0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan33 halaman

Panduan Dokumen Ekspor Indonesia

Dokumen tersebut membahas pengertian ekspor dan beberapa dokumen penting yang dibutuhkan dalam kegiatan ekspor seperti Pemberitahuan Ekspor Barang, Bill of Lading, Packing List, Invoice, Commercial Invoice, dan Shipping Instruction. Dokumen-dokumen tersebut digunakan untuk melaporkan, mengirim, dan membayar barang yang diekspor.

Diunggah oleh

devisandriana82
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
7 tayangan33 halaman

Panduan Dokumen Ekspor Indonesia

Dokumen tersebut membahas pengertian ekspor dan beberapa dokumen penting yang dibutuhkan dalam kegiatan ekspor seperti Pemberitahuan Ekspor Barang, Bill of Lading, Packing List, Invoice, Commercial Invoice, dan Shipping Instruction. Dokumen-dokumen tersebut digunakan untuk melaporkan, mengirim, dan membayar barang yang diekspor.

Diunggah oleh

devisandriana82
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

[Link] [Link].

id

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Ekspor

Secara umum ekspor adalah kegiatan perdagangan baik barang maupun

jasa dari satu negarake negarayang lain, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan

barang dan atau jasa dari daerah pabean Indonesia ke daerah pabeannegaralain.

Daerah kepabeanan Indonesia adalah wilayah RI yang meliputi wilayah darat,

perairan, dan ruang udara diatasnya, serta tempat – tempat tertentu di Zona

Ekonomi Eksklusif dan landasan kontinen (UU nomer 17 tahun 2006 tentang

perubahan atas UU nomer 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan).

Defin isi ekspor secara tradisional adalah suatu kegiatan dalam dunia

perdagangan di mana suatu produk tertentu dikirimkan ke wilayah di luar batas

teritorial suatu [Link] tetap i dalam definisi yang lebih luas, kegiatan

ekspor dapat saja terjadi meskipun suatu produk berpindah tangan (dijual) dari

seorang warga negaradi negaranya sendiri kepada seorang asing (bukan warga

negara) di wilayah negarasi penjual tersebut. Hal ini bisa terjadi karena barang

yang dimaksud secara hukum dinyatakan telah menjadi milik warga negaralain

sehingga tidak bisa lagi dikatakan sebagai milik warga negaralokal yang

menjualnya. Ekspor merupakan proses transportasi barang atau komoditas

dari suatu negarake negaralain secara legal, umumnya dalam proses

perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk

mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya

ke negaralain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur

7
[Link] [Link]

tangan dari bea cukai di negarapengirim maupun penerima. Ekspor adalah

bagian penting dari perdagangan internasional.

Pada awalnya hubungan perdagangan hanya terbatas pada satu wilayah

negarayang tertentu, tetapi dengan semakin berkembangnya arus perdagangan

maka hubungan dagang tersebut tidak hanya dilakukan antara para pengusaha

dalam satu wilayah negarasaja, tetapi juga dengan para pedagang dari

negaralain, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan hubungan-hubungan dagang

tersebut semakin beraneka ragam, termasuk cara pembayarannya. Kegiatan

ekspor impor didasari oleh kondisi bahwa tidak ada suatu negarayang benar-

benar mandiri karena satu sama lain saling membutuhkan dan saling mengisi.

Setiap negaramemiliki karakteristik yang berbeda, baik sumber daya

alam, iklim, geografi, demografi, struktur ekonomi dan struktur

[Link] tersebut menyebabkan perbedaan komoditas yang dihasilkan,

komposisi biaya yang diperlukan, kualitas dan kuantitas produk. secara

langsung atau tidak langsung membutuhkan pelaksanaan pertukaran barang

dan atau jasa antara satu negaradengan negaralainnya. Oleh karena itu antara

negara– negarayang terdapat didunia perlu terjalin suatu hubungan

perdagangan untuk memenuhi kebutuhan tiap-tiap negara tersebut. Transaksi

perdagangan internasional yang leb ih dikenal dengan istilah ekspor – impor,

pada hakikatnya adalah suatu transaksi sederhana yang tidak leb ih dari

membeli dan menjual barang antara pengusaha-pengusaha yang bertempat

tinggal atau berdomisili d inegara-negarayang berbeda. Namun dalam

pertukaran barang dan jasa yang menyeberangi laut ataupun darat ini tidak

8
[Link] [Link]

jarang timbul berbagai masalah yang kompleks antara para pengusaha yang

mempunyai bahasa, kebudayaan, adat istiadat, dan cara yang berbeda-beda.

B. Dokumen yang Diperlukan dalam Ekspor

Kegiatan ekspor tidak pernah terlepas dari dokumen – dokumen penting,

di samping dokumen-dokumen ekspor yang berlaku secara internasional, juga

terdapat dokumen pendukung lain yang diberlakukan di Indonesia, yaitu

dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang atau Pemberitahuan Ekspor Barang

Tertentu. Berikut in i merupakan beberapa dokumen yang diperlukan dalam

ekspor.

1. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)

PEB adalah dokumen pabean yang digunakan untuk

memberitahukan pelaksanaan ekspor [Link] Pemberitahuan

Ekspor Barang Tertentu (PEBT) adalah dokumen pabean yang digunakan

untuk pemberitahuan pelaksanaan ekspor barang yang tidak wajib

menggunakan [Link] dibuat oleh eksportir atau kuasanya dengan

menggunakan software PEB secara online. Barang yang akan diekspor

wajib diberitahukan ke Kantor Bea dan Cukai dengan menggunakan PEB

tersebut.

