0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan21 halaman

PBL dengan Canva Tingkatkan Hasil Belajar Sejarah

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) melalui platform Canva dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI di SMAN 4 SIGI. Penerapan PBL diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan siswa, kreativitas, dan pemahaman siswa terhadap materi sejarah melalui penyusunan proyek-proyek sejarah menarik menggunakan

Diunggah oleh

aditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
14 tayangan21 halaman

PBL dengan Canva Tingkatkan Hasil Belajar Sejarah

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan model pembelajaran berbasis masalah (PBL) melalui platform Canva dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas XI di SMAN 4 SIGI. Penerapan PBL diharapkan dapat meningkatkan keterlibatan siswa, kreativitas, dan pemahaman siswa terhadap materi sejarah melalui penyusunan proyek-proyek sejarah menarik menggunakan

Diunggah oleh

aditya
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai DOCX, PDF, TXT atau baca online di Scribd

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

MELALUI CANVA UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR


SISWA PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KELAS XI SMAN 4 SIGI

TAHUN AJARAN 2024/2025

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

OLEH :
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk karakter dan

keterampilan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan. Dalam proses

pembelajaran, metode pengajaran yang digunakan memiliki dampak signifikan terhadap

pemahaman dan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, pengembangan metode

pembelajaran yang inovatif dan efektif menjadi suatu kebutuhan mendesak.

Salah satu metode pembelajaran yang telah terbukti efektif adalah Project-Based

Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Proyek. PBL tidak hanya memberikan

pengetahuan teoritis kepada siswa, tetapi juga mengintegrasikannya dalam konteks

proyek nyata, memberikan pengalaman praktis yang lebih mendalam. PBL mendorong

keterlibatan siswa, pemecahan masalah, dan pemikiran kritis, yang semuanya merupakan

keterampilan penting untuk keberhasilan di dunia nyata.

Seiring dengan perkembangan teknologi, integrasi teknologi dalam pembelajaran

menjadi semakin penting. Canva, sebagai platform desain grafis online yang user-

friendly, memberikan peluang untuk mengintegrasikan elemen visual yang menarik ke

dalam pembelajaran. Dalam mata pelajaran sejarah, di mana visualisasi dan narasi

memiliki peran krusial, penggunaan Canva dapat meningkatkan daya tarik dan

pemahaman siswa terhadap konten sejarah.

Dalam konteks SMAN 4 SIGI, di mana mata pelajaran sejarah untuk kelas XI

diampu, penerapan model PBL melalui Canva diharapkan dapat meningkatkan hasil

belajar siswa. Dengan menyusun proyek-proyek berbasis sejarah yang menarik melalui
Canva, siswa dapat lebih aktif terlibat dalam pembelajaran, meningkatkan kreativitas

mereka, dan memperdalam pemahaman terhadap peristiwa sejarah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas penerapan model PBL

melalui Canva dalam meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran sejarah kelas

XI di SMAN 4 SIGI. Dengan memahami dampak positif dari metode pembelajaran ini,

diharapkan dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas

pendidikan dan pemahaman siswa terhadap sejarah.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini mencoba menjawab beberapa

pertanyaan pokok, yaitu:

1. Bagaimana penerapan model Project-Based Learning (PBL) melalui platform

Canva dapat mempengaruhi keterlibatan siswa dalam pembelajaran sejarah kelas

XI di SMAN 4 SIGI?

2. Sejauh mana penggunaan Canva dalam konteks PBL dapat meningkatkan

kreativitas siswa dalam menyusun proyek-proyek sejarah?

3. Apakah penerapan model PBL melalui Canva memberikan dampak positif

terhadap pemahaman siswa terhadap materi sejarah?

4. Bagaimana persepsi siswa terhadap efektivitas PBL melalui Canva sebagai

metode pembelajaran dalam mata pelajaran sejarah?

5. Apakah terdapat perbedaan signifikan dalam hasil belajar siswa sejarah sebelum

dan setelah menerapkan model PBL melalui Canva?


1.3 Tujuan Penelitian

1. Menganalisis dampak penerapan model Project-Based Learning (PBL) melalui

platform Canva terhadap keterlibatan siswa pada pembelajaran mata pelajaran

sejarah kelas XI di SMAN 4 SIGI.

