[Link] [Link].
id
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Pengertian Ekspor
Secara umum ekspor adalah kegiatan perdagangan baik barang maupun
jasa dari satu negarake negarayang lain, ekspor adalah kegiatan mengeluarkan
barang dan atau jasa dari daerah pabean Indonesia ke daerah pabeannegaralain.
Daerah kepabeanan Indonesia adalah wilayah RI yang meliputi wilayah darat,
perairan, dan ruang udara diatasnya, serta tempat – tempat tertentu di Zona
Ekonomi Eksklusif dan landasan kontinen (UU nomer 17 tahun 2006 tentang
perubahan atas UU nomer 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan).
Defin isi ekspor secara tradisional adalah suatu kegiatan dalam dunia
perdagangan di mana suatu produk tertentu dikirimkan ke wilayah di luar batas
teritorial suatu [Link] tetap i dalam definisi yang lebih luas, kegiatan
ekspor dapat saja terjadi meskipun suatu produk berpindah tangan (dijual) dari
seorang warga negaradi negaranya sendiri kepada seorang asing (bukan warga
negara) di wilayah negarasi penjual tersebut. Hal ini bisa terjadi karena barang
yang dimaksud secara hukum dinyatakan telah menjadi milik warga negaralain
sehingga tidak bisa lagi dikatakan sebagai milik warga negaralokal yang
menjualnya. Ekspor merupakan proses transportasi barang atau komoditas
dari suatu negarake negaralain secara legal, umumnya dalam proses
perdagangan. Proses ekspor pada umumnya adalah tindakan untuk
mengeluarkan barang atau komoditas dari dalam negeri untuk memasukannya
ke negaralain. Ekspor barang secara besar umumnya membutuhkan campur
7
[Link] [Link]
tangan dari bea cukai di negarapengirim maupun penerima. Ekspor adalah
bagian penting dari perdagangan internasional.
Pada awalnya hubungan perdagangan hanya terbatas pada satu wilayah
negarayang tertentu, tetapi dengan semakin berkembangnya arus perdagangan
maka hubungan dagang tersebut tidak hanya dilakukan antara para pengusaha
dalam satu wilayah negarasaja, tetapi juga dengan para pedagang dari
negaralain, tidak terkecuali Indonesia. Bahkan hubungan-hubungan dagang
tersebut semakin beraneka ragam, termasuk cara pembayarannya. Kegiatan
ekspor impor didasari oleh kondisi bahwa tidak ada suatu negarayang benar-
benar mandiri karena satu sama lain saling membutuhkan dan saling mengisi.
Setiap negaramemiliki karakteristik yang berbeda, baik sumber daya
alam, iklim, geografi, demografi, struktur ekonomi dan struktur
[Link] tersebut menyebabkan perbedaan komoditas yang dihasilkan,
komposisi biaya yang diperlukan, kualitas dan kuantitas produk. secara
langsung atau tidak langsung membutuhkan pelaksanaan pertukaran barang
dan atau jasa antara satu negaradengan negaralainnya. Oleh karena itu antara
negara– negarayang terdapat didunia perlu terjalin suatu hubungan
perdagangan untuk memenuhi kebutuhan tiap-tiap negara tersebut. Transaksi
perdagangan internasional yang leb ih dikenal dengan istilah ekspor – impor,
pada hakikatnya adalah suatu transaksi sederhana yang tidak leb ih dari
membeli dan menjual barang antara pengusaha-pengusaha yang bertempat
tinggal atau berdomisili d inegara-negarayang berbeda. Namun dalam
pertukaran barang dan jasa yang menyeberangi laut ataupun darat ini tidak
8
[Link] [Link]
jarang timbul berbagai masalah yang kompleks antara para pengusaha yang
mempunyai bahasa, kebudayaan, adat istiadat, dan cara yang berbeda-beda.
B. Dokumen yang Diperlukan dalam Ekspor
Kegiatan ekspor tidak pernah terlepas dari dokumen – dokumen penting,
di samping dokumen-dokumen ekspor yang berlaku secara internasional, juga
terdapat dokumen pendukung lain yang diberlakukan di Indonesia, yaitu
dokumen Pemberitahuan Ekspor Barang atau Pemberitahuan Ekspor Barang
Tertentu. Berikut in i merupakan beberapa dokumen yang diperlukan dalam
ekspor.
1. Pemberitahuan Ekspor Barang (PEB)
PEB adalah dokumen pabean yang digunakan untuk
memberitahukan pelaksanaan ekspor [Link] Pemberitahuan
Ekspor Barang Tertentu (PEBT) adalah dokumen pabean yang digunakan
untuk pemberitahuan pelaksanaan ekspor barang yang tidak wajib
menggunakan [Link] dibuat oleh eksportir atau kuasanya dengan
menggunakan software PEB secara online. Barang yang akan diekspor
wajib diberitahukan ke Kantor Bea dan Cukai dengan menggunakan PEB
tersebut.
PEB digunakan untuk memperoleh tanggapan/respon Persetujuan
Ekspor (PE), kemudian PE tersebut digunakan sebagai surat jalan untuk
memasukkan barang – barang ekspor ke kawasan pabean/kawasan dalam
pengawasan bea cukai yang dipersiapkan untuk ekspor.
9
[Link] [Link]
2. Bill of Lading (B/L)
Bill of Lading merupakan dokumen yang menunjukkan bahwa barang
sudah [Link] ini menegaskan atas kepemilikan, bukti
perjanjian, serta tanda terima atas suatu barang ekspor.
