Kebutuhan Air Bersih Perkotaan
Kebutuhan Air Bersih Perkotaan
Penyediaan air baku didaerah studi direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air baku
meliputi air bersih penduduk (domestik) dan fasilitas umum, dengan demikian maka diperhitu
ngkan dengan mempertimbangkan faktor yang dapat menunjang atau menyebabkan bertam
bahnya kebutuhan air bersih.
Kebutuhan air minum suatu daerah perkotaan dianalisis berdasarkan beberapa pertimbanga
n, yaitu:
a. Jumlah penduduk saat perencanaan sampai dengan akhir tahun perencanaan.
b. Target pelayanan yaitu rasio pelayanan air minum yang diperhitungkan berdasarkan
jumlah penduduk yang akan mendapatkan pelayanan air minum sesuai dengan
anjuran pemerintah.
c. Jenis pelayanan dan satuan kebutuhan air untuk:
Rumah tangga baik sambungan langsung maupun kran umum;
Fasilitas sosial;
Fasilitas perdagangan;
Industri;
Kebutuhan khusus;
d. Karakteristik kebutuhan air suatu daerah yang menggambarkan variasi kebutuhan air
harian yaitu kebutuhan rata-rata dan kebutuhan puncak.
e. Jumlah air yang hilang
Dari pertimbangan diatas terlihat bahwa kependudukan merupakan faktor penting
dalam penentuan kebijakan penyediaan prasarana perkotaan termasuk pembuatan
prakiraan kebutuhan air [Link] kependudukan yang harus dicermati meliputi
jumlah, kepadatan, laju pertambahan dan [Link] penduduk akan menentukan
jumlah kebutuhan air yang harus [Link] kepadatan penduduk memberikan indikasi
perlunya sistem perpipaan diterapkan pada daerah yang bersangkutan.
Hal ini mengingat bahwa meningkatnya kepadatan penduduk akan meningkatkan kompleksit
as permasalahan termasuk permasalahan air minum. Perencanaan kebutuhan air yang mem
enuhi syarat tentunya harus dapat digunakan untuk dapat melayani seluruh warga masyarak
at dimulai saat perencanaan sampai suatu kurun waktu tertentu. Untuk itu maka informasi te
ntang laju pertumbuhan penduduk sangat diperlukan dalam perencanaan prasarana air minu
m. Terakhir keadaan sebaran penduduk perlu pula diketahui menentukan penentuan sistem j
aringan yang akan digunakan baik yang menyangkut sistem jaringan maupun dalam sistem
distribusinya.
Berkaitan dengan target pelayanan, maka penyediaan prasarana air minum selain untu
k memenuhi kebutuhan domestik atau kebutuhan rumah tangga bagi warga masyarakat baik
melalui sambungan langsung maupun melalui kran umum, juga diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan air pada berbagai fasilitas perkotaan seperti fasilitas umum, fasilitas bisnis/perdag
angan maupun untuk memenuhi kebutuhan industri dan kebutuhan khusus.
Dalam menentukan daerah pelayanan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
Mengingat bahwa prasarana penyediaan air minum harus dapat melayani sejak
perencanaan hingga suatu kurun waktu tertentu, maka perencanaannya harus
mengacu pada skenario perkembangan kota yang telah dibuat. Rencana
pengembangan daerah perkotaan dan rencana tata guna tanah yang mana daerah
pengembangan tersebut akan termasuk dalam daerah pelayanan.
Kepadatan penduduk, merupakan faktor penting yang mempengaruhi
[Link]-daerah dimana kepadatan penduduk kecil dibandingkan dengan
biaya pemasangan pipa distribusi biasanya tidak dimasukkan ke dalam daerah
pelayanan dipandang dari sudut keuangan pengadaan air.
Konstruksi jalan-jalan umum, konstruksi atau pelebaran jalan akan mempengaruhi
pengembangan komersil, pengembangan daerah perumahan dan bentuk-bentuk
lainnya dari pengembangan daerah perkotaan sehingga rencana daerah pelayanan
akan dibuat berdasarkan rencana konstruksi jalan-jalan tersebut.
Tidak semua penggunaan yang terdapat didaerah pelayanan akandilayani dengan air minum
Hal ini terjadi karena tidak semua penduduk yang bersedia memberikan kompensasi biaya t
erhadap pelayanan air minum yang [Link] ini berhubungan dengan pemasangan sam
bungan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah akan keberatan karena menyangkut
biaya/retribusi sehingga mereka akan mengambil dari sumur-sumur dangkal dan bagi masya
rakat yang air tanahnya tidak baik akan menggunakan air dari kran-kran umum yang tersedia.
