Siswanto & Maskan, (2020) menyatakan bahwa komunikasi dari mulut ke mulut
merupakan cerita yang berupa kesan dari konsumen kepada temannya terkait suatu
pelayanan dan promosi yang menyenangkan dari suatu produk atau jasa.
Definisi lain dari word of mouth marketing menurut Pamungkas, (2016) yaitu kegiatan
pemasaran yang memicu konsumen untuk membicarakan, mempromosikan,
merekomendasikan hingga menjual merek suatu produk kepada calon konsumen
lainnya.
Menurut Ali, (2020) terdapat 3 indikator word of mouth yaitu 1) Membicarakan
dengan item pengalaman positif, kualitas produk, 2) Merekomendasikan dengan
item teman, keluarga, 3) Mendorong dengan item membujuk teman, mengajak
keluarga.
Menurut Ningsih & Hidayat, (2017) word of mouth terdiri dari dua faktor yaitu faktor
emosional dan faktor kognisi. Dan terdapat lima elemen dasar yang harus diperhatikan
dalam menggunakan WOM yang menguntungkan, yaitu talkers (pembicara), topics(topik),
tools(alat), talking part (partisipasi) dan tracking (pengawasan).
Fakhrudin, A., Yudianto, K., & AD, Y. S. M. (2021, October). Word of mouth marketing berpengaruh
terhadap keputusan kuliah. In FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan Akuntansi (Vol.
23, No. 4, pp. 648-657).
Menurut Kotler dan Keller (2016:164) kualitas produk adalah kemampuan suatu barang
untuk memberikan hasil atau kinerja yang sesuai bahkan melebihi dari apa yang di inginkan
pelanggan
Khotimah, H., & Doddi Prastuti, S. M. (2020). Pengaruh Kualitas Produk, Kualitas Pelayanan Dan
Harga Terhadap Kepuasan Pelanggan (Studi kasus pelanggan shopee di PT. Biro klasifikasi
Indonesia Jakarta Utara). Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia.
Menurut Kotler dan Amstrong (2019:69), Arti dari kualitas produk adalah “the ability of a
product to perform its functions, it includes the product’s overall durability, reliability,
precision, ease of operation and repair, and other valued attributes, yang artinya
kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan
durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga
atribut produk lainnya. Kemudian menurut Tjiptono (2017:179), Kualitas produk yaitu
berfokus pada upaya pemenuhan Kebutuhan dan keinginan konsumen serta ketepatan
penyampaian untuk memenuhi harapan konsumen”.
Alwi, A., Ferils, M., & Junaeda, J. (2020, July). Pengaruh kualitas produk dan kepercayaan
konsumen terhadap keputusan pembelian. In FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan
Akuntansi (Vol. 22, No. 2, pp. 334-342).
Kualitas produk atau (product quality) adalah kapasitas produk untuk menjalankan
fungsinya termasuk daya tahan lama, dan kemudahan penggunaan, pemeliharaan, dan
kualitas penting lainnya untuk meningkatkan standar produk perusahaan dapat menerapkan
program “Total Quality Manajemen (TQM)”.
Menurut Kotler dan Armstrong (2017:299) berpendapat “Kualitas produk adalah
kemampuan produk untuk menampilkan fungsinya, hal ini termasuk waktu kegunaan dari
produk, keandalan, kemudahan, dalam penggunaan dan perbaikan, dan nilai-nilai yang
lainya.
Menurut Mullins, dkk dalam Indrasari (2019:33) menjelaskan bahwa didalam memuaskan
konsumen ada beberapa indikator Kualitas Produk yaitu:
1) Kinerja (performance) Kinerja produk merupakan indikator paling dasar dari
produk tersebut untuk dapat memenuhi harapan mereka.
2) Daya Tahan (durability) Indikator Kualitas Produk yang menunjukan berapa lama
atau umur produk bersangkutan bertahan sebelum produk tersebut harus diganti.
Dengan demikian besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk tersebut
maka semakin besar pula daya tahan produk.
