Asuhan Keperawatan Cardiac Arrest
Asuhan Keperawatan Cardiac Arrest
Cardiac Arrest
Tim Penyusun :
Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan rahmat-
Nya, kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “Asuhan Keperawatan Gawat
Darurat Pada Kasus Cardiac Arrest”. Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi penugasan dari
mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat. Kami menyadari bahwa tugas makalah ini belum
sempurna masih terdapat kekurangan, untuk itu kami mengharapkan kritikan dan saran yang
Kami menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, sangat sulit
bagi Kami untuk menyelesaikan makalah ini. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada para
yang telah memberikan bimbingan, dan mengarahkan dalam pembuatan tugas serta memberikan
pengetahuan dan informasi kepada kami hingga kami. Akhir kata, kami berhadarap Tuhan Yang
Maha Esa berkenan membalas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu.
Kelompok 4
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................ii
DAFTAR ISI..................................................................................................................................................iii
BAB I PENDAHULUAN.................................................................................................................................1
A. Latar Belakang.................................................................................................................................1
B. Rumusan Masalah...........................................................................................................................3
C. Tujuan.............................................................................................................................................3
D. Manfaat...........................................................................................................................................4
BAB II KONSEP ASKEP GADAR PADA KASUS CARDIAC ARREST....................................................................6
A. Konsep Dasar Teori.........................................................................................................................6
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA CARDIAC ARREST..........................16
BAB III APLIKASI PROSES ASKEP GADAR Ny. S DENGAN CARDIAC ARREST................................................26
A. PENGKAJIAN..................................................................................................................................26
B. Diagnosa Keperawatan.................................................................................................................30
C. INTERVENSI KEPERAWATAN..........................................................................................................32
D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN............................................................................36
BAB IV PEMBAHASAN................................................................................................................................38
BAB V PENUTUP........................................................................................................................................40
A. KESIMPULAN.................................................................................................................................40
B. SARAN...........................................................................................................................................40
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................................42
iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu kondisi kegawatdaruratan yang dapat mengancam jiwa dan membutuhkan
penanganan segera adalah cardiac arrest atau henti jantung. Cardiac arrest adalah kondisi
medis yang mengancam jiwa di mana detak jantung tiba-tiba berhenti, menghentikan aliran
darah, dan berpotensi menyebabkan kematian dalam hitungan menit jika tidak ditangani
dengan cepat. Data yang dikumpulkan oleh American Heart Association menunjukkan
bahwa infark miokard adalah penyebab utama kematian mendadak di seluruh dunia (Nolan
et al., 2021).
Cardiac arrest merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius dengan implikasi
yang signifikan terhadap tingkat kematian di seluruh dunia. Sebuah studi terbaru yang
dilakukan di Swedia selama 30 tahun menunjukkan adanya tren dalam tingkat kesintasan
setelah cardiac arrest. Meskipun terdapat kemajuan dalam penanganan cardiac arrest, masih
terdapat tantangan dalam meningkatkan tingkat kesintasan pasien secara keseluruhan. Studi
untuk mengurangi besaran masalah dan meningkatkan hasil pasien (Jerkeman et al., 2022).
Terdapat sekitar 280.000 pasien dewasa yang mengalami serangan jantung di rumah sakit
Di Indonesia, angka kejadian henti jantung di luar rumah sakit belum ditemukan secara
pasti, akan tetapi banyak laporan kejadian henti jantung yang berujung kematian mendadak
yang terjadi di rumah atau di ruang publik (Muthmainnah, 2019). Menurut Badan Penelitian
penyakit jantung di Indonesia saat ini masih tergolong tinggi, terutama pada tahun 2018
v
yang mencapai 1 juta orang dan memiliki nilai confidence interval 1,4-1,5%. Semua jenis
penyakit jantung termasuk penyakit jantung bawaan yang telah terdiagnosis oleh dokter juga
memiliki potensi terjadinya henti jantung (Purwacaraka et al., 2023). Berdasarkan data
Riskesdas (2018), prevalensi penyakit jantung (diagnosis dokter) pada penduduk semua
Secara umum, penyebab serangan jantung, seperti infark miokard, aritmia, atau jantung
kegagalan, adalah yang paling sering terjadi, dengan prevalensi sekitar 50% hingga 60%.
Insufisiensi pernapasan adalah penyebab paling umum kedua (15%-40%) (Andersen et al.,
yang adekuat dan waktu yang terlalu lama untuk sampai di rumah sakit (Villalobos et al.,
2019).
di sekolah atau memasang AED di tempat-tempat umum sebagai upaya untuk meningkatkan
kesadaran dan respons terhadap cardiac arrest. Namun, masih ada tantangan terkait
peningkatan akses terhadap pelatihan dan peralatan penunjang di komunitas yang rentan
(Nolan et al., 2021). Pelatihan CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) dan penempatan AED
Penanganan cardiac arrest memerlukan respons yang cepat dan terkoordinasi dari tim
medis dan masyarakat umum. Protokol CPR (Cardiopulmonary Resuscitation) yang tepat,
lanjutan seperti terapi dengan defibrilator dan intervensi koroner yang segera dapat
vi
Penanganan pasien cardiac arrest di rumah sakit melibatkan respon yang cepat dan
terkoordinasi dari tim medis. Langkah-langkah awal termasuk evaluasi cepat untuk
menentukan kondisi jantung pasien, penempatan saluran udara yang terbuka, dan
pemantauan ritme jantung yang kontinu. Tindakan resusitasi yang dilakukan di rumah sakit
jantung yang normal, pemberian obat-obatan seperti epinefrin untuk meningkatkan kontraksi
jantung, serta penanganan penyebab yang mendasari seperti iskemia miokard atau aritmia.
