SESI 6
PENGELOLAAN EFEKTIVITAS INDIVIDU, KELOMPOK &
ORGANISASI
Pengertian Efektivitas
Efektivitas merupakan salah satu pencapaian yang ingin diraih oleh
sebuah organisasi. Untuk memperoleh teori efektivitas, dapat menggunakan
konsep-konsep dalam teori manajemen dan organisasi khususnya yang
berkaitan dengan teori efektivitas. Efektivitas tidak dapat disamakan dengan
efisiensi. Karena keduanya memiliki arti yang berbeda, walaupun dalam berbagai
penggunaan kata efisiensi lekat dengan kata efektivitas. Efisiensi mengandung
pengertian perbandingan antara biaya dan hasil, sedangkan efektivitas secara
langsung dihubungkan dengan pencapaian tujuan.
Efektivitas adalah kemampuan untuk melakukan hal yang tepat atau untuk
menyelesaikan sesuatu dengan baik. Hal ini mencakup pelimpahan sasaran
yang paling tepat dan pemilihan metode yang sesuai untuk mencapai sasaran
tersebut.
Emerson menyatakan pengertian efektifitas sebagai berikut : Efektifitas
adalah pegukuran dalam arti tercapainya sasaaran atau tujuan yang telah
ditentukan sebelumnya . Berdasarkan uraian diatas dapatlah disimpulkan bahwa
efektifitas adalah suatu hasil kerja yang sesuai dengan rencana yang telah
ditentukan sebelumnya. Efektivitas juga dapat diartikan sebagai kemampuan
berhasilnya suatu kerja yang dilakukan oleh manusia untuk memberikan hasil
guna sesuai yang diharapkan. Sebagaimana telah diterangkan di atas suatu
tujuan atau sasaran yang telah tercapai sesuai dengan rencana adalah efektif,
tetapi belum tentu efisien.
The Liang Gie ((2001 :: 108) mengemukakan mengenai arti efektivitas
yaitu :
”Efectiveness–Efektivitas: Suatu keadaan yang mengandung pengertian
mengenai terjadinya sesuatu efek atau akibat yang dikehendaki. Kalau
seseorang melakukan suatu perbuatan dengan maksud tertentu yang memang
dikehendakinya, maka orang itu dikatakan efektif kalau menimbulkan akibat atau
mempunyai maksud sebagaimana yang dikehendakinya”.
Menurut Effendy (1989) efektivitas adalah;
”Komunikasi yang prosesnya mencapai tujuan yang direncanakan sesuai dengan
biaya yang dianggarkan, waktu yang ditetapkan dan jumlah personil yang
ditentukan”
Efektivitas menurut pengertian di atas mengartikan bahwa indikator
efektivitas dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya merupakan sebuah pengukuran dimana suatu target telah tercapai
sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
1
Sedangkan, Menurut Agung Kurniawan dalam bukunya Transformasi Pelayanan
Publik
“Efektivitas adalah kemampuan melaksanakan tugas, fungsi (operasi kegiatan
program atau misi) daripada suatu organisasi atau sejenisnya yang tidak adanya
tekanan atau ketegangan diantara pelaksanaannya” (Kurniawan, 2005:109).
Dari beberapa pendapat di atas, dapat dilihat bahwa efektivitas
merupakan keterkaitan antara rencana, kehendak, aturan, tujuan atau sasaran
dengan hasil yang telah dicapai setelah melakukan kegiatan untuk mencapai
maksud, sasaran atau apa yang telah direncanakan sebelumnya.
Dengan kata lain bahwa suatu hasil dikatakan mencapai efektivitas jika
hasil tersebut benar-benar sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
sebelumnya, termasuk ketentuan yang berlaku. Disamping itu, uraian yang
dikemukakan di atas, menunjukkan pula bahwa indikator atau ukuran efektivitas
adalah kesesuaian antara rencana dengan hasil yang dicapai, atau antara
ketentuan perundang-undangan yang berlaku dengan kenyataan
pelaksanaannya, atau dengan kata lain bahwa efektif adalah kesamaan antara
rencana dan hasil yang dicapai.
Siagian mengemukakan bahwa efektivitas merupakan penyelesaian
pekerjaan tepat pada waktu yang telah ditentukan sebelumnya, artinya apakah
pekerjaan itu dapat diselesaikan, dan tidak menjawab pertanyaan bagaimana
cara melakukannya dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk itu. Lebih lanjut,
S.P Siagian juga mengemukakan kegiatan dikatakan efektif apabila kegiatan
tersebut berhasil deselesaikan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan atau
dalam kata lain tepat waktu. Dimana Efektivitas sebagai orientasi kerja menyoroti
1. Sumber daya, dana, prasarana yang dapat digunakan oleh organisasi atau
perusahaan yang jumlahnya sudah ditentukan atau di batasi
2. Jumlah dan mutu pelayanan jasa yang diberikan sudah ditentukan sesuai
dengan sasaran yang ingin dicapai
3. Batas waktu dalam menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan apa yang telah
ditentukan sebelumnya
4. Tata cara yang ditempuh untuk menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang
telah ditetapkan.
Bidang Perilaku Organisasi mengindentifikasi tiga tingkatan analisis:
1. Individu
2. Kelompok dan
3. Organisasi
Ketiga tingkatan analisis tersebut juga sejalan dengan ketiga tingkatan
tanggung jawab manajerial. Para manajer bertanggung jawab atas keefektifan
individu, kelompok dan organisasi.
2
Perspektif Keefektifan:
James L. Gibson (1993), memandang konsep keefektifan organisasi dari
tiga perpektif, yaitu; 1) keefektifan individu, 2) keefektifan kelompok, dan 3)
keefektifan organisasi.
Tiga macam perpektif kefektifan dapat diindentifikasikan sebagai berikut:
1. Efektifitas individu, perspektif ini menekankan pelaksanaan tugas pekerja
atau anggota dari organisasi itu. Tugas-tugas yang harus dilaksanakan
adalah bagian dari pekerjaan atau posisi individu dalam organisasi itu. Para
manajer secara rutin menaksir keefektifan individu melalui proses evaluasi
prestasi. Evaluasi ini menjadi dasar untuk kenaikan gaji, promosi, dan jenis
imbalan lain yang diberikan organisasi itu.
