0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Pasien Asma

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien asma bronkial dengan masalah keperawatan berihan jalan nafas tidak efektif. Terdapat penjelasan mengenai pengkajian keperawatan meliputi identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan, riwayat penyakit dahulu dan keluarga, serta pemeriksaan fisik. Juga dibahas mengenai diagnosa keperawatan dan intervensi yang diberikan sesuai stand

Diunggah oleh

Alindiani syafitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd
0% menganggap dokumen ini bermanfaat (0 suara)
6 tayangan20 halaman

Asuhan Keperawatan untuk Pasien Asma

Dokumen tersebut membahas tentang asuhan keperawatan pada pasien asma bronkial dengan masalah keperawatan berihan jalan nafas tidak efektif. Terdapat penjelasan mengenai pengkajian keperawatan meliputi identitas pasien, keluhan utama, riwayat kesehatan, riwayat penyakit dahulu dan keluarga, serta pemeriksaan fisik. Juga dibahas mengenai diagnosa keperawatan dan intervensi yang diberikan sesuai stand

Diunggah oleh

Alindiani syafitri
Hak Cipta
© All Rights Reserved
Kami menangani hak cipta konten dengan serius. Jika Anda merasa konten ini milik Anda, ajukan klaim di sini.
Format Tersedia
Unduh sebagai PDF, TXT atau baca online di Scribd

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1. Asuhan Keperawatan pada pasien asma bronkial dengan masalah


keperawatan berihan jalan nafas tidak efektif.

2.1.1 Pengkajian

Dalam proses pemberian asauhan keperawatan hal yang palimh penting


dilakukan pertama oleh seorang perawat adalah melakukan pengkajian.
Pengkajian dibedakan menjadi dua jenis yaitu pengkajian mendalam dan
pengkajian skrining. Kedua pengkajian ini membutuhkan pengumpulan data
dengan tujuan yang berbeda (NANDA, 2015). Pengkajian pada pasien asma
menggunakan pengkajian mendalam mengenai kesiapan manajemen kesehatan,
dengan kategori perilaku dan subkategori penyuluhan dan pembelajaran.
Pengkajian disesuaikan dengan tanda mayor kesiapan peningkatan manajemen
kesehatan yaitu dari data subjektifnya pasien mengeksperesikan keinginannya
untuk mengelola masalah kesehatan dan pencegahanya dan data objektifnya
pilihan hidup sehari-hari tepat untuk memenuhi tujuan program kesehatan.

a. Identitas pasien
Nama,umur,tempat tanggal lahir,jenis kelamin,alamat,pekerjaan,suku/
Bangsa,agama,status perkawinan,tanggal masuk,nomor register,dan
diagnose medic.
a. Pengkajian Identitas
- Usia: pada asma pada umumnya dapat menyerang disegala usia
(anak, remaja, dan dewasa), bahkan pada orang tua sekalipun, tetapi
sering dijumpai pada usia dini, separuh dari penderita asma berada
diusia sebelum 10 tahun.
- Jenis kelamin : laki-laki perempuan diusia dini sebesar 2;1 yang
kemudian sampai usia 30 tahun
- Tempat tungggal dan jenis pekerjaan: lingkungan kerja diperkirakan
merupakan factor prncrtus yang menyumbang 2-15% klien dengan
asma bronkal (Muttaqin, 2012). Kondisi rumah juga berpengaruh
terhadap penderita asma dimana rumah yang lembab, berdebu bisa
mempengaruhi terjadinya kekambuhan pada penderita asma
b. Keluhan Utama
Keluhan utama yang timbul pada klien asma bronkial adalah dispneu
atau sesak nafas (bisa sampai berhari-hari atau sampai berbulan-bulan,
batuk dan mengi).
c. Riwayat Kesehatan Saat Ini
P: Pada umumnya penderita asma mengalami sesak nafas disebabkan
karena alegei, polusi udara, infeksi saluran pernafasan, asap roko,
Q: Biasanya sesak disertai wheezing dan ronchi.
R: Rasa sesak pada bagian dada dan tidak menjalar.
S: Tingkat keparahan sesak terdapat 3 kategori tergantung tingkat
keparahannya yaitu asma berat, asma ringan dan asma sedang.
T: Dan biasanya sesak dirasakan pada saat perubahan cuaca terhadap
alergi dingin, atau pada malam hari
d. Riwaya Penyakit Dahulu
Pada penderita asma biasanya sudah mempunyai penyakit seperti ini
sebelumnya atau mempunyai penyakit infeksi saluran pernafasan.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
Pada penderita asma perlu dikaji riwayat penyakit keluarga atau
penyakit allergen lain pada anggota keluarga lainnya, karena salah satu
faktor penyebab asma berasal dari faktor genetic. Dibawah ini adalah
contoh genogram pada penderita asma yang mempunyai riwayat
keturunan keluarganya.
b. Pemeriksaan fisik
Keadaan umum: hal yang perlu dikaji perawat mengenai kesadaran
klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan, denyut nadi, ferkuensi
pernafasan yang meningkat, pengguanaan otot bantu pernafasan,
sianosis, batuk dengan lendir yang meiningkat, dan posisi istirahat klien.