PEB digunakan untuk memperoleh tanggapan/respon Persetujuan

Ekspor (PE), kemudian PE tersebut digunakan sebagai surat jalan untuk

memasukkan barang – barang ekspor ke kawasan pabean/kawasan dalam

pengawasan bea cukai yang dipersiapkan untuk ekspor.

9
[Link] [Link]

2. Bill of Lading (B/L)

Bill of Lading merupakan dokumen yang menunjukkan bahwa barang

sudah [Link] ini menegaskan atas kepemilikan, bukti

perjanjian, serta tanda terima atas suatu barang ekspor.

3. Packing List

Packing Listmerupakan dokumen ekspor dimana di dalamnya

tercantum PO/Order, PI (Production Intern), jumlah kuantitas barang

(Quatit), penghitungan Gross Weight dan Nett Weight (GW/NW).

4. Invoice

Invoice merupakan dokumen yang digunakan eksportir sebagai

pernyataan atas jumlah tagihan yang harus dibayarkan oleh importir. Ada

beberapa hal yang tercantum dalam invoice antara lain adalah nomor

invoice, tanggal, pelabuhan muat, pelabuhan bongkar, nomor container,

nomer seal, deskripsi barang, harga dan total harga.

5. Commercial I nvoice

Commercial Invoice adalah dokumen/surat tagihan (faktur)

penjualan yang dikeluarkan oleh perusahaan kepada pembeli/importir

yang berisikan mengenai transaksi yang telah disepakati [Link]

dari Commecial Invoice tidak jauh berbeda dengan Invoice pada umumnya

yaitu mencantumkan sejumlah tagihan yang harus dibayarkan kepada

pihak eksportir atas barang yang telah dikirimkan.

10
[Link] [Link]

6. Shipping Instruction ( SI )

Shipping Instruction (SI) Merupakan dokumen yang berisikan

perintah/insteruksi mengenai pengapalan / pengiriman yang dibuat oleh

eksportir kepada perusahaan pengangkutan ( forwader ).

Dokumen SI ke pelayaran sesuai dengan informasi dari Buyer

mengenai negaratujuan barang ekspor tersebut (berdasarkan

L/C).Penggunaan nominasi forwarder atau tidak (pelayaran yang sudah

ditentukan biasanya tercantumkan di L/C, jika pembayaran lewat

L/C).atau berdasarkan permintaan dari Buyer untuk menggunakan

pelayaran yang telah ditunjuk. Jenis pelayaran bisa juga diserahkan

sepenuhnya kepada pengirim oleh [Link] menggunakan pengiriman

melalui udara, maka yang harus dihitung adalah berat kilogram, sedangkan

bila menggunakan pengiriman laut yang dihitung adalah measurement

(pengukuran) untuk ukuran container. Berikut ini adalah istilah Dalam

Sistem Pelayaran :

a. LCL (Less Container Load)

Barang masuk gudang Barang yang akan dikirim masuk gudang

ke pelayaran dan akan di-stuffing bersama barang-barang dari

perusahaan lain karena secara kuantitas barang yang akan dikirim

sedikit.

b. FCL(Full Container Load)

Barang yang akan dikirim (ekspor) secarakuantitas berjumlah

besar sehingga harusmemesan kontainer.

11
[Link] [Link]

Gambar 2.1

Pola Ukuran Container Dengan Metode LCL (Less Container Load) dan
FCL (Full Container Load)

LCL (Less Container Load) :

Shipper Consignee
LCL LCL
Shipper Consignee
Shipper Angkutan Consignee

FCL (Full Container Load) :

FCL FCL
Shipper Consignee
Angkutan

Sumber : Transportasi Eksspor – Impor, Drs. Hari Murti & Sudijono, SH

7. Sales Contract

Sales Contract merupakan kesepakatan antara eksportir dan importir

untuk melakukan perdagangan sesuai dengan syarat-syarat yang telah

disepakati oleh kedua belah pihak, masing-masing pihak saling mengikat

diri dan melaksanakan semua kewajiban yang telah disepakati. Sales

12
[Link] [Link]

contract pada dasarnya berisikan tentang value, quantity, terms of payment,

terms of delivery, document, shipment, shipping company, Bank, dan lain

sebagainya.

Gambar 2.2
Mekanisme Sales Contract

Eksportir/Beneficiary Importir/Applicant

Promotion

Inquiry Sheet

Offershett

Order Sheet

Sales Contract

Dalam Negeri Luar Negeri

Sumber :Ridwan Tahmil. 2008. Proses Terjadinya Kontrak Penjualan.


[Link]. Diakses Tanggal 22 April 2013

13
[Link] [Link]

Keterangan :

[Link] melakukan promosi melalui media promosi seperti

pameran dagang, website, iklan, catalog.

b. Importir yang berminat mengirimi surat permintaan harga (Inquiry)

kepada eksportir.

c. Eksportir memenuhi permintaan dari importir dengan mengirimkan

surat penawaran harga (Offer Sheet).

d. Setelah mempelajari offer shett, importir mengirimkan surat

pesanan (Order Sheet) kepada eksportir. Kemudian eksportir

menyiapkan kontrak jual – beli (Sales Contract) sesuai dengan

Offer Sheet dan Order Sheet untuk di kirimkan kembali kepada

importir. Apabila sales contract tersebut disetujui oleh importir,

maka importir berhak menandatangani dan mengirimkan Sales

Confirmation kepada eksportir.

