PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)
MELALUI CANVA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI SMAN 4 SIGI
TAHUN AJARAN 2024/2025
PENELITIAN TINDAKAN KELAS
OLEH :
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan
keterampilan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan. Dalam proses
pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan memiliki dampak signifikan terhadap
pemahaman dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, pengembangan metode
pembelajaran yang inovatif dan efektif menjadi suatu kebutuhan mendesak.
Salah satu metode pembelajaran yang telah terbukti efektif adalah Project-Based
Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Proyek. PBL tidak hanya memberikan
pengetahuan teoritis kepada siswa, tetapi juga mengintegrasikannya dalam konteks
proyek nyata, memberikan pengalaman praktis yang lebih mendalam. PBL mendorong
keterlibatan siswa, pemecahan masalah, dan pemikiran kritis, yang semuanya merupakan
keterampilan penting untuk keberhasilan di dunia nyata.
Seiring dengan perkembangan teknologi, integrasi teknologi dalam pembelajaran
menjadi semakin penting. Canva, sebagai platform desain grafis online yang user-
friendly, memberikan peluang untuk mengintegrasikan elemen visual yang menarik ke
dalam pembelajaran. Dalam mata pelajaran sejarah, di mana visualisasi dan narasi
memiliki peran krusial, penggunaan Canva dapat meningkatkan daya tarik dan
pemahaman siswa terhadap konten sejarah.
Dalam konteks SMAN 4 SIGI, di mana mata pelajaran sejarah untuk kelas XI
diampu, penerapan model PBL melalui Canva diharapkan dapat meningkatkan hasil
belajar siswa. Dengan menyusun proyek-proyek berbasis sejarah yang menarik melalui
Canva, siswa dapat lebih aktif terlibat dalam pembelajaran, meningkatkan kreativitas
mereka, dan memperdalam pemahaman terhadap peristiwa sejarah.
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan model PBL
melalui Canva dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas
XI di SMAN 4 SIGI. Dengan memahami dampak positif dari metode pembelajaran ini,
diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas
pendidikan dan pemahaman siswa terhadap sejarah.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini mencoba menjawab beberapa
pertanyaan pokok, yaitu:
1. Bagaimana penerapan model Project-Based Learning (PBL) melalui platform
Canva dapat mempengaruhi keterlibatan siswa dalam pembelajaran sejarah kelas
XI di SMAN 4 SIGI?
2. Sejauh mana penggunaan Canva dalam konteks PBL dapat meningkatkan
kreativitas siswa dalam menyusun proyek-proyek sejarah?
3. Apakah penerapan model PBL melalui Canva memberikan dampak positif
terhadap pemahaman siswa terhadap materi sejarah?
4. Bagaimana persepsi siswa terhadap efektivitas PBL melalui Canva sebagai
metode pembelajaran dalam mata pelajaran sejarah?
5. Apakah terdapat perbedaan signifikan dalam hasil belajar siswa sejarah sebelum
dan setelah menerapkan model PBL melalui Canva?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Menganalisis dampak penerapan model Project-Based Learning (PBL) melalui
platform Canva terhadap keterlibatan siswa pada pembelajaran mata pelajaran
sejarah kelas XI di SMAN 4 SIGI.
2. Menilai sejauh mana penggunaan Canva dalam konteks PBL dapat meningkatkan
tingkat kreativitas siswa dalam menyusun proyek-proyek sejarah.
3. Mengukur pengaruh positif penerapan PBL melalui Canva terhadap pemahaman
siswa terhadap materi sejarah kelas XI di SMAN 4 SIGI.
4. Menganalisis persepsi siswa terhadap efektivitas PBL melalui Canva sebagai
metode pembelajaran dalam mata pelajaran sejarah.
5. Menilai perbedaan signifikan dalam hasil belajar siswa sejarah sebelum dan
setelah penerapan model PBL melalui Canva di SMAN 4 SIGI.
1.4 Manfaat Penelitian
1. Bagi Guru:
Pengembangan Metode Pembelajaran: Memberikan wawasan bagi guru
dalam mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan menarik,
khususnya melalui penerapan PBL dan penggunaan platform Canva.
Peningkatan Keterlibatan Siswa: Memungkinkan guru untuk memahami
cara meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, yang dapat
memberikan dampak positif pada motivasi dan hasil belajar mereka.
Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran: Mendorong guru untuk
mengintegrasikan teknologi, seperti Canva, sebagai alat untuk meningkatkan
efektivitas pembelajaran dan memfasilitasi pemahaman siswa.
