MAKALAH
METABOLISME MINERAL MIKRO (SELENIUM)
Dosen pengajar:
Idcha Kusma R., S. [Link]., [Link]
Disusun oleh Kelompok:
1. Laeda Fitriatul Saedah (22035029017)
2. Elfreda Bertha (22044029009)
PRODI PENDIDIKAN SARJANA GIZI
FAKULTAS KESEHATAN
ISTITUT ILMU KESEHATAN NAHDLATUL ULAMA TUBAN
2023/2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur Kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat-Nya Makalah ini dapat
di selesaikan tepat pada waktunya. Penulisan makalah dengan judul “Metabolisme mineral
mikro selenium" ini di susun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Metabolisme Zat
Gizi Makro.
Kami berharap makalah “Metabolisme mineral mikro selenium” dapat di jadikan
sebagai gambaran dasar terhadap pentingnya proses metabolisme selenium. Oleh karena itu,
semua kritik dan saran pembaca akan kami terima dengan senang hati demi perbaikan
makalah lebih lanjut. Demikian yang dapat kami sampaikan. Akhir kata, semoga makalah ini
dapat membawa manfaat untuk pembaca.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................................................ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................................iii
BAB I.........................................................................................................................................1
A. Latar Belakang.............................................................................................................1
B. Rumusan Masalah.......................................................................................................2
C. Tujuan..........................................................................................................................2
BAB II........................................................................................................................................3
A. Pengertian Mineral Makro Selenium (Se)...................................................................3
B. Fungsi Selenium (Se)..................................................................................................3
C. Metabolisme Selenium (Se)........................................................................................5
D. Hormon Metabolisme Selenium (Se)..........................................................................3
E. Absorbsi Selenium (Se)..............................................................................................3
F. Ekskresi Selenium (Se)................................................................................................3
BAB III.......................................................................................................................................8
A. Kesimpulan..................................................................................................................9
B. Saran
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Selenium adalah sebuah unsur kimia yang tergolong dalam kelompok oksigen
(kelompok 16) dalam tabel periodik. Unsur ini memiliki simbol kimia Se dan nomor
atom 34. Selenium ditemukan dalam berbagai bentuk, termasuk selenit, selenat, dan
senyawa organoselenium.
Sifat Kimia Selenium adalah non logam, tetapi memiliki sifat metaloid yang
berarti memiliki sifat seperti logam dan non logam. Unsur ini bersifat reaktif dan
dapat membentuk senyawa dengan elemen lain. Selenium memiliki kemampuan
untuk menghambat kerusakan oksidatif dalam tubuh dan berperan sebagai
antioksidan. Selenium memiliki banyak kegunaan dalam berbagai bidang. Salah satu
kegunaan utamanya adalah dalam industri elektronik, di mana selenium digunakan
dalam pembuatan sel fotovoltaik (solar cell) dan dioda penyearah (rectifier diode).
Selain itu, selenium juga digunakan dalam industri kaca, pigmen keramik, produksi
karet, dan sebagai suplemen pangan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa itu Mineral Makro Selenium?
2. Apa Fungsi Selenium?
3. Bagaimana Metabolisme Selenium?
4. Apa Saja Hormon Metabolisme Selenium?
5. Bagaimana Absorbsi Selenium?
6. Bagaimana Ekskresi Selenium?
C. Tujuan
1. Agar mahasiswa dapat mengetahui pengertian Mineral Makro Selenium.
2. Agar mahasiswa dapat mengetahui Fungsi Selenium.
3. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan mempelajari Metabolisme Selenium.
4. Agar mahasiswa dapat mengetahui Apa Saja Hormon Metabolisme Selenium.
5. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan mempelajari Bagaimana Absorbsi
Selenium.
BAB II
KAJIAN TEORI
A. Pengertian Mineral Makro Selenium (se)
Selenium merupakan mineral essensial dan elemen gizi mikro yang penting
bagi tubuh. Mineral ini penting dalam sebagain besar fungsi tubuh seperti kesehatan.
