Financial Behavior
Seri Suriani
Penerbit Yayasan Kita Menulis
Financial Behavior
Copyright © Yayasan Kita Menulis, 2022
Penulis:
Seri Suriani
Editor: Dr. Suginam, S.E., [Link]. & Vina Winda Sari, SE., [Link].
Desain Sampul: Devy Dian Pratama, [Link].
Penerbit
Yayasan Kita Menulis
Web: [Link]
e-mail: press@[Link]
WA: 0821-6453-7176
IKAPI: 044/SUT/2021
Seri Suriani
Financial Behavior
Yayasan Kita Menulis, 2022
x; 160 hlm; 16 x 23 cm
ISBN: 978-623-342-513-1
Cetakan 1, Juni 2022
I. Financial Behavior
II. Yayasan Kita Menulis
Katalog Dalam Terbitan
Hak cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak maupun mengedarkan buku tanpa
Izin tertulis dari penerbit maupun penulis
Kata Pengantar
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa sebab
berkat karunia-NYA penulis dapat menyelesaikan buku “Financial
Behavior” ini yang masih merupakan suatu kajian dasar yang nantinya
masih perlu dikembangkan lagi pembahasannya.
Financial Behavior merupakan bidang ilmu yang relatif baru yang
bertujuan untuk menggabungkan teori psikologi perilaku dan kognitif
dengan ekonomi konvensional dan keuangan untuk memberikan
penjelasan mengapa orang mengambil keputusan keuangan yang tidak
rasional. Perilaku keuangan berhubungan dengan tanggung jawab
keuangan seseorang terkait dengan cara pengelolaan keuangannya.
Mahasiswa serta akademisi dan masyarakat yang ingin atau sedang
belajar Financial Behavior, buku ini sangat cocok sebagai bahan referensi
dan rujukan.
Saran dan kritik dapat ditujukan kepada penulis, sehingga di masa depan
buku ini dapat ditingkatkan untuk disempurnakan.
Medan, April 2022
Penulis
vi Financial Behavior
Daftar Isi
Kata Pengantar ................................................................................................... v
Daftar Isi ............................................................................................................. vii
Daftar Tabel ....................................................................................................... ix
Bab 1 Konsep Financial Behavior
1.1 Definisi Financial Behavior ........................................................................ 1
1.2 Sejarah Financial Behavior ......................................................................... 5
1.3 Fungsi Dan Tujuan Memahami Financial Behavior................................. 8
1.4 Ruang Lingkup Financial Behavior ........................................................... 10
1.5 Manfaat Financial Behavior ....................................................................... 11
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan
2.1 Evolusi Teori Keuangan Keperilakuan...................................................... 15
2.2. Teori Perilaku Keuangan ........................................................................... 20
Bab 3 Standar Akuntansi Keuangan Dan Perbedaannya Dengan Perilaku
Keuangan
3.1 Standar Akuntansi Keuangan ..................................................................... 33
3.2 Jenis Standar Akuntansi Keuangan ............................................................ 35
3.3 Perbedaan Standar Keuangan Dengan Perilaku Keuangan...................... 40
Bab 4 Perilaku Penggunaan Uang
4.1 Definisi Perilaku Penggunaan Uang .......................................................... 45
4.2 Prinsip Penggunaan Uang ........................................................................... 47
4.3 Kaitan Penggunaan Uang Dengan Money Belief ..................................... 49
Bab 5 Perilaku Pengelolaan Uang
5.1 Definisi Perilaku Pengelolaan Uang .......................................................... 53
5.2 Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Perilaku Pengelolaan Uang ............. 56
Bab 6 Perilaku Keuangan Dengan Keputusan Investasi
6.1 Definisi Keputusan Investasi ...................................................................... 59
6.2 Beberapa Faktor Dalam Keputusan Investasi ........................................... 61
viii Financial Behavior
Bab 7 Behavioral Finance Dalam Proses Pengambilan Keputusan
7.1 Behavioral Finance ...................................................................................... 73
7.2 Behavioral Finance Dalam Proses Pengambilan Keputusan ................... 76
Bab 8 Financial Literacy Versus Financial Behavior
8.1 Financial Literacy ........................................................................................ 87
8.2 Financial Behavior....................................................................................... 92
8.3 Hubungan Financial Literacy Dan Financial Behavior ............................ 94
8.4 Perbedaan Financial Literacy Dan Financial Behavior ............................ 95
Bab 9 Keterkaitan Financial Attitude, Financial Behavior & Financial
Knowledge
9.1 Sikap Keuangan (Financial Attitude)......................................................... 99
9.2 Pengetahuan Keuangan (Financial Knowledge) ....................................... 102
9.3 Pengaruh Financial Attitude Terhadap Financial Management Behavior .. 106
9.4 Pengaruh Financial Knowledge Terhadap Financial Management Behavior . 109
Bab 10 Financial Behavior And Financial Performance Pada Usaha Kecil
Menengah
10.1 Financial Performance .............................................................................. 111
10.2 Financial Performance Pada Usaha Kecil Menengah ............................ 115
10.3 Peranan Financial Performance Pada Usaha Menengah ........................ 122
10.4 Mengenal Financial Management Behavior ........................................... 124
10.5 Financial Management Behavior Pada Usaha Kecil Dan Menengah ... 126
10.6 Financial Distress Pada Usaha Kecil Dan Menengah ............................ 130
Glosarium ........................................................................................................... 137
Index ................................................................................................................... 147
Daftar Pustaka .................................................................................................... 151
Biodata Penulis .................................................................................................. 159
Daftar Tabel
Tabel 2.1: Teori Keuangan Tradisional ..........................................................17
Tabel 2.2: Perkembangan Teori Keuangan Keperilakuan.............................19
x Financial Behavior
Bab 1
Konsep Financial Behavior
1.1 Definisi Financial Behavior
Menurut Teori Keuangan Konvensional memaksimumkan kekayaan
merupakan hal yang rasional bagi seluruh dunia. Jika kita menggunakan teori
keuangan ‘konvensional’ atau ‘modern’ untuk menggambarkan keuangan, kita
akan berbicara mengenai jenis pembiayaan yang didasarkan pada teori-teori
yang rasional dan logis, seperti Capital Aset Pricing Model (CAPM) dan
Efficient Market Hypothesis (EHM). Teori ini berasumsi bahwa sebagian besar
orang berperilaku secara rasional dan terduga.
Namun, ada saatnya di mana ketika emosi dan psikologi seseorang
memengaruhinya dalam mengambil keputusan menyebabkan individu
berperilaku tidak rasional. Para ahli dibidang keuangan dan ekonomi mulai
menemukan adanya penyimpangan dan perilaku yang tidak dapat dijelaskan
dengan teori yang telah ada pada saat itu. Peristiwa keuangan tersebut antara
lain berupa anomali keuangan dalam bentuk volatilitas saham secara eksesif di
pasar modal seprti kasus January Effect, Day of the week effect, returns over
trading dan non-trading periods, stock return volatility dan The Internet
Phenomenon. Pada saat itu pasar terbukti berperilaku dengan tidak terduga
atau tidak rasional, sementara teori konvensional atau modern yang ada pada
saat itu hanya bisa menjelaskan tentang keadaan yang ideal atau terduga saja.
2 Financial Behavior
Oleh karena itu, muncullah teori yang disebut dengan teori perilaku keuangan
yang membahas tentang perilaku yang tidak terduga.
Hal tersebutlah yang tidak termasuk kedalam teori keuangan konvensional.
Karena adanya faktor psikologi yang dapat memengaruhi seseorang dalam
mengambil keputusannya sedangkan teori pada saat itu tidak dapat
menjelaskannya, maka dikenallah ilmu keuangan yang disebut dengan tingkah
laku atau perilaku keuangan (behavior finance).
Perilaku keuangan merupakan bidang ilmu yang relatif baru yang bertujuan
untuk menggabungkan teori psikologi perilaku dan kognitif dengan ekonomi
konvensional dan keuangan untuk memberikan penjelasan mengapa orang
mengambil keputusan keungan yang tidak rasional. Perilaku keuangan
berhubungan dengan tanggung jawab keuangan seseorang terkait dengan cara
pengelolaan keuangannya. Tanggung jawab keuangan adalah bagaimana
proses pengelolaan uang dan aset yang dilakukan secara produktif (Sadalia &
Butar-butar, 2016).
Perilaku keuangan adalah pendekatan baru dalam pasar keuangan yang telah
muncul sebagai respon terhadap komplikasi yang dihadapi oleh teori keuangan
tradisional. Secara umum, perilaku keuangan mengusulkan bahwa beberapa
fenomena keuangan dapat dipahami dengan lebih baik dengan menggunakan
model di mana beberapa pemain yang tidak sepenuhnya rasional.
Guzavicius, Vilke dan Barkauskas (2014) menjelaskan bahwa perilaku
keuangan menggabungkan dampak psikologi dan ilmu ekonomi dalam rangka
untuk menemukan alasan yang mendasari solusi rasional dari menghabiskan
investasi, pinjaman dan tabungan. Perilaku keuangan bertentangan dengan
salah satu aksioma keuangan konvensional, yang menyatakan bahwa manusia
adalah rasional, dan membuat semua keputusan keuangan setelah benar-benar
mempertimbangkan semua masalah. Teori ekonomi, menjelaskan keputusan
manusia di pasar mengacu pada motif psikologis.
Financial behavior dikatakan sebagai ilmu keuangan dengan memasukkan
ilmu psikologi dan sosiologi dalam sebuah ilmu fundamental. Financial
behavior merupakan ilmu yang menggabungan antara teori ekonomi dengan
teori psikologi dan sosiologi dalam ilmu keuangan yang digunakan dalam
membuat suatu keputusan. Adanya ilmu psikologi dan sosiologi dalam ilmu
keuangan tersebut menunjukkan pergeseran dari teori fundamental atau
tradisional ke teori financial behavior. Adanya pergeseran dari kondisi
kepastian menuju ketidakpastian, adanya pergeseran dari yang rasional ke
Bab 1 Konsep Financial Behavior 3
cenderung irrasional. Suatu alasan memasukkan psikologi dan sosiologi
disebabkan karena manusia sebagai mahkluk sosial yang berhubungan dengan
lingkungan sekitar yang juga berdampak pada bagaimana seseorang tersebut
akan berperilaku (Yuningsih, 2020).
Banyak ahli yang telah mendefinisikan perilaku keuangan, berikut adalah
beberapa definisi perilaku keuangan:
1. Shefrin (2000), perilaku keuangan adalah studi yang mempelajari
bagaimana fenomena psikologi memengaruhi tingkah laku
keuangannya. Tingkah laku dari para para pemain saham tersebut
disebut tingkah laku para praktisi.
2. Nofsinger (2001), perilaku keuangan yaitu mempelajari bagaimana
manusia secara aktual berperilaku dalam sebuah penentuan keuangan
(a financial setting).
3. Litner (1998), perilaku keuangan merupakan suatu ilmu yang
mempelajari bagaimana manusia menyikapi dan bereaksi atas
informasi yang ada dalam upaya untuk mengambil keputusan yang
dapat mengoptimalkan tingkat pengembalian dengan memperhatikan
risiko yang melekat di dalamnya (unsur sikap dan tindakan
merupakan faktor penentu dalam berinvestasi).
4. Fuller (2000) mendefinisikan perilaku keuangan kedalam tiga poin
cara, yaitu:
a. Perilaku keuangan adalah penggabungan antara ekonomi klasik
dan keuangan dengan psikologi dan ilmu pengambilan
keputusan, dan perlu diketahui bahwa ilmu pengambilan
keputusan juga berkembang mengikuti perkembangan zaman,
sehingga penerapan teori ekonomi klasik yang relatif bersifat
baku, berbeda-beda seiring dengan perkembangan zaman.
b. Perilaku keuangan adalah suatu percobaan untuk menjelaskan
apa penyebab beberapa anomali-anomali keuangan yang sudah
terlihat dandibukukan dalam literasi keuangan. Banyaknya studi
kasus dan observasi dari kejadian sebelumnya diharapkan dapat
menjadi dasar pengembangan teori perilaku keuangan dimasa
4 Financial Behavior
depan. Diharapkan anomali-anomali keuangan tersebut dapat
dijelaskan melalui teori-teori baru.
c. Perilaku keuangan adalah suatu bidang studi yang menjelaskan
bagaimana investor secara sistematis membuat judgement yang
salah atau ‘mental mistakes’.
Shefrin (2000; dalam Sadalia & Butar-butar, 2016) menyatakan ada tiga tema
yang dibahas dalam perilaku keuangan, di mana tema tersebut dibuat dalam
bentuk pertanyaan, yaitu:
1. Apakah praktisi keuangan mengakui adanya kesalahan karena selalu
berpatokan kepada aturan yang telah ditentukan (rules of thumb).
Bagi penganut perilaku keuangan mengakuinya sementara keuangan
tradisional tidak mengakuinya. Penggunaan rules of thumb ini
disebut dengan Heuristics to Process Data. Penganut keuangan
tradisional selalu menggunakan alat statistik secara tepat dan benar
untuk memperoleh data. Sementara penganut perilaku keuangan
melaksanakan rules of thumb seperti ‘back-ofotheenvelope
calculation’ di mana ini secara umum tidak sempurna. Akibatnya,
praktisi memegang ‘biased beliefs’ yang memengaruhi memenuhi
janji terhadap kesalahan tersebut. Tema ini dikenal dengan
Heuristics-driven bias.
2. Apakah bentuk termasuk inti persoalan (subtance) memengaruhi
praktisi? Penganut perilaku keuangan menyatakan bahwa persepsi
praktisi terhadap risiko dan tingkat pengembalian sangat dipengaruhi
oleh bagaimana ‘decision problem’ dikerangkanya (framed).
Sementara penganut keuangan tradisional memandang semua
keputusan berdasarkan transparan dan objektif. Tema ini dikenal
dengan frame dependence.
3. Apakah kesalahan dan kerangka mengambil keputusan memengaruhi
harga yang dibangun pada pasar? Penganut perilaku keuangan
menyatakan ‘heuristics-driven bias’ dan pengaruh framing
menyebabkan harga jauh dari nilai fundamentalnya sehingga pasar
tidak efisien. Sementara pengganti keuangan tradisional
Bab 1 Konsep Financial Behavior 5
mengasumsikan pasar efisien seperti yang diuraikan Fama (1970).
Tema ini dikenal dengan pasar tidak efisien (inefficient market).
4. Guru besar ekonomi dari Santa Clara University, Hersh Shefrin telah
melakukan riset tentang konsep perilaku keuangan. Shefrin (2002)
menjelaskan bahwa perilaku keuangan merupakan hasil dari interaksi
dari psikologis dengan tingkah laku keuangan dan performa dari
semua tipe kategori investor. Lebih lanjut Shefrin menjelaskan bahwa
para investor harus lebih berhati-hati dalam melakukan investasi yang
mereka buat agar tidak terjadi kesalahan dalam melakukan
perhitungan (judgement). Shefrin (2000) menyatakan bahwa
kesalahan dari satu investor dapat menyebabkan keuntungan bagi
investor lain.
Pembahasan terkait perilaku keuangan juga dilakukan oleh Tilson. Tilson
(2005) menyatakan bahwa perilaku keuangan adalah suatu teori yang
didasarkan atas ilmu psikologi yang berusaha memahami bagaimana emosi
dan penyimpangan kognitif memengaruhi perilaku investor. Selanjutnya,
Ritter (2003) berpendapat bahwa perilaku keuangan adalah perilaku yang
didasarkan atas psikologi yang memengaruhi proses keputusan yang tunduk
kepada beberapa ilusi kognitif. Ilusi ini dibagi ke dalam dua kelompok yaitu,
ilusi yang disebabkan karena proses keputusan yang bersifat heuristik dan ilusi
yang diadopsi dari mental frame yang ada pada teori prospek (Waweru et al.,
2008). Perilaku keuangan lainnya yang juga turut muncul dan berpengaruh
pada keputusan investor terkait dengan performa investasi yaitu herding dan
faktor pasar (Luong dan Ha, 2011).
1.2 Sejarah Financial Behavior
Pada awalnya kemunculan perilaku keuangan dimulai karena adanya
penolakan terhadap teori pasar efisien. Robert J. Shiller seorang profesor dari
Universitas Yale adalah orang yang mempunyai peran yang besar dalam
perilaku keuangan karena dia mengungkapkan bahwa pasar tidak sepenuhnya
efisien. Pada tahun 1981, dengan penelitian yang berjudul “Do Stock Price
Move too much to be Justified by Subsequent Changes in Dividends’ yang
dipublikasikan di The American Economic Review, Robert menunjukkan
6 Financial Behavior
telah terjadi excess volatility antara harga saham dengan fundamental yang
mendasarinya. Penelitian ini akhirnya menimbulkan perdebatan yang luar
biasa di kalangan para akademisi. Karena pada saat itu Shiller tidak
mengetahui faktor apa yang menyebabkan pasar menjadi tidak efisien.
Dalam membuktikan volatilitas itu, Shiller mendapatkan bantuan dari istrinya.
Istri dari Shiller yang merupakan seorang mahasiswa doktoral bidang
psikologi di Universitas Daleware mencoba membantu Shiller dengan
menjelaskan ketidakefisienan pasar dengan pendekatan ilmu sosial dan pada
makalah yang diberi judul “Stock Price and Social Dynamics” pada pertemuan
di Brooking Institute. Namun dia malah mendapat ejekan tidak hanya datang
secara lisan pada saat konferensi. Ejekan secara tertulis pun ada, G. William
Schwert seorang pendukung teori pasar efisien menjuluki Shiller dengan
sebutan ‘sosiolog amatiran’. Hasil konferensi tersebut menyatakan bahwa
setiap pergerakan pasar saham haruslah mempunyai landasan yang rasional.
Namun Shiller memiliki pendapat lain mengenai hasil konferensi tersebut, Ia
mengatakan bahawa kesimpulan itu merupakan sebuah kesalahan ‘satu dari
kesalahan terbesar terbesar sejarah pemikiran ekonomi’.
Orang yang berperan besar lainnya dalam perilaku keuangan adalah Richard
H. Thaler, seorang profesor ekonomi dan ilmu keperilakuan dari Universitas
Chicago. Thaler menulis disertasi doktoralnya berdasarkan paradigma pasar
efisien, tetapi pada akhirnya ia berbalik arah dengan mengembangkan perilaku
keuangan. Akhirnya Thaler menjadi sebuah anomali di universitasnya karena
menyimpang dari pemikiran ekonomi neoklasik yang dikembangkan dari
sekolah pemikir ekonomi (economic schools of thought).
Dengan dukungan dana dari Russell Sage Foundation, sejak tahun 1991
Thaller bersama Shiller mengkoordinasikan sebuah workshop pada National
Biro Economic Research (NBER). Sejak saat itulah penelitian dengan tema
perilaku keuangan menjadi semakin berkembang pesat. Perkembangan ini
ditandai dengan semakin bertambahnya working paper yang bertema perilaku
keuangan. Jurnal ilmiah utama ilmu keuangan sudah menjadi media publikasi
hasil penelitian tentang perilaku keuangan, seperti The Journal of Finance dan
Journal of Financial Economics. Perkembangan perilaku keuangan ini menjadi
cara berpikir yang baru dalam memahami fenomena ekonomi keuangan dan
hal ini menunjukkan bahwa kalangan akademisi keuangan telah menerima
keberadaan teori perilaku keuangan.
Bab 1 Konsep Financial Behavior 7
Daniel Kahneman, akibat dari pengintegrasian ilmu psikologi kedalam ilmu
ekonomi keuangan membuat ia diberi hadiah nobel ekonomi pada tahun 2002.
Hal ini dikarenakan ia memodelkan perilaku manusia mengambil risiko dari
ilmu psikologi kedalam ilmu ekonomi yang dikenal dengan nama teori
prospek (Sadalia & Isfenti, 2016).
Teori perilaku keuangan masih dianggap berusia muda, jika dibandingkan
dengan ilmu keuangan pada periode sebelumnya. Namun, saat ini perilaku
keuangan tidak hanya sebatas konsep tetapi sudah menjadi metode operasional
untuk menganalisis dan menjelaskan tentang keberadaan dari mispricing harga
saham, menjelaskan mengapa individu tidak melakukan diversifikasi dan
bagaimana noise trader menciptakan pasar yang tidak efisien. Saat ini dalam
melakukan kegiatan investasi, investor tidak hanya menggunakan estimasi atas
prospek instrumen investasi saja tetapi juga sudah memasukkan faktor
psikologi. Bahkan, banyak pihak yang sudah menyatakan bahwa faktor
psikologi investor memiliki peran yang paling besar dalam menentukan
investor untuk berinvestasi. Contoh yang cukup menarik dalam berinvestasi
adalah adanya rasio terikat (bounded rationality). Di lain sisi juga terjadi,
investor menjual saham dengan cepat pada saat harga saham tinggi
(memberikan untung) dan bisa menahan saham dalam jangka waktu yang
lama ketika harga saham tersebut turun (rugi). Faktor psikologi tersebut
memberikan pengaruh dalam berinvestasi dan juga memengaruhi hasil yang
akan dicapai. Oleh karena itu, analisis berinvestasi yang menggunakan teori
psikologi dan teori keuangan dikenal dengan perilaku keuangan (behavioral
finance).
Ciri-ciri manusia yang paling umum adalah takut, marah, serakah,
mementingkan diri sendiri dalam menempatkan keputusan tentang uang.
Perilaku manusia biasanya tidak bersifat proaktif, melainkan lebih bersifat
reaktif. Perilaku keuangan relatif lebih mudah untuk menjelaskan mengapa
individu membuat sebuah keputusan, tetapi malah mengalami kesulitan dalam
mengukur apa akibat dari keputusan tersebut kepada dirinya. Perilaku
keuangan mempelajari pengaruh dari faktor sosial, kognitif dan emosional
pada keputusan ekonomi individu.
8 Financial Behavior
Adapun perkembangan perilaku keuangan yang memasukkan faktor kekuatan
emosi dan psikologi investor di pasar keuangan (Yuningsih, 2020) adalah:
1. Mackay (1841) menyajikan kronologis tentang kepanikan yang
terjadi di pasar keuangan sebagai cerminan dari adanya aspek
psikologis investor.
2. Bon (1895) mengajukan gagasan tentang prean ‘crowds’ yang dapat
diartikan sebagai investor di pasar, dan perilaku dari perilaku
kelompok yang mencoba kemampuan di bidang keuangan, psikologi,
sosial, sosiologi dan sejarah.
Selden (1912) menerapkan perilaku keuangan dalam konteks psikologi di
pasar modal.
1.3 Fungsi dan Tujuan Memahami
Financial Behavior
Behavior finance merupakan ilmu yang menggabungan antara teori ekonomi
dengan teori psikologi dan sosiologi dalam ilmu keuangan yang digunakan
dalam membuat suatu keputusan. Berikut akan diuraikan fungsi dan tujuan
dalam memahami financial behavior menurut Pompian (2006), yaitu sebagai
berikut:
1. Merumuskan Tujuan Keuangan
Penasihat keuangan berpengalaman tahu bahwa menentukan tujuan
keuangan sangat penting untuk menciptakan program investasi yang
sesuai untuk klien. Untuk yang terbaik menentukan tujuan keuangan,
akan sangat membantu untuk memahami psikologi dan emosi yang
mendasari keputusan di balik menciptakan tujuan. Mendatang bab-
bab dalam buku ini akan menyarankan cara-cara di mana penasihat
dapat menggunakan keuangan perilaku untuk memahami mengapa
investor menetapkan tujuan seperti itu. Wawasan tersebut melengkapi
penasihat dalam memperdalam ikatan dengan klien, menghasilkan
Bab 1 Konsep Financial Behavior 9
hasil investasi yang lebih baik dan mencapai konsultasi yang lebih
baik hubungan.
2. Mempertahankan Pendekatan yang Konsisten
Sebagian besar penasihat yang sukses menerapkan pendekatan yang
konsisten untuk menyampaikan layanan manajemen kekayaan.
Memasukkan manfaat keuangan perilaku dapat menjadi bagian dari
disiplin itu dan tidak akan mengamanatkan perubahan besar-besaran
dalam metode penasihat. Keuangan perilaku juga dapat
menambahkan lebih profesionalisme dan struktur untuk hubungan
karena penasihat dapat menggunakannya dalam proses untuk
mengenal klien, yang mendahului penyampaian saran investasi yang
sebenarnya. Langkah ini akan dihargai oleh klien, dan itu akan
membuat hubungan lebih sukses.
3. Memberikan Apa yang Klien Harapkan
Mungkin tidak ada aspek lain dari hubungan penasihat yang bisa
manfaat lebih dari keuangan perilaku. Mengatasi harapan klien
sangat penting untuk hubungan yang sukses; dalam banyak kasus
yang tidak menguntungkan, penasihat tidak memenuhi harapan klien
karena penasihat tidak memahami kebutuhan klien. Keuangan
perilaku menyediakan konteks di mana penasihat dapat mengambil
langkah mundur dan berusaha untuk benar-benar memahami motivasi
klien. Setelah sampai ke akar harapan klien, penasihat kemudian
lebih siap untuk membantu mewujudkannya
4. Memastikan Saling Menguntungkan
Tidak diragukan lagi bahwa tindakan yang diambil yang
menghasilkan klien yang lebih bahagia dan lebih puas juga akan
meningkatkan praktik dan kehidupan kerja penasihat. Memasukkan
wawasan dari keuangan perilaku ke dalam hubungan penasihat akan
meningkatkan hubungan itu, dan itu akan menghasilkan lebih banyak
buah hasil. Hal ini dikenal baik oleh orang-orang di bisnis penasihat
investor individu bahwa hasil investasi bukanlah alasan utama klien
mencari yang baru penasihat. Alasan nomor satu praktisi kehilangan
klien adalah karena klien tidak merasa seolah-olah penasihat mereka
10 Financial Behavior
memahami, atau berusaha memahami, tujuan keuangan klien—
mengakibatkan hubungan yang buruk. Manfaat utama yang
ditawarkan keuangan perilaku adalah kemampuan untuk
mengembangkan ikatan yang kuat antara klien dan penasihat. Dengan
masuk ke dalam kepala klien dan mengembangkan pemahaman yang
komprehensif tentang motif dan ketakutan, penasihat dapat
membantu klien untuk lebih memahami mengapa portofolio
dirancang sebagaimana adanya dan mengapa itu adalah portofolio
yang “tepat” untuknya atau dia terlepas dari apa yang terjadi dari hari
ke hari di pasar.
1.4 Ruang Lingkup Financial Behavior
Ruang lingkup dalam akuntansi/keuangan keperilakuan, antara lain:
1. Reaksi manusia terhadap format dan isi dari pelaporan keuangan.
2. Bagaimana informasi diproses untuk keperluan pengambilan
keputusan
3. Pengembangan teknik-teknik pelaporan untuk mengkomunikasikan
data kepada penggunanya.
4. Pengembangan strategi untuk memotivasi dan memengaruhi perilaku,
inspirasi, dan tujuan orang-orang yang menjalankan organisasi.
5. Dan hal-hal lain yang mengaitkan akuntansi, manusia, organisasi, dan
masyarakat.
Hal-hal yang dipelajari dalam akuntansi/keuangan keperilakuan tersebut
apabila diringkas, pada dasarnya meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Pengaruh perilaku manusia di dalam perancangan, penyusunan dan
penggunaan system akuntansi
2. Pengaruh sistem akuntansi pada perilaku manusia
3. Metoda-metoda untuk memprediksi dan strategi-strategi untuk
mengubah perilaku manusia.
Bab 1 Konsep Financial Behavior 11
Secara lebih terperinci ruang lingkup akuntansi/ keuangan keperilakuan
meliputi:
1. Mempelajari pengaruh antara perilaku manusia terhadap konstruksi,
bangunan, dan penggunaan sistem informasi yang diterapkan dalam
perusahaan dan organisasi, yang berarti bagaimana sikap dan gaya
kepemimpinan manajemen memengaruhi sifat pengendalian
akuntansi dan desain organisasi; apakah desain sistem pengendalian
akuntansi bisa diterapkan secara universal atau tidak.
2. Mempelajari pengaruh sistem informasi akuntansi terhadap perilaku
manusia, yang berarti bagaimana sistem akuntansi memengaruhi
kinerja, motivasi, produktivitas, pengambilan keputusan, kepuasan
kerja dan kerja sama.
3. Metode untuk menjelaskan dan memprediksi perilaku manusia dan
strategi untuk mengubahnya, yang berarti bagaimana sistem
akuntansi dapat dipergunakan untuk memengaruhi perilaku, dan
bagaimana mengatasi resistensi itu. Disini muncul istilah freezing
(membekukan) dan unfreezing (mencairkan). Contohnya perubahan
sistem. Perubahan sistem bukanlah sesuatu yang mudah, tetapi perlu
upaya untuk sampai pada aplikasi sistem itu sendiri karena bisa jadi
ada resistensi disana.
1.5 Manfaat Financial Behavior
Mengutip perkataan Buffet (Tilson, 2005) yaitu, “investasi bukan permainan di
mana seseorang dengan IQ 160 mengalahkan pria dengan IQ 130. Setelah
Anda memiliki kecerdasan luar biasa, apa yang Anda butuhkan adalah
temperamen untuk mengontrol dorongan yang membuat orang lain mengalami
kesulitan dalam berinvestasi”. Perkataan Buffet tersebut menunjukkan bahwa
investasi itu memiliki hubungan yang erat dengan perilaku keuangan
seseorang. Investasi bukanlah permainan untuk mengalahkan seseorang dalam
perlombaan memperoleh return yang lebih tinggi, tetapi investasi yang baik
adalah investasi yang dapat memberi return sesuai harapan. Dapat
12 Financial Behavior
mengendalikan diri menjadi kunci utama keberhasilan melakukan investasi
yang dapa memberikan return sesuai harapan investor.
Kendali diri merupakan perilaku keuangan yang sangat bermanfaat bila
dipahami dan dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari, tidak terkecuali
kendali diri terkait dengan perilaku keuangan saat berinvestasi. Tilson (2005)
menguraikan beberapa perilaku keuangan yang tidak dapat dikendalikan
sehingga menyebabkan pengaruh negatif saat investor melakukan investasi.
Beberapa perilaku keuangan tersebut menurut Tilson yaitu:
1. Terlalu percaya (overconfident).
2. Memproyeksikan masa lalu langsung ke masa depan yang jauh
3. Perilaku herding (bukti sosial), didorong oleh keinginan untuk
menjadi bagian dari kerumunan atau asumsi bahwa kerumunan
adalah yang paling mengetahui.
4. Kesalahpahaman acak ketika melihat pola yang tidak ada
5. Komitmen dan bias konsistensi
6. Takut perubahan, sehingga terjadi bias yang kuat menjadi status quo
7. Anchoring, pada data yang tidak relevan.
8. Keengganan berlebihan akan kehilangan
9. Menggunakan mental accounting (seperti kemenangan judi atau
bonus tak terduga).
10. Membiarkan hubungan emosional menjadi alasan
11. Takut ketidakpastian
12. Merangkul kepastian (namun tidak relevan)
13. Melebih-lebihkan kemungkinan peristiwa tertentu berdasarkan data
yang sangat mengesankan atau pengalaman (bias kejelasan)
14. Menjadi lumpuh oleh informasi yang berlebihan.
15. Kegagalan untuk bertindak karena kelimpahan pilihan menarik.
16. Takut membuat keputusan yang salah dan merasa bodoh (regret
aversion).
17. Mengabaikan titik data penting dan fokus berlebihan pada kurang
penting yang menarik kesimpulan dari ukuran sampel yang terbatas.
18. Keengganan untuk mengakui kesalahan.
Bab 1 Konsep Financial Behavior 13
19. Setelah mencari tahu apakah ada atau tidak suatu peristiwa terjadi,
kemudian melebih-lebihkan hasil prediksi tentang sejauh mana salah
satu dari peristiwa tersebut adalah benar (bias hindsight).
20. Percaya keberhasilan investasi yang seseorang adalah karena kondisi
pasar naik, tetapi kegagalan adalah bukan kesalahan seseorang
21. Gagal menilai secara akurat saat seseorang berinvestasi.
22. Sebuah kecenderungan di mana ia hanya mencari informasi yang
menegaskan pendapat atau keputusan seseorang.
23. Gagal untuk mengenali dampak kumulatif besar dalam jumlah kecil
dari waktu ke waktu
24. Melupakan kecenderungan pengaruh yang kuat dengan pengaruh
yang rata-rata
25. Keakraban dengan pengetahuan membingungkan.
14 Financial Behavior
Bab 2
Teori Perilaku Keuangan
2.1 Evolusi Teori Keuangan Keperilakuan
Teori keuangan pada dasarnya dibangun atas dasar berbagai asumsi untuk
memperjelas posisi teori tersebut bila dihadapkan dengan keadaan yang
sesungguhnya. Salah satu asumsi utama adalah rasionalitas investor dalam
setiap proses pengambilan keputusan yang dilakukan (perfect rationality).
Manusia diasumsikan selalu bersedia memperhatikan semua informasi yang
tersedia lengkap dan transparan (perfect information), mampu mengevaluasinya
dengan seksama untuk membuat keputusan yang tepat bagi kepentingan pribadi
berdasarkan analisis rasional atas informasi tersebut (perfect self-interest).
Berikut akan penulis uraikan mengenai evolusi dari teori keuangan keperilakuan
yang penulis kutip dari Alteza dan Harsono (2021):
Asumsi tentang perilaku investor pada dasarnya bersumber dari literatur
ekonomi klasik dan neoklasik, di mana manusia dipandang sebagai makhluk
yang mampu membuat keputusan berdasarkan pertimbangan yang sangat logis
dan transparan. Oleh karena itu manusia disebut sebagai homo economicus,
makhluk yang selalu mampu menghitung dan menemukan titik optimal sebagai
jawaban bagi persoalan ekonomi keuangan yang dihadapi. Titik optimal
merupakan sebuah titik yang mampu memberikan utilitas maksimal bagi diri
seorang pembuat keputusan.
