Keanekaragaman Etnik dan Bahasa Papua
Keanekaragaman Etnik dan Bahasa Papua
Papua
KONDISI
SOSIAL BUDAYA
Di Pulau Papua yang amat luas ini berdiam hanya sekitar 2.527.346 juta jiwa dengan tingkat
kepadatan penduduk terjarang di Indonesia, yaitu ± 6 jiwa per km 2 (2005). Angka-angka ini
menunjukkan betapa sedikitnya jumlah penduduk di Papua. Meskipun penduduk Provinsi
Papua tergolong sangat sedikit jumlahnya namun dari segi kesukubangsaan dan budaya,
mereka memperlihatkan suatu kebhinekaan yang amat besar dibanding dengan penduduk
pulau atau provinsi manapun di negara kepulauan nusantara ini. Kebhinekaan sukubangsa di
Papua ini tercermin dalam berbagai unsur budaya.
Jumlah bahasa-bahasa lokal yang ada di Tanah Papua seperti yang dilaporkan oleh ahli-ahli
bahasa yang bekerja di Tanah Papua di bawah organisasi Summber Institute for Linguistics
(SIL), adalah berjumah ±259 bahasa (Silzer 1986). Oleh karena bahasa yang digunakan
sebagai wahana berkomunikasi antara warga kelompok sekaligus dipakai sebagai simbol
untuk menyatakan identitas diri kelompok, maka tiap kelompok atau etnik pengujar bahasa
tertentu selalu membedakan diri mereka dari kelompok pengujar bahasa yang lain. Dengan
demikian dari segi kebahasaan terdapat sekitar 250 kelompok etnik yang masing-masing
merasakan dirinya berbeda dari kelompok-kelompok etnik lainnya.
Bahasa-bahasa yang berbeda-beda itu dikelompokan oleh ahli-ahli ke dalam dua kelompok
besar yang disebut bahasa induk. Pertama adalah bahasa-bahasa yang termasuk di dalam
bahasa induk yang disebut bahasa Austronesia dan kedua di dalam bahasa induk yang
disebut bahasa Non-Austronesia atau sering disebut juga sebagai bahasa Papua. Contoh
kelompok-kelompok etnik yang termasuk di dalam rumpun atau bahasa induk Austronesia itu
terutama terdapat pada masyarakat pantai, misalnya bahasa Biak, bahasa Wandamen,
bahasa Waropen, dan bahasa Maya. Sebaliknya kelompok-kelompok penutur bahasa-bahasa
yang bukan bahasa penduduk di daerah pedalaman dan Pegunungan Tengah, mulai dari
Kepala Burung di sebelah barat sampai di ujung timur Pulau Nieuw Guinea, misalnya bahasa
Meybrat, Bahasa Dani, Ekari, bahasa Asmat, bahasa Muyu, dan bahasa Sentani.
Jumlah
No Tanah Papua Nama Suku
Suku
Jumlah
No Tanah Papua Nama Suku
Suku
Jumlah 250
Sumber: RTR Tanah Papua 2007-2026
Kecuali itu keanekaragaman bahasa di Tanah Papua menyebabkan penduduk di daerah ini
secara sadar atau tidak sadar telah dituntut untuk menggunakan bahasa Melayu dan bahasa
Indonesia sebagai bahasa pengantar atau bahasa penghubung di antara berbagai kelompok
etnik yang berbeda bahasa itu dan antara mereka dengan penduduk dari daerah lainnya di
Indonesia. Keadaan ini menyebabkan penguasaan bahasa Indonesia di Tanah Papua menjadi
lebih baik dan merata di antara penduduknya dibandingkan dengan penduduk di provinsi
lain. Dalam jangka panjang hal ini akan sangat membantu mempercepat pemahaman
terhadap berbagai program pembangunan oleh penduduk di Tanah Papua.
Sedangkan untuk pengelompokan Bahasa di Tanah Papua, yang terdiri dari 266 bahasa yang
ada di Tanah Papua, dimana pengelompokan bahasa ini erat kaitannya dengan etnik/suku.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Sedangkan untuk pengelompokan family di Tanah Papua, yang terdiri dari 69 (enam pulu
sembilan) keluarga bahasa yang tersebar di Tanah Papua, terutama di Kabupaten Jayapura,
Kabupaten Keerom, Kabupaten Yahukimo dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya penyebaran
family di Tanah Papua dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Atas dasar studi-studi antropologi yang telah dilakukan di Tanah Papua, Pouwer (1966)
menunjukkan di dalam pengelompokkannya bahwa orang Papua paling sedikit dapat dibagi
dalam empat golongan berdasarkan sistem istilah kekerabatan yang dianutnya. Golongan
pertama adalah golongan yang menganut sistem istilah kekerabatan menurut tipe Iroquois.
Termasuk kedalam golongan ini orang Biak, orang Iha, orang Waropen, orang Senggi, orang
Marind-Anim, orang Teluk Humbold (Yos Sudarso), dan orang Me. Masyarakat penduduk
sistem Iroquois ini mengklasifikasikan anggota kerabat saudara sepupu paralel dengan istilah
yang sama dengan saudara kandung, berbeda dari istilah yang digunakan untuk saudara
sepupu silang. Ciri lain yang biasanya dipakai juga untuk menunjukkan sistem ini ialah
penggunaan istilah yang sama untuk menyebut ayah maupun untuk semua saudara laki-laki
ayah dan semua saudara laki-laki ibu.
Golongan kedua adalah pendukung sistem istilah kekerabatan menurut tipe Hawaian, ialah
suatu sistem pengelompokan yang menggunakan istilah yang sama untuk menyebut
saudara-saudara sekandung dan semua saudara-saudara sepupu silang dan paralel.
Golongan-golongan etnik yang tergolong ke dalam sistem ini adalah orang Mairasi, orang
Mimika, orang Hattam-Manikion, orang Asmat, orang Kimam dan orang Pantai Timur Sarmi.
Golongan ketiga adalah golongan yang menganut sistem istilah kekerabatan tipe Omaha.
Tipe Omaha adalah suatu sistem yang mengklarifikasikan saudara-saudara sepupu silang
matrilateral dan patrilateral dengan istilah-istilah yang berbeda dan istilah-istilah untuk
saudara sepupu silang itu dipengaruhi oleh tingkatan generasi dan bersifat tidak simetris,
sehingga istilah untuk anak laki-laki saudara laki-laki ibu, mother brother son (MBS) adalah
sama dengan saudara laki-laki ibu, mother brother (MB) dan istilah untuk anak laki-laki
saudara perempuan ayah, father sister son (FZS) adalah sama untuk anak laki-laki saudara
perempuan, sister son (ZS). Termasuk dalam golongan ini adalah orang Auwyu, orang Dani,
orang Meybrat, orang Mek di pengunungan Bintang dan orang Muyu.
Golongan keempat adalah penduduk yang menganut sistem istilah kekerabatan tipe
Iroquois-Hawaian. Termasuk golongan ini adalah Bintuni, orang Tor, dan orang Pantai Barat
Sarmi (Pouwer 1966).
