0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Analisis Teknikal Saham Pertambangan

Teks tersebut merupakan bagian dari penelitian yang menganalisis pergerakan harga saham sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia menggunakan analisis teknikal. Penelitian ini menguji apakah terdapat perbedaan rata-rata return saham antar periode waktu dan bidang industri yang berbeda menggunakan analisis varians. Hasilnya menunjukkan rata-rata return investor yang menggunakan analisis teknikal crossover rata-rata gerak tidak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan13 halaman

Analisis Teknikal Saham Pertambangan

Teks tersebut merupakan bagian dari penelitian yang menganalisis pergerakan harga saham sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia menggunakan analisis teknikal. Penelitian ini menguji apakah terdapat perbedaan rata-rata return saham antar periode waktu dan bidang industri yang berbeda menggunakan analisis varians. Hasilnya menunjukkan rata-rata return investor yang menggunakan analisis teknikal crossover rata-rata gerak tidak
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

ANALISIS TEKNIKAL SAHAM-SAHAM

SEKTOR PERTAMBANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA

Oleh :
Indratmo Yudono*

Abstract

Research testing technical analysis trading strategy is to take


samples of stocks from the company (issuer) mining sector from the first
time listing until October 2008.
This research focused on stock price movement patterns of the
minor, intermediate and primary with dual technical analysis moving
average crossover with stock prices that pass the test randomness of data. Is
there a significant difference between the average return of the third period.
Thus, investors who use technical analysis to the period of time can make a
profit (return) the maximum.
Research shows that of the 21 stocks pass the test of randomness of
data (data is not random). While testing the difference in average return on
average produce stock returns that are not significantly different at an
alpha level of 5% confidence, at different time periods vary in technical
analysis tool dual moving average crossover as well as in a period of
industry in mining sector. This indicates that the average profit (return) to
investors who use technical analysis of a dual moving average crossover
with a different time period or a period of industry in the mining sector is no
different.

Keywords: Daily stock price, Dual moving average crossover, Average


return

I. PENDAHULUAN

Pasar modal merupakan instrumen sekuritas jangka panjang yang


dapat diperjualbelikan oleh pemerintah maupun perusahaan swasta., Oleh
karena itu konsep pasar modal lebih sempit bila dibandingkan dengan pasar
keuangan. Dalam pasar keuangan diperdagangkan semua bentuk hutang dan
modal sendiri baik dana jangka pendek maupun jangka panjang. Tahun
2007 merupakan tahun yang bersejarah bagi pasar modal Indonesia, dengan
telah selesainya penggabungan PT Bursa Efek Surabaya kedalam PT Bursa
Efek Jakarta yang selanjutnya diberi nama PT Bursa Efek Indonesia dan
telah memulai operasional pertama pada tanggal 3 Desember 2007
(Headline &news IDX, 2007). Salah satu bentuk investasi yang ditawarkan
di pasar modal Indonesia adalah saham.
Bagi perekonomian suatu negara pasar modal memberikan dua fungsi
yaitu fungsi ekonomi dan fungsi keuangan. Pasar modal menyediakan
fasilitas yang mempertemukan dua kepentingan yaitu mereka yang
mempunyai kelebihan dana dan pihak yang memerlukan dana. Bagi
*Dosen Fakultas Ekonomi UNSOED