8. Certificate of Origin (COO)

Certificate of Origin (COO) disebut juga Surat Keterangan Asal

(SKA) adalah dokumen yang dibuat berdasarkan kesepakatan Bilateral,

Regional, Multilateral, Unilateral, atau karena ketentuan sepihak dari suatu

[Link] ini wajib disertakan pada barang ekspor sebagai

bukti bahwa barnag tersebut merupakan barang yang berasal, dihasilkan,

dan di olah dinegaratersebut dan layak memasuki wilayah suatu

[Link]/SKA diperoleh dari Dinas Perindustrian dan [Link]

2 jenis COO yaitu :

14
[Link] [Link]

a. Preferensi

COO jenis ini diterbitkan untuk memperoleh fasilitas

pengurangan atau pembebasan tarif bea masuk yang diberikan

oleh suatu negara atau sekelompok negara terhadap barang

ekspor yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan

perjanjian internasional atau penetapan unilateral.

Tabel 2.1
Certificate of Origin (COO)Preferensi

Jenis Kerjasama Jenis COO/SKA


General System of Preferences Form A (Amerika, Uni Eropa,
(GSP) Jepang)
ASEAN Free Trade Area (AFTA) Form D (Semua negara ASEAN)
ASEAN China FTA (ACFTA) ASEAN & China
ASEAN Korea FTA (AKFTA) Form AK (ASEAN & Korea)
Indonesia Japan Economic
Partnership (AJCEP) Form IJEPA (Jepang)
Global System of Trade Preference
Among Developing Countries
(GSTP) Form GSTP
ASEAN Australia New Zealand
(AANZFTA) Form AANZ
ASEAN Japan Comprehensive
Economic Partnership (AJCEP) Form AJCEP ( ASEAN & Jepang)

SKA Preferensi untuk tembakau Form COA

ASEAN India (AIFTA) Form AI

Sumber :Pusat Informasi Ekspor Impor. 2011. Pembuatan Surat


Keterangan [Link]. Diakses Tanggal 1
Mei 2013

15
[Link] [Link]

b. Non Preferensi

COO jenis ini diterbitkan untuk memenuhi ketentuan

yang ditetapkan oleh suatu negara terhadap suatu barang

ekspor berdasarkan perjanjianinternasional maupun penetapan

unilateral.

Tabel 2.2
Certificate of Origin (COO) Non Preferensi

Jenis SKA/COO Keterangan


Form B Kawasan Timur Tengah
Form TP Uni Eropa
Form ICO Ekspor Kopi ke semua negara
Form Annex 3 Ekspor ke Mexico

Sumber :Pusat Informasi Ekspor Impor. 2011. Pembuatan Surat


Keterangan [Link]. Diakses Tanggal 1
Mei 2013

9. Sanitary, Health and Veterinary Certificate

Sanitary, Health and Veterinary Certificatemerupakan sertifikat

yang menyatakan bahwa bahan baku ekspor, tanaman, atau bahan hasil

tanaman telah melalui tahap pemeriksaan dan dinyatakan bebas dari hama

dan penyakit.

10. Shipping Agent certificate

Shipping Agent Certificatemerupakan dokumen / surat keterangan

yang dibuat oleh agen pelayaran atas perintah dari eksportir berdasarkan

L/C mengenai jenis kapal dan pelayarannya.

16
[Link] [Link]

11. Weight Note and Measurement List

Weight Note and Measurement List merupakan surat keterangan

tentang barang yang dibuat oleh eksportir dan diketahui oleh surveyor

atau pelayaran. Sedangkan Measurement List merupakan surat keterangan

yang menerangkan ukuran panjang, lebar, tebal, tipis, garis tengah, dan isi

barang yang diekspor.

12. Certificate of Analysis

Certificate of Analysis adalah surat keterangan yang memuat hasil

analisis barang dari laboratorium yang dilakukan oleh Laboratory

Accreditation Body yang ditunjuk oleh pemerintah atau negarapembeli.

13. Marine And Insurance Certificate

Marine And Insurance Certificate merupakan surat persetujuan

dimana pihak penanggung jawab akan mengganti kerugian yang

berhubungan dengan kerusakan maupun kehilangan. Dalam kontrak CIF,

eksportirlah yang bertanggung jawab menutup asuransinya, sedangan

dalama kontrak FOB dan CFR pihak importir bertanggung jawab atas

asuransi barang – barang.

14. Special Customs Certificate

Special Customs Certificatemerupakan dokumen yang digunakan

untuk mempercepat barang penilaian bea masuk di negarapengimpor.

15. Wesel

Wesel merupakan alat pembayaran, perintah yang tak bersyarat

dalam bentuk tertulis o leh seseorang kepada orang lain, ditanda tangani

17
[Link] [Link]

oleh orang yang menarik dan mengharuskan pihak tertarik untuk

membayar pada saat diterima atau pada waktu tertentu.

16. Consular Invoice

Consular Invoiceadalah invoice yang dikeluarkan oleh kedutaan

(konsulat), yang berhak menandatangani adalah konsul perdagangan di

negarapembeli tujuannya untuk melihat dengan pasti harga jual dan tidak

terjadi dumping price.

C. Sistem Pembayaran dalam Ekspor

Dalam pelaksanaannya, sumber dan metode pembiayaan internasional

disalurkan dengan menggunakan sistem pembayaran internasional berikut ini :

1. Cash In Advance / Prepayment / Advance Payment

Sistem pembayaran dengan menggunakan metode ini merupakan

suatu cara pembayaran yg dilakukan pembeli/importir kepada

penjual/eksportir sebelum barang dikapalkan. Pembayaran ini dilakukan

secara tunai baik secara keseluruhan (full payment) atau sebagian (partial

payment) karena beberapa alasan tertentu :

a. Permintaan atas produk melebihi penawaran produk.

b. Penjual dan pembeli belum saling mengenal dan kurang saling

percaya.

c. Dalam situasi darurat, misalnya peperangan.

d. Mata uang negaraimportir termasuk mata uang lemah (soft currency)

yg berisiko tinggi.