16 Financial Behavior
Kritik pada teori homo economicus ditujukan dengan mempertanyakan dasar
ketiga asumsi tersebut. Pada kenyataannya manusia dapat bertindak sosial
dengan terpengaruh oleh emosi dan mustahil seseorang dapat mendapatkan
informasi secara lengkap dan terus-menerus (Pompian, 2011). Hal ini
ditunjukkan pula melalui beberapa fenomena dalam dunia keuangan yang
memperlihatkan adanya ketidakrasionalan investor. Fenomena klasik di
antaranya adalah kejatuhan pasar modal Amerika Serikat pada 19 Oktober 1987
yang dikenal dengan Black Monday. Harga saham di New York Stock
Exchange dalam waktu yang hampir bersamaan mengalami penurunan sangat
tajam tanpa disebabkan alasan yang jelas dan hari itu tercatat sebagai hari
terburuk pasar modal Amerika sejak tahun 1929 (great depression crash). Situasi
tersebut mendorong timbulnya kepanikan investor yang luar biasa dan pasar
menjadi tidak terkendali. Indeks harga saham Dow Jones turun 22,6% hanya
dalam waktu sehari.
Latar belakang dari kejadian tersebut tidak dapat dijelaskan secara rasional. Ahli
ekonomi Shiller pada tanggal 19 hingga 23 Oktober 1987 menyebarkan tidak
kurang dari 2000 kuesioner kepada investor individual dan 1000 kuesioner
kepada investor institusional untuk mengidentifikasi alasan investor menjual
saham besar-besaran dan mendorong timbulnya market panic selling. Dari
respons yang diterima, dua pertiga memberikan jawaban bahwa penjualan
saham tidak terkait dengan pertimbangan ekonomi, finansial dan bahkan politik.
Shiller (1987) kemudian menyimpulkan bahwa tindakan investor yang tidak
terkendali tersebut dilatarbelakangi oleh faktor psikologis, yaitu adanya
ketakutan (fear), ketamakan (greed) dan kepanikan (madness) dari investor.
Banyaknya fenomena yang terjadi di dunia keuangan yang menyimpang dari
teori ekonomi klasik menjadi pemicu bagi peneliti dunia keuangan
memperhatikan kembali aspek non ekonomi untuk diperhatikan perannya
dalam proses pengambilan keputusan investor. Pendekatan ini disebut sebagai
Keuangan Keperilakuan atau Behavioral Finance. Dalam pendekatan ini maka
teori keuangan tidak sekedar mendasarkan pada asumsi klasik maupun
neoklasik tetapi juga mengikutsertakan aspek psikologi. Pendekatan keuangan
keperilakuan ini menentang banyak teori keuangan tradisional yang banyak
digunakan selama ini sebagai basis pengambilan keputusan dan perilaku
investor. Tabel 2.1 menyajikan rangkuman teori tradisional standar dalam
keuangan.
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 17
Tabel 2.1: Teori Keuangan Tradisional
Keuangan keperilakuan bukanlah suatu teori atau pendekatan yang sama sekali
baru. Akar teori ini sebenarnya telah mulai digali sejak tahun 1950an, hampir
bersamaan dengan perumusan teori portofolio keuangan oleh Markowitz. Pada
masa itu Burrell (1951) yang kemudian dilanjutkan oleh Bauman (1967) telah
mencoba memasukkan unsur psikologi ke dalam penelitian keuangan yang
dilakukan (dalam Olsen, 2010). Slovic (1972) telah menulis artikel mengenai
studi psikologi human judgment dan implikasinya terhadap pengambilan
keputusan investasi.
Pada tahun 1979 Kahneman & Tversky dan memperkenalkan Prospect Theory
yang bertentangan dengan Expected Utility Theory selama itu banyak
digunakan untuk menjelaskan proses pengambilan keputusan. Dalam teorinya
Tversky dan Kahneman mengemukakan bahwa manusia (investor) akan
memberikan bobot (weight) yang berbeda antara keuntungan (gains) dan
kerugian (losses). Pada penelitiannya ditemukan bahwa orang lebih merasa
tertekan (distresses) oleh kerugian yang kemungkinan akan didapatkan
dibandingkan rasa senang atas kentungan yang mungkin didapatkan dengan
jumlah yang sama. Kahneman & Tversky memberikan ilustrasi bahwa “rasa
sakit” orang yang menderita kerugian satu dollar dua kali lebih besar
dibandingkan dengan rasa senang orang yang mendapatkan keuntungan satu
dollar.
Selain itu Prospect Theory juga mengemukakan bahwa orang akan memberikan
tanggapan yang berbeda terhadap sebuah informasi, bergantung pada apakah
informasi tersebut cenderung memberikan keuntungan atau kerugian.
Disampaikan pula bahwa ternyata orang bersedia mengambil risiko yang lebih
besar untuk menghindari kerugian dibandingkan risiko untuk memperoleh
keuntungan. Dengan kata lain, apabila menghadapi keuntungan orang
18 Financial Behavior
cenderung bersifat risk averse, sedangkan bila menghadapi kerugian ia akan
bersikap risk taker. Penelitian Kahneman & Tversky ini menjadi pemicu
dilakukannya penelitian yang lebih ekstensif di bidang keuangan keperilakuan
selanjutnya. Pada tahun-tahun berikutnya, Expected Utility Theory tidak
menjadi satu-satunya teori yang menghadapi kritik.
Pendukung keuangan keperilakuan juga menemukan kelemahan di teori
keuangan standar lainnya seperti Capital Asset Pricing Model (CAPM), model
seleksi portofolio Markowitz dan Efficient Market Hypothesis (EMH). Statman
(1999) menunjukkan bahwa model penentuan harga aset tradisional seperti
CAPM menentukan tingkat pengembalian yang diharapkan dari sekuritas pada
titik waktu tertentu, tetapi tidak mampu memberikan penjelasan mengapa hal
yang sama tidak dapat diaplikasikan pada periode waktu di mana terjadi stock
market bubbles.
Statman (1999) juga berpendapat bahwa rasionalitas harga sekuritas dalam
hipotesis pasar yang efisien hanya mencerminkan karakteristik utilitarian seperti
risiko dan bukan nilai karakteristik ekspresif seperti sentimen. Dia menyatakan
bahwa kedua karakteristik ini memengaruhi premi risiko. Selanjutnya, penulis
menyarankan para ahli harus mengeksplorasi model penetapan harga aset yang
mencerminkan nilai ekspresif maupun karakteristik utilitarian.
Model serupa sebelumnya dikembangkan oleh Shefrin dan Statman (dalam
Statman, 1999) yang disebut Behavioral Asset Pricing Model (BAPM). Model
ini menjelaskan interaksi pasar dari dua kelompok pedagang, yaitu
informational trader dan noise trader. Informational trader adalah pedagang
rasional yang mengikuti CAPM sedangkan noise trader adalah orang yang tidak
mengikuti CAPM dan melakukan kesalahan kognitif. Di sini diharapkan
pengembalian sekuritas ditentukan oleh beta atau tingkat risiko atas perilaku
mereka.
Shefrin dan Statman (2000) juga mengembangkan suatu alternatif dari teori
portofolio Markowitz, dinamakan sebagai Behavioral Portfolio Theory (BPT).
Di model Markowitz, investor membangun portofolio berdasarkan nilai varians,
dengan demikian mencoba untuk mengoptimalkan trade off antara risiko
dengan rata-rata keuntungan. Di sini portofolio dievaluasi secara keseluruhan
dan sikap risiko para investor juga konsisten. Sebaliknya, BPT
memperhitungkan akun perilaku investor yang membangun portofolio mereka
sebagai piramida aset yang terdiri dari berbagai lapisan dan setiap lapisan
dikaitkan dengan tujuan dan sikap terhadap risiko yang spesifik. Teori ini
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 19
mencoba menjelaskan bagian dari perilaku investor yang berhubungan dengan
perbedaan sikap mereka terhadap risiko.
Shleifer (2000) memberikan pendekatan alternatif untuk mempelajari pasar
keuangan dengan bantuan keuangan perilaku. Menurutnya bahkan di pasar
keuangan aktual, investor irasional berdagang melawan arbitrase yang sumber
dayanya dibatasi oleh keengganan risiko, cakrawala waktu pendek, dan masalah
keagenan. Dia menyajikan model perilaku yang menjelaskan berbagai anomali
pasar seperti kinerja unggul dari value stock, closed-end fund puzzle,
pengembalian yang lebih tinggi pada saham yang termasuk dalam indeks pasar,
persistensi stock market bubbles, dan runtuhnya beberapa hedge fund pada yang
terkenal tahun 1998.
Berikut akan disajikan Tabel 2.2 yang berisikan tentang Perkembangan dari
Teori Keungan Keperilakuan:
Tabel 2.2: Perkembangan Teori Keuangan Keperilakuan
20 Financial Behavior
2.2 Teori Perilaku Keuangan
Perilaku keuangan merupakan suatu ilmu yang mempelajari bagaimana
manusia menyikapi dan bereaksi atas informasi yang ada dalam upaya untuk
mengambil keputusan yang dapat mengoptimalkan tingkat pengembalian
dengan memperhatikan risiko yang melekat di dalamnya (unsur sikap dan
tindakan manusia merupakan faktor penentu dalam berinvestasi) (Litner, 1998).
Ada beberapa teori perilaku keuangan, di antaranya yaitu:
1. Prospect Theory (Teori Prospek)
Salah satu teori pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian
(uncertainty) yang paling terkenal adalah teori prospek (prospect
theory). Teori ini dikembangkan oleh dua orang ilmuan terkemuka dari
Amerika Serikat, yaitu Daniel Kahneman dan Amos Tversky sekitar
tahun 1979. Daniel Kahneman kemudian menjadi psikolog pertama
dan satu-satunya yang memenangkan nobel ekonomi pada 2002 dan
menjadi salah satu penemuan terbesar dalam bidang behavioral
finance. Prinsip-prinsip yang diajukan oleh teori prospek meliputi:
a. Fungsi Nilai (value function). Teori prospek mendefinisikan nilai
di dalam kerangka kerja bipolar di antara perolehan (gains) dan
kehilangan (losses).keduanya bergerak dari titik tengah yang
merupakan referensi netral. Fungsi nilai bagi suatu perolehan
(mendapatkan sesuatu) akan berbeda dengan kehilangan sesuatu.
Value bagi suatu kehilangan dibobot lebih tinggi, sedangkan value
bagi suatu perolehan dibobot lebih rendah. Contoh: Pada uang 1
juta. Kehilangan uang 1juta dirasakan lebih tinggi nilai kerugian
bila dibandingkan dengan keuntungan yang dirasakan seseorang
ketika memperoleh uang 1 juta. Dengan kata lain, lebih tinggi
kualitas kesedihan yang di rasakan seorang ketika kehilangan uang
1 juta, dari pada kualitas kegembiraan yang dirasakan ketika
mendapatkan uang 1 juta. Jadi antara keuntungan dengan kerugian
merupakan 2 hal yang tidak simetris.
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 21
b. Pembingkaian (framing). Teori prospek memprediksi bahwa
prefensi (kecenderungan memilih) akan tergantung pada
bagaimana suatu persoalan dibingkai atau di formulasikan.
c. Perhitungan Psikologis (psychological accounting). Psychological
accounting atau perhitungan mental atau psikologis adalah orang
yang membuat keputusan tidak hanya membingkai pilihan-pilihan
yang ditawarkan, tetapi juga membingkai hasil serta akibat dari
pilihan-pilihan itu.
d. Probabilitas (probability). Teori prospek berpandangan
kecenderungan orang dalam membuat keputusan merupakan
fungsi dari bobot keputusan (decision weight). Bobot keputusan
ini tidak selalu dihubungkan dengan besar kecilnya peluang atau
frekuensi kejadian. Fenomena ini berlaku pada kejadian yang
menimbulkan kerugian berskala besar. Seperti bencana alam,
wabah penyakit, kelaparan dan bom huklir.
e. Efek kepastian (certainty effect). Teori prospek memprediksi
bahwa pilihan yang dipastikan tanpa risiko sama sekali akan lebih
disukai dari pada pilihan yang masih mengandung risiko meski
kemungkinannya sangat kecil. Sebab, orang-orang cenderung
menghilangkan sama sekali adanya risiko (eliminate) dari pada
hanya mengurangi (reduce).
2. Sentimen Investor
Shleifer (2000) mendefinisikan sentiment investor sebagai keyakinan
perilaku berbasis heuristic atau aturan praktis daripada rasionalitas
Bayesian dalam membuat keputusan investasi. Ini terjadi ketika
preferensi dan kepercayaan investor memenuhi bukti psikologis
daripada model ekonomi standar. Sementara beberapa peneliti
merujuk sentimen investor sebagai kecenderungan berdagangan di
kebisingan ketimbang berdasarkan informasi (Black, 1986; De Long
et al, 1990, Shleifer & Vishny 1997; Baker & Wurgler, Yuan 2009),
yang lain menyebutnya pesimisme investor yang berlebihan (bearish)
atau optimis (bullish) terhadap harga pasar saham saat ini dan masa
depan (Shefrin, 2007; Brown & Cliff, 2004)
22 Financial Behavior
3. Ambiguity Aversion
Ellsberg (1961) mendefinisikan ambiguity aversion sebagai keinginan
untuk menghindari hal-hal yang belum jelas (ambigu), meskipun tidak
akan meningkatkan expected utility. Pompian (2006) menunjukkan
bahwa efek negatif yang dapat ditimbulkan dalam pengambilan
keputusan investasi berisiko dengan adanya perilaku ambiguity
aversion investor sebagai berikut:
a. Ambiguity aversion mungkin menyebabkan investor meminta
kompensasi yang lebih tinggi untuk risiko yang dihadapi ketika
melakukan investasi dalam suatu aset tertentu sehingga investor
mungkin hanya melakukan investasi yang “konservatif”.
b. Ambiguity aversion mungkin menyebabkan investor hanya
berinvestasi pada indeks saham di negaranya sendiri karena lebih
familiar disbanding jika harus berinvestasi di indeks Negara lain.
c. Ambiguity aversion mungkin dapat menyebabkan investor lebih
memilih berinvestasi pada employer’s stock (saham perusahaan di
mana seseorang bekerja) daripada investasi di saham perusahan
lain karena investasi di perusahaan lain masih ambigu.
d. Ambiguity aversion memunculkan aspek khusus yaitu adanya
competence effect. Competence effect muncul ketika seseorang
dihadapkan pada situasi ambigu, dia menggunakan judgment
bahwa dia merasa cukup kompeten untuk mengatasi situasi
ambigu tersebut sehingga terkadang menyebabkan seorang
investor menerima risiko yang lebih tinggi dari yang seharusnya.
4. Competence Effect
Di pasar keuangan, investor membuat keputusan berdasarkan
probabilitas subyektif mereka. Heath dan Tversky (1991)
mengemukakan kompetensi sebagai efek hipotesis bahwa kesediaan
masyarakat untuk bertindak atas penilaian mereka sendiri di daerah
tertentu akan tergantung pada kompetensi subyektif mereka, yaitu
mereka merasa terampil atau memiliki pengetahuan dalam konteks
yang area di pasar keuangan, kompetensi individu investor yang
dirasakan dalam memahami informasi keuangan dan peluang investasi
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 23
mengakui akan memengaruhi kesediaan mereka untuk melakukan
investasi aktif keputusan, dari pada didiamkan selama tidak aktif atau
bahkan tidak ada investasi sama sekali.
Health dan Tversky (1991) melakukan penelitian yang berhubungan
dengan ambiguity aversion. Penelitian ini memunculkan konsep
competence effect yang menyatakan bahwa tingkat ambiguity aversion
seseorang dipengaruhi oleh tingkat subjective competence
(kompetensi subyektif). Ketika seseorang merasa memiliki
kemampuan dan pengetahuan yang tinggi dalam suatu hal, mereka
akan lebih memilih untuk berinvestasi pada kondisi yang distribusi
probabilitasnya masih ambigu berdasarkan pendapat (judgment)
mereka sendiri. Sebaliknya, seseorang yang merasa tidak kompeten,
mereka akan lebih memilih berinvestasi pada situasi yang tidak
ambigu.
Health dan Tversky (1991) menjelaskan competence effect
menggunakan eksperimen mengenai hasil dari pertandingan
sepakbola. Partisipan diminta menilai kompetensi subyektif mereka
dalam pengetahuan tentang sepakbola, kemudian diminta untuk
memprediksi hasil suatu pertandingan sepakbola. Selanjutnya
partisipan disuruh memilih, apakah akan bertaruh pada hasil
pertandingan sepakbola tersebut atau bertaruh dalam lotere yang
distribusi probabilitasnya untuk menang diketahui. Hasil penelitian ini
menemukan bahwa partisipan yang merasa memiliki kompetensi
dalam bidang sepakbola lebih menyukai untuk bertaruh pada
pertandingan sepakbola daripada bertaruh di lotere.
Pengaruh kompetensi sangat relevan untuk memahami perilaku
investor. Di pasar keuangan, investor selalu dibutuhkan untuk
membuat keputusan berdasarkan ambigu, probabilitas subjektif.
Sangat mungkin bahwa latar belakang pendidikan mereka dan
karakteristik demografi lainnya membuat beberapa investor merasa
lebih kompeten dari yang lain dalam memahami berbagai informasi
keuangan dan kesempatan yang tersedia bagi mereka.
24 Financial Behavior
5. Overconfidence
Overconfidence berbeda dengan competence effect. Dalam literatur
psikologi overconfidence dapat diartikan sebagai keyakinan bahwa
distribusi probabilitas prediksi seseorang lebih tinggi dari
sesungguhnya. Sedangkan dalam berbagai literatur keuangan,
overconfidence didefinisikan sebagai penaksiran yang terlalu tinggi
(overestimating) dalam menilai suatu financial aset (Odean (1998),
Gervais and Odean (2001).
Glaser and Weber (2003) mengatakan bahwa ada tiga aspek atau
elemen dari overconfidence yaitu:
a. Miscalibration yaitu probabilitas subyektif akan lebih tepat
daripada probabilitas yang sesungguhnya.
b. Better-than-average effect yaitu orang cenderung berpikir bahwa
dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata.
c. Illusion-of-control yaitu suatu keyakinan yang lebih dalam hal
kemampuan untuk memprediksi atau hasil yang lebih memuaskan
ketika seseorang memiliki keterlibatan yang lebih di dalamnya.
Lichtenstein dan Fischhoff (1977) mengatakan bahwa fenomena
overconfidence merupakan kecenderungan mengambil keputusan tanpa
disadari untuk memberi bobot penilaian yang berlebihan pada pengetahuan
dan akurasi informasi yang dimiliki serta mengabaikan informasi publik
yang tersedia. Pompian (2006) mengatakan bahwa kesalahan-kesalahan
yang biasanya muncul sebagai akibat adanya perilaku overconfidence
dalam kaitannya dengan investasi di pasar keuangan adalah sebagai berikut:
a. Overconfidence dapat menyebabkan investor melakukan
excessive trading (perdagangan / transaksi yang terlalu berlebihan)
sebagai efek dari keyakinan bahwa mereka memiliki pengetahuan
khusus yang sebenarnya tidak mereka miliki.
b. Overconfidence menyebabkan investor menjadi overestimate
(menaksir terlalu tinggi) kemampuannya dalam mengevaluasi
suatu investasi.
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 25
c. Overconfidence dapat menyebabkan investor menjadi
underestimate (menaksir terlalu rendah) terhadap adanya risiko
dan cenderung mengabaikan risiko.
d. Overconfidence menyebabkan investor memiliki kecenderungan
tidak mendiversifikassi portofolio investasinya.
Cheng (2007) mengatakan bahwa overconfidence merupakan
karakteristik yang paling umum ditemui dalam diri manusia yang
merefleksikan kecenderungan seseorang untuk menaksir terlalu tinggi
(overestimate) terhadap kemampuannya, kemungkinannya untuk
berhasil dan probabilitas bahwa seseorang tersebut akan memperoleh
outcomes yang positif serta akurasi dari pengetahuan yang dimiliki.
Dalam model teoritis investor overconfident melebih-lebihkan presisi
pengetahuan mereka tentang nilai dari sebuah keamanan financial.
Odean (1998) menunjukkan bahwa perdagangan investor
overconfident lebih dari investor rasional dan melakukan hal itu
menurunkan utilitas rata-rata mereka, karena investor terlalu percaya
perdagangan terlalu agresif ketika mereka menerima informasi tentang
nilai dari keamanan. Jadi investor overconfident lebih kuat dalam
penilaian mereka sendiri dan kepedulian sendiri kurang dengan
keyakinan orang lain.
Investor yang baru-baru ini telah meningkatkan keberhasilan
overconfidence mereka akan melakukan perdagangan lebih aktif dan
lebih spekulatif. Karena mereka mengantisipasi bahwa upaya beralih
ke online trading akan diamortisasi selama perdagangan yang lebih,
para investor lebih cenderung untuk online. Biais [Link] (2002) yang
menemukan bahwa perilaku overconfidence menyebabkan
kecenderungan investor untuk berinvestasi pada saham-saham yang
tidak memberikan keuntungan (unprofitable investment).
Daniel [Link] (1998) juga menyimpulkan bahwa secara rata-rata perilaku
overconfidence di pasar keuangan akan menyebabkan kerugian,
namun dalam beberapa kasus tertentu investor dengan perilaku
overconfidence akan menghasilkan return yang melebihi investor
rasional.
26 Financial Behavior
6. Excessive Trading Theory
Teori mengenai excessive trading (perdagangan yang terlalu
berlebihan) pertama kali dikemukakan oleh Odean (1998) dan Daniel
[Link] (1998). Secara teori mereka mengatakan bahwa perilaku
overconfidence tinggi yang ditunjukkan dengan derajat miscalibration
yang tinggi akan membawa pada kecenderungan investor untuk
melakukan strategi trading yang agresif dan berlebihan. Pada akhirnya
hal tersebut akan menyebabkan kinerja investasi yang buruk (poor
performance).
7. Perilaku Herding
Herding adalah sebuah perilaku investor yang tidak rasional
sebagaimana yang dijelaskan dalam teori keuangan klasik dikarenakan
para pelaku pasar atau investor tidak membuat keputusan dalam
berinvestasi sesuai dengan dasar-dasar pemikiran dalam ekonomi
terkait dengan investasi, namun mereka bertindak berdasarkan
tindakan investor lain apabila mereka berada pada kondisi yang sama
atau mengikuti konsensus pasar. Akibatnya, terkadang mereka akan
mendapatkan return yang tidak sesuai atau mereka harus menanggung
risiko yang tidak seharusnya di ambil.
Menurut Devenow dan Welch (1996), pandangan tentang herding adalah
perilaku yang tidak rasional berfokus pada psikologi investor yang mengabaikan
kepercayaan mereka dan mengikuti tindakan investor lain. Sedangkan
pandangan mengenai herding adalah tindakan yang rasional berfokus pada
informasi lingkungan.
Chang et al. (2000) menyebutkan perilaku ini sebagai suatu proses di mana
pelaku pasar mendasarkan keputusan investasi mereka pada tindakan kolektif
saja, dan menekan keyakinan mereka sendiri. Patterson dan Sharma (2007:4)
mencatat bahwa "herding terjadi ketika sekelompok investor melakukan
perdagangan di sisi yang sama dari pasar dalam sekuritas yang sama selama
periode waktu yang sama atau ketika investor mengabaikan informasi pribadi
mereka sendiri dan bertindak seperti investor yang dilakukan investor lainnya".
Herding di pasar keuangan diidentifikasikan sebagai suatu kecenderungan
perilaku investor mengikuti tindakan investor yang lain (Luong dan Ha, 2011).
Pada perspektif perilaku, herding dapat menyebabkan munculnya
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 27
penyimpangan emosi. Investor lebih memilih melakukan herding saat mereka
percaya bahwa herding dapat menolong mereka untuk memperoleh informasi
yang berguna dan dapat dipercaya. Herding dapat menyebabkan tindakan tidak
rasional yang berkenaan pada harga, khususnya harga saham yang dipengaruhi
sentimen tertentu, yang sulit untuk dijelaskan (Devenow dan Welch, 1996).
Istilah 'herding' menggambarkan kecenderungan institusi atau individu untuk
menunjukkan kesamaan dalam perilaku mereka dan dengan demikian bertindak
seperti kawanan. Teori ini menunjukkan beberapa jenis perilaku herding, yang
didefinisikan oleh berbagai penjelasan. Berdasarkan kategorisasi umum,
Bikhchandani dan Sharma (2001), herding dibedakan antara herding yang
disengaja (Intentional Herding) dan perilaku herding yang tidak disengaja
(Unintentional Herding).
1. Intentional Herding. Perilaku herding yang disengaja (Intentional
Herding) lebih sentimen dan melibatkan imitasi pelaku pasar lainnya,
sehingga menstimulasi pembelian atau penjualan saham yang sama
terlepas dari keyakinan sebelumnya atau informasi yang ada. Jenis
herding yang ini dapat menyebabkan harga aset gagal untuk
mencerminkan informasi fundamental, volatilitas eksaserbasi, dan
destabilisasi pasar, sehingga memiliki potensi untuk membuat, atau
setidaknya memberikan kontribusi, untuk gelembung dan crash di
pasar keuangan, lihat Morris dan Shin (1999) dan Persaud (2000),
namun beberapa teori ekonomi termasuk model Information Cascade
(Avery dan Zemsky (1998) dan Scharfstein dan Stein (1990))
menunjukkan bahwa bahkan herding yang disengaja dapat bersikap
rasional dari perspektif pedagang.
2. Unintentional Herding. Perilaku herding yang tidak disengaja
(Unintentional Herding) pada dasarnya didorong dan muncul karena
institusi yang mungkin menguji faktor-faktor yang sama dan menerima
informasi pribadi yang berkorelasi, menyebabkan mereka untuk
sampai pada kesimpulan yang sama tentang saham individu
(Hirshleifer, Subrahmanyam and Titman, 1994).
Model herding yang disengaja (Intentional Herding) biasanya menganggap
bahwa hanya ada sedikit informasi yang dapat dipercaya di pasar dan pedagang
tidak yakin tentang keputusan mereka dan dengan demikian mengikuti orang
28 Financial Behavior
banyak. Sebaliknya, dalam kasus herding yang tidak disengaja (Unintentional
Herding), pedagang mengakui informasi publik dapat diandalkan,
menafsirkannya sama dan dengan demikian mereka semua berakhir di sisi yang
sama dari pasar. Untuk kedua jenis herding tersebut, tingkat herding terkait
dengan ketidakpastian atau ketersediaan informasi.
Chang et al. (2000), memberikan empat alasan mengapa investor bertransaksi
pada arah yang sama yaitu:
1. Investor mengolah informasi yang sama, seperti yang terjadi pada
pasar emerging market yang memiliki keterbatasan informasi mikro
dan lebih fokus pada informasi makro.
2. Investor lebih memilih saham dengan ciri-ciri umum yaitu prudent,
liquid atau bette-known.
3. Para manajer investasi cenderung mengikuti langkah transaksi yang
dilakukan manager yang lain guna menjaga reputasinya. Bikhchandani
dan Sharma (2001), menjelaskan bahwa terdapat dua kategori manajer
investasi yaitu high skilled dan low skilled. Manajer dengan low
skilled mengikuti arah yang diterapkan oleh manajer high skill.
4. Para manajer investasi mengikuti valuasi harga saham dari manajer
lainnya (Guiterrez dan Kelley, 2009). Hal ini menguatkan dugaan
kemungkinan perilaku herding oleh investor institusi cenderung terjadi
karena adanya tekanan peer pressure antar sesama manajer keuangan.
Bikhchandani dan Sharma (2001) juga menambahkan bahwa ketika memiliki
keterbatasan informasi, investor akan mengikuti gerakan investor lain dalam
mengambil keputusan berinvestasi yang pada akhirnya akan mengabaikan
signal miliknya dan mengikuti keputusan mayoritas (perilaku herding) dan
membentuk suatu “information cascade”. Perilaku herding terjadi ketika pasar
tidak transparan yaitu apabila investor menghadapi ketidakpastian sumber
informasi publik dan menerima ketidakjelasan sinyal tentang masa depan
perusahaan (Kremer dan Nautz, 2012).
De Bondt, et al. (2008) menyatakan “Behavioral finance is the studyof how
psychology impacts financial decisions in households, marketand
organizations”, yang artinya studi tentang bagaimana psikologi berdampak pada
keputusan-keputusan keuangan di dalam rumah tangga, pasar dan organisasi.
Sedangkan menurut Pompian (2006) Behavioral Finance, commonly defined as
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 29
theapplication of psychology to finance. Shefrin’s (2005) dalam Forbes (2009)
Behavioral finance is the study of how psychological phenomena impact
financial behavior.
Sedangkan menurut Lintner (1998), behavioural finance “the study of humans
interpret and action information to make informed investment decisions”
artinya, keuangan perilaku merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana
manusia menginterpretasikan dan bertindak terhadap informasi untuk membuat
keputusan dalam berinvestasi. Jadi unsur sikap dan tindakan manusia
merupakan faktor penentu dalam berinvestasi. Sehingga Behavioral finance,
secara sederhana dapat didefinisikan sebagai aplikasi dari psikologi ke dalam
disiplin ilmu keuangan dalam pengambilan keputusan keuangan di dalam
rumah tangga, pasar dan organisasi.
Ricciardi dan Simon (2000) dalam Gumanti, (2009) membagi empat tema
utama yang tercakup dalam keuangan perilaku.
1. Overconfidence Theory. Keyakinan berlebihan sudah menjadi salah
satu topik menarik yang mendapatkan perhatian luas dari para peneliti
dibidang psikologis dan keuangan [Link] manusia, tidak
dapat disangkal bahwa pengusaha atau manajer memiliki
kecenderungan untuk terlalu yakin atas kemampuan dan prediksi untuk
[Link] ini merupakan hal yang normal yang sekaligus
merupakan cermin dari tingkat keyakinan seseorang untuk mencapai
atau mendapatkan [Link] yang berlebihan juga muncul
dari sudut pandang bidang pemasaran.
2. Overconfidence adalah salah satu psychological bias dalam
pengambilan keputusan yang berkaitan dengan keyakinan yang
dimiliki seseorang dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki
diatas [Link] ini dibuktikan oleh penelitian yang dilakukan oleh
Statman, Thorley dan Vorkink (2006) yang menyatakan bahwa
investor yang overconfidence dapat dijelaskan dengan adanya volume
perdagangan yang tinggi. Dengan bias yang ada di dalam diri investor,
volume perdagangan bervariasi dengan tingkat pengembalian, artinya
tidak selalu volume perdagangan tinggi diikuti pengembalian yang
tinggi. Bahkan dalam analisis penelitian yang dilakukan oleh Grinblatt
dan Keloharju (2009) tidak ditemukan hubungan antara
30 Financial Behavior
overconfidence dengan perputaran perdagangan. Sedangkan penelitian
yang dilakukan oleh Ishikawa dan Takashashi, 2010) menyatakan
bahwa manajer pada perusahaan yang terdaftar di Jepang cenderung
overconfidence. Hal ini terbukti dengan kecenderungan yang stabil
untuk memprediksi laba yang terlalu tinggi dibandingkan dengan yang
sebenarnya. Eichholtz dan Yonder (2011) juga membuktikan bahwa
keputusan yang overconfidence mempunyai pengaruh negatif terhadap
kinerja perusahaan. Penelitian Friedman (2007) menekankan pada
keputusan wirausaha, yang menyatakan bahwa overconfidence dalam
pengambilan keputusan juga dapat dilihat pada keputusan wirausaha
dalam memulai usaha. Mereka tidak menggunakan dana yang
bersumber dari luar untuk menjalankan usahanya. Kaitannya dengan
modal kerja, Ramiah, et al. (2012) menyatakan bahwa overconfidence
merupakan salah satu aspek bias yang apabila digunakan dengan benar
dapat meningkatkan efisiensi modal kerja. Artinya tidak selalu
overconfidence mempunyai makna negative.
3. Financial Cognitive Dissonance Theory. Teori ketidakberaturan
kognitif keuangan (financial cognitive dissonance) yang
dikembangkan oleh Festinger dalam Morton (1993) dalam Gumanti
(2009:10), menyatakan bahwa manusia merasakan tekanan internal
dan keraguan atau ketakutan manakala dihadapkan pada benturan atau
perbedaan keyakinan. Sebagai individu, sebaiknya mencoba untuk
mengurangi konflik internal yang ada pada diri (mengurangi
dissonance) setidaknya dengan satu dari dua cara berikut, yaitu (1)
merubah nilai masa lalu, perasaan atau opini, dan (2) mencoba untuk
merasionalisasi pilihan-pilihan.
4. Regret Theory. Teori penyesalan (regret theory) menyatakan bahwa
individual melakukan evaluasi reaksi harapan pada suatu kejadian atau
situasi di masa depan. Bell (1982) menggambarkan penyesalan (regret)
sebagai emosi yang disebabkan oleh perbandingan pada suatu keluaran
tertentu (a given outcome) atau suatu kejadian dengan sesuatu yang
tidak jadi dipilih (foregone choice).
Bab 2 Teori Perilaku Keuangan 31
5. Prospect Theory. Teori prospek (prospect theory) berkaitan dengan ide
bahwa manusia tidak selalu berperilaku secara rasional. Teori ini
beranggapan bahwa ada bias yang melekat dan terus ada yang
dimotivasi oleh faktor-faktor psikologi yang memengaruhi pilihan
orang dibawah kondisi ketidakpastian. Teori prospek
mempertimbangkan preferensi sebagai suatu fungsi
timbangantimbangan keputusan dan berasumsi bahwa timbangan-
timbangan keputusan dan berasumsi bahwa timbangan-timbangan
tersebut tidak selalu tepat dengan probabilitas. Secara spesifik, teori
prospek berpendapat bahwa timbangan-timbangan cenderung lebih
tinggi daripada probabilitas yang rendah dan lebih rendah daripada
probabilitas yang moderat atau tinggi.
