0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan24 halaman

Program Arabic Club untuk Maharah Kalam

Proposal skripsi ini membahas implementasi program Arabic Club untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab siswa. Arabic Club adalah ekstrakurikuler yang bertujuan melatih keempat keterampilan bahasa Arab, terutama berbicara, melalui lingkungan belajar formal. Lingkungan ini diharapkan dapat memotivasi siswa berlatih berbahasa Arab secara terus-menerus.

Diunggah oleh

stefiap10
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
91 tayangan24 halaman

Program Arabic Club untuk Maharah Kalam

Proposal skripsi ini membahas implementasi program Arabic Club untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Arab siswa. Arabic Club adalah ekstrakurikuler yang bertujuan melatih keempat keterampilan bahasa Arab, terutama berbicara, melalui lingkungan belajar formal. Lingkungan ini diharapkan dapat memotivasi siswa berlatih berbahasa Arab secara terus-menerus.

Diunggah oleh

stefiap10
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

IMPLEMENTASI PROGRAM ARABIC CLUB UNTUK

MENINGKATKAN KEMAMPUAN MAHARAH KALAM TERHADAP


MURID ANGGOTA ARABIC CLUB SMA AL-ISLAM 1 SURAKARTA
TAHUN 2022

PROPOSAL SKRIPSI

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah

Universitas Islam Negeri Raden Mas Said Surakarta

Untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan Menyusun Skripsi

Oleh

Nama : Stefi Aulia Putri

Nim : 183121013

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA ARAB

FAKULTAS ILMU TARBIYAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA

2022
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Bahasa adalah suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan sehari-
hari masyarakat. Sebagai suatu alat komunikasi agar mampu beriteraksi
sesama manusia. Tanpa bahasa, kita tidak akan bisa memahami dan mengerti
tentang apa yang dimaksud atau diinginkan orang lain. Menurut
(Noermanzah, 2019) menjelaskan bahwa yang dinamakan dengan bahasa
yaitu alat komunikasi yang bermakna bahwa bahasa itu merupakan sebuah
deretan bunyi yang bersistem, berbentuk lambang, bersifat universal,
bervariasi, manusiawi, konfensional, unik, dan alat interaksi sosial yang
menggantikan antar inidividu dalam menyampaikan sesuatu kepada lawan
bicaranya sebagai alat untuk berkomunikasi. Sehingga dalam proses
pengucapan sebuah bahasa, kita harus bisa mengucapkannya sesuai dengan
aturan struktur bahasa tersebut, karena apabila tidak sesuai maka akan sulit
dipahami oleh lawan tutur bicara kita. Bahasa akan mudah dipahami apabila
sesuai dengan standar yang telah disepakati oleh suatu daerah pemilik bahasa
tersebut (Haryanti, 2019).