18
[Link] [Link]

Sistem pembayaran Advance Payment memungkinkan importir

melakukan pembayaran dimuka (pay in advance) kepada [Link]

demikian, importir memberikan kredit kepada eksportir untuk

mempersiapkan barang – barangnya. Sistem pembayaran ini memberikan

kepercayaan penuh dari importir kepada ekportir bahwa importir akan

menerima barang – barang yang telah dipesan. Sistem pembayaran ini

lazim digunakan oleh para pelaku bisnis internasional yang sudah saling

mengenal dengan baik.

Gambar 2.3
Bagan Prosedur Transaksi Advance Payment

1
Penjual/Seller Pembeli/Buyer

2
5 3

Bank Bank
4

Sumber : Amir MS, 2003, disesuaikan

Keterangan :
1) Purchase Order (PO)
2) Pembayaran Tunai
3) Aplikasi Transfer
4) Transfer Uang
5) Pembayaran
6) Pengiriman Barang

19
[Link] [Link]

2. Open Account

Open Account merupakan Kebalikan dari sistem Cash In Advance,

pembayaran dengan sistem ini justru dilakukan kemudian setelah produk

dikirim dan laku terjual atau setelah jangka waktu tertentu karena pembeli

dan penjual sudah saling kenal dan percaya sepenuhnya atau dilakukan

antara suatu perusahaan dengan afiliasinya atau intra perusahaan

multinasional/Multinational Corporation(MNC).

Perusahaan Multinasional(MNC) merupakan perusahaan yang

memproduksi dan memasarkan produknya di dua negaraatau lebih

sehingga dalam aktivitasnya melibatkan dua mata uang atau lebih yang

berbeda. Pada umumnya MNC memiliki kantor pusat disuatu negaradan

didukung oleh beberapa anak perusahaan dinegaralain yang

pengoperasiannya dengan telekomunikasi.

Sistem pembayaranOpen Accountmerupakan aktivitas dimana

penjual hanya mengirimkan faktur kepada pembeli untuk dibayar setelah

jangka waktu tertentu atau sesuai [Link] ini memaknai bahwa

penjual mempunyai risiko yang tinggi atas kegagalan pembayaran

(default) dari pembeli.

3. Private Compensation

Private Compensation adalah suatu metoda pembayaran

internasional yang dilakukan antara pembeli dan penjual dengan jalan

melakukan kompensasi penuh atau sebagian utang piutang baik secara

langsung maupun tidak langsung (melalui pihak ketiga) sehingga

mengurangi atau meniadakan transfer valas ke luar negeri.

20
[Link] [Link]

4. Letter of Credit (L/C)

Letter of Credit merupakan suatu surat pernyataan yang

dikeluarkan oleh issuing bank atas permintaan pembeli/importir yang

ditujukan kepada penjual/eksportir/beneficiary melalui

advising/confirming bank dengan menyatakan bahwa issuing bank akan

membayar sejumlah uang tertentu apabila syarat-syarat yang ditetapkan

dalam L/C tersebut dipenuhi. Pada saat ini lebih dari 50% pembayaran

internasional menggunakan L/C karena metode ini mempunyai beberapa

kelebihan, antara lain sebagai berikut :

a. Adanya jaminan pembayaran bagi eksportir/penjual

b. Adanya jaminan penerimaan barang bagi importir melalui perbankan

yang akan menyerahkan pembayaran sesuai dengan syarat- syarat yg

ditetapkan dalam L/C.

c. Adanya fasilitas kredit eksportir atau importir melalui perbankan.

Beberapa hal penting yg harus diperhatikan dalam L/C adalah :

1) Sifat L/C, apakah Revocable atau Irrevocable.

2) Tanggal expired L/C.

3) Tanggal pengapalan (Shippment date).

4) Syarat-syarat dlm L/C, misalnya apakah dapat dilakukan

transhipment atau partial shipment.

Letter of Credit (L/C) merupakan metode pembayaran yang

paling sering dipergunakan dalam perdagangan internasional.

Disamping pembayaran di muka, Letter of Creditmenawarkan jaminan

terbaik bagi eksportir bahwa barang yang dijual secara internasional

21
[Link] [Link]

akan dibayar. Jaminan itu muncul dari kenyataan bahwa kewajiban

membayar dengan L/C terletak di tangan bank pembeli bukan di

tangan [Link] of Credit pada hakikatnya adalah sebuah “surat”

yang mengalihkan kelayakan menerima kredit pembeli kepada sebuah

bank.

L/C dapat dianggap sebagai jaminan berkondisi yang

dikeluarkan oleh bank atas nama pembeli ditujukan kepada penjual

untuk memastikan pembayaran bila penjual memenuhi semua syarat

yang tercantum dalamnya. Namun bagi importirsurat tersebut lebih

mahal harganya karena ada dana yang didepositokan dalam bank

mereka untuk menjamin lini kredit. Bila selembar L/C merupakan

metode pembayaran, eksportir biasanya menerima pembayaran pada

saat dokumen pengiriman ditunjukkan kepada bank yang melakukan

negosiasi L/C (Advising Bank) di [Link] eksportir

menggunakan L/C dalam sistem pembayaran, maka importir harus

terleb ih dulu mengajukan permohonan kepada bank pembuka L/C

(IssuingBank) untuk membuka L/C yang diperuntukkan kepada

eksportir. Bank tersebut akan membuka L/C kepada bank koresponden

di tempat eksportir (AdvisingBank), dan bank inilah yang akan

meneruskan L/C kepada eksportir.

