0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
103 tayangan30 halaman

Fungsi dan Jenis Kelenjar Endokrin

Dokumen ini membahas tentang sistem endokrin yang mengatur dan mengontrol fungsi tubuh melalui pelepasan hormon. Sistem endokrin terdiri atas berbagai kelenjar seperti hipofisis, tiroid, paratiroid, pankreas, adrenal, dan gonad yang bekerja sama untuk mempertahankan homeostasis tubuh.

Diunggah oleh

melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
103 tayangan30 halaman

Fungsi dan Jenis Kelenjar Endokrin

Dokumen ini membahas tentang sistem endokrin yang mengatur dan mengontrol fungsi tubuh melalui pelepasan hormon. Sistem endokrin terdiri atas berbagai kelenjar seperti hipofisis, tiroid, paratiroid, pankreas, adrenal, dan gonad yang bekerja sama untuk mempertahankan homeostasis tubuh.

Diunggah oleh

melati
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Nama : Nurhikma

Nim : 70100123008
“SISTEM ENDOKRIN”
A. Fisiologi Sistem Endokrin
Endokrin berasal dari bahasa Yunani yang artinya “sekret ke dalam”.masuk sirkulasi ke dalam
darah yaitu hormon ( merangsang). Sistem endokrin adalah control kelenjar tanpa saluran
(ductiess) yang menghasilkan hormon yang tersirkulasi di tubuh melalui aliran darah untuk
mempengaruhi organ-organ lain. Hormon bertindak sebagai “pembawa pesan” dan di bawah oleh
aliran darah ke berbagai sel dalam tubuh yang selanjutnya akan menerjemahkan “pesan” tersebut
menjadi suatu tindakan.(Evi L. D, 2014). Endokrin Istilah (endo-dalam, Crin-mensekresikan) ini
menunjukkan bahwa sekresi dibentuk oleh kelenjar secara langsung masuk ke darah atau limfa
sirkulasi dan perjalanan ke jaringan target, dan bukan diangkut melalui tuba atau duktus. Sekresi
ini, disebut hormon, yang merupakan bahan kimia yang memicu atau mengontrol aktivitas organ,
sistem, atau kelenjar lain di bagian tubuh lain (White, Duncan, & Baumle, 2013). Hormon juga
memainkan peran penting dalam mengatur proses homeostasis seperti: metabolism, tumbang,
keseimbangan cairan dan elektrolit, proses reproduksi, dan siklus bangun dan tidur (Timby &
Smith, 2010).
Umumnya, hormon ini diproduksi oleh kelenjar endokrin, tetapi beberapa juga diproduksi oleh
jaringan lain. mukosa Gastrointestinal (GI) menghasilkan hormon (misalnya, gastrin,
enterogastrone, secretin, cholecystokinin) yang penting dalam proses pencernaan; ginjal
menghasilkan erythropoietin, suatu hormon yang merangsang sumsum tulang untuk memproduksi
sel darah merah; dan sel-sel darah putih memproduksi sitokin (protein menyerupai hormon) yang
aktif berpartisipasi dalam respon inflamasi dan kekebalan tubuh. Sistem kekebalan tubuh dan
sistem saraf memiliki hubungan yang unik dengan sistem endokrin. Porth & Matfin, (2009)
menyampaikan bahan kimia seperti neurotransmitter (misalnya, epinefrin) yang dirilis oleh Sistem
saraf, juga dapat berfungsi sebagai hormon bila diperlukan. Sistem kekebalan tubuh merespon
pengenalan asing agen dengan cara pembawa pesan kimiawi (sitokin), yang berupa protein
menyerupai hormon, dan diatur adrenal kortikosteroid hormon (Smeltzer, Hinkle, Bare, &
Cheever, 2010
Sistem endokrin, dalam kaitannya dengan sistem saraf, mengontrol dan memadukan fungsi
tubuh. Kedua sistem ini bersama-sama bekerja untuk mempertahankan homeostasis tubuh. Fungsi
mereka satu sama lain saling berhubungan, namun dapat dibedakan dengan karakteristik tertentu.
Misalnya, medulla adrenal dan kelenjar hipofise posterior yang mempunyai asal dari saraf (neural).
Jika keduanya dihancurkan atau diangkat, maka fungsi dari kedua kelenjar ini sebagian diambil
alih oleh sistem saraf. Bila sistem endokrin umumnya bekerja melalui hormon, maka sistem saraf
bekerja melalui neurotransmiter yang dihasilkan oleh ujung-ujung saraf. Saraf dan sistem endokrin
bertindak bersama-sama untuk mengkoordinasikan fungsi semua sistem tubuh. Ingat bahwa sistem
saraf bekerja melalui impuls saraf (potensial aksi) yang dilakukan di sepanjang akson neuron. Pada
sinaps, impuls saraf memicu pelepasan mediator (utusan) molekul yang disebut neurotransmitter.
Sistem endokrin juga mengontrol aktivitas tubuh dengan melepaskan mediator, yang disebut
hormon, tetapi alat kontrol dari dua sistem yang sangat berbeda. Tanggapan dari sistem endokrin
sering lebih lambat daripada respon sistem saraf; meskipun beberapa hormon bertindak dalam
hitungan detik, sebagian besar berlangsung beberapa menit atau lebih untuk menghasilkan sebuah
respon. Efek dari sistem aktivasi saraf umumnya lebih singkat dibandingkan sistem endokrin.
Sistem saraf bekerja pada otot-otot dan kelenjar tertentu. Pengaruh sistem endokrin jauh lebih luas;
membantu mengatur hampir semua jenis sel tubuh. Kami juga akan memiliki beberapa kesempatan
untuk melihat bagaimana sistem saraf dan endokrin berfungsi bersama-sama sebagai interlocking
"supersystem." Misalnya, bagian-bagian tertentu dari sistem saraf merangsang atau menghambat
pelepasan hormon oleh sistem endokrin (Tortora & Derrickson, 2014).
Sistem endokrin terdiri atas badan-badan jaringan kelenjar,seperti tiroid,tapi juga terdiri atas
kelenjar yg ada di dalam suatu organ tertentu,seperti testis,ovarium,dan jantung. Sistem endokrin
menggunakan hormon untunk mengendalikan dan mengatur fungsi tubuh sama seperti sistem saraf
menggunakan sinyal listrik kecil. Kedua sistem berinteraksi di otak dan saling melengkapi,tapi
mereka cenderung berkerja dengan kecepatan yang berbeda. (Philip E.P, 2001). Jika kelenjar
endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalam darah bisa menjadi tinggi atau
rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Untuk mengendalikan fungsi endokrin, maka
pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas-batas yang tepat (Philip E.P, 2001).
B. Pengertian Sistem Endokrin
Kelenjar Endokrin adalah kelenjar yang mengirim hasil sekresinya langsung ke dalam darah
yang beredar dalam jaringan, kelenjar ini tidak memiliki saluran tapi mensekresi (mengeluarkan)
hormon langsung ke dalam darah sehingga dapat mencapai setiap sel darah di dalam tubuh.
Hormon bekerja pada sasaran jaringan atau organ tertentu dan mengatur aktivitas [Link]
mengatur proses seperti pemecahan subtansi kimia dalam metabolisme,keseimbangan cairan dan
produksi urin,pertumbuhan dan perkembangan tubuh,serta reproduksi seksual. Hasil kerja hormon
dari suatu kelenjar dapat di pengaruhi oleh beberapa faktor termasuk kadar zat dalam darah dan
masukan dari sistem saraf,karena hormon mengalir dalam darah, setiap hormon dapat mencapai
setiap bagian tubuh. Namun demikian bentuk molekul khusus dari setiap hormon harus bisa masuk
kedalam reseptor (penerima) pada jaringan atau organ sasaran nya saja (Syafuddin.2009).
Sistem endokrin terdiri dari hipofisis, hipotalamus, tiroid, paratiroid, pankreas, adrenal, timus,
ovarium, dan testis. Sistem endokrin tidak semudah seperti sistem tubuh yang lain. Ketika
membahas ketidakseimbangan sistem endokrin, seringkali adanya variasi yaitu meningkat atau
menurun (misalnya, hipertiroidisme dengan hipotiroidisme) (Daniels & Nicoll, 2012). Sebagian
besar hormon yang diperlukan dalam jumlah yang sangat kecil, tingkat sirkulasi biasanya rendah.
Kelenjar endokrin termasuk hipofisis, tiroid, paratiroid, adrenal, dan kelenjar pineal. Selain itu,
beberapa organ dan jaringan tidak eksklusif diklasifikasikan sebagai kelenjar endokrin tapi
mengandung sel-sel yang mengeluarkan hormon. ini termasuk hipotalamus, timus, pankreas,
ovarium, testis, ginjal, lambung, jantung, usus kecil, kulit, jantung, jaringan adiposa, dan plasenta.
Secara bersama-sama, semua kelenjar endokrin dan Sel-sel yang mensekresi hormon merupakan
sistem endokrin (Tortora & Derrickson, 2014).
C. Fungsi Sistem Endokrin
Seiring dengan saraf, sistem endokrin berfungsi untuk mempertahankan hemostasis selama
istirahat dan olahraga. Saraf dan sistem endokrin juga bekerja sama unttuk memulai dan
mengendalikan gerakan, dan semua gerakan yang melibatkan proses fisiologis. Dimana sistem
saraf bertindak cepat (hamper seketika) menyampaikan pesan impulls saraf , sistem endokrin
memiliki respon lebih lambat tapi lebih tahan lama dari impuls sistem saraf. (Pearsce, Evelyn C.
2011). Sistem endokrin mengatur pertumbuhan, perkembangan dan reproduksi dan menambah
kapasitas tubuh untuk menangani stress fisik dan psikologis. Secara keseluruhan, masing-masing
kelenjar yang terdapat dalam tubuh memiliki fungsi yang berbeda-beda tergantung dari mana
kelenjar tersebut dihasilkan. Akan tetapi, secara umum fungsi kelenjar endokrin adalah:
 Penghasil Hormon – Kelenjar endokrin bertugas untuk menghasilkan berbagai macam
jenis hormon yang nantinya akan disalurkan ke darah apabila diperlukan oleh jaringan
tubuh tertentu.
 Mengontrol Aktivitas – Kelenjar endoktrin bertugas untuk mengontrol aktivitas dari
kelenjar tubuh agar dapat berfungsi dengan normal dan maksimal.
 Merangsang Aktivitas – Kelenjar endoktrin juga bertugas untuk merangsang aktivitas
kelenjar tubuh untuk kemudian disampaikan ke sistem saraf dan menciptakan suatu efek
dari rangsangan tersebut.
 Pertumbuhan Jaringan – Kelenjar endoktrin juga mempengaruhi pertumbuhan jaringan
pada manusia agar jaringan tersebut berfungsi maksimal.
 Mengatur Metabolisme – Kelenjar endoktrin juga berfungsi untuk mengatur metabolisme
dalam tubuh, sistem oksidasi tubuh serta bertugas untuk meningkatkan absorpsi glukosa
dalam tubuh dan pada usus halus.
 Metabolisme Zat – Kelenjar endoktrin bertugas untuk mempengaruhi fungsi metabolisme
lemak, vitamin, metabolisme protein, mineral, air dan hidrat aranga dalam tubuh untuk
agar optimal.