3) Kesesuaian (conformance) Indikator Kualitas Produk yang sejauh mana
karakteristik operasi dasar dari sebuah produk memenuhi spesifikasi tertentu dari
konsumen atau tidak ditemukannya cacat pada produk tersebut.
4) Fitur (features) Karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi
produk atau menambahkan fungsi dasar berkaitan dengan pilihan-pilihan produk,
dan pengembangannya. Sehingga akan menambah keterkaitan konsumen atau
konsumen terhadap produk tersebut.
5) Realibilitas (realibility) Yaitu probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan
memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan
terjadinya kerusakan maka produk ini penting karena berhubungan dengan
Kepuasan Konsumen.
Arianto, N., Aroha, S., & Aroha, S. Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Pelayanan terhadap
Keputusan Pembelian pada Restoran Daphubu Kampung Aceh di Pamulang Kota
Tangerang. Jurnal Ilmiah Swara Manajemen, 3(2), 270-284.
. Adapun berdasarkan 8 indikator kualitas produk menurut (Sanjaya, 2023) diantaranya :
kinerja (Performance), fitur (Features), kesesuaian (Conformance), daya tahan (Durability),
reliabilitas (Reliability), kemampuan melayani (Service Ability), estetika (Aesthetics),
kualitas yang Dirasakan (Perceived Quality).
Satdiah, A., Siska, E., & Indra, N. (2023). Pengaruh Harga Dan Kualitas Produk Terhadap
Keputusan Pembelian Konsumen Pada Toko Cat De’lucent Paint. CiDEA Journal, 2(1), 24-37.
Produk adalah inti dari kegiatan pemasaran karena produk adalah hasil dari kegiatan
perusahaan yang dapat ditawarkan ke pasar sasaran untuk memenuhi kebutuhan dan
keinginan pelanggan. Pada dasarnya, ketika pelanggan membeli suatu produk, mereka tidak
hanya membeli produk, tetapi juga membeli manfaat yang ditawarkan oleh perusahaan
kepada pelanggan, yang merupakan faktor penting dalam persaingan.
Menurut Tjiptono dalam Firmansyah (2019:16-17) Indikator kualitas produk sebagai
berikut : a. Kinerja (performance), yaitu karakteristik operasi pokok dari produk inti (core
product) yang dibeli. b. Keistimewaan tambahan (features), yaitu karakteristik sekunder
atau pelengkap. c. Keandalan (reliability), yaitu kemungkinan kecil akan mengalami
kerusakan atau gagal dipakai. d. Kesesuaian dengan spesifikasi (conformance to
specifications), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi memenuhi standar-
standar yang telah ditetapkan sebelumnya. e. Daya tahan (durability). Berkaitan dengan
berapa lama produk tersebut dapat terus digunakan. Dimensi ini mencakup umur teknis
maupun umur ekonomis penggunaan mobil. f. Estetika (aesthethic), yaitu daya tarik produk
terhadap panca indera. kualitas yang Dirasakan (Perceived Quality).
a. Hasil Produk (Performance) Karakteristik operasi pokok dari produk inti (core product)
yang dibeli kinerja dari produk yang memberikan manfaat bagi konsumen yang
mengkonsumsi sehingga konsumen dapat memperoleh manfaat dari produk yang telah
dikonsumsi. b. Ciri-ciri atau keistimewaan tambahan (Features) Merupakan karakteristik
sekunder atau pelengkap dari produk inti keistimewaan tambahan produk juga dapat
dijadikan ciri khas yang membedakan dengan produk pesaing yang sejenis. Ciri khas yang
ditawarkan juga dapat mempengaruhi tingkat kepuasan konsumen terhadap suatu produk. c.
