PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMBELI PERUMAHAN
MELALUI PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI
DIBAWAH TANGAN PADA PT. BUKIT SENTUL
DI KABUPATEN BOGOR
TESIS
Disusun
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Derajat S-2
Program Studi Magister Kenotariatan
Oleh :
SARTONO
B4B 008 235
PEMBIMBING :
Ana Silviana, [Link].
PROGRAM STUDI MAGISTER KENOTARIATAN
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2010
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMBELI PERUMAHAN
MELALUI PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI
DIBAWAH TANGAN PADA PT. BUKIT SENTUL
DI KABUPATEN BOGOR
Disusun Oleh :
SARTONO
B4B 008 235
Dipertahankan di hadapan Tim Penguji
Pada tanggal 27 Maret 2010
Tesis ini telah diterima
Sebagai persyaratan untuk memeperoleh gelar
Magister Kenotariatan
Mengetahui,
Pembimbing, Ketua Program Studi
Magister Kenotariatan
Universitas Diponegoro
Ana Silviana, SH.,[Link]. H. Kashadi, [Link].
NIP. 19641118 199303 2 001 NIP. 19540624 198203 1 001
PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan dibawah ini, Nama : SARTONO, dengan ini
menyatakan hal-hal sebagai berikut :
1. Tesis ini adalah hasil karya saya sendiri dan di dalam tesis ini tidak terdapat
karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu
Perguruan Tinggi / lembaga pendidikan manapun. Pengambilan karya orang
lain dalam tesis ini dilakukan dengan menyebutkan sumbernya sebagaimana
tercantum dalam daftar pustaka;
2. Tidak keberatan untuk dipublikasikan oleh Universitas Diponegoro dengan
sarana apapun , baik seluruhnya atau sebagian, untuk kepentingan akademik /
ilmiah yang non komersial sifatnya.
Semarang, 27 Maret 2010
Yang menerangkan,
SARTONO
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, bahwa berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tesis yang berjudul
PERLINDUNGAN HUKUM BAGI PEMBELI PERUMAHAN MELALUI
PERJANJIAN PERIKATAN JUAL BELI DIBAWAH TANGAN PADA PT. BUKIT
SENTUL DI KABUPATEN BOGOR”. Penyusunan tesis ini disusun untuk
memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Program
Pascasarjanan Magister Kenotariatan pada Universitas Diponegoro, Semarang.
Pada kesempatan ini Penulis ingin menyampaikan rasa hormat, terima
kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada Dalam kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa hormat, terima kasih dan penghargaan yang
sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. DR. dr. Susilo Wibowo, M.S., Med.,Spd. And. selaku Rektor
Universitas Diponegoro Semarang;
2. Prof. Drs. Y. Warella, MPA., PhD. Selaku Direktur Program Pascasarjana
Universitas Diponegoro Semarang;
3. Bapak Prof. Dr. Arief Hidayat, SH. [Link]., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Diponegoro Semarang;
4. Bapak H. Kashadi, SH., MH. selaku Ketua Program Studi Magister
Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang;
5. Bapak Dr. Budi Santoso, S.H., MS. selaku Sekretaris Program Studi Magister
Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang Bidang
Akademik;
6. Bapak Dr. Suteki, SH., [Link]. selaku Sekretaris Program Studi Magister
Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro Semarang Bidang
Administrasi Dan Keuangan;
7. Ibu Ana Silviana, SH.,M Hum., selaku Dosen Pembimbing yang telah bersedia
dengan tulus ikhlas memberikan bimbingan serta pengarahan dalam
penyusunan Tesis ini.
8. Ibu Hj. Endang Sri Santi, SH., MH. dan Nur Adhim, SH., MH., selaku anggota
Tim Review Proposal dan Penguji Tesis yang telah meluangkan waktu untuk
menguji Tesis ini;
9. Bapak Drs. Bambang Yudi Hirawan SH. selaku Bagian HRD PT. Bukit Sentul
City Tbk., terima kasih adas waktu dan dukungannya selama penulis
melaksanakan penelitian ini;
10. Orang tuaku ayahanda (Alm) Karso Semito dan ibunda Kaseh atas kasih
sayang yang tulus, bimbingan, doa restu dan keridhaan serta pengorbanannya;
11. Isteriku Wasini tercinta atas dukungan dan doanya serta selalu setia
mendampingi penulis dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan;
12. Anak-anakku tersayang Ratih Kusuma Warhani ST. dan Angga Sukarno Putra
yang aku cintai dan sayangi serta aku banggakan;
13. Adik-adikku Sukarmin [Link] dan Sukamdi [Link] atas dukungan, doa
restu dan pengorbananmu;
14. Seluruh staf pengajar Program Studi Magister Kenotariatan, Pascasarjana,
Universitas Diponegoro, Semarang dan seluruh staf Administrasi dan
Sekretariat yang telah banyak membantu Penulis selama Penulis belajar di
Program Studi Magister Kenotariatan, Pascasarjana, Universitas Diponegoro,
Semarang.
15. Semua pihak dan rekan-rekan mahasiswa yang tidak dapat penulis sebutkan
satu persatu yang turut memberikan sumbangsihnya baik moril maupun
materiil dalam menyelesaikan tesis ini.
Mengingat kemampuan dan pengetahuan dari Penulis yang masih terbatas,
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Tesis ini masih terdapat banyak
kekurangan dan ketidak sempurnaan yang ditemui. Oleh karena itu, dengan hati
terbuka dan lapang dada, Penulis mengharapkan saran atau kritik yang sifatnya
positif terhadap tulisan ini, guna peningkatan kemampuan Penulis di masa
mendatang dan kemjuan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang hukum.
Akhirnya semoga penulisan tesis ini dapat bermanfaat bagi penulis sendiri,
civitas akademika maupun para pembaca yang memerlukan sebagai bahan
literatur.
Semarang,
Penulis
Abstrak
Jual beli tanah perumahan menurut Hukum Tanah Nasional bersifat tunai
(kontan). Akan tetapi dalam prakteknya, tidak setiap jual beli tanah perumahan,
khususnya melalui Perusahaan Pengembang dilangsungkan secara tunai (kontan).
Akibatnya jual beli yang dilakukan melalui perbuatan hukum pembuatan akta dalam
bentuk perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) yang dibuat dihadapan Notaris ataupun
secara dibawah tangan.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui : 1) pelaksanaan jual beli tanah –
bangunan melalui Perjanjian Pengikatan Jual Beli secara dibawah tangan di Perumahan
Bukit Sentul Kabupaten Bogor; 2) perlindungan hukum dan akibat hukum bagi pembeli
dengan melakukan jual beli tanah – bangunan melalui Perjanjian Pengikatan Jual Beli
bangunan secara dibawah tangan di Perumahan Bukit Sentul Kabupaten Bogor; dan 3)
hambatan yang muncul dan penyelesaiannya dalam jual beli perumahan dengan
Perjanjian Pengikatan Jual Beli bangunan di Perumahan Bukit Sentul Kabupaten Bogor.
Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis empiris, dengan spesifikasi
penelitian deskriptif analitis. Obyek dalam penelitian ini adalah para pihak yang terkait
dengan pelaksanaan jual beli tanah dan bangunan di Perumahan Bukit Sentul Kabupaten
Bogor dengan Akta Pengikatan Jual Beli, dengan Subyek penelitian adalah pihak PT.
Bukit Sentul dan 10 (sepuluh) Pembeli / Pemilik tanah dan bangunan di Perumahan Bukit
Sentul, serta pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor dan 5 (lima) Notaris & PPAT
di Wilayah Kabupaten Bogor selaku narasumber. Data dalam penelitian ini bersumber
dari data primer dan data sekunder, yang dianalisis secara kualitatif.
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa : 1). Pelaksanaan jual beli tanah-
bangunan melalui perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat secara dibawah tangan di
Bukit Sentul Kebupaten Bogor, dilakukan dalam bentuk perjanjian baku (standar contract),
yang ditentukan secara sepihak oleh pengembang yang posisinya lebih kuat dibanding
konsumen; 2) Perlindungan hukum di sini pembeli tidak kuat dan akibat hukumnya bagi
pembeli adalah karena apabila terjadi sengketa dan salah satu pihak menyangkal tentang
P e r j a n j i a n ; 3) Hambatan yang muncul dalam jual beli perumahan dengan Perjanjian
Pengikatan Jual Beli bangunan di Perumahan Bukit Sentul Kabupaten Bogor : a)
Konsumen wanprestasi (ingkar janji); b) Konsumen melakukan praktek-praktek yang tidak
terpuji sehingga merugikan kepentingan pengembang; c) Pihak pengembang gagal
melaksanakan kewajibannya d) Bangunan rumah tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi
teknis yang ditawarkan; e) Kepailitan dari pihak pengembang. Penyelesaian yang
dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut, adalah dengan memperbaiki klausula-
klausula yang ada dalam perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat secara dibawah
tangan dengan mengadopsi klausula-klausula yang terdapat dalam perjanjian pengikatan
jual beli yang dibuat secara notariil.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa jual beli tanah-bangunan
(perumahan) melalui PPJB mengandung banyak kelemahan-kelemahan yang akibat
hukumnya bahwa hak atas tanah belum berpindah dari penjual kepada pembeli, sehingga
apabila terjadi wanprestasi terhadap perjanjian tersebut, maka pembeli tidak mendapat
perlindungan hukum.
Kata Kunci : PPJB, Jual Beli Tanah dan Bangunan.
Abstract
The housing land trade activity according to the National Land Law possesses
the characteristic of cash payment-basis. Nevertheless, upon the reality, the application is
not always realized, especially upon the handling by the housing developer. As the result,
the completed trade is executed through legal completion of the certificate issuing upon
the form of PPJB/Perjanjian Pengikatan Jual Beli (Trade Bound Agreement) made in front
of the Notary or completed upon sub-Rosa procedure.
The purpose of the research is to acknowledge: l) the trade execution of land -
building through Trade Bound Agreement through sub-Rosa procedure in the housing of
Bukit Sentul Bogor Regency, 2) the law protection and the law consequence for the buyer
from completing the trade execution of land - building through Trade Bound Agreement
through sub-Rosa procedure in the housing of Bukit Sentul Bogor Regency, and 3) the
risen obstacle and the obstacle settlement upon the trade execution of land -- building
through Trade Bound Agreement through sub-Rosa procedure in the housing of Bukit
Sentul Bogor Regency.
The research uses juridical empirical approach with the specification of
descriptive analytical research. The object upon the research is related parties to the trade
execution of land - building through 'Trade Bound Agreement in the housing of` Sentul
Bogor Regency. The respondent as the research subject is the party of the Bukit Sentul
and 10 (ten) buyers/ owners of the land and building in the housing of Bukit Sentul Bogor
Regency. The research uses purposive sampling, and the officer of Land Affairs Office of
Bogor Regency and 5 (five) Notaries & PPAT in Bogor Regency as the source speakers.
The research data are from primary data and secondary. The research is analyzed
qualitatively.
The research result shows that: I) the trade execution of land -- building through
Trade Bound Agreement through sub-Rosa procedure in the housing of Bukit Sentul
Bogor Regency is completed upon the form of standard contract, determined by one side
party that is the developer possessing stronger position than the costumer, 2) the law
protection on upon the case is that the buyer stands in the weak position so that it causes
the law consequence that is happened upon a conflict and upon the denial of the contract
by one of the parties-, 3) the risen obstacles upon the matter are: a) the customer is
considered failure, b) the customer performs improper practice that causes loss for the
developer, c) the developer fails to fulfill the obligation, d) the building is considered
inappropriate toward the offered technical specification, e) the bankruptcy upon the
developer. 'The completed settlement upon the matter is by modifying the existed clauses
upon the agreement by adopting the clauses established upon notary term.
The conclusion of the research is that trade execution of land -- building through-
Trade Bound Agreement involves many weaknesses in that the law consequence is that
the right on land has not been moved from the seller to the buyer, so that in the case of
the failure upon the agreement, the buyer does not receive law protection.
Key Words: PPJB, Trade of Land and Building
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................
HALAMAN PENGESAHAN ..........................................................................
HALAMAN PERNYATAAN .......................................................................... i
KATA PENGANTAR .................................................................................... ii
ABSTRAK .................................................................................................... v
ABSTRACT .................................................................................................. vi
DAFTAR ISI ................................................................................................. vii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. perumusan Masalah ................................................................... 9
C. Tujuan Penelitian ........................................................................ 10
D. Manfaat Penelitian ...................................................................... 11
E. Kerangka Pemikiran .................................................................... 12
F. Metode Penelitian ....................................................................... 24
1. Metode Pendekatan ............................................................... 24
2. Spesifikasi Penelitian .............................................................. 25
3. Obyek dan Subyek Penelitian................................................. 26
a. Obyek Penelitian ............................................................... 26
b. Subyek Penelitian ............................................................. 26
4. Sumber dan Jenis Data .......................................................... 27
5. Teknik Pengumpulan Data ..................................................... 30
6. Teknik Analisis Data ............................................................... 34
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Hak Atas Tanah Menurut UUPA ................................................. 36
1. Pengertian ............................................................................. 36
2. Macam-Macam Hak Atas Tanah ........................................... 41
3. Kewajiban dan Pembatasan Hak Atas Tanah ....................... 48
B. Tinjauan Umum Hak Guna Bangunan ....................................... 50
1. Pengertian Hak Guna Bangunan .......................................... 50
2. Subyek dan Obyek Hak Guna Bangunan.............................. 51
3. Jangka Waktu Hak Guna Bangunan ..................................... 53
4. Hapusnya Hak Guna Bangunan ............................................ 54
C. Tinjauan Umum Perjanjian ......................................................... 55
1. Asas-Asas Perjanjian ............................................................ 57
2. Syarat Sahnya Perjanjian ...................................................... 60
D. Tinjauan Umum Jual Beli Hak Atas Tanah Dalam Hukum Tanah
Nasional .................................................................................... 62
1. Pengertian Jual Beli .............................................................. 62
2. Prosedur Jual Beli ................................................................. 64
3. Berpindahnya Hak karena Jual Beli ...................................... 65
4. Jual Beli Tanpa Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) . 70
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum PT. Bukit Sentul (Pengembang) .................. 76
B. Pelaksanaan Jual Beli Tanah – Bangunan Melalui Perjanjian
Pengikatan Jual Beli Secara Dibawah Tangan Di Perumahan
Bukit Sentul Kabupaten Bogor .................................................. 77
1. Sifat dan Bentuk .................................................................. 77
2. Isi Perjanjian Pengikatan Jual Beli ....................................... 82
C. Perlindungan Hukum dan Akibat Hukum Bagi Pembeli Dengan
Melakukan Jual Beli Tanah – Bangunan Melalui Perjanjian
Pengikatan Jual Beli Secara Dibawah Tangan Di Perumahan
Bukit Sentul Kabupaten Bogor .................................................. 93
D. Hambatan yang Muncul dan Penyelesaiannya Dalam Jual Beli
Perumahan Dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli Bangunan di
Perumahan Bukit Sentul Kabupaten Bogor ............................... 121
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................... 136
B. Saran ........................................................................................ 138
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tidak dapat dielakkan
bahwa tingkat kebutuhan manusia semakin lama semakin meningkat, dalam
upayanya untuk meningkatkan taraf hidupnya anggota masyarakat akan
melakukan berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhannya.
Perumahan merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar bagi
manusia, baik untuk tempat tinggal, tempat usaha, perkantoran dan lain
sebagainya. Namun demikian, belum semua anggota masyarakat dapat
memiliki atau menikmati rumah yang layak, sehat, aman dan serasi. Oleh
karena itu upaya pembangunan perumahan dan pemukiman terus ditingkatkan
untuk menyediakan jumlah perumahan yang makin banyak dan dengan harga
yang terjangkau terutama oleh golongan masyarakat yang berpenghasilan
rendah serta tidak semua mampu membeli rumah.
Salah satu unsur pokok dalam pembangunan untuk mensejahterakan
rakyat, adalah terpenuhinya kebutuhan masyarakat dalam bidang papan atau
perumahan. Perumahan merupakan salah satu kebutuhan yang mendasar
1
bagi manusia, baik untuk tempat tinggal, tempat usaha, perkantoran dan lain
sebagainya. Namun demikian, belum semua anggota masyarakat dapat
memiliki atau menikmati rumah yang layak, sehat, aman dan serasi.
Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992
tentang Perumahan dan Pemukiman, ditentukan bahwa yang dimaksud
dengan rumah, adalah bangunan yang berfungsi sebagai tempat tinggal dan
hunian bagi pembinaan keluarga. Kebutuhan akan perumahan pada masa
sekakang ini merupakan masalah nasional, terutama di daerah perkotaan,
yang harus dicarikan solusinya baik oleh pemerintah bersama-sama dengan
masyarakat selaku pengusaha maupun selaku konsumen perumahan itu
sendiri.
Oleh karena itu, upaya pembangunan perumahan dan pemukiman
terus ditingkatkan, untuk menyediakan jumlah perumahan yang makin banyak
dan dengan harga terjangkau, terutama oleh golongan masyarakat
berpenghasilan rendah tidak semua mampu membeli rumah, maka mereka
akan membeli rumah secara kredit melalui lembaga perbankan dengan
mengajukan Kredit Pemilikan Rumah (KPR).
Perusahaan pengembang (developer), merupakan pihak swasta yang
ikut mencarikan solusi masalah perumahan dengan kegiatan usahanya, yaitu
membangun dan menjual perumahan kepada konsumen. Pembelian rumah
oleh konsumen dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu :1
1. Sistem tunai bertahap, yaitu dalam melakukan pembelian rumah,
konsumen membayar secara bertahap dengan jangka waktu antara 6 bulan
sampai 1 tahun langsung kepada pengembang;
1
[Link], online internet tanggal 16 Nopember 2009
2. Sistem Kredit Pemilikan Rumah (KPR), dalam sistem ini konsumen
membeli rumah dengan cara kredit yang pembayarannya dilakukan dalam
jangka waktu panjang, yaitu antara 5 tahun sampai dengan 15 tahun.
Satu perbuatan hukum yang berkenaan dengan masalah perumahan ini
adalah perbuatan hukum mengenai jual beli. Berdasarkan ketentuan Pasal
1457 KUH Perdata, yang dimaksud dengan Jual Beli adalah: “suatu
persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikat dirinya untuk
menyerahkan suatu kebendaan dan pihak yang lain untuk membayar harga
yang dijanjikan.”
Selanjutnya dalam jual bel ini diperjanjikan bahwa Penjual menyerahkan
atau memindahkan hak miliknya, sedangkan
yang lainnya membayar harga yang telah disetujui, dalam hal jual beli ini
seharusnya salah satu pihak menyerahkan barang (levering) dan dilain pihak
membayar atas pembelian tersebut. 2Akan tetapi, tidak setiap jual beli ini
dilangsungkan dengan kontan dan tunai. Dalam hal jual beli seperti tersebut
mengakibatkan dilakukannya perbuatan hukum pembuatan akta dalam bentuk
perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat dihadapan Notaris, atau yang dibuat
di bawah tangan (tidak dengan akta Notaris).
Hal tersebut banyak dijumpai pada jual beli perumahan yang dibangun
oleh pengembang/developer, salah satunya adalah PT. Bukit Sentul selaku
pengembang/developer dari kawasan perumahan Bukit Sentul Kabupaten
2
Harun Al–Rashid, Sekilas Tentang Jual–Beli Tanah (Berikut Peraturan–Peraturanya),
(Jakarta: GHalamania Indonesia, 1986), Halaman. 50
Bogor. Dalam penjualan rumah tersebut pengembang telah menyiapkan draft
perjanjian pengikatan jual beli baku (standard contract) untuk melakukan
perjanjian pengikatan jual beli, Permasalahan yang muncul adalah pada
beberapa klausul yang merugikan pihak pembeli, seperti konsekuensi
pembatalan pengikatan dan pengenaan biaya yang telah ditentukan secara
sepihak oleh developer dengan tidak memberikan kesempatan kepada
pembeli untuk merundingkannya terlebih dahulu.
Berkaitan dengan pelaksanan perjanjian jual beli perumahan (tanah dan
bangunan), apabila dilihat dari aspek Hukum Agraria, maka jual beli tanah
harus tunai dan kontan. Hal tersebut merupakan prinsip atau asas Hukum
Agraria Nasional yang berdasarkan Hukum Adat, namun pada kenyataannya
tidak demikian. 3Dalam masyarakat, perolehan hak atas tanah lebih sering
dilakukan dengan pemindahan hak, yaitu dengan melalui jual beli.
Pemindahan hak/Peralihan hak, adalah suatu perbuatan hukum yang
bertujuan memindahkan hak, antara lain: Jual beli, Hibah, Tukar menukar,
Pemisahan dan pembagian harta bersama dan pemasukan dalam perusahaan
atau inbreng.4
Perkataan jual beli dalam pengertian sehari-hari dapat diartikan, di
mana seseorang melepaskan uang untuk mendapatkan barang yang
dikehendaki secara sukarela.
3
Ibid. Halaman 51.
4
John Salindeho, Masalah Tanah Dalam Pembangunan (Jakarta: Sinar Grafika, 1987),
Halaman 37.
Menurut Harun Al Rasyid, ”Dalam Hukum Adat perbuatan pemindahan
hak (jual– beli, hibah, tukar menukar) merupakan perbuatan hukum yang
bersifat tunai”. Jual–beli dalam hukum tanah dengan pembayaran harganya
pada saat yang bersamaan secara tunai.5 Kemudian menurut Hukum Perdata
Pasal 1457 KUH Perdata disebutkan bahwa jual–beli tanah adalah suatu
perjanjian dengan mana penjual mengikatkan dirinya (artinya berjanji) untuk
menyerahkan hak atas tanah yang bersangkutan kepada pembeli yang
mengikatkan dirinya untuk membayar kepada penjual harga yang telah
disepakatinya.6 UUPA sebagai landasan hukum pengaturan terhadap Hukum
Tanah di Indonesia yang diundangkan pada tanggal 24 September 1960
sebagai Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria (LN 1960-104) yang kemudian disebut dengan UUPA
telah melakukan unifikasi di bidang Hukum Agraria dengan menghapus asas
dualisme dalam Hukum Agraria Indonesia dan menciptakan kesatuan hukum,
yaitu UUPA sebagai landasan hukum untuk mengatur masalah hukum Agraria
di Indonesia.
Semenjak diundangkanya UUPA, maka pengertian jual– beli tanah
bukan lagi suatu perjanjian seperti dalam Pasal 1457 jo 1458 KUH Perdata
Indonesia, karena Pasal-Pasal yang ada dalam Buku II KUH Perdata yang
mengatur tentang tanah telah dicabut oleh UUPA. Namun dalam UUPA, di
dalam ketentuan Pasalnya tidak mengatur secara jelas tentang pengertian jual-
5
Harun Al–Rashid, Op. Cit. Halaman 51.
6
Ibid, Halaman 52.
beli tersebut. Berdasarkan Pasal 5 UUPA bahwa Hukum Agraria Nasional
berdasarkan Hukum Adat, maka dapat diartikan bahwa seluruh konsep, asas
dan tujuan dalam hukum Agraria adalah diambil dari Hukum Adat. Sehingga
pengertian Jual Beli tersebut yang tidak diatur secara tegas dalam UUPA,
dapat diambil dari dalam pengertian Hukum Adat bahwa Jual Beli adalah
perbuatan hukum yang berupa penyerahan tanah yang bersangkutan oleh
penjual kepada pembeli untuk selama-lamanya pada saat mana pembeli
menyatakan harga kepada penjual yang memiliki sifat kontan dan terang serta
riil.7
Proses jual beli, mendapat pengaturan lebih lanjut dalam peraturan
pelaksana UUPA, yaitu Pasal 37 ayat (1) PP No. 24/1997 yang berbunyi: 8
”Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun
melalui jual–beli, tukar–menukar, hibah, pemasukan data
perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak karena lelang
hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta yang dibuat
oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan
perundang–undangan yang berlaku”
Selanjutnya dalam ayat (2)-nya berbunyi :
”dalam keadaan tertentu sebgaimana ditentukan oleh Menteri, Kepala
Kantor Pertanahan dapat mendaftar pemindahan hak milik yang
dilakukan di antara perorangan warga negara Indonesia yang
dibuktikan dengan akta yang tidak dibuat oleh PPAT, tetapi yang
menurut Kepala Kantor Pertanahan tersebut kadar kebenarannya
dianggap cukup untuk didaftar pemindahan hak yang bersangkutan.”
7
Effendi Perangin, Hukum Agraria Indonesia Suatu Telaah Dari Sudut Pandang Praktisi
Hukum, (Jakarta : Rajawali Pres, 1991), Halaman15
8
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia, Himpunan Peraturan- Peraturan Hukum Tanah,
(Jakarta: Djambatan, 2002), Halaman 538–539.
Hal ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 tahun 1998,
tentang Peraturan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dalam Pasal 2 ayat
(1) yang berbunyi sebagai berikut:
”PPAT bertugas pokok melaksanakan sebagian kegiatan pendaftaran
tanah dengan membuat akta sebagai bukti telah dilakukannya
perbuatan hukum tertentu mengenai hak atas tanah atau Hak Milik Atas
Satuan Rumah Susun yang akan dijadikan dasar bagi pendaftaran
perubahan data pendaftaran tanah yang diakibatkan oleh perbuatan
hukum itu.”9
Jadi jual beli hak atas tanah harus dilakukan dihadapan Pejabat Pembuat Akta
Tanah (PPAT). Hal demikian sebagai bukti bahwa telah terjadi jual beli sesuatu
hak atas tanah dan selanjutnya Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
membuat Akta Jual Belinya yang kemudian diikuti dengan pendaftarannya
pada Kantor Pertanahan setempat sesuai dengan lokasi tanah. Namun tidak
dapat dipungkiri, dalam proses jual beli tanah dan bangunan yang dilakukan
antara pengembang/developer selaku penjual dan pembeli tidak secara
langsung terdapat campur tangan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Perbuatan
”Jual-Beli di bawah tangan” terkadang hanya dibuktikan dengan selembar
kwitansi sebagai bukti telah terjadi jual beli, dalam hal jual beli tanah dan
banguan dengan pihak pengembang/developer, calon pemilik rumah (pembeli)
hanya menanda-tangani Surat Perintah Kerja (SPK) atau Surat Pemesanan
untuk dimulainya pembangunan rumahnya.
