0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan25 halaman

Perencanaan Program BPN 2025

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut memberikan penjelasan umum mengenai perencanaan program dan kegiatan tahun 2025 serta lampirannya 2. Perencanaan didasarkan pada kerangka besar Indonesia Emas 2045 untuk mencapai 5 visi pembangungan melalui 8 misi transformasi 3. Kementerian Agraria dan Tata Ruang akan berkontribusi pada beberapa indikator utama pembangungan nasional

Diunggah oleh

GanangWidyoNindito
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
26 tayangan25 halaman

Perencanaan Program BPN 2025

Ringkasan dokumen tersebut adalah: 1. Dokumen tersebut memberikan penjelasan umum mengenai perencanaan program dan kegiatan tahun 2025 serta lampirannya 2. Perencanaan didasarkan pada kerangka besar Indonesia Emas 2045 untuk mencapai 5 visi pembangungan melalui 8 misi transformasi 3. Kementerian Agraria dan Tata Ruang akan berkontribusi pada beberapa indikator utama pembangungan nasional

Diunggah oleh

GanangWidyoNindito
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

B/PR.01.

01/4432-100/XII/2023 22
-4-

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I : Penjelasan Umum Perencanaan Program dan Kegiatan


Tahun 2025
Lampiran II : Penjelasan Penyusunan Target Penerimaan, Program,
Kegiatan dan Anggaran Belanja
Lampiran III : Penjelasan Format dan Update Data Pokok
Lampiran IV : Penjelasan Dokumen Pendukung
Lampiran V : Mekanisme Perencanaan Program, Kegiatan dan Anggaran
Tahun 2025
-5-

Lampiran I Surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : B/PR.01.01/4432-100/XII/2023
Tanggal : 22 Desember 2023

Penjelasan Umum Perencanaan Program, Kegiatan dan Anggaran


Tahun 2025

Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional merupakan satu


kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana
pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang
dilaksanakan oleh pemerintah pusat dan daerah. Sinkronisasi perencanaan dan
penganggaran pembangunan nasional dilakukan untuk meningkatkan
keterpaduan perencanaan dan penganggaran, yang berkualitas dan efektif dalam
rangka pencapaian Visi Indonesia Emas Tahun 2045.
Perencanaan tahun 2025 sebagai tahun pertama dari RPJPN 2025-
2045 dan RPJMN 2025-2029 memedomani Kerangka Besar Indonesia Emas 2045
pada RPJPN 2025-2045 dengan 5 sasaran visi pembangunan nasional, 8
misi/agenda transformasi, 17 arah pembangunan dan 45 Indikator Utama
Pembangunan, sebagaimana skema berikut.

Gambar 1. Kerangka Besar Indonesia Emas 2045

Terdapat 5 Visi Indonesia Emas yaitu : 1) Pendapatan per


kapita setara negara maju, 2) Kemiskinan menuju 0% dan ketimpangan
berkurang, 3) Kepemimpinan dan pengaruh di dunia internasional meningkat, 4)
Daya saing sumber daya manusia meningkat dan 5) Intensitas emisi GRK
menurun menuju net zero emission. Kelima visi dimaksud memiliki 8
misi/agenda transformasi Indonesia yaitu : 1) transformasi sosial, 2) transformasi

ekonomi …
-6-

ekonomi, 3) transformasi tata kelola, 4) Supremasi hukum, stabilitas dan


kepemimpinan Indonesia, 5) Katahanan Sosial Budaya dan Ekologi, 6)
Pembangunan Kewilayahan yang merata dan berkeadilan, 7) Sarana dan
prasarana yang berkualitas dan ramah lingkungan, dan 8) Kesinambungan
pembangunan. Agenda transformasi dimaksud diwujudkan dengan arah
pembangunan Indonesia Emas.

Gambar 2. Tujuh belas arah pembangunan Indonesia Emas 2045

Ketujuh belas arah pembangunan tersebut, dicapai dengan 45


Indikator Utama Pembangunan dalam RPJPN 2025-2045. Sementara dari
Indikator Utama tersebut, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan
Pertanahan Nasional ke depan berkontribusi dalam mewujudkan indikator : 1)
Penurunan Tingkat Kemiskinan, 2) Pengembangan Pariwisata, 3) Peningkatan
produktivitas UMKM, Koperasi dan BUMN, 4) Tingkat penguasaan IPTEK, 5)
Tingkat penerapan ekonomi hijau, 6) Indeks Daya Saing Digital di tingkat Global,
7) Perwujudan kota maju, inklusif dan berkelanjutan, 8) Indeks SPBE, 9) Indeks
Pelayanan Publik, 10) Anti Korupsi, 11) Indeks Pembangunan Hukum, 12)
Kualitas Lingkungan Hidup, 13) Ketahanan Energi, Air dan Pangan, serta 14)
Persentasi Penurunan Emisi GRK (%).
Saat ini tengah dilakukan kajian oleh Kementerian PPN/Bappenas sub indikator
apa yang termasuk dalam masing-masing Indikator Utama Pembangunan
dimaksud.
Dalam mendukung pencapaian Visi Indonesia Emas Tahun 2045,
Kementerian ATR/BPN memiliki guideline value dalam perencanaan jangka
panjang untuk menata dan memperbaiki Sistem Pertanahan di Indonesia, antara
lain:
a. Tahun 2025-2029: Tahapan Kualitas dan Kepastian
Penguatan pondasi transformasi tata kelola/governance, digital, dan sosial
untuk meningkatkan kualitas dan memberikan kepastian proses
administrasi pertanahan meliputi kelengkapan, akurasi, konsistensi logis,
kekinian data pertanahan, tata ruang, dan sumber daya alam;
b. Tahun …
-7-