Kriteria perencanaan teknis yang akan digunakan menyangkut proyeksi kebutuhan air bersih
adalah Kebutuhan Domestik dan Kebutuhan Non Domestik:
4.1.1 KEBUTUHAN DOMESTIK
Untuk menentukan kebutuhan air minum di suatu daerah/kawasan, maka diperluk
an data minum (standar) pemakaian air yang dapat diterapkan untuk kota yang bersangk
utan. Untuk menentukan data minum tersebut dapat dipertimbangkan beberapa standar yan
g ada sebagai acuan, diantaranya, yaitu:
- Kebutuhan air Minum berdasarkan kategori kota yang dikeluarkan oleh PU Cipta Karya
Direktorat Air minum.
- Standar pemakaian air Minum yang dikeluarkan oleh PU Cipta Karya Direktorat Air
minum.
Untuk kategori dan tingkat pelayanan tersebut, Pemerintah Indonesia telah menyusu
n program pelayanan air minum sesuai dengan katagori daerah yang dikelompokkan berdas
arkan jumlah penduduk. Pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. 1 Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota
Kategori Kota Jumlah Sistem Tingkat
No Penduduk Pemakaian Air
3 Puskesmas 3
(0,5 - 1) m /unit/hari
4 Peribadatan 3
(0,5 - 2) m /unit/hari
5 Kantor 3
(1 - 2) m /unit/hari
6 Toko 3
(1 - 2) m /unit/hari
7 Rumah Makan 3
1 m /unit/hari
8 Hotel/Losmen 3
(100 - 150) m /unit/hari
9 Pasar 3
(6 - 12) m /unit/hari
10 Industri 3
(0,5 - 2) m /unit/hari
11 Pelabuhan/Terminal 3
(10 - 20) m /unit/hari
12 SPBU 3
(5 - 20) m /unit/hari
13 Pertamanan 3
25 m /unit/hari
Sumber: SK-SNI Air minum
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam analisa kebutuhan prasarana air minum ini ada
lah hasil survey nyata di lapangan. Berdasarkan survey yang dilakukan di beberapa kecamat
an di Kota Dumai, masyarakat sangat mengharapkan adanya prasarana air minum untuk me
menuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan Buku Panduan Pengembangan Air Minum Dirjen Cipta Karya Departem
en Pekerjaan Umum tahun 2007, perincian kebutuhan air minum adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan domestik
2. Kriteria yang digunakan:
Lihat hasil survey prasarana
Pemakaian air untuk SR = 120 lt/org/hari
Pemakaian untuk HU/TA= 60 lt/org/hari
3. Kebutuhan non domestik
4. Kebutuhan industri dengan kriteria pemakaian air = 0,1-0,3 lt/ha/hr
5. Kebutuhan niaga dengan kriteria pemakaian air = 900 lt/niaga/hr (niaga kecil) dan 5000 l
t/niaga/hr (niaga besar).
6. Kebutuhan fasilitas umum (pendidikan, kantor pemerintahan, dsb) dengan kriteria pema
kaian air = 10-15 % dari kebutuhan domestik.