2. Menilai sejauh mana penggunaan Canva dalam konteks PBL dapat meningkatkan

tingkat kreativitas siswa dalam menyusun proyek-proyek sejarah.

3. Mengukur pengaruh positif penerapan PBL melalui Canva terhadap pemahaman

siswa terhadap materi sejarah kelas XI di SMAN 4 SIGI.

4. Menganalisis persepsi siswa terhadap efektivitas PBL melalui Canva sebagai

metode pembelajaran dalam mata pelajaran sejarah.

5. Menilai perbedaan signifikan dalam hasil belajar siswa sejarah sebelum dan

setelah penerapan model PBL melalui Canva di SMAN 4 SIGI.

1.4 Manfaat Penelitian

1. Bagi Guru:

Pengembangan Metode Pembelajaran: Memberikan wawasan bagi guru

dalam mengembangkan metode pembelajaran yang inovatif dan menarik,

khususnya melalui penerapan PBL dan penggunaan platform Canva.

Peningkatan Keterlibatan Siswa: Memungkinkan guru untuk memahami

cara meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, yang dapat

memberikan dampak positif pada motivasi dan hasil belajar mereka.


Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran: Mendorong guru untuk

mengintegrasikan teknologi, seperti Canva, sebagai alat untuk meningkatkan

efektivitas pembelajaran dan memfasilitasi pemahaman siswa.

2. Bagi Siswa:

Peningkatan Kreativitas: Memberikan kesempatan kepada siswa untuk

mengembangkan kreativitas mereka melalui penyusunan proyek-proyek sejarah

menggunakan platform Canva.

Pemahaman yang Mendalam: Memfasilitasi pemahaman siswa terhadap

materi sejarah dengan menyajikannya melalui metode PBL, yang memungkinkan

mereka terlibat secara aktif dalam pembelajaran.

Persiapan untuk Tantangan Masa Depan: Membantu siswa

mengembangkan keterampilan pemecahan masalah, pemikiran kritis, dan

keterampilan teknologi yang dapat membantu persiapan mereka untuk tantangan

di dunia nyata.

3. Bagi Sekolah:

Peningkatan Kualitas Pembelajaran: Menyediakan kontribusi positif dalam

peningkatan kualitas pembelajaran di SMAN 4 SIGI, dengan mendorong inovasi

dan integrasi teknologi.

Penyediaan Data untuk Pengembangan Selanjutnya: Memberikan data dan

informasi yang dapat digunakan oleh pihak sekolah untuk mengembangkan

strategi pembelajaran yang lebih baik di masa depan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teori

1. Problem Based Learning

Problem Based Learning dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan

pembelajaran berbasis masalah merupakan salah satu bentuk model yang

dikembangkan dari teori belajar konstruktivisme Piaget dan Vygotsky.

Konstruktivisme menekankan pada pengetahuan sebagai hasil konstruksi manusia

melalui interaksi mereka dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungan

mereka (Trianto, 2007). Menurut Ridwan Abdullah Sani (2014:127), pembelajaran

ini akan dapat membentuk kemampuan berpikir tinggi (higher order thinking) dan

meningkatkan kemampuan peserta didik berpikir kritis, sejalan dengan pendapat

Daryanto (2014:30), bahwa PBL dapat mengembangkan keterampilan berpikir

tingkat tinggi, karena melalui pembelajaran berbasis masalah peserta didik belajar

menyelesaikan permasalahan dalam dunia nyata (real world problem) secara

terstruktur untuk mengonstruksi pengetahuan peserta didik.

Problem Based Learning merupakan suatu model pembelajaran yang didasarkan

pada masalah (problem) sebagai titik awal mendapatkan atau mengintegrasikan

pengetahuan (knowledge) baru. (Savery & Duffy, 1995). Fatade et al (2014:3)

menyatakan bahwa “the problem based learning is one of the modern model of

teaching that allows each learner to construct his/her own schema”. Maksud dari

pendapat tersebut bahwa problem based learning adalah salah satu model pengajaran

modern yang memungkinkan setiap peserta didik membangun skema pengetahuan


mereka sendiri. Problem based learning merupakan model pembelajaran yang

menyajikan masalah kontekstual sehingga merangsang peserta didik belajar dalam

kelompok untuk memecahkan masalah dari permasalahan dunia nyata dan mengikat

peserta didik pada rasa ingin tahu terhadap pembelajaran, sehingga mereka memiliki

model belajar sendiri (Kemendikbud, 2014:39). Sejalan dengan hal tersebut Suharia,

Lisdianab, & Widiyaningrum (2013:10) menyatakan bahwa PBL merupakan

pembelajaran yang menghadapkan peserta didik pada masalah dunia nyata untuk

memulai pembelajaran.

