0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Kebersihan Diri dan Kutu Kepala Santriwati

Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku kebersihan diri santriwati terkait infestasi kutu kepala di Pondok Pesantren Anshor Al-Sunnah, Riau. Hasilnya menunjukkan mayoritas santriwati yang mengalami infestasi kutu kepala memiliki perilaku kebersihan diri yang baik meskipun kontak erat antar santriwati menjadi faktor utama penyebaran infestasi.

Diunggah oleh

Deswita Wulandari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
4 tayangan7 halaman

Kebersihan Diri dan Kutu Kepala Santriwati

Studi ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku kebersihan diri santriwati terkait infestasi kutu kepala di Pondok Pesantren Anshor Al-Sunnah, Riau. Hasilnya menunjukkan mayoritas santriwati yang mengalami infestasi kutu kepala memiliki perilaku kebersihan diri yang baik meskipun kontak erat antar santriwati menjadi faktor utama penyebaran infestasi.

Diunggah oleh

Deswita Wulandari
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

Tarumanagara Medical Journal

Vol. 3, No. 1, 175-181, April 2021

Gambaran perilaku kebersihan diri terkait infestasi


kutu kepala (Pediculus humanus capitis) pada santriwati
di Pondok Pesantren Anshor Al-Sunnah Riau
Vanessa Analdi1, Irene Dorthy Santoso2,*
1
Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta, Indonesia
2
Bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara, Jakarta, Indonesia
*korespondensi email: irenes@[Link]

ABSTRAK
Infestasi kutu kepala (pediculosis capitis) merupakan suatu masalah kesehatan umum yang
ditemukan di seluruh dunia. Tujuan studi ini adalah untuk mengetahui gambaran salah satu faktor
risiko yaitu perilaku kebersihan diri yang terkait pada seseorang dengan infestasi kutu kepala.
Diharapkan hasil studi ini dapat menambah informasi mengenai perilaku kebersihan diri yang
mempengaruhi infestasi sehingga dapat mempermudah pencegahan dan mengurangi angka
kejadian infestasi kutu kepala. Studi deskriptif dengan desain cross sectional yang dilakukan pada
152 santriwati di Pondok Pesantren Anshor Al- Sunnah, Riau dengan infestasi kutu kepala. Sampel
diambil dengan metode purposive sampling. Data diambil melalui inspeksi kepala dan rambut serta
pengisian kuesioner perilaku kebersihan diri terkait infestasi kutu kepala. Pengolahan data
dilakukan dengan menggunakan SPSS v.17. Mayoritas santriwati yang mengalami infestasi kutu
kepala memiliki perilaku kebersihan diri yang baik (88,2%). Kontak erat dengan penderita
merupakan cara transmisi kutu kepala yang utama sehingga diperlukan pengobatan sekaligus pada
santriwati yang mengalami infestasi kutu kepala untuk menghentikan transmisi kutu kepala.
Kata kunci: pediculosis capitis, kutu kepala, perilaku kebersihan diri, pondok pesantren

PENDAHULUAN

Kutu kepala (Pediculus humanus capitis) kontak fisik yang memainkan peran
adalah suatu ektoparasit obligat yang penting dalam penularan.2-4
hidup dengan memperoleh makanan Setiap tahunnya, sekitar 6-12 juta orang
yaitu darah, kehangatan serta di Amerika Serikat terkena infestasi kutu
kelembaban dari tubuh manusia. Infestasi kepala. Berdasarkan studi oleh Dagne
kutu kepala merupakan salah satu dkk. menunjukkan prevalensi kutu kepala
masalah kesehatan utama di dunia yang sebesar 65,7% pada anak usia sekolah di
dapat dialami oleh siapa saja, dari segala kota Woreta di Northwest Ethiopia.4
kelompok umur, jenis kelamin dan ras.1 Studi oleh Nindia dkk. menyatakan
Umumnya penyebaran terjadi pada anak infestasi kutu kepala pada anak sekolah
perempuan usia sekolah, 6-12 tahun yang dasar di Kota Sabang, Provinsi Aceh
ditunjukkan melalui atribut dan adalah sebesar 27,1%.
perilakunya seperti rambut yang lebih Infestasi kutu kepala atau pediculosis
panjang, berbagi barang dan peningkatan capitis dapat menimbulkan dampak