b. Tahun 2030-2034: Tahapan Kolaborasi dan Akselerasi


Akselerasi transformasi melalui kolaborasi terhadap hak atas tanah dan
informasi terkait peruntukan tanah dan ruang melalui penguatan partisipasi
stakeholder;
c. Tahun 2035-2029: Tahapan Produktivitas yang Kompetitif
Pemanfaatan tanah dan penataan ruang yang berdaya saing, pasar tanah
yang efisien dan tata guna yang mewujudkan perlindungan sosial dan
lingkungan yang efektif;
d. Tahun 2040-2045: Tahapan Global Recognition and Sustainability
Tata kelola pelayanan pertanahan dan tata ruang berstandar dunia dan
berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan dan keadilan
sosial.
Konsep Rencana Kerja Pemerintah pada Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Tahun 2025-2029 dilakukan dengan
pendekatan Kualitas dan Kepastian dengan Penguatan pondasi transformasi tata
kelola/governance, digital, dan sosial untuk meningkatkan kualitas dan
memberikan kepastian proses administrasi pertanahan meliputi kelengkapan,
akurasi, konsistensi logis, kekinian data pertanahan, tata ruang, dan sumber
daya alam, yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP), Rencana
Panjang Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dan Rencana Panjang
Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045.
Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2025
dilakukan secara lebih rinci yaitu menjabarkan Prioritas Nasional (PN), Program
Prioritas (PP), Kegiatan Prioritas (KP) ke dalam Proyek Prioritas Nasional (ProPN)
serta ke Proyek Kementerian/Lembaga (Proyek KL) atau yang lebih dikenal
dengan Rincian Output (RO) dengan tujuan untuk mempermudah dalam
mengawal pencapaian sasaran prioritas nasional sebagai bagian dalam
pelaksanaan perencanaan berbasis kinerja. Sebagai amanat Peraturan Presiden
Nomor 39 Tahun 2023 tentang Manajemen Risiko Pembangunan Nasional
(MRPN) ditujukan untuk tercapainya tujuan pembangunan nasional,
meningkatkan kualitas tata Kelola dalam penyelenggaraan PKKPR,
meningkatkan efektivitas pengendalian intern dan pengembangan inovasi
pelayan publik. MRPN mulai diterapkan sejak tahapan perencanaan,
pelaksanaan dan pasca pelaksanaan pembangunan. Pada tahap perencanaan
pembangunan setiap Kementerian/Lembaga harus menyusun profil dan mitigasi
risiko untuk prioritas pembangunan strategis hingga level Proyek Prioritas
Nasional (ProPN). Oleh karena itu dalam penyusunan usulan perencanana tahun
2025 setiap unit kerja harus mempertimbangkan risiko dan mitigasi risikonya.
Sesuai kalender perencanaan, penyusunan Rencana Kerja
Pemerintah (RKP) Tahun 2025 dilaksanakan lebih awal yaitu pada akhir Tahun-
2 (T-2) dengan maksud agar dapat memberikan arahan lebih awal kepada
pemerintah daerah mengenai Rencana Kerja Pemerintah yang sedang disusun
pada forum Musrenbang Kabupaten/Kota yang dilaksanakan pada bulan
Januari/Februari Tahun 2024, sehingga seluruh program/kegiatan dari
Kabupaten/Kota dapat bersinergi dengan Program/Kegiatan dari seluruh K/L
yang menjadi target kegiatan di masing-masing Provinsi/Kabupaten/Kota.
-8-

Lampiran II Surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : B/PR.01.01/4432-100/XII/2023
Tanggal : 22 Desember 2023

Penjelasan Perencanaan Target Penerimaan, Program, Kegiatan dan Anggaran


Tahun 2025

Penyusunan rancangan program, kegiatan dan anggaran Tahun


Anggaran 2025 agar memperhatikan Rencana Panjang Jangka Menengah
Nasional (RPJMN) 2025-2029 dan Rencana Panjang Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2025-2045, dan kegiatan yang diusulkan mempunyai manfaat sebagai
outcome bagi internal Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan
Nasional dan masyarakat. Usulan kegiatan tersebut harus dapat dideskripsi
dengan jelas serta mempunyai definisi output dan outcome yang jelas dan terukur.
Perencanaan tahunan pada Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional meliputi perencanaan target penerimaan,
program, kegiatan dan anggaran, sebagai berikut:
1. Target Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP)
Peraturan tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak secara umum
diatur dalam Peraturan Pemeritah Nomor 9 Tahun 2018 tentang Penerimaan
Negara Bukan Pajak. Penyusunan target penerimaan di lingkungan Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dilakukan baik terhadap
jenis penerimaan fungsional sebagaimana terdapat pada Peraturan Pemerintah
Nomor 128 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara
Bukan Pajak yang berlaku pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan
Pertanahan Nasional, maupun jenis penerimaan umum, Peraturan Menteri
Keuangan Nomor 143/PMK.02/2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak Kebutuhan Mendesak atas Pelayanan
Penerbitan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang yang berlaku pada
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dan Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 180/PMK.02/2021 tentang tentang Jenis dan Tarif
atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Kebutuhan Mendesak atas
Pelayanan Pertimbangan Teknis Pertanahan yang berlaku pada Kementerian
Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional.
1.1 Penerimaan Fungsional
Penyusunan jenis penerimaan fungsional meliputi penyusunan
potensi target fisik layanan dan target penerimaan yang mengacu pada Peraturan
Pemerintah Nomor 128 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional, Peraturan Menteri Keuangan Nomor
143/PMK.02/2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan
Pajak Kebutuhan Mendesak atas Pelayanan Penerbitan Kesesuaian Kegiatan
Pemanfaatan Ruang yang berlaku pada Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor
180/PMK.02/2021 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan

Pajak …
-9-

Pajak Kebutuhan Mendesak atas Pelayanan Pertimbangan Teknis Pertanahan


yang berlaku pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan
Nasional. Terhadap Satuan Kerja yang memiliki jenis layanan sebagaimana
diatur dalam tiga peraturan tersebut, agar menyampaikan usulan target
penerimaan dengan memperhitungkan target-target fisik secara jelas, baik fisik
maupun jumlah tarifnya, sesuai dengan Peraturan Pemerintah dimaksud. Target
fisik setiap jenis layanan tersebut kemudian dikalikan dengan tarif masing-
masing jenis layanan sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah
dimaksud. Penyusunan target penerimaan mempertimbangkan:
1. Potensi target penerimaan di Tahun 2025; dan
2. Realisasi fisik dan keuangan penerimaan 2 (dua) tahun terakhir (2022 dan
2023) serta perkiraan realisasi penerimaan Tahun 2024.
Dalam penghitungan tarif PNBP yang bersifat rumus perlu memperhatikan
karakteristik rata luasan yang dimohonkan oleh pemohon maupun potensi
luasan yang akan dimohonkan oleh pemohon di tahun 2025.
Berdasarkan Surat Menteri Keuangan Nomor S-467/MK.02/2022
tanggal 24 Mei 2022 Hal Persetujuan Penggunaan Dana Penerimaan Negara
Bukan Pajak (PNBP) pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan
Pertanahan Nasional (Kementerian ATR/BPN), penerimaan layanan pertanahan
dapat digunakan sebagai sumber dana belanja sebesar 85,54% dan Pelayanan
Penerbitan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (KKPR) dapat digunakan
sebagai sumber dana belanja sebesar 77%. Penerimaan dari seluruh Satuan
Kerja pada Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional
dimasukkan ke dalam Satuan Kerja Sekretariat Jenderal (Pusat), sedangkan
belanja PNBP dapat dialokasikan pada seluruh program dalam rangka
mendukung pelayanan pertanahan, kecuali penerimaan dari layanan pendidikan
yang berada di Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), dan dengan izin
penggunaan (belanja) sebesar 90,11%.

1.1.1 Potensi target Penerimaan di Tahun 2025


Berikut format matriks isian dalam link sebagaimana surat ini:
a. Satuan Kerja Daerah

PROVINSI

Input Data

b. Satuan …
-10-

b. Satuan Kerja Pusat


Kode PAGU INDIKATIF PAGU ANGGARAN
No. Satker/Layanan
Satker Fisik Tarif Target PNBP Belanja Operasional Fisik Tarif Target PNBP Belanja Operasional
1 2 3 4 5 6=(4x5) 7=(85,54%xkolom 6) 8 9 10=(8x9) 12=(85,54%xkolom 10)
352410 DIREKTORAT JENDERAL SURVEI DAN PEMETAAN - - - -
PERTANAHAN DAN RUANG
A. DIREKTORAT PENGUKURAN DAN PEMETAAN - - - -
KADASTRAL
Pelayanan pengukuran dan pemetaan batas bidang 434.000.000 - - 459.000.000 - -
tanah
Pelayanan pengukuran dan pemetaan batas ruang 318.000 - - 318.000 - -
atas tanah, Pengukuran
Pelayanan ruang bawahBatas
tanahKawasan
dan ruangatauperairan
Batas 3.500.000 - - 3.500.000 - -
B. Wilayah
DIREKTORAT SURVEI DAN PEMETAAN TEMATIK - - - -
Pemetaan Tematik Kawasan Skala 1:10.000 40.000 - - 40.000 - -
Pendaftaran Ujian Surveyor Berlisensi 100.000 - - 100.000 - -
Pelaksanaan Ujian Surveyor Berlisensi 200.000 - - 200.000 - -
Pengangkatan Surveyor Berlisensi 100.000 - - 100.000 - -
Pelantikan dan pengambilan sumpah Surveyor 100.000 - - 100.000 - -
Berlisensi
Pendaftaran Kantor Jasa Surveyor Berlisensi (KJSB) 500.000 - - 500.000 - -

Input Data Input Data

1.1.2 Realisasi fisik dan keuangan penerimaan 2 (dua) tahun terakhir (2022 dan
2023) serta perkiraan realisasi penerimaan tahun 2024
Berikut format matriks isian dalam dalam link sebagaimana surat ini:

Input Data
1.2 Penerimaan Umum
Penerimaan umum, yaitu PNBP yang bersifat umum pada seluruh
Kementerian/Lembaga (K/L) yang tidak terkait dengan pelayanan sesuai dengan
tugas dan fungsi K/L dimaksud. PNBP ini tidak diberikan izin untuk digunakan
sebagai sumber dana belanja. Termasuk jenis PNBP Umum antara lain:
1.2.1 Pendapatan Jasa Lembaga Keuangan/Jasa Giro;
1.2.2 Pendapatan Penjualan Aset Lainnya yang berlebihan/rusak/
dihapuskan;
1.2.3 Pendapatan Sewa Benda-benda Tak Bergerak;
1.2.4 Penerimaan Kembali Pegawai Pusat (TAYL);
1.2.5 Pendapatan sewa rumah dinas/rumah negeri;
1.2.6 Pendapatan pelunasan ganti rugi atas kerugian yang diderita negara
(masuk TP/TGR) bendahara;
1.2.7. Peneriman Kembali Belanja Lainnya (RMTYAL);
1.2.6 Pendapatan Anggaran Lain-lain;
1.2.7 Pendapatan Jasa Lainnya.
Penyusunan jenis penerimaan umum memperhatikan potensi kemungkinan
adanya jenis penerimaan di masing-masing satuan kerja sesuai dengan jenis-
jenis penerimaan umum sebagaimana peraturan yang berlaku, disamping juga
karakteristik realisasi dalam 2 (dua) tahun terakhir dan prakiraan realisasi
hingga akhir tahun 2023 serta outlook realisasi tahun 2024.
Berikut …
-11-

