0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan2 halaman

Seni, Agama, dan Imajinasi Kreatif

Dokumen tersebut membahas hubungan antara seni, agama, dan filsafat. Secara singkat, dokumen menyatakan bahwa (1) pengalaman estetik adalah akar dari kesadaran seni dan kecenderungan berkesenian, (2) pengalaman ini membuka akses ke imajinasi yang merupakan dasar agama, sains, dan filsafat, (3) para seniman dianggap memiliki akses terbaik ke kebenaran hidup melalui imajinasi kreatif mereka.

Diunggah oleh

6181901022
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
8 tayangan2 halaman

Seni, Agama, dan Imajinasi Kreatif

Dokumen tersebut membahas hubungan antara seni, agama, dan filsafat. Secara singkat, dokumen menyatakan bahwa (1) pengalaman estetik adalah akar dari kesadaran seni dan kecenderungan berkesenian, (2) pengalaman ini membuka akses ke imajinasi yang merupakan dasar agama, sains, dan filsafat, (3) para seniman dianggap memiliki akses terbaik ke kebenaran hidup melalui imajinasi kreatif mereka.

Diunggah oleh

6181901022
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

Seni, Agama, dan Filsafat

Seni adalah komunikasi pengalaman ruh- ruh pribadi yang bersentuhan dengan ruh
semesta (Anima Mund) saat kepekaan indra kita tiba-tiba tersapa, terpesona dan
terbuka pada dimensi yang lebih dalam dan lebih tinggi di balik segala. Ketika aneka
membran indrawi kita menangkap pesona kuat dari bentuk-bentuk sekeliling
kita, seperti warna matahari jingga, nvanyian burung-burung yang tak tampak,
ataupun tarian butir-butir hujan yang ceria, ada keharuan, kegembiraan, ke-
terpukauan yang misterius, yang tak terjelaskan namun sekaligus tak terelakkan. Pada
saat seperti itu rupanya batin kita terdalam bersentuhan dengan
batin semesta. Pengalaman persentuhan dan komunikasi batin ini dialami setiap
orang dan setiap saat, dalam kadar yang berbeda-beda. Pada para seniman, ke-
pekaan batin untuk menangkap misteri itu rupanya lebih tinggi. Juga kemampuan
mereka untuk mengartikulasikan dan mengungkapkannya secara mengena.

Demikian, seni pada akhimya adalah komunikasi pengalaman batin nan sang seniman
kepada semua ruh manusia lain, komunikasi misteri kehidupan tu ang terdalam,
komunikasi tentang saut Maha Ruh (Tuhan, Dewa, dsb) di bs, lik segala kejadian. Itu
sebabnya pasi, tingkat terdalam seni itu selalu "religius
ahkan 'mistis'. Sebenarnya mistik dan religiusitas berakar pada pengalaman
keseharian, pengalaman tentang keajaiban bentuk dan drama kchidupan. Tak heran
bila flsuf John Dewey menyebut karya-karya seni besar sebagai Paradigma
Pengalaman' .' Akar pengalaman estetik adalah pengalaman dramatik keseharian.
Kecemasan orang yang berkerumun saat melihat kcelakaan di jalanan. Ketegangan
penonton saat mengikuti lompatan-lompatan bola dalam permainan sepak-
bola. Keharuan seseorang saat melihat bunga pertama menyeruak dari tanaman
yang selalu disiraminya. Perasaan aneh saat melihat api membesar ketika kita
siramkan minyak ke atas bara. Kepekaan atas keajaiban bentuk serta pengalaman
atas drama kehidupan macam itulah akar dari kesadaran estetik dan kecenderungan
berkesenian. Itulah pengalaman-pengalaman yang membuka membran-menbran indra
manusia pada kaitan-kaitan halus terselubung antar berbagai kejadian.
yang menggiringnya pada perenungan yang lebih mendalam ihwal misteri alam
dan kehidupan, yang menjebaknya pada keharuan-keharuan tanpa alasan atas
matahari, angin, tanaman ataupun hujan tapi juga yang mendorongnya sampai
pada pemikiran-pemikiran paling imajinatif dan brilian. Itu sebabnya seni sejak
awal adalah bagian erat dani agama dan filsafat.

Pengalaman macam itulah yang akhirnya mengubah sikap reaktif(men-


jawab) menjadi kreatif (mencipta); kecenderungan reseprif(mencerap) menjadi
formatif(membentuk). Dengan kata lain, pengalaman indrawi menyentuh intuisi
dan membukakan imajinasi, imajinasi kreatif. Imajinasi adalah alat manusia un-
tuk membongkar segala yang mengungkungnya, untuk menjangkau yang tak
terbatas, alat untuk mengubah realitas. Imajinasi adalah kemampuan tertinggi yang
memungkinkan nalar bekerja dan perasaan menggeliat. Imajinasi adalah akar agama,
sains, dan filsafat. Begitulah keyakinan kaum Romantik khususnya, tapi juga
keyakinan banyak filsufberabad- abad lamanya. Dalam kerangka ini konon
para senimanlah- yaitu mereka yang mempertajam sensibilitas reseptif dan mengelola
imajinasi-kreatifnya secara optimal-yang paling mempunyai akses
pada kebenaran hidup sesungguhnya. William Blake-pelukis dan penyair abad ke-19-
beranggapan bahwa imajinasi membawa manusia ke pembebasan diri dan
keselamatan sejati. Bukan hanya menciptakan seni, imajinasi, katanya, juga
menciptakan mitologi dan melahirkan agama. Realitas sehari-hari pun selalu kita
alami melalui imajinasi dan pada dasarnya memang ciptaan' imajinasi. Mengikuti alur
pikir Ibn 'Arabi, Blake meyakini bahwa seluruh alam semesta diciptakan lewat ima-
jinasi, yang dimiliki baik oleh Tuhan maupun manusia. Karena itu kunci me-
nuju keselamatan adalah mengenali kekuatan imajinasi ini. Terinspirasi Jacob
Boehme dan Paracelsus, Blake bahkan meyakini bahwa surga adalah imajinasi,
dan manusia adalah apa yang diimajinasikannya sendiri juga. Penyatuan diri kembali
dengan Tuhan dimungkinkan olch kemampuan imajinasi dan

Anda mungkin juga menyukai