Peran Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB
Peran Indonesia dalam Misi Perdamaian PBB
DISUSUN OLEH
Violynne Tania
200200668
Angkatan 2020 (Kelas H)
Fakultas Hukum
Ilmu Hukum
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2020
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmat-Nya
kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Peran Indonesia di Pasukan Perdamaian
Dunia” dengan tepat waktu. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak [Link].
Sutiarnoto, SH., [Link] selaku dosen pembimbing kami yang telah memberikan tugas ini
kepada kami sehingga kami mendapatkan banyak tambahan pengetahuan khususnya dalam
masalah Perdamaian Dunia di Indonesia.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah yang telah kami susun ini bisa
memberikan banyak manfaat serta menambah pengetahuan terutama dalam hal mengantisipasi
perdamaian dunia.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih memiliki banyak kekurangan yang
membutuhkan perbaikan, sehingga kami sangat mengharapkan masukan serta kritikan dari para
pembaca.
ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR…………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI………………………………………………………………………..…......ii
BAB I. PENDAHULUAN…………………………………………………………….…..1
1. Latar belakang……………………………………………………………………..1
2. Rumusan masalah………………………………………………………………....1
3. Tujuan……………………………………………………………………………..1
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………..14
ii
BAB I. PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG
Perdamaianan dunia dilatar belakangi oleh terjadinya perang dunia 1 dan 2 yang dimana
pada hal tersebut menyisahkan luka yang mendalam bagi seluruh bangsa dan
mengakibatkan banyaknya korban jiwa hal ini merujuk pada hak asasi manusia, dan dari
hal tersebut maka seluruh bangsa bahu membahu menyelesaikan pertikaian yang terjadi
pada saat itu maka dibentuklah PBB (perserikatan bangsa bangsa )yang dimana tugasnya
berkomitmen penuh untuk memelihara perdamaian dan keamanan internasional,
mengembangkan hubungan persahabatan antar negara, mempromosikan pembangunan sosial,
peningkatan standar kehidupan yang layak, dan Hak Azasi Manusia. Dengan karakternya yang
unik, PBB dapat mengambil sikap dan tindakan terhadap berbagai permasalahan di dunia
internasional, serta menyediakan forum terhadap 192 negara-negara anggota untuk
mengekspresikan pandangan mereka, melalui Majelis Umum, Dewan Keamanan, Dewan
Ekonomi dan Sosial, Dewan Hak Azasi Manusia, dan badan- badan serta komite-komite di dalam
lingkup PBB.
2. RUMUSAN MASALAH
3. TUJUAN:
1
BAB II. PEMBAHASAN
1. PENGERTIAN
Republik Indonesia adalah sebuah negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di
Asia Tenggara. Melintang di katulistiwa antara benua Asia dan Australia serta antara
Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Indonesia berbatasan dengan Malaysia di utara pulau
Kalimantan, dengan Papua Nugini di timur pulau Papua dan dengan Timor Timur di utara pulau
Timor.
Indonesia memiliki 18.000 lebih pulau (sekitar 6000 tidak berpenghuni) yang menyebar sekitar
katulistiwa, memberikan cuaca tropis. Pulau terpadat penduduknya adalah pulau Jawa, di mana
setengah populasi Indonesia hidup. Indonesia terdiri dari 5 pulau
besar, yaitu: Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya.
Lokasi Indonesia juga terletak di lempeng tektonik yang berarti Indonesia sering terkena gempa
bumi dan juga menimbulkan tsunami. Indonesia juga banyak memiliki gunung berapi, salah satu
yang sangat terkenal adalah gunungKrakatau, terletak antara pulau Sumatra dan Jawa.