Berikut format matriks isian target penerimaan:

a. Satuan Kerja Daerah


NO Kode Provinsi/Satuan Kerja Mata Anggaran Penerimaan (MAP) Penerimaan Umum
Satker (Rp)

1 2 3 4 5
PROVINSI DKI JAKARTA
01 429630 KANWIL BPN DKI JAKARTA
01 429646 KANTAH JAKARTA UTARA
01 429652 KANTAH JAKARTA TIMUR
01 429661 KANTAH JAKARTA SELATAN
01 429677 KANTAH JAKARTA BARAT
01 429683 KANTAH JAKARTA PUSAT
TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA -

Input Data

b. Satuan Kerja Pusat

NO Kode Satker Provinsi/Satuan Kerja Mata Anggaran Penerimaan (MAP) Penerimaan Umum

1 2 3 4 5
352410 Ditjen Survei dan Pemetaan Pertanahan dan Ruang
352411 Ditjen Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah
352412 Ditjen Penataan Agraria
352413 Ditjen Pengadaan Tanah dan Pengembangan Pertanahan
429621 Kantor Pusat Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia (Sekretariat
Jenderal)
524465 Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional
TOTAL ATR/BPN PUSAT -

Input Data

1.3 Input Data Target PNBP Tahun 2025


Perencanaan target PNBP sebagaimana poin 1.1 dan 1.2 di atas, agar
dituangkan dan diinput ke dalam Aplikasi Target Penerimaan Negara Bukan
Pajak (TPNBP) dan pada link data untuk kepentingan penghitungan analisa
kebutuhan belanja operasional layanan. Aplikasi TPNBP tersebut dapat
didownload pada situs web Kementerian Keuangan dan backup Arsip Data
Komputer (ADK) target penerimaan yang telah diinput pada aplikasi dimaksud
disampaikan kepada kami. Perlu kami sampaikan bahwa pembahasan terhadap
perencanaan PNBP ini akan dilakukan sekitar bulan Februari 2024 untuk usulan
Pagu Indikatif dan sekitar bulan April 2024 untuk Pagu Anggaran bersama
dengan Direktorat Penerimaan Negara Bukan Pajak pada Direktorat Jenderal
Anggaran Kementerian Keuangan, serta dibahas oleh Badan Anggaran Dewan
Perwakilan Rakyat Republik Indonesia.

2. Penyusunan …
-12-

2. Penyusunan Belanja Operasional Layanan PNBP


Belanja operasional layanan PNBP merupakan belanja yang
dipergunakan untuk membiayai pekerjaan dalam rangka menghasilkan output
layanan sebagaimana permohonan sesuai jenis layanan sebagaimana pada
Peraturan Pemerintah Nomor 128 Tahun 2015 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis
Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional dan izin penggunaan sebagaimana
Surat Menteri Keuangan Nomor S-467/MK.02/2022 tanggal 24 Mei 2022 Hal
Persetujuan Penggunaan Dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (Kementerian
ATR/BPN). Sehingga setiap satuan kerja yang mempunyai rencana target
penerimaan sebagaimana pada poin 1.1 agar menyusun belanja operasional
layanan dengan memperhatikan volume fisik layanan yang ditargetkan dan
satuan biaya (Rincian Anggaran Belanja/Template) pekerjaan untuk
menghasilkan output layanan pertanahan sesuai dengan jenis layanan yang
ditargetkan. Dalam perhitungan biaya yang menggunakan RAB/Template
formula/rumus agar memperhatikan rata-rata variabel luasan yang sama dengan
perhitungan saat menyusun rata-rata luasan dalam penghitungan tarifnya.
Perlu kami sampaikan bahwa dalam perencanaan PNBP terintegrasi
di Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional maka
seluruh target penerimaan yang disusun oleh masing-masing satuan kerja
adalah target penerimaan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan
Pertanahan Nasional, yang sesuai izin penggunaan akan diutamakan untuk
pembiayaan operasional layanan dalam menghasilkan output sesuai
permohonan, dan selebihnya dipergunakan untuk pembiayaan kegiatan
strategis Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional di
512 satuan kerja berdasarkan skala prioritas.