Pandangan keefektifan individu menempati tingkat yang paling dasar dalam
konteks keefektifan organisasi, karena diasumsikan bila tiap anggota
organisasi melakukan tugas pekerjaannya dengan efektif, maka keefektifan
organisasi secara keseluruhan akan timbul. Pandangan dari segi individu
menekankan kinerja karyawan atau anggota tertentu dari organisasi. Tugas
yang harus dilaksanakan biasanya ditetapkan sebagai bagian dari pekerjaan
atau posisi dalam organisasi. Kinerja individu dinilai secara rutin lewat proses
evaluasi hasil karya yang merupakan dasar bagi kenaikan gaji, promosi, dan
imbalan lain yang tersedia dalam organisasi. Penyebabnya ditentukan
berbagai faktor, antara lain: keterampilan, pengetahuan, kecakapan, sikap,
motivasi, dan stres.
2. Efektifitas kelompok, Individu-individu jarang bekerja terpisah dari pekerja
lain di dalam organisasi itu. Menurut situasi yang lazim individu bekerja dalam
kelompok. Jadi kita, harus mempertimbangkan suatu perspektif keefektifan
antara ketiga kelompok adalah jumlah sumbangan dari seluruh anggotanya.
Sebagai contoh: Sekelompok pekerja perusahaan rokok di bagian produksi,
individu pegawai pekerja bagian linting rokok, bekerja mempunyai tingkat
efektifitas yang tinggi (hasil maksimal), akan mempengaruhi efektifitas
kelompok. Tentunya dalam hal ini keefektifan kelompok melebihi jumlah
sumbangan individu. Dengan demikian produk jadi 1 bungkus rokok
dihasilkan dari sumbangan masing-masing individu pekerja.
Orang di dalam organisasi jarang bekerja sendirian melainkan bekerja sama
dengan orang lain (kelompok). Jadi, selain pandangan keefektifan individu,
terdapat pula pandangan keefektifan dari segi kelompok. Dalam beberapa
hal, keefektifan kelompok adalah jumlah kontribusi dari semua
anggotanya. Misalnya, bagi kelompok ilmuawan mengerjakan proyek-proyek
individual, yang tidak saling berhubungan, maka besarnya keefektivan sama
dengan jumlah keefektifan dari tiap-tiap individu. Dalam beberapa hal lain,
keefektifan kelompok adalah lebih besar dari jumlah kontribusi tiap-tiap
individu. Contoh semacam itu adalah lini perakitan yang menghasilkan
produk jadi sebagai hasil sumbangan khusus, tetapi kumulatif dari kontribusi
tiap-tiap individu. Penyebabnya antara lain: kekompakan, kepemimpinan,
struktur, status, peran dan norma.
3
3. Efektifitas Organisasi, karena organisasi terdiri dari individu dan kelompok,
keefektifan organisasi adalah fungsi dari efektifitas individu dan kelompok.
Sungguhpun demikian, keefektifan organisasi melebihi jumlah efektifitas
individu dan kelompok. Organisasi dapat memperoleh prestasi yang lebih
tinggi dibandingkan dengan jumlah prestasi dari masing-masing bagianya.
Organisasi adalah suatu sistem kerja sama sekelompok orang untuk
mencapai tujuan tertentu. Sebagai suatu sistem di dalamnya terdapat tiga
komponen yang saling berkaitan membentuk suatu kebulatan menimbulkan
organisasi, yaitu: orang-orang (sekelompok orang), kerja sama, dan
tujuan. Untuk mencapai tujuan itu, dibentuk kerja sama dari orang-orang yang
akan melakukan kegiatan. Makin kompleks tujuan yang ingin dicapai semakin
banyak tugas-tugas yang harus dikerjakan dan semakin banyak pula orang-
orang yang harus terlibat dalam kerja sama [Link] itu dituntut
agar berlangsung dan berhasil mencapai tujuannya (efektif). Tetapi anehnya
tidak sedikit organisasi sudah ditentukan, diisi dengan tenaga-tenaga yang akan
melakukan kegiatan dalam organisasi itu, kemudian tidak berhasil mencapai
tujuannya (tidak efektif), misalnya bahan baku yang kurang memadai, kinerja
individu dan kelompoka yang tidak memuaskan, kualitas produk yang rendah,
perolehan laba yang tidak maksimal, iklim yang tidak stabil, dan sebagainya.
Organisasi dibentuk karena punya tujuan. Dengan tujuan maka organisasi
menjadi dinamis. Dalam kedinamisannya para manajer dan para analis
organisasi berupaya untuk membuat organisasinya lebih efektif.
Organisasi terdiri dari individu-individu dan kelompok-kelompok. Karena
itu keefektifan organisasi terdiri dari keefektifan individu dan kelompok. Namun
demikian, keefektifan organisasi adalah lebih banyak dari jumlah keefektifan
individu dan kelompok; lewat pengaruh sinergi (kerja sama), organisasi mampu
mendapatkan hasil karya yang lebih tinggi tingkatnya daripada jumlah hasil karya
tiap-tiap bagiannya. Sebenarnya, alasan bagi organisasi sebagai alat untuk
melaksanakan pekerjaan masyarakat adalah bahwa organisasi itu dapat
melakukan pekerjaan yang lebih banyak daripada yang mungkin dilakukan oleh
individu. Faktor penyebabnya: lingkungan, teknologi, strategi, struktur, proses
dan budaya.
Harjito (1995:p.16) mengemukakan bahwa organisasi selalu berusaha
untuk mempu mempertahankan keberadaannya (existence) dan berusaha untuk
mengembangkan diri (develop). Untuk dapat mempertahankan hal tersebut,
sebagai kunci keberhasilan organisasi adalah keefektifan.
Apabila suatu organisasi dirasakan tidak efektif, maka secepatnya
organisasi tersebut harus segera dibenahi. Jadi kata kunci pengertian ini ialah
kata efektif karena pada akhirnya keberhasilan manajer dan organisasi diukur
dengan konsep keefektifan itu. Dan banyak sekali kejadian suatu organisasi
sudah dibentuk, tetapi tujuan-tujuan yang sudah ditentukan itu tidak tercapai
(tidak efektif) yang akhirnya gulung tikar sehingga perlu dilakukan perubahan
dan pengembangan organisasi yang lebih efektif.
