0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
129 tayangan46 halaman

Kebutuhan Air Bersih Perkotaan

Dokumen ini membahas tentang standar kebutuhan air untuk memenuhi kebutuhan domestik dan non domestik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan air antara lain jumlah penduduk, target pelayanan, jenis pelayanan, karakteristik kebutuhan harian dan tahunan, serta jumlah air yang hilang. Kebutuhan domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan standar pemakaian air per kapita. Kebutuhan non domestik mel

Diunggah oleh

rina ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
129 tayangan46 halaman

Kebutuhan Air Bersih Perkotaan

Dokumen ini membahas tentang standar kebutuhan air untuk memenuhi kebutuhan domestik dan non domestik. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan air antara lain jumlah penduduk, target pelayanan, jenis pelayanan, karakteristik kebutuhan harian dan tahunan, serta jumlah air yang hilang. Kebutuhan domestik dihitung berdasarkan jumlah penduduk dan standar pemakaian air per kapita. Kebutuhan non domestik mel

Diunggah oleh

rina ayu
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

STANDAR KEBUTUHAN AIR

Penyediaan air baku didaerah studi direncanakan untuk memenuhi kebutuhan air baku
meliputi air bersih penduduk (domestik) dan fasilitas umum, dengan demikian maka diperhitu
ngkan dengan mempertimbangkan faktor yang dapat menunjang atau menyebabkan bertam
bahnya kebutuhan air bersih.
Kebutuhan air minum suatu daerah perkotaan dianalisis berdasarkan beberapa pertimbanga
n, yaitu:
a. Jumlah penduduk saat perencanaan sampai dengan akhir tahun perencanaan.
b. Target pelayanan yaitu rasio pelayanan air minum yang diperhitungkan berdasarkan
jumlah penduduk yang akan mendapatkan pelayanan air minum sesuai dengan
anjuran pemerintah.
c. Jenis pelayanan dan satuan kebutuhan air untuk:
 Rumah tangga baik sambungan langsung maupun kran umum;
 Fasilitas sosial;
 Fasilitas perdagangan;
 Industri;
 Kebutuhan khusus;
d. Karakteristik kebutuhan air suatu daerah yang menggambarkan variasi kebutuhan air
harian yaitu kebutuhan rata-rata dan kebutuhan puncak.
e. Jumlah air yang hilang
Dari pertimbangan diatas terlihat bahwa kependudukan merupakan faktor penting
dalam penentuan kebijakan penyediaan prasarana perkotaan termasuk pembuatan
prakiraan kebutuhan air [Link] kependudukan yang harus dicermati meliputi
jumlah, kepadatan, laju pertambahan dan [Link] penduduk akan menentukan
jumlah kebutuhan air yang harus [Link] kepadatan penduduk memberikan indikasi
perlunya sistem perpipaan diterapkan pada daerah yang bersangkutan.
Hal ini mengingat bahwa meningkatnya kepadatan penduduk akan meningkatkan kompleksit
as permasalahan termasuk permasalahan air minum. Perencanaan kebutuhan air yang mem
enuhi syarat tentunya harus dapat digunakan untuk dapat melayani seluruh warga masyarak
at dimulai saat perencanaan sampai suatu kurun waktu tertentu. Untuk itu maka informasi te
ntang laju pertumbuhan penduduk sangat diperlukan dalam perencanaan prasarana air minu
m. Terakhir keadaan sebaran penduduk perlu pula diketahui menentukan penentuan sistem j
aringan yang akan digunakan baik yang menyangkut sistem jaringan maupun dalam sistem
distribusinya.
Berkaitan dengan target pelayanan, maka penyediaan prasarana air minum selain untu
k memenuhi kebutuhan domestik atau kebutuhan rumah tangga bagi warga masyarakat baik
melalui sambungan langsung maupun melalui kran umum, juga diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan air pada berbagai fasilitas perkotaan seperti fasilitas umum, fasilitas bisnis/perdag
angan maupun untuk memenuhi kebutuhan industri dan kebutuhan khusus.
Dalam menentukan daerah pelayanan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan yaitu:
 Mengingat bahwa prasarana penyediaan air minum harus dapat melayani sejak
perencanaan hingga suatu kurun waktu tertentu, maka perencanaannya harus
mengacu pada skenario perkembangan kota yang telah dibuat. Rencana
pengembangan daerah perkotaan dan rencana tata guna tanah yang mana daerah
pengembangan tersebut akan termasuk dalam daerah pelayanan.
 Kepadatan penduduk, merupakan faktor penting yang mempengaruhi
[Link]-daerah dimana kepadatan penduduk kecil dibandingkan dengan
biaya pemasangan pipa distribusi biasanya tidak dimasukkan ke dalam daerah
pelayanan dipandang dari sudut keuangan pengadaan air.
 Konstruksi jalan-jalan umum, konstruksi atau pelebaran jalan akan mempengaruhi
pengembangan komersil, pengembangan daerah perumahan dan bentuk-bentuk
lainnya dari pengembangan daerah perkotaan sehingga rencana daerah pelayanan
akan dibuat berdasarkan rencana konstruksi jalan-jalan tersebut.
Tidak semua penggunaan yang terdapat didaerah pelayanan akandilayani dengan air minum
Hal ini terjadi karena tidak semua penduduk yang bersedia memberikan kompensasi biaya t
erhadap pelayanan air minum yang [Link] ini berhubungan dengan pemasangan sam
bungan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah akan keberatan karena menyangkut
biaya/retribusi sehingga mereka akan mengambil dari sumur-sumur dangkal dan bagi masya
rakat yang air tanahnya tidak baik akan menggunakan air dari kran-kran umum yang tersedia.
Kriteria perencanaan teknis yang akan digunakan menyangkut proyeksi kebutuhan air bersih
adalah Kebutuhan Domestik dan Kebutuhan Non Domestik:
4.1.1 KEBUTUHAN DOMESTIK
Untuk menentukan kebutuhan air minum di suatu daerah/kawasan, maka diperluk
an data minum (standar) pemakaian air yang dapat diterapkan untuk kota yang bersangk
utan. Untuk menentukan data minum tersebut dapat dipertimbangkan beberapa standar yan
g ada sebagai acuan, diantaranya, yaitu:
- Kebutuhan air Minum berdasarkan kategori kota yang dikeluarkan oleh PU Cipta Karya
Direktorat Air minum.
- Standar pemakaian air Minum yang dikeluarkan oleh PU Cipta Karya Direktorat Air
minum.
Untuk kategori dan tingkat pelayanan tersebut, Pemerintah Indonesia telah menyusu
n program pelayanan air minum sesuai dengan katagori daerah yang dikelompokkan berdas
arkan jumlah penduduk. Pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 4. 1 Tingkat Pemakaian Air Rumah Tangga Sesuai Kategori Kota
Kategori Kota Jumlah Sistem Tingkat
No Penduduk Pemakaian Air

1 Kota Metropolita > 1.000.000 Non Standar 19


n 0
2 Kota Besar 500.000 –1.000.000 Non Standar 17
0

3 Kota Sedang 100.000 –500.000 Non Standar 15


0

4 Kota Kecil 20.000 – 100.000 Standar BNA 13


0
5 Kota Kecamatan < 20.000 Standar IKK 10
0
6 Kota Pusat < 3.000 Standar DPP 3
Pertumbuhan 0

Sumber: SK-SNI Air Minum


Kebutuhan air untuk rumah tangga (domestik) dihitung berdasarkan jumlah penduduk
tahun perencanaan. Kebutuhan air minum untuk daerah domestic ini dilayani dengan sambu
ngan rumah (SR) dan hidran umum (HU). Kebutuhan air minum untuk daerah domestic ini d
apat dihitung berdasarkan persamaan berikut:
Kebutuhan air = % pelayanan x a x b
Dimana:
a = jumlah pemakaian air (liter/orang/hari)
b = jumlah penduduk daerah pelayanan (jiwa)

4.1.2 KEBUTUHAN NON DOMESTIK


Untuk katagori dan tingkat pelayanan non domestik (bukan rumah tangga), Pemerint
ah Indonesia telah menyusun program pelayanan air minum sesuai dengan katagori fasilitas
yang dikelompokkan berdasarkan jenis usaha. Pengelompokkan tersebut dapat dilihat pada t
abel di bawah ini.
Tabel 4. 2 Tingkat Pemakaian Air Non Rumah Tangga
No Non Rumah Tangga Tingkat Pemakaian Air
(fasilita
1 Sekolah 10 liter/hari

2 Rumah Sakit 200 liter/hari

3 Puskesmas 3
(0,5 - 1) m /unit/hari
4 Peribadatan 3
(0,5 - 2) m /unit/hari
5 Kantor 3
(1 - 2) m /unit/hari
6 Toko 3
(1 - 2) m /unit/hari
7 Rumah Makan 3
1 m /unit/hari
8 Hotel/Losmen 3
(100 - 150) m /unit/hari
9 Pasar 3
(6 - 12) m /unit/hari
10 Industri 3
(0,5 - 2) m /unit/hari
11 Pelabuhan/Terminal 3
(10 - 20) m /unit/hari
12 SPBU 3
(5 - 20) m /unit/hari
13 Pertamanan 3
25 m /unit/hari
Sumber: SK-SNI Air minum

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam analisa kebutuhan prasarana air minum ini ada
lah hasil survey nyata di lapangan. Berdasarkan survey yang dilakukan di beberapa kecamat
an di Kota Dumai, masyarakat sangat mengharapkan adanya prasarana air minum untuk me
menuhi kebutuhan sehari-hari.
Berdasarkan Buku Panduan Pengembangan Air Minum Dirjen Cipta Karya Departem
en Pekerjaan Umum tahun 2007, perincian kebutuhan air minum adalah sebagai berikut:
1. Kebutuhan domestik
2. Kriteria yang digunakan:
 Lihat hasil survey prasarana
 Pemakaian air untuk SR = 120 lt/org/hari
 Pemakaian untuk HU/TA= 60 lt/org/hari
3. Kebutuhan non domestik
4. Kebutuhan industri dengan kriteria pemakaian air = 0,1-0,3 lt/ha/hr
5. Kebutuhan niaga dengan kriteria pemakaian air = 900 lt/niaga/hr (niaga kecil) dan 5000 l
t/niaga/hr (niaga besar).
6. Kebutuhan fasilitas umum (pendidikan, kantor pemerintahan, dsb) dengan kriteria pema
kaian air = 10-15 % dari kebutuhan domestik.
7. Prediksi dilakukan 15-20 tahun ke depan sesuai dengan Rencana Induk SPAM.
8. Kriteria pemakaian air untuk hari maksimum = 1,15 pemakaian hari rata-rata.
9. Pemakaian air untuk jam puncak = 1,5-1,7 pemakaian hari maksimum.
10. Kebutuhan hotel = 3 m3/kamar/hr.