22
[Link] [Link]

Gambar 2.4
Skema Pembukaan L/C

2
Opening Advising/
Bank/Issuing Bank
Negotiating Bank

1 3

Importir Eksportir

DN LN

Sumber : Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri,

Amir M.S

Keterangan:

a) Importir meminta kepada Banknya (Opening/Issuing Bank)

untuk membuka L/C atas nama eksportir.

b) Apabila importir telah memenuhi syarat dan ketentuan yang

berlaku untuk melakukan impor, maka importir dapat

melaksanakan pembukaan L/C atas namaimportir. Pembukaan

L/C ini melalui koresponden Bank yang biasa disebut dengan

Advising Bank

c) Advising bank memberitahukan kepada eksportir mengenai

pembukaan L/C tersebut.

23
[Link] [Link]

5. Telegraphic Transfer (TT)

Pada dasarnya TT merupakan metode transfer pembayaran luar

negeri, yang memungkinkan pengiriman uang ke rekening Bank di seluruh

dunia melalui pesan kabel dari Bank satu ke Bank lainnya.

6. Consigment (Konsinyasi)

Konsinyasi adalah sebuah metode dari suatu perjanjian dimana

salah satu pihak yang mempunyai sejumlah barang dititipkan kepada pihak

tertentu untuk dijual dengan memberikan komisi tertentu keada pihak

tersebut.

D. INCOTERMS 2000

Setiap transaksi perdagangan internasional terdapat syarat penyerahan

barang (terms of delivery) dari penjual kepada pembeli dengan tujuan agar

tidak terjadi kesalahpahaman dan perselisihan dalam proses pengiriman

barang. Ini sangat penting karena menyangkut masalah biaya dan resiko.

Dengan penentuan terms of delivery yang jelas, maka pembagian biaya dan

resiko dari masing – masing pihak akan berjalan dengan baik.

Perdagangan internasional pada dasarnya mempunyai pasal – pasal

dalam sales contract mengenai terms of delivery yang mengacu pada

International Commercial Terms (Incoterms 2000) sebagai penyeragaman

penafsiran terhadap pelaksanaan syarat penyerahan barang, peralihan resiko,

dan biaya dari penjual kepada pembeli berdasarkan sarana transportasi yang

digunakan.

24
[Link] [Link]

1. Tujuan Dan Ruang Lingkup Incoterms

a. Tujuan dari Incoterms itu sendiri adalah menyediakan seperangkat

peraturan internasional untuk memberikan penafsiran atas sejumlah

istilah perdagangan yang biasa dipakai dalam perdagangan luar negeri.

b. Ruang lingkup Incoterms terbatas hanya pada pihak – pihak yang

terkait dalam kontrak jual beli.

2. Struktur Incoterms 2000

Berikut ini adalah syarat penyerahan barang dalam ekspor sesuai dengan

Incoterms2000 :

1. EX – Works

Ex – Works meripakan syarat penyerahan barang dimana

kewajiban utama bagi pembeli untuk memikul semua biaya dan resiko

terhadap barang. Pembeli juga bertanggung jawab atas pengurusan

ekspor, sedangkan penyerahan barang dilakukan pada gudang

penyimpanan barang penjual.

2. Free Carrier (FCA)

Penyerahan barang dilakukan di tempat pengangkut sehingga

semua resiko dan biaya beralih dari penjual kepada pembeli.

3. Free Alongside Ship (FAS)

Pembeli memiliki kewajiban menanggung semua biaya dan

resiko tehadap pengangkutan [Link] pengangkutan ini hanya

dapat digunakan menggunakan angkutan laut/kapal [Link]

barang dilakukan di samping kapal.

25
[Link] [Link]

4. Free On Board (FOB)

Free On Board (FOB) hanya dapat dilakukan pada

pengangkutan laut saja, karena penyerahan barang dilakukan diatas

kapal dengan syarat penjual bertanggung jawab atas biaya dan resiko

pengangkutan.

5. Cost And Freight (CFR)

Penyerahan barang dilakukan diatas kapal, sedangkan ongkos

angkut di tanggung oleh penjual.

6. Cost Insurance And Freight (CIF)

Sistem ini hampir sama dengan Cost and Freight (CFR),

penyerahan barang dilakukan diatas kapal dan ongkos angkut serta

resiko di tanggung oleh penjual. Hanya saja disini ditambahkan

dengan kontrak asuransi yang harus ditutup oleh penjual.

7. Carriage Paid To (CPT)

Penyerahan dilakukan ditempat pengangkut, akan tetapi ongkos

angkut sudah dibayarkan sampai ke pelabuhan tujuan. Selain itu resiko

dan biaya beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barang telah

diserahkan kepada pengangkut.

8. Carriage And Insurance Paid To (CIP)

Syarat penyerahan barang ini hampir sama dengan Carriage

Paid To (CPT), yang membedakan hanya tambahan premi asuransi

yang harus di tanggung oleh penjual.

26
[Link] [Link]

9. Delivered At Frontier (DAF)

Delivered At Frontier (DAF) merupakan syarat penyerahan

barang yang dilakukan di perbatasan negaratujuan, selain itu semua

resiko dan biaya ekspor ditanggung oleh penjual.

10. Delivered Ex Ship (DES)

Penyerahan barang dilakukan di pelabuhan tujuan, akan tetapi

segala urusan mengenai pajak (pabean) belum diselesaikan, sehingga

penjual harus menanggung semua resiko dan biaya sampai barang tiba

di pelabuhan.