10 dari 11 layanan ambulans di Inggris mengirimkan data yang berkaitan dengan OHCA ke
registry, hasil henti jantung di luar rumah sakit (OHCA) di University of Warwick. Dalam
laporan terbaru tahun 2020, dari 31.698 pasien henti jantung yang ditangani oleh EMS
(mewakili 53,4 per 100.000 populasi), 23% di antaranya berada dalam ritme awal yang
dapat diberi kejut (fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel (VF / VT)), 25,9% dari total
dirawat di rumah sakit dengan kembalinya sirkulasi spontan (ROSC) dan 8,3% dari total
B. Rumusan Masalah
Bagaimana meningkatkan penanganan pasien cardiac arrest secara efektif serta Bagaimana
C. Tujuan
1. Tujuan Umum
2. Tujuan Khusus
vii
a. Untuk mengetahui konsep teori Keperawatan Gawat Darurat dengan kasus Cardiac
Arrest.
Cardiac Arrest
Arrest.
D. Manfaat
1. Secara Teoritis
pertama pada cardiac arrest, sehinggga dengan pemahaman yang lebih baik tentang
tanda dan gejala cardiac arrest, masyarakat akan cenderung merespons secara lebih
cepat dan efisien, mengoptimalkan penggunaan sumber daya medis yang terbatas.
2. Secara Praktisi
Pelatihan CPR dapat menyelamatkan nyawa dalam situasi cardiac arrest yang
mendesak.
Dengan respons yang lebih cepat dan penanganan yang lebih efektif, tingkat
viii
BAB II
KONSEP ASKEP GADAR PADA KASUS CARDIAC ARREST
1. Definisi
ix
Cardiac arrest adalah kondisi medis yang ditandai dengan berhentinya aktivitas
jantung secara tiba-tiba, yang mengakibatkan berhentinya aliran darah ke seluruh tubuh
dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat (Nolan et al., 2021).
menghentikan aliran darah ke seluruh tubuh, yang merupakan keadaan darurat medis
Henti jantung mendadak adalah hilangnya fungsi jantung pada seseorang secara tiba-
tiba yang mungkin atau tidak mungkin telah didiagnosis penyakit jantung. Henti jantung
mendadak terjadi ketika malfungsi sistem listrik jantung dan kematian terjadi ketika
jantung tiba-tiba berhenti bekerja dengan benar (richard oliver ( dalam Zeithml., 2021).
Hanti jantung adalah kondisi dimana listrik jantung tidak dapat mengeluarkan impuls
hal ini dapat terjadi apabila suplai oksigen dan nutrisi ke jantung (otot jantung)
berkurang. Otot jantung membutuhkan oksigen untuk berkontraksi agar darah dapat
dekompensasi berbagai patofisiologi penyakit. Henti jantung dapat terjadi di luar rumah
sakit (out-hospital cardiac arrest - OHCA) ataupun di dalam rumah sakit (in-hospital
cardiac arrest - IHCA). Resusitasi pasien henti jantung dengan pendekatan bantuan hidup
jantung dasar dan lanjut bertujuan mencapai keadaan kembalinya sirkulasi spontan
(return of spontaneous circulation - ROSC) yang ditandai dengan terabanya nadi dan
2. Patofisiologi
dalam tubuh saat jantung tiba-tiba berhenti berdetak. Proses ini memengaruhi berbagai
sistem organ dan berpotensi mengakibatkan kerusakan yang serius jika tidak ditangani
x
dengan cepat. Berikut adalah penjelasan tentang patofisiologi henti jantung (Soar et al.,
2020):
a. Gangguan Listrik Jantung: patofisiologi hentii jantung sering kali dimulai dengan
gangguan pada system listrik, seperti aritmia ventrikel atau asystole. Gangguan ini
dapat disebabkan oleh berbagai factor, termasuk iskemia miokard, kelainan structural
c. Iskemia dan Hipoksia: Henti jantung menyebabkan iskemia (kurangnya aliran darah)
dan hipoksia (kurangnya oksigen) pada seluruh tubuh, termasuk otak. Tanpa suplai
oksigen yang cukup, sel-sel otak mengalami kerusakan dalam hitungan menit, yang
dapat mengakibatkan kematian atau kerusakan permanen jika tidak ditangani dengan
cepat.
d. Reaksi sistemik: Henti jantung memicu reaksi sistemik dalam tubuh, termasuk
peningkatan kadar asam laktat dan perubahan pada fungsi organ lain seperti paru-
paru, ginjal, dan hati. Hal ini dapat menyebabkan kondisi seperti asidosis metabolik
umumnya mekanisme terjadinya kematian adalah sama yaitu sebagai akibat dari henti
jantung maka peredaran darah akan berhenti. Berhentinya peredaran darah mencegah
aliran oksigen untuk semua organ tubuh. Organ-organ tubuh akan mulai berhenti
berfungsi sebagai akibat tidak adanya suplai oksigen, termasuk otak. Hipoksia cerebral
xi
atau ketiadaan oksigen ke otak, menyebabkan korban kehilangan kesadaran dan berhenti
bernapas secara normal. Kerusakan otak mungkin terjadi jika henti jantung tidak
ditangani dalam 5 menit dan selanjutnya akan terjadi kematian dalam 10 menit (sudden
cardiac death). Henti jantung terjadi ketika sistem listrik jantung mengalami malfungsi
dan akan menghasilkan kematian jika jantung secara tiba-tiba berhenti bekerja dengan
benar. Hal ini disebabkan oleh ketidaknormalan atau ketidakteraturan irama jantung
yang sering disebut dengan aritmia. Aritmia yang paling umum dalam serangan jantung
adalah ventricular fibrillation (VF) atau ventricular tachycardia (VT) (Berg et al., 2020)
3. Etiologi
Henti jantung disebabkan oleh beberapa faktor yang diantaranya (Hardisman, 2014):
paru, fibrosis pada sistem konduksi (penyakit lenegre, Sindrom Adams-Strokes, noda
sinus sakit).