Perdamaian dunia adalah sebuah gagasan kebebasan, perdamaian, dan kebahagiaan bagi
seluruh negara dan/atau bangsa. Perdamaian dunia melintasi perbatasan melalui hak asasi
manusia, teknologi, pendidikan, teknik, pengobatan,diplomat dan/atau pengakhiran seluruh
bentuk pertikaian. Sejak 1945, Perserikatan Bangsa-Bangsa dan 5 anggota permanen Majelis
Keamanan-nya (AS, Rusia, China, Prancis, dan Britania Raya) bekerja untuk
menyelesaikan konflik tanpa perang atau deklarasi perang. Namun, negara-negara telah
memasuki sejumlah konflik militer sejak masa itu. Partisipasi indonesia dalam hal
perdamaian dunia didukung Sesuai dengan pembukaan UUD 1945 alenia ke 4 disebutkan
bahwa “kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu pemerintah negra indonesia yang
melindungi segenap bangsa indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia dan untuk memajukan
kesehjahteraan umum,mencerdaskan kehidupan bangsa,dan ikut melaksanakan
ketertiban Dunia yang berdasarkan kemerdekaan,perdamaian abadi dan keadilan
sosial.....” hal ini merujuk dalam partisipasi indonesia dalam keikut sertaanya dalam
organisasi PBB (PERSERIKATAN BANGSA BANGSA)
2
2. SEJARAH PBB DAN KOMITMEN
Sejak didirikan pada tahun 1945, negara-negara anggota PBB berkomitmen penuh untuk
memelihara perdamaian dan keamanan internasional, mengembangkan hubungan
persahabatan antar negara, mempromosikan pembangunan sosial, peningkatan standar kehidupan
yang layak, dan Hak Azasi Manusia. Dengan karakternya yang unik, PBB dapat mengambil
sikap dan tindakan terhadap berbagai permasalahan di dunia internasional, serta
menyediakan forum terhadap 192 negara-negara anggota untuk mengekspresikan pandangan
mereka, melalui Majelis Umum, Dewan Keamanan, Dewan Ekonomi dan Sosial, Dewan Hak
Azasi Manusia, dan badan- badan serta komite-komite di dalam lingkup PBB. Sekretaris Jenderal
PBB saat ini adalah Ban
Ki-moon asal Korea Selatanyang menjabat sejak 1 Januari 2007.
Ruang lingkup peran PBB mencakup penjaga perdamaian, pencegahan konflik dan bantuan
kemanusiaan. Selain itu, PBB juga menanganii berbagai permasalahan mendasar
seperti pembangunan berkelanjutan, lingkungan dan perlindungan pengungsi, bantuan
bencana, terorisme, perlucutan senjata dan non-proliferasi, mempromosikan demokrasi,
hak asasi manusia, kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan, pemerintahan,
ekonomi dan pembangunan sosial, kesehatan, upaya pembersihan ranjau darat, perluasan
produksi pangan, dan berbagai hal lainnya, dalam rangka mencapai tujuan dan
mengkoordinasikan upaya-upaya untuk dunia yang lebih aman untuk ini dan generasi mendatang.
Indonesia resmi menjadi anggota PBB ke-60 pada tanggal 28 September 1950 dengan
suara bulat dari para negara anggota. Hal tersebut terjadi kurang dari setahun setelah
pengakuan kedaulatan oleh Belanda melalui Konferensi Meja Bundar. Indonesia dan PBB
memiliki keterikatan sejarah yang kuat mengingat kemerdekaan Indonesia yang
diproklamasikan pada tahun 1945, tahun yang sama ketika PBB didirikan dan sejak tahun
itu pula PBB secara konsisten mendukung Indonesia untuk menjadi negara yang merdeka,
berdaulat, dan mandiri. Oleh sebab itu, banyak negara yang mendaulat Indonesia sebagai “truly
a child” dari PBB. Hal ini dikarenakan peran PBB terhadap Indonesia pada masa revolusi
3
fisik cukup besar seperti ketika terjadi Agresi Militer Belanda I, Indonesia dan Australia
mengusulkan agar persoalan Indonesia dibahas dalam sidang umum PBB.
4
Selanjutnya, PBB membentuk Komisi Tiga Negara yang membawa Indonesia-Belanda ke meja
Perundingan Renville.
Ketika terjadi Agresi militer Belanda II, PBB membentuk UNCI yang
mempertemukan
Indonesia-Belanda dalam Perundingan Roem Royen.
