BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Kepuasan
1. Pengertian
Nursalam (2011) menyebutkan kepuasan adalah perasaan senang
seseorang yang berasal dari perbandingan antara kesenangan terhadap
aktivitas dan suatu produk dengan harapannya. Menurut Pohan (2012)
kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai
akibat dari kinerja pelayanan kesehatan yang diperolehnya setelah pasien
membandingkannya dengan apa yang diharapkannya.
Menurut Potter dan Pery (2005), kepuasan adalah perasaan senang dan
kecewa seseorang yang muncul setelah membandingkan antara persepsi atau
kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan harapan-harapannya.
Menurut Irwan (2003) kepuasan sebagai respon pemenuhan harapan dan
konsumen.
Menurut Muninjaya (2013) kepuasan pelanggan adalah tanggapan
pelanggan terhadap kesesuaian tingkat kepentingan atau harapan (ekspetasi)
pelanggan sebelum mereka menerima jasa pelayanan dengan sesudah
pelayanan yang mereka terima. Tjiptono (2006) berpendapat bahwa kepuasan
atau ketidakpuasan merupakan respon pelanggan sebagai hasil dan evaluasi
ketidaksesuaian kinerja/tindakan yang dirasakan sebagai akibat dari tidak
terpenuhinya harapan. Pada dasarnya harapan klien adalah perkiraan atau
8
9
kenyakinan klien tentang pelayanan yang diterimanya akan memenuhi
harapannya. Sedangkan hasil kinerja akan dipersepsikan oleh klien.
Menurut Hall dan Dorman dalam Pohan (2012), kepuasan dapat
dinilai dari layanan komunikasi, sikap saling menghargai, empati, pengaturan
pada kemudahan pasien, akses kesehatan, hubungan antar manusia,
kesinambungan dan lingkungan fisik. Suryawati dkk (2005), mengatakan
bahwa ketidakpuasan pasien paling sering ditemukan erat kaitannya dengan
sikap dan prilaku petugas Rumah Sakit, antara lain : lamanya waktu tunggu
berobat, lingkungan Rumah Sakit, sikap, prilaku, keramahan petugas serta
kemudahan mendapatkan informasi dan komunikasi menjadi kunci
ketidakpuasan pasien di Rumah Sakit sehingga pasien mencari pelayanan
kesehatan lainnya.
Berdasarkan pendapat diatas terdapat kesamaan pandangan bahwa
kepuasan pelanggan/pasien merupakan ungkapan perasaan puas apabila
menerima kenyataan/pengalaman pelayanan memenuhi harapan pasien. Hal
ini akan menciptakan loyalitas atau citra yang tinggi. Kepuasan dapat
dirasakan oleh pasien berkaitan dengan perbandingan antara harapan dan
kenyataannya, yaitu jika harapan atau kebutuhan sama dengan layanan yang
diberikan maka pasien akan puas. Jika layanan yang diberikan pada pasien
kurang atau tidak sesuai dengan kebutuhan atau harapan pasien maka pasien
tidak puas.
10
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan pasien
Menurut Supriyanto dan Ratna (2007) dalam Nursalam (2014)
menyatakan bahwa dalam menentukan tingkat kepuasan, terdapat lima faktor
yang harus diperhatikan oleh institusi yaitu:
a. Kualitas produk
Pasien akan merasa puas bila hasil evaluasi mereka menunjukkan
bahwa produk atau jasa yang digunakan berkualitas. Persepsi konsumen
terhadap kualitas atau jasa dipengaruhi oleh dua hal yaitu kenyataan
kualitas produk atau jasa yang sesungguhnya dan komunikasi perusahaan
terutama iklan dalam mempromosikan rumah sakitnya.
b. Kualitas pelayanan
Kualitas pelayanan memegang peranan penting dalam kepuasan
pasien. Pasien akan merasa puas jika mereka memperoleh pelayanan yang
baik atau sesuai dengan yang diharapkan. Tapi, pasien merasa tidak puas
apabila pelayanan yang mereka dapatkan tidak memuaskan dan tidak
sesuai dengan yang diharapkan.
