Nama: Intan Febrianti
NIM : 235030407111062
Kelas : C Pajak Konsumsi Dasar
RESUME PERTEMUAN MINGGU KE-5
Definisi Pajak Pertambahan Nilai yang baik, Ciri-ciri Pajak Pertambahan Nilai
yang baik, Prinsip pengenaan Pajak, Pertambahan Nilai yang baik
Pajak Pertambahan Nilai atau PPN adalah pungutan yang dibebankan atas
transaksi jual-beli barang dan jasa yang dilakukan oleh wajib pajak pribadi atau wajib
pajak badan yang telah menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jadi, yang
berkewajiban memungut, menyetor dan melaporkan PPN adalah para
pedagang/penjual. Sedangkan, pihak yang berkewajiban membayar PPN adalah
konsumen akhir.
Pendapat Ahli tentang PPN
- Kathryn James menyebutkan bahwa PPN yang baik adalah yang menggunakan
pendekatan konvensional sebagai praktik terbaik.
- Alex Schenk menyatakan PPN diperlukan untuk menghubungkan kenaikan nilai
barang atau jasa dengan pajak yang harus dibayar, mengatur pasar, dan mengurangi
efek penggantian pajak.
- Suandy menjelaskan bahwa PPN dikenakan pada setiap tahap peredaran barang
dan jasa, dimulai dari produksi hingga konsumsi.
- Rahayu dan Suhayati menjelaskan bahwa PPN merupakan pajak yang dibebankan
atas setiap pertambahan nilai yang muncul karena terdapat elemen produksi yang
terpakai pada proses produksi hingga distribusi barang kepada pelanggan. Rahman
mengatakan jika Pajak Pertambahan Nilai merupakan pajak yang dibebankan atas
adanya pertambahan nilai barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke
konsumen.
Ciri-Ciri Ppn Menurut James (2015)
1. Pengetahuan: Kemampuan untuk mengingat fakta, konsep, dan prinsip yang telah
dipelajari.
2. Pemahaman: Kemampuan untuk menjelaskan dan menginterpretasikan informasi
dengan memahami maknanya.
3. Nilai: Kemampuan untuk mengevaluasi informasi, membuat keputusan, dan
menunjukkan sikap yang sesuai terhadap pengetahuan yang diperoleh.
Karakteristik Ppn
Berikut ini merupakan karakteristik PPN:
1. Pajak Tidak Langsung: Beban pajak dialihkan kepada pihak lain yang akan
mengkonsumsi barang atau jasa yang kena pajak. Tanggung jawab
pembayaran pajak ada pada Pengusaha Kena Pajak sebagai penjual atau
pemberi jasa.
2. Pajak Objektif: Kewajiban membayar PPN ditentukan oleh faktor objeknya,
bukan subjeknya. Setiap orang atau badan yang mengkonsumsi barang yang
kena pajak harus membayar PPN.
3. Multi Stage Levy: PPN dikenakan pada setiap tahap penyerahan barang dari
pabrikan hingga pedagang pengecer.
4. Tidak Menimbulkan Pajak Berganda: PPN dihitung atas nilai tambah dan
tidak menimbulkan pajak berganda karena hanya pengguna akhir yang
membayar PPN. PPN yang dipungut oleh penjual dikurangi dengan PPN yang
dibayar kepada pemasok.
5. Pemungutan menggunakan Faktur Pajak: PPN dipungut menggunakan
Faktur Pajak sebagai bukti pemungutan. Mulai 1 Oktober 2020, pengusaha
kena pajak diwajibkan menggunakan e-faktur untuk mempermudah
administrasi dan mencegah penyalahgunaan faktur pajak.
6. Pajak atas Konsumsi Dalam Negeri: PPN merupakan pajak atas konsumsi
akhir dalam negeri, baik oleh individu maupun badan, dan dikenakan pada
barang dan jasa.
7. Bersifat Netral: PPN dikenakan baik pada konsumsi barang maupun jasa,
dengan prinsip tempat tujuan atau asal dalam pemungutannya, tergantung
pada syarat penjualan barang atau jasa.
Prinsip Pengenaan PPN:
Berikut ini merupakan prinsip pengenaan PPN
1. Origins Principle (Prinsip tempat asal): PPN dikenakan atas produksi yang
dilakukan di dalam negeri tanpa memperhatikan tempat barang atau jasa
dikonsumsi. Ekspor barang atau jasa yang diproduksi di dalam negeri
dikenakan PPN, sementara impor barang atau jasa dari luar negeri tidak
dikenakan PPN atau dikenakan tarif 0%.
2. Destination Principle (Prinsip tempat tujuan): PPN dikenakan atas konsumsi
di dalam negeri tanpa memperhatikan asal barang atau jasa. PPN dikenakan
atas impor barang atau jasa yang digunakan di dalam negeri, sementara
ekspor barang atau jasa dikenakan tarif 0%.
Menurut Schenk, tarif 0% adalah mekanisme di mana unsur PPN dalam harga
perolehan barang, jasa, atau transaksi tertentu dapat dihilangkan. Tarif 0% juga dapat
dijelaskan sebagai exemption with credit.
Secara umum, prinsip pengenaan PPN menurut James adalah bahwa PPN
dikenakan pada setiap tahap produksi dan distribusi barang dan jasa. Dengan kata
lain, PPN dikenakan pada nilai tambah di setiap tahap proses ekonomi, dari produksi
hingga konsumsi.
Study Case
Sebagai contoh, pertimbangkan proses produksi seorang tukang roti. Tukang roti ini
membeli bahan bahan seperti tepung, gula, dan mentega untuk membuat roti. Pada
tahap ini, PPN dikenakan pada pembelian bahan-bahan tersebut. Kemudian, ketika roti
sudah jadi dan dijual kepada konsumen, tukang roti menambahkan nilai dengan proses
memasak dan menyajikan roti tersebut. PPN kemudian dikenakan pada harga jual roti
kepada konsumen, yang mencerminkan nilai tambah yang ditambahkan oleh tukang
roti. Dengan demikian, PPN dikenakan pada setiap tahap proses produksi dan
distribusi barang, mulai dari pembelian bahan baku hingga penjualan produk jadi
kepada konsumen