Ada satu waktu di mana Alby tiba-tiba berkata, “Aku enggak pernah suka bayangin masa
depan.”
Waktu itu, mereka menghabiskan waktu di pinggir pantai. Naik sepeda bersama sampai
matahari terbenam, seolah-olah mereka anak muda baru puber baru tahu rasanya berkencan.
Alby kemudian mengajaknya duduk di atas batu besar pinggiran laut. Awalnya dia termenung
sendiri. Entah memikirkan apa ditengah deburan ombak, langit yang semakin gelap, suasana
yang semakin dingin.
Lalu dia mengatakannya.
Masa depan.
“Aku juga enggak suka.” Rashi menjawab demikian, sebab ia memang juga membencinya.
“Banyak yang dulunya ada, di masa depan ternyata ilang. Ada yang baru, tapi yang lama dan
udah nyaman tetep ilang. Ngotot mau di masa lalu dibilang penakut, padahal masa depan juga
enggak ada yang tau.”
“Emang.” Alby tertawa. Memanjangkan tangan, kode agar Rashi pindah ke sampingnya.
Pelukannya penuh rasa, mencium rambut Rashi degan tarikan napas yang gelisah. “Enggak ada
lo di masa depan gue, Rashi. Enggak pernah ada, dulu.”
“...”
“Aku enggak pernah bayangin aku bakal jatuh cinta, sama cewek yang namanya Rashi Anuja,
yang brengsek, tapi cantik, nyebelin, tapi bikin nagih.”
Rashi tak lupa menggigit lengannya.
“Kita kadang sama. Masa depan yang kita liat Cuma Mahesa. Kamu jadi bonekanya, aku jadi
terorisnya.”
“Kenapa jadi ngomongin itu?”
“Tiba-tiba kepikiran.”
“Masa depan?”
“Kita bakal apa besok?”
“Bangun pagi masak bareng?”
Jawaban Rashi waktu itu Cuma sekadar pencari suasana. Karena diam-diam ia juga kepikiran.
Benar juga.
Besok mereka akan apa di situasi mereka sekarang? Tiga tahun pacaran, Rashi masih tetap
simpanan Mahesa dan dia tetap anak buah Mahesa. Hidup mereka berjalan monoton. Bergerak
di arah yang Mahesa izinkan, berhenti di garis yang Mahesa larang.
Ingin menyesal terjebak dalam jaring Mahesa, justru karena Mahesa itu mereka bertemu. Ingin
kabur dari genggaman Mahesa, masing-masing terlalu bergantung pada orang itu.
Makanya Rashi tidak menyangka, rasa menyesakkan yang tak bisa dilukiskan, justru menyergap
batinnya saat pernikahan Rasya digelar.
Yap, Rasya akhirnya mau menikah. Setelah Rashi lulus kuliah, membuktikan hubungannya
dengan Alby berjalan baik dan akhirnya terima bahwa saudara tidak berarti harus saling
mengekang.
Di antara rasa bahagia kakaknya menemukan kebahagiaan bersama gadis yang dia jaga
bertahun-tahun, Rashi berusaha menahan gemetar. Menyandarkan kepalanya pada Alby, tak
mungkin bisa terlihat sedih sekarang.
“Kamu kenapa?” Alby berbisik, sadar akan tangan Rashi dingin di genggamannya. Mereka
beristirahat jauh dari pengantin, di sudut dekat pintu setelah hampir dua jam berdiri
menyambut tamu berdua.
Rashi menggeleng. Membawa tangan Alby ke perutnya, bersandar semakin nyaman. Samar,
hanya untuk mereka berdua, Rashi berbisik, “Maaf.”
“Maaf apa, Cantik?”
Maaf karena biarpun mereka ingin, pada akhirnya mereka jadi seperti ini. Masa depan yang
beberapa bulan lalu dia bicarakan, jadi seperti film yang berhenti di tengah jalan. Tak bisa
menemukan ending sebab eror yang membuat mereka terus berputar di lingkaran yang sama.
“Yaudah sini gue kawinin besok.” Alby malah bercanda, tapi memeluk erat Rashi dengan
tangannya ikut gemetar. “Mau konsepnya kayak apa? Indian wedding atau disney?”
Rashi berusaha tertawa. “Indian.”
“Sepemikiran ternyata. Emang kamu tuh cantik kalau kembaran sama Kajol.”
“Kok Kajol sih? Dia udah tua!”
“Aku taunya Kajol sama Rashi Anuja doang, Sayang.”
“Ngaco.”
Alby tersenyum kecil. Dengan gerakan natural mencium sisi sanggul Rashi. “Jangan sedih,”
bisiknya halus. “Nikah enggak nikah, kita tetep bobo bareng. Muehehehe.”
“Mahesa bilang langsung pulang.
“Pacar kamu Mahesa atau aku sih?”