Pemerintah RI mengutus Lambertus Nicodemus Palar sebagai Wakil Tetap RI yang pertama di
PBB. Duta Besar Palar bahkan telah memiliki peran besar dalam usaha mendapatkan pengakuan
internasional kemerdekaan Indonesia pada saat konflik antara Belanda dan Indonesia pada tahun
1947. Duta Besar Palar memperdebatkan posisi kedaulatan Indonesia di PBB dan di
Dewan Keamanan walaupun pada saat itu beliau hanya sebagai "peninjau" di PBB karena
Indonesia belum menjadi anggota pada saat itu. Pada saat berpidato di muka Sidang Majelis
Umum PBB ketika Indonesia diterima sebagai anggota PBB, Duta Besar Palar berterima kasih
kepada para pendukung Indonesia dan berjanji bahwa Indonesia akan melaksanakan
kewajibannya sebagai anggota PBB. Posisi Wakil Tetap RI dijabatnya hingga tahun 1953.
Sebagai negara anggota PBB, Indonesia dalam menyelesaikan sengketa Irian Jaya dengan
Belanda mengupayakan solusi dengan mengajukan penyelesaian permasalahan tersebut kepada
PBB pada tahun 1954. Posisi Indonesia ini didukung oleh Konferensi Asia Afrika pada
bulan April 1955 yang mengeluarkan sebuah resolusi untuk mendukung Indonesia dan
kemudian meminta PBB untuk menjembatani kedua pihak yang berkonflik dalam meraih
solusi damai. Namun demikian, hingga tahun 1961 tidak ada indikasi solusi damai meskipun
dalam faktanya isu tersebut dibahas dalam rapat pleno Majelis Umum PBB dan di Komite I.
Pada Sidang Majelis Umum PBB ke-17 tahun 1962, penyelesaian sengketa tersebut
akhirnya menemukan titik terang dengan dikeluarkannya Resolusi No. 1752 yang mengadopsi
”The New York Agreement” pada 21 September 1962. Selanjutnya, United Nations
Executive Authority (UNTEA) sebagai badan yang diberi mandat oleh PBB untuk
melakukan transfer kekuasaan Irian Jaya dari Belanda kepada Indonesia menjalankan tugasnya
secara efektif mulai 1 Oktober
1962 dan berakhir pada 1 Mei 1963.
4
3. INDONESIA DAN PERSERIKATAN BANGSA BANGSA
Indonesia resmi menjadi negara anggota Perserikatan Bangsa Bangsa ke-60 pada tanggal
28 September 1950, yang ditetapkan dengan Resolusi Majelis Umum PBB nomor
A/RES/491 (V)tentang "penerimaan Republik Indonesia dalam keanggotaan di
Perserikatan Bangsa Bangsa",[1] kurang dari satu tahun setelah pengakuan
kedaulatan Indonesia oleh Belanda dalam Konferensi Meja Bundar di Den Haag (23 Agustus -
2 November, 1949).[1]
Indonesia memiliki perwakilan tetap untuk PBB di New York, sekaligus satu perwakilan
tetap untuk PBB, WTO dan organisasi-organisasi internasional lainnya di Jenewa.[1] Misi di New
York dikepalai oleh seorang wakil tetap, sedangkan misi di Jenewa dikepalai oleh seorang duta
besar. Pemerintah Republik Indonesia menunjuk Lambertus Nicodemus Palar sebagai Wakil
Tetap untuk PBB pertama dari Indonesia. Palar telah memainkan peran penting dalam
upaya mencari dukungan dan pengakuan internasional tentang kedaulatan Indonesia pada
masa sulit dengan Belanda pada tahun 1947, di mana saat itu Indonesia memiliki status
Pengamat dalam Majelis Umum PBB. Berbicara di dalam sidang Majelis Umum PBB pada
tahun 1950, Palar berterima kasih untuk setiap dukungan yang diberikan untuk
kemerdekaan Indonesia, dan berjanji bahwa negaranya akan melaksanakan tanggung jawabnya
sebagai negara anggota dari PBB.