Menurut lovelock dalam Tjiptono (2007) mengemukakan bahwa
kualitas pelayanan merupakan tindakan kondisi baik buruknya sajian yang
diberikan oleh perusahaan jasa dalam rangka memuaskan konsumen
dengan cara memberikan atau menyimpan jasa yang melebihi harapan
konsumen. Jadi penilaian konsumen terhadap pelayanan merupakan
refleksi, persepsi, evaluative terhadap pelayanan yang diterimanya dalam
waktu tertentu. Kualitas pelayanan menurut Wyckof dalam Tjiptono
11
(2007) adalah tingkat keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas
tingkat keunggulan tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan dan
konsumen.
Rumah sakit dianggap baik apabila dalam memberikan pelayanan
lebih memperhatikan kebutuhan pasien maupun orang lain yang
berkunjung. Kepuasan akan muncul dari kesan pertama masuk pasien
terhadap pelayanan yang diberikan, misalnya pelayanan yang cepat,
tanggap dan keramahan dalam memberikan pelayanan (Purwanto 2007
dalam Kuanefi 2012)
c. Emosional
Faktor emosional menempati tempat yang penting untuk
menentukan kepuasan pasien. Pasien akan merasa yakin dan bangga
bahwa dalam memilih rumah sakit yang mempunyai pandangan rumah
sakit yang mahal cenderung memiliki tingkat kepuasan yang tinggi.
Persepsi masyarakat yang meanggap rumah sakit yang mahal akan
memberikan kualitas pelayanan terbaik.
d. Harga
Harga merupakan aspek penting, namun yang terpenting dalam
penentuan kualitas guna mencapai kepuasan pasien. Meskipun demikian
elemen ini mempengaruhi pasien dari biaya yang dikeluarkan, biasanya
semakin mahal harga perawatan maka pasien mempunyai harapan yang
lebih besar. Sedangkan pelaksana pelayanan kesehatan yang berkualitas
sama tetapi berharga murah, memberi nilai yang lebih tinggi pada pasien.
12
e. Biaya
Mendapatkan produk atau jasa, pasien yang tidak perlu
mengeluarkan biaya tambahan atau tidak perlu membuang waktu untuk
mendapatkan jasa pelayanan tersebut. Pelayanan keperawatan yang
diberikan dijabarkan dalam kewajaran, kejelasan komponen biaya dan
keringanan bagi pasien tidak mampu. Biaya mempengaruhi pasien untuk
mendapatkan pelayanan kesehatan. Biasanya semakin mahal biaya
kesehatan maka pasien akan beralih mencari pelayanan kesehatan yang
harganya lebih murah.
3. Pengukuran Tingkat Kepuasan Pasien
Menurut Pohan (2012), untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan, maka pengukuran tingkat kepuasan pasien mutlak diperlukan.
Pengukuran tingkat kepuasan dapat dilakukan dengan membuat kuesioner
berisi aspek-aspek pelayanan kesehatan yang dianggap penting oleh pasien
yaitu bukti fisik (tangible), kepastian (assurance), empati (empaty), cepat
tanggap (respinsiveness) dan kehandalan (reliability). Kemudian pasien
diminta menilai setiap aspek tadi, sesuai dengan tingkat kepentingan bagi
pasien.
Dengan melakukan pengukuran tingkat kepuasan, maka kita dapat
mengetahui sejauh mana kualitas pelayanan yang kita berikan dapat
memenuhi harapan pasien. Jika belum sesuai dengan harapan pasien, maka
hal tersebut bisa menjadi masukan bagi organisasi pelayanan kesehatan agar
berupaya memenuhinya.