7. Prediksi dilakukan 15-20 tahun ke depan sesuai dengan Rencana Induk SPAM.
8. Kriteria pemakaian air untuk hari maksimum = 1,15 pemakaian hari rata-rata.
9. Pemakaian air untuk jam puncak = 1,5-1,7 pemakaian hari maksimum.
10. Kebutuhan hotel = 3 m3/kamar/hr.
C. Pelaksanaan Survey
Berdasarkan keberadaannya sumber air baku dibedakan atas mata air, air tanah, air p
ermukaan, dan air hujan. Materi survey air baku dapat dilihat pada tabel berikut:
1. Pelaksanaan Survey Mata Air
a) Cari informasi dari masyarakat setempat tentang lokasi sumber, fluktuasi, pemunc
ulan, serta pemanfaatan mata air tesebut
b) Pastikan sumber mata air yang akan disurvey
c) Ukur ketinggian sumber mata air dari daerah pelayanan dengan menggunakan theodo
lit, kompas dan dinometer atau altimeter;
d) Ukur debit mata air;
e) Ambil sampel air sesuai dengan SNI 06-2412-1991 tentang Metode Pengambilan Co
ntoh Uji Kualitas Air
f) Uji kualitas air untuk parameter fisik, yaitu untuk parameter:
Temperatur, sesuai dengan SNI 19-1141-1989 tentang Cara Uji Suhu
Rasa, sesuai dengan SNI 03-6859-2002 tentang Metode Pengujian Angka Rasa
Dalam Air
Bau, sesuai dengan SNI 03-6860-2002 tentang Metode Pengujian Angka Bau dal
am Air
Derajat keasaman, sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Penguji
an Kualitas Fisika Air
Daya Hantar Listrik (DHL), sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode
Pengujian Kualitas Fisika Air
Warna, sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Pengujian Kualitas F
isika Air
Kekeruhan, sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Pengujian Kualit
as Fisika
g) Ukur jarak sumber mata air ke daerah pelayanan dengan pita ukur atau roda ukur
h) Gambar sketsa mata air dan sekitarnya secar horizontal dan dilengkapi dengan ukura
n dan skala
i) Buat sketsa penampang sumber maat air dan daerah sekitarnya
j) Catat kondisi dan pemanfaatan lahan di lokasi sumber mata air
k) Tentukan jenis mata air berdasarkan cara pemunculannya di permukaan tanah
l) Tentukan jenis batuan yang menyusun daerah sekitar mata air
m) Ambil contoh air untuk diperiksa di laboratorium, lengkapi dengan data lokasi, nomor
contoh dan waktu pengambilan yang ditulis pada label dan ditempel pada tempat cont
oh air
Tabel 4. 3 Data untuk Survey Air Baku
Sumber Air
No Data yang diperlukan Keterangan
Baku
1 Mata Air Lokasi dan Ketinggian Sumber layak dipilih
Kualitas air (visual dan pemeriksaan jika tidak ada konflik
laboratorium) kepentingan
Kuantitas dan kontinuitas air (hasil (musyawarah)
pengamatan dan pengukuran pada musim Kualitas dan kuantitas
kemarau) memenuhi ketentuan
Peruntukan saat ini yang berlaku
Kepemilikan lahan di sekitar mata air
Jarak ke daerah pelayanan
Hal-hal yang mempengaruhi kualitas
Jalan masuk ke mata air
BAU Bau Tanah Kemungkinan dengan saringa Dapat dipakai jika perc
n karbon aktif obaan pengolahan ber
hasil
Rasa tanah tanpa kek Saringan karbon aktif Mungkin bisa dipakai d
eruhan engan pengolahan
Kekeruhan Kekeruhan sedang, c Saringan pasir lambat Bisa dipakai bila denga
oklat dari lumpur n pengolahan
Kekeruhan tinggi, cok Pembubuhan PAC + Saringan Bisa dipakai bila denga
lat dari lumpur pasir lambat n pengolahan, dengan
biaya relatif besar
Agak kuning sesudah Aerasi + Saringan pasir lamba Dapat dipakai jika perc
air sebentar di ember t, atau Aerasi + Saringan karb obaan pengolahan ber
on aktif hasil
dengan pengertian :
P = daya pompa (tenaga kuda)
Q = debit (m3/detik)
w = densitas atau kepadatan (density) (kg/cm3) H = total tekanan (m)
η = efisiensi pompa ( 60 %–75 %)
HP = daya kuda (horse power)
Pipa Transmisi
1. Jalur Pipa
Perencanaan jalur pipa transmisi harus memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut:
a. Jalur pipa sependek mungkin;
b. Menghindari jalur yang mengakibatkan konstruksi sulit dan mahal;
c. Tinggi hidrolis pipa minimum 5 m diatas pipa, sehingga cukup menjamin operasi
air valve;
d. Menghindari perbedaan elevasi yang terlalu besar sehingga tidak ada perbedaan
kelas pipa.
2. Dimensi Pipa
Penentuan dimensi pipa harus memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut :
a. Pipa harus direncanakan untuk mengalirkan debit maksimum harian
b. Kehilangan tekanan dalam pipa tidak lebih air 30% dari total tekanan statis (head s
tatis) pada sistem transmisi dengan pemompaan. Untuk sistem gravitasi, kehilanga
n tekanan maksimum 5 m/1000 m atau sesuai dengan spesifikasi teknis pipa.
3. Bahan pipa
Pemilihan bahan pipa harus memenuhi persyaratan teknis dalam SNI, antara lain:
a. Spesifikasi pipa PVC mengikuti standar SNI 03-6419-2000 tentang Spesifikasi
b. Pipa PVC bertekanan berdiameter 110-315 mm untuk Air minum dan SK SNI S-
c. 20-1990-2003 tentang Spesifikasi Pipa PVC untuk Air Minum.
d. SNI 06-4829-2005 tentang Pipa Polietilena Untuk Air Minum;
e. Standar BS 1387-67 untuk pipa baja kelas medium.
f. Fabrikasi pipa baja harus sesuai dengan AWWA C 200 atau SNI-07-0822-1989
atau SII 2527-90 atau JIS G 3452 dan JIS G 3457.
g. Standar untuk pipa ductile menggunakan standar dari ISO 2531 dan BS 4772.
Persyaratan bahan pipa lainnya dapat menggunakan standar nasional maupun internas
ional lainnya yang berlaku.