4
Dalam organisasi modern keefektifan lebih banyak dilihat dari sudut
sistem. Sebagaimanan telah dikemukakan pada bab-bab terdahulu, organisasi
dapat dipandang sebagai suatu sistem yang mekanisme kerjanya mencakup
transformasi input menjadi out put. Organisasi itu sendiri hidup ditengah-tengah
sistem lain sehingga dipengaruhi dan juga mempengaruhi sistem-sistem yang
lain. Dengan kata lain dipengaruhi dan mempengaruhi lingkungan.
Konsekuensinya, keberhasilan organisasi selain ditentukan oleh faktor intern
ditentukan pula oleh faktor lingkungan tersebut.
Amitai Etzioni (1985) memberi ukuran keefektifan organisasi sebagai
tingkat sejauh mana ia berhasil mencapai tujuannya. Robbins (1995:p.53) dalam
ringkasannya mendefinisikan sebagai kemampuan untuk memperoleh masukan,
memproses masukan tersebut, menyalurkan keluaran, dan mem-pertahankan
stabilitas dan keseimbangan di dalam sistem.
Pernyataan di atas, menurut dari pendapat para ahli di atas maka
agaknya dapat dipahami sebagai pengertian keefektifan organisasi yaitu
berkenaan dengan atribut yang diinginkan dalam usaha untuk mempertahankan
kelangsungan hidup organisasi. Keefektifan organisasi meliputi kemampuan
untuk memperoleh masukan, memproses masukan tersebut, menyalurkan
keluaran, dan mempertahankan stabilitas dan keseimbangan didalam sistem.
Keefektifan ini sesungguhnya merupakan suatu konsep yang luas, mencakup
berbagai faktor di luar maupun di dalam organisasi.
Sudah dikemukakan bahwa keefektifan organisasi yaitu berkenaan
dengan atribut yang diinginkan dalam usaha untuk mempertahankan
kelangsungan hidup organisasi. Karena itu, studi tentang organisasi pada
hakikatnya memberikan jawaban atas pertanyaan apa yang membuat organisasi
menjadi efektif? Jawabnyaadalah struktur organisasi yang tepat, penerapan
prinsip-prinsip organisasi yang benar, penggunaan teknologi dan budaya
organisasi yang mendukung sehingga terselenggara suatu bentuk kerjasama
dengan sebaik-baiknya dan tujuan dapat tercapai secara efisien dan efektif. Dan
apabila suatu orgnisasi tidak efektif lagi, maka perlu dilakukan perubahan dan
pembinaan yang lebih baik.
Kemudian dalam segi implementasi organisasi, keefektifan memberi
informasi mengenai tingkat keberhasilan yang dapat digunakan untuk membuat
kebijakan membangun sebuah model dinamisasi organisasi yang meningkat
daya tahannya dan sekaligus meningkat kemampuannya untuk berkembang.
Jadi dengan konsep keefektifan, mengakibatkan organisasi terbuka
menerima sumbangan dari berbagai disiplin ilmu-ilmu lain untuk menambah
hasanah teori organisasi yang mungkin sangat berharga dan sangat diperlukan
dalam upaya mempertahankan kelangsungan hidup orgnisasi. Dari segi
penerapan konsep keefektifan memberi penilaian tingkat keberhasilan dan
sejumlah hambatan yang dapat dijadikan patokan analisis untuk mencarikan
langkah-langkah pasti bagi keberhasilan organisasi. Para manajer dapat
membuat kebijakan, dan mencari strategi politis dalam
mentranspormasikan input menjadi out-put yang maksimal. Setiap kegiatan
diarahkan pada tercapainya tujuan yang dikehendaki dan penyelesaian
5
pekerjaan yang tepat waktu sehingga metode kerja dapat disusun secara
sistimatis, penggunaan sarana yang lengkap, tenaga kerja yang cukup dan pada
akhirnya organisasi memiliki kelangsungan hidup untuk tumbuh berkembang
terus baik secara jangka pendek mapun jangka panjang.
Hubungan antara ketiga perspektif tentang keefektifan disajikan pada gambar
2-1. Panah penghubung menunjukkan bahwa keefektifan kelompok tergantung
pada keefektifan individu dan keefektifan organisasi tergantung pada kelompok.
Hubungan yang pasti antara ketiga persfektif itu bervariasi, tergantung pada
hubungan yang pasti antara ketiga perfektif itu bervariasi, tergantung pada bagai
faktor seperti macam organisasi, pekerjaan yang dilakukan, dan penggunaan
teknologi dalam melakukan pekerjaan tersebut. Gambar tesebut mencerminkan
adanya dampak komulatif dari ketiga perspektif itu. Jadi, keefektifan kelompok
lebih besar dibandingkan dengan jumlah keefektifan individual, karena perolehan
terwujud melalui usaha gabungan individu dan kelompok.
Gambar 2-1.
Keefektifan
organisasi
Keefektifan
kelompok
Keefektifan
Individu
Tugas manajemen adalah mengindentifikasi sebab-sebab keefektifan organisasi,
kelompok dan individu. Seperti diperlihatkan pada gambar 2-2, setiap tingkat
keefektifan dapat dipandang sebagai suatu variabel yang disebabkan oleh
variabel lainnya, yaitu sebab-sebab keefektifan dari sumber-sumbernya sebagai
berikut:. Sumber keefektifan individu mencakup, kemampuan, keahlian,
pengetahuan, sikap, motivasi dan stress.
6
Sumber keefektifan kelompok mencakup, Kepaduan, kepemimpinan, struktur,
status, peranan dan Norma-norma, serta sumber keefektifan organisasi yang
digambarkan berikut ini:
Gambar 2-2
Keefektifan organisasi
sebab-sebanya
Lingkungan
Teknologi
Pilihan strategi
Keefektifan kelompok Struktur
sebab-sebabnya Proses
Kepaduan Kebudayaan
Kepemimpinan
Struktur
Status
Keefektifan Individu Peranan
Sebab-sebabnya. Norma-norma
Kemampuan
Keahlian
Pengetahuan
Sikap
Motivasi
Stress
Pengertian keefektifan
Dalam pengertian teoritis atau praktis, tidak ada persetujuan yang universal
mengenai apa yang dimaksud keefektifan.