13
4. Unsur-unsur Dalam Kepuasan Pelayanan Kesehatan
Parasuraman dalam Nursalam (2014) mengemukakan konsep kualitas
layanan yang berkaitan dengan kepuasan pasien mengidentifikasi lima
kelompok karekteristik yang digunakan oleh pelanggan dalam
mengevaluasi/mengukur kualitas pelayanan, sebagai berikut :
a. Kenyataan (Tangible)
Yaitu berupa berkenaan dengan daya tarik fisik, perlengkapan
perawat, ruangan tertata rapi, alat komunikasi, kerapian, kebersihan serta
penampilan petugas pelayanan kesehatan
b. Kepastian (Assurance)
Yaitu perilaku petugas pelayanan kesehatan mampu menumbuhkan
kepercayaan pasien. Dokter dan perawat bisa menciptakan rasa aman bagi
pasien. Jaminan juga berarti selalu bersikap sopan dan mengusai
pertanyaan atau masalah pasien. Dokter dan perawat juga diharapkan
mempunyai kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif kepada
pasien.
c. Empati (Empaty)
Yaitu rasa peduli untuk membrikan perhatian secara individual
kepada pelanggan, memahami kebutuhan pelanggan serta kemudahan
untuk dihubungi. Dalam pelayanan rumah sakit adalah keramahan petugas
pelayanan kesehatan dalam menyapa dan berbicara. Perawat memahami
masalah pasien dan bertindak demi kepentingan pasien serta memberikan
perhatian personal kepada pasien dan memiliki jam operasi yang nyaman.
14
d. Cepat tanggap (Responsivenss)
Yaitu berkenaan dengan kesediaan dan kemampuan dokter dan
perawat untuk membantu pasien dan merespon permintaan mereka, serta
menginformasikan kapan pelayanan akan diberikan dan kemudian
memberikan pelayanan secara tepat. Dalam hal ini pera cepat tanggap
terhadap masalah yang timbul dan keluhan yang disampaikan oleh pasien.
e. Kehandalan (Reliability)
Berkaitan dengan kemampuan pemberi pelayanan untuk
memberikan layanan yang akurat sejak pertama kali tanpa membuat
kesalahan apapun dan menyampaikan pelayanannya sesuai dengan waktu
yang telah disepakati. Disamping itu untuk mengukur kemampuan dokter
dan perawat dalam memberikan pelayanan yang tepat dan dapat
diandalkan. Kehandalan berhubungan dengan tingkat kemampuan dan
keterampilan yang dimiliki dokter dan perawat dalam menyelenggarakan
dan memberikan pelayanan.
15
B. Kualitas Pelayanan Kesehatan
1. Pengertian
Menurut Kotler (2009) defenisi pelayanan adalah setiap tindakan atau
kegiatan yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang
pada dasar tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun.
Pelayanan merupakan suatu aktifitas yang ditawarkan dan menghasilkan
sesuatu yang tidak berwujud namun dapat dinikmatti atau dirasakan (Tjiptono
dkk, 2005)
Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi
harapan (Davis dalam Yamit, 2005). Pendekatan yang digunakan menegaskan
bahwa kualitas bukan hanya menekankan pada aspek akhir yaitu produk dan
jasa tetapi juga menyangkut kualitas manusia dan lingkungan. Kualitas sering
diartikan sebagai segala sesuatu yang memuaskan pelanggan atau kesesuaian
terhadap persyaratan atau kebutuhan (Gaspersz, 2002)
Menurut lovelock dalam Tjiptono (2007) mengemukakan bahwa
kualitas pelayanan merupakan tindakan kondisi baik buruknya sajian yang
diberikan oleh perusahaan jasa dalam rangka memuaskan konsumen dengan
cara memberikan atau menyimpan jasa yang melebihi harapan konsumen.
Jadi penilaian konsumen terhadap pelayanan merupakan refleksi, persepsi,
evaluative terhadap pelayanan yang diterimanya dalam waktu tertentu.
Kualitas pelayanan menurut Wyckof dalam Tjiptono (2007) adalah tingkat
16
keunggulan yang diharapkan dan pengendalian atas tingkat keunggulan
tersebut untuk memenuhi keinginan pelanggan dan konsumen.