4.2 KRITERIA PERENCANAAN


Spesifikasi ini memuat penjelasan-penjelasan yang diperlukan dalam rencana induk
pengembangan SPAM.
4.2.1 Unit Air Baku
Alternatif sumber air baku yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan ma
syarakat di lokasi studi.
A. Ketentuan Umum
Survey sumber air baku harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan-
ketentuan umum sebagai berikut:
1. Dilaksanakan oleh tenaga ahli bersertifikat dengan pemimpin tim berpengalaman d
alam bidang air minum minimal 5 tahun atau menurut peraturan yang berlaku
2. Melaksanakan survey lapangan yang seksama dan terkoordinasi dengan pihak- pi
hak terkait
3. Membuat laporan tertulis mengenai hasil survey yang memuat:
a. Foto lokasi;
b. Jenis sumber air baku;
c. Perkiraan kapasitas air baku;
d. Kualitas, kuantitas dan kontinuitas;
e. Fungsi saat ini;
f. Kajian geologi, hidrologi, geohidrologi dan morfologi.
4. Mengirimkan data dan laporan-laporan tersebut di atas kepada pemberi tugas in
stasi yang terkait.
B. Ketentuan Teknis
Dalam pelaksanaan survey air baku harus dipenuhi ketentuan-ketentuan teknis sebagai
berikut:
1. Gambar-gambar sketsa lokasi, peta-peta dengan ukuran gambar sesuai ketentuan
yang berlaku
2. Sumber air baku harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
a. Debit minimum dari sumber air baku
b. Kuantitas sumber air baku harus terjamin kontinuitasnya
c. Kualitas sumber air baku harus memenuhi ketentuan baku mutu air yang berla
ku
d. Jarak sumber air baku ke daerah pelayanan maksimum sesuai dengan ketent
uan untuk masing-masing sumber air baku.

C. Pelaksanaan Survey
Berdasarkan keberadaannya sumber air baku dibedakan atas mata air, air tanah, air p
ermukaan, dan air hujan. Materi survey air baku dapat dilihat pada tabel berikut:
1. Pelaksanaan Survey Mata Air
a) Cari informasi dari masyarakat setempat tentang lokasi sumber, fluktuasi, pemunc
ulan, serta pemanfaatan mata air tesebut
b) Pastikan sumber mata air yang akan disurvey
c) Ukur ketinggian sumber mata air dari daerah pelayanan dengan menggunakan theodo
lit, kompas dan dinometer atau altimeter;
d) Ukur debit mata air;
e) Ambil sampel air sesuai dengan SNI 06-2412-1991 tentang Metode Pengambilan Co
ntoh Uji Kualitas Air
f) Uji kualitas air untuk parameter fisik, yaitu untuk parameter:
 Temperatur, sesuai dengan SNI 19-1141-1989 tentang Cara Uji Suhu
 Rasa, sesuai dengan SNI 03-6859-2002 tentang Metode Pengujian Angka Rasa
Dalam Air
 Bau, sesuai dengan SNI 03-6860-2002 tentang Metode Pengujian Angka Bau dal
am Air
 Derajat keasaman, sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Penguji
an Kualitas Fisika Air
 Daya Hantar Listrik (DHL), sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode
Pengujian Kualitas Fisika Air
 Warna, sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Pengujian Kualitas F
isika Air
 Kekeruhan, sesuai dengan SK SNI M-03-1989-F tentang Metode Pengujian Kualit
as Fisika
g) Ukur jarak sumber mata air ke daerah pelayanan dengan pita ukur atau roda ukur
h) Gambar sketsa mata air dan sekitarnya secar horizontal dan dilengkapi dengan ukura
n dan skala
i) Buat sketsa penampang sumber maat air dan daerah sekitarnya
j) Catat kondisi dan pemanfaatan lahan di lokasi sumber mata air
k) Tentukan jenis mata air berdasarkan cara pemunculannya di permukaan tanah
l) Tentukan jenis batuan yang menyusun daerah sekitar mata air
m) Ambil contoh air untuk diperiksa di laboratorium, lengkapi dengan data lokasi, nomor
contoh dan waktu pengambilan yang ditulis pada label dan ditempel pada tempat cont
oh air
Tabel 4. 3 Data untuk Survey Air Baku
Sumber Air
No Data yang diperlukan Keterangan
Baku
1 Mata Air  Lokasi dan Ketinggian  Sumber layak dipilih
 Kualitas air (visual dan pemeriksaan jika tidak ada konflik
laboratorium) kepentingan
 Kuantitas dan kontinuitas air (hasil (musyawarah)
pengamatan dan pengukuran pada musim  Kualitas dan kuantitas
kemarau) memenuhi ketentuan
 Peruntukan saat ini yang berlaku
 Kepemilikan lahan di sekitar mata air
 Jarak ke daerah pelayanan
 Hal-hal yang mempengaruhi kualitas
 Jalan masuk ke mata air

2 Air Tanah  Lokasi Untuk mengetahui kondisi


 Kualitas, kuantitas, dan kontinuitas air tanah dalam di lokasi p
 Peruntukan saat ini erlu dilakukan pemeriksaa
 Kepemilikan an geolistrik, sedangkan u
 Jarak ke daerah pelayanan ntuk mengetahui kondisi a
 Jalan untuk masuk ke lokasi ir tanah dangkal dapat me
lihat peta kondisi air tanah
yang dikeluarkan oleh Ditj
en Geologi Tata Lingkung
an.
3 Air Permukaa  Lokasi dan ketinggian Sumber dipilih jika altern
an  Kualitas air (visual dan pemerikasaan atif 1 dan 2 tidak ada
laboratorium)
 Kuantitas dan kontinuitas air (hasil
pengamatan dan pengukuran pada musim
kemarau)
 Peruntukan saat ini
 Jarak ke unit pengolahan dan ke daerah
pelayanan

4 Air Hujan  Curah Hujan Sumber dipilih jika alterna


 Kualitas dan kuantitas air hujan tif 1, 2, dan 3 tidak ada

Sumber: Permen PU No. 18/2007

2. Pelaksanaan Survey Air Tanah Dangkal


a) Lakukan survey pada beberapa sumur gali yang ada di daerah tersebut yan m
ewakili kondisi air tanah dangkal desa tersebut
b) Isi semua data dan kondisi sumr yang ada dengan:
 Ukur jarak sumur gali denan rumah;
 Ukur diameter sumur;
 Ukur kedalaman sumur;
 Ukur kedalaman muka air tanah
c) Ambil contoh air di okasi berbeda sesuai dengan SNI 08-2412-1991 tentang
Metode Pengambilan Contoh Uji Kualitas Air, untuk diuji di lapangan dengan
parameter fisik

3. Pelaksanaan Survey Air Tanah Dalam


a) Analisa peta geologi dan hidrogeologi, hindari rencana lokasi titik bor pada jal
ur patahan;
b) Identifikasi jenis akuifer yang akan diambil;
c) Cari informasi dari penduduk setempat mengenai data sumur dalam pada radi
us tiga kilometer dari pusat desa dan dari lokasi air permukaan;
d) Cari informasi tentang data sumur dalam yang ada mengenai tahun pembuata
n, kedalaman sumur, kualitas air dan konstruksi sumur;
e) Ukur diameter sumur dan kedalaman muka air serta kedalaman sumur;
f) Ambil sampel air sesuai dengan SNI 06-2412-1991 tentang Metode Pengambi
lan Contoh Uji Kualitas Air;
g) Uji kualitas air untuk parameter fisik. Lengkapi dengan data lokasi, waktu pen
gambilan dan nomor sampel.

4. Pelaksanaan Survey Air Permukaan


a. Cari informasi masyarakat dan/atau penyelenggara setempat lokasi, muka air
minimum, pemanfaatan, debit aliran dan kualitas air sungai
b. Cari informasi untuk saluran irigasi:
 Lamanya pengeringan atau pengurasan saluran
 Periode pengeringan atau pengurasan dalam satu tahun
 Ukur debit sungai dan saluran irigasi sesuai SNI 03-2414-1991 tentang met
ode Pengukuran Debit Sungai dan Saluran Terbuka
 Ambil sampel air sesuai dengan SNI 06-2412-1991 tentang Metode Penga
mbilan Contoh Uji Kualitas Air
 Uji kualitas air untuk parameter fisik
 Temukan lokasi bangunan sadap pada bagian yang tidak pernah kering, hin
dari bahaya erosi dan sedimentasi serta mudah dilaksanakan
 Ukur ketingian rencana lokasi bangunan sadap dan sekitarnya dengan ramb
u ukur dan alat ukur theodolit serta buatlah sketsa
 Ukur jarak tempat bangunan sadp ke desa dengan pita ukur atau roda ukur
 Tentukan apakah sumber air sungai atau saluran irigasi tersebut layak digu
nakan
 Cari sumber air sungai atau saluran irigasi baru apabila sumber air diatas ti
dak layak, ulangi tahap pengerjaan survey air sungai sesuai tahapan di atas
 Uji sampel air di laboratorium.

