BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Stretching
1. Definisi Stretching
Stretching merupakan suatu cara atau metode yang digunakan untuk
menjaga serta meningkatkan fleksibilitas, mobilitas dari otot dan area
persendian, stretching juga berfungsi dalam mengurangi cedera dan
masalah pada postur tubuh (Amin et al. 2015). Stretching adalah istilah
umum yang digunakan dalam menggambarkan manuver yang dirancang
untuk memperpanjang jaringan lunak, oleh karena itu stretching dapat
meningkatkan ROM (Longo, 2009). Stretching merupakan hal yang
penting dalam terapi dan latihan untuk meningkatkan range of motion
(Knudson, 2006).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa stretching
ialah suatu metode atau manuver yang digunakan untuk memperpanjang
jaringan lunak sehingga menjaga atau meningkatkan fleksibilitas dan
mobilitas otot agar mencegah atau mengurangi risiko cedera serta
meningkatkan range of motion.
2. Mekanisme Stretching
Kalsium dilepaskan di sarcoplasmic reticulum bagian pengikat aktin
akan terbuka. Kepala miosin dari filamen tebal akan menempel pada
tempat penempelan atau pengikat dan filamen tipis ditarik melewati
miosin menuju garis M yang menimbulkan pemendekan dari sarkomer.
Setiap kepala miosin yang menempel pada filament aktin akan
10
11
menciptakan jempabatn silang (cross brige), karena potensial aksi terus
bekerja, maka semua sarkomer terus berkontraksi (all or none principle).
Apabila otot membutuhkan kontraksi lebih besar makan jumlah jembatan
silang yang terbebtuk dalam sarkomer akan meningkat (Bernhart, 2013).
Gambar 2.1 : Sarcomer
(Sumber : Bernhart, 2013)
Sebalikanya, untuk otot yang diregangkan, filamen tipis ditarik dari
filamen yang tebal. Filamen titin mengambil lebih banyak perpindahan
yang dibuat oleh aktin dan miosin selama peregangan yang semakin
meningkat di dalam miofibril. Filamen titin diyakini bertanggung jawab
atas ekstensibilitas sarkomer dan ketahanan terhadap peregangan.
Peregangan ini tidak sama dengan kontraksi eksentrik hanya potensial aksi
dihilangkan dan sarkomer diperpanjang. Peregangan otot adalah gerakan
pasif dimana posisi tubuh menyebabkan perpanjangan otot. Pada kontraksi
eksentrik, impuls saraf dihilangkan untuk mengendalikan kecepatan
gerakan, kekuatan diprodukasi di dalam serat otot tetapi sama atau kurang
dari kekuatan lawan. Demikian pula, otot mengalami ketegangan selama
12
peregangan statis dan berada di bawah pengaruh golgi tendon dan spindel
reflexes untuk mencegah cedera (Bernhart, 2013).
Muscle Spindel adalah suatu reseptor yang menerima rangsangan
dari regangan otot. Regangan yang kuat akan menyebabkan spindle reflex
mengirimkan sinya ke medula spinalis dan akan menyebabkan kontraksi
otot yang kuat dan cepat. Muscle spindle dapat dijabarkan menjadi dua
fungsi yaitu sebagai pendeteksi perubahan panjang otot dan kecepatan
perubahan itu sendiri (Juliantine, 2010). Sehingga ketika ingin melakukan
peregangan (stretching) setidaknya dilakukan secara perlahan dikarenakan
peregangan yang dilakukan secara tiba-tiba maka refleks ini akan aktif.
Apabila refleks ini menjadi aktif maka otot akan berkontraksi dan
menghambat proses peregangan. (Juliantine, 2010).
Golgi Tendon adalah reseptor yang berfungsi sebagai stretch
receptor. Reseptor ini aktif ketika terjadi peregangan yang berlebihan,
letak dari golgi tendon itu sendiri berada di dalam tendon tepat di luar
perlekatannya pada serabut otot. Sinyal yang berasal dari golgi tendon
akan merambat ke medulla spinalis yang menghasilkan hambatan respon
pada kontraksi otot yang terjadi. Golgi tendon merupakan pelindung otot
yang berfungsi mencegah terjadinya perobekan otot akibat peregangan
yang berlebihan. Namun ia tidak bekerja sendiri, golgi tendon bekerjasama
dengan spindle reflex untuk mengontrol kontraksi otot. Secara detail
spindle reflex berfungsi sebagai pendeteksi perubahan panjang otot dan
golgi tendon berfungsi memeriksa ketegangan otot (Juliantine, 2010).