Kecuali penggolongan penduduk Papua menurut sistem istilah kekerabatan tersebut di atas,
mereka juga dapat dibedakan berdasarkan prinsip-prinsip pewarisan keturunan yang mereka
anut atau kenal. Ada dua prinsip pewarisan keturunan yang dikenal diantara orang Papua.
Pertama adalah prinsip pewarisan keturunan melalui garis ayah atau patrilineal. Prinsip ini
dikenal dan dianut oleh orang Meybrat, orang Me, orang Dani, orang Biak, orang Waropen,
orang Wandamen, orang Sentani, orang Marind-Anim, dan orang Nimboran. Sebaliknya di
Tanah Papua terdapat juga golongan-golongan etnik yang tidak menganut prinsip pewarisan
keturunan tertentu baik melalui garis keturunan ayah, patrilineal, maupun lewat garis
keturunan ibu, matrilineal. Diantara mereka ada masyarakat pendukung prinsip yang
bertendensi kuat bilateral, terdapat misalnya pada masyarakat pedalaman Sarmi. Kecuali itu
terdapat juga masyarakat yang mewujudkan struktur ambilateral atau ambilineal, terdapat
pada orang Mimika, orang Mappi, dan orang Manikion, dimana pengelompokkan kadang-
kadang diatur lewat garis keturunan pihak ibu (Mappi dan Mimika) dan kadang-kadang lewat
garis keturunan pihak ayah (Manikion) menjadi pilihannya (De Bruijn 1959: 11; cf. Van der
Leeden 1954; Pouwer 1966).
Selain sifat-sifat tersebut di atas sifat lain yang dapat dijadikan unsur pembeda adalah
dikenal atau tidak dikenalnya prinsip pembagian masyarakat ke dalam phratry atau moiety.
Di antara orang Papua terdapat kelompok-kelompok masyarakat yang membagi
masyarakatnya ke dalam kelompok-kelompok moiety, misalnya pada orang Asmat ( aipmu
dan aipem), orang Dani (waita dan waya) dan orang Waropen (buriworai dan buriferai)
tetapi ada juga yang tidak mengenal prinsip seperti itu, misalnya pada orang Muyu dan
orang Biak (Heider 1979, 1980; Mansoben 1974; Held 1947; Kamma 1972; Schoorl 1957).
Di dalam sistem kepemilkan komunal yang berbasis “ marga” (keret) semua anggota marga
(keret), termasuk para wanita yang belum kawin, mempunyai hak yang sama untuk
memanfaatkan tanah milik marga untuk kepentingan kelangsungan hidupnya. Meskipun
dikatakan tiap anggota marga mempunyai hak untuk memanfaatkan tanah milik marga tetapi
itu bukan berarti masing-masing warga secara bebas menentukan di tempat mana ia akan
melakukan aktivitas ekonomi tertentu (misalnya membuka kebun baru atau mengambil hasil-
hasil hutan tertentu). Semua warga mempunyai hak yang sama tetapi pemanfaatan hak
bersama itu selalu di atur oleh “ kepala marga” yang di dalam institusi adat mendapat
“kewenangan” untuk mengawasi dan mengatur pemanfaatannya. Dalam pemanfaatan tanah
untuk kepentingan-kepentingan tertentu, misalnya penentuan lahan untuk kebun bersama,
biasanya diatur dan ditentukan bersama oleh “ kepala marga” (keret) bersama anggota-
anggota lain dari marga yang bersangkutan.
Implikasi dari sistem kepemilikan komunal yang berbasis “ marga” ini ialah bahwa ada hak
ulayat atas tanah merupakan milik bersama sehingga tidak ada kewenangan dari tiap
anggota marga termasuk “kepala marga”, untuk secara sepihak melepaskan dalam bentuk
apapun bagian tanah yang merupakan hak milik bersama itu kepada pihak yang lain. Jika
ada kepentingan dari pihak lain (misalnya pihak pemerintah atau swasta) untuk
memanfaatkan sebagian tanah guna pelaksanaan program tertentu, maka pengaturan
pengalihan haknya harus disepakati bersama oleh seluruh warga marga, bukan hanya oleh
“kepala marga” saja. Demikian pula “rekognisi” dari pihak pengguna kepada pihak pemilik
pertama (marga) dalam bentuk apapun (uang atau benda lain) harus dibagi secara adil
diantara warga marga sesuai dengan kedudukan dan keterikatannya dengan tanah yang
telah dilepaskan itu. Sistem kepemilikan komunal berbasis “ marga” (keret) ini terdapat pada
kelompok-kelompok etnik misalnya pada orang Dani, orang Meybrat (Ayamaru), orang Muyu,
orang Marind-Anim, orang Auwyu, orang Wandamen, orang Simuri, orang Irarutu, orang
Biak, dan orang Waropen.
Selanjutnya dalam sistem kepemilikan komunal yang berbasis klen besar dan atau kampung,
hak kepemilikan berada pada kepala marga sedangkan kewenangan untuk mengatur
pemanfaatan tanah diatur bersama oleh kepala suku atau kepala komunitas dan kepala
marga (misalnya di daerah Sentani: kewenangan itu berada ditangan yo-ondoafi dan pada
khoselo). Hal ini berarti bahwa kewenangan itu tidak berada hanya pada ondoafi atau hanya
pada khoselo saja tetapi secara bersama-sama. Implikasinya ialah bahwa dalam hal
pelepasan tanah untuk kepentingan program-program pembangunan tertentu, harus
dilakukan secara bersama-sama antara ondoafi dan khoselo (kepala marga) dan pembagian
hasil rekognisi harus didasarkan atas kewenangan dan hak kepemilikan tadi. Sering terjadi
bahwa penduduk sengaja melupakan perbedaan hak dan kewenangan ini sehingga
menimbulkan pertentangan di dalam masyarakat sendiri. Pada prinsipnya semua masyarakat
Papua menyadari dan mengakui adanya kepemilikan adat atau hak ulayat atas tanah. Hak
ulayat atas tanah ini terkandung pula didalamnya perairan berupa laut, sungai, danau dan
rawa, oleh karena itu tanah ulayat tidak akan terlepas antara tanah dan perairan (sungai).
Kita hanya bisa mengatakan misalnya Kali Anafre itu termasuk dalam wilayah hukum adat
Kayu Pulau, Kali Acai masuk dalam wilayah hukum adat Tobati Enggros, Sungai Rouffaer
masuk dalam wilayah hukum adat Lani, akan tetapi semua itu sulit mengetahui batas-batas
tentang kepemilikan secara pasti dan legal administrasi.
Bagi masyarakat adat di Papua memiliki pandangan yang senada tentang keberadaan tanah,
gunung, lembah termasuk didalamnya mata air dan air sungai merupakan sumber kehidupan
yang selamanya tidak boleh dipisahkan antara kesatuan komponen alam dengan umat
manusia itu sendiri. Sebagai sumber kehidupan, tentunya mereka juga memiliki prinsip tidak
boleh melakukan pengrusakan atau gangguan terhadap tanah, mata air dan air sungai.