175
Tarumanagara Med. J. 3, 1, 175-181, April 2021

berupa pruritus, iritasi kulit kepala, tingkat pendidikan kelas 1 SMP-3 SMA,
ketidaknyamanan, insomnia, kecemasan sedangkan santriwati yang berada di
orangtua, dan gangguan sosial seperti Sekolah Dasar tidak menginap di asrama.
rasa malu dan tidak percaya diri. Apabila Penulis tertarik untuk melakukan studi
tidak dapat didiagnosis dan ditangani pada santriwati kelas 1 SMP-3 SMA yang
dengan baik dapat menyebabkan anemia, tidak terlepas dari kemungkinan untuk
dermatitis, infeksi sekunder berupa terkena infestasi kutu kepala. Studi ini
impetigo dan limfadenopati akibat luka dapat meningkatkan kesadaran santriwati
pada garukan karena rasa gatal.3,5,6 terhadap perilaku kebersihan diri yang
Dagne dkk. juga mendapatkan anak baik untuk mencegah transmisi kutu
dengan perilaku kebersihan diri yang kepala.
kurang lebih banyak terkena infestasi
kutu kepala daripada anak dengan METODE PENELITIAN
perilakunya yang baik.4 Menjaga Jenis studi ini adalah studi deskriptif
kebersihan diri seperti menjaga dengan desain cross sectional yang
kebersihan rambut dilaporkan dapat dilakukan di Pondok Pesantren Anshor
2,7
menyingkirkan kutu kepala. Kejadian Al- Sunnah, Kabupaten Kampar, Riau.
pediculosis capitis banyak terjadi pada Studi ini telah mendapatkan perijinan
anak sekolah yang tinggal di asrama kode etik dari Fakultas Kedokteran
akibat banyaknya faktor yang men- Universitas Tarumanagara dan ijin untuk
dukung penyebaran seperti kepadatan melakukan penelitian di Pondok
lingkungan dan kebiasaan pinjam pesantren Anshor Al-Sunnah, Riau.
8
meminjam barang. Data diperoleh dari inspeksi kepala dan
Tidak banyak studi yang meneliti rambut santriwati untuk melihat apakah
mengenai perilaku kebersihan diri terkait terdapat infestasi kutu kepala dan dari
infestasi kutu kepala pada santriwati di hasil pengisian kuesioner mengenai
Riau. Oleh karena itu, penulis ingin perilaku kebersihan diri (upaya
melakukan studi di Pondok Pesantren pencegahan kutu kepala). Besar sampel
Anshor Al-Sunnah, salah satu pesantren sebanyak 152 santriwati yang diambil
di Kabupaten Kampar, Riau yang cukup menggunakan metode purposive
terkenal akan prestasi dan ketertiban sampling berdasarkan kriteria inklusinya
santrinya. Santriwati yang tinggal di yaitu santriwati yang mengalami infestasi
asrama pesantren adalah yang berada di kutu kepala.

176
Tarumanagara Medical Journal
Vol. 3, No. 1, 175-181, April 2021

HASIL DAN PEMBAHASAN Prevention (CDC), meskipun jarang


Pada studi ini, dari 152 responden dengan terjadi, transmisi kutu kepala dapat terjadi
infestasi kutu kepala, mayoritas berusia melalui helaian rambut dengan kutu
14 tahun yaitu 48 orang (31,6%) dengan kepala atau telur yang jatuh pada
rentang usia 11-18 tahun. Hal ini sejalan pakaian.11
dengan studi yang dilakukan Zakiudin
dan Shaluhiyah yang menunjukkan santri Tabel 1. Karakteristik responden (N=152)

yang mengalami kutu kepala rata-rata Karakteristik sampel Jumlah (%)


