0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan47 halaman

Asuhan Keperawatan Cardiac Arrest

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien dengan cardiac arrest. Cardiac arrest merupakan kondisi darurat medis yang mengancam jiwa dimana detak jantung berhenti secara tiba-tiba. Penanganan yang cepat dan tepat seperti CPR, defibrilasi, dan obat-obatan penting untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien. Makalah ini akan menjelaskan konsep asuhan keperawatan untuk pasien cardiac
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
2K tayangan47 halaman

Asuhan Keperawatan Cardiac Arrest

Makalah ini membahas tentang asuhan keperawatan gawat darurat pada pasien dengan cardiac arrest. Cardiac arrest merupakan kondisi darurat medis yang mengancam jiwa dimana detak jantung berhenti secara tiba-tiba. Penanganan yang cepat dan tepat seperti CPR, defibrilasi, dan obat-obatan penting untuk meningkatkan peluang keselamatan pasien. Makalah ini akan menjelaskan konsep asuhan keperawatan untuk pasien cardiac
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Makalah Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Pada Pasien dengan

Cardiac Arrest

Tim Penyusun :

Enggar Ardiani Tagap : 2307010


Alkiyam Wahyu : 2307002
Ciptowati : 2307005
Tunjung Sriwintari : 2307031

Program Studi S1 Keperawatan


Universitas Karya Husada Semarang
2024
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-

Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Gawat

Darurat Pada Kasus Cardiac Arrest”. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi penugasan dari

mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Kami menyadari bahwa tugas makalah ini belum

sempurna masih terdapat kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritikan dan saran yang

bersifat membangun dari berbagai pihak demi kesempurnaan makalah ini.

Kami menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sangat sulit

bagi Kami untuk menyelesaikan makalah ini. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para

Bapak/Ibu Dosen Pengampu Mata Kuliah Gawat Darurat, kepada :

1. Ns. Amrih Widiati, [Link],

2. Ns. M. Jamaluddin, [Link]

3. Ns. Anto Indriyadi, MKM

yang telah memberikan bimbingan, dan mengarahkan dalam pembuatan tugas serta memberikan

pengetahuan dan informasi kepada kami hingga kami. Akhir kata, kami berhadarap Tuhan Yang

Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu.

Semarang, 10 Maret 2024

Kelompok 4

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................................3
C. Tujuan.............................................................................................................................................3
D. Manfaat...........................................................................................................................................4
BAB II KONSEP ASKEP GADAR PADA KASUS CARDIAC ARREST....................................................................6
A. Konsep Dasar Teori.........................................................................................................................6
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA CARDIAC ARREST..........................16
BAB III APLIKASI PROSES ASKEP GADAR Ny. S DENGAN CARDIAC ARREST................................................26
A. PENGKAJIAN..................................................................................................................................26
B. Diagnosa Keperawatan.................................................................................................................30
C. INTERVENSI KEPERAWATAN..........................................................................................................32
D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN............................................................................36
BAB IV PEMBAHASAN................................................................................................................................38
BAB V PENUTUP........................................................................................................................................40
A. KESIMPULAN.................................................................................................................................40
B. SARAN...........................................................................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................................42

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Salah satu kondisi kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan

penanganan segera adalah cardiac arrest atau henti jantung. Cardiac arrest adalah kondisi

medis yang mengancam jiwa di mana detak jantung tiba-tiba berhenti, menghentikan aliran

darah, dan berpotensi menyebabkan kematian dalam hitungan menit jika tidak ditangani

dengan cepat. Data yang dikumpulkan oleh American Heart Association menunjukkan

bahwa infark miokard adalah penyebab utama kematian mendadak di seluruh dunia (Nolan

et al., 2021).

Cardiac arrest merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dengan implikasi

yang signifikan terhadap tingkat kematian di seluruh dunia. Sebuah studi terbaru yang

dilakukan di Swedia selama 30 tahun menunjukkan adanya tren dalam tingkat kesintasan

setelah cardiac arrest. Meskipun terdapat kemajuan dalam penanganan cardiac arrest, masih

terdapat tantangan dalam meningkatkan tingkat kesintasan pasien secara keseluruhan. Studi

ini menyoroti pentingnya terus-menerus memperbaiki strategi penanganan cardiac arrest

untuk mengurangi besaran masalah dan meningkatkan hasil pasien (Jerkeman et al., 2022).

Terdapat sekitar 280.000 pasien dewasa yang mengalami serangan jantung di rumah sakit

setiap tahunnya di Amerika Serikat (Holmberg et al., 2018).

Di Indonesia, angka kejadian henti jantung di luar rumah sakit belum ditemukan secara

pasti, akan tetapi banyak laporan kejadian henti jantung yang berujung kematian mendadak

yang terjadi di rumah atau di ruang publik (Muthmainnah, 2019). Menurut Badan Penelitian

dan Pengembangan Kesehatan (Balitbang) dalam Purwacaraka et al (2023) kejadian

penyakit jantung di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi, terutama pada tahun 2018

v
yang mencapai 1 juta orang dan memiliki nilai confidence interval 1,4-1,5%. Semua jenis

penyakit jantung termasuk penyakit jantung bawaan yang telah terdiagnosis oleh dokter juga

memiliki potensi terjadinya henti jantung (Purwacaraka et al., 2023). Berdasarkan data

Riskesdas (2018), prevalensi penyakit jantung (diagnosis dokter) pada penduduk semua

umur menurut provinsi di Indonesia adalah 1,5% dari jemlah penduduk.

Secara umum, penyebab serangan jantung, seperti infark miokard, aritmia, atau jantung

kegagalan, adalah yang paling sering terjadi, dengan prevalensi sekitar 50% hingga 60%.

Insufisiensi pernapasan adalah penyebab paling umum kedua (15%-40%) (Andersen et al.,

2019). Kematian tersebut berhubungan dengan tidak mendapatkan pertolongan pertama

yang adekuat dan waktu yang terlalu lama untuk sampai di rumah sakit (Villalobos et al.,

2019).

Beberapa negara telah mengimplementasikan kebijakan yang mewajibkan pelatihan CPR

di sekolah atau memasang AED di tempat-tempat umum sebagai upaya untuk meningkatkan

kesadaran dan respons terhadap cardiac arrest. Namun, masih ada tantangan terkait

peningkatan akses terhadap pelatihan dan peralatan penunjang di komunitas yang rentan

(Nolan et al., 2021). Pelatihan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) dan penempatan AED

(Automated External Defibrillator) di tempat-tempat umum telah menjadi fokus dalam

upaya meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam penanganan cardiac arrest di

lingkungan sekitar mereka (Jerkeman et al., 2022).

Penanganan cardiac arrest memerlukan respons yang cepat dan terkoordinasi dari tim

medis dan masyarakat umum. Protokol CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) yang tepat,

penggunaan AED (Automated External Defibrillator), dan akses terhadap perawatan

lanjutan seperti terapi dengan defibrilator dan intervensi koroner yang segera dapat

meningkatkan peluang kesintasan pasien (Lott et al., 2021)

vi
Penanganan pasien cardiac arrest di rumah sakit melibatkan respon yang cepat dan

terkoordinasi dari tim medis. Langkah-langkah awal termasuk evaluasi cepat untuk

menentukan kondisi jantung pasien, penempatan saluran udara yang terbuka, dan

pemantauan ritme jantung yang kontinu. Tindakan resusitasi yang dilakukan di rumah sakit

mencakup kompresi dada berkelanjutan, penggunaan defibrilasi untuk mengembalikan ritme

jantung yang normal, pemberian obat-obatan seperti epinefrin untuk meningkatkan kontraksi

jantung, serta penanganan penyebab yang mendasari seperti iskemia miokard atau aritmia.