Tanah dan kandungannya (tanah-air) merupakan bagian dari sistem budaya yang menyatu
dengan manusia. Begitu penting dan luhurnya Tanah air dalam perjalanan dan kejadian
hidup manusia, bahkan merupakan simbol seorang “Ibu”. Demikian sebagai gambaran “Suku
Amungme, Komoro di daratan (Fak fak, Mimika, dan Paniai) dan Ngalum di daratan
Pengunungan Bintang justru memandang gunung, sungai dan lembah sebagai “Ibu”
kandung. (Erari, 1999).
Dalam kaitan dengan penataan satuan pengelolaan wilayah sungai di Papua yang
kemungkinannya akan dilakukan oleh pemerintah, hendaknya kita berpacu pada persepsi
masyarakat serta “makna tanah dan air sebagai milik negara dan dipergunakan sebesar-
Model analisis yang diajukan oleh Sahlins (1963) itu berupa suatu garis kontinuum. Pada
salah satu ujung kutub garis kontinuum tersebut kita jumpai suatu sistem politik yang
ditandai ciri ascription, atau pewarisan, dan pada ujung kutub yang lain terdapat sistem
politik yang bercirikan achievement, pencapaian. Pada ujung garis kontinuum yang bercirikan
pewarisan itu adalah sistem kepemimpinan yang disebut chief (kepala suku), sedangkan
ujung kutub lain garis kontinuum yang bercirikan pencapaian itu adalah sistem
kepemimpinan yang disebut big man (pria berwibawa). Menggunakan dikhotomi tersebut
untuk mengklasifikasikan sistem-sistem politik yang ada di Papua, Mansoben (1985)
menemukan bahwa selain sistem-sistem yang berada pada kedua ekstrem tersebut, terdapat
juga suatu sistem lain yang menampakkan ciri-ciri pencapaian maupun pewarisan, sehingga
tidak dapat digolongkan secara mutlak ke dalam salah satu ekstrem. Oleh karena sifat
demikian maka sistem itu disebut sistem percampuran. Selain itu di dalam sistem
kepemimpinan yang bercirikan pewarisan dan yang disebut oleh Sahlins sebagai chief itu
dapat dibedakan atas dua tipe, yaitu sistem kerajaan dan sistem ondoafi. Perbedaan pokok
antara dua sistem terletak pada unsur luas jangkauan kekuasaan dan orientasi politiknya.
Uraian singkat di bawah ini memperlihatkan ciri-ciri utama serta perbedaan-perbedaan pokok
di antara sistem-sistem politik tersebut.
Sistem politik tradisional pertama yang akan dibicarakan di sini adalah sistem politik big men
atau pria berwibawa. Ciri utama dari sistem ini ialah kedudukan pemimpin diperoleh melalui
pencapaian. Sumber kekuasaan dari tipe politik ini terletak pada kemampuan individual yang
Sistem kedua adalah sistem politik kerajaan. Ciri utama dari sistem ini ialah pewarisan
kedudukan kepemimpinan, ascribed status. Pewarisan kedudukan di sini bersifat senioritas
baik dilihat dari urutan kelahiran maupun klen. Ciri lain dari sistem ini ialah pelaksanaan
kekuasaan pada masyarakat tradisional seperti ini disebut oleh Weber (1972:126) sebagai
birokrasi patrimonial atau birokrasi tradisional, peranannya adalah sebagai mesin politik,
yaitu alat untuk menjalankan perintah-perintah dari penguasa. Di dalam birokrasi itu terdapat
pembagian tugas dan wewenang yang jelas antara pemimpin dan para pembantu yang
berperan sebagai pegawai. Seperti halnya dengan kedudukan pimpinan yang diwariskan,
disinipun kedudukan para pembantu diwariskan, jika tidak kepada anak yang sulung, maka
kedudukan tersebut dapat dijabat oleh salah seorang kerabat di dalam klen sendiri yang
memenuhi persyaratan yang dituntut. Masyarakat pendukung sistem ini terdapat di bagian
barat daya Tanah Papua, meliputi Kepulauan Raja Ampat, Semenanjung Onin, Teluk
MacCluer (Teluk Berau), dan daerah Kaimana.
Tipe ketiga adalah sistem politik ondoafi. Ciri-ciri utama sistem politik ondoafi adalah
pewarisan kedudukan dan menggunakan birokrasi tradisional, jadi sama dengan sistem
politik kerajaan seperti yang sudah dibicarakan di atas. Namun demikian sistem ondoafi
berbeda dari sistem kerajaan disebabkan oleh faktor-faktor teritorial dan orientasi politik.
Wilayah atau teritorial kekuasaan seorang pemimpin pada sistem politik ondoafi meliputi atau
hanya terbatas pada satu yo atau kampung saja dan kesatuan sosialnya hanya terdiri dari
satu golongan atau sub-golongan etnik saja. Sebaliknya wilayah atau teritorial yang dikuasai
oleh seorang pemimpin pada sistem kerajaan tidak terbatas pada satu kampung saja
melainkan meliputi suatu wilayah geografis yang lebih luas dan di dalamnya terdapat
kesatuan-kesatuan sosial berupa golongan-golongan etnik yang berbeda satu sama lain. Ciri
lain dari sistem politik ondoafi adalah terdapatnya sistem persekutuan atau federasi antar
sejumlah kesatuan politik (kampung) ke dalam satu persekutuan berdasarkan sejarah
keturunannya yang berasal dari moyang yang sama dan mengakui seorang pemimpin dari
persekutuan itu sebagai pemimpin besarnya. Biasanya pemimpin besar itu berasal dari
kesatuan politik yang menurut sejarah asal usul adalah induk atau pusat dari kesatuan-
kesaatuan politik lainnya. Perbedaan lain adalah jika pada sistem politik kerajaan pusat
orientasi kekuasaannya adalah perdagangan, maka pada sistem politik ondoafi pusat
orientasi adalah religi. Sistem politik ondoafi terdapat di bagian timur laut Papua, dengan
masyarakat pendukungnya masing-masing orang Sentani, orang Genyem (Nimboran),
penduduk Teluk Humbold (Yos Sudarso), orang Tabla, orang Yaona, orang Yakari-Skou dan
orang Arso-Waris.