13
3. Indikasi Stretching
Wismanto (2011) menuliskan beberapa indikasi stretching, yaitu:
a. Myostatic Contracture.
b. Scar Tissue Contracture Adhesion.
c. Fibrotic Adhession.
d. Ireversibel Contracture.
e. Pseudomiastic contracture.
4. Kontraindikasi Stretching
Wismanto (2011) dalam jurnalnya menyebutkan kontraindikasi
stretching antara lain :
a. Terdapat fraktur daerah pinggul yang masih baru.
b. Pasca immobilisasi yang lama dikarenakan otot sudah kehilangan
daya regang.
c. Terlihat adanya tanda-tanda inflamasi.
5. Manfaat Stretching
Walker (2011) dalam bukunya yang berjudul “Ultimate Guide to
Stretching & Flexibility” menuliskan bahwa stretching dapat
meningkatkan ROM (range of motion), meningkatkan daya ledak (power),
menurunkan DOMS (delayed onset muscle sorenes), menurunkan
kelelahan, dapat membantu dalam memperbaiki postur, membangun
kesadaran akan tubuh, meningkatkan sirkulasi darah, meningkatkan energi
dan membuat relaksasi serta menurunkan kadar stress. Penelian lain
menyebutkan stretching dapat meningkatkan peningkatan performa,
mengurangi resiko cedera dan mnegurangi nyeri dengan meningkatkan
fleksibilitas otot (Bradley et al. 2007).
14
B. Active Isolated Stretching
1. Definisi Active Isolated Stretching
Active isolated stretching dikembangkan oleh Aaron L. Matters.
Metode peregangan diciptakan dengan tujuan mengendalikan reflekss
peregangan dari tendon. Ini adalah sebuah metode myofacial release yang
efektif memberikan penjajaran dinamis dari otot yang terisolasi,
mempromosikan pemulihan fungsi dan perbaikan fisiologis dari facia
(Bernhart, 2013). Longo (2009) menuliskan active isolated stretching
adalah pengobatan atau terapi myofacial technique untuk memulihkan
fungsi dan mengembalikan fisiologis otot, tendon, ligamen, dan sendi
untuk memfasilitasi permukaan facia yang lebih sehat. Active isolated
stretching merupakan stretching aktif yang melibatkan komponen sistem
neuromuskuler yang digunakan untuk terapi myofacia release dan
penguluran untuk otot yang dangkal maupun dalam, tendon dan facia
(Wismanto, 2011).
Active isolated stretching adalah sebuah metode stretching aktif
yang melibatkan sistem neuromuskuler dengan mengendalikan relfeks
peregangan dan kemudian teknik ini disebut metode Mattes (Wismanto,
2011).
2. Fisiologis Active Isolated Stretching
Active isolated stretching bekerja dengan menggunakan refleks
neurologi yaitu reciprocal inhibisi (Wismanto, 2011), reciprocal inhibisi
berguna untuk mengurangi ketegangan berlebihan yang tercipta saat
peregangan pasif pada otot. Efek dari reciprocal inhibition menghambat
kontraksi dari otot antagonis dan memfasilitasi dari otot agonis untuk
15
berkontraksi, hal ini akan menyebabkan otot antagonis menjadi rileks
(Wismanto, 2011).
Ketika otot disuatu sendi berkontraksi, otot yang berlawanan akan
mengirimkan sinyal neurologis ke otak agar rileks, ini adalah hukum
Serrington tentang hambatan timbal balik dan kontraksi otot. Hukum ini
terdapat dalam metode ini namun dilakukan dengan rentang yang lambat,
terkontrol dan berirama kurang atau sama dengan 2 detik. Peregangan
yang cepat akan memicu myotatic stretch reflex yang menyebabkan
kontraksi otot antagonis akan terbatasi yang akan membatasi potensi
peregangan dari otot (Longo, 2009).