b. Kekurangan oksigen akut: henti nafas, benda asing di jalan nafas, sumbatan jalan
adrenalin, isoprenalin.
xii
i. Syok (hipovolemik, neurologi, toksik, analfilaksis)
Sindrom koroner akut merupakan penyakit yang mendasari mayoritas kasus henti
jantung di luar RS. Penyakit yang mendasari kasus henti jantung di RS bervariasi antara
lain gagal napas, sepsis, syok, gangguan elektrolit, dan keracunan obat (Wardhana,
2022).
Pada saat melakukan resusitasi, penyebab-penyebab yang reversibel harus dicari agar
Lima H untuk:
a. Hipovolemia
hipermagnesemia)
e. Hipotermia.
Lima T untuk:
a. Tension pneumothoraks
b. Tamponade kordis,
4. Klasifikasi
xiii
a. Nonshockable : asistol dan aktifitas elektrik tanpa nadi (pulseless electrical
activity/PEA)
b. Shockable : FIbrilasi ventrikel (VF) dan Takikardi Ventrikel (VT) tanda nadi.
Fibrilasi adalah masalah irama jantung yang terjadi Ketika jantung berdetak cepat
dengan impuls Listrik yang tidak menentu. Pada VF terjadi depolarisasi dan
repolarisasi yang cepat dan tidak teratur Dimana jantung kehilangan fungsi koordinasi
5. Manifestasi Klinis
Henti jantung ditandai dengan trias kondisi tidak sadar, tidak bernapas, dan tanpa nadi.
Perbedaan utama dengan kematian adalah masih adanya fungsi otak atau belum ada
yaitu:
pernafasan dibuka. Tidak teraba denyut nadi di arteri besar (karotis, femoralis,
6. Pemeriksaan Penunjang
a. Elektrokardiogram
Biasanya tes yang diberikan ialah dengan elektrokardiogram (EKG). EKG mengukur
waktu dan durasi dari tiap fase listrik jantung dan dapat menggambarkan gangguan
pada irama jantung. Karena cedera otot jantung tidak melakukan impuls listrik
normal, EKG bisa menunjukkan bahwa serangan jantung telah terjadi. ECG dapat
xiv
mendeteksi pola listrik abnormal, seperti interval QT berkepanjangan, yang
b. Tes darah
Enzim-enzim jantung tertentu akan masuk ke dalam darah jika jantung terkena
serangan jantung. Karena serangan jantung dapat memicu sudden cardiac arrest.
2) Elektrolit jantung
dalam darah kita dan cairan tubuh yang membantu menghasilkan impuls listrik.
cardiac arrest.
3) Tes obat
Pemeriksaan darah untuk bukti obat yang memiliki potensi untuk menginduksi
terlarang
4) Test hormone
cardiac arrest
c. Imaging tes
Foto thorax menggambarkan bentuk dan ukuran dada serta pembuluh darah. Hal
xv
2) Ekokardiogram
rusak oleh cardiac arrest dan tidak memompa secara normal atau pada kapasitas
7. Penatalaksanaan
penanganan hanti jantung di luar rumah sakit, hal itu terkait dengan ketersediaan alat-alat
Gambar 2.1 Rantai Kelangsungan Hidup untuk IHCA dan OHCA (Panchal et al., 2020)
dengan henti jantung yang disebut dengan “Rantai Kehidupan” (Chain of Survival)
dimana semua bagian saling berhubungan dan tidak bisa dipisahkan. Rantai kehidupan ini
terdiri dari lima komponenyaitu: pengenalan dini (Early Recognition) henti jantung dan
xvi
Aktivasi pelayanan gawat darurat (EMS Activation), resusitasi jantung paru (CPR) segera
(Early CPR), defibrilasi segera (Rapid Defibrilation), Perawatan Lanjut yang efektif
mengoptimalkan harapan hidup pasien henti jantung di luar rumah sakit. Berikut
xvii
Gambar 2.3 Algoritma AHA 2020 Henti Jantung Dewasa (Lavonas et al., 2020)
xviii
Gambar 2.3 Algoritma perawatan pasca-Henti Jantung Dewasa (Lavonas et al., 2020)
xix
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA CARDIAC
ARREST
1. Pengkajian
Proses pengkajian pasien di instalasi gawat darurat terdiri dari primary survey dan secondary
survey. Primary survey terdiri dari ABCDE (airway, breathing, circulation, disability dan
exposure) sedangkan secondary survey terdiri dari pengkajian riwayat kesehatan, pemeriksaan
menggunakan pendekatan yang sistematis untuk menguji dan mengobati pasien Arrest. Pada
pasien yang mengalami henti napas atau henti jantung, performa tim ditujukan untuk memberi
oksigenasi yang efektif, ventilasi, dan sirkulasi dengan kembalinya fungsi neurologi yang
utuh dan bertujuan dasar yang harus segera dicapai adalah RSOC. Tim mengarahkan
Tindakan yang mereka lakuan dengan mengikuti pendekatan sistematis berikut ini (Mubarak
et al., 2022)
BLS assessment
Sebelum penolong mendekati pasien, maka pastikan terlebih dahulu dengan segera bahwa
Tindakan yang dilakukan aman (tidak ada ancaman atau bahaya bagi penolong). Setelah
penolong memastikan aman untuk melakukan Tindakan, maka gunakanlah pendekatan pada
xx
Jika pasien tidak sadar, maka gunakanlah BLS assessment untuk mengevaluasi pasien
tahap awal, dan gunakanlah primary dan secondary assessment untuk evaluasi dan
Jika pasien sadar, maka gunakanlah primary assessment untuk evaluasi pada tahap awal
Tindakan.