Kedudukan pemimpin yang didasarkan atas sifat pewarisan yang terdapat di dalam sistem
percampuran biasanya terjadi apabila masyarakat tidak mengalami berbagai macam
gangguan baik yang bersifat bencana alam maupun bukan bencana alam, misalnya
peperangan. Dalam keadaan ‘aman’ muncul pemimpin-pemimpin yang berasal dari
keturunan pendiri kampung dan dibantu oleh tokoh-tokoh dalam masyarakat, namun
kedudukan para tokoh disini tidak diwariskan kepada keturunannya tetapi berperan sesuai
dengan kualitas yang dimilikinya. Seperti yang sudah dikemukakan di atas bahwa kedudukan
ini diwariskan dalam klen pendiri kampung, tetapi berbeda dengan sistem pewarisan
kedudukan baik pada sistem kerajaan maupun sistem ondoafi karena pada sistem
percampuran tidak dikenal ‘birokrasi’. Masyarakat pendukung sistem kepemimpinan
percampuran ini terdapat terutama pada penduduk Teluk Cenderawasih, seperti orang Biak,
orang Wandamen, orang Waropen, orang Yawa dan orang Maya.
malapetaka yang dapat diakibatkan oleh roh-roh orang mati. Di sinilah letaknya kepercayaan
atau pemujaan kepada roh-roh nenek moyang. Pemujaan kepada roh nenek moyang ini
dinyatakan dalam berbagai bentuk misalnya pemujaan patung korwar dan upacara mon di
daerah kebudayaan Biak-Numfor, ritus pembayaran tengkorak pada orang Meybrat atau
upacara mbis pada orang Asmat. Sistem-sistem kepercayaan tradisi ini sudah tidak
dilaksanakan secara intensif lagi sejak penduduk memeluk agama Islam atau Kristen, namun
dalam menghadapi persoalan-persoalan mendasar yang menimpa kehidupan manusia seperti
tertimpa kecelakaan, sakit dan mati, masih banyak orang Papua mencoba mencari
jawabannya melalui sistem kepercayaan tradisi.
Agama-agama besar seperti Islam dan Kristen masuk di daerah Papua pada periode waktu
yang berbeda-beda. Agama besar pertama yang masuk di Tanah papua adalah agama Islam.
Agama Islam masuk di Tanah Papua yaitu di daerah-daearah Kepaulan Raja Ampat dan Fak
Fak melalui para pedagang yang berasal dari Kepulauan Maluku kira-kira pada abad ke -13
(van der Leeden, 1980:22). Agama Kristen masuk di Tanah Papua, pada abad ke 19 yaitu di
pulau Mansinam, pada Tanggal 5 Februari 1855 oleh dua orang penginjil yaitu Ottow dan
Geissler yang diutus oleh badan pekabaran injil Utrechtsche Zendingsvereniging (UZV) dari
negeri Belanda (Kamma, 1953:98). Selanjutnya agama Kristen Katolik masuk di Tanah Papua
pada Tahun 1892 (Verscheuren, 1953:183). Aliran-aliran agama Kristen lain seperti
Pantekosta, Advent, CMA (Christian and Missionari Alliance) dll baru masuk ke Tanah Papua
setelah Perang Dunia ke II. Demikian pula agama Hindu baru masuk di Tanah Papua pada
Tahun 1960-an.
Orang-orang Papua yang hidup pada mintakat atau zona ekologi yang berbeda-beda itu
mewujudkan pola-pola kehidupan yang bervariasi sampai kepada berbeda satu sama lain.
Penduduk yang hidup pada zona ekologi rawa, seperti misalnya orang Asmat, orang Mimika
dan orang Waropen, bermata pencaharian pokok meramu sagu sedangkan menangkap ikan
merupakan mata pencaharian pelengkap. Sebaliknya orang Dani dan orang Me yang hidup di
zona Dataran Tinggi, pertanian merupakan mata pencaharian pokok disamping beternak
babi. Lebih lanjut orang Muyu, orang Genyem, orang Arso yang hidup pada zona ekologi
Kaki-kaki Gunung dan Lembah-lembah Kecil menjadikan perladangan dan meramu sagu
sebagai mata pencaharian pokok disamping berburu dan beternak. Lain lagi adalah
penduduk yang hidup di zona ekologi pantai, muara sungai dan kepulauan (misalnya orang
Biak, orang Wandamen, orang Moi, orang Simuri, orang Maya dan penduduk kepulauan Raja
Ampat), yang menjadikan pekerjaan menangkap ikan, meramu sagu dan berladang menjadi
kombinasi dari beberapa jenis aktivitas perekonomian, sebagai mata pencaharian pokok,
disamping berburu sebagai mata pencaharian pelengkap.
Lingkungan ekologi yang berpengaruh terhadap pola-pola adaptasi yang tercermin di dalam
sistem mata pencaharian hidup meliputi sistem teknologinya juga berpengaruh terhadap
aspek-aspek budaya lain seperti misalnya organisasi sosial dan sistem ideologi atau
kepercayaannya. Di dalam sistem organisasi sosial, misalnya, di zona ekologi Pengunungan
Tengah (Dataran Tinggi) kita jumpai penduduk yang hidup dalam rumah-rumah besar dalam
hubungan-hubungan keluarga luas, dengan jaringan luas dari sistem klen, gabungan klen
dan federasi yang kompleks, contoh penduduk seperti ini adalah orang Dani. Sebaliknya
pada zona ekologi Muara Sungai, Kepulauan dan Pesisir Pantai, kita jumpai penduduk yang
hidup dalam keluarga-keluarga inti kecil (rata-rata 4 sampai 5 individu) yang amat bersifat
individualistis. Contoh masyarakat seperti ini adalah penduduk Pantai Utara (Koentjaraningrat
1970). Disamping kedua tipe masyarakat yang berbeda karena ekologi alam yang berlainan
itu, terdapat berbagai masyarakat yang organisasi sosialnya menampakkan sifat-sifat yang
berada diantara sifat-sifat dari kedua kelompok atau tipe yang disebut pertama. Penduduk
pada tipe ketiga ini hidup di mitakat ekologi Muara Sungai dan Dataran Pedalaman. Mereka
ini hidup dalam keluarga-keluarga yang relatif luas (rata-rata 10 sampai 15 individu), contoh
masyarakat seperti ini adalah orang Kimam di pulau Kolepom dan penduduk Meren-Vlakte
(daerah Danau-Danau) (Koentjaraningrat 1970). Beberapa contoh lain yang mungkin perlu
disebutkan pula disini karena menunjukkan diversitas penduduk Papua yang disebabkan oleh
faktor ekologi alam adalah seperti yang dikemukakan oleh para peneliti di Tanah Papua tiga
dekade yang lalu. Seorang tokoh ahli antropologi tentang kebudayaan-kebudayaan di Tanah
Papua, J. van Baal (almarhum), mengatakan bahwa orang Papua yang hidup dari meramu
sagu, jadi yang hidup di zona ekologi Rawa dan Muara Sungai, pada umumnya
1. Konsepsi terhadap hakekat hidup. Semua kebudayaan di dunia ini, niscaya memliki
konsep tentang apa yang disebut hidup. Apa arti hidup ini, apa tujuannya dan
bagaimana menjalaninya. Biasanya agama-agama memberikan tuntunan terhadap
2. Konsepsi terhadap karya manusia. Tanggapan tentang arti karya terdapat banyak
variasi yang ditampilkan oleh berbagai kebudayaan. Ada yang memandang karya
atau bekerja itu sebagai sesuatu yang memberikan suatu kedudukan yang terhormat
dalam masyarakat atau mempunyai arti bagi kehidupan; bekerja itu adalah
penyataan tentang kehidupan; bekerja adalah intensifikasi dari kehidupan untuk
menghasilkan lebih banyak kerja lagi; dan berbagai macam konsepsi lainnya yang
menunjukkan bagaimana manusia hidup dalam kebudayaan tertentu memandang
dan menghargai karya itu.