Dunia ini terdapat banyak sekali bahasa, dan bahasa Arab menjadi
salah satu bahasa internasional yang digunakan sebagai bahasa pertama di 22
Negara Arab di wilayah Timur Tengah, serta menjadi bahasa internasioal
kedua setelah bahasa Inggris berada di kedudukan pertama (Kosim, 2021).
Itulah mengapa banyak orang yang kemudian tertarik dalam dunia bahasa
Arab. Bahasa Arab adalah bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an dan
Hadits, juga sebagai bahasa ilmu pengetahuan literatur keislaman, serta
merupakan bahasa ibadah bagi umat Islam seluruh dunia. Oleh karena itu,
apabila kita tidak memahami bahsa Arab secara mendalam, maka akan sulit
bagi kita untuk bisa memaknai buku atau kitab berbahasa Arab dengan benar.
Pendidikan adalah suatu usaha yang dilakukan dalam wujud suasana
pembelajaran dengan tujuan pesertanya mampu mengembangkan potensi
yang ada dalam dirinya agar dapat memiliki kecerdasan dan keahlian pada
suatu bidang tertentu (Abd Rahman, 2022).. Indonesia sendiri telah mengatur
pendidikan ini dalam Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 tertuliskan
sebagai berikut :
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan
negara.”
Mempelajari bahasa adalah salah satu dari bidang pengetahuan yang
disampaikan didalam pendidikan. Tidak hanya bahasa kita yaitu Bahasa
Indonesia saja yang harus dipelajari, bahasa asing pun juga sekarang telah
masuk kedalam kurikulum di sekolah-sekolah sehingga menjadi pengetahuan
umum peserta didik. Tidak akan ada ruginya belajar bahasa Arab karena itu
merupakan bahasa kitab suci umat Muslim yaitu Al-Qur’an sehingga akan
mendatangkan banyak sekali manfaat bila mempelajarinya dengan sungguh-
sungguh. Al-Khuli dalam (Kosim, 2021) juga menyampaikan bahwa
pentingnya bahasa Arab bagi umat Muslim diantaranya sebagai bahasa Al-
Qur’an, Al-Hadits, dan sebagai bahasa yang digunakan pada ibadah shalat.
Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat luar biasa dimana memiliki
banyak sekali kosa kata yang hampir mirip bentuk tulisannya hanya berbeda
satu huruf saja maka arti yang dikandung pun berbeda. Cara pengucapaan
harokat yang berubah pun juga dapat mempengaruhi makna dalam kalimat
tersebut. Bahasa Arab ini memiliki empat (4) ketrampilan atau yang didalam
bahasa Arab dinamakan dengan maharoh. Maharoh tersebut dibagi menjadi 4
macam yaitu, maharoh istima (ketrampilan mendengar), maharoh qiroah
(ketrampilan membaca), maharoh kitabah (ketrampilan menulis), dan yang
terakhir yaitu maharoh kalam (ketrampilan berbicara). Dalam Kamus Besar
Bahasa Indonesia disampaikan bahwa pengertian ketrampilan yaitu
kecakapan dalam menyelesaikan tugas, mampu, dan cekatan (KBBI, 2020).
Menurut bahasa, ketrampilan berasal dari kata terampil yang berarti mampu
bertindak secara cepat dan tepat (Nasihudin, 2021). Seseorang yang dapat
melakukan sesuatu dengan mudah maka bisa jadi ia memiliki ketrampilan
pada bidang tersebut. Dapat ditarik kesimpulan bahwa yang dimaksud
dengan ketrampilan adalah apabila seseorang mampu melakukan suatu
tindakan dengan proses yang cepat dan tepat.
Maharoh atau ketrampilan bahasa Arab terbagi menjadi empat (4)
jenis yaitu yang pertama adalah maharoh istima (ketrampilan mendengar),
Maharoh istima adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dalam
memproses kata dan kalimat yang diucapkan oleh seseorang secara langsung
maupun tidak langsung / melalui media (Hamidah, 2022). Kedua yaitu
maharoh qiroah atau ketrampilan membaca, yaitu kemampuan yang dimliki
seseorang dalam memahami teks bahasa Arab sesuai dengan struktur katanya.
Menurut (Siti Fatimah, 2019) menyatakan bahwa proses seseorang dalam
memahami tulisan berbahasa Arab dan menafsirkan bacaan melalui simbol-
simbol yang terkandung didalamnya. Ketiga adalah maharoh kitabah atau
ketrampilan menulis, yaitu kemampuan seseorang dalam menuangkan ide dan
pikirannya kedalam sebuah tulisan dengan mengkoordinasikan ragam tulisan
Arab beserta kaidah penulisannya (Munawarah, 2022). Sehingga kemampuan
menulis ini adalah kemampuan yang kompleks karena seseorang harus
terlebih dahulu memahami kosa kata bahasa Arab dan juga aturan dalam
kepenulisannya.
Maharoh kalam adalah ketrampilan terakhir sekaligus yang akan
menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini. Maharoh kalam
(ketrampilan berbicara) adalah kemampaun untuk menuturkan bunyi berupa
kata-kata untuk mengungkapkan ide, pikiran, perasaan, maupun pendapat
kepada lawan bicara (Andi Saputra, 2019). Maharoh kalam atau ketrampilan
berbicara ini menjadi ketrampilan yang paling penting dalam pembelajaran
bahasa Arab ini karena inilah yang menjadi tujuan pembelajaran bahasa Arab
yaitu peserta didik mampu menggunakan bahasa Arab. Hal itu sesuai seperti
yang disampaikan oleh (Taubah, 2019) bahwa ketrampilan berbicara ini
penting sebagai ketrampilan dasar dalam mempelajari sebuah bahasa asing.
Menurut Abd Rahman Ibrahim Fauzan dalam (Hady, 2019) ia menyampaikan
bahwa apabila ketrampilan berbicara dalam pembelajaran bahasa Arab
dijadikan sebagai kemampuan dasar dalam berbahasa Arab maka kemampuan
untuk berkomunikasi menggunakan bahasa Arab adalah tujuan utama dalam
pembelajaran kalam bahasa Arab.
Proses belajar kalam bahasa Arab tersebut didapatkan bahwa
lingkungan menjadi salah satu aspek terpenting sebab lingkunganlah yang
memiliki pengaruh besar terhadap kemampuan berbahasa seseorang, karena
dari lingkungan tersebut seseorang saling berkomunikasi dengan
mempraktekkan kemampuan bahasa mereka. Lingkungan dapat
mempengaruhi kebiasaan seseorang, dan kebiasaan berbahasa inilah yang
diperlukan oleh seorang pembelajar. Belajar bahasa ini bisa berhasil melalui
proses kebiasaan, maka seseorang dituntut untuk sadar dan mengupayakan
dengan seluruh kemampuannya terhadap kebiasaan tersebut (Samal, 2020).
Pada hakikatnya, lingkungan merupakan sumber belajar yang bersifat alami,
seseorang dapat mengetahui dan mempelajari tentang berbagai hal melalui
lingkungan (Ahmad Muzammil, 2021).

Lingkungan bahasa berarti kondisi yang sengaja diciptakan sebagai


fasilitas untuk seorang pembelajar bahasa bisa saling mempengaruhi satu
sama lain dalam proses pembelajaran bahasa yang sedang dipelajari (Juhan
Raya, 2020). Lingkungan berbahasa ini dibagi menjadi dua yaitu formal dan
nonformal (Juhan Raya, 2020). Lingkungan bahasa nonformal berarti
lingkungan ini bisa terbentuk sendiri melalui kegiatan-kegiatan yang
didalamnya terdapat perbicangan mengenai suatu bahasa tertentu atau
terbentuk tidak secara resmi. Lingkungan bahasa yang kedua adalah
lingkungan bahasa formal, ini bisa diciptakan melalui sebuah program yang
dibentuk oleh sebuah lembaga untuk menyatukan orang-orang yang memiliki
minat dan tujuan yang sama dalam mempelajari bahasa. Seperti program
ekstrakurikuler di sekolah yang memfokuskan pada pembelajaran bahasa
tertentu seperti Arabic Club. Ekstrakurikuler adalah sarana pengembangan
individu peserta didik yang diadakan diluar jam pelajaran sekolah berupa
berbagai aktivitas yang berkaitan langsung dengan kurikulum maupun tidak
langsung (Kamra, 2019). Kegiatan ekstrakurikuler ini dijadikan peserta didik
dalam mengambangkan minat dan bakatnya baik pada bidang akademik
maupun non akademik. Setiap sekolah memliki estrakurikuler yang berbeda-
beda tergantung dengan sarana dan prasarana yang dimlikinya disekolah. Di
SMA Al-Islam 1 Surakarta misalnya, berdasarkan data yang dilihat dari
website resmi sekolah, SMA Al-Islam 1 Surakarta ini memiliki total 23
kegiatan ekstrakurikuler.