3. Packing List
Packing Listmerupakan dokumen ekspor dimana di dalamnya
tercantum PO/Order, PI (Production Intern), jumlah kuantitas barang
(Quatit), penghitungan Gross Weight dan Nett Weight (GW/NW).
4. Invoice
Invoice merupakan dokumen yang digunakan eksportir sebagai
pernyataan atas jumlah tagihan yang harus dibayarkan oleh importir. Ada
beberapa hal yang tercantum dalam invoice antara lain adalah nomor
invoice, tanggal, pelabuhan muat, pelabuhan bongkar, nomor container,
nomer seal, deskripsi barang, harga dan total harga.
5. Commercial I nvoice
Commercial Invoice adalah dokumen/surat tagihan (faktur)
penjualan yang dikeluarkan oleh perusahaan kepada pembeli/importir
yang berisikan mengenai transaksi yang telah disepakati [Link]
dari Commecial Invoice tidak jauh berbeda dengan Invoice pada umumnya
yaitu mencantumkan sejumlah tagihan yang harus dibayarkan kepada
pihak eksportir atas barang yang telah dikirimkan.
10
[Link] [Link]
6. Shipping Instruction ( SI )
Shipping Instruction (SI) Merupakan dokumen yang berisikan
perintah/insteruksi mengenai pengapalan / pengiriman yang dibuat oleh
eksportir kepada perusahaan pengangkutan ( forwader ).
Dokumen SI ke pelayaran sesuai dengan informasi dari Buyer
mengenai negaratujuan barang ekspor tersebut (berdasarkan
L/C).Penggunaan nominasi forwarder atau tidak (pelayaran yang sudah
ditentukan biasanya tercantumkan di L/C, jika pembayaran lewat
L/C).atau berdasarkan permintaan dari Buyer untuk menggunakan
pelayaran yang telah ditunjuk. Jenis pelayaran bisa juga diserahkan
sepenuhnya kepada pengirim oleh [Link] menggunakan pengiriman
melalui udara, maka yang harus dihitung adalah berat kilogram, sedangkan
bila menggunakan pengiriman laut yang dihitung adalah measurement
(pengukuran) untuk ukuran container. Berikut ini adalah istilah Dalam
Sistem Pelayaran :
a. LCL (Less Container Load)
Barang masuk gudang Barang yang akan dikirim masuk gudang
ke pelayaran dan akan di-stuffing bersama barang-barang dari
perusahaan lain karena secara kuantitas barang yang akan dikirim
sedikit.
b. FCL(Full Container Load)
Barang yang akan dikirim (ekspor) secarakuantitas berjumlah
besar sehingga harusmemesan kontainer.
11
[Link] [Link]
Gambar 2.1
Pola Ukuran Container Dengan Metode LCL (Less Container Load) dan
FCL (Full Container Load)
LCL (Less Container Load) :
Shipper Consignee
LCL LCL
Shipper Consignee
Shipper Angkutan Consignee
FCL (Full Container Load) :
FCL FCL
Shipper Consignee
Angkutan
Sumber : Transportasi Eksspor – Impor, Drs. Hari Murti & Sudijono, SH
7. Sales Contract
Sales Contract merupakan kesepakatan antara eksportir dan importir
untuk melakukan perdagangan sesuai dengan syarat-syarat yang telah
disepakati oleh kedua belah pihak, masing-masing pihak saling mengikat
diri dan melaksanakan semua kewajiban yang telah disepakati. Sales
12
[Link] [Link]
contract pada dasarnya berisikan tentang value, quantity, terms of payment,
terms of delivery, document, shipment, shipping company, Bank, dan lain
sebagainya.
Gambar 2.2
Mekanisme Sales Contract
Eksportir/Beneficiary Importir/Applicant
Promotion
Inquiry Sheet
Offershett
Order Sheet
Sales Contract
Dalam Negeri Luar Negeri
Sumber :Ridwan Tahmil. 2008. Proses Terjadinya Kontrak Penjualan.
[Link]. Diakses Tanggal 22 April 2013
13
[Link] [Link]
Keterangan :
[Link] melakukan promosi melalui media promosi seperti
pameran dagang, website, iklan, catalog.
b. Importir yang berminat mengirimi surat permintaan harga (Inquiry)
kepada eksportir.
c. Eksportir memenuhi permintaan dari importir dengan mengirimkan
surat penawaran harga (Offer Sheet).
d. Setelah mempelajari offer shett, importir mengirimkan surat
pesanan (Order Sheet) kepada eksportir. Kemudian eksportir
menyiapkan kontrak jual – beli (Sales Contract) sesuai dengan
Offer Sheet dan Order Sheet untuk di kirimkan kembali kepada
importir. Apabila sales contract tersebut disetujui oleh importir,
maka importir berhak menandatangani dan mengirimkan Sales
Confirmation kepada eksportir.
8. Certificate of Origin (COO)
Certificate of Origin (COO) disebut juga Surat Keterangan Asal
(SKA) adalah dokumen yang dibuat berdasarkan kesepakatan Bilateral,
Regional, Multilateral, Unilateral, atau karena ketentuan sepihak dari suatu
[Link] ini wajib disertakan pada barang ekspor sebagai
bukti bahwa barnag tersebut merupakan barang yang berasal, dihasilkan,
dan di olah dinegaratersebut dan layak memasuki wilayah suatu
[Link]/SKA diperoleh dari Dinas Perindustrian dan [Link]
2 jenis COO yaitu :
14
[Link] [Link]
a. Preferensi
COO jenis ini diterbitkan untuk memperoleh fasilitas
pengurangan atau pembebasan tarif bea masuk yang diberikan
oleh suatu negara atau sekelompok negara terhadap barang
ekspor yang memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan
perjanjian internasional atau penetapan unilateral.