Berikut format matriks isian dalam dalam link sebagaimana surat ini:
OPERASIONAL LAYANAN
Belanja Non Operasional
Penerimaan Belanja = 85,54% x Ditjen Pengadaan
No Lokasi Kode Satker Satker Penerimaan Umum Ditjen Survei dan Layanan = 85,54 % -
Fungsional Penerimaan Ditjen Penetapan Hak Ditjen Penataan Tanah dan Total Operasional
Pemetaan Pertanahan Operasional Layanan
dan Pendaftaran Tanah Agraria Pengembangan Layanan
dan Ruang
Pertanahan
1 2 3 4 5 6 = (85,54% x kolom 3) 7 8 9 10 11 = (7+8+9+10) 12 = (6 - 11)
PROVINSI
PROPINSI DKI JAKARTA
01 429630 KANWIL BPN DKI JAKARTA
01 429646 KANTAH JAKARTA UTARA
01 429652 KANTAH JAKARTA TIMUR
01 429661 KANTAH JAKARTA SELATAN
01 429677 KANTAH JAKARTA BARAT
01 429683 KANTAH JAKARTA PUSAT
TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA

Data sudah otomatis terinput

3. Penyusunan Program, Kegiatan dan Anggaran Belanja Tahun 2025


Dalam rangka penyusunan program, kegiatan dan anggaran tahun
2025 maka kebijakan diacu meneruskan kebijakan-kebijakan yang bersifat
inovatif di tahun 2024 serta berorientasi pada outcome yang dapat dirasakan oleh
masyarakat dan mendorong birokrasi dan layanan publik yang efektif, produktif,
kompetitif melalui reformasi birokrasi, dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi
melalui penyederhanaan birokrasi serta memperhatikan penyelesaian terhadap

backlog …
-13-

backlog kegiatan. Terhadap perencanaan belanja barang agar menerapkan


pengendalian belanja barang dengan lebih memanfaatkan teknologi, terutama
untuk perjalanan dinas, rapat di luar kantor dan honorarium.
Penyusunan Program, Kegiatan dan Anggaran Tahun 2025 mengacu
pada Rencana Panjang Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029 dan
Rencana Panjang Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045. Program
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional terdiri dari:
1. Program Penyelenggaraan Penataan Ruang, merupakan program teknis
bidang penataan ruang. Program ini dilaksanakan oleh:
a. Direktorat Jenderal Tata Ruang;
b. Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang
(Bidang Penataan Ruang).
Sasaran program penyelenggaran penataan ruang adalah terwujudnya
perencanaan tata ruang dan pemanfaatan ruang yang berkualitas untuk
mendukung Peningkatan Kualitas dan Pemenuhan Rencana Tata Ruang serta
Perwujudan Tertib Tata Ruang.
2. Program Pengelolaan dan Pelayanan Pertanahan, merupakan program teknis
bidang pertanahan. Program ini dilaksanakan oleh:
a. Direktorat Jenderal Survei dan Pemetaan Pertanahan dan Ruang;
b. Direktorat Jenderal Penetapan Hak dan Pendaftaran Tanah;
c. Direktorat Jenderal Penataan Agraria;
d. Direktorat Jenderal Pengadaan Tanah dan Pengembangan Pertanahan;
e. Direktorat Jenderal Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang
(bidang pertanahan);
f. Direktorat Jenderal Penanganan Sengketa dan Konflik Pertanahan; dan
g. Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan.
Sasaran Program Pengelolaan dan Pelayanan Pertanahan adalah:
1) Terwujudnya Ketersediaan Lahan dalam rangka Pengurangan Tuna
Lahan dan Meningkatnya Produktivitas Pemilikan, Penggunaan dan
Pemanfaatan Tanah (P4T);
2) Terwujudnya Aset Reform dalam Reforma Agraria dan Terwujudnya Akses
Reform dalam Reforma Agraria;
3) Peningkatan Pendaftaran Tanah untuk Kepastian Hak Atas Tanah dan
Ruang;
4) Menurunnya kasus baru sengketa, konflik dan perkara pertanahan dan
Percepatan Penyelesaian Sengketa, Konflik dan Perkara Pertanahan;
5) Optimalisasi Pemanfaatan Nilai Tanah;
6) Tersedianya Infrastruktur Geospasial Tematik Pertanahan dan Ruang.
Untuk mendukung Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan
Tanah yang Berkepastian Hukum dan Produktif.

Berikut …
-14-

Berikut format matriks usulan kegiatan (daerah) dalam link sebagaimana surat
ini:
[Link].U26

PETA BIDANG TANAH PTSL DESA/KELURAHAN LENGKAP JAWA BALI (Hektar)


NO KD satker PROVINSI/SATKER

Volume (HA) Satuan RM PNBP PLN Anggaran

2 171 172 173 174 175 176


PROVINSI DKI JAKARTA
429630 KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL DKI JAKARTA - 433,400 - -
429646 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA UTARA - 433,400 - -
429652 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA TIMUR - 433,400 - -
429661 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA SELATAN - 433,400 -
429677 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA BARAT - 433,400 - -
429683 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA PUSAT - 433,400 - -
TOTAL - - - - -

Input Data

Berikut format matriks usulan kegiatan (satuan kerja pusat) dalam link
sebagaimana surat ini :
Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS)/ Output KRO dan RO
Sasaran Strategis (SS)/ Sasaran Program (SP)/ Anggaran per Kegiatan
No. Indikator Kinerja Program (IKP)/ Indikator KRO RO PN/PB/KL Keterangan
Sasaran Kegiatan (SK) Nomenklatur Volume (Rp)
Kinerja Kegiatan (IKK) Nomenklatur Satuan Nomenklatur Satuan
1 2 3 9 9 10 11 12 13 14 15 16
A Sasaran Strategis 1: IKSS 1.1 Penurunan Indeks Gini Ketimpangan
Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemilikan Tanah
Pemanfaatan Tanah yang Berkepastian
Hukum dan Produktif
1,1 SP 1 : IKP Indeks Pengurangan Tuna Lahan dan
Terwujudnya Ketersediaan Lahan dalam Produktivitas
Peningkatan Produktifitas P4T P4T
Rangka Pengurangan Tuna Lahan dan
Meningkatnya Produktivitas Pemilikian,
Produktifitas Pemilikan,
Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (P4T)
1.1.1 Sasaran Kegiatan : IKK-1 Rasio Pengurangan Tuna Lahan Hasil Rancangan NSPK Bidang Penertiban Norma, Standard, Prosedur, dan Rancangan NSPK Bidang
Terwujudnya Tertib Penguasaan, Pemilikan, Penertiban Penguasaan, Pemilikan, Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Kriteria Penertiban Penguasaan,
1
Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah Penggunan dan Pemanfaatan Tanah Pemanfaatan Tanah Pemilikan, Penggunaan
dan Pemanfaatan Tanah
Data Indikasi Pelanggaran P4T Pengawasan dan Pengendalian Data Indikasi Pelanggaran
2 Produk P4T