Dalam melihat keefektifan organisasi, Gibson (op-cit:27) menyajikan dua
pendekatan yang dapat digunakan, yaitu: 1) Pendekatan tujuan, dan 2)
Pendekatan teori sistem. Lubis dan Huseini (1987:p.56) mengemukakannya tiga
pendekatan, yaitu: 1) Pendekatan sasaran, 2) Pendekatan proses, dan 3)
Pendekatan sumber. Masing-masing pendekatan tersebut dijelaskan berikut ini.
Gibson (op-cit:27) menyajikan dua pendekatan yang dapat digunakan, yaitu: 1)
Pendekatan tujuan, dan 2) Pendekatan teori sistem.
1. Pendekatan berdasarkan tujuan (goal attainment).
Menurut pendekatan ini, sebuah organisasi didirikan untuk mencapai tujuan.
Apa yang dimaksud keefektifan adalah pencapaian tujuan yang dtetapkan
dengan usaha kerjasama. Banyak praktek manajemen melihat efektifitas
didasarkan atas pendekatan menurut tujuan. Salah satu praktek yang banyak
digunakan adalah, manajemen berdasarkan sasaran (manajement by
objektives). Dengan menggunakan praktek ini, para manajer terlebih dahulu
membuat spesifikasi tujuan yang diharapkan akan tercapai oleh para
bawahannya, dan secara berkala mengevaluasi tingkat pencapaian tujuan
7
tersebut. Pada prakteknya secara nyata di perusahaan-perusahaan, manajer
dan bawahannya mendiskusikan sasaran dan mencoba mencapai
kesepakatan yang menguntungkan bersama. Dalam hal-hal lain, manajer
menentukan sasaran itu. Idea manajemen berdasarkan sasaran ialah
memerinci terlebih dahulu sasaran yang akan dicapai.
Pendekatan tujuan merupakan pendekatan yang paling lazim digunakan
untuk menilai dan melihat keefektifan organisasi. Keefektifan organisasi
ditetapkan sebagai pencapaian tujuan akhir organisasi. Dan hampir semua
definisi organisasi dalam kepustakaan dirumuskan bahwa pembentukan
organisasi adalah dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Oleh karena itu,
ukuran keberhasilan organisasi diukur dari kemampuan mencapai tujuan
yang telah ditargetkan. Yang termasuk kriteria pencapaian tujuan yang
populer adalah memaksimalkan keuntungan, memaksa musuh untuk
menyerah, memenangkan pertandingan olahraga, membuat pasien menjadi
sembuh, dan sebagainya.
Pendekatan pencapaian tujuan mengasumsi bahwa organisasi adalah
kesatuan yang dibuat dengan sengaja, rasional, dan mencari tujuan. Oleh
karena itu, pencapaian tujuan yang berhasil menjadi sebuah ukuran yang
tepat tentang keefektifan. Namun demikian agar pencapaian tujuan bisa
menjadi ukuran yang sah dalam mengukur keefektifan organisasi, asumsi-
asumsi lain juga harus diperhatikan :
a. Organisasi harus mempunyai tujuan akhir.
b. Tujuan-tujuan tersebut harus diidentifikasi dan ditetapkan dengan baik
agar dapat dimengerti.
c. Tujuan-tujuan tersebut harus sedikit saja agar mudah dikelola.
d. Harus ada consensus atau ( kesepakatan umum mengenai tujuan-tujuan
tersebut),
e. Oleh karena itu empat asumsi diatas menyatakan bahwa keefektifan
sebuah organisasi harus dinilai dengan pencapaian tujuan ketimbang
caranya.
Beberapa permasalahan dalam pendekatan ini antara lain adalah :
1. Apa yang dinyatakan secara resmi oleh sebuah organisasi sebagai suatu
tujuan tidak selalu mencerminkan tujuan yang sebenarnya.
2. Tujuan jangka pendek sering kali berbeda dengan tujuan jangka panjangnya.
3. Organisasi yang memiliki tujuan majemuk akan menciptakan kesulitan.
Meskipun pendekatan tujuan itu kelihatannya sederhana, mudah dan masuk
akal, tetapi dalam kenyataannya sering juga dihadapkan sejumlah problem. E.
Frank Harrison dalam Gibson (1993:p.28).
Kelemahan dan permasalahan dalam pendekatan ini, ialah:
Pencapaian tujuan tidak dengan mudah dapat diterapkan dan diukur bagi
organisasi yang tidak memproduksi keluaran (output) yang nyata.
Sebagai contoh, tujuan lembaga pendidikan dan keterampilan ialah
menyelenggarakan pendidikan keterampilan bagi masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan dunia kerja dengan biaya yang wajar. Masalahnya
adalah bagaimana seseorang mengetahui bahwa lembaga tersebut
mencapai tujuannya?. Apa yang dimaksud dengan penyelenggaraan
8
pendidikan dan keterampilan itu?. Apa yang dimaksud dengan harga
yang wajar sebenarnya ?. Semua itu harus diformulasikan sehingga
dapat diukur dalam pencapaian tujuan, yang pada akhirnya dengan
mudah dapat di hitung tingkat keberhasilan atau prestasi (performance)
dari lembaga tersebut.
Setiap organisasi berusaha mencapai lebih dari satu tujuan, dan
pencapaian tujuan yang satu sering menghalangi atau mengurangi
pencapaian tujuan lainnya. Sebagai contoh, suatu perusahaan BUMN
dapat menyatakan bahwa tujuannya adalah memperolah laba yang
maksimum dan menyediakan kondisi kerja yang benar-benar aman.
Kedua tujuan tersebut saling bertentangan, karena tujuan masing-masing
dicapai dengan pengorbanan yang lainnya.
Kemungkian ada suatu tujuan yang ”formal” yang terlihat didukung oleh
seluruh anggota kelompok atau bagian tetapi dukungan tersebut masih
sangat diragukan. Beberapa hasil survey mencatat kesukaran yang
dialami manajer untuk mencapai konsesus diantara mereka menyangkut
tujuan organisasi mereka secara khusus.
Meskipun pendekatan menurut tujuan menimbulkan banyak masalah,
pendekatan itu masih mempunyai pengaruh yang sangat kuat terhadap teori
dan praktek manajemen dan perilaku organisasi. Bahwa manajer harus
mencapai tujuan organisasi, sangat mudah diucapkan. Tetapi tidak semudah
itu melaksanakannya.