3. Konsepsi terhadap alam. Bagaimana manusia harus menghadapi alam, juga terdapat
persepsi yang berbeda-beda menurut tiap-tiap kebudayaan. Ada yang memandang
alam ini sebagai sesuatu yang potensial dapat memberikan kehidupan yang bahagia
bagi manusia dengan mengolahnya; ada yang memandang alam ini sebagai suatu
yang harus dipelihara keseimbangannya sehingga harus diikuti saja hukum-
hukumnya; ada yang memandang alam ini sebagai sesuatu yang sakral dan maha
dahsyat sehingga manusia itu pada hakekatnya hanya bersifat menyerah saja dan
orang harus menerima sebagaimana adanya tanpa berbuat banyak untuk mengolah
alam; dan sebagai tanggapan lainnya.
4. Tanggapan terhadap waktu. Ada berbagai tanggapan tentang soal waktu menurut
masing-masing kebudayaan. Ada tanggapan bahwa yang sebaik-baiknya adalah
masa lalu yang memberikan pedoman kebijaksanaan dalam hidupnya; ada yang
beranggapan bahwa orientasi kemasa depan itulah yang terbaik untuk kehidupan
ini. Dalam kebudayaan serupa itu perencanaan hidup menjadi suatu hal yang amat
penting. Sebaliknya adapula kebudayaan-kebudayaan yang hanya mempunyai suatu
pandangan waktu yang sempit, mereka memandang waktu sekarang adalah waktu
yang penting. Warga dari kebudayaan serupa itu tidak akan memusingkan diri
dengan memikirkan zaman yang lampau maupun masa yang akan datang. Mereka
hidup menurut keadaan yang ada pada masa sekarang ini.
Kelima prinsip di atas dijadikan alat untuk memeriksa dan mengukur sikap seseorang atau
masyarakat tertentu dalam menghadapi kehidupan di dunia ini, dalam dunia yang sedang
mengalami perubahan dari yang lama kepada yang baru dan dari kehidupan yang sederhana
kepada kehidupan yang kompleks, pendeknya kehidupan dalam suatu dunia yang sedang
membangun.
Bertalian dengan lima prinsip yang menjadi dasar orientasi seperti yang sudah dibicarakan di
atas, Koentjaraningrat mencatat bahwa nilai-nilai budaya yang dianggap penting karena
merupakan aset budaya yang dapat dipakai untuk menunjang pembangunan adalah : (1)
nilai budaya yang berorientasi ke masa depan; (2) nilai budaya yang berhasrat untuk
mengeksplorasi lingkungan alam; (3) nilai budaya yang menilai tinggi hasil dari karya
manusia; (4) nilai budaya tentang pandangan terhadap sesama manusia (Koentjaraningrat
1974:38-42).
karena mengontrol kehidupan manusia, menyebabkan suatu nilai budaya yang tidak aktif
terhadap lingkungan alam. Di satu pihak pandangan untuk harus hidup harmonis dengan
lingkungan alam adalah baik karena searah dengan pandangan globalisasi sekarang yang
berwawasan lingkungan, namun dipihak lain pandangan tersebut mematikan daya cipta
orang untuk berinovasi. Walaupun ada pengetahuan tentang produk-produk alam tertentu
misalnya jenis-jenis tanaman atau tumbuhan tertentu yang dapat digunakan untuk
pengobatan tradisional, namun pengetahuan serupa itu biasanya terbatas dalam lingkungan
keluarga sendiri atau dalam kelompok tertentu saja dan tidak dikembangkan dan
disempurnakan sebagai pengetahuan umum yang berguna bagi kepentingan bersama.
Walaupun ada hasrat untuk memanfaatkan sumber-sumber alam dalam berbagai aktivitas
ekonomi, namun kegiatan-kegiatan itu terbatas hanya pada tingkat kepentingan keluarga
inti, kalau lebih tinggi hanya pada tingkat keluarga luas saja, tetapi tidak ada upaya ke arah
peningkatan yang lebih tinggi yang mencakup masyarakat secara keseluruhan. Meskipun
pada umumnya kebudayaan-kebudayaan di Tanah Papua menunjukkan apa yang diuraikan
di atas, tetapi tetap ada beberapa kebudayan, terutama kebudayaan-kebudayaan di Teluk
Cenderawasih, menunjukkan adanya orientasi nilai budaya yang berhasrat mengeksplorasi
lingkungan alam. Orientasi seperti ini dapat dilihat misalnya pada penjelajahan pelayaran
dilakukan ke berbagai tempat yang jauh letaknya, baik dikawasan pesisir pantai di Tanah
Papua sendiri maupun ke tempat-tempat yang jauh letaknya di kepulauan Maluku dan
Sulawesi. Nilai orientasi demikian menyebabkan dikembangkannya teknologi pembuatan
perahu yang baik sehingga mampu digunakan untuk mengarungi lautan yang luas dan
dikembangkannya sistem pengetahuan navigasi yang tinggi yang memungkinkan mereka
untuk melakukan pelayaran-pelayaran yang jauh.
Menilai tinggi usaha atau karya orang yang dapat mencapai hasil, sedapat mungkin atas
usahanya sendiri adalah suatu manifestasi dari orientasi nilai budaya menghargai karya
manusia. Sikap untuk menilai tinggi usaha seseorang dalam masyarakat mendorong orang
untuk mengintensifkan usahanya sedapat mungkin untuk memberikan hasil yang lebih baik.
Hal ini di satu pihak menumbuhkan rasa percaya diri untuk berdiri sendiri dan berkarya
sendiri dan pada pihak yang lain menimbulkan tumbuhnya rasa tanggungjawab.
Menurut catatan kita di atas orientasi seperti ini penting sebab berguna bagi pembangunan.
Apabila kita menggunakan unsur budaya sistem kepemimpinan tradisional di Tanah Papua
sebagai “pintu masuk” untuk memahami kebudayaan-kebudayaan orang Papua, kita akan
menjumpai bahwa orientasi nilai budaya menilai tinggi upaya orang terdapat pada banyak
kebudayaan di Tanah Papua. Misalnya pada orang Meybrat, orang Me, orang Muyu, orang
Dani dan orang Asmat yang mengenal sistem kepemimpinan tradisional yang dalam kajian-
kajian antropologi dan sosiologi dikenal dengan sebutan sistem big man atau pria
berwibawa. Dalam kebudayaan-kebudayaan itu kita jumpai bahwa kedudukan pemimpin
didasarkan atas usaha perorangan. Dalam kebudayaan orang Meybrat, seorang yang berhasil
dalam upayanya untuk melaksanakan dan mengintensifkan sistem pertukaran kain timur
berupacara sangat dihargai oleh masyarakatnya. Wujud nyata dari penghargaan itu adalah
pengakuan terhadap orang yang berhasil sebagai pemimpin masyarakat, disebut bobot. Jadi
kedudukan pemimpin dalam masyarakat ditentukan berdasarkan kemampuan usaha
seseorang, kedudukan seperti ini disebut kedudukan upaya pencapaian ( achieved status).