Kesan Awal
(penolong memerika secara
visual saat mendekati)
Primary Assesment
BLS Assesment
Aspek yang ditekankan pada pendekatan ini adalah early CPR dengan basic airway
management dan defibrilasi, taoi tidak sampai advanced airway management dan pemberian
Kesehatan dapat memberikan Tindakan oksigenasi yang efektif, ventilasi dan sirkulasi sampai
pasien kembali RSOC atau sampai tim advanced dating (Mubarak et al., 2022)
xxi
Langkah-langkah dalam melakukan BLS disingkat DRSCAB (Danger, Response,
Lakukan kompresi dada dengan kedalaman 5-6 cm dan kecepatan 100-120x/m dengan
siklus 30:2
Tukar kompresor tiap 2 menit atau lebih awal apabila petugas kelelahan, proses
Primary Assesment
Pada primary assessment, anda akan melanjutkan pengkajian dan melakukan intervensi yang
tepat sampai pasien akan ditransfer ke level perawatan berikutnya (Mubarak et al., 2022).
Airway :
Breathing :
xxii
- Apakah ventilasi dan oksigenasi adekuat
Circulation
- Pasang monitor cek irama jantung, apakah ada indikasi pemberian defibrilasi (Lakukan
- Apakah ada medikasi yang dibutuhkan untuk penanganan irama atau tekanan darah
Disability
Exsposure
- Kaji adanya jejas, perdarahan, luks bakar, tanda yang tidak biasa.
Secondary Assesment
Kesehatan pasien, pencarian dan pengoobatan pada penyebab yang mendasari henti jantung
(H’s dan T’s). kumpulkan data mengenai Riwayat Kesehatan pasien jika memungkinkan
tanyakan secara lebih spesifik pada kondisi pasien (Mubarak et al., 2022).
- Perdarahan
xxiii
Alergies
Past Medical Hystory (Khususnya yang berhubungan dengan penyait saat ini)
- Riwayat pembedahan
- Status imunisasi
Events (Kejadian)
- Kejadian yang menyebabkan penyakit atau injury sampai dengan evaluasi terkini
- Esttimasi lama waktu dihitung dari onset kejadian (jika terjadi diluar rumah sakit)
diagnose suspected atau diagnose differensial pada pasien. Temukan dan obati penyebab
yang melatarbelakangi hal tersebut dengan berfokus pada H’s dan T’s. jadikanlah pendekatan
H’s dan T’s sebagai panduan dalam menegakkan emungkinan diagnose dan intervensi untuk
H’s
xxiv
- Hypovolemia
- Hipoksia
- Hipo/Hyperkalemia
- Hipotermia
T’s
- Tension Pnemeutoraks
- Tamponade jantung
- Toxin
- Thrombosis pulmoner
- Thrombosis coroner
a. Mulai lakukan kompresi dada, tekan kuat (minmum 5 cm) dan cepat 100-120/menit
dan biarkan recoil dada selesai. Selama melakukan kompresi minimalisiir interupsi
dang anti komresor tiap 2 menit atau lebih awal jika kelelahan
b. Berikan oksigen. Hindari ventilasi berlebihan, jika ridak ada saluran napas lanjutan,
1) Berikan syok. Energy syok untuk defibrilasi yaitu dengan bifasik maka
gunakan maskimum yang tersedia. Dosis kedua dan seterusnyaa harus setaraa
xxv
dan dosis lebih tinggi boleh dipertimbangkan. Sedangkan pada monofasik
diberikan 360 J.
2) Berikan RJP 2 menit dan pasang akses intrevena lalau evaluasi ada ritme dapat
3) Jika Ya ada ritme berikan syok (seperti langkah 1) lalu lanjut RJP selama 2
menit dan berikan Epinefrin tiap 3-5 menit dengan dosis IV epeinefrin 1 mg
amiodarone dengan dosis pertama 1-1,5 mg/Kg, dosis kedua 0.5-0.75 mg/kg.
sedangkan jika berikan lidokain maka dosis pertama 1-1.5 mg/kg dan dosis
koroner.