29 Analisis Teknikal Saham-Saham Sektor… (Indratmo Yudono)


perusahaan yang telah go public berarati telah mengeluarkan saham dan
mencatatkannya dibursa efek. Indikator kinerja yang dihasilkannya harus
melalui proses penilaian yang obyektif sehingga secara efektif dapat
memberikan gambaran tentang perkembangan perusahaan yang
bersangkutan. Angka kinerja itu menjadi masukan penting bagi investor
untuk berinvestasi dengan melakukan transaksi saham perusahaann yang
bersangkutan. Tujuan investor membeli saham perusahaan adalah
mendapatkan deviden (bagian laba yang dihasilkan) maupaun capital gain
(kenaikan harga saham). Untuk mendapatkan keuntungan, saham tersebut
harus dibeli ketika harganya murah dan menjualnya ketika harga saham
lebih tinggi dari harga belinya. Kebanyakan investor individu dan investor
institusional menginginkan hasil yang terbaik atas investasi mereka.
Mereka akan mencari segala cara yang dapat digunakan untuk mengurangi
risiko kehilangan uang dan meningkatkan kesempatan mendapatkan hasil.
Permasalahannya adalah mendapatkan saat yang benar-benar tepat untuk
membeli atau menjual saham, diperlukan alat-alat analisis dan grafik untuk
mengidentifikasi perubahan permintaan dan penawaran terhadap instrumen
keuangan yang diperdagangkan. Hal ini akan membantu mereka dalam
mempredeksi naik turunnya harga dan mengatur strategi perdagangannya.
Dalam upaya memberikan informasi yang lengkap tentang
perkembangan harga saham, BEI telah menyebarkan data pergerakan harga
saham melalui media cetak dan elektronik. Indikator pergerakan harga
saham adalah indeks harga saham. Beberapa indeks harga saham yang
terdapat di BEI adalah :
1. IHSG menggunakan semua saham tercatat sebagai komponen
kalkulasi indeks.
2. Indeks L-Q45, menggunakan 45 saham terpilih setelah melaluai
tahapan seleksi.
3. Indeks individual, yang merupakan indeks untuk masing-masing
saham didasarkan harga dasar.
4. Indeks sektoral menggunakan semua saham yang masuk dalam
setiap sektor.
Perusahaan Pertambangan yang listing di Bursa efek Indonesia
(BEI) pada saat data penelitian ini diambil ada sebanyak 21 perusahaan.
Sektor pertambangan di Bursa Efek Indonesia terbagi menjadi empat bidang
yaitu bidang industri pertambangan minyak dan gas bumi, bidang industri
pertambangan logam dan mineral lainnya, bidang industri pertambangan
batu-batuan dan bidang industri pertambangan batu-bara.

HIPOTESIS

1. Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata return saham dengan


jangka waktu yang berbeda-beda
2. Hipotesis yang ke-2 ini ada 3 hipotesis
a. Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata return saham dari
bidang industri yang berbeda pada jangka waktu pendek 14 dan 15
hari.

30 PERFORMANCE: Vol. 11 No.2 Maret 2010 (p.29-45)


b. Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata return saham dari
bidang industri yang berbeda pada jangka waktu menengah 50 dan
100 hari.
c. Ada perbedaan yang signifikan antara rata-rata return saham dari
bidang industri yang berbeda pada jangka waktu panjang 100 dan
200 hari.

II. METODE ANALISIS


A. Definisi Operasional
1. Harga pasar saham yaitu harga pasar setiap perusahaan yang terjadi
di bursa, harga ini bergerak sesuai dengan mekanisme pasar setiap
detik. Harga yang digunakan dalam penelitian ini adalah harga pasar
saham pada saat penutupan.
2. Analisis teknikal yaitu metode memprediksi pergerakan harga dan
tren pasar di masa yang akan datang dengan mempelajari grafik
kegiatan pasar di masa lalu yang memperhatikan pada harga
instrumen tersebut.
3. Moving average (rata-rata bergerak) adalah harga rata-rata dari statu
seguritas pada suatu saat. Dihitung dengan menjumlah harga-harga
seguritas untuk jangka waktu n terakhir dan membaginya dengan n.
(Lani Salim, 2003).

B. Metode Analisis
Penelitian ini mencoba memfokuskan pada saham-saham yang
berperilaku tidak mengikuti random walk (tidak acak), sesuai dengan
prinsip dasar analisis teknikal. Untuk mengetahui saham-saham yang
tidak berperilaku tidak acak tersebut, sebelumnya terhadap harga-harga
saham sektor pertambangan mulai dari pertama kali listing di bursa
sampai Oktober 2008 dilakukan pengujian menggunakan runtun tes (run
test). Uji runtun tes digunakan untuk menemukan penyimpangan suatu
barisan pengukuran kuantitatif dalam waktu yang diakibatkan oleh
kecenderungan atau keberkalaan. Jika perubahan harga saham acak
berarti perubahan harga saham sekarang tidak bisa diperkirakan dengan
menggunakan data perubahan harga saham masa lalu. Dalam penelitian
ini saham-saham pilihan (aktif) yang diteliti harus melewati pengujian
runtun tes terlebih dahulu, yaitu saham-saham yang tidak berpola acak
(random walk) yang dapat dilakukan analisis teknikal dan saham-saham
yang tidak lolos uji ini tidak diteliti lebih lanjut.
Untuk mengetahui perubahan harga saham yang berpola tidak acak
digunakan rumus runtun tes sebagai berikut :
Menghitung runtun (Elvis Firdaus, 1998) :
3
N ( N  1)   ni
2

