali abnormal cross link pada otot yang memendek karena

otot akan ditarik hingga sarkomer penuh. Selain itu proses ini juga akan

menghilangkan gangguan pada serabut seperti taut band yang akan

mempengaruhi keelastisitasan otot, sehingga pemberian active isolated

stretching akan menghasilkan peregangan pada sarkomer yang bertujuan


16

mengembalikan elastisitas otot sehingga kekakuan dan rasa tidak nyaman

akan dapat dicegah dan atau dikurangi (Wismanto, 2011).

Meningkatnya elastisitas otot berbanding lurus dengan peningkatan

fleksibilitas, apabila fleksibilitas meningkat maka panjang otot juga

meningkat hal ini akan meningkatkan range of motion. Meningkatnya

range of motion maka jangkauan otot akan lebih jauh, hal ini berpotensi

dalam peningkatan power sehingga meningkatkan kemampuan atlet

(Walker, 2011).

4. Prinsip dalam melakukan Active Isolated Stretching

Meo (2010) mengatakan terdapat tiga prinsip dalam active isolated

stretching.

a. Pertama

Stretch hanya dilakukan antara 1.5 – 2 detik, alasannya adalah

ketika peregangan dilakukan lebih dari dua detik maka akan memicu

mekanisme perlindungan yang disebut “myotic stretch reflex”.

Refleks ini terjadi normal pada tubuh, namun pada peningkatan

tinggi, rehabilitasi cedera atau ingin memberikan perubahan pada

otot, refleks ini tidak diinginkan.

Hal tersebut adalah benar karena ketika refleks itu dimulai

(selama 2.5 – 3 detik), otot yang diregangkan akan mulai

berkontraksi menciptakan kontraksi eksentrik, kontraksi ini yang

tidak kita inginkan.

Membiarkan myotic stretch reflex selama kita melakukan

stretching akan menyebabkan oksigen terkuras dari dalam jaringan.


17

Pengurangan dari oksigen ini adalah kebalikan dari apa yang kita

inginkan.

b. Kedua

Peregangan ini dilakukan secara aktif yang berarti seseorang

yang diregangkan benar-benar menggerakkan bagian tubuhnya

sendiri dengan ototnya sendiri, sebelum diberi bantuan oleh tali

ataupun fisoterapis.

Gerakan ini menyebabkan reciprocal inhibition atau hambatan

timbal balik (hukum Sherrington). Secara sederhana ketika otot

berkontraksi (agonis), otot yang lain (antagonis) akan rileks atau

dimatikan. Lingkungan yang sempurna ketika meregangkan otot

adalah dalam keadaan rileks.

c. Ketiga

Konsep yang terakhir ialah bernafas, tujuannya tidak lain

adalah mengoptimalkan kandungan oksigen di dalam otot, facia dan

jaringan sekitarnya, kita harus selalu menghembuskan nafas ketika

fase peregangan. Pernafasan dengan cara ini memungkinkan jumlah

oksigen yang dikirim ke jaringan terjadi secara maksimal, ini adalah

hal yang diinginkan apakah itu untuk rehabilitasi, peningkatan atlet

ataupun yang lain.

5. Teknik Melakukan Active Isolated Stretching

Cara melakukan active isolated stretching menurut Walker (2011)

dalam bukunya “Ultimate Guide to Stretching & Flexibility” adalah

sebagai berikut:
18

a. Pilih otot atau kelompok otot yang akan diregangkan atau stretch,

kemudian posisikan untuk memulai peregangan.

b. Kontraksikan otot antagonis atau grup antagonis secara aktif dengan

cepat dan perlahan.

c. Tahan selama 1 – 2 detik dan lepaskan.

d. Gerakan tersebut diulang sebanyak 5 sampai 10 kali.