Ada dua bentuk selenium yaitu bentuk organik dan anorganik. Kebutuhan selenium
individu per harinya berkisar antara 30-85 µg/ hari. Defisiensi asupan selenium dapat
meningkatkan resiko terjadinya penyakit kardiovaskular, tiroiditis dan
inflamasi. Selenium adalah mineral yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah kecil,
namun berperan penting untuk fungsi biologis. Selenium berasal dari tanah yang
mengandung selenium inorganik (selenit dan selenat), kemudian diserap oleh
tanaman, dan diubah Menjadi selenium organic (selenosistein, selenomentionin, dan
bentuk metilasinya). Keduanya diserap oleh tubuh melalui asupan diet dan suplemen.
Selenium merupakan mineral penting bagi kesehatan manusia. Tubuh manusia
membutuhkan selenium dalam jumlah yang kecil untuk fungsi normal sistem
kekebalan tubuh, kelenjar tiroid, dan produksi sperma. Konsumsi yang tepat dari
sumber-sumber makanan yang mengandung selenium, seperti biji-bijian, ikan laut,
daging, dan telur, dapat membantu menjaga kesehatan. Meskipun selenium diperlukan
dalam jumlah yang kecil oleh tubuh manusia, konsumsi berlebihan dapat
menyebabkan toksisitas. Paparan jangka panjang terhadap selenium dalam jumlah
yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan akut atau kronis, yang dapat
berdampak negatif pada sistem saraf, kulit, dan organ dalam. Selenium merupakan
komponen yang penting untuk
enzim yang merubah tiroksin (T3) menjadi triiodotironin (T4), sehingga kekurangan
Selenium dan Iodium dapat menyebabkan gondok.
B. Fungsi selenium
Mineral selenium adalah nutrisi penting yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah
yang kecil. Selenium memiliki berbagai fungsi penting dalam tubuh manusia, yaitu:
a) Antioksidan
Fungsi selenium dalam antioksida adalah sebagai komponen penting dalam
enzim antioksidan glutathione peroxidase. Enzim ini membantu melindungi sel-
sel tubuh dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh radikal bebas. Selenium
bekerja bersama dengan vitamin E dalam melindungi sel-sel dan jaringan tubuh
dari kerusakan akibat oksidasi.
b) Sistem Kekebalan Tubuh
Selenium berperan penting dalam menjaga kesehatan sistem kekebalan tubuh.
Selenium membantu dalam produksi dan fungsi sel-sel kekebalan tubuh,
termasuk sel darah putih yang bertugas melawan infeksi dan penyakit. Selain
itu, selenium juga berperan dalam pengaturan respons imun tubuh.
c) Kesehatan Kardiovaskular
Selenium berkontribusi pada kesehatan jantung dan pembuluh darah. Selenium
membantu menjaga keseimbangan antioksidan dalam darah, yang dapat
melindungi jaringan kardiovaskular dari kerusakan oksidatif. Beberapa
penelitian juga menunjukkan bahwa asupan selenium yang memadai dapat
membantu mengurangi risiko penyakit kardiovaskular.
d) Metabolisme Thyroid
Selenium diperlukan dalam produksi hormon tiroid yang sehat. Selenium
membantu mengubah hormon tiroid yang tidak aktif (T4) menjadi bentuk
aktifnya (T3). Hormon tiroid yang sehat penting untuk mengatur metabolisme
tubuh, pertumbuhan, perkembangan, dan fungsi sistem saraf.
e) Kesehatan Reproduksi
Selenium berperan dalam kesehatan reproduksi pada pria dan wanita. Pada pria,
selenium berperan dalam pembentukan dan pergerakan sperma yang sehat. Pada
wanita, selenium dapat membantu dalam keseimbangan hormon dan kesehatan
ovarium
f) Perlindungan dari Keracunan Logam Berat
Selenium dapat membantu melindungi tubuh dari keracunan logam berat seperti
merkuri, kadmium, dan arsenik. Selenium membantu dalam mengikat dan
mengurangi toksisitas logam berat, sehingga melindungi sel-sel tubuh dari
kerusakan yang disebabkan oleh logam berat tersebut.