Tabel 4. 4 Evaluasi Debit Sumber Air Baku


ALIRAN FLUKTUASI MUSIM
(L/DT) MUSIMAN Musim basah Musim basah > Permulaan mu Akhir musi
sesaat setela 2 hari yang lalu sim kemarau m kemarau
h hujan
≤1 Lebih kurang Aliran cukup k Aliran cukup kecil Kemungkinan ti Hanya mem
konstan ecil liran dak mencukupi, ungkinkan jik
pengukuran pad a lebih besar
a akhir musim k dari kebutuh
emarau an
Jelas berkura Aliran cukup k Aliran cukup kecil Aliran terlalu kec Hanya mem
ng pada musi ecil il ungkinkan jik
m kemarau a >50% lebih
besar dari ke
butuhan
1-3 Lebih kurang Aliran cukup k Kemungkinan terl Hanya memung Jelas berkur
konstan ecil alu kecil, penguk kinkan jika >50 ang pada mu
uran pada akhir % lebih besar d sim kemarau
musim kemarau ari kebutuhan
Jelas berkura Aliran cukup k Aliran cukup kecil Jelas berkurang Jelas berkur
ng pada musi ecil liran pada musim ke ang pada mu
m kemarau marau sim kemarau
>3-5 Lebih kurang Aliran cukup k Hanya memungki Hanya memung Hanya mem
konstan ecil ankan jika 100% kinkan jika >50 ungkinkan jik
lebih besar dari k % lebih besar d a lebih besar
ebutuhan, jika le ari kebutuhan, ji dari kebutuh
bih kecil penguku ka lebih kecil pe an
ran pada akhir m ngukuran pada
usim kemarau akhir musim ke
marau
Jelas berkura Aliran cukup k Kemungkinan terl Hanya memung Hanya mem
ng pada musi ecil alu kecil, penguk kiankan jika 100 ungkinkan jik
m kemarau uran pada akhir % lebih besar d a >25% lebih
musim kemarau ari kebutuhan, ji besar dari ke
ka lebih kecil pe butuhan
ngukuran pada
akhir musim ke
marau
Sumber: PerMen PU No. 18/2007

Tabel 4. 5 Evaluasi Lokasi Sumber Air


No Beda tinggi antara Sumber Jarak Penilaian
air dan daerah Pelayanan

1. Lebih besar dari 30 m < 2 km Baik, sistem gravitasi

2. > 10 – 30 m < 1 km Berpotensi, tapi detail desainrinci diperluk


an untuk sistem gravitasi, pisa berdiamet
er besar mungkin diperlukan

3. 3 - ≤ 10 m < 0,2 km Kemungkinan diperlukan pompa kecuali


untuk sistem yang sangat kecil

4. Lebih kecil dari 3 m - Diperlukan pompa

Sumber: PerMen PU No. 18/2007

Tabel 4. 6 Evaluasi Kualitas Air


PARAMETER MASALAH KUALITA PENGOLAHAN KESIMPULAN
S

BAU Bau Tanah Kemungkinan dengan saringa Dapat dipakai jika perc
n karbon aktif obaan pengolahan ber
hasil

Bau Besi Aerasi + Saringan pasir lamba Bisa dipakai dengan p


t, atau aerasi + saringan karbo engolahan
n aktif

Bau Sulfur Kemungkinan Aerasi Dapat dipakai jika perc


obaan pengolahan ber
hasil

Bau lain Tergantung jenis bau Dapat dipakai jika perc


obaan pengolahan ber
hasil

RASA Rasa asin/payau Aerasi + Saringan karbon aktif Tergantung kada Cl da


n pendapat masyaraka
t
PARAMETER MASALAH KUALITA PENGOLAHAN KESIMPULAN
S

Rasa besi Aerasi + Saringan pasir lamba Bisa dipakai dengan p


t, atau Aerasi + Saringan karb engolahan
on aktif

Rasa tanah tanpa kek Saringan karbon aktif Mungkin bisa dipakai d
eruhan engan pengolahan

Rasa lain Tergantung jenis rasa Tidak dapat dipakai

Kekeruhan Kekeruhan sedang, c Saringan pasir lambat Bisa dipakai bila denga
oklat dari lumpur n pengolahan

Kekeruhan tinggi, cok Pembubuhan PAC + Saringan Bisa dipakai bila denga
lat dari lumpur pasir lambat n pengolahan, dengan
biaya relatif besar

Putih Pembubuhan PAC Dapat dipakai jika perc


obaan pengolahan ber
hasil

Agak kuning sesudah Aerasi + Saringan pasir lamba Dapat dipakai jika perc
air sebentar di ember t, atau Aerasi + Saringan karb obaan pengolahan ber
on aktif hasil

Coklat bersama deng Sama dengan kekeruhan Sama dengan kekeruh


an kekeruhan an

Putih Kemungkinan dengan pembu Tidak bisa dipakai kec


buhan PAC uali percobaan pengol
ahan berhasil

Lain Tergantung jenis warna Tidak bisa dipakai kec


uali percobaan pengol
ahan berhasil

Sumber : PerMen PU No. 18/2007


[Link].2.2 UNIT TRANSMISI
Perencanaan teknis unit transmisi harus mengoptimalkan jarak antara unit air baku
menuju unit produksi dan/atau dari unit produksi menuju reservoir/jaringan distribusi sepend
ek mungkin, terutama untuk sistem transimisi distribusi (pipa transmisi dari unit produksi me
nuju reservoir). Hal ini terjadi karena transmisi distribusi pada dasarnya harus dirancang unt
uk dapat mengalirkan debit aliran untuk kebutuhan jam puncak, sedangkan pipa transmisi a
ir baku dirancang mengalirkan kebutuhan maksimum.
Pipa transmisi sedapat mungkin harus diletakkan sedemikian rupa dibawah level gar
is hidrolis untuk menjamin aliran sebagaimana diharapkan dalam perhitungan agar debit alir
an yang dapat dicapai masih sesuai dengan yang diharapkan.
Dalam pemasangan pipa transmisi, perlu memasang angker penahan pipa pada bag
ian belokan baik dalam bentuk belokan arah vertikal maupun belokan arah horizontal untuk
menahan gaya yang ditimbulkan akibat tekanan internal dalam pipa dan energi kinetik dari
aliran air dalam pipa yang mengakibatkan kerusakan pipa maupun kebocoran aliran air dala
m pipa tersebut secara berlebihan.
Sistem transmisi harus menerapkan metode-metode yang mampu mengendalikan p
ukulan air (water hammer) yaitu bilamana sistem aliran tertutup dalam suatu pipa transmisi t
erjadi perubahan kecepatan aliran air secara tiba-tiba yang menyebabkan pecahnya pipa tr
ansmisi atau berubahnya posisi pipa transmisi dari posisi semula.
Sistem pipa transmisi air baku yang panjang dan berukuran diameter relatif besar da
ri diameter nominal ND-600 mm sampai dengan ND-1000 mm perlu dilengkapi dengan akse
soris dan perlengkapan pipa yang memadai.
Perlengkapan penting dan pokok dalam sistem transmisi air baku air minum antara l
ain sebagai berikut:
1) Katup pelepas udara, yang berfungsi melepaskan udara yang terakumulasi dalam pipa
transmisi, yang dipasang pada titik-titik tertentu dimana akumulasi udara dalam pipa
akan terjadi.
2) Katup pelepas tekanan, yang berfungsi melepas atau mereduksi tekanan berlebih yang
mungkin terjadi pada pipa transmisi.
3) Katup penguras (Wash-out Valve), berfungsi untuk menguras akumulasi lumpur atau
pasir dalam pipa transmisi, yang umumnya dipasang pada titik-titik terendah dalam
setiap segmen pipa transmisi.
4) Katup ventilasi udara perlu disediakan pada titik-titik tertentu guna menghindari
terjadinya kerusakan pada pipa ketika berlangsung tekanan negatif atau kondisi vakum
udara.
Perancangan sub unit transmisi harus memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) Survei dan pengkajian sub unit transmisi air baku meliputi:
 Penyelidikan tanah, mengacu pada Tata Cara Survei dan Pengkajian Hasil Penyeli
dikan Tanah
 Survei topografi, mengacu pada tata Cara Survei dan Pengkajian Topografi;
 Lokasi sistem, mengacu pada Tata Cara Survei dan Pengkajian Lokasi Sistem Pen
yediaan Air Minum.
2) Perhitungan perancangan teknik sub unit transmisi air baku dan air minum meliputi:
 Perhitungan hidrolis pipa
Tabel 4. 7 Kriteria Pipa Transmisi
No Uraian Notasi Kriteria
1. Debit Perencanaan Q max Kebutuhan air hari maksimum
Q max = F max × Q rata rata
2. Faktor hari maksimum F max 1,10 – 1,50
3. Jenis saluran - Pipa atau slauran terbuka*
4. Kecepatan aliran air dalam pipa
a) Kecepatan minimum V min 0,3 – 0,6 m/det
b) Kecepatan maksimum V. max 3,0-4,5 m/det
- Pipa PVC V. max 6,0 m/det
- Pipa DCIP
5. Tekanan air dalam pipa
a) Tekanan minimum H min 1 atm
b) Tekanan maksimum H maks 6-8 atm
- Pipa PVC 10 atm
- Pipa DCIP 12,4 Mpa
- Pipa PE 100 9,0 Mpa
- Pipa PE 80
6. Kecepatan saluran terbuka
a) Kecepatan minimum V min 0,6 m/det
b) Kecepatan maksimum V maks 1,5 m/det
7. Kemiringan saluran terbuka S (0,5 – 1) 0/00
8. Tinggi bebas saluran terbuka Hw 15 cm (minimun)
9. Kemiringan tebing terhadap das - 45˚ (untuk bentuk trapesium)
ar saluran
Sumber : PerMen PU NO.18/2007
3) Desain dan gambar, meliputi :
 Gambar denah (layout)
 Gambar lokasi
 Gambar detail jaringan transmisi
Debit pompa transmisi air minum ke reservoir ditentukan bardasarkan debit hari ma
ksimum. Perioda operasi pompa antara 20–24 jam per hari.
Ketentuan jumlah dan debit yang digunakan sesuai Tabel 4.8
Tabel 4. 8 Jumlah dan Debit Pompa Sistem Transmisi Air Minum
Debit (m3/hari) Jumlah Pompa Total Unit

Sampai 2.800 1 (1) 2

2.500 s.d 10.000 2 (1) 3

Lebih dari 90.000 Lebih dari 3 (1) Lebih dari 4

Sumber : PerMen PU NO.18/2007


Head pompa ditentukan berdasarkan perhitungan hidrolisis.
Pompa
Hitung daya pompa yang diperlukan berdasarkakn data total tekanan (head) yang ter
sedia dengan formula :