10 dari 11 layanan ambulans di Inggris mengirimkan data yang berkaitan dengan OHCA ke

registry, hasil henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) di University of Warwick. Dalam

laporan terbaru tahun 2020, dari 31.698 pasien henti jantung yang ditangani oleh EMS

(mewakili 53,4 per 100.000 populasi), 23% di antaranya berada dalam ritme awal yang

dapat diberi kejut (fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel (VF / VT)), 25,9% dari total

dirawat di rumah sakit dengan kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) dan 8,3% dari total

bertahan hingga keluar dari rumah sakit (Nolan, 2022)

B. Rumusan Masalah

Bagaimana meningkatkan penanganan pasien cardiac arrest secara efektif serta Bagaimana

melakukan Asuhan Keperawatan pada pasien Cardiac Arrest?

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Meningkatkan kelangsungan hidup pasien cardiac arrest melalui peningkatan

pengetahuan serta peningkatan kualitas penanganan medis khususnya memahami tentang

Asuhan Keperawatan kegawat daruratan dengan kasus Cardiac Arrest.

2. Tujuan Khusus

vii
a. Untuk mengetahui konsep teori Keperawatan Gawat Darurat dengan kasus Cardiac

Arrest.

b. Mampu melakukan pengkajian Keperawatan kegawat daruratan dengan kasus

Cardiac Arrest

c. Mampu menentukan diagnosa dan intervensi Keperawatan kegawat daruratan

dengan kasus Cardiac Arrest menggunakan SDKI,SLKI dan SIKI

d. Mampu melakukan impelementasi Keperawatan kegawat daruratan dengan kasus

Cardiac Arrest sesuai dengan intervensi pada SIKI

e. Mampu melakukan evaluasi Keperawatan kegawat daruratan dengan kasus Cardiac

Arrest.

D. Manfaat

1. Secara Teoritis

Dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam CPR, meningkatkan

pemahaman Tenaga Medis dan Masyarakat tentang cara memberikan pertolongan

pertama pada cardiac arrest, sehinggga dengan pemahaman yang lebih baik tentang

tanda dan gejala cardiac arrest, masyarakat akan cenderung merespons secara lebih

cepat dan efisien, mengoptimalkan penggunaan sumber daya medis yang terbatas.

2. Secara Praktisi

 Pelatihan CPR dapat menyelamatkan nyawa dalam situasi cardiac arrest yang

mendesak.

 Dengan respons yang lebih cepat dan penanganan yang lebih efektif, tingkat

kesintasan pasien cardiac arrest dapat ditingkatkan secara signifikan.

 Peningkatan kesintasan pasien cardiac arrest akan mengurangi dampak sosial

dan ekonomi yang ditimbulkan oleh kematian mendadak dalam masyarakat.

viii
BAB II
KONSEP ASKEP GADAR PADA KASUS CARDIAC ARREST

A. Konsep Dasar Teori

1. Definisi

ix
Cardiac arrest adalah kondisi medis yang ditandai dengan berhentinya aktivitas

jantung secara tiba-tiba, yang mengakibatkan berhentinya aliran darah ke seluruh tubuh

dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat (Nolan et al., 2021).

Henti jantung adalah kondisi di mana jantung tiba-tiba berhenti berdetak,

menghentikan aliran darah ke seluruh tubuh, yang merupakan keadaan darurat medis

yang memerlukan tindakan resusitasi segera (Soar et al., 2021).

Henti jantung mendadak adalah hilangnya fungsi jantung pada seseorang secara tiba-

tiba yang mungkin atau tidak mungkin telah didiagnosis penyakit jantung. Henti jantung

mendadak terjadi ketika malfungsi sistem listrik jantung dan kematian terjadi ketika

jantung tiba-tiba berhenti bekerja dengan benar (richard oliver ( dalam Zeithml., 2021).

Hanti jantung adalah kondisi dimana listrik jantung tidak dapat mengeluarkan impuls

hal ini dapat terjadi apabila suplai oksigen dan nutrisi ke jantung (otot jantung)

berkurang. Otot jantung membutuhkan oksigen untuk berkontraksi agar darah dapat

dipompa keluar dari jantung ke seluruh tubuh (Santoso, 2019)

Henti jantung seringkali merupakan keadaan akhir dari progresivitas dan

dekompensasi berbagai patofisiologi penyakit. Henti jantung dapat terjadi di luar rumah

sakit (out-hospital cardiac arrest - OHCA) ataupun di dalam rumah sakit (in-hospital

cardiac arrest - IHCA). Resusitasi pasien henti jantung dengan pendekatan bantuan hidup

jantung dasar dan lanjut bertujuan mencapai keadaan kembalinya sirkulasi spontan

(return of spontaneous circulation - ROSC) yang ditandai dengan terabanya nadi dan

terukurnya tekanan darah (Willim et al., 2021)

2. Patofisiologi

Patofisiologi henti jantung melibatkan serangkaian peristiwa kompleks yang terjadi di

dalam tubuh saat jantung tiba-tiba berhenti berdetak. Proses ini memengaruhi berbagai

sistem organ dan berpotensi mengakibatkan kerusakan yang serius jika tidak ditangani

x
dengan cepat. Berikut adalah penjelasan tentang patofisiologi henti jantung (Soar et al.,

2020):

a. Gangguan Listrik Jantung: patofisiologi hentii jantung sering kali dimulai dengan

gangguan pada system listrik, seperti aritmia ventrikel atau asystole. Gangguan ini

dapat disebabkan oleh berbagai factor, termasuk iskemia miokard, kelainan structural

jantung, gangguan elektrolit atau factor lingkungan.

b. Henti Kontraksi Jantung: Gangguan listrik jantung menyebabkan jantung kehilangan

kemampuannya untuk berkontraksi secara efektif. Ketika jantung tidak berkontraksi,

aliran darah ke seluruh tubuh terhenti, mengakibatkan berhentinya suplai oksigen ke

otak dan organ vital lainnya.

c. Iskemia dan Hipoksia: Henti jantung menyebabkan iskemia (kurangnya aliran darah)

dan hipoksia (kurangnya oksigen) pada seluruh tubuh, termasuk otak. Tanpa suplai

oksigen yang cukup, sel-sel otak mengalami kerusakan dalam hitungan menit, yang

dapat mengakibatkan kematian atau kerusakan permanen jika tidak ditangani dengan

cepat.

d. Reaksi sistemik: Henti jantung memicu reaksi sistemik dalam tubuh, termasuk

peningkatan kadar asam laktat dan perubahan pada fungsi organ lain seperti paru-

paru, ginjal, dan hati. Hal ini dapat menyebabkan kondisi seperti asidosis metabolik

dan gagal multiorgan.

Patofisiologi henti jantung tergantung dari etiologi yang mendasarinya, namun,

umumnya mekanisme terjadinya kematian adalah sama yaitu sebagai akibat dari henti

jantung maka peredaran darah akan berhenti. Berhentinya peredaran darah mencegah

aliran oksigen untuk semua organ tubuh. Organ-organ tubuh akan mulai berhenti

berfungsi sebagai akibat tidak adanya suplai oksigen, termasuk otak. Hipoksia cerebral

xi
atau ketiadaan oksigen ke otak, menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan berhenti

bernapas secara normal. Kerusakan otak mungkin terjadi jika henti jantung tidak

ditangani dalam 5 menit dan selanjutnya akan terjadi kematian dalam 10 menit (sudden

cardiac death). Henti jantung terjadi ketika sistem listrik jantung mengalami malfungsi

dan akan menghasilkan kematian jika jantung secara tiba-tiba berhenti bekerja dengan

benar. Hal ini disebabkan oleh ketidaknormalan atau ketidakteraturan irama jantung

yang sering disebut dengan aritmia. Aritmia yang paling umum dalam serangan jantung

adalah ventricular fibrillation (VF) atau ventricular tachycardia (VT) (Berg et al., 2020)

3. Etiologi

Henti jantung disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya (Hardisman, 2014):

a. Penyakit kardiovaskular: penyakit jantung iskemik, infark miokardial akut, embolus

paru, fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre, Sindrom Adams-Strokes, noda

sinus sakit).

b. Kekurangan oksigen akut: henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan jalan

nafas oleh sekresi.

c. Kelebihan dosis obat: digitalis quinidin, antidepresan trisiklik, propoksifen,

adrenalin, isoprenalin.

d. Gangguan Asam-Basa / Elektrolit : kalium serum yang tinggi atau rendah,

magnesium serum rendah, kalsium serum serum tinggi, asidosis.

e. Kecelakaan, tersengat listrik, tengelam.

f. Refleks vagal : peregangan sfingter ani, penekanan / penarikan bola mata.

g. Anestesia dan pembedahan.

h. Terapi dan tindakan diagnostic medis.

xii
i. Syok (hipovolemik, neurologi, toksik, analfilaksis)

Sindrom koroner akut merupakan penyakit yang mendasari mayoritas kasus henti

jantung di luar RS. Penyakit yang mendasari kasus henti jantung di RS bervariasi antara

lain gagal napas, sepsis, syok, gangguan elektrolit, dan keracunan obat (Wardhana,

2022).