Stretching ini sangat efektif dilakukan selama 1.5 – 2 detik, hal ini
untuk mencegah reflekss kontraksi (myotic stretch reflex) dari otot
antagonis. Menurut Bernhart (2013) stretching ini tidak lebih dari 2 detik
pada seluruh gerakan dan fleksibilitas tanpa aktivasi kelompok otot
antagonis, proses ini dilakukan 1 – 2 detik dan diulang sebanyak 8 – 10
kali agar lebih optimal.
3. Mekanisme Active Isolated Stretching Meningkatkan Vertical Jump
Pemberian active isolated stretching tidak akan menimbulkan nyeri
dikarenakan stretching ini dapat mengurangi efek iritasi pada saraf Aδ dan
tipe C karena adanya abnormal cross link. Pada metode ini akan
meluruskan kembali abnormal cross link pada otot yang memendek karena
otot akan ditarik hingga sarkomer penuh. Selain itu proses ini juga akan
menghilangkan gangguan pada serabut seperti taut band yang akan
mempengaruhi keelastisitasan otot, sehingga pemberian active isolated
stretching akan menghasilkan peregangan pada sarkomer yang bertujuan
16
mengembalikan elastisitas otot sehingga kekakuan dan rasa tidak nyaman
akan dapat dicegah dan atau dikurangi (Wismanto, 2011).
Meningkatnya elastisitas otot berbanding lurus dengan peningkatan
fleksibilitas, apabila fleksibilitas meningkat maka panjang otot juga
meningkat hal ini akan meningkatkan range of motion. Meningkatnya
range of motion maka jangkauan otot akan lebih jauh, hal ini berpotensi
dalam peningkatan power sehingga meningkatkan kemampuan atlet
(Walker, 2011).
4. Prinsip dalam melakukan Active Isolated Stretching
Meo (2010) mengatakan terdapat tiga prinsip dalam active isolated
stretching.
a. Pertama
Stretch hanya dilakukan antara 1.5 – 2 detik, alasannya adalah
ketika peregangan dilakukan lebih dari dua detik maka akan memicu
mekanisme perlindungan yang disebut “myotic stretch reflex”.
Refleks ini terjadi normal pada tubuh, namun pada peningkatan
tinggi, rehabilitasi cedera atau ingin memberikan perubahan pada
otot, refleks ini tidak diinginkan.
Hal tersebut adalah benar karena ketika refleks itu dimulai
(selama 2.5 – 3 detik), otot yang diregangkan akan mulai
berkontraksi menciptakan kontraksi eksentrik, kontraksi ini yang
tidak kita inginkan.
Membiarkan myotic stretch reflex selama kita melakukan
stretching akan menyebabkan oksigen terkuras dari dalam jaringan.
17
Pengurangan dari oksigen ini adalah kebalikan dari apa yang kita
inginkan.
b. Kedua
Peregangan ini dilakukan secara aktif yang berarti seseorang
yang diregangkan benar-benar menggerakkan bagian tubuhnya
sendiri dengan ototnya sendiri, sebelum diberi bantuan oleh tali
ataupun fisoterapis.
Gerakan ini menyebabkan reciprocal inhibition atau hambatan
timbal balik (hukum Sherrington). Secara sederhana ketika otot
berkontraksi (agonis), otot yang lain (antagonis) akan rileks atau
dimatikan. Lingkungan yang sempurna ketika meregangkan otot
adalah dalam keadaan rileks.
c. Ketiga
Konsep yang terakhir ialah bernafas, tujuannya tidak lain
adalah mengoptimalkan kandungan oksigen di dalam otot, facia dan
jaringan sekitarnya, kita harus selalu menghembuskan nafas ketika
fase peregangan. Pernafasan dengan cara ini memungkinkan jumlah
oksigen yang dikirim ke jaringan terjadi secara maksimal, ini adalah
hal yang diinginkan apakah itu untuk rehabilitasi, peningkatan atlet
ataupun yang lain.
5. Teknik Melakukan Active Isolated Stretching
Cara melakukan active isolated stretching menurut Walker (2011)
dalam bukunya “Ultimate Guide to Stretching & Flexibility” adalah
sebagai berikut:
18
a. Pilih otot atau kelompok otot yang akan diregangkan atau stretch,
kemudian posisikan untuk memulai peregangan.
b. Kontraksikan otot antagonis atau grup antagonis secara aktif dengan
cepat dan perlahan.
c. Tahan selama 1 – 2 detik dan lepaskan.
d. Gerakan tersebut diulang sebanyak 5 sampai 10 kali.