2.1.2. PENGKAJIAN KEPERAWATAN ASMA

Menurut moh wahyu ( 2017 ) pengkajian asma sebagai berikut :


1. Pengkajian Primer Asma
a. Airway
• Peningkatan sekresi pernafasan
• Bunyi nafas krekles, ronchi, weezing
b. Breathing
• Distress pernafasan : pernafasan cuping hidung,
takipneu/bradipneu, retraksi.
• Menggunakan otot aksesoris pernafasan
• Kesulitan bernafas : diaforesis, sianosis
c. Circulation
• Penurunan curah jantung : gelisah, latergi, takikardi
• Sakit kepala
• Gangguan tingkat kesadaran : ansietas, gelisah
• Papiledema
• Urin output meurun
d. Dissability
• Mengetahui kondisi umum dengan pemeriksaan cepat status
umum dan neurologi dengan memeriksa atau cek kesadaran,
reaksi pupil.
2. Pengkajian Sekunder Asma

a. Anamnesis
Anamnesis pada penderita asma sangat penting, berguna untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang diperlukan untuk menyusun
strategi pengobatan. Gejala asma sangat bervariasi baik antar individu
maupun pada diri individu itu sendiri (pada saat berbeda), dari tidak ada
gejala sama sekali sampai kepada sesak yang hebat yang disertai
gangguan [Link] dan gejala tergantung berat ringannya
pada waktu serangan. Pada serangan asma bronkial yang ringan dan
tanpa adanya komplikasi, keluhan dan gejala tak ada yang khas.
Keluhan yang paling umum ialah : Napas berbunyi, Sesak, Batuk, yang
timbul secara tiba-tiba dan dapat hilang segera dengan spontan atau
dengan pengobatan, meskipun ada yang berlangsung terus untuk waktu
yang lama.
b. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum: hal yang perlu dikaji perawat mengenai kesadaran
klien, kecemasan, kegelisahan, kelemahan, denyut nadi, ferkuensi
pernafasan yang meningkat, pengguanaan otot bantu pernafasan,
sianosis, batuk dengan lender yang meiningkat, dan psisi istirahat klien.
1) Sistem Pernafasan
- Inspeksi: pada penderita asma terlihat adanya otot bantu pernapasan,
terdapat usaha saat bernapas, pada saat di inspeksi pada area dada
perawat memeriksa kesimetrisan dada dan melihat postur dada,
reteksi otot-otot interkostalis, irama pernapasan dan frekuensi
pernapasan.
- Palpasi: pada pemeriksaan palpasi ini biasanya memeriksa
kesimetrisan, ekspansi, dan taktil fremitus normal
- Perkusi: pada pemeriksaan perkusi ini biasanya pada pasien asma
didapatkan suara normal sampai hipersonon, sedangkan pada
diafragma menjadi datar dan renda.
- Auskultasi: pada pasien asma biasanya terdapat suara faskuler yang
meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau lebih dari
tiga kali inspirasi, dengan bunyi nafas tambahan utama mengi
(wheezing) pada akhir ekspirasi.
2) Sisitem Kardiovaskuler
Pada pemeriksaan kardiovaskuler ini perlu dimonitor oleh perawat
seperti pemeriksaan nadi, tekanan darah, dan CRT. Karena
mempengaruhi pada pasien dengan asma.
3) Sistem Perkemihan
Tingkat kesadaran saat intake cairan maka perhitungan dan
pengukuran volume output urine perlu dilakukan, sehingga perawat
memonitor apakah terdapat oliguria, Karena dikhawatirkan
terjadinya syok, pemeriksaan ini juga dapat mengetahui tanda awal
gejala syok.
4) Sistem Pencernaan
Pada sistem pencernaan ini perlu dikaji apakah terdapat, nyeri,
turgor kulit, dan tanda-tanda infeksi sebaiknya juga dikaji, hal-hal
tersebut dapat merangsang serangan asma. Pengkajian tentang
status eliminasi klien meliputi jumlah, frekuensi, dan kesulitan-
kesulitan dalam memenuhi kebutuhannya.
5) Sistem Moskuloskeletal
Pada isitem moskuloskeletal juga perlu dikaji, bagaimana klien
dengan asma menjalani aktivitas sehari-hari, serta beberapa besar
akibat kelelahan yang dialami klien juga dikaji, aktivitas sehari-hari
klien juga diperhatikan seperti olahraga, bekerja, dan aktivitas
lainnya, aktivitas fisik juga dapat menjadi factor pencetus asma.
2.1.3 Diagnosa Keperawatan