Program Arabic Club adalah salah satu program ekstrakurikuler yang


diadakan untuk para peserta didik yang ingin memperdalam kemampuan
mereka dalam bidang Bahasa Arab. Peserta ekstrakurikuler Arabic Club ini
terdapat sebanyak 20 siswa total keseluruhan siswa 1.094 anak. Sehingga
hanya sekitar 1,8 % saja anak yang tergabung dalam ekstrakurikuler Arabic
Club ini, sisanya tergabung dalam 22 ekstrakurikuler lainnya.

Proses belajar suatu bahasa harus ada pembiasaan yang menuntut si


pembelajar untuk terus terbiasa mengggunakan bahasa tersebut. Layaknya
anak kecil yang sedang berlatih untuk berbicara, maka ia akan terus didorong
untuk mengucapkan kata dan kemudian menjadi kalimat sederhana hingga
akhirnya setelah terbiasa ia pun bisa mengucapkan secara lancar dan fasih.
Sama halnya dengan mempelajari bahasa asing, harus sering diucapkan
hingga kita terbiasa dan hafal dengan pengucapan tersebut. Semakin sering
kita mengucapkan kata tersebut maka semakin hafal pula kita terhadap kata-
kata tersebut. (Ahmad Muzammil, 2021) mengatakan bahwa proses
pemrolehan bahasa adalah proses pembiasaan.

Bahasa Arab tak jarang dianggap sebagai pelajaran yang sulit. Selain
struktur kata yang berbeda dari bahasa Indonesia, bahasa Arab dianggap sulit
karena pengucapan hurufnya pun berbeda. Bahasa Arab memiliki huruf yang
berbeda dari negara lainnya yaitu huruf hijaiyah. Tentunya huruf tersebut
memiliki penulisan dan pengucapan yang berbeda. Sehingga hal tersebut
yang menjadikan bahasa Arab dianggap sulit oleh sebagian orang. Sama
halnya seperti di SMA Al-Islam 1 Surakarta, bahasa Arab menjadi salah satu
mata pelajaran yang diajarkan setiap satu pekan sekali, sehingga jam
pelajaran yang begitu sedikit tersebut menjadikan siswa merasa kurang
terhadap materi yang didapatkannya. Menurut bapak Fuad selaku Pembina
sekaligus pengajar di ekstrakurikuler Arabic Club ini mengatakan bahwa,
program ekstrakurikuler ini sangat penting bagi pengembangan kemampuan
bahasa Arab siswa seperti berpidato, MC, puisi, dan lain-lain yang tidak
didapatkan pada pelajaran bahasa Arab didalam kelas. Atas dasar tersebut
maka SMA Al-Islam 1 Surakarta membuat satu wadah bagi siswa yang ingin
memperdalam bahasa Arab kedalam satu program ekstrakurikuler yang diberi
nama “Arabic Club”. Arabic Club ini bersifat tidak wajib, atau hanya siswa
yang memang memiliki minat dan bakat pada bidang bahasa Arab saja yang
bergabung dalam program ekstrakurikuler tersebut.

Pengajaran maharoh kalam dalam ekstrakurikuler Arabic Club ini


menggunakan metode “khiwar” atau dialog. Metode adalah suatu alat yang
digunakan dalam menyampaikan materi pembelajaran kepada peserta didik
agar lebih mampu dipahami secara mudah sehingga kualitas pembelajaran
akan menjadi semakin baik (Sueni, 2019). Sehingga yang dimaksud dengan
metode ialah cara agar peserta didik mampu memahami pembelajaran yang
sedang diajarkan. Sedangkan pengertian metode khiwar yakni metode yang
dilakukan dengan cara berdialog secara bergantian antara dua orang atau
lebih melalui proses tanya jawab tentang suatu topik tertentu (Rosyidin,
2019). Melalui metode tersebut, pengajar Arabic Club menerapkannya pada
setiap pembelajaran kalam. Tujuannya adalah agar peserta didik memiliki
keberanian dan kemauan untuk mengungkapkan atau berbicara menggunakan
bahasa Arab.
Berdasarkan latar belakang yang telah disampaikan diatas, maka
peneliti ingin mengkaji lebih dalam lagi terkait program “Arabic Club” yang
dibuat untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab siswa-siswi SMA
Al-Islam 1 Surakarta dengan menjadikan topik dalam penelitian skripsi yang
berjudul : “Implementasi Program Arabic Club untuk Meningkatkan
Kemampuan Maharah Kalam Terhadap Murid Anggota Arabic Club
SMA Al-Islam 1 Surakarta Tahun 2022”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di paparkan diatas, maka
masalah yang dapat diidentifikasikan adalah sebagai berikut.
1. Hanya 1,8% siswa yang tergabung dalam ekstrakurikuler Arabic
Club.
2. Tidak semua siswa memiliki kemampuan pada ketrampilan berbicara
atau kalam bahasa Arab.
3. Belum ada pembiasaan bahasa Arab / bi’ah lughawiyyah dalam
lingkungan sekolah.
4. Penggunaan metode khiwar dalam pembelajaran kalam pada
ekstrakurikuler Arabic Club.