Kehandalan (Reliability) Kemungkinan kecil terhadap suatu kegagalan pakai atau
kerusakan tingkat risiko kerusakan produk, menentukan tingkat kepuasan konsumen yang
diperoleh dari suatu produk. Semakin besar risiko yang diterima oleh konsumen terhadap
produk, semakin kecil tingkat kepuasan yang diperoleh konsumen. d. Kesesuaian dengan
Spesifikasi (Conformance to Specfication) Kesesuaian kinerja dan kualitas produk dengan
standar yang diinginkan. Pada dasarnya, setiap produk memiliki standar ataupun spesifikasi
yang telah ditentukan. Karakteristik desain operasi memenuhi standar-standar yang telah
ditetapkan sebelumnya. e. Daya Tahan (Durability) Berkait dengan berapa lama produk
tersebut dapat tersebut digunakan. Daya tahan biasanya berlaku untuk produk yang bersifat
dapat dikonsumsi dalam jangka panjang. f. Kegunaan (Serviceability) Meliputi kecepatan,
kompetensi, kenyamanan, mudah direparasi serta penanganan keluhan yang memuaskan. g.
Estetika (Aesthetics) Daya tarik produk terhadap panca indera. Konsumen akan tertarik
terhadap suatu produk ketika konsumen melihat tampilan awal dari produk tersebut. h.
Kualitas yang Dirasakan (Perceived Quality) Kualitas yang dirasakan adalah kesan kualitas
suatu produk yang dirasakan oleh konsumen. Dimensi kualitas ini berkaitan dengan
persepsi konsumen terhadap kualitas sebuah produk ataupun merek.
Wibowo, I. (2020). Pengaruh Kepercayaan, Keamanan Dan Kualitas Produk Terhadap Keputusan
Pembelian. Jurnal Artikel, 8(2), 10-20.
Keputusan pembelian
Menurut Assauri (2017:173), Keputusan pembelian adalah “tindakan yang didasari oleh
seseorang melalui persepsi tentang manfaat, kualitas produk atau jasa yang diinginkannya”.
Sedangkan Schiffman dan Khanuk (2015:232), Keputusan pembelian adalah “sikap yang
didasari oleh seseorang melalui beberapa pertimbangan yang selaras dengan kebutuhan
yang diinginkannya”. Kemudian Kotler, P dan Armstrong, G (2019:175), Keputusan
pembelian ialah “kemampuan secara bertahap dalam memilih suatu barang ataupun jasa
sesuai dengan tahapan atas dasar kebutuhannya”.
Alwi, A., Ferils, M., & Junaeda, J. (2020, July). Pengaruh kualitas produk dan kepercayaan
konsumen terhadap keputusan pembelian. In FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan
Akuntansi (Vol. 22, No. 2, pp. 334-342).
Menurut Susetyarsi & Harminingtyas, (2021) keputusan membeli atau mengkonsumsi
suatu produk dengan merek tertentu akan diawali dengan langkah-langkah sebagai berikut:
pengenalan kebutuhan, waktu, perubahan situasi, kepemilikan produk, konsumsi kroduk,
perbedaan individu, pengaruh pemasaran, pencarian informasi, pencarian internal,
pencarian eksternal.
Indikator Keputusan Pembelian Menurut Kotler dan Amstrong (2019) Adapun indikator
keputusan pembelian meliputi sebagai berikut:
1) Pilihan produk Konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah
produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan yang lain. Dalam hal ini
perusahaan harus memusatkan perhatiannya kepada orang-orang yang berminat
membeli sebuah produk serta alternatif yang mereka pertimbangkan.
2) Pilihan merek Konsumen harus mengambil keputusan tentang merek sama yang
akan dibeli setiap merek memiliki perbedaan tersendiri. Dalam hal ini perusahaan
harus mengetahui bagaimana konsumen memilih sebuah merek.
3) Pilihan penyalur Konsumen barus mengambil keputusan tentang penyalur mana
yang akan dikunjungi. Setiap konsumen berbeda-beda dalam hal menentukan
penyalur bisa dikarenakan faktor lokasi yang dekat, harga yang murah, persediaan
barang yang lengkap, kenyamanan dalam belanja, keluasan tempat dan lain lain.