berusia 13-18 tahun.9 Jumlah responden Usia
dengan infestasi kutu kepala paling 11 2 (1,3)
12 6 (3,9)
banyak berada di kelas SMP 3 sebanyak 13 28 (18,4)
48 orang (31,6%) dan yang paling sedikit 14 48 (31,6)
15 45 (29,6)
sama banyaknya di kelas SMP 1 dan 16 8 (5,3)
SMA 2 sebanyak 8 orang (5,3%). Hasil 17 12 (7,9)
18 3 (2,0)
ini didukung oleh studi yang dilakukan Tingkat pengetahuan
SMP 1 8 (5,3)
Lukman dkk. pada santri di Pondok
SMP 2 28 (18,4)
Pesantren Miftahul Ulum yang SMP 3 48 (31,6)
SMA 1 45 (29,6)
menunjukkan sebanyak 57,5% responden SMA 2 8 (5,3)
SMP terkena infestasi kutu kepala dan SMA 3 15 (9,9)
Panjang rambut
42,5% dari SMA.10 Mayoritas responden Pendek 12 (7,9)
memiliki rambut yang Panjang yaitu Panjang 140 (92,1)

sebanyak 140 orang (92,1%) sedangkan


12 orang (7,9%) berambut pendek. Mayoritas responden tidak pernah

Berdasarkan studi yang dilakukan menyatukan atau mencampurkan pakaian

Lukman dkk., 61% responden berambut dengan teman yang lain, yakni sebanyak

panjang positif terkena infestasi kutu 116 orang (76,3%) dan hanya satu orang

kepala.10 (Tabel 1) (0,7%) yang selalu menyatukan pakaian

Tabel 2 memperlihatkan bahwa mayoritas dengan teman lainnya. Terdapat

responden yang jarang saling bergantian sebanyak 90 responden (59,2%) yang

atau meminjamkan pakaiannya sesama selalu rutin berkeramas menggunakan

teman yaitu sebanyak 80 orang (52,6%) sampo ≥3 kali dalam seminggu dan yang

dan yang sering sebanyak 6 orang (3,9%). tidak pernah sebanyak 3 (2,0%) orang.

Hal ini berhubungan dengan pernyataan (Tabel 2) Studi yang dilakukan Yunida

oleh Centers for Disease Control and dkk. juga menunjukkan santriwati yang

177
Tarumanagara Med. J. 3, 1, 175-181, April 2021

mencuci rambut 1 kali atau kurang dalam jilbab dan 3 orang (2,0%) yang tidak
seminggu sebesar 8,3% yang terkena pernah mengeringkan rambut sebelum
kutu kepala dan yang lebih dari 1 kali memakai jilbab. Menurut Akib dkk. kutu
seminggu adalah 91,7%.12 Mayoritas kepala lebih leluasa hidup dan
responden yaitu sebanyak 56 orang berkembang biak di rambut yang lebih
(36,8%) selalu memastikan rambut lembab dan lebat.13
benar- benar kering sebelum memakai

Tabel 2. Distribusi perilaku kebersihan diri responden (N=152)