Pada saat melakukan resusitasi, penyebab-penyebab yang reversibel harus dicari agar

dapat melakukan perbaikan penyakit yang mendasari. Untuk memudahkan, mnemonik 5

H dan 5 T dapat digunakan

Lima H untuk:

a. Hipovolemia

b. Hipoksia (gagal napas),

c. Hidrogen ion (asidosis),

d. Hipo/Hiperkalemia (dan gangguan elektrolit lainnya seperti hipomagnesemia,

hipermagnesemia)

e. Hipotermia.

Lima T untuk:

a. Tension pneumothoraks

b. Tamponade kordis,

c. Toksin (keracunan obat, sepsis),

d. Trombosis kardiak (sindrom koroner akut),

e. Trombosis pulmo (emboli paru).

4. Klasifikasi

Henti jantung dibedakan berdasarkan aktivitas listrik jantung (elektrokardiogram) dan

berdasarkan shockabledan nonshockable yaitu:

xiii
a. Nonshockable : asistol dan aktifitas elektrik tanpa nadi (pulseless electrical

activity/PEA)

b. Shockable : FIbrilasi ventrikel (VF) dan Takikardi Ventrikel (VT) tanda nadi.

Fibrilasi adalah masalah irama jantung yang terjadi Ketika jantung berdetak cepat

dengan impuls Listrik yang tidak menentu. Pada VF terjadi depolarisasi dan

repolarisasi yang cepat dan tidak teratur Dimana jantung kehilangan fungsi koordinasi

dan tidak dapat memompa darah secara efektif (Hardisman, 2014).

5. Manifestasi Klinis

Henti jantung ditandai dengan trias kondisi tidak sadar, tidak bernapas, dan tanpa nadi.

Perbedaan utama dengan kematian adalah masih adanya fungsi otak atau belum ada

kematian otak ireversibel (Wardhana, 2022).

Tanda-tanda terjadinya Henti Jantung (Cardiac Arrest) Menurut Hardisman, (2014)

yaitu:

a. Ketiadaan respon; pasien tidak berespon terhadap rangsangan suara, tepukan di

pundak ataupun cubitan.

b. Ketiadaan pernafasan normal; tidak terdapat pernafasan normal ketika jalan

pernafasan dibuka. Tidak teraba denyut nadi di arteri besar (karotis, femoralis,

radialis) (Hardisman, 2014).

6. Pemeriksaan Penunjang

a. Elektrokardiogram

Biasanya tes yang diberikan ialah dengan elektrokardiogram (EKG). EKG mengukur

waktu dan durasi dari tiap fase listrik jantung dan dapat menggambarkan gangguan

pada irama jantung. Karena cedera otot jantung tidak melakukan impuls listrik

normal, EKG bisa menunjukkan bahwa serangan jantung telah terjadi. ECG dapat

xiv
mendeteksi pola listrik abnormal, seperti interval QT berkepanjangan, yang

meningkatkan risiko kematian mendadak

b. Tes darah

1) Pemeriksaan enzim jantung

Enzim-enzim jantung tertentu akan masuk ke dalam darah jika jantung terkena

serangan jantung. Karena serangan jantung dapat memicu sudden cardiac arrest.

Pengujian sampel darah untuk mengetahui enzim-enzim inisangat penting apakah

benar-benar terjadi serangan jantung atau tidak.

2) Elektrolit jantung

Melalui sampel darah, kita juga dapat mengetahui elektrolit-elektrolit yangada

pada jantung, di antaranya kalium, kalsium, magnesium. Elektrolit adalah mineral

dalam darah kita dan cairan tubuh yang membantu menghasilkan impuls listrik.

Ketidakseimbangan pada elektrolit dapat memicu terjadinya aritmia dan sudden

cardiac arrest.

3) Tes obat

Pemeriksaan darah untuk bukti obat yang memiliki potensi untuk menginduksi

aritmia, termasuk resep tertentu dan obat-obatan tersebut merupakan obat-obatan

terlarang

4) Test hormone

Pengujian untuk hipertiroidisme dapat menunjukkan kondisi ini sebagai pemicu

cardiac arrest

c. Imaging tes

1) Pemeriksaan foto thorax

Foto thorax menggambarkan bentuk dan ukuran dada serta pembuluh darah. Hal

ini juga dapat menunjukkan apakah seseorang terkena gagal jantung.

xv
2) Ekokardiogram

Tes ini menggunakan gelombang suara untuk menghasilkan gambaran jantung.

Echocardiogram dapat membantu mengidentifikasi apakah daerah jantung telah

rusak oleh cardiac arrest dan tidak memompa secara normal atau pada kapasitas

puncak (fraksi ejeksi), atau apakah ada kelainan katup.

7. Penatalaksanaan

Penanganan pasien henti jantung di rumah sakit sedikit berbeda dengan

penanganan hanti jantung di luar rumah sakit, hal itu terkait dengan ketersediaan alat-alat

emergency dan tenaga medis terlatih (Lavonas et al., 2020)

Gambar 2.1 Rantai Kelangsungan Hidup untuk IHCA dan OHCA (Panchal et al., 2020)

Penatalaksanaan secepatnya pada pasien henti jantung sangat penting dilakukan.

Penatalaksanaan ini mengikuti rekomendasi AHA tentang alur penanganan korban

dengan henti jantung yang disebut dengan “Rantai Kehidupan” (Chain of Survival)

dimana semua bagian saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Rantai kehidupan ini

terdiri dari lima komponenyaitu: pengenalan dini (Early Recognition) henti jantung dan

xvi
Aktivasi pelayanan gawat darurat (EMS Activation), resusitasi jantung paru (CPR) segera

(Early CPR), defibrilasi segera (Rapid Defibrilation), Perawatan Lanjut yang efektif

(Effective Advance Life Support), Perawatan Jantung Lanjutan Terintegrasi (Integrated

Post Cardiac care) sebagai rangkaian independen rantai kehidupan untuk

mengoptimalkan harapan hidup pasien henti jantung di luar rumah sakit. Berikut

algoritma tatalaksana henti jantung :

xvii
Gambar 2.3 Algoritma AHA 2020 Henti Jantung Dewasa (Lavonas et al., 2020)

xviii
Gambar 2.3 Algoritma perawatan pasca-Henti Jantung Dewasa (Lavonas et al., 2020)

xix
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA CARDIAC

ARREST

1. Pengkajian

Proses pengkajian pasien di instalasi gawat darurat terdiri dari primary survey dan secondary

survey. Primary survey terdiri dari ABCDE (airway, breathing, circulation, disability dan

exposure) sedangkan secondary survey terdiri dari pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan

fisik dan hasil pemeriksaan diagnostic (Damayanti et al., 2022).