4) Waktu pembelian Keputusan konsumen dalam pemilihan waktu pembelian bisa
berbeda-beda misalnya ada yang membeli setiap hari, satu minggu sekali, dua
minggu sekali dan lain sebagainya. & Jumlah pembelian konsumen dapat
mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelanjakan pada
suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin lebih dari satu. Dalam hal ini
perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk sesuai dengan keinginan yang
berbedabeda.
5) Jumlah Pembelian Konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak
produk yang akan dibelanjakan pada suatu saat. Pembelian yang dilakukan mungkin
lebih dari satu. Dalam hal ini perusahaan harus mempersiapkan banyaknya produk
sesuai dengan keinginan yang berbedabeda.
Arianto, N., Aroha, S., & Aroha, S. Pengaruh Kualitas Produk dan Kualitas Pelayanan
terhadap Keputusan Pembelian pada Restoran Daphubu Kampung Aceh di Pamulang Kota
Tangerang. Jurnal Ilmiah Swara Manajemen, 3(2), 270-284.
Menurut Kotler dan Armstrong (2018:177) mengemukakan bahwa “Keputusan pembelian
merupakan bagian dari perilaku konsumen, yaitu studi tentang bagaimana individu,
kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa,
ide, atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka”.
Indikator Keputusan Pembelian Menurut Kotler dan Amstrong (2019:251) Adapun
indikator keputusan pembelian meliputi sebagai berikut:
Jenis dan Sumber Data
Ditinjau dari sifatnya data itu dikategorikan menjadi dua yakni data kualitatif dan data
kuantitatif: Menurut Sugiyono (2019:13), “Data Kuantitatif yaitu data yang berbentuk
angka atau data kualitatif yang diangkakan”. Menurut Sugiyono (2019:13), “Data Kualitatif
data yang berbentuk kata, kalimat, skema, dan gambar”. Berdasarkan pemaparan diatas
maka penulis menarik kesimpulan bahwa data kuantitatif merupakan data yang berbentuk
angka atau data yang bersumber dari hasil statistik. Sedangkan data kualitatif merupakan
data yang berbentuk kata, dokumen, dan gambaran umum objek penelitian. Berdasarkan
sumbernya, data dapat diklasterkan menjadi dua kategori yakni primer dan sekunder:
Menurut Sugiyono (2019:193), “Data primer yaitu sumber data langsung memberikan data
tersebut kepada pengumpulan data”. Menurut Sugiyono (2019:193), “Data sekunder yaitu
sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data” Berdasarkan
pemaparan diatas maka peneliti menarik kesimpulan bahwa data primer merupakan data
yang diolah oleh peneliti itu sendiri. Sedangkan data sekunder merupakan data yang
diperoleh dari pihak lain atau sumber lain
Alwi, A., Ferils, M., & Junaeda, J. (2020, July). Pengaruh kualitas produk dan kepercayaan
konsumen terhadap keputusan pembelian. In FORUM EKONOMI: Jurnal Ekonomi, Manajemen dan
Akuntansi (Vol. 22, No. 2, pp. 334-342).
Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian
ini adalah nonprobability sampling. Non probability sampling menurut Sekaran dan Bongie
(2017:59) yaitu elemen tidak memiliki peluang yang diketahui atau yang ditentukan
sebelumnya untuk dipilih sebagai subjek. Sedangkan metode pengambilan sampel yang
akan digunakan dalam penelitian ini adalah judgement sampling, dimana pengambilan
sampel dilakukan berdasarkan kriteria tertentu, yaitu pelanggan yang pernah melakukan
pembelian produk Ms Glow di Jakarta.
Uji T
digunakan digunakan untuk menunjukkan seberapa jauh pengaruh satu variabel bebas
secara individual dan menjelaskan variasi dependen. Pengujian hipotesis yang digunakan
adalah sebagai berikut: Keterangan H0 = β1 = 0 Ha = β1 > 0 H0 = β2 = 0 Ha = β2 > 0
Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Jika nilai Sig < 0,05 atau t hitung > t tabel, maka tolak H0 yang artinya variabel
indenpenden secara individual mempengaruh variabel dependen.
b) Jika nilai Sig > 0,05 atau t hitung < t tabel maka tidak tolak H0 yang artinya variabel
indenpenden secara individual tidak mempengaruhi variabel dependen.
