0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan81 halaman

Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove Gusung

Skripsi ini membahas nilai manfaat ekonomi hutan mangrove di Pulau Gusung, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan hutan mangrove untuk kayu bakar, ikan, dan kepiting dengan nilai ekonomi total sebesar Rp. 249.740.000 per tahun. Selain itu, hutan mangrove memberikan manfaat tidak langsung sebagai penahan abrasi senilai Rp. 5.

Diunggah oleh

Febry Ana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
16 tayangan81 halaman

Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove Gusung

Skripsi ini membahas nilai manfaat ekonomi hutan mangrove di Pulau Gusung, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar. Penelitian menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan hutan mangrove untuk kayu bakar, ikan, dan kepiting dengan nilai ekonomi total sebesar Rp. 249.740.000 per tahun. Selain itu, hutan mangrove memberikan manfaat tidak langsung sebagai penahan abrasi senilai Rp. 5.

Diunggah oleh

Febry Ana
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

NILAI MANFAAT EKONOMI HUTAN MANGROVE

DI PULAU GUSUNG KECAMATAN BONTOHARU


KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

RESTU SURATMI
105 9500 397 13

PROGRAM STUDI KEHUTANAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2017

i
NILAI MANFAAT EKONOMI HUTAN MANGROVE
DI PULAU GUSUNG KECAMATAN BONTOHARU
KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

RESTU SURATMI
105 9500 397 13

SKRIPSI

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan


Strata Satu (S-1)

PROGRAM STUDI KEHUTANAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
MAKASSAR
2017

ii
HALAMAN PENGESAHAN

Judul : Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove di Pulau Gusung


Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar

Nama : Restu Suratmi

Stambuk : 105 9500 397 13

Program Studi : Kehutanan

Fakultas : Pertanian

Makassar, 21 Desember 2017

Telah diperiksa dan disetujui oleh :

Dosen Pembimbing

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Irma Sribianti, [Link]., MP. Muthmainnah, [Link]., [Link].


NIDN. 0007017105 NIDN. 0920018801

Diketahui oleh,

Dekan Fakultas Pertanian Ketua Program Studi Kehutanan

H. Burhanuddin, [Link].,MP Husnah Latifah, [Link]., [Link]


NBM: 853947 NBM:742921

iii
PENGESAHAN KOMISI PENGUJI

Judul : Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove di Pulau Gusung


Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar

Nama : Restu Suratmi

Stambuk : 105 9500 397 13

Program Studi : Kehutanan

Fakultas : Pertanian

SUSUNAN KOMISI PENGUJI

Nama Tanda Tangan

1. Dr. Irma Sribianti [Link].,MP. (..................)


Ketua Sidang

2. Muthmainnah, [Link].,[Link]. (..................)


Sekertaris

3. Sultan, [Link].,MP (..................)


Anggota

4. Husnah Latifah, [Link].,[Link]. (..................)


Anggota

Tanggal Lulus : 21 Desember 2017

iv
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI
DAN SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul :

NILAI MANFAAT EKONOMI HUTAN MANGROVE DI PULAU


GUSUNG KECAMATAN BONTOHARU KABUPATEN KEPULAUAN
SELAYAR

Adalah benar merupakan hasil karya sendiri yang belum diajukan dalam

bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Semua sumber data dan

informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak

diterbitkan dari Penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan

dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi.

Makassar, 21 Desember 2017

Restu Suratmi

v
ABSTRAK

RESTU SURATMI (105950039713). Nilai Manfaat Ekonomi Hutan


Mangrove Di Pulau Gusung Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan
Selayar. Dibawah bimbingan Irma Sribianti dan Muthmainnah.

Penelitian ini dilaksanakan selama 2 bulan di mulai dari bulan Agustus


2017 sampai bulan Oktober 2017. Adapun lokasi penelitian di Pulau Gusung
Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui nilai manfaat ekonomi hutan
mangrove di Pulau Gusung Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan
Selayar.
Data yang diambil pada penelitian ini adalah data primer dan data
sekunder. Data primer dikumpulkan dengan teknik wawancara dan pengisian
kuisioner kepada responden, sedangkan data sekunder data-data yang diperoleh
dari instansi terkait sebagai data penunjang yang meliputi jumlah penduduk,
letak dan keadaan geografis lokasi penelitian.
Penelitian ini dilalukan dalam beberapa tahap, tahapan pertama yaitu
persiapan adalah menentukan lokasi penelitian yaitu Pulau Gusung Kecamatan
Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar dengan pertimbangan di Pulau itu
terdapat hutan mangrove. Tahapan kedua adalah mengidentifikasi masyarakat
yang mengelola hutan mangrove dari segi ekonomi dan dari hasil identifikasi
diperoleh 15 responden.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa manfaat langsung
hutan mangrove dari segi ekonomi yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat
adalah kayu bakar, ikan dan kepiting. Dengan masing-masing nilai: kayu bakar
sebesar Rp. 3.679.000/Tahun, Ikan sebesar Rp. 168.557.000/Tahun, Kepiting
sebesar Rp. 77.504.000/Tahun. Sedangkan nilai manfaat tidak langsung hutan
mangrove sebagai penahan abrasi sebesar Rp. [Link]/Tahun.

vi
Hak Cipta milik Unismuh Makassar, Tahun 2017

@ Hak Cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa

mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian,

penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau

tinjauan suatu masalah

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Unismuh

Makassar

2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh

karya tulis dalam bentuk laporan apa pun tanpa izin Unismuh

Makassar

vii
MOTO DAN PERSEMBAHAN

Jika terus berjuang dan menikmati prosesnya serta berdoa maka bonus

akan sangat mudah ditemukan, cukup menikmati dengan cara kita

masing-masing bersama Tuhan yang selalu bersama kita, maka

kebahagiaan datang tak ada putusnya.

“Barang Siapa Yang Bersungguh-Sungguh Maka dia Akan Mendapatkannya”

Kupersembahkan karya sederhana ini

untuk ibunda dan ayahandaku tercinta, anakku,

saudara-saudariku dan para sahabat-sahabatku terkasih,

berkat doa dan dorongan yang tiada hentinya sehingga tercapailah hingga kini.

Segenap harapan terbaik dan doa serta kebanggaan mereka untukku.

viii
KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas segala

limpahan rahmat dan hidaya-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi ini setelah melalui proses yang panjang. Salawat dan salam semoga

selalu tercurah kepada Nabiullah Muhammad SAW sebagai satu-satunya

teladan kita dalam menjalani segala aktivitas di atas muka bumi ini, juga

kepada keluarga beliau, sahabat-sahabatnya, dan orang-orang yang selalu

istiqamah menjalani hidup dengan Islam sebagai agama satu-satunya yang

diridhai Allah SWT.

Penulis sangat menyadari bahwa dalaam penyelesaian skripsi ini mulai

menyusun hingga tahap penyelesaian sepenuhnya masih banyak kekurangan

sebagai akibat dari keterbatasan Penulis. Untuk itu, saran dan kritik yang

bersifat membangun demi perbaikan dan penyempurnaan skripsi akan Penulis

terima dengan lapang hati. Walaupun demikian, penulis berupaya semaksimal

mungkin untuk menyempurnakan tugas ini. Semoga penulisan skripsi ini dapat

memberikan manfaat yang besar baik bagi para pembaca khususnya bagi saya

sendiri dan semua Mahasiswa Prodi Kehutanan Fakultas Pertanian, Amin.

Penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua

pihak yang telah memberikan bantuaan dan arahan. Semoga segala bantuan

yang telah diberikan kepada Penulis mendapatkan ridho dari Allah SWT.

Aamiin. Karena itu dengan segala kerendahan hati Penulis menghaturkan

ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

ix
1. Kepada yang teristimewa kedua orang tuaku yang tercinta Ayahanda

Densi Rate dan Ibunda Sitti Aminah yang telah memberikan do’a dan

dorongan motivasi kepada Penulis.

2. H. Burhanuddin, [Link].,MP selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas

Muhammadiyah Makassar.

3. Ibunda Husnah Latifah, [Link]., [Link] selaku ketua jurusan Program Studi

Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Makassar.

4. Ibunda Dr. Irma Sribianti, [Link]., MP. sebagai dosen Pembimbing I dan

Ibunda Muthmainnah, [Link]., [Link]. sebagai dosen Pembimbing II, yang

selama ini dapat meluangkan waktunya untuk memberikan arahan,

bimbingan, nasehat dan kritikan demi kelancaran penyelesaian skripsi ini.

5. Bapak dan ibu Dosen Program Studi Kehutanan Fakultas Pertanian

Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan ilmu

selama Penulis menempuh pendidikan.

6. Kepada anakku Bilal Rahman dan keponakan Hanum Sheza Abimanyu

yang telah menjadi alasan penguat penulis untuk menyelesaikan

pendidikan.

7. Kepada saudara-saudariku Makmur Suratmi, Nur Hikma Suratmi, Ermi

Suratmi, Panca Rahma Suratmi, Adha Hidayat Suratmi, Teguh Arif

Suratmi, Taufik Juliandi Suratmi, Muhammad Tauhid Suratmi, Nurul

Qolbi dan Satria Abimayu terima kasih atas segala dukungan, nasehat dan

motivasi sehingga peneliti bisa menyelesaikan skripsi ini.

x
8. Kepada sahabat-sahabatku Karmila Zainuddin, Musdalipah, Resky Amelia

Sary, Hardianti Hamsah, Syarifah Yhuni Nurfatiah, Samsidar terima kasih

atas dukungan pada penulis.

9. Kepada saudara-saudariku FORESTER 013 terima kasih atas dukungan

dan semangat yang selalu ada untuk peneliti, terima kasih atas

persaudaraannya dan pengertiannya.

10. Kepada senior dan junior di HMJ Kehutanan terima kasih atas semuanya.

11. Kepada Kepala Desa Bontolembang dan semua warga Pulau Gusung Barat

terima kasih yang telah membantu penulis selama berada di lokasi

penelitian.