Sedangkan fungsi dari hormone adalah :

 Mengendalikan proses-proses dalam tubuh manusia seperti proses metabolism, proses


oksidatif, perkembangan seksual.
 Menjaga keseimbangan fungsi tubuh (hemeotasis).

Pada umumnya, sistem hormonal ( sistem endikrin ) terutama berhubungan dengan pengaturan
sebagai fungsi metabolisme tubuh, mengatur kecepatan reaksi kimia di dalam sel atau trnspor zat-
zat melalui membran selatau aspek-aspek metabolisme sel lainnya seperti pertumbuhan dan
sekresi. (Philip E.P, 2001).
D. Jenis-Jenis Kelenjar Sistem Endokrin
Kelenjar dari sistem endokrin adalah sama pada pria dan wanita kecuali untuk testis, yang hanya
ditemukan pada laki-laki, dan ovarium, yang hanya ditemukan pada wanita.
A. Hipotalamus
Hipotalamus sebenarnya adalah bagian dari otak (lihat Gambar di bawah), tetapi juga
mengeluarkan hormon. Beberapa hormon yang “memberitahukan” kelenjar hipofisis baik
untuk mengeluarkan atau menghentikan mensekresi hormon tersebut. Dengan cara ini,
hipotalamus menyediakan link antara sistem saraf dan endokrin. Hipotalamus juga
menghasilkan hormon yang secara langsung mengatur proses tubuh. Hormon-hormon ini
melakukan perjalanan ke kelenjar pituitari, yang menyimpan mereka sampai mereka
dibutuhkan. Hormon termasuk hormon antidiuretik dan oksitosin. Hormon antidiuretik
merangsang ginjal untuk menghemat air dengan memproduksi urine lebih pekat. Oksitosin
merangsang kontraksi persalinan, diantara fungsi lainnya. Hipotalamus dan kelenjar
hipofisis adalah terletak berdekatan di bagian bawah otak. (Syamsuri Istamar.2004).
B. Kelenjar pituitari
Kelenjar pituitari seukuran kacang melekat pada hipotalamus oleh tangkai tipis (lihat
Gambar di atas). Ini terdiri dari dua lobus seperti bola. Lobus posterior (belakang)
menyimpan hormon dari hipotalamus. Lobus anterior (depan) mengeluarkan hormon
hipofisis. Beberapa hormon hipofisis dan efek mereka tercantum dalam Tabel di bawah ini.
Kebanyakan hormon hipofisis mengendalikan kelenjar endokrin lainnya. Itu sebabnya
hipofisis sering disebut “master gland” dari sistem endokrin. (Syafuddin.2009).
C. Kelenjar Hipofisis
Kelenjar hipofisis terletak pada dasar otak besar dan menghasilkan bermacam-macam
hormon yang mengatur kegiatan kelenjar lainnya. Oleh karena itu, kelenjar hipofisis
disebut kelenjar pengendali (master of gland). Kelenjar hipofisis dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu bagian anterior. bagian tengah, dan bagian posterior. Hormon yang dihasilkan
kelenjar hipofisis bagian anterior dan fungsinya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
 Macam-Macam Fungsi Hormon yang Dihasilkan oleh Kelenjar Hipofisis Bagian
Anterior dan Fungsinya
 Hipofisis bagian Tengah
Kelenjar ini menghasilkan hormon perangsang melanosit atau melanosit
stimulating hormone (MSH). Apabila hormon ini banyak dihasilkan maka
menyebabkan kulit menjadi hitam. Sekresi MSH juga dirangsang oleh faktor
pengatur yang disebut faktor perangsang pelepasan hormon melanosit dan
dihambat oleh faktor inhibisi hormon melanosit (MIF).
 Hipofisis bagian posterior
Hipofisis bagian posterior menghasilkan oksitosin dan vasopresin. Oksitosin
berperan dalam merangsang otot polos yang terdapat di uterus, sedangkan
vasopresin disebut juga hormon antidiuretik (ADH) berpengaruh pada proses
reabsorpsi urine pada tubulus distal sehingga mencegah pengeluaran urine vang
terlalu banyak.
Kelenjar hipofisis terbagi atas dua jaringan yang terpisah, yaitu:
1. Nerohipofisis
Bagian kelenjar hipofisi ini berasal dari lanjutan jaringan otak, sehinggastrukturnya mirip
jaringan saraf. Sel-sel penghasil hormon tidak ada di bagianhipofisis melainkan di otak.
Sel-sel penghasilnya adalah sel saraf yang jugamempunyai tonjololan sebagai akson.
Horomon yanh dihasilkan diangkutmelalui akson dan dilepaskan dari uung-ujung akson
yang berada dalam nerohipofisis. Hormon utama yang dihasilkan nerohipofisis yaitu
oksitosin yangmengatur kontraksi otot-otot dinding uterus. Hormon kedua yaitu
vasopressinmengatur kontraksi otot arteri kecil sehingga dapat meningkatkan
tekanandarah. Disamping itu vasopressin merangsang pipa-pipa nefron dalam ginjaluntuk
menyerap kembali air yang disaring, sehingga air kemih menjadi pekat
2. Adenohipofisis
Bagian kelenjar ini bukan berasal dari jaringan saraf melainkan berasal dariatap rongga
mulut dalam perkembangannya. Tonjolan dari atap rongga muluttersebut kemudian
melepaskan diri dan bersatu dengan nerohipofisis yang berada di belakangnya. Walaupun
adenohipofisis merupakan sebuah kelenjar,namun sebenarnya mengandung berbagai sel-
sel kelenjar yang masing-masingmenghasilkan jenis hormone yang berbeda. Hormone-
hormon tersebutmempunyai sasaran kelenjar endokrin yang lain di luar hipofisis. Di
antarahormone-hormon yang di lepaskan yaitu :
 Hormon TirotrofikMempunyai sasaran kelenjar tiroid, sehingga kelenjar tersebut
dirangsang menghasilkan hormonnya.
 Hormon Adrenokortikotrofik (ACTH)Hormone ini mempunyai sasaran korteks
kelenjar adrenal agarkorteks kelenjar adrenal menghasilkan hormone-hormonenya.
 Hormon Gonadotrofik dan GonadotrofinHormone ini mempunyai sasaran gonade
sebagai kelenjarendokrin. Paling sedikit ada dua jenis hormone yang
termasukgonadotrofin yaitu :FSH (Follicle Stimulating Hormon) dan LH
(Luteinizing Hormon)FSH pada wanita merangsang perkembangan sel-sel folikel
dalam ovarium untuk berkembang dan menghasilkan hormone wanita, pada laki-
laki FSH di sebut dengan ICSH ( Interstitial Cell Stimulating Hormon) yang
merangsang sel-sel dalam jaringantestis untuk menghasilkan hormone
testosterone4.
 Hormon Somatotrofinhormone ini di sebut sebagai hormone pertumbuhan karena
melaluikartilagi epifisialis pada tulang panjang, sel-sel kartilsgo membeladiri
sehingga tulang-tulang panjang bertambah panjang, jadisasaran hormone ini bukan
kelenjar endokrin
 Hormon prolactin Di hasilkan oleh adenohipofisis, juga mempunyai sasaran
bukankelenjar endokrin, mealinkan kelenjar susu. Pada wanita yang bersalin
kelenjar susu nya di rangsang hormon prolaktin sehinggawanita tersebut
menghasilkan air susu untuk baiknya
D. Kelenjar Tiroid (Kelenjar Gondok)
Kelenjar tiroid terletak di kiri dan di kanan trakea di daerah faring, dekat jakun.
Kelenjar ini menghasilkan hormon tiroksin, triidotironin, dan kalsironin. Hormon_hormon
ini berfungsi mempengaruhi metabolisme sel, mempengaruhi pertumbuhan, dan
mempengaruhi perubahan tiroksin. Kelebihan (hipersekresi) tiroksin pada orang dewasa
akan mengakibatkan penyakit morbus basedow. Tanda_tanda penyakit ini, antara lain
metabolisme meningkat, denyut jantung cepat, gugup, emosional, pelupuk mata melebar,
dan bola mata menonjol. Hipersekresi tiroid pada anak_anak menyebabkan gigantisme
(pertumbuhan raksasa). Sementara itu, kekurangan 9 (hiposekresi) tiroksin pada orang
dewasa menyebabkan miksedema. Gejala ini ditandai dengan kegemukan yang luar biasa
(obesitas) dan kecerdasan menurun. Hiposekresi tiroksin pada anakanak menyebabkan
kretinisme , yaitu pertumbuhan kerdil dan kemunduran mental. Hormon tiroksin
mengandung banyak yodium. Kekurangan yodium dalam jangka panjang dapat
menyebabkan pembengkakan kelenjar tiroid. Hal itu terjadi kerena kelenjar tiroid harus
bekerja keras memproduksi tiroksin dengan bahan baku (yodium) yang kurang.
Pembengkakan kelenjar tiroid menimbulkan penyakit gondok. Hormon kalsitonin
berfungsi menjaga keseimbangan ion kalsium (Ca2+) dalam darah. Jika ion Ca2+ dalam
darah meningkat, hormon kalsitonin juga meningkat dan akan mendapatkan ion Ca2+
tersebut dalam tulang (Philip E.P, 2001).
E. Kelenjar Paratiroid (kelenjar Anak Gondok)
Kelenjar paratiorid Terletak disetiap sisi kelenjar tiroid yang terdapat di dalam
leher,kelenjar ini bedumlah 4 buah yang tersusun berpasangan yang menghasilkan para
hormonatau hormon para tiroksin. Kelenjar paratiroid berjumlah 4 [Link]-masing
melekat pada bagian belakang kelenjar tiroid, kelenjar paratiroidmenghasilkan hormon
yang berfungsi mengatur kadar kalsium dan fosfor di dalam [Link] menempel
pada kelenjar tiroid. Kelenjar ini menghasilkan parathormon yang berfungsi mengatur
kandungan fosfor dan kalsium dalam darah. Kekurangan hormon inimenyebabkan tetani
dengan gejala: kadar kapur dalam darah menurun, kejang di tangan dankaki, jari-jari tangan
membengkok ke arah pangkal, gelisah, sukar tidur, dan [Link] paratiroid
panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya duamillimeter dan
memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitamanSecara normal ada empat buah
kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepatdibelakang kelenjar tiroid, dua
tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutubinferiorHipoparatiroidisme.
Terjadinya kekurangan kalsium di dalam darah atau hipokalsemiamengakibatkan keadaan
yang disebut tetani, dengan gejala khas kejang khususnya padatangan dan kaki disebut
karpopedal spasmus, gejala-gejala ini dapat diringankan dengan pemberian