Penting untuk mencukupi kebutuhan selenium yang dianjurkan agar tubuh dapat
memanfaatkannya dengan baik. Sumber makanan yang kaya akan selenium meliputi
makanan laut, daging, unggas, telur, biji-bijian, kacang-kacangan, dan sayuran.
Namun, penting untuk mengonsumsinya dalam batas yang wajar karena kelebihan
selenium juga dapat berdampak negatif pada kesehatan.
C. Metabolisme selenium
Metabolisme Penyerapan selenium terutama terjadi di bagian bawah usus
halus lewat berbagai jalur dan mekanisme. Kadang, penyerapan terjadi bersamaan
dengan sulfur karena sifat kimia yang mirip. Semua bentuk selenium dari makanan
memiliki bioavailabilitas yang sangat baik. Selenometionin dan selenosistein diserap
lebih dari 90% dan selenat hampir 100%. Selenit dapat diserap lebih dari 50%,
tergantung interaksi luminal. Bentuk organik lebih dapat bertahan dalam tubuh
dibandingkan inorganik.
Setelah diserap, selenium dibawa ke hati untuk dimetabolisme. Dari semua
bentuk selenium, selenosistein memiliki keistimewaan, karena selain didapat langsung
dari luar tubuh, derivat selenium lain, seperti selenometionin, akan diubah menjadi
selenosistein. Selain itu, selenosistein juga disintesis oleh tubuh. Prosesnya terkode
secara genetik di sistem ribosom. Karena itu, selenosistein dikenal sebagai asam
amino ke-21. Selenosistein akan diubah menjadi hidrogen selenida bersama selenium
inorganik, dan dengan bantuan ATP menghasilkan selenoprotein. Setelah
selenoprotein dikatabolisme, selenium akan dikembalikan menjadi selenosistein.
Selenoprotein yang sudah diproduksi di hati akan dilepaskan ke aliran darah dan
didistribusikan ke organ targetnya, tempat selenoprotein tersebut bekerja.
Kelebihan selenium akan dikeluarkan denggan mechanism metilasi menjadi
dimetilselenida (DMSe), yang dieksresi lewat napas, kulit, fases dan gula selenida
(selenosugars), dan trimetilselenida (TMSe), yang diekskresi lewat urin.
D. Hormon metabolisme selenium
Selenium memiliki peran penting dalam produksi dan metabolisme hormon tiroid,
terutama dalam mengatur konversi hormon tiroid yang tidak aktif (T4) menjadi
bentuk aktifnya (T3). Berikut adalah beberapa hormon metabolisme yang terkait
dengan selenium:
a) Tiroksin (T4)
Tiroksin adalah hormon tiroid yang tidak aktif secara metabolik. Kelenjar
tiroid menghasilkan tiroksin dalam jumlah besar. Selenium diperlukan dalam
konversi tiroksin menjadi bentuk aktifnya, triiodotironin (T3). Tanpa selenium
yang cukup, konversi T4 menjadi T3 dapat terganggu.
b) Triiodotironin (T3)
Triiodotironin adalah bentuk aktif hormon tiroid yang memainkan peran
penting dalam mengatur metabolisme tubuh, termasuk pengaturan suhu tubuh,
produksi energi, pertumbuhan, dan fungsi sistem saraf. Selenium membantu
dalam konversi T4 menjadi T3 melalui enzim deiodinase yang bergantung
pada selenium.
c) Thyroid Stimulating Hormone (TSH)
Thyroid Stimulating Hormone (TSH) adalah hormon yang diproduksi oleh
kelenjar pituitari anterior dan mengendalikan fungsi kelenjar tiroid. Selenium
juga berperan dalam regulasi dan pengaturan produksi TSH. Kekurangan
selenium dapat mempengaruhi fungsi kelenjar pituitari dan mengganggu
produksi TSH yang seimbang.