Tabel 2.1
Certificate of Origin (COO)Preferensi
Jenis Kerjasama Jenis COO/SKA
General System of Preferences Form A (Amerika, Uni Eropa,
(GSP) Jepang)
ASEAN Free Trade Area (AFTA) Form D (Semua negara ASEAN)
ASEAN China FTA (ACFTA) ASEAN & China
ASEAN Korea FTA (AKFTA) Form AK (ASEAN & Korea)
Indonesia Japan Economic
Partnership (AJCEP) Form IJEPA (Jepang)
Global System of Trade Preference
Among Developing Countries
(GSTP) Form GSTP
ASEAN Australia New Zealand
(AANZFTA) Form AANZ
ASEAN Japan Comprehensive
Economic Partnership (AJCEP) Form AJCEP ( ASEAN & Jepang)
SKA Preferensi untuk tembakau Form COA
ASEAN India (AIFTA) Form AI
Sumber :Pusat Informasi Ekspor Impor. 2011. Pembuatan Surat
Keterangan [Link]. Diakses Tanggal 1
Mei 2013
15
[Link] [Link]
b. Non Preferensi
COO jenis ini diterbitkan untuk memenuhi ketentuan
yang ditetapkan oleh suatu negara terhadap suatu barang
ekspor berdasarkan perjanjianinternasional maupun penetapan
unilateral.
Tabel 2.2
Certificate of Origin (COO) Non Preferensi
Jenis SKA/COO Keterangan
Form B Kawasan Timur Tengah
Form TP Uni Eropa
Form ICO Ekspor Kopi ke semua negara
Form Annex 3 Ekspor ke Mexico
Sumber :Pusat Informasi Ekspor Impor. 2011. Pembuatan Surat
Keterangan [Link]. Diakses Tanggal 1
Mei 2013
9. Sanitary, Health and Veterinary Certificate
Sanitary, Health and Veterinary Certificatemerupakan sertifikat
yang menyatakan bahwa bahan baku ekspor, tanaman, atau bahan hasil
tanaman telah melalui tahap pemeriksaan dan dinyatakan bebas dari hama
dan penyakit.
10. Shipping Agent certificate
Shipping Agent Certificatemerupakan dokumen / surat keterangan
yang dibuat oleh agen pelayaran atas perintah dari eksportir berdasarkan
L/C mengenai jenis kapal dan pelayarannya.
16
[Link] [Link]
11. Weight Note and Measurement List
Weight Note and Measurement List merupakan surat keterangan
tentang barang yang dibuat oleh eksportir dan diketahui oleh surveyor
atau pelayaran. Sedangkan Measurement List merupakan surat keterangan
yang menerangkan ukuran panjang, lebar, tebal, tipis, garis tengah, dan isi
barang yang diekspor.
12. Certificate of Analysis
Certificate of Analysis adalah surat keterangan yang memuat hasil
analisis barang dari laboratorium yang dilakukan oleh Laboratory
Accreditation Body yang ditunjuk oleh pemerintah atau negarapembeli.
13. Marine And Insurance Certificate
Marine And Insurance Certificate merupakan surat persetujuan
dimana pihak penanggung jawab akan mengganti kerugian yang
berhubungan dengan kerusakan maupun kehilangan. Dalam kontrak CIF,
eksportirlah yang bertanggung jawab menutup asuransinya, sedangan
dalama kontrak FOB dan CFR pihak importir bertanggung jawab atas
asuransi barang – barang.
14. Special Customs Certificate
Special Customs Certificatemerupakan dokumen yang digunakan
untuk mempercepat barang penilaian bea masuk di negarapengimpor.
15. Wesel
Wesel merupakan alat pembayaran, perintah yang tak bersyarat
dalam bentuk tertulis o leh seseorang kepada orang lain, ditanda tangani
17
[Link] [Link]
oleh orang yang menarik dan mengharuskan pihak tertarik untuk
membayar pada saat diterima atau pada waktu tertentu.
16. Consular Invoice
Consular Invoiceadalah invoice yang dikeluarkan oleh kedutaan
(konsulat), yang berhak menandatangani adalah konsul perdagangan di
negarapembeli tujuannya untuk melihat dengan pasti harga jual dan tidak
terjadi dumping price.
C. Sistem Pembayaran dalam Ekspor
Dalam pelaksanaannya, sumber dan metode pembiayaan internasional
disalurkan dengan menggunakan sistem pembayaran internasional berikut ini :
1. Cash In Advance / Prepayment / Advance Payment
Sistem pembayaran dengan menggunakan metode ini merupakan
suatu cara pembayaran yg dilakukan pembeli/importir kepada
penjual/eksportir sebelum barang dikapalkan. Pembayaran ini dilakukan
secara tunai baik secara keseluruhan (full payment) atau sebagian (partial
payment) karena beberapa alasan tertentu :
a. Permintaan atas produk melebihi penawaran produk.
b. Penjual dan pembeli belum saling mengenal dan kurang saling
percaya.
c. Dalam situasi darurat, misalnya peperangan.
d. Mata uang negaraimportir termasuk mata uang lemah (soft currency)
yg berisiko tinggi.
18
[Link] [Link]
Sistem pembayaran Advance Payment memungkinkan importir
melakukan pembayaran dimuka (pay in advance) kepada [Link]
demikian, importir memberikan kredit kepada eksportir untuk
mempersiapkan barang – barangnya. Sistem pembayaran ini memberikan
kepercayaan penuh dari importir kepada ekportir bahwa importir akan
menerima barang – barang yang telah dipesan. Sistem pembayaran ini
lazim digunakan oleh para pelaku bisnis internasional yang sudah saling
mengenal dengan baik.