Makassar, 21 September 2017

Restu Suratmi

xi
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i

HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... ii

HALAMAN KOMISI PENGUJI ..................................................................... iii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI .......................................................... iv

HAK CIPTA..................................................................................................... v

ABSTRAK ....................................................................................................... vi

KATA PENGANTAR ..................................................................................... vii

DAFTAR ISI .................................................................................................... x

DAFTAR TABEL ............................................................................................ xii

DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiv

DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv

RIWAYAT HIDUP .......................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang ................................................................................... 1


1.2. Rumusan Masalah .............................................................................. 4
1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................... 4
1.4. Manfaat Penelitian ............................................................................. 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Hutan Mangrove ................................................................................ 5
2.2. Ekosistem Mangrove ......................................................................... 6
2.3. Fungsi Hutan Mangrove .................................................................... 7
2.4. Nilai.................................................................................................... 7
2.5. Nilai Manfaat ..................................................................................... 8

xii
2.6. Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove............................................. 10
2.7. Metode Analisis Nilai Manfaat .......................................................... 11
2.8. Kerangka Pikir ................................................................................... 15

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ 17


3.2. Jenis dan Sumber Data ....................................................................... 17
3.3. Metode Pengambilan Sampel ............................................................ 17
3.4. Analisis Data ...................................................................................... 18

BAB IV KEADAAN UMUM LOKASI

4.1. Letak Wilayah .................................................................................... 21


4.2. Jumlah Penduduk ............................................................................... 22
4.3. Mata Pencaharian ............................................................................... 23
4.4. Sarana Pendidikan.............................................................................. 23
4.5. Agama ................................................................................................ 24

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identitas Responden ........................................................................... 25


5.2. Identifikasi Manfaat Langsung Hutan Mangrove .............................. 28
5.3. Nilai Manfaat Langsung Ekonomi Hutan Mangrove............................ 30
5.4. Total Nilai Manfaat Langsung Hutan Mangrove ..................................34
5.5. Identifikasi Manfaat Tidak Langsung Hutan Mangrove .......................36
5.6. Total Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove ...................................37

BAB VI PENUTUP

6.1. Kesimpulan ........................................................................................ 39


6.2. Saran .................................................................................................. 39
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 50

xiii
DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

1. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut


Kelurahan/Desa di Kecamatan Bontoharu 2010,2014 Dan 2015......... 22

2. Jumlah Penduduk di Desa Bontolembang Kecamatan Bontoharu


Kabupaten Kab. Kepulauan Selayar ..................................................... 23

3. Jumlah Sekolah, Murid, Guru di Desa Desa Bontolembang


Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan Selayar ................ 24

4. Klasifikasi Umur Responden di Pulau Gusung Barat Desa


Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan
Selayar .................................................................................................. 25

5. Klasifikasi Tingkat Pendidikan Responden ......................................... 26

6. Jumlah Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga ...................... 27

7. Jumlah Pengambilan Kayu Bakar Dan Responden di Desa


Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan
Selayar .................................................................................................. 28

8. Jumlah Penangkapan Ikan dan Responden di Desa Bontolembang


Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan Selayar ................ 29

9. Jumlah Penangkapan Kepiting di Desa Bontolembang Kecamatan


Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan Selayar ................................... 29

10. Nilai Manfaat Ekonomi Kayu Bakar di Desa Bontolembang


Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan Selayar ................ 30

11. Nilai Manfaat Ekonomi Ikan di Desa Bontolembang Kecamatan


Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan Selayar ................................... 32

12. Nilai Manfaat Ekonomi Kepiting di Desa Bontolembang Kecamatan


Bontoharu Kabupaten Kab. Kepulauan Selayar ................................... 34

13. Total Nilai Manfaat Langsung Hutan Mangrove ................................. 35

xiv
14. Total Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove .................................. 37

15. Data Responden.................................................................................... 45

16. Identitas Responden ............................................................................. 46

17. Produksi Kayu Bakar ........................................................................... 47

18. Biaya Kayu Bakar ................................................................................ 48

19. Produksi Ikan ........................................................................................ 49

20. Biaya Produksi Ikan ............................................................................. 50

21. Produksi Kepiting ................................................................................. 54

22. Biaya Kepiting...................................................................................... 55

xv
DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

1. Kerangka Pikir Penelitian Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove . 16

2. Perjalanan ke Pulau Gusung................................................................. 57

3. Perjalanan ke Pulau Gusung................................................................. 57

4. Nelayan Pulau Gusung ......................................................................... 58

5. Wawancara Responden ........................................................................ 58

6. Lokasi Penelitian .................................................................................. 59

7. Lokasi Penelitian .................................................................................. 59

xvi
DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Teks Halaman

1. Kuisioner .............................................................................................. 42

2. Tabulasi Data Hasil Penelitian ............................................................. 45

3. Dokumentasi ........................................................................................ 57

xvii
I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari

17.508 pulau yang secara keseluruhan memiliki garis pantai sekitar 81.000 km

serta wilayah laut pedalaman dan teritorialnya seluas 3.1 juta km2 dan Zona

Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia seluas 2.7 km2 (Dahuri 2001). Indonesia
1

dengan negara kepulauan terbesar dengan luas lautan tiga per empat luas daratan

dan memiliki sumberdaya alam yang sangat besar, baik hayati maupun non-hayati

yang seharusnya dapat memberikan kontribusi yang besar terhadap Produk

Domestik Bruto (PDB) Indonesia (Tuwo 2011). Indonesia mempunyai kekayaan

sumberdaya hayati pesisir dan lautan yang besar.

Pembangunan yang berkesinambungan (sustainable development) menurut

Undang-Undang No. 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok

Lingkungan Hidup yang disempurnakan dengan Undang-Undang No. 23 Tahun

1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, dapat tercapai dengan suatu syarat

bahwa pengelolaan lingkungan hidup harus berasaskan kemampuan lingkungan

yang serasi dan seimbang. Pendapatan per kapita USA sebesar US$ 10 391

dibandingkan dengan Indonesia yang hanya sebesar US$ 3.716 sehingga

Indonesia dinilai belum mampu meningkatkan kualitas lingkungan yang

memadai. Pemanfaatan sumberdaya alam harus direncanakan dengan

mempertimbangkan kondisi ekologis dan tidak mengabaikan nilai ekonomi

sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan.


Sulawesi Selatan adalah satu diantara provinsi di Sulawesi yang dilimpahi

sumberdaya alam meliputi sumberdaya yang dapat dipulihkan antara lain

sumberdaya ikan dan biota perairan, rumput laut dan mangrove. Kabupaten

Kepulauan Selayar merupakan salah satu di antara 24 Kabupaten/Kota di Provinsi

Sulawesi Selatan yang letaknya di ujung selatan Pulau Sulawesi dan memanjang

dari Utara ke Selatan. Daerah ini memiliki kekhususan yakni satu-satunya

Kabupaten di Sulawesi Selatan yang seluruh wilayahnya terpisah dari

daratan Sulawesi dan terdiri dari gugusan beberapa pulau sehingga membentuk

suatu wilayah kepulauan. Gugusan pulau di Kabupaten Kepulauan Selayar secara

keseluruhan berjumlah 130 buah, 7 di antaranya kadang tidak terlihat (tenggelam)

pada saat air pasang. Luas wilayah Kabupaten Kepulauan Selayar meliputi

1.357,03 km² wilayah daratan (12,91%) dan 9.146,66 km² wilayah lautan

(87,09%).

Karena kondisi dari wilayah lautan yang lebih besar maka Kabupaten

Kepulauan Selayar merupakan salah satu daerah yang memiliki potensi wisata

yang cukup banyak meliputi wisata sejarah, wisata budaya, wisata alam dan

wisata bahari. Salah satu yang terkenal adalah Taman Nasional Taka Bonerate

yang terletak di kecamatan Takabonerate, selain dari Takabonerate Kabupaten

Kepulauan Selayar juga memiliki potensi wisata yang tidak kalah menarik yaitu

potensi wisata hutan mangrove.

Hutan mangrove gusung adalah salah satu dari sekian banyak potensi wisata

yang terdapat pada Kabupaten Kepulauan Selayar ini. Hutan mangrove

merupakan sumberdaya alam hayati yang mempunyai berbagai keragaman potensi

2
yang memberikan manfaat bagi kehidupan manusia baik yang secara langsung

maupun tidak langsung dan bisa dirasakan, baik oleh masyarakat yang tinggal di

dekat kawasan hutan mangrove maupun masyarakat yang tinggal jauh dari

kawasan hutan mangrove. Hutan mangrove merupakan salah satu bentuk

ekosistem yang unik dan khas, terdapat di daerah pasang surut di wilayah pesisir

pantai dan atau pulau-pulau kecil dan merupakan sumber daya alam yang sangat

potensial. Hutan mangrove memiliki nilai ekonomis dan ekologis yang tinggi

akan tetapi sangat rentan terhadap kerusakan apabila kurang bijaksananya dalam

mempertahankan, melestarikan dan mengelolahnya.

Besarnya manfaat yang ada pada ekosistem hutan mangrove menjadikannya

sangat rentan terhadap eksploitasi yang berlebihan dan degradasi lingkungan yang

cukup parah, sehingga mengakibatkan berkurangnya luasan hutan mangrove

untuk setiap tahunnya. Pengembangan hutan mangrove sangat diperlukan untuk

meningkatkan baik pendapatan ekonomi maupun kondisi sosial masyarakat.

Namun semua hal ini tidak terlepas dari penilaian, pertimbangan dan analisis

lingkungan yang baik bagi masyarakat tanpa harus memberikan dampak buruk

bagi hutan mangrove yang telah ada.

Menyadari pentingnya kawasan hutan mangrove ini, diperlukan penelitian

untuk mengetahui seberapa besar nilai manfaat ekonomi yang terkandung dari

hutan mangrove di Pulau Gusung Barat. Hasilnya diharapkan bisa dijadikan

informasi bagi masyarakat maupun pemerintah dalam pengambilan keputusan dan

kebijakan, serta pemanfaatan yang tepat untuk kawasan hutan mangrove yang ada

di Pulau Gusung, agar dapat memberikan manfaat ekologi dan ekonomi.

3
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, yang menjadi permasalahan

penelitian ini adalah:

1. Manfaat apa saja yang diperoleh dari hutan mangrove di Pulau Gusung

Barat Kabupaten Kepulauan Selayar ?

2. Berapa besar nilai manfaat langsung yang dihasilkan dari hutan mangrove

di Pulau Gusung Barat Kecamatan Bontobangun?

3. Berapa besar nilai manfaat tidak langsung yang dihasilkan dari hutan

mangrove di Pulau Gusung Barat Kecamatan Bontobangun ?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengidentifikasi manfaat yang diperoleh dari hutan mangrove.

2. Untuk mengetahui seberapa besar nilai manfaat langsung yang dihasilkan

dari hutan mangrove

3. Untuk mengetahui seberapa besar nilai manfaat tidak langsung yang

dihasilkan dari hutan mangrove

1.4 Kegunaan Penelitian

1. Sebagai pertimbangan dalam meningkatkan pengelolaan hutan mangrove

di Pulau Gusung Barat Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan

Selayar.

2. Dapat memberi informasi bagi dan menjadikan referensi bagi peneliti

selanjutnya.

3. Sebagai informasi bagi masyarakat bahwa hutan mangrove memiliki nilai

ekonomi yang penting bagi kehidupan.

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hutan Mangrove

Secara umum mangrove didefinisikan sebagai hutan yang terdapat di daerah-

daerah yang selalu atau secara teratur tergenang air laut dan terpengaruh oleh

pasang surut air laut, tetapi tidak terpengaruh oleh iklim. Hutan mangrove terdapat

pada tanah lumpur, pasir atau lumpur berpasir.


5

Mangrove merupakan suatu tipe vegetasi yang khas di zone pantai, floranya

berhabitus semak hingga berhabitus pohon yang besar yang tingginya hingga 50-

60 meter dan hanya mempunyai satu stratum tajuk (Istomo 1992). Hutan

mangrove merupakan sumberdaya alam daerah tropis yang mempunyai ganda

baik dari aspek sosial ekonomi maupun ekologi. Berdasarkan peranan ekosistem

hutan mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyaknya jenis hewan baik

yang hidup diperairan, di atas lahan maupun di tajuk-tajuk pohon mangrove atau

manusia yang tergantung pada hutan mangrove tersebut (Naamin 1991).