[Link]. Biasanya ada sangkut pautnya de ngan pembesaran

(tumor)kelenjar. Keseimbangan distribusi kalsium terganggu, kalsium dikeluarkan kembali


daritulang dan dimasukkan kembali ke serum darah. Akibatnya terjadi penyakit tulang
dengantanda-tanda khas beberapa bagian kropos. disebut osteomielitis fibrosa sistika
karenaterbentuk kristal pada tulang, kalsiumnya diedarkan di dalam ginjal dan dapat
menyebabkan batu ginjal dan kegagalan ginjal
Hipofungsi mengakibatkan penyakit tetanidan Hiperfungsi, mengakibatkan kelainan-
kelainan seperti; Kelemahan pada otot-otot, sakit pada tulang, kadar kalsium dalamdarah
meningkat begitu juga dalam urin, dekolsifikasi dan deformitas, dapat juga terjadi patch
tulang spontan. Kelainan-kelainan di atas dapat juga terjadi pada tumor kelenjar
[Link] paratiroid menghasilkan hormon paratiroid dan merupakan hormon
utama yangmengatur metabolisme kalsium untuk mempertahankan kadar kalsium plasma
dalam batasnormal. Pada keadaan hipokalsemi (kadar kalsium darah yang rendah). Sekresi
hormon paratiroid berlangsung 3 tahap, yaitu:
 Tahap dini berlangsung dalam beberapa menit, merupakan respon cepat dari sel-
sel paratiroid melepaskan hormone paratiroid yang sudah tersedia dalam sel dalam
keadaanhipokalsemi.
 Tahap kedua terjadi beberapa jam kemudian merupakan aktivitas sel kelenjar
paratiroidmenghasilkan hormone paratiroid lebih banyak.
 Tahap ketiga apabila hipokalsemi masih masih berlangsung maka dalam beberapa
hariakan terjadi replica sel untuk memperbanyak masa sel kelenjar paratiroid.
F. Kelenjar Epifisis
Sampai sekarang peranan kelenjar epifisis pada manusisa belum diketahui. Namun,
kelenjar epifisis pada katak berfungsi untuk mengatur pigmen melanin. Peranannya adalah
saat katak dalam kondisi yang tidak menguntungkan, pigmen melanin akan mengumpul
dan berakibat kulit katak menjadi pucat.
G. Kelenjar Timus
Fungsi kelenjar timus, untuk menimbun hormon somatotropin (hormon pertumbuhan)
dalam masa pertumbuhan. Kelenjar timus berhenti bekerja setelah masa remaja (Rubin ,
M. R. & J. Sliney Jr. 2014).
H. Kelenjar Pienalis
Kelenjar pineal (juga disebut badan pineal, epiphysis cerebri, epiphysis, conarium atau
"Mata ketiga") adalah sebuah kelenjar endokrin pada otak vertebrata. Ia memproduksi
serotonin turunan dari melatonin, sebuah hormon yang mempengaruhi modulasi pola
bangun/tidur dan fungsi musiman. Bentuknya mirip dengan sebuah buah pohon cemara
mungil (namanya karenanya), dan dia terletak dekat dengan pusat otak, di antara dua
belahan, terselip di sebuah alur di mana dua badan thalamus bulat bergabung.
Kelenjar pineal berwarna abu-abu kemerahan dan sekitar ukuran sebutir beras (5–8 mm)
pada manusia, berlokasi hanya di rostro-dorsal dengansuperior colliculus dan dibelakang
dan dibawah stria medullaris, di antara berposisi lateral badan thalamus. Dia adalah bagian
dari epithalamus. Kelenjar pineal adalah struktur berbentuk garis tengah seperti buah
pohon cemara , dan sering terlihat di tengkorak X-ray, seperti yang sering klasifikasi.
Kelenjar ini menghasilkan sekresi interna dalm membantu pankreas dan kelenjar kelamin.
I. Kelenjar Suprarenalis (Kelenjar Anak Ginjal/Kelenjar Adrenal)
Kelenjar terdiri atas dua bagian, yaitu korteks dan medulla.
 Korteks (Bagian Kulit)
Bagian ini menghasilkan:
a. Mineralokortikoid yang berfungsi menyerap ion Na dari darah dan mengatur
reabsorpsi air pada ginjal.
b. Glukokoritikoid, yang berperan menaikkan kadar glikogen.
c. Androgen, yang bersama- sama dengan kelenjar gonad menentukan sifat kelamin
sekunder pada pria.
 Medula (Bagian Dalam) Bagian ini menghasilkan hormon adrenalin (epinefrin) yang
berfungsi:
a. memacu aktivitas jantung dan menyempitkan pembuluh darah kulit serta kelenjar
mukosa.
b. mengendurkan otot polos batang tenggorok sehingga melapangkan pernapasan.
c. menaikkan kadar gula darah dan memengaruhi pemecahan glikogen dalam hati
(glikogenolisis).
J. Kelenjar Langerhans
Kelenjar Langerhans terdapat di dalam pankreas. Tugasnya menghasilkan hormon
insulin. Fungsi hormon ini besifat antagonis dengan fungsi hormon adrenalin, yaitu
mengubah gula menjadi glikogen dalam hati dan otot. Hiposekresi insulin menyebabkan
penyakit diabetes mellitus (kencing manis) (Evi L. D, 2014).
K. Kelenjar Pankreas
Kelenjar pankreas merupakan sekelompok sel yang terletak pada pankreas, sehingga
dikenal dengan pulau – pulau langerhans. Kelenjar pankreas menghasilkan hormon insulin
dan glukagon. Insulin mempermudah gerakan glukosa dari darah menuju ke sel – sel tubuh
menembus membrane sel. Di dalam otot glukosa dimetabolisasi dan disimpan dalam
bentuk cadangan. Di sel hati, insulin mempercepat proses pembentukan glikogen
(glikogenesis) dan pembentukan lemak (lipogenesis). Kadar glukosa yang tinggi dalam
darah merupakan rangsangan untuk mensekresikan insulin. Sebagai contoh, insulin akan
meningkat setelah kita makan. Setelah makan, maka kadar glukosa dalam darah akan naik
karena tubuh mendapatkan glukosa dari pemecahan makanan tersebut. Tubuh mengambil
kelebihan glukosa dengan cara mensekresikan insulin untuk menyeimbangkannya pada
kadar normal. Sebaliknya glukagon bekerja secara berlawanan terhadap insulin. Glukagon
berfungsi mengubah glikogen menjadi glukosa sehingga kadar glukosa naik. Contohnya
pada saat kita berpuasa. Karena tubuh tidak mendapatkan asupan glukosa ketika berpuasa,
maka tubuh mensekresikan glukagon untuk menyeimbangkan kekurangan glukosa
tersebut. Kekurangan hormon insulin akan menyebabkan penyakit diabetes mellitus
(kencing manis). Kenapa hal tersebut bisa terjadi?nsulin berperan mengubah glukosa
menjadi glikogen agar dapat menurunkan kadar gula darah. Jika seseorang tidak dapat
memproduksi insulin, maka glukosa dalam darah terus bertambah karena glukosanya tidak
bisa dirubah menjadi glikogen. Akibatnya urine yang dikeluarkannyapun mengandung
glukosa.
L. Kelenjar Kelamin (Gonad)
Kelenjar kelamin di bagi dua, yaitu pada pria dan wanita.
 Kelenjar Kelamin Pria 13 Kelenjar kelamin pria adalah testis. Fungsinya
menghasilkan sperma, hormon androgen, dan hormon testosteron. Hormon
androgen berfungsi mendukung pembentukan sperma, mendorong perkembangan dan
pemeliharaan karakteristik seks sekunder jantan. Adapun fungsi hormon testosteron
hampir sama dengan androgen. Selain itu, testosteron juga bertanggung jawab terhadap
percepatan pertumbuhan remaja. Testosteron berfungsi dalam spermatogenesis dan
berefek negative terhadap sekresi LH (Luteinizing Hormon).
 Kelenjar Kelamin Wanita Kelenjar kelamin wanita berupa ovarium yang
menghasilkan hormon estrogen, hormon progesterone, dan sel telur (ovum).
Fungsi estrogen untuk merangsang pertumbuhan dinding uterus, mendorong
perkembangan dan pemeliharaan karakteristik seks sekunder betina. Fungsi
progesterone untuk mengatur pertumbuhan plasenta, menghambat sekresi FSH, dan
melancarkan air susu bagi ibu yang menyusui (Syafuddin, 2006).