C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijelaskan di atas, maka
peneliti membatasi masalah hanya fokus pada bagaimana proses
pembelajaran yang dilakukan di program Arabic Club untuk
mengimplementasikan program Arabic Club dalam meningkatkan
kemampuan maharah kalam siswa.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang yang telah peneliti paparkan diatas,
maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan pada
ekstrakurikuler Arabic Club di SMA Al-Islam 1 Surakarta?
2. Bagaimana penerapan metode khiwar yang diterapkan dalam
pembelajaran maharah kalam di ekstrakurikuler Arabic Club SMA
Al-Islam 1 Surakarta?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahn yang telah peneliti uraikan diatas, maka
penelitian ini bertujuan untuk sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui proses pembelajaran yang dilaksanakan pada
program Arabic Club di SMA Al-Islam 1 Surakarta
2. Untuk mengetahui kemampuan maharah kalam yang dilaksanakan
pada program Arabic Club di SMA Al-Islam 1 Surakarta.

F. Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka penelitian
ini diharapkan mempunyai manfaat dalam pendidikan, baik secara langsung
maupun tidak langsung. Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut.
1. Manfaat teoritis
Secara teoritis hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai
berikut.
a. Memberikan sumbangan ilmiah dalam ilmu penelitian terkait
pengadaan program khusus untuk memperdalam kemampuan
berbahasa.
b. Sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan
program pembelajaran.
2. Manfaat Praktis
Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut.
a. Menambah wawasan, pengetahuan, serta pengalaman ecara langsung
bagi penulis.
b. Diharapkan bisa menjadi sumbangan pemikiran dan menambah
wawasan bagi pembaca terkait dengan pembelajaran bahasa arab.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Kajian Teori
1. Tinjauan tentang Implementasi
Implementasi merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa
Inggris yaitu to implement yang berarti mengimplementasikan. Dalam
Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) implementasi diartikan sebagai
pelaksanaan atau perencanaan. Menurut (Tachjan, 2006) dalam bukunya
yang berjudul “Implementasi Kebijakan Publik” menyebutkan bahwa
implementasi adalah sebuah upaya yang dilakukan untuk mewujudkan
suatu kebijakan atau keputusan yang telah disepakati bersama dan
ditetapkan sejak sebelumnya. Pendapat lain menyebutkan bahwa
implementasi adalah aktivitas atau kegiatan yang telah direncanakan dan
dilakukan dengan sungguh-sungguh berdasarkan arahan yang telah
ditentukan untuk mencapai sebuah tujuan (Ardina Prafitasari, 2016).
Pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa implementasi
merupakan sebuah tindakan yang harus dilakukan mengikuti tata tauran
yang telah disepakati bersama untuk mencapai suatu tujuan yang
diharapkan. Lebih singkatnya, implementasi adalah melaksanakan sesuatu
untuk mencapai suatu tujuan. Sehingga implementasi dapat dikatakan
berhasil apabila mampu mencapai suatu tujuan tersebut.

2. Konsep Maharah Kalam


Maharoh kalam (ketrampilan berbicara) adalah kemampaun untuk
menuturkan bunyi berupa kata-kata untuk mengungkapkan ide, pikiran,
perasaan, maupun pendapat kepada lawan bicara (Andi Saputra, 2019).
Maharah kalam adalah satu dari empat pilar penting maharah
(ketrampilan) yang harus dicapai dalam kompetensi pembelajaran bahasa
arab. Maharah lainnya yaitu maharah qiro’ah (membaca), istima’
(mendengarkan), kitabah (menulis). Maharoh istima adalah kemampuan
yang dimiliki oleh seseorang dalam memproses kata dan kalimat yang
diucapkan oleh seseorang secara langsung maupun tidak langsung /
melalui media (Hamidah, 2022). Selanjutnya maharoh qiroah yaitu
bahwa proses seseorang dalam memahami tulisan berbahasa Arab dan
menafsirkan bacaan melalui simbol-simbol yang terkandung didalamnya
(Siti Fatimah, 2019). Kemudian maharoh kitabah yaitu kemampuan
seseorang dalam menuangkan ide dan pikirannya kedalam sebuah tulisan
dengan mengkoordinasikan ragam tulisan Arab beserta kaidah
penulisannya (Munawarah, 2022).
Maharah kalam yaitu ketrampilan berbicara dalam bahasa Arab.
Ketrampilan tersebut berupa kemampuan seseorang dalam membentuk
atau menyusun kata-kata dalam bahasa arab menjadi sebuah kalimat yang
baik dan sesuai dengan tata bahasa, yang kemudian bisa digunakan untuk
menyampaikan ide atau gagasan mengenai suatu hal. Sehingga maharah
kalam ini bisa dikatakan sebagai tujuan akhir dalam pembelajaran bahasa
Arab. Bisa atau tidaknya seseorang dalam menguasai maharah kalam ini
menentukan tercapai atau tidaknya keberhasilan dalam mempelajari
bahasa Arab. Kemampuan kalam/berbicara adalah ekspresi seseorang
dalam menyampaikan apa yang ada dalam pemikirannya melalui media
alat ucap yang dimiliki oleh seseorang (Hady, 2019). Pengertian kalam