Gambar 2.3
Bagan Prosedur Transaksi Advance Payment
1
Penjual/Seller Pembeli/Buyer
2
5 3
Bank Bank
4
Sumber : Amir MS, 2003, disesuaikan
Keterangan :
1) Purchase Order (PO)
2) Pembayaran Tunai
3) Aplikasi Transfer
4) Transfer Uang
5) Pembayaran
6) Pengiriman Barang
19
[Link] [Link]
2. Open Account
Open Account merupakan Kebalikan dari sistem Cash In Advance,
pembayaran dengan sistem ini justru dilakukan kemudian setelah produk
dikirim dan laku terjual atau setelah jangka waktu tertentu karena pembeli
dan penjual sudah saling kenal dan percaya sepenuhnya atau dilakukan
antara suatu perusahaan dengan afiliasinya atau intra perusahaan
multinasional/Multinational Corporation(MNC).
Perusahaan Multinasional(MNC) merupakan perusahaan yang
memproduksi dan memasarkan produknya di dua negaraatau lebih
sehingga dalam aktivitasnya melibatkan dua mata uang atau lebih yang
berbeda. Pada umumnya MNC memiliki kantor pusat disuatu negaradan
didukung oleh beberapa anak perusahaan dinegaralain yang
pengoperasiannya dengan telekomunikasi.
Sistem pembayaranOpen Accountmerupakan aktivitas dimana
penjual hanya mengirimkan faktur kepada pembeli untuk dibayar setelah
jangka waktu tertentu atau sesuai [Link] ini memaknai bahwa
penjual mempunyai risiko yang tinggi atas kegagalan pembayaran
(default) dari pembeli.
3. Private Compensation
Private Compensation adalah suatu metoda pembayaran
internasional yang dilakukan antara pembeli dan penjual dengan jalan
melakukan kompensasi penuh atau sebagian utang piutang baik secara
langsung maupun tidak langsung (melalui pihak ketiga) sehingga
mengurangi atau meniadakan transfer valas ke luar negeri.
20
[Link] [Link]
4. Letter of Credit (L/C)
Letter of Credit merupakan suatu surat pernyataan yang
dikeluarkan oleh issuing bank atas permintaan pembeli/importir yang
ditujukan kepada penjual/eksportir/beneficiary melalui
advising/confirming bank dengan menyatakan bahwa issuing bank akan
membayar sejumlah uang tertentu apabila syarat-syarat yang ditetapkan
dalam L/C tersebut dipenuhi. Pada saat ini lebih dari 50% pembayaran
internasional menggunakan L/C karena metode ini mempunyai beberapa
kelebihan, antara lain sebagai berikut :
a. Adanya jaminan pembayaran bagi eksportir/penjual
b. Adanya jaminan penerimaan barang bagi importir melalui perbankan
yang akan menyerahkan pembayaran sesuai dengan syarat- syarat yg
ditetapkan dalam L/C.
c. Adanya fasilitas kredit eksportir atau importir melalui perbankan.
Beberapa hal penting yg harus diperhatikan dalam L/C adalah :
1) Sifat L/C, apakah Revocable atau Irrevocable.
2) Tanggal expired L/C.
3) Tanggal pengapalan (Shippment date).
4) Syarat-syarat dlm L/C, misalnya apakah dapat dilakukan
transhipment atau partial shipment.
Letter of Credit (L/C) merupakan metode pembayaran yang
paling sering dipergunakan dalam perdagangan internasional.
Disamping pembayaran di muka, Letter of Creditmenawarkan jaminan
terbaik bagi eksportir bahwa barang yang dijual secara internasional
21
[Link] [Link]
akan dibayar. Jaminan itu muncul dari kenyataan bahwa kewajiban
membayar dengan L/C terletak di tangan bank pembeli bukan di
tangan [Link] of Credit pada hakikatnya adalah sebuah “surat”
yang mengalihkan kelayakan menerima kredit pembeli kepada sebuah
bank.
L/C dapat dianggap sebagai jaminan berkondisi yang
dikeluarkan oleh bank atas nama pembeli ditujukan kepada penjual
untuk memastikan pembayaran bila penjual memenuhi semua syarat
yang tercantum dalamnya. Namun bagi importirsurat tersebut lebih
mahal harganya karena ada dana yang didepositokan dalam bank
mereka untuk menjamin lini kredit. Bila selembar L/C merupakan
metode pembayaran, eksportir biasanya menerima pembayaran pada
saat dokumen pengiriman ditunjukkan kepada bank yang melakukan
negosiasi L/C (Advising Bank) di [Link] eksportir
menggunakan L/C dalam sistem pembayaran, maka importir harus
terleb ih dulu mengajukan permohonan kepada bank pembuka L/C
(IssuingBank) untuk membuka L/C yang diperuntukkan kepada
eksportir. Bank tersebut akan membuka L/C kepada bank koresponden
di tempat eksportir (AdvisingBank), dan bank inilah yang akan
meneruskan L/C kepada eksportir.
22
[Link] [Link]
Gambar 2.4
Skema Pembukaan L/C
2
Opening Advising/
Bank/Issuing Bank
Negotiating Bank
1 3
Importir Eksportir
DN LN
Sumber : Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri,
Amir M.S
Keterangan:
a) Importir meminta kepada Banknya (Opening/Issuing Bank)
untuk membuka L/C atas nama eksportir.
b) Apabila importir telah memenuhi syarat dan ketentuan yang
berlaku untuk melakukan impor, maka importir dapat
melaksanakan pembukaan L/C atas namaimportir. Pembukaan
L/C ini melalui koresponden Bank yang biasa disebut dengan
Advising Bank
c) Advising bank memberitahukan kepada eksportir mengenai
pembukaan L/C tersebut.