Diagnose keperawatan merupakan suatu penilain klinis mengenai respon klien


terhadap masalah kesehatan yang dialami baik secara actual maupun potensial.
Diagnose keperawatan bertujuan untuk dapat menguraikan berbagai respon
klien baik individu, keluarga dan komunitas terhadap situasi yang berkaitan
dengan kesehatan (PPNI, 2016). Adapun diagnose yang diangkat dalam
penelitian ini berdasarkan SDKI (standard diagnosis keperawatan Indonesia )
adalah sebagai berikut :

1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan bronkopasme


2. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
penurunan masukan oral
4. Gangguan pola tidur berhubungan dengan sesak dan batuk

2.1.4 Perencanaan/ Intervensi

Intervensi merupakan suatu perawatan yang dilakukan perawat berdasarkan


penilian klinis dan pengetahuan perawat untuk meningkatkan outcome
pasien/klien (Bulechek, Butchr & Wagner, 2016). Intervensi keperawatan
adalah segala tritmenyang dikerjakan oleh perawat yang didasarkan pada
pengetahuan dan penelitian (PPNI 2018).dikerjakan oleh perawat yang
didasarkan pada pengetahuan dan penelitian (PPNI 2018).

Tabel 2.1

Intervensi keperawatan berdasarkan standard luaran keperawatan Indonesia ( SLKI ) dan


standard intervensi keperawatan Indonesia (SIKI) pada pasien asma bronkial.
Diagnose Tujuan dan kriteria hasil Intervensi keperawatan
keperawatan (SLKI)
(SiKI)
(SDKI)

Bersihan jalan nafas Setelah dilakuakn Manajemen Jalan Nafas (I. 01011)
tidak efektif tindakan keperawatan
Observasi
selama 2x24 jam bersihan
jalan nafas meningkat 1. Monitor pola napas
sesuai dengan kriteria (frekuensi, kedalaman,
hasil: usaha napas)
2. Monitor bunyi napas
- Batuk efektif
tambahan (mis. Gurgling,
meningkat.
mengi, weezing, ronkhi
- Produksi sputum
kering)
menurun.
3. Monitor sputum (jumlah,
- Mengi menurun.
warna, aroma)
- Sianosis menurun.
Terapeutik
- Dispnea menurun.
- Ortophnea menurun. 1. Pertahankan kepatenan jalan
- Sulit bicara napas dengan head-tilt dan
menurun. chin-lift (jaw-thrust jika
- Gelisah menurun. curiga trauma cervical)
- Frekuensi nafas 2. Posisikan semi-Fowler atau
menurun. Fowler
- Pola nafas menurun. 3. Berikan minum hangat
4. Lakukan fisioterapi dada,
jika perlu
5. Lakukan penghisapan lendir
kurang dari 15 detik
6. Lakukan hiperoksigenasi
sebelum
7. Penghisapan endotrakeal
8. Keluarkan sumbatan benda
padat dengan forsepMcGill
9. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi

1. Anjurkan asupan cairan


2000 ml/hari, jika tidak
kontraindikasi.
2. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi

1. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu.