Alternatif dari pendekatan tujuan adalah pendekatan teori sistem. Melalui
teori sistem, konsep keefektifan dapat didefinisikan dalam hubungan yang
memungkinkan para manajer mempunyai pandangan yang lebih luas tentang
organisasi dan memahami sebab-sebab keefektifan individu, kelompok dan
organisasi.
2. Pendekatan Teori Sistem
Teori sistem: Pendekatan ini menenkankan pentingnya adaptasi terhadap
tutuntan ekstern sebagai kreteria penilaian keefektifan.
Pendekatan sistem terhadap pendekatan organisasi mengimplikasikan bahwa
organisasi terdiri dari sub-sub bagian yang saling berhubungan. Jika salah
satu sub bagian ini mempunyai performa yang buruk, maka akan timbul
dampak yang negative terhadap performa keseluruhan sistem.
Pendekatan sistem dalam pengukuran keefektifan organisasi berfokus bukan
pada tujuan akhir tertentu, tetapi pada cara-cara yang dibutuhkan untuk
pencapaian tujuan akhir itu. Pendekatan sistem memandang keefektifan
organisasi sebagai kemampuan untuk memperoleh masukan, memproses
tersebut, menyalurkan keluaran, dan mempertahankan stabilitas dan keseim-
bangan di dalam sistem.
Dalam hubungannya dengan pendekatan sistem, Muhyadi (1989:289)
memandang organisasi dengan dua penekanan, yaitu:
a. Bahwa organisasi mutlak perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan
lingkungan.
b. Bahwa secara intern organisasi harus memberikan perhatian cukup pada
siklus input – proses – output
9
Berkenaan dengan itu maka keefektifan organisasi harus mencer-minkan dua
hal di atas. Dengan jalan pikiran seperti itu maka sebuah organisasi dapat
dikatakan efektif apabila memenuhi dua kriteria berikut:
a. Mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan lingkungan
b. Mampu mengelola siklus input-proses-output dengan efisien
Keefektifan membutuhkan kesadaran dan interaksi yang berhasil dengan
konstituensi lingkungan. Manajemen tidak boleh gagal dalam
mempertahankan hubungan yang baik dengan para pelanggan, pemasok,
lembaga pemerintahan, serikat buruh, dan konstituensi sejenis yang
mempunyai kekuatan untuk mengacaukan operasi organisasi yang stabil.
Kekurangan yang paling menonjol dari pendekatan system adalah
hubungannya dengan pengukuran dan masalah apakah cara-cara itu memang
benar-benar penting. Keunggulan akhir dari pendekatan system adalah
kemampuannya untuk diaplikasikan jika tujuan akhir sangat samara atau tidak
dapat diukur.
Dapat disimpulan bahwa organisasi terdiri sub bagian yang saling
berhubungan, oleh karena itu dinilai berdasarkan kemampuannya untuk dan
mempertahankan stabilitas dan keseimbangan.
Teori sistem, memungkinkan kita membahas perilaku organisasi secara
intern dan ekstern. Secara intern, kita dapat melihat bagaimana dan
mengapa orang didalam organisasi melaksanakan tugas individual dan
kelompok. Secara ekstern, kita dapat menghubungkan transaksi organisasi
itu dengan organisasi atau lembaga lain. Setiap organisasi membutuhkan
sumber daya dari lingkungan luar dimana organisasi tersebut menjadi
bagiannya, dan pada gilirannya menyediakan barang dan jasa yang
dibutuhkan lingkungan uang lebih luas. Para manajer harus menghadapi
aspek-aspek perilaku organisasi intern dan ekstern secara serempak. Proses
yang pada dasarnya kompleks ini dapat disederhanakan dengan
menggunakan konsep dasar teori sistem untuk tujuan analisis. Dalam teori
sistem, organisasi dianggap sebagai suatu elemen dari sejumlah elemen
yang saling bergantung. Arus masukan dan keluaran merupakan titik dasar
dalam menggambarkan organisasi. Dalam pengertian yang paling sederhana,
organisasi mengambil sumber daya masukan dari sistem yang lebih luas
(lingkungan), sumberdaya ini diproses, dan keluarannya merupakan barang
atau jasa yang dihasilkan perusahaan. Gambar 2-3 menggambarkan elemen-
elemen dasar organisasi sebagai suatu sistem.
10
Gambar 2-3
Masukan Proses Keluaran
Lingkungan
Teori sistem dapat pula menguraikan perilaku individu dan kelompok.
Masukan perilaku individu adalah penyebab yang timbul dari tempat kerja.
Sebagai contoh, penyebab dapat berupa perintah seorang manajer untuk
melaksanakan suatu tugas tertentu. Masukan (penyebab) kemudian bekerja
pada mental individu dan proses psiklogis untuk memproduksi hasil
(outcome) yang khusus. Hasil yang dikehendaki manajer tentunya sesuai
dengan petunjuk, tetapi hal itu tergantung dengan pada keadaan proses
individual, yang hasilnya mungkin tidak sesuai dengan petunjuk-petunjuk itu.
Demikian pula, anda dapat menggambarkan perilaku suatu kelompok
menurut ukuran suatu teori sistem tersebut. Sebagai contoh, perilaku
(keinginan) sekelompok pegawai untuk berserikat (hasil) dapat diterangkan
oleh sebab ketidak adilan manajerial dalam penugasan kerja (masukan) dan
keadaan paduan (cohesiveness) kelompok itu (proses). Kita gunakan ukuran
teori sistem dalam bab ini untuk menguraikan dan menerangkan perilaku
individu dan kelompok dalam organisasi.
Teori Sistem dan Balikan
Konsep organisasi sebagai suatu sistem yang berkaitan dengan sistem yang
lebih luas mengintroduksi pentingnya balikan. Seperti dikemukakan diatas,
ketergantungan organisasi atas lingkungan tidak hanya mengenai masukan,
tetapi juga dapat diterimanya keluaran (oleh lingkungan). Hal ini sangat penting,
sehingga organisasi mengembangkan sarana untuk menyesuaikan diri dengan
tuntutan lingkungan. Sarana untuk penyesuaian itu adalah saluran komunikasi
yang memungkinkan organisasi dapat mengenali tuntutan-tuntutan tersebut.
Sebagai contoh, dalam organisasi bisnis, risert pasar merupakan suatu
mekanisme balikan yang penting. Bentuk balikan lainnya ialah keluhan
pelanggan, komentar-komentar pegawai dan laporan keuangan.