2) RJP 2 menit. Berikan akses IV dan bebrikan epinefrin tiap 3-5 menit lalu
xxvi
3) Evalausi ada ritme dapat diberi syok atau tidak. Jika Yaada ritme maka
lanjutkan ke scenario A nomor 3 atau nmor 7 diatas. Jika tidak ritme maka
5) Jika tidak ada tanda-tanda sirkulasi spontan kembali (ROSC) maka lanjutkan
1. Diagnosa Keperawatan
respon individu, keluarga, atau komunitas pada masalah kesehatan, pada risiko masalah
kesehatan atau pada proses kehidupan (PPNI, 2017). Pada saat henti jantung diberikan
tindakan resusitasi jantung paru. Diagnose keperawatan dapat ditegakan ketika pasien
telah RSOC (return of spontaneous circulation) dan dilihat dari penyebab henti jantung
tersebut. Diagnonsa yang dapat di tegakan pada pasien henti jantung yaitu :
2. Intervensi Keperawatan
yang didasarkan pada pengetahuan dan penilaian klinis untuk mencapai luaran
keperawatan gawat darurat berdasarkan prioritas masalah yang telah ditetapkan baik
xxvii
secara mandiri maupun melibatkan tenaga kesehatan lain untuk mencapai tujuan yang
telah ditetapka, digunakan sebagai pedoman dalam melakukan tindaan keperawatan yang
dan berdasarkan diagnosa yang telah ditetapkan dengan luaran keperawatan akan
menjadi acuan bagi perawat dalam menetapkan kondisi atau status kesehatan seoptimal
mungkin yang diharapkan dapat dicapai oleh klien setelah pemberian intervensi
keperawatan.
3. Implementasi Keperawatan
diidentifikasi dalam rencana asuhan keperawatan gawat darurat untuk mencapai tujuan
yang telah ditetapkan . Implementasi adalah perawat melakukan tindakan dan kemudian
4. Evaluasi Keperawatan
sejauh mana tujuan dari rencana keperawatan tercapai. Evaluasi ini dilakukan dengan
cara membandingkan hasil akhir yang teramati dengan tujuan dan kriteria hasil yang
gawat darurat yang mengacu pada kriteria hasil yang termuat didalam SLKI. Hasil
(Dewi et al., 2021). Luaran (outcome) keperawatan merupakan aspek-aspek yang dapat
dioberservasi dan diukur meliputi kondisi, perilaku, atau dari presepsi pasien, keluarga
xxviii
menunjukan status diagnosis keperawatan setelah dilakukan intervensi keperawatan
(PPNI, 2019).
BAB III
APLIKASI PROSES ASKEP GADAR Ny. S DENGAN CARDIAC ARREST
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Nama : Ny. S
Usia : 65 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Kota Semarang
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : Sarjana
Pekerjaan : Pensiunan PNS
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
No. Rekam Medis : 078xxx
xxix
Diagnosa Medis : Cardiac Arrest
Nama : Tn. F
Umur : 68 tahun
Alamat : Semarang
Agama : Islam
Pendidikan Terakhir : Sarjana
Pekerjaan : Pensiuanan PNS
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Hubungan Dg Klien : Suami
3. Keluhan utama : Ny S tiba di IGD dalam keadaan tidak responsive dan tidak bernafas.
4. Alasan masuk rumah sakit : saksi menyatakan Ny. S tiba-tiba pingsan saat sedang
5. BLS Assesment
a. Danger/Besafe
b. Respon
c. Shout
Lakukan panggilan pertolongan kepada teman jaga untuk mendapatkan bantuan dari
d. Circulation
xxx
Memeriksa nadi karotis Bersama-sama dengan cek pernapsan dilakukan kurang dari
10 detik. hasil pemeriksaan tidak ada nadi tidak ada napas. Berikan Cardio
e. Airway
Penolong ke 2 melakukan pemeriksaan jalan napas pasien dan membuka jalan napas
dengan tekhnik Head Tilt dan Chin Lift kemudian cek adanya sumbatan dengan
tekhnik cross finger dan sweep kemudian pasang oropharyngeal airway (OPA).
f. Breathing
Penolong memasang Bage-Mask Ventilation (BVM) sesuai tekhnik dan pompa BVM
2 kali dengan jeda maksimal 2 detik saat 30 kompresi sudah dilakukan sambil
6. Primary Assesment:
Lanjutkan pengkajian dan melaukukan intervensi yang tepat sampai pasien akan
a. Airway:
b. Breathing
c. Circulation
xxxi
Irama di monitor terbaca Asistole
Stop RJP Evaluasi 2 menit, irama Fibrilasi ventirkel (VF), berikan defib 200
Evaluasi 2 menit, irama asistol. Lanjutkan RJP dan pemberian epinefrin 1 mg/IV
Evaluasi 2 menit, nadi teraba, napas spontan. Posisikan pasien miring mantap.
d. Disability
GCS 3
Pupil dilatasi
Pasien unrespon
Pasang kateter
e. Exsposure
7. Secondary Assesment
S (Sign and Symptom): Takipneu (RR: 30x/m), Takikardi (HR: 150x/m), TD: 90/70
mmhg
diabetes melitus dan pernah dirawat di RS karena penyakit tersebut. Didalam keluarga
xxxii
L (Last meal consumed): keluarga mengatakan sebelumnya pasien makan makanan
E (Events): kejadian jatuh pingan dan tidak sadrakan diri terjadi secara tiba-tiba di
rumah, kemudian keluarga lamgsung memawa pasien ke RS, estimasi lama waktu dari
kejadian pingsan dirumah kurang lebih 20 menit hingga pasien sadarkan diri.