Menurut Nybakken (1992) bahwa hutan mangrove tumbuh pada pantaipantai

yang terlindung atau pantai-pantai yang datar, biasanya disepanjang sisi pulau

yang terlindung dari angin atau dibelakang terumbu karang di lepas pantai yang

terlindung.

Sementara itu, Bengen (2002) mendefinisikan hutan mangrove sebagai

komunitas vegetasi pantai tropis yang didomonasi oleh beberapa jenis pohon

hutan mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut

pantai berlumpur. Hutan mangrove merupakan tipe hutan tropika yang khas

tumbuh disepanjang pantai atau muara pantau yang dipengaruhi oleh pasang surut
air laut mangrove banyak ditemukan dipantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria,

delta dan daerah pantai yang terlindung. Mangrove tumbuh optimal di wilayah

pesisir yang memiliki muara sungai besar dan bersubtrat lumpur, sedangkan

diwilayah pesisir yang tidak terdapat muara sungai, hutan mangrove

pertumbuhannya tidak optimal. Ini terbukti dari daerah penyebaran mangrove di

Indonesia, yang umunya terdapat di Pantai Timur Sumatera, Kalimantan, Pantai

Utara Jawa dan Irian Jaya.

2.2 Ekosistem Mangrove

Kata mangrove mempunyai dua arti, pertama sebagai komunitas, yaitu

komunitas atau masyarakat tumbuhan atau hutan yang tahan terhadap kadar

garam/salinitas (pasang surut air laut); dan kedua sebagai individu spesies

(Macnae, 1968 dalam Supriharyono, 2000).

Ekosistem mangrove adalah suatu sistem di alam tempat berlangsungnya

kehidupan yang mencerminkan hubungan timbal balik antara makhluk hidup

dengan lingkungannya dan diantara makhluk hidup itu sendiri, terdapat pada

wilayah pesisir, terpengaruh pasang surut air laut, dan didominasi oleh spesies

pohon atau semak yang khas dan mampu tumbuh dalam perairan asin/payau

(Santoso, 2000).

Menurut Indriyanto (2006), ekosistem merupakan suatu unit ekologi yang

didalamnya terdapat struktur dan fungsi, struktur yang dimaksud dalam definisi

ini yakni yang berhubungan dengan keanekaragaman species yang tinggi.

Sedangkan fungsi yang dimaksud yaitu yang berhubungan dengan siklus materi

dan arus energi komponen – komponen ekosistem.

6
2.3 Fungsi Hutan Mangrove

Secara garis besar fungsi hutan mangrove dapat dibagi menjadi dua bagian:
1. Fungsi ekonomis, terdiri atas :

a. Hasil berupa kayu (kayu konstruksi, kayu bakar, arang, serpihan kayu

untuk bubur kayu, tiang atau pancang)

b. Hasil bukan kayu yakni hasil hutan ikutan (produk nipah, obat-obatan),

perikanan, jasa kesehatan lingkungan.

2. Fungsi ekologi, yang terdiri atas berbagai fungsi perlindungan lingkungan

ekosistem daratan dan lautan maupun habitat berbagai jenis fauna,

diantaranya:

a. Penahan abrasi dari gelombang atau angina kencang

b. Pengendalian intrusi air laut

c. Habitat berbagai jenis fauna

d. Sebagai tempat mencari, memijah dan berkembangbiak berbagai jenis

udang

e. Pembangunan lahan melalui proses sedimentasi

f. Memelihara kualitas air (mereduksi polutan, pencemar air) (Muhammad

Yunus, 2016)

2.4 Nilai

Nilai (value) merupakan persepsi seseorang adalah harga yang diberikan oleh

seseorang terhadap sesuatu pada suatu tempat dan waktu tertentu. Kegunaan,

kepuasaan dan kesenangan merupakan istilah-istilah lain yang diterima dan

berkonotasi nilai atau harga. Ukuran harga ditentukan oleh waktu, barang, atau

7
uang yang akan dikorbankan seseorang untuk memiliki atau menggunakan barang

atau jasa yang diinginkannya. Beberapa pengertian nilai menurut beberapa ahli:

1. David dan Johnson (1987) dalam Hidayat (2006), mengklasifikasikan nilai

berdasarkan cara penilaian atau penilaian besar nilai dilakukan, yaitu:

a. Nilai pasar yaitu nilai-nilai yang ditetapkan melalui transaksi pasar

b. Niai kegunaan yaitu nilaiyang diperoleh dari penggunaan sumberdaya

tersebut oleh individu tertentu

c. Nilai sosial yaitu nilai yang ditetapkan melalui peraturan, hokum

ataupun perwakilan masyarakat.

2. Hidayat (2006) menjelaskan tentang nilai yaitu:

a. Nilai dalam bahasa Inggris, bahasa latin valere (berguna, mampu akan,

berdaya, berlaku, kuat)

b. Nilai ditinjau dari segi keistimewaan adalah apa yang dihargai, dinilai

tinggi atau dihargai sebagai sesuatu kebaikan

c. Nilai ditinjau dari dari sudut ekonomi yang bergelut dengan kegunaan

dan nilai tukar benda-benda material

2.5 Nilai Manfaat

Nilai manfaat merupakan upaya untuk menentukan nilai atau manfaat dari

suatu barang atau jasa untuk kepentingan manusia. Menurut Suparmoko, 1995

dalam Sribianti, 2008 bahwa nilai hutan dapat dilihat berdasarkan manfaat yang

diperoleh dari hutan. Manfaat tersebut adalah :

8
1. Manfaat riil (real benefit) yaitu manfaat yang timbul bagi seseorang yang

tidak diimbangi oleh hilangnya manfaat bagi pihak lain.

2. Manfaat semu yaitu manfaat yang timbul dari suatu proyek dan diterima

oleh sekelompok orang tertentu, tetapi ada sekelompok orang lain yang

menjadi menderita karena adanya proyek tersebut.

Sumber daya hutan Indonesia menghasilkan berbagai manfaat yang dapat

dirasakan pada tingkatan lokal, nasional maupun global. Manfaat tersebut terdiri

atas :

1. Nilai Manfaat nyata (tangible)

Nilai manfaat nyata adalah nilai-nilai yang dapat lebih mudah diamati dan

diukur berupa hasil hutan kayu, hasil hutan non kayu seperti rotan, bambu,

nipah, madu, tumbuhan obat-obatan dan lain-lain.

2. Nilai manfaat tidak nyata (intangible)

Nilai manfaat tidak nyata adalah merupakan nilai yang terutama berkaitan

dengan fungsi-fungsi ekosistem (sumber daya lingkungan) meliputi

pengaturan tata air, penunjang pariwisata dan rekreasi, keragaman genetik

dan menciptakan lapangan kerja

Nilai hutan berdasarkan manfaat sumber daya hutan dikelompokkan sebagai

berikut :

1. Nilai manfaat untuk kepentingan konsumsi berupa hasil hutan kayu maupun

bukan kayu.

2. Nilai rekreasi/wisata

9
3. Nilai perlindungan berbagai fungsi hidrologis seperti perlindungan terhadap

erosi, pengaturan air dan sebagainya.

4. Nilai-nilai dari proses yang bersifat ekologis seperti siklus hara, pengaturan

iklim mikro dan makro, pembentukan formasi tanah dan pendukung

kehidupan global.

5. Nilai keanekaragaman hayati sebagai sumber genetik, perlindungan

keanekaragaman spesies dan ekosistem.

6. Nilai pendidikan dan penelitian.

7. Nilai manfaat yang bersifat bukan konsumsi seperti manfaat budaya,

sejarah, spiritual dan keagamaan.

8. Nilai manfaat yang mungkin biasa diperoleh di masa depan.

Nilai sumber daya hutan sendiri bersumber dari berbagai manfaat yang

diperoleh masyarakat. Masyarakat yang menerima manfaat secara langsung akan

memiliki persepsi yang positif terhadap nilai sumber daya hutan dan hal tersebut

dapat ditunjukkan dengan tingginya nilai sumber daya hutan tersebut. Hal tersebut

mungkin berbeda dengan persepsi masyarakat yang tinggal jauh dari hutan dan

tidak menerima manfaat secara langsung.

2.6 Valuasi Ekonomi Ekosistem Mangrove

Valuasi ekonomi adalah suatu upaya untuk memberikan nilai kuantitatif

terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh sumberdaya alam dan lingkungan

terlepas dari apakah nilai pasar tersedia atau tidak. Fungsi hutan mangrove secara

ekonomi dapat dilihat dari berbagai manfaat yang didapat dari hutan mangrove itu

sendiri. Manfaat tersebut diantaranya adalah manfaat langsung (direct Use) yang

10
terdiri dari manfaat penerimaan kayu bangunan, buah, dan atap nipah. Manfaat

tidak langsung (indirect use) terdiri dari penahan abrasi, feading, spawning, dan

nursery ground. Manfaat pilihan (option value) terdiri dari nilai sewa rumah dan

sewa tambak. Manfaat keberadaan (existence value) terdiri dari keberadaan nilai

hutan mangrove masa sekarang dan nilai rekreasi (Fuazi, 1999).

2.7 Metode Analisis Nilai Manfaat

Nilai ekonomi sumber daya hutan bersumber dari berbagai manfaat yang

diperoleh masyarakat. Oleh karena itu, untuk mendapatkan keseluruhan manfaat

yang ada dilakukan identifikasi setiap jenis manfaat. Keberadaan setiap jenis

manfaat ini merupakan indikator nilai yang menjadi sasaran penilaian ekonomi

sumberdaya hutan. Indikator nilai sumberdaya hutan dapat berupa barang hasil

hutan, jasa dari fungsi ekosistem hutan maupun atribut yang menggambarkan

hubungan antara sumberdaya hutan dengan sosial budaya masyarakat.

Metode penilaian ekonomi untuk manfaat yang diperoleh dari sumberdaya

alam lingkungan dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

1. Pendekatan Berdasarkan Harga Pasar (Market Price)

Harga pasar adalah hasil interaksi antara konsumen dan produsen pada

suatu tingkat penawaran dan permintaan barang dan jasa. Jika transaksi

dilakukan dengan menggunakan uang, nilai yang terbentuk dipasar adalah

harga pasar. Asumsi yang menopang disini adalah bahwa harga tersebut

mencerminkan harga efisiensi ekonomi. Jika transaksi dilakukan dalam

bentuk barter nilai yang terbentuk di pasar adalah nilai tukar pasar (Market

Exchange Value).