Dalam pengertian yang paling sederhana, yang dimaksud dengan balikan
ialah informasi yang mencerminkan hasil suatu tindakan atau serangkaian
tindakan individu, kelompok, atau tindakan organisasi. Dalam bab ini kita melihat
11
Betapa pentingnya balikan. Teori sistem menekankan pentingnya sikap tanggap
terhadap isi informasi balikan.
Kesimpulan dan Tanggapan
Teori sistem menekankan dua pertimbangan yang penting: (1) kelangsungan
hidup organisasi yang pokok tergantung pada kemampuannya mengadaptasi
tuntutan lingkungannya, dan (2) untuk memenuhi tuntutan ini siklus total dari
masukan – proses – keluaran harus menhadi perhatian yang utama manajerial.
Oleh karena itu, kriteria keefektifan harus mencerminkan masing-masing dari
kedua pertimbangan di atas, dan anda harus mendefinisikan keefektifan
berdasarkan pertimbangan itu. Pendekatan menurut sistem menunjukkan bukti-
bukti bahwa sumber daya harus dicurahkan terhadap kegiatan-kegiatan yang
mempunyai sedikit kaitan dengan pencapaian tujuan utama organisasi. Dengan
kata lain, pengadaptasian terhadap lingkungan dan pengutamaan arus masukan
– proses keluaran memerlukan pengalokasian sumber daya untuk kegiatan-
kegiatan yang hanya secara tidak langsung berkaitan dengan tujuan tersebut.
Lubis dan Huseini (1987:p.56) mengemukakannya tiga pendekatan, yaitu: a).
Pendekatan sasaran, b). Pendekatan proses, dan c). Pendekatan sumber.
a. Pendekatan Sasaran (goal approach)
Pendekatan sasaran dalam pengukuran keefektifan organisasi dimulai dengan
identifikasi sasaran organisasi dan mengukur tingkat keberhasilan organisasi
dalam mencapai sasaran tersebut. Dengan demikian pendekatan ini mencoba
mengukur sejauh mana organisasi berhasil merealisasikan sasaran yang hendak
dicapinya.
Sasaran yang paling diperhatikan dalam pengukuran keefektifan dengan
pendekatan ini adalah sasaran yang sebenarnya (operative goal). Pengukuran
keefektifan dengan menggunakan sasaran yang sebenarnya akan memberikan
hasil yang lebih realistis dari pengukuran keefektifan berdasar-kan sasaran resmi
(official goal), dengan memperhatikan permasalahan yang ditimbulkan oleh
beberapa hal berikut:
1) Adanya macam-macam luaran (multiple outcomes)
2) Adanya subyektivitas dalam penilaian
3) Pengaruh perbedaan kontekstual
b. Pendekatan Sumber (system resources approach)
Pendekatan sumber mengukur keefektifan organisasi melalui keberhasilan
dalam mendapatkan berbagai jenis sumber yang dibutuhkan untuk memelihara
keandalan sistem organisasi agar bisa menjadi efektif. Sumber-sumber yang ada
dalam lingkungan sering kali bersifat langka dan bernilai tinggi (mahal) sehingga
keefektifan organisasi dapat dinyatakan sebagai keberhasilan dalam
memanfaatkan lingkungannya untuk memperoleh berbagai jenis sumber yang
bersifat langka, maupun yang nilainya tinggi itu. Secara sederhana, keefektifan
organisasi seringkali diukur dengan jumlah ataupun kuantitas berbagai jenis
sumber yang berhasil diperoleh dari lingkungannya sehingga ia tetap hidup.
Secara lebih luas J. Barton Cunningham dalam Lubis Huseini (1987:p.61)
12
mempergunakan beberapa dimensi untuk mengukur keefektifan organsasi
dengan pendekatan sumber yaitu:
1) Kemampuan organisasi untuk memanfaatkan lingkungan untuk
memperoleh berbagai jenis sumber yang bersifat langkah dan nilainya
tinggi.
2) Kemampuan para pengambil putusan dalam organisasi untuk
menginterpre-tasikan sifat-sifat lingkungan secara tepat.
3) Kemampuan organisasi untuk menghasilkan output tertentu dengan
meng-gunakan sumber-sumber yang berhasil diperoleh
4) Kemampuan organissi dalam memelihara kegiatan operasionalnya
sehari-hari
5) Kemampuan organisasi untuk bereaksi dan menyesuaikan diri terhadap
perubahan lingkungan.
c. Pendekatan proses (internal proces approach)
Pendekatan proses menganggap keefektifan organisasi sebagai efisiensi dan
kondisi (kesehatan) dari organisasi internal. Pada organisasi yang efektif proses
internal berjalan dengan lancar, karyawan bekerja dengan kegembiraan serta
kepuasan yang tinggi, kegiatan masing-masing bagian terkoordinasi secara baik
dengan produktivitas yang tinggi. Pendekatan ini tidak memperhatikan
lingkungan organisasi, dan memuastkan perhatian terhadap kegiatan yang
dilakukan terhadap sumber-sumber yang dimiliki oleh organisasi, yang
menggambarkan tingkat efisiensi serta kesehatan organisasi.
Kriteria efektivitas
Salah satu masalah yang menjadi pembahasan mengenai keefektifan organisasi
yaitu menentuka kriteria yang dapat digunakan untuk meng-ukurnya. Hingga kini
baik praktisi maupun para ahli belum mencapai kesepakatan tentang variable
yang dapat dijadikan kriteria pokok dalam melihat keefektifan organisasi. Pada
uraian berikut ini akan dikemukakan beberapa pendapat ahli tentang kriteria
yang dapat digunakan untuk melihat keefektifan sebuah organisasi.
Charles R. Milton (Muhyadi, 1989:p.281), mengemukakan bahwa kriteria
keefektifan organisasi dapat dilihat dari berbagai segi sehinga diperoleh berbagai
versi keefektifan.
Kriteria efektifitas dapat dilihat dari berbagai segi, yaitu:
1. Segi lingkup pengukurannya dikenal adanya efektifitas mikro dan makro.
a) Kriteria makro ialah pengukuran efektifitas dari sudut yang luas,
contohnya keutungan organisasi atau pencapaian tujuan akhir organisasi.
b) Kriteria mikro ialah pengukuran efektifitas dengan menitikberatkan pada
salah satu aspek yang sempit, contohnya penampilan anggota atau
tingkat ketidak hadiran karyawan.