Rumah sakit dianggap baik apabila dalam memberikan pelayanan
lebih memperhatikan kebutuhan pasien maupun orang lain yang berkunjung.
Kepuasan akan muncul dari kesan pertama masuk pasien terhadap pelayanan
yang diberikan, misalnya pelayanan yang cepat, tanggap dan keramahan
dalam memberikan pelayanan (Purwanto 2007 dalam Kuanefi 2012).
2. Penggolongan Layanan Kesehatan
Menurut Donabedian dalam Pohan (2012), mengatakan ada tiga
kategori penggolongan layanan kesehatan yaitu :
a. Standar struktur
Standar struktur adalah standar yang menjelaskan peraturan sistem,
kadang juga disebut sebagai masukan atau struktur. Termasuk kedalamnya
adalah hubungan organisasi, misi organisasi, kewenangan, komite-komite,
personel, peralatan, gedung, rekam medik, keuanagan pembekalan obat
dan fasilitas. Standar struktur merupakan rules of the game.
b. Standar proses
Standar proses adalah sesuatu yang menyangkut semua aspek
pelaksanaan kegiatan layanan kesehatan, melakukan prosedur dan
kebijaksanaan. Standar proses akan menjelaskan apa yang harus dilakukan,
bagaimana melakukannya dan bagaimana sistem kerja. Dengan kata lain
standar proses adalah playing the game.
c. Standar keluar
17
Standar keluaran merupakan hasil akhir atau akibat dari layanan
kesehatan. Standar akan menunjukan papakah layanan kesehatan berhasil
atau gagal. Keluaran (autcome) adalah apa yang diharapkan akan terjadi
sebagai hasil dari layanan kesehatan yang diselenggarakan dan terhadap
apa keberhasilan tersebut akan diukur.
Menurut Pohan (2012) berpendapat bahwa kualitas barang atau jasa
ini bersifat multidemensi, demikian pula dengan kualita pelayanan layanan
kesehatan. Dimensi kualitas layanan kesehatan antara lain :
a. Dimensi kempetensi teknis
Dimensi kompetensi teknis menyangkut keterampilan, kemampuan
dan penampilan atau kinerja pemberi layanan kesehatan. Dimensi
kompetensi teknis itu berhubungan dengan bagaimana pemberi layanan
mengikuti standar layanan kesehatan yang disepakati meliputi kepatuhan,
ketepatan, kebenaran dan konsistensi.
b. Dimensi keterjangkauan atau akses terhadap layanan kesehatan
Dimensi keterjangkauan atau akses, artinya layanan kesehatan itu
harus dapat dicapai oleh masyarakat, tidak terhalang oleh keadaan
geografi, sosial, ekonomi, organisasi dan bahasa. Akses geografi diukur
dengan jarak, lama perjalanan, biaya perjalanan, jenis transportasi,
dan/atau hambatan fisik lain yang dapat menghalangi seseorang untuk
mendapat layanan kesehatan. Akses ekonomi berkaitan dengan
kemampuan membayar biaya layanan kesehatan. Akses sosial atau budaya
berhubungan dengan dapat diterima atau tidaknya layanan kesehatan itu
18
secara sosial atau nilai budaya, kepercayaan, dan perilaku. Akses
organisasi adalah sejauh mana layanan kesehatan itu diatur agar memberi
kemudahan/kenyamanan kepada pasien atau konsumen. Akses bahasa
artinya pasien harus dilayani dengan menggunakan bahasa atau dialek
yang dapat dipahami oleh pasien.
c. Dimensi efektivitas layanan kesehatan
Layanan kesehatan harus efektif artinya harus mampu mengobati
atau mengurangi keluhan yang ada, mencegah terjadinya penyakit serta
berkembangnya dan atau meluas penyakit yang ada. Efektifitas layanan
kesehatan ini bergantung pada bagaimana standar layanan kesehatan itu
digunakan dengan tepat, konsisten, dan sesuai situasi setempat. Dimensi
efektifitas sangat berkaitan dengan dimensi kompetensi teknis, terutama
daalam pemilihan alternatif dalam relative risk dan keterampilan dalam
mengikuti prosedur yang terdapat dalam standar layanan kesehatan.
d. Dimensi efisiensi layanan kesehatan
Sumberdaya kesehatan sangat terbatas. Oleh sebab itu, dimensi
efisiensi sangat penting dalam layanan kesehatan. Layanan kesehatan yang
efisiensi dapat melayani lebih banyak pasien dan atau masyarakat.