23
[Link] [Link]
5. Telegraphic Transfer (TT)
Pada dasarnya TT merupakan metode transfer pembayaran luar
negeri, yang memungkinkan pengiriman uang ke rekening Bank di seluruh
dunia melalui pesan kabel dari Bank satu ke Bank lainnya.
6. Consigment (Konsinyasi)
Konsinyasi adalah sebuah metode dari suatu perjanjian dimana
salah satu pihak yang mempunyai sejumlah barang dititipkan kepada pihak
tertentu untuk dijual dengan memberikan komisi tertentu keada pihak
tersebut.
D. INCOTERMS 2000
Setiap transaksi perdagangan internasional terdapat syarat penyerahan
barang (terms of delivery) dari penjual kepada pembeli dengan tujuan agar
tidak terjadi kesalahpahaman dan perselisihan dalam proses pengiriman
barang. Ini sangat penting karena menyangkut masalah biaya dan resiko.
Dengan penentuan terms of delivery yang jelas, maka pembagian biaya dan
resiko dari masing – masing pihak akan berjalan dengan baik.
Perdagangan internasional pada dasarnya mempunyai pasal – pasal
dalam sales contract mengenai terms of delivery yang mengacu pada
International Commercial Terms (Incoterms 2000) sebagai penyeragaman
penafsiran terhadap pelaksanaan syarat penyerahan barang, peralihan resiko,
dan biaya dari penjual kepada pembeli berdasarkan sarana transportasi yang
digunakan.
24
[Link] [Link]
1. Tujuan Dan Ruang Lingkup Incoterms
a. Tujuan dari Incoterms itu sendiri adalah menyediakan seperangkat
peraturan internasional untuk memberikan penafsiran atas sejumlah
istilah perdagangan yang biasa dipakai dalam perdagangan luar negeri.
b. Ruang lingkup Incoterms terbatas hanya pada pihak – pihak yang
terkait dalam kontrak jual beli.
2. Struktur Incoterms 2000
Berikut ini adalah syarat penyerahan barang dalam ekspor sesuai dengan
Incoterms2000 :
1. EX – Works
Ex – Works meripakan syarat penyerahan barang dimana
kewajiban utama bagi pembeli untuk memikul semua biaya dan resiko
terhadap barang. Pembeli juga bertanggung jawab atas pengurusan
ekspor, sedangkan penyerahan barang dilakukan pada gudang
penyimpanan barang penjual.
2. Free Carrier (FCA)
Penyerahan barang dilakukan di tempat pengangkut sehingga
semua resiko dan biaya beralih dari penjual kepada pembeli.
3. Free Alongside Ship (FAS)
Pembeli memiliki kewajiban menanggung semua biaya dan
resiko tehadap pengangkutan [Link] pengangkutan ini hanya
dapat digunakan menggunakan angkutan laut/kapal [Link]
barang dilakukan di samping kapal.
25
[Link] [Link]
4. Free On Board (FOB)
Free On Board (FOB) hanya dapat dilakukan pada
pengangkutan laut saja, karena penyerahan barang dilakukan diatas
kapal dengan syarat penjual bertanggung jawab atas biaya dan resiko
pengangkutan.
5. Cost And Freight (CFR)
Penyerahan barang dilakukan diatas kapal, sedangkan ongkos
angkut di tanggung oleh penjual.
6. Cost Insurance And Freight (CIF)
Sistem ini hampir sama dengan Cost and Freight (CFR),
penyerahan barang dilakukan diatas kapal dan ongkos angkut serta
resiko di tanggung oleh penjual. Hanya saja disini ditambahkan
dengan kontrak asuransi yang harus ditutup oleh penjual.
7. Carriage Paid To (CPT)
Penyerahan dilakukan ditempat pengangkut, akan tetapi ongkos
angkut sudah dibayarkan sampai ke pelabuhan tujuan. Selain itu resiko
dan biaya beralih dari penjual kepada pembeli pada saat barang telah
diserahkan kepada pengangkut.
8. Carriage And Insurance Paid To (CIP)
Syarat penyerahan barang ini hampir sama dengan Carriage
Paid To (CPT), yang membedakan hanya tambahan premi asuransi
yang harus di tanggung oleh penjual.
26
[Link] [Link]
9. Delivered At Frontier (DAF)
Delivered At Frontier (DAF) merupakan syarat penyerahan
barang yang dilakukan di perbatasan negaratujuan, selain itu semua
resiko dan biaya ekspor ditanggung oleh penjual.
10. Delivered Ex Ship (DES)
Penyerahan barang dilakukan di pelabuhan tujuan, akan tetapi
segala urusan mengenai pajak (pabean) belum diselesaikan, sehingga
penjual harus menanggung semua resiko dan biaya sampai barang tiba
di pelabuhan.
11. Delivered Ex Quay (DEQ)
Pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai
kapal yang membawa barang merapat dipelabuhan tujuan, dan
membongkarnya di dermaga. Izin impor menjadi tanggung jawab
pembeli.
12. Delivered Duty Unpaid (DUU)
Pihak penjual bertanggung jawab mengantar barang sampai di
tempat tujuan, namun tidak termasuk asuransi biaya lain yang mungkin
muncul sebagai biaya impor, cukai dan pajak di negarapembeli.