Untuk mengoptimalkan Tindakan pertolongan, penyedia layanan Kesehatan harus

menggunakan pendekatan yang sistematis untuk menguji dan mengobati pasien Arrest. Pada

pasien yang mengalami henti napas atau henti jantung, performa tim ditujukan untuk memberi

oksigenasi yang efektif, ventilasi, dan sirkulasi dengan kembalinya fungsi neurologi yang

utuh dan bertujuan dasar yang harus segera dicapai adalah RSOC. Tim mengarahkan

Tindakan yang mereka lakuan dengan mengikuti pendekatan sistematis berikut ini (Mubarak

et al., 2022)

 Initial assessment (Visualisasi dan aman Tindakan)

 BLS assessment

 Primary assessment (A,B,C,D dan E)

 Secondary assessment (SAMPLE, H’5 dan T’5)

Sebelum penolong mendekati pasien, maka pastikan terlebih dahulu dengan segera bahwa

Tindakan yang dilakukan aman (tidak ada ancaman atau bahaya bagi penolong). Setelah

penolong memastikan aman untuk melakukan Tindakan, maka gunakanlah pendekatan pada

gambar berikut untuk menentukan Tingkat kesadaran pasien.

xx
 Jika pasien tidak sadar, maka gunakanlah BLS assessment untuk mengevaluasi pasien

tahap awal, dan gunakanlah primary dan secondary assessment untuk evaluasi dan

penatalaksanaan lebih lanjut.

 Jika pasien sadar, maka gunakanlah primary assessment untuk evaluasi pada tahap awal

Tindakan.

Kesan Awal
(penolong memerika secara
visual saat mendekati)

Pasien Terlihat Tidak


Pas Pasien Terlihat Sadar
Sadar

BLS Assesment Primary Assesment

Primary Assesment

Gambar 2.4 Systematic Approach (Pendekatan sistematis) (Mubarak et al., 2022)

 BLS Assesment

Aspek yang ditekankan pada pendekatan ini adalah early CPR dengan basic airway

management dan defibrilasi, taoi tidak sampai advanced airway management dan pemberian

obat-obatan. Melalui pendekatan BLS Assesment, tiap-tiap petugas penyedia layanan

Kesehatan dapat memberikan Tindakan oksigenasi yang efektif, ventilasi dan sirkulasi sampai

pasien kembali RSOC atau sampai tim advanced dating (Mubarak et al., 2022)

xxi
Langkah-langkah dalam melakukan BLS disingkat DRSCAB (Danger, Response,

Circulation, Airway, Breathing)

Gambar 2.5 Langkah-Langkah BHD (Majid et al., 2020)

Konsep Kritis : High-Quality CPR (Mubarak et al., 2022):

 Lakukan kompresi dada dengan kedalaman 5-6 cm dan kecepatan 100-120x/m dengan

siklus 30:2

 Berikan recoil dada yang sempurna pada tiap-tiap kompresi

 Tukar kompresor tiap 2 menit atau lebih awal apabila petugas kelelahan, proses

pertukaran tersebut sebaiknya dilakukan hanya 5 detik.

 Minimalkan interupsi kompresi, maksimal hanya 10 detik.

 Cegah pemberian ventilasi secara berlebihan.

 Primary Assesment

Pada primary assessment, anda akan melanjutkan pengkajian dan melakukan intervensi yang

tepat sampai pasien akan ditransfer ke level perawatan berikutnya (Mubarak et al., 2022).

Airway :

- Periksa kepatensi jalan napas, mengecek indkikasi pemasangan advance airway

- Mengkaji ketepatan pemasangan alat bantu jalan napas

- Periksan kembali keamanan selang tiap transisi atau pergerakan

Breathing :

xxii
- Apakah ventilasi dan oksigenasi adekuat

- Monitor saturasi oksigen

Circulation

- Apakah kompresi dada efektif

- Pasang monitor cek irama jantung, apakah ada indikasi pemberian defibrilasi (Lakukan

Penanganan henti jantung sesuai Algoritma AHA 2020).

- Pasang akses IV/IO jika belum terpasang

- Apakah ada medikasi yang dibutuhkan untuk penanganan irama atau tekanan darah

- Apakah pasien membutuhkan volume (cairan) untuk resusitasi

Disability

- Kaji respon menggunakan derajat AVPU

- Kaji Tingkat kesadaran dan pupil.

Exsposure

- Lepas pakaian untuk diLakukan pemeriksaan fisik

- Kaji adanya jejas, perdarahan, luks bakar, tanda yang tidak biasa.

 Secondary Assesment

Secondary assessment melibatkan diagnosis banding, termasuk focus pada Riwayat

Kesehatan pasien, pencarian dan pengoobatan pada penyebab yang mendasari henti jantung

(H’s dan T’s). kumpulkan data mengenai Riwayat Kesehatan pasien jika memungkinkan

tanyakan secara lebih spesifik pada kondisi pasien (Mubarak et al., 2022).

Gunakan mnemonic SAMPLE untuk memudahkan pengkajian Riwayat Kesehatan pasien:

Sign and Symptoms:

- Kesulitan bernapas, takipneu, takikardi,

- Demam, sakit kepala, nyeri abdomen, nyeri dada

- Perdarahan

xxiii
Alergies

- Obat-obatan, makanan, latex dll

- Reaksi yang ditimbulkan oleh pasien

Medications (termasuk dosis terakhir yang dikonsumsi)

- Obat-obatab pasien termasuk kelebihan dosis, inhaler maupun suplemen herbal

- Dosisi dan waktu pengobstsn terkshir

- Obat-obatan yang tersedia dirumah pasien

Past Medical Hystory (Khususnya yang berhubungan dengan penyait saat ini)

- Riwayat Kesehatan (penyakit sebelumnya, rawat inap)

- Riwayat Kesehatan keluarga (ACS atau STROKE)

- Masalah mendasar yang signifikasn

- Riwayat pembedahan

- Status imunisasi

Last Meal Consumed

- Waktu dan sifat asupan terakhir cairan atau makanan

Events (Kejadian)

- Kejadian yang menyebabkan penyakit atau injury sampai dengan evaluasi terkini

- Esttimasi lama waktu dihitung dari onset kejadian (jika terjadi diluar rumah sakit)

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan diatas dapat membantu anda untuk menegakkan

diagnose suspected atau diagnose differensial pada pasien. Temukan dan obati penyebab

yang melatarbelakangi hal tersebut dengan berfokus pada H’s dan T’s. jadikanlah pendekatan

H’s dan T’s sebagai panduan dalam menegakkan emungkinan diagnose dan intervensi untuk

pasien anda, diantaranya adalah (Mubarak et al., 2022):

 H’s

xxiv
- Hypovolemia

- Hipoksia

- Hydrogen iom (asidosis)

- Hipo/Hyperkalemia

- Hipotermia

 T’s

- Tension Pnemeutoraks

- Tamponade jantung

- Toxin

- Thrombosis pulmoner

- Thrombosis coroner

Berikut penjelasan tatalaksana henti jantung pada dewasa :

a. Mulai lakukan kompresi dada, tekan kuat (minmum 5 cm) dan cepat 100-120/menit

dan biarkan recoil dada selesai. Selama melakukan kompresi minimalisiir interupsi

dang anti komresor tiap 2 menit atau lebih awal jika kelelahan

b. Berikan oksigen. Hindari ventilasi berlebihan, jika ridak ada saluran napas lanjutan,

rasio ko,mpresi-ventilasi 30:2

c. Pasang monitor/defibrillator. Kapnografi gelombang kuantitatif, jika PETCO2 rendah

atau menutun, taksir ulang kualitas RJP

d. Evaluasi apakah ritme dapat diberi syok atau tidak.

 Skenario A, jika Ya ada ritme dengan irama VF/pVT maka :

1) Berikan syok. Energy syok untuk defibrilasi yaitu dengan bifasik maka

rekomendasiprodusen misalnya dosis awal 120-20 J, jika tidak diketahui

gunakan maskimum yang tersedia. Dosis kedua dan seterusnyaa harus setaraa

xxv
dan dosis lebih tinggi boleh dipertimbangkan. Sedangkan pada monofasik

diberikan 360 J.

2) Berikan RJP 2 menit dan pasang akses intrevena lalau evaluasi ada ritme dapat

diberikan syok atau tidak.