Layanan kesehatan yang tidak memenuhi standar layanan kesehatan
umumnya berbiaya mahal, kurang nyaman bagi pasien, memerlukan waktu
lama, dan menimbulkan resiko yang lebih besar kepada pasien. Dengan
melakukan analisis efisiensi dan efektivitas, kita dapat memilih intervensi
yang paling efisiensi.
19
e. Dimensi kesinambungan layanan kesehatan
Dimensi kesinambungan layanan kesehatan artinya pasien harus
dapat dilayani sesuai kebutuhannya, termasuk rujukan jika diperlukan
tanpa mengulangi prosedur diagnosis dan terapi yang tidak perlu. Pasien
harus selalu mempunyai akses pelayanan kesehatan yang dibutuhkannya.
Karena riwayat pasien terdokumentasi dengan lengkap, akurat, dan terkini,
layanan kesehatan rujukan yang diperlukan pasien dapat terlaksanan tepat
waktu dan tepat tempat.
f. Dimensi keamanan
Dimensi keamanan maksudnya layanan kesehaan itu harus aman,
baik bagi pasien, bagi pemberi layanan, maupun bagi masyarakat
sekitarnya. Layanan kesehatan yang bermutu harus aman dari resiko
cedera, infeksi, efek samping, atau bahaya lain yang ditimbulkan oleh
layanan kesehatan itu sendiri.
g. Dimensi kenyamanan
Dimensi kenyamanan tidak berhubungan langsung dengan
efektivitas layanan kesehatan, tetapi mempengaruhi kemampuan
pasien/konsumen sehingga mendorong pasien untuk datang berobat
kembali ke tempat tersebut. Kenyamanan atau kenikmatan dapat
menimbulkan kepercayan pasien kepada organisasi layanan kesehatan.
Jika biaya layanan kesehatan menjadi persoalan, kenikmatan akan
mempengaruhi pasien untuk membayar biaya layanan kesehatan.
Kenyamanan juga terkait dengan penampilan fisik layanan kesehatan,
20
pemberi layanan, peralatan medis dan nonmedis. Misalnya tersedianya
AC/TV/majalah/musik/kebersihan dalam suau ruangan tunggu dapat
menimbulkan perasaan kenikmatan tersendiri sehingga waktu tunggu tidak
menjadi hal yang membosankan.
h. Dimensi informasi
Layanan kesehatan yang bermutu harus mampu memberikan
informasi yang jelas tentang apa, siapa, kapan, dimana dan bagaimana
layanan kesehatan itu akan dan/atau telah dilaksanakan. Dimensi informasi
ini sangat penting pada tingkat puskesmas dan rumah sakit.
i. Dimensi ketepatan waktu
Agar berhasil, layanan itu harus dilaksanakan dalam waktu dan
cara yang tepat, oleh pemberi pelayanan yang tepat dan menggunakan
peralatan dan obat yang tepat, serta dengan biaya yang efisien (tepat).
j. Dimensi hubungan antar manusia
Hubungan antar manusia merupakan interaksi antara pemberi
layanan kesehatan (provider) dengan pasien atau konsumen, antar sesama
pemberi layanan kesehatan, hubungan antara atasan-bawahan, dinas
kesehatan, rumah sakit, puskesmas, pemerintah daerah, LSM, masyarakat
atau kredibilitas dengan cara saling menghargai, menjaga rahasia, saling
menghormati, responsif, memberi perhatian, dan lain-lain.