Problem based learning merupakan salah satu model pembelajaran kontekstual

menekankan pada proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik untuk

menemukan materi sendiri, artinya proses belajar berorientasi pada pengalaman

langsung dari kehidupan sehari-hari peserta didik di lingkungan sosial. Model

pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang

mengorganisasikan pembelajaran di sekitar pertanyaan dan masalah, melalui

pengajuan situasi kehidupan nyata yang autentik dan bermakna, yang mendorong

siswa untuk melakukan penyelidikan dan inkuiri, dengan menghindari jawaban

sederhana, serta memungkinkan adanya berbagai macam solusi dari situasi tersebut

(Krisna, 2013:2). Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) juga

menekankan pemecahan masalah dengan pendekatan pembelajaran peserta didik

pada masalah autentik. Peserta didik diupayakan dapat menyusun pengetahuannya

sendiri, menumbuhkembangkan keterampilan yang lebih tinggi dan inquiry,

memandirikan peserta didik dan meningkatkan kepercayaan diri sendiri (Arends,

1997:13)
Berdasarkan beberapa pendapat yang disampaikan diatas, dapat disimpulkan

bahwa PBL adalah model kontekstual berbasis masalah yang memungkinkan peserta

didik untuk mengeksplorasi setiap kemungkinan penyebab maupun dampak serta

solusi permasalahan dengan terlibat aktif pada persoalan yang nyata, sehingga

peserta didik dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan memiliki

kemampuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam dunia nyata. Tujuan

Problem Based Learning Hosnan (2014:299), menyatakan bahwa tujuan utama

problem based learning bukanlah penyampaian sejumlah besar pengetahuan kepada

peserta didik, melainkan pada pengembangan kemampuan berpikir kritis dan

kemampuan pemecahan masalah dan sekaligus mengembangkan kemampuan peserta

didik untuk secara aktif membangun pengetahuan sendiri.

Keunggunlan dan kelemahan Model Pembelajaran Problem Based Learning

Keunggulan Model Pembelajaran Problem Based Learning adalah : 1) Merupakan

teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran, 2) Menantang

kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menemukan

pengetahuan baru bagi peserta didik, 3) Meningkatkan aktivitas pembelajaran bagi

peserta didik, 4) Membantu peserta didik mentransfer pengetahuan mereka untuk

memahami masalah dalam kehidupan nyata, 5) Membantu peserta didik untuk

mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggung jawab dalam pembelajaran

yang mereka lakukan. Sedangkan kelemahan Model Pembelajaran Problem Based

Learning adalah: 1) Ketika peserta didik tidak memiliki minat atau kepercayaan

bahwa masalah yang dipelajari sulit dipecahkan, mereka akan merasa enggan untuk

mencoba, 2) Keberhasilan pembelajaran melalui problem solving membutuhkan


cukup waktu untuk persiapan, 3) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha

untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, mereka tidak akan belajar apa

yang mereka ingin pelajari (Hamruni, 2012:108).

Langkah-langkah Penerapan Model Pembelajaran PBL Tabel 1 Sintak Model

Pembelajaran Problem Based Learning:

Tahap 1 Mengorientasikan peserta didik terhadap masalah. Guru menjelaskan

tujuan pembelajaran dan sarana atau logistik yang dibutuhkan.

Tahap 2 Mengorganisasi peserta didik untuk belajar. Guru membantu peserta

didik mendefinisikan dan mengorganisasi tugas belajar yang berhubungan dengan

masalah yang sudah diorientasikan pada tahap sebelumnya.

Tahap 3 Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok. Guru

mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai dan

melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan kejelasan yang diperlukan untuk

menyelesaikan masalah.

Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Guru membantu peserta

didik untuk berbagi tugas dan merencanakan karya yang sesuai sebagai hasil

pemecahan masalah dalam bentuk laporan.