8. Pemeriksaan Penunjang
(ventricular fibrillation) dan tidak ada aktivitas listrik jantung (asistoli) saat cardiac
arrest berlangsung. Irama EKG saat pasien ROSC adalah Sinus Bradikardi.
b. Tes Enzim Jantung : Troponin positif, menunjukkan adanya kerusakan miokard yang
Dari data yang didapatkan pada secondary assessment dan hasil tes diagnostic, dapat
disimpulkan penyebab yang melatarbelakangi henti jantung dengan berfokus pada H’s
T’s sebagai panduan dalam menegakkan kemungkinan diagnose dan intervensi untuk
pasien yaitu karena hipoksia yang diakibatkan adanya infark miokard yang ditandai
dengan tes enzin troponin positif dan hasil GDA Hipoksemia dan asidosis sekunder.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnose keperawatan dapat ditegakan ketika pasien henti jantung dan pasca henti jantung
yaitu:
xxxiii
1. Gangguan sirkulasi spontan berhubungan dengan abnormalitas kelistrikan jantung d.d
Tidak sadar
Gangguan konduksi
Nadi lemah
PVR menuruun
3. Resiko perfusi serebral tidak efektif dengan factor risiko infark miokard akut.
xxxiv
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
N MASLAH
LUARAN KEPERAWATAN INTERVENSI KEPERAWATAN
O KEPERAWATAN
35
2. Resusitasi Cairan (L.03139)
Tindakan
a. Monitor status hemodinamik
b. Monitor status oksigen
c. Monitor kelebihan cairan
d. Monitor output cairan tbuh (mis. Urin. Cairan
nasogastrik, cairan selang dada)
e. Monitor nilau BUN, jkreatinin, protein total, dan
albumin, jika perlu
f. Pasang jalur IV berukuran besar
g. Berikan infuse cairan kristaloid 1-2 L pada dewasa
h. Berikan cairan infuse cairan kristaloid 20 mL/Kg/BB
pada anak
i. Lakukan cross matching produk darah
36
dan tidak ada napas
k. Kompresi dengan tumit telapak tangan menumpuk
diatas telapak tangan yang lain tegak lurus pada
pertengahan dada
l. Kompresi dengan kedalaman kompresi 5-6 cm
dengan kecepatan 100-120x/m bersihakan dan buka
jalan napas
m. Berikan bantuan napas dengan menggunakan bag
valve mask (BGM) dengan teknik EC-clamp
n. Kombinasikan kompresi dan ventilasi selama 2
menit atau sebanyak 5 siklus
o. Hentikan RJP jika ditemukan adanya tanda-tanda
kehidupan, penolong yang lebih mahir datang,
ditemukan adanya tanda-tanda kematian biologis,
DNR
p. Kombinasikan kompresi dan ventilasi selama 2
menit atau sebanyak 5 siklus
q. Hentikan RJP jika ditemukan adanya tanda-tanda
kehidupan, penolong yang lebih mahir datang,
ditemukan adanya tanda-tanda kematian biologis,
DNR
2 Penurunan curah Setelah dilakukan tindakan 1. Perawatan jantung (I.02075)
jantung berhubungan keperawatan selama 5 Jam, Tindakan :
dengan perubahan diharapkan Curah jantung a. meliputi dispnea, kelelahan, edema, ortopnea,
paroxysmal noctumal dyspnea, peningkatan CVP)
irama jantung, (L.02008) Meningkat dengan
b. Identifikasi tanda/gejala sekunder penurunan jantung
kontraktilitas, kriteria hasil (meliputi peningkatan berat badan, hepatomegali,
perubahan afterload distensi vena jugularis, pallpitasi, ronkhi basah,
d.d gejala dan tanda Kekuatan nadi perifer
oliguria, batuk, kulit pucat)
meningkat
c. Monitor tekanan darah (termasuk tekanan darah
Gangguan Gangguan konduksi ortostatik, jika perlu)
konduksi menurun d. Monitor intake dan output cairan
e. Monitor EKG 12 sadapan
37
Nadi lemah f. Monitor aritmia
g. Monitor nilai laboratorium jantung (mis. Elektrolit,
PVR menuruun enzim jantung,BNP, NT pro-BNP
h. Monitor fungsi alat pacu jantung
i. Periksa tekanan darah dan frekuensi nadi sebelum dan
sesudah aktivitas
j. Periksa tekanan darah
38
D. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
39
H: Troponin posiitif Intensif.
5. Melakukan kolaborasi pemberian thrombus dengan
antikoagulan, jika perlu
40
BAB IV
PEMBAHASAN
Dalam kasus Ibu Susi yang mengalami cardiac arrest, penting untuk melakukan
pembahasan yang sistematis dan didukung oleh argumen yang kuat serta bukti-bukti yang
relevan. Berikut adalah pembahasan mengenai faktor-faktor kunci yang terkait dengan kondisi
Ibu Susi:
1. Penyebab Cardiac Arrest: Cardiac arrest dapat disebabkan oleh beberapa kondisi,
termasuk serangan jantung (infark miokard), aritmia fatal, atau faktor lain yang
mempengaruhi fungsi jantung. Dalam kasus Ibu Susi, kemungkinan penyebab utama
adalah infark miokard akut (AMI), yang didukung oleh hasil tes enzim jantung yang
2. Faktor Risiko :Riwayat medis Ibu Susi mencakup hipertensi dan diabetes melitus tipe 2,
yang merupakan faktor risiko yang signifikan untuk penyakit kardiovaskular. Hipertensi
dan diabetes melitus dapat menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan miokard,
(EKG) yang menunjukkan gelombang ventrikel tak terorganisir dan troponin positif,
mendukung diagnosis AMI sebagai penyebab cardiac arrest pada Ibu Susi. Selain itu,
adanya hipoksemia dan asidosis respiratorik sekunder dari hasil gas darah arteri
mengindikasikan gangguan fungsi pernapasan akibat henti napas yang dapat terjadi
41
4. Tindakan Darurat : Dalam penanganan cardiac arrest, tindakan darurat yang cepat dan
tepat sangat penting. Defibrilasi segera untuk mengembalikan ritme jantung yang normal
dan terapi reperfusi untuk memulihkan aliran darah ke jantung merupakan langkah-
tekanan darah dan gula darah, serta modifikasi gaya hidup yang sehat. Edukasi pasien
dan keluarga tentang pentingnya pengelolaan penyakit kronis dan pencegahan kejadian
kembali cardiac arrest juga merupakan bagian penting dari perawatan jangka Panjang.