m 1t

N
Keterangan :
m = Jumlah runtun yang diharapkan.

31 Analisis Teknikal Saham-Saham Sektor… (Indratmo Yudono)


N = Jumlah perubahan harga saham yang dikualifikasikan dalam
tiga bentuk tanda.
ni = Jumlah perubahan harga saham untuk setiap tanda, n1 untuk
tanda positif (+), n2 untuk tanda negatif (-) dan n3 untuk nol
(0).
Menghitung nilai Z (jumlah runtun yang terjadi)
R  12   m
Z
m
Jika Z hitung > Z tabel, perubahan harga saham berpola tidak acak.

1. Untuk mengetahui perbedaan rata-rata return saham dengan


menggunakan strategi dagang teknikal dual moving average dalam
jangka waktu yang berbeda-beda dan bidang industri yang berbeda-
beda menggunakan analisis varians (The Analysis of Variance).
Hipotesis statistik:
Ho : μ1 = μ2 = μ3 = …. = μk
H1 : sekurang-kurangnya ada dua buah μ yang tidak sama.

Tabel 1. Tabel Analisis Varians (ANOVA TABLE)

Sumber : Diadaptasi dari Anderson, 2002.


Keterangan perhitungan :
(T  T  ......  TK ) 2
C 1 2
(n1  n2  ......  nK )
SST  Total Sum of Squares
 ( X i21   X i22  ...   X ik2 )  C
SS B  Total Sum of Between Groups
T 2 T 2 T2 
  1  2  ...  K   C
 n1 n2 nK 
SS E  Sum of Squares of Error (Sum of Squares Within Groups)
 SST  SS B
DFB  Degree of Freedo Between Groups  (k  1)
MS B  Mean Squares Between Groups

32 PERFORMANCE: Vol. 11 No.2 Maret 2010 (p.29-45)


SS B

DFB
DFE  Degree of Freedom Error  (n1 1)  ...  (nK 1)
  (n J  1)
MS E  Mean Squares of Totals
SS E

DFE
DFT  Degrees of freedom of totals
 (n1  n2  ...  nK )  1
  nJ  1
MS B
F test 
MS E
Titik Kritis : F  :( k 1);
 ( nJ 1) 
Ho diterima jika F test < F [α;(k-1);∑(nj-1)] atau F hitung < F tabel.

2. Menghitung Dual Moving Average Crossover (DMC)


a. Moving average jangka pendek berakhir pada s hari pada waktu ke
t, ( SMAT )  i 1 Pt c / S , di mana Pt c adalah harga penutupan
S

(closing price) pada waktu ke t dan s < t.


b. Moving average jangka panjang berakhir pada l hari pada waktu
( LMAt )  i 1 Pt c / l
l

ke t , di mana s  l  t .
Keterangan :
SMA= rata-rata bergerak jangka waktu pendek (short moving
average)
LMA=rata-rata bergerak jangka waktu panjang (long moving
average)
l s = jangka waktu pendek moving average
= jangka waktu panjang moving average
P 0 jika SMAt  LMAt P0
Beli pada t , di mana t adalah pembukaan
pada waktu t.
P 0 jika SMAt  LMAt
Jual pada t .