Jumlah (%)
Perilaku kebersihan diri
Selalu Sering Jarang Tidak pernah
Saling bergantian atau meminjamkan
7 (4,6) 6 (3,9) 80 (52,6) 59 (38,8)
pakaian
Menyatukan atau mencampurkan pakaian
1 (0,7) 4 (2,6) 31 (20,4) 116 (76,3)
dengan punya teman yang lain
Rutin berkeramas menggunakan sampo ≥3
90 (59,2) 46 (30,3) 13 (8,6) 3 (2,0)
kali dalam seminggu
Memastikan rambut benar-benar kering
56 (36,8) 44 (28,9) 49 (32,2) 3 (2,0)
sebelum memakai jilbab atau kerudung
Bergantian menggunakan sisir bersama
26 (17,1) 59 (38,8) 51 (33,6) 16 (10,5)
teman
Saling bertukar atau meminjam aksesoris
rambut (ikat rambut, penjepit rambut, 7 (4,6) 12 (7,9) 57 (37,5) 76 (50,0)
bando, bandana, topi) sesama teman
Rutin memotong rambut menjadi pendek 22 (14,5) 19 (12,5) 76 (50,0) 35 (23,0)
Menggunakan handuk bergantian dengan
0 1 (0,7) 17 (11,2) 134 (88,2)
teman lain
Menjemur handuk setelah menggunakannya 96 (63,2) 25 (16,4) 23 (15,1) 8 (5,3)
Menumpukkan handuk dengan punya teman
21 (13,8) 24 (15,8) 40 (26,3) 67 (44,1)
yang lain
Saling bertukar atau meminjamkan
19 (12,5) 37 (24,3) 72 (47,4) 24 (15,8)
kerudung antar sesama teman
Tidur di tempat tidur sendiri dan
menggunakan perlengkapan tidur (bantal, 101 (66,4) 19 (12,5) 23 (15,1) 9 (5,9)
guling) sendiri
Menggunakan tempat tidur Bersama teman 38 (25,0) 33 (21,7) 62 (40,8) 19 (12,5)
Rutin mengganti sprei temat tidur dan
45 (29,6) 38 (25,0) 68 (44,7) 1 (0,7)
sarung bantal seminggu sekali
Rajin mencuci dan menjemur perlengkapan
22 (14,5) 37 (24,3) 86 (56,6) 7 (4,6)
tempat tidur seminggu sekali
Rajin menyapu dan mengepel lantai serta
78 (51,3) 53 (34,9) 19 (12,5) 2 (1,3)
membersihkan perabotan asrama
Rutin menyisir rambut dengan sisir serit
untuk melihat adakah telur atau kutu di 73 (48,0) 57 (37,5) 21 (13,8) 1 (0,7)
rambut

178
Tarumanagara Medical Journal
Vol. 3, No. 1, 175-181, April 2021

Jumlah santriwati yang sering bergantian orang (63,2%) dan yang tidak pernah
menggunakan sisir bersama teman sebanyak 8 orang (5,3%). Responden
adalah sebanyak 59 orang (38,8%) dan paling banyak menjawab tidak pernah
tidak pernah sebanyak 16 orang (10,5%). menumpukkan handuk dengan teman
Menurut studi Lukman dkk. yang lain, yaitu sebanyak 67 orang
menunjukkan 81,4% responden dengan (44,1%) dan yang menjawab selalu
infestasi kutu kepala berbagi sisir rambut sebanyak 21 orang (13,8%). Studi oleh
dan 18,6% dengan kutu kepala yang tidak Yunida dkk. juga menunjukkan bahwa
berbagi sisir.10 santriwati dengan infestasi kutu kepala
Pada perilaku kebersihan dimana yang berbagi handuk hanya 1 orang
santriwati saling bertukar atau meminjam (2,1%) dan yang tidak sebanyak 48 orang
aksesoris rambut seperti ikat rambut, (97,9%).12
penjepit rambut, bando, bandana dan topi Pernyataan saling bertukar atau
sesama teman, mayoritas menjawab tidak meminjam jilbab atau kerudung sesama
pernah yaitu sebanyak 76 orang (50%) teman, mayoritas responden memilih
dan yang selalu adalah 7 orang (4,6%). jarang, 72 orang (47,4%) dan yang paling
Setengah dari jumlah santriwati dengan sedikit memilih selalu, 19 orang (12,5%).
infestasi kutu kepala jarang memotong Studi Yunida dkk. menunjukkan
rambut menjadi pendek yaitu 76 orang santriwati yang tidak berbagi kerudung
(50%) dan yang paling sering adalah 72,9% terkena kutu kepala dan yang
sebanyak 19 orang (12,5%). Hasil berbagi kerudung 27,1% yang terkena
penelitian yang dilakukan oleh Lukman infestasi kutu kepala.12
dkk. juga didapatkan 30,0% responden Mayoritas responden selalu tidur di
berambut pendek positif terkena kutu tempat tidur sendiri dan menggunakan
kepala dan 98,4% responden berambut perlengkapan tidur seperti bantal dan
panjang yang terkena infestasi kutu guling sendiri, yaitu sebanyak 101 orang
kepala.10 (66,4%) dan paling sedikit memilih tidak
Mayoritas responden menjawab tidak pernah sebanyak 9 orang (5,9%).
pernah menggunakan handuk bergantian Responden yang menggunakan tempat
bersama teman lain yaitu sebanyak 134 tidur bersama teman paling banyak
orang (88,2%) dan tidak ada yang memilih jarang 62 orang (40,8%) dan
menjawab selalu. Responden kebanyakan sedikit yang menjawab tidak pernah yaitu
selalu menjemur handuk setelah 19 orang (12,5%). Rutin mengganti
menggunakannya yaitu sebanyak 96 seprei tempat tidur, dan sarung bantal