Uji Kesesuaian Model (Uji F) Uji F digunakan untuk menguji keberartian model regresi
mengenai apakah model regresi tersebut dapat digunakan atau tidak. Dalam analisisnya,
menggunakan hipotesis statistic sebagai berikut:
H0 : β1 = β2 = 0
Ha : Tidak semua β1 = 0
Keterangan
I = 1,2
Dasar pengambilan keputusan adalah sebagai berikut:
a) Taraf Sig. adalah 0,05.
b) Jika Sig. < 0,05 atau F hitung > F tabel, maka hasilnya adalah tolak H0, yang berarti ada
pengaruh terhadap Y.
c) Jika Sig. > 0,05 atau F hitung < F tabel maka hasilnya adalah tidak tolak H0, yang berarti
tidak ada pengaruh Y.
Uji Koefisien Determinasi (R2 )
Menurut Ghozali (2021:147), koefisien determinasi (R2 ) untuk mengukur seberapa jauh
kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai dari koefisien
determinasi selalu positif karena merupakan rasio dari jumlah kuadrat, yaitu bernilai antara
0 dan 1. Jika nilai R2 yang didapat bernilai negative, maka R2 tersebut akan dianggap
bernilai 0.
a) R 2 = 0, artinya variabel bebas (X) tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan
variabel terikat (Y).
b) R 2 = 1, artinya variabel bebas (X) secara sepenuhnya memiliki kemampuan untuk
menjelaskan variabel terikat (Y).
Karyadi, A. (2022). Pengaruh Brand Image dan Viral Marketing Terhadap Keputusan Pembelian
Produk Ms Glow di Jakarta/Alfinsius Karyadi/28180206/Pembimbing: Tony Sitinjak.
Menurut Ghozali (2021), regresi linear berganda merupakan model regresi yang
melibatkan lebih dari satu variabel independen. Analisis regresi linear berganda dilakukan
untuk mengetahui arah dan seberapa besar pengaruh variabel independen terhadap variabel
dependen. Analisis regresi berganda dalam penelitian ini digunakan untuk menguji
keputusan pembelian yang terdiri atas Word Of Mouth (X1) dan Kualitas Produk (X2)
terhadap keputusan pembelian produk kopi pada usaha Gisting Coffee Roastery di
Kecamatan Gisting.
Uji Hipotesis Simultan (Uji F)
Menurut Ghozali (2021), uji F dilakukan untuk melihat pengaruh dari seluruh variabel
bebas secara bersama-sama atau simultan terhadap variabel terikat. Pengujian
hipotesis simultan dapat dilakukan dengan membandingkan nilai F-statistics atau
Fhitung dengan nilai F pada tabel distribusi F. Variabel-variabel bebas dikatakan memiliki
pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat, jika nilai Fhitung lebih besar
dari pada nilai Ftabel dengan taraf signifikansinya sebesar 5% (α = 0.05). Uji-F pada
penelitian ini bertujuan untuk menguji ada tidaknya pengaruh secara bersama-sama variabel
determinan kemiskinan yang terdiri atas pertumbuhan ekonomi (X1), indeks pembangunan
manusia (X2), dan pengangguran (X3 ) terhadap tingkat kemiskinan di Kabupaten
Sumbawa (Y).
Uji Hipotesis Parsial (Uji-t)
Menurut Ghozali (2021), uji t dilakukan untuk menguji hipotesis penelitian mengenai
pengaruh dari masing-masing variabel bebas secara parsial terhadap variabel terikat.