Gambar 2.2 Active Isolated Stretching


(Sumber : Dokumentasi Pribadi)

6. Dosis Latihan Active Isolated Stretching

Walker (2011) mengatakan bahwa stretching sangat penting

dilakukan sebelum dan sesudah melakukan latihan. Namun stretching

dapat dilakukan sepanjang hari kapan dan dimana saja termasuk active

isolated stretching. Nelson dan Kokkonen (2007) dalam bukunya yang

berjudul “Stretching Anatony” menjelaskan program latihan untuk

meningkatkan fleksibilitas terdapat 7 (1 – 7) tingkat latihan yang dapat

disesuaikan dan diharuskan bertahan pada tiap tingkat selama 2 – 4

minggu.

Pada penelitian lain dosis yang digunakan ialah 2 set dengan 10

repetisi dengan istirahat selama 2 menit pada tiap set (Amin et al. 2015).
19

Palaniappan dan Deivendran (2013) menggunakan dosis 2 set dengan

istirahat 15 detik pada setiap set.

C. Jump Smash

1. Definisi Jump Smash

Jump smash adalah pukulan keras diatas kepala yang diarahkan ke

bawah dengan kuat disertapi lonvatan, pukulan ini digunakan dalam

menyerang lawan yang bertujuan untuk mematikan lawan dan

mendapatkan poin. Fator utama yang berpengaruh pada pukulan ini adalah

power otot tungkai yang berguna untuk loncatan kearah shuttlecock yang

melambung tinggi di atas kepala pemain, serta didukung dengan posisi

yang memungkinkan untuk melakukan jump smash (Iqbal, 2015).

2. Mekanisme Jump Smash

Berikut adalah proses dari gerakan jump smash mnurut Suhadaq

(2014) :

a. Awal lompatan

Pada tahap ini otot yang bekerja ialah seluruh otot-otot tungkai

bawah seperti hamstring dan gastrocnemius (Suhadaq, 2014).

b. Melompat

Melompat adalah tahap utama dari vertical jump. Explosif

kontraksi kelompok otot quadricep sebagai penggerak utama

dibantu oleh gluteus maximus dan minimus, tibialis anterior serta

otot-otot pada metatarsal yang membuat ekstensi dari sendi hip,

knee, dan ankle (Sohirun, 2009).

c. Puncak lompatan
20

Pada gerakan ini otot gluteus maximus dan minimus, kelompok

quadriceps ekstensor, tibialis anterior dan otot-otot metatarsal

btetap dalam posisinya sedangkan otot fleksor tungkai mengalami

relaksasi (Sohirun, 2009).

3. Pengukuran Jump Smash

Penilaian atau mengukur tingkat kekuatan otot menggunakan

beberapa metode diantaranya yaitu menggunkan vertical jump test

(Widiastuti, 2017). Untuk memahami vertical jump test maka sebaiknya

memahami konsep vertical jump.

a. Definisi Vertical Jump

Vertical Jump adalah kemampuan melompat secara vertikal

melawan gaya gravitasi dengan memakai kemampuan otot (Syamsuri,

2017). Pena (2012) vertical jump adalah lompatan countermovement

yang mengharuskan atlet untuk melompat lurus keatas secara vertical,

ini adalah gerakan explosif yang membutuhkan ekstensi penuh dan

sempurna pergelangan kaki (ankle), pinggul (hip) dan lutut.

Countermovement jump adalah ketika pelompat dimulai dari posisi

berdiri tegak, membuat gerakan turun dengan menekuk lutut 90 derajat,

kemudian dengan cepat meluruskan lutut dan pinggulnya untuk

melompat secara vertikal dari tanah (Kashmira & Seema, 2011).

Beberapa komponen yang mendukung dalam peningkatan vertical

jump diantarana kekuatan tendon, keseimbangan dan kontrol motor,

kekuatan otot, ketahanan otot serta fleksibilitas otot (Widyaratni, 2016).


21

b. Mekanisme Vertical Jump

Vertical jump merupakan kerjasama antara sistem koordinasi dan

keseimbangan antara ektremitas bawah yang baik dengan didukung

oleh otot penggerak yaitu kelompok otot quadriceps femoris (Syamsuri,

2017). Quadriceps Femoris adalah otot utama penggerak dari ekstensi

Gambar 2.3 Vertical jump


(Sumber : Acero et al. 2012)

lutut dan pada normalnya mempunyai empat bagian : rectus femoris,

vastus lateralis, vastus intermedius dan vastus medialis (Omakobia et

al. 2016).