Peran selenium dalam metabolisme hormon tiroid penting dalam menjaga
keseimbangan hormon, fungsi tiroid yang sehat, dan metabolisme tubuh secara
keseluruhan. Kekurangan selenium dapat berkontribusi pada gangguan fungsi tiroid,
seperti hipotiroidisme atau penurunan produksi hormon tiroid yang cukup.
E. Absorsi selenium
Absorpsi mineral selenium terjadi di saluran pencernaan manusia, terutama di
usus halus bagian atas. Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi absorsi
mineral selenium:
a) Bentuk Kimia
Absorpsi selenium tergantung pada bentuk kimianya. Selenium dapat hadir
dalam berbagai bentuk, termasuk selenit, selenat, dan senyawa organoselenium
seperti selenometionin dan selenosistein. Selenometionin dan selenosistein
umumnya lebih mudah diabsorpsi oleh tubuh daripada bentuk anorganik
seperti selenit dan selenat.
b) Interaksi dengan Nutrien Lain
Beberapa nutrien lain dalam makanan dapat mempengaruhi absorpsi selenium.
Misalnya, vitamin C dan vitamin E dapat meningkatkan absorbsi selenium,
sementara kalsium dan fosfor dapat menghambat absorbsi selenium.
c) Status Nutrisi
Kebutuhan tubuh terhadap selenium dan kemampuan untuk mengabsorpsi
mineral ini dapat dipengaruhi oleh status nutrisi individu. Kekurangan nutrisi
tertentu, seperti zat besi atau vitamin E, dapat mempengaruhi absorbsi
selenium.
d) Tingkat Konsumsi
Jumlah selenium yang dikonsumsi juga dapat mempengaruhi absorbsi.
Konsumsi selenium yang berlebihan dapat mengganggu absorbsi mineral lain
atau memicu mekanisme regulasi tubuh yang mengurangi absorbsi agar
jumlah selenium dalam tubuh tetap dalam kisaran yang aman.
Setelah diserap, selenium kemudian didistribusikan ke berbagai jaringan dan organ
tubuh, termasuk hati, ginjal, dan otot. Selenium yang berlebihan di dalam tubuh
kemudian disimpan dalam bentuk selenoprotein atau mengalami metabolisme yang
melibatkan oksidasi dan ekskresi melalui urin atau feses.
F. Ekskresi selenium
Ekskresi mineral selenium terjadi melalui beberapa jalur dalam tubuh manusia.
Berikut adalah jalur-jalur utama ekskresi selenium:
a) Urin
Sebagian besar selenium yang tidak digunakan oleh tubuh diekskresikan
melalui urin. Selenium terikat dengan berbagai senyawa dalam tubuh, seperti
asam amino atau selenoprotein, dan diekskresikan melalui ginjal. Jumlah
selenium yang diekskresikan melalui urin dipengaruhi oleh kebutuhan tubuh
dan asupan selenium yang melebihi kebutuhan tersebut.
b) Feses
Sejumlah kecil selenium juga dapat diekskresikan melalui feses. Ekskresi
selenium melalui feses terutama terjadi ketika selenium tidak diserap dengan
baik oleh usus halus atau jika terjadi kelebihan asupan selenium yang tidak
dapat diabsorpsi oleh tubuh.
c) Keringat
Pada tingkat yang sangat kecil, sejumlah selenium juga dapat diekskresikan
melalui keringat. Namun, ekskresi melalui keringat umumnya berkontribusi
dalam jumlah yang sangat sedikit terhadap total ekskresi selenium.
Ekskresi adalah salah satu mekanisme yang memastikan bahwa jumlah selenium
dalam tubuh tetap dalam kisaran yang aman. mengonsumsi selenium yang berlebihan
dapat menyebabkan akumulasi yang tidak diinginkan dan berpotensi menyebabkan
toksisitas. mengonsumsi selenium dalam jumlah yang dianjurkan dan menghindari
asupan yang berlebihan.