dengan pengertian :
P = daya pompa (tenaga kuda)
Q = debit (m3/detik)
w = densitas atau kepadatan (density) (kg/cm3) H = total tekanan (m)
η = efisiensi pompa ( 60 %–75 %)
HP = daya kuda (horse power)
Pipa Transmisi
1. Jalur Pipa
Perencanaan jalur pipa transmisi harus memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut:
a. Jalur pipa sependek mungkin;
b. Menghindari jalur yang mengakibatkan konstruksi sulit dan mahal;
c. Tinggi hidrolis pipa minimum 5 m diatas pipa, sehingga cukup menjamin operasi
air valve;
d. Menghindari perbedaan elevasi yang terlalu besar sehingga tidak ada perbedaan
kelas pipa.
2. Dimensi Pipa
Penentuan dimensi pipa harus memenuhi ketentuan teknis sebagai berikut :
a. Pipa harus direncanakan untuk mengalirkan debit maksimum harian
b. Kehilangan tekanan dalam pipa tidak lebih air 30% dari total tekanan statis (head s
tatis) pada sistem transmisi dengan pemompaan. Untuk sistem gravitasi, kehilanga
n tekanan maksimum 5 m/1000 m atau sesuai dengan spesifikasi teknis pipa.
3. Bahan pipa
Pemilihan bahan pipa harus memenuhi persyaratan teknis dalam SNI, antara lain:
a. Spesifikasi pipa PVC mengikuti standar SNI 03-6419-2000 tentang Spesifikasi
b. Pipa PVC bertekanan berdiameter 110-315 mm untuk Air minum dan SK SNI S-
c. 20-1990-2003 tentang Spesifikasi Pipa PVC untuk Air Minum.
d. SNI 06-4829-2005 tentang Pipa Polietilena Untuk Air Minum;
e. Standar BS 1387-67 untuk pipa baja kelas medium.
f. Fabrikasi pipa baja harus sesuai dengan AWWA C 200 atau SNI-07-0822-1989
atau SII 2527-90 atau JIS G 3452 dan JIS G 3457.
g. Standar untuk pipa ductile menggunakan standar dari ISO 2531 dan BS 4772.
Persyaratan bahan pipa lainnya dapat menggunakan standar nasional maupun internas
ional lainnya yang berlaku.
4. Data yang diperlukan
Data yang diperlukan untuk rancangan teknik pipa transmisi air minum dan perlengkap
annya adalah:
a. Hasil survei dan pengkajian potensi dan kebutuhan air minum
b. Hasil survei dan pengkajian topografi berupa:
 Peta situasi rencana jalur pipa transmisi skala 1:1.000
 Potongan memanjang rencana jalur pipa transmisi skala vertikal 1:100,
horizontal 1:1.000
 Potongan melintang rencana jalur pipa transmisi skala 1:100
 Peta situasi rencana lokasi bangunan perlintasan skala 1:100 dengan interval:
1 ketinggian 1 m

[Link].2.3UNIT PRODUKSI
Reservoir adalah bangunan penampung air minum. Reservoir terbagi menjadi be
berapa macam, antara lain :
a. Reservoir Distribusi
Bangunan penampung air minum dari instalasi pengolah air minum atau mata air u
ntuk kemudian didistribusikan ke daerah pelayanan.
b. Reservoir Penyeimbang (Balancing Reservoir)
Reservoir yang menampung kelebihan air pada saat pemakaian oleh konsumen yang l
ebih kecil daripada air yang masuk untuk kemudian didistribusikan lagi.
c. Reservoir Bawah Tanah (Ground Reservoir)
Reservoir yang ditempatkan di permukaan tanah, baik yang bawah tanah atau muncul
sebagian ataupun di atas muka tanah.
d. Menara Air (Elevated Reservoir)
Reservoir yang ditempatkan di atas suatu bangunan dengan ketinggian tertentu dari pe
rmukaan tanah.

Gambar 4. 1 Jenis Reservoir Sistem Penyediaan Air Minum


Yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan jenis reservoir dari segi penempatanny
a antara lain :
 Kapasitas/volume reservoir
 Lokasi yang tersedia untuk penempatan reservoir
 Kondisi ketinggian lokasi reservoir relatif terhadap ketinggian daerah pelayanan
 Luas area daerah pelayanan
 Hasil analisa hidrolis sistem distribusi
 Kontinuitas dari ketersediaan daya listrik PLN
 Ketersediaan material yang dibutuhkan
 Dana investasi dan pemeliharaan yang tersedia
Kriteria perencanaan dimensi reservoir air minum dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4. 9 Kriteria perencanaan dimensi reservoir air minum
NO UKURAN KRITERIA

1 Kapasitas Bersih ( Efektif ) Berdasarkan :


. Reservoir Distribusi  Fluktuasl pemakalan air oleh konsumen
Kapasitas air untuk konsumen  Fluktuasl pengaliran air dari sistem
Kapasitas air untuk sistem pemadam ke Transmisi
bakaran kota ( bila jumlah penduduk dia
tas 500.000 jiwa ) Berdasarkan :
Kapasitas air untuk p – Debit aliran 250 It/dt
emeliharaan IPA – Periode 30 menit
– 3
Kapasitasnya menjadi 450 M
Kapasitas Bersih ( Efektif ) R
eservoir Penyeimbang
Ditentukan dalam perencanaan
— Debit Perencanaan
Instalasi Pengolahan Air ( IPA )
— Waktu detensi
Tergantung pada fluktuasi pemakaian air ol
eh konsumen
Dimensi Reservoir
Tergantung pada lama waktu saat pemakai
Perbandingan panjang, lebar dan tinggi p :
an air oleh konsumen lebih kecil dari suplai
I : t (bila bentuk segi empat)
1:1:1/2:2:1/3:3:1/3:3:2 (tidak mengikat )
— Tinggi muka air minimum
30 cm
— Tinggi bebas free board minimum
30 cm - 50 cm
— Tinggi air maksimum
2 m - 3m
(10 – 30) cm dibawah dasar reservoir
Dimensi Ruang Lumpur
(30 - 80) cm
- kedalaman
Sesuai dengan panjang reservoir
- lebar
Di dasar reservoir, pada lokasi pipa pengur
- Panjang
as
- Lokasi
Sumber : NSPM Kimpraswil, Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Sistem
Penyediaan Air Minum Perkotaan Bag. 6 Vol II dan III, 2002
Kriteria perencanaan perlengkapan reservoir adalah sebagai berikut :
Tabel 4. 10 Kriteria Perencanaan Perlengkapan Reservoir
No. URAIAN KRITERIA

1. PIPA MASUKAN - Diameter pipa transmisi


- Pipa baja/ GIP/ DCIP
- Diameter - (1,5-2) × Diameter pipa, diatas M.A
- Jenis pipa maksimum (1,5 × diameter pipa inlet)
- Letak lubang inlet inlet dari dinding reservoir
- Diameter - Diameter pipa inlet
2. PIPA KELUAPAN - Diameter pipa distribusi
- Pipa baja/ GIP/ DCIP
- Diameter - Tepat diatas muka air minimum
- Jenis pipa - 1,5 × diameter pipa outlet (dari dinding
- Letak lubang inlet reservoir)
- Jarrak saringan (strainer)
3. PIPA PELUAP - (0,5 – 0,75) × Diameter pipa inlet
- Pipa baja/ GIP/ DCIP
- Diameter - Tepat diatas M.A maksimum
- Jenis pipa
- Letak lubang peluap
4. DRAIN/PENGURAS - (1,5 – 2) × Diameter pipa inlet
- Pipa baja/ GIP/ DCIP
- Diameter - Pada dasar
- Jenis pipa - (1,5 – 2) × Diameter pipa inlet (sesuai
- Letak lubang penguras dengan diameter pipa penguras)
- Diameter gate valve
5. BY PASS - Sama dengan diameter pipa outlet
distribusi
- Diameter - Pipa baja/ GIP/ DCIP
- Jenis pipa - Diantara pipa inlet dan pipa outlet
- Perletakan (menghubungkan pipa inlet dan outlet)
- Diameter gate valve - Diameter pipa bypass
6. PIPA VENT - (2 -4) inchi (untuk setiap vent)
- Pipa baja/ GIP/ DCIP
- Dimensi - Di dinding atas/ atap reservoir (untuk
- Jenis pipa bidang reservoir yang luas/lebar,
- Perletak dibuat beebrapa buah vent)
7. MANHOLE (LUBANG INSPEKSI) - Minimum 60 × 60 cm
- Dibangun dinding atas/ atap reservoir
- Dimensi
- Perletakan
Sumber : NSPM Kimpraswil, Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Sistem Penyediaan Air Minum P
erkotaan Bag. 6 Vol II dan III, 2002
Tabel 4. 11 Fungsi Komponen Reservoir
NO. KOMPONEN/JENIS FUNGSI
A 1. Bangunan reservoir 1. Menyiapkan cadangan air hasil olahan untuk
. meminimalkan gangguan suplai air akibat kerus
akan
2. Menyimpan cadangan air untuk kepentingan umu
m, pemadaman kebakaran, dan pemakaian sendir

2. Reservoir distribusi i.
Menyiapkan cadangan air untuk dialirkan ke
Pelayanan konsumen

3. Reservoir distribusi Menampung kelebihan air pada saat pemakaian


penguat pelayanan air oleh konsumen relatif lebih kecil daripada air yang m
asuk suplai, kemudian didistribusikan kembali pada saat
pemakaian air oleh konsumen relatif lebih besar daripad
a air yang masuk atau suplai

B Perpipaan
.
1. Pipa inlet Merupakan saluran yang masuk ke reservoir
yang berfungsi untuk mengalirkan air dari instal
asi pengolahan air ke reservoir.
2. Pipa outlet Untuk mengalirkan air dari reservoir ke jaringan
distribusi.

3. Over flow Membuang kelebihan air pada reservoir ke


saluran pembuang.

4. Pipa penguras Mengalirkan atau membuang air ke saluran


pembuang pada saat reservoir dikuras atau dibers
ihkan.
5. Vent Untuk mengeluarkan memasukkan udaranya ke
dalam ruang reservoir atau penampungan air.

6. Pipa bebas Untuk mengalirkan air secara langsung

7. Pipa hisap pompa Untuk mengalirkan air dari reservoir pompa untuk
kemudian ke daerah pelayanan

C Perlengkapan pipa dan


. perlengkapan khusus
1. Gate valve Untuk membuka atau menutup aliran air dalam
pipa

2. Check valve Untuk mencegah aliran balik

3. Meter air induk Untuk mengetahui banyaknya air yang


didistribusikan dari reservoir

4. Mistar ukur atau Untuk mengetahui tinggi muka air pada reservoir
penduga tinggi air

5. Manhole atau lubang Disebagian tempat keluar masuknya pemeriksa


Inspeksi untuk mengawasi, memelihara, dan mengatasi gangg
uan di reservoir
6. Foot valve Agar pipa hisap pompa tetap terisi air sehingga
udara tidak masuk

7. Hidrofor Sebagian reservoir menyimpang untuk aliran air


bersih dari reservoir distribusi ke daerah pelayanan dist
ribusi dengan sistem perpompaan
8. Saringan atau straine Untuk menyaring kotoran yang terbawa terbentuk
dalam reservoir agar tidak terbawa ke dalam pipa distrib
usi
9. Safety valve Untuk mencegah kerusakan pipa pada saat
terjadi pukulan air

10. Lorong pengawasan Sebagai tempat masuknya pemeriksa untuk


mengawasi, memelihara dan mengatasi gang
guan di reservoir
Sumber : NSPM Kimpraswil, Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Sistem Penyediaan Air Minum
Perkotaan Bag. 6 Vol II dan III, 2002
Tabel 4. 12 Ukuran Reservoir Air Minum
No. URAIAN UKURAN