4. Data yang diperlukan
Data yang diperlukan untuk rancangan teknik pipa transmisi air minum dan perlengkap
annya adalah:
a. Hasil survei dan pengkajian potensi dan kebutuhan air minum
b. Hasil survei dan pengkajian topografi berupa:
Peta situasi rencana jalur pipa transmisi skala 1:1.000
Potongan memanjang rencana jalur pipa transmisi skala vertikal 1:100,
horizontal 1:1.000
Potongan melintang rencana jalur pipa transmisi skala 1:100
Peta situasi rencana lokasi bangunan perlintasan skala 1:100 dengan interval:
1 ketinggian 1 m
[Link].2.3UNIT PRODUKSI
Reservoir adalah bangunan penampung air minum. Reservoir terbagi menjadi be
berapa macam, antara lain :
a. Reservoir Distribusi
Bangunan penampung air minum dari instalasi pengolah air minum atau mata air u
ntuk kemudian didistribusikan ke daerah pelayanan.
b. Reservoir Penyeimbang (Balancing Reservoir)
Reservoir yang menampung kelebihan air pada saat pemakaian oleh konsumen yang l
ebih kecil daripada air yang masuk untuk kemudian didistribusikan lagi.
c. Reservoir Bawah Tanah (Ground Reservoir)
Reservoir yang ditempatkan di permukaan tanah, baik yang bawah tanah atau muncul
sebagian ataupun di atas muka tanah.
d. Menara Air (Elevated Reservoir)
Reservoir yang ditempatkan di atas suatu bangunan dengan ketinggian tertentu dari pe
rmukaan tanah.
2. Reservoir distribusi i.
Menyiapkan cadangan air untuk dialirkan ke
Pelayanan konsumen
B Perpipaan
.
1. Pipa inlet Merupakan saluran yang masuk ke reservoir
yang berfungsi untuk mengalirkan air dari instal
asi pengolahan air ke reservoir.
2. Pipa outlet Untuk mengalirkan air dari reservoir ke jaringan
distribusi.
7. Pipa hisap pompa Untuk mengalirkan air dari reservoir pompa untuk
kemudian ke daerah pelayanan
4. Mistar ukur atau Untuk mengetahui tinggi muka air pada reservoir
penduga tinggi air
Sumber : NSPM Kimpraswil, Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Sistem Penyediaan Air Minum Pe
rkotaan Bag. 6 Vol II dan III, 2002
Kinerja reservoir ditentukan oleh sistem pengaliran pada reservoir tersebut. Syarat t
eknis pengaliran yang berkaitan dengan reservoir adalah :
1. Sistem pengaliran air masuk disesuaikan dengan rencana sistem pengaliran air pada ja
ringan transmisi;
2. Sistem pengaliran air ke luar disesuaikan dengan rencana sistem pengaliran air pada ja
ringan distribusi;
3. Aliran air dalam reservoir diusahakan setenang mungkin, tidak ada turbulensi yaitu den
gan cara memperpanjang jarak aliran dalam reservoir. Biasanya letak masukan terhada
p keluaran dibuat menyilang tidak sejajar sehingga didapat jarak aliran yang lebih panja
ng.
Tahapan perencanaan reservoir adalah sebagai berikut :
1. Menentukan Kapasitas Efektif Reservoir Distribusi.
a. Kapasitas efektif reservoir distribusi ditentukan oleh :
Periode operasi reservoir
Fluktuasi pemakaian air oleh konsumen
Fluktuasi pengaliran air ke reservoir
Kapasitas air untuk pemadam kebakaran (Khusus untuk kota besar atau sedan
g yang menyediakan sistem pemadam kebakaran kota dengan membuat Hidra
n Kebakaran)
Kapasitas air untuk pemeliharaan IPA (Khusus untuk reservoir distribusi yang
merupakan bagian reservoir penampung air minum dari IPA).
b. Periode Perencanaan
Periode perencanaan reservoir biasanya disesuaikan dengan periode perencanaa
n pengembangan sistem penyediaan air minum secara keseluruhan. Periode pere
ncanaan sistem penyediaan air minum ditentukan pada tahapan Rencana Induk
atau Studi Kelayakan.
c. Fluktuasi Pemakaian Air
Fluktuasi pemakaian air adalah perbedaan/variasi pemakaian air dalam satu satua
n waktu (biasanya dalam satuan jam) dalam satu hari. Fluktuasi pemakaian air ini t
ergantung dari :
Jenis/ragam konsumen
Misalnya fluktuasi pemakaian air untuk rumah tangga akan berbeda dengan flu
ktuasi pemakaian air untuk industri
Makin beragam konsumen, fluktuasi pemakaian air semakin kecil
Jumlah konsumen
Makin banyak konsumen maka fluktuasi pemakaian air makin kecil.