Meskipun proses tersebut di atas selanjutnya ditindaklanjuti dengan
penanndatanganan Akta Jual Beli dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah
9
Ibid, Halaman 677
(PPAT), namun yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah bagaimana
perlindungan hukum bagi pembeli apabila sebelum dilaksanakan
penanndatanganan Akta Jual Beli dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT), ternyata pihak pengembang/developer wanprestasi atau dinyatakan
pailit? Selanjutnya bagaimana kepastian hukum kepemilikan hak atas tanah
dan bangunan milik pembeli karena tanah yang bersangkutan masih belum
terdaftar atas nama pembeli ?.
Melihat kenyataan yang terjadi, maka penulis mencoba mencari
penyelesaian hukum permasalahan jual beli tanah khususnya perlindungan
hukum bagi pembeli apabila sebelum dilaksanakan penanndatanganan Akta
Jual Beli dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), ternyata pihak
pengembang/developer wanprestasi atau dinyatakan pailit dan kepastian
hukum kepemilikan hak atas tanah dan bangunan milik pembeli karena tanah
yang bersangkutan masih belum terdaftar atas nama pembeli. Oleh karenanya,
penulis merasa perlu untuk mengangkat permasalahan tersebut menjadi
sebuah penelitian untuk penyusunan tesis.
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian tersebut di atas, penulis mencoba merumuskan
permasalahan sekaligus merupakan pembahasan permasalahan yang akan
diteliti sebagai berikut :
1. Bagaimana pelaksanaan jual beli tanah – bangunan melalui Perjanjian
Pengikatan Jual Beli secara dibawah tangan di Perumahan Bukit Sentul
Kabupaten Bogor ?
2. Bagaimana perlindungan hukum dan akibat hukum bagi pembeli dengan
melakukan jual beli tanah – bangunan melalui Perjanjian Pengikatan Jual
Beli bangunan secara dibawah tangan di Perumahan Bukit Sentul
Kabupaten Bogor ?
3. Hambatan apa yang muncul dan bagaimana penyelesaiannya dalam jual
beli perumahan dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli bangunan di
Perumahan Bukit Sentul Kabupaten Bogor ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui pelaksanaan jual beli tanah – bangunan melalui
Perjanjian Pengikatan Jual Beli secara dibawah tangan di Perumahan Bukit
Sentul Kabupaten Bogor.
2. Untuk mengetahui perlindungan hukum dan akibat hukum bagi pembeli
dengan melakukan jual beli tanah – bangunan melalui Perjanjian
Pengikatan Jual Beli bangunan secara dibawah tangan di Perumahan Bukit
Sentul Kabupaten Bogor;
3. Untuk mengetahui hambatan yang muncul dan penyelesaiannya dalam jual
beli perumahan dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli bangunan di
Perumahan Bukit Sentul Kabupaten Bogor.
D. Manfaat Penelitian
1. Kegunaan Teoritis
Bagi akademisi penelitian ini diharapkan memberi manfaat teoritis berupa
sumbangan bagi pengembangan ilmu pengetahuan hukum, Khususnya
bidang hukum tanah dalam pelaksanaan jual beli perumahan yang sesuai
dengan ketentuan Hukum Tanah Nasional.
2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan dan
masukan bagi semua pihak yang terkait dengan pelaksanaan peralihan
hak atas tanah dan bangunan khususnya melalui jual beli dengan pihak
pengembang/developer.
E. Kerangka Pemikiran
Pasal 19 UU No. Pasal 1320 & Pasal
5/1960 (UUPA) 1338 (KUH Perdata)
tentang Sahnya
P j ji & A
PP No. 24/1997 PP No.
tentang 37/1998
Pendaftaran tentang
Tanah Peraturan
Jual Beli dihadapan
PPAT (terang dan
Dasar Peralihan Hak
Atas Tanah di BPN
Perjanjian Pengikatan
Jual Beli Hak
Perumahan Dibawah
Pelaksanaan Perlindungan
& Hukum &
Hambatan Akibat Hukum
Hubungan perjanjian dan perikatan adalah bahwa perjanjian adalah
sumber dari perikatan (hubungan hukum). Perikatan dalam hal ini merupakan
suatu tahap awal yang mendasari terjadinya jual beli. Maksud dibuatnya
perjanjian pengikatan jual beli ini disini disebabkan beberapa hal antara lain :
1) Sertipikat belum terbit atas nama pihak penjual, dan masih dalam proses di
Kantor Pertanahan.
2) Sertipikat belum atas nama pihak penjual, dan masih dalam proses balik
nama keatas nama pihak penjual.
3) Sertipikat sudah ada dan sudah atas nama pihak penjual tapi harga jual beli
yang telah disepakati belum semuanya dibayar oleh pihak pembeli kepada
pihak penjual.
4) Sertipikat sudah ada, sudah atas nama pihak penjual dan harga sudah
dibayar lunas oleh pihak pernbeli kepada pihak penjual, tetapi persyaratan
belum lengkap.
5) Sertipikat pernah dijadikan sebagai jaminan di Bank dan masih belum
dilakukan roya.
Dari beberapa sebab tersebut di atas, dapatlah digolongkan menjadi 3 (tiga)
golongan, yaitu :
1) Pembayaran oleh pihak pembeli kepada pihak penjual telah lunas, tetapi
syarat-syarat formal belum lengkap, misalnya sertipikat masih dalam
proses penerbitan atas nama pihak penjual.
2) Pembayaran atas obyek jual beli dilakukan dengan angsuran, tetapi syarat-
syarat formal sudah lengkap.
3) Pembayaran atas obyek jual beli dilakukan dengan angsuran karena syarat
formal belum terpenuhi.
Dengan adanya beberapa sebab tersebut, maka untuk mengamankan
kepentingan penjual dan pembeli dan kemungkinan terjadinya hal-hal yang
tidak diinginkan misalnya terjadi ingkar janji dari para pihak, diperlukan adanya
suatu pegangan atau pedoman. Demikian ini yang membedakan penjualan
yang dilakukan dengan membuat suatu akta notariil Perjanjian Pengikatan Jual
Beli dengan suatu sistem penjualan menurut hukum tanah Nasional. Dimana
jual beli menurut hukum tanah nasional yang bersumber pada hukum adat
mengandung asas tunai, terang dan riil atau nyata, sedangkan jual beli yang
dimaksudkan dalam perjanjian pengikatan jual beli itu hanya obligatoir saja.
Pengikatan jual beli merupakan suatu perikatan yang muncul dari
perjanjian, yang diatur dalam Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, yang mengakui adanya kebebasan berkontrak, dengan pembatasan
bahwa perjanjian itu tidak boleh bertentangan dengan peraturan perundangan
dan harus didasari dengan itikat baik.
Berkaitan dengan perjanjian pengikatan jual beli, maka pada dasarnya
tidak bisa lepas dari peraturan dasar mengenai perjanjian. Peraturan
perundangan dimaksud adalah Pasal 1320 KUH-Perdata tentang syarat
sahnya perjanjian, Pasal 1338 KUH-Perdata tentang akibat perjanjian, Pasal
1339 KUH Perdata tentang pembatasan dan asas kebebasan berkontrak.
Berlakunya asas kebebasan berkontrak dalam hukum perjanjian
Indonesia lain dapat disimpulkan dan Pasal 1338 KUH-Perdata yang
menyatakan bahwa : semua perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai
undang-undang bagi mereka yang membuatnya. Dalam Pasal ini tersirat
adanya bahwa para pihak harus ada suatu kesepakatan. Dengan demikian
bahwa kebebasan berkontrak berkaitan erat dengan asas konsensualisme
atau sepakat antana para pihak yang membuat perjanjian. Tanpa adanya
sepakat dan salah satu pihak yang membuat perjanjian, maka perjanjian yang
dibuat adalah tidak sah. Adapun landasan dibuatnya perjanjian pengikatan jual
beli adalah ketentuan Pasal 1338 KUH-Perdata mengenai Asas Kebebasan
berkontrak.
Selanjutnya untuk mengetahui pengertian jual beli dapat di lihat dalam
ketentuan Pasal 1457 KUH-Perdata yang menentukan : “jual beli adalah suatu
persetujuan yang mengikat pihak penjual berjanji menyerahkan sesuatu
barang/benda (zaak), dan pihak lain yang bertindak sebagai pembeli mengikat
diri berjanji untuk membayar harga”.
Dari apa yang diuraikan pada Pasal 1457 tersebut, maka dapatlah ditarik suatu
kesimpulan yaitu bahwa jual beli adalah suatu perjanjian konsensuil, artinya ia
sudah dilahirkan sebagai suatu perjanjian yang sah (mengikat atau mempunyai
kekuataan hukum) pada detik tercapainya sepakat penjual dan pembeli
mengenai unsur-unsur yang pokok (essentiali) yaitu barang dan harga, biarpun
jual beli itu mengenai barang yang tak bergerak.
Sifat konsensuil jual beli ini ditegaskan dalam Pasal 1458 KUH-Perdata
yang berbunyi :“Jual beli dianggap telah terjadi kedua belah pihak sewaktu
mereka telah mencapai sepakat tentang barang dan harga meskipun barang
itu belum diserahkan maupun harganya belum dibayàr.”
Salah satu sifat yang penting lagi dari jual beli menurut sistem Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata, adalah bahwa perjanjian jual beli itu hanya
“Obligatoir” saja, artinya, jual beli itu belum memindahkan hak milik, ia baru
memberikan hak dan kewajiban pada kedua belah pihak, yaitu memberikan
kepada si pembeli hak untuk menuntut diserahkannya hak milik atas barang
yang dijual. Sifat ini nampak jelas dari Pasal 1459 KUH-Perdata, yang
menerangkan bahwa hak milik atas barang yang dijual tidaklah berpindah
kepada sipembeli selama penyerahannya belum dilakukan (menurut
ketentuan-ketentuan yang bersangkutan).10
Berbeda dengan jual beli menurut Hukum Tanah Nasional yang
bersumber pada hukum adat, dimana apa yang dimaksud dengan jual beli
bukan merupakan perbuatan hukum yang merupakan perjanjian obligatoir.
Jual beli (tanah) dalam hukum adat merupakan perbuatan hukum pemindahan
hak yang harus memenuhi tiga (3) sifat yaitu :11
a) Harus bersifat tunai, artinya harga yang disetujui bersama dibayar penuh
pada saat dilakukan jual beli yang bersangkutan;
b) Harus bersifat terang, artinya pemindahan hak tersebut dilakukan
dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang berwenang atas obyek
perbuatan hukum;
c) Bersifat riil atau nyata, artinya dengan ditanda tangani akta pemindahan
hak tersebut, maka akta tersebut menunjukkan secara nyata dan sebagai
bukti dilakukan perbuatan hukum tersebut.
10
R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta, PT. Intermasa 1998), Halaman 80.
11
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia (Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok
Agraria, Isi dan Pelaksanaannya), (Jakarta, Djambatan :1999), Halaman 318
Seperti telah dijelaskan di atas mengenai hubungan perjanjian dan
perikatan adalah bahwa perjanjian adalah sumber dari perikatan (hubungan
hukum). Perikatan dalam hal ini merupakan suatu tahap awal yang mendasari
terjadinya jual beli. Seperti dijelaskan oleh EW. Chance dalam bukunya
“Prinsiples of Mercantile Law (Vol.1) yang dikutip oleh Tirtaamidjaja, dalam
bukunya mengenai Pokok-Pokok Hukum Perniagaan, yang isinya yaitu :
“bahwa disebut jual beli jika obyek yang diperjual belikan sudah
dialihkan dari penjual kepada pembeli. Sedangkan Perjanjian jual beli
adalah jika obyek yang diperjual belikan belum dialihkan atau akan
beralih pada waktu yang akan datang ketika syarat-syarat telah
dipenuhi. Perjanjian jual beli ini akan menjadi jual beli jika syarat-syarat
telah terpenuhi dan obyek yang diperjualbelikan telah beralih kepada
pembeli.”12
Seperti telah telah dijelaskan dan diterangkan di atas, jika dikaitkan
dengan perbuatan hukum jual beli yang merupakan tindak lanjut dan
perbuatan hukum perjanjian pengikatan jual beli, disini dapatlah ditegaskan
lagi bahwa yang dimaksud dengan jual beli menurut Hukum Tanah Nasional
kita dengan jual beli menurut Pasal 1457 KUH-Perdata sudah jelas berbeda,
dimana jual beli menurut Hukum Tanah Nasional merupakan perbuatan hukum
pemindahan hak yang bersifat tunai, bersifat terang dan bersifat ril, serta
dilakukan dihadapan pejabat yang berwenang dalam hal ini Pejabat Pembuat
Akta Tanah.
Adapun jual beli menurut KUH-Perdata hanya bersifat obligatoir saja.
Hal ini yang mernbedakan penjualan yang dilakukan dengan membuat
12
Tirtaamidjaja, Pokok-Pokok Hukum Perniagaan, (Jakarta Djambatan, 1970),
Halaman 24.
perjanjian pengikatan jual beli dengan sistem penjualan menurut Hukum Tanah
Nasional, sehingga dengan demikian praktek jual beli secara pengikatan jual
beli tidak dapat dikatakan bertentangan atau melanggar Hukum Tanah
Nasional, karena memang bukan perbuatan hukum jual beli yang dimaksud
oleh Hukum Tanah Nasional yang berlaku, melainkan hanyalah masih dalam
bentuk “perikatan jual beli”. Dimana hal itu merupakan perjanjian pendahuluan
untuk dapat dilakukan perbuatan hukum jual beli dihadapan pejabat yang
berwenang.
Oleh karena dasar perjanjian pengikatan jual beli hanya merupakan
implementasi dari asas kebebasan berkontrak sebagaimana diatur dalam
ketentuan Pasal 1338 KUH-Perdata yang menyatakan bahwa : ”semua
perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi
mereka yang membuatnya”, maka perlindungan hukum yang diberikan kepada
para pihak hanya berdasarkan pada kesepakatan para pihak juga. Artinya
hanya berpedoman pada ketentuan-ketentuan yang terdapat pada KUH-
Perdata, khususnya Pasal 1320 KUH-Perdata tentang syarat sahnya
perjanjian, Pasal 1338 KUH-Perdata tentang akibat perjanjian dan Pasal 1339
KUH Perdata tentang pembatasan dan asas kebebasan berkontrak.
Untuk kepraktisan dari segi hubungan hukum antara pengembang
dengan konsumen, pada umumnya pengembang sebagai pihak yang
kedudukkannya lebih cepat, menciptakan formulir-formulir standar yang
mengikat (standart form contract). Dalam praktek perlindungan konsumen
perumahan, formulir-formulir tersebut sebagai kontrak standar yang dituangkan
dalam Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Oleh karena itu, subyektifitas
pengembang sangat mempengaruhi dalam memasukka kepentingan-
kepentingannya dalam PPJB dan sebaliknya sulit bagi konsumen untuk
memperjuangkan kepentingannya di dalam PPJB tersebut walaupun sudah
ada aturan yang melindunginya, yaitu Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992
tentang Perumahan dan Pemukiman serta Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen.
Menurut ketentuan Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1999 tentang Perlindungan Konsumen yang pada intinya menyatakan bahwa :
pelaku usaha dalam menawarkan barang dan/atau jasa dilarang
mencantumkan klausula baku yang dapat merugikan konsumen. Hal ini
tentunya berbeda jauh dengan kenyataannya bahwa pada prakteknya
pengembang selalu mencantumkan klausula baku dalam PPJB yang dibuatnya
dengan konsumen. Konsekuensi pelanggaran atas ketentuan tersebut, maka
perjanjian tersebut batal demi hukum. Apalagi dalam pelaksanaan PPJB,
sertipikat masih tercatat atas nama pengembang meskipun secara kenyataan
tanah dan bangunan telah beralih ke konsumen termasuk pembayaran
angsuran kreditnya.
Hal ini berbeda dengan pelaksanaan jual beli menurut ketentuan Hukum
Tanah Nasional yang menganut sistem Hukum Adat yang bersifat terang, tunai
dan rill sebagaimana telah dijelaskan di atas. Dalam jual beli menurut Hukum
Tanah Nasional, hak atas tanah telah beralih secara langsung dari penjual
kepada pembeli sejak ditandatanganinya Akta Jual Beli dihadapan Pejabat
Pembuat Akta Tanah. Dengan demikian, tidak ada perlindungan hukum jual
beli melalui PPJB, meskipun terdapat ketentuan yang dapat membatalkan
PPJB tersebut karena apabila PPJB dinyatakan batal demi hukum, konsumen
tetap tidak mendapatkan apapun. Sedangkan jual beli yang dilakukan
berdasarkan ketentuan Hukum Tanah Nasional, para pihak masing-masing
mendapat perlindungan hukum, yaitu penjual memperoleh kambali tanah dan
bangunannya, sedangkan pembeli memperoleh uangnya kembali.
Selanjutnya berkaitan dengan sanksi atas keadaan wanprestasi, dalam
Hukum Perdata adanya kelalaian atau kealpaan Debitor sehingga prestasi
yang wajib dilakukannya sesuai dengan yang telah diperjanjikan di dalam
perjanjian kredit tidak terpenuhi. Kondisi ini lazim disebut sebagai wanprestasi.
Dewasa ini wanprestasi lebih dikenal dengan istilah ingkar janji.
Menurut Munir Fuady, yang dimaksud dengan wanprestasi adalah “tidak
dilaksanakannya prestasi atau kewajiban sebagaimana mestinya yang
dibebankan oleh kontrak kepada pihak-pihak tertentu seperti yang disebut
dalam kontrak yang bersangkutan”.13 Wanprestasi terjadi apabila seorang
Debitor tidak dapat membuktikan bahwa tidak dapatnya ia melakukan prestasi
adalah diluar kesalahannya atau dengan kata lain Debitor tidak dapat
13
Ibid, Halaman 26
membuktikan adanya force majeur, jadi dalam hal ini Debitor jelas bersalah.14
Selanjutnya menurut Abdulkadir Muhammad, wanprestasi ada empat macam
bentuk, yaitu15:
a. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukan;
b. Melaksanakan apa yang dijanjikan tapi tidak semestinya;
c. Melakukan apa yang dijanjikan tapi tidak tepat pada waktunya;
d. Melakukan sesuatu yang menurut perjanjian tidak boleh dilakukan.
Tindakan wanprestasi membawa konsekuensi terhadap timbulnya hak pihak yang
dirugikan untuk menuntut pihak yang melakukan wanprestasi untuk memberikan ganti rugi,
sehingga oleh hukum diharapkan agar tidak ada satu pihak pun yang dirugikan karena
wanprestasi tersebut. Tindakan wanprestasi dapat terjadi karena :
a. Kesengajaan;
b. Kelalaian;
c. Tanpa kesalahan (tanpa kesengajaan atau kelalaian).
Sejak kapan Debitor wanprestasi, didalam praktek dianggap bahwa wanprestasi tidak
secara otomatis terjadi, kecuali apabila telah disepakati oleh para pihak, bahwa prestasi itu
ada sejak tanggal yang disebutkan dalam perjanjian dilewatkan. Sehingga oleh karena itu
untuk memastikan sejak kapan adanya wanprestasi, diadakan upaya hukum yang dinamakan
“in gebreke stelling” yakni penentuan mulai terjadinya wanprestasi atau istilah lain sering
disebut “somasi”.
Dalam hal hapusnya perjanjian yang positif tidak perlu dilakukan in gebreke stelling,
sedangkan pada hapusnya perjanjian yang negative in grebeke stelling perlu dilakukan, yang
negatif artinya kreditur tidak mendapat untung.16 Berkaitan dengan PPJB perumahan apabila
14
[Link] Syamsudin Meliala, [Link], Halaman 16
15
Abdulkadir Muhammad, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung, 1982, Halaman 20
16
[Link] Syamsudin Meliala, [Link], Halaman 27
terjadi wanprestasi, maka akan memunculkan konflik yang pada akhirnya akan merugikan
konsumen. Hal ini dikarenakan posisi tawar konsumen sangatlah lemah, hal ini dikarena status
kepemilikan hak atas tanah dan bangunan masih atas nama pengembang sampai dengan
dilaksanakannya jual beli dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah PPAT). Dengan demikian
apabila terjadi wanprestasi, maka tidak ada sanksi yang diberikan kepada pengembang
berdasarkan klausula PPJB, kecuali konsumen mengajukan gugatan ke pengadilan.
F. Metode Penelitian
Metode adalah proses, prinsip-prinsip dan tata cara memecahkan suatu
masalah, sedangkan penelitian adalah pemeriksaan secara hati-hati, tekun
dan tuntas terhadap suatu gejala untuk menambah pengetahuan manusia,
maka metode penelitian dapat diartikan sebagai proses prinsip-prinsip dan tata
cara untuk memecahkan masalah dalam melakukan penelitian.17
Menurut Soerjono Soekanto, penelitian hukum merupakan suatu
kegiatan ilmiah yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran
tertentu yang bertujuan untuk mempelajari suatu gejala hukum tertentu,
dengan jalan menganalisis dan memeriksa secara mendalam terhadap fakta
hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan suatu pemecahan atas
permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.18
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan tesis, ini mencakup
17
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta : Universitas Indonesia (UI-
Press), 2005, Halaman 6.
18
Ibid. Halaman 43.
1. Metode Pendekatan
Metode pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian untuk
penulisan tesis ini adalah menggunakan metode pendekatan yang bersifat
yuridis empiris, yaitu suatu penelitian disamping melihat aspek hukum
positif juga melihat pada penerapannya atau praktek di lapangan,19
Menurut Soerjono Soekanto, Pada penelitian hukum, maka yang
diteliti pada awalnya adalah data sekunder, untuk kemudian dilanjutkan
dengan penelitian terhadap data primer dilapangan, atau terhadap
masyarakat.20
2. Spesifikasi Penelitian
Spesifikasi penelitian ini adalah penelitian yang bersifat deskriptif
analitis, yaitu suatu bentuk penelitian yang bertujuan untuk
menggambarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku, dikaitkan
dengan teori-teori hukum dan praktek pelaksanaan hukum positif, yang
menyangkut dengan permasalahan yang diteliti dalam tesis ini.21 Penelitian
ini melakukan analitis hanya sampai pada taraf deskripsi, yaitu
19
Ibid., Halaman 52
20
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarat : Penerbit Universitas Indonesia,
1986), Halaman 52.
21
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Cet. 8, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 1992),
Halaman 207.
menganalisis dan menyajikan fakta secara sistimatis sehingga dapat lebih
mudah untuk dipahami dan disimpulkan.22
3. Obyek dan Subyek Penelitian
a. Obyek Penelitian
Obyek dalam penelitian ini adalah semua pihak/instansi yang
terkait dengan pelaksanaan jual beli tanah dan bangunan di Perumahan
Bukit Sentul Kabupaten Bogor dengan Akta Pengikatan Jual Beli.
b. Subyek Penelitian
Subyek penelitian adalah himpunan bagian atau sebagian dari obyek. Dalam
suatu penelitian, pada umumnya observasi dilakukan tidak terhadap obyek tetapi
dilaksankan pada subyek.23
Adapun subyek penelitian yang akan dijadikan responden dalam penelitian
adalah :
1) Kepala Bagian legal PT. Bukit Sentul, selaku
Pengembang/developer;
2) 10 (sepuluh) Pembeli / Pemilik tanah dan bangunan di Perumahan
Bukit Sentul, diambil secara ”purposive sampling”, yaitu penarikan
sampel yang bertujuan atau dilakukan dengan cara mengambil
subyek dan obyek penelitian didasarkan pada tujuan tertentu. Dalam
22
Irawan Soehartono, Metode Penelitian Sosial Suatu Teknik Penelitian Bidang Kesejahteraan
Sosial Lainnya, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1999), Halaman 63.
23
Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, (Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada,
1997), Halaman 119
penelitian ini adalah para pembeli rumah dan tanah di Perumahan
Bukit Sentul.
Untuk melengkapi data yang diperoleh dari responden, maka
dihimpun juga data dari para pihak yang mengetahui (terkait) dalam hal
jual beli rumah dan tanah di Perumahan Bukit Sentul Bogor sebagai
narasumber :
1) Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah pada Kantor
Pertanahan Kabupaten Bogor;
2) Kepala Subseksi Peralihan, Pembebanan Hak dan Pejabat Pembuat
Akta Tanah (PPAT) pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor;
3) 5 (lima) Notaris & PPAT di Wilayah Kabupaten Bogor baik yang
menjadi rekanan PT. Bukit Sentul, selaku Pengembang/developer
ataupun tidak;
4. Sumber dan Jenis Data
Secara umum jenis data yang diperlukan dalam suatu penelitian
hukum terarah pada penelitian data sekunder dan data primer.24 Adapun
sumber dan jenis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Data Primer
Data Primer, adalah data yang diperoleh secara langsung dari sampel dan
responden melalui wawancara atau interview dan penyebaran angket atau
24
Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis, (Semarang : Program Studi Magister
Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, 2009) Halaman 6.
questioner.25 Data Primer diperoleh dari penelitian lapangan melalui wawancara
dengan responden dan narasumber.
b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data yang diperoleh melalui penelitian kepustakaan.26
Penelitian kepustakaan bertujuan untuk mengkaji, meneliti, dan menelusuri data-data
sekunder mencakup bahan primer yaitu bahan-bahan hukum yang mengikat; bahan
sekunder yaitu yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer; dan
bahan hukum tertier yakni bahan yang memberikan petunjuk maupun penjelasan
terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.27 Adapun data sekunder
terdiri dari :
1) Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai
kekuatan mengikat secara yuridis, yaitu :
a) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata
b) Undang-Undang nomor 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria;
c) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang tentang
Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas
Tanah.
d) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah;
25
Rony Hanitijo Soemitro, Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1990), Halaman 10
26
Bambang Sunggono, Op. Cit. hHalaman 120
27
Soerjono Soekanto, Op. Cit. Halaman 52
e) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan
Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah;
f) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah;
g) Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN No.3 Tahun 1999
tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan
Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara.
h) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 9 tahun 1999, tentang Tata Cara Pembatalan
Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan;
i) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 1 Tahun 2006 tentang Ketentuan Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan
Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah;
2) Bahan Hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan
penjelasan mengenai bahan hukum primer, yaitu :
a) Dokumen-dokumen yang ada di Kantor Pertanahan yang
berkaitan dengan pendaftaran tanah;
b) Kepustakaan yang berkaitan dengan Hukum Agraria;
c) Kepustakaan yang berkaitan dengan PPAT.
d) Bahan-bahan kepustakaan yang berkaitan dengan perjanjian
jual-beli tanah.
e) Bahan-bahan yang diperoleh dari PT. Bukit Sentul selaku
pengembang / developer Perumahan Bukit Sentul Kabupaten
Bogor.
5. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan hal yang sangat erat hubungannya
dengan sumber daya, karena melalui pengumpulan data akan diperoleh
data yang diperlukan, untuk selanjutnya dianalisis sesuai dengan yang
diharapkan. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah :
a. Data Primer
Data Primer yaitu data yang diperoleh secara langsung dari sample dan
responden melalui wawancara atau interview dan penyebaran angket
atau questionere.28 Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan
dalam penelitian ini adalah melalui wawancara, yaitu satu proses tanya
jawab secara langsung dengan responden, dengan menggunakan
pedoman wawancara yang disusun secara tidak terstruktur atau hanya
memeuat garis besar pertanyaan yang mengarah pada permasalahan.
Adapun pihak-pihak yang diwawancarai adalah :
28
Ronny Hanintijo Soemitro, Op. Cit. Halaman10
1) Kepala Seksi Hak Tanah dan Pendaftaran Tanah pada Kantor Pertanahan
Kabupaten Bogor;
2) Kepala Subseksi Peralihan, Pembebanan Hak dan Pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT) pada Kantor Pertanahan Kabupaten Bogor;
3) Kepala Bagian legal PT. Bukit Sentul, selaku Pengembang/developer;
4) 5 (lima) Notaris & PPAT di Wilayah Kabupaten Bogor baik yang menjadi rekanan
PT. Bukit Sentul, selaku Pengembang/developer ataupun tidak;
5) 10 (sepuluh) Pembeli / Pemilik tanah dan bangunan di Perumahan Bukit Sentul.
Adapun pengumpulan data menggunakan Daftar pertanyaan,
merupakan alat pengumpul data yang dipergunakan untuk
mendapatkan jawaban secara tertulis. Dilakukan dengan cara
mempersiapkan daftar pertanyaan terlebih dahulu sehingga pertanyaan
yang diajukan tidak menyimpang dari pokok permasalahan.
b. Data Sekunder, yaitu data yang mendukung keterangan atau
menunjang kelengkapan data primer.29 Data sekunder diambil dari studi
dokumen yang terdiri dari :
1) Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat
secara yuridis, yaitu :
a) Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
b) Undang-Undang nomor 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria;
29
Ibid. Halaman 11
c) Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang tentang
Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas
Tanah;
d) Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah;
e) Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan
Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah;
f) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang
Pendaftaran Tanah;
g) Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN No.3 Tahun 1999
tentang Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan
Keputusan Pemberian Hak Atas Tanah Negara;
h) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 9 tahun 1999, tentang Tata Cara Pembatalan
Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan;
i) Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan
Nasional Nomor 1 Tahun 2006 tentang Ketentuan Pelaksanaan
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan
Jabatan Pejabat Pembuat Akta Tanah;
j) Peraturan Perundang-undangan lain yang terkait.
2) Bahan Hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan
penjelasan mengenai bahan hukum primer, yaitu :
a) Dokumen-dokumen yang ada di Kantor Pertanahan yang
berkaitan dengan pendaftaran tanah;
b) Kepustakaan yang berkaitan dengan Hukum Agraria;
c) Kepustakaan yang berkaitan dengan PPAT;
d) Bahan-bahan kepustakaan yang berkaitan dengan perjanjian
jual-beli tanah;
e) Bahan-bahan yang diperoleh dari PT. Bukit Sentul selaku
pengembang / developer Perumahan Bukit Sentul Kabupaten
Bogor.
6. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh baik dari studi lapangan maupun studi dokumen
pada dasarnya merupakan data tataran yang dianalisis secara deskriptif
kualitatif, yaitu setelah data terkumpul kemudian dituangkan dalam bentuk
uraian logis dan sistematis, selanjutnya dianalisis untuk memperoleh
kejelasan penyelesaian masalah, kemudian ditarik kesimpulan secara
deduktif, yaitu dari hal yang bersifat umum menuju hal yang bersifat
khusus.30 Hasil analisis akan dipaparkan secara deskriptif, dengan harapan
dapat menggambarkan secara jelas mengenai perlindungan hukum bagi
pembeli perumahan Bukit Sentul melalui Perjanjian Jual Beli Tanah dan
Bangungan PT. Bukit Sentul Kabupaten Bogor. Selanjutnya dianalisis
30
Ibid. Halaman 10
untuk memeperoleh kejelasan penyelesaian masalah, kemudian ditarik
kesimpulan secara deduktif.
Penarikan kesimpulan secara deduktif adalah dari hal yang bersifat
umum menuju ke hal yang bersifat khusus.31
31
Loc. It.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hak Atas Tanah Menurut UUPA
1. Pengertian
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok-Pokok Agraria
(selanjutnya disebut UUPA) pada dasarnya telah menghapus sistem
hukum pertanahan yang bersifat dualistis. Di satu pihak UUPA telah
mencabut berlakunya peraturan perundang-undangan pertanahan produk
pemerintah Hindia Belanda, baik yang bersifat hukum publik seperti
Agrarische Wet, Agrarische Besluit dan lain-lain, maupun yang bersifat
hukum privat mengenai bumi, air, ruang angkasa serta kekayaan alam
yang terkandung di dalamnya dengan beberapa pengecualian yang diatur
dalam Buku II KUH Perdata Indonesia. Di lain pihak UUPA telah memilih
hukum adat sebagai dasar hukum agraria nasional seperti yang termuat
dalam konsideran dan telah dirumuskan dalam Pasal 5 UUPA.
Hukum agraria nasional yang telah berhasil diwujudkan oleh
UUPAmenurut ketentuannya didasarkan pada hukum adat, yang berarti
hukum adat menduduki posisi yang sentral di dalam sistem hukum agraria
nasional.
36
Dualisme bahkan pluralisme hukum di bidang pertanahan yang
bertentangan dengan cita-cita persatuan bangsa Indonesia maka
diperlukan adanya suatu unifikasi di bidang hukum tanah. Perlunya adanya
pembaharuan hukum tanah didasarkan pada pertimbangan, bahwa : 32
a) Karena hukum agraria yang berlaku sekarang ini sebagian tersusun
berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintah jajahan, dan
sebagian lainnya dipengaruhi olehnya, sehingga bertentangan dengan
kepentingan rakyat dan negara di dalam melaksanakan pembangunan
semesta dalam rangka menyelesaikan revolusi nasional sekarang ini.
b) Karena sebagai akibat dari politik hukum pemerintah jajahan itu, hukum
agraria mempunyai sifat dualisme, yaitu dengan berlakunya peraturan-
peraturan dari hukum adat disamping peraturan-peraturan dari dan yang
didasarkan atas hukum barat, hal mana selain menimbulkan pelbagai
masalah antar golongan yang serba sulit, juga tidak sesuai dengan cita-
cita persatuan bangsa;
c) Karena bagi rakyat asli hukum agraria penjajahan tidak menjamin
kepastian hukum.
Dalam hukum tanah terdapat pengaturan mengenai berbagai
hak penguasaan atas tanah. Undang-Undang Pokok Agraria mengatur
sekaligus menetapkan hierarki hak-hak penguasaan atas tanah dalam
hukum tanah nasional, yaitu : 33
1. Hak Bangsa Indonesia yang disebut dalam Pasal 1 sebagai hak
penguasaan atas tanah yang tertinggi beraspek perdata dan
publik;
2. Hak menguasai dari negara yang disebut dalam Pasal 2, semata-
mata beraspek publik;
3. Hak ulayat masyarakat hukum adat yang disebut dalam Pasal 3,
beraspek perdata dan publik;
32
BOEDI HARSONO, OP. CIT, HALAMAN 32.
33
IBID, HALAMAN 24
4. Hak-hak perorangan dan individual, semuanya beraspek perdata
terdiri dari :
a) Hak-hak atas tanah sebagai hak-hak individual yang semuanya
secara langsung atau tidak langsung bersumber pada hak
bangsa yang disebut dalam Pasal 16 dan Pasal 53;
b) Wakaf yaitu hak milik yang sudah diwakafkan, dalam Pasal 49;
c) Hak jaminan atas tanah yang disebut hak tanggungan, dalam
Pasal; 25, 33, 39 dan 51.
Walaupun terdapat bermacam-macam hak pengusaan atas
tanah tetapi semua hak penguasaan atas tanah berisikan serangkaian
wewenang, kewajiban dan/atau larangan bagi pemegang hak untuk
berbuat sesuatu terhadap tanah yang dihaki.
Kewenangan negara dalam bidang pertanahan merupakan
pelimpahan tugas bangsa dimana prinsip hak menguasai negara di
dalam peraturan perundangan negara Republik Indonesia untuk
pertama kali ditetapkan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Di dalam
bidang agraria kemudian dikembangkan oleh Undang-Undang Pokok
Agraria Nomor 5 Tahun 1960. Pasal 2 ayat (1) UUPA dengan jelas
menyatakan bahwa atas dasar ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945
dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1 UUPA : bumi, air
dan ruang angkasa termasuk kekayaan alam yang terkandung di
dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh negara sebagai
organisasi kekuasaan seluruh rakyat.
Dasar dari hak menguasai negara pada hakikatnya adalah
tujuan yang hendak dicapai oleh bangsa dan negara seperti yang
ditetapkan oleh Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yaitu untuk sebesar-
besarnya kemakmuran rakyat. Hal ini diperjelas oleh Pasal 2 ayat (3)
UUPA yang menyatakan bahwa wewenang yang bersumber pada hak
menguasai dari negara digunakan untuk mencapai sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat dalam arti kebahagiaan, kesejahteraan dan
kemerdekaan dalam masyarakat dan negara hukum Indonesia yang
merdeka, berdaulat, adil dan makmur.
Wewenang yang dipunyai oleh negara yang berpangkal pada
hak menguasai dari negara, dijelaskan oleh Pasal 2 ayat (2) UUPA,
memberikan wewenang kepada negara untuk :
a. Mengatur dan menyelenggarakan peruntukan, penggunaan,
persediaan dan pemeliharaan bumi, air dan ruang angkasa.
b. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara
orang-orang dengan bumi, air dan ruang angkasa.
c. Menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara
orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai
bumi, air dan ruang angkasa.
Selain yang dikemukakan di atas, dalam pengertian politis hak
mengusai dari negara memberikan pula wewenang kepada negara
untuk : 34
a. Konstatasi hak yang telah ada sebelum ditetapkan atau
diundangkannya UUPA, baik hak-hak yang dipunyai oleh
seseorang atau badan hukum berdasarkan kepada ketentuan KUH
Perdata maupun berdasarkan ketentuan hukum adat. Hal tersebut
dilakukan melalui lembaga konversi yang ditetapkan oleh UUPA
dengan ketentuan-ketentuan pelaksanaannya.
b. Memberikan hak-hak baru yang ditetapkan dalam UUPA. Hal
tersebut didasarkan pada ketentuan Pasal 4 ayat (1) UUPA yang
menyatakan bahwa atas dasar hak menguasai dari negara sebagai
yang dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya bermacam-
macam hak atas permukaan bumi yang disebut tanah yang dapat
diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri
maupun bersama-sama dengan orang lain serta badan-badan
hukum.
c. Mengesahkan suatu perjanjian yang dibuat antara seseorang
pemegang hak milik dengan orang lain untuk menimbulkan suatu
hak lain di atasnya, pemindahan hak-hak atas tanah serta
pembebasannya.
Hak menguasai dari negara meliputi semua tanah dalam wilayah
Republik Indonesia, baik tanah-tanah yang tidak atau belum maupun
yang sudah dihaki dengan hak-hak perorangan. Tanah yang belum
dihaki disebut tanah yang dikuasai langsung oleh negara atau tanah
negara, sedangkan tanah yang sudah dipunyai dengan hak-hak atas
tanah disebut tanah yang dikuasai negara secara tidak langsung atau
biasa disebut dengan tanah hak.
2. Macam-Macam Hak Atas Tanah
34
RAMLI ZEIN, OP. CIT, HALAMAN 45.
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 pada dasarnya telah
menghapus sistem hukum pertanahan yang bersifat dualistis. Di satu
pihak UUPA telah mencabut berlakunya peraturan perundang-
undangan pertanahan produk pemerintah Hindia Belanda, baik yang
bersifat hukum publik seperti Agrarische Wet, Agrarische Besluit dan
lain-lain, maupun yang bersifat hukum privat mengenai bumi, air,
ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya
dengan beberapa pengecualian yang diatur dalam Buku II KUH
Perdata Indonesia. Di lain pihak UUPA telah memilih hukum adat
sebagai dasar hukum agraria nasional seperti yang termuat dalam
konsideran dan telah dirumuskan dalam Pasal 5 UUPA.
UUPA mengatur dan sekaligus ditetapkan mengenai jejang atau
urutan hak-hak penguasaan atas tanah dalam Hukum Tanah Nasional
antara lain yaitu :
1. Hak Bangsa Indonesia;
2. Hak Menguasai dari Negara;
3. Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat;
4. Hak-hak Perorangan/Individu.
Biarpun bermacam-macam, tetapi semua hak penguasaan atas
tanah yang berisikan serangkaian wewenang, kewajiban dan/atau larangan
bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu mengenai tanah yang
dihaki. “Sesuatu” yang boleh, wajib atau dilarang untuk diperbuat, yang
merupakan isi hak penguasaan itulah yang menjadi kriterium atau tolak
pembeda di antara hak-hak penguasaan atas tanah yang diatur dalam
Hukum Tanah.35 Dengan adanya Hak Menguasai dari negara sebagaimana
dinyatakan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA, yaitu bahwa :
“atas dasar ketentuan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan hal-hal
sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air dan ruang
angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu
pada tingkatan yang tertinggi dikuasai oleh negara sebagai
organisasi kekuasaan seluruh masyarakat”.
maka atas dasar ketentuan tersebut, negara berwenang untuk menentukan
hak-hak atas tanah yang dapat dimiliki oleh dan atau diberikan kepada
perseorangan dan badan hukum yang memenuhi persyaratan yang
ditentukan.
Kewenangan tersebut diatur dalam Pasal 4 ayat (1) UUPA, yang
menyatakan bahwa:
“atas dasar Hak Menguasai dari negara sebagaimana yang
dimaksud dalam Pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak
atas permukaan bumi yang disebut tanah, yang dapat diberikan
kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun
bersama-sama dengan orang-orang lain serta badan-badan
hukum”.
Berdasarkan bunyi Pasal tersebut, maka negara menentukan hak-
hak atas tanah sebagaimana diatur dalam Pasal 16 ayat (1) UUPA, yaitu:
1. Hak Milik;
2. Hak Guna Usaha;
3. Hak Guna Bangunan;
4. Hak Pakai;
5. Hak Sewa;
6. Hak Membuka Tanah;
35
IBID, HALAMAN 24
7. Hak Memungut Hasil Hutan;
8. Hak-hak lain yang tidak termasuk dalam hak-hak tersebut di atas yang
akan ditetapkan dengan undang-undang serta hak-hak yang sifatnya
sementara sebagaimana disebut dalam Pasal 53.
Hak atas tanah menurut UUPA diatur dalam Pasal 16 yaitu :36
1. Hak atas tanah yang bersifat tetap, meliputi :
a. Hak Milik (HM)
Hak Milik adalah hak turun menurun, terkuat dan
terpenuh yang dapat dipunyai orang atau badan hukum atas
tanah dengan mengingat fungsi sosial. Berdasarkan penjelasan
Pasal 20 UUPA disebutkan bahwa sifat-sifat dari Hak Milik yang
membedakannya dengan hak-hak lainnya.
Hak Milik merupakan hak yang terkuat dan terpenuh yang
dapat dipunyai orang atas tanah. Pemberian sifat ini tidak
berarti bahwa hak tersebut merupakan hak mutlak, tidak
terbatas dan tidak dapat diganggu gugat sebagai hak eigendom
seperti yang dirumuskan dalam Pasal 571 KUHPerdata. Sifat
demikian bertentangan dengan sifat hukum adat dan fungsi
sosial dari tiap-tiap hak.
Kata-kata “terkuat dan terpenuh” mempunyai maksud untuk
membedakannya dengan hak guna usaha, hak guna bangunan,
hak pakai dan lainnya yaitu untuk menunjukkan bahwa diantara
36
IBID, HALAMAN 16
hak-hak atas tanah yang dapat dimiliki, hak miliklah yang
terkuat dan terpenuh.
Dengan demikian maka pengertian terkuat seperti yang
dirumuskan dalam Pasal 571 KUHPerdata berlainan dengan
yang dirumuskan dalam Pasal 20 UUPA, karena dalam UUPA
disebutkan bahwa segala hak atas tanah mempunyai fungsi
sosial dan hal ini berbeda dengan pengertian hak eigendom
yang dirumuskan dalam Pasal 571 KUHPerdata.
b. Hak Guna Usaha (HGU)
Hak guna usaha merupakan hak untuk mengusahakan
tanah yang dikuasai langsung oleh negara, dalam jangka waktu
tertentu guna perusahaan pertanian, perikanan atau
perkebunan. Hak guna usaha diberikan untuk jangka waktu 25
tahun dan untuk perusahaan yang memerlukan waktu lebih
lama dapat diberikan dalam jangka waktu 35 tahun. Batas waktu
tersebut dapat diperpanjang 25 tahun atas permintaan
pemegang hak dengan mengingat keadaan perusahaannya.
c. Hak Guna Bangunan
Hak guna bangunan adalah hak untuk mendirikan dan
mempunyai bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri
dengan jangka waktu tertentu. Jangka waktu untuk HGB adalah
30 tahun dan dapat diperpanjang dengan jangka waktu paling
lama 20 tahun atas permintaan pemegang haknya dengan
mengingat keadaan keperluan dan keadaan bangunannya.
d. Hak Pakai (HP)
Hak pakai adalah hak untuk menggunakan dan atau
memungut hasil dari tanah yang dikuasai langsung oleh negara
atau tanah milik orang lain, yang memberi wewenang dan
kewajiban yang ditentukan dalam keputusan pemberiannya oleh
pejabat yang berwenang memberikannya atau perjanjian sewa-
menyewa atau perjanjian pengolahan tanah segala sesuatu asal
tidak bertentangan dengan jiwa dan ketentuan undang-undang.
Untuk pengaturan lebih lanjut mengenai Hak Guna Usaha,
Hak Guna Bangunan dan Hak Pakai, sudah ada peraturan
pelaksananya dari UUPA, yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 40
Tahun 1996 tentang tentang Hak Guna Usaha, Hak Guna
Bangunan, dan Hak Pakai Atas Tanah.
e. Hak Sewa
Hak sewa adalah hak yang memberi wewenang untuk
mempergunakan tanah milik orang lain dengan membayar
kepada pemiliknya sejumlah uang sebagai sewanya.
2. Hak Atas Tanah yang Bersifat Sementara
Hak atas tanah yang bersifat sementara diatur dalam Pasal
53 UUPA. Hak tersebut dimaksudkan sebagai hak yang bersifat
sementara karena pada suatu ketika hak tersebut akan dihapus.
Hal tersebut disebabkan karena hak tersebut bertentangan dengan
asas yang terdapat dalam Pasal 10 UUPA yaitu, seseorang yang
mempunyai suatu hak atas tanah pertanian diwajibkan
mengerjakan sendiri secara aktif dengan mencegah cara-cara
pemerasan, namun sampai saat ini hak-hak tersebut masih belum
dihapus. Hak atas tanah yang bersifat sementara adalah :
a. Hak gadai tanah/jual gadai/jual sende
Hak gadai/jual gadai/jual sende adalah menyerahkan
tanah dengan pembayaran sejumlah uang dengan ketentuan
bahwa orang yang menyerahkan tanah mempunyai hak untuk
meminta kembalinya tanah tersebut dengan memberikan uang
yang besarnya sama.
b. Hak Usaha Bagi Hasil
Hak usaha bagi hasil merupakan hak seseorang atau
badan hukum untuk menggarap di atas tanah pertanian orang
lain dengan perjanjian bahwa hasilnya akan dibagi diantara
kedua belah pihak menurut perjanjian yang telah disetujui
sebelumnya.
c. Hak Sewa Tanah Pertanian
Hak sewa tanah pertanian adalah penyerahan tanah
pertanian kepada orang lain yang memberi sejumlah uang
kepada pemilik tanah dengan perjanjian bahwa setelah pihak
yang memberi uang menguasai tanah selama waktu tertentu,
tanahnya akan dikembalikan kepada pemiliknya.
d. Hak menumpang
Hak menumpang adalah hak yang memberi wewenang
kepada seseorang untuk mendirikan dan menempati rumah di
atas pekarangan orang lain. Pemegang hak menumpang tidak
wajib membayar sesuatu kepada yang empunya tanah,
hubungan hukum dengan tanah tersebut bersifat sangat lemah
artinya sewaktu-waktu dapat diputuskan oleh yang empunya
tanah jika yang bersangkutan memerlukan sendiri tanah
tersebut. Hak menumpang dilakukan hanya terhadap tanah
pekarangan dan tidak terhadap tanah pertanian.
3. Kewajiban dan Pembatasan Hak Atas Tanah
Hak atas tanah memberikan wewenang untuk mempergunakan
tanah yang bersangkutan oleh pemegang hak atas tanah tersebut.
Menurut Pasal 4 ayat (2) UUPA, hak atas tanah memberi wewenang
untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan demikian pula bumi,
air dan ruang angkasa yang ada di atasnya, sekedar diperlukan untuk
kepentingan yang langsung berhubungan dengan menggunakan
tanah dalam batas-batas menurut undang-undang dan peraturan
hukum lainnya.
Hak atas tanah, selain mengandung kewenangan juga
mengandung kewajiban-kewajiban yang harus diperhatikan.
Kewajiban tersebut antara lain :37
1. Adanya ketentuan yang terdapat dalam Pasal 6 UUPA, bahwa semua
hak atas tanah mempunyai fungsi sosial.
2. Adanya ketentuan Pasal 15 UUPA, yaitu kewajiban memelihara tanah
dan mencegah kerusakannya.
3. Khusus untuk tanah pertanian adanya ketentuan Pasal 10 UUPA yang
memuat asas bahwa tanah pertanian wajib dikerjakan sendiri oleh
pemiliknya secara aktif.
Dalam menggunakan hak atas tanah juga harus diperhatikan
pula pembatasan-pembatasan baik yang bersifat umum (di luar)
maupun dari haknya sendiri (dalam). Pembatasan umum antara lain;
tidak boleh merugikan atau mengganggu pihak lain, pembatasan yang
dilakukan oleh pemerintah daerah, misalnya adanya planning
penggunaan tanah atau land use planning, ketentuan pemerintah
daerah tentang rooilyn garis sempadan.
Pembatasan dari dalam terdapat pada masing-masing hak yang
bersangkutan yang disesuaikan dengan ciri-ciri dan sifat tanah
tersebut, misalnya Hak Guna Bangunan maka tanah tersebut hanya
boleh untuk mendirikan bangunan dan tidak boleh dipergunakan
untuk pertanian.
37
Achmad Chulaemi, Hukum Agraria, Perkembangan, Macam-macam Hak Atas Tanah dan
Pemindahannya.(Semarang, FH-Undip : 1993), Hal. 50
B. Tinjauan Umum Hak Guna Bangunan
1. Pengertian Hak Guna Bangunan
Hak Guna Bangunan adalah salah satu hak atas tanah yang diatur
dalam Undang-Undang Pokok Agraria. Pengertian Hak Guna Bangunan
diatur dalam Pasal 35 ayat (1) yang berbunyi :
“Hak Guna Bangunan adalah hak untuk mendirikan dan mempunyai
bangunan-bangunan atas tanah yang bukan miliknya sendiri,
dengan jangka waktu paling lama 30 tahun”.
Pernyataan Pasal 35 ayat (1) tersebut mengandung pengertian
bahwa pemegang HGB bukanlah pemegang hak milik atas bidang tanah
dimana bangunan tersebut didirikan.38 Sehubungan dengan hal tersebut,
Pasal 37 UUPA menyatakan bahwa HGB dapat terjadi terhadap tanah
Negara yang dikarenakan penetapan pemerintah. Selain itu HGB dapat
terjadi di atas sebidang tanah Hak Milik yang dikarenakan adanya
perjanjian yang berbentuk otentik antara pemilik tanah yang bersangkutan
dengan pihak yang akan memperoleh Hak Guna Bangunan itu yang
bermaksud menimbulkan hak tersebut.
Hak Guna Bangunan dapat beralih dan dialihkan kepada pihak lain
serta dapat dijadikan jaminan hutang. Dengan demikian, maka sifat-sifat
dari Hak Guna Bangunan adalah :
38
DJUHAENDAH HASAN, LEMBAGA JAMINAN BAGI TANAH DAN BENDA LAIN YANG MELEKAT PADA
TANAH DALAM KONSEPSI PENERAPAN PEMISAHAN HORIZONTAL, (BANDUNG : CITRA ADITYA BAKTI, 1996).