11
2. Metode Biaya Pengganti (Replacement Cost)

Metode ini berdasarkan pada kenyataan bahwa nilai sumberdaya hutan

yang tidak memiliki harga pasar dapat tergambarkan secara tidak langsung

pada pengeluaran konsumen, harga barang dan jasa yang diperjualbelikan

atau dalam tingkat produktivitas dari kegiatan pasar tertentu. Metode ini

terbagi atas :

a. Metode Biaya Perjalanan (Travel Cost)

Metode ini berdasarkan asumsi bahwa konsumen menilai tempat

rekreasi hutan berdasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk dapat

sampai ke tempat tujuan (wisata hutan), termasuk biayaperjalanan

sebagai opportunitas dari waktu yang dikeluarkan untuk melakukan

perjalanan ke tempat wisata hutan.

b. Metode Harga Hedonik

Metode harga hedonik menekankan pada pengukuran manfaat

lingkungan yang melekat pada barang dan jasa yang memiliki harga

pasar. Metode ini didasarkan pada gagasan bahwa barang pasar

menyediakan pembeli dengan sejumlah jasa, yang beberapa

diantaranya biasa merupakan kualitas lingkungan.

c. Metode Pendekatan Barang Subtitusi (Direct Subsitute Approach)

Untuk produk-produk kehutanan yang tidak ada pasarnya atau

langsung dimanfaatkan oleh pemungutnya misalnya kayu bakar, nilai

produk tersebut dapat diduga dari harga pasar produk-produk sejenis

misalnya kayu bakar yang dijual di daerah lain atau nilai terbaik dari

12
barang subtitusi atau barang alternative misalnya batubara. Untuk

barang subtitusi yang tidak memiliki harga pasar, nilainya dapat

diperkirakan dengan menghitung biaya oportunitas dari pemakaian

sebagai barang subtitusi.

d. Pendekatan Fungsi Produksi (Production Function Approach)

Metode penilaian ini sering disebut dengan teknik perubahan dalam

produksi, metode input-output atau dosis respon atau pendekatan

fungsi produksi. Metode ini menekankan pada hubungan antara

kehidupan manusia (lebih sempitnya lagi pada pertambahan output

dari barang dan jasa yang memiliki pasar) dan perubahan dari

sumberdaya alam yang baik kualitas maupun kuantitas (Maller, 1992

dalam Nurfatriani 2006). Pendekatan fungsi produksi dapat digunakan

untuk mengestimasi nilai manfaat tidak langsung dari fungsi ekologis

hutan, melalui konstribusi nilaimanfaattersebut terhadap kegiatan

pasar.

Menurut James, R.F (1991) dalam Nurfatriani (2006), teknik

penilaian manfaat sumberdaya hutan dikelompokkan berdasarkan

kriteria yang menggambarkan karakteristik setiap jenis nilai, baik nilai

manfaat langsung maupun nilai manfaat tidak langsung.

1. Nilai Manfaat Sosial Bersih

Metode ini menggunakan data demand dan supply yang lengkap

secara series sehingga dapat disusun kurva suppy dan demand untuk

menetukan nilai barang.

13
2. Harga Pasar (Market Price)

Metode ini digunakan untuk barang dan jasa hutan yang memiliki

harga pasar. Data yang diperlukan adalah harga dan jumlah setiap

jenis barang atau jasa hutan. Menurut Davis dan Johnson (1983),

metode fakta pasar dan NPV (Net Present Value) termasuk dalam

teknik penilaian ini.

3. Harga Pengganti (Replecment Price)

Metode ini terdiri dari beberapa teknik :

a. Harga subtitusi merupakan nilai barang atau jasa hutan yang tidak

memiliki harga pasar didekati dari harga barang subtitusinya.

b. Harga subtitusi tidak langsung yaitu untuk barang subtitusi yang

tidak ada harga pasarnya, maka nilai barang didekati dari harga

penggunaan lain dari barang subtitusi

c. Nilai tukar perdagangan yaitu harga barang dan jasa hutan didekati

dari nilai pertukaran dengan barang yang ada harganya

d. Biaya relokasi yaitu nilai barang atau jasa hutan didekati dari

biaya pemindahan ke tempat lain dimana manfaat penggunaan

dapat digantikan di tempat baru.

4. Biaya perjalanan (Travel Cost)

Metode ini biasa digunakan untuk menghitung nilai kawasan rekreasi

hutan. Modifikasi dari metode ini adalah biaya pengadaaan yang biasa

digunakan untuk menghitung nilai air berdasarkan biaya besarnya

biaya pengadaan sampai air tersebut dikonsumsi (Bahruni, 1999).

14
5. Nilai dalam proses produksi

Teknik ini digunakan untuk menilai barang atau jasa hutan yang

merupakan input dalam produksi suatu barang. Sebagai contoh untuk

menghitung nilai tegakan melalui pendekatan output kayu gergajian

yang dihasilkan.

2.8 Kerangka Pikir

Hutan mangrove harus dipertahankan karena nilai ekonomi hutan mangrove

bernilai tinggi. Dari nilai ekonomi Total hutan mangrove dengan analisis ekonomi

akan dijadikan sebagai input dalam pemilihanal ternatif pola pemanfaatan hutan

mangrove selanjutnya. Perhitungan nilai ekonomi hutan mangrove menggunakan

pedekatan identifikasi dan kuantifikasi manfaat (Gambar 1).

15
Ekosistem Hutan Mangrove

Identifikasi Manfaat Hutan


Mangrove

Nilai Manfaat Langsung Nilai Manfaat Tidak Langsung


(Direct Use Value) (Indirect Use Value)

1. Kayu Bakar
2. Ikan 1. Penahan Abrasi
3. Kepiting

Analisis Nilai Manfaat Hutan


Mangrove

Total Nilai Manfaat Hutan


Mangrove

Gambar 1. Kerangka Pikir Penelitian Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove

16
III. METODE PENELITIAN

3.1 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Pulau Gusung Barat Kecamatan Bontoharu

Kabupaten Kepulauan Selayar, yang dilaksanakan pada bulan Agustus – Oktober

2017.

3.2 Jenis dan Sumber Data


17

1. Data Primer

Data primer diperoleh melalui wawancara, pengisian kuisioner, dan

observasi langsung ke lapangan yang dilakukan untuk mencari informasi

mengenai peranan masyarakat terhadap hutan mangrove. Data primer

meliputi kondisi komoditi semua jenis pemanfaatan.

2. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh dengan cara mengumpulkan data pendukung

dari berbagai instansi pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar. Data

sekunder ini berisi keadaan geografi, kondisi sosial ekonomi masyarakat

serta sarana dan prasarana yang ada di Pulau Gusung Barat.

3.3 Metode Pengambilan Sampel

Metode pengambilan sampel yang digunakan adalah random sampling, yaitu

metode pengambilan sampel secara sengaja pada responden, dengan pertimbangan

bahwa responden masyarakat yang mengetahui dan memanfaatkan hutan

mangrove di Pulau Gusung Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar

dan jumlah responden sebanyak 15 orang.


3.4 Analisis Data

1. Analisis Deskriptif

Analisis deskriptif digunakan untuk mengidentifikasi manfaat –

manfaat yang diperoleh masyarakat dari hutan mangrove yang diperoleh

dengan observasi langsung di lapangan dan melakukan wawancara dengan

responden serta data kondisi biofisik dan data sosial ekonomi masyarakat.

2. Analisis Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove

Untuk menganalisis nilai manfaat ekonomi hutan mangrove dilakukan

prosedur sebagai berikut. (Suparmoko, 1995 dalam Sribianti, 2008)

1) Identifikasi manfaat dan fungsi hutan mangrove meliputi :

a. Manfaat Langsung.

b. Manfaat Tidak Langsung.

2) Kuantifikasi secara langsung kedalam nilai uang.

a. Nilai manfaat langsung (Direct use value)

b. Nilai manfaat tidak langsung (Indirect use value)

3) Pendugaan nilai ekonomi Total hutan mangrove dilakukan dengan

menjumlah seluruh nilai manfaat hutan mangrove meliputi nilai

manfaat langsung dan nilai manfaat tidak langsung.

a. Nilai Manfaat Langsung (Direct Use Value)

Nilai manfaat langsung adalah nilai atau manfaat dari sumberdaya

hutan mangrove yang diperoleh secara langsung melalui konsumsinya

dan produksinya.

18
Nilai manfaat langsung yang dihitung dalam penelitian ini adalah

nilai ikan, nilai kepiting, nilai udang dan nilai kayu bakar. Nilai

manfaat tersebut di duga menggunakan harga pasar (market price).

Pendugaan nilai manfaat langsung di formulasikan sebagai berikut

(Sribianti, 2008) :

Nilai manfaat langsung = Nilai kayu bakar + Nilai ikan+ Nilai kepiting

Perhitungan nilai kayu bakar, nilai ikan, dan nilai kepiting di duga

dengan pendekatan harga pasar dengan rumus sebagai berikut :

n
P =  Qi  Pi - Ci
i 1
Dimana :

P = Pendapatan bersih

Pi = Harga produk.i

Qi = Jumlah produksi.i

Ci = Biaya untuk mengumpulkan produk.i

b. Nilai Manfaat Tidak Langsung (Indirect Use Value)

Nilai manfaat tidak langsung adalah nilai atau manfaat yang

diperoleh sacara tidak langsung dari ekosistem hutan mangrove.

Untuk hutan mangrove niilai manfaat tidak langsung adalah fungsi

fisiknya sebagai pelindung pantai diduga melalui pendekatan biaya

pengganti (Replacement Cost). Estimasi nilai hutan mangrove sebagai

pelindung abrasi didekati dengan nilai pembuatan beton pelindung

pantai.

19
Nilai manfaat tidak langsung hutan mangrove di formulasikan

sebagai berikut :

Nilai Manfaat Tidak Langsung = Nilai sebagai Penahan Abrasi (NPA)

Untuk menghitung nilai hutan mangrove sebagai penahan abrasi

digunakan rumus sebagai berikut:

NPA = Panjang Pantai (Km) x Biaya Pembuatan Tanggul Pelindung

Pantai (Rp/m)

Pedugaan Nilai Ekonomi Total Hutan Mangrove

Nilai ekonomi Total hutan mangrove merupakan penjumlahan seluruh

nilai manfaat sumberdaya hutan mangrove yang telah di identifikasi dan

dihitung melalui ekonomi Total hutan mangrove . Dengan rumus sebagai

berikut (Sribianti, 2008)

NET = NML + NMTL

Dimana :

NET = Nilai Ekonomi Total

NML = Nilai Manfaat Langsung (Direct Use Value)

NMTL = Nilai Manfaat Tidak Langsung (Indirect Use Value)

20
IV. KEADAAN UMUM LOKASI

4.1. Letak Wilayah

Kecamatan Bontoharu merupakan salah satu dari 8 kecamatan yang ada di

Kabupaten Kepulauan Selayar. Berada di kawasan Sulawesi Selatan dengan jarak

kurang lebih 240 km dari kota Makassar. Terletak pada posisi antara 5°42´-7°35´

Lintang Selatan dan 120°15´-122°30´ Bujur Timur.


21

Kecamatan Bontoharu terbagi menjadi 6 desa dan 2 kelurahan yaitu

kelurahan bontobangun, kelurahan putabangun, desa bontolembang, desa

bontosunggu, desa bontoborusu, desa kalepadang, desa bontotangga dan desa

kahu-kahu. Ibu kota kecamatan bontoharu terletak di kelurahan bontobangun.