21
3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kualitas Pelayanan Kesehatan
Menurut Zeithalm dan M.T Bitner (1996) dan Adrian Palmer, (2001)
dikutip Sari (2008) ada lima dimensi pelayanan yang perlu diperhatikan,
yaitu:
a. Reliability (keandalan)
Yaitu kemampuan untuk melaksanakan jasa yang dijanjikan dengan tepat
dan terpercaya. Misalnya pelayanan pemeriksaan, pengobatan dan
perawatan yang tepat dan cepat, jadwal yang dijalankan secara tepat,
prosedur pelayanan yang tidak berbelit-belit.
b. Responsivenes (Ketanggapan)
Yaitu kemampuan untuk membantu pelanggan dan memberikan jasa
dengan cepat atau tanggap. Misalnya: kemapuan dokter/dokter
gigi/perawat/bidan untuk tanggap menyelesaikan keluhan pasien, petugas
memberikan informasi yang jelas dan mudah dimengerti, tindakan cepat
pada saat pasien membutuhkan.
c. Assurance (jaminan)
Yaitu pengetahuan dan kesopanan petugas serta kemampuan mereka
untuk menimbulkan kepercayaan dan keyakinan / assurance. Misalnya:
pengetahuan dan kemampuan medis menetapkan dignosis, keterampilan
medis/petugas kesehatan dalam bekerja, pelayanan yang sopan dan
ramah, jaminan keamanan, kepercayaan status sosial, dan lain-lain.
22
d. Emphaty (Empati)
Merupakan syarat untuk peduli, memberikan perhatian pribadi kepada
pelanggan, misalnya: memberikan perhatian secara khusus kepada setiap
pelanggan, kepedulian terhadap keluhan pelanggan, pelayanan kepada
semua pelanggan tanpa memmandang status, dan lain-lain.
e. Tangibles (Keberwujudan)
Yaitu penampilan fasilitas fisik, peralatan, personel dan media
komunikasi, misalnya: kebersihan, kerapihan dan kenyamanan ruangan,
penataan interior dan eksterior ruangan, kelengkapan, persiapan dan
kebersihan alat, penampilan, kebersihan penampilan petugas.
4. Pengukuran Kualitas Pelayanan Kesahatan
Pengukuran layanan kesehatan pada prinsipnya diukur atau dinilai
berdasarkan karakteristik atau ciri-ciri yang telah ditentukan. Ciri-ciri tersebut
sebagai standar yang diukur atau dibandingkan. Berikut suatu kerangka yang
dikembangkan dalam lingkungan pelayanan kesehatan, menurut Juran dan
Maxwel dalam Pohan (2012). Kerangka tersebut adalah :
a. Ketepatan waktu
Termasuk akses, waktu tunggu, dan waktu tindakan. Keberhasilan
pelayanan keperawatan yaitu apabila dilakukan dengan waktu dan cara
yang tepat, oleh pemberi pelayanan yang tepat dan menggunakan
peralatan, obat.
23
b. Informasi
Penjelasan dari jawaban apa, mengapa, bagaimana, kapan, dan siapa.
Pelayanan kesehatan yang berkualitas harus mampu memberikan
informasi yang jelas tentang apa, siapa, kapan, dimana, dan bagaimana
pelayanan itu dilaksanakan.
c. Kompetensi teknis
Termasuk pengetahuan kedokteran, keperawatan, obat, keterampilan dan
pengalaman, teknologi dan keberhasilan pengobat. Kompetensi teknis
menyangkut keterampilan, kemampuan dan penampilan atau kinerja
pemberi pelayanan kesehatan. Kompetensi teknis berhubungan dengan
bagaimana pemberi pelayanan kesehatan mengikuti standar pelayanan
yang disepakati, antara lain meliputi kepatuhan, kebenaran dan konsisten.