HALAMAN 190
1) Hak untuk mendirikan dan mempunyai bangunan di atas tanah yang
bukan miliknya sendiri, dalam arti dapat diatas Tanah Negara ataupun
tanah milik orang lain.
2) Jangka waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang 20 tahun
lagi.
3) Dapat beralih atau dialihkan kepada pihak lain.
4) Dapat dijadikan jaminan hutang dengan dibebani hak tanggungan.39
2. Subyek dan Obyek Hak Guna Bangunan
Hak Guna Bangunan dapat dipunyai oleh Warga Negara Indonesia
maupun badan hukum yang didirikan menurut hukum Indonesia dan
berkedudukan di Indonesia. Hal tersebut sesuai dengan Pasal 36 ayat (1)
Undang-Undang Pokok Agraria. Pada ayat (2) dijelaskan bahwa:
“Orang atau badan hukum yang mempunyai Hak Guna Bangunan
dan tidak lagi memenuhi syarat-syarat yang tersebut dalam ayat (1)
pasal ini, dalam jangka waktu 1 tahun wajib melepaskan atau
mengalihkan hak itu kepada pihak lain yang memenuhi syarat”.
Ketentuan tersebut berlaku juga bagi pihak lain yang memperoleh
Hak Guna Bangunan jika ia tidak memenuhi syarat-syarat tersebut. Jika
HGB yang bersangkutan tidak dilepaskan atau dialihkan dalam jangka
waktu tersebut maka hak itu hapus karena hukum, dengan ketentuan
bahwa hak-hak pihak lain akan diindahkan menurut ketentuan-ketentuan
yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah.
Mengenai tanah yang dapat diberikan dengan Hak Guna Bangunan
telah diatur dalam UUPA dan Peraturan Pemerintah No. 40 Tahun 1996.
Bila melihat pada Pasal 37 UUPA, maka dapat dimengerti bahwa HGB
dapat diberikan di atas tanah Negara yang didasari penetapan dari
39
ALI ACHMAD CHOMZAH, HUKUM PERTANAHAN, (JAKARTA : PRESTASI PUSTAKA), HALAMAN. 31
pemerintah. Selain itu HGB juga dapat diberikan di atas tanah Hak Milik
berdasar pada adanya kesepakatan yang berbentuk otentik antara pemilik
tanah dengan pihak yang bermaksud menimbulkan atau memperoleh HGB
tersebut.
Melihat pada ketentuan Pasal 21 PP No.40 Tahun 1996, maka tanah
yang dapat diberikan dengan hak guna bangunan adalah Tanah Negara;
Tanah Hak Pengelolaan; dan Tanah Hak Milik. Dengan demikian dapat
diketahui pula bahwa obyek dari HGB adalah Tanah Negara, tanah hak
pengelolaan dan tanah Hak Milik dari seseorang.
Ketentuan mengenai Hak Guna Bangunan yang diberikan di atas
tanah negara dan tanah Hak Pengelolaan, diatur lebih lanjut dalam
ketentuan Pasal 22 dan Pasal 23 PP No. 40 Tahun 1996, dan pada
dasarnya HGB yang diberikan di atas tanah Negara dan tanah Hak
Pengelolaan diberikan berdasarkan Peraturan Menteri Negara
Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 9 tahun 1999, tentang
Tata Cara Pembatalan Hak Atas Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan,
dengan memperhatikan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Menteri
Negara Agraria/ Kepala BPN No.3 Tahun 1999 tentang Pelimpahan
Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan Pemberian Hak Atas
Tanah Negara.
3. Jangka Waktu Hak Guna Bangunan
Berdasarkan ketentuan Pasal 35 UUPA, Hak Guna Bangunan
diberikan dalam jangka waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang
dengan waktu 20 tahun lagi, selain itu HGB dapat beralih dan dialihkan
kepada pihak lain.
Mengenai jangka waktu pemberian HGB juga diatur dalam Undang-
Undang No. 40 Tahun 1996, pada Pasal 25 ayat (1) menyebutkan bahwa :
”Hak Guna Bangunan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 diberikan
untuk jangka waktu paling lama 30 tahun dan dapat diperpanjang untuk
jangka waktu paling lama 20 tahun”. Sedangkan pada ayat (2) menyatakan
bahwa : “Sesudah jangka waktu Hak Guna Bangunan dan
perpanjangannya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berakhir, kepada
bekas pemegang hak dapat diberikan pembaharuan Hak Guna Bangunan
di atas tanah yag sama”. Lebih lanjut dinyatakan dalam Pasal 29,
disebutkan bahwa :
(1) Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Milik diberikan untuk jangka
waktu paling lama 30 tahun.
(2) Atas kesepakatan antara pemegang Hak Guna Bangunan dengan
pemegang Hak Milik, Hak Guna Bangunan atas tanah Hak Milik
dapat diperbaharui dengan pemberian Hak Guna Bangunan baru
dengan akta yang dibuat oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah dan hak
tersebut wajib didaftarkan.
Maksud dari ketentuan Pasal 25 dan Pasal 29 tersebut yaitu bahwa
HGB yang diberikan di atas Tanah Negara dan tanah Hak Pengelolaan
dapat diperpanjang selama 20 tahun kemudian, sedangkan HGB yang
diberikan di atas tanah Hak Milik tidak dapat diperpanjang melainkan hanya
diperbaharui setelah berakhirnya jangka waktu yang ditetapkan dalam
pemberiannya tersebut.
Adapun syarat-syarat untuk dapat diperpanjang maupun
diperbaharui hak guna bangunan tersebut antara lain yaitu:
a. Tanahnya masih diusahakan dengan baik sesuai dengan keadaan, sifat
dan tujuan pemberian hak tersebut;
b. Syarat-syarat pemberian hak, dipenuhi dengan baik oleh pemegang
hak;
c. Pemegang hak masih memenuhi syarat sebagai pemegang hak;
d. Tanah tersebut masih sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah
yang bersangkutan.40
4. Hapusnya Hak Guna Bangunan
Ketentuan mengenai hapusnya Hak Guna Bangunan di atur dalam
Pasal 40 UUPA, yang menyatakan bahwa :
Hak Guna Bangunan hapus karena:
a. Jangka waktunya telah berakhir;
b. Dihentikan sebelum waktu berakhir karena salah satu syarat tidak
terpenuhi;
c. Dilepaskan oleh pemegangnya sebelum jangka waktu berakhir;
d. Dicabut untuk kepentingan umum
e. Tanah tersebut ditelantarkan
f. Tanah itu musnah
g. Ketentuan dalam Pasal 36 ayat (2).
Ketentuan Pasal 40 UUPA tersebut selanjutnya juga di atur dalam
Pasal 35 PP No.40 Tahun1996, yang menyebutkan :
(1) Hak Guna Bangunan hapus karena :
a. berakhirnya jangka waktu sebagaimana ditetapkan dalam keputusan
pemberian atau perpanjangannya;
b. dibatalkan haknya oleh pejabat yang berwenang sebelum jangka
waktunya berakhir karena:
40
KARTINI MULJADI DAN GUNAWAN WIJAYA, HAK-HAK ATAS TANAH, (JAKARTA : KENCANA, 2004).
HALAMAN 202-203
1) tidak terpenuhinya kewajiban-kewajiban pemegang hak dan/atau
dilanggarnya ketentuan-ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 12, Pasal 13, dan/ atau Pasal 14;
2) putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum
yang tetap;
c. dilepaskan secara sukarela oleh pemegang haknya sebelum jangka
waktunya berakhir;
d. dicabut berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 1961;
e. ditelantarkan;
f. tanahnya musnah;
g. ketentuan Pasal 20 ayat (2).
(2) Ketentuan lebih lanjut mengenai hapusnya Hak Guna Bangunan
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dengan Keputusan
Presiden.
C. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian
Istilah perjanjian sudah lazim dipergunakan dalam lalu lintas hidup
masyarakat. Didalam berbagai literatur hukum ada beberapa pendapat yang
memberikan pengertian mengenai perjanjian. Pendapat tersebut antara lain
adalah :
R. Subekti : 41
Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada
seorang lain atau dua orang lain itu saling berjanji untuk melakukan
sesuatu hal.
Wirjono Prodjodikoro : 42
Perjanjian adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda
dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji
untuk melaksanakan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut
pelaksanaan janji itu.
41
R. SUBEKTI, HUKUM PERJANJIAN, (JAKARTA : INTERMAS, 1985), HALAMAN 50
42
Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Perjanjian, (Bandung : Sumur Bandung, 1973),
Halaman 19.
Baik pendapat dari R. Subekti maupun Wirjono Prodjodikoro masing-
masing mempunyai kekurangan. Kekurangan daripada pendapat R. Subekti
adalah bahwa perjanjian bukan hanya terjadi dua orang saja bisa juga dua
orang atau lebih, dan bisa juga perjanjian itu dilakukan oleh badan hukum. Dan
perjanjian merupakan suatu yang kongkrit sebagai sumber dari perikatan.
Kekurangan daripada pendapat Wirjono Prodjodikoro dilihat dari isi
perjanjian (prestasi) yang bisa berupa memberikan sesuatu, berbuat sesuatu
atau tidak berbuat sesuatu. Pendapat Wirjono Prodjodikoro tidak mencakup
memberikan sesuatu. Perjanjian adalah suatu yang abstrak, merupakan suatu
hubungan hukum yang bersumberkan pada undang-undang dan persetujuan
(Pasal 1233 KUH-Perdata).
R. Subekti berpendapat bahwa suatu perjanjian adalah suatu peristiwa
dimana seseorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu
saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal. Dari peristiwa itulah timbul
suatu perikatan. Artinya perjanjian itu menerbitkan perikatan antara dua orang
atau lebih yang membuatnya, dan dalam bentuknya mengandung janji-janji
atau kesanggupan yang diucapkan atau ditulis.43 Dengan demikian hubungan
antara perikatan dan perjanjian adalah bahwa perjanjian itu menerbitkan suatu
perikatan. Suatu perjanjian juga dinamakan persetujuan, karena dua pihak itu
saling setuju untuk melakukan sesuatu.
1. Asas -Asas Dalam Hukum Perjanjian
Dalam hukum perjanjian terdapat beberapa asas yaitu :
43
R. SUBEKTI, OP. CIT, HALAMAN 55
a. Asas Konsensualitas
Perkataan konsensualitas berasal dari kata Consensus yang berarti
sepakat. Berdasarkan asas konsensualitas, suatu perjanjian sudah
dilahirkan sejak adanya kata sepakat di antara para pihak yang
membuat perjanjian. Asas ini tersimpul dari Pasal 1320 KUH-Perdata.
Terhadap asas ini terdapat pengecualian, yaitu oleh undang-undang
ditetapkan formalitas-formalitas tertentu untuk beberapa macam
perjanjian, atas ancaman batalnya perjanjian tersebut apabila tidak
memenuhi bentuk tertentu, misalnya hipotik, yang harus secara tertulis
dengan suatu akta notaris.
b. Asas Kebebasan Berkontrak
Asas kebebasan berkontrak terdapat pada Pasal 1338 ayat (1) KUH-
Perdata. Pasal ini menyatakan bahwa semua perjanjian yang dibuat
secara sah berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya. Asas kebebasan berkontrak pada Pasal ini, terdapat pada
kata “semua perjanjian”. Ini berarti bahwa setiap orang diperbolehkan
membuat perjanjian yang berupa dan berisikan apa saja.
Walaupun demikian terdapat pembatasan yang melekat pada asas
tersebut yaitu:
1) Bahwa perjanjian itu tidak bertentangan dengan kepentingan umum.
2) Bahwa perjanjian itu tidak bertentangan dengan kesusilaan.
3) Bahwa perjanjian itu tidak bententangan dengan hukum dan undang-
undang.
Dengan adanya asas kebebasan berkontrak, dapat dikatakan bahwa
KUH-Perdata Buku ke III menganut sistem terbuka.
c. Asas Kekuatan Mengikat
Adalah suatu asas yang menentukan bahwa suatu perjanjian yang
dibuat secara sah akan mengikat para pihak sebagaimana mengikatnya
undang-undang. Asas ini tersimpul pada Pasal 1338 ayat (2) KUH—
Perdata, yang berbunyi :
“Persetujuan tidak dapat ditarik kembali selain dengan sepakat
kedua belah pihak, atau karena adanya alasan-alasan yang oleh
undang-undang dinyatakan cukup untuk itu.”
d. Asas Itikad Baik
Asas ini terdapat didalam Pasal 1338 ayat (3) KUH-Perdata. Isi dan
Pasal tersebut adalah bahwa perjanjian-perjanjian harus dilaksanakan
dengan itikat baik.
Itikad baik mengandung makna bahwa pelaksanaan dari suatu
perjanjian harus berjalan dengan mengindahkan norma-norma
kepatutan dan keadilan.
e. Asas Hukum Pelengkap
Maksud asas ini adalah para pihak dalam membuat perjanjian diberi
kebebasan untuk menetapkan ketentuan-ketentuan didalam perjanjian
menurut kehendak para pihak. Apabila didalam perjanjian yang dibuat
tersebut masih terdapat hal-hal yang belum diatur, maka ketentuan-
ketentuan yang terdapat dalam KUH-Perdata akan mengaturnya,
misalnya janji-janji dalam surat kuasa membebankan hak tanggungan
diperbolehkan, asalkan tidak melanggar kepatutan dan keadilan (itikat
Baik).
2. Syarat Sahnya Perjanjian
Sebagaimana diketahui perjanjian baru sah menurut hukum, apabila
syarat-syarat untuk sahnya perjanjian itu dapat dipenuhi. Berdasarkan
Pasal 1320 KUH-Perdata, suatu perjanjian baru sah kalau memenuhi 4
syarat sebagai berikut :
a. Sepakat di mereka yang membuat perjanjian
Adanya kata sepakat di mereka yang membuat perjanjian berarti pihak-
pihak tersebut harus bersepakat atau setuju mengenai hal-hal yang
pokok tentang perjanjian tersebut. Dengan demikian apa yang
dikehendaki oleh pihak yang satu dikehendaki pula oleh pihak yang lain.
Sepakat dapat dinyatakan secara lisan dan dapat pula dinyatakan
secara diam-diam.
b. Kecakapan untuk membuat suatu perjanjian
Orang yang membuat suatu perjanjian harus cakap menurut hukum. Hal
ini perlu sebab, orang yang membuat suatu perjanjian dan nantinya
akan terikat oleh perjanjian, harus mempunyai cukup kemampuan untuk
mengerti benar-benar tanggung jawab yang dipikulnya.
c. Adanya suatu hal tertentu
Syarat ketiga untuk sahnya suatu perjanjian bahwa perjanjian harus
mengenai suatu hal tertentu. Hal ini berarti dalam perjanjian harus ada
suatu hal atau suatu barang yang cukup jelas, yang menjadi hak dan
kewajiban para pihak dalam perjanjian. Suatu perjanjian harus
mempunyai obyek tertentu, sekurang-kurangnya dapat ditentukan.
Obyek yang tertentu itu dapat berupa benda yang ada sekarang atau
nanti akan ada.
d. Sebab yang halal
Didalam suatu perjanjian, oleh undang-undang disyaratkan adanya
suatu sebab yang halal. Yang dimaksud dengan suatu sebab yang halal
adalah isi dan tujuan atau maksud didalam suatu perjanjian tidak
bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan atau dengan
kesusilaan atau dengan ketertiban umum. Dalam KUH-Perdata Pasal
1337 dinyatakan, bahwa suatu sebab adalah terlarang, apabila
berlawanan dengan kesusilaan baik dengan ketertiban umum.
Syarat yang pertama dan kedua adalah merupakan syarat subyektif
yaitu syarat hukum atau orangnya. Sedangkan syarat ketiga dan keempat
merupakan syarat obyektif, yaitu syarat mengenai obyek hukum atau
bendanya. Keempat syarat sahnya suatu perjanjian diatas harus benar-
benar dipatuhi atau dipenuhi dalam suatu perjanjian.
Apabila syarat kesatu dan kedua (syarat subyektif) tidak dipenuhi,
maka akibat yang akan timbul adalah pembatalan perjanjian. Artinya salah
satu pihak dapat meminta kepada hakim agar perjanjian itu dibatalkan dan
selama perjanjian itu belum dibatalkan, perjanjian itu masih mengikat para
pihak. Sedangkan jika syarat ketiga dan keempat (syarat obyektif) tidak
dipenuhi akan membawa akibat perjanjian itu batal demi hukum. Yang
artinya sejak semula perjanjian itu telah batal.
D. Tinjauan Umum Jual Beli Hak Atas Tanah Dalam Hukum Tanah Nasional
1. Pengertian Jual Beli
Berbeda dengan jual beli menurut hukum tanah nasional yang
bersumber pada hukum adat, dimana apa yang dimaksud dengan jual beli
bukan merupakan perbuatan hukum yang merupakan perjanjian obligatoir.
Jual beli (tanah) dalam hukum adat merupakan perbuatan hukum
pemindahan hak yang harus memenuhi tiga (3) sifat yaitu :44
1. Harus bersifat tunai, artinya harga yang disetujui bersama dibayar
penuh pada saat dilakukan jual beli yang bersangkutan.
2. Harus bersifat terang, artinya pemindahan hak tersebut dilakukan
dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang berwenang atas obyek
perbuatan hukum.
44
BOEDI HARSONO, OP. CIT, HALAMAN 317
3. Bersifat riil atau nyata, artinya dengan ditanda tangani akta pemindahan
hak tersebut, maka akta tersebut menunjukkan secara nyata dan
sebagai bukti dilakukan perbuatan hukum tersebut.
Seperti telah telah dijelaskan dan diterangkan diatas, jika dikaitkan
dengan perbuatan hukum jual beli yang merupakan tindak lanjut dan
perbuatan hukum perjanjian pengikatan jual beli, disini dapatlah ditegaskan
lagi bahwa yang dimaksud dengan jual beli menurut Hukum Tanah
Nasional kita dengan jual beli menurut Pasal 1457 KUH-Perdata sudah
jelas berbeda, dimana jual beli menurut Hukum Tanah Nasional merupakan
perbuatan hukum pemindahan hak yang bersifat tunai, bersifat terang dan
bersifat ril, serta dilakukan dihadapan pejabat yang berwenang dalam hal
ini Pejabat Pembuat Akta Tanah.
Adapun jual beli menurut KUH-Perdata hanya bersifat obligatoir saja.
Hal ini yang mernbedakan penjualan yang dilakukan dengan membuat
perjanjian pengikatan jual beli dengan sistem penjualan menurut Hukum
Tanah Nasional, sehingga dengan demikian praktek jual beli secara
pengikatan jual beli tidak dapat dikatakan bertentangan atau melanggar
Hukum Tanah Nasional, karena memang bukan perbuatan hukum jual beli
yang dimaksud oleh Hukum Tanah Nasional yang berlaku, melainkan
hanyalah masih dalam bentuk “perikatan jual beli”. Hal itu merupakan
perjanjian pendahuluan untuk dapat dilakukan perbuatan hukum jual beli
dihadapan pejabat yang berwenang.
2. Prosedur Jual Beli
Menurut peraturan pemerintah Nomor 24 tahun 1997, setiap
perjanjian yang dimaksud memindahkan hak atas tanah harus dibuktikan
dengan Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), jadi jual beli hak atas
tanah harus dilakukan dihadapan PPAT, sebagai bukti telah terjadi jual beli
suatu hak atas tanah.
Adapun syarat-syarat yang diperlukan untuk pelaksanaan jual beli
dihadapan PPAT, jika diperoleh dari hasil surat penetapan pengadilan
negeri, yaitu meliputi :45
a. Surat bukti kepemilikan obyek jual beli sertipikat hak atas tanah
b. Surat-surat tentang subyek/orangnya, penjual dan pembeli, yaitu:
1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Kartu Keluarga;
2. Surat Nikah;
3. Putusan Pengadilan Negeri.
c. Surat tanda bukti pelunasan BPHTB (Bea Peroleh Hak Atas Tanah dan
Bangunan) sesuai ketentuan
Undang-Undang Nomor 21/1997. BPHTB, wajib dibayarkan
sebelum PPAT membuat akta jual belinya, yaitu sebesar 5 % , setelah
harga tanah dan bangunan dikurangi dengan nilai tidak kena pajak sebesar
Rp. 30.000.000,- (tigapuluh juta rupiah), untuk kota Bekasi.
45
WAWANCARA PRA-RISET, DENGAN KEPALA SEKSI HAK TANAH DAN PENDAFTARAN TANAH KANTOR
PERTANAHAN KABUPATEN BOGOR, TANGGAL 20 DESEMBER 2009
Dokumen-dokumen tersebut diatas, wajib diserahkan kepada
PPATsebelum akta Jual belinya dibuat oleh yang berwenang. Jual beli
tanah tidak boleh tidak harus dilakukan dihadapan dan dibuat oleh Pejabat
Pembuat Akta Tanah sesuai dengan akta yang telah ditetapkan yang
merupakan suatu akta otentik.
3. Berpindahnya Hak Karena Jual Beli
Berkaitan dengan syarat formal maupun materielnya untuk terjadinya
jual beli tanah hak dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) harus
bersifat final, baik syarat formal maupun materielnya, untuk syarat formal
biasanya telah dipenuhinya persyaratan kelengkapan surat-surat (sertipikat,
dan lainnya) yang menjadi bukti hak atas tanah.
Syarat materiel seperti harus lunasnya harga jual beli, merupakan
syarat untuk perjanjian pokoknya yaitu jual beli di hadapan PPAT. Dengan
demikian, tidak bertentangan dengan Pasal 37 PP. No. 24 Tahun 1997
yang menentukan bahwa pengalihan hak atas tanah harus dibuktikan
dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang. Sedangkan
ketentuan Pasal 38 PP. No. 24 Tahun 1997 mengenai para pihak yang
harus hadir dalarn pembuatan Akta Jual Beli. Dalam Pasal 37 berbunyi
sebagai berikut :
1) Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun
melaui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan,
dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan
hak melalui lelang hanya dapat didaftarkan jika dibuktikan dengan akta
yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
2) Dalam keadaan tertentu sebagaimana yang ditentukan oleh Menteri
Kepala Kantor Pertanahan dapat mendaftar pemindahan hak atas
bidang tanah hak milik, yang dilakukan diantara perorangan Warga
Negara Indonesia yang dibuktikan dengan akta yang tidak dibuat oleh
PPAT, tetapi yang menurut kepala Kartor Pertanahan tersebut kadar
kebenarannya dianggap cukup untuk mendaftar pemindahan hak yang
bersangkutan.
Dalam pasal 38 berbunyi sebagai berikut:
1) Pembuatan akta sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 37 ayat (1)
dihadiri oleh para pihak yang melakukan perbuatan hukum yang
bersangkutan dan disaksikan oleh sekurang-kurangnya 2 orang saksi
yang memenuhi syarat untuk bertindak sebagai saksi dalam perbuatan
hukum itu.
2) Bentuk, isi dan cara pembuatan akta-akta PPAT diatur oleh Menteri.
Dalam Pasal 39 berbunyi sebagai berikut:
1) PPAT menolak untuk membuat akta jika, untruk membuat akta:
a. Mengenai bidang tanah yang sudah terdaftar atau hak milik atas
satuan rumah susun kepadanya tidak bisa disampaikan sertipikat
asli hak yang bersangkutan atau sertipikat yang diserahkan tidak
sesuai dengan daftar-daftar yang ada di Kantor Pertanahan;
b. Mengenai daftar tanah yang belum terdaftar kepadanya tidak
disampaikan:
1. Surat bukti hak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (1)
atau surat keterangan Kepala Desa/Kelurahan yang menyatakan
bahwa yang bersangkutan menguasai bidang tanah tersebut
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 ayat (2); dan
2. Surat keterangan yang mengatakan bahwa bidang tanah yang
bersangkutan belum bersertipikat dari kantor pertanahan, atau
untuk tanah yang terletak di daerah yang jauh dari kedudukan
kantor pertanahan, dari pemegang hak yang bersangkutan
dengan dikuatkan oleh Kepala Desa/Kelurahan; atau
c. Salah satu atau para pihak yang akan melakukan perbuatan hukum
yang bersangkutan atau salah satu saksi sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 38 tidak berhak atau tidak memenuhui syarat untuk
bertindak demikian; atau
d. Salah satu pihak atau para pihak bertindak atas dasar suatu surat
kuasa mutlak yang pada hakekatnya berisikan pernbuatan hukum
pemindahan hak;atau
e. Untuk perbuatan hukum yang akan dilakukan belum diperoleh ijin
pejabat atau instansi yang berwenang, apabila ijin tersebut
diperlukan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku;
atau
f. Obyek perbuatan hukum yang bersangkutan sedang dalam
sengketa mengenai dan fisik dan atau data yuridisnya; atau
g. Tidak dipenuhi syarat lain atau dilanggar larangan yang ditentukan
dalam peraturan perundang-undangan yang bersangkutan.
Ketentuan tersebut tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum
Perdata, namun diakui di dalam lalu lintas bisnis dimasyarakat, hal ini
merupakan suatu perikatan yang muncul dari perjanjian, yang diatur dalam
Pasal 1338 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang mengakui adanya
kebebasan berkontrak, dengan pembatasan bahwa perjanjian itu tidak
boleh bertentangan dengan peraturan perundangan dan harus didasari
dengan itikat baik.
Dalam hal ini maka sesungguhnya Notaris-PPAT mempunyai
peranan yang sangat besar, terutama dalam proses pembuatan akta-akta,
agar akta yang dibuatnya tersebut tidak bertentangan dengan peraturan
perundangan yang berlaku dan tidak merugikan para pihak yang
membuatnya.