3. Menghitung return saham (Jogiyanto, 2003) :


P  Pt 1
Capital Gain / Loss  t
Pt 1
Pt = Harga saham sekarang

Pt-1 = Harga saham periode yang lalu

33 Analisis Teknikal Saham-Saham Sektor… (Indratmo Yudono)


III. HASIL ANALISIS

A. Analisis hasil perhitungan run test


Sesuai dengan prinsip dasar analisis teknikal, saham-saham yang
berperilaku tidak acak sebelumnya dihitung dengan menggunakan run
test terhadap harga-harga saham sektor pertambangan mulai dari
pertama kali listing di bursa sampai Oktober 2008, dari ke 21 harga
saham yang dihitung, keseluruhannya lolos sehingga semua harga saham
berpola tidak acak.

B. Analisis hasil pengujian hipotesis


1. Analisis hasil pengujian hipotesis 1
Uji beda rata-rata return saham pada suatu strategi dagang
teknikal dengan jangka waktu yang berbeda-beda.
Secara umum hipotesis ini dinyatakan sebagai ada perbedaan
yang signifikan antara rata-rata return saham dengan menggunakan
strategi dagang teknikal (technical trading rule) dengan
menggunakan jangka waktu yang berbeda-beda.
Dalam penelitian ini digunakan tiga jangka waktu yang
berbeda, yaitu jangka waktu pendek 14 dan 25 hari, jangka waktu
menengah 50 dan 100 hari serta jangka waktu panjang 100 dan 200
hari.
Sebelum melakukan analisis hasil pengujian hipotesis
tersebut, terlebih dulu akan ditampilkan hasil pada perhitungan return
saham dengan menggunakan teknik indikator dual moving average
crossover seperti tabel 2 dibawah ini, salah satu contoh cara
perhitungan dapat dilihat pada lampiran 2 dan gambar grafik (chart)
harga saham perusahaan pertambangan dapat dilihat pada lampiran 3.

34 PERFORMANCE: Vol. 11 No.2 Maret 2010 (p.29-45)


Tabel 2
Hasil perhitungan return saham dengan menggunakan
Analisis teknikal dual moving average crossover

Sumber : Data Sekunder Diolah

Dari tabel, diatas terlihat bahwa rata-rata return saham dengan


menggunakan teknik diatas menghasilkan return yang positif untuk
ketiga jangka waktu yang berbeda. Hal ini dapat dijelaskan bahwa
sebagian besar saham-saham perusahaan yang diteliti memiliki return
saham yang bernilai positif. Ditemuinya nilai positif tersebut dapat
disebabkan karena dua hal yaitu, pertama karena pengambilan
keputusan jual dan beli yang berdasarkan asumsi melakukan beli
(buy) pada waktu sinyal beli (buy signal) pertama kali ditemui (pada
waktu nilai moving average jangka waktu yang lebih pendek
memotong naik nilai moving average jangka waktu yang lebih
panjang (dilihat pada gambar chart di lampiran 2), dimana harga beli
lebih rendah dari harga jual (dalam hal ini terjadi capital gain yang
tentu saja menghasilkan return positif). Kedua, karena memang
adanya kecenderungan harga-harga saham yang naik pada obyek
penelitian, sehingga harga beli saham dapat lebih rendah daripada
harga jualnya sehingga menghasilkan return saham yang positif.