Secara administratif Pulau Gusung Barat merupakan salah satu dusun yang

berada dibawah Pemerintahan Desa Bontolembang, Kecamatan Bontoharu,

Kabupaten Kepulauan Selayar, Provinsi Sulawesi Selatan. Berada pada lingkup

Desa Bontolembang yang terdiri dari tiga pulau/dusun yaitu : Pulau Gusung Barat,

Pulau Gusung Timur dan Dusun Lengu. Ada pun batas-batas wilayah Pulau

Gusung Barat yaitu :

1. Sebelah Utara berbatasan Laut Flores

2. Sebelah Timur berbatasan Desa Kahu-kahu

3. Sebelah Barat berbatasan Selat Benteng

4. Sebelah Selatan berbatasan Laut Flores

Pulau Gusung Barat adalah pulau yang terletak di Kecamatan Bontoharu,

Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, yang secara geografis Pulau


Gusung terletak pada posisi 6°7´26,39´´ Lintang Utara 120°24´54,38´´ Bujur

Timur. Pulau ini berada tepat disebelah barat Pulau Selayar dengan jarak sekitaran

1 mil dari kecamatan Benteng, ibu kota Kabupaten Kepulauan Selayar atau sekitar

20 menit perjalanan melalui jalur laut. Pulau Gusung terbagi menjadi 3 bagian

yaitu Gusung Barat, Gusung Timur dan Gusung Lenggu, semuanya tergabung

dalam wilayah desa Bontolembang.

4.2. Jumlah Penduduk

Penduduk di Kecamatan Bontoharu setiap tahunnya meningkat dimana

didominasi oleh kelurahan bontobangun sebanyak 2.474 jiwa atau sekitar 18,7%

dari Total penduduk Kecamatan Bontoharu.

Tabel 1. Jumlah Penduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kelurahan


atau Desa di Kecamatan Bontoharu, 2010, 2014, dan 2015
Laju Pertumbuhan
Jumlah Penduduk (Jiwa) Penduduk per Tahun
Kelurahan/Desa
(%)
2010 2014 2015 2010-2015 2014-2015
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
Bontoborusu 1.473 1.488 1.488 1,02 0,00
Bontolebang 804 836 843 4,85 0,84
Bontosunggu 1.727 1.807 1.825 5,67 1,00
Bontobangun 2.127 2.405 2.474 16,31 2,87
Putabangun 1.712 1.783 1.797 4,96 0,79
Bontotangga 1.369 1.409 1.417 3,51 0,57
Kahu-kahu 1.781 1.833 1.843 3,48 0,55
Kalepadang 1.491 1.532 1.539 3,22 0,46
Bontoharu 12.484 13.093 13.226 5,94 1,02
Sumber : BPS Kabupaten Kepulauan Selayar dikutip dari Kecamatan Bontoharu
Dalam Angka 2016

22
Tabel 2. Jumlah Penduduk di Desa Bontolembang Kecamatan Bontoharu
Kabupaten Kepulauan Selayar
Penduduk Juli 2017
Nama Dusun
L P Jumlah
Gusung Barat 152 154 306
Gusung Timur 177 150 327
Gusung Lengu 180 160 354
Jumlah 514 464 978
Sumber: Data Desa Bontolembang Bulan Juli, 2017

4.3. Mata Pencaharian

Masyarakat Pulau Gusung dalam pemenuhan kebutuhan, pada umumnya

mata pencahariannya adalah nelayan. Namun pada musim kemarau mereka juga

menanam umbi-umbian dan sayuran.

4.4. Sarana Pendidikan

Kecamatan Bontoharu memiliki sarana pendidikan yang tersedia dari tingkat

Sekolah Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD)/Sederajat sampai Sekolah Lanjut

Tingkat Atas (SLTA)/Sederajat.

Jumlah Tingkat Sekolah Kanak-kanak (TK) sebanyak 16 sekolah dengan 383

murid dan 60 guru, Sekolah Dasar (SD)/Sederajat sebanyak 19 sekolah dengan

2.236 murid dan 328 guru, Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Sederajat sebanyak

8 sekolah dengan 773 murid dan 165 guru dan Sekolah Lanjut Tingkat Atas

(SLTA)/Sederajat 3 sekolah dengan 203 murid dan 56 guru.

23
Tabel 3. Jumlah Sekolah, Murid, Guru di Desa Bontolembang Kecamatan
Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar
No Rasio
Jenis Sekolah Banyak Murid Guru
. (%)
1 TK 1 36 7 5,14
2 SD/Sederajat 1 132 18 7,33
3 SMP/ Sederajat 1 50 15 3,33
4 SMA/ Sederajat - - - -
JUMLAH 3 218 40 15,8
Sumber : BPS Kab. Kep. Selayar Dikutip dari Kcamatan Bontoharu Dalam Angka
2016
Berdasarkan Tabel 3 diatas menunjukkan tingkat pendidikan di Desa

Bontolembang Kecamatan Bontoharu jumlah anak sekolah yang mendominasi

adalah Sekolah Dasar (SD) sebanyak 132 kemudian Sekolah Menengah Pertama

(SMP) sebanyak 50 dan Tingkat Kanak-kanak (TK) sebanyak 36.

4.5. Agama

Bidang kepercayaan, masyarakat di Pulau Gusung Desa Bontolembang

Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar memeluk agama Islam

99,9%. Sarana peribadatan yang tersedia adalah 3 bangunan masjid untuk sebuah

pulau yang tidak terlalu luas.

24
V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Identitas Responden

Identitas responden mengambarkan kondisi atau keadaan serta status orang

yang menjadi responden. Identitas responden ini meliputi umur, tingkat

pendidikan dan jumlah tanggungan keluarga.

5.1.1 Umur
25

Umur mempunyai hubungan yang sangat erat kaitannya dengan produktifitas

kerja kemudian akan berpengaruh terhadap besarnya pendapatan, walaupun belum

ada penelitian yang akurat mengenai seberapa besar pengaruh umur dalam hal

produktifitas responden (nelayan). Oleh sebab itu, sangat penting mengetahui

faktor ini dalam kaitannya ketersediaan tenaga kerja. Berdasarkan hasil penelitian

dari 15 responden, umur responden berkisar antara 23-67 tahun yang lebih

jelasnya dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Klasifikasi Umur Responden di Pulau Gusung Barat Desa Bontolembang


Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar
Kelompok Umur Jumlah (Orang) Presentase (%)
23-27 1 6,7
28-32 2 13,3
33-37 3 20
38-42 4 26,7
43-47 2 13,3
48-52 1 6,7
53-57 - -
58-62 1 6,7
63-67 1 6,7
Jumlah 15 100
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa dari 15 orang responden yang berumur

23-27 tahun sebanyak 1 orang atau 6,7%, umur 28-32 tahun sebanyak 2 orang
atau 13,3% , umur 33-37 tahun sebanyak 3 orang atau 20%, umur 38-42 tahun

sebanyak 4 atau 26,7%, umur 43-47 tahun sebanyak 2 orang atau 13,3%, umur 48-

52 tahun sebanyak 1 orang atau 6,7%, umur 53-57 tahun sebanyak 0 atau 0%,

umur 58-62 tahun sebanyak 1 orang atau 6,7% dan umur 63-67 tahun sebanyak 1

orang atau 6,7%. Berdasarkan hasil diatas didapatkan bahwa jumlah responden

dengan umur 23-42 tahun lebih banyak dibandingkan dengan umur 43-67 tahun.

5.1.2 Pendidikan Responden

Tingkat pendidikan mempunyai kaitan dengan tingkat pemahaman terhadap

keberadaan hutan mangrove dan sangat berpengaruh pada bagaimana pengetahuan

masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove baik nilai langsung maupun nilai

tidak langsungnya. Semakin tinggi pendidikan akan semakin mengetahui seberapa

besar nilai manfaat yang terkandung didalamnya, walapun sama halnya umur

diatas bahwa belum ada penelitian yang akurat mengenai seberapa besar pengaruh

tingkat pendidikan terhadap pendapatan responden (nelayan).

Tabel 5. Klasifikasi Tingkat Pendidikan Responden di Pulau Gusung Barat Desa


Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar
Tingkat Pendidikan Jumlah (Orang) Presentase (%)
SD 8 53,3
SMP 7 46,7
SMA - -
Jumlah 15 100
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017
Berdasarkan pada Tabel 5 diketahui bahwa dari 15 responden ada 8 orang

yang telah mengenyam pendidikan sampai tingkat Sekolah Dasar (SD) dan tingkat

Sekolah Menengah Pertama (SMP) sebanyak 7 orang, dengan kata lain yang

mendominasi tingkat pendidikan resonden adalah tingkat Sekolah Dasar (SD). Hal

ini dikarenakan pada saat itu hanya Sekolah Dasar (SD) saja yang ada, sedangkan

26
Sekolah Menengah Pertama (SMP) berada di desa lain yang jaraknya jauh dari

pemukiman responden dan Sekolah Menengah Atas (SMA) tidak ada.

5.1.3 Jumlah Tanggungan Keluarga

Tanggungan responden merupakan tanggungan anggota keluarga yaitu istri

dan anak. Jumlah keluarga juga mempengaruhi besarnya biaya yang dikeluarkan

dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari sehingga sangat berpengaruh pada

pendapatan responden (nelayan), semakin banyak jumlah tanggungan keluarga

maka semakin banyak pula biaya yang dikeluarkan dalam pemenuhan kebutuhan

sehari-hari, tentunya juga dapat mempengaruhi responden untuk terus bekerja

keras dalam memenuhi kebutuhan keluarganya

Tabel 6. Jumlah Responden Berdasarkan Tanggungan Keluarga


Tanggungan Keluarga Jumlah (KK) Presentase (%)
1-2 1 6,7
3-4 8 53,3
5-6 6 40
Jumlah 15 100
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017

Dari data pada Tabel 6 diatas memperlihatkan bahwa jumlah tanggungan

keluarga terbesar dari responden yakni 3-4 orang yang dimiliki oleh 8 responden

dengan presentase 53,3%, kemudian responden yang memiliki tanggungan 5-6

orang adalah sebanyak 6 responden dengan presentase 40% dan responden yang

mempunyai tanggungan terkecil adalah 1-2 orang dengan sebanyak 1 orang,

presentase 6,7%. Sehingga dapat diketahui bahwa responden yang memiliki

tanggungan paling banyak tentunya memerlukan biaya yang banyak pula untuk

memenuhi kebutuhannya.

27
5.2. Identifikasi Manfaat Langsung dari Hutan Mangrove

5.2.1. Kayu Bakar

Kebutuhan kayu bakar di Pulau Gusung Barat Desa Bontolembang

Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar, relatif kecil. Hal ini terjadi

karena hampir semua masyarakat sudah menggunakan kompor gas sebagai

pengganti kayu bakar. Hanya dalam waktu tertentu masyarakat menggunakan

kayu bakar. Kayu bakar ini diperoleh dari ranting-ranting kering yang terdapat di

hutan mangrove. Dari pengolahan data responden yang memanfaatkan kayu bakar

dapat dilihat pada Tabel 7.