Dengan mempertimbangkan tugas dan kewajiban Notaris-PPAT
sebagai pejabat umum yang berwenang membuat akta otentik, maka akta
yang dibuatnya tersebut harus merupakan juga alat pembuktian formal
yang mengandung kebenaran absolut, sehingga seharusnya notaris juga
berperan untuk mengantisipasi secara hukum atas timbulnya hal-hal yang
dapat merugikan para pihak yang membuatnya serta akibat hukum dan
perjanjian tersebut.
4. Jual Beli Tanpa Akta Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT)
Pengertian Jual beli tanah pada hakekatnya merupakan salah satu
pengalihan hak atas tanah kepada pihak lain/orang lain yang berupa rumah
dari penjual kepada pembeli tanah.
Pengalihan hak-hak pemilikan atas tanah ini tidak hanya melalui jual
beli saja, pengalihan hak pemilikan ini juga terjadi karena hibah, tukar-
menukar, pemberian dengan surat wasiat dan perbuatan-perbuatan lain
yang bermaksud memindahkan hak pemilikan atas tanah. Peralihan hak
pemilikan itu yang terjadi demi hukum, adalah karena pewarisan. Karena
Hukum pula segala harta kekayaan seseorang beralih menjadi harta
warisan sejak saat orang tersebut meninggal dunia. Karena itu beralihnya
hak milik atas tanah apabila di lihat dari segi hukum dapat terjadi karena
suatu tindakan hukum (antara lain perbuatan hukum) atau karena suatu
peristiwa hukum.
Tindakan hukum (rechhtshandelingen) termasuk jual beli, hibah,
pemberian dengan wasiat, penukaran, pemberian menurut adat dan
perbuatan-perbuatan hukum lainnya. Sedangkan beralihnya hak milik
karena peristiwa hukum misalnya karena pewarisan.
Pengertian jual-beli menurut Hukum Adat dan Boedi Harsono,
adalah perbuatan hukum pemindahan hak yang bersifat tunai.46 Jual beli
tanah dalam hukum adat, adalah perbuatan hukum pemindahan hak atas
tanah dengan pembayaran harganya pada saat yang bersamaan secara
tunai dilakukan. Maka dengan penyerahan tanahnya kepada pembeli dan
pembayaran harganya kepada penjual pada saat jual-beli dilakukan,
perbuatan jual beli itu selesai dalam arti pembeli telah menjadi pemegang
hak yang baru. Bahwa kemudian pemilik tanah yang baru itu meminta
perubahan girik, berarti bahwa ia merasa belum menjadi pemilik yang baru.
Penggantian girik tersebut justru dimaksudkan untuk mengamankan
pemilikan tanah yang bersangkutan olehnya.
Pengertian tunai bahwa harga selalu dianggap dibayar lunas.
Pembayaran dan penyerahan haknya dilakukan pada saat bersama pada
saat jual beli tersebut menurut hukum telah selesai. Sisa harga (apabila
baru dibayar sebagian) yang menurut kenyataan belum dibayar, dianggap
sebagai utang pembeli pada bekas pemilik tanah atas dasar perjanjian
utang piutang. 47
Bentuk-bentuk jual beli tanah dalam hukum adat antara lain yaitu:48
1. Jual lepas
46
BOEDI HARSONO, OP. CIT. HALAMAN 333
47
EFFENDI PERANGIN, OP. CIT. HALAMAN 16
48
HARUN AL RASYID, OP. CIT. HALAMAN 55
Jual lepas merupakan proses pemindahan hak atas tanah yang bersifat
terang dan tunai, dimana semua ikatan antara bekas penjual dengan
tanahnya menjadi lepas sama sekali.
2. Jual gadai
merupakan suatu perbuatan pemindahan hak atas tanah kepada pihak
lain yang dilakukan secara terang dan tunai sedemikian rupa sehingga
pihak yang melakukan pemindahan hak mempunyai hak untuk menebus
kembali tanah tersebut. Dengan demikian maka pemindahan hak atas
tanah pada jual gadai bersifat sementara, walaupun kadang-kadang
tidak ada patokan tegas mengenai sifat sementara waktu tersebut.
Ada kecenderungan untuk membedakan antara gadai biasa dengan
gadai jangka waktu, dimana yang terakhir cenderung memberikan
semacam patokan pada sifat sementara dan perpindahan hak atas
tanah tersebut. Pada gadai biasa, maka tanah dapat ditebus oleh
penggadai setiap saat. Pembatasnya adalah satu tahun panen atau
apabila di atas tanah masih terdapat tumbuh-tumbuhan yang belum
dipetik hasil-hasilnya. Dalam hal ini maka penerima gadai tidak berhak
untuk menuntut agar penggadai menebus tanahnya pada suatu waktu
tertentu.
3. Jual tahunan
Jual tahunan merupakan suatu perilaku hukum yang berisikan
penyerahan hak atas sebidang tanah tersebut kepada subyek hukum
lain dengan menerima sejumlah uang tertentu dengan ketentuan bahwa
setelah jangka waktu tertentu, maka tanah tersebut akan kembali
dengan sendirinya tanpa melalui hukum tertentu. Dalam hal ini terjadi
peralihan hak atas tanah yang bersifat sementara waktu.
4. Jual Gangsur.
Pada jual gangsur ini walaupun telah terjadi pemindahan hak atas tanah
kepada pembeli, akan tetapi tanah tetap berada ditangan penjual,
artinya bekas penjual masih tetap mempunyai hak pakai yang
bersumber pada ketentuan yang disepakati oleh penjual dengan
pembeli (jadi hak pakai tersebut bukan bersumber pada hak peserta
warga negara hukum adat).
5. Jual beli dengan cicilan
Yang dimaksud dengan Jual beli dengan cicilan, dalam praktek sehari-
hari sering timbul walaupun tidak diatur dalam Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, menurut M. Yahya Harahap: 49
“Jual beli cicilan, merupakan salah satu bentuk penjualan kredit,
pembeli wajib membayar barang secara termein atau berkala.
Sebaliknya penjual biasanya masih tetap berhak menarik barang
yang dijual dari tangan si pembeli, apabila pembeli tidak tepat
waktu, membayar harga cicilan, menurut termein yang
dijadwalkan”
49
M. Harahap Yahya, Segi-segi Hukum Perjanjian, (Bandung : Alumni, 1986), hal. 26.
Adanya hak penjual menarik kembali barang yang telah dijual,
karena akibat keterlambatan membayar cicilan, adalah merupakan
syarat yang disebut “ klasula yang menggugurkan “ atau Vervalclausule
“ . salah satu bentuk jual – beli angsuran atau cicilan adalah sewa beli.
Jadi dalam jual beli dengan cicilan barang yang dijual diserahkan dalam
miliknya si pembeli, namun pembayarannya dengan cicilan. Dengan
demikian si pembeli seketika menjadi pemilik mutlak dari barang yang
dibelinya dan tinggallah mempunyai utang kepada di penjual berupa
harga atau sebagian dari harga yang belum dibayarnya. Dengan begitu
pembeli menerima barangnya begitu pula ia bebas untuk menjualnya
lagi karena sudah menjadi miliknya.”
Saat mengikatnya perjanjian jual beli, adalah bersamaan dengan
saat terjadinya jual beli dan pada saat itu perjanjian jual beli itu sudah
dilahirkan, pada detik tercapainya kata “sepakat“ mengenai barang dan
harga. Dengan kesepakatan tersebut berarti perjanjian jual beli, tersebut
menganut asas konsessualisme yang ditentukan dalam, Pasal 1458
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, yang berbunyi : “ Jual-beli itu
dianggap telah mencapai sepakat tentang kebendaan tersebut dan
harganya, meskipun kebendaan itu sebelum diserahkan, maupun
harganya belum dibayar.“
BAB III
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1. Gambaran Umum PT. Bukit Sentul (Pengembang).
PT Bukit Sentul (sekarang PT Sentul City Tbk) berdiri pada April 1993
dan mulai melakukan pemasaran kawasan Bukit Sentul tersebut pada
September 1993. Kegiatan pembangunan perumahan dan infrastruktur dimulai
pada Januari 1994. Pada tahun 1997, dibuka akses langsung ke kawasan ini
melalui pintu gerbang tol Sentul Selatan.
Sentul City adalah sebuah kawasan "kota pegunungan" seluas kira-kira
3000 hektar di sebelah timur Kota Bogor yang dikembangkan oleh PT Sentul
City Tbk. Kawasan ini, dibangun sebagai tempat hunian sekaligus pariwisata,
berada di ketinggian 215-500 meter di atas permukaan laut. Di Sentul City
terdapat berbagai fasilitas publik seperti Bellanova Country Mall, Sekolah
Pelita Harapan, KB/TK/SDS TARUNA BANGSA, Sentul Wonderland Outbound
Kids, tempat olah raga, dan lain-lain. Sebelum bernama Sentul City, kawasan
ini bernama Bukit Sentul. Perubahan nama ini didahului dengan perubahan
nama pengembangnya dari PT Bukit Sentul Tbk menjadi PT Sentul City Tbk
yang disahkan oleh Surat Pengesahan Menteri Hukum dan HAM No. C-
[Link].01.04.TH2006 tertanggal 20 Juli 2006.
Lingkungan perumahan Sentul City dibentuk dengan sistem klaster
76
(cluster) yang memiliki ciri khas sesuai dengan tema klaster masing-masing,
seperti Taman Yunani, England Park, Bali Hill, dan lain-lain. Kawasan
Komersial merupakan kawasan bisnis yang terdiri dari ruko-ruko dan pusat-
pusat perbelanjaan di sekitar Kawasan Perumahan. Terdapat 5 wilayah
kawasan komersial yang terpisah-pisah seperti sistem klaster pada
perumahan, yaitu Central Business District, Plaza Niaga, Plaza Niaga 2, Mal
dan Plaza Amsterdam, dan Plaza Victoria.50
2. Pelaksanaan jual beli tanah – bangunan melalui Perjanjian Pengikatan
Jual Beli Dibawah Tangan di Perumahan Bukit Sentul Kabupaten Bogor
1. Sifat dan Bentuk
Perjanjian pengikatan jual beli pada dasarnya bersifat konsensuil.
Bersifat konsensuil karena perjanjian itu ada atau lahir sejak adanya kata
sepakat antara kedua belah pihak yaitu pihak pengembang dan pihak
konsumen mengenai pembuatan suatu perjanjian pengikatan jual beli
rumah dengan harga rumah yang telah ditentukan. Dengan adanya kata
sepakat tersebut perjanjian pengikatan jual beli mengikat kedua belah pihak
artinya para pihak tidak dapat membatalkan perjanjian pengikatan jual beli
tersebut tanpa persetujuan pihak lainnya.
Jika perjanjian pengikatan jual beli tersebut dibatalkan atau
diputuskan secara sepihak maka pihak lainnya dapat menuntut. Dasar
hukum pemikiran hukumnya, perjanjian pengikatan jual beli bukanlah
perbuatan hukum jual beli yang bersifat riil dan tunai. Perjanjian pengikatan
50
[Link]
jual beli merupakan kesepakatan dua pihak untuk melaksanakan prestasi
masing-masing di kemudian hari, yakni pelaksanaan jual beli di hadapan
PPAT, bila bangunan telah selesai bersertipikat dan layak huni.
Menurut Maria Sumardjono, masalah perjanjian pengikatan jual beli
termasuk dalam lingkup perjanjian, sedangkan jual belinya termasuk dalam
lingkup hukum tanah nasional yang tunduk pada Undang-Undang Pokok
Agraria dan peraturan-peraturan pelaksanaannya.51 Di dalam perjanjian
pengikatan jual beli, maka isi kontrak ditentukan terlebih dahulu oleh pihak
pengembang. Perjanjiannya disebut perjanjian baku (standard). Di dalam
perjanjian pengikatan jual beli tersebut meskipun isi kontrak ditentukan oleh
pihak pengembang, akan tetapi kepada konsumen selalu diberi
kesempatan untuk mempelajari, memperhatikan dan membaca isi kontrak
tersebut terlebih dahulu, sehingga konsumen dapat memahami isi
perjanjian tersebut.
Menurut Mariam Darus ciri-ciri perjanjian baku adalah:52
a) Isinya ditetapkan secara sepihak oleh pihak yang posisi (ekonomi) nya
kuat;
b) Debitur sama sekali tidak ikut bersama-sama menentukan isi perjanjian;
c) Terdorong oleh kebutuhannya debitur terpaksa menerima perjanjian itu;
d) Bentuk tertentu (Tertulis);
e) Dipersiapkan terlebih dahulu secara massal atau individual.
51
Maria Sumardjono, “Pembangunan Rumah Rusun dan Permasalahannya:Ditinjau dari segi
Yuridis” , Kertas Kerja untuk Diskusi Terbatas Development Of Indonesian Consumer Protecttion
Act (Comparative Studi & Draft Evaluation), Diselenggarakan YLKI di Jakarta, 27 Oktober 1994.
52
Mariam Darus Badrulzaman, Aneka Hukum Bisnis, (Bandung : Alumni, 1994), Hal. 50
Di dalam praktek perjanjian baku tumbuh sebagai perjanjian tertulis,
dalam bentuk formulir. Perbuatan-perbuatan hukum sejenis yang selalu
terjadi secara berulang-ulang dan teratur yang melibatkan banyak orang,
menimbulkan kebutuhan untuk mempersiapkan isi perjanjian itu terlebih
dahulu, dan kemudian dibakukan dan seterusnya dicetak dalam jumlah
banyak, sehingga mudah menyediakan setiap saat jika masyarakat
membutuhkan. Di sini terlihat sifat individual dan massal perjanjian baku.
Perjanjian massal ini diperuntukkan bagi setiap debitur yang melibatkan diri
dalam perjanjian sejenis itu, tanpa memperhatikan kondisi yang berbeda
antara debitur yang satu dengan yang lain.
Perjanjian pengikatan jual beli ketentuannya tidak bersifat memaksa
karena perjanjian pengikatan jual beli dibuat berdasarkan kesepakatan
kedua belah pihak dan kedua belah pihak sepakat dengan isi perjanjian
pengikatan jual beli tersebut meskipun perjanjian tersebut sudah
dipersiapkan oleh pihak pengembang terlebih dahulu. Perjanjian
pengikatan jual beli ini dibuat dalam bentuk tertulis karena isi perjanjian
tersebut menyangkut tentang apa yang menjadi hak dan kewajiban kedua
belah pihak baik pihak pengembang maupun konsumen.
Berdasarkan hasil penelitian untuk perjanjian pengikatan jual beli,
semua perjanjian harus dibuat dalam bentuk tertulis yang telah disepakati
oleh kedua belah pihak. Hanya saja surat perjanjian pengikatan jual beli
sering dibuat setelah pekerjaan berlangsung tiga sampai lima bulan.53
Berdasarkan hasil penelitian dengan konsumen terhadap perjanjian
pengikatan jual beli yang disodorkan oleh pihak pengembang, keseluruhan
konsumen sebanyak 10 orang mengetahui tentang perjanjian pengikatan
jual beli tersebut dan memahami isi dalam perjanjian pengikatan jual beli
tersebut.54 Data tersebut dapat dilihat dalam Tabel 1 dibawah ini:
Tabel 1
Pengetahuan Konsumen Terhadap PPJB
Nomor Jawaban Frekwensi (f) Persentase (%)
1 Mengetahui 10 100
2 Tidak Mengetahui 0 0
Total 10 100
Sumber : Data Primer, 2009
2. Isi perjanjian pengikatan jual beli
Terhadap isi perjanjian jual beli yang ditandatangani oleh konsumen
dan pengembang, tenyata pihak konsumen memang banyak menyepakati
perjanjian tersebut. Sehingga dengan sendirinya konsumen telah terikat
dengan ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam surat perjanjian
pengikatan jual beli yang telah ditandatanganinya dan dengan kesepakatan
53
Bambang Yudi Hirawan, Wawancara, Bagian HRD PT. Bukit Sentul City Tbk., selaku
Pengembang/developer pada tanggal 23 Desember 2009
54
Hasil Wawancara dengan responden konsumen PT. Bukit Sentul, pada tanggal 23
Desember 2009
ini, maka ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1320 KUH
Perdata telah terpenuhi. Ketika ditanyakan kepada konsumen apakah
setuju dengan isi perjanjian yang telah ditandatangani, sebanyak 8 orang
konsumen mengatakan setuju dengan isi perjanjian sedangkan 2 orang
konsumen tidak menyetujui isi perjanjian jual beli tersebut.
Tabel 2
Penerimaan Konsumen Terhadap Isi PPJB yang Ditandatangani
Nomor Jawaban Frekwensi (f) Persentase (%)
1 Setuju 8 80
2 Tidak Setuju 2 20
Total 10 100
Sumber: Data Primer
Ternyata masih ada konsumen yang tidak setuju tentang isi dan
surat perjanjian pengikatan jual beli tersebut dengan alasan perjanjian
tersebut dibuat dibawah tangan tidak dengan akta notaris, akan tetapi
konsumen tersebut tetap menandatanganinya, ketika bertanya kepada
konsumen mengapa berani menandatanganinya, konsumen tersebut
mangatakan, yang perlu hanya berapa uang muka, berapa angsurannya,
kalau mengenai isi dari perjanjiannya tidak menjadi masalah, yang penting
rumah diserahkan sesuai dengan yang diperjanjikan.55
Hal ini merupakan salah satu kelemahan intern dari konsumen.
Seharusnya dipahami terlebih dahulu isi dari suatu perjanjian baru
55
Hasil Wawancara dengan konsumen PT. Bukit Sentul pada tanggal 23 Desember 2009
menandatangani, karena kalau demikian hak seluruh konsumen, maka
pihak pengembang akan semakin leluasa menentukan isi dari perjanjian
pengikatan jual beli tersebut yang cenderung hanya mencantumkan haknya
dan bukan kewajibannya. Akan tetapi seandainya setiap konsumen selalu
kritis terhadap isi dari klausul-klausul setiap perjanjian yang disodorkan
oleh pihak pengembang, maka hal ini merupakan salah satu cara
pencegahan terhadap kebebasan pihak pengembang dalam menentukan
isi dari klausul perjanjian tersebut. Alasan lain konsumen menerima begitu
saja perjanjian tanpa mengomentari adalah kelemahan intern dari
konsumen itu sendiri, misalnya kurang paham dan tiak mau tahu. 56
Selanjutnya ketika ditanyakan kepada konsumen, apakah pernah
mengetahui tentang perlindungan konsumen, sebanyak 10 orang
konsumen mengatakan pernah, akan tetapi mengenai apa yang terdapat
dalam Undang-Undang Perlindungan Konsumen tersebut yang mengenai
hak-hak konsumen, sebanyak 7 orang mengetahui dengan jelas isi dari
undang-undang tersebut, sedangkan 3 orang lagi mengatakan sama sekali
tidak tahu tentang adanya Undang-Undang Perlindungan Konsumen. Data
tersebut dapat dilihat dalam Tabel 3 dibawah ini:
Tabel 3
Pengetahuan Konsumen Tentang Pengaturan Perlindungan Konsumen
56
Hasil Wawancara dengan konsumen PT. Bukit Sentul pada tanggal 23 Desember 2009
Nomor Jawaban Frekwensi (f) Persentase (%)
1 Tahu 7 70
2 Tidak Tahu 3 30
Total 10 100%
Sumber: Data Primer, tahun 2009
Mengenai apa yang menjadi hak-hak dari konsumen, para
konsumen mengatakan belum sepenuhnya mengetahui tentang apa yang
menjadi hak-haknya yang terdapat dalam Undang-Undang Perlindungan
Konsumen tersebut dan menganggap bahwa sepanjang tidak merugikan
konsumen, maka apa yang tercantum dalam Undang-Undang Perlindungan
Konsumen tersebut tidak menjadi masalah. 57
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengembang, bahwa
pihak pengembang sendiripun sama sekali tidak pernah merugikan
konsumen, karena pihak pengembang selaku pelaku usaha pun tentu tidak
ingin terjadi hal-hal yang menimbulkan konflik di kalangan pengembang
dengan konsumen sehingga akhirnya konsumen membatalkan jual beli
rumah telah disepakati sebelumnya. Malahan pihak pengembang sendiri
pun apabila ada keluhan-keluhan dari konsumen, maka pihak pengembang
berusaha untuk menanggapinya dan kemudian menyelesaikan denag cara
musyawarah dengan konsumen.58
57
Hasil Wawancara dengan konsumen PT. Bukit Sentul, pada tanggal 23 Desember 2009
58
Bambang Yudi Hirawan, Wawancara, Bagian HRD PT. Bukit Sentul City Tbk., selaku
Pengembang/developer pada tanggal 23 Desember 2009
Apabila melihat kepada isi perjanjian pengikatan jual beli tersebut di
dalam KUH Perdata tidak ditentukan, maka para pihak yaitu pihak
pengembang dan konsumen bebas. Hal ini sesuai dengan asas kebebasan
berkontrak dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, Para pihak bebas
membuat kontrak dan mengatur sendiri isi kontrak tersebut, sepanjang
memenuhi ketentuan sebagai berikut:59
a. Memenuhi syarat sebagai suatu kontrak;
b. Tidak dilarang oleh undang-undang;
c. Sesuai dengan kebiasaan yang berlaku;
d. Sepanjang kontrak tersebut dilaksanakan dengan itikad baik.
Isi perjanjian pengikatan jual beli antara satu perusahaan dengan
perusahaan yang lain berbeda, hanya saja ada hal-hal tertentu dalam
perjanjian pengikatan jual beli tersebut yang harus tercantum dan selalu
ada dalam perjanjian pengikatan jual beli itu, yaitu mengenai pokok
perjanjian, cara pembayaran, masa pemeliharaan dan penyerahan,
perubahan bangunan, sanksi keterlambatan dan force majeure
Apabila dikaitkan dengan unsur essensial (isi), maka isi perjanjian
yang sudah ditetapkan oleh kedua belah pihak ini selalu harus ada dalam
setiap perjanjian pengikatan jual beli, unsur mutlak, tanpa adanya unsur
tersebut, perjanjian pengikatan jual beli tersebut itu tidak mungkin dapat
terlaksana. Meskipun isi perjanjian pengikatan jual beli antara satu
perusahaan berbeda tetapi untuk hal-hal tertentu tetap ada yang menjadi
essensial dari perjanjian tersebut. Jadi dalam perjanjian pengikatan jual beli
59
Munir Fuady, Hukum Kontrak, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, 1999), Hal 30
tersebut essensial-nya adalah syarat tentang pokok perjanjian dan cara
pembayaran.60 Menurut Pasal 1393 KUH Perdata, pembayaran harus
dilakukan di tempat yang ditetapkan dalam perjanjian. Jika dalam perjanjian
tidak ditetapka suatu tempat, maka pembayaran yang mengenai suatu
barang yang sudah ditentukan harus terjadi di tempat dimana barang itu
berada pada saat perjanjiannya dibuat.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa isi dari perjanjian
pengikatan jual beli tersebut menurut para konsumen lebih menguntungkan
pihak pengembang, meskipun dibuat atas kesepakatan kedua belah pihak
tetapi biasanya telah dipersiapkan terlebih dahulu oleh pihak pengembang.
100% tidak ada responden yang menjawab isi perjanjian pengikatan jual
beli tersebut menguntungkan pihak konsumen. 61
Dalam perjanjian pengikatan jual beli tersebut , terdapat klausul
dalam perjanjiannya mengenai keterlambatan pembayaran oleh pihak
konsumen kepada pihak pengembang, sedangkan keterlambatan
penyerahan bangunan dari pengembang kepada konsumen, beberapa
pengembang tidak mengaturnya, sehingga hal ini nampak perjanjian
pengikatan jual beli tersebut lebih menguntungakan pihak pengembang
terutama dalam soal sanksi keterlambatan penyerahan bangunan.
Ketentuan dalam perjanjian pengikatan jual beli yang menunjukkan bahwa
perjanjian pengikatan jual beli lebih menguntungkan pihak pengembang,
60
Djohari Santoso dan Achmad Ali, Hukum Perjanjian Indonesia, (Yogyakarta : Perpustakaan
Fak. Hukum Universitas Islam Indonesia, 1989), Hal. 96
61
Hasil Wawancara dengan konsumen PT. Bukit Sentul, pada tanggal 23 Desember 2009
yaitu mencantumkan sanksi atas keterlambatan pembayaran angsuran
akan dikenakan denda sebesar 2%0 (dua perseribu) dari jumlah angsuran
untuk setiap hari keterlambatan. 62
Sebaliknya apabila dilihat dalam perjanjian pengikatan jual beli
tersebut tidak ada sanksi untuk pengembang apabila terjadi keterlambatan
penyerahan bangunan kepada konsumen. Jadi meskipun ada dicantumkan
dalam klausulnya mengenai sanksi atas keterlambatan penyerahan rumah
kepada konsumen tersebut tetapi tetap klausul tersebut lebih
menguntungkan posisi pihak pengembang, sedangkan pengembang
lainnya sama sekali tidak mengatur tentang keterlambatan penyerahan
bangunan kepada konsumendan kerugian-kerugian akibat keterlambatan
itu juga tidak diperhitungkan.
Selanjutnya, disamping itu juga ada hal lain yang dialami konsumen
meskipun harga rumah berikut tanah telah dibayar lunas, dokumen-
dokumen pemilikan rumah dan tanah, seperti Sertipikat Hak Guna
Bangunan (HGB) Pecahan dan Izin Mendirikan Bangunan(IMB) belum
diberikan/diserahkan atau diselesaikan.
Mengenai pembatasan tanggung jawab pengembang atas
klaim/tuntutan konsumen. Dalam praktek penerapannya, dilakukan dengan
mencantumkan klausula-klausula dalam perjanjian pengikatan jual beli
yang pada intinya menetapkan tenggang waktu untuk mengajukan klaim
atas kondisi atau mutu bangunan atau hal-hal lain yang dijanjikan
62
Isi dari Surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli
pengembang, biasanya dalam perjanjian pengikatan jual beli dicantumkan
klausula-klausula bahwa konsumen dapat mengajukan klaim kepada
pengembang dalam waktu 90 hari setelah serah terima bangunan,
khususnya klaim mengenai kondisi atau kualitas bangunan, termasuk
dalam hal ini masalah cacat tersembunyi, lewat dari waktu yang ditetapkan
secara sepihak itu, klaim/tuntutan apa pun tidak dilayani lagi. Pembatasan
ini tiak adil bagi konsumen. Tenggang waktu 90 hari hanya cukup untuk
meneliti kondisi atau kualitas bangunan yang terlihat kasat mata.