Rekomendasi Penertiban penguasaan Pengawasan dan Pengendalian Rekomendasi Penertiban


3 dan pemilikan tanah Produk Penguasaan dan Pemilikan
tanah

Input Data Input Data Input Data

3. Program Dukungan Manajemen, merupakan program generik. Program ini


dilaksanakan oleh:
a. Sekretariat Jenderal Pusat meliputi Biro, Pusat dan STPN;
b. Inpektorat Jenderal;
c. Sekretariat Direktorat Jenderal;
d. Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional dan Kantor Pertanahan.
Sasaran program dukungan manajemen adalah terwujudnya tata kelola
kelembagaan yang kompetitif dan berstandar kepemerintahan yang baik dari
aspek manajemen operasional dan aspek pengendalian internal untuk
mendukung terwujudnya tata kelola kelembagaan yang komprehensif dan
berstandar kepemerintahan yang baik.

Program dukungan manajemen dilaksanakan dengan kegiatan-kegiatan


dalam rangka menajemen operasional di lingkungan Sekretariat Jenderal
termasuk perencanaan dan pengelolaan sarana dan prasarana, Sekretariat
Direktorat Jenderal, Sekretariat Inspektorat Jenderal serta Ketatausahaan di
lingkungan Kantor Wilayah BPN dan Kantor Pertanahan. Program dukungan

manajemen …
-15-

manajemen juga dilaksanakan dengan kegiatan-kegiatan dalam rangka


manejemen pengendalian internal pada Inspektorat Jenderal maupun
fungsinya yang dilaksanakan pada Sekretariat Jenderal, Sekretariat
Direktorat Jenderal serta Ketatausahaan Kantor Wilayah BPN dan Kantor
Pertanahan.
Perencanaan dukungan manajemen difokuskan pada percepatan
transformasi digital dalam rangka membentuk kantor modern berbasis
digital, sehingga perlu sinergitas perencanaan pada sistem data dan
informasi, sumber daya manusia, regulasi dan rancangan sarana dan
prasana. Penerapan pelayanan pertanahan modern berbasis digital sebagai
perwujudan dari terbentuknya kantor modern berbasis digital merupakan
salah satu yang amanat dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah
Nasional Tahun 2020-2024 dan Rencana Strategis Kementerian Agraria dan
Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Tahun 2020-2024.
Kegiatan yang dilakukan oleh satuan kerja dipastikan menunjang
keberhasilan program yang telah ditetapkan. Kegiatan dilaksanakan sesuai
dengan fungsinya baik di satuan kerja pusat maupun daerah, sebagai berikut:

Contoh …
-16-

Contoh Form Pengisian Dukungan Manajemen (Satuan Kerja Daerah)


Operasional Non Operasional
EBA Layanan Dukungan Manajemen Internal EBD Layanan Manajemen Kinerja Internal
994 Layanan Perkantoran 952 Layanan Perencanaan dan Penganggaran
KD Satker Provinsi/Satker
051 Evaluasi 052 Penyusunan 053 Penyusunan 054 Penyusunan
001 Gaji dan Tunjangan 002 Operasional Perkantoran
Renstra 2020-2024 RKAKL TRPNBP Revisi DIPA/POK

RM RM RM RM RM RM
1 2 3 4 5 6 7 8
PROVINSI DKI JAKARTA
429630 KANTOR WILAYAH BADAN PERTANAHAN NASIONAL DKI JAKARTA
429646 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA UTARA
429652 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA TIMUR
429661 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA SELATAN
429677 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA BARAT
429683 KANTOR PERTANAHAN JAKARTA PUSAT
- - - - - -

Input Data

Contoh Form Pengisian Dukungan Manajemen (Satuan Kerja Pusat)


Indikator Kinerja Sasaran Strategis (IKSS)/ Output KRO dan RO
Sasaran Strategis (SS)/ Sasaran Program (SP)/ Anggaran per Kegiatan
No. Indikator Kinerja Program (IKP)/ Indikator KRO RO PN/PB/KL Keterangan
Sasaran Kegiatan (SK) Nomenklatur Volume (Rp)
Kinerja Kegiatan (IKK) Nomenklatur Satuan Nomenklatur Satuan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
C Sasaran Strategis 3: IKSS Indeks Reformasi Birokrasi
Terwujudnya tata kelola kelembagaan yang
komprehensif dan berstandar
kepemerintahan yang baik
3,1 SP : IKP-1 Indeks Akuntabilitas Kinerja dan
Terwujudnya tata kelola kelembagaan yang Keuangan
kompetitif dan berstandar kepemerintahan
yang baik dari aspek manajemen operasional