3) Jika Ya ada ritme berikan syok (seperti langkah 1) lalu lanjut RJP selama 2

menit dan berikan Epinefrin tiap 3-5 menit dengan dosis IV epeinefrin 1 mg

tiap 3-5 menit.

4) Pertimbangkan saluran napas lanjutan, kapnografi. Setelah saluran napas

lanjutan terpasang, berikan 1 napas tiap 6 detik (10 napas/menit) dengan

komresi dada terus menerus.

5) Evaluasi ritme kembali dapat diberikan syok atau tidak.

6) Jika Ya ada syok maka berikan syok (seperti langkah 1 )

7) lanjut RJP 2 menit dan berikan Amiodarone atau lidocaine. Dosis IV

amiodarone dengan dosis pertama 1-1,5 mg/Kg, dosis kedua 0.5-0.75 mg/kg.

sedangkan jika berikan lidokain maka dosis pertama 1-1.5 mg/kg dan dosis

kedua 0.5-0.75 mg/kg. tangani penyebab yang dapat dipulihka seperti

hipovolemia, hipksa, asidosis, hipo-hiperkalemia, hipotermia, tensi

pneumotoraks, temponade jantung, toksin, thrombosis paru, thrombosis

koroner.

 Skenario B, jika tidak dengan Asistol atau PEA maka :

1) Berikan epinefrin segera.

2) RJP 2 menit. Berikan akses IV dan bebrikan epinefrin tiap 3-5 menit lalu

pertimbangkan saluran napas lanjutan, kapnografi

xxvi
3) Evalausi ada ritme dapat diberi syok atau tidak. Jika Yaada ritme maka

lanjutkan ke scenario A nomor 3 atau nmor 7 diatas. Jika tidak ritme maka

4) RJP 2 menit. Tangani penyebab yang dapat dipulihkan

5) Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi spontan kembali (ROSC) maka lanjutkan

ke nomor 2 atau 4. Jika ROSC lanjutkan ke perawatan pasca Henti jantung.

Pertimbangkan kelayakan resusitasi berkelanjutan.

1. Diagnosa Keperawatan

Diagnosis keperawatan merupakan penilaian klinis terhadap pengalaman atau

respon individu, keluarga, atau komunitas pada masalah kesehatan, pada risiko masalah

kesehatan atau pada proses kehidupan (PPNI, 2017). Pada saat henti jantung diberikan

tindakan resusitasi jantung paru. Diagnose keperawatan dapat ditegakan ketika pasien

telah RSOC (return of spontaneous circulation) dan dilihat dari penyebab henti jantung

tersebut. Diagnonsa yang dapat di tegakan pada pasien henti jantung yaitu :

a. Gangguan sirkulasi spontan berhubungan dengan suplai Oksigen tidak adekuat.

Sedangkan jika pasien sudah RSOC maka dapat menegakan diagnose ;

a. Penurunan curah jantung berhubungan dengan kemampuan pompa jantungmenurun.

b. Gangguan sirkulasi spontan berhubungan dengan suplai Oksigen tidak adekuat.

c. Resiko perfusi serebral tidak efektif berhubungan dengan perubahan preload,

afterload, dan kontraktilitas

2. Intervensi Keperawatan

Intervensi keperawatan adalah segala treatment yang dikerjakan oleh perawat

yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran

(outcome) yang diharapkan (PPNI, 2018). Perencanaan keperawatan merupakan

serangkaian langkah yang bertujuan untuk menyelesaikan masalah/ diagnosis

keperawatan gawat darurat berdasarkan prioritas masalah yang telah ditetapkan baik

xxvii
secara mandiri maupun melibatkan tenaga kesehatan lain untuk mencapai tujuan yang

telah ditetapka, digunakan sebagai pedoman dalam melakukan tindaan keperawatan yang

sistematis dan efektif (Dewi et al., 2021).

Perencanaan asuhan keperawatan gawat darurat berdasakan pengkajian primer

dan berdasarkan diagnosa yang telah ditetapkan dengan luaran keperawatan akan

menjadi acuan bagi perawat dalam menetapkan kondisi atau status kesehatan seoptimal

mungkin yang diharapkan dapat dicapai oleh klien setelah pemberian intervensi

keperawatan.

3. Implementasi Keperawatan

Perawat mengimplementasikan intervensi tindakan keperawatan yang telah

diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan gawat darurat untuk mencapai tujuan

yang telah ditetapkan . Implementasi adalah perawat melakukan tindakan dan kemudian

mendokumentasi tindakan yang telah dilakukan tersebut.

4. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan langkah terakhir dari proses keperawatan untuk mengetahui

sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai. Evaluasi ini dilakukan dengan

cara membandingkan hasil akhir yang teramati dengan tujuan dan kriteria hasil yang

dibuat dalam rencana keperawatan.

Penilaian perkembangan kondisi pasien setelah dilakukan tindakan keperawatan

gawat darurat yang mengacu pada kriteria hasil yang termuat didalam SLKI. Hasil

evalusi ini menggambarkan tingkat keberhasilan tindakan keperawatan gawat darurat

(Dewi et al., 2021). Luaran (outcome) keperawatan merupakan aspek-aspek yang dapat

dioberservasi dan diukur meliputi kondisi, perilaku, atau dari presepsi pasien, keluarga

atau komunitas sebagai respons terhadap intervensi keperawatan. Luaran keperawatan

xxviii
menunjukan status diagnosis keperawatan setelah dilakukan intervensi keperawatan

(PPNI, 2019).

BAB III
APLIKASI PROSES ASKEP GADAR Ny. S DENGAN CARDIAC ARREST

A. PENGKAJIAN

1. Identitas Pasien

Nama : Ny. S
Usia : 65 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kota Semarang
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : Sarjana
Pekerjaan : Pensiunan PNS
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
No. Rekam Medis : 078xxx

xxix
Diagnosa Medis : Cardiac Arrest

2. Identitas Penanggung Jawab

Nama : Tn. F
Umur : 68 tahun
Alamat : Semarang
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : Sarjana
Pekerjaan : Pensiuanan PNS
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Hubungan Dg Klien : Suami

3. Keluhan utama : Ny S tiba di IGD dalam keadaan tidak responsive dan tidak bernafas.

4. Alasan masuk rumah sakit : saksi menyatakan Ny. S tiba-tiba pingsan saat sedang

duduk di ruang tamu rumahnya.

5. BLS Assesment

a. Danger/Besafe

Memakai alat pelindung diri, posisikan pasien

b. Respon

Cek respon menggunakan AVPU, pasien tidak berespon.

c. Shout

Lakukan panggilan pertolongan kepada teman jaga untuk mendapatkan bantuan dari

tim tim code blue lainnya.

d. Circulation

xxx
Memeriksa nadi karotis Bersama-sama dengan cek pernapsan dilakukan kurang dari

10 detik. hasil pemeriksaan tidak ada nadi tidak ada napas. Berikan Cardio

Pulmonary Recucitation (CPR) berkualitas tinggi dengan siklus 30:2.

e. Airway

Penolong ke 2 melakukan pemeriksaan jalan napas pasien dan membuka jalan napas

dengan tekhnik Head Tilt dan Chin Lift kemudian cek adanya sumbatan dengan

tekhnik cross finger dan sweep kemudian pasang oropharyngeal airway (OPA).

f. Breathing

Penolong memasang Bage-Mask Ventilation (BVM) sesuai tekhnik dan pompa BVM

2 kali dengan jeda maksimal 2 detik saat 30 kompresi sudah dilakukan sambil

memperhatikan ekspansi dada, pastikan tidak ada kebocoran pada masker.

Tim lainnya datang, Leader mengambil alih melanjutkan tahapan BLS.