Untuk mengetahui cacat-cacat tersembunyi pada bangunan seperti
konstruksi bangunan, penggunaan semen yang tidak sesuai dengan
perbandingan, dan sebagainya, tak cukup dalam tenggang waktu itu. Klaim
konsumen tentang konstruksi bangunan tak dilayani pengembang setelah
melampaui jangka waktu itu, ini sama saja mengabaikan hak konsumen
untuk mendapatkan barang atau jasa sesuai dengan nilai tukar yang
diberikannya.
Dalam keadaan ini pihak yang lebih kuat kedudukannya
(pengembang) menggunakan kedudukannya itu untuk membebankan
kewajiban yang berat kepada pihak lainnya, sedangkan ia sendiri sedapat
mungkin membatasi atau menyampingkan tanggung jawabnya termasuk
pula dalam hal adanya cacat-cacat tersembunyi (hidden defects) pada
obyek perjanjian. Padahal menurut Subekti, penjual bertanggungjawab
atas adanya cacat-cacat tersembunyi itu.63
Berdasarkan ketentuan Pasal 1493 KUH Perdata memang
memungkinkan untuk mengurangi kewajiban salah satu atau kedua belah
pihak. Pasal 1493 KUH Perdata menentukan sebagai berikut:
“Kedua belah pihak diperbolehkan dengan persetujuan-persetujuan
istimewa, memperluas atau mengurangi kewajiban yang ditetapkan
oleh undang-undang ini, bahkan mereka itu diperbolehkan
mengadakan persetujuan bahwa si penjual tidak akan diwajibkan
menanggung suatu apa pun”.
Ketentuan ini sering digunakan untuk memojokkan konsumen secara
hukum, padahal pasal selanjutnya (Pasal 1494 KUH Perdata) menegaskan
bahwa:
“Meskipun telah diperjanjikan bahwa si penjual tidak akan
menanggung suatu apa pun, namun ia tetap bertanggung jawab
tentang apa yang berupa akibat dari suatu perbuatan yang dilakukan
olehnya, segala persetujuan yang bertentangan dengan ini adalah
batal”.
Berkenaan dengan ketidakjujuran klausula-klausula dalam PPJB
sebagaimana telah disebutkan, ada dua hal mendasar yaitu pertama,
siapakah yang dapat mengontrol (di luar lembaga pengadilan) bahwa
pengembang dalam membuat kontrak standar tidak akan berbuat
sewenang-wenang memasukkan kepentingan-kepentingannya, sebaliknya
juga mengesampingkan hak-hak pihak lainnya di dalamnya. Pada
umumnya dalam merancang perjanjian pengikatan jual beli itu, pengusaha
diwakili atau dibantu oleh legal officer dan atau penasehat hukumnya.
63
R. Subekti, [Link], hal. 19
Legal Officer atau penasehat hukumnya bertindak untuk dan atas nama
pengembang, sehingga tidaklah mungkin bertindak untuk dan atas nama
konsumen.
Kedua bagaimana caranya konsumen dapat mengusulkan membela
kepentingannya dalam perjanjian pengikatan jual beli yang disodorkan
pengembang kepadanya, padahal dalam keadaan yang sama konsumen
memerlukan produk pengembang. Secara teoretis, dengan merujuk pada
asas kebebasan berkontrak konsumen dapat meminta perbaikan atau
perubahan klusula-klausula dalam perjanjian pengikatan jual beli. Akan
tetapi dalam prakteknya tidak mudah dilakukan. Pengembang dengan
mudah mendalilkan: “Kalau tidak setuju, substansi PPJB, silahkan cari
pengembang yang lain”, padahal pengembang yang lainnya juga
menjalankan praktek demikian.
Berdasarkan kalimat-kalimat yang digunakan dalam pasal-pasal di
atas terlihat bahwa isi perjanjian pengikatan jual beli lebih menguntungkan
pihak pengembang, sehingga dapat dikatakan bahwa perjanjian pengikatan
jual beli tersebut tidak seimbang. Pihak konsumen apabila terlambat
membayar angsuran maka akan dikenakan denda atas keterlambatannya,
sedangkan pihak pengembang apabila terlambat menyerahkan rumah
kepada konsumen tidak ada mengaturnya.
Berdasarkan hal tersebut, secara yuridis Perjanjian Pengikatan
untuk Jual Beli belum dapat dikatakan sebagai bukti beralihnya kepemilikan
hak atas tanah dan akibat hukum yang ada secara yuridis adalah dianggap
belum terjadi suatu penyerahan hak milik yang diakui oleh hukum, karena
apabila tanah yang dimaksud telah bersertipikat maka nama yang tertera
dalam sertipikat masih tetap tercantum atas nama pihak pertama selaku
penjual.
Secara yuridis suatu hak atas tanah dikatakan beralih
kepemilikannya adalah dengan cara-cara yang menjadi syarat untuk itu.
Syarat-syarat itu adalah didalam Pasal 26 UUPA, yang pada intinya
menyatakan bahwa jual beli merupakan salah satu cara untuk
memindahkan hak milik dan jual beli dalam praktiknya mensyaratkan
bahwa untuk dapat terjadinya perpindahan hak milik tersebut adalah
dengan dibuatkannya Akta Jual Beli oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah
(PPAT) dan transaksi jual beli yang dilaksanakan dianggap dibayar lunas,
karena akan dicantumkan sebagai klausul baku dalam Akta Jual Beli
tersebut yang dianggap sebagai kuitansi yang sah.(Pasal 37 PP No. 24
Tahun 1997)
Berdasarkan hal tersebut di atas, dapat dikatakan bahwa terdapat
perbedaan antara lingkup hukum yang mengatur tentang Perjanjian
Pengikatan untuk Jual Beli (PPJB) dan jual beli itu sendiri, apalagi
Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli (PPJB) yang dibuat secara dibawah
tangan. Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli diatur berdasarkan lingkup
hukum Perjanjian dalam perkembangan, sedangkan Jual Beli yang dapat
memindahkan kepemilikan hak atas tanah termasuk dalam lingkup hukum
tanah nasional yang tunduk pada UUPA.
3. Perlindungan hukum dan akibat hukum bagi pembeli dengan melakukan
jual beli tanah – bangunan melalui Perjanjian Pengikatan Jual Beli
bangunan secara dibawah tangan di Perumahan Bukit Sentul Kabupaten
Bogor
Kehidupan manusia tidak terlepas dari hubungan dengan manusia lain,
dengan tujuan yaitu melangsungkan kehidupan sehari-hari, untuk diri sendiri
maupun keluarganya. Keperluan dalam kehidupannya antara lain keperluan
akan tanah dan tempat tinggal. Setiap orang memerlukan tanah sebagai suatu
kebutuhan yang sangat pokok. Sehingga setiap orang selalu berusaha untuk
mendapatkan tanah ini, yang salah satu caranya melalui jual beli.
Dalam jual beli tentu tidak selamanya dapat berjalan dengan lancar,
adakalanya timbul hal-hal yang sebenarnya diluar dugaan, dan biasanya
persoalan ini timbul dikemudian hari, salah satu contohnya adalah dalam
perjanjian pengikatan jual beli tanah dan bangunan dimana salah satu pihak
(dalam hal ini penjual) melakukan wanprestasi.
Wanprestasi dalam perjanjian pengikatan jual beli berarti tidak
dipenuhinya kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian pengikatan jual
beli yang telah dibuat sebelumnya, misalkan tidak didaftarkanya proses
pembuatan sertipikat tanahnya oleh penjual. Semampu apapun dalam
membuat perjanjian tidak dapat dipungkiri adanya celah-celah kelemahan yang
suatu hari jika terjadi sengketa menjadi celah-celah untuk dijadikan alasan-
alasan dan pembelaan diri dari pihak yang ingin membatalkan, bahkan
mencari keuntungan sendiri dari perjanjian tersebut.
Dalam perjanjian (teori baru) menurut Van Dune sebagaimana telah
dikemukakan dalam Bab II yang tidak melihat perjanjian semata-mata tetapi
dilihat pula perbuatan sebelumnya atau yang mendahuluinya, yaitu olehnya
dibagi dalam tiga tahap yaitu:64
1. Tahap adanya penawaran dan penerimaaan.
2. Tahap adanya persesuaian pernyataan kehendak antara pihak.
3. Tahap pelaksanaan perjanjian.
Untuk terjadinya perjanjian ini cukup apabila kedua belah pihak sudah
mencapai persetujuan tentang barang dan harganya. Pihak penjual
mempunyai dua (2) kewajiban pokok yaitu pertama menyerahkan barangnya
serta menjamin pihak pembeli memiliki barang itu tanpa ada gangguan dari
pihak lain dan kedua bertanggung jawab terhadap cacat-cacat yang
tersembunyi. Sedangkan pihak pembeli wajib membayar harga pada waktu
65
dan tempat yang telah ditentukan. Berdasarkan ketentuan Pasal 1513 KUH
Perdata menyatakan bahwa "kewajiban utama pembeli ialah membayar harga
pembelian, pada waktu dan di tempat sebagaimana ditetapkan menurut
perjanjian."
64
Salim HS, Hukum Kontrak, (Jakarta : Sinar Grafika, 2003). Hal. 126
65
Loc. It.
Berdasarkan definisi tersebut di atas kewajiban membayar harga
merupakan kewajiban yang paling utama bagi pihak pembeli. Pembeli harus
menyelesaikan pelunasan harga bersama dengan penyerahan barang. Jadi
dapat disimpulkan bahwa jual beli tak akan ada artinya tanpa pembayaran
harga. Oleh karenanya sangat beralasan kalau menolak melakukan
pembayaran berarta telah melakukan perbuatan hukum. Kewajiban pembeli
untuk membayar harga barang tersebut sebagai imbalan hak pembeli untuk
menuntut penyerahan hak milik atas barang yang dibelinya.
Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui bahwa perjanjian itu
tuntas setelah dilaksanakan hak dan kewajiban oleh para pihak, maka segala
akibat hukum dan resikonya termasuk keuntungannya menjadi beban dan hak
pembeli.
Untuk terjadinya perjanjian pengikatan jual-beli tanah, pada
pelaksanaannya, dimana kedua belah pihak yaitu antara penjual dan pembeli,
telah terjadinya kesepakatan dan setuju mengenai benda dan harga, Si
Penjual menjamin kepada pembeli, bahwa, tanah yang akan dijual tersebut,
tidak akan mengalami, sengketa, kepada pembeli, sedangkan pembeli
menyanggupi untuk membayar sejumlah harga yang telah disepakati bersama.
Menurut ketentuan Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata,
Jual Beli adalah suatu perjanjian dengan mana pihak yang satu mengikatkan
dirinya untuk menyerahkan hak atas suatu barang dan pihak yang lain untuk
membayar harga yang telah dijanjikan.
Perkataan jual beli menunjukkan bahwa dari satu pihak perbuatan
disebut sebagai pembeli, sedangkan dari pihak lain dinamakan penjual. Yang
dijanjikan oleh penjual adalah penyerahan atau pemindahan hak miliknya atas
barang yang ditawarkan, sedangkan yang dijanjikan oleh pihak lain adalah
pembayaran harga yang tekah disetujui, meskipun tidak ada disebut dalam
suatu pasal dari dari KUH Perdata, namun sudah semestinya bahwa “harga”
itu harus berupa sejumlah uang, karena jika berupa barang, maka bukan jual
beli yang terjadi tetapi terapi tukar menukar,
Penyerahan oleh penjual kepada pembeli adalah hak milik atas barang.
Jadi bukan sekedar kekuasaan atas barang tersebut, yang harus dilakukan
adalah penyerahan (levering) secara yuridis. Kadang-kadang para pihak yang
mengadakan perjanjian setelah lahirnya hak dan kewajiban menganggap
dirinya sudah mempunyai status yang lain, artinya sudah menganggap dirinya
sebagai pemilik atas barang barang yang diperjanjikan itu, sebenarnya belum,
pembeli baru menjadi pemilik atas barang semenjak diadakannya penyerahan
atau sudah diadakan penyerahan. Jadi kalau belum diadakan penyerahan,
maka pembeli belum menjadi pemilik barang tersebut. Pemilikan baru berganti
setelah adanya pemindahan hak milik atas barang yang dibeli itu. Ini berarti
sekalipun sudah membayar harga barang dan pembayaran itu sudah diterima
si penjual si pembeli belum berstatus sebagai pemilik barang sebelum
diadakan “penyerahan”. Kalau barang bergerak penyerahannya cukup
dilakukan penyerahan secara nyata saja atau penyerahan dari tangan ke
tangan atau penyerahan yang menyebabkan seketika si pembeli menjadi
pemilik barang. Penyerahan ini dilakukan berdasarkan Pasal 612, 613, dan
616 KUH Perdata, ini sudah ditegaskan dalam Pasal 1459 KUH Perdata yang
menentukan “hak milik atas barang yang dijual tidaklah berpindah kepad si
pembeli selama penyerahannya belum dilakukan menurut Pasal 612, 613 dan
616 KUH Perdata.66
Selanjutnya menurut ketentuan Pasal 1320 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata, sahnya suatu perjanjian harus memenuhi empat syarat yaitu :
a. Adanya mereka yang mengikatkan dirinya;
b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
c. Suatu hal tertentu
d. Suatu sebab yang halal.
Terlebih dahulu di lihat lengkapnya Pasal 1457 KUH Perdata yang
menyatakan bahwa :
“Jual beli adalah suatu persetujuan dengan mana pihak yang satu mengikatkan dirinya
untuk meyerahkan suatu kebendaan, dari pihak yang lain untuk membayar harga yang
telah dijanjikan.”
Dari apa yang diuraikan pada Pasal 1457 tersebut, maka dapatlah ditarik suatu
kesimpulan yaitu bahwa jual beli adalah suatu perjanjian konsensuil, artinya ia
sudah dilahirkan sebagai suatu perjanjian yang sah (mengikat atau mempunyai
kekuataan hukum) pada detik tercapainya sepakat penjual dan pembeli
66
A. Qiram Syamsuddin Meliala, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian, (Yogyakarta : Liberty, 1985),
Hal. 40
mengenai unsur-unsur yang pokok (essentiali) yaitu barang dan harga, biarpun
jual beli itu mengenai barang yang tak bergerak.
Sifat konsensuil jual beli ini ditegaskan dalam Pasal 1458 KUH-Perdata
yang berbunyi :
“Jual beli dianggap telah terjadi kedua belah pihak sewaktu mereka telah mencapai
sepakat tentang barang dan harga meskipun barang itu belum diserahkan maupun
harganya belum dibayàr.”
Salah satu sifat yang penting lagi dari jual beli menurut sistem Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata, adalah bahwa perjanjian jual beli itu hanya
“Obligatoir” saja, artinya, jual beli itu belum memindahkan hak milik, ia baru
memberikan hak dan kewajiban pada kedua belah pihak, yaitu memberikan
kepada si pembeli hak untuk menuntut diserahkannya hak milik atas barang
yang dijual. Sifat ini nampak jelas dari Pasal 1459 KUH-Perdata, yang
menerangkan bahwa hak milik atas barang yang dijual tidaklah berpindah
kepada sipembeli selama penyerahannya belum dilakukan (menurut
ketentuan-ketentuan yang bersangkutan).67
Berkaitan dengan Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli, yang mana
pada akta tersebut terdapat 2 (dua) kemungkinan yaitu :
1. Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli tersebut tidak dipergunakan, karena
pihak pertama turut hadir dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang
berwenang. Dalam hal ini, berarti perjanjian pemberian kuasa mutlak tidak
perlu dijalankan ;
67
R. Subekti, Hukum Perjanjian, (Jakarta, PT. Intermasa 1998), hal. 80.
2. Akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli dipergunakan. Hal ini karena pihak
pertama tidak dapat hadir untuk membantu pihak kedua, dan pihak kedua
bertindak berdasarkan perjanjian pemberian kuasa yang dijadikan sebagai
klausul dalarn akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli tersebut.
Selain itu berdasarkan hasil penelitian, alasan dipilihnya perbuatan
hukum pengalihan hak atas tanah dengan suatu pembuatan Akta Perjanjian
Pengikatan Jual Beli, dalam praktek dapat dikatagorikan menjadi 3 (tiga)
kelompok, yaitu :
a. Pembayaran atas jual beli tersebut telah dilunasi oleh pihak pembeli
kepada pihak pertama, dan pihak pertama telah menerima sertipikat
pernbayaran tersebut, tertulis) akan tetapi (syarat formal sebagai bukti
pemilikan yang sah sesuai dengan UUPA, masih dalam proses
permohonan hak, dan permohonan tersebut sudah sampai pada Kanwil
Pertanahan;
b. Pembayaran atas jual beli tersebut belum dilunasi oleh pihak pembeli
dengan angsuran karena sertipikat sebagai bukti kepemilikan hak atas
tanah belum terpenuhi;
c. Pembayaran atas jual beli dilakukan dengan angsuran, meskipun sertipikat
sudah ada dan sudah atas nama pihak pertama.
Dalam penulisan ini, mengenai perjanjian pengikatan jual beli, seperti
telah diterangkan di atas berkaitan dengan dan atau bersumber pada
perjanjian pokok,68 yang dalam akta perjanjian pengikatan jual beli tersebut
terdapat pada bagian recital/premise, misalnya diterangkan bahwa
Pihak pertama menerangkan dalam akta ini telah mengikatkan diri untuk
menjual dan menyerahkan kepada pihak kedua yang menerangkan telah
mengikatkan dirinya sendiri untuk membeli dan menerima penyerahan
dari pihak pertama ---------------------------------
Jual beli ini menurut para pihak akan dilakukan dengan harga sebesar
Rp., ---jumlah uang mana menurut keterangan pihak pertama telah
diterima seluruhnya--------------------------------------------
Selanjutnya jual beli ini menunut keterangan para pihak dilakukan
apabila sertipikat hak atas tanah tersebut telah dikeluarkan oleh instansi
yang berwenang dan tertulis atas nama pihak pertama dengan syarat-
syarat dan aturan yang ditetapkan dalarn formulir Akta Jual Beli Pejabat -
-----------------------------------------------------------
Kuasa yang tersebut dalam akta ini merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dan pengikatan jual beli ini.
Maksudnya disini, manakala telah sampai pada waktunya (perjanjian
pokoknya terpenuhi, yaitu sertipikat sudah ada atas nama pihak
pertama/penjual), sedangkan pihak pertama (Penjual) “telah menerima semua
hak-haknya” akan tetapi lalai atau tidak dapat memenuhi kewajibannya
membantu pihak kedua (Pembeli) untuk pengurusan pembuatan akta jual beli,
demikian agar dapat dilakukan pendaftaran di Kantor Pertanahan setempat,
sehingga sertipikat dapat dibalik nama keatas nama pihak pembeli, maka
dengan kuasa mutlak tersebut pihak pembeli dapat menghadap kepada
pejabat yang berwenang dalam hal ini Pejabat Pembuat Akta Tanah dengan
bertindak dalam dua kapasitas, yaitu pertama bertindak sebagai pihak penjual
68
Erinan Rajaguguk, Hukum Dan Masyarakat, (Jakarta, [Link] Aksara,
1983), hal. 56.
dengan dasar akta perjanjian pengikatan jual beli tersebut dan yang kedua
sebagai pihak pembeli sendiri. Sehingga hal ini tidak bertentangan dengan
kuasa mutlak yang dibuat untuk menghindari ketentuan-ketentuan UUPA jo.
PP. No.24 Tahun 1997.69
Perlu diperhatikan juga bahwa perbuatan hukum pengalihan hak atas
tanah, khususnya perbuatan hukum jual beli, harus tetap memperhatikan
peraturan perundangan yaitu peraturan perundangan agraria.
Mengenai pokok permasalahan dalam tesis ini, dalam hal pelaksanaan
dalam praktek, mengenai akta perjanjian pengikatan jual beli yang merupakan
tindakan awal sebelum dibuatnya akta jual beli, dalam hal ini telah ditegaskan
bahwa jual beli yang dimaksud dalam Hukum Tanah Nasional dan perjanjian
pengikatan jual beli sudah jelas mempunyai makna yang berbeda, mungkin
tujuannya adalah sama, yaitu bahwa pihak pembeli akan menerima obyek jual
beli dan memiliki hak atasnya sebagai sorang pemilik yang sah.
Dalam hal ini penulis akan membatasi khususnya pada wilayah
Kabupaten Bogor berkaitan dengan perlindungan hukum bagi pembeli apabila
sebelum dilaksanakan penanndatanganan Akta Jual Beli dihadapan Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT), ternyata pihak pengembang/developer
wanprestasi atau dinyatakan pailit dan kepastian hukum kepemilikan hak atas
tanah dan bangunan milik pembeli karena tanah yang bersangkutan masih
belum terdaftar atas nama pembeli perlu diperhatikan terlebih dahulu, bahwa
69
Elda Djuanda, Wawancara, Kepala Sub Bagian Peralihan Hak atas Tanah Kantor
Pertanahan Kabupaten Bogor,, pada tanggal 22 Desember 2009.
tindakan yang diambil oleh Notaris atau PPAT-Notaris, berdasarkan
pertimbangan bahwa PPAT-Notaris selain sebagai pejabat pembuat akta tanah
juga sebagai penasehat hukum, maka alternatif-alternatif tindakan dapat
ditempuh, tentunya tetap berada pada garis-garis yang ditentukan oleh
peraturan perundang-undangan yang berkaitan.
Untuk melindungi serta mengamankan pihak kedua (pembeli) maka
dibuatlah akta perjanjian pengikatan jual beli dengan klausul pernberian kuasa
mutlak. Dengan ketentuan, bahwa apabila sertipikat telah dilakukan
pemecahan dan/atau terbit atas nama pihak pertama (penjual), maka segera
akan dilakukan perbuatan hukum pembuatan akta jual beli dihadapan pejabat
yang berwenang, dalam hal ini Pejabat Pembuat Akta Tanah.
Tindakan yang diambil oleh seorang Notaris-PPAT dalam menangani
peralihan hak atas tanah, berdasarkan pertimbangan, bahwa selain sebagai
pejabat pembuat akta tanah juga sebagai penasehat hukum.70
Oleh karena itu dalarn praktek, pada saat menghadapi kasus-kasus
tersebut, sebagai penasehat hukum, memberikan alternatif-alternatif tindakan
yang dapat ditempuh adalah sebagai berikut :
1. Agar segera melunasi pembayarannya atau melunasi utangnya yang
nantinya diperhitungkan sebagal harga jual tanah tersebut. Setelah sertipikat
diperoleh, maka keduanya datang menghadap kepada PPAT-Notaris untuk
melakukan transaksi jual beli.
70
Kartini Soedjendro, Perjanjian Peralihan Hak atas Tanah yang berpotensi
Konflik, (Yogjakarta : Kanisius, 2001), hal. 116.
2. Agar menunggu sertipikat terbit atas nama pihak penjual, kemudian
keduanya datang menghadap ke PPAT-Notaris untuk melakukan transaksi
akta jual beli.
3. Dengan menunggu sertipikat diperoleh atas nama pihak penjual (sertipikat
dalam proses permohonan hak dan sudah sampai Kanwil BPN), maka
dilakukan perbuatan hukum dengan membuat akta Perjanjian Pengikatan
Jual Beli, dengan syarat pembayaran sudah dilunasi.
Peran PPAT-Notaris disinilah terlihat terhadap kasus-kasus yang
dihadapi, tentunya tetap memperhatikan dan segi positif maupun negatif,
karena tindakan yang diarnbilnya sekarang, tidaklah selesai sampai disitu saja,
tatapi dapat pula berakibat dimasa mendatang.
Dalam hal ini mengenai tindakan yang diambil berupa pembuatan akta
perjanjian pengikatan jual beli, harus memperhatikan hak dan kewajiban
kedua belah pihak (penjual dan/pembeli), peraturan perundangan yang
berlaku, serta semua syarat-syarat dan pertimbanganpertimbangan yang telah
dijelaskan diatas. Terutama dalam hal ini mengenai penggunaan pemberian
kuasa mutlak sebagai klausul dalam akta tersebut.
Mengenai akta perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat oleh seorang
notaris, tentunya seorang Notaris harus menghindari hal-hal yang dapat
merugikan para pihak. Karena setiap perjanjian yang dibuat oleh para pihak
selalu ada kemungkinan berpotensi konflik, karena itu seorang Notaris harus
memperhatikan syarat-syarat materiil maupun formil dalam pembuatan
aktanya, supaya akta yang dibuatnya dapat berlaku dan sebagai bukti yang
otentik.
Berdasarkan akta perjanjian pengikatan jual beli tersebut, seorang
PPAT melaksanakan kewenangannya dalam membuat akta jual beli yang
mana hal tersebut merupakan tindak lanjut dan perbuatan hukum perjanjian
pengikatan jual beli, yang mana hal tersebut sebagai syarat untuk memenuhi
ketentuan dan Pasal 37 dan Peraturan pemerintah Nomor 24 Tahun 1997
tentang pendaftaran tanah, dan hal ini dalam praktek sering terjadi, dan
merupakan akta patij.71
Berkaitan dengan syarat formal maupun materielnya sebagaimana telah
diuraikan di atas bahwa untuk terjadinya jual beli tanah hak dihadapan Pejabat
Pembuat Akta Tanah (PPAT) harus bersifat final, baik syarat formal maupun
materielnya, untuk syarat formal biasanya telah dipenuhinya persyaratan
kelengkapan surat-surat (sertipikat, dan lainnya) yang menjadi bukti hak atas
tanah.72
Syarat materiel seperti harus lunasnya harga jual beli, sedangkan untuk
tidak atau belum terpenuhinya kedua syarat tersebut, maka perjanjian
pengikatan jual belilah yang biasanya dijadikan tujuan (landasan) terjadinya
permulaan jual beli yang digunakan sebagai perjanjian pendahuluan
71
Elda Djuanda, Wawancara, Kepala Sub Bagian Peralihan Hak atas Tanah Kantor
Pertanahan Kabupaten Bogor,, pada tanggal 22 Desember 2009.