d. Hubungan antar manusia
Meliputi keramahan dokter dan perawat, informasi yang diberikan oleh
dokter dan perawat terkait dengan penyakit yang diderita, komunikatif,
responsive, suportif, dan cekaan dalam melayani pasien. Kedalam ini
termasuk rasa hormat, sopan santun, perilaku dan empati. Hubungan antar
perawat dan pasien merupakan interaksi pemberi layanan keperawatan
dengan pasien atau konsumen. Hubungan yang baik akan menimbulkan
kepercayaan atau kredibilitas dengan cara saling menghargai, menjaga
rahasia, saling menghormati, responsive atau cepat tanggap, dan memberi
perhatian. Hubungan yang kurang baik akan dapat mengurangi efektivitas
dan kompetensi teknik pelayanan kesehatan. Pengalaman menunjukan
24
bahwa pasien yang diperlakukan kurang baik, cenderung akan
mengabaikan nasehat dan tidak mau melakukan kunjungan ulang.
e. Lingkungan
Termasuk gedung, taman, kebersihan, kenyamanan dan keamanan.
Pelayanan keperawatan yang bermutu harus aman dari resiko cedera
infeksi, efek sampling atau bahaya lain yang ditimbulkan oleh pelayanan
keperawatan itu sendiri. Kenyamanan juga terkait dengan lingkungan fisik
pelayanan kesehatan, pemberi pelayanan keperawatan, peralatan medik
dan non medik.
C. Hubungan Kualitas Pelayanan Kesehatan dengan Kepuasan Pasien
Pelayanan kesehatan akan dirasakan berkualitas oleh para
pelanggannya jika penyampaiannya dirasakan melebihi harapan pengguna
layanan. Keberhasilan pelayanan di rumah sakit sangat ditentukan oleh
kepuasan pasien. Pemberian pelayanan kesehatan dituntut untuk dapat
memberikan kepuasan bagi setiap orang. Rumah sakit perlu melakukan upaya
untuk tetap bertahan dan berkembang mengingat besarnya biaya operasional
rumah sakit yang sangat tinggi disertai meningkatnya persaingan antar rumah
sakit. adapun upaya yang dilakukan rumah sakit adalah dengan meningkatkan
kunjungan pasien kerumah sakit melalui peningkatan kualitas pelayanan rumah
sakit karena sumber penghasilan rumah sakit adalah adanya pasien.
Menurut Pohan (2012), untuk meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan, maka pengukuran tingkat kepuasan pasien mutlak diperlukan.
25
Pengukuran tingkat kepuasan dapat dilakukan dengan membuat kuesioner
berisi aspek-aspek pelayanan kesehatan yang dianggap penting oleh pasien
yaitu bukti fisik (tangible), kepastian (assurance), empati (empaty), cepat
tanggap (respinsiveness) dan kehandalan (reliability).
Kualitas pelayanan harus disesuaikan dengan standar profesi dan
standar pelayanan dengan menggunakan potensi yang tersedia di rumah sakit
secara wajar, efektif dan efisien serta diberikan secara aman dan memuaskan
sesuai norma, etika hukum dan sosial budaya dengan memperhatikan
keterbatasan kemampuan pihak pemberi layanan kesehatan dan masyarakat.
Dengan demikian kepuasan pasien akan mendorong untuk memutuskan
menggunakan atau tidak menggunakan pelayanan yang tersedia, menganjurkan
orang lain menggunakan rumah sakit tersebut dan membela rumah sakit
tersebut bila ada orang lain menjelekkan pelayanannya berdasarkan
pengalaman yang pernah didapatkan sebelumnya (Supriyanto & Ernawaty,
2010).
26
D. Kerangka Teori
Kerangka teori dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Bagan 2.1
Kerangka teori Hubungan Mutu Pelayanan Keperawatan Dengan Tingkat
Kepuasaan Pasien
Faktor yang mempengaruhi
Kepuasan pasien
Kualitas produk
Kualitas Kualitas Tingkat Kepuasan
pelayanan pelayanan Pasien
emosional kualitas Pelayanan
kesehatan meliputi
:
harga
Ketepatan
waktu
biaya informasi
kompetensi
teknis
Sumber : Nursalam (2014) hubungan
antar manusia
lingkungan
keterangan
: tidak diteliti
: diteliti