1. Kapasitas bersih (efektif) reservoir distribusi p Berdasarkan fluktuasi :


elayanan :
1. Fluktuasi pemakaian air oleh
- Kapasitas air untuk konsumen konsumen
2. Fluktuasi pengaliran air dari sistem
distribusi

 1-5% dari kapasitas produksi rata-rata


 1-5% dari kapasitas produksi rata-rata
- Kapasitas air untuk sistem pemadam
kebakaran kota kepentingan umum
- Kepasitas air untuk kepentingan IPA
2. Kapasitas bersih (efektif) reservoir penguat pel  Tergantung pada fluktuasi pemakaian air
ayanan : oleh konsumen
 Tergantung pada lama waktu saat
 Debit perencanaan pemakaian air oleh konsumen lebih kecil
 Waktu detensi dari suplai
3. Dimensi reservoir
 1:1:1/2:2:1/3:3:2 (tidak mengikat)
 Perbandingan panjang, lebar dan tinggi
p : 1 : 1 (bila bentuk segi empat)
 Tinggi muka air minimum
 Tinggi beban minimum
 Tinggi air maksimum  30 cm
 Tinggi reservoir  30 cm
 3,5 m
 4-5 m
Sumber : NSPM Kimpraswil, Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Sistem Penyediaan Air Minum Pe
rkotaan Bag. 6 Vol II dan III, 2002
Tabel 4. 13 Bahan Komponen Reservoir
No. Komponen/Jenis Bahan

A. Konstruksi reservoar 1) Konstruksi Beton


2) Konstruksi Baja
B. Perpipaan Pipa baja atau Cast Iron Pipe (CIP) atau Du
etile Cast Iron Pipe (DCIP)
1) Pipa Inlet
Pipa baja atau Cast Iron Pipe (CIP) atau Du
2) Pipa Outlet etile Cast Iron Pipe (DCIP)

Pipa baja atau Cast Iron Pipe (CIP) atau Du


3) Over flow etile Cast Iron Pipe (DCIP)

Digunakan adalah Pipa baja atau Cast Iron


4) Pipa Penguras Pipe (CIP) atau Duetile Cast Iron Pipe (DCI
P)

Disesuaikan dengan jenis material pipa kelu


5) By pass aran

6) Vent Pipa baja, CIP/DCIP

Pipa baja atau Cast Iron Pipe (CIP) atau Du


7) Pipa Hisap Pompa etile Cast Iron Pipe (DCIP)

Sumber : NSPM Kimpraswil, Pedoman/Petunjuk Teknik dan Manual Sistem Penyediaan Air Minum Pe
rkotaan Bag. 6 Vol II dan III, 2002

Kinerja reservoir ditentukan oleh sistem pengaliran pada reservoir tersebut. Syarat t
eknis pengaliran yang berkaitan dengan reservoir adalah :
1. Sistem pengaliran air masuk disesuaikan dengan rencana sistem pengaliran air pada ja
ringan transmisi;
2. Sistem pengaliran air ke luar disesuaikan dengan rencana sistem pengaliran air pada ja
ringan distribusi;
3. Aliran air dalam reservoir diusahakan setenang mungkin, tidak ada turbulensi yaitu den
gan cara memperpanjang jarak aliran dalam reservoir. Biasanya letak masukan terhada
p keluaran dibuat menyilang tidak sejajar sehingga didapat jarak aliran yang lebih panja
ng.
Tahapan perencanaan reservoir adalah sebagai berikut :
1. Menentukan Kapasitas Efektif Reservoir Distribusi.
a. Kapasitas efektif reservoir distribusi ditentukan oleh :
 Periode operasi reservoir
 Fluktuasi pemakaian air oleh konsumen
 Fluktuasi pengaliran air ke reservoir
 Kapasitas air untuk pemadam kebakaran (Khusus untuk kota besar atau sedan
g yang menyediakan sistem pemadam kebakaran kota dengan membuat Hidra
n Kebakaran)
 Kapasitas air untuk pemeliharaan IPA (Khusus untuk reservoir distribusi yang
merupakan bagian reservoir penampung air minum dari IPA).
b. Periode Perencanaan
Periode perencanaan reservoir biasanya disesuaikan dengan periode perencanaa
n pengembangan sistem penyediaan air minum secara keseluruhan. Periode pere
ncanaan sistem penyediaan air minum ditentukan pada tahapan Rencana Induk
atau Studi Kelayakan.
c. Fluktuasi Pemakaian Air
Fluktuasi pemakaian air adalah perbedaan/variasi pemakaian air dalam satu satua
n waktu (biasanya dalam satuan jam) dalam satu hari. Fluktuasi pemakaian air ini t
ergantung dari :
 Jenis/ragam konsumen
 Misalnya fluktuasi pemakaian air untuk rumah tangga akan berbeda dengan flu
ktuasi pemakaian air untuk industri
 Makin beragam konsumen, fluktuasi pemakaian air semakin kecil
 Jumlah konsumen
 Makin banyak konsumen maka fluktuasi pemakaian air makin kecil.
Tabel 4. 14 Faktor Pengali (Load Factor) terhadap Kebutuhan Air Minum
Jam 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12

Load F 0,3 0,7 0,45 0,64 1,15 1,4 1,53 1,56 1,41 1,38 1,27 1,2
actor

Jam 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24

Load F 1,14 1,17 1,18 1,22 1,31 1,38 1,25 0,98 0,62 0,45 0,37 0,25
actor
Gambar 4. 2 Grafik Suplai dan Pemakaian Air Setiap Jam

Gambar di atas memperlihatkan contoh fluktuasi pemakaian air dalam satu hari, yang
memperlihatkan :
 Grafik fluktuasi pemakaian air
 Pemakaian air pada jam puncak
 Pemakaian air minimum
 Pemakaian air rata-rata
 Jumlah air yang masuk ke reservoir
 Jumlah air yang keluar dari reservoir.
 Fluktuasi Pengaliran Air ke Reservoir
Fluktuasi pengaliran air ke reservoir akan mempengaruhi volume reservoir yang dibutu
hkan. Debit pengaliran air ke reservoir yang konstan akan membutuhkan volume reserv
oir yang lebih kecil dibandingkan dengan debit pengaliran yang tidak konstan. Flukt
uasi pengaliran air kereservoir distribusi tergantung pada variasi pengaliran air dari sistem
transmisi air minum.
2. Pada umumnya kapasitas efektif reservoir distribusi dihitung dengan menggunakan :
a. Grafik fluktuasi pemakaian air (secara grafis).
 Menyiapkan grafis fluktuasi pemakaian air kumulatif, yaitu grafis jumlah p
emakaian air kumulatif, yaitu grafis jumlah pemakaian air setiap periode wa
ktu tertentu yang dihitung dari awal waktu.
 Menyiapkan grafis fluktuasi penga liran air kumulatif dari sistem transmisi
air minum, yaitu grafik jumlah pengaliran air ke reservoir setiap periode waktu
tertentu yang dihitung dari awal waktu.
 Menggabungkan kedua grafik di atas pada satu bidang lembar kerja sehingga t
erlihat selisih t er besar a ntara p eng alir a n (suplai) da n pemakaian.
 Volume efektif reservoir adalah jumlah antara selisih terbesar pada saat pengal
iran lebih besar dari pemakaian dengan selisih terbesar pada saat pengaliran l
ebih kecil dari pemakaian.
b. Sistem tabulasi dari fluktuasi pemakaian air (secara tabulasi).
 Membuat tabulasi fluktuasi pemakaian air kumulatif.
 Membuat tabulasi fluktuasi pengaliran air kumulatif dari sistem transmisi
air minum.
 Membuat tabulasi selisih antara pengaliran (suplai) air kumulatif dengan
pemakaian air kumulatif.
 Bila pemakaian lebih kecil dari pengaliran, selisih diberi tanda positif (+)
dan bila pemakaian lebih besar dari suplai, selisih diberi tanda negatif (-).
 Volume efektif reservoir adalah jumlah selisih positif dan selisih negatif y
ang terbesar.
c. Prosentase tertentu dari pemakaian air dalam satu hari (standarisasi).
 Penentuan kapasitas dengan presentase sangat tergantung pada kebiasa
an daerah/kota yang bersangkutan, karena itu harus berdasarkan pengal
aman.
 Bila harus disediakan air untuk sistem pemadam kebakaran kota, maka k
apasitas efektif air reservoir harus ditambah dengan kebutuhan air untuk
pemadam kebakaran tersebut.
 Bila reservoir distribusi terletak dalam lokasi Instalasi Pengolahan Air ter
masuk sebagai reservoir pengumpul air produksi, maka kapasitas efektif
air reservoir harus ditambah dengan kebutuhan air untuk pemeliharaan I
PA.
Sistem tabulasi dari fluktuasi pemakaian air (secara tabulasi).
 Membuat tabulasi fluktuasi pemakaian air kumulatif.
 Membuat tabulasi fluktuasi pengaliran air kumulatif dari sistem transmisi
air minum.
 Membuat tabulasi selisih antara pengaliran (suplai) air kumulatif dengan
pemakaian air kumulatif.
 Bila pemakaian lebih kecil dari pengaliran, selisih diberi tanda positif (+)
dan bila pemakaian lebih besar dari suplai, selisih diberi tanda negatif (-).
 Volume efektif reservoir adalah jumlah selisih positif dan selisih negatif y
ang terbesar.
Prosentase tertentu dari pemakaian air dalam satu hari (standarisasi).
 Penentuan kapasitas dengan presentase sangat tergantung pada kebiasa
an daerah/kota yang bersangkutan, karena itu harus berdasarkan pengal
aman.
 Bila harus disediakan air untuk sistem pemadam k eba ka ra n k o ta , m
a ka k apa s itas e fek tif a ir reservoir harus ditambah dengan kebutuhan
air untuk pemadam kebakaran tersebut.
 Bila reservoir distribusi terletak dalam lokasi Instalasi Pengolahan A ir ter
masuk sebaga i r eservoi r pengumpul air pr oduksi, m aka kapasitas efe
ktif air reservoir harus ditambah dengan kebutuhan air untuk pemeliharaa
n IPA.
3. Penentuan kriteria perencanaan
Kriteria perencanaan yang diperlukan tahap ini antara lain :
 Tinggi air dalam reservoir
 Tinggi bebas (free board)
 Perlengkapan reservoir
4. Pemilihan bentuk dan perhitungan dimensi reservoir
D a la m m em ilih b e n tu k re s e rv o ir p e r lu d ip e rh itu n g k a n hal-hal sepert
i berikut ini:
1) Kemudahan dalam pelaksanaan.
2) Pilihan dari segi estetika.
3) Kemudahan dalam pembagian ruang/kompartemen.
Setelah diketahui kapasitas efektif reservoir yang diperlukan, kemudian dihitung dimensi
reservoir yang direncanakan.
Dalam menghitung dimensi reservoir ini perlu diperhatikan:
1) Bentuk reservoir yang direncanakan.
2) Tinggi air dan tinggi bebas dalam reservoir sesuai dengan kriteria perencanaan
yang digunakan.
3) Ruang untuk perpipaan.
4) Ruang pompa (bila ada).
a. Pra rencana lokasi
Dalam perencanaan, lokasi reservoir ini sudah dipertimbangkan:
 Lokasi sedekat mungkin dengan daerah pelayanan, agar pipa induk
distribusi sependek mungkin.
 Diusahakan pada lokasi yang relatif tinggi, sehingga pengaliran dapat
dilakukan sceara gravitasi dan memenuhi kriteria sisa tekan pada konsumen
terjauh.
 Luas lahan diperkirakan m emadai, baik untuk reserv oir maupun untuk
bangunan penunjang. Dalam luas lahan ini juga p e r lu d ip e r t im b a n g k a
n k e b u tu h a n la h a n u n tu k pengembangan yang akan datang.
 Mengutamakan lahan yang sudah bebas
b. Pemilihan jenis reservoir yang digunakan
Terdapat dua jenis reservoir yaitu groud reservoir dan menara reservoir.
Gambar 4. 3 Penggunaan Reservoir pada Sistem Jaringan Distribusi Air Minum