E. Perbedaan Kelenjar Eksorkin Dan Endokrin

Kelenjar endokrin adalah kelenjar yang bertanggung jawab untuk mensekresi hormon ke dalam
darah, dimana membuat waktu respon tubuh terhadap hormone hormone ini relative lambat.
Meskipun waktu responsnya lama, efek dari sekresi ini bertahan lama. Ini dimungkinkan karena
darah yang mengandung sekresi disaring oleh ginjal sebelum dikirim ke organ target.. Hormon-
hormon ini bertanggung jawab atas banyak proses fisiologis dalam tubuh kita seperti metabolisme,
fungsi reproduksi, aliran menstruasi, dan banyak lagi. Sistem endokrin terdiri dari kelenjar utama
seperti kelenjar hipofisis, kelenjar pineal, pankreas, testis, ovarium, kelenjar paratiroid dan tiroid,
kelenjar adrenal, dan hipotalamus.
Kelenjar eksokrin adalah kelenjar yang bertanggung jawab atas zat yang melewati jaringan
saluran dan akhirnya dilepaskan ke permukaan internal maupun eksternal. Permukaan ini termasuk
kelenjar susu, kelenjar sebaceous, dan kelenjar penghasil lendir. Contoh dari kelenjar ini termasuk
kelenjar keringat, kelenjar ludah, dan kelenjar pencernaan. Kelenjar ini mengeluarkan zat yang
membantu mengatur sejumlah fungsi tubuh yang penting. Misalnya: kelenjar lakrimal yang
terletak di mata membantu memastikan mata tidak mengering. Cairan yang dikeluarkan oleh
kelenjar keringat membantu mengatur suhu tubuh.

F. Proses Transpor Hormon Kedalam darah


Sebagian besar molekul hormon yang larut dalam air beredar di plasma darah "bebas" (tidak
terikat dengan molekul lain), tetapi kebanyakan molekul hormon larut-lemak terikat dengan
Protein transportasi. Protein transportasi, yang disintesis oleh Sel-sel di hati, memiliki tiga
fungsi:
 Protein transportasi membuat hormon larut-lemak untuk sementara larut dalam air,
sehingga meningkatkan kelarutannya dalam darah.
 Menghambat lewatnya molekul hormon yang kecil melalui Mekanisme penyaringan di
dalam ginjal, sehingga memperlambat laju kehilangan hormon dalam urin.
 Menyediakan cadangan hormon. Secara umum, 0,1-10% dari molekul hormon larut-
lemak tidak terikat pada protein transportasi. Sebagian bebas ini berdifusi dari kapiler,
mengikat reseptor, dan memicu tanggapan. Sebagai molekul hormon bebas meninggalkan
darah dan berikatan dengan reseptor mereka, protein transportasi lepaskan yang baru
untuk mengisi bebas sebagian kecil.

G. Klasifikasi Hormon Kimiawi


Secara kimia, hormon dapat dibagi menjadi dua kelas secara luas: hormon yang larut dalam
lemak (Lipid-Soluble Hormones), dan hormone yang larut dalam air (WaterSoluble Hormones).
Klasifikasi kimia ini juga berguna secara fungsional, karena dua kelas mengakibatkan efek mereka
berbeda.
 Larut dalam lemak Hormon yang larut dalam lemak termasuk hormon steroid, tiroid
hormon, dan nitric oxide.
a. Hormon steroid yang berasal dari kolesterol. setiap steroid Hormon ini unik karena
adanya bahan kimia yang berbeda kelompok yang melekat di berbagai tempat di empat
cincin pada inti strukturnya. Perbedaan kecil memungkinkan untuk keragaman besar
fungsi.
b. Dua hormon tiroid (T3 dan T4) disintesis dengan menghubungkan yodium ke amino
acid tyrosine. Adanya dua cincin benzena dalam T3 atau T4 molekul membuat molekul
molekul sangat larut lemak
c. Gas nitric oxide (NO) merupakan sebuah hormon dan neurotransmiter. Sintesis
biasanya dikatalisis oleh enzim nitric oxide synthase.
 Larut dalam air Hormon yang larut dalam air termasuk amine hormones, peptide and
protein hormones, and eicosanoid hormones.
a. Amine hormones disintesis oleh decarboxylating (menghilangkan molekul CO2) dan
sebaliknya memodifikasi asam amino tertentu. Mereka disebut amina karena mereka
mempertahankan gugus amino (-NH3). Katekolamin-epinefrin, norepinefrin, dan
dopamin, disintesis dengan memodifikasi tirosin asam amino. Histamin disintesis dari
amino histidin asam oleh sel mast dan trombosit. serotonin dan melatonin yang berasal
dari triptofan.
b. Peptide hormones and protein hormones yang asam aminonya polimer. Hormon
peptida yang lebih kecil terdiri dari rantai 3-49 asam amino hormon protein yang lebih
besar termasuk 50 untuk 200 asam amino. Contoh hormon peptida yang antidiuretik
hormon dan oksitosin; hormon protein dilengkapi pada manusia yaitu hormon
pertumbuhan dan insulin. Beberapa hormon protein, seperti thyroid-stimulating
hormone, telah terpasang kelompok karbohidrat dan karenanya glikoprotein hormon.
c. Eicosanoid hormones yang berasal dari asam arakidonat, yang 20-karbon Asam lemak.
Dua jenis utama dari eikosanoid merupakan prostaglandin (PG) dan leukotrien (LTs).
eikosanoid adalah hormon lokal yang penting, dan mereka dapat bertindak sebagai
yang hormon bersirkulasi juga.
H. Stimulus Kelenjar Endokrin
 Stimulus Humoral
Pelepasan hormon disebabkan adanya perubahan kadar ion atau nutrisi penting.
Contoh: pelepasan hormon paratiroid (PTH) oleh kelenjar paratitoid sebagai akibat
adanya penurunan kadar kalsium dalam kapiler darah.
 Stimulus Neural
Pelepasan hormon disebabkan adanya input neural. Contoh: pelepasan epinefrin
dan norepinefrin oleh kelenjar adrenal (sel medulla) sebagai respons potensial aksi
saraf simpatik preganglion ke medulla adrenal.
 Stimulus Hormonal
Pelepasan hormone disebabkan oleh hormon lain (hormone tropik). Contoh:
kelenjar hipofise anterior mensekresi hormon yang merangsang kelenjar endokrin
lainnya sebagai respons terhadap hormon dari hipotalamus.

I. Kaitan Sistem Endokrin Dalam Tubuh


Sistem endokrin memiliki kemiripan dengan sistem saraf pada manusia karena keduanya
berperan dalam mengontrol dan memadukan satu sama lain. Jika sistem endokrin mengontrol
proses tubuh yang berlangsung lambat, sistem saraf mengatur proses tubuh yang berlangsung cepat
seperti pernapasan dan metabolisme. Meskipun saling berpengaruh, kedua sistem ini memiliki
penghubung yang berbeda. Sistem saraf terhubung menggunakan implus saraf dan
neurotransmitter, sementara sistem endokrin dihubungkan oleh senyawa kimia yang disebut
hormon. Secara umum sistem endokrin bertanggung jawab untuk mengatur berbagai fungsi tubuh
melalui pelepasan hormon seperti metabolisme, tumbuh kembang, fungsi dan reproduksi seksual,
tekanan darah, nafsu makan, dan siklus tidur. Namun, setiap hormon yang dihasilkan dalam sistem
endokrin mempunyai fungsi yang berbeda tergantung dari kelenjar mana hormon tersebut
dihasilkan.
 Kelenjar Tiroid
Kelenjar yang terletak di bawah leher bagian depan ini menghasilkan hormon tiroid
yang mengatur metabolisme tubuh. Hormon tiroid juga berperan dalam pertumbuhan dan
perkembangan tulang otak dan sistem saraf pada anak-anak. Selain itu, hormon tiroid juga
membantu menjaga tekanan darah, detak jantung, dan fungsi reproduksi.
 Kelenjar Paratiroid
Kelenjar paratiroid adalah dua pasang kelenjar kecil yang tertanam di setiap sisi
permukaan kelenjar tiroid. Kelenjar kecil ini melepaskan hormon paratiroid yang berfungsi
untuk mengatur kadar kalsium dalam darah dan metabolisme tulang.
 Hipotalamus
Hipotalamus mengeluarkan hormon yang merangsang dan menekan pelepasan
hormon yang disekresikan menuju kelenjar hipofisis melalui arteri. Hipotalamus juga
mengeluarkan hormon somatostatin yang menyebabkan kelenjar pituitari menghentikan
pelepasan hormon pertumbuhan. Selain itu, letaknya yang berada di tengah bagian bawah
otak memiliki peran penting dalam pengaturan rasa kenyang, metabolisme, dan suhu tubuh.
 Kelenjar Hipofisis
Kelenjar hipofisis atau kelenjar pituitari letaknya berada di dalam otak, tepatnya di
bawah hipotalamus. Setelah mendapatkan rangsangan dari hipotalamus, kelenjar hipofisis
akan memproduksi hormon yang membantu mengatur pertumbuhan, produksi dan
pembakaran energi, menjaga tekanan darah, serta berbagai fungsi pada organ tubuh
lainnya.
 Kelenjar Adrenal
Kelenjar berbentuk segitiga yang berada di atas setiap ginjal ini terdiri dari dua bagian.
Pertama, bagian luar atau biasa disebut dengan korteks adrenal dan bagian keduanya adalah
medula adrenal yang terletak di bagian dalam. Bagian luar menghasilkan hormon yang
disebut kortikosteroid, yang mengatur metabolisme, fungsi seksual, sistem kekebalan, serta
keseimbangan garam dan air dalam tubuh. Sementara, bagian dalam atau medula adrenal
menghasilkan hormon yang disebut katekolamin yang berfungsi untuk membantu tubuh
mengatasi tekanan fisik dan emosional dengan meningkatkan denyut jantung dan tekanan
darah.
 Kelenjar Reproduksi
Pria dan wanita memiliki kelenjar reproduksi yang berbeda. Pada pria terdapat di testis
yang mengeluarkan hormon androgen yang memengaruhi banyak karakteristik pria seperti
perkembangan seksual, pertumbuhan rambut wajah, dan produksi sperma. Sementara pada
wanita terletak di ovarium yang menghasilkan estrogen dan progesteron serta telur.
Hormon-hormon ini mengontrol perkembangan karakteristik wanita seperti pertumbuhan
payudara, menstruasi, dan kehamilan.
 Pankreas
Pankreas adalah organ memanjang yang terletak di perut bagian belakang. memiliki
fungsi pencernaan dan hormonal misalnya pankreas eksokrin yang mengeluarkan enzim
pencernaan. Selain itu, terdapat pankreas endokrin yang mengeluarkan hormon insulin
serta glukagon yang mengatur kadar gula dalam darah.