Tanggung jawab dari perwakilan diplomatik Indonesia ini adalah untuk mewakilkan seluruh
kepentingan Indonesia di PBB termasuk dalam berbagai isu keamanan internasional, pelucutan
senjata, hak asasi manusia, masalah kemanusiaan, lingkungan hidup, buruh, kerjasama
ekonomi dan pembangunan internasional, perdagangan internasional, kerjasama
Selatan Selatan, transferteknologi, hak kekayaan intelektual, telekomunikasi, kesehatan dan
meteorologi.
5
Namun, dalam sebuah telegram bertanggal 19 September 1966, Indonesia
memberikan pesan kepada Sekretaris Jenderal PBB atas keputusannya "untuk melanjutkan
kerjasama penuh dengan Perserikatan Bangsa Bangsa, dan untuk melanjutkan partisipasinya
dalam sesi ke-21 sidang Majelis Umum PBB". Pada tanggal 28 September 1966,
Majelis Umum PBB menindaklanjuti keputusan pemerintah Indonesia tersebut dan
mengundang perwakilan Indonesia untuk menghadiri sidang kembali.
Indonesia menjadi anggota Majelis Umum PBB semenjak tahun 1951. [1] Indonesia
pernah sekali ditunjuk sebagai Presiden Majelis Umum PBB pada tahun 1971, yang pada saat itu
diwakili oleh Adam Malik yang memimpin sesi ke 26 sidang Majelis Umum PBB. Ia merupakan
perwakilan Asia kedua yang pernah memimpin sidang tersebut setelah Dr. Carlos Pena
Romulo dari Filipina.
6
*Dewan Hak Asasi Manusia PBB*
Indonesia telah terpilih sebanyak tiga kali sebagai anggota Dewan Hak Asasi
Manusia PBB semenjak dewan tersebut dibentuk pada tahun 2006. Indonesia menjadi
anggota dalam periode 2006-2007, 2007-2010 dan 2011-2014. [1] Indonesia sekali menjadi
Wakil Presiden Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada tahun 2009-2010, diwakili oleh
Duta Besar Dian Triansyah Djani.
Peran Indonesia Dalam Misi Garuda Perdamaian Dunia Indonesia selalu
berkomitmen untuk melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi dan keadilan sosial. Hal ini merupakan amanat dari aline IV
Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Salah satu bentuk
perwujudan komitmen ini adalah peran Indonesia dalam Misi Garuda.
Peran MPP PBB pada awalnya hanya terbatas pada pemeliharaan gencatan senjata dan
stabilisasi situasi di lapangan. Hal ini untuk memberikan ruang bagi usaha-usaha politik dalam
menyelesaikan konflik. Namun, saat ini tugas dari MPP PBB menjadi semakin luas. Mayoritas
MPP PBBB sebelumnya dihadapkan pada konflik antar negara, tetapi kini juga dituntut untuk
dapat diterjunkan pada berbagai konflik internal dan perang saudara. MPP PBB juga
bahkan dihadapkan pada meningkatnya konflik yang bersifat asimetris, ancaman kelompok
bersenjata, terorisme dan radikalisme, serta penyakit menular. Baca juga penyebab Perang
Dingin, negara yang terlibat Perang Dunia 2, kronologi Perang Dunia 2, dan akhir Perang Dunia
2.
Misi Garuda merupakan salah satu bentuk komitmen Indonesia dalam melaksanakan
MPP PBB. Misi Garuda adalah pasukan yang terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang
ditugaskan sebagai pasukan perdamaian di negara lain. Pembentukan Pasukan Garuda
diawali dengan munculnya konflik di Timur Tengah pada 26 Juli 1959. Tiga negara yang
terdiri dari Inggris, Prancis, dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Mesir.
Hal ini pun akhirnya menimbulkan perdebatan diantara negara-negara lainnya.