juga disampaikan dalam Kitab Al-Jurumiyah “‫الكالم ه و اللف ظ املركب املفي د‬

‫( ”بالوضع‬Ajurrum, 2018), yang artinya yaitu kalam adalah bentuk lafadz


yang tersusun dan memiliki makna yang berfaedah (memiliki pengertian
yang sempurna). Jadi, dapat disimpulkan bahwa maharah kalam atau
ketrampilan berbicara adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk
bisa berkomunikasi secara lancar menggunakan bahasa Arab atau sekedar
mengungkapkan ide/gagasan pikirannya menggunakan bahasa Arab
dengan baik dan benar.
Ketrampilan berbicara seseorang tidak bisa begitu saja mahir dalam
berbicara, melainkan setelah melalui tahap pembelajaran dan pembiasaan.
Belajar bahasa yang paling mudah adalah menjadikannya kebiasaan
dalam keseharian kita, hingga kita merasakan sendiri terbiasa
mengucapkan bahasa tersebut. Belajar bahasa namun enggan
mempraktikkannya maka yang ada hanyalah ilmu yang kita miliki akan
mudah menghilang dalam ingatan.
‫الهدف من تعلم اللغة العربية هو أن يتمكن الطالب من نطق اللغة العربية بطالقة وصحيحة‬
‫ة‬ccc‫ة العربي‬ccc‫دث باللغ‬ccc‫درة على التح‬ccc‫ زادت الق‬، ‫ة‬ccc‫ردات المحفوظ‬ccc‫دد المف‬ccc‫ا زاد ع‬ccc‫ بحيث كلم‬،
(Wurandhani, 2022).
Maharah ini dianggap sebagai maharah yang paling sulit
dibandingkan dengan yang lainnya. Karena untuk bisa menguasai
ketrampilan ini seseorang harus lebih dulu mempelajari tentang struktur
penyusunan kalimat bahasa arab dan memiliki pengetahuan kosa kata
bahasa arab yang luas. Menurut (Hady, 2019) ia mengungkapkan bahwa
ketrampilan berbicara ini harus lebih dulu didasari dengan beberapa
kemampuan diantaranya kemampuan mendengarkan, kemampuan
mengucapkan, dan penguasaan kosa kata berupa ungkapan-ungkapan
yang telah bisa dipahami oleh peserta didik terkait penggunaan dan
maksud dari ungkapan tersebut.
Sedangkan disisi lain, berdasarkan hasil observasi dan pengalaman
selama mengajar di sekolah adalah keberanian peserta didik dalam
mengucapkan kosa kata juga menjadi salah satu penghambat dalam
keberhasilan seseorang dalam mencapai ketrampilan bahasa Arab yang
sempurna. Selain pengetahuan yang memadai, keberanian dan rasa tidak
takut untuk mencoba adalah komponen penting yang harus dimiliki oleh
anak didik dalam memperdalam ketrampilan bahasa Arab ini. Akan jadi
hal yang sia-sia apabila hanya sekedar paham ilmu dasarnya tanpa berani
mempraktikkannya. Jadi dalam mempelajari ketrampilan berbicara ini
harus ada kesinambungan yang seimbang antara pengetahuan dan
keberanian untuk mengungkapkan.
3. Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler atau kegiatan tambahan di sekolah adalah wadah
bagi siswa untuk mengembangkan bakat yang dimiliki sesuai dengan
minatnya masing-masing. Ekstrakurikuler adalah sarana pengembangan
individu peserta didik yang diadakan diluar jam pelajaran sekolah berupa
berbagai aktivitas yang berkaitan langsung dengan kurikulum maupun
tidak langsung (Kamra, 2019). Sehingga kegiatan ini berada diluar
kegiatan belajar mengajar formal disekolah. Dalam Undang-Undang No.
20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 butir 12 dan
13 disebutkan bahwa pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan diluar
pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan
berjenjang, dan pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan
lingkungan. Dari situ diartikan bahwa pembelajaran tak hanya berasal dari
dalam kelas saja, melainkan dari kegiatan-kegiatan diluar kelas yang bisa
membentuk karakter siswa.
Menurut pendapat lain, ekstrakurikuler adalah kegiatan tambahan
yang dilaksanakan diluar struktur program pelajaran di sekolah untuk
mengasah dan mempeluas wawasan pengetahuan dan kemampuan siswa
pada bidang non pelajaran formal (Nurdianto, 2017). Ekstrakurikuler ini
terdiri dari beberapa bidang, bisa berupa bidang kesenian, olahraga,
bahasa, penelitian, keagamaan dan lain-lain. Dimana setiap bidang ini
memiliki tujuan yang sama yaitu memfokuskan siswa kepada minatnya
dan membantu siswa untuk bisa memperdalam kemampuannya terhadap
minat yang dimilikinya itu.

4. Program Arabic Club


Arabic Club merupakan satu diantara banyaknya pilihan
ekstrakurikuler sebagai fasilitas penunjang bagi siswa yang mencintai
bahasa Arab dan ingin memperdalam pengetahuan serta kemampuannya
dalam bidang bahasa Arab. Begitu banyak program ekstrakurikuler yang
disajikan dari sekolah ini kepada siswa sebagai salah satu penunjang
kegiatan diluar kelas, semakin banyak pilihan maka semakin tinggi pula
minat siswa karena mereka mendapatkan banyak motivasi untuk
mengembangkan bakat mereka disekolah tersebut (Nurdianto, 2017).
Arabic Club ini sendiri berdiri sudah sejak lama. Sudah mengalami
pergantian Pembina beberapa kali. Hingga saat ini dibina oleh bapak
Fuad, guru bahasa Arab disekolah ini sekaligus dosen bahasa Arab di UIN
Salatiga. Kegiatan ini dilakukan setiap satu minggu sekali pada hari
Sabtu diruang kelas yang kosong pada saat itu. Ekstrakurikuler ini
memfokuskan kepada anak-anak yang memiliki minat pada bidang bahasa
Arab atau memang memiliki bakat berlebih pada bahasa Arab ini. Pada
program ini siswa diajarkan mengenai bahasa Arab seperti nahwu shorof
sebagai tata bahasa di bahasa Arab, kemampuan menulis Arab,
kemampuan kalam/berbicara Arab.