72
Khadijah Budhi Astuti, Wawancara, Notaris & PPAT di Wilayah Kabupaten Bogor, pada
tanggal 21 Desember 2009
sementara menunggu dipenuhinya syarat untuk perjanjian pokoknya yaitu jual
beli di hadapan PPAT.73
Berbeda dengan jual beli menurut hukum tanah nasional yang
bersumber pada hukum adat, dimana apa yang dimaksud dengan jual beli
bukan merupakan perbuatan hukum yang merupakan perjanjian obligatoir.
Jual beli (tanah) dalam hukum adat merupakan perbuatan hukum pemindahan
hak yang harus memenuhi tiga (3) sifat yaitu :74
4. Harus bersifat tunai, artinya harga yang disetujui bersama dibayar penuh
pada saat dilakukan jual beli yang bersangkutan.
5. Harus bersifat terang, artinya pemindahan hak tersebut dilakukan
dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah yang berwenang atas obyek
perbuatan hukum.
6. Bersifat riil atau nyata, artinya dengan ditanda tangani akta pemindahan
hak tersebut, maka akta tersebut menunjukkan secara nyata dan sebagai
bukti dilakukan perbuatan hukum tersebut.
Dalam hal jual beli tanah, jual beli telah dianggap terjadi walapun tanah belum
diserahkan atau harganya belum dibayar. Untuk pemindahan hak itu masih
diperlukan suatu perbuatan hukum lain berupa penyerahan yang caranya
ditetapkan dengan suatu peraturan lain lagi.
73
Khadijah Budhi Astuti, Wawancara, Notaris-PPAT di Wilayah Kabupaten Bogor, pada
tanggal 21 Desember 2009
74
Boedi Harsono, Hukum Agraria Indonesia...Op. Cit, hal. 317
Selanjutnya menurut ketentuan Pasal 1338 KUH Perdata bahwa
perikatan yang dibuat berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya, tidak dapat ditarik kembali tanpa persetujuan kedua belah pihak
atau karena alasan apapun yang cukup menurut undang-undang dan harus
dilaksanakan dengan baik.
Berlaku sebagai undang-undang artinya bahwa perjanjian itu
mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa serta memberi kepastian hukum
kepada pihak-pihak yang membuatnya. Apabila pihak-pihak dalam perjanjian
tersebut melanggar, maka pihak tersebut dianggap telah melanggar undang-
undang sehingga diberi akibat hukum tertentu.
Pengertian tidak dapat ditarik kembali berarti bahwa perjanjian itu
dengan tanpa alasan yang cukup menurut undang-undang tidak dapat ditarik
dibatalkan secara sepihak tanpa persetujuan para pihak. Sedangkan untuk
pelaksanaan dengan itikad baik mengandung arti bahwa perjanjian itu dalam
pelaksanaannya tidak boleh bertentangan dengan norma-norma kepatutan dan
kesusilaan.
Berdasarkan uraian diatas dapatlah diketahui bahwa suatu perjanjian
dilatarbelakangi adanya penawaran dan penerimaan, yang disusul dengan
kesepakatan, analisa yang dapat digunakan dalam menelaah suatu perjanjian
adalah apakah tahap pracontractual telah sesuai dengan ketentuan hukum,
karena dari analisa ini pertamakali suatu perjanjian ditelaah secara hukum.
Prestasi dalam perjanjian pengikatan jual beli biasanya berbentuk
segala sesuatu yang menjadi kewajiban untuk dipenuhi oleh masing-masing
pihak. Apabila perjanjian pengikatan jual beli yang dilanjutkan dengan jual beli
akan dilaksanakan setelah sertipikat telah selesai dan didaftar atas nama
penjual, maka prestasi penjual adalah segera melakukan pengurusan sertipikat
tanah tersebut agar jual beli dapat segera dilakukan.
Berdasarkan hasil penelitian, proses balik nama tidak dapat
dilaksanakan, pada kantor pertanahan, jika pengalihan hanya dilakukan secara
dibawah tangan, karena belum mempunyai kekuatan hukum yang pasti.75
Kekuatan pembuktian suatu akta harus memenuhi tiga unsur yakni,
kekuatan pembuktian lahir, kekuatan pembuktian formil, dan kekuatan
pembuktian materiel.76 Yang dimaksud dengan ketentuan pembuktian lahir
yaitu kekuatan pembuktian yang didasarkan atas keadaan lahir, yaitu surat
(akta) yang tampak dianggap mempunyai kekuatan, sepanjang tidak terbukti
sebaliknya.
Disini dapat diketahui bahwa kekuatannya dilihat dari bentuk akta
luarnya saja, dan tidak dilihat keseluruhan akta itu, apabila hal ini dikaitkan
dengan alat bukti yang dikemukakan dalam persidangan yakni berupa
perjanjian pengikatan jual beli maka jelas di dalam perjanjian tersebut, para
pihak telah saling membubuhkan tanda tangan pada akhir perjanjian dan paraf
75
Elda Djuanda, Wawancara, Kepala Sub Bagian Peralihan Hak atas Tanah Kantor
Pertanahan Kabupaten Bogor,, pada tanggal 22 Desember 2009.
76
Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, (Yogyakarta : Liberty, 1977), hal.
107.
pada setiap lembar perjanjian, artinya syarat pembuktian “lahir” suatu akta
cukup terpenuhi.
Kekuatan pembuktian formil menyangkut pertanyaan “Benarkah bahwa
ada pernyataan?” kekuatan pembuktian formil ini didasarkan atas benar
tidaknya akta itu adalah pernyataan dari mereka yang menandatangani akta
tersebut. Kekuatan pembuktian formil ini memberikan kepastian tentang
peristiwa bahwa para pihak menyatakan dan melakukan apa yang dimuat
dalam akta pembuktian lahir dari akta perjajnjian pengikatan jual beli cukup
terbukti.
Dalam hal benarkah bahwa ada pernyataan, jelas terbukti bahwa
perjanjian pengikatan jual beli tersebut memuat batasan, ruang lingkup hak
dan kewajiban masing-masing pihak (penjual dan pembeli), seperti adanya
kewajiban pembayaran uang muka oleh pembeli, dan adanya denda apabila
penjual membatalkan perjanjian tanpa adanya kesepakatan dari pembeli.
Tentang pembuktian materiel, maka menyangkut pertanyaan “Benarkah
isi pernyataan di dalam akta itu”, kekuatan pembuktian materiel disini
ditekankan atas kebenaran daripada pernyataan yang terkandung dalam akta.
Sehingga kekuatan pembuktian ini memberikan kepastian tentang materi,
memberikan kepastian tentang peristiwa bahwa para pihak menyatakan dan
melakukan seperti yang tercantum dalam akta, tentang benarkah isi
pernyataan di dalam akta, menyangkut obyek dari perjanjian yaitu, tanah dan
bangunan.
Sebagaimana telah diuraikan di atas bahwa untuk terjadinya jual beli
tanah hak dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) harus bersifat final,
baik syarat formal maupun materielnya, untuk syarat formal biasanya telah
dipenuhinya persyaratan kelengkapan surat-surat (sertipikat, dan lainnya)
yang menjadi bukti hak atas tanah.
Syarat materiel seperti harus lunasnya harga jual beli, sedangkan untuk
tidak atau belum terpenuhinya kedua syarat tersebut, maka perjanjian
pengikatan jual belilah yang biasanya dijadikan tujuan (landasan) terjadinya
permulaan jual beli yang digunakan sebagai perjanjian pendahuluan
sementara menunggu dipenuhinya syarat untuk perjanjian pokoknya yaitu jual
beli di hadapan PPAT, meskipun hal tersebut bertentangan dengan peraturan
perundangan-undangan yang berlaku yaitu UUPA dan PP 24 Tahun 1997
tentang Pendaftaran Tanah.
Menurut penulis jual beli yang tidak dibuat dihadapan Pejabat Pembuat
Akta Tanah (PPAT) yang diawali dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli tetap
sah meskipun hanya berdasarkan akta yang dibuat dibawah tangan. Hal itu
didasarkan pada Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 126.K/Sip/ 1976
tanggal 4 April 1978 yang memutuskan bahwa :
“Untuk sahnya jual beli tanah, tidak mutlak harus dengan akta yang
dibuat oleh dan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah. Akta Pejabat
ini hanyalah suatu alat bukti”.
Selain itu, menurut pendapat Boedi Harsono, jual beli yang tidak dibuat
dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) tetap sah, jadi hak miliknya
berpindah dari si penjual kepada si pembeli, asal saja jual beli itu memenuhi
syarat-syarat materiil (baik yang mengenai penjual, pembeli maupun
tanahnya).77
Sangat dimungkinkan terjadi sengketa antara suatu yurisprudensi
dengan hukum yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Sebelum
berlaku UUPA dan PP No. 10 tahun 1961, yurisprudensi membenarkan
keabsahan jual-beli tanah didasarkan atas kesepakatan harga dan tanah yang
menjadi objek jual-beli meskipun jual-beli dilakukan dibawah tangan, terutama
hal ini dulu berlaku atas tanah yang berstatus hukum adat. Sekarang timbul
masalah. Berdasarkan ketentuan pasal 19 UUPA jo. Pasal 19 PP No. 10 tahun
1961 pemindahan hak baik dalam bentuk jual-beli dilakukan didepan PPAT,
dan oleh karena itu dibuat akta PPAT. Dengan demikian telah terjadi saling
bertentangan antara yurispredensi dengan ketentuan hukum perundang-
undangan.
Tidak selamanya asas Statue Law Prevail atau undang-undang lebih
didahulukan dibanding yurisprudensi ditegakkan apabila terjadi pertentangan
antara undang-undang dengan Yurisprudensi. Dalam hal-hal tertentu secara
kasustik, yurisprudensi yang dipilih dan dimenangkan dalam pertarungan
pertentangan nilai hukum yang terjadi. Mekanisme yang ditempuh oleh hakim
77
Saleh Adiwinata, Bunga Rampai Hukum Perdata dan Tanah 1, Cetakan Pertama (Jakarta :
Raja Grafindo Persada, 1984), hal. 79-80
memenangkan yurisprudensi terhadap suatu peraturan pasal perundang-
undangan dilakukan melalui pendekatan, yaitu :78
1) Didasarkan pada alasan kepatutan dan kepentingan umum.
Untuk membenarkan suatu sikap dan tindakan bahwa yurisprudensi lebih
tepat dan lebih unggul nilai hukum dan keadilannya dari peraturan pasal
undang-undang, mesti didasarkan atas ”kepatutan” dan ”perlindungan
kepentinggan umum”. Hakim harus mengguji dan mengganalisis secara
cermat, bahwa nilai-nilai hukum yang terkandung dalam yuriprudensi yang
bersangkutan jauh lebih pontensial bobot kepatutannya dan
perlindungannya terhadap kepentingan umum dibanding dengan nilai-nilai
yang terdapat dalam rumusan undang-undang. Dalam hal ini agar dapat
dilakukan komparasi analisis yang terang dan jernih, sangat dibutuhkan
antisipasi dan wawasan profesionalisme. Tanpa modal tersebut sangat sulit
seorang hakim berhasil menyingkirkan suatu pasal undang-undang.
2) Cara mengunggulkan Yurisprudensi melalui ”Contra Legem”
Jika hakim benar-benar dapat mengkonstruksi secara komparatif analisis
bahwa, bobot yurisprudensi lebih pontensial menegakkan kelayakan dan
perlindungan kepentingan umum, dibandingkan suatu ketentuan pasal
undang-undang, dia dibenarkan mempertahankan yurisprudensi.
Berbarengan dengan itu hakim langsung melakukan tindakan ”contra
legem” terhadap pasal-pasal undang-undang yang bersangkutan.
Disebabkan nilai bobot yurisprudensi lebih pontensial dan lebih efektif
mempertahankan tegaknya keadilan dan perlindungan kepentingan umum,
undang-undang yang disuruh mundur dengan cara contra legem, sehingga
yurusprudensi yang sudah mantap ditegakkan sebagai dasar dan rujukan
hukum penyelesaian perkara.
3) Yurisprudensi dipertahankan dengan melenturkan peraturan perundang-
undangan.
Cara penerapan lain dalam masalah terjadinya peertentangan antara
yurisprudensi dengan ketentuan perundang-undangan :
a) Tetap mempertahankan nilai hukum yang terkandung dalam
yurisprudensi; dan
b) Berbarengan dengan itu, ketentuan pasal perundang-undangan yang
bersangkutan diperlunak dari sifat imperatif menjadi fakultatif.
78
Paulus, Yurisprudensi dalam Perspektif Pembangunan Hukum Administrasi
Negara, 1995)
Memang ada kemiripan cara ini dengan tindakan contra legem, tetapi
ada perbedaan. Penerapan contra legem pasal yang bersangkutan
disingkirkan secara penuh. Keberadaan pasal itu didalam perundang-
undangan sama sekali tidak ada. Lain halnya dengan tindakkan
mempertahankan yurisprudensi yang dibarengi dengan tindakan memperlunak
pasal perundang-undangan. Dalam hal ini yurisprudensi tidak secara penuh
melemparkan nilai yang tekandung dalam pasal, tetapi hanya diperlunak dari
sifat imperatif menjadi bersifat fakultatif.
Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli dapat dikatakan adalah sebagai
instrumen yang dapat memberikan kekuatan hukum bagi para pihak yang akan
melaksanakan suatu transaksi jual beli dengan syarat klausula yang terdapat
dalam Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli tersebut disetujui dan disepakati
oleh para pihak, dan apa yang dianggap sebagai klausula dari Perjanjian
Pengikatan untuk Jual Beli tersebut tidak bertentangan dengan undang-
undang, kesusilaan dan ketertiban umum, serta ditandatangani oleh para pihak
dihadapan Pejabat yang berwenang untuk itu yaitu seorang Notaris, sehingga
kemudian perjanjian itu akan disahkan oleh Notaris sebagai akta otentik.
Sehubungan dengan itu maka bagi Perjanjian Pengikatan untuk Jual
Beii tersebut berlaku asas konsensualisme, yang menurut Subekti79 asas ini
ditegaskan dalam Pasal 1458 KUH Perdata tentang terjadinya jual beli yaitu
dengan adanya kata sepakat dari para pihak tentang barang dan harga,
meskipun kebendaan belum diserahkan dan harganya belum dibayar. Tetapi
79
R. Subekti, Op. Cit. halaman 80
pada kenyataannya kata sepakat belumlah cukup membuktikan adanya suatu
jual beli, karena itikad baik dari seseorang perlu dipertanyakan tanpa adanya
pembuktian hitam diatas putih yaitu perjanjian yang berbentuk formalitas dan
otentik.
Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli yang dibuat secara dibawah
tangan merupakan perjanjian tambahan yang dibuatkan dalam hal adanya
peristiwa-peristiwa khusus yang mengakibatkan tidak dimungkinkan untuk
transaksi jual beli yang dilakukan dengan dibuatkannya Akta Jual Beli, tetapi
dengan alasan perjanjian itu dibuat secara sah oleh para pihak maka
perjanjian itu akan berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang
membuatnya.
Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli ini belum memindahkan hak,
melainkan hanya merupakan suatu hubungan timbal balik yang memberikan
hak dan kewajiban bagi masing-masing pihak dalam pemenuhan suatu
prestasi.
Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli ini hanya merupakan suatu
perjanjian antara para pihak yang membuatnya, sehingga hak dan kewajiban
yang dibebankan kepada masingmasing pihak akan dapat dijalankan
sebagaimana mestinya karena didalam Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli
diatur mengenai sanksi-sanksi yang dapat diterima para pihak apabila
pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut tidak dilakukan sebagaimana
mestinya.
Hak dan kewajiban serta sanksi-sanksi yang akan diterima para pihak
tersebut akan menjadi klausula dalam Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli.
Misalnya mengenai transaksi jual beli yang pembayarannya dilakukan secara
mencicil, maka didalam Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli akan disebutkan
secara jelas tentang waktu dan cara pembayarannya serta nilai yang telah
dibayarkan dan apa yang akan menjadi tanggung jawab dan kewajiban
pembeli selanjutnya sampai terpenuhinya prestasi yang dimaksud. Sedangkan
apabila alasan dibuatkannya Perjanjian Pengikatan untuk jual Beli karena
tanah masih dalam proses pensertipikatan pada Kantor Pertanahan, maka
dalam Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli akan diatur mengenai proses
selanjutnya yang akan dilakukan setelah pensertipikatan selesai dan apa yang
akan menjadi tanggung jawab kedua belah pihak.
Biasanya apabila alasan dibuatkannya Perjanjian Pengikatan untuk Jual
Beli karena masih dilakukannnya proses pensertipikatan, pembeli tidak akan
membayar lunar transaksi jual beli yang dilakukan sehingga nantinya hak dan
kewajiban para pihak akan berjalan secara bersamaan.
Sejauh mana perlindungan hukum dapat diberikan oleh Perjanjian
Pengikatan untuk Jual Beli sehubungan dengan perbuatan hukum peralihan
hak atas tanah adalah dilihat dari cara pembuatan dan bentuk dari Perjanjian
Pengikatan untuk Jual Beli itu sendiri. Apabila dibuat oleh para pihak itu sendiri
tanpa disahkan oleh Pejabat yang berwenang yaitu Notaris ataupun perjanjian
dibuat oleh para pihak dan ditandatangani oleh para pihak tidak dihadapan
seorang Notaris, maka perlindungan hukum yang akan diterima oleh para
pihak tidak akan kuat meskipun dengan menggunakan Pasal 1338 ayat (1)
KUH Perdata sebagai alasannya, karena apabila terjadi sengketa dan salah
satu pihak menyangkal tentang Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli yang
dibuat tersebut maka perjanjian dianggap tidak pernah dibuat.
Berbeda dengan Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli yang berbentuk
akta notariil, secara hukum karena perjanjian tersebut dibuat dihadapan
seorang notaris sebagai pejabat yang berwenang untuk itu maka perjanjian itu
dianggap dapat memberikan perlindungan hukum bagi para pihak apabila
terjadi suatu perselisihan, karena perjanjian tersebut dapat dijadikan sebagai
bukti otentik apabila salah satu pihak tidak melaksanakan prestasinya.
Perlindungan hukum lainnya yang dapat diberikan oleh Perjanjian
Pengikatan untuk Jual Beli sehubungan dengan perbuatan hukum peralihan
hak atas tanah adalah apabila dilihat dari syarat sahnya perjanjian yang
terdapat didalam Pasal 1320 Kitab Undang Undang Hukum Perdata, bahwa
Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli tersebut tidak dapat terlepas dari syarat
sahnya perjanjian itu dan dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen hukum
yang dapat memberikan perlindungan bagi para pihak yang bertransaksi dan
membuat perjanjian.
Sebagai suatu perjanjian berdasarkan kesepakatan, Perjanjian
Pengikatan untuk Jual Beli akan memberikan perlindungan hukum yang sama
besarnya antara pihak penjual sebagai pemilik tanah atau tanah dan bangunan
serta pihak pembeli selaku pemilik uang yang akan membayar harga atas
transaksi jual beli yang akan dilakukan.
Berbeda dengan perjanjian yang dibuat secara baku, karena perjanjian
baku ini sering mengakibatkan perlindungan hukum yang tidak seimbang
antara para pihak, dan biasanya perlindungan hukum yang diterima oleh pihak
yang membuat perjanjian yaitu kreditur akan lebih besar dibandingkan dengan
perlindungan hukum yang akan diterima oleh seorang debitur.
Berkenaan dengan transaksi jual beli yang dilakukan para pihak dengan
menggunakan instrumen Akta Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli, salah
satu pihak dapat saja tidak memenuhi apa yang menjadi kewajibannya yang
disebut juga dengan prestasi seperti yang tercantum sebagai klausula didalam
Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli. Sebagai pihak didalam perjanjian dapat
melanggar apa yang telah diperjanjikan dan dituangkan dalam Perjanjian
Pengikatan untuk Jual Beli atau pihak tersebut melakukan sesuatu yang
sebenarnya merupakan hal yang tidak boleh dilakukan, maka seseorang itu
dikatakan wanprestasi. Suatu keadaan dikatakan sebagai wanprestasi apabila
keadaan tersebut terjadi atau dilakukan bukan karena keadaan memaksa,
melainkan disengaja oleh para pihak.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, dalam kenyataannya
pertangungjawaban para pihak atas terjadinya suatu wanprestasi hanya
sebatas pada apa yang diperjanjikan dalam Akta Perjanjian Pengikatan untuk
Jual beli, dan sanksi yang dikenakan tidak akan melebihi dari apa yang
diperjanjikan diantara para pihak.
Bagi para pihak dengan dibuatkannya Akta Perjanjian Pengikatan yang
dibuat secara dibawah tangan sehubungan dengan perbuatan hukum
peralihan hak atas tanah, memiliki akibat hukum lainnya yaitu:
1. Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli akan menjadi salah satu instrumen
penggelapan pajak yang akan merugikan negara yang dilakukan oleh para
pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal itu berkaitan dengan sebelum
dibuatkannya Akta Jual Beli sebagai salah satu instrumen untuk dapat
dilakukannya proses pendaftaran balik nama pada Kantor Pertanahan,
maka harus membayar kewajiban-kewajiban yang menjadi syarat untuk
dibuatkannya Akta Jual Beli, yaitu Pajak Penghasilan (PPh) bagi Penjual
dan pajak Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) bagi
Pembeli. Bagi sebagian orang tidak akan menjadi masalah, tetapi bagi
sebagian lainnya akan menjadi sesuatu yang memberatkan karena
besarnya pajak yang harus dibayar oleh para pihak.
Pada praktiknya Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli yang menyimpang
dari ketentuan ini biasanya dibuat oleh para pihak dengan kondisi tanah
atau tanah dan bangunan yang diperjualbelikan itu akan dijual kembali
kepada pihak lain, sehingga apabila dibuat Akta Jual Beli biaya-biaya yang
akan mereka keluarkan tidak bertambah;
2. Dengan dibuatkannya Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli akan
mempunyai akibat hukum bagi penjual, yaitu beralihnya hak atas tanah
atau tanah dan bangunan yang menjadi miliknya kepada pihak kedua yaitu
pembeli ataupun kepada pihak ketiga tanpa sepengetahuan dirinya,
padahal prestasi yang menjadi kewajiban pembeli belum terpenuhi
sepenuhnya.
4. Hambatan yang muncul dan penyelesaiannya dalam jual beli perumahan
dengan Perjanjian Pengikatan Jual Beli bangunan di Perumahan Bukit
Sentul Kabupaten Bogor
Dalam perjanjian pengikatan jual beli, kedudukan konsumen dan
pengembang tidak seimbang, posisi pengembang membuka peluang untuk
cenderung menyalahgunakan kedudukannya. Pengembang hanya mengatur
hak-haknya tetapi tidak kewajibannya.
Penyelenggaraan pembangunan perumahan kesepakatan yang dicapai
dari hasil perundingan dan musyawarah dinyatakan dan dituangkan dalam
perjanjian pengikatan jual beli. Di sinilah kriteria dan spesifikasi dan
serangkaian harapan dirumuskan dan dijabarkan yang selanjutnya akan
mengikat para penandatanganan kontrak. Perjanjian pengikatan jual beli ini
menjadi landasan pokok yang memuat ketentuan tentang hubungan kerja, hak
dan kewajiban dan tanggung jawab masing-masing pihak serta penjelasan-
penjelasan perihal lingkup dan syarat-syarat lain yang berkaitan dengan
pembangunan perumahan tersebut.
Kontrak yang lengkap dan baik, merupakan prasyarat lancarnya
penyelenggaraan pembangunan perumahan tersebut. Dalam pada itu, karena
sifat keterbatasannya yang tidak dapat dihindari, maka diperlukan dukungan,
kemauan yang besar serta itikad yang positif dari pihak-pihak yang
bersangkutan, untuk bersama-sama berusaha mengatasi bila terjadi persoalan
yang timbul dan belum ditulis dalam pasal-pasal kontrak.
Dalam perjanjian pengikatan jual beli tersebut, apabila belum diatur
dalam kontrak, maka menurut ketentuannya akan ditentukan bersama-sama
antara pihak pengembang dengan konsumen yang dibuat dalam bentuk
perjanjian tertulis. Perjanjian tersebut juga merupakan bagian integral dan tidak
terlepas dari surat perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat antara
pengembang dengan konsumen. Hal ini diatur dalam Pasal 13 Surat perjanjian
pengikatan jual beli PT. Bukit Sentul yang menyebutkan dengan judul “lain-
lain” yang isinya menegaskan bahwa hal-hal yang belum diatur dalam
perjanjian tambahan yang akan diputuskan berdasarkan musyawarah antara
pihak pertama dan pihak kedua, dan perjanjian tambahan ini merupakan
pelengkap dan merupakan satu kesatuan dengan surat pengikatan jual beli ini.
Berdasarkan Pasal 1320 jo Pasal 1338 KUH Perdata, perjanjian
pengikatan jual beli tidak dapat dibatalkan secara sepihak dan perjanjian
hanya dapat dibatalkan atas persetujuan kedua belah pihak, karena perjanjian
pengikatan jual beli ini berlaku sebagai undang-undang bagi para pihak,
dengan demikian ketentuan-ketentuan dalam perjanjian pengikatan jual beli
itulah yang mengatur hubungan mereka.
Menurut Pasal 1339 KUH Perdata, perjanjian tidak hanya mengikat
untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan didalamnya, tetapi juga untuk
segala sesuatu yang menurut sifat perjanjiannya diharuskan oleh kepatutan,
kebiasaan atau undang-undang. Dalam hal ini maksudnya adalah bahwa para
pihak tidak terlepas dari tanggung jawab dan akibat yang timbul dari suatu
prestasi yang dipenuhi. Juga para pihak harus memperhatikan undang-
undang.
