Asuhan Keperawatan untuk Pasien Asma
Asuhan Keperawatan untuk Pasien Asma
TINJAUAN TEORI
2.1.1 Pengkajian
a. Identitas pasien
Nama,umur,tempat tanggal lahir,jenis kelamin,alamat,pekerjaan,suku/
Bangsa,agama,status perkawinan,tanggal masuk,nomor register,dan
diagnose medic.
a. Pengkajian Identitas
- Usia: pada asma pada umumnya dapat menyerang disegala usia
(anak, remaja, dan dewasa), bahkan pada orang tua sekalipun, tetapi
sering dijumpai pada usia dini, separuh dari penderita asma berada
diusia sebelum 10 tahun.
- Jenis kelamin : laki-laki perempuan diusia dini sebesar 2;1 yang
kemudian sampai usia 30 tahun
- Tempat tungggal dan jenis pekerjaan: lingkungan kerja diperkirakan
merupakan factor prncrtus yang menyumbang 2-15% klien dengan
asma bronkal (Muttaqin, 2012). Kondisi rumah juga berpengaruh
terhadap penderita asma dimana rumah yang lembab, berdebu bisa
mempengaruhi terjadinya kekambuhan pada penderita asma
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang timbul pada klien asma bronkial adalah dispneu
atau sesak nafas (bisa sampai berhari-hari atau sampai berbulan-bulan,
batuk dan mengi).
c. Riwayat Kesehatan Saat Ini
P: Pada umumnya penderita asma mengalami sesak nafas disebabkan
karena alegei, polusi udara, infeksi saluran pernafasan, asap roko,
Q: Biasanya sesak disertai wheezing dan ronchi.
R: Rasa sesak pada bagian dada dan tidak menjalar.
S: Tingkat keparahan sesak terdapat 3 kategori tergantung tingkat
keparahannya yaitu asma berat, asma ringan dan asma sedang.
T: Dan biasanya sesak dirasakan pada saat perubahan cuaca terhadap
alergi dingin, atau pada malam hari
d. Riwaya Penyakit Dahulu
Pada penderita asma biasanya sudah mempunyai penyakit seperti ini
sebelumnya atau mempunyai penyakit infeksi saluran pernafasan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Pada penderita asma perlu dikaji riwayat penyakit keluarga atau
penyakit allergen lain pada anggota keluarga lainnya, karena salah satu
faktor penyebab asma berasal dari faktor genetic. Dibawah ini adalah
contoh genogram pada penderita asma yang mempunyai riwayat
keturunan keluarganya.
b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum: hal yang perlu dikaji perawat mengenai kesadaran
klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan, denyut nadi, ferkuensi
pernafasan yang meningkat, pengguanaan otot bantu pernafasan,
sianosis, batuk dengan lendir yang meiningkat, dan posisi istirahat klien.
a. Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun
strategi pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu
maupun pada diri individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada
gejala sama sekali sampai kepada sesak yang hebat yang disertai
gangguan [Link] dan gejala tergantung berat ringannya
pada waktu serangan. Pada serangan asma bronkial yang ringan dan
tanpa adanya komplikasi, keluhan dan gejala tak ada yang khas.
Keluhan yang paling umum ialah : Napas berbunyi, Sesak, Batuk, yang
timbul secara tiba-tiba dan dapat hilang segera dengan spontan atau
dengan pengobatan, meskipun ada yang berlangsung terus untuk waktu
yang lama.
b. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: hal yang perlu dikaji perawat mengenai kesadaran
klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan, denyut nadi, ferkuensi
pernafasan yang meningkat, pengguanaan otot bantu pernafasan,
sianosis, batuk dengan lender yang meiningkat, dan psisi istirahat klien.
1) Sistem Pernafasan
- Inspeksi: pada penderita asma terlihat adanya otot bantu pernapasan,
terdapat usaha saat bernapas, pada saat di inspeksi pada area dada
perawat memeriksa kesimetrisan dada dan melihat postur dada,
reteksi otot-otot interkostalis, irama pernapasan dan frekuensi
pernapasan.
- Palpasi: pada pemeriksaan palpasi ini biasanya memeriksa
kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal
- Perkusi: pada pemeriksaan perkusi ini biasanya pada pasien asma
didapatkan suara normal sampai hipersonon, sedangkan pada
diafragma menjadi datar dan renda.