13. Delivered Duty Paid (DDP)
Delivered Duty Paid (DDP) merupakan kebalikan daari
Delivered Duty Unpaid (DUU), karena asuransi dan biaya lain di
tanggung oleh pihak penjual.
27
[Link] [Link]
E. Tahap-tahap Pelaksanaan Ekspor
Apabila dibandingkan dengan pelaksanaan perdagangan di dalam
negeri, perdagangan internasionallebih rumit dan kompleks. Kerumitan
tersebut antara lain disebabkan karena adanya batas-batas politik dan
kenegaraan yang dapat menghambat perdagangan, misalnya dengan adanya
bea, tarif, atau quota barang [Link] itu, kesulitan lainnya timbul karena
adanya perbedaan budaya, bahasa, mata uang, taksiran dan timbangan, dan
hukum dalam perdagangan, oleh karena itu di dalam kegiatan perdagangan luar
negeri memerlukan tahapan – tahapan yang sesuai dengan peraturan yang ada,
tahapan tersebut meliputi :
1. Pernyataan minat indentor. Secara umum sukar dikatakan siapa seharusnya
yang mengambil inisiatif, apakah penjual harus menghubungi pembeli atau
sebaliknya. Dalam hal ini penjual memperkenalkan produk yang di jual
kepada calon pembeli. Apabila telah terjadi kesepakatan maka akan
diturunkan Purchase Order.
2. Mencari informasi sumber barang. Apabila komoditi yang diinginkan sudah
diketahui, selanjutnya menghubungi supplier.
3. Permintaan harga para supplier . Bila nama dan alamat penyuplai sudah
diperoleh, selanjutnya tinggal mengadakan kontak dengan mereka untuk
menyampaikan permintaan harga.
4. Penawaran harga dari supplier. Setelah eksportir menerima permintaan
harga dari importir, biasanya eksportir menerima permintaan dengan
mengirimkan penawaran atau Offer sheet.
28
[Link] [Link]
5. Tempat penyerahan barang. Pada saat menentukan harga transaksi,
disamping syarat penyerahan barang, harus dijelaskan pula nama tempat
dimana penyerahan itu akan dilakukan secara fisik. Hal ini penting untuk
mengetahui batas tanggungjawab masing-masing pihak baik penjual maupun
pembeli.
6. Penyerahan biaya. Syarat penyerahan biaya seperti FOB dan CFR
mencerminkan kewajiban-kewajiban pokok yang menjadi tanggungjawab
penjual.
7. Penetapan pemesanan dan sistem penyerahan barang (terms) . Setelah
importir menerima penawaran dari penyuplai, ia berkewajiban mempelajari
tiap-tiap penawaran itu dengan seksama baik mengenai mutu, harga, waktu
dan system penyerahan barang , serta syarat pembayaran yang diajukan oleh
supplier.
8. Kontrak impor. Surat pesanan diisi oleh improtir dan di alamatkan kepada
eksportir. Surat pesanan itu harus diisi sesuai dengan keterangan dan data
yang terdapat dalam surat penawaran yang dikirim oleh eksportir
sebelumnya.
9. Pembukaan L/C Sebagai pelaksanaan dari suatu sales-contract, pihak
importir berkewajiban menyediakan dana untuk melunasi barang yang
dipesan dan dalam bentuk yang disepakati.
10. Persiapan pengeksporan. Setelah menerima surat pesanan, sales contract dan
L/C dari importir , tiba giliran eksportir untuk melaksanakan kewajiban
pokoknya, yaitu Melakukan pengapalan yang dipesan, menyiapkan
29
[Link] [Link]
shipping-document, dan menegosiasi dokumen pengapalan dengan pihak
bank.
11. Pengapalan Eksportir menyerahkan barang-barang itu kepada forwading
agent atau langsung kepada maskapai penerbangan untuk dikirim
selanjutnya ke pelabuhan sesuai tujuan.
12. Negosiasi dokumen. Setelah barang dikapalkan dan eksportir telah
menerima konsumendari maskapai pelayaran, selanjutnya eksportir
mengurus penerimaan pembayaran dari bank yang dikuasakan importir
untuk menguangkan dokumen pengapalan.
13. Penerusan Dokumen olehadvising bank kepada opening bank dalam dua
tahap pengiriman.
14. Pengeluaran Barang. Setelah opening bank menerima dokumen pengapalan
dari bank korespondennya, opening bank menyelesaikan pergitungannya
dengan importer. Setelah itu, opening bank menyerahkan dokumen
pengapalan itu kepada importir untuk dipergunakan selanjutnya dalam
penyelesaian dengan beas-masuk dan cukai dlam penyerahan barang dari
maskapai pelayaran.
15. Penyerahan barang. Setelah barang dibebaskan dari wilayah pabean, barang
sudah boleh diangkut ke gudang importir.