42
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari analisis kasus Ibu Susi yang mengalami cardiac arrest, beberapa kesimpulan dapat
ditarik. Cardiac arrest adalah kondisi darurat medis yang mengancam nyawa, sering kali
terkait dengan faktor risiko kardiovaskular seperti hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
Deteksi dini, penanganan cepat, dan manajemen faktor risiko menjadi kunci dalam
Pentingnya edukasi pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala penyakit kardiovaskular,
serta langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil, tidak bisa diabaikan. Upaya
pencegahan termasuk pengelolaan faktor risiko, seperti mengendalikan tekanan darah dan
gula darah, serta mengadopsi gaya hidup sehat, dapat membantu mencegah kejadian kembali
Selain itu, penelitian lanjutan dan peningkatan kesadaran masyarakat tentang penyakit
kardiovaskular perlu diprioritaskan. Ini akan membantu dalam mengurangi angka kejadian
cardiac arrest dan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya deteksi dini dan intervensi
yang tepat.
B. SARAN
1. Bagi pemerintah agar dapat meningkatkan program pencegahan yang lebih massif dan
terfokus kerena prevelanse dari penyakit jantung msih sangat tinggi di Indonesia dan
43
2. Penyuluhan Kesehatan: Mengadakan program penyuluhan kesehatan yang terfokus pada
hipertensi dan diabetes, untuk menjalani pemeriksaan rutin dan mengontrol kondisi
lanjut tentang penyebab, faktor risiko, dan strategi pengelolaan penyakit kardiovaskular,
44
DAFTAR PUSTAKA
Andersen, L. W., Holmberg, M. J., Berg, K. M., Donnino, M. W., & Granfeldt, A. (2019). In-
Hospital Cardiac Arrest: A Review. JAMA - Journal of the American Medical Association,
321(12), 1200–1210. [Link]
Berg, K. M., Soar, J., Andersen, L. W., Bottiger, B. W., Cacciola, S., Callaway, C. W., Couper,
K., Cronberg, T., D’Arrigo, S., Deakin, C. D., Donnino, M. W., Drennan, I. R., Granfeldt,
A., Hoedemaekers, C. W. E., Holmberg, M. J., Hsu, C. H., Kamps, M., Musiol, S., Nation,
K. J., … Nolan, J. P. (2020). Adult advanced life support: 2020 international consensus on
cardiopulmonary resuscitation and emergency cardiovascular care science with treatment
recommendations. In Circulation (Vol. 142, Issue suppl 1).
[Link]
Damayanti, D., Rantung, G., Manurung, T., Mahendra, D., Surani, V., Latipah, S., Juliani, E.,
Ma’ruf, H., Dewi, S. U., Siagian, E., Suwarto, T., Rahmasari, R., & Yari, Y. (2022). Asuhan
Keperawatan Kritis. In Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952. (Vol. 2).
[Link] Asuhan Keperawatan Kritis
%284%[Link]
Dewi, N. H., Suryati, E., Mulyanasari, F., & Yupartini, L. (2021). Pengembangan Format
Dokumentasi Asuhan Keperawatan Gawat Darurat Berbasis SDKI, SLKI, dan SIKI. Jurnal
Keperawatan Silampari, 4(2), 554–565. [Link]
Hardisman. (2014). Gawat Darurat Medis Praktis. In Gosyen Publishing. Gosyen Publishing.
Holmberg, M. J., Ross, C., Chan, P. S., Duval-Arnould, J., Grossestreuer, A. V, Yankama, T.,
Donnino, M. W., & Andersen, L. W. (2018). Incidence of Adult In-Hospital Cardiac Arrest
in the United States. Circulation, 138(Suppl_2). [Link]
Jerkeman, M., Sultanian, P., Lundgren, P., Nielsen, N., Helleryd, E., Dworeck, C., Omerovic, E.,
Nordberg, P., Rosengren, A., Hollenberg, J., Claesson, A., Aune, S., Strömsöe, A., Ravn-
Fischer, A., Friberg, H., Herlitz, J., & Rawshani, A. (2022). Trends in survival after cardiac
arrest: a Swedish nationwide study over 30 years. European Heart Journal, 43(46), 4817–
4829. [Link]
Lavonas, Magid, D. ., Aziz, K., Berg, K. ., Adam, C., Hoover, A. V, Mahgoub, M., Panchal, A.