2. Bagi Siswa:
Peningkatan Kreativitas: Memberikan kesempatan kepada siswa untuk
mengembangkan kreativitas mereka melalui penyusunan proyek-proyek sejarah
menggunakan platform Canva.
Pemahaman yang Mendalam: Memfasilitasi pemahaman siswa terhadap
materi sejarah dengan menyajikannya melalui metode PBL, yang memungkinkan
mereka terlibat secara aktif dalam pembelajaran.
Persiapan untuk Tantangan Masa Depan: Membantu siswa
mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pemikiran kritis, dan
keterampilan teknologi yang dapat membantu persiapan mereka untuk tantangan
di dunia nyata.
3. Bagi Sekolah:
Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Menyediakan kontribusi positif dalam
peningkatan kualitas pembelajaran di SMAN 4 SIGI, dengan mendorong inovasi
dan integrasi teknologi.
Penyediaan Data untuk Pengembangan Selanjutnya: Memberikan data dan
informasi yang dapat digunakan oleh pihak sekolah untuk mengembangkan
strategi pembelajaran yang lebih baik di masa depan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori
1. Problem Based Learning
Problem Based Learning dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan
pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu bentuk model yang
dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme Piaget dan Vygotsky.
Konstruktivisme menekankan pada pengetahuan sebagai hasil konstruksi manusia
melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan
mereka (Trianto, 2007). Menurut Ridwan Abdullah Sani (2014:127), pembelajaran
ini akan dapat membentuk kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking) dan
meningkatkan kemampuan peserta didik berpikir kritis, sejalan dengan pendapat
Daryanto (2014:30), bahwa PBL dapat mengembangkan keterampilan berpikir
tingkat tinggi, karena melalui pembelajaran berbasis masalah peserta didik belajar
menyelesaikan permasalahan dalam dunia nyata (real world problem) secara
terstruktur untuk mengonstruksi pengetahuan peserta didik.
Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan
pada masalah (problem) sebagai titik awal mendapatkan atau mengintegrasikan
pengetahuan (knowledge) baru. (Savery & Duffy, 1995). Fatade et al (2014:3)
menyatakan bahwa “the problem based learning is one of the modern model of
teaching that allows each learner to construct his/her own schema”. Maksud dari
pendapat tersebut bahwa problem based learning adalah salah satu model pengajaran
modern yang memungkinkan setiap peserta didik membangun skema pengetahuan
mereka sendiri. Problem based learning merupakan model pembelajaran yang
menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik belajar dalam
kelompok untuk memecahkan masalah dari permasalahan dunia nyata dan mengikat
peserta didik pada rasa ingin tahu terhadap pembelajaran, sehingga mereka memiliki
model belajar sendiri (Kemendikbud, 2014:39). Sejalan dengan hal tersebut Suharia,
Lisdianab, & Widiyaningrum (2013:10) menyatakan bahwa PBL merupakan
pembelajaran yang menghadapkan peserta didik pada masalah dunia nyata untuk
memulai pembelajaran.
Problem based learning merupakan salah satu model pembelajaran kontekstual
menekankan pada proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk
menemukan materi sendiri, artinya proses belajar berorientasi pada pengalaman
langsung dari kehidupan sehari-hari peserta didik di lingkungan sosial. Model
pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang
mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan masalah, melalui
pengajuan situasi kehidupan nyata yang autentik dan bermakna, yang mendorong
siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri, dengan menghindari jawaban
sederhana, serta memungkinkan adanya berbagai macam solusi dari situasi tersebut
(Krisna, 2013:2). Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) juga
menekankan pemecahan masalah dengan pendekatan pembelajaran peserta didik
pada masalah autentik. Peserta didik diupayakan dapat menyusun pengetahuannya
sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiry,
memandirikan peserta didik dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Arends,
1997:13)
Berdasarkan beberapa pendapat yang disampaikan diatas, dapat disimpulkan
bahwa PBL adalah model kontekstual berbasis masalah yang memungkinkan peserta
didik untuk mengeksplorasi setiap kemungkinan penyebab maupun dampak serta
solusi permasalahan dengan terlibat aktif pada persoalan yang nyata, sehingga
peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memiliki
kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam dunia nyata. Tujuan
Problem Based Learning Hosnan (2014:299), menyatakan bahwa tujuan utama
problem based learning bukanlah penyampaian sejumlah besar pengetahuan kepada
peserta didik, melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan
kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan kemampuan peserta
didik untuk secara aktif membangun pengetahuan sendiri.