Tabel 7. Jumlah Pengambilan Kayu Bakar dan Responden di Pulau Gusung Barat
Desa Bontolebang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Banyak Kayu Bakar Jumlah Responden Persentase
(Ikat) (Orang) (%)
1-2 3 60%
3-4 2 40%
Jumlah 5 100%
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 7 diketahui bahwa kayu bakar yang diambil oleh

responden di Pulau Gusung Barat yang paling besar adalah 1-2 ikat dengan

jumlah responden sebanyak 3 orang dengan persentase 60%.

5.2.2. Ikan

Masyarakat memanfaatkan hutan mangrove sebagai hasil perikanan dengan

melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan jaring, baik itu untuk

kebutuhan sehari–hari maupun kebutuhan ekonomi. Data responden yang

memanfaatkan hutan mangrove sebagai hasil perikanan dapat dilihat dari Tabel 8.

28
Tabel 8. Jumlah Penangkapan Ikan dan Responden di Pulau Gusung Desa
Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Banyaknya Ikan Jumlah Responden Persentase
(Kg/Orang/Penangkapan) (Orang) (%)
1-5 13 86,6
6-10 2 13,4
Jumlah 15 100%
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2017.

Berdasarkan Tabel 8 diketahui bahwa penangkapan ikan yang diambil oleh

responden di Pulau Gusung Barat yang paling besar adalah 1-5 kg per satu kali

penangkapan dengan jumlah responden sebanyak 13 orang dengan persentase

87% dan yang paling kecil adalah 6-10 kg per satu kali penangkapan sebanyak 2

orang dengan presentase 13%.

5.2.3. Kepiting

Kepiting adalah salah satu jenis fauna yang mendiami hutan mangrove.

Masyarakat memanfaatkan hutan mangrove sebagai penangkapan kepiting dengan

menggunakan alat seperti Bubu. Bubu merupakan alat penangkap kepiting yang

terbuat dari bambu. Penangkapan kepiting dilakukan untuk memenuhi kebutuhan

sehari–hari maupun kebutuhan ekonomi. Data responden yang memanfaatkan

hutan mangrove sebagai hasil penangkapan kepiting bakau dapat dilihat dari

Tabel 9.

Tabel 9. Jumlah Penangkapan Kepiting dan Responden di Pulau Gusung Barat


Desa Bontolebang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.
Banyaknya Kepiting Jumlah Responden Persentase
(Kg/Orang/Penangkapan) (Orang) (%)
1-2 4 57,1%
3-4 3 42,9%
Jumlah 7 100%
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2017

29
Berdasarkan Tabel 9 diketahui bahwa kepiting bakau yang diambil oleh

responden di Pulau Gusung Barat yang paling besar adalah 1-2 kg dengan jumlah

responden sebanyak 4 orang atau dengan presentase 57,1% .

5.3. Nilai Manfaat Langsung Ekonomi Hutan Mangrove

5.3.1. Kayu Bakar

Berdasarkan hasil perhitungan nilai total manfaat hutan mangrove dengan

menghitung nilai pendapatan masyarakat dari pengambilan kayu bakar adalah

semua penerimaan dari hasil produksi kayu bakar dikurangi dengan semua

pengeluaran pada saat melakukan usaha pengambilan kayu bakar. Dari Tabel 10

dapat dilihat berapa besar pendapatan masyarakat dari hasil usaha kayu bakar di

Pulau Gusung Desa Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan

Selayar.

Tabel 10. Nilai Manfaat Ekonomi Kayu Bakar di Pulau Gusung Desa
Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan
Selayar.
Produksi Biaya Produksi Nilai Manfaat
No Nama Responden
(Rp/Ikat/Tahun) (Rp/Tahun) (Rp/Tahun)
1 B1 864.000 117.000 747.000
2 B2 672.000 75.000 597.000
3 B3 864.000 64.000 800.000
4 B4 1.008.000 72.000 936.000
5 B5 672.000 73.000 599.000
Jumlah 4.080.000 401.000 3.679.000
Rata-rata 816.000 80.200 735.800
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 10 diketahui bahwa nilai manfaat ekonomi dari

produksi kayu bakar yang paling tinggi adalah B4 dengan pendapatan nilai

manfaat sebesar Rp 936.000/tahun. Sedangkan responden yang memiliki

pendapatan nilai manfaat ekonomi dari produksi kayu bakar yang paling rendah

30
adalah B2 dengan nilai manfaat sebesar Rp. 597.000/tahun. Besar kecilnya

pendapatan total nilai manfaat ekonomi hutan mangrove dari produksi kayu bakar

tergantung pada jumlah produksi kayu bakar dan total biaya produksi kayu bakar

yang dikeluarkan responden (nelayan).

Total keseluruhan pendapatan nilai manfaat dari produksi kayu bakar

responden pada hutan mangrove sebesar Rp. 3.679.000/tahun atau dengan rata –

rata Rp. 735.800/orang/tahun, nilai tersebut didapatkan dari pengurangan total

jumlah produksi kayu bakar pertahun sebesar Rp. 4.080.000/tahun dengan total

biaya pengambilan kayu bakar pertahunnya sebesar Rp. 401.000/tahun. Biaya-

biaya yang dibutuhkan untuk mengambil kayu bakar dan rincian hasil produksi

kayu bakar responden dapat dilihat pada Lampiran 2 Tabel 17 dan 18.

5.3.2. Ikan

Berdasarkan hasil perhitungan total nilai manfaat hutan mangrove dengan

menghitung nilai penerimaan masyarakat dari produksi ikan di sekitar hutan

mangrove adalah semua penerimaan dari hasil produksi ikan dikurangi dengan

semua pengeluaran pada saat melakukan usaha produksi ikan. Untuk mengetahui

berapa besar pendapatan masyarakat dari hasil penangkapan ikan di Pulau Gusung

Desa Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar dapat

dilihat pada Tabel 11.

31
Tabel 11. Nilai Manfaat Ekonomi Ikan di Pulau Gusung Desa Bontolembang
Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Produksi Ikan Biaya Produksi Nilai Manfaat


No. Nama Responden
(Rp/Tahun) (Rp/Tahun) (Rp/Tahun)

1 A1 17.280.000 2.179.000 15.101.000


2 A2 20.160.000 2.179.000 17.981.000
3 A3 18.000.000 2.155.000 15.845.000
4 A4 8.640.000 2.021.000 6.619.000
5 A5 8.640.000 2.021.000 6.619.000
6 A6 15.360.000 2.130.000 13.230.000
7 A7 8.640.000 2.021.000 6.619.000
8 B1 19.200.000 2.155.000 17.045.000
9 B2 18.000.000 2.155.000 15.845.000
10 B3 8.640.000 2.105.000 6.535.000
11 B4 14.400.000 2.130.000 12.270.000
12 B5 5.760.000 2.046.000 3.714.000
13 C1 11.520.000 2.130.000 9.390.000
14 C2 11.520.000 2.046.000 9.474.000
15 C3 14.400.000 2.130.000 12.270.000
Jumlah 200.160.000 31.603.000 168.557.000

Rata-rata 13.344.000 2.106.866,667 11.237.133,33

Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2017.

Berdasarkan Tabel 11 diketahui bahwa nilai manfaat ekonomi dari produksi

ikan yang paling tinggi adalah A2 dengan nilai manfaat sebesar Rp.

17.981.000/tahun, hal ini dipengaruhi oleh hasil tangkapan yaitu 7kg per-sekali

penangkapan. Sedangkan responden (nelayan) yang memiliki nilai manfaat

ekonomi yang paling rendah adalah B5 dengan nilai manfaat sebesar Rp.

3.714.000/tahun. Besar kecilnya nilai manfaat ekonomi hutan mangrove yang

didapatkan responden (nelayan) dari hasil tangkapan ikan terjadi karena

perbedaan dari jumlah tangkapan ikan per satu kali penangkapan dan intensitas

32
penangkapan ikannya. Penerimaan masyarakat Hutan Mangrove dari hasil

produksi ikan sebesar Rp. 200.160.000/tahun atau dengan rata – rata Rp.

13.344.000/tahun. Pengeluaran dari hasil penangkapan ikan sebesar Rp.

31.603.000/tahun atau dengan rata-rata Rp. 2.106.866,667/tahun. Nilai manfaat

ekonomi di Hutan Mangrove yang diperoleh masyarakat dari hasil penangkapan

ikan sebesar Rp. 168.557.000/tahun atau dengan rata-rata Rp. 11.237.133,33/tahun.

Biaya-biaya yang dibutuhkan untuk penangkapan ikan dan rincian hasil produksi

ikan responden dapat dilihat pada Lampiran 2 Tabel 19 dan Tabel 20.

5.3.3. Kepiting

Berdasarkan hasil perhitungan nilai total manfaat hutan mangrove dengan

menghitung nilai pendapatan masyarakat dari produksi kepiting di sekitar

kawasan hutan mangrove adalah semua penerimaan dari hasil produksi ikan

dikurangi dengan semua pengeluaran pada saat penangkapan kepiting. Untuk

mengetahui berapa besar pendapatan masyarakat dari hasil penangkapan kepiting

bakau di Pulau Gusung Desa Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten

Kepulauan Selayar dapat dilihat pada Tabel 12.

33
Tabel 12. Nilai Total Manfaat Ekonomi Kepiting di Pulau Gusung Desa
Bontolembang Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan
Selayar.
Produktivitas Biaya Produksi Nilai Manfaat
No Nama Responden
(Rp/Kg/Tahun) (Rp/Tahun) (Rp/Tahun)
1 A1 12.960.000 2.219.000 10.741.000
2 A2 17.280.000 2.219.000 15.061.000
3 A3 11.520.000 2.555.000 8.965.000
4 A4 17.280.000 2.076.000 15.204.000
5 A5 14.400.000 2.446.000 11.954.000
6 A6 8.640.000 2.530.000 6.110.000
7 A7 11.520.000 2.051.000 9.469.000
Jumlah 93.600.000 16.096.000 77.504.000
Rata-rata 13.371.428,57 2.299.428,571 11.072.000
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 12 diketahui bahwa nilai manfaat ekonomi dari produksi

kepiting responden yang paling tinggi adalah A4 dengan nilai manfaat sebesar Rp

15.204.000/tahun, hal ini dipengaruhi oleh pendapatan yang didapat setiap

melakukan penangkapan kepiting cukup tinggi dibandingkan dengan responden

yang lain dan intensitas penangkapan kepiting. Sedangkan responden yang

memiliki nilai manfaat ekonomi yang paling rendah adalah A6 dengan nilai

manfaat sebesar Rp. 6.110.000/tahun. Penerimaan masyarakat dari hasil produksi

kepiting bakau sebesar Rp. 93.600.000/tahun atau dengan rata – rata Rp

13.371.428,57/tahun. Pengeluaran dari hasil penangkapan kepiting sebesar Rp.

16.096.000/tahun atau dengan rata-rata Rp 2.299.428,571/tahun. Nilai manfaat

ekonomi di Hutan Mangrove yang diperoleh masyarakat dari hasil penangkapan

ikan sebesar Rp. 77.504.000/tahun atau dengan rata-rata Rp. 11.008.000/tahun.

Biaya-biaya yang dibutuhkan untuk penangkapan kepiting dan rincian hasil

34
produksi kepiting responden dapat dilihat pada Lampiran 2 Tabel 21 dan Tabel

22.