11. Delivered Ex Quay (DEQ)

Pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai

kapal yang membawa barang merapat dipelabuhan tujuan, dan

membongkarnya di dermaga. Izin impor menjadi tanggung jawab

pembeli.

12. Delivered Duty Unpaid (DUU)

Pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di

tempat tujuan, namun tidak termasuk asuransi biaya lain yang mungkin

muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak di negarapembeli.

13. Delivered Duty Paid (DDP)

Delivered Duty Paid (DDP) merupakan kebalikan daari

Delivered Duty Unpaid (DUU), karena asuransi dan biaya lain di

tanggung oleh pihak penjual.

27
[Link] [Link]

E. Tahap-tahap Pelaksanaan Ekspor

Apabila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam

negeri, perdagangan internasionallebih rumit dan kompleks. Kerumitan

tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan

kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya

bea, tarif, atau quota barang [Link] itu, kesulitan lainnya timbul karena

adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan

hukum dalam perdagangan, oleh karena itu di dalam kegiatan perdagangan luar

negeri memerlukan tahapan – tahapan yang sesuai dengan peraturan yang ada,

tahapan tersebut meliputi :

1. Pernyataan minat indentor. Secara umum sukar dikatakan siapa seharusnya

yang mengambil inisiatif, apakah penjual harus menghubungi pembeli atau

sebaliknya. Dalam hal ini penjual memperkenalkan produk yang di jual

kepada calon pembeli. Apabila telah terjadi kesepakatan maka akan

diturunkan Purchase Order.

2. Mencari informasi sumber barang. Apabila komoditi yang diinginkan sudah

diketahui, selanjutnya menghubungi supplier.

3. Permintaan harga para supplier . Bila nama dan alamat penyuplai sudah

diperoleh, selanjutnya tinggal mengadakan kontak dengan mereka untuk

menyampaikan permintaan harga.

4. Penawaran harga dari supplier. Setelah eksportir menerima permintaan

harga dari importir, biasanya eksportir menerima permintaan dengan

mengirimkan penawaran atau Offer sheet.

28
[Link] [Link]

5. Tempat penyerahan barang. Pada saat menentukan harga transaksi,

disamping syarat penyerahan barang, harus dijelaskan pula nama tempat

dimana penyerahan itu akan dilakukan secara fisik. Hal ini penting untuk

mengetahui batas tanggungjawab masing-masing pihak baik penjual maupun

pembeli.

6. Penyerahan biaya. Syarat penyerahan biaya seperti FOB dan CFR

mencerminkan kewajiban-kewajiban pokok yang menjadi tanggungjawab

penjual.

7. Penetapan pemesanan dan sistem penyerahan barang (terms) . Setelah

importir menerima penawaran dari penyuplai, ia berkewajiban mempelajari

tiap-tiap penawaran itu dengan seksama baik mengenai mutu, harga, waktu

dan system penyerahan barang , serta syarat pembayaran yang diajukan oleh

supplier.

8. Kontrak impor. Surat pesanan diisi oleh improtir dan di alamatkan kepada

eksportir. Surat pesanan itu harus diisi sesuai dengan keterangan dan data

yang terdapat dalam surat penawaran yang dikirim oleh eksportir

sebelumnya.

9. Pembukaan L/C Sebagai pelaksanaan dari suatu sales-contract, pihak

importir berkewajiban menyediakan dana untuk melunasi barang yang

dipesan dan dalam bentuk yang disepakati.

10. Persiapan pengeksporan. Setelah menerima surat pesanan, sales contract dan

L/C dari importir , tiba giliran eksportir untuk melaksanakan kewajiban

pokoknya, yaitu Melakukan pengapalan yang dipesan, menyiapkan

29
[Link] [Link]

shipping-document, dan menegosiasi dokumen pengapalan dengan pihak

bank.

11. Pengapalan Eksportir menyerahkan barang-barang itu kepada forwading

agent atau langsung kepada maskapai penerbangan untuk dikirim

selanjutnya ke pelabuhan sesuai tujuan.

12. Negosiasi dokumen. Setelah barang dikapalkan dan eksportir telah

menerima konsumendari maskapai pelayaran, selanjutnya eksportir

mengurus penerimaan pembayaran dari bank yang dikuasakan importir

untuk menguangkan dokumen pengapalan.

13. Penerusan Dokumen olehadvising bank kepada opening bank dalam dua

tahap pengiriman.

14. Pengeluaran Barang. Setelah opening bank menerima dokumen pengapalan

dari bank korespondennya, opening bank menyelesaikan pergitungannya

dengan importer. Setelah itu, opening bank menyerahkan dokumen

pengapalan itu kepada importir untuk dipergunakan selanjutnya dalam

penyelesaian dengan beas-masuk dan cukai dlam penyerahan barang dari

maskapai pelayaran.

15. Penyerahan barang. Setelah barang dibebaskan dari wilayah pabean, barang

sudah boleh diangkut ke gudang importir.