30
[Link] [Link]
Gambar 2.5
Bagan Prosedur Ekspor
B I
IMPORTIR (4) ISSUING
BANK
C 3 H
A
PRODUSEN 142 ADVISING
EKSPORTIR 4-10 BANK
12 1 13
7
(D) PELAYARAN
6
(E) INSTANSI EKSPOR
9
(F) ASURANSI
11
(G) KEDUTAAN ASING
Sumber : Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri, Amir M.S
Keterangan:
1. Eksportir menerima pesanan (order) dari buyer luar negeri (B – A)
2. Bank memberitahukan bahwa L/C telah dibuka untuk dan atas nama
eksportir (H – A)
3. Eksportir menempatkan pesanan pada pemilik barang / produsen (A – C)
31
[Link] [Link]
4. Eksportir melakukan pengepakan barang untuk di ekspor (A)
5. Eksportir memesan ruang kapal (booking) dan mengeluarkan shipping
order pada maskapai pelayaran (A – D)
6. Eksportir menyelesaikan semua formulir ekspor pada instansi ekspor yang
telah ditentukan (A – E)
7. Barang dimuat ke atas kapal melalui EMKL (A – D)
8. Pengurusan Bill of Lading ( B/L ) oleh eksportir (A – D)
9. Jika eksportir mengunakan asuransi sebagai jaminan keamanan dalam
melakukan kegiatan ekspor, maka ekspor melakukan penutupan asuransi
dengan maskapai pelayaran (A – D)
10. Persiapan dokumen ekspor lain oleh eksportir (A)
11. Eksportir mengurus consular-invoice di kedutaan asing (A – G)
12. Eksportir mealakukan penarikan wesel di Opening Bank (A – H)
13. Pengiriman Shipping Document dari Negotiating Bank kepada importir
14. Pengiriman Shipping-advice beserta copy shiping-advice document
F. Macam-macam Cara Ekspor
1. Ekspor Tidak Langsung
Perusahaan menjadi pengekspor tidak langsung bila menjual
produknya di pasar luar negeri seperti menjualnya di dalam
[Link] tidak perlu memiliki keahlian khusus maupun investasi
besar, tentunya juga dengan keterbatasan wewenang untuk memilih pasar
dan menentukan strategi pemasarannya. Untuk melakukan ekspor tidak
langsung ada beberapa cara yang dapat dilakukan, seperti: perusahaan
dagang (Multinational Corporations/MNCs), perusahaan manajemen
32
[Link] [Link]
ekspor (Export Management Company/EMC), dan kerjasama dalam
ekspor.
Perusahaan yang ingin melakukan ekspor namun tidak memiliki
kantor cabang/perwakilan di negaratujuan, maka perusahaan tersebut dapat
menghubungi perwakilan dagang asing atau perusahaan ekspor yang ada
di negaratujuan. Selanjutnya perusahaan ekspor tersebut akan melakukan
negosiasi dengan para pembeli (buyers) yang dalam hal ini importir di luar
negeri atas nama perusahaan pemilik barang, atau dapat juga dilakukan
dengan cara membonceng perusahaan atau agen yang telah terkenal dan
terbiasa melakukan ekspor.
2. Ekspor Langsung
Berbeda dengan ekspor tidak langsung, dalam ekspor langsung
perusahaan melakukan sendiri semua tugas ekspor meliputi kontrak pasar,
penelitian pasar, distribusi produk, dokumentasi ekspor, penetapan harga,
dan sebagainya dengan membentuk bagian ekspor dalam organisasi
[Link] langsung mempunyai berbagai keuntungan, terutama
volume penjualan yang lebih [Link] lainnya adalah
pengendalian besar, informasi pasar yang lebih baik dan pengembangan
keterampilan pemasaran internasional dalam perusahaan. Bentuk – bentuk
yang digunakan dalam ekspor langsung anatra lain melalui distribusi luar
negeri, agen luar negeri, dan mendirikan anak perusahaan pemasaran di
luar negeri.
33
[Link] [Link]
3. Investasi Langsung Luar Negeri (Foreign Direct Investment)
Foreign Direct Investment(FDI) dilakukan oleh perusahaan dengan
model penanaman modal satu perusahaan di negara teretentu untuk
perusahaan lain di negara berbeda dalam kurun waktu jangka panjang.
Dengan cara ini perusahaan yang ada di negara asal (home country) bisa
mengendalikan perusahaan yang ada di negara tujuan investasi (host
country) baik sebagian atau seluruhnya.
Salah satu aspek penting dari FDI adalah bahwa pemodal bisa
mengontrol dan mempunyai pengaruh penting manajemen dan produksi
dari peursahaan di luar [Link] juga mempunyai komitmen jangka
[Link] karena itu FDI dianggap memiliki nilai tinggi bagi sebuah
negara dibandingkan investasi jenis lainyang dapat ditarik begitu saja.
4. Konsinyasi(Cosigment)
Konsinyasi (Consigment) adalah pengiriman barang ekspor kepada
importir di luar negeri dengan prinsip bahwa barang/produk dikirim oleh
eksportir sebagai titipan untuk dijual oleh importir. Dengan demikian
importir tersebut akan bertindak sebagai agen dari eksportir, sedangkan
harga ditetapkan oleh eksportir yang bersangkutan. Di negara-negarayang
mempunyai pelabuhan bebas atau zona perdagangan bebas, hal ini dapat
diatur dengan menaruh barang dagangan di bawahpengawasan gudang
kawasan berikat (bonded warehouses) dengan nama bank asing. Penjualan
kemudian dapat diatur dengan agen penjualan dan barang konsinyasi dapat
dikeluarkan sedikit demi sedikit dengan pembayaran [Link]
34
[Link] [Link]
dagangan tersebut tidak dimintakan izin melewati pabean sampai
penjualan selesai.
5. Lisensi
Suatu perusahaan dapat melakukan terobosan ke pasar ekspor
dengan menjual lisensi kepada perusahaan asing tanpa harus melakukan
investasi di negaratujuan [Link] atau memberikan lisensi
merupakan alternatif strategi akses pasar (memasuki suatu negara) dan
perluasan dengan daya tarik yang cukup besar.
6. Barter
Barter adalah pengiriman barang – barang ke luar negeri untuk
ditukarkan langsung dengan barang yang dibutuhkan dalam negeri. Dalam
hal ini berarti pengiriman barang tidak menerima pembayaran dalam
bentuk mata uang asing, tetapi dalam bentuk barang yang dapat dijual di
dalam negeri untuk mendapatkan kembali dalam mata uang rupiah.