c. Pemilihan konstruksi reservoir


Dalam pemilihan konstruksi reservoir perlu dipertimbangkan :
 Kekuatan konstruksi
 Kemudahan dalam pelaksanaan pembangunan
 Kemudahan dalam operasi dan pemeliharaan
 Life time
 Biaya pembangunan dan biaya operasi/pemeliharaan.
d. Penentuan jenis bangunan penunjang
Bangunan penunjang yang mungkin ada pads komplek reservoir adalah :
 Rumah jaga
 Gudang bahan kimia
 Fasilitas pembubuhan desinfektan
 Rumah pompa/genset (bila menggunakan pompa).
Dimensi bangunan penunjang ditentukan sesuai dengan kebutuhan.
e. Pra rencana tata letak
Berdasarkan dimensi reservoir dan bangunan penunjang yang direncanakan, kemu
dian dibuat pra rencana tata letak. Rencana tata letak ini harus disesuaikan dengan
bentuk dan luas lahan yang tersedia. Bilamana luas lahan yang tersedia tidak menc
ukupi, maka harus dicari lokasi lahan lainnya. Demikian juga bilamana ternyata tida
k dapat dilakukan pembebasan/sewa/izin penggunaan tanah maka perlu dicari loka
si yang lain.
f. Pengukuran topografi
Setelah ditetapkan lokasi reservoir, maka dilakukan pengukuran topografi. Penguku
ran topografi dimaksud untuk mendapatkan data luas dan ketinggian (kontur) dari r
encana reservoir. Hasil pengukuran topografi ini adalah peta situasi. Pada umumny
a peta situasi untuk bangunan reservoir dibuat dengan Skala 1:200 dan interval keti
nggian 0.50 meter. Pengukuran topografi semestinya dilakukan oleh tenaga ahli ya
ng menguasai bidang tersebut.
g. Perencanaan detail reservoir
 Setelah dilakukan pengukuran topografi, kemudian dibuat rencana detail
penempatan reservoir.
 Agar terbebas dari kontaminasi, reservoir dibuat tertutup dan untuk
pengamanan sebaiknya dibuat pagar di sekeliling reservoir.
 Pada umumnya reservoir terdiri dari :
o Ruang penampungan air (tangki reservoir)
o Ruang perpipaan/pipe gallery (umumnya bila reservoir lebih dari satu unit).
o Ruang pompa (bila sistem dengan pemompaan).
Kapasitas ruang penampungan air disesuaikan dengan kapasitas air yang di
tampung dalam reservoir. Ruang perpipaan adalah untuk peletakan dan pen
goperasian perpipaan reservoir, seperti pipa masukan, pipa keluaran, pipa p
enguras, pipa peluap serta untuk penempatan meter air. Ruang pompa (bila
ada) adalah ruang untuk penempatan dan pengoperasian pompa. Bila siste
m distribusi menggunakan sistem pemompaan, maka pompa ini dapat ditem
patkan terpisah dari reservoir dan ada juga yang bersatu dengan reservoir.
 Perpipaan yang biasanya ada pada reservoir adalah
o Pipa masukan
o Pipa keluaran
o Pipa penguras
o Pipa peluap
o Pipa udara
o Pipa hisap pompa (kalau ada).
h. Penyelidikan tanah
Pada dasarnya tujuan dari penyelidikan tanah adalah untuk mengetahui kekuatan d
aya dukung tanah dan kedalaman muka air tanah. Pekerjaan ini dilaksanakan oleh t
enaga ahli yang menguasai bidang tersebut. Data hasil penyelidikan tanah akan dip
akai untuk perhitungan konstruksi.
i. Perhitungan Konstruksi
Perhitungan konstruksi ini untuk menghitung konstruksi bagian atas dan konstru
ksi bagian bawah (pondasi) dari reservoir. Selain perhitungan konstruksi yang m
enghitung dimensi dari material-material konstruksi, juga dilengkapi dengan gamb
ar perencanaan konstruksi.

Gambar 4. 4 Contoh penempatan pipa inlet, outlet dan bypass pada reservoir

Gambar 4. 5 Contoh penempatan overflow dan penguras

Gambar 4. 6 Contoh Perletakan Pipa Vent


4.2.4 UNIT DISTRIBUSI
Air yang dihasilkan dari IPA dapat ditampung dalam reservoir air yang berfun
gsi untuk menjaga kesetimbangan antara produksi dengan kebutuhan, sebagai penyi
mpan kebutuhan air dalam kondisi darurat, dan sebagai penyediaan kebutuhan air u
ntuk keperluan instalasi.
Reservoir air dibangun dalam bentuk reservoir tanah yang umumnya untuk m
enampung produksi air dari sistem IPA, atau dalam bentuk menara air yang umumny
a untuk mengantisipasi kebutuhan puncak di daerah distribusi. Reservoir air dibangu
n baik dengan konstruksi baja maupun konstruksi beton bertulang.
Perencanaan teknis pengembangan SPAM unit distribusi dapat berupa jaring
an perpipaan yang terkoneksi satu dengan lainnya membentuk jaringan tertutup (loo
p), sistem jaringan distribusi bercabang (dead-end distribution system), atau kombin
asi dari kedua sistem tersebut (grade system). Bentuk jaringan pipa distribusi ditent
ukan oleh kondisi topografi, lokasi reservoir, luas wilayah pelayanan, jumlah pelangg
an dan jaringan jalan dimana pipa akan dipasang.
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi dalam perancangan denah (lay-ou
t) sistem distribusi adalah sebagai berikut:
a. Denah (Lay-out) sistem distribusi ditentukan berdasarkan keadaan topografi wila
yah pelayanan dan lokasi instalasi pengolahan air;
b. Tipe sistem distribusi ditentukan berdasarkan keadaan topografi wilayah pelaya
nan;
c. Jika keadaan topografi tidak memungkinkan untuk sistem gravitasi seluruhnya, d
iusulkan kombinasi sistem gravitasi dan pompa. Jika semua wilayah pelayanan r
elatif datar, dapat digunakan sistem perpompaan langsung, kombinasi dengan
menara air, atau penambahan pompa penguat (booster pump);
d. Jika terdapat perbedaan elevasi wilayah pelayanan terlalu besar atau lebih dari
40 m, wilayah pelayanan dibagi menjadi beberapa zone sedemikian rupa sehing
ga memenuhi persyaratan tekanan minimum.
Untuk mengatasi tekanan yang berlebihan dapat digunakan katup pelepas tek
an (pressure reducing valve). Untuk mengatasi kekurangan tekanan dapat digunaka
n pompa penguat.

Pipa Distribusi
1) Denah (Lay-out) Jaringan Pipa Distribusi
Perencanaan denah (lay-out) jaringan pipa distribusi ditentukan berdasarkan per
timbangan :
a. Situasi jaringan jalan di wilayah pelayanan; jalan-jalan yang tidak saling
menyambung dapat menggunakan sistem cabang. Jalan-jalan yang saling
berhubungan membentuk jalur jalan melingkar atau tertutup, cocok untuk
sistem tertutup, kecuali bila konsumen jarang.
b. Kepadatan konsumen; makin jarang konsumen lebih baik dipilih denah (lay-
out) pipa berbentuk cabang
c. Keadaan topografi dan batas alam wilayah pelayanan
d. Tata guna lahan wilayah pelayanan
2) Komponen Jaringan Distribusi
Jaringan pipa distribusi harus terdiri dari beberapa komponen untuk memudahka
n pengendalian kehilangan air.
a. Zona distribusi suatu sistem penyediaan air minum adalah suatu area
pelayanan dalam wilayah pelayanan air minum yang dibatasi oleh pipa
jaringan distribusi utama (distribusi primer).
Pembentukan zona distribusi didasarkan pada batas alam (sungai, lembah,
atau perbukitan) atau perbedaan tinggi lebih besar dari 40 meter antara zon
a pelayanan dimana masyarakat terkonsentrasi atau batas administrasi. Pe
mbentukan zona distribusi dimaksudkan untuk memastikan dan menjaga tek
anan minimum yang relatif sama pada setiap zona. Setiap zona distribusi da
lam sebuah wilayah pelayanan yang terdiri dari beberapa Sel Utama (biasan
ya 5-6 sel utama) dilengkapi dengan sebuah meter induk
b. Jaringan Distribusi Utama (JDU) atau distribusi primer yaitu rangkaian pipa
distribusi yang membentuk zona distribusi dalam suatu wilayah pelayanan
SPAM.
c. Jaringan distribusi pembawa atau distribusi sekunder adalah jalur pipa yang
menghubungkan antara JDU dengan Sel Utama.
d. Jaringan distribusi pembagi atau distribusi tersier adalah rangkaian pipa
yang membentuk jaringan tertutup Sel Utama.
e. Pipa pelayanan adalah pipa yang menghubungkan antara jaringan distribusi
pembagi dengan Sambungan Rumah. Pendistribusian air minum dari pipa
pelayanan dilakukan melalui Clamp Sadle.
f. Sel utama (Primary Cell) adalah suatu area pelayanan dalam sebuah zona
distribusi dan dibatasi oleh jaringan distribusi pembagi (distribusi tersier)
yang membentuk suatu jaringan tertutup. Setiap sel utama akan membentuk
beberapa Sel Dasar dengan jumlah sekitar 5-10 sel dasar. Sel utama
biasanya dibentuk bila jumlah sambungan rumah (SR) sekitar 10.000 SR
g. Sel dasar (Elementary Zone) adalah suatu area pelayanan dalam sebuah
sel utama dan dibatasi oleh pipa pelayanan. Sel dasar adalah rangkaian
pipa yang membentuk jaringan tertutup dan biasanya dibentuk bila jumlah
sambungan rumah SR mencapai 1.000-2.000 SR. Setiap sel dasar dalam
sebuah Sel Utama dilengkapi dengan sebuah Meter Distrik.
3) Bahan Pipa
Pemilihan bahan pipa bergantung pada pendanaan atau investasi yang tersedia.
Hal yang terpenting adalah harus dilaksanakannya uji pipa yang terwakili untuk
menguji mutu pipa tersebut. Tata cara pengambilan contoh uji pipa yang dapat
mewakili tersebut harus memenuhi persyaratan teknis dalam SNI 06-2552-1991
tentang Metode Pengambilan Contoh Uji Pipa PVC Untuk Air Minum, atau stand
ar lain yang berlaku.
4) Diameter Pipa Distribusi
Ukuran diameter pipa distribusi ditentukan berdasarkan aliran pada jam puncak
dengan sisa tekan minimum di jalur distribusi, pada saat terjadi kebakaran jaring
an pipa mampu mengalirkan air untuk kebutuhan maksimum harian dan tiga bua
h hidran kebakaran masing-masing berkapasitas 250 gpm dengan jarak antara h
idran maksimum 300 m.
Faktor jam puncak terhadap debit rata-rata tergantung pada jumlah penduduk
wilayah terlayani sebagai pendekatan perencanaan dapat digunakan tabel 4.15