Tabel 4. 14 Faktor Pengali (Load Factor) terhadap Kebutuhan Air Minum
Jam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Load F 0,3 0,7 0,45 0,64 1,15 1,4 1,53 1,56 1,41 1,38 1,27 1,2
actor
Jam 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24
Load F 1,14 1,17 1,18 1,22 1,31 1,38 1,25 0,98 0,62 0,45 0,37 0,25
actor
Gambar 4. 2 Grafik Suplai dan Pemakaian Air Setiap Jam
Gambar di atas memperlihatkan contoh fluktuasi pemakaian air dalam satu hari, yang
memperlihatkan :
Grafik fluktuasi pemakaian air
Pemakaian air pada jam puncak
Pemakaian air minimum
Pemakaian air rata-rata
Jumlah air yang masuk ke reservoir
Jumlah air yang keluar dari reservoir.
Fluktuasi Pengaliran Air ke Reservoir
Fluktuasi pengaliran air ke reservoir akan mempengaruhi volume reservoir yang dibutu
hkan. Debit pengaliran air ke reservoir yang konstan akan membutuhkan volume reserv
oir yang lebih kecil dibandingkan dengan debit pengaliran yang tidak konstan. Flukt
uasi pengaliran air kereservoir distribusi tergantung pada variasi pengaliran air dari sistem
transmisi air minum.
2. Pada umumnya kapasitas efektif reservoir distribusi dihitung dengan menggunakan :
a. Grafik fluktuasi pemakaian air (secara grafis).
Menyiapkan grafis fluktuasi pemakaian air kumulatif, yaitu grafis jumlah p
emakaian air kumulatif, yaitu grafis jumlah pemakaian air setiap periode wa
ktu tertentu yang dihitung dari awal waktu.
Menyiapkan grafis fluktuasi penga liran air kumulatif dari sistem transmisi
air minum, yaitu grafik jumlah pengaliran air ke reservoir setiap periode waktu
tertentu yang dihitung dari awal waktu.
Menggabungkan kedua grafik di atas pada satu bidang lembar kerja sehingga t
erlihat selisih t er besar a ntara p eng alir a n (suplai) da n pemakaian.
Volume efektif reservoir adalah jumlah antara selisih terbesar pada saat pengal
iran lebih besar dari pemakaian dengan selisih terbesar pada saat pengaliran l
ebih kecil dari pemakaian.
b. Sistem tabulasi dari fluktuasi pemakaian air (secara tabulasi).
Membuat tabulasi fluktuasi pemakaian air kumulatif.
Membuat tabulasi fluktuasi pengaliran air kumulatif dari sistem transmisi
air minum.
Membuat tabulasi selisih antara pengaliran (suplai) air kumulatif dengan
pemakaian air kumulatif.
Bila pemakaian lebih kecil dari pengaliran, selisih diberi tanda positif (+)
dan bila pemakaian lebih besar dari suplai, selisih diberi tanda negatif (-).
Volume efektif reservoir adalah jumlah selisih positif dan selisih negatif y
ang terbesar.
c. Prosentase tertentu dari pemakaian air dalam satu hari (standarisasi).
Penentuan kapasitas dengan presentase sangat tergantung pada kebiasa
an daerah/kota yang bersangkutan, karena itu harus berdasarkan pengal
aman.
Bila harus disediakan air untuk sistem pemadam kebakaran kota, maka k
apasitas efektif air reservoir harus ditambah dengan kebutuhan air untuk
pemadam kebakaran tersebut.
Bila reservoir distribusi terletak dalam lokasi Instalasi Pengolahan Air ter
masuk sebagai reservoir pengumpul air produksi, maka kapasitas efektif
air reservoir harus ditambah dengan kebutuhan air untuk pemeliharaan I
PA.
Sistem tabulasi dari fluktuasi pemakaian air (secara tabulasi).
Membuat tabulasi fluktuasi pemakaian air kumulatif.
Membuat tabulasi fluktuasi pengaliran air kumulatif dari sistem transmisi
air minum.
Membuat tabulasi selisih antara pengaliran (suplai) air kumulatif dengan
pemakaian air kumulatif.
Bila pemakaian lebih kecil dari pengaliran, selisih diberi tanda positif (+)
dan bila pemakaian lebih besar dari suplai, selisih diberi tanda negatif (-).
Volume efektif reservoir adalah jumlah selisih positif dan selisih negatif y
ang terbesar.
Prosentase tertentu dari pemakaian air dalam satu hari (standarisasi).