“Kamu.” Rashi berbalik. Mencubit pipi Alby yang hari ini sampai pakai bedak demi menutupi
wajah kusamnya gara-gara keseringan main matahari. Dia sudah tak bermain preman-
repmanan di Jogja dan sudah bukan bos. Pangkatnya naik, namun membuatnya harus
kehilangan banyak anak buah. Dia harus bekerja di lapangan sendiri, makanya sejak kemarin
dia pusing muka gantengnya jadi kacau. “Tapi bos kamu kan Mahesa. Bos kan raja.”
Alby menjulurkan lidahnya mengejek. Seperti ingin muntah namun juga merengut.
Mereka tak bisa asik mesra-mesraan di pesta kakaknya, sementara Rashi juga bintang utama.
Kembali Rashi berdiri, bergabung dengan para tamu sebagai pihak keluarga mempelai.
Keberadaan Alby memancing tanya klasik, kapan nyusul. Rashi sudah ditanyai pertanyaan itu
sejak ia membawa Alby ke acara keluarga tuga tahun lalu. Jadi sekarang ia bisa tegas—dan eneg
—menjawab tidak.
Dengan alasan ingin fokus di karier masing-masing dulu.
Untungnya ini jaman emansipasi wanita. Jadi setidaknya jawaban itu tidak terdengar aneh.
“Tapi kalau dipikir-pikir, Princess, semuaorang lebih ngebet kita nikah, yah? Mereka ngecrush
kita kali yah?”
“Bohong. Pada mau ngerebut kamu jadi mantu mereka itu.”
“Kenapa?!”
“Ganteng.”
Alby terperangah, lalu berpaling salah tingkah.
Kebiasaannya yang benar-benar tak Rashi duga, dia suka salah tingkah jika mendadak Rashi
memujinya ganteng. Padahal dia punya cermin, bisa melihat mukanya sendiri, dan selalu pede
berkata dia ganteng.
“Sok salting. Di Ig tiap post dipuji berapa ratus cewek hm?”
“Mereka ya mereka, kamu ya kamu.”
“Katanya brengsek, nyebelin. Banyak cewek lebih baik di luar.”
“Ih, kenapa jadi kamu yang ngambek?”
“Siapa?”
“Kamu. Itu mukanya ngambek.”
“Gila, yah? Orang ketawa gini dibilang ngambek.”
“Masa?”
“Apa sih?”
Alby memandangi mukanya sok serius. “Bukan yah? Aku kira ngambek. Soalnya pas ngambek
tuh paling cantik,”
Wajah Rashi datar. Dengan sangat elegan berbalik, meninggalkan Alby karena kebetulan ada
tamu yang baru datang. Itu bibinya dan putra semata wayang beliau, [Link] yang dari
Rashi SMP sudah mau putranya menikah dengan Rashi, tapi selalu tertolak.
Jenar sepupu Rashi seperti Candra dan ada banyak waktu Candra cemburu padanya. Namun
Rashi tidak memberi peluang untuk Jenar seperti Candra karena usianya sepantaran Rasya. Tak
tahu kenapa, Rashi tak bisa dekat dengan laki-alaki yang seumuran kakaknya. Harus di bawah
Rasya, adalah syarat mutlak.
“”Rashiii. Ponakan Tante cantik banget.”
Kalimat klasik yang jawabannya pun harus klasik.
“Bisa aja, Tante. Tante juga makin cantik.”
“Sama paacarmu toh? Betah banget sih kamu sama dia.”
Muka Jenar salty, karena dia keki ibunya ngebet pada Rashi. Secara pribadi dia bilang dia mau,
namun tidak suka memaksa dan ingin pernikahannya satu sama lain rela. Dan penghambat
utama Jenar dalam hubungan, adalah ibunya.
“Doain dong, Tante.”
“Amamiin.” Jenar langsung vokal.
Mereka basa-basi sedikit, lalu Tante Sasa pamit untuk bertemu Abah dan Uma. Jenar diam
sebentar. Mengucapka kalimat yang dia ucapkan cukup sering. “Sori, yah, Mami kayak gitu.
Enggak usah didengerin.”
“Mas juga yang kuat.”
“Dah hopeless, lah. Untung Mami.” Jenar menepuk bahunya, menyusul sang ibu daripada bikin
repot dilepas liarkan sendirian.
Alby baru mendekat kembali selepas salam itu. Dia mencebik, mengusap-usap bahu Rashi yang
sempat ditepuk oleh Jenar. “Salting mah salting aja, Princess. Enggak usah kabur dipegang-
pegang cowok laen.”
”Nyesel enggak peluk Mas Jenar.”
“Awas lo. Gue iket di kamar seminggu.”
“Main catur?”
“Tiktok.”
Rashi tergelak. Tanpa icara menyelipkan tangannya di sela-sela jari Alby, mengajak dia untuk
melanjutkan pekerjaan mereka.
Nasib pembuat acara.