Tabel 4. 15 Kriteria Pipa Distribusi


No Uraian Notasi Kriteria

1. Debit Perencanaan Q puncak Kebutuhan air hari puncak


Q peak = F peak × Q rata rata

2. Faktor hari puncak F puncak 1,15 – 3

3. Kecepatan aliran air dalam pipa


a) Kecepatan minimum V min 0,3 – 0,6 m/det
b) Kecepatan maksimum
- Pipa PVC atau ACP
- Pipa baja atau DCIP V. max 3,0-4,5 m/det
V. max 6,0 m/det

4. Tekanan air dalam pipa


a) Tekanan minimum H min (0,5-1,0) atm, pada titik jangkaua
b) Tekanan maksimum n pelayanan terjauh
- Pipa PVC atau ACP
- Pipa baja atau DCIP
- Pipa PE 100 6-8 atm
- Pipa PE 80 H max
10 atm
H max
12,4 Mpa
H max
9,0 Mpa
H max

Perpipaan Transmisi Air Minum dan Distribusi


a. Penentuan dimensi perpipaan transmisi air minum dan distribusi dapat menggunakan f
ormula:
Q=VxA
A = 0,785 D2
Dengan pengertian:
Q = debit (m3/detik)
V = kecepatan pengaliran (m/detik) A = luas penampang pipa (m2)
D = diameter pipa (m)
b. Kualitas pipa berdasarkan tekanan yang direncanakan; untuk pipa bertekanan tinggi da
pat menggunakan pipa Galvanis (GI) Medium atau pipa PVC kelas AW, 8 s/d 10 kg/cm
2 atau pipa berdasarkan SNI, Seri (10–12,5), atau jenis pipa lain yang telah memiliki S
NI atau standar internasional setara.
c. Jaringan pipa didesain pada jalur yang ditentukan dan digambar sesuai dengan zona p
elayan yang di tentukan dari jumlah konsumen yang akan dilayani, penggambaran dilak
ukan skala maksimal 1:5.000.
Tabel 4. 16 Faktor Jam Puncak untuk Perhitungan Jaringan Pipa Distribusi
Faktor Pipa Distribusi Utama Pipa Distribusi Pemba Pipa Distribusi Pemba
wa gi

Jam Puncak 1,15 – 1,7 2 3

Ukuran diameter pipa distribusi dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Tabel 4. 17 Diameter Pipa Distribusi
Faktor Pipa Distribusi Ut Pipa Distribusi P Pipa Distribusi P Pipa Pelayanan
ama embawa embagi

Sistem Kecamata ≥ 100 mm 75 – 100 mm 75 mm 50 mm


n

Sistem Kota ≥ 150 mm 100 – 150 mm 75 – 100 mm 50 – 75 mm

Analisis jaringan pipa distribusi antara lain memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1. Jika jaringan pipa tidak lebih dari empat loop, perhitungan dengan metoda hardy- cross
masih diijinkan secara manual. Jika lebih dari empat loop harus dianalisis dengan
bantuan program komputer.
2. Perhitungan kehilangan tekanan dalam pipa dapat dihitung dengan rumus Hazen
Williams: Hf = 10,66-1,85 D-4,87 L
Kecepatan aliran dengan rumus: V = 0,38464 C.D 0,63 I 0,54
Debit aliran dihitung dengan rumus: Q = 0,27853 C.D 2,63 I 0,54
Dimana:
Q = debit air dalam pipa (m³/detik) C = koefisien kekasaran pipa
D = diameter pipa (m)
S = slope/kemiringan hidrolis Ah = kehilangan tekanan (m) L = panjang pipa (m)
V = kecepatan aliran dalam pipa (m/detik)
A = luas penampang pipa (m³)

Pompa Distribusi
Debit pompa distribusi ditentukan berdasarkan fluktuasi pemakaian air dalam satu ha
ri. Pompa harus mampu mensuplai debit air saat jam puncak dimana pompa besar bekerja d
an saat pemakaian minimum pompa kecil yang bekerja. Debit pompa besar ditentukan sebe
sar 50% dari debit jam puncak. Pompa kecil sebesar 25% dari debit jam puncak. Ketentuan j
umlah dan ukuran pompa distribusi sesuai dengan Tabel 4.18.

Tabel 4. 18 Jumlah dan Ukuran Pompa Distribusi


Debit Jumlah Pompa Total Pompa
(m3/hari) (unit) (unit)
Sampai 125 2 (1) 3

120 s.d 450 Besar : 1 (1) 2

Lebih dari 400 Kecil : 1 1

Besar : lebih dari 3 (1) Lebih dari 4

Kecil : 1 1

Ketentuan teknis pompa penguat adalah sebagai berikut:


a. Pemasangan pompa penguat diperlukan untuk menaikkan tekanan berdasarkan pertimb
angan teknis:
 Jarak atau jalur pipa terjauh;
 Kondisi topografi;
 Kemiringan hidrolis maksimum pipa yang akan digunakan. Dalam kondisi normal,
kemiringan hidrolis berkisar antara 2-4 m/1.000 m.
b. Lokasi stasiun pompa penguat (booster pump) harus memenuhi ketentuan teknis beriku
t:
 Elevasi muka tanah stasiun pompa harus termasuk dalamdesain hidrolis sistem
distribusi;
 Terletak di atas muka banjir dengan periode ulang 50 tahun. Jika tidak ada data,
ditempatkan pada elevasi paling tinggi dari pengalaman waktu banjir;
 Mudah dijangkau dan sedekat mungkin dengan masyarakat atau permukiman.
c. Dimensi
 Sistem langsung atau Direct Boosting
Debit pompa sesuai dengan debit melalui pipa. Jika pompa penguat dipasang pada
pipa distribusi, pompa harus memompakan air sesuai dengan fluktuasi kebutuhan ai
r wilayah pelayanan. Sistem perpipaan harus dilengkapi dengan pipa bypass yang di
lengkapi katup searah untuk mencegah (pukulan air (water hamer)). Ukuran pipa by
pass sama dengan pipa tekan.
 Sistem tidak langsung
Volume tangki hisap minimum ditentukan sesuai dengan waktu penampungan selam
a 30 menit, jika debit pengisian dan debit pemompaan konstan. Volume tangki hisap
minimum untuk penampungan selama 2 jam atau sesuai dengan debit masuk dan k
eluar, jika debit pengisian dan pemompaan berfluktuasi. Jumlah dan ukuran pompa
penguat (booster pump) sistem distribusi sesuai dengan Tabel 4.19 dan debit pomp
a sesuai dengan fluktuasi pemakaian air di wilayah pelayanan.
d. Pemilihan Pompa
Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan pompa adalah:
1) Efisiensi pompa; kapasitas dan total head pompa mampu beroperasi dengan
efisiensi tinggi dan bekerja pada titik optimum sistem.
2) Tipe pompa
 Bila ada kekhawatiran terendam air, gunakan pompa tipe vertikal;
 Bila total head kurang dari 6 m ukuran pompa (bore size) lebih dari 200 m,
menggunakan tipe mixed flow atau axial flow;
 Bila total head lebih dari 20 m, atau ukuran pompa lebih kecil dari 200 mm,
digunakan tipe sentrifugal;
 Bila head hisap lebih dari 6 m atau pompa tipe mixed-flow atau axial flow yang
lubang pompanya (bore size) lebih besar dari 1.500 mm, digunakan pompa tipa
vertikal.
3) Kombinasi pemasangan pompa
Kombinasi pemasangan pompa harus memenuhi syarat titik optimum kerja pompa.
Titik optimum kerja pompa terletak pada titik potong antara kurva pompa dan kurva
sistem. Penggunaan beberapa pompa kecil lebih ekonomis dari pada satu pompa b
esar. Pemakaian pompa kecil akan lebih ekonomis pada saat pemakaian air minim
um di daerah distribusi. Perubahan dari operasi satu pompa ke operasi beberapa p
ompa mengakibatkan efisiensi pompa masingmasing berbeda-beda.