5.4. Total Nilai Manfaat Langsung Hutan Mangrove

Nilai ekonomi manfaat langsung hutan mangrove diperoleh dengan

menjumlahkan semua nilai yang terkandung. Total nilai manfaat ekonomi hutan

mangrove diperoleh dari nilai manfaat ekonomi produksi kayu bakar, nilai

manfaat ekonomi produksi ikan dan nilai manfaat ekonomi produksi kepiting.

Hasil penjumlahan dari ketiga manfaat tersebut diperoleh nilai ekonomi manfaat

langsung hutan mangrove. Secara lengkap nilai manfaat langsung hutan mangrove

dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Total Nilai Manfaat Langsung Hutan Mangrove


Nilai Total Persentase Nilai
No Nilai Manfaat Ekonomi
(Rp/Tahun) Manfaat (%)
1 Nilai Manfaat Kayu Bakar 3.679.000 1,4
2 Nilai Manfaat Ikan 168.557.000 67,4
3 Nilai Manfaat Kepiting 77.504.000 31,2

Total 249.740.000 100 %


Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 13 diketahui bahwa total nilai manfaat langsung hutan

mangrove yang paling tinggi adalah dari nilai manfaat ekonomi ikan sebesar Rp.

168.557.000/tahun atau dengan presentase 67,4% dari total keseluruhan nilai

manfaat langsung hutan mangrove sedangkan yang paling terkecil adalah dari

nilai manfaat ekonomi kayu bakar sebesar Rp. 3.679.000/tahun dengan presentase

1,4% dari total keseluruhan nilai manfaat langsung hutan mangrove. Besar

kecilnya nilai yang didapatkan dari masing-masing nilai manfaat ekonomi hutan

mangrove bergantung pada pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan mangrove

35
oleh responden (nelayan), baik dari jumlah hasil produksi, biaya pengeluaran

selama produksi, maupun harga jual produknya. Nilai manfaat ekonomi untuk

kayu bakar sangat kecil dikarenakan pemanfaatan kayu bakar di Pulau Gusung

Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar karena pada umumnya

masyarakat sudah menggunakan kompor gas sebagai pengganti kayu bakar, hanya

dalam waktu tertentu penggunaan kayu bakar diadakan misalnya pada saat acara

perkawinan.

5.5. Identifikasi Manfaat Tidak Langsung Hutan Mangrove

Manfaat tidak langsung dari hutan mangrove adalah manfaat biologi dan

manfaat fisik. Manfaat fisik dari hutan mangrove sebagai penahan abrasi dapat

tergantikan dengan membangun beton pemecah gelombang (Water Breaker).

Metode ini disebut metode proyek bayangan, misalkan jika tidak ada ekosistem

mangrove sebagai zona penahan gelombang, maka berapa biaya yang harus

dikeluarkan untuk membanguntanggul dari beton disepanjang pantai.

Acuan yang dipakai untuk menghitung berapa besaran biaya yang

dikeluarkan untuk membangun tanggul guna pencegah abrasi dan penahan

gelombang di Delta Mahakam (2012) sepanjang 1000 meter yang dengan biaya

sebesar Rp. [Link]/Tahun dengan estimasi ketahanan 10 tahun. Panjang

garis pantai di Pulau Gusung yang ditutupi hutan mangrove yaitu sepanjang 1.980

meter. Sehingga manfaat tidak langsung hutan mangrove sebagai penahan abrasi

adalah Rp. [Link]/Tahun. Nilai tersebut kemudian dibagi 10 guna untuk

mendapatkan nilai per tahunnya. Dengan demikian manfaatnya adalah sebesar

Rp.[Link]/tahun.

36
5.6. Total Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove

Nilai Total manfaat dari hutan mangrove merupakan penjumlahan dari

seluruh manfaat hutan mangrove yang telah diidentifikasi dan kuantifikasi

kedalam nilai uang (rupiah) yaitu total nilai manfaat langsung hutan mangrove

(kayu bakar, ikan dan kepiting) dan total nilai manfaat tidak langsung hutan

mangrove (penahan abrasi). Total nilai manfaat ekonomi hutan mangrove di Pulau

Gusung Kecamata Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar dapat dilihat pada

Tabel 14.

Tabel 14. Total Nilai Manfaat Ekonomi Hutan Mangrove


Persentase Nilai
No Nilai Manfaat Ekonomi Nilai (Rp)
Manfaat (%)
1 Manfaat Langsung 249.740.000 4,60
2 Manfaat Tidak Langsung [Link] 95,40

Total [Link] 100 %


Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017

Berdasarkan Tabel 14 diketahui bahwa total nilai manfaat ekonomi hutan

mangrove dari manfaat langsung dan manfaat tidak langsung di dapatkan hasil

bahwa manfaat tidak langsung lebih besar nilainya jika dibandingkan dengan

manfaat langsung. Hal ini membuktikan bahwa hutan mangrove memiliki

intangible benefit (nilai jasa dan lingkungan) yang sangat tinggi sehingga

pentingnya estimasi nilai ekonomi hutan mangrove kedalam nilai rupiah agar

masyarakat mengetahui betapa besarnya nilai ekologi hutan mangrove yang

selama ini tidak diketahui oleh masyarakat karena dianggap tidak memiliki nilai

pasar.

Hasil pengolahan data pada Tabel 14 total nilai manfaat ekonomi hutan

mangrove di Pulau Gusung Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar

37
menunjukkan nilai ekonomi Total sebesar Rp. [Link]/tahun dengan nilai

guna tak langsung sebesar 95,40% atau Rp. [Link]/tahun. Artinya hutan

mangrove di Pulau Gusung mempunyai manfaat dan fungsi yang penting sebagai

sumberdaya ekonomi maupun sumberdaya ekologi bagi kehidupan masyarakat

yang berada di sekitarnya.

38
VI. PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian nilai manfaat ekonomi hutan mangrove di Pulau

Gusung Kecamatan Bontoharu Kabupaten Kepulauan Selayar disimpulkan bahwa:

1. Nilai manfaat ekonomi yang diperoleh dari hutan mangrove adalah kayu

bakar, ikan, kepiting dan penahan abrasi.


39

2. Manfaat langsung hutan mangrove dari pengambilan kayu bakar sebesar

Rp. 3.679.000/tahun dengan persentase 1,4%, produksi ikan sebesar Rp.

168.557.000 dengan persentase 67,4%. Dan produksi kepiting sebesar Rp.

77.504.000 dengan presentase 31,20%.

3. Nilai manfaat tidak langsung mangrove sebagai penahan abrasi adalah

sebesar Rp. [Link]/tahun dengan persentase 95,40%.

6.2. Saran

Data hasil dari penelitian ini dapat dijadikan sebuah pertimbangan bagi para

pemegang kebijakan dalam pengambilan keputusan untuk menjaga dan

melestarikan hutan mangrove yang ada di Pulau Gusung tanpa merusak

lingkungan.

Pengaturan yang ketat menjaga kelestarian hutan mangrove harus dilakukan

dan pengaturan ini dilaksanakan oleh Pemerintah serta masyarakat secara

bersama-sama dan perlunya penelitian berlanjutan untuk menyusun kebijakan

pengaturan dan pengawasan hutan mangrove agar tetap lestari


DAFTAR PUSTAKA

Bahruni, 1999. Diklat Penelitian Sumberdaya Hutan dan Lingkungan. Fakultas


Kehutanan, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Bengen DG. 2002. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove PKSPL-


Bogor.

Dahuri, R. 1996. Pengembangan Rencana Pengelolaan Pemanfaatan Berganda


40

Ekosistem Mngrove di Sumatera. Pelatihan Pelestarian dan Pengembangan


Ekosistem Mngrove Secara Terpadu, Univesitas Brawijaya, 21 Mei- 1 Juni
1996. Malang.

David, L.S. dan Johnson, KN. 1987. Forest Management 3rd Edition. Mc Graw-
Hill Book Company. New York.

Hidayat, Dudung dan Mulyadi. 2006. Hakikat dan Makna Nilai. Makalah
Universitas Pendidikan Indonesia Hal. 4-5. Bandung

Istomo. 1992. Tinjauan Ekologi Hutan Mangrove dan Pemanfaatan di Indonesia,


Laboratorium Ekologi Mangrove, Fakultas Pertanian IPB. Bogor.

Maller, A. 1992. Ekonomi Sumberdaya dan Lingkungan : Teori dan


Kebijaksanaan Pembangunan Berkelanjutan. Akademika Pressindo. Jakarta.

Naamin N. 1991. Penggunaan Hutan Mangrove Untuk Budidaya Tambak


Keuntungan dan Kerugian. Makalah Dalam Prosiding Seminar IV
Ekosistem Hutan Mangrove MAB Indonesa LIPI. Bandar Lampung.

Nurfatriani. 2006. Konsep Nilai Ekonomi Total dan Metode Penilaian


Sumberdaya Hutan. Puslit Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan. Hal.
3-9

Sribianti. 2008. Valuasi Ekonomi Lahan Mangrove Pada Sistem Pengelolaan di


Sulawesi Selatan. (Disertasi). Program Pascasarjana, Universitas
Hasanuddin, Makassar.

Suparmoko, M. 1995. Ekonomi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Suatu


Pendekatan Teoritis), Edisi 2, BPFE. Yogyakarta.
Tuwo. 2011. Pengelolaan Ekowisata Pesisir dan Laut : Pendekatan Ekologi,
Sosial-Ekonomi dan Sarana Wilayah. Brilian Internasional. Sidoarjo.

Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. Lembaran Negara


Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 167. Sekretariat Negara. Jakarta.

Yunus, M. 2016. Nilai Manfaat Langsung Hutan Mangrove di Pulau Bauluang


Desa Mattirobaji Kecamatan Mappakasunggu Tana Keke Kabupaten
Takalar. Makassar.

41
LAMPIRAN

Lampiran 1. Kuisioner

KUISIONER PENELITIAN
NILAI MANFAAT LANGSUNG HUTAN MANGROVE DI PULAU GUSUNG
KECAMATAN BONTOHARU
KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR

A. IDENTITAS RESPONDEN/ MASYARAKAT


Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Pekerjaan :
Tingkat Pendidikan :
Jumlah Tanggungan Keluarga :
B. KUISIONER
1. Berapa banyak produksi kayu bakar yang didapat sekali pengambilan?
2. Biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan?
3. Berapa harga jual?
4. Dimana Bapak/Ibu jual hasil yang pencarian kayu bakar?

42
A. IDENTITAS RESPONDEN/ MASYARAKAT
Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Pekerjaan :
Tingkat Pendidikan :
Jumlah Tanggungan Keluarga :
B. KUISIONER
1. Berapa banyak produksi kepiting yang dihasilkan persekali penangkapan?
2. Biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan?
3. Berapa harga jual?
4. Dimana Bapak/Ibu jual hasil yang diproduksi?