Demikian pula halnya dalam kebudayaan orang Me, di samping pandai berdiplomasi, murah
hati dan jujur, seseorang yang berhasil terutama dalam bidang ekonomi (mempunyai banyak
kebun yang luas “uang” yang terdiri dari kulit kerang atau courie shell, memelihara banyak
babi dan mempunyai banyak istri) sangat dihargai dan diakui sebagai pemimpin dalam
masyarakat. Orang seperti itu disebut tonowi dan sonowi, yang berarti pemimpin dan orang
kaya. Orientasi menilai tinggi usaha orang terdapat juga pada orang Muyu. Hal itu dapat
dilihat pada penghargaan yang diberikan kepada seseorang untuk menduduki posisi
pemimpin, kayepak, dalam masyarakat karena keberhasilan usahanya untuk
menyelenggarakan upacara pesta babi yang menjadi fokus kebudayaan orang Muyu.
Juga orientasi nilai budaya menghargai usaha orang terdapat pada kebudayaan orang Dani
dan orang Asmat. Pada orang Dani maupun orang Asmat upaya seseorang untuk
menampilkan dan mengukuhkan diri sebagai seorang pemimpin perang sangat dihargai dan
dinilai tinggi sebab perang merupakan sarana untuk memperlancar berbagai aktivitas
kehidupan manusia, baik yang bersifat kegiatan ekonomi maupun upacara-upacara ritus.
Penghargaan terhadap orang-orang yang berhasil menjadikan dirinya pemimpin perang
adalah pengakuan masyarakat terhadap mereka bukan saja sebagai pemimpin perang tetapi
juga pemimpin masyarakat. Orientasi nilai budaya serupa terdapat juga pada berbagai suku
bangsa yang terdapat di kawasan Teluk Cenderawasih, seperti orang Biak, orang Waropen,
penduduk pulau Yapen, dan orang Wandamen, yang menurut pembagian tipe sistem
kepemimpinan di Tanah Papaua mengenal suatu sistem kepemimpinan yang disebut tipe
percampuran, mixed type (Mansoben 1994). Di samping kedudukan pemimpin yang
didasarkan atas pewarisan., ascribement, tolok ukur untuk menempatkan seseorang sebagai
pemimpin dalam masyarakat adalah kemampuan berupaya dalam bentuk nyata seperti
keberhasilan dalam bidang ekonomi, keberanian dalam memimpin perang, memiliki
pengalaman dan pengetahuan yang lebih luas dari warga masyarakat lain. Keberhasilan
seseorang untuk memiliki kualitas-kualitas tersebut di atas menyebabkan penilaian tinggi
yang bermanifestasi dalam bentuk pengakuan terhadap orang yang bersangkutan untuk
menjadi pemimpin dalam masyarakat.
Dalam kebudayaan-kebudayaan ini berkembang suatu sikap bersaing untuk merebut suatu
kedudukan atau untuk mencapai hal tertentu, menyebabkan bahwa orientasi nilai budaya
menghargai upaya atau karya manusia sangat cocok untuk pembangunan. Selanjutnya
kajian-kajian antropologi tentang kebudayaan-kebudayaan di Tanah Papua menunjukkan
bahwa ada dua macam persepsi tentang hubungan manusia dengan manusia menurut
kerangka Kluckhohn. Pertama adalah bahwa ada kebudayaan-kebudayaan yang sangat kuat
berorientasi vertikal. Orientasi nilai budaya ini terutama terdapat pada kebudayaan-
kebudayaan yang mengenal sistem kepemimpinan berbentuk kerajaan, seperti misalnya
kebudayaan-kebudayaan yang terdapat di daerah semenanjung Onin dan daerah Kowiai
serta Kepulauan Raja Ampat dan pada kebudayaan-kebudayaan yang mengenal sistem
kepemimpinan kepala klen atau kepemimpinan ondoafi yang didukung oleh suku-suku
bangsa yang berdiam di bagian Timur Laut Tanah Papua, misalnya orang Tabla, orang Skow,
orang Nimboran, orang Sentani dan penduduk Teluk Yos Sudarso.
Nilai yang berorientasi vertikal ke arah atasan, menurut Koentjaraningrat, akan mematikan
jiwa yang ingin berdiri sendiri dan berusaha sendiri, dan akan menyebabkan timbulnya sikap
tak percaya pada diri sendiri. Nilai seperti itu juga akan menghambat tumbuhnya rasa disiplin
pribadi yang murni, karena orang hanya taat kalau ada pengawasan dari atas, tetapi akan
merasa tak terikat lagi kalau pengawasan tadi menjadi kendor atau pergi. Akhirnya nilai yang
terlampau berorientasi ke arah atasan akan juga mematikan rasa tanggung jawab sendiri,
tetapi akan menimbulkan rasa condong untuk selalu melemparkan tangngung jawab ke atas,
kalau tidak bisa, untuk selalu membagi tanggung jawab itu dengan orang lain sehingga rasa
tanggungjawab sendiri itu menjadi sekecil mungkin (Koentjaraningrat 1974:41-42).
Sungguhpun orientasi nilia budaya ini menyebabkan timbulnya mentalitas tidak disiplin, tidak
berinovasi, tidak percaya diri dan tidak bertanggung jawab, kurang cocok untuk
membangun, namun disisi lain ada segi positif dari orientasi demikian. Segi positifnya adalah
para pemimpin dan para senior dalam masyarakat akan mempermudah partisipasi rakyat
dalam pembangunan asal saja di satu pihak mereka bersedia dan pada pihak yang lain ada
kesediaan dari pelaksana program untuk melibatkan mereka berperan aktif dalam program-
program pembangunan.
Kedua, bahwa ada kebudayaan-kebudayaan di Tanah Papua yang sangat kuat berorientasi
horisontal. Dalam kebudayaan-kebudayaan seperti itu, misalnya pada orang Biak hubungan
antar warga dalam kelompok kekerabatan amat kuat menyebabkan kepentingan kelompok
kekerabatan lebih diutamakan dari kepentingan individu. Di antara para warga kelompok
kekerabatan terdapat perasaan solidaritas yang amat tinggi, yang didasarkan pada
pandangan ‘pars-prototo’ artinya sebagian berarti keseluruhan. Pandangan demikian
menimbulkan rasa aman pada diri para warga kelompok kekerabatan karena akan selalu
dibantu pada waktu mengalami kesulitan. Sebaliknya pandangan ini menimbulkan kewajiban
untuk terus menerus berusaha memelihara hubungan baik sesamanya dan sedapat mungkin
membagi keuntungan-keuntungan dengan sesamanya. Prinsip membagi keuntungan-
keuntungan dengan sesama para anggota kerabat ini tentu saja tidak memberi peluang bagi
orang untuk mengakumulasi modal guna kepentingan di hari depan. Dengan demikian
orientasi horisontal yang amat kuat tidak cocok untuk pembangunan.