Penentuan kapasitas dengan presentase sangat tergantung pada kebiasa
an daerah/kota yang bersangkutan, karena itu harus berdasarkan pengal
aman.
Bila harus disediakan air untuk sistem pemadam k eba ka ra n k o ta , m
a ka k apa s itas e fek tif a ir reservoir harus ditambah dengan kebutuhan
air untuk pemadam kebakaran tersebut.
Bila reservoir distribusi terletak dalam lokasi Instalasi Pengolahan A ir ter
masuk sebaga i r eservoi r pengumpul air pr oduksi, m aka kapasitas efe
ktif air reservoir harus ditambah dengan kebutuhan air untuk pemeliharaa
n IPA.
3. Penentuan kriteria perencanaan
Kriteria perencanaan yang diperlukan tahap ini antara lain :
Tinggi air dalam reservoir
Tinggi bebas (free board)
Perlengkapan reservoir
4. Pemilihan bentuk dan perhitungan dimensi reservoir
D a la m m em ilih b e n tu k re s e rv o ir p e r lu d ip e rh itu n g k a n hal-hal sepert
i berikut ini:
1) Kemudahan dalam pelaksanaan.
2) Pilihan dari segi estetika.
3) Kemudahan dalam pembagian ruang/kompartemen.
Setelah diketahui kapasitas efektif reservoir yang diperlukan, kemudian dihitung dimensi
reservoir yang direncanakan.
Dalam menghitung dimensi reservoir ini perlu diperhatikan:
1) Bentuk reservoir yang direncanakan.
2) Tinggi air dan tinggi bebas dalam reservoir sesuai dengan kriteria perencanaan
yang digunakan.
3) Ruang untuk perpipaan.
4) Ruang pompa (bila ada).
a. Pra rencana lokasi
Dalam perencanaan, lokasi reservoir ini sudah dipertimbangkan:
Lokasi sedekat mungkin dengan daerah pelayanan, agar pipa induk
distribusi sependek mungkin.
Diusahakan pada lokasi yang relatif tinggi, sehingga pengaliran dapat
dilakukan sceara gravitasi dan memenuhi kriteria sisa tekan pada konsumen
terjauh.
Luas lahan diperkirakan m emadai, baik untuk reserv oir maupun untuk
bangunan penunjang. Dalam luas lahan ini juga p e r lu d ip e r t im b a n g k a
n k e b u tu h a n la h a n u n tu k pengembangan yang akan datang.
Mengutamakan lahan yang sudah bebas
b. Pemilihan jenis reservoir yang digunakan
Terdapat dua jenis reservoir yaitu groud reservoir dan menara reservoir.
Gambar 4. 3 Penggunaan Reservoir pada Sistem Jaringan Distribusi Air Minum
Gambar 4. 4 Contoh penempatan pipa inlet, outlet dan bypass pada reservoir
Pipa Distribusi
1) Denah (Lay-out) Jaringan Pipa Distribusi
Perencanaan denah (lay-out) jaringan pipa distribusi ditentukan berdasarkan per
timbangan :
a. Situasi jaringan jalan di wilayah pelayanan; jalan-jalan yang tidak saling
menyambung dapat menggunakan sistem cabang. Jalan-jalan yang saling
berhubungan membentuk jalur jalan melingkar atau tertutup, cocok untuk
sistem tertutup, kecuali bila konsumen jarang.
b. Kepadatan konsumen; makin jarang konsumen lebih baik dipilih denah (lay-
out) pipa berbentuk cabang
c. Keadaan topografi dan batas alam wilayah pelayanan
d. Tata guna lahan wilayah pelayanan
2) Komponen Jaringan Distribusi
Jaringan pipa distribusi harus terdiri dari beberapa komponen untuk memudahka
n pengendalian kehilangan air.
a. Zona distribusi suatu sistem penyediaan air minum adalah suatu area
pelayanan dalam wilayah pelayanan air minum yang dibatasi oleh pipa
jaringan distribusi utama (distribusi primer).
Pembentukan zona distribusi didasarkan pada batas alam (sungai, lembah,
atau perbukitan) atau perbedaan tinggi lebih besar dari 40 meter antara zon
a pelayanan dimana masyarakat terkonsentrasi atau batas administrasi. Pe
mbentukan zona distribusi dimaksudkan untuk memastikan dan menjaga tek
anan minimum yang relatif sama pada setiap zona. Setiap zona distribusi da
lam sebuah wilayah pelayanan yang terdiri dari beberapa Sel Utama (biasan
ya 5-6 sel utama) dilengkapi dengan sebuah meter induk
b. Jaringan Distribusi Utama (JDU) atau distribusi primer yaitu rangkaian pipa
distribusi yang membentuk zona distribusi dalam suatu wilayah pelayanan
SPAM.