Chavan & Wabale (2016) mengatakan otot quadriceps femoris

mengandung empat bagian yaitu rectus femoris, vastus medialis, vastus

lateralis dan vastus intermedius. Otot quadriceps femoris dapat

menghasilkan tenaga untuk ekstensi lutut sebesar tiga kali lebih kuat

dibandingkan antagonisnya yaitu otot hamstring karena otot ini selalu

bekerja melawan gravitasi. Otot quadriceps mempunyai fungsi sebagai

stabilitator aktif dari sendi lutut serta berperan dalam penggrak ekstensi
22

lutut. Oleh karena itu agar dapat melakukan vertical jump dengan

maksimal diperlukan kekuatan dari otot quadriceps yang maksimal pula

(Widyaratni, 2016).

c. Faktor-Faktor Vertical Jump

Menurut Abdillahtulkhaer (2016) beberapa faktor yang

mempengaruhi vertical jump diantaranya :

1) Kekuatan (Strength)

Kekuatan adalah kemampuan otot atau kelompok otot dalam

menahan atau menerima gaya. Dilihat secara fisiologis, kekuatan

otot ialah kemampuan otot atau kelompok otot untuk menahan beban

atau gaya dengan satu kali kontraksi. Secara mekanik sebagai gaya

yang dapat diproduksi dalam satu kali kontraksi oleh otot atau

kelompok otot (Hasanah, 2013).

Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kekuatan otot,

diantaranya kecepatan kontraksi, kekakuan jaringan penghubung

antar otot dan penampang melintang dari otot tersebut serta massa

otot berbanding lurus dengan kekuatan otot, sehingga semakin berat

massa otot maka kekuatan otot akan semakin besar pula

(Abdillahtulkhaer, 2016).

2) Daya Ledak Otot (Power)

Daya ledak adalah kemampuan otot untuk berkontraksi secara

maksimal dan cepat dalam mengatasi sebuah hambatan (Sudewa,

2015). Daya ledak otot ialah menggunakan kekuatan secara

maksimal dalam waktu yang singkat (Abdillahtulkhaer, 2016).

Uapaya mendapatkan pencapaian yang maksimal dalam suatu


23

cabang olahraga, maka diperlukan daya ledak otot yang baik (S. S.

Putra, 2014).

Meo (2010) menuliskan bahwa komponen dari power ialah

gabungan antara flexibility + strength + time. Oleh karena itu untuk

meningkatkan kemampuan power maka kita harus meningkatkan

dan melihat dari seluruh komponen tersebut.

3) Panjang Tungkai

Panjang tungkai sangat berpengaruh karena tungkai berperan

sebagai pengungkit pada saat melakukan lompatan, hal ini berkaitan

dengan fungsi tungkai saat melompat (Abdillahtulkhaer, 2016).

4) Indeks Masa Tubuh (IMT)

Indeks Masa Tubuh ialah perhitungan antara berat badan dan

tinggi badan, berhubungan juga distribusi lemak dan otot keseluruh

tubuh. Berat lemak yang berlebihan akan mempengaruhi kinerja

tubuh terutama pemain karena akan memberikan pembebanan lebih

yang berarti tubuh akan mengeluarkan gaya tambahan sehingga

memerlukan energy tambahan dalam menggerakan tubuh

(Abdillahtulkhaer, 2016).

Dapat disimpulkan, jika seorang pemain dengan IMT yang

diatas batas normal maka akan mempengaruhi tinggi lompatan pada

vertical jump dikarenakan saat melakukan lompatan bukan hanya

gravitasi yang memberikan beban namun massa tubuh memberikan

gaya tambahan yang akan memberikan beban berlebih saat

melakukan gerakan.
24

Widyaratni (2016) menuliskan ada banyak faktor yang

mempengaruhi dalam peningkatan vertical jump, salah satu faktor yang

sangat berpengaruh adalah power dan flexibiliy tungkai. Agar

mendapatkan peningkatan vertical jump secara maksimal maka

dibutuhkan power dan flexibility yang maksimal pula.