7
Menteri Luar Negeri Kanada saat itu, Lester B. Perason, mengusulkan dibentuknya
pemelihara perdamaian di Timur Tengah dalam Sidang Umum PBB. Usulan tersebut pun
disetujui, sehingga pada tanggal 5 November 1956, Sekretaris Jenderal PBB membentuk United
Nations Emergency Forces (UNEF).
Indonesia menyatakan kesediaannya untuk bergabung dalam UNEF. hingga saat ini
Indonesia telah mengirimkan Misi Garuda I sampai Misi Garuda XXVI-C2. Menurut data
Kementrian Luar negeri pada 21 Maret 2016, Indonesia pun menjadi contributor terbesar ke-10
untuk Pasukan Pemeliharaan Perdamaian PBB dari 124 negara.
Meskipun Indonesia tidak hanya mengirimkan Pasukan Garuda ke Mesir saja, tetapi ada
alasan khusus mengapa Indonesia menyatakan kesediaannya memelihara perdamaian di Timur
Tengah. Saat Indonesia menyatakan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, Mesir segara
menyelenggarakan sidang menteri luar negeri negara-negara Liga Arab. Pada 18
November
1946, Liga Arab menetapkan resolusi pengakuan kemerdekaan Republik Indonesia sebagai
negara merdeka dan berdaulat penuh. Hal ini menjadi pengakuan de jure menurut hukum
internasional.
Sekretaris Jenderal Liga Arab saat itu, Abdurrahman Azzam Pasya, mengutus
Konsul Jenderal Mesir di India, yakni Mohammad Abdul Mun’im, untuk pergi ke Indonesia. Ia
sampai ke Yogyakarta, ibu kota RI saat itu, setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh
rintangan terutama dari pihak Belanda. Utusan Mesir diterima secara kenegaraan oleh Presiden
Soekarno dan Moh. Hatta pada 15 Maret 1947. Peristiwa ini merupakan bentuk pengakuan
pertama atas kemerdekaan RI oleh negara asing.
8
Presiden Soekarno membalas hal tersebut dengan mengunjungi Mesir dan Arab
Saudi pada Mei 1956 serta Irak pada April 1960. Indonesia juga mendukung keputusan Majelis
Umum PBB untuk menarik mundur pasukan Inggris, Prancis, dan Israel dari wilayah
Mesir. Pada akhirnya, Indonesia untuk pertama kalinya mengirim Pasukan Pemeliharaan
Perdamaian PBB ke Mesir yang dinamakan Kontingen Garuda I atau KONGA I. Baca juga
penyebab Perang Yaman dan Arab Saudi dan penyebab Perang Israel dan Palestina.
Peran Indonesia dalam Misi Garuda
1. KONGA I dikirim tanggal 8 Janari 1957 ke Mesir yang terdiri dari 559 pasukan. Pasukan
dipimpin oleh Letnan Kolonel Infaneri Hartoyo yang kemudian digantikan Letnan Kolonel
Infanteri Suadi Suromihardjo.
2. KONGA II dikirim pada 1960 ke Kongo yang terdiri dari 1.074 pasukan. Pasukan
dipimpin oleh Kol. Prijatna dan digantikan oleh Letkol Solichin G.P.
3. KONGA III dikirim pada 1962 ke Kongo yang terdiri atas 3.475 pasukan. KONGA III di
bawah misi UNOC dan dipimpin oleh Brigjen TNI Kemal Idris dan Kolonel Infanteri Sobirin
Mochtar.
4. KONGA IV dikirim pada 1973 ke Vietnam. Pasukan ini berada di bawah misi ICCS dan
dipimpin oleh Brigjen TNI Wiyogo Atmodarminto.
5. KONGA V dikirim ke Vietnam pada 1973 di bawah misi ICCS. Pasukan dipimpin oleh
Brigjen TNI Harsoyo.
6. KONGA VI dikirim ke Timur Tengah pada 1973 di bawah misi UNEF. Pasukan
dipimpin oleh Kolonel Infanteri Rudini.
7. KONGA VII pada 1974 dikirim ke Vietnam di bawah misi ICCS. Pasukan ini dipimpin
oleh Brigjen TNI [[S. Sumantri]] dan digantikan oleh Kharis Suhud.