6. Primary Assesment:

Lanjutkan pengkajian dan melaukukan intervensi yang tepat sampai pasien akan

ditransfer ke level perawatan selanjutnya.

a. Airway:

 Pertahankan patensi jalan napas (airway) dengan tekhnik headtil-chinlift

 Pemasangan endotracheal tube (ETT)

b. Breathing

 Ekspansi dada normal

 Saturasi oksigen tidak terdeteksi

 Pemberian ventilasi setiap 6 detik (setelah ETT Terpasang)

c. Circulation

 Pasang alat monitor / drfibrilator dan akses IV

xxxi
 Irama di monitor terbaca Asistole

 Lanjutkan RJP 2 menit, pemberian epinefrin 1 mg / IV setiap 3-5 menit.

 Lakukan cek gula darah

 Stop RJP Evaluasi 2 menit, irama Fibrilasi ventirkel (VF), berikan defib 200

joule (bifasik) dan lanjutkan RJP.

 Evaluasi 2 menit, irama asistol. Lanjutkan RJP dan pemberian epinefrin 1 mg/IV

 Evaluasi 2 menit, nadi teraba, napas spontan. Posisikan pasien miring mantap.

d. Disability

 GCS 3

 Pupil dilatasi

 Pasien unrespon

 Pasang kateter

e. Exsposure

 Tidak adanya jejas, perdarahan maupun masalah lainnya.

7. Secondary Assesment

Pengkajian Riwayat Kesehatan pasien menggunakan mnemonic SAMPLE :

 S (Sign and Symptom): Takipneu (RR: 30x/m), Takikardi (HR: 150x/m), TD: 90/70

mmhg

 A (Alergi) : Keluarga mengatakan tidak memiliki alergi obat ataupun makanan.

 M (medications) : keluarga mengatakan biasa mengkonsumsi obat antihipertensi dan

obat DM namun tidak terkontrol, konsumsi terakhir dua hari sebelumnya.

 P (Pertinent medical history) : keluarga mengatakan memiliki riwayat hipertensi dan

diabetes melitus dan pernah dirawat di RS karena penyakit tersebut. Didalam keluarga

tidak ada yang menderita sakit jantung.

xxxii
 L (Last meal consumed): keluarga mengatakan sebelumnya pasien makan makanan

seperti biasa, nasi lauk dan sayur.

 E (Events): kejadian jatuh pingan dan tidak sadrakan diri terjadi secara tiba-tiba di

rumah, kemudian keluarga lamgsung memawa pasien ke RS, estimasi lama waktu dari

kejadian pingsan dirumah kurang lebih 20 menit hingga pasien sadarkan diri.

8. Pemeriksaan Penunjang

a. Elektrokardiografi (EKG): Tampak gambaran gelombang ventrikel tak terorganisir

(ventricular fibrillation) dan tidak ada aktivitas listrik jantung (asistoli) saat cardiac

arrest berlangsung. Irama EKG saat pasien ROSC adalah Sinus Bradikardi.

b. Tes Enzim Jantung : Troponin positif, menunjukkan adanya kerusakan miokard yang

mendukung diagnosis infark miokard akut (AMI).

c. Gas Darah Arteri: peningkatan tekanan parsial karbon dioksida (pCO2)

mengakibatkan terjadinya penurunan PH Darah, hasil didapatkan Hipoksemia dan

asidosis respiratorik sekunder akibat henti napas.

d. Gula darah sewaktu 250 mg/dl.

Dari data yang didapatkan pada secondary assessment dan hasil tes diagnostic, dapat

disimpulkan penyebab yang melatarbelakangi henti jantung dengan berfokus pada H’s

T’s sebagai panduan dalam menegakkan kemungkinan diagnose dan intervensi untuk

pasien yaitu karena hipoksia yang diakibatkan adanya infark miokard yang ditandai

dengan tes enzin troponin positif dan hasil GDA Hipoksemia dan asidosis sekunder.

B. Diagnosa Keperawatan

Diagnose keperawatan dapat ditegakan ketika pasien henti jantung dan pasca henti jantung

yaitu:

xxxiii
1. Gangguan sirkulasi spontan berhubungan dengan abnormalitas kelistrikan jantung d.d

gejala dan tanda :

 Tidak sadar

 Gambran ekg ventrikuler fibrilasi.

2. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan irama jantung, kontraktilitas,

perubahan afterload d.d gejala dan tanda

 Gangguan konduksi

 Nadi lemah

 PVR menuruun

3. Resiko perfusi serebral tidak efektif dengan factor risiko infark miokard akut.

xxxiv
C. INTERVENSI KEPERAWATAN

N MASLAH
LUARAN KEPERAWATAN INTERVENSI KEPERAWATAN
O KEPERAWATAN

1 Gangguan sirkulasi Setelah dilakukan tindakan 1. Manajemen defibrilasi (I.02038)


keperawatan selama 5 jam, Tindakan
spontan berhubungan diharapkan Sirkulasi Spontan a. Periksa Irma pada monitor setelah RJP 2 menit
meningkat (L.01005) dengan b. (360 joule untuk onoofasik & 120-200 joule untuk
dengan abnormalitas
kriteria hasil : bifasik)
c. Angkat Lakukan RJP hingga mesin difibrilator siap
kelistrikan jantung d.d
 Tingkat kesadaran d. Siapkan dan hidupkan mesin difibrilator
menignkat e. Pasang monitor EKG
gejala dan tanda :
 Kesulitan bernapas f. Pastikan irama EKG henti jantung (VF atau VT
dengn ventilator tanpa nadi)
 Tidak sadar
menurun g. Atur jumlah energy dengan mode asynchronized
paddle dari mesin dan oleskan jeli pada paddle
 Gambran ekg
h. Tempelkan paddle sternum (kanan) pada sisi kanan
sternum dibawah klavikula dan paddle apeks (kiri)
ventrikuler
pada garis midaksilaris setinggi elektroda V6
i. Isi energy dengan menekan tombol charge yang
fibrilasi
diinginkan tercapai
j. Hentikan RJP saat defibrillator siap
k. Teriak bahwa defibrillator siap (mis. Im clear,
yoaure clear, everbadi clear)
l. Berikan syok dengan menekan tombol pada kedua
paddle bersamaan
m. Angkat paddle dan langsung lanjutkan RJP tanpa
menungu hasil irama yang muncul pada monitor
setelah pemberian defibrilasi
n. Lanjutkan RJP sampai 2 menit

35
2. Resusitasi Cairan (L.03139)
Tindakan
a. Monitor status hemodinamik
b. Monitor status oksigen
c. Monitor kelebihan cairan
d. Monitor output cairan tbuh (mis. Urin. Cairan
nasogastrik, cairan selang dada)
e. Monitor nilau BUN, jkreatinin, protein total, dan
albumin, jika perlu
f. Pasang jalur IV berukuran besar
g. Berikan infuse cairan kristaloid 1-2 L pada dewasa
h. Berikan cairan infuse cairan kristaloid 20 mL/Kg/BB
pada anak
i. Lakukan cross matching produk darah

3. Resusitasi Jantung Paru


Tindakan
a. Identifikasi keamanan penolong, pasien dan
lingkungan
b. dentifikasi respons pasien (mis. Memanggil pasien,
menepuk bahu pasien)
c. Monitor nadi karotis dan napas setiap 2 menit atau 5
siklus RJP
d. Pakai alat pelindung diri
e. Aktifkan emergency medical system atau berteriak
minta tolong
f. Posisikan pasien telentang ditempat datar dan keras
g. Atur posisi peno;ong berlutut disamping korban
h. Raba nadi karotis dalam waktu <10 detik
i. Berikan rescue breating jika ditemukan ada nadi
tetapi tidak ada napas
j. Kompresi dada 30 kali dikombinasi dengan bantuan
napas (ventilasi) 2 kali jika ditemukan tidak ada nadi