KESIMPULAN
Selenium merupakan mineral essensial dan elemen gizi mikro yang penting bagi
tubuh. Mineral ini penting dalam sebagain besar fungsi tubuh seperti kesehatan. Ada
dua bentuk selenium yaitu bentuk organik dan anorganik. Selenium merupakan mineral
penting bagi kesehatan manusia.
Tubuh manusia membutuhkan selenium dalam jumlah yang kecil untuk fungsi
normal sistem kekebalan tubuh, kelenjar tiroid, dan produksi sperma. Konsumsi yang
tepat dari sumber-sumber makanan yang mengandung selenium, seperti biji-bijian, ikan
laut, daging, dan telur, dapat membantu menjaga kesehatan. Meskipun selenium
diperlukan dalam jumlah yang kecil oleh tubuh manusia, konsumsi berlebihan dapat
menyebabkan toksisitas. Paparan jangka panjang terhadap selenium dalam jumlah yang
berlebihan dapat menyebabkan keracunan akut atau kronis, yang dapat berdampak
negatif pada sistem saraf, kulit, dan organ dalam.
Kelebihan selenium akan dikeluarkan denggan mechanism metilasi menjadi
dimetilselenida (DMSe), yang dieksresi lewat napas, kulit, fases dan gula selenida
(selenosugars), dan trimetilselenida (TMSe), yang diekskresi lewat urin. fungsi tiroid
yang sehat, dan metabolisme tubuh secara keseluruhan. Kekurangan selenium dapat
berkontribusi pada gangguan fungsi tiroid, seperti hipotiroidisme atau penurunan
produksi hormon tiroid yang cukup.
DAFTAR PUSTAKA
Yuniastuti ari. (2014). NUTRISI MIKROMINERAL DAN KESEHATAN. Semarang.
UNNES PRESS.
Sitorus, R., Abidin, Z., & Simbolon, S. (2017). Kandungan selenium dalam air dan
sedimen di perairan Sungai Musi, Sumatera Selatan. Jurnal Ilmu Lingkungan, 15(1), 55-61.
Haryati, E., Yunus, A., & Herawati, A. (2018). Kadar selenium dalam air minum
sumur gali di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat. Jurnal Kesehatan Lingkungan
Indonesia, 17(1), 12-17.
Suryawan, I. N., Ekayanti, N. L. P. A., & Adiputra, I. N. S. (2019). Kandungan
selenium dalam ikan dan kerang di perairan Teluk Benoa, Bali. Jurnal Kelautan Tropis, 22(1),
1-6.
Ratih, S., Hikmawati, D., & Indradewa, D. (2020). Kandungan selenium dalam padi
dan tanah di sekitar lokasi pertambangan batu bara, Kalimantan Timur. Jurnal Penelitian
Pertanian Tanaman Pangan, 4(3), 267-276.
Handayani, N. S., Rachmawati, S., & Yudaningtyas, E. A. (2021). Bioakumulasi
selenium pada tanaman pangan di area pertambangan emas tradisional, Jawa Tengah. Jurnal
Agroekoteknologi, 9(2), 87-96.
Rayman, M. P. (2012). Selenium and human health. The Lancet, 379(9822), 1256-
1268.
Vinceti, M., Filippini, T., Cilloni, S., Crespi, C. M., & Malagoli, C. (2018). The role
of environmental selenium and selenoproteins in lung cancer. Toxicology, 409, 101-108.
Finley, J. W., & Davis, C. D. (2018). Selenium (Se) from high-Se broccoli is utilized
differently than selenite, selenate and selenomethionine, but is more effective in inhibiting
colon carcinogenesis. Biofactors, 44(2), 147-156.
Burk, R. F., & Hill, K. E. (2019). Selenoprotein P—Expression, functions, and roles
in mammals. Biochimica et Biophysica Acta (BBA)-General Subjects, 1863(3), 253-262.
Wu, Q., Rayman, M. P., Lv, H., Schomburg, L., Cui, B., Gao, C., ... & Redman, C.
(2020). Low population selenium status is associated with increased prevalence of thyroid
disease. The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism, 105(12), dgaa740.