8. KONGA VIII dikirim ke Timur Tengah pada 1974 dalam rangka misi perdamaian PBB di
Timur Tengah. Pengiriman pasukan dilakukan paska Perang Yom Kippur antara Mesir
dan Israel.
9. KONGA IX dikirim ke Iran dan Irak pada tahun 1988. Konga IX berada di bawah misi
UNIIMOG.
10. KONGA X dikirim pada 1989 ke Namibia. Pasukan ini berada di bawah misi UNTAG
dan dipimpin oleh Kol Mar Amin S.
11. KONGA XI dikirim ke Irak-Kuwait pada 1992 di bawah misi UNIKOM.
12. KONGA XII dikirim ke Kamboja padaa 1992 di bawah misi UNTAC.
13. KONGA XIII dikirim ke Somalia pada 1992 di bawah misi UNOSM dan dipimpin oleh
May Mar Wingky S.
14. KONGA XIV dikirim ke Bosnia-Herzegovina pada 1993 di bawah misi UNPROFOR.
15. KONGA XV dikirim ke Georgia pada 1994 di bawah misi UNIMOG dan dipimpin oleh May
Kav M. Haryanto.
16. KONGA XVI dikirim ke Mozambik pada 1994 di bawah misi UNOMOZ dan dipimpin
oleh May Pol Drs Kuswandi.
9
17. KONGA XVII dikirim ke Filipina dpada 1994. Pasukan ini dipimpin oleh Brgjen
TNI Asmardi Arbi.
18. KONGA XVIII dikirim ke Tajikistan pada November 1997 dan dipimpin oleh
Mayor
Can Suyatno.
19. KONGA XIX dikirim ke Sierra Leone pada 1999-2002 yang bertugas sebagai misi
pengamat.
20. KONGA XX dikirim ke Republik Demokratik Kongo pada tahun 2003.
21. KONGA XXI dikirim ke Liberia mulai tahun 2003. Pasukan ini terdiri dari perwira AD,
AL, dan AU yang terlatih dalam misi PBB dan memiliki kecakapan khusu sebagai
pengamat militer.
22. KONGA XXII dikirim ke Sudan pada 9 Februari 2008 sebagai pengamata militer
dan juga berkontrbusi untuk UNAMID (Darfur).
23. KONGA XXIII bertugas di Lebanon (UNIFIL) dan sempat ditunda
keberangkatannya pada akhir September 2006.
24. KONGA XXIV bertugas di Nepal (UNMIN) mulai tahun 2008.
25. KONGA XXV bertugas di Lebanon mulai tahun 2008 dan sudah melakukan 11
kali rotasi hingga 2019.
26. KONGA XXVI bertugas di Lebanon pertama kali pada tahun 2008 untuk melaksanakan
tugas sebagai satuan FHQSU dan INDO FP Coy.
27. KONGA XXVII tergabung dalam misi UNAMID di Darfur dan bertugas mulai tanggal
21 Agustus 2008.
28. KONGA XXVIII dikirim pada 16 Maret 2009 untuk bergabung dalam MTF UNIFIL.
29. KONGA XXIX dikirim ke Lebanon pada 29 Desember 2009 untuk
memberikan dukungan kesehatan kepada personel UNIFIL maupun humanitarian.
30. KONGA XXXI dibentuk untuk memelihara citra UNIFIL di mata masyarakat Lebanon.
Indonesia mengirimkan pasukannya sejak tahun 2010.
31. KONGA XXX bertugas sejak bulan Juli 2011 dengan nama Satgas MCOU XXX-
A/UNIFIL.
Wakil Menlu A.M Fachir sempat berkunjung ke Paris pada 14 dan 15 Januari 2017,
dalam rangka
10
merundingkan solusi terkait konflik Palestina-Israel.
Sekarang, Indonesia menawarkan tempat untuk pertemuan antara Korea Utara dan
Amerika Serikat. Tak sampai disitu, masih banyak peran Indonesia untuk berupaya
menciptakan perdamaian negara-negara konflik.