32 Financial Behavior
Bab 3
Standar Akuntansi Keuangan
dan Perbedaannya dengan
Perilaku Keuangan
3.1 Standar Akuntansi Keuangan
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang
diterbitkan oleh Dewan Standar Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK IAI) dan
Dewan Standar Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (DSAS IAI) serta peraturan
regulator pasar modal untuk entitas yang berada di bawah pengawasannya.
Efektif 1 Januari 2015 yang berlaku di Indonesia secara garis besar akan
konvergen dengan International Financial Reporting Standards (IFRS) yang
berlaku efektif 1 Januari 2014. DSAK IAI telah berhasil meminimalkan
perbedaan antara kedua standar, dari tiga tahun di 1 januari 2012 menjadi satu
tahun di 1 Januari 2015. Ini merupakan suatu bentuk komitmen Indonesia
melalui DSAK IAI dalam memainkan perannya selaku satu-satunya anggota
G20 di kawasan Asia Tenggara.
34 Financial Behavior
Selain SAK yang berbasis IFRS, DSAK IAI telah menerbitkan PSAK dan
ISAK yang merupakan produk non-IFRS antara lain, seperti PSAK 28 dan
PSAK 38, ISAK 31, ISAK 32, ISAK 35 dan ISAK 36. Diharapkan dengan
semakin sedikitnya perbedaan antara SAK dan IFRS dapat memberikan
manfaat bagi pemanggku kepentingan di Indonesia. Perusahaan yang memiliki
akuntabilitas publik, regulator yang berusaha menciptakan infrastruktur
pengaturan yang dibutuhkan, khususnya dalam transaksi pasar modal, serta
pengguna informasi laporan keuangan dapat menggunakan SAK sebagai suatu
panduan dalam meningkatkan kualitas informasi yang dihasilkan dalam laporan
keuangan.
Penyusunan dan pencabutan SAK wajib mengikuti due process procedure yang
telah ditetapkan dalam Peraturan Organisasi Ikatan Akuntan Indonesia. Proses
tersebut meliputi: identifikasi isu; konsultasi isu dengan Dewan Konsultatif
SAK (DKSAK) (jika diperlukan); melakukan riset terbatas; pembahasan materi
SAK; pengesahan dan publikasi exposure draft; pelaksanaan public hearing;
pelaksanaan limited hearing (jika diperlukan); pembahasan masukan publik;
dan pengesahan SAK. Sedangkan penyusunan buletin teknis dan annual
improvements tidak wajib mengikuti keseluruhan tahapan due process
procedure.
Standar Akuntansi Keuangan adalah sebuah metode dan format yang digunakan
secara untuk menyajikan informasi laporan keuangan suatu kegiatan bisnis.
Umumnya, sistem ini memiliki bentuk berupa pernyataan atau dokumen,
sehingga tak jarang disingkat menjadi PSAK atau Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan. Dengan adanya standar ini, laporan keuangan apa pun
yang dibuat, terlepas dari jenis perusahaan atau bisnis yang membuat laporan
keuangan tersebut, dapat disusun secara seragam.
Sampai di sini mungkin fungsi adanya penyeragaman melalui standar ini terasa
sederhana, atau bahkan mungkin sepele, tetapi justru dalam kesederhanaan
tersebut ada nilai lebih yang memudahkan para pelaku usaha dalam
menjalankan keuangan bisnisnya. Sebagai contoh, karena setiap laporan
keuangan yang disusun sudah diseragamkan dengan sebuah standar yang sama,
pelaku usaha dapat dengan mudah membandingkan laporan keuangan dari
entitas yang berbeda. Dengan demikian pelaku usaha dapat lebih mudah
melakukan analisis bisnis berdasarkan laporan keuangan yang dibuat oleh
beberapa entitas sekaligus.
Bab 3 Standar Akuntansi Keuangan dan Perbedaannya dengan Perilaku Keuangan 35
Selain untuk kemudahan pelaku usaha itu sendiri, adanya dokumen atau
pedoman Standar Akuntansi Keuangan juga memungkinkan auditor untuk
melakukan berbagai jenis audit sesuai dengan kebutuhan. Auditor tak perlu lagi
mempelajari setiap bentuk atau format laporan keuangan yang ada, karena
seluruh laporan keuangan tersebut sudah disusun secara seragam. Tanpa adanya
standar yang baku ini, bisa jadi auditor akan membutuhkan waktu yang lama
untuk menyelesaikan pekerjaannya. Jika format seluruh laporan keuangan tidak
diseragamkan, berarti auditor akan membutuhkan waktu untuk mempelajari
terlebih dahulu cara penyusunan laporan keuangan tersebut sebelum dapat
memulai proses audit itu sendiri.
Meski demikian, bukan Standar Akuntansi Keuangan adalah solusi yang absolut
bagi siapa pun yang secara langsung maupun tidak langsung memiliki
kewajiban untuk memeriksa laporan keuangan. Karena, setidaknya ada empat
standar yang saat ini berlaku di Indonesia. Namun, setidaknya pelaku usaha
maupun auditor hanya perlu mengetahui perbedaan keempat standar tersebut
dan kapan atau dalam penyusunan laporan keuangan yang bagaimana standar
tertentu dapat dipakai. Tentunya ini masih jauh lebih baik jika dibandingkan
memeriksa dan mempelajari seluruh format laporan keuangan apabila
penyusunannya tidak dibakukan dalam sebuah standar yang seragam.
3.2 Jenis Standar Akuntansi Keuangan
Meskipun mengacu pada prinsip dan standar akuntansi global, SAK yang
berlaku di Indonesia tentunya sudah disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan
yang ada. Di Indonesia sendiri terdapat empat jenis SAK yang berlaku dan
disebut juga dengan Pilar Standar Akuntansi Keuangan.
Ada empat format atau bentuk Standar Akuntansi Keuangan yang saat ini
digunakan di Indonesia:
1. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan-International Financial
Report Standard
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan-International Financial
Report, atau yang kerap disingkat menjadi PSAK-IFRS merupakan
dua entitas yang menjadi kesatuan, PSAK dan juga IFRS. PSAK
sendiri adalah standar yang pada tahun 2012 lalu ditetapkan oleh
36 Financial Behavior
Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI) dan berlaku hingga tahun 2021.
Sementara IFRS merupakan standar yang digunakan oleh International
Federation of Accountant (IFAC), di mana Indonesia terdaftar sebagai
negara anggota di dalamnya.
Selain menggunakan PSAK, Indonesia juga harus menggunakan IFRS
karena format laporan dalam International Financial Report Standard
inilah yang digunakan secara umum oleh negara-negara yang terdaftar
sebagai anggota International Federation of Accountants (IFAC).
Dengan kata lain, pelaku usaha yang ada di Indonesia tidak perlu
khawatir saat harus menyajikan laporan keuangan untuk kebutuhan
apa pun kepada pemangku kepentingan di tingkat internasional, karena
pelaku usaha tersebut dapat menggunakan format dalam International
Financial Report Standard ini; Terlebih ketika pelaku usaha tersebut
harus berurusan dengan pelaku usaha lain di negara-negara yang juga
menjadi anggota International Federation of Accountants.
Dengan adanya standar yang berlaku secara internasional ini, pelaku
usaha juga tidak perlu takut akan mengalami kebingungan ketika harus
mempelajari laporan keuangan dari rekan bisnis maupun penyandang
dana yang berada di luar negeri, karena sudah ada format yang sama
yang bisa digunakan. Tentunya, pedoman atau acuan penyusunan ini
akan sangat berguna sekali, khususnya bagi pelaku usaha yang
bergerak dalam bisnis ekspor maupun impor.
Lalu, bagaimana dengan pelaku usaha yang cakupan bisnisnya terbatas
dalam pasar dalam negeri saja? Untuk kondisi yang satu ini,
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan adalah jawaban terbaiknya.
PSAK merupakan standar yang harus digunakan oleh setiap badan
usaha dengan akuntabilitas publik, atau bisa juga disebut badan-badan
usaha yang terdaftar, maupun masih dalam proses pendaftaran, di
pasar modal. Sebagai contohnya, perusahan publik, Badan Usaha
Milik Negara, badan usaha pengelola dana pensiun, maupun industri
perbankan.
Dengan adanya PSAK ini, pelaku usaha dapat memberikan informasi
yang relevan terkait laporan keuangan bisnis yang dimilikinya tanpa
Bab 3 Standar Akuntansi Keuangan dan Perbedaannya dengan Perilaku Keuangan 37
perlu mengeluarkan panduan khusus yang bisa digunakan untuk
membedah laporan keuangan tersebut.
2. Standar Akuntansi Pemerintah (SAP)
Jika Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan adalah format yang
digunakan untuk badan-badan usaha, baik yang dimiliki oleh negara
maupun yang dimiliki secara mandiri. Bagaimanapun juga, sebagai
bentuk pertanggungjawaban uang negara, lembaga pemerintah pun
perlu menyusun laporan keuangan mereka sendiri baik di tingkat
pemerintah pusat maupun di tingkat pemerintah daerah. Oleh karena
itu, bicara terkait lembaga pemerintahan, kita mengenal Laporan
Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) dan juga Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (LKPD).
Untuk lembaga pemerintahan, pedoman yang digunakan dalam
Standar Akuntansi Keuangan adalah bagaimana supaya laporan
keuangan yang nantinya disusun oleh lembaga pemerintahan terkait
dapat menjamin adanya transparansi, partisipasi, dan juga
akuntabilitas pengelolaan keuangan negara yang baik.
Apabila laporan keuangan yang disusun oleh lembaga pemerintahan,
baik Laporan Keuangan Pemerintah Pusat maupun Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah dapat memenuhi pedoman tersebut, pemerintah
tersebut dapat disebut sebagai pemerintahan yang bersih; mengingat
praktik Korupsi, Kolusi, dan juga Nepotisme, hingga kini, masih
menjadi momok bangsa yang harus diperangi bersama.
Tanpa adanya standar keuangan yang baku, pemerintah yang kotor
dapat melakukan manipulasi laporan keuangan yang seolah-olah
terlihat baik, padahal sebenarnya laporan keuangan yang dibuat
tersebut tidak dapat menjamin adanya transparansi, partisipasi,
maupun pengelolaan keuangan negara yang baik.
Untuk alasan yang satu ini, keberadaan Standar Akuntansi Keuangan
menjadi sesuatu yang sangat krusial, termasuk di tingkat
pemerintahan. Oleh karena itu, format Standar Akuntansi Pemerintah
pun dibuat untuk menjaga adanya kualitas yang baik dari setiap
38 Financial Behavior
laporan keuangan yang disusun oleh lembaga-lembaga pemerintahan.
Murabahah juga tercakup dalam standar akuntansi keuangan syariah.
3. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Syariah
Setelah membahas standar yang baku sebagai pedoman dalam
menyusun laporan keuangan bagi badan usaha yang terdaftar di pasar
modal sebagai perusahaan publik maupun memiliki urusan keuangan
secara internasional dan juga format penyusunan laporan keuangan
yang dibakukan untuk lembaga pemerintahan, standar berikutnya yang
berlaku di Indonesia merupakan Pernyataan Standar Akuntansi
Keuangan Syariah atau PSAK-Syariah.
Keberadaan format standar yang baku untuk laporan keuangan syariah
ini juga menjadi krusial dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia;
karena, disadari atau tidak, Indonesia merupakan negara dengan
penduduk beragama Islam terbesar di dunia. Dengan kata lain, sistem
keuangan syariah yang dipergunakan dalam agama Islam ini pun
memiliki peminat yang tak bisa dibilang kecil pula.
PSAK-Syariah pun lantas menjadi Standar Akuntansi Keuangan yang
diperlukan, khususnya bagi praktik-praktik bisnis yang menerapkan
sistem keuangan syariah. Sebagai contoh, di Indonesia format standar
yang satu ini kerap digunakan oleh lembaga-lembaga yang mengusung
kebijakan syariah seperti industri perbankan syariah, pegadaian yang
bersifat syariah, badan zakat, dan masih banyak lagi entitas bisnis yang
menerapkan hukum syariah dalam praktiknya.
Berbeda dengan sejumlah format baku yang sudah dibahas
sebelumnya, PSAK-Syariah disusun tidak berdasarkan hukum
perundang-undangan seperti Standar Akuntansi Pemerintah atau
disusun berdasarkan rekomendasi maupun ketetapan bersama seperti
pada Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan-International Financial
Report Standard, melainkan disusun dan dikembangkan dengan
menjadikan fatwa-fatwa keluaran Majelis Ulama Indonesia sebagai
acuannya.
Meski ada beberapa perbedaan dibanding standar baku lainnya dalam
menyusun laporan keuangan, PSAK-Syariah sesungguhnya memiliki
Bab 3 Standar Akuntansi Keuangan dan Perbedaannya dengan Perilaku Keuangan 39
konsep penyusunan laporan keuangan yang sama. Hanya saja, dalam
standar ini, ketentuan penyajian laporan keuangan umum juga
dibarengi dengan standar khusus yang banyak digunakan dalam sistem
keuangan syariah seperti mudharabah, murabahah, salam, ijarah, dan
juga istishna.
Meskipun didasarkan pada agama, keberadaan PSAK-Syariah sangat
membantu dalam meyakinkan pelaku usaha untuk terus menggerakkan
roda ekonomi tanpa perlu takut bahwa praktik yang dilakukan
mungkin saja melanggar ketentuan agama, sesuatu yang sedikit
banyak coba dihindari oleh masyarakat yang masih menganut sistem
keuangan syariah.
4. Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntansi Publik
Standar yang terakhir dalam penyusunan laporan keuangan yang
banyak digunakan di Indonesia adalah Standar Akuntansi Keuangan
untuk Entitas Tanpa Akuntansi Publik atau SAK-ETAP. Sesuai
dengan namanya, standar yang terakhir ini lebih banyak digunakan
atau ditargetkan untuk entitas bisnis yang akuntabilitas publiknya tidak
dapat dibilang signifikan atau untuk entitas bisnis yang menjadikan
laporan keuangannya terbatas bagi tujuan umum maupun penggunaan
eksternal.
Secara konsep, yang membedakan SAK-ETAP dengan standar
akuntansi lainnya adalah tidak adanya laporan laba rugi yang disajikan
secara komprehensif. Dengan kata lain, dalam laporan keuangan yang
disusun dengan standar ini, sejumlah penilaian keuangan yang
dilakukan memiliki batasan-batasan yang lebih besar.
Akuntabilitas publik pengguna SAK-ETAP yang tidak signifikan
membuat entitas bisnis yang tercakup dalam Standar Akuntansi
Keuangan ini tidak memiliki pengakuan liabilitas. Di samping itu, aset
pajak tangguhan akibat beban pajak yang diakui oleh format standar
ini dihitung sebesar jumlah pajak menurut ketentuan pajak.
Perbedaan lainnya ada pada penilaian terhadap aset tetap, aset tak berwujud,
serta properti investasi setelah tanggal perolehan yang hanya dihitung
menggunakan harga perolehannya saja. Kompleksitas penyusunan laporan
40 Financial Behavior
keuangan dengan format ini yang tergolong rendah membuatnya banyak disukai
oleh pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Seperti yang sudah diketahui,
pelaku UMKM umumnya memiliki keterbatasan modal yang cukup signifikan.
Keterbatasan modal tersebut seringkali menjadi hambatan yang cukup besar
tatkala pelaku UMKM ingin membuat laporan keuangan secara terperinci sesuai
dengan standar-standar lainnya karena harus mempekerjakan tenaga pihak
ketiga untuk melakukannya. Oleh karena itu, format ini banyak digunakan
karena cakupan kebutuhan bisnis usaha mikro, kecil, dan menengah memang
tak serumit itu.
Bahkan, tak jarang kebutuhan audit untuk usaha mikro, kecil, dan menengah
pun dapat dilakukan secara mandiri tanpa membutuhkan tenaga eksternal ketika
pelaku usaha terkait dapat secara tepat menerapkan Standar Akuntansi
Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntansi Publik ini.
Mengetahui setiap perbedaan standar yang ada dalam menyusun laporan
keuangan dapat membantu pelaku usaha menentukan format penyusunan yang
tepat sesuai dengan kebutuhan bisnisnya. Namun, tentu saja hal ini harus
dibarengi dengan pencatatan keuangan yang baik terlebih dahulu. Tanpa adanya
pencatatan yang rapi terhadap setiap transaksi yang masuk atau keluar cakupan
keuangan bisnis, laporan keuangan yang akurat pun akan mustahil untuk dibuat;
dan sebagai dampak jangka panjangnya mungkin saja dapat menghambat
pelaku usaha dalam menentukan strategi bisnis terbaik yang perlu
diimplementasikan.
3.3 Perbedaan Standar Keuangan
dengan Perilaku Keuangan
Pada keuangan traditional finance atau standard finance mengungkapkan
mengenai efficient-market hypothesis yang dikembangkan oleh Eugene Fama
(1965), beranggapan bahwa di pasar yang efisien harga atas suatu sekuritas yang
terbentuk merupakan cermin dari semua informasi yang tersedia dan relevan
tentang sekuritas tersebut. Dengan kata lain, harga yang terbentuk merupakan
nilai wajar (fair value). Akibatnya, secara teori pelaku pasar yang aktif tidak
mungkin memperoleh abnormal return (beat the market) secara terus menerus
karena investor lain akan segera tahu aksi yang dilakukan oleh seorang investor.
Bab 3 Standar Akuntansi Keuangan dan Perbedaannya dengan Perilaku Keuangan 41
Namun teori ini tidak mampu memberikan penjelasan tentang sejumlah
ketidakkonsistenan (anomaly) pasar modal, misal January Effect, Day of the
week effects, returns over trading and non-trading periods, stock return volatility
and the internet phenomenon (termasuk kebutuhan pasar modal sebagai imbas
dari kejatuhan saham-saham berbasis internet di akhir tahun 1990-an), kejatuhan
pasar modal di tahun 1929 dan 1987 serta dampak dari krisis subprime mortgage
di tahun 2007-2008. Menyadari ketidakmampuan traditional finance untuk
menjelaskan anomaly dalam fenomena pasar uang dan pasar modal, maka para
peneliti keuangan mulai mengkaitkan fenomena yang ada dengan aspek
perilaku (behavioral finance).
Fuller (2000) menjelaskan tiga poin penting dalam behavioural finance. Pertama
adalah penjelasan bahwa behavioural finance adalah penggabungan antara
ekonomi klasik dan keuangan dengan psikologi dan ilmu pengambilan
keputusan, dan perlu diketahui bahwa ilmu pengambilan keputusan juga
berkembang mengikuti perkembangan zaman, sehingga penerapan teori
ekonomi klasik yang relatif bersifat baku, berbeda-beda seiring dengan
perkembangan zaman. Kedua, Fuller (2000) menjelaskan bahwa behavioural
finance adalah suatu percobaan untuk menjelaskan apa penyebab beberapa
anomali-anomali keuangan yang sudah terlihat dan dibukukan dalam literasi
keuangan. Banyaknya studi kasus dan observasi dari kejadian sebelumnya
diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan teori behavioral finance di masa
depan. Diharapkan anomali-anomali keuangan tersebut dapat dijelaskan melalui
teori-teori baru. Ketiga, behavioral finance adalah suatu bidang studi yang
menjelaskan bagaimana investor secara sistematis membuat judgement yang
salah atau “mental mistakes”.
Teori keuangan yang diterima dan yang sedang diajarkan dalam proses
pembelajaran di perguruan tingga sekarang ini adalah teori keuangan tradisional
(standar) (Ricciardi dan Simon, 2000). Keuangan standar didasari oleh beberapa
kerangka teori seperti modern portfolio theory (MPT), the efficient market
hypothesis (EMH) (Ricciardi dan Simon, 2000 dan Khoshnood dan Khoshnood,
2011), arbitrage principles dan the capital asset pricing (Pompian, 2006).
MPT diciptakan oleh Harry Markowitz pada tahun 1952. Teori MPT
menjelaskan return ekspekstasi atas sebuah saham atau portofolio saham,
deviasi standar dan hubungannya dengan saham dan reksadana dalam suatu
portofolio. Suatu portofolio bisa efisien jika suatu kelompok saham memiliki
return ekspektasi maksimum atas sejumlah risiko yang diasumsikan atau yang
42 Financial Behavior
memiliki kemungkinan risiko terendah pada return ekspektesi tertentu
(Ricciardi dan Simon, 2000).
EMH merupakan suatu konsep keuangan yang diusulkan dalam suatu desertasi
yang ditulis Eugene Fama di tahun 1960-an. Fama mendemonstrasikan bahwa
suatu pasar modal terdiri dari banyak investor yang memiliki banyak informasi.
Investasi akan membentuk harga yang pantas yang merefleksikan semua
informasi yang tersedia. Ada tiga bentuk EMH, pertama bentuk “Lemah” yang
menggambarkan bahwa semua data harga di masa lalu terefleksi penuh dalam
harga suatu sekuritas. Kedua bentuk “setengah kuat” yang menjelaskan bahwa
semua informasi yang tersedia secara publik terefleksikan secara penuh dalam
harga sekuritas. Ketiga bentuk “kuat” yang menunjukan bahwa semua informasi
terefleksi secara penuh dalam harga sekuritas (Pompian, 2006).
Terkait prinsip arbitrasi, Modigliani dan Miller mengakui pentingnya kondisi
arbitrasi dalam ekonomi keuangan. Dalam karyanya tentang struktur keuangan,
Modigliani dan Miller menjelaskan bahwa jika suatu perusahaan dapat merubah
nilai pasar hanya melalui operasi keuangan seperti menyesuaikan Debt-equity
ratio, maka pemegang saham dan obligasi individual dapat melakukan transaksi
portofolio yang sama yang akan menghasilkan keuntungan arbitrasi saja.
Jika pasar cukup efisien untuk menghilangkan keuntungan arbitrasi bagi
pemegang saham individual maka dapat juga menghilangkan keuntungan
arbitrasi di tingkat pemegang saham perusahaan (Varian, 1987:56). Sharpe
(1964) dan John Lintner (1965) memperkenalkan sebuah model penilaian harga
sekuritas yang dikenal dengan The capital asset pricing model (CAPM).
Temuan model ini kemudian menandai lahirnya asset pricing theory (Fama &
French, 2004). Model CAPM digunakan untuk menentukan rate of return yang
sesuai atas suatu aset sehingga harga dapat juga diperkirakan jika perusahaan
bisa mengestimasi arus kas yang diharapkan. Meskipun terdapat kritikan atas
asumsi CAPM, namun model ini masih digunakan secara luas (Elbannan,
2015). Banyak perusahaan menggantungkan Model CAPM terutama untuk
mengestimasi biaya modal perusahaan dan menilai kinerja portofolio (Fama dan
French, 2004).
Keuangan standar berbeda dengan keuangan keperilakuan dalam beberapa hal.
Statman (2014:1) menjelaskan empat perbedaan keuangan standar dengan
keuangan keperilakuan berdasarkan blok pondasi bangunan ilmu. Pertama,
keuangan standar berasumsi bahwa investor adalah rasional, sementara
keuangan keperilakuan berasumsi bahwa investor adalah normal. Kedua,
Bab 3 Standar Akuntansi Keuangan dan Perbedaannya dengan Perilaku Keuangan 43
keuangan standar menganggap bahwa pasar adalah efisien, sedangkan
keuangan keperilakuan menganggap bahwa pasar tidak efisien bahkan sulit
dikalahkan. Ketiga, dalam menyusun portofolio, keuangan standar
menyarankan agar investor menggunakan mean-variance theory, sedangkan
keuangan keperilakuan menyarankan agar menggunakan behavioral portfolio
theory. Keempat, keuangan standar menjelaskan return ekspektasi investasi
dengan menggunakan standard asset pricing theory di mana perbedaan return
ekspektasi hanya ditentukan oleh perbedaan dalam risiko, sementara keuangan
keperilakuan menjelaskan return ekpektasi investasi dengan menggunakan
behavioral asset pricing theory, di mana perbedaan return ekspektasi hanya
ditentukan bukan hanya dari perbedaan dalam risiko.
Terkait dengan risiko keuangan, keuangan standar juga berbeda pandangan
dengan keuangan keperilakuan (Ricciardi, 2008). Keuangan standar
menggunakan pendekatan objektif dalam mengukur risiko seperti beta dan
standar deviasi. Asumsi yang mendasari adalah bahwa terdapat hubungan linier
(positif) antara risiko dan return yang diharapkan. Sebaliknya, keuangan
keperilakuan menggunakan pendekatan kombinasi objektif dan subjektif.
Peneliti keuangan keperilakuan menganalisis risiko berdasarkan aspek kualitatif
seperti pengaruh isu kognitif dan faktor emosional. Topik yang berkembang
yang diminati peneliti keuangan keperilakuan adalah pengujian hubungan
terbalik antara risiko dan return ekpektasi.
44 Financial Behavior
Bab 4
Perilaku Penggunaan Uang
4.1 Definisi Perilaku Penggunaan Uang
Menggunakan uang merupakan tindakan yang dilakukan oleh semua orang,
entah itu oleh anak-anak hingga orang dewasa. Dalam proses menggunakan
uang itulah terdapat perbedaan antara satu dengan yang lainnya sehingga ada
yang berhasil menggunakan uang dengan baik dan ada yang tidak. Keberhasilan
menggunakan uang ditentukan oleh cara mengelola uang yang sehingga cara
mengelolanya salah maka hasilnya juga salah dan begitu juga sebaliknya yaitu
apabila cara mengelola uangnya benar maka hasilnya pasti juga baik adanya.
Peranan cara mengelola uang ini berhubungan dengan fungsi uang itu sendiri.
Hal ini membuka peluang bagi pengembangan bagaimana cara mengelola uang
yang benar seperti yang lansir oleh Handi dan Mahastanti (2012) bahwa uang
merupakan benda yang sangat berguna di dalam kehidupan modern. Dapat
dikatakan bahwa setiap orang membutuhkan uang untuk keberlangsungan
hidupnya.
Setidaknya ada tiga (3) fungsi utama dari sebuah uang, yaitu sebagai unit
penyimpan nilai atau Store of Value, sebagai unit hitung atau Unit of Account
dan sebagai media pertukaran atau Medium of Exchange. Terkait fungsi uang
ini, tidak mengherankan apabila terjadi perbedaan yang signifikan antara orang
yang cerdas dalam mengelola uang dan yang perlu meningkatkan kecerdasan
46 Financial Behavior
keuangan. Menimbang bahwa saat ini di abad 21, informasi begitu derasnya dan
tingginya intensitas kecepatan perubahan informasi sehingga memaksa
pembuat keputusan keuangan untuk semakin kritis dan kreatif saat membuat
keputusan keuangan.
Kalau pada zaman dahulu menabung merupakan langkah strategik mengelola
uang yang cerdas maka sekarang hal itu perlu dikaji ulang dengan cermat karena
perkembangan instrument keuangan, fluktuasi tingkat bunga dan inflasi perlu
dipertimbangkan pada saat menabung. Hal itulah yang membuat perilaku
keuangan menjadi beraneka ragam antara satu pembuat keputusan keuangan
dengan yang lainnya.
Secara psikologis juga, saat ini sudah banyak peneliti-peneliti yang
membuktikan bahwa selain faktor eksternal yang mendorong perilaku keuangan
berbeda maka faktor psikologis juga telah membuat seseorang berbeda pada saat
menggunakan uang. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Masuo, dkk
(2004) yang meneliti tentang hubungan perilaku keuangan dengan money
beliefs menemukan bahwa faktor psikologi merupakan prediktor bagi perilaku
keuangan.
Temuan sebelumnya memberikan penegasan bahwa faktor psikologi tidak
dapat diabaikan dalam menganalisis perilaku keuangan seseorang karena faktor
psikologis merupakan faktor-faktor internal bagi manusia untuk berperilaku
termasuk dalam perilaku keuangan. Selain dari pada itu, sangat jelas bahwa
money belief merupakan salah satu prediktor yang signifikan bagi keberhasilan
atau kegagalan mengelola uang untuk mencapai kebebasan keuangan.
Mengapa? Karena apa yang menjadi keyakinan pembuat keputusan keuangan
maka itu juga yang akan dilakukan.
Selanjutnya, Klontz, Klontz, Klontz, dan Wada (2008) menegaskan bahwa
faktor psikologi seperti depresi, stres keuangan, compulsive buying seringkali
diabaikan. Pada hal dalam kenyataannya faktor psikologis merupakan pemicu
terjadinya stres keuangan. Bukan hanya itu saja, persoalan uang juga merupakan
sumber konflik antara hubungan suami istri, antara anggota keluarga dan lain-
lainnya sehingga mengurangi atau bahkan menghilangkan keharmonisan dan
keintiman dalam berhubungan dengan orang lain.
Klontz, Beitt, Mentzer dan Klontz (2011) menegaskan lagi bahwa kesalahan
mengelola uang dapat menyebabkan berbagai persoalan yang tidak diperkirakan
sebelumnya dan hal itu disebabkan keyakinan terhadap uang, entah apakah
orang tersebut sadar atau tidak sadar terhadap keyakinannya pada uang namun
Bab 4 Perilaku Penggunaan Uang 47
yang pasti keyakinan terhadap uang merupakan hal yang patut dicerna dengan
akal sehat. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini akan membedah money belief
karena memiliki dampak pada dominan perilaku keuangan sehingga tujuan
yang ingin dicapai yaitu memberikan bukti tambahan tentang money belief
sebagai penentu perilaku keuangan.
4.2 Prinsip Penggunaan Uang
Financial management behavior merupakan suatu konsep dalam ilmu keuangan
yang berkaitan dengan perilaku seseorang dalam mengelola atau menggunakan
uang yang dimilikinya. Menurut Tilson dalam Lubis dkk. (2013) “Perilaku
keuangan adalah suatu teori yang di dasarkan atas ilmu psikologi yang berusaha
memahami bagaimana emosi dan penyimpangan kognitif memengaruhi
perilaku investor”.
Menurut Suryanto (2017) “Financial behavior merupakan suatu cara yang
dilakukan setiap orang untuk memperlakukan, mengelola, dan menggunakan
sumber keuangan yang dimilikinya”. Seseorang yang memiliki tanggung jawab
pada perilaku keuangannya akan menggunakan uang secara efektif dengan
melakukan penganggaran, menyimpan uang dan mengontrol pengeluaran,
melakukan investasi, dan membayar hutang tepat waktu.
Menurut Kholilah & Iramani (2013) mendefinisikan “Financial management
behavior adalah kemampuan seseorang dalam mengatur yaitu perencanaan,
penganggaran, pemeriksaan pengelolaan, pengendalian, pencarian dan
penyimpanan dana keuangan sehari-hari”. Munculnya perilaku pengelolaan
uang merupakan dampak dari besarnya hasrat seseorang untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya sesuai dengan tingkat pendapatan yang diperoleh.
Dari beberapa pengertian yang dikemukakan di atas, financial management
behavior atau perilaku pengelolaan keuangan merupakan suatu perilaku
seseorang terhadap keuangan yang dimilikinya, di mana penggunaannya
dipengaruhi oleh beberapa hal seperti keinginan pribadi atau pengaruh dari
lingkungan luar. Pada dasarnya financial management behavior menekankan
pada diri seseorang untuk dapat bertanggung jawab dalam merencanakan,
menganggarkan, mengelola, mengatur, dan menyimpan keuangan yang dimiliki
agar dapat digunakan secara efektif dan sesuai kebutuhan tanpa menimbulkan
masalah bagi individu itu sendiri.
48 Financial Behavior
Keputusan keuangan diartikan sebagai proses memilih alternatif tertentu dari
sejumlah alternatif (Kannadhasan, 2009). Pengertian tersebut mendeskripsikan
keterkaitan dengan arti dari manajemen keuangan yaitu bagaimana
mendapatkan uang dan bagaimana menggunakannya dengan tepat sehingga
ketepatan dalam memilih alternatif penggunaan uang menjadi signifikan.
Mengapa? Karena pada prinsipnya keputusan keuangan yang diambil
bermaksud mengoptimalkan kesejahteraan maka pem buatan keputusan
keuangan merupakan suatu hal yang kompleks mengingat perlu
mempertimbangkan situasi dan informasi secara cermat dengan cara melakukan
analisis yang kritis, mendalam dan komprehensif.
Sehubungan dengan penjelasan sebelumnya, aspek perilaku keuangan
merupakan deskripsi dari keputusan keuangan yang dibuat sehingga
manajemen keuangannya menjadi baik. Selanjutnya Zakaria, Jaafar dan
Marican (2012) mengartikan perilaku keuangan sebagai bagaimana rumah
tangga atau individu mengelola sumber daya keuangan yang meliputi
perencanaan, anggaran tabungan, asuransi dan investasi. Dalam hal ini, perilaku
keuangan memiliki beberapa aplikasi yang saling menunjang untuk mencapai
tujuan keuangan. Selain daripada itu, perilaku keuangan ini merupakan sesuatu
yang tampak atas penggunaan uang sehingga memberikan peluang untuk dikaji
mengapa seseorang berperilaku keuangan berbeda dengan yang lainnya.
Senanda menurut Hilgert, Holgart dan Baverly (2003) bahwa perilaku keuangan
seseorang akan tampak dari seberapa bagus seseorang mengelola uang kas,
mengelola utang, tabungan dan pengeluaran-pengeluaran lainnya. Mengelola
uang kas seperti bagaimana ketepatan mengelola uang sesuai atau tidak dengan
anggaran yang dibuat, dan masih banyak lagi lainnya. Bagaimana mengelola
kartu kredit dan menggunakan utang dengan benar. Sedangkan tabungan terkait
memiliki tabungan reguler atau tidak, memiliki dana darurat atau tidak serta
masih banyak lagi lainnya. Investasi lebih kepada memiliki rencana investasi
serta bagaimana investasi yang benar. Pengeluaran lainnya akan tampak seperti
mampu membeli rumah, memiliki tujuan dan lain-lainnya.