43
A. IDENTITAS RESPONDEN/ MASYARAKAT
Nama :
Jenis Kelamin :
Umur :
Pekerjaan :
Tingkat Pendidikan :
Jumlah Tanggungan Keluarga :
B. KUISIONER
1. Berapa banyak produksi ikan yang dihasilkan sekali penangkapan?
2. Biaya-biaya apa saja yang dikeluarkan?
3. Berapa harga jual?
4. Dimana Bapak/Ibu jual hasil yang diproduksi?

44
Lampiran 2. Tabulasi Hasil Penelitian

Tabel 15. Data Responden


Hasil Produksi
No. Nama Responden Kayu Ket.
Ikan Kepiting
Bakar
1 A1 Makkawaru (Tata) - √ √
2 A2 Muliadi - √ √
3 A3 Muh. Sain - √ √
4 A4 Andi Oddang - √ √
5 A5 Jikki - √ √
6 A6 Rajamuddin - √ √
7 A7 Sahaluddin - √ √
8 B1 Samsul Hamdi √ √ -
9 B2 Aldi Cahyadi √ √ -
10 B3 Lanto dg. Pasewang √ √ -
11 B4 Hairil √ √ -
12 B5 Mu’ding √ √ -
13 C1 Rudi Hariadi (Omba’) - √ -
14 C2 Dg. Bella - √ -
15 C3 Aziz Cambang - √ -
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2017

45
Tabel 16. Identitas Responden
Umur Tingkat Jumlah Tanggungan
No. Nama Responden
(Tahun) Pendidikan Keluarga
1 A1 Makkawaru (Tata) 67 SD 4
2 A2 Muliadi 41 SMP 3
3 A3 Muh. Sain 60 SD 2
4 A4 Andi Oddang 39 SD 6
5 A5 Jikki 37 SD 3
6 A6 Rajamuddin 28 SMP 3
7 A7 Sahaluddin 40 SD 5
8 B1 Samsul Hamdi 39 SD 4
9 B2 Aldi Cahyadi 28 SMP 4
10 B3 Lanto dg. Pasewang 52 SD 3
11 B4 Hairil 41 SMP 6
12 B5 Mu’ding 36 SMP 5
13 C1 Rudi Hariadi (Omba’) 23 SMP 4
14 C2 Dg. Bella 47 SMP 5
15 C3 Aziz Cambang 45 SD 5
Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2017

46
Tabel 17. Nilai Produksi Kayu Bakar
Intensitas
Jumlah Kayu Bakar Jumlah Kayu Bakar Harga Produksi
No Nama Responden Pengambilan
(Ikat/Sekali Pengambilan) (Ikat/Tahun) (Rp/Ikat) (Rp/Tahun)
(Kali/Minggu)
1 B1 Samsul Hamdi 2 3 288 3.000 864.000
2 B2 Aldi Cahyadi 2 2 192 3.500 672.000
3 B3 Lanto Dg. Pasewang 3 2 288 3.000 864.000
47

4 B4 Hairil 3 2 288 3.500 1.008.000


5 B5 Mu'ding 2 2 192 3.500 672.000
Jumlah 12 11 1.248 16.500 4.080.000
Rata-rata 2,4 1,57 249,6 3.300 816.000
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017.
Tabel 18. Biaya Produksi Kayu Bakar
N Nama Alat dan
Masa Pakai Jumlah Harga/Satuan (Rp) Total Biaya (Rp/Tahun)
o Responden Bahan
Samsul Parang 3 Tahun 1 Buah 80.000 27.000
1
Hamdi Tali Rafiah 1 Tahun 2 Kg 45.000 90.000
117.000
2 Aldi Cahyadi Parang 2 Tahun 1 Buah 60.000 30.000
Tali Rafiah 1 Tahun 1 Kg 45.000 45.000
75.000
Lanto Dg.
48

3 Parang 5 Tahun 1 Buah 95.000 19.000


Pasewang Tali Rafiah 1 Tahun 1 Kg 45.000 45.000
64.000
4 Hairil Parang 3 Tahun 1 Buah 80.000 27.000
Tali Rafiah 1 Tahun 2 Kg 45.000 45.000
72.000
5 Mu'ding Parang 3 Tahun 1 Buah 85.000 28.000
Tali Rafiah 1 Tahun 1 Kg 45.000 45.000
73.000
Total 401.000
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017
Tabel 19. Nilai Produksi Ikan
Jumlah Ikan Intensitas
Jumlah Ikan Harga Satuan Produksi
No Nama Responden (Kg/Sekali Penangkapan
(Kg/Tahun) (Rp) (Rp/Tahun)
Penangkapan) (Kali/Minggu)
1 A1 Makkawaru (Tata) 6 3 864 20.000 17.280.000
2 A2 Muliadi 7 3 1.008 20.000 20.160.000
3 A3 Muh. Sain 5 5 1.200 15.000 18.000.000
4 A4 Andi Oddang 3 3 432 20.000 8.640.000
5 A5Jikki 3 3 432 20.000 8.640.000
6 A6 Rajamuddin 4 4 768 20.000 15.360.000
49

7 A7 Sahaluddin 3 3 432 20.000 8.640.000


8 B1 Samsul Hamdi 4 5 960 20.000 19.200.000
9 B2 Aldi Cahyadi 5 5 1.200 15.000 18.000.000
10 B3 Lanto dg. Pasewang 4 3 576 15.000 8.640.000
11 B4 Hairil 5 3 720 20.000 14.400.000
12 B5 Mu’ding 2 4 384 15.000 5.760.000
13 C1 Rudi Hariadi (Omba’) 4 4 768 15.000 11.520.000
14 C2 Dg. Bella 3 4 576 20.000 11.520.000
15 C3 Aziz Cambang 5 4 960 15.000 14.400.000
JUMLAH 63 11.280 270.000 200.160.000
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017
Tabel 20. Biaya Produksi Ikan
Jarak Sekali
Alat dan Harga/Satuan Total Biaya
No Nama Responden Masa Pakai Jumlah Penangkapan
Bahan (Rp) (Rp/Tahun)
(km)
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 7
Makkawaru (Tata') Kawat 3 Tahun 100 Meter 105.000 35.000
1
(67 Tahun)
Solar 1 Bulan 16 Liter 7.000 1.344.000
Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.179.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 7
50

Muliadi Kawat 3 Tahun 100 Meter 105.000 35.000


2
(41 Tahun) Solar 1 Bulan 16 Liter 7.000 1.344.000
Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.179.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 5
Muh. Sain Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
3
(60 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Baskom 1 Tahun 4 Buah 25.000 100.000
2.155.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 3
Andi Oddang Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
4
(39 Tahun) Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Baskom 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.021.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 3
Jikki Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
5
(37 Tahun) Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Baskom 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.021.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 5
Rajamuddin Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
6
(28 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.130.000
51

Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 3


Sahaluddin Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
7
(40 Tahun) Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Baskom 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.021.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 5
Samsul Hamdi Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
8
(39 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Baskom 1 Tahun 4 Buah 25000 100.000
2.155.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 5
Aldi Cahyadi Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
9
(28 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Baskom 1 Tahun 4 Buah 25.000 100.000
2.155.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 5
Lanto dg. Pasewang Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
10
(52 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Baskom 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.105.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 5
Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
11 Hairil Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
(41 Tahun) Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75000
52

2.130.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 3
Mu'ding Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
12
(36 Tahun) Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.046.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 5
Rudi Hariadi Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
13
(23 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.130.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000 3
Dg. Bella
14 Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
(47 Tahun)
Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.046.000
Jaring 1 Tahun 1 Buah 725.000 725.000
Aziz Cambang Senter 1 Tahun 1 Buah 70.000 70.000
15 5
(45 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Baskom 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.130.000
Total 31.603.000
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017
53
Tabel 21. Nilai Produksi Kepiting
Intensitas
Jumlah Kepiting Jumlah Kepiting Harga Produksi
No Nama Responden Penangkapan
(Kg/Sekali Penangkapan) (Kg/Tahun) (Rp/Kg) (Rp/Kg/Tahun)
(Kali/Minggu)
1 A1 Makkawaru (Tata) 3 2 288 45.000 12.960.000
2 A2 Muliadi 3 3 432 40.000 17.280.000
3 A3 Muh. Sain 2 3 288 40.000 11.520.000
4 A4 Andi Oddang 2 4 384 45.000 17.280.000
54

5 A5 Jikki 3 2 288 50.000 14.400.000


6 A6 Rajamuddin 2 2 192 45.000 8.640.000
7 A7 Sahaluddin 2 3 288 40.000 11.520.000
Jumlah 17 2.160 93.600.000
Rata-rata 2.4 308,6 13.371.428,57
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017
Tabel 22. Biaya Produksi Kepiting
Jarak Sekali
Nama Alat dan Total Biaya
No Masa Pakai Jumlah Harga/Satuan (Rp) Penangkapan
Responden Bahan (Rp/Tahun)
(km)
7
Bubu 1 Tahun 3 Buah 35.000 105.000
Makkawaru
Usus ayam 1 Hari 2 Kg 2.500 720.000
1 (Tata')
Solar 1 Bulan 16 Liter 7.000 1.344.000
(67 Tahun)
Ember 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
55

2.219.000
Bubu 1 Tahun 3 Buah 35.000 105.000 7
Muliadi Usus ayam 1 Hari 2 Kg 2.500 720.000
2
(41 Tahun) Solar 1 Bulan 16 Liter 7.000 1.344.000
Ember 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.219.000
Bubu 1 Tahun 4 Buah 35.000 140.000 5
Muh. Sain Usus ayam 1 Hari 3 Kg 2.500 1.080.000
3
(60 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000
Ember 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.555.000
Andi Oddang Bubu 1 Tahun 3 Buah 35.000 105.000 3
4
(39 Tahun) Usus ayam 1 Hari 2 Kg 2.500 720.000
.
Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Ember 1 Tahun 3 Buah 25.000 75.000
2.076.000
Bubu 1 Tahun 4 Buah 35.000 140.000 3
Jikki Usus ayam 1 Hari 3 Kg 2.500 1.080.000
5 (37 Tahun) Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Ember 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.446.000
Bubu 1 Tahun 4 Buah 35.000 140.000 5
Rajamuddin Usus ayam 1 Hari 3 Kg 2.500 1.080.000
6
56

(28 Tahun) Solar 1 Bulan 15 Liter 7.000 1.260.000


Ember 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.530.000
Bubu 1 Tahun 3 Buah 35.000 105.000 3
Sahaluddin Usus ayam 1 Hari 2 Kg 2.500 720.000
7
(40 Tahun) Solar 1 Bulan 14 Liter 7.000 1.176.000
Ember 1 Tahun 2 Buah 25.000 50.000
2.051.000
JUMLAH 16.096.000
Sumber: Data Primer Setelah diolah, 2017
Lampiran 3. Dokumentasi

Gambar 2. Perjalanan ke Pulau Gusung

Gambar 3. Perjalanan ke Pulau Gusung

57
Gambar 4. Nelayan Pulau Gusung

Gambar 5. Wawancara Responden

58
Gambar 6. Lokasi Penelitian

Gambar 7. Lokasi Penelitian

59
Gambar 8. Nelayan Penangkap Ikan

Gambar 9. Alat Tangkap Kepiting (Bubu)

60
Gambar 10. Kepiting

61

Anda mungkin juga menyukai