c. Jaringan distribusi pembawa atau distribusi sekunder adalah jalur pipa yang
menghubungkan antara JDU dengan Sel Utama.
d. Jaringan distribusi pembagi atau distribusi tersier adalah rangkaian pipa
yang membentuk jaringan tertutup Sel Utama.
e. Pipa pelayanan adalah pipa yang menghubungkan antara jaringan distribusi
pembagi dengan Sambungan Rumah. Pendistribusian air minum dari pipa
pelayanan dilakukan melalui Clamp Sadle.
f. Sel utama (Primary Cell) adalah suatu area pelayanan dalam sebuah zona
distribusi dan dibatasi oleh jaringan distribusi pembagi (distribusi tersier)
yang membentuk suatu jaringan tertutup. Setiap sel utama akan membentuk
beberapa Sel Dasar dengan jumlah sekitar 5-10 sel dasar. Sel utama
biasanya dibentuk bila jumlah sambungan rumah (SR) sekitar 10.000 SR
g. Sel dasar (Elementary Zone) adalah suatu area pelayanan dalam sebuah
sel utama dan dibatasi oleh pipa pelayanan. Sel dasar adalah rangkaian
pipa yang membentuk jaringan tertutup dan biasanya dibentuk bila jumlah
sambungan rumah SR mencapai 1.000-2.000 SR. Setiap sel dasar dalam
sebuah Sel Utama dilengkapi dengan sebuah Meter Distrik.
3) Bahan Pipa
Pemilihan bahan pipa bergantung pada pendanaan atau investasi yang tersedia.
Hal yang terpenting adalah harus dilaksanakannya uji pipa yang terwakili untuk
menguji mutu pipa tersebut. Tata cara pengambilan contoh uji pipa yang dapat
mewakili tersebut harus memenuhi persyaratan teknis dalam SNI 06-2552-1991
tentang Metode Pengambilan Contoh Uji Pipa PVC Untuk Air Minum, atau stand
ar lain yang berlaku.
4) Diameter Pipa Distribusi
Ukuran diameter pipa distribusi ditentukan berdasarkan aliran pada jam puncak
dengan sisa tekan minimum di jalur distribusi, pada saat terjadi kebakaran jaring
an pipa mampu mengalirkan air untuk kebutuhan maksimum harian dan tiga bua
h hidran kebakaran masing-masing berkapasitas 250 gpm dengan jarak antara h
idran maksimum 300 m.
Faktor jam puncak terhadap debit rata-rata tergantung pada jumlah penduduk
wilayah terlayani sebagai pendekatan perencanaan dapat digunakan tabel 4.15
Ukuran diameter pipa distribusi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 17 Diameter Pipa Distribusi
Faktor Pipa Distribusi Ut Pipa Distribusi P Pipa Distribusi P Pipa Pelayanan
ama embawa embagi
Analisis jaringan pipa distribusi antara lain memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Jika jaringan pipa tidak lebih dari empat loop, perhitungan dengan metoda hardy- cross
masih diijinkan secara manual. Jika lebih dari empat loop harus dianalisis dengan
bantuan program komputer.
2. Perhitungan kehilangan tekanan dalam pipa dapat dihitung dengan rumus Hazen
Williams: Hf = 10,66-1,85 D-4,87 L
Kecepatan aliran dengan rumus: V = 0,38464 C.D 0,63 I 0,54
Debit aliran dihitung dengan rumus: Q = 0,27853 C.D 2,63 I 0,54
Dimana:
Q = debit air dalam pipa (m³/detik) C = koefisien kekasaran pipa
D = diameter pipa (m)
S = slope/kemiringan hidrolis Ah = kehilangan tekanan (m) L = panjang pipa (m)
V = kecepatan aliran dalam pipa (m/detik)
A = luas penampang pipa (m³)
Pompa Distribusi
Debit pompa distribusi ditentukan berdasarkan fluktuasi pemakaian air dalam satu ha
ri. Pompa harus mampu mensuplai debit air saat jam puncak dimana pompa besar bekerja d
an saat pemakaian minimum pompa kecil yang bekerja. Debit pompa besar ditentukan sebe
sar 50% dari debit jam puncak. Pompa kecil sebesar 25% dari debit jam puncak. Ketentuan j
umlah dan ukuran pompa distribusi sesuai dengan Tabel 4.18.