179
Tarumanagara Med. J. 3, 1, 175-181, April 2021

seminggu sekali, mayoritas responden yang menyisir rambut dua kali seminggu,
memilih jarang sebanyak 68 orang dan 18,4% sebanyak tiga kali seminggu.4
(44,7%) dan paling sedikit adalah tidak Tabel 3 memperlihatkan bahwa perilaku
pernah yaitu 1 orang (0,7%). Studi kebersihan diri santriwati baik sebanyak
menurut Yunida dkk. santriwati yang 134 (88,2%) orang, cukup baik sebanyak
mengganti sprei tempat tidur sekali 18 (11,8%) orang dan tidak ada yang
seminggu 87,5% mengalami infestasi memiliki perilaku kebersihan diri yang
kutu kepala, sedangkan yang tidak buruk. Hal ini sejalan dengan studi yang
sebesar 12,5% yang terkena infestasi dilakukan oleh Fitri dkk. di mana
12
kutu kepala. mayoritas santri yang memiliki perilaku
Responden jarang yang rajin mencuci dan kebersihan diri yang baik lebih banyak
menjemur perlengkapan tempat tidur 2 yang mengalami infestasi kutu kepala
kali dalam sebulan, yaitu sebanyak 86 yaitu sebesar 94,2% daripada yang
orang (56,6%) dan sedikit yang tidak kurang baik sebesar 5,8%.15 Tetapi tidak
pernah yaitu 7 orang (4,6%). Mayoritas sejalan dengan studi yang dilakukan
responden selalu rajin menyapu dan Setyoasih dkk. mengenai hubungan
mengepel lantai serta membersihkan antara tingkat pengetahuan, perilaku
perabotan asrama sebanyak 78 orang kebersihan diri dan infestasi kutu kepala
(51,3%) dan yang paling sedikit memilih pada santriwati Muhammadiyah
tidak pernah, 2 orang (1,3%). Menurut Boarding School Prambanan Sleman
Canyon dan Speare, kutu kepala tidak Yogyakarta. Hasil studi Setyoasih
ditemukan di lantai sehingga penanganan memperlihatkan santriwati dengan
infestasi kutu kepala lebih difokuskan ke perilaku tidak baik lebih banyak yang
14
kepala, bukan lingkungan. mengalami infestasi kutu kepala yaitu
Responden selalu rutin menyisir rambut 28,6% dan yang berperilaku baik
dengan sisir serit untuk melihat adanya sebanyak 22,6%.16
telur atau kutu kepala dewasa di rambut,
Tabel 3. Gambaran perilaku kebersihan diri
sebanyak 73 orang (48%) dan yang tidak (N=152)
pernah menyisir rambut dengan sisir serit Perilaku kebersihan diri Jumlah (%)
adalah 1 orang (0,7%). Studi Dagne dkk. Buruk 0
menunjukkan 41,3% responden menyisir Cukup 18 (11,8)

rambut hanya satu kali seminggu, 24,9% Baik 134 (88,2)