35 Analisis Teknikal Saham-Saham Sektor… (Indratmo Yudono)


Pengujian hipotesis beda rata-rata return saham-saham dengan
menggunakan teknik dual moving average crossover dengan jangka
waktu yang berbeda-beda ini memberikan nilai F hitung sebesar
0,989 (lihat pada lampiran 4). Untuk mengetahui apakah rata-rata
return saham-saham dengan menggunakan teknik dual moving
average crossover ini berbeda secara signifikan untuk berbagai
jangka waktu, maka nilai F hitung dibandingkan dengan nilai F tabel
pada tingkat signifikansi alfa 5%. Adapun nilai F tabel pada tingkat
signifikansi alfa 5% dengan derajat kebebasan df = 2 dan df2 = 51
adalah sebesar 3,18 Sesuai dengan kriteria pengujian suatu hipotesis
bahwa hipotesis nol akan ditolak jika nilai F hitung lebih besar
daripada nilai F tabel dan sebaliknya hipotesis nol akan diterima jika
nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F tabel. Berdasarkan
keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa nilai F hitung
sebesar 0,989 adalah lebih kecil daripada nilai F tabelnya, berarti
berada dalam daerah penerimaan. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa rata-rata return saham-saham perusahaan yang
diambil sampel tersebut dengan menggunakan teknik dual moving
average crossover jangka waktu pendek 14 dan 25 hari, jangka
waktu menengah 50 dan 100 hari serta jangka waktu panjang 100 dan
200 hari, secara statistik signifikan tidak berbeda. Jadi penggunaan
jangka waktu yang semakin panjang ternyata tidak berpengaruh atau
tidak memberikan hasil yang tidak berbeda. Dengan kata lain, dengan
semakin panjang jangka waktu yang dipakai tidak menghasilkan
return yang semakin besar atau mengecil secara statistik. Kesimpulan
diatas adalah bahwa pemilihan jangka waktu untuk teknik dual
moving average crossover tidak berpengaruh terhadap hasil return
yang diperoleh sehingga secara statistik telah terbukti bahwa ketiga
jangka waktu tersebut tidak berbeda.

2. Analisis hasil pengujian hipotesis 2


Uji beda rata-rata return saham yang dihasilkan dari bidang
industri yang berbeda-beda. Sektor pertambangan di Bursa Efek
Indonesia terbagi menjadi empat bidang yaitu bidang industri
pertambangan minyak dan gas bumi, bidang industri pertambangan
logam dan mineral lainnya, bidang industri pertambangan batu-
batuan dan bidang industri pertambangan batu-bara. Hasil
perhitungan return saham seperti pada tabel 2 dibawah ini :

36 PERFORMANCE: Vol. 11 No.2 Maret 2010 (p.29-45)


Tabel 3
Hasil perhitungan return saham pada setiap industri dengan
menggunakan jangka waktu pendek, menengah dan panjang pada
analisis teknikal dual moving average crossover

Sumber : Data Sekunder Diolah

Secara umum hipotesis 2 ini dinyatakan sebagai ada


perbedaan signifikan antara rata-rata return saham yang dihasilkan
dari bidang industri yang berbeda-beda?
Hipotesis yang diajukan ada 3 (tiga) yaitu :
a. Hipotesis a
Ada perbedaan signifikan antara rata-rata return saham dari
bidang industri yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi
dagang teknikal dual moving average crossover pada jangka waktu
pendek 14 dan 25 hari.
Pengujian hipotesis beda rata-rata return saham-saham dari
bidang industri yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi
dagang teknikal dual moving average crossover pada jangka waktu
pendek 14 dan 25 hari ini memberikan nilai F hitung sebesar 2,402
(lihat pada lampiran 5). Untuk mengetahui apakah rata-rata return
saham-saham dari bidang industri yang berbeda-beda dengan
menggunakan strategi dagang teknikal dual moving average
crossover berbeda secara signifikan pada jangka waktu pendek 14
dan 25 hari, maka nilai F hitung dibandingkan dengan nilai F tabel
pada tingkat signifikansi alfa 5%. Adapun nilai F tabel pada tingkat