5. Metode Khiwar
Secara bahasa, khiwar artinya dialog atau percakapan. Metode
khiwar ini diartikan sebagai suatu teknik yang memberikan dorongan
kepada peserta didik agar mau berbicara ketika diberi pertanyaan, maupun
peserta didik itu sendiri yang mengajukan pertanyaan (Nur Syamsi, 2019).
Metode ini yang digunakan oleh pengajar Arabic Club di SMA Al-Islam
1 Surakarta tujuannya agar siswa belajar untuk berkomunikasi
menggunakan bahasa Arab. Metode ini memancing siswa untuk mau
mengeluarkan kata-kata walaupun sedikit namun siswa berani untuk
mengungkapkannya. Metode khiwar ini mampu merangsang ide-ide
kreatif peserta didik dalam menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh
guru kepada mereka dan berinovasi untuk merangkai jawaban serta
mengembangkan kemampuan mereka dalam membuat kata sesuai dengan
pemahaman mereka (Hasria, 2021). Menurut (Syukran, 2019) bahwa,
‫ من‬، ‫ميزة طريقة اخلوار هذه هي أن املعلم قادر على معرفة مدى فهم الطالب للغة العربية‬
‫ ه ذه الطريق ة ستش جع الطالب على‬، ‫ال وقت ال ذي جييب ون في ه على األس ئلة أو يطرح ون األس ئلة‬
‫التفكري يف جتميع الكلمات العربية‬.
B. Kajian Penelitian Terdahulu
Banyaknya penelitian terdahulu yang memiliki beberapa kemiripan
terkait variabel penelitiannya, menjadikan daftar rujukan bagi penulis sebagai
bahan pertimbangan, diantaranya yaitu :
Pertama, penelitian dari Muti’ur Rahman dan kawan-kawan, yang
berjudul “Model Pembelajaran Program Ekstrakurikuler Bahasa Arab dan
Implementasinya di Madrasah Aliyah Pesantren Nurul Ulum”. Penelitian ini
menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui program ekstrakurikuler di MA Pesantren Nurul
Ulum beserta bagaimana proses pembelajaran yang ada didalamnya. Hasil
dari penelitian tersebut adalah esktrakurikuler bahasa yang dilaksanakan
menggunakan bermacam-macam model pembelajaran bahasa yaitu Model
Kooperatif pada ekstrakurikuler Bahasa Arab. Model pembelajaran ini
menjadikan peserta didik semakin menerima model pembelajaran yang
bervariatf sehingga dapat mengasah kompetensi peserta didik.
Kedua, penelitian yang dilakukan oleh Raihanah yang berjudul
“Implementasi Ekstrakurikuler Bahasa Arab dalam Meningkatkan Maharah
Kalam Siswa di MAN 2 Kota Palu”. Penelitian ini menggunakan metodologi
deskripif kualitatif. Hasil dari penelitian ini yaitu ekstrakurikuler bahasa Arab
yang diadakan di MAN 2 Palu dilaksanakan setiap satu pekan sekali yaitu
pada hari Jumat. Hasil dari penelitian yang dilakukan ini adalah siswa
mengalami peningkatan kemampuan dalam berbahasa Arab yang dibuktikan
melalui perkembangan nilai siswa sebelum dan setelah mengikuti
ekstrakurikuler bahasa Arab ini, dan semua siswa mendapatkan nilai diatas
kkm dengan predikat nilai yaitu A.
Ketiga, penelitian yang ditulis oleh Khumaedi Yahya, berjudul
“Pengaruh Ekstrakurikuler Bahasa Arab Terhadap Kemahiran Berbicara di
Yayasan Pendidikan Islam Darurrahma Bogor”. Metodologi yang digunakan
yaitu Ex Post Fatco. Hasil dari penelitian ini adalah diketahui bahwa
mengikuti ekstrakurikuler bahasa Arab berpengaruh terhadap ketrampilan
berbicara siswa di Yayasan Pendidikan Islam Darurrahmah. Hal itu
dibuktikan dengan tingginya nilai hasil tes lisan siswa yang mengikuti
ektrakurikuler bahasa Arab dibandingkan dengan siswa lain yang tidak
mengikuti ekstrakurikuler bahasa Arab tersebut.
Dari uraian diatas, terdapat persamaan dan perbedaaan dari beberapa
penelitian tersebut dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti.
Persamaannya yaitu membahas terkait “Ekstrakurikuler Bahasa Arab”
sebagai penunjang siswa terhadap kemampuan berbahasa Arab. Sedangkan
perbedaannya terletak pada pelaksanaan program lingkungan bahasanya serta
siapa yang diteliti dan dimana letak penelitiannya. Supaya mudah memahami
dalam melihat perbedaan penelitian ini, penelitian ini berjudul “Implementasi
Program Arabic Club untuk Meningkatkan Kemampuan Maharah Kalam
Terhadap Murid Anggota Arabic Club SMA Al-Islam 1 Surakarta Tahun
2022”. Dengan adanya penjelasan tersebut harapannya memperoleh hasil
yaitu berupa kemampuan maharah kalam siswa berupa seperti menjadi MC
serta berpidato melalui metode khiwar yang diterapkan pada ekstrakurikuler
Arabic Club.