180
Tarumanagara Medical Journal
Vol. 3, No. 1, 175-181, April 2021

KESIMPULAN 7. Yunipah L. Higiene Sanitasi dengan infeksi


Pedikulosis kapitis pada Santri di Pesantren
Pada studi ini didapatkan 152 santriwati Darul Mujahadah Kecamatan Margasari
yang mengalami infestasi kutu kepala Kabupaten Tegal 2014, Skripsi, Semarang,
Poltekes Semarang; 2014.
dengan mayoritas memiliki perilaku 8. Lye MS, Tohit NF, Rampal L. Prevalence and
predictors of investasi kutu kepala among
kebersihan diri yang baik yaitu sebanyak
primary school children in Hulu Langat,
134 orang (88,2%). Kontak erat dengan Selangor. Med J Malaysia. 2017;72(1):12–7.
9. Zakiudin A, Shaluhiyah Z. Perilaku
penderita merupakan cara transmisi kutu
Kebersihan Diri (Personal Hygiene) Santri di
kepala yang utama sehingga diperlukan Pondok Pesantren Wilayah Kabupaten
Brebes akan terwujud Jika Didukung dengan
pengobatan sekaligus pada santriwati Ketersediaan Sarana Prasarana. Jurnal
yang mengalami infestasi kutu kepala Promosi Kesehatan Indonesia. 2016;11(2):64
10. Lukman N, Armiyanti Y, Agustina D.
untuk menghentikan transmisi kutu Hubungan Faktor-Faktor Risiko Pediculosis
kepala. capitis terhadap kejadiannya pada Santri di
Pondok Pesantren Miftahul Ulum
Kabupaten Jember. J Agromed Med Sci.
DAFTAR PUSTAKA 2018;4(2):102-9
11. CDC - Lice [Internet]. Centers for Disease
1. Cummings C, Finlay JC, Macdonald NE. Control and Prevention. Centers for Disease
Head lice infestations: A clinical update. Control and Prevention; 2019.
Paediatrics & Child Health. 2018;23(1):e18- Available from: [Link]
24. sites/lice/i [Link]
2. Khamaiseh A. Head Lice among 12. Yunida S, Rachmawati K, Musafaah M.
Governmental Primary School Students in Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan
Southern Jordan: Prevalence and Risk Kejadian Pediculosis Capitis Di SMP Darul
Factors. Journal of Global Infectious Hijrah Putri Martapura: Case Control Study.
Diseases. 2018;10(1):11-5. Dunia Keperawatan. 2017;4(2):124.
13. Porter CM. Revisiting Precede– Proceed: A
3. Jamani S, Rodríguez C, Rueda MM,
leading model for ecological and ethical
Matamoros G, Canales M, Bearman G, et al.. health promotion. Heath Educational Journal.
Head lice infestations in rural Honduras: the Dec 2015.
need for an integrated approach to control 14. Canyon DV, Rick S. Indirect Transmission of
neglected tropical diseases. International Head Lice via Inanimate Objects [Internet].
Journal of Dermatology. 2018;58(5):548–56. Open Dermatology Journal.
4. Dagne H, Biya AA, Tirfie A, Yallew WW, 15. Fitri FD, Natalia D, Putri EA. Hubungan
Antara Tingkat Pengetahuan dan Personal
Dagnew B. Prevalence of pediculosis capitis Hygiene dengan Kejadian Pediculosis Capitis
and associated factors among schoolchildren pada Santri [Internet]. Jurnal Vokasi
in Woreta town, northwest Ethiopia. BMC Kesehatan. 2019
Research Notes. 2019;12(1):6p. 16. Setyoasih A, Suryani D. Hubungan antara
5. Guenther LCC. Pediculosis and Pthiriasis Pengetahuan, Personal Hygiene, dan
(Lice infestation). [Internet]. 2019. Available Investasi Pediculus humanus var. Capitis
pada Santriwati Muhammadiyah
from: [Link]
Boarding School Prambanan Sleman
article/730034_2 Yogyakarta [Internet]. Jurnal Kedokteran dan
6. Hidayah MS. Faktor-Faktor Yang Kesehatan.
Berhubungan Dengan Kejadian Pedikulosis
Kapitis Pada Santri Putri Pondok Pesantren
Di Bantul Yogyakarta. Surya Medika: Jurnal
Ilmiah Ilmu Keperawatan dan Ilmu
Kesehatan Masyarakat. 2019; 14(1):32.

181

Anda mungkin juga menyukai