Menurut adat, seorang pria yang telah menikah menetap di rumah orang tuanya di tengah-
tengah para kerabatnya (yaitu adat virilokal). Kelompok kekerabatan terkecil dalam
masyarakat Suku Arfak adalah keluarga luas virilokal yang menghuni satu rumah ( tumitsen),
terdiri dari sepasang suami istri bersama keluarga inti dari 3-5 anak pria mereka. Apabila
daya tampungnya terbatas, dengan persetujuan ayah dari anak-anak pria tadi, dibangun
rumah yang baru. Satu tumitsen biasanya mempunyai 3-5 kamar, sebanyak pasang suami
istri yang ada.
Rumah dibangun cukup besar dan berbentuk segi empat dan dinding-dindingnya terbuat dari
kulit pohon dan tanpa jendela. Tidak adanya jendela menyebabkan asap pekat dari perapian
dari dalam rumah orang Arfak sangat mengganggu pernafasan dan berakibat banyaknya
penduduk yang terkena penyakit paru-paru. Atap rumah terbuat dari daun pandan , sedang
lantainya dari belahan nibung atau bambu. Pohon yang digunakan untuk tiang tengah
rumah disebut mesiyi (bahasa Meyah).
Dalam satu rumah biasanya terdapat kamar untuk wanita ( meraja) dan kamar pria (meiges)
serta sebuah ruang duduk (umersa) di tengah. Suatu rumah dengan suatu tempat khusus
untuk upacara dan pesta adat disebut modambau , lantai di ruang tengah tak dialasai
dengan batang-batang nibung sehingga menari dilakukan di atas tanah.
Itorei biasanya lebih besar dari Onggoi. Rumah-rumah tradisional suku amungme pada
umumnya berbentuk bulat telur dan mempunyai panggung ( inokep), beratap kulit kayu atau
daun pandan berlantai batang pandan, berdinding papan belah dan diikat dengan rotan. Di
dalam sebuah Onggoi tinggallah ibu, anak-anak kecil serta anak gadis yang belum berumah
tangga. Hewan peliharaan (babi) dibuatkan tempat khusus di dalam rumah yang disebut
”Boekaruk”.
Pada siang hari bapak/kepala keluarga tinggal di onggoi untuk membantu pekerjaan
keluarga, dan bila malam hari ia kembali ke itorei untuk tidur di sana. Tamu perempuan dari
desa lain yang berkunjung hanya boleh bertamu dan tidur di onggoi. Bila ia hendak bertemu
dengan seorang tetua laki-laki ia hanya boleh bertemu di luar itorei atau di dalam onggoi..
Kaum perempuan tidak bolah masuk di dalam itorei karena rumah ini dianggap sakral. Di sini
disimpan segala benda yang dianggap sakral atau suci ( tunonggop). Itorei juga dijadikan
tempat penginapan bagi para tamu laki-laki. Di dalam rumah ini juga sering diadakan
upacara-upacara adat yang sakral.
a. Tup, merupakan gerakan berputar di tempat, atau berjalan atau berlari yang
dilakukan sambil bernyanyi.
b. Weantagawi, merupakan gerakan dua orang yang saling berhadapan muka sambil
menghentakkan kaki di tanah bersama-sama. Gerakan ini diikuti langkahmengikuti
irama, maju dua langkah dan mundur dua langkah seirama dengan lagu yang
dibawakan.
d. Tem, gerakan ini diadakan di dalam rumah, di dalam sinar nyala api. Muda-mudi
duduk berhadapan muka, dipisahkan oleh tungku apui, sambil bernyanyi kaum
pemuda memberi daun kepada pemudi dan sebaliknya.
a. Tarian mudi-mudi
Tarian ini diadakan di lapangan terbuka yang disebut Tup. Dalam tarian ini para
penari membentuk lingkaran sambil menyanyikan lagu-lagu asmara. Si pemuda
melambai-lambaikan dedaunan kepada gadis yang disukainya dan bila si gadis
menghampiri si pemuda sambil mengikuti irama lagu yang dinyanyikan dan
menerima dedaunan yang dilambaikan berarti si gadis juga tertarik pada pemuda
tersebut (arama emonggop agewin). Ada tarian muda-mudi yang berlangsung di
dalam rumah yang disebut Tem. Para muda-mudi duduk berhadapan dipisahkan ole
tungku api di antara mereka. Di sini mereka yang saling terpaut hatinya menyatakan
kasih sayangnya dengan memberikan suatu benda. Tarian ini dapat berlangsung
semalam suntuk. Dalam tarian ini para pemuda dan pemudi menyanyikan lagu dan
pantun tentang cinta.
b. Tarian Pesta
c. Tarian Perang
Tarian perang mirip dengan tarian pesta. Yang membedakannya adalah lagu-lagu
yang dibawakan dalam tarian perang berisi lagu-lagu perjuangan yang
membangkitkan semangat juang.
7.7.3. Kerajinan
Seni ukir kurang begitu dominan dalam kebudayaan suku di wilayah Papua Barat. Seni ukir
terbatas pada mengukir anak panah. Di waktu senggang seorang pria Arfak mengukir serta
melukis busur dan anak panahnya. Ukiran-ukiran yang khas itu juga dibuat padap perlatan-
peralatan perang lainnya.
Para wanita dan pria orang Arfak biasanya mengenakan perhiasan yang berupa gelang
yang terbuat dari anyaman tali rotan dan disebut liya, de’maya (kalung), mi’yepa (hiasan
kepala yang dianyam memakai manik-manik), breya (anyaman kulit dan bulu burung atau
kasuari untuk hiasan kepala). Hiasan dan busana bagi wanita adalah rumbai-rumbai yang
dibuat dari alang-alang dan serat kulit kayu yang diikatkan dipinggang dan kalung manik-
manik (gemsya). Serat-serat itu diambil dari batang pohonnya kemudian dipintal menjadi
benang yang kemudian dengan ini digunakan untuk membuat berbagai barang kebutuhan
hidupnya.
Warna-warna yang mendominasi yang digunakan dalam kerajinan adalah putih, hitam,
merah dan kuning. Warna putih dibuat dari tanah liat, isi keladi putih yang membusuk atau
abu dari tungku api. Warna hitam dibuat dari asap lemak babi dan damar, arang dapur atau
dari buah-buahan hutan. Warna merah dibuat dari tanah merah yang digali dari dalam
tanah. Sedangkan warna kuning dibuat dari akar tumbuh-tumbuhan dan tali-talian hutan.
Oleh karena konsep tersebut mempunyai pemahaman yang berkaitan dengan kegiatan yang
menghasilkan sesuatu untuk dinikmati hasilnya, terutama dalam rangka pemenuhan
kebutuhan dasar manusia agar tetap mempertahankan hidupnya, maka pemahaman kita
tentang etos kerja suatu kelompok tertentu dapat dicapai melalui pengertian kita tentang
kegiatan-kegiatan yang produktif apa yang dilakukan oleh setiap orang atau kelompok dalam
rangka mempertahankan dan melanjutkan hidupnya. Bertolak dari dasar pemikiran di atas,
etos kerja orang Papua dapat kita pahami melalui kegiatan-kegiatan apa yang dilakukan oleh
mereka untuk mempertahankan hidupnya.