2. Segi jumlah variable yang digunakan dalam pengukuran dikenal adanya
efektifitas modal variable tunggal dan jamak.
13
a) Pengukuran dengan kriteria tunggal ialah cara melihat efektifitas
organisasi dengan hanya menggunakan satu variable saja. Banyak pilihan
variable yang digunakan dalam teknik ini, contohnya produktifitas diukur
dengan data tentang output(produk akhir yang dihasilkan), kepuasan kerja
diukur dengan daftar pertanyaan yang diisi oleh para karyawan,
keuntungan organisasi dapat dilihat dari data berupa angka-angka yang
diperoleh dari bagian pembukuan.
Pengukuran keefektifan organisasi dengan kriteria tunggal ialah cara
melihat kefektifan organisasi dengan hanya menggunakan satu variabel
saja. Cara ini lazim disebut dengan pengukuran univariasi (univariate).
Banyak pilihan jenis variabel yang digunakan dalam teknik yang pertama
ini misalnya produktivitas diukur dengan data tentang output (produk akhir
yang dihasilkan), kepuasan kerja diukur dengan daftar pertanyaan yang
diisi oleh para karyawan, keuntungan organisasi dilihat dari data berupa
angka-angka yang diperoleh dari bagian pembukuan. Variabel-variabel
tersebut digunakan secara terpisah, artinya tidak dilihat hubungannya satu
sama lain. Teknik ini relatif mudah dilaksanakan. Oleh karena itulah para
peneliti umumnya menggunakan teknik ini untuk melihat keefektifan suatu
organisasi.
b) Pengukuran dengan kriteria jamak adalah cara melihat efektifitas
organisasi dengan menggunakan sebuah model yang mencakup
beberapa variable, dimana hubungan antara berbagai variable ikut
diperhitungkan. Teknik ini lebih sulit tetapi lebih cermat dibandingkan
pengukuran dengan variabel tungal.
3. Segi waktu pengukurannya dikenal adanya efektifitas statis dan dinamis
a) Pengukuran statis adalah melihat efektifitas dorganisasi dengan
mendasarkan diri pada aktivitas yang telah dilakukan. Jadi melihat
kembali berbagai kegiatan yang telah dilakukan organisasi dan dari situ
dinilai apakah organisasi yang bersangkutan termasuk dalam kategori
efektif atau tidak. Pengukuran dengan teknik ini relatif mudah
dilaksanakan, tetapi tidak banyak manfaat yang dapat diperoleh darinya.
b) Dari karakteristik dinamika organisasi orang berusaha mengukur
efektifitas organisasi di waktu yang akan datang. Caranya ialah dengan
melihat organisasi dalam pengertian yang dinamis. Dari karakteristik
dinamika organisasi orang berusaha mengukur keefeektifan organisasi di
waktu yang akan datang. Jadi fokusnya terletak pada kegiatan yang
dilakukan organisasi di masa mendatang.
4. Segi tingkat generalisasinya dikenal adanya efektifitas umum dan khusus.
a) Teknik umum dimana efektifitas diukur dengan criteria yang dapat
diterapkan pada semua jenis organisasi. Model yang digunakan dalam
teknik ini sangat umum, sementara itu dalam kenyataannya setiap jenis
organisasi memiliki sifat-sifat dan ciri-ciri khusus. Oleh karena itulah maka
pengukuran keefektifan organisasi dengan teknik umum tidak banyak
bermanfaat bagi organisasi karena pengukuran dan analisisnya terlampau
dangkal, sehingga digunakan teknik pengukuran secara khusus.
14
b) Teknik khusus adalah pengukuran efektifitas yang menggunakan criteria
lebih khusus sesuai dengan karakteristik organisasi yang bersangkutan.
Hasil diperoleh dengan cara ini tidak dapat diterapkan pada organisasi
lain (kecuali pada organisasi yang memiliki sifat karakteristik yang sama
dengan organisasi yang dinilai), Tetapi bagi organisasi yang bersangkutan
hasil tersebut mempunyai arti yang sangat besar.
Masih dalam uraian pengukuran keefektifan organisasi, Gibson dkk.
(1993:p.32), dan Manahan P. Tampubolon (2004:p.77), mengemukakan ada lima
aspek kriteria keefektifan organisasi, yaitu:1) produksi, 2) efisiensi, 3) kepuasan,
4) kemampuan adaptasi, dan 5) pengembangan organisasi
1. Produksi
Produksi ialah kemampuan organisasi menghasilkan produk (output) yang
dibutuhkan oleh lingkungan. Dalam hal ini mencakup jumlah (kuantitas) dan
mutu (kualitas). Dalam bentuknya yang nyata, produk tersebut dapat berupa
barang yang dihasilkan (oleh sebuah pabrik), laba/keuntungan (oleh
pedagang), pelayanan yang diberikan kepada nasabah (oleh sebuah bank),
pasien yang sembuh (oleh sebuah rumah sakit), mahasiswa yang lulus (oleh
sebuah perguruan tinggi), dan sebagainya. Ukuran ini berhubungan langsung
dengan keluaran yang dikonsumsi oleh pelanggang organisasi.
2) Efisiensi
Efisiensi menunjuk pada pengukuran yang berkenaan dengan penggunaan
sumber yang langka oleh organisasi. Konsep efisiensi didefinisikan sebagai
angka perbandingan (ratio) antara keluaran dan masukan. Dalam sebuah
organisasi masukan diubah menjadi keluaran melalui proses transformasi
(siklus: masukan-proses-keluaran). Dalam bentuknya yang nyata, efisiensi
dapat dilihat misalnya dari besarnya biaya dan waktu yang diperlukan untuk
proses produksi per unit, besarnya biaya dan waktu yang diperlukan untuk
proses produksi per unit produk, besarnya biaya dan waktu yang diperlukan
setiap siswa sampai dengan lulus, dan sebagainya.