Tahap 5 Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Guru

membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap proses

pemecahan masalah yang dilakukan. Sumber : Nur, 2011


2. Penggunaan Canva Dalam Pembelajaran

a. Pengenalan Canva dalam Konteks Pendidikan:

Canva merupakan platform desain grafis online yang menyediakan berbagai fitur

dan alat untuk membuat presentasi, poster, dan materi visual lainnya dengan mudah.

Dalam konteks pendidikan, Canva dapat menjadi alat yang sangat berguna untuk

meningkatkan aspek visual dalam proses pembelajaran. Canva menyediakan

template yang menarik dan mudah disesuaikan, memungkinkan guru dan siswa untuk

menciptakan materi pembelajaran yang lebih atraktif.

b. Fitur-fitur Canva yang Mendukung Pembelajaran:

 Template Pendidikan: Canva menyediakan berbagai template yang dapat

disesuaikan untuk keperluan pendidikan, termasuk pembelajaran sejarah. Ini

dapat mempermudah guru dalam menyusun materi pembelajaran yang sesuai

dengan kebutuhan dan konteks kelas.

 Elemen Desain yang Interaktif: Penggunaan elemen-elemen desain yang

interaktif, seperti grafik, ikon, dan gambar, dapat meningkatkan daya tarik

materi pembelajaran. Hal ini dapat membantu siswa untuk lebih mudah

memahami konsep sejarah yang kompleks.

 Kemudahan Kolaborasi: Canva memungkinkan kolaborasi antara guru dan

siswa dalam penyusunan proyek-proyek. Guru dapat memberikan umpan

balik secara real-time, dan siswa dapat berkontribusi secara aktif dalam

penyusunan materi pembelajaran.


c. Efektivitas Penggunaan Canva dalam Meningkatkan Kreativitas Siswa:

 Visualisasi Konsep Sejarah: Dengan Canva, siswa dapat menggambarkan

konsep sejarah secara visual, memungkinkan mereka untuk mengasimilasi

informasi dengan cara yang lebih kreatif dan mendalam.

 Personalisasi Pembelajaran: Canva memberikan kebebasan kepada siswa

untuk mengekspresikan ide dan pandangan mereka melalui desain visual. Hal

ini dapat meningkatkan rasa memiliki siswa terhadap proyek pembelajaran.

 Motivasi Siswa: Menggunakan platform yang modern dan menarik seperti

Canva dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terlibat lebih aktif dalam

pembelajaran, terutama dalam mata pelajaran sejarah yang mungkin dianggap

kompleks.

d. Studi-Studi Kasus dan Implementasi Sebelumnya:

Pembahasan juga mencakup studi-studi kasus atau implementasi Canva dalam

konteks pendidikan dan mata pelajaran sejarah. Memaparkan hasil penelitian

terdahulu atau pengalaman implementasi Canva dapat memberikan dasar empiris

yang kuat untuk mendukung keefektifan platform ini dalam meningkatkan kreativitas

siswa dan hasil belajar mereka.

Dengan demikian, penggunaan Canva dalam konteks pembelajaran sejarah dapat

dianggap sebagai suatu inovasi yang berpotensi memberikan kontribusi positif

terhadap pengalaman pembelajaran siswa.


3. Pembelajaran Sejarah

Menurut Widja (Sutrisno, 2011: 50) pembelajaran Sejarah adalah perpaduan

antara aktivitas belajar dan mengajar yang didalamnya mempelajari tentang peristiwa

masa lampau yang erat kaitannya dengan masa kini. Dari pendapat yang ada dapat

disimpulkan bahwa pembelajaran sejarah adalah proses belajar yang ada dalam

sebuah lingkungan yang mempelajari kejadian-kejadian masa lampau yang dipelajari

dimasa kini sebagai pedoman untuk melangkah kedepan.

Pembelajaran sejarah merupakan interaksi yang ada dalam proses pada saat siswa

belajar tentang keadaan masa lalu, guna untuk kepentingan yang akan datang.

Pembelajaran sejarah merupakan mata pelajaran yang menanamkan pengetahuan dan

nilai-nilai mengenai proses perubhan dan perkembangan masyarakat yang ada di

Indonesia maupun dunia dari masa lampau hingga sekarang. Pembelajaran

merupakan kegiatan proses pembelajaran tentang kehidupan yang ada dimasa lalu.