Gambar 2.2 Active Isolated Stretching
(Sumber : Dokumentasi Pribadi)
6. Dosis Latihan Active Isolated Stretching
Walker (2011) mengatakan bahwa stretching sangat penting
dilakukan sebelum dan sesudah melakukan latihan. Namun stretching
dapat dilakukan sepanjang hari kapan dan dimana saja termasuk active
isolated stretching. Nelson dan Kokkonen (2007) dalam bukunya yang
berjudul “Stretching Anatony” menjelaskan program latihan untuk
meningkatkan fleksibilitas terdapat 7 (1 – 7) tingkat latihan yang dapat
disesuaikan dan diharuskan bertahan pada tiap tingkat selama 2 – 4
minggu.
Pada penelitian lain dosis yang digunakan ialah 2 set dengan 10
repetisi dengan istirahat selama 2 menit pada tiap set (Amin et al. 2015).
19
Palaniappan dan Deivendran (2013) menggunakan dosis 2 set dengan
istirahat 15 detik pada setiap set.
C. Jump Smash
1. Definisi Jump Smash
Jump smash adalah pukulan keras diatas kepala yang diarahkan ke
bawah dengan kuat disertapi lonvatan, pukulan ini digunakan dalam
menyerang lawan yang bertujuan untuk mematikan lawan dan
mendapatkan poin. Fator utama yang berpengaruh pada pukulan ini adalah
power otot tungkai yang berguna untuk loncatan kearah shuttlecock yang
melambung tinggi di atas kepala pemain, serta didukung dengan posisi
yang memungkinkan untuk melakukan jump smash (Iqbal, 2015).
2. Mekanisme Jump Smash
Berikut adalah proses dari gerakan jump smash mnurut Suhadaq
(2014) :
a. Awal lompatan
Pada tahap ini otot yang bekerja ialah seluruh otot-otot tungkai
bawah seperti hamstring dan gastrocnemius (Suhadaq, 2014).
b. Melompat
Melompat adalah tahap utama dari vertical jump. Explosif
kontraksi kelompok otot quadricep sebagai penggerak utama
dibantu oleh gluteus maximus dan minimus, tibialis anterior serta
otot-otot pada metatarsal yang membuat ekstensi dari sendi hip,
knee, dan ankle (Sohirun, 2009).
c. Puncak lompatan
20
Pada gerakan ini otot gluteus maximus dan minimus, kelompok
quadriceps ekstensor, tibialis anterior dan otot-otot metatarsal
btetap dalam posisinya sedangkan otot fleksor tungkai mengalami
relaksasi (Sohirun, 2009).
3. Pengukuran Jump Smash
Penilaian atau mengukur tingkat kekuatan otot menggunakan
beberapa metode diantaranya yaitu menggunkan vertical jump test
(Widiastuti, 2017). Untuk memahami vertical jump test maka sebaiknya
memahami konsep vertical jump.
a. Definisi Vertical Jump
Vertical Jump adalah kemampuan melompat secara vertikal
melawan gaya gravitasi dengan memakai kemampuan otot (Syamsuri,
2017). Pena (2012) vertical jump adalah lompatan countermovement
yang mengharuskan atlet untuk melompat lurus keatas secara vertical,
ini adalah gerakan explosif yang membutuhkan ekstensi penuh dan
sempurna pergelangan kaki (ankle), pinggul (hip) dan lutut.
Countermovement jump adalah ketika pelompat dimulai dari posisi
berdiri tegak, membuat gerakan turun dengan menekuk lutut 90 derajat,
kemudian dengan cepat meluruskan lutut dan pinggulnya untuk
melompat secara vertikal dari tanah (Kashmira & Seema, 2011).
Beberapa komponen yang mendukung dalam peningkatan vertical
jump diantarana kekuatan tendon, keseimbangan dan kontrol motor,
kekuatan otot, ketahanan otot serta fleksibilitas otot (Widyaratni, 2016).