3.1.1 Sasaran Kegiatan: IKK-1 Terselenggaranya Perencanaan, Layanan Perencanaan Layanan Perencanaan dan Layanan Perencanaan Layanan
Terselenggaranya Perencanaan, Pemantauan Pemantauan dan Evaluasi Program dan Penganggaran Internal
dan Evaluasi Program dan Anggaran serta Anggaran serta Administrasi Kerjasama
Administrasi Kerjasama
IKK-2 Persentase revisi pada output kegiatan Layanan Perkantoran Layanan Perkantoran Layanan Perkantoran Layanan

IKK-3 Persentase jumlah anggaran yang Layanan Optimalisasi Anggaran


diblokir terhadap total anggaran
IKK-4 Persentase Jumlah anggaran tambahan Layanan Sarana dan Prasarana Internal Layanan Sarana dan Prasarana Pengadaan Sarana Internal Layanan
(berasal dari APBN maupun diluar Internal
APBN) dari penyelenggaraan Kerja Sama
berbanding dengan anggaran APBN

IKK-5 Nilai capaian pada SMART DJA Layanan Kerjasama Layanan Kerjasama Layanan Kerjasama Layanan
IKK-6 Persentase Satker yang mendapatkan Layanan Monitoring dan Evaluasi Layanan Pemantauan dan Layanan
nilai LKJ Kategori A Layanan Pemantauan dan Evaluasi Internal Evaluasi

Input Data Input Data Input Data

Penyusunan kegiatan harus menampakan output yang jelas dan terukur serta
dipastikan menunjang keberhasilan indikator kinerja secara berjenjang, yaitu
indikator kinerja kegiatan (level kegiatan/unit eselon II), indikator kinerja
program (level program/unit eselon I) dan indikator kinerja sasaran strategis
(level kementerian).
Anggaran yang digunakan untuk pembiayaan kegiatan meliputi
anggaran:
1. Belanja operasional (belanja mengikat) merupakan anggaran belanja yang
digunakan untuk pembiayaan kebutuhan rutin kantor, terdiri dari belanja
pegawai (gaji, tunjangan, lembur) dan belanja barang operasional (kebutuhan
perkantoran, termasuk honorarium PPNPN). Belanja operasional terdapat
pada program Dukungan Manajemen baik pada satuan kerja pusat maupun
daerah.
Penyusunan belanja operasional untuk belanja pegawai didasarkan pada data
pada Aplikasi Gaji Pokok Pegawai (GPP). Sedangkan untuk belanja barang
didasarkan pada Data Pokok terupdate. Belanja pegawai didanai hanya dari
sumber dana Rupiah Murni (RM), sedangkan Belanja barang operasional
dapat diutamakan pembiayaannya dari sumber dana Rupiah Murni (RM).

2. Belanja …
-17-

2. Belanja Non Operasional (belanja tidak mengikat), meliputi:


a. Program Prioritas Nasional, sebagaimana yang diamanatkan dalam
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2020-
2024 dan terdapat pada Rencana Strategis Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional Tahun 2020-2024;
b. Program Prioritas Bidang, termasuk di dalamnya output yang berasal
dari layanan Peraturan Pemerintah Nomor 128 Tahun 2015, Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 143/PMK.02/2021;
c. Program Prioritas Kementerian/Lembaga (K/L).
Belanja nonoperasional terdapat pada semua program di lingkungan
Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional. Komposisi
alokasi belanja pada Program Prioritas Nasional dan Prioritas Bidang
sekurangnya 85% dari total alokasi belanja nonoperasional. Belanja
nonoperasional dapat didanai dari sumber dana Rupiah Murni (RM),
Pinjaman dan Hibah Dalam dan Luar Negeri (PHLD/N) dan Penerimaan
Negara Bukan Pajak (PNBP) baik yang pembiayaan untuk operasional layanan
pertanahan maupun pembiayaan untuk nonoperasional layanan pertanahan.
-18-

Lampiran III Surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : B/PR.01.01/4432-100/XII/2023
Tanggal : 22 Desember 2023

Penjelasan Format dan Update Data Pokok

Perencanaan pada tingkat Kementerian Agraria dan Tata


Ruang/Badan Pertanahan Nasional merupakan akumulasi dan integrasi dari
perencanaan seluruh Satuan Kerja pada Kementerian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional pada Satuan Kerja pusat maupun daerah,
sehingga perencanaan yang dilakukan secara berjenjang tersebut didasarkan
atas data perencanaan yang akurat dan mutakhir yang diperoleh dari setiap
Satuan Kerja daerah maupun pusat, terdiri dari Data Pokok Kantor, Kinerja dan
Wilayah sebagai berikut:
1. Data Pokok Wilayah, meliputi luas wilayah, luas kawasan
budidaya/nonbudidaya, jumlah Kabupaten/Kota, jumlah Kecamatan, jumlah
Kelurahan/Desa, jumlah penduduk, jumlah bidang tanah, jumlah bidang
tanah terdaftar;
2. Data Pokok Kantor, meliputi data pegawai (ASN dan PPNPN), aset bergerak
dan tetap;
3. Data Pokok Kinerja, yaitu data pencapaian kinerja sampai dengan akhir
Tahun 2023 dan prediksi akhir Tahun 2024;
4. Data Pokok Satuan Biaya Transportasi, meliputi biaya transport dalam Ibu
Kota Provinsi atau Ibu Kota Kabupaten dan biaya transport dari Ibu Kota
Kabupaten ke Wilayah Kabupaten yang bersangkutan.
Data pokok diinput dengan contoh format sebagai berikut:
1. Data Pokok Wilayah
WILAYAH ADMINISTRASI
JUMLAH
NO PROVINSI LUAS WILAYAH
PENDUDUK
KAB KOTA KEC KEL DESA
1 2 3 4 5 6 7 8 9