36
dan tidak ada napas
k. Kompresi dengan tumit telapak tangan menumpuk
diatas telapak tangan yang lain tegak lurus pada
pertengahan dada
l. Kompresi dengan kedalaman kompresi 5-6 cm
dengan kecepatan 100-120x/m bersihakan dan buka
jalan napas
m. Berikan bantuan napas dengan menggunakan bag
valve mask (BGM) dengan teknik EC-clamp
n. Kombinasikan kompresi dan ventilasi selama 2
menit atau sebanyak 5 siklus
o. Hentikan RJP jika ditemukan adanya tanda-tanda
kehidupan, penolong yang lebih mahir datang,
ditemukan adanya tanda-tanda kematian biologis,
DNR
p. Kombinasikan kompresi dan ventilasi selama 2
menit atau sebanyak 5 siklus
q. Hentikan RJP jika ditemukan adanya tanda-tanda
kehidupan, penolong yang lebih mahir datang,
ditemukan adanya tanda-tanda kematian biologis,
DNR
2 Penurunan curah Setelah dilakukan tindakan 1. Perawatan jantung (I.02075)
jantung berhubungan keperawatan selama 5 Jam, Tindakan :
dengan perubahan diharapkan Curah jantung a. meliputi dispnea, kelelahan, edema, ortopnea,
paroxysmal noctumal dyspnea, peningkatan CVP)
irama jantung, (L.02008) Meningkat dengan
b. Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan jantung
kontraktilitas, kriteria hasil (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali,
perubahan afterload distensi vena jugularis, pallpitasi, ronkhi basah,
d.d gejala dan tanda  Kekuatan nadi perifer
oliguria, batuk, kulit pucat)
meningkat
c. Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah
 Gangguan  Gangguan konduksi ortostatik, jika perlu)
konduksi menurun d. Monitor intake dan output cairan
 e. Monitor EKG 12 sadapan

37
 Nadi lemah f. Monitor aritmia
g. Monitor nilai laboratorium jantung (mis. Elektrolit,
PVR menuruun enzim jantung,BNP, NT pro-BNP
h. Monitor fungsi alat pacu jantung
i. Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum dan
sesudah aktivitas
j. Periksa tekanan darah

38
D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

No Diagnosa Implementasi Evaluasi


Gangguan pertukaran gas 1. Memberikan O2 sesuai indikasi S:
1 H: Terpasang ETT, Oksigenasi 96%  Pasien masih belum sadarkan
b/d suplai O2 tidak
2. Melakukan pemantauan GDA pasien diri
adekuat
H: PCO2 menurun O:
3. Memantau pernapsan pasien  Hasil GDA belum normal
H: RR: 30x/m  RR: 30x/m
A : Masalah belum teratasi
P : Pindahkan pasien ke Ruang
Intensif.

Penurunan curah jantung 1. Mengidentifikasi tanda/gejala sekunder penurunan S:


2 berhubungan dengan jantung  Pasien masih belum sadarkan
perubahan irama jantung,
H: HR: 50x/m, tamapak pucat, bibir masih terlihat diri
kontraktilitas, perubahan
afterload d.d gejala dan sianosis O:
tanda 2. melakukan Monitor tekanan darah  TD 100/80 mmHg
H : TD: 90/70 mmhg  HR 150 x / m
3. Melakukan monitor EKG 12 sedapan A : Masalah belum teratasi
H: irama jantung menunjukkan Sinus Bradikardi
4. Melakukan monitor enzim jantung (mis. CK. CK-MB, P : Pindahkan pasien ke Ruang
troponin T, Troponin I)

39
H: Troponin posiitif Intensif.
5. Melakukan kolaborasi pemberian thrombus dengan
antikoagulan, jika perlu

40
BAB IV
PEMBAHASAN

Dalam kasus Ibu Susi yang mengalami cardiac arrest, penting untuk melakukan

pembahasan yang sistematis dan didukung oleh argumen yang kuat serta bukti-bukti yang

relevan. Berikut adalah pembahasan mengenai faktor-faktor kunci yang terkait dengan kondisi

Ibu Susi:

1. Penyebab Cardiac Arrest: Cardiac arrest dapat disebabkan oleh beberapa kondisi,

termasuk serangan jantung (infark miokard), aritmia fatal, atau faktor lain yang

mempengaruhi fungsi jantung. Dalam kasus Ibu Susi, kemungkinan penyebab utama

adalah infark miokard akut (AMI), yang didukung oleh hasil tes enzim jantung yang

menunjukkan troponin positif.

2. Faktor Risiko :Riwayat medis Ibu Susi mencakup hipertensi dan diabetes melitus tipe 2,

yang merupakan faktor risiko yang signifikan untuk penyakit kardiovaskular. Hipertensi

dan diabetes melitus dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan miokard,

meningkatkan risiko terjadinya AMI dan cardiac arrest.

3. Pemeriksaan Diagnostik : Hasil pemeriksaan diagnostik, seperti elektrokardiografi

(EKG) yang menunjukkan gelombang ventrikel tak terorganisir dan troponin positif,

mendukung diagnosis AMI sebagai penyebab cardiac arrest pada Ibu Susi. Selain itu,

adanya hipoksemia dan asidosis respiratorik sekunder dari hasil gas darah arteri

mengindikasikan gangguan fungsi pernapasan akibat henti napas yang dapat terjadi

selama cardiac arrest.

41
4. Tindakan Darurat : Dalam penanganan cardiac arrest, tindakan darurat yang cepat dan

tepat sangat penting. Defibrilasi segera untuk mengembalikan ritme jantung yang normal

dan terapi reperfusi untuk memulihkan aliran darah ke jantung merupakan langkah-

langkah penting yang dapat menyelamatkan nyawa pasien.

5. Manajemen Jangka Panjang : Setelah stabilisasi pasien, manajemen jangka panjang

harus difokuskan pada pengendalian faktor risiko kardiovaskular, seperti pengaturan

tekanan darah dan gula darah, serta modifikasi gaya hidup yang sehat. Edukasi pasien

dan keluarga tentang pentingnya pengelolaan penyakit kronis dan pencegahan kejadian

kembali cardiac arrest juga merupakan bagian penting dari perawatan jangka Panjang.

42
BAB V
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dari analisis kasus Ibu Susi yang mengalami cardiac arrest, beberapa kesimpulan dapat

ditarik. Cardiac arrest adalah kondisi darurat medis yang mengancam nyawa, sering kali

terkait dengan faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.

Deteksi dini, penanganan cepat, dan manajemen faktor risiko menjadi kunci dalam

meningkatkan prognosis pasien.

Pentingnya edukasi pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit kardiovaskular,

serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil, tidak bisa diabaikan. Upaya

pencegahan termasuk pengelolaan faktor risiko, seperti mengendalikan tekanan darah dan

gula darah, serta mengadopsi gaya hidup sehat, dapat membantu mencegah kejadian kembali

dan memperbaiki kualitas hidup pasien.

Selain itu, penelitian lanjutan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang penyakit

kardiovaskular perlu diprioritaskan. Ini akan membantu dalam mengurangi angka kejadian

cardiac arrest dan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya deteksi dini dan intervensi

yang tepat.

B. SARAN

1. Bagi pemerintah agar dapat meningkatkan program pencegahan yang lebih massif dan

terfokus kerena prevelanse dari penyakit jantung msih sangat tinggi di Indonesia dan

menjadi penyakit mematikan

43
2. Penyuluhan Kesehatan: Mengadakan program penyuluhan kesehatan yang terfokus pada

penyakit kardiovaskular di komunitas. Ini bisa meliputi sosialisasi tentang pentingnya

pola makan sehat, aktivitas fisik teratur, dan pengelolaan stres.

3. Pemeriksaan Rutin: Mendorong pasien dengan faktor risiko kardiovaskular, seperti

hipertensi dan diabetes, untuk menjalani pemeriksaan rutin dan mengontrol kondisi

mereka secara teratur.

4. Pelatihan Darurat: Memberikan pelatihan darurat kepada petugas kesehatan dan

masyarakat umum tentang tindakan pertolongan pertama dalam penanganan cardiac

arrest, termasuk penggunaan defibrilator dan CPR.

5. Penelitian Lanjutan: Mendukung penelitian yang bertujuan untuk memahami lebih

lanjut tentang penyebab, faktor risiko, dan strategi pengelolaan penyakit kardiovaskular,

serta untuk mengidentifikasi inovasi baru dalam penanganan cardiac arrest.