- Auskultasi: pada pasien asma biasanya terdapat suara faskuler yang
meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari
tiga kali inspirasi, dengan bunyi nafas tambahan utama mengi
(wheezing) pada akhir ekspirasi.
2) Sisitem Kardiovaskuler
Pada pemeriksaan kardiovaskuler ini perlu dimonitor oleh perawat
seperti pemeriksaan nadi, tekanan darah, dan CRT. Karena
mempengaruhi pada pasien dengan asma.
3) Sistem Perkemihan
Tingkat kesadaran saat intake cairan maka perhitungan dan
pengukuran volume output urine perlu dilakukan, sehingga perawat
memonitor apakah terdapat oliguria, Karena dikhawatirkan
terjadinya syok, pemeriksaan ini juga dapat mengetahui tanda awal
gejala syok.
4) Sistem Pencernaan
Pada sistem pencernaan ini perlu dikaji apakah terdapat, nyeri,
turgor kulit, dan tanda-tanda infeksi sebaiknya juga dikaji, hal-hal
tersebut dapat merangsang serangan asma. Pengkajian tentang
status eliminasi klien meliputi jumlah, frekuensi, dan kesulitan-
kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya.
5) Sistem Moskuloskeletal
Pada isitem moskuloskeletal juga perlu dikaji, bagaimana klien
dengan asma menjalani aktivitas sehari-hari, serta beberapa besar
akibat kelelahan yang dialami klien juga dikaji, aktivitas sehari-hari
klien juga diperhatikan seperti olahraga, bekerja, dan aktivitas
lainnya, aktivitas fisik juga dapat menjadi factor pencetus asma.
2.1.3 Diagnosa Keperawatan
Tabel 2.1
Bersihan jalan nafas Setelah dilakuakn Manajemen Jalan Nafas (I. 01011)
tidak efektif tindakan keperawatan
Observasi
selama 2x24 jam bersihan
jalan nafas meningkat 1. Monitor pola napas
sesuai dengan kriteria (frekuensi, kedalaman,
hasil: usaha napas)
2. Monitor bunyi napas
- Batuk efektif
tambahan (mis. Gurgling,
meningkat.
mengi, weezing, ronkhi
- Produksi sputum
kering)
menurun.
3. Monitor sputum (jumlah,
- Mengi menurun.
warna, aroma)
- Sianosis menurun.
Terapeutik
- Dispnea menurun.
- Ortophnea menurun. 1. Pertahankan kepatenan jalan
- Sulit bicara napas dengan head-tilt dan
menurun. chin-lift (jaw-thrust jika
- Gelisah menurun. curiga trauma cervical)
- Frekuensi nafas 2. Posisikan semi-Fowler atau
menurun. Fowler
- Pola nafas menurun. 3. Berikan minum hangat
4. Lakukan fisioterapi dada,
jika perlu
5. Lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
6. Lakukan hiperoksigenasi
sebelum
7. Penghisapan endotrakeal
8. Keluarkan sumbatan benda
padat dengan forsepMcGill
9. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.
2.1.5 Implementasi
2.1.6 Evaluasi
2.2.1 Pengertian
2.2.2 Patofisiologi
Patofisiologi yaitu adanya factor pencetus seperti debu, asap rook, bulu
binatang, hawa dingin terpapar pada penderita. Benda-benda tersebut setelah
terpapar ternyata tidak dikenalai oleh sistem ditubuhpenderita sehingga
dianggap sebagai benda asing (antigen). Anggapan itu kemudian memmicu
dikeluarkannya antibody yang berperan sebagai responreaksi hipersekresi
seperti neutrophil, basophil, dan immunoglobin E. Masukanya antigen pada
tubuh yang memicu reaksi antigen akan meinmbulkan reaksi antigen-antibody
yang membentu ikatan seperi key and lock (gembok dan kunci).
Gambar 2.2
Allergen Genetic
Infeksi Meroko Populasi
Obstruksi Hiperventilasi
Gangguan istirahat
tidur
2.2.4 Etiologi
1) Allergen
Merupakan suatu bahan penyebab alergi. Dimana dibagi menjadi tiga
yaitu:
- Inhalen, yang masuk melalui saluran pernafasan seperti debu, bulu
binatang, sebuk bunga, bakteri dan polusi.