7. Package – Deal
Pada prinsipnya sama dengan barter, perusahaan disuatu negara
melakukan ekspor ke negara lain untuk ditukar dengan beberapa jenis
barang yang dibutuhkan. Akan tetapi harus mendapatkan izin perdgangan
dari pemerintah (Trade Agreement).
G. Para Pelaksana Perdagangan Internasional
Pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan perdagangan internasional
dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok, antara lain :
35
[Link] [Link]
1. Kelompok Eksportir
a. Produsen/Eksportir
Produsen merupakan penghasil produk dimana sebagian besar hasil
produksinya dipeeruntukkan bagi pasar luar negeri.
b. Confirming-House
Confirming-House merupakan perusahaan local yang didirikan
sesuai dengan perundang-undangan dan hukum disuatu negaratetapi
bekerja untuk dan atas perintah kantor induknya yang berada diluar
negeri.
c. Exsport-Merchat
Dalam hal ini, exsport-merchant juga biasa disebut sebagai
pedangang ekspor. Badan ini diberi ijin oleh pemerintah dalam bentuk
Surat Pengakuan Eksportir (SPE) dan diberi Kartu Angka Pengenal
Ekspor (APE) dan diperkenankan melaksanakan ekspor komoditi yang
tertera pada surat tersebut.
d. Wisma Dagang (Trading House)
Wisma dagang merupakan suatu bentuk status bagi perusahaan
yang telah mampu melakukan ekspor berbagai macam komoditi dan
mempunyai jaringan pemasaran dan kantor perwakilan dipusat-pusat
dagang dunia, serta memperoleh fasilitas tertentu dari pemerintah.
2. Importir (Buyer)
Importir adalah orang/perusahaan yang melakukan penerimaan suatu
komoditas dari suatu negarasecara legal dalam proses perdagangan.
36
[Link] [Link]
Prosesnya disebut juga dengan impor, umumnya adalah tindakan
memasukan barang atau komoditas dari negaralain ke dalam negeri.
3. Kelompok Identor
Para identor umumnya terdiri atas :
a. Para pemakai langsung
b. Pedagang
c. Instansi Pemerintah
4. Kelompok Promosi
Kelompok promosi ini terd iri dari berbagai bagian, antara lain :
a. Kantor perwakilan dari produsen / eksportie asing di Negarakonsumen /
importir/buyer.
b. Kantor Perwakilan Kamar Dagang dan Industri dalam dan luar negeri
c. Misi perdagangan dan pameran dagang internasional (Trade fair)
d. Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN)
e. Kantor Bank Devisa (DN / LN)
f. Atase perdagangan di tiap-tiap kedutaan di luar negeri
5. Kelompok Pendukung
a. Badan Usaha Transportasi dan Muatan
1) Freight Forwading
Badan usaha transportasi/Freight Forwading merupakan
lembaga yang bergerak dibidang pengangkutan ekspor baik melalui
darat, laut, maupun udara dan memiliki tugas melakukan muatan,
penyelenggaraan pengepakan sampai dengan pembukuan terhadap
muatan yang diperdagangkan.
37
[Link] [Link]
Tugas Freight Forwading :
a) Pengurusan prosedur dan formalitas dokumentasi yang
dipersyaratkan oleh adanya peraturan – peraturan pemerintah
negaraekspor, negaratransit dan negaraimpor.
b) Melengkapi dokumen – dokumen yang berkaitan dengan L/C,
Certificate of Receipt, Bill of Lading(B/L, Sea Way Bill, House of
Bill of Lading, Delivery Order (D/O), dan sebagainya.
c) Menyelesaikan biaya –biaya yang timbul sebagai akibat dari
kegiatan – kegiatan transportasi, penanganan muatan di
pelabuahan maupun gudang, pengurusan dokumentasi dan juga
mencakup Insurance Liabilitas yang umumnya diperlukan oleh
pemilik barang.
2) Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL)
Ekspedisi Muatan Kapal Laut (EMKL) adalah usaha
pengurusan dokumen dan muatan yang akan diangkut melalui kapal
atau pengurusan dokumen dari muatan yang berasal dari kapal.
b. Bank Devisa
Bank Devisa merupakan pihak yang memberikan jasa perkreditan
dan pembiayaan, baik dalam bentuk kredit ekspor maupun sebagai uang
muka jaminan L/C. Selain itu lembaga ini juga memiliki peran dalam
pembukaan L/C, penerimaan L/C, penyampaian dokumen-dokumen, dan
negosiasi dokumen.
38
[Link] [Link]
c. Maskapai Pelayaran
Maskapai pelayaran merupakan bagian terpenting dalam
pengangkutan barang atau muatan hingga sampai ke negaratujuan.
d. Surveyor
Surveyor merupakan lembaga yang bertugas melakukan
pemeriksaan terhadap kualitas, cara pengepakan, keabsahan dokumen-
dokumen bagi barang-barang yang akan di ekspor/impor, di Indonesia
perusahaan yang ditunjuk sebagai juru periksa adalah PT. Sucofindo.
e. Pabean
Pabean merupakan lembaga pemerintah yang bertindak sebagai
pengaman lalu lintas barang serta dokumen yang masuk ke wilayah
[Link] Daerah Pabean merupakan wilayah darat, laut,
maupun udara yang ada di Indonesia serta merupakan Zona Ekonomi
Eksklusif yang di dalamnya berlaku Undang – undang kepabeanan.
Barang – barang yang memasuki daerah pabean akan dikenai tarif bea
masuk dan wajib melunasi kewajiban pabeannya.
39