Bab 4 Perilaku Penggunaan Uang 49
4.3 Kaitan Penggunaan Uang dengan
Money Belief
Mengacu pada perilaku keuangan sebelumnya, menegaskan bahwa money
belief merupakan salah satu penentu yang membuat seseorang berbeda dengan
yang lainnya karena memengaruhi perilaku keuangan seseorang. Menurut
Klontz dkk (2011), money belief atau financial attitude merupakan penentu
bagaimana seseorang berperilaku keuangan. Dalam arti lain, seperti apa money
belief seseorang akan mencerminkan perilaku keuangan yang dilakukan dalam
kesehariannya terkait penggunaan uang. Lanjut bahwa pemahaman tentang
money belief akan membantu seseorang untuk mengerti apa yang dipercaya
terkait hubungan dirinya dengan uang. Oleh sebab itu, pengertian money belief
menurut Pankow (2003) sebagaimana dikutip Ningsih dan Rita (2010) sesuai
pengertian menurut Klontz dkk (2011), yaitu money belief atau financial attitude
diartikan sebagai keadaan pikiran, pendapat, serta penilaian tentang keuangan.
Pengertian sebelumnya memberikan arti bahwa apa pun keyakinan seseorang
terhadap uang tentunya akan menentukan masa depan dalam keuangan, dan hal
ini pulalah mengapa money belief perlu dipahami secara cermat. Mengapa?
Karena perilaku penggunaan uang untuk seseorang yang telah dewasa akan
berbeda dengan seseorang yang telah dewasa namun belum menikah. Seseorang
yang sudah menikah akan memikirkan biaya dari kebutuhan yang akan
dihadapinya setelah menikah dan jika kelak memiliki seorang anak. Ketika telah
memiliki seorang anak, maka orang tua akan memikirkan biaya sekolah, biaya
kesehatan dan biaya masa depan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang
lebih tinggi.
Hal tersebut tentunya akan memengaruhi cara seseorang di dalam menggunakan
uang yang dimilikinya. Seseorang yang telah menikah akan cenderung
menggunakan uang yang dimilikinya dengan lebih berhatihati, sebab dia harus
menggunakan uangnya bukan hanya untuk kesenangan dia sendiri saja, namun
juga harus dibagi dengan keluarga dan disisihkan untuk masa depan. Jika
seseorang belum menikah akan memiliki perbedaan di dalam dia menggunakan
uang yang dimilikinya. Hal tersebut karena seseorang belum menikah dan
belum memiliki tanggungan yang cukup besar bila dibandingkan dengan
seseorang yang telah menikah.
50 Financial Behavior
Kecenderungan yang sering terjadi, orang tersebut akan menghabiskan uang
yang dimilikinya untuk keperluan pribadi tanpa memikirkan masa depannya.
Dengan demikian perilaku seseorang terhadap uang yang dimilikinya dapat
berbeda antara satu dengan yang lainnya (Handi & Mahastanti, 2012). Untuk
perkembangan money belief terdapat beberapa kategori yang telah
dikembangkan beberapa peneliti terdahulu seperti enam kategori dari financial
attitude yaitu obsession, power, effort, Inadequacy, retention, dan independence.
Obsession diartikan sebagai pola pikir seseorang tentang uang dan persepsinya
tentang masa depan untuk mengelola uang dengan baik. Power merujuk pada
penggunaan uang oleh seseorang sebagai alat untuk mengendalikan orang lain
dan uang dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi. Effort diartikan sebagai
seseorang merasa pantas memiliki uang dari apa yang dikerjakannya.
Inadequacy merujuk pada seseorang yang selalu merasa tidak cukup memiliki
uang, sedangkan independence diartikan sebagai seseorang mendapatkan hak
untuk mengendalikan uang tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak
bergantung pada orang lain lagi.
Tang (1992) mengembangkan money beliefs menjadi beberapa ranah seperti
uang itu baik, uang itu setan, uang merepresentasikan pencapaian kesuksesan,
uang itu tanda dihargai, anggaran sangat penting, dan yang terakhir yaitu uang
itu adalah kekuasaan. Keenam kategori keyakinan terkait uang itu
merepresentasikan area-area psikologis yaitu afektif, kognitif dan sikap perilaku
tentang uang. Peneliti lain yang meneliti money belief dalam perilaku keuangan
seseorang yaitu Masuo dkk (2004), namun keempat peneliti menggunakan versi
yang berbeda yaitu power yang merujuk pada pengendalian orang lain
menggunakan uang, security yang merujuk pada lebih menyukai keamanan
keuangan seperti takut meminjam uang dan lain sebagainya, dan financial
modesty yang mengacu pada merasa bersalah apabila mengeluarkan uang untuk
membeli sesuatu, merasa lebih baik dalam keuangan dibandingkan orang lain
dan lain sebagainya.
Dari penjelasan sebelumnya tampak bahwa money belief memainkan peran
yang signifikan untuk berhasil mengelola uang dengan benar. Dengan kata lain,
money belief merupakan pola pikir yang menganggap uang ada cara untuk
memperoleh kebahagiaan, cinta, dan menunjukkan nilai diri yang mana dapat
memicu krisis keuangan individu yang merupakan penyebab terjadinya
kebangkrutan keuangan personal. Seperti yang dijelaskan oleh Foster (2001)
dalam Handi dan Mahastanti (2012) bahwa uang yang berada di tangan
seseorang akan mempunyai perlakuan berbeda antara satu dengan yang lain. Hal
Bab 4 Perilaku Penggunaan Uang 51
ini disebabkan karena keinginan setiap individu untuk membelanjakan uang
yang dimiliki berbeda antara satu dengan yang lainnya.
Dapat dikatakan bahwa perilaku terhadap penggunaan uang berarti akan
dipergunakan untuk apakah uang yang dimiliki. Itulah mengapa money belief
menjadi signifikan atas perilaku keuangan, apabila money belief yang terbentuk
keliru maka perilaku keuangan pun keliru dan hal ini perlu untuk dibenahi secara
serius sehingga mengubah perilaku keuangan dari buruk menjadi tepat. Untuk
itu dalam penelitian ini akan menggunakan money belief menurut Klontz dkk
(2011) karena memiliki cakupan yang lebih besar, relatif jarang digunakan dan
juga merupakan lanjutan pembenahan dari hasil penelitian yang dilakukan
Klontz dan Klontz (2009).
Lebih jauh keempat peneliti telah mengkategori money belief menjadi tiga
bagian besar dengan karakteristik-karakteristik masing-masing sehingga
memudahkan untuk mengerti seperti apa money belief masing-masing pelaku
keuangan. Selengkapnya adalah penghindaran atas uang yang terbagi ke dalam.
Pemujaan atas uang yang meliputi menimbun uang, terlalu berani mengambil
risiko tanpa alasan logis, adiktif berjudi, workaholisme, boros, dan belanja
kompulsif. Dalam hal hubungan yang meliputi tidak setia dalam keuangan, inses
keuangan, pemanfaatan keuangan, dan ketergantungan keuangan.
52 Financial Behavior
Bab 5
Perilaku Pengelolaan Uang
5.1 Definisi Perilaku Pengelolaan Uang
Financial Behavior (perilaku keuangan) berhubungan dengan tanggung jawab
keuangan seseorang terkait dengan cara pengelolaan keuangan. Perilaku
keuangan adalah bagaimana rumah tangga atau individu mengelola sumber
daya keuangan yang meliputi perencanaan, anggaran tabungan, investasi dan
asuransi (Sina, 2013). Perilaku keuangan seseorang akan tampak dari seberapa
bagus seseorang mengelola uang kas, mengelola utang, tabungan dan
pengeluaran-pengeluaran lainnya (Hilgert, Holgart dan Baverly, 2003).
Manajemen perilaku keuangan adalah kemampuan seseorang dalam mengatur
yaitu perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian,
pencarian dan penyimpanan dana keuangan sehari-hari (Kholilah dan Iramani,
2013). Perilaku pengelolaan keuangan terdiri dari empat aspek utama yaitu
mengontrol pengeluaran, membayar tagihan tepat waktu, menyusun anggaran
masa depan dan menabung (Perry dan Morris, 2005).
Perilaku manajemen keuangan dianggap sebagai salah satu konsep penting pada
disiplin ilmu keuangan. Banyak definisi yang diberikan sehubungan dengan
konsep ini, misalnya Mien dan Thao (2015) mengusulkan perilaku keuangan
sebagai penentuan, akuisi, alokasi, dan pemanfaatan sumber daya keuangan.
Sedangkan secara keseluruhan Mien dan Thao (2015) menggambarkan perilaku
manajemen keuangan sebagai suatu pengambilam keputusan keuangan,
54 Financial Behavior
harmonisasi motif individu dan tujuan perusahaan. Dengan demikian
manajemen keuangan berkaitan dengan efektivitas manajemen dana.
Menurut Sina (2014), istilah manajemen keuangan mengandung arti bahwa arus
dana yang diarahkan sesuai dengan suatu rencana. Arus dana merupakan
perubahan dana yang berasal dari berbagai sumber yaitu investor yang
menanamkan modalnya dalam bentuk saham perusahaan, kreditor yang
meminjamkan uangnya, dan laba dari tahun ke tahun yang telah lalu yang
ditahan dalam perusahaan. Dana yang berasal dari sumber-sumber tersebut
terikat dalam beberapa penggunaan yaitu dalam bentuk harta tetap yang
digunakan untuk memproduksi barang atau jasa, persediaan untuk kepentingan
produksi dan penjualan, piutang dalam rangka pemberian kredit kepada para
pelanggan, kas dan surat berharga yang dipergunakan untuk transaksi dan tujuan
likuiditas. Ini berarti manajemen keuangan mengatur anggaran sumber dana
(income) dan anggaran alokasi dana yang diarahkan sesuai dengan rencana yaitu
untuk mendapatkan kekayaan yang maksimal. Kegagalan dalam mengelola
keuangan individu dapat menyebabkan konsekuensi jangka panjang yang serius
tidak hanya untuk orang tersebut tapi juga bagi perusahaan.
Beberapa tahun belakangan ini, praktik manajemen keuangan mendapatkan
perhatian serius dari berbagai organisasi seperti pemerintah, lembaga keuangan,
universitas dan lain sebagainya (Mien dan Thao, 2015). Dalam beberapa studi
manajemen keuangan didefinisikan sebagai seperangkat perilaku mengenai
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi hal-hal yang terlibat dalam bidang tunai,
kredit, investasi, asuransi dan pensiun, dan perencanaan perumahan.
Manajemen keuangan juga dapat didefinisikan sebagai hal yang berkaitan
dengan arus kas, kredit, tabungan dan manajemen investasi (Dew and Xiao,
2011).
Ilmu yang menjelaskan mengenai perilaku seseorang dalam mengatur keuangan
mereka dari sudut pandang psikologi dan kebiasaan individu tersebut
merupakan perilaku manajemen keuangan, ilmu ini juga menjelaskan mengenai
pengambilan keputusan yang irasional terhadap keuangan mereka (Amanah,
Iradianty and Rahardian, 2016).
Manajemen keuangan terbagi menjadi sebagai berikut (Dew dan Xiao, 2011):
1. Manajemen Kas (Cash Management)
2. Manajemen Kredit (Credit Management)
3. Perilaku Hemat (Saving Behavior)
Bab 5 Perilaku Pengelolaan Uang 55
Perilaku manajemen keuangan berhubungan dengan tanggung jawab keuangan
seseorang mengenai cara manajemen keuangan yang dimiliki (Yohana, 2010).
Tangung jawab keuangan adalah proses manajemen uang dan aset lainnya
dengan cara yang diangap produktif. Terdapat beberapa elemen yang termasuk
dalam manajemen uang yang efektif, seperti pengaturan anggaran dan
pengeluaran, serta menilai perlunya dana cadangan untuk kondisi darurat dan
tabungan masa depan, yaitu dana pensiun, asuransi, dan investasi dalam jangka
waktu yang wajar.
Tugas utama manajemen uang adalah proses pengangaran. Anggaran bertujuan
untuk memastikan bahwa individu mampu mengelola kewajiban keuangan
secara tepat waktu dengan menggunakan penghasilan yang diterima dalam
periode yang sama. Perilaku manajemen keuangan adalah kemampuan
seseorang dalam mengatur dana keuangan sehari-hari, yang terdiri dari
perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian,
pencarian, dan penyimpanan keuangan.
Dalam praktiknya perilaku manajemen keuangan terbagi menjadi tiga hal
utama, yaitu (Kholilah and Iramani, 2013):
1. Konsumsi, yakni pengeluaran oleh rumah tangga atas berbagai barang
dan jasa (kecuali pembelian untuk rumah baru).
2. Tabungan, yaitu bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi oleh
sebuah rumah tangga pada suatu periode tertentu.
3. Investasi, yakni mengalokasikan atau menanamkan sumber daya saat
ini dengan tujuan mendapatkan manfaat di masa mendatang.
Dengan perilaku manajemen keuangan individu dapat merencanakan dan
mengatur dengan lebih baik keuangan yang dimiliki dalam pos-pos pengeluaran
yang berbeda-beda dengan proporsi yang seimbang. Setiap individu memiliki
perilaku manajemen keuangan yang berbeda. Hal tersebut disesuaikan dengan
kondisi keuangan dan target yang ingin dicapai oleh masing-masing individu.
56 Financial Behavior
5.2 Faktor-faktor yang Memengaruhi
Perilaku Pengelolaan Uang
Perilaku manajemen keuangan dianggap sebagai salah satu konsep penting pada
disiplin ilmu keuangan. Banyak definisi yang diberikan sehubungan dengan
konsep tersebut, misalnya Horne dan Wchowosz (2002) dalam Mien dan Thao
(2015) mengusulkan perilaku manajemen keuangan sebagai penentuan,
akuisisi, alokasi, dan pemanfaatan sumber daya keuangan. Menurut Ida dan
Cinthia (2010) dalam Yulistia (2018) menyatakan bahwa perilaku manajemen
keuangan merupakan suatu cara untuk dapat mengelola keuangan serta
berhubungan erat dengan tanggung jawab seseorang terhadap pengelolaan
keuangannya. Sedangkan secara keseluruhan Weston dan Bringham dalam
Mien dan Thao (2015) menggambarkan perilaku manajemen keuangan sebagai
suatu pengambilan keputusan keuangan, harmonisasi motif individu dan tujian
perusahaan. Manajemen keuangan berkaitan dengan efektivitas manajemen
dana. Apabila pelaku UMKM tidak bisa mengelola keuangannya dengan baik,
akan dipastikan bahwa usahanya akan sulit untuk mengembangkan usahanya.
Perilaku manajemen keuangan pada pelaku UMKM dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Salah satu faktor penting dalam mengelola keuangan adalah pengetahuan
keuangan yang dimiliki oleh pelaku UMKM itu sendiri. Pernyataan tersebut
didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Yulistia (2018) yang menyatakan
bahwa pengetahuan mengenai keuangan yang masih kurang menjadi alasan
utama mengapa para pelaku UMKM gagal mengelola keuangannya. Menurut
Kholilah dan Iramani (2013) pengetahuan keuangan adalah penguasaan
seseorang atas berbagai hal mengenai dunia keuangan. Pengetahuan keuangan
meliputi pengetahuan umum tentang keuangan, pengetahuan tentang
pemasukan dan pengeluaran, tentang tabungan, pinjaman dan investasi. Tingkat
pengetahuan keuangan akan berbeda dari setiap individunya, seseorang yang
mempunyai tingkat pengetahuan keuangan yang tinggi akan mampu mengelola
keuangan dengan baik begitu pula bagi pelaku UMKM.
Perilaku manajemen keuangan UMKM juga dapat ditentukan oleh sikap
keuangan yang dimiliki pelaku UMKM. Humaira dan Sagoro (2018)
menyatakan kebanyakan pelaku UMKM memiliki sikap yang buruk mengenai
keuangan, hal ini dibuktikan dengan rendahnya motivasi untuk meningkatkan
kemampuannya mengelola keuangan usahanya, padahal motivasi untuk terus
meningkatkan kemampuan dalam manajemen keuangan sangatlah penting.
Bab 5 Perilaku Pengelolaan Uang 57
Buruknya sikap keuangan UMKM juga ditandai dengan pemikiran yang mudah
merasa puas dengan kinerja yang ada dan belum berfikir untuk melakukan
peningkatan kemampuan di bidang manajemen keuangan karena sebagian
pelaku usaha merasa kinerjanya sudah cukup baik dan usahanya tetap berjalan
lancar meskipun pelaku UMKM tidak membuat perencanaan anggaran dan
pengendalian terhadap keuangan. Sikap tersebut apabila dibiarkan akan
membuat kinerja UMKM menurun dan tidak mampu bersaing secara kompetitif
di pasaran.
Perilaku manajemen keuangan juga dapat dipengaruhi oleh variabel
pengalaman keuangan. Pengalaman keuangan adalah suatu kejadian akan hal
yang berkaitan dengan keuangan seseorang yang pernah dialami, dirasakan,
dijalana ditanggung dan yang lainnya entah yang telah lampau atau pun yang
baru terjadi. Pengalaman keuangan sendiri dapat digunakan sebagai modal
untuk mengelola keuangan seseorang. Pengalaman bisa didapat dari
pengalaman pribadi, pengalaman rekan, keluarga ataupun orang lain yang akan
membuat kita belajar untuk memperbaiki pelaku UMKM dalam mengelola
keuangan, pengambilan keputusan, dan investasi.
Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi perilaku manajemen keuangan
diantaranya, sikap keuangan, pengetahuan keuangan, dan Locus of Control
(Mien dan Thao, 2015). Pendapat lain menjabarkan bahwa yang memengaruhi
perilaku manajemen keuangan, di antaranya Locus Of Control, Financial
Knowledge, dan Income (Kholilah and Iramani, 2013). Kemudian menurut Sina
(2014), kepribadian merupakan salah satu faktor yang signifikan yang mampu
memengaruhi perilaku keuangan seseorang. Aspek kepribadian sering
memengaruhi manajemen keuangan karena menjadi penyebab manajemen
yang buruk.
Faktor lain yang memengaruhi perilaku manajemen keuangan UMKM adalah
tingkat pendidikan pelaku UMKM sendiri. Suatu pendidikan dasarnya adalah
suatu proses pengembangan sumber daya manusia. Dengan pendidikan formal
yang memadai, pelaku UMKM akan lebih mudah untuk mengerti dan
memahami manajemen keuagan yang baik dan dapat lebih bijaksana dalam
mengambil keputusan keuangan dalam usahanya.
Menurut Elvira dan Nanik (2014) dalam Yulistia (2018) bahwa tingkat
pendidikan yang tinggi yang dimiliki setiap eorang akan menjadikan seseorang
tersebut lebih baik dalam hal merencanakan dan mengelola keuangan dengan
ilmu yang dimilikinya. Tingkat pendidikan juga bisa menentukan seberapa
58 Financial Behavior
banyak seorang pelaku usaha mempunyai pengetahuan yang luas khususnya
dalam mengelola keuangan usahanya.
Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas terdapat faktor lain yang
dipertimbangkan dari segi psikologis yang juga dapat memengaruhi perilaku
manajemen keuangan yaitu kepribadian pelaku UMKM itu sendiri. Kepribadian
merupakan watak dari seseorang yang bisa dibentuk melalui faktor lingkungan.
Dalam hal memilih karir seseorang pada dasarnya memilih pekerjaannya
berdasarkan kepribadian yang dimilikinya, termasuk juga dalam memilih karir
sebagai wirausaha. Menurut Sina (2014) dalam Humaira dan Sagoro (2018),
memahami aspek kepribadian dalam mengelola keuangan dibutuhkan untuk
sukses mengelola keuangan karena perbedaan tipe kepribadian yang dimiliki
seseorang dapat memengaruhi seseorang tersebut dalam mengelola keuangan.
Hasil analisis seseorang menunjukan bahwa kelemahan dari tipe kepribadian
seseorang dapat menyebabkan masalah keuangan, misalnya masalah hutang
yang berlebih
Bab 6
Perilaku Keuangan Dengan
Keputusan Investasi
6.1 Definisi Keputusan Investasi
Investasi adalah suatu istilah dengan beberapa pengertian yang berhubungan
dengan keuangan dan ekonomi. Istilah tersebut berkaitan dengan akumulasi
suatu bentuk aktiva dengan suatu harapan mendapatkan keuntungan pada masa
depan. Terkadang, investasi disebut juga sebagai penanaman modal. Berikut ini
adalah pengertian pengertian investasi menurut beberapa ahli.
Menurut Tendelilin (2010) investasi dapat di definisikan sebagai komitmen atas
sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan
tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa yang datang. Pengertian
investasi menurut Sunariyah (2011) adalah penanaman modal untuk satu atau
lebih aktiva yang dimiliki dan biasanya berjangka waktu lama dengan harapan
mendapatkan keuntungan di masa-masa yang akan datang.
Selanjutnya menurut Hartono (2010) investasi adalah penundaan konsumsi
sekarang untuk dimasukkan ke aktiva produktif selama periode waktu tertentu.
Berdasarakan ketiga pengertian tersebut di atas dapat disimpulakan bahwa
investasi adalah suatu kegiatan penanaman sejumlah dana yang dilakukan oleh
60 Financial Behavior
pemberi modal pada saat ini dengan harapan mendapatkan keuntungan dimasa
yang akan datang.
Keputusan investasi merupakan keputusan yang menyangkut pengalokasian
dana yang berasal dari dalam maupun dana yang berasal dari luar perusahaan
pada berbagai bentuk investasi. Keputusan investasi dapat dikelompokkan ke
dalam investasi jangka pendek seperti investasi kedalam kas, surat-surat
berharga jangka pendek, piutang, dan persediaan maupun investasi jangka
panjang dalam bentuk tanah, gedung, kendaraan, mesin, peralatan produksi, dan
aktiva tetap lainnya. Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana yang
atau sumber daya lainnya dimasa yang akan datang (Tandelillin, 2011).
Kegiatan investasi yang yang dilakukan perusahaan akan menentukan
keuntungan yang akan diperoleh perusahaan di mana yang akan datang.
Pengertian keputusan investasi menurut Sutrisno (2012) keputusan investasi
adalah masalah bagaimana manajer keuangan harus mengalokasikan dana ke
dalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat mendatangkan keuntungan di
masa yang akan datang.
Menurut Riyanto (2011) keputusan investasi mungkin merupakan keputusan
yang paling penting di antara ketiga bidang keputusan keuangan yang lainnya
(keputusan pendanaan dan kebijakan dividen). Hal ini karena keputusan
mengenai investasi ini akan berpengaruh langsung terhadap besarnya
rentabilitas investasi dan aliran kas perusahaan untuk waktu-waktu berikutnya.
Menurut Hartono (2015) keputusan investasi merupakan langkah awal untuk
menentukan jumlah aktiva yang dibutuhkan perusahaan secara keseluruhan
sehingga keputusan investasi ini merupakan keputusan terpenting yang dibuat
oleh perusahaan.
Tugas manajer keuangan yang dilakukan secara rutin adalah bagaimana
mengatur aliran dana agar operasi perusahaan berjalan dengan baik. Di samping
tugas rutin tersebut, manajer keuangan mempunyai tugas yang cukup berat yaitu
membuat keputusan investasi. Keputusan ini sangat penting dengan semakin
besarnya dan berkembangnya perusahaan. Semakin perusahaan berkembang,
maka manajemen dituntut mengambil keputusan investasi, seperti pembukaan
cabang, perluasan usaha, maupun pendirian perusahaan lainnya.
Pengertian keputusan investasi menurut Sutrisno (2012) keputusan investasi
adalah masalah bagaimana manajer keuangan harus mengalokasikan dana ke
dalam bentuk-bentuk investasi yang akan dapat mendatangkan keuntungan di
masa yang akan datang. Menurut Riyanto (2011) keputusan investasi mungkin
Bab 6 Perilaku Keuangan Dengan Keputusan Investasi 61
merupakan keputusan yang paling penting di antara ketiga bidang keputusan
keuangan yang lainnya (keputusan pendanaan dan kebijakan dividen). Hal ini
karena keputusan mengenai investasi ini akan berpengaruh langsung terhadap
besarnya rentabilitas investasi dan aliran kas perusahaan untuk waktu-waktu
berikutnya.
6.2 Beberapa Faktor dalam Keputusan
Investasi
Banyak faktor yang memengaruhi tindakan seseorang dalam membuat suatu
keputusan. Faktor faktor yang ada dalam behavior financial pada setiap individu
bisa berbeda-beda dan faktor mana yang mendominasi perilaku seseorang.
Penelitian behavior finance lebih dominan dipengaruhi dari faktor psikologis
orang tersebut. Peran psikologi tersebut berasal dari sisi afektif yaitu bagaimana
tingkat emosi seseorang. Sisi kognitif tentang bagaimana tingkat pengetahuan
yang dimilikinya. Sisi psikomotorik yaitu bagaimana tingkat kepekaan
seseorang dalam menerima, memproses, melakukan suatu tindakan setelah
menerima suatu informasi. Seperti yang dikatakan (Mittal, 2010) bahwa banyak
faktor yang memengaruhi pengambilan keputusan misalkan overconfidence,
framing effect, reference dependence, loss aversion, overreaction dan
underreaction dan lain-lain. Yuniningsih dan Taufiq (2019), (Yuniningsih &
Taufiq, 2019) juga meneliti bagaimana keputusan investasi dipengaruhi oleh
loss aversion, regret aversion, illusion of control bias. Yuniningsih (2019) pada
penelitian yang sama juga meneliti bagaimana faktor psikologi memengaruhi
pembuatan keputusan yaitu loss aversion, regret aversion, financial literacy,
overconfidence dan herding. Penelitian Yuniningsih (2019) tersebut merupakan
penelitian behavior finance dalam bentuk penelitian lapang (field study/field
experiment) dengan membagikan kuisioner. Tetapi tahun sebelumnya
Yuniningsih (2016) melakukan penelitian behavior finance dalam bentuk
penelitian laboratorium (laboratorium study).
62 Financial Behavior
Yuniningsih (2016) menyatakan ada beberapa faktor yang menjadi penentuan
keberanian investor dalam membuat suatu keputusan investasi:
1. Emotion
Emotion dikatakan sebagai dorongan hati yang lebih dengan
melibatkan perasaan dalam melakukan suatu tindakan. Jadi emosi
seseorang sangat berperan penting dalam menentukan perilaku
seseorang. Perilaku tersebut bisa meliputi bagaimana dia belajar,
bagaimana dia mengingat, bagaimana pola pikirnya dalam
menghadapi masalah, bagaimana seseorang menerima atau memahami
suatu informasi, serta permasalahan yang dihadapinya. Dengan emosi
yang dimiliki akan membentuk karakter setiap individu apakah
menjadi individu yang baik atau buruk, yang hati hati atau ceroboh,
yang berani atau takut terhadap risiko. Hal tersebut seperti yang
diungkapkan oleh (Ackert, 2003) bahwa aspek penting dari setiap
individu yaitu emosi, karena emosi dapat memengaruhi kearah lebih
baik atau lebih buruk dalam pengambilan keputusan. Seperti juga yang
diutarakan oleh (Hirshleifer, 2001) menyebutkan bahwa emosi
mempunyai peran penting saat seseorang berada pada kondisi
ambigue. Kenapa mempunyai peran penting? Hal ini disebabkan saat
seseorang bingung akan sesuatu yang dihadapi maka akan cenderung
mengandalkan emosi dalam mengambil keputusan. pengambilan
keputusan akan dilakukan tanpa dipertimbangkan secara matang dulu
dari informasi yang diterima. Adanya perbedaan tingkat emosi, empati
serta tingkat kepekaan seseorang karena adanya perbedaan tingkat
psikologis yang dimiliki akan mengakibatkan perbedaan pemahaman
akan informasi yang diterima meskipun informasi yang diberikan
sama. Adanya perbedaan pemahaman akan informasi yang diterima
akan mengakibatkan perbedaan dalam mengambil keputusan terutama
keberanian dalam risk taking.
Hasil penelitian (Cassotti et al., 2012) meneliti pengaruh potensi
emosional positif dan negative terhadap bias framing dengan
memberikan informasi gambar yang menggembirakan dan tidak
menggembirakan. Pada penelitian (Cassotti et al., 2012) penelitian
Bab 6 Perilaku Keuangan Dengan Keputusan Investasi 63
tersebut dengan memberikan gambar sebelum seseorang membuat
keputusan meskipun gambar dan keputusan tidak ada kaitannya sama
sekali. Ternyata hasil penelitian (Cassotti et al., 2012) ternyata
informasi dalam bentuk gambar tadi baik yang menggembirakan atau
tidak akan memengaruhi besar kecilnya risk taking investor dalam
berinvestasi. Situasi dan keadaan sangat memengaruhi emosi
seseorang, misalkan jika diberi informasi yang dikemas sangat
menyenangkan akan memberikan dampak suasana hati yang baik atau
good mood dan lebih cepat dalam mengambil keputusan. Seperti yang
dikatakan oleh (Huangfu & Zhu, 2014) ) di mana jika positive framing
mengakibatkan partisipan dalam membuat keputusan akan lebih cepat
dan pola pembuatan keputusan bersifat intuitif dan heuristic. Pada
kondisi menyenangkan atau informasi positif tersebut akan mendorong
seseorang takut akan risiko atau risk averse. Maka tindakan atau
perilaku yang akan diambil yaitu cepat untuk melepas asset yang
dimiliki baik dalam bentuk financial asset ataupun real asset.
Sebaliknya jika informasi yang diberikan dikemas dengan berita buruk
maka akan berdampak pada pengambilan keputusan yang lebih
lambat. Informasi yang tidak menyenangkan menjadikan seseorang
bad mood atau memunculkan emosi negative pada keadaan yang
dihadapi. Seperti yang disebutkan dalam penelitian (Huangfu & Zhu,
2014) yaitu jika informasi yang diberikan diframing dalam bentuk
negative atau tidak menyenangkan maka partisipan cenderung akan
membuat keputusan yang lebih lambat karena pola pemikiran yang
lebih rasional dan analistis. Suasana negative dengan pemberian
informasi yang kurang menyenangkan akan mendorong seseorang
berani dalam mengambil risiko atau berperilaku sebagai risk seeking.
Dalam penelitian psikologi membuktikan bahwa emosi sangat
memengaruhi pembuatan keputusan. Ada penelitian behavior yang
menggabungkan dari sisi psikologi dan biologi. Penelitian tersebut
dilakukan oleh (Crişan et al., 2009) tentang bagaimana pengambilan
risko dan kepekaan framing dalam mengambil keputusan pada situasi
ketidakpastian dengan memfokuskan antara pengaruh seretonim
64 Financial Behavior
terhadap fear condition (FC). Setelah dilakukan penelitian oleh (Crişan
et al., 2009) menunjukkan hasil di mana gen seretonim mempunyai
pengaruh besar terhadap seseorang dalam hal tingkat respon, tingkat
persepsi dan pemahaman dari suatu pernyataan yang diberikan
kepadanya. Jadi kalau diambil kesimpulan bahwa emosi yang
dihasilkan gen seretonim secara biologi akan secara langsung
memengaruhi perilaku seseorang dalam bertindak dan menghadapi
permasalahan. Perbedaan dalam berperilaku dari masing-masing orang
atau individu sangat dipengaruhi psikologi khususnya tingkat emosi
yang dimiliki. Jika seseorang bisa mengelola emosi dengan baik
khususnya emosi yang negative maka akan membuat keputusan yang
lebih baik. Dampaknya jika membuat ketepatan keputusan dalam
bentuk apapun maka dampaknya bisa menghindari atau mengurangi
dampak dari loss aversion dan regret aversion.
2. Loss aversion
Loss aversion merupakan salah satu faktor yang memengaruhi emosi
seseorang. Loss aversion pada dasarnya membahas kepekaan
seseorang terhadap kerugian yang mengakibatkan rasa penyesalan
yang begitu dalam dibandingkan saat menerima keuntungan. Orang
yang mengalami loss aversion akan memengaruhi pola perilaku
tindakan dalam menghadapi masalah dan dalam membuat keputusan.
(D Kahneman & Tversky, 1979) memperkenalkan hipotesis loss
aversion yang merupakan salah satu pokok dari prospect theory
dengan dua outcome yang berbeda yaitu berupa gain dan loss. Seperti
yang dikatakan oleh (D Kahneman & Tversky, 1979) bahwa orang
yang mengalami loss aversion akan menunjukkan perilaku lebih lama
menahan saham saat saham mengalami loss tetapi saat saham
menghasilkan keuntungan karena terjadi kenaikan harga maka akan
cepat dijual. Hal tersebut menjelaskan bahwa saat saham loss investor
lebih baik menahan dan tidak segera menjual karena ada harapan
bahwa harga akan mengalami kenaikan dan harganya lebih besar
dibandingkan harga beli, dengan kenaikan tersebut maka akan
mendapatkan keuntungan. Disamping saat saham loss, saham tidak
Bab 6 Perilaku Keuangan Dengan Keputusan Investasi 65
lekas dijual karena kalau mengalami kerugian maka akan mengalami
penyesalan yang berlipat lipat akan kerugian yang dialaminya nanti.
Perilaku investor saat saham yang dimiliki mengalami kerugian, maka
tindakan sebaliknya dilakukan oleh investor saat saham yang dimiliki
mengalami keuntungan. Saat saham yang dimiliki mengalami
keuntungan meskipun keuntungan yang didapat tidak begitu besar
karena adanya kekwatiran dan ketakutan bila saham nanti cepat
mengalami penurunan harga. Karena jika terjadi penurunan harga dan
menyebabkan harga beli lebih tinggi dibandingkan harga jual maka
investor akan mengalami kerugian. Akibatnya akan mengalami
penyesalan yang berlipat juga. Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh
(R. H. Thaler, Tversky, Kahneman, & Schwartz, 1997) yang
menyatakan bahwa loss aversion menunjukkan bahwa seseorang akan
lebih peka dan sensitive terhadap penurunan dibandingkan saat
mengalami kenaikan dari kekayaan. (Daniel Kahneman, Knetsch, &
Thaler, 1990) sebelumnya juga menyatakan bahwa kerugian atau
losses akan dipertimbangkan dua kali lebih kuat dibandingkan saat
mendapatkan keuntungan atau gain. Kedua pernyataan tersebut
menunjukkan bahwa seseorang akan lebih hati-hati disaat mengalami
kerugian dibandingkan mengalami keuntungan dalam berinvestasinya.