Pada bagian yang membicarakan diversitas kebudayaan orang Papua dalam makalah ini,
seperti yang telah diuraikan di atas, dijelaskan bahwa kegiatan yang menyangkut sistem
ekonomi orang Papua sangat ditentukan oleh lingkungan atau mintakad ekologi yang ada di
daerah ini. Misalnya penduduk yang bertempat tinggal di daerah berawa menjadikan
meramu sagu sebagai kegiatan atau usaha ekonomi utama mereka. Berbeda dengan
penduduk yang hidup di daerah pengunungan tinggi dan dataran kaki-kaki bukit yang
menjadikan bercocok tanam sebagai usaha ekonomi utama mereka. Perbedaan jenis usaha
ekonomi ini sangat mempengaruhi bentuk etos kerja masing-masing kelompok. Pada
kelompok-kelompok masyarakat yang tergolong kedalam masyarakat peramu seperti
misalnya orang Asmat, orang Kamoro, orang Waropen, orang Bauzi, orang Inawatan yang
hidup di dataran rawa-rawa dan yang sangat menggantungkan hidupnya pada usaha
ekonomi berbentuk meramu sagu, mempunyai etos kerja yang berbeda dengan penduduk
Papua lainnya yang menggantungkan hidupnya pada usaha ekonomi berladang.
Etos kerja pada kelompok peramu adalah orang bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan
dasar sesaat saja. Atau lebih jelas lagi dapat dikatakan orang bekerja untuk menghasilkan
makanan yang cukup untuk kebutuhan saat itu juga atau cukup untuk makan satu hari saja.
Etos kerja seperti ini dilandasi oleh pemikiran dasar bahwa tujuan hidup ini adalah untuk
dinikmati. Dengan demikian, menurut pandangan mereka, untuk apa harus bersusah payah
untuk mengumpulkan berlebihan jika yang telah dikumpulkan memang sudah cukup untuk
dinikmati. Pandangan demikian cukup beralasan sebab tiap keluarga yang berfungsi sebagai
kelompok produksi dalam masyarakat peramu melakukan hal yang sama, tidak terdapat
diferensiasi kerja, sehingga masing-masing keluarga itu secara ekonomi berdiri sendiri, tidak
tergantung dari keluarga atau kelompok produksi lain.
Penekanan kerja pada kelompok peramu adalah mengumpulkan hasil yang telah tersedia di
alam, belum pada tingkat usaha untuk memproduksi dan memelihara produksi yang telah
dihasilkan.
Etos kerja seperti ini dapat dirubah jika diciptakan diferensiasi kerja diantara mereka dengan
memanfaatkan potensi-potensi yang tersedia di lingkungan alam setempat. Di samping itu
perlu diberikan bantuan-bantuan yang dapat memudahkan mereka untuk terlibat dalam
ekonomi pasar seperti misalnya memberdayakan mereka untuk dapat beralih dari usaha
mengumpulkan hasil yang telah tersedia di alam kepada tingkat usaha untuk memproduksi
dan memudahkan terjualnya hasil-hasil yang telah diproduksi di pusat-pusat pasar.
Memberdayakan penduduk untuk memanfaatkan potensi alam yang tersedia guna ekonomi
pasar disini berarti memperkenalkan sekaligus mendidik penduduk untuk menggunakan
teknologi tepat guna dalam mengolah sumber daya alam yang tersedia guna ekonomi pasar.
Berbeda dari etos kerja yang terdapat pada penduduk peramu, maka etos kerja pada
penduduk yang menggantungkan hidup dari berladang adalah orang berkerja bukan untuk
memenuhi kebutuhan saat ini tetapi orang bekerja untuk memenuhi kebutuhan diwaktu
mendatang.
Kegiatan membuka sebidang lahan menjadi ladang, memerlukan suatu proses yang lama
mulai dari membersihkan/menebang pohon, menanam, merawat, menyiangi sampai pada
saat memanen hasil. Keseluruhan proses ini memerlukan waktu bervariasi antara enam
sampai sepuluh bulan, kadang-kadang lebih dari sepuluh bulan, tergantung dari jenis
tanaman yang diusahakan.
Fase-fase kerja melalui proses yang panjang mulai dari saat membuka suatu lahan baru
sampai pada saat memanen hasilnya membutuhkan ketekunan dan kerajinan kerja
seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa etos kerja pada penduduk peladang di Tanah Papua
dapat dikategorikan sebagai etos kerja tinggi. Hal ini dibenarkan oleh berbagai kajian
antropologi dan sosiologi tentang etos kerja pada penduduk peladang di Tanah Papua.
Meskipun dikatakan bahwa pada penduduk berladang terdapat etos kerja yang tinggi, namun
harus dicatat bahwa ukuran etos kerja tersebut adalah dalam batas pemenuhan kebutuhan
ekonomi rumah tangga sendiri, bukan untuk kebutuhan ekonomi pasar.
Penekanan terhadap kerja untuk masa depan seperti yang terdapat pada masyarakat
peladang ini sesungguhnya merupakan modal positif. Persoalannya sekarang ialah
bagaimana memberikan stimulasi yang dapat memacu tingkat etos kerja yang sudah ada
menjadi lebih tinggi lagi untuk mengakumulasi hasil, yang lebih banyak lagi untuk keperluan
pasar yang pada gilirannya akan menghasilkan modal yang dapat digunakan untuk
pengembangan lebih lanjut.
Kecuali bentuk-bentuk etos kerja penduduk Papua, seperti yang terungkap di atas, satu hal
yang perlu dikemukakan pula disini karena mempunyai keterkaitan dengan etos kerja adalah
tentang sifat bersaing yang terdapat pada orang Papua.
Seperti yang telah dijelaskan pada bagian lain dalam makalah ini bahwa sebagian besar
kelompok-kelompok etnik Papua seperti misalnya orang Meybrat (Ayamaru), orang Me,
orang Muyu, orang Biak dan penduduk Waropen dan Serui di Teluk Cenderawasih serta
orang Dani, memiliki sifat bersaing yang amat kuat diantara mereka. Mereka bersaing untuk
menjadi orang yang terpandang dalam kalangan mereka sendiri seperti menjadi orang kaya,
orang yang paling pandai berdiplomasi, orang yang paling pandai menyusun strategi perang,
menjadi orang yang lebih tahu tentang masalah-masalah adat, paling pandai berorganisasi
atau paling kuat dalam ilmu sihir.
Penjelasan di atas ini menunjukkan bahwa sifat bersaing, suatu sifat yang memang dinilai
amat baik dalam kehidupan modern, dimiliki oleh orang Papua.
Permasalahannya sekarang ialah bagaimana kita dapat mendorong modal budaya yang
sudah terdapat dalam masyarakat Papua ini untuk dikembangkan dan dimanfaatkan bagi
kepentingan pembangunan di daerah ini khususnya dan di negara Republik Indonesia ini
pada umumnya.