Seperti dikutip dari berbagai sumber, berikut beberapa negara yang berutang
budi padaIndonesia karena berhasil berdamai:
Perdamaian Thailand berawal pada awal periode 1980-an, saat Presiden Filipina Ferdinand
Marcos berusaha mencari dukungan dari negara-negara Timur Tengah dan Indonesia untuk
menyelesaikan konflik dengan Bangsa Moro di Mindanau. Saat itu Moro ingin merdeka
dan memisahkan diri dari Filipina.
Marcos bertemu dengan Soeharto di Jakarta, meminta penyelesaian soal Moro agar tetap menjadi
bagian Filipina. Soeharto menerima permintaan Marcos. Indonesia setuju untuk
mendamaikan konflik dengan syarat Bangsa Moro tetap menjadi bagian dari Filipina.
Langkah perdamaian ini diteruskan oleh pengganti Marcos, Presiden Corazon Aquino.
Tahun
1989, disepakati otonomi daerah istimewa untuk kawasan Muslim Mindanau. Namun hal itu tak
lantas membuat konflik selesai.
23 September 1993, Presiden Fidel Ramos mengunjungi Presiden Soeharto di Jakarta. Kembali
meminta bantuan untuk menyelesaikan konflik di Mindanau.
Indonesia kemudian membawa masalah Mindanau ke Forum Menteri Luar Negeri Negara
Muslim. Dibentuk Komite Enam, dengan Indonesia sebagai ketuanya.
"Indonesia dipilih karena menjadi negara Muslim terbesar, punya kepemimpinan yang kuat
di kawasan ASEAN dan punya pengalaman menengahi konflik di Kamboja." Demikian
ditulis Anak Agung Banyu Perwita dalam buku Indonesia And The Muslim World.
11
Tak mudah menyelesaikan konflik pemerintah Filipina dengan Bangsa Moro. Indonesia
selalu terlibat sebagai fasilitaror. Akhirnya perjanjian damai bisa diteken antara kedua
pihak tahun
1996.
Paparan ini disampaikan oleh pemimpin rapat, Tantowi Yahya. Di paparan itu, Tantowi yang
mewakili komisi satu menggaris bawahi sejumlah pencapaian yang berhasil direngkuh
kemlu, Jakarta, Rabu (17/9/2014) ([Link]/Andrian M Tunay)
Indonesia sebagai ketua ASEAN menggelar Informal ASEAN Foreign Minister's Meeting
(pertemuan informal para Menlu ASEAN) dengan agenda tunggal pembahasan
penyelesaian konflik Thailand dan Kamboja. Konflik kedua negara terjadi di satu kuil
kuno di perbatasan kedua negara yang disengketakan.
Dalam pertemuan itu membahas perdamaian Thailand dan Kamboja. Indonesia sebagai mediator
tercapai ketika Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mampu mendamaikan kedua negara di
PBB pada 14 Februari 2011.
Marty melakukan "shuttle diplomacy" menemui Menlu Kamboja Hor Nam Hong di Phnom Penh
dan Menlu Thailand Kasit Piromya di Bangkok untuk mendapatkan informasi dari pihak
pertama. Bersama-sama dengan Menlu Thailand dan Kamboja, Menlu Marty pun ke New York
untuk memberikan pertimbangan dan masukan mengenai peran ASEAN dalam
menyelesaikan konflik internal di kawasan. Langkah ini terbukti efektif dengan stabilnya
kembali wilayah konflik di perbatasan Thailand dan Kamboja.
12
3) Konflik Kamboja dan Vietnam
Seorang peserta 'Aksi Kita Indonesia' ikut membentangkan Bendera Merah Putih raksasa
di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (4/12). Aksi Kita Indonesia adalah acara perayaan kegembiraan
atas keberagaman dan kebangsaan Indonesia. ([Link]/Fery Pradolo)
Pada tahun 1988 sampai 1989, Indonesia pernah menjadi tuan rumah Jakarta Informal Meeting
(JIM) untuk menyelesaikan konflik antara Kamboja dan Vietnam.