Kecil : 1 1
e. Pompa cadangan
Pompa cadangan diperlukan untuk mengatasi suplai air saat terjadi perawatan dan perb
aikan pompa. Pemasangan beberapa pompa sangat ekonomis, dimana pada saat jam p
uncak semua pompa bekerja, dan apabila salah satu pompa tidak dapat berfungsi, mak
a kekurangan suplai air ke daerah pelayanan tidak terlalu banyak.
f. Peningkatan stasiun pompa yang sudah ada
Peningkatan stasiun pompa eksisting dapat ditingkatkan dengan penambahan jumlah p
ompa, memperbesar ukuran pendorong (impeler) pompa atau mengganti pompa lama d
engan pompa baru. Setiap alternatif tersebut harus dievaluasi dalam perancangan tekni
k perpompaan. Gejala pukulan air (water hammer) yang umum terjadi pada sistem distri
busi adalah sebagai berikut:
1) Pada pipa yang dihubungkan dengan pompa. Pemilihan metoda pencegahan
pukulan air (water hammer) harus berdasarkan ketentuan variabel dalam Tabel
4.19.
2) Pada jalur pipa transmisi distribusi yang memungkinkan terjadi tekanan negatif dan
tekanan uap air lebih besar akan menyebabkan terjadi penguapan dan terjadi
pemisahan dua kolom zat cair. Bagian yang berisi uap ini karena bertekanan
rendah akan terisi kembali sehingga dua kolom zat cair yang terpisah akan
menyatu kembali secara saling membentur, maka di tempat benturan ini pipa dapat
pecah. Pada jalur pipa yang paling tinggi harus dilengkapi dengan katup udara (air
valve), sehingga udara dari atmosfir dapat terisap masuk pipa. Penggunaan katup
ini tidak akan menimbulkan masalah jika udara yang terisap dapat dikeluarkan
kembali oleh air di sebelah hilir katup.
4.2.5 UNIT PELAYANAN
Unit Pelayanan terdiri dari sambungan rumah, hidran/kran umum, terminal air, hidran
kebakaran dan meter air.
1. Sambungan Rumah
Yang dimaksud dengan pipa sambungan rumah adalah pipa dan perlengkapannya, dim
ulai dari titik penyadapan sampai dengan meter air. Fungsi utama dari sambungan ruma
h adalah:
Mengalirkan air dari pipa distribusi ke rumah konsumen
Untuk mengetahui jmlah air yang dialirkan ke konsumen
Perlengkapan minimal yang harus ada pada sambungan rumah adalah:
Bagian penyadapan pipa;
Meter air dan pelindung meter air atau flowrestrictor;
Katup pembuka/penutup aliran air;
Pipa dan perlengkapannya
2. Hidran/Kran Umum
Pelayanan Kran Umum (KU) meliputi pekerjaan perpipaan dan pemasangan meteran air
berikut konstruksi sipil yang diperlukan sesuai gambar rencana. KU menggunakan pipa
pelayanan dengan diameter ¾”–1” dan meteran air berukuran ¾”. Panjang pipa pelayan
an sampai meteran air disesuaikan dengan situasi di lapangan/pelanggan. Konstruksi si
pil dalam instalasi sambungan pelayanan merupakan pekerjaan sipil yang sederhana m
eliputi pembuatan bantalan beton, meteran air, penyediaan kotak pengaman dan batang
penyangga meteran air dari plat baja beserta anak kuncinya, pekerjaan pemasangan, pl
esteran dan lain-lain sesuai gambar rencana. Instalasi KU dibuat sesuai gambar rencan
a dengan ketentuan sebagai berikut:
Lokasi penempatan KU harus disetujui oleh pemilik tanah
Saluran pembuangan air bekas harus dibuat sampai mencapai saluran air
kotor/selokan terdekat yang ada
KU dilengkapi dengan meter air diameter ¾”
3. Hidran Kebakaran
Hidran kebakaran adalah suatu hidran atau sambungan keluar yang disediakan untuk m
engambil air dari pipa air minum untuk keperluan pemadam kebakaran atau pengurasan
pipa. Unit hidran kebakaran (fire hydrant) pada umumnya dipasang pada setiap interval j
arak 300 m, atau tergantung kepada kondisi daerah/peruntukan dan kepadatan bangun
annya.
Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi 2, yaitu:
Tabung basah, mempunyai katup operasi diujung air keluar darikran kebakaran.
Dalam keadaaan tidak terpakai hidran jenis ini selalu terisi air.
Tabung kering, mempunyai katup operasi terpisah dari hidran. Dengan menutup
katup ini maka pada saat tidak dipergunakan hidran ini tidak berisi air.
Pada umumnya hidran kebakaran terdiri dari empat bagian utama,yaitu:
Bagian yang menghubungkan pipa distribusi dengan hidran kebakaran
Badan hidran
Kepala hidran
Katup hidran
Tabel 4. 19 Matriks Kriteria Utama Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SPAM untuk Berbaga
i Klasifikasi Kota
Jenis Kota
No Kriteria Teknis
Metro Besar Sedang Kecil