J. Pengendalian endokrin
Jika kelenjar endokrin mengalami kelainan fungsi, maka kadar hormon di dalamdarah bisa
menjadi tinggi atau rendah, sehingga mengganggu fungsi tubuh. Untukmengendalikan fungsi
endokrin, maka pelepasan setiap hormon harus diatur dalam batas- batas yang [Link] perlu
merasakan dari waktu ke waktu apakah diperlukan lebih banyak ataulebih sedikit hormon.
Hipotalamus dan kelenjar hipofisa melepaskan hormonnya jika merekamerasakan bahwa kadar
hormon lainnya yang mereka kontrol terlalu tinggi atau terlalurendah. Hormon hipofisa lalu masuk
ke dalam aliran darah untuk merangsang aktivitas dikelenjar target. Jika kadar hormon kelenjar
target dalam darah mencukupi, maka hipotalamus dan kelenjarHipofisa mengetahui bahwa tidak
diperlukan perangsangan lagi dan mereka berhentimelepaskan [Link] umpan balik ini
mengatur semua kelenjar yang berada dibawah kendalihipofisa. Hormon tertentu yang berada
dibawah kendali hipofisa memiliki fungsi yangmemiliki jadwal [Link], suatu siklus
menstruasi wanita melibatkan peningkatan sekresi LH danFSH oleh kelenjar hipofisa setiap
bulannya. Hormon estrogen dan progesteron pada indungtelur juga kadarnya mengalami turun-
naik setiap [Link] pasti dari pengendalian oleh hipotalamus dan hipofisa terhadap
bioritmikini masih belum dapat dimengerti. Tetapi jelas terlihat bahwa organ memberikan
responterhadap semacam jam biologis

K. Mekanisme Umpan Balik


 Umpan Balik Negatif
Lingkaran umpan balik negatif mengontrol sintesis dan sekresi hormon oleh
kelenjar tiroid. Lingkaran ini mencakup hipotalamus dan kelenjar pituitari selain tiroid,
seperti yang ditunjukkan pada Gambar12.3. 412.3.4. Ketika kadar hormon tiroid yang
bersirkulasi dalam darah turun terlalu rendah, hipotalamus mengeluarkan hormon
pelepas tirotropin (TRH). Hormon ini berjalan langsung ke kelenjar pituitari melalui
tangkai tipis yang menghubungkan kedua struktur tersebut. Di kelenjar hipofisis, TRH
merangsang hipofisis untuk mengeluarkan hormon perangsang tiroid (TSH). TSH,
pada gilirannya, mengalir melalui aliran darah ke kelenjar tiroid dan merangsangnya
untuk mengeluarkan hormon tiroid. Hal ini berlanjut sampai kadar hormon tiroid dalam
darah cukup tinggi. Pada saat itu, hormon tiroid memberikan umpan balik untuk
menghentikan hipotalamus mensekresi TRH dan hipofisis mensekresi TSH. Tanpa
rangsangan TSH, kelenjar tiroid berhenti mengeluarkan hormonnya. Akhirnya, kadar
hormon tiroid dalam darah mulai turun lagi. Ketika itu terjadi, hipotalamus melepaskan
TRH, dan putaran tersebut berulang.
 Umpan Balik Positif
Prolaktin adalah hormon endokrin nonsteroid yang disekresikan oleh kelenjar
hipofisis. Salah satu fungsi prolaktin adalah merangsang kelenjar susu ibu menyusui
untuk memproduksi ASI. Regulasi prolaktin pada ibu dikendalikan oleh umpan balik
positif yang melibatkan puting susu, hipotalamus, kelenjar pituitari, dan kelenjar
susu. Umpan balik positif dimulai saat bayi menyusu pada puting ibu. Impuls saraf dari
puting susu mencapai hipotalamus, yang merangsang kelenjar pituitari untuk
mengeluarkan prolaktin. Prolaktin mengalir dalam darah ke kelenjar susu dan
merangsangnya untuk memproduksi susu. Keluarnya ASI menyebabkan bayi terus
menyusu, yang menyebabkan lebih banyak prolaktin yang dikeluarkan dan lebih
banyak ASI yang diproduksi. Putaran umpan balik positif berlanjut hingga bayi
berhenti menyusu pada payudara.

L. Peran Kelenjar Hipotalamus Dan Kelenjar Hipofis


Hipotalamus adalah wilayah kecil yang terletak di dalam otak yang mengontrol banyak fungsi
tubuh, termasuk makan dan minum, fungsi dan perilaku seksual, tekanan darah dan detak jantung,
pemeliharaan suhu tubuh, siklus tidur-bangun, dan keadaan emosional (misalnya rasa takut, rasa
sakit, kemarahan, dan kesenangan). Hormon hipotalamus memainkan peran penting dalam
pengaturan banyak fungsi [Link] hipotalamus adalah bagian dari sistem saraf pusat,
hormon hipotalamus sebenarnya diproduksi oleh sel-sel saraf (yaitu neuron). Selain itu, karena
sinyal dari neuron lain dapat memodulasi pelepasan hormon hipotalamus, hipotalamus berfungsi
sebagai penghubung utama antara sistem saraf dan endokrin. Misalnya, hipotalamus menerima
informasi dari pusat otak yang lebih tinggi yang merespons berbagai sinyal
lingkungan. Akibatnya, fungsi hipotalamus dipengaruhi oleh lingkungan eksternal dan internal
serta umpan balik hormon. Rangsangan dari lingkungan luar yang secara tidak langsung
mempengaruhi fungsi hipotalamus antara lain siklus terang-gelap; suhu; sinyal dari anggota lain
dari spesies yang sama; dan berbagai macam rangsangan visual, pendengaran, penciuman, dan
sensorik. Komunikasi antara area otak lain dan hipotalamus, yang menyampaikan informasi
tentang lingkungan internal, melibatkan transmisi sinyal elektrokimia melalui molekul yang
disebut neurotransmiter (misalnya aspartat, dopamin, asam gamma-aminobutirat, glutamat,
norepinefrin, dan serotonin). Interaksi kompleks dari tindakan berbagai neurotransmiter mengatur
produksi dan pelepasan hormon dari hipotalamus.
Hormon hipotalamus dilepaskan ke pembuluh darah yang menghubungkan hipotalamus dan
kelenjar pituitari (yaitu, sistem portal hipotalamus-hipofisis). Karena umumnya mendorong atau
menghambat pelepasan hormon dari kelenjar hipofisis, hormon hipotalamus biasa disebut hormon
pelepas atau penghambat. Hormon pelepas dan penghambat utama meliputi yang berikut ini
Corticotropin-releasing hormone (CRH), yaitu bagian dari sistem hormon yang mengatur
metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak serta keseimbangan natrium dan air dalam tubuh
 Hormon pelepas gonadotropin (GnRH), yang membantu mengontrol fungsi seksual dan
reproduksi, termasuk kehamilan dan menyusui (yaitu produksi susu)
 Hormon pelepas tirotropin (TRH), yang merupakan bagian dari sistem hormon yang
mengendalikan proses metabolisme semua sel dan berkontribusi pada regulasi hormonal
laktasi
 Hormon pelepas hormon pertumbuhan (GHRH), yang merupakan komponen penting dari
sistem yang mendorong pertumbuhan organisme
 Somatostatin, yang juga mempengaruhi pertumbuhan tulang dan otot tetapi memiliki efek
berlawanan dengan GHRH
 Dopamin, suatu zat yang berfungsi terutama sebagai neurotransmitter tetapi juga memiliki
beberapa efek hormonal, seperti menekan laktasi hingga diperlukan setelah melahirkan.
Hipofisis (kadang juga disebut hipofisis) adalah kelenjar seukuran kelereng kecil dan terletak
di otak tepat di bawah hipotalamus. Kelenjar pituitari terdiri dari dua bagian: hipofisis anterior dan
hipofisis posterior.
A. Hipofisis Anterior