PROVINSI DKI JAKARTA


429630 KANWIL BPN DKI JAKARTA
429646 KANTAH JAKARTA UTARA
429652 KANTAH JAKARTA TIMUR
429661 KANTAH JAKARTA SELATAN
429677 KANTAH JAKARTA BARAT
429683 KANTAH JAKARTA PUSAT
TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA - - - - - - -

Input Data

2. Data …
-19-

2. Data Pokok Kantor

GOLONGAN
JML
NO SATUAN KERJA
PEGAWAI
I II III IV Jumlah

1 2 3 4 5 6 7 8
PROVINSI DKI JAKARTA
429630 KANWIL BPN DKI JAKARTA
429646 KANTAH JAKARTA UTARA
429652 KANTAH JAKARTA TIMUR
429661 KANTAH JAKARTA SELATAN
429677 KANTAH JAKARTA BARAT
429683 KANTAH JAKARTA PUSAT
TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA - - - - - -

Input Data

3. Data Pokok Kinerja


Pengelolaan dan Pelayanan Pertanahan
Dukungan Manajemen
Peta Dasar Pertanahan
NO KODE SATKER SATUAN KERJA
FISIK KEUANGAN FISIK KEUANGAN

volume Realisasi % Pagu Realisasi % volume Realisasi % Pagu Realisasi %


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
PROPINSI DKI JAKARTA
PROVINSI

01 429630 KANWIL BPN DKI JAKARTA


01 429646 KANTAH JAKARTA UTARA
01 429652 KANTAH JAKARTA TIMUR
01 429661 KANTAH JAKARTA SELATAN
01 429677 KANTAH JAKARTA BARAT
01 429683 KANTAH JAKARTA PUSAT
TOTAL PROVINSI DKI JAKARTA

Input Data

4. Data Pokok Satuan Biaya Transportasi

Standar biaya transpotasi lokal dalam wilayah kabupaten/kota


(Dari Ibu Kota Kabupaten ke Wilayah yang Bersangkutan)

NO Asal Ibukota Kabupaten Tujuan Wilayah Kabupaten Tarif Sumber Peraturan


1 2 3 44 5

1 DKI JAKARTA

2 JAWA BARAT

3 JAWA TENGAH

4 DI. YOGYAKARTA

5 JAWA TIMUR

Input Data
-20-

Lampiran IV Surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : B/PR.01.01/4432-100/XII/2023
Tanggal : 22 Desember 2023

Penjelasan Dokumen Pendukung

Usulan Program, Kegiatan dan Anggaran yang diusulkan oleh


masing-masing satuan kerja dilengkapi dengan kelengkapan dokumen
pendukung pada masing-masing output berupa Kerangka Acuan Kerja
(KAK)/Term of Reference (TOR), Rincian Anggaran Belanja (RAB) maupun
referensi lain bila berkaitan dengan harga pasar. Adapun format KAK/TOR dan
RAB secara umum sebagai berikut:
1. Format Kerangka Acuan Kerja/Term of Reference

PETUNJUK ...
-21-

PETUNJUK …

2. Format ...
-22-

2. Format Rincian Anggaran Biaya (RAB)

PETUNJUK ...
-23-

Kolom 5 ...
-24-
-25-

Lampiran V Surat Menteri Agraria dan Tata Ruang/


Kepala Badan Pertanahan Nasional
Nomor : B/PR.01.01/4432-100/XII/2023
Tanggal : 22 Desember 2023

Mekanisme Perencanaan Program, Kegiatan dan Anggaran


Tahun 2025

Mekanisme perencanaan program, kegiatan dan anggaran sesuai tugas pokok


dan fungsi dalam struktur organisasi dan tata kerja adalah sebagai berikut:

No. Uraian Tugas Waktu PIC


1 2 3 4
1 Surat permintaan usulan Desember Biro Perencanaan dan
program, kegiatan dan 2023 Kerja Sama
anggaran tahun 2025
2 Penyampaian data usulan dari Minggu ke 1 1. Satker Kanwil (untuk
satuan kerja daerah dan Januari 2024 seluruh satuan kerja
satuan kerja pusat (untuk di wilayahnya masing-
fungsi yang menjadi masing)
kewenangannya di pusat dan 2. Setditjen/Setitjen
daerah) (untuk fungsi yang
menjadi
kewenangannya di
pusat dan daerah)
3. Biro/Pusat/STPN
3 Analisis dan koordinasi data Minggu ke 2 Biro Perencanaan dan
usulan dari daerah dan pusat Januari 2024 Kerja Sama
(terhadap data pusat dan
daerah)
4 Sinkronisasi data hasil Minggu ke 4 Biro Perencanaan dan
penyusunan rencana di level Januari 2024 Kerja Sama dengan
Kementerian melibatkan seluruh unit
kerja pusat
5 Sinkronisasi data hasil Minggu ke 4 Biro Perencanaan dan
penyusunan rencana di level Januari 2024 Kerja Sama dengan
Kementerian dan data usulan melibatkan seluruh
dari satuan kerja daerah kanwil dan setditjen
6 Penyusunan exercise hasil Minggu ke 1 PIC seluruh unit
sinkronisasi pusat dan daerah, Februari Direktorat Jenderal
serta distribusi per 2024
kabupaten/kota
7 Exercise target fisik dan Minggu ke 1 - Biro Perencanaan dan
anggaran level kementerian 2 Februari Kerja Sama dengan
terhadap komposisi PN, PB dan 2024 melibatkan para PIC
PKL serta belanja operasional seluruh unit Direktorat
Jenderal

Anda mungkin juga menyukai