Keunggunlan dan kelemahan Model Pembelajaran Problem Based Learning
Keunggulan Model Pembelajaran Problem Based Learning adalah : 1) Merupakan
teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran, 2) Menantang
kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menemukan
pengetahuan baru bagi peserta didik, 3) Meningkatkan aktivitas pembelajaran bagi
peserta didik, 4) Membantu peserta didik mentransfer pengetahuan mereka untuk
memahami masalah dalam kehidupan nyata, 5) Membantu peserta didik untuk
mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran
yang mereka lakukan. Sedangkan kelemahan Model Pembelajaran Problem Based
Learning adalah: 1) Ketika peserta didik tidak memiliki minat atau kepercayaan
bahwa masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, mereka akan merasa enggan untuk
mencoba, 2) Keberhasilan pembelajaran melalui problem solving membutuhkan
cukup waktu untuk persiapan, 3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha
untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, mereka tidak akan belajar apa
yang mereka ingin pelajari (Hamruni, 2012:108).
Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran PBL Tabel 1 Sintak Model
Pembelajaran Problem Based Learning:
Tahap 1 Mengorientasikan peserta didik terhadap masalah. Guru menjelaskan
tujuan pembelajaran dan sarana atau logistik yang dibutuhkan.
Tahap 2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar. Guru membantu peserta
didik mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan
masalah yang sudah diorientasikan pada tahap sebelumnya.
Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Guru
mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan
melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan kejelasan yang diperlukan untuk
menyelesaikan masalah.
Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu peserta
didik untuk berbagi tugas dan merencanakan karya yang sesuai sebagai hasil
pemecahan masalah dalam bentuk laporan.
Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru
membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses
pemecahan masalah yang dilakukan. Sumber : Nur, 2011
2. Penggunaan Canva Dalam Pembelajaran
a. Pengenalan Canva dalam Konteks Pendidikan:
Canva merupakan platform desain grafis online yang menyediakan berbagai fitur
dan alat untuk membuat presentasi, poster, dan materi visual lainnya dengan mudah.
Dalam konteks pendidikan, Canva dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk
meningkatkan aspek visual dalam proses pembelajaran. Canva menyediakan
template yang menarik dan mudah disesuaikan, memungkinkan guru dan siswa untuk
menciptakan materi pembelajaran yang lebih atraktif.
b. Fitur-fitur Canva yang Mendukung Pembelajaran:
Template Pendidikan: Canva menyediakan berbagai template yang dapat
disesuaikan untuk keperluan pendidikan, termasuk pembelajaran sejarah. Ini
dapat mempermudah guru dalam menyusun materi pembelajaran yang sesuai
dengan kebutuhan dan konteks kelas.
Elemen Desain yang Interaktif: Penggunaan elemen-elemen desain yang
interaktif, seperti grafik, ikon, dan gambar, dapat meningkatkan daya tarik
materi pembelajaran. Hal ini dapat membantu siswa untuk lebih mudah
memahami konsep sejarah yang kompleks.
Kemudahan Kolaborasi: Canva memungkinkan kolaborasi antara guru dan
siswa dalam penyusunan proyek-proyek. Guru dapat memberikan umpan
balik secara real-time, dan siswa dapat berkontribusi secara aktif dalam
penyusunan materi pembelajaran.
c. Efektivitas Penggunaan Canva dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa:
Visualisasi Konsep Sejarah: Dengan Canva, siswa dapat menggambarkan
konsep sejarah secara visual, memungkinkan mereka untuk mengasimilasi
informasi dengan cara yang lebih kreatif dan mendalam.
Personalisasi Pembelajaran: Canva memberikan kebebasan kepada siswa
untuk mengekspresikan ide dan pandangan mereka melalui desain visual. Hal
ini dapat meningkatkan rasa memiliki siswa terhadap proyek pembelajaran.
Motivasi Siswa: Menggunakan platform yang modern dan menarik seperti
Canva dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat lebih aktif dalam
pembelajaran, terutama dalam mata pelajaran sejarah yang mungkin dianggap
kompleks.
d. Studi-Studi Kasus dan Implementasi Sebelumnya:
Pembahasan juga mencakup studi-studi kasus atau implementasi Canva dalam
konteks pendidikan dan mata pelajaran sejarah. Memaparkan hasil penelitian
terdahulu atau pengalaman implementasi Canva dapat memberikan dasar empiris
yang kuat untuk mendukung keefektifan platform ini dalam meningkatkan kreativitas
siswa dan hasil belajar mereka.