d. Tes dan Pengukuran Jump Smash

Gambar 2.4 Vertical Jump Test


(Sumber : Sudewa, 2016 )

Tes untuk mengukur jump smash adalah vertical jump test. Nama

lain dari vertical jump test ialah surgent test, tes ini bertujuan untuk

mengukur power otot-otot tungkai, pengukuran tes ini dilakukan dengan

cara mengukur jangkauan tangan maksimal saat berdiri dan jangkauan

maksimal yang bisa diraih pada saat melompat dengan bantuan dinding

yang berskala sentimeter (Sudewa, 2015).

Test ini dilakukan sebanyak 3 kali, dan hasil yang paling bagus akan

dimasukan ke data (Sudewa, 2015).

Penentuan hasil vertical jump test dapat ditentukan berdasarkan

kriteria hasil tinggi lompatan yang diraih, berikut adalah kriteria dalam

vertical jump test.


25

Tabel 2.1 Kriteria kemampuan vertical jump test


(Sumber : Abdillahtulkhaer, 2016)
Rating Male (cm) Female (cm)
Excellent >65 >55
Good 60 50
Average 55 45
Fair 50 40
Poor <46 <36

D. Bulutangkis

1. Sejarah Bulutangkis

Bulutangkis berasal dari sebuah rumah atau istana di kawasan

Gloucester-Shire, sekitar 200 Km London sebelah barat. Badminton House

begitu namanya yang menjadi saksi sejarah terbentuknya bulutangkis

hingga sekarang. Duke of Beaufort dan keluarganya pada abad ke-17

menjadi aktivis olahraga namun bukan ialah penemunya. Bulutangkis

(badminton) hanya menjadi sebuah nama dikarenakan disitulah tempat

awal permainan ini dimulai dan menjadi satu-satunya olahraga yang

dinamakan sesuai tempat ditemukannya (PBSI, 2017).

Perkembangan bulutangkis di Indonesia sendiri dimulai sejak jaman

penjajahan dahulu, ketika itu banyak perkumpulan-perkumpulan

bulutangkis yang tersebar dan bergerak sendiri-sendiri tanpa arah, tujuan

serta cita-cita perjuangan. Oleh karena itu harus ada organisasi secara

nasional sebagai organisasi pemersatu dan pada akhirnya terbentuk sebuah

organisasi yang dinamakan PBSI (PBSI, 2017).

Setelah persatuan olahraga bulutangkis di Inggris diresmikan,

permainan ini mulai menyebar ke negara bekas jajahan inggris temasuk

Singapura dan Malaysia, dua negara inilah yang diperkirakan membawa

masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 1930 (Hakim, 2011).


26

PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) terbentuk pada

tanggal 5 Mei 1951 di Bandung, tanggal itu pula diresmikan sebagai

kongres pertama PBSI dengan ketua umum A. Rochdi Partaatmadja, ketua

I : Soedirman, Ketua II : Tri Tjondrokoesoemo, Sekretaris I : Amir,

Sekretaris II : E. Soemantri, Bendahara I : Rachim, Bendahara II : Liem

Soei Liong (PBSI, 2017).

2. Muhammadiyah Badminton Club

Muhammadiyah Badminton Club adalah salah satu UKM atau Unit

Kegiatan Mahasiswa yang berada dibawah naungan Universitas

Muhammadiyah Malang. Muhammadiyah Badminton Club terbentuk

pada tahun 2006 oleh mahasiswa UMM yang mempunyai hobi bermain

bulutangkis dan diketuai oleh Saipul Fahri dan sekaligus menjadi ketua

pertama.

Tujuan dibentuknya UKM ini yaitu sebagai tempat menampung para

mahasiswa yang mempunyai hobi bulutangkis serta berprestasi untuk

bersaing antar mahasiswa khusunya daerah malang sekaligus

memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Malang kepada khalayak

luas.

3. Komponen Fisik Bulutangkis

Secara umum komponen seluruh komponen fisik dibutuhkan oleh

para atlet, namun presentase setiap cabang olahraga berbeda-beda.