37 Analisis Teknikal Saham-Saham Sektor… (Indratmo Yudono)


signifikansi alfa 5% dengan derajat kebebasan df = 3 dan df2 = 15
adalah sebesar 3,29. Sesuai dengan kriteria pengujian suatu hipotesis
bahwa hipotesis nol akan ditolak jika nilai F hitung lebih besar
daripada nilai F tabel dan sebaliknya hipotesis nol akan diterima jika
nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F tabel. Berdasarkan
keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa nilai F hitung
sebesar 2,402 adalah lebih kecil daripada nilai F tabelnya, berarti
berada dalam daerah penerimaan. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa rata-rata return saham-saham dari bidang industri
yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi dagang teknikal
dual moving average crossover pada jangka waktu pendek 14 dan 25
hari, secara statistik signifikan tidak berbeda. Jadi pemilihan bidang
industri yang berbeda ternyata tidak berpengaruh atau tidak
memberikan hasil yang tidak berbeda. Dengan kata lain, dengan
pemilihan salah satu bidang industri tidak menghasilkan return yang
semakin besar atau mengecil secara statistik. Kesimpulan diatas
adalah bahwa pemilihan bidang industri untuk teknik dual moving
average crossover pada jangka waktu pendek 14 dan 25 hari tidak
berpengaruh terhadap hasil return yang diperoleh sehingga secara
statistik telah terbukti bahwa berbagai bidang industri tersebut tidak
berbeda.
b. Hipotesis b
Ada perbedaan signifikan antara rata-rata return saham dari
bidang industri yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi
dagang teknikal dual moving average crossover pada jangka waktu
menengah 50 dan 100 hari.
Pengujian hipotesis beda rata-rata return saham-saham dari
bidang industri yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi
dagang teknikal dual moving average pada jangka waktu menengah
50 dan 100 hari ini memberikan nilai F hitung sebesar 1,715 (lihat
pada lampiran 5). Untuk mengetahui apakah rata-rata return saham-
saham dari bidang industri yang berbeda-beda dengan menggunakan
strategi dagang teknikal dual moving average crossover berbeda
secara signifikan pada jangka waktu menengah 50 dan 100 hari, maka
nilai F hitung dibandingkan dengan nilai F tabel pada tingkat
signifikansi alfa 5%. Adapun nilai F tabel pada tingkat signifikansi
alfa 5% dengan derajat kebebasan df = 3 dan df2 = 15 adalah sebesar
3,29. Sesuai dengan kriteria pengujian suatu hipotesis bahwa
hipotesis nol akan ditolak jika nilai F hitung lebih besar daripada nilai
F tabel dan sebaliknya hipotesis nol akan diterima jika nilai F hitung
lebih kecil daripada nilai F tabel. Berdasarkan keterangan diatas,
maka dapat disimpulkan bahwa nilai F hitung sebesar 1,715 adalah
lebih kecil daripada nilai F tabelnya, berarti berada dalam daerah
penerimaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa rata-rata
return saham-saham dari bidang industri yang berbeda-beda dengan
menggunakan strategi dagang teknikal dual moving average
crossover pada jangka waktu menengah 50 dan 100 hari, secara
statistik signifikan tidak berbeda. Jadi pemilihan bidang industri yang

38 PERFORMANCE: Vol. 11 No.2 Maret 2010 (p.29-45)


berbeda ternyata tidak berpengaruh atau tidak memberikan hasil yang
tidak berbeda. Dengan kata lain, dengan pemilihan salah satu bidang
industri tidak menghasilkan return yang semakin besar atau mengecil
secara statistik. Kesimpulan diatas adalah bahwa pemilihan bidang
industri untuk teknik dual moving average crossover pada jangka
waktu menengah 50 dan 100 hari tidak berpengaruh terhadap hasil
return yang diperoleh sehingga secara statistik telah terbukti bahwa
berbagai bidang industri tersebut tidak berbeda.
c. Hipotesis c
Ada perbedaan signifikan antara rata-rata return saham dari
bidang industri yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi
dagang teknikal dual moving average pada jangka waktu panjang
100 dan 200 hari.
Pengujian hipotesis beda rata-rata return saham-saham dari
bidang industri yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi
dagang teknikal dual moving average crossover pada jangka waktu
panjang 100 dan 200 hari ini memberikan nilai F hitung sebesar
1,312 (lihat pada lampiran 5). Untuk mengetahui apakah rata-rata
return saham-saham dari bidang industri yang berbeda-beda dengan
menggunakan strategi dagang teknikal dual moving average
crossover berbeda secara signifikan pada jangka waktu panjang 100
dan 200 hari, maka nilai F hitung dibandingkan dengan nilai F tabel
pada tingkat signifikansi alfa 5%. Adapun nilai F tabel pada tingkat
signifikansi alfa 5% dengan derajat kebebasan df = 3 dan df2 = 12
adalah sebesar 3,89. Sesuai dengan kriteria pengujian suatu hipotesis
bahwa hipotesis nol akan ditolak jika nilai F hitung lebih besar
daripada nilai F tabel dan sebaliknya hipotesis nol akan diterima jika
nilai F hitung lebih kecil daripada nilai F tabel. Berdasarkan
keterangan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa nilai F hitung
sebesar 1,312 adalah lebih kecil daripada nilai F tabelnya, berarti
berada dalam daerah penerimaan. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa rata-rata return saham-saham dari bidang industri
yang berbeda-beda dengan menggunakan strategi dagang teknikal
dual moving average crossover pada jangka waktu panjang 100 dan
200 hari, secara statistik signifikan tidak berbeda. Jadi pemilihan
bidang industri yang berbeda ternyata tidak berpengaruh atau tidak
memberikan hasil yang tidak berbeda. Dengan kata lain, dengan
pemilihan salah satu bidang industri tidak menghasilkan return yang
semakin besar atau mengecil secara statistik. Kesimpulan diatas
adalah bahwa pemilihan bidang industri untuk teknik dual moving
average crossover pada jangka waktu panjang 100 dan 200 hari tidak
berpengaruh terhadap hasil return yang diperoleh sehingga secara
statistik telah terbukti bahwa berbagai bidang tersebut tidak berbeda.