e. Pompa cadangan
Pompa cadangan diperlukan untuk mengatasi suplai air saat terjadi perawatan dan perb
aikan pompa. Pemasangan beberapa pompa sangat ekonomis, dimana pada saat jam p
uncak semua pompa bekerja, dan apabila salah satu pompa tidak dapat berfungsi, mak
a kekurangan suplai air ke daerah pelayanan tidak terlalu banyak.
f. Peningkatan stasiun pompa yang sudah ada
Peningkatan stasiun pompa eksisting dapat ditingkatkan dengan penambahan jumlah p
ompa, memperbesar ukuran pendorong (impeler) pompa atau mengganti pompa lama d
engan pompa baru. Setiap alternatif tersebut harus dievaluasi dalam perancangan tekni
k perpompaan. Gejala pukulan air (water hammer) yang umum terjadi pada sistem distri
busi adalah sebagai berikut:
1) Pada pipa yang dihubungkan dengan pompa. Pemilihan metoda pencegahan
pukulan air (water hammer) harus berdasarkan ketentuan variabel dalam Tabel
4.19.
2) Pada jalur pipa transmisi distribusi yang memungkinkan terjadi tekanan negatif dan
tekanan uap air lebih besar akan menyebabkan terjadi penguapan dan terjadi
pemisahan dua kolom zat cair. Bagian yang berisi uap ini karena bertekanan
rendah akan terisi kembali sehingga dua kolom zat cair yang terpisah akan
menyatu kembali secara saling membentur, maka di tempat benturan ini pipa dapat
pecah. Pada jalur pipa yang paling tinggi harus dilengkapi dengan katup udara (air
valve), sehingga udara dari atmosfir dapat terisap masuk pipa. Penggunaan katup
ini tidak akan menimbulkan masalah jika udara yang terisap dapat dikeluarkan
kembali oleh air di sebelah hilir katup.
4.2.5 UNIT PELAYANAN
Unit Pelayanan terdiri dari sambungan rumah, hidran/kran umum, terminal air, hidran
kebakaran dan meter air.
1. Sambungan Rumah
Yang dimaksud dengan pipa sambungan rumah adalah pipa dan perlengkapannya, dim
ulai dari titik penyadapan sampai dengan meter air. Fungsi utama dari sambungan ruma
h adalah:
 Mengalirkan air dari pipa distribusi ke rumah konsumen
 Untuk mengetahui jmlah air yang dialirkan ke konsumen
Perlengkapan minimal yang harus ada pada sambungan rumah adalah:
 Bagian penyadapan pipa;
 Meter air dan pelindung meter air atau flowrestrictor;
 Katup pembuka/penutup aliran air;
 Pipa dan perlengkapannya
2. Hidran/Kran Umum
Pelayanan Kran Umum (KU) meliputi pekerjaan perpipaan dan pemasangan meteran air
berikut konstruksi sipil yang diperlukan sesuai gambar rencana. KU menggunakan pipa
pelayanan dengan diameter ¾”–1” dan meteran air berukuran ¾”. Panjang pipa pelayan
an sampai meteran air disesuaikan dengan situasi di lapangan/pelanggan. Konstruksi si
pil dalam instalasi sambungan pelayanan merupakan pekerjaan sipil yang sederhana m
eliputi pembuatan bantalan beton, meteran air, penyediaan kotak pengaman dan batang
penyangga meteran air dari plat baja beserta anak kuncinya, pekerjaan pemasangan, pl
esteran dan lain-lain sesuai gambar rencana. Instalasi KU dibuat sesuai gambar rencan
a dengan ketentuan sebagai berikut:
 Lokasi penempatan KU harus disetujui oleh pemilik tanah
 Saluran pembuangan air bekas harus dibuat sampai mencapai saluran air
kotor/selokan terdekat yang ada
 KU dilengkapi dengan meter air diameter ¾”
3. Hidran Kebakaran
Hidran kebakaran adalah suatu hidran atau sambungan keluar yang disediakan untuk m
engambil air dari pipa air minum untuk keperluan pemadam kebakaran atau pengurasan
pipa. Unit hidran kebakaran (fire hydrant) pada umumnya dipasang pada setiap interval j
arak 300 m, atau tergantung kepada kondisi daerah/peruntukan dan kepadatan bangun
annya.
Berdasarkan jenisnya dibagi menjadi 2, yaitu:
 Tabung basah, mempunyai katup operasi diujung air keluar darikran kebakaran.
 Dalam keadaaan tidak terpakai hidran jenis ini selalu terisi air.
 Tabung kering, mempunyai katup operasi terpisah dari hidran. Dengan menutup
katup ini maka pada saat tidak dipergunakan hidran ini tidak berisi air.
Pada umumnya hidran kebakaran terdiri dari empat bagian utama,yaitu:
 Bagian yang menghubungkan pipa distribusi dengan hidran kebakaran
 Badan hidran
 Kepala hidran
 Katup hidran

4.3 PERIODE PERENCANAAN


Suatu sistem penyediaan air minum harus direncanakan dan dibangun sedemikian r
upa, sehingga dapat memenuhi tujuan di bawah ini:
a. Tersedianya air dalam jumlah yang cukup dengan kualitas yang memenuhi persyaratan
air minum.
b. Tersedianya air setiap waktu atau kesinambungan.
d. Tersedianya air dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat atau pemakai.
e. Tersedianya pedoman operasi atau pemeliharaan dan evaluasi
Kriteria perencanaan untuk suatu wilayah dapat disesuaikan dengan kondisi setem
pat. Matriks kriteria utama dapat dilihat pada tabel 4.20. Rencana Induk Pengembangan SP
AM harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Berorientasi ke depan;
b. Mudah dilaksanakan atau realistis; dan
c. Mudah direvisi atau fleksibel.

Tabel 4. 19 Matriks Kriteria Utama Penyusunan Rencana Induk Pengembangan SPAM untuk Berbaga
i Klasifikasi Kota
Jenis Kota
No Kriteria Teknis
Metro Besar Sedang Kecil

I Jenis Rencana Induk Rencana Induk Rencana Induk -


Perencanaan
II Horison 20 tahun 15-20 tahun 15-20 tahun 15-20 tahun
Perencanaan
III Sumber Air Baku Investigasi Investigasi Investigasi Investigasi

IV Pelaksana Penyedia jasa/ Penyedia jasa/ Penyedia jasa/ Penyedia jasa/


penyelenggara penyelenggara penyelenggara penyelenggara
/ pemerintah d / pemerintah d / pemerintah d / pemerintah d
aerah aerah aerah aerah
V Peninjauan Ulang Per 5 tahun Per 5 tahun Per 5 tahun Per 5 tahun

VI Penanggungjawab Penyelenggara/ Penyelenggara/ Penyelenggara/ Penyelenggara/


Pemerintah Pemerintah Pemerintah Pemerintah
Daerah Daerah Daerah Daerah

VII Sumber Pendanaa - Hibah LN - Hibah LN - Hibah LN - Pinjaman LN


n - Pinjaman LN - Pinjaman LN - Pinjaman LN - APBD
- Pinjaman DN - Pinjaman DN - Pinjaman DN
- APBD - APBD - APBD
- PDAM - PDAM - PDAM
- Swasta - Swasta - Swasta

Sumber : Permen 18/PRT/M/2007

Kriteria teknis meliputi:


a. Periode perencanaan (15–20 tahun)
b. Sasaran dan prioritas penanganan
Sasaran pelayanan pada tahap awal prioritas harus ditujukan pada daerah yang belum
mendapat pelayanan air minum dan berkepadatan tinggi serta kawasan strategis. Setel
ah itu prioritas pelayanan diarahkan pada daerah pengembangan sesuai dengan arahan
dalam perencanaan induk kota.
c. Strategi penanganan
Untuk mendapatkan suatu perencanaan yang optimum, maka strategi pemecahan perm
asalahan dan pemenuhan kebutuhan air minum di suatu kota diatur sebagai berikut:
 Pemanfaatan air tanah dangkal yang baik
 Pemanfaatan kapasitas belum terpakai atau idle capacity
 Pengurangan jumlah air tak berekening (ATR)
 Pembangunan baru (peningkatan produksi dan perluasan sistem)
d. Kebutuhan air
Kebutuhan air ditentukan berdasarkan:
 Proyeksi penduduk. Proyeksi penduduk harus dilakukan untuk interval 5 tahun sela
ma periode perencanaan
 Pemakaian air (L/o/h). Laju pemakaian air diproyeksikan setiap interval 5 tahun.
 Ketersediaan air
e. Kapasitas sistem
Komponen utama sistem air minum harus mampu untuk mengalirkan air pada kebutuha
n air maksimum, dan untuk jaringan distribusi harus disesuaikan dengan kebutuhan jam
puncak.
 Unit air baku direncanakan berdasarkan kebutuhan hari puncak yang besarnya berki
sar 130% dari kebutuhan rata-rata.
 Unit produksi direncanakan, berdasarkan kebutuhan hari puncak yang besarnya ber
kisar 120% dari kebutuhan rata-rata.
 Unit distribusi direncanakan berdasarkan kebutuhan jam puncak yang besarnya berk
isar 115%-300% dari kebutuhan rata-rata.

4.4 KRITERIA DAERAH LAYANAN


Kriteria dan standar pelayanan diperlukan dalam perencanaanan pembangunan SPA
M untuk dapat memenuhi tujuan tersedianya air dalam jumlah yang cukup dengan kualitas y
ang memenuhi persyaratan air minum, tersedianya air setiap waktu atau kesinambungan, ter
sedianya air dengan harga yang terjangkau oleh masyarakat atau pemakai. Sasaran pelayan
an pada tahap awal prioritas harus ditujukan pada daerah berkepadatan tinggi dan kawasan
strategis. Setela itu prioritas pelayanan diarahkan pada daerah pengembangan sesuai deng
an arahan dalam perencanaan induk kota. Untuk mendapatkan suatu perencanaan yang opti
mum, maka strategi pemecahan permasalahan dan pemenuhan kebutuhan air minum adala
h sebagai berikut :
1. Pemanfaatan kapasitas belum terpakai atau idle capacity
2. Pengurangan air tak berekening (ATR)
3. Pembangunan baru (Peningkatan produksi dan perluasan sistem)
Kriteria daerah pelayanan mengacu kepada dokumen RTRW dengan memperhatikan daera
h yang potensial akan berkembang, daerah dengan tingkat kepadatan penduduk yang tingg
i, daerah strategis (lokasi wisata, industri, perkantoran), daerah dengan penduduk berpeng
hasilan rendah (MBR), daerah rawan air. Selain itu, pemilihan daerah pelayanan sebaikny
a juga mengacu pada kebijakan pemerintah setempat dalam penyelenggaraan penyedia
an air minum. Untuk wilayah dengan sistem jaringan bukan pemipaan yang tidak terlindun
gi sebaiknya dapat dirubah menjadi sistem jaringan bukan pemipaan yang terlindungi atau
bahkan menjadi sistem perpipaan. Metoda analisis penentuan daerah pelayanan dengan a
dministratif kebijaksanaan pemerintah daerah, dan rencana penerapan jaringan distribusi ut
ama pelayanan air minum:
1. Jumlah penduduk
2. Peta topografi, situasi lokasi, peta jaringan yang sudah ada di daerah pelayanan
3. Asumsi konsumsi pemakaian air domestik
4. Asumsi konsumsi pemakaian air nondomestik
5. Daya dukung tanah
6. Hasil pengukuran lapangan

Anda mungkin juga menyukai