21
b. Mekanisme Vertical Jump
Vertical jump merupakan kerjasama antara sistem koordinasi dan
keseimbangan antara ektremitas bawah yang baik dengan didukung
oleh otot penggerak yaitu kelompok otot quadriceps femoris (Syamsuri,
2017). Quadriceps Femoris adalah otot utama penggerak dari ekstensi
Gambar 2.3 Vertical jump
(Sumber : Acero et al. 2012)
lutut dan pada normalnya mempunyai empat bagian : rectus femoris,
vastus lateralis, vastus intermedius dan vastus medialis (Omakobia et
al. 2016).
Chavan & Wabale (2016) mengatakan otot quadriceps femoris
mengandung empat bagian yaitu rectus femoris, vastus medialis, vastus
lateralis dan vastus intermedius. Otot quadriceps femoris dapat
menghasilkan tenaga untuk ekstensi lutut sebesar tiga kali lebih kuat
dibandingkan antagonisnya yaitu otot hamstring karena otot ini selalu
bekerja melawan gravitasi. Otot quadriceps mempunyai fungsi sebagai
stabilitator aktif dari sendi lutut serta berperan dalam penggrak ekstensi
22
lutut. Oleh karena itu agar dapat melakukan vertical jump dengan
maksimal diperlukan kekuatan dari otot quadriceps yang maksimal pula
(Widyaratni, 2016).
c. Faktor-Faktor Vertical Jump
Menurut Abdillahtulkhaer (2016) beberapa faktor yang
mempengaruhi vertical jump diantaranya :
1) Kekuatan (Strength)
Kekuatan adalah kemampuan otot atau kelompok otot dalam
menahan atau menerima gaya. Dilihat secara fisiologis, kekuatan
otot ialah kemampuan otot atau kelompok otot untuk menahan beban
atau gaya dengan satu kali kontraksi. Secara mekanik sebagai gaya
yang dapat diproduksi dalam satu kali kontraksi oleh otot atau
kelompok otot (Hasanah, 2013).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kekuatan otot,
diantaranya kecepatan kontraksi, kekakuan jaringan penghubung
antar otot dan penampang melintang dari otot tersebut serta massa
otot berbanding lurus dengan kekuatan otot, sehingga semakin berat
massa otot maka kekuatan otot akan semakin besar pula
(Abdillahtulkhaer, 2016).
2) Daya Ledak Otot (Power)
Daya ledak adalah kemampuan otot untuk berkontraksi secara
maksimal dan cepat dalam mengatasi sebuah hambatan (Sudewa,
2015). Daya ledak otot ialah menggunakan kekuatan secara
maksimal dalam waktu yang singkat (Abdillahtulkhaer, 2016).
Uapaya mendapatkan pencapaian yang maksimal dalam suatu
23
cabang olahraga, maka diperlukan daya ledak otot yang baik (S. S.
Putra, 2014).
Meo (2010) menuliskan bahwa komponen dari power ialah
gabungan antara flexibility + strength + time. Oleh karena itu untuk
meningkatkan kemampuan power maka kita harus meningkatkan
dan melihat dari seluruh komponen tersebut.
3) Panjang Tungkai
Panjang tungkai sangat berpengaruh karena tungkai berperan
sebagai pengungkit pada saat melakukan lompatan, hal ini berkaitan
dengan fungsi tungkai saat melompat (Abdillahtulkhaer, 2016).
4) Indeks Masa Tubuh (IMT)
Indeks Masa Tubuh ialah perhitungan antara berat badan dan
tinggi badan, berhubungan juga distribusi lemak dan otot keseluruh
tubuh. Berat lemak yang berlebihan akan mempengaruhi kinerja
tubuh terutama pemain karena akan memberikan pembebanan lebih
yang berarti tubuh akan mengeluarkan gaya tambahan sehingga
memerlukan energy tambahan dalam menggerakan tubuh
(Abdillahtulkhaer, 2016).
Dapat disimpulkan, jika seorang pemain dengan IMT yang
diatas batas normal maka akan mempengaruhi tinggi lompatan pada
vertical jump dikarenakan saat melakukan lompatan bukan hanya
gravitasi yang memberikan beban namun massa tubuh memberikan
gaya tambahan yang akan memberikan beban berlebih saat
melakukan gerakan.