- Ingesten, yang masuk melalui mulut yaitu makanan dan obat-obatan
tertentu seperti pensilin, salsilat, beta blocker, dan sebagainya.
- Kontraktan, seperti perhiasan, logam, jam tangan, dan aksesoris
lainnya yang masuk melalui kulit.
2) Infeksi saluran pernafasan
Infeksi saluran pernafasan terutama disebabkan oleh virus. Virus
influenza merupakan salah satu factor pencetus yang paling sering
menimbulkan asma bronchial, diperkirakan dua pertiga asma dewasa
serangan asmanya ditimbulkan oleh infeksi saluran pernafasan (nurarif
& kusuma, 2015).
3) Perubahan cuaca
Cuaca yang lembab dan hawa yang dingin sering mempengaruhi asma,
perubahan cuaca menjadi pemicu serangan asma.
4) Lingkungan kerja
Lingkungan kerja merupakan factor pencetus yang menyumbang 2-15
% kilen asma. Misalnya orang yang bekerja dipabrik kayu, polusi lalu
lintas, penyapu jalan, dan lain sebagainya.
5) Olahraga
Sebagian besar penderita asma akan mendapatkan seranagan asma bila
sedang bekerja dengan berat / beraktivitas berat. Atau lari cepat paling
mudah menimbulkan asma.
6) Stress
Gangguan emosi dapat terjadi pencetus terjadinya serangan asma, selain
itu juga dapat memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping
gejala asma harus segera diobati penderita asma yang yang mengalami
stress harus diberikan nasehat untuk menyelesaikan masalahnya.
2.2.5 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis :
b. Antikolinergik
e. Metilxantin
2. 2.6 Klasifikasi
Keparahan asma juga dapat dinilai secara retrospektif dari tingkat obat yang
digunakan untuk mengkontrol gejala dan seranga asma. Hal ini dapat dinilai
jika pasien sudah mengguankan obat pengentrol untuk beberapa bulan, yang
perlu dipahami adalah bahwa keparahan asma bukanlah bersifat statis, namun
bisa berubah dari waktu ke waktu, dari bulan ke bulan, atau dari tahun ke tahun,
( Gina, 2015).
1. Asma Ringan
Asma ringan adalah yang trekontrol dengan pengobatan tahap 1 atay
tahap 2, yaitu terapi pelega bila perlu saja, atau dengan obat pengontrol
dengan intensitas rendah seperti steroid inhalasi dosis rendah atau
antogonis leukotriene atau komon.
2. Asma Sedang
Asma sedang adalah terkontrol dengan pengobatan tahap 3, yaitu terapi
dengan obat pengontrol kombinasi steroid dosis rendah plus long acting
beta agonisis (LABA).
3. Asma Berat
Asma berat adalah asma yang membutuhkan terapi tahap 4 atau tahap ,
yaitu terapi dengan obat pengontrol kombinasi treroid dosis tinggi plus
long acting beta agonisis (LABA) untuk menjadi terkontrol, atau asma
yang tidak terkontrol meskipun telah mendapatkan [Link]
dibedakan antara asma berat dengan asma tidak terkontrol. Asma yang
tidak terkontrol biasanya disebabkan karena tehnik inhalasi yang kurang
tepat, kurangnya kepatuhan, paparan allergen ynag berlebih. Asma yang
tidak bisa terkontrol rellatif bisa membaik dengan pengobatan,
sedangkan asma berat merujuk pada kondisi asma yang walaupun
mendapatkan pengobatan yang adekuat tetapi masih sulit mencapai
control yang baik.
Tabel 2.2
Berikut tebel klasifikasi asma menurut tanda dan gejala
Tanda dan Ringan Sedang Berat
gejala
Sesak napas Berjalan Berbicara Istirahat
Berikut ini adalah tanda dan gejala asma, menurut (Zullies, 2016), tanda dan
gejala pada penderita asma dibagi menjadi 2, yakni:
a. Stadium dini
Factor sekresi yang lebih menonjol
- Batuk dengan dahak
- Ronchi bahas halus pada seranga kedua atau ketiga, sifatnya hilang
timbul
- Wheezing belum ada
- Belum ada kelainan batuk thorak
- Ada peningkatan esinofil darah dan IGE
2.1.7 Penatalaksanaan
2.1.8 Komplikasi