3) Kepuasan
Kepuasan sebagai kriteria efectivitas menunjuk kepada keberhasilan
organisasi memenuhi kebutuhan yang dirasakan oleh para anggota dan juga
kepuasan bagi para pemakai barang atau jasa yang dihasilkan. Organisasi
adalah sistem sosial yang beranggotakan orang-orang. Setiap anggota
berkeinginan dapat memenuhi sebagian kebutuhan hidup yang dirasakannya,
misalnya kebutuhan akan materi (uang), prestise, dan hubungan sosial,
melalui keterlibatannya dalam organisasi. Tingkat terpenuhi-tidaknya
kebutuhan anggota dapat dilihat dari moral kerja dan sikap yang ditunjukkan
terhadap organisasi. Oleh karena itu tingkat kepuasan dapat diukur antara lain
dari besar kecilnya tingkat kemangkiran, tingkat ketidakhadiran, tingkat keluar
masuk organisasi, dan semangat kerja yang ditunjukkan anggota.
4) Kemampuan adaptasi
Kemampuan adaptasi íalah kesanggupan organisasi melakukan perubahan
sesuai dengan tuntutan keadaan. Penyebab dilakukannya perubahan dapat
berasal dari luar (lingkungan) dan dapat pula dari dalam organisasi yang
15
bersangkutan. Dibandingkan dengan kriteria terdahulu (produksi, efisiensi,
dan kepuasan), konsep adaptasi lebih bersifat abstrak. Di samping itu
adaptasi lebih merupakan kegiatan antara. Kondisi organisasi yang tidak
produktif atau tidak efisien, atau tingkat kepuasan yang rendah, bisa jadi
merupakan pertanda bahwa tindakan adaptasi perlu dilakukan. Karena
adaptasi pada dasarnya merupakan respon terhadap situasi yang dihadapi,
maka kegiatan tersebut baru nampak setelah situasinya menuntut untuk itu.
Oleh karena itu kadang-kadang agak sulit mengukur tingkat kemampuan
adaptasi sebuah organisasi. Kriteria ini baru dapat digunakan apabila
organisasi telah benar-benar menghadapi situasi yang menuntut penyesuaian.
Semakin tingi frekuensi tingkat ketidakpastian situasi yang menuntut tindakan
penyesuaian, semakin mudah melihat kemampuan organisasi dalam
melakukan adaptasi. Dan jika dalam menghadapi situasi yang menuntut
berbagai macam penyesuaian tersebut ternyata organisasi tanggap dan
mampu melakukannya dengan baik sehingga organissi yang
bersangkutan survive atau mungkin bahkan berkembang, maka disimpulkan
bahwa kemampuan adaptasinya tinggi. Dengan kata lain, organisasi yang
bersangkutan cukup efektif ditinjau dari kriteria kemampuan adaptasinya.
5) Pengembangan organisasi
Pengembangan organisasi adalah kriteria yang menunjukkan kepada
kemampuan organisasi untuk memandang jauh ke depan dan melakukan
investasi dalam rangka mempertahankan hidup dan mengembangkan usaha
organisasi. Kriteria pengembangan lebih menekankan pada upaya organisasi
dalam jangka panjang.
Untuk mencapai tingkat keefektifan yang tinggi dalam arti pengembangan
organisasi, bisa jadi sejumlah kriteria yang lain berkurang keefektifannya.
Sebagai contoh kita ambil sebuah kasus pada perusahaan televisi hitam putih,
pada awal keberadaannya sangat efektif tetapi dalam perkembangannya
dengan adanya ciptaan televisi berwarna yang mengakibatkan animo
masyarakat lebih banyak menyukainya ketimbang televisi hitam putih,
sehingga televisi hitam putih dianggap tidak efektif lagi.
Perbedaan Efektivitas dan Efisiensi Dalam Organisasi
Efektivitas suatu organisasi sering kali dikaitkan dengan keberhasilan
organisasi tersebut untuk mencapai sasarannya. Ternyata dalam organisasi
terdapat sasaran resmi dan sasaran sebenarnya. Sasaran resmi biasanya
berbentuk formal dan sulit diukur sehingga tidak mudah untuk dijadikan acuan
dalam pengukuran efektivitas organisasi. Sementara sasaran sebenarnya
memang lebih terukur, tetapi biasanya tidak dinyatakan secara resmi. Sasaran
merupakan hal penting karena merupakan alasan bagi eksistensi suatu
organisasi, dan juga sebagai patokan dalam melaksanakan proses manajemen.
Efisiensi adalah perbandingan terbaik antara suatu kegiatan dengan hasilnya.
Menurut definisi ini, efisiensi terdiri atas 2 unsur yaitu kegiatan dan hasil dari
kegiatan tersebut. merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi
besarnya sumber/biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan.
16
Menurut, H. Emerson ;
“Efisiensi adalah perbandingan yang terbaik antara input (masukan) dan
outputefisiensi adalah sesuatu yang kita kerjakan berkaitan dengan
menghasilkan hasil yang optimal dengan tidak membuang banyak waktu dalam
proses [Link] belum tentu efisien dan begitu sebaliknya.”
Dari definisi di atas, maka terdapat perbedaan antara efektifitas dan efisiensi
dalam organisasi, antara lain:
Efektif (berdaya guna) didalam suatu organisasi adalah perencanaan yang lebih
matang dengan dirumuskan oleh lini atas manajemen di dalam organisasi.
Kemudian dijalan kan oleh berbagai lini dari atas sampai bawah. Dilanjutkan
pengendalian yang matang dan mantap dari pimpinan atau menajer atas,
menengah dan bawah, yang kemudian membutuhkan pengawasan organisasi
dari bawah ke atas dengan disiplin dan patuh kepada peraturan yang disusun
dalam organisasi.
Efisien (berhasil guna) didalam suatu organisasi adalah pengendalian yang
matang dan mantap dari pimpinan atau menajer atas, menengah dan bawah,
yang kemudian membutuhkan pengawasan organisasi dari bawah ke atas
dengan disiplin dan patuh kepada peraturan yang disusun dalam organisasi
dengan menerapkan prinsip-prinsip management seperti planning, organizing,
actuating, controlling dan lain sebagainya tujuan organisasi dapat diupayakan
untuk dicapai dengan lebih baik.
Sumber:
Gibson, L. James, John M. Ivancevich; James H. Donnelly, Jr.; alih bahasa
Nunuk Adiarni, Organisasi, Perilaku, Struktur, Proses, Jilid 1 Edisi 8,
Penerbit Binarupa Aksara, 1996, Jakarta
[Link]
dan-organisasi/
[Link]
[Link]
17