Pada pengujian hipotesis parsial dapat dilakukan dengan membandingkan nilai T-
statistics dengan nilai T pada tabel distribusi t. Variabel bebas dikatakan memiliki
pengaruh yang signifikan terhadap variabel terikat secara parsial ketika nilai T-statistics
atau thitung lebih besar dari pada nilai t tabel dengan taraf signifikansinya sebesar 5% (α
= 0.05). Uji-t pada penelitian ini digunakan untuk melihat signifikan pengaruh masing-
masing variabel determinan kemiskinan yang terdiri atas pertumbuhan ekonomi (X1),
indeks pembangunan manusia (X2), dan pengangguran (X3) terhadap tingkat kemiskinan
di Kabupaten Sumbawa (Y).
Nurulita, F., Kamaruddin, K., & Asmini, A. (2023). ANALISIS DETERMINAN TINGKAT KEMISKINAN
DI KABUPATEN SUMBAWA. Jurnal Ekonomi & Bisnis, 11(2), 261-272.
Bila terdapat 2 variable bebas, yaitu X1 dan X2, maka bentuk persamaan regresinya
adalah : Y = a + b1X1 + b2X2
Keadaan-keadaan bila koefisien-koefisien regresi, yaitu b1 dan b2 mempunyai nilai :
1) Nilai=0. Dalam hal ini variabel Y tidak dipengaruh oleh X1 dan X2
2) Nilainya negative. Disini terjadi hubungan dengan arah terbalik antara variabel tak
bebas Y dengan variabel-variabel X1 dan X2.
3) Nilainya positif. Disni terjadi hubungan yang searah antara variabel tak bebas Y
dengan variabel bebas X1 dan X2
Koefisien Determinasi (r2 )
Untuk mengetahui prosentase pengaruh variable-variable X1 dan X2 terhadap variable Y
digunakan koefisien determinasi
Besarnya r2 dihitung dengan rumus :
𝑟 2 = (𝑏1 ∑ 𝑥1 𝑦) + (𝑏2 ∑ 𝑥2𝑦)
∑𝑦2
1) Apabila r 2 bernilai 0 , maka dalam model persamaan regresi yang terbentuk, variasi
variable tak bebas Y tidak sedikitpun dapat dijelaskan oleh variasi variable-variable bebas
X1 dan X2.
2) Apabila r 2 bernilai 1, maka dalam model persamaan regresi yang terbentuk, variable tak
bebas Y secara sempurna dapat dijelaskan oleh variasi variablevariable bebas X1 dan X2.
Yuliara, I. M. (2016). Regresi linier berganda. Denpasar: Universitas Udayana.
Sugiyono (2019:126) menjelaskan bahwa populasi adalah suatu wilayah generalisasi yang
terdiri dari objek atau subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang
ditentukan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian diambil kesimpulannya. Dalam
penelitian ini populasinya adalah
Menurut Sugiyono (2019:127) sampel merupakan bagian dari jumlah dan karakteristik
populasi.
Ajijah, J. H., & Selvi, E. (2021). Pengaruh kompetensi dan komunikasi terhadap kinerja perangkat
desa. Jurnal Manajemen, 13(2), 232-236.
Cara menghitung sampel:
Peneliti akan memperkirakan fokus kasus sampel konsumen yang membeli produk
Oriflame di Kabupaten Jepara. Jumlah sampel minimum yang harus digunakan jika tingkat
kepercayaan dintentukan 90% dan nilai Z adalah 1,64. Sampling errornya adalah 10% atau
0,10 dan karena karena nilai maksimal estimasi tidak diketahui maka dipertimbangkan
nilainya adalah 0,05
maka dapat dihitung: Z
Berdasarkan pada perhitungan diatas jumlah sampel yang dipergunakan yaitu sebanyak
67,24=68 orang. Dalam penelitian ini sampel yang akan diambil sebanyak 68 responden.
Pengambilan sampel pada penelitian ini menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu
non probability sampling. Metode yang digunakan pada teknik ini yaitu dengan Purposive
sampling yang merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga
layak dijadikan sebagai sampel penelitian. Adapun kriteria peneliti dalam menentukan
responden yang akan dijadikan sampel yaitu melakukan pembelian produk minimal 2 kali.