R., J, R. Am., Topijan, A. A., & Sasson, C. (2020). American Heart Association Tahun
2020 PEDOMAN CPR DAN ECC. In Hospital management (Vol. 86, Issue 2).
Lott, C., Truhlář, A., Alfonzo, A., Barelli, A., González-Salvado, V., Hinkelbein, J., Nolan, J. P.,
Paal, P., Perkins, G. D., Thies, K. C., Yeung, J., Zideman, D. A., Soar, J., Khalifa, G. E. A.,
Álvarez, E., Barelli, R., Bierens, J. J. L. M., Boettiger, B., Brattebø, G., … Schmitz, J.
(2021). European Resuscitation Council Guidelines 2021: Cardiac arrest in special
circumstances. Resuscitation, 161, 152–219.
[Link]
Majid, A., Jalaludin, A., Defitra, Fauzi, E., Ikom, Irnizarifka, Jati, M. B. R., Friadi, M., Rasmin,
R., Fadilah, S., Yudi, I., & Dwiyanto, Y. (2020). BASIC TRAUMA CARDIAC LIFE
45
SUPORT. In 119 Medical Service Training.
Mubarak, F., Handayani, T., Samsu, Prasetio, H., & Fithrah, B. A. (2022). ADVANCE
CARDIOVASCULAR LIFE SUPPORT For Nurse. In Pro Emergency. Pro Emergency.
Muthmainnah. (2019). Hubungan tingkat pengetahuan awam khusus tentang bantuan hidup dasar
berdasarkan karakteristik usia di RSUD X Hulu Sungai Selatan. Healthy-Mu Journal, 2(2),
31.
Nolan, J. . (2022). Cardiac arrest outcomes in the United Kingdom [University of Warwick].
[Link]
Nolan, J. P., Sandroni, C., Böttiger, B. W., Cariou, A., Cronberg, T., Friberg, H., Genbrugge, C.,
Haywood, K., Lilja, G., Moulaert, V. R. M., Nikolaou, N., Mariero Olasveengen, T.,
Skrifvars, M. B., Taccone, F., & Soar, J. (2021). European Resuscitation Council and
European Society of Intensive Care Medicine Guidelines 2021: Post-resuscitation care.
Resuscitation, 161, 220–269. [Link]
Panchal, A. R., Bartos, J. A., Cabañas, J. G., Donnino, M. W., Drennan, I. R., Hirsch, K. G.,
Kudenchuk, P. J., Kurz, M. C., Lavonas, E. J., Morley, P. T., O’Neil, B. J., Peberdy, M. A.,
Rittenberger, J. C., Rodriguez, A. J., Sawyer, K. N., & Berg, K. M. (2020). Part 3: Adult
Basic and Advanced Life Support: 2020 American Heart Association Guidelines for
Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care. In Circulation (Vol.
142, Issue 16 2). [Link]
PPNI. (2017). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia. In DPP PPNI. DPP PPNI.
PPNI. (2018). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. In DPP PPNI. DPP PPNI.
PPNI. (2019). Standar Luaran Keperawatan Indonesia. In DPP PPNI. DPP PPNI.
Purwacaraka, M., Ady Erwansyah, R., & Arief Hidayat, S. (2023). Pelatihan Resusitasi Jantung
Paru sebagai Upaya Peningkatan Pengetahuan dan Motivasi Mahasiswa sebagai Bystander
di Masyarakat. Jurnal Abdimas (Journal of Community Service, 5(1), 142–151.
richard oliver ( dalam Zeithml., dkk 2018 ). (2021). Pengantar Keperawatan Kritis. In
Angewandte Chemie International Edition, 6(11), 951–952.
Santoso, T. (2019). Modul Praktikum Keperawatan Gawat Darurat. In Chakra Brahmanda
Lentera (pp. 1–66). Chakra Brahmanda Lentera.
Soar, J., Berg, K. M., Andersen, L. W., Böttiger, B. W., Cacciola, S., Callaway, C. W., Couper,
K., Cronberg, T., D’Arrigo, S., Deakin, C. D., Donnino, M. W., Drennan, I. R., Granfeldt,
A., Hoedemaekers, C. W. E., Holmberg, M. J., Hsu, C. H., Kamps, M., Musiol, S., Nation,
K. J., … Zelop, C. M. (2020). Adult Advanced Life Support: 2020 International Consensus
on Cardiopulmonary Resuscitation and Emergency Cardiovascular Care Science with
Treatment Recommendations. Resuscitation, 156, A80–A119.
[Link]
Soar, J., Böttiger, B. W., Carli, P., Couper, K., Deakin, C. D., Djärv, T., Lott, C., Olasveengen,
46
T., Paal, P., Pellis, T., Perkins, G. D., Sandroni, C., & Nolan, J. P. (2021). European
Resuscitation Council Guidelines 2021: Adult advanced life support. Resuscitation, 161,
115–151. [Link]
Villalobos, F., Del Pozo, A., Rey-Reñones, C., Granado-Font, E., Sabaté-Lissner, D., Poblet-
Calaf, C., Basora, J., Castro, A., & Flores-Mateo, G. (2019). Lay people training in CPR
and in the use of an automated external defibrillator, and its social impact: A community
health study. International Journal of Environmental Research and Public Health, 16(16),
1–11. [Link]
Wardhana, A. (2022). Buku Ajar Kegawatdaruratan: Sebuah Pendekatan Untuk Memecahkan
Kasus. In Direktorat Penerbitan dan Publikasi Ilmiah (Vol. 1).
Willim, H. A., Ketaren, I., & Supit, A. I. (2021). Tatalaksana Pasca-Henti Jantung. Cermin
Dunia Kedokteran, 48(7), 375–379. [Link]
47