2.1.5 Implementasi

Menurut Tarwoto & Wartonah dalam (Wulandari, 2019), implementasi yaitu


tindakan yang telah direncanakan dalam intervensi keperawatan. Tindakan
keperawatan mencakup tindakan secara mandiri dan tindakan secara
kolaborasi. Tindakan ini dilakukan sesuai dengan intervensi asuhan
keperawatan yang telah dibuat. Implementasi adalah proses keperawatan yang
terdiri dari aktivitas keperawatan yang dilakukan dari hari ke hari dan di
dokumentasikan dengan tepat, sesuai dan cermat. Seorang perawat akan
melakukan pengawasan terhadap efektivitas tindakan yang telah diberikan dan
mengukur perkembangan pasien terhadap pencapaian tujuan dan kriteria hasil
yang diharapkan.

2.1.6 Evaluasi

Menurut Tarwoto & Wartonah dalam (Wulandari, 2019) evaluasi


perkembangan kesehatan pasien dapat dilihat dari hasilnya. Tujuannya adalah
untuk mengetahui sejauh mana tujuan perawatan dapat dicapai dan memberikan
umpan baik terhadap asuhan keperawatan yang diberikan. Evaluasi setiap
diagnosa keperawatan meliputi:

1. Subjektif (S): Menuliskan keluhan pada pasien yang masih dirasakan


setelah dilakukan tindakan keperawatan dan akan menjadi
pertimbangan untuk tindakan selanjutnya.
2. Objektif (O): data objeketif adalah data berdasarkan hasil pengukuran
atau hasil observasi secara langsung kepada pasien untuk mengetahui
perkembangan pasien.
3. Analisa (A): Interpretasi yang diperoleh dari data subjektif dan
objektif. Analisis merupakan suatu masalah atau diagnosa
keperawatan yang masih terjadi, apakah masalah keperawatan teratasi
atau belum teratasi sehingga akan dilakukan tindakan keperawatan
selanjutnya.
4. Planning (P): Perencanaan keperawatan yang akan dilakukan
selanjutnya, dihentikan karena masalah keperawatan telah terpenuhi,
dimodifikasi, atau ditambahkan dengan rencana tindakan keperawatan
yang sudah ditentukan sebelumnya

2.2 Konsep Penyakit

2.2.1 Pengertian

Asma adalah penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran nafas yang


ditandai dengan adanya mengi, batuk, dan rasa sesak didada yang berulang dan
timbul dan terutama di malam atau menjelang pagi akibat penyumbatan saluran
pernafasan (Infodatin, 2017). Menurut (Amin dan Hardi, 2016) Asma adalah
suatu keadaan dimana saluran nafas mengalami penyempitan karena
hiperaktivitas terhadap rangsangan tertentu, ynag menyebabkan peradangan.
Asma merupakan penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, bersifat reversible
dimana trakea dan bronchi berrespon secara hiperaktif terhadap stimulus tertenu
serta mengalami peradangan atau inflamasi. Asma juga merupakan proses
inflamasi kronikk saluran pernafasan menjadi hiperresponsif, sehingga
memudahkan terjadinya bronkokontriksi, edema, dan hipersekresi kelenjar.
Jadi menurut pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa asma adalah penyakit
obstruktif pada jalan nafas yang bersifat reversible kronis yang ditandai dengan
adanya sesak, batuk, bronchopasme dengan karakteristik mengi dimana trakea
dan bronchi berespon secara hiperaktif terhadap stimulus tertentu serta
mengalami peradangan atau inflamasi.

2.2.2 Patofisiologi

Patofisiologi yaitu adanya factor pencetus seperti debu, asap rook, bulu
binatang, hawa dingin terpapar pada penderita. Benda-benda tersebut setelah
terpapar ternyata tidak dikenalai oleh sistem ditubuhpenderita sehingga
dianggap sebagai benda asing (antigen). Anggapan itu kemudian memmicu
dikeluarkannya antibody yang berperan sebagai responreaksi hipersekresi
seperti neutrophil, basophil, dan immunoglobin E. Masukanya antigen pada
tubuh yang memicu reaksi antigen akan meinmbulkan reaksi antigen-antibody
yang membentu ikatan seperi key and lock (gembok dan kunci).