Pada saat saham yang dimiliki mengalami kerugian karena penurunan
harga maka perilaku investor cenderung akan berani dalam mengambil
risiko dan perilakunya disebut dengan risk seeking. Sebaliknya saat
saham yang dimiliki mengalami kenaikan harga meskipun terjadi
kenaikan harga yang tidak begitu besar dan tidak memberikan
keuntungan yang besar juga maka akan lebih cepat untuk menjual
saham sehingga perilakunya dikatakan sebagai risk averse.
Risk averse menunjukkan perilaku seseorang yang tidak berani dalam
mengambil risiko atau risk taking. Kedua tindakan tersebut dilakukan
karena investor tidak mau mengalami penyesalan yang sangat besat
disaat menghadapi kerugian dibandingkan rasa kegembiraan saat
menerima keuntungan. Dalam prakteknya jika seseorang mengalami
kerugian sekecil apapun akan berdampak dan membebani pemikiran
66 Financial Behavior
yaitu tentang kenapa rugi, kenapa mengalami kerugian, jika tidak
melakukan pasti tidak mengalami kerugian dan lain-lain. Keadaan
berbeda akan menjadi lain jika seseorang mengalami keuntungan yang
minimal sama dengan jika dia mengalami kerugian maka
tanggapannya pasti akan biasa saja. Jadi keuntungan yang didapat
hanya memberi kesenangan dan kegembiraan lebih rendah jika
dibandingkan penyesalan disaat mengalami kerugian.
Hipotesis loss aversion dengan dua outcome gain dan loss yang
diperkenalkan oleh (D Kahneman & Tversky, 1979). Sedangkan (R.
Thaler, 1980) merupakan orang yang mengawali dalam
memperkenalkan konsep loss aversion saat berada dalam domain yang
berisiko. Terkadang juga seorang investor yang berinvestasi akan lebih
dipengaruhi masa lalu dalam membuat keputusan berisiko. Seperti
yang dikatakan oleh (R. H. Thaler & Johnson, 1990) bahwa pembuat
keputusan dalam risk taking atau mengambil risiko dari investasi
sangat dipengaruhi oleh outcome sebelumnya. Penjelasan tersebut
menunjukkan yaitu jika investor dimasa lalu bisa membuat keputusan
investasi dengan tepat dan dapat menghasilkan keuntungan seperti
yang diharapkan maka akan memengaruhi keberanian mengambil
risiko yang semakin tinggi. Karena beranggapan bahwa orang tersebut
merasa mampu membuat suatu keputusan yang tepat di investasi
mendatang karena sudah ada pengalaman yang baik. Sebaliknya
pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan misalkan
sebelumnya pernah membuat suatu keputusan yang mengakibatkan
kerugian akan berdampak terhadap ketidakberanian dalam mengambil
risiko. Kenapa orang tersebut berperilaku seperti itu karena disebabkan
menjadi kurang percaya diri akan kemampuannya sehingga ada
perasaan takut akan mengalami kerugi an lagi seperti sebelumnya.
Kerugian yang pernah dialami akan membawa dampak psikologis
penyesalan yang begitu dalam. Dampak lainnya mungkin kalau
mengalami kerugian lagi di kwatirkan adanya penilaian negative dari
investor lain akan ketidakmampuan membuat keputusan yang tepat.
Bab 6 Perilaku Keuangan Dengan Keputusan Investasi 67
Dikatakan oleh (D Kahneman & Tversky, 1979) bahwa seseorang saat
berada dalam gain domain akan menunjukkan perilaku risk averse
tetapi akan bergeser menjadi risk seeking saat orang tersebut berada
dalam loss domain. Penjelasan perilaku di atas seperti yang sudah
dijelaskan dalam loss aversion menurut prospect theory dalam A
Hypothecal Value Function dari (D Kahneman & Tversky, 1979)
bahwa seseorang saat dihadapkan dalam pengambilan keputusan maka
keputusannya akan dipengaruhi apakah dia berada dalam posisi gain
atau posisi loss.
Loss aversion dalam penelitian Yuniningsih (2016) dengan penelitian
laboratorium studi diukur dengan menggunakan dua level yaitu gain
dan loss. Sedangkan penelitian Yuniningsih (2019) dengan penelitian
yang bersifat field study, loss aversion diukur dengan menggunakan 3
indikator, dua indicator mengacu pada (Pompian, n.d.) yaitu
menghindari kerugian dan selalu melakukan investasi pada asset yang
sama. Sedangkan satu indikator mengacu pada Phuachan (2010) yaitu
memutuskan membeli asset saat harga turun.
3. Regret aversion
Regret aversion merupakan faktor yang menentukan tingkat emosi
seseorang dalam menghadapi suatu masalah. Pompian (n.d.)
mendefinisikan regret aversion adalah sebagai perasaan takut dalam
mengambil tindakan dengan cara menghindari kesalahan pada
keputusan yang sama secara tegas. Bagaimana regret aversion muncul
yaitu karena didorong untuk menghindari penyesalan yang berulang
karena mengulangi keputusan yang salah dari sebelumnya.
Pemahaman lain dari regret aversion adalah timbulnya penyesalan
yang dialami seseorang akibat kesalahan sebelumnya sehingga akan
memengaruhi dalam keputusan dan tindakan di masa mendatang. Jadi
disini menunjukan bahwa investor tidak mau mengulangi tindakan dari
sebuah keputusan yang tidak tepat dari masa lalu. Keputusan dan
tindakan yang tidak tepat tersebut dapat berupa suatu kerugian yang
ditanggungnya sehingga akan memengaruhi dalam keputusan
selanjutanya. Pengalaman buruk dimasa lalu tersebut secara emosional
68 Financial Behavior
akan mendorong seseorang untuk tidak menanamkan kembali
modalnya dalam investasi yang sama atau bahkan tidak ingin
melanjutkan investasi tesebut.
Kerugian dimasa lalu akibat dari kesalahan dalam sebuah keputusan
akan cenderung mendorong seseorang untuk bertindak lebih hati hati,
bersikap konservatif, dan mungkin antisipasi dengan keputusan
mendatang. Semakin besar jumlah kerugian dan semakin buruk
pengalaman yang dialami maka akan semakin besar rasa ketakutan
dalam bertindak lagi dalam hal yang sama. Hal sebaliknya, bagaimana
jika sebelumnya investor menerima keuntungan yang berkali-kali
akibat dari sebuah keputusan yang tepat? Maka keadaan tersebut
mengakibatkan investor terdorong akan melakukan investasi lagi pada
keputusan yang sama dari sebelumnya.
4. Financial literacy
Financial literacy terdiri dari dua kata yaitu financial dan literacy.
Financial adalah uang atau ilmu tentang bagaimana mengelola
keuangan. Literacy diartikan sebagai kemampuan membaca, menulis,
memahami dan selanjutnya menindaklanjuti dari sebuah informasi
permasalahan. Dari pemahaman financial literacy tersebut ada
beberapa peneliti yang mendiskripsikan pengertian dari financial
literacy. Financial literacy dikatakan sebagai kemampuan memproses
informasi dan membuat keputusan pribadi (Cole & Fernando, 2008).
Seseorang yang mempunyai pemahaman yang bagus dalam hal
keuangan baik dalam penguasaan informasi keuangan, memiliki
pengetahuan yang tidak diragukan lagi dan pintar dalam mengelola
keuangan dengan baik maka akan berdampak positif dalam
kehidupannya. Dampak positif tersebut adalah dapat mengelola
keuangan sebaik mungkin dalam berbagai bentuk yaitu investasi,
tabungan, kredit, asuransi, pensiun dan lain lain. Seseorang dengan
financial literacy yang bagus akan melakukan investasi pada asset
yang tepat. Asset tersebut bisa dalam bentuk financial asset maupun
real asset ((Yuniningsih Yuniningsih, Widodo, & Wajdi, 2017),
(Yuniningsih Yuniningsih, Hasna, Wajdi, & Widodo, 2018), (Y
Bab 6 Perilaku Keuangan Dengan Keputusan Investasi 69
Yuniningsih & Taufiq, 2019). Sebelum melakukan investasi maka
orang tersebut dengan memahami pengetahuan, dan informasi yang
dimiliki akan melakukan sebuah analisis yang tepat dan melakukan
evaluasi awal sebelum memutuskan apakah investasi tersebut
menguntungkan atau merugikan. Karena dengan tingkat kemampuan
financial literacy yang dimiliki akan menentukan kesuksesan dalam
membuat keputusan investasi (Akims & Jagongo, 2017).
5. Herding
Herding adalah perilaku seseorang yang suka ikut-ikut terhadap apa
yang dilakukan orang lain. Ada beberapa pendapat tentang herding
a. Scharfstein & Stein, (1990) yang menyebutkan terjadinya herding
yaitu saat seseorang secara individu meniru orang lain dan
mengabaikan informasi yang substantive yang dimiliki sendiri.
b. Hirshleifer & Hong Teoh, (2003) juga menyatakan bahwa herding
sebagai perilaku atau tindakan yang cenderung meniru perbuatan
yang dilakukan orang lain dibandingkan mengikuti informasi dan
pengetahuan yang dimiliki sendiri.
c. Pendapat lain tentang timbulnya herding yang berasal (Jurkatis,
Kremer, & Nautz, 2012), disebabkan karena pasar tidak transparan
dengan ketidakpastian sumber informasi public dan ketidakjelasan
sinyal perusahaan dimasa depan.
d. Kumar & Goyal, (2015) menyebutkan bahwa herding mengacu
pada suatu domain di mana terjadi pergeseran orang yang rasional
menjadi irrasional dengan meniru perilaku atau tindakan orang
lain
Dari beberapa pendapat herding tersebut maka perilaku herding dalam
pengambilan keputusan yang dilakukan oleh seseorang tidak terlepas dari
faktor psikologis yang dimilikinya. Banyak kondisi yang memengaruhinya
baik kondisi eksternal maupun internal. Kondisi eksternal yang
menyebabkan seseorang bertindak herding, salah satunya kurang
mendapatkan informasi yang valid baik informasi yang terkait maupun
tidak terkait dengan keputusan. Hal tersebut seperti yang dikatakan oleh
(Jurkatis et al., 2012) di mana terjadinya perilaku herding disebabkan pasar
tidak transparan yaitu seseorang menerima ketidakpastian sumber
70 Financial Behavior
informasi public dan ketidakjelasan sinyal dari perusahaan dimasa yang
akan datang. Investor atau seseorang yang memiliki informasi tidak valid
disisi lain investor dihadapkan untuk segera mengambil keputusan maka
pasti akan ada kepanikan tersendiri.
6. Overconfidence
Overconfidence merupakan salah satu faktor dari cognitive bias.
Overconfidence menunjukkan seseorang yang sangat percaya diri
tinggi akan apa yang dimilikinya. Percaya diri tinggi entah berdasarkan
dari kekayaan yang dimiliki, pengetahuan yang dimiliki, tingkat
pendidikan, pengalaman, usia, kinerja yang sudah dicapai sebelumnya
dan lain-lain. Seperti yang dikatakan oleh (Bhandari & Deaves, 2006)
yang menyebutkan jika overconfidence terjadi jika seseorang terlalu
tinggi dalam menilai dan menaksir akan pengetahuan, kemampuan,
maupun informasi yang dipunyainya. (Shefrin, 2007) membagi bias
overconfidence menjadi dua kelompok yaitu terlalu percaya diri akan
kemampuan atau overconfidence about ability dan percaya diri tinggi
akan pengetahuan atau overconfidence about knowledge. Berdasarkan
apa yang dijelaskan oleh (Shefrin, 2007) tersebut menggambarkan
bahwa seseorang merasa mempunyai kemampuan dan pengetahuan
tinggi yang dimiliki sehingga merasa mampu untuk membuat ramalan
yang tepat, mampu membuat analisis serta mampu membuat
keputusan yang sangat akurat dibandingkan dengan orang lain.
7. Illusion of control bias
Ada lagi faktor yang ada dalam cognitive bias yaitu illusion of control
bias. Illusion of control bias berkaitan dengan perilaku orang dalam
penerimaan, pemahaman, penalaran atau pemikiran saat dihadapkan
dalam membuat keputusan investasi. (Pompian, n.d.) mengartikan
bahwa illusion of contrl bias sebagai kecenderungan perilaku
seseorang yang percaya akan kemampuan dalam mengendalikan dan
dapat memengaruhi hasil meskipun pada kenyataannya tidak dapat
mengendalikan atau mewujudkannya. Illusion of control bias ini
menggambarkan orang yang sangat percaya yang berlebih-lebihan
Bab 6 Perilaku Keuangan Dengan Keputusan Investasi 71
akan kemampuan meskipun dalam kenyataannya tidak punya
kemampuan seperti yang dinyakini.
Illusion of control bias diperumpamakan sebagai orang yang terlalu
banyak berimajinasi akan keberhasilan yang mudah dicapai. Orang
yang mempunyai illusion of control bias yang tinggi akan semakin
berani dalam membuat keputusan dan yakin akan mendapatkan
keuntungan. Keberanian mengambil risiko bagi seorang investor yang
illusion of control bias akan dilakukan meskipun dihadapan pada
keputusan yang berisiko tinggi. Investor yang berperilaku dan
mempunyai illusion control of bias tinggi biasanya dihadapkan dengan
masalah kurang memiliki pemilihan prioritas investasi. Faktor yang
menyebabkan orang mempunyai illusion control of bias tinggi yaitu
orang tersebut sebenarnya berada dalam kondisi ketidakpastian dalam
hal informasi yang didapat, atau kurang terlibat aktif dalam mengikuti
prosedur dan birokrasi yang semestinya.
8. Evaluasi
Sering tidaknya seseorang dalam melakukan evaluasi juga
memengaruhi perilaku dan tindakan seseorang dalam membuat
keputusan investasi. Evaluasi berkaitan dengan seberapa sering
seseorang melakukan control dan penilaian atas segala sesuatu yang
menjadi tujuannya. Evaluasi bisa berupa laporan keuangan baik itu
neraca, rugi laba, pergerakan harga saham dan informasi lain yang
dibutuhkan. Tinggi rendahnya konsistensi dalam melakukan evaluasi
maka akan membentuk seseorang berperilaku risk taking aapakah
sebagai risk seeking atau risk averse. Seperti yang dikatakan (Haigh &
List, 2005) di mana besar kecilnya frekwensi dalam melakukan
evaluasi dalam keputusan investasi atas asset yang berisiko akan
berpengaruh pada besar kecilnya atau tingkat kepuasan seseorang.
Jika evaluasi sering dilakukan secara konsisten, secara rutin maka akan
menjadikan seseorang tersebut lebih hati-hati dalam membuat
keputusan dan cenderung akan berani mengambil risiko atau risk
taking. Karena dengan melakukan evaluasi yang konsisten, investor
akan memperoleh banyak tentang perkembangan informasi secara
72 Financial Behavior
terus menerus. Informasi yang didapatkan bisa informasi yang
berkaitan maupun tidak berkaitan dengan keputusan investasi yang
akan dibuat. Investor yang sering melakukan evaluasi akan
membentuk perilaku investor dengan type risk averse atau takut
mengambil risiko.
9. Demografi
Faktor demografi memegang peranan utama dalam membuat sebuah
keputusan selain faktor psikologi. Kenapa faktor demografi dikatakan
memiliki peran penting? Karena dalam membuat suatu keputusan
kadang tidak hanya melibatkan 1 individu kadang lebih dari 1 individu.
Setiap individu kemungkinan akan berbeda baik dari tingkat ekonomi,
tingkat pendapatan, jenis pekerjaan, tingkat pendidikan, usia, jenis
kelamin dan lain-lain. Jika suatu keputusan dengan melibatkan banyak
individu maka dalam menghadapi perbedaan tersebut yaitu dengan
melakukan persamaan persepsi dan cara pandang dalam membuat
keputusan.
Hal tersebut di kuatkan dengan penelitian (Graham, Harvey, & Huang,
2009) bahwa perbedaan faktor demografi investor mendorong
seseorang merasa lebih mampu memahami tentang informasi
keuangan dan kesempatan yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa
faktor demografi misalkan dengan lebih tinggi pendidikan, lebih
banyak pendapatan, lebih kaya, lebih banyak pengalaman, lebih tua
cenderung lebih percaya diri bahwa dia bisa membuat suatu keputusan
investasi yang tepat. Pernyataan ini sesuai dengan hasil penelitian
(Graham et al., 2009) di mana laki-laki, pendapatan tinggi, pendidikan
tinggi memiliki kenyakinan sebagai investor yang tidak diragukan lagi
atau kompeten (Yuningsih, 2020).
Bab 7
Behavioral Finance dalam
Proses Pengambilan Keputusan
7.1 Behavioral Finance
Penelitian yang dilakukan semenjak tahun 1990-an menunjukkan bahwa teori-
teori keuangan standard (Standard finance/ traditional finance) tidak
memberikan kontribusi yang berarti dalam menjelaskan pergerakan harga
saham atau surat berharga lainnya. Seringkali ditemukan fenomena dalam pasar
modal/ pasar keuangan yang bertentangan dengan teori keuangan standard dan
teori ekonomi konvensional.
Kerangka dasar standard/ traditional finance seringkali dikaitkan dengan teori
portfolio modern dan hipotesis pasar effisien. Modern portfolio theory yang
telah berkembang selama 50 tahun terakhir dipublikasikan Harry Markowitz
(1952) dalam publikasinya Portfolio Selection. Teori ini mengungkapkan
tentang pentingnya diversifikasi untuk mengurangi risiko suatu investasi,
dengan asumsi bahwa investor akan berprilaku secara rasional, dapat diprediksi
dan tidak menyimpang dari tata cara/ kebiasaan yang berlaku umum.
74 Financial Behavior
Ada tiga hal utama yang mendasari teori portfolio modern yaitu:
1. Harapan tingkat pengembalian sekuritas individual/ portfolio
(security’s or portfolio expected rate of return)
2. Penyimpangan baku (standard deviation of return)
3. Korelasi dari sekuritas tersebut dengan sekuritas lain yang ada dalam
portfolio
Berdasarkan ketiga hal tadi, suatu portfolio yang effisien dapat dibentuk atas
berbagai kelompok sekuritas, misalnya saham atau obligasi. Portfolio effisien
adalah suatu portfolio atas suatu sekuritas yang memiliki return/ harapan
tertinggi (maksimum) pada tingkat risiko tertentu atau sebaliknya.
Selanjutnya, Treynor, Sharpe dan Litner memperkenalkan sebuah model dalam
penilaian harga sekuritas, dengan menggambarkan hubungan antara risiko dan
return yang diharapkan. Model tersebut merupakan pengembangan teori
portofolio yang dikemukan oleh Markowitz dengan memperkenalkan istilah
baru yaitu risiko sistematik (systematic risk) dan risiko spesifik/risiko tidak
sistematik (spesific risk /unsystematic risk). Pada tahun 1970, William Sharpe
memperoleh nobel ekonomi atas teori pembentukan harga aset keuangan yang
kemudian disebut Capital Asset Pricing Model (CAPM).
Pemikiran yang mendasari model ini adalah keuntungan investasi yang didapat
oleh seorang investor didasari oleh faktor nilai waktu dari uang (time value of
money) dan risiko. Nilai waktu dari uang diwakili oleh tingkat suku bunga bebas
risiko (Rf) pada model, di mana Rf merupakan pengganti opportunity cost
investor akibat menempatkan sejumlah uang pada investasi yang dipilihnya
selama periode tertentu. Sisi lain dari model mewakili risiko serta menghitung
tingkat kompensasi yang diterima oleh investor akibat bersedia mentolerir risiko
tambahan dalam investasinya.
Pengukuran risiko dalam model diwakili oleh β yang membandingkan antara
tingkat pengembalian asset investasi dengan premi pasar selama periode tertentu
(Rm – Rf). Menurut teori CAPM, tingkat pengembalian yang diharapkan dari
sebuah portfolio sama dengan tingkat bunga bebas risiko ditambah dengan
premi risiko. Jika tingkat pengembalian yang diinginkan oleh investor lebih
rendah dari tingkat pengembalian yang diharapkan, maka investasi sebaiknya
tidak dilakukan.
Bab 7 Behavioral Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan 75
Hasil perhitungan tingkat pengembalian menggunakan CAPM pada berbagai
tingkat risiko (β) digambarkan pada security market line. Capital Asset Pricing
Model mengasumsikan bahwa para investor adalah perencana pada suatu
periode tunggal yang memiliki persepsi yang sama mengenai keadaan pasar dan
mencari meanvariance dari portofolio yang optimal. Capital Asset Pricing
Model juga mengasumsikan bahwa pasar saham yang ideal adalah pasar saham
yang besar, dan para investor adalah para pricetakers, tidak ada pajak maupun
biaya transaksi, semua aset dapat diperdagangkan secara umum, dan para
investor dapat meminjam maupun meminjamkan pada jumlah yang tidak
terbatas pada tingkat suku bunga tetap yang tidak berisiko (fixed risk free rate).
Dengan asumsi ini, semua investor memiliki portofolio yang risikonya identik.
Pokok bahasan lainnya yang diungkapkan dalam Standard Finance adalah
efficient-market hypothesis yang dikembangkan oleh Eugene Fama tahun 1965,
beranggapan bahwa di pasar yang efisien harga atas suatu sekuritas yang
terbentuk merupakan cermin dari semua informasi yang tersedia dan relevan
tentang sekuritas tersebut. Dengan kata lain, harga yang terbentuk merupakan
nilai wajar (fair value).
Akibatnya, secara teori, pelaku pasar yang aktif tidak mungkin memperoleh
abnormal return (beat the market) secara terus menerus karena investor lain akan
segera tahu aksi yang dilakukan oleh seorang investor. Sehingga satu – satunya
cara untuk memperoleh tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi adalah
dengan membeli asset – asset investasi yang lebih berisiko. Namun kedua teori
ini tidak mampu memberikan penjelasan tentang sejumlah ketidakkonsistenan
(anomaly) pasar modal, misalnya January Effect, Day of the week effects,
returns over trading and non-trading periods, Stock return volatility and the
internet phenomenon (termasuk kebuntuan pasar modal sebagai imbas dari
kejatuhan saham – saham berbasis internet di akhir tahun 1990-an), kejatuhan
pasar modal di tahun 1929 dan 1987 serta dampak dari krisis subprime mortgage
di tahun 2007 – 2008.
Menyadari ketidakmampuan traditional finance untuk menjelaskan anomaly
dalam fenomena pasar uang dan pasar modal, maka para peneliti keuangan
mulai mengkaitkan fenomena yang ada dengan aspek perilaku (behavioral
finance). Selama tahun 1990-an, behaviour finance muncul ke permukaan
sejalan dengan tuntuan perkembangan dunia bisnis dan akademik yang mulai
menyingkapi adanya aspek atau unsur perilaku dalam proses pengambilan
keputusan keuangan dan/ atau investasi. Hal ini banyak diinspirasi oleh
meningkatnya peran perilaku sebagai salah satu penentu dalam menentukan buy
76 Financial Behavior
and sell sekuritas. Kronologis perkembangan behavioural finance yang
mediskusikan kekuatan emosi dan psikologi investors dan traders di pasar
keuangan:
1. Tahun 1841: Delusions and the Madness of Crowds – Charles MacKay
– menyajikan kronologis tentang kepanikan yang terjadi di pasar
sebagai cermin dari adanya aspek psikoligis investor
2. Gustave Le Bon dalam The Crowd: A Study of the Popular Mind
(1895) mengajukan gagasan tentang peran “crowds” yang dapat
diartikan sebagai investor di pasar, dan perilaku kelompok yang
mencoba kemampuan di bidang perilaku keuangan, psikologi social,
sosiologi, dan sejarah
3. Tahun 1912 G C Selden menerapkan perilaku keuangan dalam konteks
psikologi di pasar modal.
7.2 Behavioral Finance dalam Proses
Pengambilan Keputusan
Behavioral finance merupakan ilmu yang memperlajari bagaimana manusia
mengambil tindakan pada proses pengambilan keputusan dalam berinvestasi
sebagai respons dari informasi yang diperolehnya. Dari penelitian-penelitian
yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa investor tidak selalu berprilaku
rasional dan tidak menyimpang serta mampu dimodelkan secara quantitative.
Ricciardi dan Simon (2000) membagi tiga kelompok individu yang memiliki
kepentingan baik secara langsung/ tidak langsung terhadap behavioral finance:
1. Individual, yang terdiri dari small investor, portfolio manager, pension
board
2. Group, yang terdiri dari investor reksadana (portfolio)
3. Organization, misalnya financial institution, non – profit organization
→ universities.
Bukti-bukti yang berhasil teridentifikasi terkait dengan penelitian berbasis
perilaku yang mencoba mengungkap proses pengambilan keputusan dalam
Bab 7 Behavioral Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan 77
koridor psikologi menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk rasional yang
mengedepankan aspek rasionalitas, walaupun proses menuju aspek tersebut
dapat bermacam-macam (Gumati: 2009).
Barberis dan Thaler (2003) dan Rabin (1998) menemukan dukungan atas
anggapan aspek rasionalitas dalam pengambilan keputusan di mana pada saat
dihadapkan pada unsur ketidakpastian yang terkait dengan ekonomi dan
keuangan manusia akan mengedepankan akal dan nalarnya. Namun demikian,
karena manusia diyakini selalu tidak bisa melepaskan diri dari aspek bias pada
saat proses pengambilan keputusan, para ahli berpendapat bahwa penggunaan
asumsi rasionalitas mungkin akan mengarah pada pemahaman yang salah atas
mekanisme sebenarnya dari anomaly-anomaly keuangan. Para praktisi di pasar
keuangan menggunakan istilah heuristics untuk menyingkapi informasi yang
akan digunakan untuk proses pengambilan keputusan, sedangkan para ahli
ekonomi keuangan perilaku memasukkan aspek agen “normal” bukan rasional
dalam model-model yang dikembangkan dalam rangka anomaly-anomaly yang
ada dan ditemukan dalam studi empiris (Gumati: 2009).
Para ahli psikologi telah menemukan bahwa banyak dari kesalahan-kesalahan
manusia yang dibuat dalam proses pengambilan keputusan tidak acak atau
tergantung dari individunya, seperti manusia membuat kesalahan secara
sistematis dan khusus dalam hal penilaian yang dilakukan. Misalnya, tidak
sedikit jumlah individu yang terlalu yakin terhadap keyakinan atau kemampuan
yang dimilikinya pada saat dihadapkan pada pengambilan keputusan, individu
yang berprilaku konservatif, rasional dan tidak rasional.
Thaversky dan Kahneman (1974) mengungkapkan terdapat tiga faktor pada
perilaku manusia yang bertentangan dengan asumsi-asumsi yang mendasari
model ekonomi klasik dalam pengambilan keputusan. Fenomena ini disebut
sebagai "cognitive illusions," karena terkait dengan persepsi yang seringkali
dapat menimbulkan error.
1. Risk attitudes.
Asumsi mendasar dalam teori ekonomi menganggap bahwa manusia
merupakan makhluk yang tidak menyukai risiko. Investor akan lebih
memilih sebuah investasi yang memberikan tingkat pengembalian
yang pasti dibandingkan dengan investasi yang mengandung
ketidakpastian dalam pengembaliannya. Terdapat hubungan yang
positif antara tingkat risiko dengan tingkat keuntungan yang
78 Financial Behavior
diharapkan oleh investor. Karena investor bersikap tidak menyukai
risiko (risk averse) maka mereka baru bersedia mengambil suatu
kesempatan investasi yang lebih berisiko apabila mereka dapat
memperoleh tingkat keuntungan yang lebih tinggi.
Penelitian yang dilakukan oleh Thaversky (2000) menjelaskan
mengenai Prospect Theory yang berkaitan dengan ide bahwa manusia
tidak selalu berperilaku secara rasional. Teori ini beranggapan bahwa
ada bias yang melekat dan terus ada yang dimotivasi oleh faktor-faktor
psikologi yang memengaruhi pilihan orang di bawah kondisi
ketidakpastian. Teori prospek mempertimbangkan preferensi sebagai
suatu fungsi timbangan-timbangan keputusan dan berasumsi bahwa
timbangan-timbangan tersebut tidak sesuai dengan probabilitas.
Schwartz (1998:82) menyatakan bahwa investor cenderung untuk
mengevaluasi proyek atau kemungkinan keluaran (outcome) dalam
bentuk keuntungan dan kerugian relative terhadap beberapa titik
referensi tingkat kemakmuran yang diinginkan.
Misalnya, kebanyakan investor akan memilih investasi yang pasti
memberikan tingkat pengembalian $90.000 dibandingkan dengan
investasi yang menawarkan pengembalian 8 sebesar $100.000 dengan
probabilitas 90% dan 10% kemungkinan tidak menerima apa-apa.
Ilustrasi tersebut menggambarkan terjadinya risk aversion pada tingkat
pengembalian yang sama.
Sementara pada situasi di mana investor menghadapi pilihan
mengalami kerugian $90.000 atau 90% kemungkinan merugi sebesar
$100.000 dan 10% kemungkinan tidak merugi (kedua pilihan tersebut
memiliki harapan atas tingkat pengembalian investasi yang sama),
pada saat ini kebanyakan investor akan memilih 90% kemungkinan
merugi $100.000, dan 10% kemungkinan tidak merugi. Pilihan ini
sebenarnya “lebih berisiko” dibandingkan pilihan pertama.
Berdasarkan observasi tersebut Tversky menyimpulkan bahwa
investor memiliki pandangan yang tidak konsisten terhadap risiko.
Perilaku risk averse cenderung dipraktekkan apabila melibatkan
keuntungan dan risk seeking dilibatkan apabila melibatkan kerugian
Bab 7 Behavioral Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan 79
investasi. Tversky juga menyimpulkan bahwa investor cenderung
mengevaluasi peristiwa pada titik tertentu yang dijadikan acuan
(reference point), dan mereka menjadi sangat sensitive pada perubahan
yang terjadi di seputar reference point tersebut.
Sebagai contoh, ketika seorang investor membeli sebuah saham dan
kemudian menemukan bahwa harga saham tersebut jatuh dikarenakan
situasi yang tidak menguntungkan yang dihadapi oleh perusahaan,
seringkali terdapat investor yang berpendapat untuk menunggu sampai
harga saham kembali naik (paling tidak sampai harga jual sama dengan
harga beli) baru menjual saham tersebut, dan bukan menganalisa
situasi secara rasional dan mengambil kebijakan. Dalam hal ini yang
menjadi reference point yang mendominasi cara pandang investor
adalah harga beli saham.
Contoh lain mengenai perilaku terhadap risiko (risk attitudes) dapat
dilihat dalam konteks antipati terhadap kerugian (loss aversion).
Tingkat kerugian dipandang oleh kebanyakan orang lebih menonjol
dibandingkan dengan tingkat keuntungan, walaupun sebenarnya
meskipun terdapat kerugian, secara keseluruhan investasi telah
memberikan keuntungan. Sebagai contoh investor yang
mempercayakan dananya untuk dikelola oleh seorang manajer
keuangan tidak akan mempertanyakan apabila laporan yang diterima
di akhir bulan menunjukkan peningkatan nilai investasi, namun
apabila hal yang sebaliknya terjadi, maka mereka akan langsung
mempersoalkan hal tersebut. Dalam hal 9 ini reference point yang
mengalami perubahan adalah laporan nilai investasi pada akhir bulan.
2. Mental Accounting.
Hal ini merujuk pada kecenderungan investor untuk mengelompokkan
keuangan mereka pada rekening yang berbeda-beda didasarkan pada
kriteria-kriteria yang subjektif, seperti sumber pendanaan dan maksud
pemanfaatan penghasilan. Pengalokasian fungsi yang berbeda pada
setiap rekening ini seringkali menyebabkan dampak irasional pada
keputusan keuangan yang diambil (baik dalam hal pembelanjaan
80 Financial Behavior
maupun tabungan), yang menyimpang dari konsep ekonomi
konvensional.
Ilustrasi permasalahan ini dicontohkan oleh Tsaverky dengan
mengadakan survey pertanyaan sebagai berikut: Anda memutuskan
untuk menonton film dengan tiket seharga $20/ tiket. Ketika tiba di
bioskop untuk membeli tiket, anda mengetahui bahwa anda telah
kehilangan uang sebesar $20. Apakah anda akan tetap membeli tiket
nonton bioskop? 80% dari responden menjawab tetap akan membeli
tiket. Namun demikian ketika situasinya dirubah menjadi: Anda
membeli tiket bioskop seharga $20, dan ketika anda sampai di depan
pintu bioskop, anda menyadari bahwa tiket yang sudah anda beli
hilang, dan tidak dapat diganti. Apakah anda akan membeli kembali
tiket bioskop? Hanya 40% dari responden yang menjawab akan
membeli kembali.
Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua scenario
tersebut, namun demikian secara irasional hasil kedua scenario
menjadi berbeda. Hal ini disebabkan membeli tiket untuk mengganti
tiket yang hilang akan menyebabkan orang berfikir telah
mengeluarkan $40 untuk tiket tersebut, dan hal ini kurang bisa diterima
oleh mayoritas responden. Akan tetapi kehilangan uang sebesar $20
tidak memengaruhi biaya yang dikeluarkan untuk menonton bioskop
(tetap $20). Illustrasi lain dari kasus ini adalah investor yang memiliki
alokasi dana untuk berinvestasi dan untuk konsumsi. Dana yang
dialokasikan untuk investasi (misalkan dengan tujuan biaya
pendidikan di masa yang akan datang) diperlakukan secara berbeda
dengan dana yang dipergunakan untuk membayar hutang (misalnya
dana yang dipergunakan untuk menyicil kendaraan pribadi), dengan
tidak memperhatikan kenyataan bahwa mengalihkan dana yang
digunakan untuk membayar hutang menjadi dana untuk investasi
berpotensi untuk meningkatkan pembayaran bunga hutang yang pada
akhirnya akan mengurangi kekayaan bersih investor yang
bersangkutan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa bukan
merupakan hal yang logis apabila investor memiliki simpanan dengan
Bab 7 Behavioral Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan 81
tingkat pengembalian 10% per tahun, sementara investor tersebut
harus membayar bunga kartu kredit sebesar 20% per tahun. Di mana
dalam kasus ini, tindakan yang paling logis yang dilakukan oleh
investor adalah menggunakan dana yang tersedia untuk membayar
hutang.