Fungsi Pembelajaran Sejarah :

Kartodirjo (Haryono, 1995: 191-192) menjelaskan fungsi pembelajaran sejarah

adalah untuk mengembangkan kepribadian serta peserta didik terutama dalam hal:

1. Membangkitkan perhatian serta minat kepada sejarah masyarakatnya sebgai satu

kesatuan komunitas.

2. Mendapat inspirasi dari cerita sejarah, baik dari yang kisah-kisah kepahlawanan

maupun peristiwa-peristiwa yang merupakan tragedi nasional untuk menciptakan

kehidupan yang lebih baik.


3. Memupuk kebiasan berfikir secara kontekstual, terutama dalam meruang dan

mewaktu, tanpa menghilang hakekat perubahan yang terjadi dalam proses sosio

kultural.

4. Tidak mudah terjebak pada opini, karena dalam berfikir lebih mengutamakan

sikap kritis dan rasional dengan dukungan dan fakta yang benar.

5. Menghormati dan memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan.

Fungsi pembelajaran sejarah pada hakikatnya untuk meningkatkan pengertian

atau pemahaman yang mendalaam dan lebih baik tentang masa lampau dan juga

masa sekarang dalam interelasinya antara masa sekarang dengan masa lampau.

Karena ada dua sifat ganda sejarah ialah yang di ungkapkan sebagai berikut: “belajar

dari sejarah tidak hanya belajar melalui satu kali proses”. Untuk mempelajari masa

sekarang melalui sorotan tinjauan masa sekarang.

4. Teknologi dalam Pendidikan

a. Transformasi Pendidikan Melalui Teknologi:

Definisi Peran Teknologi dalam Pendidikan: Membahas pergeseran paradigma

pembelajaran dengan peningkatan penggunaan teknologi. Menjelaskan cara

teknologi dapat memberikan solusi untuk tantangan dalam proses pembelajaran.

b. Penggunaan Teknologi untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran:

Interaktif dan Terlibat: Tinjau literatur mengenai bagaimana teknologi dapat

menciptakan pengalaman pembelajaran yang lebih interaktif dan terlibat. Platform


pembelajaran online, simulasi, dan aplikasi interaktif semuanya memiliki potensi

untuk meningkatkan pemahaman siswa.

c. Teknologi sebagai Alat Pendukung Pembelajaran:

Aplikasi Pendukung Pembelajaran: Mengidentifikasi berbagai aplikasi dan

platform teknologi yang mendukung proses pembelajaran. Fokus pada aplikasi yang

relevan dengan pembelajaran sejarah dan metode PBL.

d. Peran Teknologi dalam Model PBL:

Penerapan Teknologi dalam PBL: Meninjau bagaimana teknologi, termasuk

Canva, dapat diintegrasikan dalam model PBL. Menyelidiki bagaimana elemen-

elemen teknologi dapat meningkatkan kolaborasi dan presentasi proyek siswa.

e. Manfaat Penggunaan Teknologi dalam Pembelajaran Sejarah:

Peningkatan Akses ke Sumber Daya: Teknologi memungkinkan akses yang lebih

mudah dan luas ke sumber daya sejarah, termasuk dokumen, video, dan rekaman

sejarah.

Pembelajaran Berbasis Visual: Eksplorasi cara teknologi, seperti penggunaan

gambar, video, dan grafis, dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap konten

sejarah.
f. Tantangan dan Keberlanjutan Penerapan Teknologi:

Tantangan Implementasi Teknologi: Memerinci potensi tantangan yang mungkin

muncul dalam mengintegrasikan teknologi dalam pembelajaran sejarah, dan strategi

untuk mengatasi hambatan tersebut.

Keberlanjutan Penggunaan Teknologi: Meninjau literatur tentang bagaimana

sekolah atau guru dapat menjaga keberlanjutan penggunaan teknologi dalam

pembelajaran sejarah, termasuk pelatihan guru dan dukungan institusional.

g. Efek Positif Teknologi pada Motivasi dan Partisipasi Siswa:

Meningkatkan Motivasi Siswa: Menjelaskan studi-studi yang menunjukkan

bagaimana penggunaan teknologi dalam pembelajaran dapat meningkatkan motivasi

siswa.