Ikatan antigen dan antibody akan merangsang peningkatan pengeluaran


mediator kimiawi seperti histamine, neutrophil chemotactic show acting,
epinefrin, dan prostaglandin. Peningkatan mediator kimai tersebut akan
merangsang peningkatan permiabilitas kapiler, pembengkakan pada mukosa
saluran pernafasan (terutama broncus). Pembengkakn yang hamper merata
pada semua bagian bronkus akan menyebabkan penyempitan bronkus dan sesak
nafas.
Penyempitan bronkus akan menurunkan jumlah osksigen luar yang masuk saat
inspirasi sehingga menurunkan oksigen yang dari darah. Kondisi ini akan
berakibat pada penurunan oksigen jaringan sehingga penderita pucat dan
lemah. Pembengkakan mukosa bronkus juga akan meningkatkan sekresi mucus
dan meningkatkan pergerakan sillia pada mukosa. Penderita jadi sering batuk
dengan produksi mucus yang cukup banyak.

Gambar 2.2

Perbedaan paru normal dan asma


2.2.3 Pathway

Allergen Genetic
Infeksi Meroko Populasi

Masuk saluran pernafasan

Iritasi mukosa saluran pernafasan Peningka


tan kerja
Reasksi inflamasi pernafas
an
Hipertropi dan hyperplasia mukosa bronkus

Metaplasma sel gobet Peningkatan


Bersihan Jalan Nafas kebutuhan
Penyempitan saluran pernafasn
Tidak Efektif oksigen

Obstruksi Hiperventilasi

Penyebaran udara ke alveoli


Pola nafas
tidak efektif
Penurunan ventilasi Vasokontaksi pembuluh darah ke
paru-paru
Suplai O2 menurun
Supley oksigen berkurang

Kelemahan Sesak nafas


Gangguan
pertukaran gas
Intoleransi aktivitas Kebutuhan tidur
tidak efektif

Gangguan istirahat
tidur
2.2.4 Etiologi

Asma merupakan gangguan kompleks yang mengakibatkan faktor autonom,


imunologi, infeksi, endokrin, dan psikologis dalam berbagai tingkat pada
berbagai individu. Pengendalian diameter jalan nafas dapat dipandang sebagai
suatu keseimbangan gaya neural dan humoral. Asma juga bersifat genetic yaitu
dapat diturunkan dari keluarga dekat, akibat adanya bakat alergi ini penderita
sangat mudah terkena asma apabila dia terpapar factor penycetus, adapun asma
yang disebabkan obstuksi jalan nafas pada asma disebabkan oleh:

1) Kontraksi otot sekitar bronkus sehingga terjadi penyempitan nafas


2) Penyempitan membrane bronkus
3) Bronkus berisi mucus yang kental

Adapun factor pencetus dari asma adalah:

1) Allergen
Merupakan suatu bahan penyebab alergi. Dimana dibagi menjadi tiga
yaitu:
- Inhalen, yang masuk melalui saluran pernafasan seperti debu, bulu
binatang, sebuk bunga, bakteri dan polusi.
- Ingesten, yang masuk melalui mulut yaitu makanan dan obat-obatan
tertentu seperti pensilin, salsilat, beta blocker, dan sebagainya.
- Kontraktan, seperti perhiasan, logam, jam tangan, dan aksesoris
lainnya yang masuk melalui kulit.
2) Infeksi saluran pernafasan
Infeksi saluran pernafasan terutama disebabkan oleh virus. Virus
influenza merupakan salah satu factor pencetus yang paling sering
menimbulkan asma bronchial, diperkirakan dua pertiga asma dewasa
serangan asmanya ditimbulkan oleh infeksi saluran pernafasan (nurarif
& kusuma, 2015).
3) Perubahan cuaca
Cuaca yang lembab dan hawa yang dingin sering mempengaruhi asma,
perubahan cuaca menjadi pemicu serangan asma.
4) Lingkungan kerja
Lingkungan kerja merupakan factor pencetus yang menyumbang 2-15
% kilen asma. Misalnya orang yang bekerja dipabrik kayu, polusi lalu
lintas, penyapu jalan, dan lain sebagainya.
5) Olahraga
Sebagian besar penderita asma akan mendapatkan seranagan asma bila
sedang bekerja dengan berat / beraktivitas berat. Atau lari cepat paling
mudah menimbulkan asma.
6) Stress
Gangguan emosi dapat terjadi pencetus terjadinya serangan asma, selain
itu juga dapat memperberat serangan asma yang sudah ada. Disamping
gejala asma harus segera diobati penderita asma yang yang mengalami
stress harus diberikan nasehat untuk menyelesaikan masalahnya.