24
Widyaratni (2016) menuliskan ada banyak faktor yang
mempengaruhi dalam peningkatan vertical jump, salah satu faktor yang
sangat berpengaruh adalah power dan flexibiliy tungkai. Agar
mendapatkan peningkatan vertical jump secara maksimal maka
dibutuhkan power dan flexibility yang maksimal pula.
d. Tes dan Pengukuran Jump Smash
Gambar 2.4 Vertical Jump Test
(Sumber : Sudewa, 2016 )
Tes untuk mengukur jump smash adalah vertical jump test. Nama
lain dari vertical jump test ialah surgent test, tes ini bertujuan untuk
mengukur power otot-otot tungkai, pengukuran tes ini dilakukan dengan
cara mengukur jangkauan tangan maksimal saat berdiri dan jangkauan
maksimal yang bisa diraih pada saat melompat dengan bantuan dinding
yang berskala sentimeter (Sudewa, 2015).
Test ini dilakukan sebanyak 3 kali, dan hasil yang paling bagus akan
dimasukan ke data (Sudewa, 2015).
Penentuan hasil vertical jump test dapat ditentukan berdasarkan
kriteria hasil tinggi lompatan yang diraih, berikut adalah kriteria dalam
vertical jump test.
25
Tabel 2.1 Kriteria kemampuan vertical jump test
(Sumber : Abdillahtulkhaer, 2016)
Rating Male (cm) Female (cm)
Excellent >65 >55
Good 60 50
Average 55 45
Fair 50 40
Poor <46 <36
D. Bulutangkis
1. Sejarah Bulutangkis
Bulutangkis berasal dari sebuah rumah atau istana di kawasan
Gloucester-Shire, sekitar 200 Km London sebelah barat. Badminton House
begitu namanya yang menjadi saksi sejarah terbentuknya bulutangkis
hingga sekarang. Duke of Beaufort dan keluarganya pada abad ke-17
menjadi aktivis olahraga namun bukan ialah penemunya. Bulutangkis
(badminton) hanya menjadi sebuah nama dikarenakan disitulah tempat
awal permainan ini dimulai dan menjadi satu-satunya olahraga yang
dinamakan sesuai tempat ditemukannya (PBSI, 2017).
Perkembangan bulutangkis di Indonesia sendiri dimulai sejak jaman
penjajahan dahulu, ketika itu banyak perkumpulan-perkumpulan
bulutangkis yang tersebar dan bergerak sendiri-sendiri tanpa arah, tujuan
serta cita-cita perjuangan. Oleh karena itu harus ada organisasi secara
nasional sebagai organisasi pemersatu dan pada akhirnya terbentuk sebuah
organisasi yang dinamakan PBSI (PBSI, 2017).
Setelah persatuan olahraga bulutangkis di Inggris diresmikan,
permainan ini mulai menyebar ke negara bekas jajahan inggris temasuk
Singapura dan Malaysia, dua negara inilah yang diperkirakan membawa
masuk ke Indonesia pada sekitar tahun 1930 (Hakim, 2011).
26
PBSI (Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia) terbentuk pada
tanggal 5 Mei 1951 di Bandung, tanggal itu pula diresmikan sebagai
kongres pertama PBSI dengan ketua umum A. Rochdi Partaatmadja, ketua
I : Soedirman, Ketua II : Tri Tjondrokoesoemo, Sekretaris I : Amir,
Sekretaris II : E. Soemantri, Bendahara I : Rachim, Bendahara II : Liem
Soei Liong (PBSI, 2017).
2. Muhammadiyah Badminton Club
Muhammadiyah Badminton Club adalah salah satu UKM atau Unit
Kegiatan Mahasiswa yang berada dibawah naungan Universitas
Muhammadiyah Malang. Muhammadiyah Badminton Club terbentuk
pada tahun 2006 oleh mahasiswa UMM yang mempunyai hobi bermain
bulutangkis dan diketuai oleh Saipul Fahri dan sekaligus menjadi ketua
pertama.
Tujuan dibentuknya UKM ini yaitu sebagai tempat menampung para
mahasiswa yang mempunyai hobi bulutangkis serta berprestasi untuk
bersaing antar mahasiswa khusunya daerah malang sekaligus
memperkenalkan Universitas Muhammadiyah Malang kepada khalayak
luas.