Pada saat itu Indonesia berhasil memfasilitasi dan memediasi kedua negara yang sedang
bermusuhan untuk bisa duduk bersama-sama mendiskusikan dan menyelesaikan konflik diantara
mereka.
Hasilnya, Vietnam menarik pasukannya dari Kamboja dan situasi damai di Kamboja tercipta.
Menteri Luar Negeri RI, Retno Marsudi menemui Menlu Myanmar, Aung San Suu Kyi di ibu
kota Naypyidaw, Senin (4/9). Kedatangan Menlu Retno itu membawa misi dari Presiden Jokowi
guna membicarakan krisis kemanusiaan Rohingya. (Myanmar Foreign Ministry via AP)
Konflik yang masih terjadi hingga menjadi perbincangan luar negeri adalah konflik etnis
Rohingya dengan Myanmar. Banyak yang beranggapan bahwa pemimpin de facto
Myanmar, Aung San Suu Kyi tak banyak berperan dalam menyelesaikan konflik tersebut.
Indonesia turut membantu menyelesaikan masalah ini. Sudah beberapa kali Menteri Luar Negeri
Retno Marsudi mengunjungi Myanmar dan Bangladesh untuk membicarakan
perdamaian Myanmar dengan Rohingya.
Pada 4 September 2017, Menteri Retno mendesak pemerintah dan otoritas keamanan Myanmar
untuk membuka akses masuk bagi pemberian bantuan kemanusiaan untuk mengatasi krisis yang
terjadi di Rakhine State. Salah satu pejabat yang ditemui Menteri Retno adalah Panglima
Angkatan Bersenjata Myanmar, Jenderal Senior U Min Aung Hlaing. Menlu
menyampaikan bahwa penurunan ketegangan di Rakhine State harus menjadi prioritas
pemerintah Myanmar.
13
Menteri Retno juga bertemu dengan Suu Kyi di Myanmar pada 5 September 2017 untuk
membawa amanah dari masyarakat Indonesia dan dunia internasional terkait krisis kemanusiaan
yang dialami muslim Rohingya yang mendapat penyiksaan militer Myanmar.
Menlu Retno menyampaikan usulan Indonesia yang disebut Formula 4+1 untuk mengatasi krisis
kemanusiaan di Myanmar. Pertama, mengembalikan stabilitas dan keamanan. Kedua, agar
militer Myanmar menahan diri dan tidak menggunakan kekerasan.
Ketiga, mendorong pemerintah Myanmar memberikan perlindungan kepada semua orang yang
berada di Rakhine State tanpa memandang suku dan agama. Keempat, membuka akses
untuk bantuan keamanan.
"Elemen utama yang harus segera dilakukan agar krisis kemanusian dan keamanan tidak
semakin memburuk," jelas Retno.
14
BAB III. PENUTUP
[Link]
bahwa Indonesia berpartisipasi dalam terciptanya perdamaian dunia hal ini telah terwujud dalam
penyelesaian konflik yang berhasil diselesaikan Indonesia dalam makalah yang kami tulis
dan Indonesia juga berpartisipasi dalam misi pemeliharaan perdamaian dunia dengan
mengirim kontigen garuda nya ke berbagai Negara,dan juga Indonesia berhasil ditunjuk
menjadi beberapa dewan di PBB (PERSERIKATAN BANGSA BANGSA).
15
DAFTAR PUSTAKA
HTTPS://[Link]/WIKI/PERDAMAIAN_DUNIA
HTTPS://[Link]/INDONESIA/PERAN-INDONESIA-DALAM-MISI-GARUDA
HTTPS://[Link]/WIKI/PERSERIKATAN_BANGSA-BANGSA
Megastri. W. (2016). HUBUNGAN SATU NEGARA DENGAN NEGARA YANG LAIN DALAM
DEMOKRASI MODEREN, 20(29).
Surbakti, K., & Si, M. (2019). KAJIAN MENGENAI PENTINGNYA BASIS DATA BAGI SEKOLAH SAAT INI. JURNAL
CURERE, 2(2).