30
[Link] [Link]

Gambar 2.5
Bagan Prosedur Ekspor

B I

IMPORTIR (4) ISSUING


BANK

C 3 H
A
PRODUSEN 142 ADVISING
EKSPORTIR 4-10 BANK
12 1 13

7
(D) PELAYARAN

6
(E) INSTANSI EKSPOR

9
(F) ASURANSI

11
(G) KEDUTAAN ASING

Sumber : Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri, Amir M.S

Keterangan:

1. Eksportir menerima pesanan (order) dari buyer luar negeri (B – A)

2. Bank memberitahukan bahwa L/C telah dibuka untuk dan atas nama

eksportir (H – A)

3. Eksportir menempatkan pesanan pada pemilik barang / produsen (A – C)

31
[Link] [Link]

4. Eksportir melakukan pengepakan barang untuk di ekspor (A)

5. Eksportir memesan ruang kapal (booking) dan mengeluarkan shipping

order pada maskapai pelayaran (A – D)

6. Eksportir menyelesaikan semua formulir ekspor pada instansi ekspor yang

telah ditentukan (A – E)

7. Barang dimuat ke atas kapal melalui EMKL (A – D)

8. Pengurusan Bill of Lading ( B/L ) oleh eksportir (A – D)

9. Jika eksportir mengunakan asuransi sebagai jaminan keamanan dalam

melakukan kegiatan ekspor, maka ekspor melakukan penutupan asuransi

dengan maskapai pelayaran (A – D)

10. Persiapan dokumen ekspor lain oleh eksportir (A)

11. Eksportir mengurus consular-invoice di kedutaan asing (A – G)

12. Eksportir mealakukan penarikan wesel di Opening Bank (A – H)

13. Pengiriman Shipping Document dari Negotiating Bank kepada importir

14. Pengiriman Shipping-advice beserta copy shiping-advice document

F. Macam-macam Cara Ekspor

1. Ekspor Tidak Langsung

Perusahaan menjadi pengekspor tidak langsung bila menjual

produknya di pasar luar negeri seperti menjualnya di dalam

[Link] tidak perlu memiliki keahlian khusus maupun investasi

besar, tentunya juga dengan keterbatasan wewenang untuk memilih pasar

dan menentukan strategi pemasarannya. Untuk melakukan ekspor tidak

langsung ada beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti: perusahaan

dagang (Multinational Corporations/MNCs), perusahaan manajemen

32
[Link] [Link]

ekspor (Export Management Company/EMC), dan kerjasama dalam

ekspor.

Perusahaan yang ingin melakukan ekspor namun tidak memiliki

kantor cabang/perwakilan di negaratujuan, maka perusahaan tersebut dapat

menghubungi perwakilan dagang asing atau perusahaan ekspor yang ada

di negaratujuan. Selanjutnya perusahaan ekspor tersebut akan melakukan

negosiasi dengan para pembeli (buyers) yang dalam hal ini importir di luar

negeri atas nama perusahaan pemilik barang, atau dapat juga dilakukan

dengan cara membonceng perusahaan atau agen yang telah terkenal dan

terbiasa melakukan ekspor.

2. Ekspor Langsung

Berbeda dengan ekspor tidak langsung, dalam ekspor langsung

perusahaan melakukan sendiri semua tugas ekspor meliputi kontrak pasar,

penelitian pasar, distribusi produk, dokumentasi ekspor, penetapan harga,

dan sebagainya dengan membentuk bagian ekspor dalam organisasi

[Link] langsung mempunyai berbagai keuntungan, terutama

volume penjualan yang lebih [Link] lainnya adalah

pengendalian besar, informasi pasar yang lebih baik dan pengembangan

keterampilan pemasaran internasional dalam perusahaan. Bentuk – bentuk

yang digunakan dalam ekspor langsung anatra lain melalui distribusi luar

negeri, agen luar negeri, dan mendirikan anak perusahaan pemasaran di

luar negeri.

33
[Link] [Link]

3. Investasi Langsung Luar Negeri (Foreign Direct Investment)

Foreign Direct Investment(FDI) dilakukan oleh perusahaan dengan

model penanaman modal satu perusahaan di negara teretentu untuk

perusahaan lain di negara berbeda dalam kurun waktu jangka panjang.

Dengan cara ini perusahaan yang ada di negara asal (home country) bisa

mengendalikan perusahaan yang ada di negara tujuan investasi (host

country) baik sebagian atau seluruhnya.

Salah satu aspek penting dari FDI adalah bahwa pemodal bisa

mengontrol dan mempunyai pengaruh penting manajemen dan produksi

dari peursahaan di luar [Link] juga mempunyai komitmen jangka

[Link] karena itu FDI dianggap memiliki nilai tinggi bagi sebuah

negara dibandingkan investasi jenis lainyang dapat ditarik begitu saja.

4. Konsinyasi(Cosigment)

Konsinyasi (Consigment) adalah pengiriman barang ekspor kepada

importir di luar negeri dengan prinsip bahwa barang/produk dikirim oleh

eksportir sebagai titipan untuk dijual oleh importir. Dengan demikian

importir tersebut akan bertindak sebagai agen dari eksportir, sedangkan

harga ditetapkan oleh eksportir yang bersangkutan. Di negara-negarayang

mempunyai pelabuhan bebas atau zona perdagangan bebas, hal ini dapat

diatur dengan menaruh barang dagangan di bawahpengawasan gudang

kawasan berikat (bonded warehouses) dengan nama bank asing. Penjualan

kemudian dapat diatur dengan agen penjualan dan barang konsinyasi dapat

dikeluarkan sedikit demi sedikit dengan pembayaran [Link]

34
[Link] [Link]

dagangan tersebut tidak dimintakan izin melewati pabean sampai

penjualan selesai.

5. Lisensi

Suatu perusahaan dapat melakukan terobosan ke pasar ekspor

dengan menjual lisensi kepada perusahaan asing tanpa harus melakukan

investasi di negaratujuan [Link] atau memberikan lisensi

merupakan alternatif strategi akses pasar (memasuki suatu negara) dan

perluasan dengan daya tarik yang cukup besar.

6. Barter

Barter adalah pengiriman barang – barang ke luar negeri untuk

ditukarkan langsung dengan barang yang dibutuhkan dalam negeri. Dalam

hal ini berarti pengiriman barang tidak menerima pembayaran dalam

bentuk mata uang asing, tetapi dalam bentuk barang yang dapat dijual di

dalam negeri untuk mendapatkan kembali dalam mata uang rupiah.