Dengan demikian, penggunaan Canva dalam konteks pembelajaran sejarah dapat
dianggap sebagai suatu inovasi yang berpotensi memberikan kontribusi positif
terhadap pengalaman pembelajaran siswa.
3. Pembelajaran Sejarah
Menurut Widja (Sutrisno, 2011: 50) pembelajaran Sejarah adalah perpaduan
antara aktivitas belajar dan mengajar yang didalamnya mempelajari tentang peristiwa
masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini. Dari pendapat yang ada dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah adalah proses belajar yang ada dalam
sebuah lingkungan yang mempelajari kejadian-kejadian masa lampau yang dipelajari
dimasa kini sebagai pedoman untuk melangkah kedepan.
Pembelajaran sejarah merupakan interaksi yang ada dalam proses pada saat siswa
belajar tentang keadaan masa lalu, guna untuk kepentingan yang akan datang.
Pembelajaran sejarah merupakan mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan
nilai-nilai mengenai proses perubhan dan perkembangan masyarakat yang ada di
Indonesia maupun dunia dari masa lampau hingga sekarang. Pembelajaran
merupakan kegiatan proses pembelajaran tentang kehidupan yang ada dimasa lalu.
Fungsi Pembelajaran Sejarah :
Kartodirjo (Haryono, 1995: 191-192) menjelaskan fungsi pembelajaran sejarah
adalah untuk mengembangkan kepribadian serta peserta didik terutama dalam hal:
1. Membangkitkan perhatian serta minat kepada sejarah masyarakatnya sebgai satu
kesatuan komunitas.
2. Mendapat inspirasi dari cerita sejarah, baik dari yang kisah-kisah kepahlawanan
maupun peristiwa-peristiwa yang merupakan tragedi nasional untuk menciptakan
kehidupan yang lebih baik.
3. Memupuk kebiasan berfikir secara kontekstual, terutama dalam meruang dan
mewaktu, tanpa menghilang hakekat perubahan yang terjadi dalam proses sosio
kultural.
4. Tidak mudah terjebak pada opini, karena dalam berfikir lebih mengutamakan
sikap kritis dan rasional dengan dukungan dan fakta yang benar.
5. Menghormati dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Fungsi pembelajaran sejarah pada hakikatnya untuk meningkatkan pengertian
atau pemahaman yang mendalaam dan lebih baik tentang masa lampau dan juga
masa sekarang dalam interelasinya antara masa sekarang dengan masa lampau.
Karena ada dua sifat ganda sejarah ialah yang di ungkapkan sebagai berikut: “belajar
dari sejarah tidak hanya belajar melalui satu kali proses”. Untuk mempelajari masa
sekarang melalui sorotan tinjauan masa sekarang.
4. Teknologi dalam Pendidikan
a. Transformasi Pendidikan Melalui Teknologi:
Definisi Peran Teknologi dalam Pendidikan: Membahas pergeseran paradigma
pembelajaran dengan peningkatan penggunaan teknologi. Menjelaskan cara
teknologi dapat memberikan solusi untuk tantangan dalam proses pembelajaran.
b. Penggunaan Teknologi untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran:
Interaktif dan Terlibat: Tinjau literatur mengenai bagaimana teknologi dapat
menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif dan terlibat. Platform
pembelajaran online, simulasi, dan aplikasi interaktif semuanya memiliki potensi
untuk meningkatkan pemahaman siswa.
c. Teknologi sebagai Alat Pendukung Pembelajaran:
Aplikasi Pendukung Pembelajaran: Mengidentifikasi berbagai aplikasi dan
platform teknologi yang mendukung proses pembelajaran. Fokus pada aplikasi yang
relevan dengan pembelajaran sejarah dan metode PBL.
d. Peran Teknologi dalam Model PBL:
Penerapan Teknologi dalam PBL: Meninjau bagaimana teknologi, termasuk
Canva, dapat diintegrasikan dalam model PBL. Menyelidiki bagaimana elemen-
elemen teknologi dapat meningkatkan kolaborasi dan presentasi proyek siswa.
e. Manfaat Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Sejarah:
Peningkatan Akses ke Sumber Daya: Teknologi memungkinkan akses yang lebih
mudah dan luas ke sumber daya sejarah, termasuk dokumen, video, dan rekaman
sejarah.
Pembelajaran Berbasis Visual: Eksplorasi cara teknologi, seperti penggunaan
gambar, video, dan grafis, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konten
sejarah.
f. Tantangan dan Keberlanjutan Penerapan Teknologi:
Tantangan Implementasi Teknologi: Memerinci potensi tantangan yang mungkin
muncul dalam mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran sejarah, dan strategi
untuk mengatasi hambatan tersebut.