Hipofisis anterior menghasilkan beberapa hormon penting yang merangsang kelenjar


target (misalnya kelenjar adrenal, gonad, atau kelenjar tiroid) untuk menghasilkan
hormon kelenjar target atau secara langsung mempengaruhi organ target. Hormon
hipofisis termasuk hormon adrenokortikotropik (ACTH); gonadotropin; hormon
perangsang tiroid (TSH), juga disebut tirotropin; hormon pertumbuhan (GH); dan
prolaktin. Tiga hormon pertama—ACTH, gonadotropin, dan TSH—bekerja pada kelenjar
lain. Jadi, ACTH merangsang korteks adrenal untuk memproduksi hormon
kortikosteroid—terutama kortisol—serta sejumlah kecil hormon seks wanita dan
pria. Gonadotropin terdiri dari dua molekul, hormon luteinizing (LH) dan hormon
perangsang folikel (FSH). Kedua hormon ini mengatur produksi hormon seks wanita dan
pria di ovarium dan testis serta produksi sel germinal—yaitu sel telur (yaitu sel telur) dan
sel sperma (yaitu spermatozoa). TSH merangsang kelenjar tiroid untuk memproduksi dan
melepaskan hormon tiroid. Dua hormon hipofisis lainnya, GH dan prolaktin, secara
langsung mempengaruhi organ targetnya.
1. Hormon Pertumbuhan
GH adalah hormon hipofisis yang paling melimpah. Sesuai dengan namanya,
ia berperan penting dalam mengendalikan pertumbuhan dan perkembangan
tubuh. Misalnya, merangsang pertumbuhan linier tulang; mendorong pertumbuhan
organ dalam, jaringan lemak (yaitu adiposa), jaringan ikat, kelenjar endokrin, dan
otot; dan mengontrol perkembangan organ reproduksi. Oleh karena itu, kadar GH
dalam darah paling tinggi selama masa kanak-kanak dan pubertas dan menurun
setelahnya. Namun demikian, bahkan tingkat GH yang relatif rendah mungkin
masih penting di kemudian hari, dan kekurangan GH dapat menyebabkan beberapa
gejala penuaan. Selain perannya dalam meningkatkan pertumbuhan, GH
mempengaruhi metabolisme karbohidrat, protein, dan lemak (yaitu lipid). Dengan
demikian, GH meningkatkan kadar gula glukosa dalam darah dengan mengurangi
pengambilan glukosa oleh sel otot dan jaringan adiposa dan dengan meningkatkan
produksi glukosa (yaitu glukoneogenesis) dari molekul prekursor di hati. (Tindakan
ini berlawanan dengan hormon insulin, yang dibahas pada bagian “Pankreas dan
Hormonnya,” hal. 160.) GH juga meningkatkan penyerapan asam amino dari darah
ke dalam sel, serta penggabungan asam amino tersebut ke dalam sel. menjadi
protein, dan merangsang pemecahan lipid di jaringan adiposa. Untuk memperoleh
berbagai efek ini, GH memodulasi aktivitas berbagai organ target, termasuk hati,
ginjal, tulang, tulang rawan, otot rangka, dan sel adiposa. Untuk beberapa efek ini,
GH bekerja langsung pada sel target. Namun dalam kasus lain, GH bertindak secara
tidak langsung dengan merangsang produksi molekul yang disebut faktor
pertumbuhan mirip insulin 1 (IGF-1) di hati dan ginjal. Darah kemudian
mengangkut IGF-1 ke organ target, di mana ia berikatan dengan reseptor spesifik
pada sel. Interaksi ini kemudian dapat menyebabkan peningkatan produksi DNA
dan pembelahan sel yang mendasari proses pertumbuhan. Dua hormon hipotalamus
mengontrol pelepasan GH:
1. GHRH, yang merangsang pelepasan GH, dan
2. Somatostatin, yang menghambat pelepasan GH. Mekanisme pengaturan ini
juga melibatkan komponen umpan balik loop pendek, dimana GH bekerja
pada hipotalamus untuk merangsang pelepasan somatostatin. Selain itu,
pelepasan GH ditingkatkan oleh stres, seperti kadar gula darah rendah
(misalnya hipoglikemia) atau olahraga berat, dan permulaan tidur nyenyak.
Konsumsi alkohol akut dan kronis telah terbukti menurunkan kadar GH dan
IGF-1 dalam darah. Kedua efek tersebut telah diamati pada hewan dan juga
manusia. Pemberian alkohol akut juga mengurangi sekresi GH sebagai
respons terhadap rangsangan lain yang biasanya meningkatkan pelepasan
hormon. Efek buruk alkohol tersebut mungkin sangat berbahaya bagi
remaja, yang membutuhkan GH untuk perkembangan normal dan
pubertas. (Untuk informasi lebih lanjut mengenai dampak alkohol terhadap
pubertas dan pertumbuhan, lihat artikel oleh Dees dan rekannya, hal. 165–
169.)
2. Prolaktin
Bersama dengan hormon lain, prolaktin memainkan peran sentral dalam
perkembangan payudara wanita dan dalam inisiasi serta pemeliharaan laktasi
setelah melahirkan. Namun, fungsi prolaktin pada pria belum dipahami dengan
baik, meskipun pelepasan prolaktin yang berlebihan dapat menyebabkan
berkurangnya gairah seks (yaitu libido) dan impotensi. Beberapa faktor mengontrol
pelepasan prolaktin dari hipofisis anterior. Misalnya, prolaktin dilepaskan dalam
jumlah yang meningkat sebagai respons terhadap peningkatan kadar estrogen
dalam darah yang terjadi selama kehamilan. Pada wanita menyusui, prolaktin
dilepaskan sebagai respons terhadap isapan bayi. Beberapa faktor pelepas dan
penghambat dari hipotalamus juga mengontrol pelepasan prolaktin. Faktor yang
paling penting adalah dopamin, yang memiliki efek penghambatan. Konsumsi
alkohol oleh wanita menyusui dapat mempengaruhi laktasi baik melalui
pengaruhnya terhadap pelepasan prolaktin dan oksitosin (lihat bagian berikut) dan
melalui pengaruhnya terhadap kelenjar penghasil susu (yaitu payudara) dan
komposisi susu. (Untuk informasi lebih lanjut mengenai efek alkohol terhadap
laktasi, lihat artikel oleh Heil dan Subramanian, hal. 178–184.)
B. Hipofisis Posterior

Hipofisis posterior tidak menghasilkan hormonnya sendiri; sebaliknya, ia menyimpan


dua hormon—vasopresin dan oksitosin—yang diproduksi oleh neuron di
hipotalamus. Kedua hormon tersebut berkumpul di ujung neuron, yang terletak di
hipotalamus dan meluas ke kelenjar hipofisis posterior. Vasopresin, juga disebut arginine
vasopressin (AVP), memainkan peran penting dalam perekonomian air dan elektrolit
tubuh. Dengan demikian, pelepasan AVP mendorong reabsorpsi air dari urin di
ginjal. Melalui mekanisme ini, tubuh mengurangi volume urin dan menghemat
air. Pelepasan AVP dari hipofisis dikendalikan oleh konsentrasi natrium dalam darah serta
volume darah dan tekanan darah. Misalnya, tekanan darah tinggi atau peningkatan volume
darah menyebabkan terhambatnya pelepasan AVP. Akibatnya, lebih banyak air dikeluarkan
bersama urin, dan tekanan darah serta volume darah berkurang. Alkohol juga telah terbukti
menghambat pelepasan AVP. Sebaliknya, obat-obatan tertentu lainnya (misalnya nikotin
dan morfin) meningkatkan pelepasan AVP, begitu pula nyeri hebat, ketakutan, mual, dan
anestesi umum, sehingga menurunkan produksi urin dan retensi air.
Oksitosin, hormon kedua yang disimpan di kelenjar hipofisis posterior, merangsang
kontraksi rahim saat melahirkan. Pada wanita menyusui, hormon ini mengaktifkan
pengeluaran ASI sebagai respons terhadap isapan bayi (yaitu apa yang disebut refleks let-
down).
M. Gangguan Atau Penyakit Dalam Sistem Endokrin
Ada berbagai jenis penyakit pada sistem endokrin. Diabetes adalah penyakit pada sistem
endokrin yang paling umum didiagnosis. Gangguan endokrin lainnya termasuk:
 Insufisiensi adrenal Penyakit ini disebabkan karena kelenjar adrenal merilis terlalu sedikit
hormon kortisol dan kadang-kadang, aldosteron. Gejala termasuk kelelahan, sakit perut,
dehidrasi, dan perubahan kulit. Penyakit Addison adalah jenis insufisiensi adrenal.
 Penyakit Cushing Kelebihan hormon kelenjar hipofisis menyebabkan kelenjar adrenal
terlalu aktif. Kondisi serupa disebut sindrom Cushing dapat terjadi pada manusia, terutama
anak-anak, yang mengkonsumsi obat kortikosteroid.
 Gigantisme (akromegali) dan masalah hormon pertumbuhan lainnya Jika kelenjar pituitari
memproduksi hormon pertumbuhan terlalu banyak, tulang anak dan bagian tubuh dapat
tumbuh dengan cepat. Jika kadar hormon pertumbuhan terlalu rendah, seorang anak dapat
mengalami pertumbuhan yang lambat. 14
 Hipertiroidisme Kelenjar tiroid Menghasilkan terlalu banyak hormon tiroid yang
menyebabkan penurunan berat badan, denyut jantung yang cepat, berkeringat, dan gelisah.
Penyebab paling umum untuk tiroid yang terlalu aktif adalah gangguan autoimun yang
disebut penyakit Grave.
 Hipotiroidisme Kelenjar tiroid tidak menghasilkan hormon tiroid yang cukup,
menyebabkan kelelahan, sembelit, kulit kering, dan depresi. Kelenjar kurang aktif dapat
menyebabkan perkembangan melambat pada anak-anak. Beberapa jenis hipotiroidisme
hadir pada saat lahir.
 Hipopituitarisme Rilis kelenjar hipofisis sedikit atau tidak ada hormon. Ini mungkin
disebabkan oleh sejumlah penyakit yang berbeda. Wanita dengan kondisi ini mungkin
berhenti mendapatkan siklus menstruasi mereka.
 Multiple Neoplasia Endokrin I dan II (MEN I dan II MEN) Penyakit ini disebabkan kondisi
genetik yang diturunkan melalui keluarga. Mereka menyebabkan tumor dari paratiroid,
adrenal, dan kelenjar tiroid, menyebabkan kelebihan hormon.
 Sindrom ovarium polikistik (PCOS) Kelebihan androgen mengganggu perkembangan telur
dan pembebasan mereka dari indung telur perempuan. PCOS adalah penyebab utama
infertilitas.
 Pubertas prekoks (dini) Abnormal pubertas dini yang terjadi ketika kelenjar memberitahu
tubuh untuk melepaskan hormon seks terlalu cepat dalam hidup ( (Evelyn C. 2011).