2.2.5 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan asma menurut (Brunner & Suddarth, 2016) yaitu:

1. Penatalaksanaan medis :

a. Agonis adrenergik-beta2 kerja-pendek

b. Antikolinergik

c. Kortikostereoid: inhaler dosis-terukur

d. Inhibitor pemodifikasi leukotrien/ antileukotrien

e. Metilxantin

2. Penatalaksanaan keperawatan menurut (Claudia, 2014) yaitu:


a. Penyuluhan Penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan
klien tentang penyakit asma sehingga klien secara sadar akan
menghindari faktor-faktor pencetus asma, menggunakan obat secara
benar, dan berkonsultasi pada tim kesehatan.

b. Menghindari faktor pencetus Klien perlu mengidentifikasi pencetus asma


yang ada pada lingkungannya, diajarkan cara menghindari dan
mengurangi faktor pencetus asma termasuk intake cairan yang cukup.

c. Fisioterapi dan latihan pernapasan.

3. Penatalaksanaan menurut Wijaya & Putri (2014) yaitu:

Non farmakologi, tujuan dari terapi asma:

- Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma


- Mencegah kekambuhan
- Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta
mempertahankannya
- Mengupayakan aktifitas harian pada tingkat normal termasuk
melakukan exercise
- Menghindari efek samping obat asma
- Mencegah obstruksi jalan nafas iriversibel

Farmakologi, obat anti asma:

- Bronkodilator (Adrenalin, Epidermin, Fenotirol)


- Antikolinergin (Iptropiem Bromid)
- Kartikosteroid (Predrison, Hidrokortison, Orodekon)

2. 2.6 Klasifikasi
Keparahan asma juga dapat dinilai secara retrospektif dari tingkat obat yang
digunakan untuk mengkontrol gejala dan seranga asma. Hal ini dapat dinilai
jika pasien sudah mengguankan obat pengentrol untuk beberapa bulan, yang
perlu dipahami adalah bahwa keparahan asma bukanlah bersifat statis, namun
bisa berubah dari waktu ke waktu, dari bulan ke bulan, atau dari tahun ke tahun,
( Gina, 2015).

Adapun klasifikasinya dalah sebagai berikut:

1. Asma Ringan
Asma ringan adalah yang trekontrol dengan pengobatan tahap 1 atay
tahap 2, yaitu terapi pelega bila perlu saja, atau dengan obat pengontrol
dengan intensitas rendah seperti steroid inhalasi dosis rendah atau
antogonis leukotriene atau komon.
2. Asma Sedang
Asma sedang adalah terkontrol dengan pengobatan tahap 3, yaitu terapi
dengan obat pengontrol kombinasi steroid dosis rendah plus long acting
beta agonisis (LABA).
3. Asma Berat
Asma berat adalah asma yang membutuhkan terapi tahap 4 atau tahap ,
yaitu terapi dengan obat pengontrol kombinasi treroid dosis tinggi plus
long acting beta agonisis (LABA) untuk menjadi terkontrol, atau asma
yang tidak terkontrol meskipun telah mendapatkan [Link]
dibedakan antara asma berat dengan asma tidak terkontrol. Asma yang
tidak terkontrol biasanya disebabkan karena tehnik inhalasi yang kurang
tepat, kurangnya kepatuhan, paparan allergen ynag berlebih. Asma yang
tidak bisa terkontrol rellatif bisa membaik dengan pengobatan,
sedangkan asma berat merujuk pada kondisi asma yang walaupun
mendapatkan pengobatan yang adekuat tetapi masih sulit mencapai
control yang baik.
Tabel 2.2
Berikut tebel klasifikasi asma menurut tanda dan gejala
Tanda dan Ringan Sedang Berat
gejala
Sesak napas Berjalan Berbicara Istirahat

Posisi Dapat tidur terlentang Duduk Dudk membungkuk

Cara berbicara Satu kalimat Beberapa kalimat Kata demi kata

Kesadaran Mungkin gelisah Gelisah Gelisah

Frekuensi napas <20 x/m 20-30 x/m >30 x/m

Nadi <100 mmHg 100-120 mmHg >120 mmHg

Otot bantu napas - + +

Mengi Akhir ekspirasi paksa Akhir ekspirasi Inspirasi dan ekspirasi

PaO2 >80 mmHg 80-60 mmHg <60 mmHg

PaCO2 <45 mmHg <45 mmHg >45 mmHg

SaO2 >90 % 91-95 % <90 %

2.2.4 Manifestasi Klinis

Berikut ini adalah tanda dan gejala asma, menurut (Zullies, 2016), tanda dan
gejala pada penderita asma dibagi menjadi 2, yakni:

a. Stadium dini
Factor sekresi yang lebih menonjol
- Batuk dengan dahak
- Ronchi bahas halus pada seranga kedua atau ketiga, sifatnya hilang
timbul
- Wheezing belum ada
- Belum ada kelainan batuk thorak
- Ada peningkatan esinofil darah dan IGE