Keberlanjutan Penggunaan Teknologi: Meninjau literatur tentang bagaimana
sekolah atau guru dapat menjaga keberlanjutan penggunaan teknologi dalam
pembelajaran sejarah, termasuk pelatihan guru dan dukungan institusional.
g. Efek Positif Teknologi pada Motivasi dan Partisipasi Siswa:
Meningkatkan Motivasi Siswa: Menjelaskan studi-studi yang menunjukkan
bagaimana penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi
siswa.
Partisipasi dan Keterlibatan: Memaparkan cara teknologi, terutama melalui PBL dan
platform seperti Canva, dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan
pembelajaran sejarah.
Melalui pemahaman mendalam tentang peran dan penggunaan teknologi dalam
konteks pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat merinci kontribusi teknologi,
terutama Canva, dalam meningkatkan efektivitas metode pembelajaran sejarah.
5. Efektivitas PBL dan Canva dalam Konteks SMA
Dalam merinci efektivitas PBL dan penggunaan Canva dalam konteks Sekolah
Menengah Atas (SMA), perlu diperhatikan karakteristik siswa SMA 4 SIGI sebagai
landasan dasar. SMA merupakan tingkat pendidikan yang memerlukan pendekatan
pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif dan kebutuhan
siswa yang lebih matang. Oleh karena itu, penggunaan model PBL di SMA 4 SIGI
perlu diperhatikan dalam konteks relevansi dengan kurikulum SMA, memastikan
bahwa pendekatan pembelajaran ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar
yang bermakna tetapi juga sesuai dengan kebutuhan kurikulum.
Pentingnya keunggulan PBL dalam pembelajaran di SMA dapat dipertimbangkan
melalui analisis mendalam terhadap kurikulum pendidikan tingkat SMA dan
kemampuan model ini dalam memberikan konteks nyata pada materi sejarah. Di
samping itu, penggunaan Canva sebagai alat pendukung PBL di SMA 4 SIGI perlu
dikaji dari segi keterjangkauan dan kemudahan penggunaannya. Canva, sebagai
platform desain grafis online, dapat memberikan dukungan visual yang penting
dalam proyek-proyek sejarah dan meningkatkan interaktivitas siswa dalam
menyajikan informasi.
Implementasi PBL dengan dukungan Canva di SMA 4 SIGI membutuhkan
deskripsi yang cermat. Hal ini mencakup gambaran mengenai bagaimana model PBL
diintegrasikan dengan kurikulum sejarah dan bagaimana Canva digunakan sebagai
alat visual untuk mendukung presentasi proyek siswa. Tantangan yang mungkin
muncul selama implementasi perlu diperinci bersamaan dengan solusi yang diambil
untuk mengatasinya.
Evaluasi dampak positif pada pembelajaran di SMA dapat mencakup peningkatan
keterlibatan dan motivasi siswa, yang dapat diukur melalui metode evaluasi
partisipatif dan observasi. Penting untuk mengukur pemahaman siswa terhadap
materi sejarah setelah menerapkan PBL dengan Canva, menggambarkan kontribusi
positif terhadap pencapaian akademis.
Selanjutnya, pertimbangan keberlanjutan dan replikabilitas model PBL dengan
Canva perlu diperhatikan. Ini mencakup usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga
keberlanjutan penggunaan model ini di SMA 4 SIGI setelah penelitian ini selesai
serta sejauh mana model ini dapat diadopsi atau direplikasi di sekolah-sekolah lain di
berbagai konteks. Kesimpulannya, analisis efektivitas PBL dengan Canva di SMA
dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang kontribusinya
terhadap pembelajaran sejarah di tingkat pendidikan menengah atas.
B. Kerangka Berfikir
Berdasarkan observasi dapat disimpulkan bahwa kondisi awal siswa kelas XI
masih banyak yang belum termotivasi belajar sejarah dan prestasi belajar peserta didik
yang menurun, hal ini dilihat dari kehadiran dalam pembelajaran daring yang masih
sedikit dan tugas tugas yang belum diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.
Perbaikan pembelajaran akan dilakukan menggunakan daur siklus. Setiap siklus
terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Jika siklus I belum memenuhi
syarat ketuntasan belajar, maka akan dilakukan tindakan pada siklus II dan seterusnya.
Pada siklus II di harapkan sudah memenuhi kriteria ketuntasan belajar. Kerangka berpikir
secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut:
BAB III
METODE PENELITIAN