Berdasarkan hasil wawancara dengan para konsumen perumahan, hal
yang selalu menimbulkan persoalan dengan antara pengembang dengan
konsumen adalah pengembang terlambat menyerahkan rumah dari jadwal
yang telah ditentukan dan spesifikasi bangunan tidak sesuai dengan apa yang
diperjanjikan, akan tetapi penyelesaiannya selalu dilakukan dengan
musyawarah. Apabila dengan musyawarah tidak tercapai maka diselesaikan
melalui pengadilan, akan tetapi kenyataannya dalam praktek, persoalan-
persoalan yang timbul antara pengembang dengan konsumen selalu
diselesaikan dengan musyawarah.80
Menurut ketentuan Pasal 1266 KUH Perdata menegaskan, apabila
salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya, maka perjanjiannya tidak batal
80
Hasil Wawancara dengan para konsumen PT. Bukit Sentul, pada tanggal 23 Desember
2009
demi hukum, tetapi pembatalan harus dengan penetapan hakim. Pasal 1266
KUH Perdata merupakan pengecualian dalam perjanjian pengikatan jual beli,
hal ini dimaksudkan agar perselisihan-perselisihan dapat segera diselesaikan
tanpa melalui proses pengadilan yang lama, da dapat merugikan pihak
pengembang.
Hakekatnya setiap perjanjian harus bersifat wajar/fair terhadap kedua
belah pihak, dan tidak bermaksud untuk mengambil keuntungan sepihak
dengan cara merugikan pihak lain. Jadi wajarlah bila konsumen menginginkan
bangunan rumah sesuai dengan yang diharapkan pada saat penyerahan,
sedangkan pengembang di samping mendapatkan laba juga menghendaki
agar pembayaran dari konsumen pun sesuai dengan waktu yang diperjanjikan.
Keduanya menginginkan perlindungan terhadap pembatalan perjanjian yang
dilakukan secara sepihak. Dengan latar pemikiran tersebut maka perjanjian
pengikatan jual beli rumah yang lengkap akan mengandung hal-hal sebagai
berikut:
1. Adanya pasal yang melindungi kepentingan konsumen terhadap
kemungkinan tidak tercapainya sasaran pembangunan yang disebabkan
oleh sesuatu hal yang merugikannya;
2. Adanya pasal yang memperhatikan hak-hak konsumen;
3. Penjabaran yang jelas akan segala sesuatu yang diingini oleh konsumen,
misalnya definisi lingkup kerja, spesifikasi material dan peralatan.
Klaim yang terjadi dalam perjanjian pengikatan jual beli sebelum
diselesaikan secara musyawarah, maka terlebih dahulu dilakukan:
1. mencari fakta yang sesungguhnya telah terjadi;
2. mengkaji hubungan klaim dengan kontrak;
3. memperkirakan biaya kompensasi;
4. musyawarah.
Berdasarkan hasil penelitian dengan pengembang bahwa
permasalahan yang timbul antara pengembang dengan konsumen dilakukan
dengan jalan damai yaitu mengadakan musyawarah, apabila dengan jalan
musyawarah juga tidak tercapai pihak pengembang memutuskan kontrak
dengan membayar segala ganti rugi yang telah dikeluarkan oleh pihak
konsumen.81
Dalam perjanjian pengikatan jual beli apabila terjadi perselisihan, maka
penyelesaiannya dibuat dalam beberapa alternatif yaitu melalui musyawarah,
ataupun pengadilan negeri. Namun dalam pelaksanaannya apabila terjadi
perselisihan, maka para pihak senantiasa berusaha untuk menyelesaikan
dengan musyawarah sehingga hampir boleh dikatakan tidak ada perselisihan
yang sampai ke pengadilan.
Hal ini disebabkan oleh karena hak-hak dan kewajiban-kewajiban para
pihak demikian jelas diatur dalam perjanjian, sehingga mudah diselesaikan
81
Hasil Wawancara dengan para konsumen PT. Bukit Sentul, pada tanggal 23 Desember
2009
secara musyawarah, tanpa membutuhkan waktu yang lama dan dana yang
besar sebagaimana kalau perselisihan itu diselesaikan melalui pengadilan.
Berkaitan dengan pelaksanaan perjanjian pengikatan jual beli, maka
dalam hal ini berkaitan pula dengan asas itikad baik dari para pihak. Secara
umum, itikad baik terbagi menjadi dua yaitu itikad baik yang bersifat subjektif
dan itikad yang bersifat objektif. Yang bersifat subjektif ukurannya sangat
relatif, atau dapat dikatakan tidak dapat diukur sampai sejauh mana batasan ini
berlaku, hanya undang-undang memberikan rambu yaitu dengan ukuran
norma-norma kepatutan dan kesusilaan.
Bersifat objektif yaitu dengan melihat senyatanya (yang tampak terlihat)
pada perjanjian itu sendiri, seperti bentuknya, cara membuuatnya dan isinya.
Jika ukuran subjektif menilai akibat dari adanya perjanjian itu, seperti
bagaimanakah maksud dari perjanjian, bagaimanakah pelaksanaan perjanjian,
sedangkan ukuran objektif menilai dari adakah suatu peraturan yang
terlanggar dengan adanya perjanjian tersebut, atau bagaimanakah cara para
pihak menuangkan kesepakatan dalam suatu format perjanjian.
Pada umumnya perjanjian pengikatan jual beli akan berakhir setelah
hasil pekerjaan diserah terimakan dan telah diterima dengan baik oleh
konsumen. Dalam prakteknya setelah habis masa kontrak berakhir dan rumah
telah diserah terimakan (serah terima pertama), maka pengembang masih
mempunyai kewajiban untuk memelihara hasil pekerjaan untuk jangka waktu
seperti yang tercantum dalam kontrak, dalam arti bahwa pengembang
berkewajiban untuk memperbaiki cacat-cacat dan kerusakan pekerjaan sampai
pada masa pemeliharaan. Setelah masa pemeliharaan habis maka diadakan
serah terima kedua dan sejak saat itu berakhirlah perjanjian (kontrak) antara
pihak pengembang dengan konsumen. Sejak saat itu pula segala kewajiban
dan tanggung jawab pengembang terhadap konsumen menjadi hapus.
Apabila dikaitkan dengan tanggung jawab pemborong yang terdapat
dalam Pasal 1609 KUH Perdata maka pemborong diharuskan untuk
bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya dan cacat-cacat yang
tersembunyi dari hasil pekerjaannya dalam jangka waktu 10 tahun. Dalam
pelaksanaan kontrak sekarang ini pihak pengembang hanya bertanggung
jawab sampai masa pemeliharaan, yang biasanya telah ditetapkan dalam
kontrak yaitu berkisar 1 bulan sampai 3 bulan. Dari hal ini terlihat dalam
penentuan mengenai sampai sejauh mana atau seberapa lama pengembang
bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaannya terdapat
ketidaksesuaian/inkonsisten dari berbagai peraturan yang ada. Dalam
prakteknya ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam Pasal 1609 KUH
Perdata tidak lagi dipergunakan.
Berdasarkan hasil penelitian, setelah habis masa pemeliharaan
sebagaimana yang disebutkan dalam kontrak maka berakhirlah tanggung
jawab pihak pengembang terhadap hasil pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Mengenai masa pemeliharaan ini juga tidak terdapat keseragaman dalam
praktek yaitu berkisar antara 1 bulan sampai 3 bulan bergantung kepada
kesepakatan para pihak yang dicantumkan dalam perjanjian pengikatan jual
beli tersebut.
Pertanggungjawaban pihak pengembang terhadap konsumen setelah
serah terima bangunan hanyalah dalam jangka waktu paling lama 3 bulan.
Pengembang berkewajiban melakukan perbaikan-perbaikan atas kerusakan
yang terjadi pada bangunan berdasarkan gambar denah bangunan dan
spesifikasi teknis.
Segala perbaikan yang menyimpang dari gambar denah bangunan dan
spesifikasi teknis bukanlah merupakan kewajiban dari pihak pengembang.
Tetapi apabila dalam masa pemeliharaan terjadi kerusakan bangunan karena
force majeure maka pihak pengembang dibebaskan dari kewajiban untuk
melakukan perbaikan atas kerusakan yang terjadi dan hal tersebut menjadi
beban dan tanggung jawab pihak konsumen sepenuhnya.
Apabila lewat dari waktu yang ditetapkan oleh pengembang maka
klaim/tuntutan apa pun dari pihak konsumen tidak dilayani (ditolak).
Pembatasan ini tidak adil bagi konsumen. Secara teoretis dengan merujuk
pada asas kebebasan berkontrak konsumen dapat meminta perbaikan atau
perubahan klausula-klausula dalam perjanjian jual beli. Akan tetapi dalam
prakteknya tidak mudah dilakukan. Pengembang dengan mudahnya
mendalilkan: “ kalau tidak setuju substansi perjanjian jual beli, silahkan cari
pengembang yang lain”, padahal pengembang yang lainnya juga menjalankan
praktek demikian.
Kontrak dapat juga berakhir disebabkan terjadinnya penghentian
kontrak. Penghentian kontrak terjadi apabila terdapat hal-hal diluar kekuasaan
kedua belah pihak seperti perang, kekacauan atau huru hara, serta bencana
alam sebagaimana yang terdapat dalam Pasal 1244, 1245, dan 1444 KUH
Perdata. Selanjutnya kontrak dapat juga berakhir disebabkan pemutusan
kontrak oleh pihak pengembang seperti yang terdapat dalam Pasal 1611 KUH
Perdata menegaskan “Pihak yang memborongkan jika dikehendkinya
demikian, boleh menghentikan pemborongannya, meskipun pekerjaannya
telah dimulai, asal ia memberikan ganti rugi sepenuhnya kepada si pemborong
untuk segala biaya yang telah dikeluarkannya guna pekerjaannya serta untuk
keuntungan yang terhilang karenanya”.
Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak pengembang, pemutusan
kontrak oleh pihak pengembang disebabkan:
a. Konsumen wanprestasi (ingkar janji) dalam arti bahwa konsumen lalai
membayar angsurannya.
b. Konsumen melakukan praktek-praktek yang tidak terpuji sehingga
merugikan kepentingan pengembang.82
Berdasarkan hasil wawancara dengan keseluruhan konsumen bahwa
pemutusan kontrak oleh konsumen disebabkan:
82
Bambang Yudi Hirawan, Wawancara, dengan Bagian HRD PT. Bukit Sentul City Tbk., pada
tanggal 23 Desember 2009
a. Pihak pengembang gagal malaksanakan kewajibannya yaitu kewajiban
penyerahan bangunan rumah sesuai dengan jangka waktu yang telah
ditentukan
b. Bangunan rumah tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang
ditawarkan dan lambat dalam menanggapi keluhan dari konsumen.
c. Kepailitan dari pihak pengembang, sehingga konsumen diberikan hak untuk
memutus kontrak . 83
Berdasarkan hasil penelitian dengan para konsumen, berakhirnya
kontrak dengan pengembang yaitu dengan serah terima dalam arti kata
perjanjian pengikatan jual beli tersebut berakhir setelah selesai pembangunan
tersebut, dan dari hasil wawancara dengan para konsumen tidak ada
konsumen dan pengembang yang memutus kontrak karena timbulnya
perselisihan, karena semua perselisihan atau pun sengketa yang terjadi antara
pengembang dengan konsumen selalu dapat diselesaikan dengan jalan
musyawarah.84
Akibat dari berakhirnya perjanjian pengikatan jual beli tersebut dan
rumah telah serah terima pertama dan dan serah terima kedua kepada
konsumen, maka segala tanggung jawab kerusakan-kerusakan dan cacat-
cacat yang timbul setelah selesai serah terima tersebut akan menjadi tanggung
jawab dari konsumen.
83
Hasil Wawancara dengan para konsumen PT. Bukit Sentul, pada tanggal 23 Desember
2009
84
Ibid
Berdasarkan hasil penelitian, bahwa dari tinjauan hukum, dapatlah
dilihat bahwa jual beli tanah yang dilakukan hanya dengan perjanjian
pengikatan Jual Beli akan dapat menimbulkan kerugian bagi pihak pembeli, hal
ini karena ia hanya dapat menguasai secara fisik akan tetapi tidak dapat
membuktikan kepemilikannya tersebut secara yuridis.
Hal tersebutsesuai dengan peraturan yang tercantum dalam PP Nomor
24/1997, akan tetapi jual beli yang telah dilakukan antara para pihak adalah
sah, karena jual beli tersebut terjadi karena adanya kesepakatan antara kedua
belah pihak, dan para pihak telah cakap menurut hukum, dan kesepakatan itu
untuk hal jual beli (hal tertentu) dan hak atas tanah dan bangunan tersebut
adalah benar milik pihak penjual, hal ini telah sesuai dengan ketentuan Pasal
1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, untuk sahnya suatu perjanjian
diperlukan empat syarat :
1. sepakat mereka yang mengikatkan diri
2. kecakapan untuk membuat suatu perjanjian
3. suatu hal tertentu
4. suatu sebab yang halal
Berdasarkan hal tersebut, dapat dijelaskan bahwa dalam perjanjian
pengikatan jual beli asas keseimbangan yang terdapat dalam hukum perjanjian
KUH Perdata tidak diperhatikan. Para pihak mempunyai kedudukan yang
sama dalam perjanjian pengikatan jual beli. Kedudukan pengembang di
imbangi dengan kewajiban untuk memperhatikan konsumen dengan itikad
baik, sehingga kedudukan pengembang dengan konsumen seimbang, tetapi
dalam perjanjian pengikatan jual beli terdapat klausul yang hanya berlaku
terhadap konsumen saja, sedangkan terhadap pengembang tidak ada klausul
tersebut, yaitu mengenai keterlambatan pengembang apabila terlambat
menyelesaikan bangunan rumah tersebut kepada konsumen.
Dalam perjanjian pengikatan jual beli, kewajiban pengembang adalah
menyerahkan hasil pekerjaan bangunan rumah kepada konsumen, dan
memperbaiki bangunan rumah tersebut apabila dalam jangka waktu
pemeliharaan bangunan rumah tersebut mengalami kerusakan seperti dinding
retak, atap bocor, keramik rusak, dan lain-lainnya yang menyangkut rumah
tersebut sedangkan kewajiban konsumen adalah membayar angsuran rumah
tersebut sesuai dengan waktu yang diperjanjikan dan membayar segala biaya-
biaya yang diperlukan untuk bangunan rumah tersebut, seperti biaya PBB,
BPHTB, pungutan lainnya dan lain sebagainya.
Apabila dilihat dari kewajiban pengembang dengan konsumen
ketidakseimbangannya hanyalah masalah keterlambatan penyerahan
bangunan kepada konsumen dan keterlambatan pembayaran angsuran
kepada pengembang. Pada dasarnya sasaran yang ingin dicapai dalam
perjanjian pengikatan jual beli tersebut adalah saling menguntungkan kedua
belah pihak. Pihak konsumen wajib membayar angsuran tepat waktu, dpihak
lain juga pengembang sebagai pengusaha swasta mempunyai kepentingan
untuk mencari keuntungan yang sebesar-besarnya serta mempertahankan
reputasi sebagai pengusaha yang benar-benar mampu melaksanakan
pekerjaan dengan hasil yang dapt dipertanggungjawabkan. Pengembang juga
tidak ingin rugi demi kelangsungan dari perusahaannya, sehingga akan
tercapai pembangunan perumahan yang bermutu baik, biaya sesuai, selesai
tepat waktu, dan administrasi yang lancar dapat terwujud.
Tindakan yang diambil oleh seorang Notaris-PPAT dalam menangani
peralihan hak atas tanah, berdasarkan pertirnbangan, bahwa selain sebagai
pejabat pembuat akta tanah juga sebagai penasehat hukum.85 Oleh karena itu
dalarn praktek, pada saat menghadapi kasus-kasus tersebut, sebagai
penasehat hukum, memberikan alternatif-alternatif tindakan yang dapat
ditempuh adalah sebagai berikut :
1. Agar segera melunasi pembayarannya atau melunasi utangnya yang
nantinya diperhitungkan sebagal harga jual tanah tersebut. Setelah
sertipikat diperoleh, maka keduanya datang menghadap kepada PPAT-
Notaris untuk melakukan transaksi jual beli;
2. Agar menunggu sertipikat terbit atas nama pihak penjual, kemudian
keduanya datang menghadap ke PPAT-Notaris untuk melakukan transaksi
akta jual beli;
3. Dengan menunggu sertipikat diperoleh atas nama pihak penjual (sertipikat
dalam proses permohonan hak dan sudah sarnpai kanwil Pertanahan),
85
Kartini Soedjendro, Perjanjian Peralihan Hak atas Tanah yang berpotensi
Konflik, (Yogjakarta : Kanisius, 2001), hal. 116.
maka dilakukan perbuatan hukum dengan membuat akta Perjanjian
Pengikatan Jual Beli, dengan syarat pembayaran sudah dilunasi.
Disinilah terlihat peran PPAT-Notaris terhadap kasus-kasus yang dihadapi,
tentunya tetap memperhatikan dan segi positif maupun negatif, karena
tindakan yang diarnbilnya sekarang, tidaklah selesai sampai disitu saja, tatapi
dapat pula berakibat dimasa mendatang.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya,
maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Pelaksanaan jual beli tanah-bangunan melalui perjanjian pengikatan jual
beli yang dibuat secara dibawah tangan di Bukit Sentul Kebupaten Bogor,
dilakukan dalam bentuk perjanjian baku (standar contract) dalam setiap
perjanjian pengikatan jual beli rumah, seluruh isi dari perjanjian pengikatan
jual beli tersebut ditentukan secara sepihak oleh pengembang yang
posisinya lebih kuat dibanding konsumen. Perjanjian Pengikatan untuk Jual
Beli (PPJB) yang dibuat secara dibawah tangan diatur berdasarkan lingkup
hukum Perjanjian, sedangkan Jual Beli yang dapat memindahkan
kepemilikan hak atas tanah termasuk dalam lingkup hukum tanah nasional
yang tunduk pada UUPA.
2. Perlindungan hukum dan akibat hukum bagi pembeli dengan melakukan
jual beli tanah-bangunan melalui perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat
secara dibawah tangan di Bukit Sentul Kebupaten Bogor adalah :
a. Perlindungan hukum bagi pembeli, di sini pembeli tidak mendapat
perlindungan hukum karena136
apabila terjadi sengketa dan salah satu
pihak menyangkal tentang Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli yang
dibuat tersebut maka perjanjian dianggap tidak pernah dibuat, meskipun
dengan menggunakan Pasal 1320 dan Pasal 1338 ayat (1) KUH
Perdata sebagai alasannya, karena jual beli tanah tersebut belum
berlangsung;
b. akibat hukum bagi pembeli dengan melakukan jual beli tanah-bangunan
melalui perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat secara dibawah
tangan adalah Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli akan menjadi salah
satu instrumen penggelapan pajak yang akan merugikan negara dan
belum beralih dari penjual (developer) kepada pembeli, karena hak atas
tanah beru beralih dalam perbuatan hukum jual beli apabila dilakukan
dengan akta jual beli yang dibuat dihadapan PPAT.
3. Hambatan yang muncul dalam jual beli perumahan dengan Perjanjian
Pengikatan Jual Beli bangunan di Perumahan Bukit Sentul Kabupaten
Bogor, adalah :
1. Konsumen wanprestasi (ingkar janji) dalam arti bahwa konsumen lalai membayar
angsurannya;
2. Konsumen melakukan praktek-praktek yang tidak terpuji sehingga merugikan
kepentingan pengembang.
3. Pihak pengembang gagal malaksanakan kewajibannya yaitu kewajiban penyerahan
bangunan rumah sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan;
4. Bangunan rumah tersebut tidak sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditawarkan dan
lambat dalam menanggapi keluhan dari konsumen;
5. Kepailitan dari pihak pengembang, sehingga konsumen diberikan hak untuk memutus
kontrak .
Penyelesaian yang dilakukan dalam mengatasi hambatan tersebut, yaitu
dengan jalan memperbaiki klausula-klausula yang terdapat dalam
perjanjian pengikatan jual beli yang dibuat secara dibawah tangan dengan
mengadopsi klausula-klausula yang terdapat dalam perjanjian pengikatan
jual beli yang dibuat secara notariil, sehingga lebih terjamin kepastian
hukumnya.
B. Saran
1. Hendaknya akta Perjanjian Pengikatan Jual Beli dibuat secara Notariil,
karena akan lebih dapat memberikan kekuatan hukum dan kepastian
hukum bagi para pihak sebagai alat bukti tertulis yang memiliki otentisitas
dalam perbuatan hukum tersebut, sehingga pada saat proses pemindahan
hak atas tanah dan banguan dapat segera diikuti dengan pembuatan akta
Jual Beli dihadapan PPAT sebagai dasar untuk pendaftaran haknya di
Kantor Pertanahan Kabupaten Kota.
2. Hendaknya Perjanjian Pengikatan untuk Jual Beli (PPJB) itu dibuat
berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak, sehingga nantinya salah satu
pihak tidak akan merasa dirugikan oleh pihak lainnya.
Daftar Pustaka
A. Buku-Buku
A. Qiram Syamsuddin Meliala, 1985, Pokok-Pokok Hukum Perjanjian, Liberty,
Yogyakarta.
Abdulkadir Muhammad, 1982, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung.
Arikanti Natakusumah, Muhani Salim, dan Warda Sungkar Alurmei, Kiriman
Karangan, 1987. Pengoperan Hak Atas Tanah Berdasarkan Perjanjian
Menurut UUPA, : Media Notariat No. 4 Tahun II, Jakarta.
Bambang Sunggono, 1997, Metode Penelitian Hukum, PT. RajaGrafindo
Persada, Jakarta.
Boedi Harsono, 2002. Hukum Agraria Indonesia, Sejarah Pembentukan
Undang-Undang Pokok Agraria, Isi dan Pelaksanaannya, Djambatan,
Jakarta
----------, 2002, Hukum Agraria Indonesia, Himpunan Peraturan- Peraturan
Hukum Tanah, Djambatan,Jakarta.
Djohari Santoso dan Achmad Ali, 1989, Hukum Perjanjian Indonesia,
Perpustakaan Fak. Hukum Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.
Effendi Perangin, 1991. Hukum Agraria Indonesia Suatu Telaah Dari Sudut
Pandang Praktisi Hukum, Rajawali Pres, Jakarta.
Erinan Rajaguguk, Hukum Dan Masyarakat, (Jakarta, [Link] Aksara, 1983),
Harun Al–Rashid, 1986. Sekilas Tentang Jual–Beli Tanah (Berikut Peraturan–
Peraturanya), Ghalia Indonesia, Jakarta.
John Salindeho, 1987. Masalah Tanah Dalam Pembangunan, Sinar Grafika,
Jakarta.
Kartini Soedjendro, 2001, Perjanjian Peralihan Hak atas Tanah yang
berpotensi Konflik, Kanisius, Yogyakarta.
[Link] Harahap, 1996, Segi-segi Hukum Perjanjian, Alumni, Bandung.
MR Tirtaamidjaja, 1970. Pokok-Pokok Hukum Perniagaan, Djambatan,
Jakarta.
Mariam Darus Badrulzaman, 1994, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung.
Munir Fuady, 1999, Hukum Kontrak, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.
R. Subekti, 1998, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa 1998, Jakarta.
Ronny Hanitijo Soemitro, 1988. Metode Penelitian Hukum dan Jurimetri, Ghalia
Indonesia, Jakarta.
Saleh Adiwinata, 1984, Bunga Rampai Hukum Perdata dan Tanah 1, Cetakan
Pertama, Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Salim HS, 2003, Hukum Kontrak, Penerbit Sinar Grafika, Jakarta.
Sudikno Mertokusumo, 1977, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty,
Yogyakarta.
Soetrisno Hadi, 1985. Metodolog Reserach Jilid II, Yayasan Penerbit Fakultas
Hukum Psikologi UGM, Yogyakarta.
Soerjono Soekanto, 1986. Pengantar Penelitian Hukum, UI Press. Jakarta.
Sutan Remy Sjahdeini, 1993. Kebebasan Berkontrak Dan Perlindungan Yang
Seimbang Bagi Para Pihak Dalam Perjanjian Kredit Bank Di Indonesia
(Disertasi), Institut Bankir Indonesia, Jakarta.
Pedoman Penulisan Usulan Penelitian dan Tesis, (Semarang : Program Studi
Magister Kenotariatan Program Pascasarjana Universitas Diponegoro,
2009)
B. Makalah dan/atau Artikel
Maria Sumardjono, “Pembangunan Rumah Rusun dan
Permasalahannya:Ditinjau dari segi Yuridis” , Kertas Kerja untuk Diskusi
Terbatas Development Of Indonesian Consumer Protecttion Act
(Comparative Studi & Draft Evaluation), Diselenggarakan YLKI di
Jakarta, 27 Oktober 1994.
C. Peraturan Perundang-undangan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata;
Undang-Undang nomor 5 tahun 1960, tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok
Agraria;
Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1996 tentang tentang Hak Guna
Usaha, Hak Guna Bangunan, dan Hak Pakai Atas Tanah;
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan
Pejabat Pembuat Akta Tanah;
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor
3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah
Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah;
Peraturan Menteri Negara Agraria/ Kepala BPN No.3 Tahun 1999 tentang
Pelimpahan Kewenangan Pemberian dan Pembatalan Keputusan
Pemberian Hak Atas Tanah Negara;
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor
9 tahun 1999, tentang Tata Cara Pemberian dan Pembatalan Hak Atas
Tanah Negara Dan Hak Pengelolaan;
Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor
1 Tahun 2006 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah
Nomor 37 Tahun 1998 tentang Peraturan Jabatan Pejabat Pembuat
Akta Tanah;