Factor spasme bronchioles dan edema ynag lebih dominan:

- Timbul sesak nafas


- Wheezing
- Ronchi basah bila terdapat tipersekresi
- Penurunan tekanan perial

b. Stadium lanjut/ kronik


- Batuk ronchi
- Sesak nafas berat dan dada seolah-olah tertekan
- Dahak lengket dan sulit untuk dikeluarkan
- Suara nafas melemah bahkan tidak terdengar
- Tampak tarikan otot
- Sianosis
- Blood gas analysis (BGA) Pa O2 kurang dari 80%

2.1.7 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan menurut Wijaya & Putri (2014) yaitu:

Non farmakologi, tujuan dari terapi asma:

- Menyembuhkan dan mengendalikan gejala asma


- Mencegah kekambuhan
- Mengupayakan fungsi paru senormal mungkin serta
mempertahankannya
- Mengupayakan aktifitas harian pada tingkat normal termasuk
melakukan exercise
- Menghindari efek samping obat asma
- Mencegah obstruksi jalan nafas iriversibel

Farmakologi, obat anti asma:

- Bronkodilator (Adrenalin, Epidermin, Fenotirol)


- Antikolinergin (Iptropiem Bromid)
- Kartikosteroid (Predrison, Hidrokortison, Orodekon)

2.1.8 Komplikasi

Komplikasi yang mungkin terjadi pada penderita asma diantaranya (Kurniawan


Adi Utomo, 2015) :
1. Pneumonia
Adalah peradangan pada jaringan yang ada pada salah satu atau kedua
paru – paru yang biasanya disebabkan oleh infeksi.
2. Atelektasis
Adalah pengerutan sebagian atau seluruh paru – paru akibat penyumbatan
saluran udara (bronkus maupun bronkiolus).
3. Gagal nafas
Terjadi bila pertukaran oksigen terhadap karbondioksida dalam paru –
paru tidak dapat memelihara laju konsumsi oksigen dan terjadi
pembentukan karbondioksida dalam sel – sel tubuh.
4. Bronkhitis
Adalah kondisi dimana lapisan bagian dalam dari saluran pernafasan di
paru – paru yang kecil (bronkiolus) mengalami bengkak. Selain bengkak
juga terjadi peningkatan lendir (dahak). Akibatnya penderita 18 merasa
perlu batuk berulang – ulang dalam upaya mengeluarkan lendir yang
berlebihan.
5. Fraktur iga
Adalah patah tulang yang terjadi akibat penderita terlalu sering bernafas
secara berlebihan pada obstruksi jalan nafas maupun gangguan ventilasi
oksigen.

2.1.9 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang menurut Padila (2015) yaiyu:

1. Analisis Gas Darah


Hanya dilakuakn pada serangan asma berat karena terdaoat hipoksemia,
hiperkapnea, dan asisidosis respiratorik. Dapat dikatakan alkalosis
respiratorik bila nilai PaCO2 < 35 mmHg (Hiperventilasi), dan dapat
dikatakan asidosis respiratorik jika nilai PaCO2 >45 (hipoventilasi).
2. Pemeriksaan Sputum
Adanya sputum yang berlebih untuk seranagn asma yang berat
3. Pemeriksaan consinofil total
4. Pemeriksaan kulit (Dapat dilakukan untuk mencari faktor alergi dengan
berbagai allergen yang dapat menimbulkan reaksi yang positif pada
asma)
5. Pemeriksaan kadar IgE total dan Ige spesifik dalam sputum
6. Foto Thorak (untuk mengetahui adanya pembengkakan, adanya
penyempitan bronkus dan adanya sumbatan jalan napas)
7. Pemeriksaan darah rutin dan kimia (HT, HB, Leukosit)

Anda mungkin juga menyukai