Partisipasi dan Keterlibatan: Memaparkan cara teknologi, terutama melalui PBL dan

platform seperti Canva, dapat meningkatkan partisipasi siswa dalam kegiatan

pembelajaran sejarah.

Melalui pemahaman mendalam tentang peran dan penggunaan teknologi dalam

konteks pendidikan, penelitian ini diharapkan dapat merinci kontribusi teknologi,

terutama Canva, dalam meningkatkan efektivitas metode pembelajaran sejarah.

5. Efektivitas PBL dan Canva dalam Konteks SMA

Dalam merinci efektivitas PBL dan penggunaan Canva dalam konteks Sekolah

Menengah Atas (SMA), perlu diperhatikan karakteristik siswa SMA 4 SIGI sebagai
landasan dasar. SMA merupakan tingkat pendidikan yang memerlukan pendekatan

pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif dan kebutuhan

siswa yang lebih matang. Oleh karena itu, penggunaan model PBL di SMA 4 SIGI

perlu diperhatikan dalam konteks relevansi dengan kurikulum SMA, memastikan

bahwa pendekatan pembelajaran ini tidak hanya memberikan pengalaman belajar

yang bermakna tetapi juga sesuai dengan kebutuhan kurikulum.

Pentingnya keunggulan PBL dalam pembelajaran di SMA dapat dipertimbangkan

melalui analisis mendalam terhadap kurikulum pendidikan tingkat SMA dan

kemampuan model ini dalam memberikan konteks nyata pada materi sejarah. Di

samping itu, penggunaan Canva sebagai alat pendukung PBL di SMA 4 SIGI perlu

dikaji dari segi keterjangkauan dan kemudahan penggunaannya. Canva, sebagai

platform desain grafis online, dapat memberikan dukungan visual yang penting

dalam proyek-proyek sejarah dan meningkatkan interaktivitas siswa dalam

menyajikan informasi.

Implementasi PBL dengan dukungan Canva di SMA 4 SIGI membutuhkan

deskripsi yang cermat. Hal ini mencakup gambaran mengenai bagaimana model PBL

diintegrasikan dengan kurikulum sejarah dan bagaimana Canva digunakan sebagai

alat visual untuk mendukung presentasi proyek siswa. Tantangan yang mungkin

muncul selama implementasi perlu diperinci bersamaan dengan solusi yang diambil

untuk mengatasinya.

Evaluasi dampak positif pada pembelajaran di SMA dapat mencakup peningkatan

keterlibatan dan motivasi siswa, yang dapat diukur melalui metode evaluasi

partisipatif dan observasi. Penting untuk mengukur pemahaman siswa terhadap


materi sejarah setelah menerapkan PBL dengan Canva, menggambarkan kontribusi

positif terhadap pencapaian akademis.

Selanjutnya, pertimbangan keberlanjutan dan replikabilitas model PBL dengan

Canva perlu diperhatikan. Ini mencakup usaha-usaha yang dilakukan untuk menjaga

keberlanjutan penggunaan model ini di SMA 4 SIGI setelah penelitian ini selesai

serta sejauh mana model ini dapat diadopsi atau direplikasi di sekolah-sekolah lain di

berbagai konteks. Kesimpulannya, analisis efektivitas PBL dengan Canva di SMA

dapat memberikan pandangan yang lebih komprehensif tentang kontribusinya

terhadap pembelajaran sejarah di tingkat pendidikan menengah atas.

B. Kerangka Berfikir

Berdasarkan observasi dapat disimpulkan bahwa kondisi awal siswa kelas XI

masih banyak yang belum termotivasi belajar sejarah dan prestasi belajar peserta didik

yang menurun, hal ini dilihat dari kehadiran dalam pembelajaran daring yang masih

sedikit dan tugas tugas yang belum diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah

ditentukan.

Perbaikan pembelajaran akan dilakukan menggunakan daur siklus. Setiap siklus

terdiri dari perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Jika siklus I belum memenuhi

syarat ketuntasan belajar, maka akan dilakukan tindakan pada siklus II dan seterusnya.

Pada siklus II di harapkan sudah memenuhi kriteria ketuntasan belajar. Kerangka berpikir

secara garis besar dapat digambarkan sebagai berikut:


BAB III
METODE PENELITIAN

Anda mungkin juga menyukai