Perilaku yang tidak rasional ini didasari pada persepsi nilai yang
ditempatkan oleh masing-masing individu pada asset-asset yang
dimilikinya. Sebagai contoh, beberapa orang mungkin merasa bahwa
menyisihkan dana untuk membeli rumah atau dana pendidikan putra/
putrinya bahkan “alokasi dana liburan” merupakan hal wajib yang
sangat penting. Sehingga pengalokasian dana untuk keperluan ini tidak
dapat diganggu gugat, untuk keperluan apapun, termasuk keperluan
yang dapat mendatangkan manfaat keuangan.
Penyimpangan mental accounting prilaku ekonomi yang disebutkan di
atas juga dapat dianalogikan dengan seluruh populasi dan pasar
keuangan, yang dapat membantu untuk menjelaskan pandangan yang
berbeda terhadap uang, di mana sebagian asset yang dimiliki
diperlakukan sebagai safety capital yang diinvestasikan pada investasi-
investasi yang memiliki tingkat risiko yang rendah (dan tingkat
pengembalian yang rendah) sementara pada waktu yang bersamaan
sebagian asset lain diperlakukan sebagai risk capital yang memiliki
risiko tinggi, yang berbeda dengan cara pandang ekonomi
konvensional.
Sebagai contoh, beberapa investor membagi investasinya menjadi
investasi portofolio yang aman (safe investment) dan juga investasi
yang bersifat spekulatif dalam rangka mencegah tingkat kerugian yang
mungkin terjadi. Hal yang menjadi perhatian adalah investasi yang
terbagi dalam beberapa jenis portofolio ini, akan memberikan
pertambahan nilai yang sama pada investor apabila dia memiliki satu
jenis portofolio yang besar dalam investasinya.
3. Overconfidence.
Tidak bisa disangkal bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk
terlalu yakin atas kemampuan dan prediksi untuk berhasil. Kondisi ini
82 Financial Behavior
merupakan hal normal yang sekaligus merupakan cermin dari tingkat
keyakinan seseorang untuk mencapai/ mendapatkan sesuatu. Seperti
yang diungkapkan oleh peneliti di bidang pemasaran:
“an overestimation of the probabilities for a set of events.
Operationally it is reflected by comparing whether the specific
probability assigned is greater than the proportion that is correct for all
assessment assigned that given probability” (Mahajan 1992:330).
Rubin (1989:11) mengillustrasikan tindak lanjut dari kegagalan
peluncuran pesawat ulang-alik Challenger. Bagi mereka yang sudah
memahami tingkat keberhasilan peluncuran roket di mana disepakati
bahwa tingkat kegagalan peluncuran roket adalah 1 untuk setiap 57
percobaan peluncuran, sehingga bencana yang terjadi saat Challanger
meledak bukan sesuatu yang luar biasa atau tidak bisa ditebak
sebelumnya. Nasa setahun sebelum meledaknya Challenger
meyakinkan masyarakat dan pemerintah bahwa kegagalan dalam
peluncuran Challenger adalah 1:100.000. Contoh ini menunjukkan
bahwa para ahli terlalu yakin bahwa para ahli sebenarnya sadar bahwa
tingkat kegagalan suatu proyek itu tinggi, tetap meyakini bahwa
tingkat kegagalan tersebut dapat ditekan serendah mungkin.
Penelitian Fishchhoff et all (1977) menunjukkan bahwa terjadinya
keyakinan berlebihan adalah hal yang lumrah dalam kehidupan
manusia. Eksperimen dilakukan dengan mengajukan sejumlah
pertanyaan kepada responden di mana pertanyaan didesain sedemikian
rupa sehingga responden sebenarnya tidak tahu terlalu banyak
mengenai jawaban yang diharapkan. Selain pertanyaan-pertanyaan
yang diajukan, responden juga diminta untuk memberikan score
keyakinan terhadap kebenaran jawaban mereka. Penelitian yang
dilakukan Fishchhoff et all menemukan bukti yang konsisten di mana
keyakinan reliabilitas jawaban dan derajat keyakinan berlebihan tetap
sama.
Subjek overconfidence dalam financial behavior diteliti oleh Daniel
dan Titman (1999) yang menjelaskan bahwa keyakinan berlebihan
yang dimiliki oleh investor kepada dirinya dapat memengaruhi
Bab 7 Behavioral Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan 83
pergerakan harga saham, terutama pada saham-saham yang
memerlukan interprestasi lebih lanjut pada penilaiannya, seperti saham
– saham perusahaan yang sedang bertumbuh.
Barber dan Odean (2000) meneliti overconfidence dari sudut pandang
jenis kelamin. Penelitian mereka menggunakan objek household
investors yang mencakup 35.000 investor selama 6 tahun, dan
memiliki bukti bahwa laki-laki memiliki overconfidence lebih tinggi
dibandingkan wanita berkaitan dengan tingkat keahlian dan laki-laki
memiliki frekuensi perdagangan lebih tinggi (45% - 67% lebih tinggi
dari investor wanita). Konsekuensi dari frekuensi perdagangan lebih
tinggi tersebut adalah investor pria lebih sering mengalami kondisi
perdagangan yang tidak tepat dan terbebani biaya transaksi yang lebih
tinggi daripada investor wanita. Hal ini berdampak pada keuntungan
bersih yang diterima di mana keuntungan bersih investor pria
berkurang 2,5%, sedangkan untuk investor wanita sebesar 1,72%.
Selain tiga faktor pada perilaku manusia yang bertentangan dengan
asumsi – asumsi yang mendasari model keuangan standard Bell (1982)
juga melakukan penelitian mengenai yang disebut dengan Regret
Theory. Teori ini menggambarkan penyesalan sebagai emosi yang
disebabkan oleh perbandingan antara keluaran tertentu (given
outcome) dengan sesuatu yang tidak jadi dipilih (foregone choice)
yang menyebabkan individual melakukan evaluasi reaksi harapan pada
situasi di masa yang akan datang. Misalnya manakala investor
dihadapkan pada merek yang tidak dikenal dengan merk yang sudah
dikenal, seorang konsumen mungkin akan menganggap penyesalan
apabila menemukan bahwa produk dengan merk yang tidak dikenal
ternyata kinerjanya tidak sebaik merk yang dikenal.
Dalam teori pasar modal, regret theory diterapkan pada
psikologi/reaksi emosional investor dalam memperhitungkan untuk
membeli suatu saham/reksadana yang sudah menurun (atau belum).
Investor mungkin menghindari untuk menjual saham-saham yang
secara jelas mengalami penurunan harga dan menyebabkan kerugian
bagi mereka. Selain itu sering kali tanpa berpikir panjang investor
84 Financial Behavior
dapat menentukan pilihannya pada saham-saham yang sedang diminati
(memiliki tren harga positif)/mengikuti apa yang dilakukan oleh
investor lainnya. Oleh karena itu investor dapat merasionalisasi
dengan mudah jika saham-saham/reksadana mengalami penurunan.
Investor dapat mengurangi reaksi emosionalnya selama sejumlah
investor lain juga mengalami kerugian pada saham-saham yang
berkinerja jelek.
Mengacu pada hasil-hasil penelitian pasar keuangan, para ahli
ekonomi mencoba memotret hubungan antara bias pemikiran dari pada
traders dengan anomaly-anomaly keuangan. Upaya-upaya tersebut
mendorong tumbuhnya kajian keuangan perilaku yang diyakini akan
terus berkembang. Misalnya dalam beberapa model para ahli ekonomi
menunjukkan bahwa perilaku tidak rasional para traders telah
membuat berkurangnya aksi arbitrase dan konsekuensinya pasar
keuangan tidak dapat dikatakan dalam bentuk efisien. Dalam hal lain,
keyakinan yang berlebihan akan menimbulkan over-reaction pada
suatu arus informasi baru, sementara yang pihak yang konservatif akan
mengarah kepada yang tidak bereaksi (under reaction).
Goetzmann dan Peles (1997) meneliti peran ketidakberaturan selama
proses investasi di reksadana, khususnya dengan keputusan untuk
membeli dan menahan sekuritas. Muncul juga adanya keyakinan
bahwa investor di Amerika mengalokasikan dananya lebih cepat pada
reksadana yang memiliki kinerja yang tinggi (leading funds) daripada
reksadana yang memiliki keuntungan rendah (lagging funds). Dalam
hal ini investor pada lagging funds enggan mengakui bahwa
sebenarnya mereka telah membuat keputusan investasi yang jelek,
oleh karena itu, langkah paling tepat adalah menjual/ melepas investasi
pada reksadana yang berkinerja tidak baik sesegera mungkin.
Sayangnya investor tersebut tetap menahan investasinya reksadananya
untuk menyatakan mereka tidak melakukan kesalahan pada
berinvestasi.
Contoh lain dari ketidakberaturan kognitif keuangan (Financial
Cognitive Dissonant) adalah saat investor mengubah gaya/ keyakinan
Bab 7 Behavioral Finance dalam Proses Pengambilan Keputusan 85
investasi untuk mendukung keputusan keuangan. Misalnya investor
yang mengikuti gaya investasi tradisional (penganut analisis
fundamental) dengan mengevaluasi perusahaan dengan menggunakan
criteria-criteria keuangan, seperti price earnings ratio, yang mulai
mengubah keyakinan investasinya (misalnya pada investor yang
membeli saham-saham berbasis internet padahal ukuran keuangan
tidak dapat diterapkan pada perusahaan jenis ini karena tidak ada/
kurangnya sejarah keuangan, pendapatan yang relative rendah, serta
masih banyak yang merugi). Dalam hal ini investor mengubah
keyakinannya dalam dua cara:
a. Keyakinan yang ada selama ini membuat kita berada dalam era
ekonomi baru di mana aturan-aturan keuangan tradisional tidak
lagi diterapkan
b. Mengabaikan pola-pola tradisional dan membeli saham (misalnya
yang berbasis internet) hanya karena momentum harga.
Pembelian saham dengan momentum harga pada saat yang sama mengabaikan
prinsip supply and demand yang sebenarnya sudah diketahui dalam financial
behavior sebagai herd behavior (perilaku serentak). Herdings muncul pada saat
kelompok investor membuat keputusan berdasarkan informasi yang spesifik
dan mengabaikan informasi-informasi lain seperti laporan keuangan. Sebagai
contoh, bukti empiris menunjukkan bahwa investor-investor saham di bidang
internet adalah penyebab terjadinya financial speculative bubble yang melanda
saham-saham medio Maret 2000 pada saham-saham yang berbasis internet,
khususnya pada sektor retail di Amerika (nilai titik tertinggi tahun 1999, turun
sampai 70% pada pertengahan tahun 2000).
86 Financial Behavior
Bab 8
Financial Literacy versus
Financial Behavior
8.1 Financial Literacy
Perkembangan perekonomian yang pesat dan berbagai isu keuangan yang
beredar saat ini mendorong kebutuhan individu menjadi semakin kompleks
yang disertai produk-produk finansial yang beredar semakin kompleks pula.
Financial Literacy menjadi salah satu aspek penting yang harus dimiliki
seseorang agar dapat mengelola keuangannya dengan tepat untuk memenuhi
seluruh kebutuhannya yang kompleks sehingga hidupnya dapat sejahtera.
Menurut Mason & Wilson (2000) financial Literacy didefinisikan sebagai
kemampuan seseorang untuk mendapatkan, memahami, dan mengevaluasi
informasi yang relevan untuk pengambilan keputusan dengan memahami
konsekuensi financial yang ditimbulkannya.
Kebutuhan masyarakat akan produk financial yang semakin tinggi menuntut
setiap masyarakat agar dapat mengelola keuangannya dengan baik. Setiap
individu membutuhkan literasi keuangan (financial literacy) dan perilaku dalam
keuangan (financial behavior) baik dalam mengelola dan menentukan sikap
pada sumber daya yang terbatas secara efektif dan efisien demi kesejahteraan
hidupnya. Pemahaman mengenai keuangan juga ditujukan guna membuat suatu
88 Financial Behavior
keputusan keuangan jangka pendek seperti tabungan dan pinjaman serta
keputusan keuangan jangka panjang seperti perencanaan pensiun, perencanaan
bisnis, perencanaan pendidikan.
Banyaknya masyarakat yang tidak mengerti tentang financial menyebabkan
banyak masyarakat yang mengalami kerugian, baik akibat penurunan kondisi
perekonomian dan inflasi atau karena berkembangnya system ekonomi yang
cenderung boros karena masyarakat yang hidupnya semakin konsumtif.
Masyarakat banyak yang memanfaatkan kredit rumah dan kartu kredit tetapi
karena pengetahuan yang minim, tidak sedikit yang mengalami kerugian atau
sering kali terjadi perbedaan perhitungan antara konsumen dengan bank.
Sehingga pengetahuan keuangan (Financial Literacy) sebaiknya ditanamkan
sejak dini pada masyarakat Indonesia dan diimbangi dengan skill keuangan
(Financial Behavior) terutama untuk generasi muda bertumbuh, mereka mampu
memahami bagaimana mengelola dunia keuangan dengan lebih baik.
Financial Literacy mengarahkan setiap individu agar mampu menggunakan
instrumen-instrumen dan produk-produk keuangan serta mampu membuat
keputusan keuangan yang tepat, sedangkan financial behavior merupakan suatu
perilaku yang berkaitan dengan praktek atau aplikasi keuangan. Kurangnya
financial literacy memiliki dampak terhadap individu maupun perekonomian
secara keseluruhan. Sebab salah satu prasyarat bagi keberhasilan pembangunan
ekonomi adalah terciptanya suatu system keuangan yang baik dan memberi
manfaat bagi keseluruhan lapisan masyarakat. Dalam hal ini, financial literacy
dapat menjadi faktor dalam menyusun system keuangan yang baik demi
tercapainya keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perilaku keuangan (Financial behavior) mulai dikenal dan berkembang didunia
bisnis dan akdemis pada tahun 1990. Berkembangnya Financial behavior di
pelopori oleh adanya perilaku seseorang dalam proses pengambilan keputusan
(Orton M, 2012). Perilaku keuangan haruslah mengarah pada perilaku keuangan
yang bertanggungjawab sehingga seluruh keuangan baik individu maupun
keluarga dapat dikelola dengan baik.
Menurut Esiebugie (2018) financial literacy adalah mengukur sejauh mana
seseorang memahami kunci konsep keuangan dan memiliki kemampuan dan
kepercayaan diri untuk mengelola keuangan pribadi secara tepat, pengambilan
keputusan keuangan yang baik seperti memiliki pengetahuan asuransi dan dana
pensiun sehingga dapat memperhatikan kehidupan peristiwa dan kondisi
ekonomi yang berubah. Menurut Oliveira et al. (2019) financial literacy
Bab 8 Financial Literacy versus Financial Behavior 89
merupakan sebagai kemampuan untuk membuat penilaian berdasarkan
pertimbangan dan untuk mengambil keputusan yang efektif tentang
penggunaan dan manajemen uang.
Dwiastanti (2015) mengemukakan bahwa financial literacy merupakan suatu
alat yang dapat membantu para pemilik bisnis untuk dapat menjalankan
bisnisnya serta memberikan pengetahuan-pengetahuan keuangan untuk
membuat keputusan mengenai konsekuensi keuangan dari keputusan tersebut.
Jadi disini dapat kita simpulkan bahwa, financial literacy tidak hanya
memberikan suatu pengetahuan-pengetahuan dasar saja melainkan juga
memberikan pengetahuan mengenai sikap serta tingkah laku seseorang dalam
membuat suatu tindakan sesuai dengan keputusan keuangan individu untuk
merencanakan keuangan masa depan.
Literasi keuangan (financial literacy) adalah kemampuan seorang individu
untuk mengambil keputusan dalam hal pengaturan keuangan pribadinya.
Literasi keuangan atau pengetahuan keuangan merupakan salah satu aspek
penting dalam kehidupan sehari-hari yang mengarahkan setiap individu dapat
menggunakan instrument-instrumen dan produk-produk keuangan serta mampu
membuat keputusan-keputusan yang tepat. Literasi keuangan merupakan
pemahaman dan pengetahuan yang mendasar yang juga dibutuhkan untuk
kebutuhan pengaturan keuangan pribadi yang sukses. Namun, beberapa ahli
dalam bidang ekonomi memiliki pandangannya sendiri terkait literasi keuangan.
Manurung menjelaskan bahwa literasi keuangan adalah seperangkat
pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam membuat keputusan dan
kebijakan yang efektif dengan memanfaatkan seluruh sumber daya keuangan
yang dimilikinya. Sedangkan Mitchell berpendapat bahwa literasi keuangan
adalah cara mengukur kemampuan setiap orang dalam menjalani berbagai
informasi ekonomi yang didapatkannya. Sehingga memungkinkan mereka
untuk mampu mengambil keputusan dalam membuat perencanaan keuangan,
akumulasi keuangan, hutang dan dana pensiunnya.
Literasi keuangan yang baik sangat diperlukan untuk mendukung berbagai
fungsi ekonomi. Jadi semakin banyak masyarakat yang sadar terkait produk dari
jasa keuangan, maka akan semakin meningkat pula transaksi keuangan yang
ada, dan akhirnya akan mampu meningkatkan pergerakan roda perekonomian.
Selain itu, literasi keuangan juga memiliki dampak yang sangat besar pada
perekonomian. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan jumlah penduduk yang
sadar akan produk dan jasa keuangan yang selanjutnya disertai dengan
90 Financial Behavior
peningkatan pemanfaatan produk dan jasa keuangan, sehingga mampu
menggerakan roda perekonomian menjadi lebih cepat.
Literasi keuangan yang baik mempunyai manfaat jangka panjang untuk setiap
individu. Tercatat ada dua manfaat jangka panjang yang bisa didapatkan, yakni
meningkatkan literasi yang dimiliki sebelumnya atau less literate menjadi well
literate, serta meningkatkan jumlah penggunaan produk atau layanan jasa
keuangan. Literasi keuangan juga mampu membuat seseorang mengelola dan
juga mengambil setiap peluang untuk bisa mendapatkan kehidupan yang lebih
sejahtera di masa depan. Selain itu, literasi keuangan pun mampu membantu
setiap individu dalam membuat keputusan utamanya yang berkaitan dengan
pengambilan keputusan untuk berinvestasi ataupun menabung.
Menurut Chen dan Volpe terdapat 4 aspek dalam financial literacy. Berikut ini
adalah empat aspek dalam literasi keuangan, yaitu:
1. Pemahaman Pengetahuan Dasar Tentang Keuangan Pribadi
Aspek pertama pada literasi keuangan adalah memahami beberapa hal
yang erat kaitannya dengan pengetahuan dasar tentang finansial
pribadi.
2. Tabungan Dan Pinjaman
Aspek kedua pada literasi keuangan adalah berkaitan dengan pinjaman
dan tabungan, seperti misalnya penggunaan kartu kredit.
3. Asuransi
Aspek selanjutnya dalam literasi keuangan adalah pengetahuan dasar
pada asuransi dan berbagai produknya, seperti asuransi kesehatan,
asuransi jiwa, kendaraan, dll.
4. Investasi
Aspek terakhir pada literasi keuangan adalah pengetahuan terkait
investasi, seperti pengetahuan tentang risiko investasi, sukuk bunga
pasar, dll.
Literasi keuangan memiliki lima domain (Remund, 2010), yaitu:
1. Pengetahuan tentang konsep keuangan
2. Kemampuan untuk berkomunikasi tentang konsep keuangan
3. Kemampuan untuk mengelola keuangan pribadi
4. Kemampuan dalam membuat keputusan keuangan
Bab 8 Financial Literacy versus Financial Behavior 91
5. keyakinan untuk membuat perencanaan keuangan masa depan.
Menurut Lusardi (2008) literasi keuangan mencakup lima konsep keuangan,
yaitu:
1. Pengetahuan Dasar Mengenai Keuangan Pribadi (Basic Personal
Finance)
Konsep ini mencakup berbagai pemahaman seseorang terhadap suatu
system keuangan (perhitungan tingkat bunga sederhana, bunga
majemuk, tingkat inflasi, nilai waktu uang, modal kerja dan lain-lain).
2. Pengetahuan Mengenai Manajemen Uang (Money Management)
Konsep ini mencakup bagaimana setiap individu dapat mengelola dan
menganalisis keuangan pribadi mereka. Pemahaman literasi keuangan
yang baik memberikan praktek keuangan yang baik pula pada
pengelolaan keuangan setiap individu. Dalam hal ini, setiap individu
juga diarahkan tentang bagaimana menyusun anggaran dan membuat
prioritas penggunaan dana yang tepat sasasaran agar bisa membuat
keputusan yang tepat dan bisa mengatur dan mengelola keuangan
dengan baik.
3. Pengetahuan mengenai Kredit dan Utang (Credit and Debt
Management)
Menurut UU No 10 Tahun 1998 tentang perubahan atas UU No 7
Tahun 1992 tentang perbankan, kredit ialah penyediaan uang atau
tagihan yang dapat disamakan, berdasarkan persetujuan atau
kesepakatan antar bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
meminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan pemberian bunga. Sedangkan manajemen utang merupakan
konsep proses pembayaran utang yang melibatkan pihak ketiha untuk
membantu peminjam utang. Konsep ini mencakup bagaimana setiap
individu dapat memanfaatkan kredit dan utang saat mengalami
kekurangan dana. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan setiap
individu yang mengakibatkan ketidakseimbangan terhadap
pengeluaran dan pendapatan, maka setiap individu dapat
menggunakan kredit dan utang sebagai solusi masalah tersebut.
92 Financial Behavior
4. Pengetahuan Mengenai Tabungan dan Investasi (Saving and
Investment)
Tabungan merupakan bagian dari pendapatan masyarakat yang tidak
di pergunakan untuk kegiatan konsumsi, sedangkan investasi
merupakan bagian dari tabungan yang dipergunakan untuk kegiatan
ekonomi yang menguntungkan dalam menghasilkan produk berupa
barang dan jasa.
5. Pengetahuan Mengenai Risiko (Risk Management)
Secara umum risiko yang dihadapi oleh setiap individu antara lain:
a. Risiko akibat kematian, kecelakaan ataupun penyakit (Risiko
Personal).
b. Tanggungjawab terhadap kerugian ekonomi orang lain akibat
kelalaian kita (Risiko Kewajiban).
c. Risiko atas rusak atau kehilangan asset yang dimiliki (Risiko
Aset).
Cara menangani risiko akan berpengaruh terhadap keamanan finansial dimasa
yang akan datang. Salah satu cara tepat yang yang dapat menanggulangi risiko
tersebut yaitu dengan mengasuransikan asset dan hal-hal berisiko. Literasi
keuangan sangat diperlukan dalam memilih asuransi asset sebagai pengelola
risiko tersebut dan menghindari risiko tambahan yang mungkin akan terjadi.
8.2 Financial Behavior
Financial behavior dianggap salah satu konsep yang terpenting di dalam bidang
keuangan. Menurut Dai (2016) mengatakan bahwa financial behavior sebagai
faktor kognitif dari seseorang yang dapat memengaruhi keputusan. Sedangkan
secara keseluruhan dijelaskan oleh Yohana (2018) financial behavior
merupakan suatu tindakan dalam pengambilan keputusan keuangan ataupun
tanggung jawab dalam bidang keuangan. Sedangkan menurut Kristofik (2018),
ia mengatakan bahwa financial behavior tersebut merupakan suatu hal yang
berkaitan dengan efektivitas manajemen dana. Financial behavior adalah suatu
kemampuan seseorang yang dimilikinya dalam mengatur perencanaan
keuangan, pengelolaan keuangan, pengendalian keuangan, pemeriksaan
Bab 8 Financial Literacy versus Financial Behavior 93
keuangan, pengendalian keuangan, dan bagaimana penyimpanan keuangan
dalam dana sehari-hari (Herdjiono & Damanik, 2016).
Financial behavior adalah perilaku yang berkaitan dengan praktek atau aplikasi
keuangan (Bestari, 2012). Financial Behavior berhubungan dengan bagaimana
seseorang dapat mengelola dan menggunakan sumber daya keuangan yang ada
padanya (Sadalia, 2012). Sedangkan menurut Simon (2011), Financial behavior
adalah suatu disiplin ilmu yang di dalamnya melekat interaksi berbagai disiplin
ilmu dan secara terus menerus berintegrasi sehingga pembahasannya tidak
dilakukan isolasi.
Perilaku Keuangan mempelajari bagaimana manusia secara aktual berperilaku
dalam sebuah penentuan keuangan. Khususnya, mempelajari bagaimana
psikologi memengaruhi keputusan keuangan, perusahaan dan pasar keuangan
(Nofsinger & Baker, 2010). Konsep yang diuraikan secara jelas menyatakan
bahwa perilaku keuangan merupakan sebuah pendekatan yang menjelaskan
bagaimana manusia melakukan investasi atau berhubungan dengan keuangan
dipengaruhi oleh faktor psikologi.
Dalam Financial Behavior juga terdapat tiga aspek yang memengaruhi yaitu
(Simon, 2011):
1. Aspek Psikologi
Aspek psikologi berkenaan dengan tingkah laku manusia baik selaku
individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah
laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak,
tingkah laku yang disadari maupun tidak disadari.
2. Aspek Sosiologi
Aspek Sosiologi berkenaan dengan kehidupan dan perilaku, terutama
dalam kaitannya dengan suatu system social dan bagaimana system
tersebut memengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat
di dalammnya memengaruhi system tersebut.
3. Aspek Keuangan
Aspek keuangan berkaitan dengan pengelolaan uang yang akan
berpengaruh pada kehidupan individu maupun organisasi. Dalam hal
ini keuangan berkaitan dengan proses, instrument, pasar serta lembaga
apapun yang terlibat di dalam perpindahan atau transfer uang, baik
antar perorangan, bisnis maupun pemerintah.
94 Financial Behavior
8.3 Hubungan Financial Literacy dan
Financial Behavior
Robb dan James (2009) menyatakan bahwa literasi keuangan yang mencukupi
membuat perilaku keuangan seseorang menjadi lebih baik. Keputusan tersebut
terjadi karena adanya pemahaman yang memadai tentang suatu aspek yang
dapat membantu seseorang dalam membuat keputusan terbaik dari berbagai
alternatif yang tersedia. Dengan memiliki financial literacy yang tinggi tentu
perilaku keuangannya dalam pembuatan keputusan dan pengelolaan
keuangannya juga akan baik sehingga risiko kerugian dimasa depan dapat
diminimalisir dengan memanfaatkan instrumen keuangan yang beredar saat ini
dengan baik seperti memanfaatkan asuransi, melakukan investasi, menabung
untuk masa depan, dan tidak melakukan pinjaman melebihi kemampuan.
Berbeda dengan individu yang memiliki tingkat financial literacy rendah tentu
perilaku keuangannya dalam pembuatan keputusan dan pengelolaan
keuangannya akan cenderung salah karena pengetahuan keuangan yang
terbatas. Hal ini tentu akan menyebabkan merugi akibat tidak dapat
memanfaatkan instrumen keuangan yang beredar saat ini yang sebenarnya
mendorong karyawan menjadi lebih konsumtif.
Menurut Chen (2008), financial literacy memiliki hubungan yang positif dengan
financial behaviour. Pengaruh faktor demografi terhadap financial literacy
masyarakat dalam Financial Practice Index berdasarkan perilaku empat variabel
yaitu: Manajemen arus kas, manajemen kredit, tabungan dan perilaku investasi,
selanjutnya index tersebut dibandingkan dengan skor financial literacy, dan
ditemukan bahwa orang dengan tingkat financial literacy yang lebih tinggi
memiliki financial practice index yang lebih tinggi.
Kondisi ini mengindikasikan adanya hubungan postif antara financial behaviour
dengan financial literacy. Hubungan financial behaviour dan financial literacy
belum dapat dipastikan arah sebab akibatnya, dalam arti peningkatan financial
literacy yang menyebabkan semakin baik, atau efektifnya financial behavior
atau sebaliknya. Namun Banyak penelitian yang mengatakan bahwa financial
behavior ini harus digabungkan dengan financial literacy dikarenakan dengan
ilmu financial behavior ini merupakan gabungan dari teori behavioral dengan
cognitive sehingga terjadi mengapa seseorang membuat tindakan keuangan
secara irasional.
Bab 8 Financial Literacy versus Financial Behavior 95
8.4 Perbedaan Financial Literacy dan
Financial Behavior
Chen dan Volpe (1998) menunjukkan bahwa pengetahuan keuangan seseorang
dapat memepengaruhi opini dan keputusan [Link] demikian,
memiliki financial literacy menjadi sangat penting agar masalah-masalah
keuangan yang muncul saat ini seperti penipuan investasi bodong, keterlibatan
hutang yang terlampau besar merupakan karena rendahnya literasi keuangan
dapat diminimalisir.
Chen & Volpe (1998) menganalisis faktor-faktor yang menjadi pembeda tingkat
literasi keuangan dan perilaku keuangan pada mahasiswa dan hubungan antara
financial literacy dengan financial behavior. Faktor-faktor yang digunakan pada
penelitian nya merupakan faktor demografi yang memiliki peran pentingdalam
menentukan tingkat financial literacy pada setiap individu.
Faktor demografi yang digunakan di antaranya adalah gender, usia, tingkat
pendidikan, dan pengalaman bekerja.
1. Perbedaan tingkat financial literacy berdasarkan gender
Caplan (1987) menyatakan bahwa gender merupakan karakteristik
kepribadian seseorang yang memberikan peran sesuai dengan gender
yang dimilikinya. Setiap individu dengan karakter yang berbeda tentu
menghasilkan keputusan yang berbeda-beda dalam pengelolaan
keuangannya berdasarkan pemahaman pengetahuan yang dimilikinya.
Mosse (2007) menyatakan bahwa perempuan lebih mengandalkan
emosi daripada logika sehingga dalam memahami pengetahuan
mereka hanya akan menerima pengetahuan yang mereka anggap benar
sesuai dengan emosinya saja, akibatnya tidak semua pengetahuan
dapat dipahami dengan sempurna. Berbeda dengan pria yang lebih
mengedepankan logika daripada emosinya sehingga pemahaman
tentang pengetahuan dapat diterima lebih baik dibanding perempuan.
Penelitian yang dilakukan Chen dan Volpe (1998), Huissen (2009),
Bhusan dan Medury (2013) menemukan adanya perbedaan tingkat
financial literacyantara pria dan wanita di mana pria memiliki financial
literacy yang lebih tinggi daripada perempuan.
96 Financial Behavior
2. Perbedaan tingkat financial literacy berdasarkan usia
Menurut Erfandi (2009) usia memengaruhi daya tangkap dan pola
pikir seseorang. Usia yang berbeda yang dimiliki tiap individu tentu
akan membuat keputusan yang berbeda-beda sesuai pola pikir dan
daya tangkap akan pengetahuan yang dimilikinya.
Pada tahun 2011, Yates [Link] menyatakan bahwa dengan meningkatnya
umur seseorang, semakin meningkat pula pengetahuan seseorang
karena daya tangkap dan pola pikirnya akan semakin berkembang.
Semakin bertambahnya umur akan semakin banyak hal yang dipelajari
oleh seseorang baik dari segi pengalaman maupun akses pembelajaran
dari lingkungan sosial.
Chen dan Volpe (1998), Haque dan Zulfiqar (2016) menemukan
adanya perbedaan tingkat financial literacy berdasarkan usia di mana
seseorang dengan usia lebih matang memiliki financial lebih tinggi
dibanding dengan seseorang dengan usia muda.
3. Perbedaan tingkat financial literacy berdasarkan tingkat Pendidikan
Cumming (2007) menyatakan bahwa tingkat pendidikan menentukan
daya nalar seseorang. Tingkat pendidikan terakhir yang berbeda-beda
pada setiap individu tentu akan membuat keputusan menjadi berbeda-
beda sesuai dengan daya nalar yang mereka miliki untuk memahami
pengetahuan. Semakin tinggi tingkat pendidikan memungkinkan
individu untuk menyerap informasi-informasi dan berpikir secara
rasional dalam menanggapi informasi atas setiap masalah yang
dihadapi karena pengetahuan yang dimilikinya luas.
Penelitian yang oleh Huissen (2009), Bhusan dan Medury (2013),
Miftah dan Muat (2014), Haque dan Zulfiqar (2016) yang menemukan
adanya perbedaan tingkat financial literacy berdasarkan tingkat
pendidikan di mana individu dengan tingkat pendidikan yang tinggi
juga memiliki financial literacy yang lebih tinggi dibandingkan dengan
individu yang tingkat pendidikannya rendah.
4. Perbedaan tingkat financial literacy berdasarkan pengalaman bekerja
Erfandi (2009) menyatakan bahwa pengalaman bekerja merupakan
sumber pengetahuan atau suatu cara untuk memperoleh kebenaran
Bab 8 Financial Literacy versus Financial Behavior 97
pengetahuan. Dengan demikian semakin lama pengalaman dalam
bekerja maka pengetahuan yang dimiliki juga semakin banyak karena
seiring karyawan melakukan pekerjaannya, ia juga akan memperoleh
pengetahuan secara langsung sehingga pengetahuannya terus
bertambah.
Penelitian yang dilakukan oleh Chen dan Volpe (1998) dan Mandell
(2008) menemukan adanya perbedaan tingkat financial literacy
berdasarkan pengalaman bekerja di mana individu dengan pengalaman
bekerja yang banyak memiliki tingkat financial literacy yang tinggi
dibanding dengan individu yang pengalaman kerjanya sedikit
98 Financial Behavior
Bab 9
Keterkaitan Financial Attitude,
Financial Behavior & Financial
Knowledge
9.1 Sikap Keuangan (Financial Attitude)
Perilaku keuangan haruslah mengarah pada perilaku keuangan yang
bertanggungjawab sehingga seluruh keuangan baik individu maupun keluarga
dapat dikelola dengan baik. Perilaku keuangan masyarakat Indonesia yang
cenderung konsumtif kemudian menimbulkan berbagai perilaku keuangan yang
tidak bertanggungjawab lainnya seperti kurangnya kegiatan menabung,
investasi, perencanaan dana darurat dan penganggaran dana untuk masa depan.