7. Package – Deal

Pada prinsipnya sama dengan barter, perusahaan disuatu negara

melakukan ekspor ke negara lain untuk ditukar dengan beberapa jenis

barang yang dibutuhkan. Akan tetapi harus mendapatkan izin perdgangan

dari pemerintah (Trade Agreement).

G. Para Pelaksana Perdagangan Internasional

Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan perdagangan internasional

dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, antara lain :

35
[Link] [Link]

1. Kelompok Eksportir

a. Produsen/Eksportir

Produsen merupakan penghasil produk dimana sebagian besar hasil

produksinya dipeeruntukkan bagi pasar luar negeri.

b. Confirming-House

Confirming-House merupakan perusahaan local yang didirikan

sesuai dengan perundang-undangan dan hukum disuatu negaratetapi

bekerja untuk dan atas perintah kantor induknya yang berada diluar

negeri.

c. Exsport-Merchat

Dalam hal ini, exsport-merchant juga biasa disebut sebagai

pedangang ekspor. Badan ini diberi ijin oleh pemerintah dalam bentuk

Surat Pengakuan Eksportir (SPE) dan diberi Kartu Angka Pengenal

Ekspor (APE) dan diperkenankan melaksanakan ekspor komoditi yang

tertera pada surat tersebut.

d. Wisma Dagang (Trading House)

Wisma dagang merupakan suatu bentuk status bagi perusahaan

yang telah mampu melakukan ekspor berbagai macam komoditi dan

mempunyai jaringan pemasaran dan kantor perwakilan dipusat-pusat

dagang dunia, serta memperoleh fasilitas tertentu dari pemerintah.

2. Importir (Buyer)

Importir adalah orang/perusahaan yang melakukan penerimaan suatu

komoditas dari suatu negarasecara legal dalam proses perdagangan.

36
[Link] [Link]

Prosesnya disebut juga dengan impor, umumnya adalah tindakan

memasukan barang atau komoditas dari negaralain ke dalam negeri.

3. Kelompok Identor

Para identor umumnya terdiri atas :

a. Para pemakai langsung

b. Pedagang

c. Instansi Pemerintah

4. Kelompok Promosi

Kelompok promosi ini terd iri dari berbagai bagian, antara lain :

a. Kantor perwakilan dari produsen / eksportie asing di Negarakonsumen /

importir/buyer.

b. Kantor Perwakilan Kamar Dagang dan Industri dalam dan luar negeri

c. Misi perdagangan dan pameran dagang internasional (Trade fair)

d. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)

e. Kantor Bank Devisa (DN / LN)

f. Atase perdagangan di tiap-tiap kedutaan di luar negeri

5. Kelompok Pendukung

a. Badan Usaha Transportasi dan Muatan

1) Freight Forwading

Badan usaha transportasi/Freight Forwading merupakan

lembaga yang bergerak dibidang pengangkutan ekspor baik melalui

darat, laut, maupun udara dan memiliki tugas melakukan muatan,

penyelenggaraan pengepakan sampai dengan pembukuan terhadap

muatan yang diperdagangkan.

37
[Link] [Link]

Tugas Freight Forwading :

a) Pengurusan prosedur dan formalitas dokumentasi yang

dipersyaratkan oleh adanya peraturan – peraturan pemerintah

negaraekspor, negaratransit dan negaraimpor.

b) Melengkapi dokumen – dokumen yang berkaitan dengan L/C,

Certificate of Receipt, Bill of Lading(B/L, Sea Way Bill, House of

Bill of Lading, Delivery Order (D/O), dan sebagainya.

c) Menyelesaikan biaya –biaya yang timbul sebagai akibat dari

kegiatan – kegiatan transportasi, penanganan muatan di

pelabuahan maupun gudang, pengurusan dokumentasi dan juga

mencakup Insurance Liabilitas yang umumnya diperlukan oleh

pemilik barang.

2) Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL)

Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) adalah usaha

pengurusan dokumen dan muatan yang akan diangkut melalui kapal

atau pengurusan dokumen dari muatan yang berasal dari kapal.

b. Bank Devisa

Bank Devisa merupakan pihak yang memberikan jasa perkreditan

dan pembiayaan, baik dalam bentuk kredit ekspor maupun sebagai uang

muka jaminan L/C. Selain itu lembaga ini juga memiliki peran dalam

pembukaan L/C, penerimaan L/C, penyampaian dokumen-dokumen, dan

negosiasi dokumen.

38
[Link] [Link]

c. Maskapai Pelayaran

Maskapai pelayaran merupakan bagian terpenting dalam

pengangkutan barang atau muatan hingga sampai ke negaratujuan.

d. Surveyor

Surveyor merupakan lembaga yang bertugas melakukan

pemeriksaan terhadap kualitas, cara pengepakan, keabsahan dokumen-

dokumen bagi barang-barang yang akan di ekspor/impor, di Indonesia

perusahaan yang ditunjuk sebagai juru periksa adalah PT. Sucofindo.

e. Pabean

Pabean merupakan lembaga pemerintah yang bertindak sebagai

pengaman lalu lintas barang serta dokumen yang masuk ke wilayah

[Link] Daerah Pabean merupakan wilayah darat, laut,

maupun udara yang ada di Indonesia serta merupakan Zona Ekonomi

Eksklusif yang di dalamnya berlaku Undang – undang kepabeanan.

Barang – barang yang memasuki daerah pabean akan dikenai tarif bea

masuk dan wajib melunasi kewajiban pabeannya.

39

Anda mungkin juga menyukai