39 Analisis Teknikal Saham-Saham Sektor… (Indratmo Yudono)


IV. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

A. Kesimpulan
1. Dari hasil analisis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
pemakaian teknik dual moving average crossover untuk jangka waktu
pendek 14 dan 25 hari, jangka waktu menengah 50 dan 100 hari serta
jangka waktu panjang 100 dan 200 hari ternyata memberikan rata-rata
return saham yang tidak berbeda secara signifikan.
2. Pada pengujian beda rata-rata return saham yang dihasilkan dari
bidang industri yang berbeda-beda menunjukkan hasil tidak ada
perbedaan dari startegi dagang teknikal dual moving average
crossover pada berbagai bidang industri dalam sektor pertambangan
di Bursa Efek Indonesia dengan pemakaian jangka waktu pendek 14
dan 25 hari, jangka waktu menengah 50 dan 100 hari maupun jangka
waktu panjang 100 dan 200.

B. Implikasi
Berdasarkan kesimpulan dapat diimplikasikan, bahwa strategi
dagang teknikal (technical trading rule) dengan menggunakan analisis
dual moving average crossover dapat digunakan pada saham sektor
pertambangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham-saham tersebut
terlebih dahulu harus mempunyai pola yang tidak acak (non random
walk) agar memberikan hasil yang baik.

DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Lincolin, 2001, Peramalan Bisnis, BPFE-YOGYAKARTA,


Yogyakarta.

Anderson, David R., Sweeney, Dennis J., and Williams, Thomas A, 2002,
Statistics For Business and Economics, by South-Western, a
division of Thomson Learning.

Ary Yunanto, 2008, Uji Strategi Dagang Analisis Teknikal (Indikator


Lagging dan Leading) Di Bursa Efek Jakarta, Tesis Program
Magister Ekonomi Manajemen UNSOED, Purwokerto.

Fakhrudin, M. dan Sopian Hadianto, M, 2001, Perangkat dan Model


Analisis Investasi Di Pasar Modal, Elex Media Komputindo,
Jakarta.

Fakhrudin, M., Firmansyah, M. dan Sopian Hadianto, M, 2004, Analisis


Teknikal Dengan Metastock, Elex Media Komputindo, Jakarta.

Ghojali, Imam, 2006, Analisis Multivariate Lanjutan Dengan Program


SPSS, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang.

40 PERFORMANCE: Vol. 11 No.2 Maret 2010 (p.29-45)


Husnan, Suad, 2001, Dasar-dasar Teori Portofolio dan Analisis Sekuritas,
UPP AMP, Yogyakarta.

Press Release BEJ, 2006, Kinerja BEJ 2006 dan Langkah Strategis 2007,
http//[Link].

Salim, Lani, 2003, Analisis Teknikal Dalam Perdagangan Saham, Elex


Media Komputindo, Jakarta.

Susanto, Djoko. dan Sabardi, Agus, 2002, Analisis Teknikal Di Bursa Efek,
STIE,Yogyakarta.

41 Analisis Teknikal Saham-Saham Sektor… (Indratmo Yudono)

Anda mungkin juga menyukai