3. Komponen Fisik Bulutangkis
Secara umum komponen seluruh komponen fisik dibutuhkan oleh
para atlet, namun presentase setiap cabang olahraga berbeda-beda.
Mardiko (2014) menuliskan komponen fisik dalam yang terpenting dalam
olahraga bulutangkis sendiri ialah :
a. Daya tahan (endurance)
27
Daya tahan atau endurance terbagi menjadi dua golongan
yaitu daya tahan otot dan daya tahan umum. Daya tahan otot ialah
kemampuan seseorang untuk menggunakan otot atau sekelompok
otot untuk berkontraksi secara terus menerus dalam waktu relatif
lama dengan beban tertentu, dan daya tahan umum adalah
kemampuan seseorang untuk menggunakan sistem jantung,
pernapasan dan peredaran darah secara terus menerus dalam waktu
yang lama yang melibatkan kontraksi otot-otot besar dengan
intesitas tinggi dalam waktu yang lama (Mardiko, 2010).
Permainan bulutangkis sendiri merupakan olahraga yang cepat
dan tidak berhenti sampai bola menyentuh lantai, disinilah atlet
diharuskan mempunyai daya tahan otot maupun umum yang baik
(Mardiko, 2010).
b. Kecepatan (speed)
Speed atau kecepatan adalah kemampuan seseorang untuk
menempuh suatu jarak dengan cepat atau dalam waktu yang
sesingkat-singkatnya, dapat juga diartikan melakukan gerakan yang
sama secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya
(Kurniawan, 2012).
Kecepatan dibutuhkan oleh seorang atlet bulutangkis yang
bisanya dimanfaatkan untuk menutup lapangan atau mengejar
shuttlecock ke segala arah (Mardiko, 2010).
c. Fleksibilitas (flexibility)
Flexibility atau fleksibilitas ialah seberapa jauh sendi dapat
digunakan dengan normal atau seberapa jauh kita dapat menjangkau,
28
membungkuk dan berbalik rentang gerakan atau pergerakan range
of motion disekitar sendi atau sendi tertentu (Walker, 2011).
Pada pemain bulutangkis fleksibilitas digunakan pada saat
pengambilan bola jauh yang memerlukan langkah-langkah
terkadang hingga harus melakukan gerak “split” (Mardiko, 2010).
d. Daya ledak otot (power)
Daya ledak atau power adalah kekuatan maksimum otot yang
dikeluarkan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya (Mardiko,
2010). Daya ledak ialah kemampuan otot untuk berkontraksi secara
maksimal dan cepat dalam mengatasi sebuah hambatan (Sudewa,
2015).
Permaian bulutangkis membutuhkan power untuk melakukan
pukulan yang keras serta digunakan dalam melakukan lompatan
yang disertai pukulan (jump smash) (Mardiko, 2010).
4. Gerakan Dalam Bulutangkis
Menurut Hakim (2011) ada beberapa gerakan dalam bulutangkis,
antara lain :
a. Hitting Position
Posisi ini merupakan posisi persiapan sebelum memukul bola.
Persiapan ini dipakai juga untuk menentukan pukulan apa
selanjutnya agar pukulan mencapai kualitas yang maksimal.
b. Service
Servive merupakan langkah awal untuk memenangkan
pertandingan, pemain tidak bisa menambah angka apabila tidak bisa
melakukan service dengan baik
29
c. Underhand
Pukulan yang diambil pada posisi di bawah, bisanya
digunakan dalam pengembalian bola pendek dan bertahan
dengan lawan.
d. Overhead Clear
Pukulan dengan bola yang dipukul oleh pemain dari atas
kepala dengan diarahkan keatas belakang lapangan.
e. Smash
Pukulan di atas kepala yang diarahkan ke bawah dan dilakukan
dengan sekuat tenaga, pukulan ini bertujuan mengarahkan kok
menukik tajam ke bawah dengan cepat, pukulan ini identik dengan
pukulan menyerang.
f. Dropshot
Pukulan seperti smash namun bola hanya didorong dengan
sentuhan halus agar jatuhnya bola jatuh mendekati net dan tidak
melewati garis ganda.
g. Netting
Pukulan yang dilakukan dekat dengan net dan diarahkan
setipis mungkin dengan net. Pukulan ini dikatakan baik apabila bola
melintir tipis dekat sekali dengan net.