Mardiko (2014) menuliskan komponen fisik dalam yang terpenting dalam

olahraga bulutangkis sendiri ialah :

a. Daya tahan (endurance)


27

Daya tahan atau endurance terbagi menjadi dua golongan

yaitu daya tahan otot dan daya tahan umum. Daya tahan otot ialah

kemampuan seseorang untuk menggunakan otot atau sekelompok

otot untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu relatif

lama dengan beban tertentu, dan daya tahan umum adalah

kemampuan seseorang untuk menggunakan sistem jantung,

pernapasan dan peredaran darah secara terus menerus dalam waktu

yang lama yang melibatkan kontraksi otot-otot besar dengan

intesitas tinggi dalam waktu yang lama (Mardiko, 2010).

Permainan bulutangkis sendiri merupakan olahraga yang cepat

dan tidak berhenti sampai bola menyentuh lantai, disinilah atlet

diharuskan mempunyai daya tahan otot maupun umum yang baik

(Mardiko, 2010).

b. Kecepatan (speed)

Speed atau kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk

menempuh suatu jarak dengan cepat atau dalam waktu yang

sesingkat-singkatnya, dapat juga diartikan melakukan gerakan yang

sama secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya

(Kurniawan, 2012).

Kecepatan dibutuhkan oleh seorang atlet bulutangkis yang

bisanya dimanfaatkan untuk menutup lapangan atau mengejar

shuttlecock ke segala arah (Mardiko, 2010).

c. Fleksibilitas (flexibility)

Flexibility atau fleksibilitas ialah seberapa jauh sendi dapat

digunakan dengan normal atau seberapa jauh kita dapat menjangkau,


28

membungkuk dan berbalik rentang gerakan atau pergerakan range

of motion disekitar sendi atau sendi tertentu (Walker, 2011).

Pada pemain bulutangkis fleksibilitas digunakan pada saat

pengambilan bola jauh yang memerlukan langkah-langkah

terkadang hingga harus melakukan gerak “split” (Mardiko, 2010).

d. Daya ledak otot (power)

Daya ledak atau power adalah kekuatan maksimum otot yang

dikeluarkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Mardiko,

2010). Daya ledak ialah kemampuan otot untuk berkontraksi secara

maksimal dan cepat dalam mengatasi sebuah hambatan (Sudewa,

2015).

Permaian bulutangkis membutuhkan power untuk melakukan

pukulan yang keras serta digunakan dalam melakukan lompatan

yang disertai pukulan (jump smash) (Mardiko, 2010).

4. Gerakan Dalam Bulutangkis

Menurut Hakim (2011) ada beberapa gerakan dalam bulutangkis,

antara lain :

a. Hitting Position

Posisi ini merupakan posisi persiapan sebelum memukul bola.

Persiapan ini dipakai juga untuk menentukan pukulan apa

selanjutnya agar pukulan mencapai kualitas yang maksimal.

b. Service

Servive merupakan langkah awal untuk memenangkan

pertandingan, pemain tidak bisa menambah angka apabila tidak bisa

melakukan service dengan baik


29

c. Underhand

Pukulan yang diambil pada posisi di bawah, bisanya

digunakan dalam pengembalian bola pendek dan bertahan

dengan lawan.

d. Overhead Clear

Pukulan dengan bola yang dipukul oleh pemain dari atas

kepala dengan diarahkan keatas belakang lapangan.

e. Smash

Pukulan di atas kepala yang diarahkan ke bawah dan dilakukan

dengan sekuat tenaga, pukulan ini bertujuan mengarahkan kok

menukik tajam ke bawah dengan cepat, pukulan ini identik dengan

pukulan menyerang.

f. Dropshot

Pukulan seperti smash namun bola hanya didorong dengan

sentuhan halus agar jatuhnya bola jatuh mendekati net dan tidak

melewati garis ganda.

g. Netting

Pukulan yang dilakukan dekat dengan net dan diarahkan

setipis mungkin dengan net. Pukulan ini dikatakan baik apabila bola

melintir tipis dekat sekali dengan net.

Anda mungkin juga menyukai