Perilaku keuangan sangat erat kaitannya dengan perilaku konsumsi masyarakat.
Individu dengan pendapatan yang besar belum tentu dapat mengatur
pengeluarannya dengan baik. Secara umum, apabila seseorang bertambah
pendapatannya, maka pengeluarannya ikut bertambah, terkadang melebihi
pendapatannya (kholilah dan Iramani, 2013). Hal tersebut terjadi disebabkan
oleh salah satunya adalah perubahan gaya hidup. Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
mengatakan masyarakat Indonesia semakin konsumtif dan mulai meninggalkan
kebiasaan menabung (Herdjiono dan Damanik, 2016).
100 Financial Behavior
Attitude keuangan atau financial attitude yang dimiliki oleh seseorang akan
membantu individu tersebut dalam menentukan sikap dan berperilaku mereka
dalam hal keuangan, baik dalam hal pengelolaan keuangan, penganggaran
keuangan pribadi, atau bagaimana keputusan individu mengenai bentuk
investasi yang akan diambil (Budiono, 2015).
Sedangkan dalam sikap pengelola keuangan yang baik dimulai dengan
mengaplikasikan sikap keuangan yang baik pula. Tanpa menerapkan sikap yang
baik dalam keuangan, sulit untuk memiliki surplus keuangan untuk tabungan
masa depan, apalagi memiliki modal investasi. Dalam melakukan pengelolaan
keuangan haruslah ada perencanaan keuangan untuk mencapai tujuan,baik
tujuan jangka pendek maupun jangka panjang. Media pencapaian tujuan
tersebut dapat melalui tabungan investasi,atau pengalokasian dana. Dengan
pengelolaan keuangan yang baik, maka tidak akan terjebak pada perilaku
berkeinginan yang tak terbatas.
Sikap mengacu bagaimana seseorang merasa tentang masalah keuangan
pribadi, yang diukur dengan tanggapan atas sebuah pernyataan atau opini
Herdjiono dan Damanik (2016).
Sikap memiliki 3 (tiga) komponen utama yang terdiri dari (Budiono, 2015):
1. Kognitif. Kognitif merupakan suatu opini atau keyakinan dari sikap
yang menentukan tingkatan untuk sesuatu atau bagian yang lebih
penting dari sikap.
2. Afektif. Afektif (Perasaan) adalah emosional yang berada dalam diri
setiap individu. Perasaan juga diartikan sebagai pernyataan dari sikap
yang diambil dan ikut menentukan perilaku yang akan diambil oleh
setiap individu.
3. Perilaku. Perilaku atau tindakan adalah cerminan dari bagaimana
individu berperilaku dalam sesuatu atau seseorang.
Setiap individu yang selalu menerapkan financial attitude di dalam
kehidupannya akan mempermudah individu tersebut dalam menentukan sikap
dan berperilaku dalam hal keuangan, seperti mengelola keuangan, menyusun
anggaran pribadi dan membuat keputusan berinvestasi yang tepat. Financial
attitude yang dimiliki oleh seseorang akan membantu individu tersebut dalam
menentukan sikap dan perilaku mereka dalam hal keuangan, baik dalam hal
Bab 9 Keterkaitan Financial Attitude, Financial Behavior & Financial Knowledge 101
pengelolaan keuangan, penganggaran keuangan pribadi, atau bagaimana
keputusan individu mengenai bentuk investasi yang akan diambil.
Setiap individu yang selalu menerapkan financial attitude di dalam
kehidupannya akan mempermudah individu tersebut dalam menentukan sikap
dan berperilaku dalam hal keuangan. Attitude keuangan atau financial attitude
yang dimiliki oleh seseorang akan membantu individu tersebut dalam
menentukan sikap dan berperilaku mereka dalam hal keuangan, baik dalam hal
pengelolaan keuangan, penganggaran keuangan pribadi, atau bagaimana
keputusan individu mengenai bentuk investasi yang akan diambil. Sedangkan
dalam sikap pengelola keuangan yang baik dimulai dengan mengaplikasikan
sikap keuangan yang baik pula.
Tanpa menerapkan sikap yang baik dalam keuangan, sulit untuk memiliki
surplus keuangan untuk tabungan masa depan, apalagi memiliki modal
investasi. Dalam melakukan pengelolaan keuangan haruslah ada perencanaan
keuangan untuk mencapai tujuan,baik tujuan jangka pendek maupun jangka
panjang. Media pencapaian tujuan tersebut dapat melalui tabungan investasi,
atau pengalokasian dana. Dengan pengelolaan keuangan yang baik, maka tidak
akan terjebak pada perilaku berkeinginan yang tak terbatas 4
Herdjiono dan Damanik (2016) menyatakan bahwa ada suatu hubungan antara
financial attitude dan tingkat masalah keuangan. Dengan demikian dapat
dikatakan bahwa sikap keuangan seseorang juga berpengaruh terhadap cara
seseorang mengatur perilaku keuangannya.
Financial attitude dapat dicerminkan oleh enam konsep berikut, yaitu:
1. Obsession,merujuk pada pola pikir seseorang tentang uang dan
persepsinya tentang masa depan untuk mengelola uang dengan baik.
2. Power, yaitu merujuk pada seseorang yang menggunakan uang sebagai
alat untuk mengendalikan orang lain dan menurutnya uang dapat
menyelesaikan masalah.
3. Effort, merujuk pada seseorang yang merasa pantas memiliki uang dari
apa yang sudah dikerjakannya.
4. Inadequacy, merujuk pada seseorang yang selalu merasa tidak cukup
memiliki uang
5. Retention, merujuk pada seseorang yang memiliki kecenderungan
tidak ingin menghabiskan uang
102 Financial Behavior
6. Security, merujuk pada pandangan seseorang yang sangat kuno
tentang uang seperti anggapan bahwa uang lebih baik hanya disimpan
sendiri tanpa ditabung di Bank atau untuk investasi.
9.2 Pengetahuan Keuangan (Financial
Knowledge)
Pengetahuan mengacu pada apa yang diketahui individu tentang masalah
keuangan pribadi, yang diukur dengan tingkat pengetahuan mereka tentang
berbagai konsep keuangan pribadi. Financial knowledge, adalah penguasaan
seseorang atas berbagai hal tentang dunia keuangan (Kholilah dan Iramani,
2013).
Pengetahuan keuangan berkaitan dengan apa yang diketahui seseorang akan
masalah keuangan pribadi, yang diukur dengan tingkat pengetahuan mereka
mengenai berbagai konsep keuangan pribadi (Marsh, 2006) dalam Herdjiono
dan Damanik (2016). Financial knowledge juga dapat diartikan sebagai
penguasaan seseorang mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan segala hal
mengenai keuangan.
Menurut Chen dan Volpe (1998) dalam Permana (2017), pengetahuan keuangan
adalah pengetahuan dalam mengelola keuangan untuk pengambilan keputusan
keuangan. Financial knowledge mencakup berbagai aspek keuangan, di
antaranya mengenai pengetahuan dasar seseorang akan keuangan pribadi, cara
mengelola hutang, cara mengelola risiko keuangan, dan mengenai tabungan dan
investasi.
Menurut Humaira dan Sagoro (2018) Pengetahuan keuangan merupakan segala
sesuatu tentang keuangan yang telah dialami atau pun yang terjadi dalam
kehidupan sehari-hari. Pengetahuan keuangan juga dapat diartikan dengan
penguasaan seseorang mengenai segala hal tentang keuangan, yang terdiri dari
financial tools dan financial skills. Adapun indikator yang digunakan untuk
variabel ini, yaitu pengetahuan manajemen keuangan, pengetahuan tentang
perencanaan keuangan, pengetahuan tentang pengeluaran dan pemasukan,
pengetahuan uang dan aset, pengetahuan tentang suku bunga, pengetahuan
tentang kredit, pengetahuan dasar tentang asuransi, pengetahuan tentang
Bab 9 Keterkaitan Financial Attitude, Financial Behavior & Financial Knowledge 103
macam-macam asuransi, pengetahuan dasar tentang investasi, pengetahuan
investasi deposito, pengetahuan investasi pada saham, pengetahuan investasi
pada obligasi, dan pengetahuan investasi pada properti.
Edukasi mengenai tata kelola keuangan personal berdampak positif bagi mereka
yang memiliki fasilitas keuangan seperti kartu kredit dan rekening di bank.
Pemahaman mengenai cara mengelola dan merencanakan keuangan ini
membuat 89 persen orang Indonesia merasa lebih optimistis menghadapi masa
depan dengan kemandirian finansialnya (Herdjiono dan Damanik, 2016). Orang
yang memiliki pengetahuan keuangan yang lebih baik akan memiliki perilaku
keuangan seperti membayar semua tagihan tepat waktu, membukukan
pengeluaran setiap bulan, dan memiliki dana darurat. Peningkatan pengetahuan
meningkatkan perilaku (Yulianti dan Silvy, 2013).
Pada perkembangannya, pengetahuan mengenai keuangan mulai diperkenalkan
diberbagai jenjang pendidikan. Terdapat berbagai sumber pengetahuan yang
dapat diperoleh, termasuk pendidikan formal, seperti program sekolah tinggi
atau kuliah, seminar dan kelas pelatihan di luar sekolah, serta sumber-sumber
informal, seperti dari orang tua, teman, dan lingkungan pekerjaan. Untuk
menangani personal finance secara sistematis dan berhasil maka diperlukan
pengetahuan.
Pengetahuan keuangan mempunyai hubungan yang erat dengan financial
literacy atau edukasi keuangan. Financial literacy menggambarkan program
pendidikan keuangan dengan mempelajari keterampilan tertentu sehingga
individu memiliki kemampuan untuk mengendalikan masa depan keuangan
mereka. Komponen financial literacy, didefinisikan sebagai kemampuan untuk
membuat keputusan sederhana mengenai kontrak utang, khususnya bagaimana
menerapkan pengetahuan dasar tentang bunga, diukur dalam konteks pilihan
keuangan sehari-hari.
Orang yang memiliki pengetahuan keuangan yang lebih baik akan memiliki
perilaku keuangan seperti membayar semua tagihan tepat waktu, membukukan
pengeluaran setiap bulan, dan memiliki dana darurat. Peningkatan pengetahuan
meningkatkan perilaku (Yulianti dan Silvy, 2013).
Menurut Chen dan Volpe (1998), pengetahuan keuangan atau literasi keuangan
adalah pengetahuan untuk mengelola keuangan dalam pengambilan keputusan
keuangan. Financial knowledge atau financial literacy mencakup beberapa
aspek dalam keuangan, yaitu pengetahuan dasar mengenai keuangan pribadi
(basic personal finance), manajemen uang (money management), manajemen
104 Financial Behavior
kredit dan utang (credit and debt management), tabungan dan investasi (saving
and investment), serta manajemen risiko (risk management).
1. Pengetahuan Dasar mengenai Keuangan Pribadi (Basic Personal
Finance).
Pengetahuan dasar mengenai keuangan pribadi mencakup pemahaman
terhadap beberapa hal-hal yang paling dasar dalam sistem keuangan
seperti perhitungan tingkat bunga sederhana, bunga majemuk,
pengaruh inflasi, oportunity cost, nilai waktu dari uang, likuiditas suatu
aset dan lain-lain.
2. Manajemen Uang.
Aspek ini mencakup bagaimana seseorang mengelola uang yang
dimilikinya serta kemampuan menganalisis sumber pendapatan
pribadinya. Manajemen uang juga terkait dengan bagaimana seseorang
membuat prioritas penggunaan dana serta membuat anggaran.
3. Manajemen Kredit dan Utang.
Ada kalanya seseorang mengalami kekurangan dana sehingga harus
memanfaatkan kredit maupun utang. Semakin tingginya kebutuhan
dan tuntutan hidup mengakibatkan tidak semua pengeluaran dapat lagi
dibiayai dengan pendapatan, seperti rumah dan kendaraan dan biaya
pendidikan. Menggunakan kredit maupun utang dapat menjadi
pertimbangan untuk mengatasi hal tersebut. Dengan sumber
pendanaan berupa kredit maupun utang, individu dapat mengkonsumsi
barang dan jasa pada saat ini, dan membayarnya di masa yang akan
datang. Dalam kondisi tertentu, kredit dan utang bisa menguntungkan,
misalnya kredit atau utang ke bank yang digunakan untuk membangun
rumah atau properti, sebab harga properti dapat mengimbangi inflasi,
atau pun pinjaman untuk membeli alat-alat produksi dan modal kerja
lain yang produktif. Pengetahuan yang cukup yang mencakup faktor-
faktor yang memengaruhi kelayakan kredit, pertimbangan dalam
melakukan pinjaman, karakteristik kredit konsumen, tingkat bungan
pinjaman, jangka waktu pinjaman, sumber utang maupun kredit dan
lain lain sangat dibutuhkan agar dapat menggunakan kredit dan utang
secara bijaksana.
Bab 9 Keterkaitan Financial Attitude, Financial Behavior & Financial Knowledge 105
4. Tabungan dan Investasi.
Tabungan (saving) merupakan bagian pendapatan masyarakat yang
tidak digunakan untuk konsumsi. Masyarakat yang mempunyai
penghasilan lebih besar dari kebutuhan konsumsi akan mempunyai
kesempatan untuk menabung. Investasi (investment) adalah bagian
dari tabungan yang digunakan untuk kegiatan ekonomi menghasilkan
barang dan jasa (produksi) yang bertujuan mendapatkan keuntungan.
Jika tabungan besar, maka akan digunakan untuk kegiatan
menghasilkan kembali barang dan jasa (produksi).
5. Manajemen Risiko.
Risiko bisa didefenisikan sebagai ketidakpastian atau kemungkinan
adanya kerugian finansial. Respon tiap individu berbeda-beda terhadap
risiko, tergantung pengalaman masa lalu serta motivasi psikologis.
Kebanyakan individu cenderung menghindari situasi yang
menimbulkan rasa tidak aman ataupun tidak berkecukupan. Oleh
karena itu, penting untuk dapat menghadapi risiko dengan cara yang
logis dan terkendali.
Kurangnya pengetahuan tentang prinsip-prinsip manajemen keuangan dan
masalahmasalah keuangan bisa menyebabkan kondisi keuangan individu atau
keluarga menjadi tidak teratur. Untuk memiliki pengetahuan keuangan maka
perlu mengembangkan keahlian yang diketahui mengenai keuangan seperti
pencatatan uang masuk dan uang keluar. Keahlian keuangan adalah sebuah
teknik untuk membuat keputusan manajemen keuangan (Yulianti dan Silvy,
2013). Pengetahuan keuangan itu penting, tidak hanya bagi kepentingan
individu saja. Pengetahuan keuangan tidak hanya mampu membuat anda
menggunakan keuangan dengan bijak, namun juga dapat memberi manfaat pada
ekonomi. Pengetahuan keuangan mempunyai kekuasaan untuk mengubah
dunia.
Orang yang memiliki pengetahuan keuangan yang lebih baik akan memiliki
perilaku keuangan seperti membayar semua tagihan tepat waktu, membukukan
pengeluaran setiap bulan, dan memiliki dana darurat. Peningkatan pengetahuan
meningkatkan perilaku. Seseorang dapat memperoleh pengetahuan karena
melakukan menyimpan dan mengumpulkan kekayaan, atau dimungkinkan
karena memiliki pengalaman keuangan keluarga. Kebanyakan orang mencari
106 Financial Behavior
suatu kehidupan yang berkualitas dan keamanan keuangan. Masyarakat
menginginkan untuk bisa membuat keputusan yang cerdas tentang bagaimana
mengatur pengeluaran dan investasi dan akhirnya memperoleh suatu tingkat
kekayaan. Pendekatan praktis untuk mendapatkan tujuan yang ingin dicapai ini
melibatkan pembelajaran mengenai aktivitas keuangan spesifik yang dihadapi
yaitu pencatatan dan penganggaran, perbankan dan penggunaan kredit,
simpanan dan pinjaman, pembayaran pajak, membuat pengeluaran utama
(seperti rumah dan mobil), membeli asuransi, investasi, dan rencana pensiun.
Untuk memiliki Financial Knowledge maka perlu mengembangkan financial
skill. Financial skill sebuah teknik untuk membuat keputusan dalam personal
financial management. Menyiapkan sebuah anggaran, memilih investasi,
memilih rencana asuransi, dan menggunakan kredit adalah contoh dari financial
skill (Kholilah dan Iramani, 2013). Terdapat berbagai sumber melalui
pengetahuan yang dapat diperoleh, semua pada berbagai tingkat kualitas atau
[Link] termasuk pendidikan formal,seperti program sekolah tinggi atau
kuliah, seminar dan kelas pelatihan di luar sekolah, serta sumber-sumber
informal, seperti dari orangtua, teman, dan bekerja.
Pengetahuan keuangan adalah dasar faktor kritis dalam pengambilan keputusan
[Link] banyak konsumen mungkin memiliki kapasitas yang kuat
mengatur pembelian dan sangat peduli tentang kesejahteraan keuangan,
masyarakat mungkin masih kekurangan pengetahuan dan wawasan yang
diperlukan untuk membuat keputusan keuangan yang bijaksana. Semakin baik
pengetahuan tentang keuangan makin semakin baik pula dalam mengelola
keuangan.
9.3 Pengaruh Financial Attitude
terhadap Financial Management
Behavior
Sikap mengacu pada bagaimana seseorang merasa tentang masalah keuangan
pribadi, yang diukur dengan tanggapan atas sebuah pernyataan atau opini.
Sementara, financial management behavior mengacu pada bagaimana
seseorang berperilaku dalam kaitannya dengan hal keuangan pribadi,diukur
dengan tindakan individu tersebut.
Bab 9 Keterkaitan Financial Attitude, Financial Behavior & Financial Knowledge 107
Marsh (2006) menyatakan bahwa perilaku keuangan pribadi seseorang timbul
dari sikap keuangannya, individu yang tidak bijaksana dalam menanggapi
masalah keuangan pribadinya cenderung memiliki perilaku keuangan yang
buruk. Masalah keuangan atau Financial distress. Financial distress dapat
dialami oleh individu juga. Banyak orang berjuang secara finansial dengan
mengharapkan gaji namun tetap mengalami kesulitan keuangan. Sama halnya
dengan perusahaan, pemicu ketidakcukupan finansial pada individu dapat
disebabkan oleh manajemen keuangan yang buruk.
Di bawah ini adalah beberapa pemicu ketidak cukupan finansial yang paling
umum terjadi pada individu:
1. Kehilangan atau berkurangnya pendapatan. Siapa saja bisa mengalami
penurunan pendapatan secara tiba-tiba. Contohnya, ketika perusahaan
gulung tikar yang mengakibatkan individu tersebut dipecat sehingga
menganggur dan tidak mendapat penghasilan. Dalam situasi krisis
ekonomi yang parah, kondisi keuangan bisa menjadi semakin sulit di
mana Sobat Pintar harus berjuang untuk membayar pengeluaran
sehari-hari seperti biaya sewa rumah, listrik, makanan, dan lainnya.
2. Biaya pengeluaran tak terduga. Pengeluaran besar tak terduga seperti
jika jatuh sakit, memperbaiki mobil rusak, atau mengalami musibah
dapat menjadi pemicu umum dari ketidakcukupan finansial.
3. Perceraian Perceraian adalah salah satu pemicu ketidakcukupan
finansial yang paling sering terjadi. Faktanya, perceraian merupakan
beban finansial yang sering dialami kedua belah pihak sehingga.
4. Kegagalan dalam mengelola keuangan. Bahkan orang yang
berpenghasilan tinggi pun bisa mengalami ketidakcukupan finansial
jika gagal mengelola uangnya dengan baik. Pengeluaran melonjak
yang menyebabkan tagihan kartu kredit tinggi dapat menyebabkan
seseorang kesulitan secara finansial. Penting halnya untuk
menganggarkan dan mengelola uang Sobat Pintar dengan hati-hati.
Menurut Furnham (1984), Sikap keuangan membentuk cara orang
menghabiskan, menyimpan, menimbun, dan melakukan pemborosan uang.
Sikap keuangan berpengaruh terhadap masalah keuangan seperti terjadinya
tunggakan pembayaran tagihan dan kurangnya penghasilan untuk memenuhi
kebutuhan. Pemikiran jangka pendek serta tidak adanya kemauan untuk
108 Financial Behavior
menabung merupakan faktor-faktor sikap yang dapat menimbulkan masalah
keuangan (Madern dan Schors, 2012).
Berdasarkan penjelasan di atas dapat dikatakan bahwa sikap keuangan memiliki
pengaruh terhadap bagaimana seseorang mengatur perilaku keuangannya.
Tidak menutup kemungkinan bagi perusahaan mengalami ketidakcukupan
finansial, bahkan perusahaan yang dikelola dengan baik sekali pun.
ketidakcukupan finansial dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut:
1. Situasi di luar kendali perusahaan Situasi ekonomi tidak terduga dapat
mengakibatkan penurunan pendapatan perusahaan. Contohnya saja
dalam masa pandemi Covid-19 dan kebijakan PSBB oleh pemerintah,
banyak usaha dan toko offline yang terkena dampaknya.
2. Kenaikan suku bunga yang signifikan Sebuah perusahaan bisa saja
mengambil pinjaman besar dengan tingkat bunga yang dapat
disesuaikan. Dalam situasi tertentu, kenaikan suku bunga yang tajam
dapat secara signifikan meningkatkan biaya perusahaan untuk
membayar kembali pinjamannya. Hal inilah yang akhirnya
menyebabkan masalah keuangan bagi perusahaan atau organisasi.
3. Kegagalan manajemen Sering kali sebuah perusahaan mengalami
ketidakcukupan finansial akibat kegagalan manajemen. Para eksekutif
mungkin membebani perusahaan secara finansial dengan meminjam
uang untuk mendanai operasional. Jika uang pinjaman tidak
menghasilkan peningkatan pendapatan atau keuntungan dengan cukup
cepat, maka perusahaan mungkin mulai berjuang untuk memenuhi
pembayaran utangnya.
4. Strategi pemasaran yang buruk Keputusan buruk terkait pemasaran
atau penetapan harga juga dapat menyebabkan ketidakcukupan
finansial bagi perusahaan. Kampanye iklan mahal yang tidak
mendatangkan penjualan, atau perubahan yang tidak efektif pada
produk atau struktur harga dapat menyebabkan hilangnya penjualan
Penganggaran yang buruk, ketidakmampuan untuk menagih piutang
pada waktu yang tepat (yang dapat menyebabkan masalah arus kas
yang parah), dan praktik akuntansi yang buruk adalah pemicu potensial
lainnya dari kesulitan keuangan.
Bab 9 Keterkaitan Financial Attitude, Financial Behavior & Financial Knowledge 109
9.4 Pengaruh Financial Knowledge
terhadap Financial Management
Behavior
Pengaruh Financial Knowledge terhadap Financial Management Behavior
Pengetahuan mengacu pada apa yang diketahui individu tentang masalah
keuangan pribadi, yang diukur dengan tingkat pengetahuan mereka tentang
berbagai konsep keuangan pribadi (Marsh, 2006). Pengetahuan seseorang
tentang keuangan pribadi (melek finansial) berpengaruh pada perilaku keuangan
(Sabri et al, 2008). Hung et al (2009), mengatakan seseorang dengan
pengetahuan keuangan rendah cenderung tidak memahami masalah keuangan,
kurang dalam melakukan perilaku keuangan yang baik dan kurang terampil
dalam menghadapi guncangan ekonomi.
Financial knowledge tidak hanya mampu membuat seseorang menggunakan
uang dengan bijak, namun juga dapat memberi manfaat pada ekonomi.
Seseorang dengan pengetahuan finansial lebih tinggi mampu membuat
keputusan yang baik bagi keluarga mereka dan dengan demikian berada dalam
posisi untuk meningkatkan keamanan ekonomi dan kesejahteraan mereka,
selain itu seseorang yang berpengetahuan keuangan yang membuat pilihan
informasi sangat penting untuk sebuah pasar yang efektif dan efisien (Hilgert
dan Hogarth, 2003). Seseorang dengan financial knowledge akan lebih
memahami masalah keuangan serta lebih baik dalam hal perilaku keuangannya.
Sehingga,semakin baik pengetahuan tentang keuangan maka semakin baik pula
seseorang dalam mengelola keuangannya.
110 Financial Behavior
Bab 10
Financial Behavior and
Financial Performance pada
Usaha Kecil Menengah
10.1 Financial Performance
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (2017), definisi literasi keuangan adalah
pengetahuan, keyakinan, dan keterampilan yang memengaruhi sikap dan
perilaku untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan pengelolaan
keuangan untuk mencapai kemakmuran. Menurut Otoritas Jasa Keuangan
Indonesia (OJK) (2018), tingkat literasi masyarakat Indonesia dapat dibagi
menjadi empat bagian. Pengukuran literasi keuangan dapat diukur dengan
menggunakan beberapa indikator.
Menurut Chen dan Volpe, literasi keuangan memiliki empat indikator
pengetahuan umum tentang keuangan, simpan pinjam, asuransi, dan investasi.
Literasi keuangan tidak hanya mengacu pada pengetahuan keuangan, tetapi juga
kemampuan individu untuk secara efektif dan efisien mengelola dan membuat
keputusan ekonomi untuk keuntungan masa depan. Seorang pelaku ekonomi
dengan tingkat literasi keuangan yang tinggi akan mampu mengelola keuangan
112 Financial Behavior
perusahaan dengan baik, mengakses sumber keuangan, dan menjaga
keberlangsungan usaha (Puspitaningtyas, 2017).
Tujuan literasi keuangan tidak hanya membelanjakan pendapatan yang
diperoleh untuk barang dan jasa yang tidak membutuhkannya, tetapi juga untuk
investasi yang lebih produktif dan akan mendatangkan keuntungan besar di
masa depan. Literasi keuangan memegang peranan penting dalam Kehidupan
Bisnis tidak hanya bagi pelaku usaha tetapi juga bagi lembaga keuangan.
Perilaku keuangan adalah sebuah paradigma di mana pasar uang dipelajari
melalui cara penggunaan mode khusus Von Neumann-Morgenstern ini adalah
prinsip perangkat lunak yang diantisipasi dan asumsi arbitrase. Secara khusus,
perilaku moneter memiliki perspektif: psikologi kognitif dan batas-batas
arbitrase. Kognitif mengacu pada bagaimana orang. Perilaku pengendalian
moneter seseorang terkait dengan pengetahuan moneternya. Perilaku
pengendalian keuangan dianggap sebagai salah satu ide kunci dalam disiplin
moneter. Banyak definisi yang diberikan mengenai konsep ini. Mengusulkan
tindakan pengendalian moneter karena penentuan, perolehan, alokasi, dan
penggunaan sumber daya moneter, biasanya dengan tujuan rata-rata. Ada yang
menjelaskan perilaku pengendalian moneter sebagai tempat pengambilan
keputusan moneter, menyelaraskan alasan individu dan tujuan bisnis
perusahaan.
Menyikapi perilaku keuangan biasanya mencakup lima konsep utama.
1. Akuntansi Mental: Akuntansi mental mengacu pada kecenderungan
orang untuk mengalokasikan uang untuk tujuan tertentu.
2. Perilaku Kawanan: Perilaku kawanan menyatakan bahwa orang
cenderung meniru sebagian besar perilaku ekonomi kawanan. Harding
terkenal di pasar saham karena menyebabkan reaksi yang dramatis dan
terjual habis.
3. Kesenjangan Emosional: Kesenjangan emosional adalah keputusan
yang didasarkan pada emosi ekstrem atau tekanan emosional seperti
ketakutan, kemarahan, kecemasan , atau agitasi. Emosi seringkali
menjadi alasan utama orang tidak membuat keputusan yang rasional.
4. Tetap: Tetap berarti menambahkan tingkat pengeluaran tertentu ke
referensi tertentu. Contohnya adalah pembelanjaan yang konsisten
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 113
berdasarkan tingkat anggaran, atau rasionalisasi pembelanjaan
berdasarkan manfaat kepuasan yang berbeda.
5. Deskripsi diri: Deskripsi diri mengacu pada kecenderungan untuk
membuat keputusan berdasarkan terlalu percaya diri pada pengetahuan
dan kemampuan seseorang. Penilaian diri biasanya didasarkan pada
bakat khusus untuk area tertentu. Dalam kategori ini, individu
cenderung menghargai pengetahuan mereka lebih dari yang lain,
bahkan jika mereka secara objektif kurang.
Pelaku usaha yang rela menabung di bank setelah terlebih dahulu menyimpan
uang di lemari dan akhirnya mengetahui dan memahami produk-produk industri
jasa keuangan. Jadi salah satu produknya adalah dari ekonomi, yang juga
bermanfaat bagi lembaga keuangan. Operator dalam permintaan. Kinerja
perusahaan adalah representasi lengkap dari keadaan perusahaan selama suatu
periode sebagai akibat atau kinerja yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional
perusahaan dalam penggunaan sumber daya (Srimindarti, 2004).
Ada beberapa faktor yang memengaruhi kinerja UKM. Ini termasuk:
1. Faktor internal yang terdiri dari sumber daya manusia, keuangan,
pemasaran, dan operasional.
2. Faktor eksternal terdiri dari informasi terkait kondisi pasar, kondisi
sosial, ekonomi dan budaya sekitar UKM, kebijakan ekonomi dalam
negeri, dan ketersediaan bahan baku dari pemasok ( Purwaningsih &
Kusuma , 2015).
Kinerja Perusahaan merupakan besaran kinerja yang dicapai Perusahaan setelah
secara kolektif melakukan berbagai kegiatan. Dalam berbagai tinjauan literatur
tentang kinerja, fokusnya tampak pada profitabilitas dan pertumbuhan
pelanggan ketika membahas kinerja secara keseluruhan. Profitabilitas adalah
indikator terbaik apakah hal yang benar. Ada beberapa faktor yang
memengaruhi kegiatan usaha kecil. Menurut Munizu (2010), indikator kinerja
UKM adalah: 1) pertumbuhan pendapatan, 2) pertumbuhan modal atau
keuangan, 3) pertumbuhan angkatan kerja, 4) pertumbuhan pasar yang luas, 5)
keuntungan tingkat pertumbuhan. Klasifikasi motif lain yang ditemukan dalam
literatur adalah motif peluang/kebutuhan. Klasifikasi ini menjelaskan cara-cara
di mana pengusaha didorong untuk terlibat dalam aktivitas kewirausahaan.
114 Financial Behavior
Kinerja bisnis suatu perusahaan merepresentasikan besar kecilnya pencapaian
perusahaan setelah melakukan berbagai kegiatan secara menyeluruh. Berbagai
tinjauan literatur tentang kinerja perusahaan tampaknya berfokus pada
profitabilitas dan pertumbuhan pelanggan ketika membahas kinerja perusahaan
secara keseluruhan. Profitabilitas adalah indikator terbaik apakah perusahaan
telah melakukan sesuatu dengan benar. Ini menyatakan bahwa kebiasaan
memiliki dampak negatif pada kinerja keuangan. Lapangan memiliki sedikit
dampak negatif pada kinerja keuangan.
Perusahaan memiliki banyak pemangku kepentingan, termasuk kreditur
perdagangan, pemegang obligasi, investor, karyawan, dan pemilik bisnis. Setiap
kelompok memiliki kepentingan yang unik dalam melacak kinerja keuangan
perusahaan. Kinerja keuangan menunjukkan seberapa baik perusahaan
menghasilkan pendapatan dan mengelola aset, kewajiban, dan kepentingan
ekonomi perusahaan induk dan pemegang sahamnya. Ada banyak cara untuk
mengukur kinerja keuangan dan perlu melakukan semua tindakan bersama-
sama. Kita dapat menggunakan item seperti laba operasi, laba operasi, dan arus
kas operasi, serta total penjualan per unit. Selain itu, analis atau investor
mungkin ingin menggali lebih dalam laporan keuangan untuk pertumbuhan
margin atau pengurangan utang. Metode Six Sigma berfokus pada aspek ini.
Usaha Kecil Menengah (UKM) merupakan salah satu aspek yang sangat
diperhatikan saat ini. Jika UKM dikelola dan diarahkan dengan baik,
kemungkinan akan meningkatkan pendapatan dan menarik lebih banyak tenaga
kerja sehingga pengangguran akan berkurang dan pada akhirnya perekonomian
negara akan membaik. Kinerja keuangan yang baik tentunya dipengaruhi oleh
faktor-faktor tertentu. Dalam hal ini peneliti mengambil Perilaku Keuangan dan
Kinerja Keuangan pada Usaha Kecil Menengah. Perilaku manajemen keuangan
dianggap sebagai salah satu konsep inti disiplin keuangan. Banyak definisi yang
diberikan untuk konsep ini. Menelusuri tindakan manajemen keuangan, seperti
mengidentifikasi, memperoleh, mendistribusikan, dan menggunakan sumber
daya keuangan untuk tujuan bersama secara umum. Perilaku manajemen
keuangan dianggap sebagai salah satu konsep inti disiplin keuangan. Banyak
definisi yang diberikan untuk konsep ini. Mengusulkan tindakan manajemen
keuangan, seperti mengidentifikasi, memperoleh, mendistribusikan, dan
menggunakan sumber daya keuangan untuk tujuan bersama secara umum.
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 115
10.2 Financial Performance pada Usaha
Kecil Menengah
Di Australia, Usaha Kecil dan Menengah (UKM) didefinisikan sebagai
perusahaan dengan kurang dari 200 karyawan. Seperti yang ditulis Welsh dan
White dalam artikel terkenal mereka “Bisnis kecil bukanlah bisnis besar yang
kecil”, perusahaan besar cenderung beroperasi di lingkungan yang relatif ramah
di mana tingkat pertumbuhannya kecil dan ada “ekuilibrium perkiraan” di mana
“arus kas sama dengan laba bersih. ditambah penyusutan dan amortisasi”.