N. Klasifikasi Hormon
Klasifikasi hormon berdasarkan strukturnya dapat dibedakan menjadi hormon yang larut di
dalam air atau yang larut dalam lemak.
 Hormon larut dalam lemak
a. Sebuah molekul hormone larut lemak yang bebas berdifusi dari darah melalui cairan
intersisiel dan melalui lipid bilayer (lapisan ganda) dari membrane plasma kedalam sel
b. Jika sel adalah sel target, hormon mengikat dan mengaktivasi reseptor terletak di sitosol
atau nucleus. mengaktifkan reseptor-hormon yang kompleks kemudian mengubah
ekspresi gen: Hal ini membuat gen yang spesifik dari DNA nuklir menjadi aktif atau
tidak aktif.
c. Karena DNA ditranskripsi, messenger RNA (mRNA) membentuk yang baru,
meninggalkan nukleus, dan memasuki sitosol. Di sana, hal itu mesintesis protein baru,
sering kali suatu enzim, di ribosom.
d. Protein baru mengubah aktivitas sel dan menyebabkan respon tipikal hormon.
 Hormon larut dalam air
Karena amine, peptida, protein, dan hormon eicosanoid merupakan tidak lemaklarut,
mereka tidak dapat menyebar melalui lapisan ganda lipid membran plasma dan mengikat
reseptor di sel target. Sebaliknya, hormon yang larut dalam air berikatan dengan reseptor yang
menonjol dari permukaan sel target. Reseptor merupakan transmembran bagian integral
protein dalam membran plasma. Ketika larut dalam air hormon berikatan dengan reseptornya
di permukaan luar dari membran plasma, ia bertindak sebagai Messenger pertama. Messenger
pertama (Hormon) kemudian menyebabkan produksi messenger kedua di dalam sel, di mana
hormon spesifik stimulasi berlangsung. Salah satu second messenger yang sering adalah AMP
siklik (cAMP). neurotransmiter, neuropeptida, dan beberapa transduksi sensori mekanisme
juga bertindak melalui Sistem second messenger.
1. Hormon larut dalam air (messenger pertama) berdifusi dari darah melalui cairan interstitial
dan kemudian mengikat reseptor pada permukaan bagian luar membran plasma target sel.
Kompleks hormon-reseptor mengaktifkan membran protein yang disebut protein G.
Protein G yang mengaktifkan pada gilirannya mengaktifkan adenylate cyclase.
2. Adenylate cyclase mengubah ATP menjadi AMP cyclic (cAMP). Karena aktif enzim site
di atas permukaan bagian dalam dari membran plasma, reaksi tersebut terjadi di sitosol dari
sel.
3. Cyclic AMP (mesegger kedua) mengaktifkan satu atau lebih protein kinase, yang mungkin
bebas dalam sitosol atau terikat pada membran plasma. Sebuah protein kinase adalah enzim
yang phosphorylates (gugus fosfat) protein seluler lainnya (seperti enzim). Donor fosfat
grup adalah ATP, yang diubah menjadi ADP
4. Activated protein kinase memfosforilasi satu atau lebih sel protein. Fosforilasi
mengaktifkan beberapa protein dan menginaktivasi lain, bukan seperti menyalakan sebuah
tombol aktif atau tidak aktif.
5. Protein terfosforilasi pada gilirannya menyebabkan reaksi yang menghasilkan respon
fisiologis tubuh. Protein kinase yang berbeda ada dalam sel target yang berbeda dan dalam
organel yang berbeda dari sel target yang sama. Dengan demikian, salah satu protein kinase
kekuatan memicu terjadinya sintesis glikogen, yang kedua dapat menyebabkan kerusakan
dalam trigliserida, ketiga dapat meningkatkan sintesis protein, dan lain sebagainya. Seperti
tercantum dalam langkah 4, fosforilasi oleh protein kinase juga dapat menghambat protein
tertentu. Sebagai contoh, beberapa kinase melepaskan epinefrin ketika berikatan sel hati
menonaktifkan enzim yang diperlukan untuk glikogen sintesis.
6. Setelah periode singkat, enzim yang disebut phosphodiesterase menginaktivasi cAMP.
Dengan demikian, sel respon akan dinonaktifkan kecuali molekul hormon baru lainnya
yang selanjutnya untuk mengikat reseptor dalam membran plasma.

O. Peran Reseptor Hormon


Walaupun hormon beredar ke seluruh tubuh dalam darah, hal itu hanya memberikan efek sel
target yang spesifik. Hormon, seperti neurotransmitter, mempengaruhi sel target mereka dengan
mengikat kimia reseptor protein yang spesifik. Hanya sel target untuk diberikan hormon memiliki
reseptor yang mengikat dan mengenali hormon. Sebagai contoh, thyroid-stimulating hormone
(TSH) mengikat reseptor pada sel-sel kelenjar tiroid, tetapi tidak mengikat sel-sel ovarium karena
sel-sel ovarium tidak memiliki reseptor TSH. Reseptor, seperti protein seluler lainnya, yang terus-
menerus disintesis dan rusak. Umumnya, sel target memiliki 2000-100.000 reseptor untuk hormon
tertentu.
Jika hormon yang ada lebih, jumlah reseptor sel target dapat menurun yang disebut efek down-
regulasi. Misalnya, ketika tertentu selsel testis yang terkena konsentrasi tinggi luteinizing hormone
(LH), jumlah reseptor LH menurun. Downregulation membuat sel target kurang sensitif terhadap
hormon. Sebaliknya, ketika hormon kekurangan, jumlah reseptor mungkin meningkat. Fenomena
ini, yang dikenal sebagai up-regulasi, membuat Target sel lebih sensitif terhadap hormon. Hormon
sintetis yang memblokir reseptor hormon bisa sebagai obat. Sebagai contoh, RU486
(mifepristone), yang digunakan untuk menginduksi aborsi, mengikat reseptor progesteron
(hormon seks wanita) dan mencegah progesteron dari mengerahkan efek normal, dalam hal ini
mempersiapkan lapisan rahim untuk implantasi. Ketika RU486 diberikan kepada wanita hamil,
kondisi rahim yang dibutuhkan untuk memelihara suatu embrio tidak dipertahankan,
perkembangan embrio berhenti, dan embrio terkelupas bersama dengan lapisan rahim. contoh ini
menggambarkan prinsip endokrin yang penting: Jika hormon dicegah dari berinteraksi dengan
reseptornya, hormon tidak dapat melakukan fungsi normal.

P. Proses Sirkulasi Dan Hormon Lokal


Sebagian besar circulating hormon endokrin beredar dari sel-sel sekretori menuju cairan
interstitial dan kemudian ke dalam darah. Hormon lain, disebut local hormon, bertindak secara
lokal pada sel tetangga atau pada sel yang sama ataupun yang disekresikan mereka tanpa terlebih
dahulu memasuki aliran darah. local hormone yang bekerja pada sel-sel tetangga disebut
paracrines dan mereka yang bekerja pada sel yang sama yang dikeluarkan mereka disebut
autocrines. Salah satu contoh dari hormon lokal adalah interleukin-2 (IL-2), yang dilepaskan oleh
sel T helper (sejenis sel darah putih) selama respon imun. IL-2 membantu mengaktifkan sel-sel
kekebalan tubuh lain di dekatnya, sebuah efek parakrin. Tetapi juga bertindak sebagai autokrin
dengan merangsang sel yang sama yang dirilis untuk berkembang biak. Tindakan ini menghasilkan
lebih banyak pembantu Sel T yang dapat mengeluarkan lebih banyak IL-2 dan dengan demikian
memperkuat respon imun.
Contoh lain dari hormon lokal gas nitric oxide (NO), yang dilepaskan oleh sel endotel yang
melapisi pembuluh darah. NO menyebabkan relaksasi dari serat otot di dekatnya halus dalam
pembuluh darah, yang pada gilirannya menyebabkan vasodilatasi (kenaikan diameter pembuluh
darah). Efek dari berbagai vasodilatasi tersebut dari penurunan tekanan darah ke ereksi penis di
lakilaki. Obat Viagra (sildenafil) meningkatkan efek merangsang oleh nitrit oksida dalam penis.
Local hormone biasanya tidak aktif dengan cepat; beredar hormon dapat berlamalama dalam darah
dan memberi efek mereka untuk beberapa menit atau kadangkadang selama beberapa jam. Pada
waktu, hormon beredar mengalami inaktivasi oleh hati dan diekskresikan oleh ginjal. Di kasus
ginjal atau gagal hati, tingkat berlebihan hormon dapat bertambah dalam darah.