44
DAFTAR PUSTAKA

Andersen, L. W., Holmberg, M. J., Berg, K. M., Donnino, M. W., & Granfeldt, A. (2019). In-
Hospital Cardiac Arrest: A Review. JAMA - Journal of the American Medical Association,
321(12), 1200–1210. [Link]
Berg, K. M., Soar, J., Andersen, L. W., Bottiger, B. W., Cacciola, S., Callaway, C. W., Couper,
K., Cronberg, T., D’Arrigo, S., Deakin, C. D., Donnino, M. W., Drennan, I. R., Granfeldt,
A., Hoedemaekers, C. W. E., Holmberg, M. J., Hsu, C. H., Kamps, M., Musiol, S., Nation,
K. J., … Nolan, J. P. (2020). Adult advanced life support: 2020 international consensus on
cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care science with treatment
recommendations. In Circulation (Vol. 142, Issue suppl 1).
[Link]
Damayanti, D., Rantung, G., Manurung, T., Mahendra, D., Surani, V., Latipah, S., Juliani, E.,
Ma’ruf, H., Dewi, S. U., Siagian, E., Suwarto, T., Rahmasari, R., & Yari, Y. (2022). Asuhan
Keperawatan Kritis. In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. (Vol. 2).
[Link] Asuhan Keperawatan Kritis
%284%[Link]
Dewi, N. H., Suryati, E., Mulyanasari, F., & Yupartini, L. (2021). Pengembangan Format
Dokumentasi Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Berbasis SDKI, SLKI, dan SIKI. Jurnal
Keperawatan Silampari, 4(2), 554–565. [Link]
Hardisman. (2014). Gawat Darurat Medis Praktis. In Gosyen Publishing. Gosyen Publishing.
Holmberg, M. J., Ross, C., Chan, P. S., Duval-Arnould, J., Grossestreuer, A. V, Yankama, T.,
Donnino, M. W., & Andersen, L. W. (2018). Incidence of Adult In-Hospital Cardiac Arrest
in the United States. Circulation, 138(Suppl_2). [Link]
Jerkeman, M., Sultanian, P., Lundgren, P., Nielsen, N., Helleryd, E., Dworeck, C., Omerovic, E.,
Nordberg, P., Rosengren, A., Hollenberg, J., Claesson, A., Aune, S., Strömsöe, A., Ravn-
Fischer, A., Friberg, H., Herlitz, J., & Rawshani, A. (2022). Trends in survival after cardiac
arrest: a Swedish nationwide study over 30 years. European Heart Journal, 43(46), 4817–
4829. [Link]
Lavonas, Magid, D. ., Aziz, K., Berg, K. ., Adam, C., Hoover, A. V, Mahgoub, M., Panchal, A.
R., J, R. Am., Topijan, A. A., & Sasson, C. (2020). American Heart Association Tahun
2020 PEDOMAN CPR DAN ECC. In Hospital management (Vol. 86, Issue 2).
Lott, C., Truhlář, A., Alfonzo, A., Barelli, A., González-Salvado, V., Hinkelbein, J., Nolan, J. P.,
Paal, P., Perkins, G. D., Thies, K. C., Yeung, J., Zideman, D. A., Soar, J., Khalifa, G. E. A.,
Álvarez, E., Barelli, R., Bierens, J. J. L. M., Boettiger, B., Brattebø, G., … Schmitz, J.
(2021). European Resuscitation Council Guidelines 2021: Cardiac arrest in special
circumstances. Resuscitation, 161, 152–219.
[Link]
Majid, A., Jalaludin, A., Defitra, Fauzi, E., Ikom, Irnizarifka, Jati, M. B. R., Friadi, M., Rasmin,
R., Fadilah, S., Yudi, I., & Dwiyanto, Y. (2020). BASIC TRAUMA CARDIAC LIFE

45
SUPORT. In 119 Medical Service Training.
Mubarak, F., Handayani, T., Samsu, Prasetio, H., & Fithrah, B. A. (2022). ADVANCE
CARDIOVASCULAR LIFE SUPPORT For Nurse. In Pro Emergency. Pro Emergency.
Muthmainnah. (2019). Hubungan tingkat pengetahuan awam khusus tentang bantuan hidup dasar
berdasarkan karakteristik usia di RSUD X Hulu Sungai Selatan. Healthy-Mu Journal, 2(2),
31.
Nolan, J. . (2022). Cardiac arrest outcomes in the United Kingdom [University of Warwick].
[Link]
Nolan, J. P., Sandroni, C., Böttiger, B. W., Cariou, A., Cronberg, T., Friberg, H., Genbrugge, C.,
Haywood, K., Lilja, G., Moulaert, V. R. M., Nikolaou, N., Mariero Olasveengen, T.,
Skrifvars, M. B., Taccone, F., & Soar, J. (2021). European Resuscitation Council and
European Society of Intensive Care Medicine Guidelines 2021: Post-resuscitation care.
Resuscitation, 161, 220–269. [Link]
Panchal, A. R., Bartos, J. A., Cabañas, J. G., Donnino, M. W., Drennan, I. R., Hirsch, K. G.,
Kudenchuk, P. J., Kurz, M. C., Lavonas, E. J., Morley, P. T., O’Neil, B. J., Peberdy, M. A.,
Rittenberger, J. C., Rodriguez, A. J., Sawyer, K. N., & Berg, K. M. (2020). Part 3: Adult
Basic and Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. In Circulation (Vol.
142, Issue 16 2). [Link]
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. In DPP PPNI. DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. In DPP PPNI. DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. In DPP PPNI. DPP PPNI.
Purwacaraka, M., Ady Erwansyah, R., & Arief Hidayat, S. (2023). Pelatihan Resusitasi Jantung
Paru sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Motivasi Mahasiswa sebagai Bystander
di Masyarakat. Jurnal Abdimas (Journal of Community Service, 5(1), 142–151.
richard oliver ( dalam Zeithml., dkk 2018 ). (2021). Pengantar Keperawatan Kritis. In
Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952.
Santoso, T. (2019). Modul Praktikum Keperawatan Gawat Darurat. In Chakra Brahmanda
Lentera (pp. 1–66). Chakra Brahmanda Lentera.
Soar, J., Berg, K. M., Andersen, L. W., Böttiger, B. W., Cacciola, S., Callaway, C. W., Couper,
K., Cronberg, T., D’Arrigo, S., Deakin, C. D., Donnino, M. W., Drennan, I. R., Granfeldt,
A., Hoedemaekers, C. W. E., Holmberg, M. J., Hsu, C. H., Kamps, M., Musiol, S., Nation,
K. J., … Zelop, C. M. (2020). Adult Advanced Life Support: 2020 International Consensus
on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science with
Treatment Recommendations. Resuscitation, 156, A80–A119.
[Link]
Soar, J., Böttiger, B. W., Carli, P., Couper, K., Deakin, C. D., Djärv, T., Lott, C., Olasveengen,

46
T., Paal, P., Pellis, T., Perkins, G. D., Sandroni, C., & Nolan, J. P. (2021). European
Resuscitation Council Guidelines 2021: Adult advanced life support. Resuscitation, 161,
115–151. [Link]
Villalobos, F., Del Pozo, A., Rey-Reñones, C., Granado-Font, E., Sabaté-Lissner, D., Poblet-
Calaf, C., Basora, J., Castro, A., & Flores-Mateo, G. (2019). Lay people training in CPR
and in the use of an automated external defibrillator, and its social impact: A community
health study. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(16),
1–11. [Link]
Wardhana, A. (2022). Buku Ajar Kegawatdaruratan: Sebuah Pendekatan Untuk Memecahkan
Kasus. In Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (Vol. 1).
Willim, H. A., Ketaren, I., & Supit, A. I. (2021). Tatalaksana Pasca-Henti Jantung. Cermin
Dunia Kedokteran, 48(7), 375–379. [Link]

47

Anda mungkin juga menyukai