C. Kerangka Berpikir
Berdasarkan masalah yang telah dijelaskan dalam penelitian ini yaitu
diadakannya program Arabic Club sebagai fasilitas penunjang siswa untuk
mengembangkan kemampuan bahasa Arab terutama kalam atau berbicara.
Yaitu dengan mengadakan pertemuan sekali disetiap minggunya, untuk
membahas pelajaran bahasa Arab dan juga melatih ketrampilan bahasa Arab
seperti membaca (qiroah), menulis (kitabah), mendengarkan (istima’), dan
yang paling ditekankan yaitu berbicara (kalam).
Program Arabic Club di SMA Al-Islam 1 Surakarta ini sebagai
ekstrakurikuler atau tambahan pelajaran diluar jam pelajaran dikelas. Program
ini didesain untuk menampung siswa yang memiliki minat pada pelajaran
bahasa Arab. Diakibatkan karena hanya terbatasnya pertemuan pelajaran
bahasa Arab dikelas yang hanya seminggu sekali, program ini bisa menjadi
alternatif bagi siswa yang ingin mempelajari bahasa Arab lebih dalam lagi.
Didukung oleh lingkungan bahasa yang timbul dari teman-teman yang
memiliki tujuan yang sama. Sehingga dengan adanya program ini bisa
membentuk bi’ah luhgawiyyah yang semakin menunjang siswa mengasah
ketrampilan berbicara bahasa Arabnya karena adanya kebiasaan berbahasa
yang timbul dari perkumpulan tersebut.
Dapat diartikan bahwasannya program bahasa Arab ini menciptakan
adanya lingkungan bahasa yang menjadi faktor penting keberhasilan
seseorang dalam mempelajari bahasa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
kerangka gambar berikut :

SMA Al-Islam 1
Surakarta

Guru Materi Materi

“Arabic Club sebagai wadah siswa mengembangkan ketrampilan


bahasa Arab”

Gambar 1. Bagan Kerangka Berpikir


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan
pendekatan deskriptif. Menurut (Sugiyono, 2021) yang dimaksud dengan
penelitian kualitatif adalah metode yang bersifat naturalistic dikarenakan
meneliti kondisi lingkungan secara alamiah atau natural setting. Alamiah
berarti kegiatan itu berjalan sebagaimana mestinya, sehingga kehadiran
peneliti tidak mempengaruhi proses pada objek yang diteliti tersebut.
Lalu yang dimaksud pendekatan deskriptif menurut Nana Syaodih
(Destiani Putri, 2021) yaitu sebuah langkah-langkah yang dilakukan dalam
memecahkan masalah yang ada, kemudian menteliti masalah tersebut dengan
mendeskripsikan keadaan objek yang diteliti tersebut bisa berupa seseorang,
masyarakat, lembaga, dan lain-lain untuk mendapatkan hasil akhir berupa
kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan.
Dari penjelasan tersebut, maka dapat diartikan bahwa jenis penelitian
kualitatif dengan pendekatan deskriptif ini memiliki tujuan untuk
memaparkan serta mendeskripsikan tentang variabel dan segala kejadian yang
terjadi pada lingkungan masyarakat. Dengan begitu maka relevan dengan
penelitian ini yaitu untuk memberikan gambaran tentang bagaimana proses
pembelajaran pada program “Arabic Club” sebagai fasilitas penunjang bagi
siswa yang memiliki minat pada bidang bahasa Arab terhadap kemampuan
bicara atau kalam mereka, anggota Arabic Club SMA Al-Islam 1 Surakarta
Tahun 2022.

B. Subjek Penelitian
Dalam penjelasan Moleong, mengatakan bahwa subjek penelitian
adalah orang yang memberikan informasi atau disebut informan, dimana
orang tersebut yang akan dimanfaatkan sebagai sumber informasi tentang
keadaan dan situasi terkait tempat penelitian (Faizah, 2019). Dalam penelitian
ini, yang menjadi subjek penelitian adalah Pembina ekstrakurikuler Arabic
Club serta siswa yang tergabung menjadi anggota ekstrakurikuler “Arabic
Club” SMA Al-Islam 1 Surakarta Tahun 2022.
Dalam penelitian kualitatif ini, teknik pengambilan sampel yang
digunakan adalah purposive sampling. Menurut (Sugiyono, 2021) yaitu
teknik pengambilan sampel sumber data dengan melalui beberapa
pertimbangan tertentu, misalnya orang tersebut adalah orang yang paling tau
atau paham tentang apa yang kita harapkan. Hal ini dilakukan untuk
memudahkan peneliti dalam mendapatkan informasi sesuai dengan yang
dibutuhkan dalam penelitian ini.

C. Waktu dan Tempat Penelitian


Penelitian ini akan dilaksanakan di SMA Al-Islam 1 Surakarta tepatnya
pada kegiatan ekstrakurikuler “Arabic Club” di bulan Oktober – November
Tahun 2022.

D. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data menurut (Sugiyono, 2021) menjelaskan
bahwa pengertian teknik pengumpulan data merupakan suatu hal yang paling
penting dalam sebuah penelitian, karena dalam melakukan penelitian yang
menjadi tujuan utama adalah memperolah data atau mendapatkan informasi.
Jika peneliti tidak memahami terakit teknik pengumpulan data maka tidak
akan bisa mendapatkan informasi sesuai dengan yang dibutuhkan dan
berakibat tidak bisa memperoleh data yang valid.
Pada pengumpulan data penelitian ini, peneliti terjun secara langsung
pada objek penelitian guna memperolah data yang valid, maka disini peneltii
menggunakan beberapa teknik pengumpulan data sebagai berikut :
a. Observasi / Pengamatan
Observasi atau pengataman menurut Morris (Syaifuddin, 2014)
mengatakan bahwa observasi adalah peneliti hanya melihat saja objek
yang diamati bertindak sama seperti biasanya, jadi peneliti hanya
mengamati saja tanpa melakukan apapun. Sehingga dalam proses
observasi ini peneliti bertugas mengamati apa yang terjadi secara
alamiah dan kemudian mencatat beberapa hal penting yang akan
digunakan sebagai data dan juga dokumentasi.
Dalam peneltian ini menggunakan teknik observasi untuk
mengamati secara langsung dilapangan bagaimana proses pembelajaran
yang dilakukan pada program esktrakurikuler Arabic Club di SMA Al-
Islam 1 Surakarta. Observasi atau pengamatan penelitian ini akan
dilakukan sebanyak 4 kali dengan rincian :
1) Pengamatan sekolah berupa pengamatan data berupa profil dan
identitas sekolah.
2) Persiapan pembelajaran kegiatan Arabic Club
3) Pelaksanaan kegiatan Arabic Club
4) Evaluasi
b. Wawancara
Wawancara menurut (Faizal Chan, 2019) mengatakan bahwa
wawancara adalah sebuah pertemuan antara dua orang untuk saling
bertukar informasi dan ide-ide melalui proses tanya jawab sehingga
akan bisa disimpulkan dalam makna suatu topik tertentu.
Pada penelitian ini, peneliti menggunakan wawancara yang
terstruktur sebagai teknik dalam pengumpulan data, dimana seorang
penanya sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang telah dirancang
dan ditetapkan sebelumnya, untuk mendapatkan hasil data yang sesuai.
Penggunaan metode ini akan dilakukan kepada Pembina
ekstrakurikuler “Arabic Club” SMA Al-Islam 1 Surakarta serta
beberapa siswa anggota ekstrakurikuler Arabic Club.
c. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan catatan tentang peristiwa yang telah
berlalu. Bisa berupa tulisan maupun gambar. Pada penelitian ini
dokumentasi berupa gambar kegiatan pembelajaran yang dilakukan di
program ekstrakurikuler Arabic Club.
E. Teknik Keabsahan Data
Teknik ini dilakukan untuk mengetahui data yang ada pada penelitian
tersebut benar-benar ilmiah atau dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga
perlu adanya dilakukan keabsahan data ini. Menurut Moleong (Hadi, 2016)
mengatakan bahwa dalam penelitian kualitatif ini terdappat 8 teknik
pemeriksaan data yaitu berupa keikutsertaan, ketekunan pengamatan,
triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensi, kajian kasus negative,
pengecekan anggota, dan uraian rinci.
Dalam penelitian ini menggunakan data yang bersifat menggabungkan
berbagai teknik pengumpulan data dan sumber yang ada. (Andi Prastowo,
2014) mengemukakan bahwa teknik keabsahan data ini dilakukan tidak hanya
untuk mencari kebenaran terhadap peristiwa yang terjadi, namun juga supaya
peneliti lebih memahami lagi terhadap apa yang ditelitinya. Teknik yang
digunakan pada penelitian ini yaitu triangulasi data. Menurut (Sugiyono,
2021) triangulasi adalah pengecekan data dari berbagai sumber dengan
berbagai cara dan waktu.
Teknik triangulasi yang diterapkan pada penelitian ini adalah triangulasi
sumber, yaitu teknik yang digunakan untuk menguji kredibilitas data yang
dilakukan melalui mengecek data yang didapatkan dari beberapa sumber.
Menurut Nining (Patton dalam Moloeng, 2007) mengatakan bahwa
triangulasi sumber berarti membandingkan dan mengecek kembali
berdasarkan kepercayaan suatu informasi yang telah diperoleh pada waktu
dan cara yang berbeda dalam penelitian kualitatif.

F. Teknik Analisis Data


Setelah semua data dan keterangan terkumpul, selanjutnya yang dapat
dilakukan adalah menganalisis dan menyusun laporan penelitian. Analisis
data merupakan proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang
telah diperoleh melalui jasil wawancara, dokumentasi, dengan cara memilah
data tersebut berdasarkan kategorinya, melakukan sintesis data, menyusun,
dan memilih mana data yang penting yang akan ditelaah dan membuat
kesimpulan sehingga mudah untuk dipahami oleh siapapun (Sugiyono, 2021).
Dalam penelitian ini akan menggunakan metode deskriptif kualitatif,
yaitu data yang dihasilkan berupa memaparkan penjelasan dari ucapan,
perilaku, dan tulisan yang berasal dari pengumpulan data yang telah
dilakukan melalui beberapa teknik sebelumnya Bodgan (Hadi, 2016).
Menurut model Miles and Huberman dalam (Sugiyono, 2021) menjelaskan
bahwa ada beberapa komponen dalam menganalisis data yaitu :
1. Reduksi Data
Reduksi data bisa disebut juga sebagai merangkum, atau
memfokuskan data kepada hal-hal yang penting / pokok saja untuk
dijadikan topic pembahasan. Sehingga hasil yang didapatkan bisa
mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data yang jelas
(Sugiyono, 2021).
2. Penyajian Data
Penyajian data ini dapat dilakukan dengan beberapa bentuk
seperti grafik, pictogram, tabel, dan jenis-jenis lainnya (Sugiyono,
2021). Dengan adanya penyajian data ini maka data yang didapatkan
akan lebih mudah dipahami alurnya. Jadi yang dimaksud dengan
penyajian data adalah menyajikan data yang telah dipilih bersadarkan
poin-poin pentingnya untuk kemudian ditarik kesimpulannya. Dalam
penelitian ini, peneliti menyajikan data dalam bentuk tulisan yang
besifat naratif.
3. Penarikan Kesimpulan
Menurut Miles and Huberman dalam (Sugiyono, 2021) data
awal yang disajikan masih bersifat sementara, dan akan berubah
apabila tidak sesuai dengan data-data yang didapatkan pada saat
penelitian. Sehingga kesimpulan akhir ini dibuat agar peneliti mampu
menjawab rumusan masalah yang telah dibuat pada awal penelitian
menggunakan data-data yang didapatkan. Kemudian hasil dari
kesimpulan penelitian ini menjadi temuan baru yang belum pernah
ada sebelumnya.

Anda mungkin juga menyukai