Q. Contoh Sekresi Hormon


Pelepasan hormon sebagian besar terjadi dalam singkat, dengan sedikit atau bahkan tanpa
sekresi. Ketika distimulasi, kelenjar endokrin akan melepaskan hormon dalam lebih sering,
sehingga peningkatan konsentrasi hormon dalam darah. Dalam ketiadaan stimulasi,tingkat hormon
darah menurun. Kontrol sekresi biasanya mencegah kelebihan atau kekurangan produksi. dari
setiap hormon yang diproduksi untuk membantu mempertahankan homeostasis. Sekresi hormon
diatur oleh
1. sinyal dari saraf sistem,
2. Perubahan kimia dalam darah, dan
3. Hormon lainnya.
Sebagai contoh, impuls saraf ke medula adrenal mengatur pelepasan epinefrin; Tingkat Ca2
dalam darah mengatur sekresi hormon paratiroid; dan hormon dari anterior hipofisis
(adrenocorticotropic hormone) merangsang pelepasan kortisol oleh korteks adrenal. Sebagian
besar Sistem peraturan hormonal bekerja melalui umpan balik negatif, tetapi beberapa beroperasi
melalui umpan balik positif. Sebagai contoh, selama melahirkan, hormon oksitosin merangsang
kontraksi rahim, dan kontraksi rahim pada gilirannya merangsang lebih oksitosin direlease, efek
umpan balik positif.

R. Patofisiologi Hormon
Hormon berperan mengatur dan mengontrol fungsi organ. Pelepasannya bergantung pada
perangsangan atau penghambatan melalui faktor yang spesifik. Hormon dapat bekerja di dalam sel
yang menghasilkan hormone itu sendiri (autokrin), mempengaruhi sel sekirtar (parakrin), atau
mencapai sel target di organ lain melalui darah (endokrin). Di sel target, hormon berikatan dengan
reseptor dan memperlihatkan pengaruhnya melalui berbagai mekanisme transduksi sinyal
[Link] ini biasanya melalui penurunan faktor perangsangan dan pengaruhnya menyebabkan
berkurangnya pelepasan hormon tertentu, berarti terdapat siklus pengaturan dengan umpan balik
negatif. Pada beberapa kasus, terdapat umpan balik positif (jangka yang terbatas), berarti hormon
menyebabkan peningkatan aktifitas perangsangan sehingga meningkatkan pelepasannya. Istilah
pengontrolan digunakan bila pelepasan hormon dipengaruhi secara bebas dari efek hormonalnya.
Beberapa rangsangan pengontrolan dan pengaturan yang bebas dapat bekerja pada kelenjar
penghasil hormon. Berkurangnya pengaruh hormon dapat disebabkan oleh gangguan sintesis dan
penyimpanan hormon. Penyebab lain adalah gangguan transport di dalam sel yang mensintesis
atau gangguan pelepasan. Defisiensi hormon dapat juga terjadi jika kelenjar hormon tidak cukup
dirangsang untuk memenuhi kebutuhan tubuh, atau jika sel penghasil hormon tidak cukup sensitive
dalam bereaksi terhadap rangsangan, atau jika sel panghasil hormon jumlahnya tidak cukup
(hipoplasia, aplasia).
Berbagai penyebab yang mungkin adalah penginaktifan hormon yang terlalu cepat atau
kecepatan pemecahannya meningkat. Pada hormon yang berikatan dengan protein plasma, lama
kerja hormon bergantung pada perbandingan hormon yang berikatan. Dalam bentuk terikat,
hormon tidak dapat menunjukkan efeknya, pada sisi lain, hormon akan keluar dengan dipecah atau
dieksresi melalui ginjal. Beberapa hormon mula-mula harus diubah menjadi bentuk efektif di
tempat kerjanya. Namun, jika pengubahan ini tidak mungkin dilakukan, misalnya defek enzim,
hormon tidak akan berpengaruh. Kerja hormon dapat juga tidak terjadi karena target organ tidak
berespons (misal, akibat kerusakan pada reseptor hormone atau kegagalan transmisi intra sel) atau
ketidakmampuan fungsional dari sel atau organ target .
Penyebab meningkatnya pengaruh hormon meliputi, yang pertama peningkatan pelepasan
hormon. Hal ini dapat disebabkan oleh pengaruh rangsangan tunggal yang berlebihan. Peningkatan
sensitivitas, atau terlau banyak jumlah sel penghasil hormon (hyperplasia, adenoma). Kelebihan
hormon dapat juga disebabkan oleh pembentukan hormon pada sel tumor yang tidak
berdiferensiasi diluar kelenjar hormonnya (pembentukan hormon ektopoik).
Peningkatan kerja hormon juga diduga terjadi jika hormone dipecah atau diinaktifkan terlalu
lambat, missal pada gangguan inaktivasi organ (ginjal atau hati). Pemecahan dapat diperlambat
dengan meningkatnya hormon ke protein plasma, tetapi bagian yang terikat dengan protein.

S. Kelainan-Kelainan Pada Sistem Hormon


 Penyakit Addison
Penyakit di mana terjadi sekresi yang berkurang dari glukokortikoid. Hal inidapat terjadi
misalnya Karena kelenjar adrenal terkena infeksi atau oleh sebabautoimun. Gejala-
gelajanya berupapa.
a. Berkuranganya voulme dan tekanan darah karena turunnya kadar Na dan volume air dari
cairan tubuh.
b. Hipoliglikaemia dan turunnya daya tahan tubuh terhadap stres,sehingga penderita mudah
shock dan terjadi kematian hanya karenastres kecil saja misalnya flu atau kelaparan.
c. Lesumental dan fisik
 Sindrom CusingKumpulan gejala-gejala penyakit yang disebabkan oleh sekresi yang
berlebihandari glukokortikoid seperti tumor adrenal dan hipofisis. Juga dapat
disebabkanoleh pemberian obat-obatan kortikosteroid yang berlebihan Gejala-gejalanya
berupa
[Link]-otot mengecil dan menjadi lemah karena katabolisme protein
[Link]
[Link] yang sulit sembuh
[Link] mental misalnya euphoria (terasa segan)
 Sindrom Adrenogenital
Kelainan dimana terjadi kekurangan produksi glukokortikoid yang biasanyaakibat
kekurangan enzim pembentuk glukokortikoid pada kelenjar [Link] kadar
ACTH meningkat dan zona retikularis diransang untukmensekresi androgen yang
menyebabkan timbulnya tanda-tanda kelainansekunder pria pada seseorang wanita yang
disebut firilisme yaitu timbulnya janggut dan distribusi rambut seperti pria, otot-otot tubuh
seperti pria, perubahansuara, payudara mengecil, klitoris membesar seperti penis dan
[Link] pria dibawah umur timbul pubertas perkoks, yaitu
timbulnya tanda-tandakelamin sekunder dibawah umur. Pada pria dewasa gejala-gejala
diatas tertutupoleh tanda-tanda kelamin sekunder normal yang disebabkan oleh
[Link] bila timbul sekresi yang berlebihan dari estrogen dan progesteron
timbultanda-tanda kelamin sekunder wanita antara lain yaitu ginaekomastia
(payudaramembesar seperti pada wanita).
 Peokromositosoma
Tumor adrenal medula yang menyebabkan hipersekresi adrenalin dan oradrenalin dengan
akibat sebagai berikut:
a. Basal metabolisme meningkat.
b. Glokosa darah meningkat
b. Jantung berdebar
c. Tekanan darah meninggi
d. Berkurangnya fungsi saluran pencernaan
Keringat pada telapak tangan Kesemuanya menyebabkan berat badan menurun dan tubuh
[Link] melalui operasi
 Struma
Pembengkakan dari kelenjar tiroid yang menimbulkan pembenjolan pada leher bagian
depan. Penyebab struma antara lain, peradangan, tumor ataupun difesiensiyodium. Pada
difisiensi yodium, stroma terjadi kerena T dan T menurun, kadarTHSH meningkat, hal ini
merangsang sel-sel folikel untuk hipertropi danhyperplasia
 Hipotiroidea
Keadaan dimana terjadi kekurangan hormone tiroid. Bila terjadi pada masa bayidan anak,
hipotiroidea menimbulkan kretisme yaitu tubuh menjadi pendek karena pertumbuhan
tulang dan otot terhambat, disertai kemunduran mental karena sel-sel otak kurang
berkembang. Bila terjadi pada orang dewasa hipotiroideamenimbulkan miksedema.
Gejala-gejala berupa kulit tebal, muka bengkak, rambutkasar, mudah gemuk, lemah,
denyut jantung lambat, lambat fisik dan [Link] dapat terjadi bila terdapat
defisiensi yodium pada makanan. Hal inidapat dihindari dengan komsumsi garam
beriodium
 Hiperteroidea
Keadaan dimana hormone tiroid disekresikan melebihi kadar normal. Gejala-gejalanya
berupa berat badab menurun, gemetaran, berkeringat, dan nafsu makan besar
 Diabetes militus
Adalah penyakit yang disebabkan karena kelainan hormone yangmengakibatkan sel-sel
dalam tubuh tidak dapat menyerap glukosa dari [Link] ini timbul ketika did slam
darah tidak terdapat cukup insulin atau ketikasel-sel tubuh tidak dapat bereaksi secara
normal terhadap insulin. Penderitadiabetes mellitus ini dapat meninggal karena penyakit
yang di deritanya ataukarena komplikasi yang di timbulkan oleh penyakit ini, misalnya
penyakit ginjal,gangguan jantung, dan gangguan [Link] dua macam tipe diabetes
mellitus :
a. Tipe 1 (insulin dependent) diabetes yang timbul akibat dari kerusakan sel-sel beta
pancreas karena infeksi virus, atau kerusakan gen. diabetes tipe 1ini biasanya timbul
sebelum penderita berusia 15 tahun. Penderitamembutuhkan suplamen insulin yang di
berikan dengan cara penyuntikan.
b. Tipe 2 timbul karena sel-sel tubuh tidak mampuh bereaksi terhadap insulinwalaupun sel-
sel beta pancreas memproduksi cukup insulin. Penyakit ini bersifat menurun dan
merupakan akibat kerusakan gen yang mengkodereseptor insulin pada sel

Anda mungkin juga menyukai