Keberhasilan atau kegagalan usaha mikro, kecil dan menengah (UKM)
bergantung pada kelangsungan keuangan mereka dan salah satu masalah paling
umum yang dihadapi perusahaan tersebut adalah kemampuan mereka untuk
mengamankan arus kas yang cukup dan modal kerja untuk tetap
menguntungkan. Manajemen keuangan di UKM sering berbeda dari yang
ditemukan di perusahaan besar karena sifat siklus arus kas yang lebih dinamis,
kurangnya modal kerja secara umum, dan kemampuan mereka untuk
meningkatkan keuangan melalui utang atau ekuitas.
UKM dituntut untuk menghasilkan produk yang memiliki daya saing tinggi
dengan kriteria antara lain:
1. produk tersedia secara teratur dan berkesinambungan
2. produk harus memiliki kualitas yang baik dan seragam
3. produk dapat disediakan secara besar-besaran
Tanda-tanda kinerja keuangan keseluruhan juga disebut tanda-tanda kinerja
keseluruhan utama (KPI), adalah pengukuran terukur yang digunakan untuk
menentukan, melacak, dan menetapkan kesejahteraan keuangan suatu
perusahaan. Mereka bertindak sebagai peralatan untuk setiap orang dalam
perusahaan (seperti kontrol dan anggota dewan) dan orang luar (seperti analis
studi dan investor) untuk menyelidiki seberapa baik kinerja perusahaan
khususnya dalam hal pesaing dan memahami di mana letak kekuatan dan
kelemahannya.
116 Financial Behavior
Tanda-tanda kinerja keseluruhan moneter maksimum yang digunakan secara
luas meliputi:
1. Laba kotor/margin laba kotor: jumlah penjualan yang dihasilkan dari
pendapatan setelah dikurangi biaya produksi, dan jumlah proporsi
yang diperoleh perusahaan sesuai dengan pendapatan greenback.
2. Laba bersih/margin pendapatan internet: jumlah penjualan dari
pendapatan setelah dikurangi semua biaya dan pajak perusahaan
terkait, dan rasio pendapatan terkait sesuai dengan pendapatan
greenback.
3. Modal kerja: segera didapat atau terutama dana likuid, digunakan
untuk membiayai operasi sehari-hari.
4. Aliran koin operasi: jumlah uang tunai yang dihasilkan dengan
bantuan penggunaan operasi perusahaan biasa.
5. Rasio lancar: tingkat solvabilitas—properti penuh dibagi dengan
bantuan penggunaan kewajiban umum.
6. Debt-to-fairness ratio: kewajiban umum perusahaan dibagi dengan
bantuan menggunakan keadilan pemegang sahamnya.
7. Rasio cepat: beberapa tingkat solvabilitas lainnya, yang menghitung
proporsi properti modern yang sangat likuid (koin, surat berharga,
piutang utang) terhadap kewajiban umum.
8. Perputaran persediaan: bagaimana banyak stok ditawarkan dalam
periode positif, dan seberapa sering seluruh stok menjadi ditawarkan.
9. Pengembalian keadilan: pendapatan internet dibagi dengan
menggunakan keadilan pemegang saham (properti perusahaan
dikurangi hutangnya).
Sektor yang digeluti oleh perusahaan-perusahaan ini menawarkan layanan yang
terus berubah. Dapat dikatakan bahwa, saat ini, teknologi informasi digunakan
hampir oleh semua orang dan perusahaan yang terlibat dalam kegiatan bisnis
lainnya, dan mereka memperoleh posisi signifikan mereka di pasar. Itulah
mengapa perlu fokus pada analisis entitas bisnis yang memperoleh keuntungan
hanya dari teknologi informasi. Oleh karena itu, akan sangat menarik untuk terus
mengamati perubahan kinerja keuangan perusahaan di sektor ini dan
mengidentifikasi aspek-aspek penting untuk mencapai kinerja tinggi.
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 117
Dari banyak kasus yang ditemukan, kegagalan perusahaan disebabkan oleh
kesalahan yang dilakukan manajemen dalam mengelola keuangannya yang
menyebabkan penderitaan keuangan yang tertinggal tidak dapat dihentikan dan
berakhir dengan kehancuran (Asri, 2015). Mirip dengan manajemen keuangan
sebagai fungsi perusahaan besar, UMKM juga menghadapi keputusan
keuangan berikut: Pembiayaan, pembiayaan, manajemen aset. Beberapa
literatur eksternal adalah hasil survei yang beragam tentang dampak hubungan
antara praktik manajemen keuangan dan kinerja UKM dalam pengaturan yang
berbeda. Namun literatur Indonesia jarang membahasnya terutama UMKM dan
khususnya bagi UMKM yang menangani makanan olahan.
Veeraraghavan (2018) menyatakan bahwa praktik manajemen keuangan
memiliki hubungan positif dengan kinerja keuangan di mana keputusan
keuangan yang baik mengarah pada peningkatan kinerja keuangan. Bilal dkk.
(2017) Hasil survei pada UKM di Spanyol dan UKM di Pakistan menunjukkan
bahwa manajemen struktur modal dan manajemen modal kerja berkorelasi
signifikan dengan kinerja keuangan. Pengelolaan struktur modal modal kerja
yang optimal dapat memberikan nilai tambah bagi suatu perusahaan untuk
memenuhi kebutuhan bisnisnya. Manajemen modal kerja penting untuk
profitabilitas bisnis, tetapi UKM sering terhambat oleh kesulitan akses dana
yang lebih baik dan manajemen modal kerja UKM yang lebih baik, semakin
tidak diperlukan.
Usaha kecil memiliki sumber daya yang terbatas di mana fungsi dan tugas
seorang manajer menyatu menjadi satu yang sering dilakukan oleh pemilik
usaha. Sedangkan fungsi manajer dalam bisnis besar telah dipilah-pilah menurut
struktur dan strategi perusahaan. Manajemen keuangan dalam bisnis Anda
mencakup keputusan yang terkait dengan: Penggunaan sumber daya keuangan
secara efisien dalam produksi dan penjualan barang atau jasa (Melicher &
Norton, 2016). Keputusan pengelolaan keuangan meliputi keputusan investasi
dan Pengambilan Keputusan Pembiayaan serta Keputusan Wealth Management
(Kasmir, 2017). Keputusan manajemen aset sangat relevan untuk manajemen
aset yang efisien. Aset likuid dan tetap. Praktik manajemen modal kerja yang
baik dapat menghasilkan praktik manufaktur dan proses pemasaran yang baik.
Beberapa perusahaan tidak menerima pinjaman jangka pendek calon Kepailitan.
Ketidaksesuaian antara aset dan sumber pendanaan kebangkrutan lebih
mungkin terjadi antara kas masuk dan kas keluar dalam pengelolaan modal kerja
terjadi. Keputusan pembiayaan adalah keputusan tentang jumlah dana yang
tersedia perusahaan, terlepas dari bentuk hutang atau modal.
118 Financial Behavior
Modal yang dibutuhkan biasanya digunakan untuk membeli peralatan, membeli
persediaan, membayar gaji, dan memberikan dukungan yang memadai. Kas
dalam operasi bisnis sampai kita dapat mendukung arus kas yang membutuhkan
pendapatan. Untuk memenuhi modal mereka, orang dapat menggunakan modal
sendiri dan mencari dukungan modal dari keluarga dan teman, menyediakan
atau mengumpulkan dana untuk bisnis Anda dengan keluarga dan teman dari
luar atau modal ventura.
Keputusan investasi terkait dengan jumlah aset Anda. Selanjutnya, tempatkan
konfigurasi masing-masing aset, seperti jumlah yang akan dialokasikan kas, aset
tetap atau aset lainnya. Berinvestasi dalam aset Profitabilitas yang solid Investasi
di pabrik, infrastruktur, dapat menggunakan peralatan dan pelatihan untuk
menyediakan produk untuk dijual guna menghasilkan keuntungan dan uang
tunai. Masuk dan meningkatkan nilai perusahaan. Kinerja keuangan adalah
pencapaian hasil di berbagai kegiatan. Keputusan untuk mencapai tujuan
keuangan. Ada tiga kategori modal untuk memberikan kontribusi perusahaan
yaitu modal finansial, modal sosial, dan modal manusia. Salah satu hal yang
harus diperhatikan perusahaan untuk memperoleh laba adalah kepemilikan
Modal yang cukup (Hatten, 2012).
Optimalisasi modal juga membantu perusahaan tumbuh menjadi produktif dan
berkembang. Salah satu cara untuk mendapatkan tambahan modal adalah
dengan mengajukan permodalan lembaga keuangan. Berdasarkan penjelasan
sebelumnya, ada beberapa tanda kesulitan dalam mengakses permodalan
UMKM Lebak . Deputi Perbendaharaan Banyaknya koperasi dan UKM
menjelaskan alasan akses keuangan bagi UKM tidak ideal. Karena tantangan
literasi keuangan (Jannah, 2015). Literasi keuangan yang rendah membuat
orang cacat Karena banyak situasi perbankan yang sulit. Mengapa Dinas
Perdagangan memiliki persentase yang rendah mayoritas UKM bergerak di
bidang pengelolaan keuangan, sehingga UKM tidak bisa dipercaya.
Meski demikian, keuangan pribadi tidak dapat dipisahkan dari keuangan
perusahaan (BPS, 2019). Literasi secara umum diartikan sebagai kemampuan
membaca dan menulis. UNESCO menyatakan bahwa ketimpangan rentan
terhadap kemiskinan (UNESCO, 2005). “Salah satu elemen penting dari literasi
adalah literasi ekonomi atau literasi keuangan.” (Soetiono & Setiawan, 2018).
Dengan adanya literasi keuangan diharapkan masyarakat dapat memperoleh
kesejahteraan keuangan dan menghasilkan produktivitas yang tinggi. Lembaga
internasional OECD menggunakan tiga komponen untuk mengukur literasi
keuangan, yaitu pengetahuan keuangan, perilaku keuangan, dan sikap
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 119
keuangan. Masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui dan memahami
lembaga keuangan, produk atau jasa. Masyarakat juga diharapkan mengalami
perubahan sikap dan perilaku keuangan. Mempromosikan tujuan keuangan,
rencana keuangan, keputusan keuangan, dan manajemen keuangan yang lebih
baik.
“Manajemen keuangan adalah tindakan untuk mencapai tujuan keuangan masa
depan. Pengelolaan keuangan pribadi, pengelolaan keuangan keluarga dan
pengelolaan keuangan perusahaan. (Bank Indonesia, 2014). “Manajemen
keuangan dikenal sebagai bagian dari pengelolaan keuangan untuk mencapai
tujuan tertentu. (Asri, 2015). UKM relatif berbeda dengan perusahaan besar.
UKM memiliki sumber daya yang terbatas, di mana memiliki fungsi dan
kewajiban manajer menyatu dengan apa yang sering dilakukan oleh pemilik
bisnis. Sementara itu, fungsi manajemen perusahaan besar diklasifikasikan
berdasarkan struktur perusahaan. Dan strategi. Manajemen keuangan dalam
bisnis Anda mencakup keputusan yang terkait dengan: Penggunaan sumber
daya keuangan secara efisien dalam produksi dan penjualan barang atau jasa
(Melicher & Norton, 2016). Keputusan pengelolaan keuangan meliputi
keputusan investasi dan pengambilan keputusan pembiayaan serta keputusan
pengelolaan kekayaan (Kasmir, 2017).Manajemen keuangan yang baik dapat
menciptakan nilai bagi perusahaan melalui pengelolaan investasi, pengelolaan
struktur modal, dan pengelolaan modal yang efektif . keputusan investasi ketika
berinvestasi dalam aktivitas yang memberikan lebih banyak.
Untuk mengelola investasi Anda dalam bisnis Anda, Anda memerlukan hasil
bisnis. Tentang permodalan, modal yang cukup diperlukan untuk mendanai
operasi bisnis sedangkan terkait dengan struktur, manajemen kerja yang efektif
diperlukan untuk meningkatkan manajemen permodalan dan produktivitas
perusahaan. Itu dipertahankan dan ditingkatkan lebih lanjut. Perusahaan-
perusahaan ini perlu memanfaatkan leverage dan mengevaluasi apa yang
menyediakan struktur modal yang optimal. Maksimalkan nilai perusahaan
Anda. Dengan cara ini, UMKM terus memainkan peran penting. Pertumbuhan
ekonomi. Survei ini juga menyoroti kebutuhan pengusaha dan pemegang
saham. Gunakan informasi kinerja keuangan untuk membuat keputusan bisnis
yang penting dan penting. risiko yang terkait dengan profitabilitas menegaskan
perlunya wirausahawan untuk menangani alat dan teknik alat untuk kontrol
keuangan Anda yang lebih baik. Selain itu, pengusaha perlu menghubungkan
kinerja keuangan mereka dengan lingkungan eksternal perusahaan yang lebih
besar. Peneliti masa depan dapat fokus pada ukuran sampel yang lebih besar dan
120 Financial Behavior
cakupan geografis yang lebih luas. Selain itu, perbandingan kinerja UMKM di
negara juga dapat menjadi Masalah karakteristik keuangan kinerja keuangan
dibawa ke perspektif UMKM karena berbagai alasan, misalnya Pembiayaan
UMKM, agunan, biaya awal keuangan, kewajiban kontinjensi biaya hukum dan
transaksi biaya.
Kinerja Keuangan dalam arti yang lebih luas mengacu pada sejauh mana tujuan
keuangan telah dicapai dan merupakan aspek penting dari manajemen risiko
keuangan. Ini adalah proses mengukur hasil kebijakan dan operasi perusahaan
dalam istilah moneter. Ini digunakan untuk mengukur kesehatan keuangan
perusahaan secara keseluruhan selama periode waktu tertentu dan juga dapat
digunakan untuk membandingkan perusahaan serupa di industri yang sama atau
untuk membandingkan industri atau sektor secara agregasi. Anda dapat melihat
posisi untuk periode waktu tertentu, seperti di neraca, atau serangkaian aktivitas
selama periode waktu tertentu, seperti di laporan laba rugi. Oleh karena itu,
istilah "laporan keuangan" umumnya mengacu pada dua laporan dasar: neraca
dan laporan laba rugi.
Neraca menunjukkan status keuangan perusahaan pada titik waktu tertentu.
Menyediakan snapshot yang dapat ditampilkan sebagai gambar diam. "Neraca
adalah ringkasan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu dan
menunjukkan total aset = total kewajiban + modal." Laporan laba rugi (disebut
laporan laba rugi di India) adalah sebuah perusahaan. Ini mencerminkan kinerja
dari. Sebaliknya, selama periode yang ditentukan. "Laporan laba rugi adalah
ringkasan pendapatan dan beban operasional perusahaan untuk suatu periode
yang berakhir dengan laba atau rugi bersih untuk periode tersebut." Ini sangat
berguna dalam menyoroti dua faktor utama: profitabilitas dan kondisi keuangan.
Memberikan informasi. Kas dalam operasi bisnis sampai kita dapat mendukung
arus kas yang membutuhkan pendapatan. Untuk memenuhi modal mereka,
orang dapat menggunakan modal sendiri dan mencari dukungan modal dari
keluarga dan teman, menyediakan atau mengumpulkan dana untuk bisnis Anda
dengan keluarga dan teman dari luar atau modal usaha ( Melicher & Norton,
2016). Keputusan investasi berkaitan dengan jumlah aset Anda. Selanjutnya,
tempatkan konfigurasi masing-masing aset, seperti jumlah yang akan
dialokasikan kas , aset tetap atau aset lainnya ( Kasmir , 2017). Berinvestasi
dalam aset Profitabilitas yang solid ( Vinturella & Erickson, 2013).
Investasi di pabrik, infrastruktur, dapat menggunakan peralatan dan pelatihan
untuk menyediakan produk untuk dijual untuk menghasilkan keuntungan dan
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 121
uang tunai. Masuk dan meningkatkan nilai perusahaan. Kinerja keuangan
adalah pencapaian hasil di berbagai kegiatan. Keputusan untuk mencapai tujuan
keuangan. Ada tiga kategori modal untuk memberikan kontribusi perusahaan
yaitu modal finansial, modal sosial, dan modal manusia ( Sanistasya et al.,
2019).
Salah satu hal yang harus diperhatikan perusahaan untuk memperoleh laba
adalah kepemilikan. Kinerja bisnis suatu perusahaan merepresentasikan besar
kecilnya pencapaian perusahaan setelah melakukan berbagai kegiatan secara
menyeluruh. Berbagai tinjauan literatur tentang kinerja perusahaan tampaknya
berfokus pada profitabilitas dan pertumbuhan pelanggan ketika membahas
kinerja perusahaan secara keseluruhan. Profitabilitas adalah indikator terbaik
apakah perusahaan telah melakukan sesuatu dengan benar. Ini menyatakan
bahwa kebiasaan memiliki dampak negatif pada kinerja keuangan. Lapangan
memiliki sedikit dampak negatif pada kinerja keuangan. Pengetahuan Anda
tentang cara melakukan pengelolaan keuangan mungkin masih minim sehingga
kinerja keuangan yang dihasilkan tidak maksimal. tetapi ini belum pasti, karena
signifikansinya sangat tinggi sehingga menjadi jelas bahwa medannya tidak
signifikan.
Tujuan literasi keuangan tidak hanya membelanjakan pendapatan yang
diperoleh untuk barang dan jasa yang tidak membutuhkannya, tetapi juga untuk
investasi yang lebih produktif dan akan mendatangkan keuntungan besar di
masa depan. Literasi keuangan memegang peranan penting dalam Kehidupan
Bisnis tidak hanya bagi pelaku usaha tetapi juga bagi lembaga keuangan. Pelaku
usaha yang rela menabung di bank setelah terlebih dahulu menyimpan uang di
lemari dan akhirnya mengetahui dan memahami produk-produk industri jasa
keuangan. Jadi salah satu produknya adalah dari ekonomi, yang juga bermanfaat
bagi lembaga keuangan. Operator dalam permintaan. Kinerja perusahaan adalah
representasi lengkap dari keadaan perusahaan selama periode sebagai akibat
atau kinerja yang dipengaruhi oleh kegiatan operasional perusahaan.
Faktor-faktor yang Berkaitan dengan Biaya dan Penetapan Harga Barang dan
Jasa adalah Analisis Gender Pendapatan. Evaluasi kinerja keuangan termasuk
kegiatan utama setiap perusahaan sambil mengevaluasi keadaan saat ini dan
membandingkannya dengan tujuan. Istilah kinerja dapat dicirikan sebagai
kemampuan perusahaan untuk menghargai. Jenis analisis dapat mencakup
survei spesifik perusahaan.
122 Financial Behavior
Evaluasi kinerja keuangan termasuk kegiatan utama setiap perusahaan sambil
mengevaluasi keadaan saat ini dan membandingkannya dengan tujuan. Istilah
kinerja dapat dicirikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghargai
investasi yang diberikan ke dalam kegiatan bisnis. Pertumbuhan ekonomi.
Gunakan informasi kinerja keuangan untuk membuat keputusan bisnis yang
penting dan penting. risiko yang terkait dengan profitabilitas menegaskan
perlunya wirausahawan untuk menangani alat dan teknik alat untuk kontrol
keuangan Anda yang lebih baik. Selain itu, pengusaha perlu menghubungkan
kinerja keuangan mereka dengan lingkungan eksternal perusahaan yang lebih
besar. Peneliti masa depan dapat fokus pada ukuran sampel yang lebih besar dan
cakupan geografis yang lebih luas. Selain itu, perbandingan negara terhadap
kinerja UMKM juga dapat menjadi masalah karakteristik keuangan kinerja
keuangan.
10.3 Peranan Financial Performance
pada Usaha Menengah
Literasi keuangan tidak hanya membelanjakan pendapatan yang diperoleh
untuk barang dan jasa yang tidak membutuhkannya, tetapi juga untuk investasi
yang lebih produktif dan akan mendatangkan keuntungan besar di masa depan.
Literasi keuangan memegang peranan penting dalam Kehidupan Bisnis tidak
hanya bagi pelaku usaha tetapi juga bagi lembaga keuangan. Pelaku usaha yang
rela menabung di bank setelah terlebih dahulu menyimpan uang di lemari dan
akhirnya mengetahui dan memahami produk-produk industri jasa keuangan.
Jadi salah satu produknya adalah dari ekonomi, yang juga bermanfaat bagi
lembaga keuangan.
Beberapa solusi potensial untuk masalah UMKM antara lain peningkatan
literasi keuangan, pengusaha UMKM. Literasi keuangan terkait dengan
pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan di bawah ini: Pengelolaan
keuangan yang lebih baik. Pengelola atau pemilik UMKM membutuhkan
literasi sumber daya keuangan yang memadai untuk pengelolaan keuangan
bisnis yang tepat. Perilaku keuangan dapat dianalisis dari perspektif yang
berbeda. Pengembalian pasar saham adalah sektor keuangan di mana perilaku
psikologis sering dianggap memengaruhi hasil dan pengembalian pasar, tetapi
ada juga berbagai sudut pandang. Tujuan dari klasifikasi adalah untuk
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 123
memahami mengapa orang membuat keputusan keuangan tertentu dan
bagaimana keputusan tersebut memengaruhi pasar.
Dalam lingkup keuangan perilaku, diasumsikan bahwa profesional keuangan
cenderung berpengaruh secara psikologis, agak normal dan dikelola sendiri,
daripada sepenuhnya rasional dan dikelola sendiri. Analisis kinerja keuangan
melihat perusahaan pada titik waktu tertentu (biasanya kuartal fiskal terakhir
atau tahun fiskal). Neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas adalah tiga
laporan keuangan terpenting yang digunakan dalam analisis kinerja. Analisis
kinerja keuangan dapat fokus pada area yang berbeda. Jenis analisis dapat
mencakup survei spesifik perusahaan. Modal Kerja: Perbedaan Aset Likuid
Perusahaan seperti kewajiban lancar struktur keuangan: kombinasi hutang dan
modal yang digunakan oleh perusahaan untuk mendanai bisnis. Analisis
Aktivitas: Faktor-Faktor Yang Berkaitan dengan Biaya dan Penetapan Harga
Barang dan Jasa Analisis Gender, Pendapatan. Evaluasi kinerja keuangan
termasuk kegiatan utama setiap perusahaan sambil mengevaluasi keadaan saat
ini.
Pengaruh intensitas modal yang besar harus diimbangi dengan kebiasaan
pengelolaan keuangan agar dapat menghasilkan kinerja yang optimal. Oleh
karena itu, pemerintah perlu memberi perhatian lebih dalam pembinaan dan
pengembangan UKM. Bagi peneliti selanjutnya, disarankan untuk
menggunakan lebih banyak indikator untuk melihat kinerja keuangan
penduduk, terutama di wilayah pesisir yang membutuhkan perhatian lebih untuk
meningkatkan kualitas hidup. Berdasarkan wawasan di tempat, sebagian besar
pemilik bisnis memiliki pengalaman kerja. Dengan pengalaman mereka,
mereka sangat siap untuk menjalankan kegiatan bisnis. Pengalaman dapat
membantu dalam menjalankan perusahaan, sehingga pemilik usaha tidak harus
menghadapi banyak kesulitan dalam menjalankan perusahaan. Pengalaman
juga diharapkan dapat mengarah pada peningkatan dan pertumbuhan bisnis.
Badan Jasa Keuangan Indonesia yang meningkatkan literasi keuangan
memungkinkan masyarakat untuk memutuskan apa yang benar. Produk dan
jasa keuangan dibutuhkan dan ditingkatkan. Status keuangan yang dibutuhkan
oleh pemilik UMKM, tanggung jawab yang lebih besar dalam meningkatkan
literasi keuangan mereka. Terlepas dari literasi keuangan dan teknologi
keuangan, perilaku keuangan juga dianggap sebagai faktor kunci dalam
menentukan kesuksesan bisnis. Perilaku finansial adalah kemampuan seseorang
untuk mengatur dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Merencanakan,
menganggarkan, mengaudit, mengelola, mengontrol, mencari, dan menyimpan.
124 Financial Behavior
Tidak semua literasi indikator keuangan terkait erat dengan indikator lainnya,
dan hasil yang dilaporkan dalam penelitian ini mungkin mencerminkan fakta
tersebut. Literasi keuangan itu penting dan mungkin terkait dengan pencatatan,
kinerja, atau manajemen risiko.
Selain dari hal yang telah diuraikan di atas, Suriani dkk. (2018) menyatakan
bahwa budgetary slack berpengaruh negatif pada kinerja organisasi termasuk
dalam kinerja UKM, serta asimetri informasi memperkuat pengaruh tersebut.
Suriani dkk. (2017) juga menyatakan bahwa penganggaran partisipatif memiliki
efek positif pada senjangan anggaran.
10.4 Mengenal Financial Management
Behavior
Financial management behavior adalah kemampuan seseorang dalam mengatur
yaitu perencanaan, penganggaran, pemeriksaan, pengelolaan, pengendalian,
pencarian dan penyimpanan dana keuangan sehari-hari (Herdjiono dan
Damanik, 2016). Munculnya financial management behavior, merupakan
dampak dari besarnya hasrat seseorang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
sesuai dengan tingkat pendapatan yang diperoleh.
Financial management behavior seseorang dapat dilihat dari empat hal, yaitu:
1. Konsumsi (Consumption) Konsumsi, adalah pengeluaran oleh rumah
tangga atas berbagai barang dan jasa (Herdjiono dan Damanik, 2016).
Financial management behavior seseorang dapat dilihat dari
bagaimana ia melakukan kegiatan konsumsinya seperti apa yang di
beli seseorang dan mengapa ia membelinya.
2. Manajemen Arus Kas (Cash-flow management) Arus kas merupakan
indikator utama dari kesehatan keuangan yaitu ukuran kemampuan
seseorang untuk membayar segala biaya yang dimilikinya, manajemen
arus kas yang baik adalah tindakan penyeimbangan, masukan uang
tunai dan pengeluaran. Cash flow management dapat diukur dari
apakah seseorang membayar tagihan tepat waktu, memperhatikan
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 125
catatan atau bukti pembayaran dan membuat anggaran keuangan dan
perencanaan masa depan.
3. Tabungan dan Investasi (Saving and investment) Tabungan dapat
didefinisikan sebagai bagian dari pendapatan yang tidak dikonsumsi
dalam periode tertentu. Karena seseorang tidak tahu apa yang akan
terjadi di masa depan, uang harus disimpan untuk membayar kejadian
tak [Link], yakni mengalokasikan atau menanamkan
sumberdaya saat ini dengan tujuan mendapatkan manfaat di masa
mendatang (Herdjiono dan Damanik, 2016).
4. Manajemen Kredit (Credit management) Komponen terakhir dari
financial management behavior adalah credit management atau
manajemen utang. Manajemen utang adalah kemampuan seseorang
dalam memanfaatkan utang agar tidak membuat anda mengalami
kebangkrutan, atau dengan lain kata yaitu atau pemanfaatan utang
untuk meningkatkan kesejahteraannya.
Jika dilihat dari 4 (empat) hal financial behavior seseorang makan perbankan
adalah sebuah jawaban. Perbankan memberikan solusi bagi para pelaku usaha
untuk mengatasi kesulitan keuangan usahanya. Kesulitan keuangan adalah
situasi di mana seseoang tidak dapat memenuhi kewajiban keuangan atas
usahanya. Orang yang telah mengalami kesulitan keuangan akan lebih berhati-
hati dalam menggunakan keuangan usaha mereka. Aktivitas pelayanan kredit
dianggap sangat penting dan strategis dalam perbankan mengakibatkan
pengelolaan kredit menjadi titik perhatian utama bagi manajemen sehingga
tujuan utama pengelolaan kredit adalah agar bank dapat memaksimalkan
kesehatan kinerja dari bank itu sendiri dengan cara meningkatkan kuantitas dan
kualitas kredit.
Kuantitas kredit dilihat dan dinilai dari jumlah dan tingkat pertumbuhan kredit
yang disalurkan, sedangkan kualitas kredit secara sederhana dan singkat dapat
di ukur dari jumlah dan porsi kredit macet atau bermasalah. Usaha sektor
perbankan sangat berperan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi negara
sejalan dengan perkembangan ekonomi, maka bank berjuang sebagai nilai
penyangsa yang mengangkat pertumbuhan ekonomi yang tersebar yang
semakin luas yang merambat disemua bidang usaha masyarakat sebagai mitra
yang mengakomodir dan mengusulkan kebutuhan dana masyarakat bahkan
pemerintah pada umumnya.
126 Financial Behavior
Sejalan dengan kebijaksanaan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan
ekonomi masyarakat dengan jalan mempermudah perijinan-perijinan sebagai
landasan utama berguna bagi dunia usaha serta mendorong pertumbuhan
wirausaha diseluruh lapisan masyarakat, maka disektor perbankan pemerintah
menindak lanjuti prosedur restrukturisasi perbankan yang dicanangkan sejak
tahun 1998 berdasarkan Undang-undang No 10 tahun 1998 tentang perbankan
telah menunjukkan hasil yang positif, di mana kondisi perbankan meningkat
hingga sekarang ini, hal ini terlihat dengan menguatnya struktur permodalan,
menurunnya jumlah kredit bermasalah, serta meningkatnya jumlah kredit
kepada dunia usaha yang pada gilirannya profitabilitasnya bank semakin baik.
10.5 Financial Management Behavior
pada Usaha Kecil dan Menengah
Uang adalah alat tukar yang digunakan untuk membeli barang yang diinginkan.
Adalah penting bahwa orang berusaha untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Ketika orang ingin memenuhi kebutuhannya dan tidak memiliki cukup uang, itu
disebut kesulitan keuangan. Kebanyakan orang secara finansial membutuhkan
atau menderita. Banyak orang tidak tahu bagaimana mengelola keuangan
mereka. Mereka mengalami kesulitan keuangan. Pentingnya pengetahuan
keuangan, membantu Anda mengelola keuangan Anda dengan sedikit banyak
meminimalkan kemungkinan untuk belajar tentang kesulitan keuangan. Hasil
penelitian Lim dan Teo (1997) menunjukkan bahwa pria dan wanita memiliki
cara lain dalam memandang uang. Pria pasti memiliki pilihan berbeda dalam hal
mereka. Untuk mengelola investasi Anda dalam bisnis Anda, Anda
memerlukan hasil bisnis. Tentang permodalan, modal yang cukup diperlukan
untuk mendanai operasi bisnis sedangkan terkait dengan struktur, manajemen
kerja yang efektif diperlukan untuk meningkatkan manajemen permodalan dan
produktivitas perusahaan. Itu dipertahankan dan ditingkatkan lebih lanjut.
Perusahaan perlu memanfaatkan dan mengevaluasi apa yang menyediakan
struktur modal yang optimal. Maksimalkan nilai perusahaan Anda. Dengan cara
ini, UKM terus memainkan peran penting. Pertumbuhan ekonomi. Survei ini
juga menyoroti kebutuhan pengusaha dan pemegang saham. Gunakan informasi
kinerja keuangan untuk membuat keputusan bisnis yang penting dan penting.
risiko yang terkait dengan profitabilitas menegaskan perlunya wirausahawan
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 127
untuk menangani alat dan teknik alat untuk kontrol keuangan Anda yang lebih
baik. Selain itu, pengusaha perlu menghubungkan kinerja keuangan mereka
dengan lingkungan eksternal perusahaan yang lebih besar.
Selain itu, perbandingan kinerja UKM di negara juga dapat menjadi masalah
karakteristik keuangan kinerja keuangan dibawa ke perspektif UKM karena
berbagai alasan, misalnya Pembiayaan UMKM, agunan, biaya awal keuangan,
kewajiban kontinjensi biaya hukum dan transaksi biaya. Uang dibandingkan
dengan wanita. Koonce dkk. (2008) Mengamati faktor gender yang melekat
dalam diri Anda menyebabkan perilaku yang berbeda ketika berhadapan dengan
uang satu sama lain. Koonce juga menemukan bahwa wanita ingin menghemat
uang daripada kekayaan. Dia dibandingkan dengan seorang pria. Lim dan Teo
juga menunjukkan bahwa indikator yang memengaruhi kesulitan keuangan
antara lain keterikatan, kekuasaan, anggaran, prestasi, evaluasi, ketakutan, tidak
memegang dan murah hati. Beberapa orang menghabiskan uang sebagai ukuran
evaluasi dan perbandingan dengan orang lain. perbandingan seperti itu sering
kali dapat menimbulkan kecemburuan di antara mereka yang mampu
membelinya secara cuma-cuma.
Kecemasan mencerminkan sejauh mana individu berpikir dan khawatir tentang
uang. Keputusan manajemen aset sangat relevan untuk manajemen aset yang
efisien. Aset likuid dan tetap. Praktik manajemen modal kerja yang baik dapat
menghasilkan praktik manufaktur dan proses pemasaran yang baik. Beberapa
perusahaan tidak menerima pinjaman jangka pendek calon Kepailitan.
Ketidaksesuaian antara aset dan sumber pendanaan kebangkrutan lebih
mungkin terjadi antara kas masuk dan kas keluar dalam pengelolaan modal kerja
terjadi. Keputusan pembiayaan adalah keputusan tentang jumlah dana yang
tersedia perusahaan, terlepas dari bentuk hutang atau modal. Dimensi ini
mencerminkan sejauh mana seseorang tidak dermawan dalam hal kontribusi
untuk amal, memberi uang kepada pengemis, dan meminjamkan uang kepada
orang lain (Lim dan Teo , 1997). Berdasarkan uraian di atas, peneliti
memutuskan untuk mengidentifikasi pengaruh indikator evaluasi, kecemasan
terhadap permasalahan keuangan. Dan variabel gender ditambahkan untuk
mengidentifikasi perbedaan financial distress yang dialami oleh perempuan dan
laki-laki. Salah satu hal yang harus diperhatikan perusahaan untuk memperoleh
laba adalah kepemilikan. Kinerja bisnis suatu perusahaan merepresentasikan
besar kecilnya pencapaian perusahaan setelah melakukan berbagai kegiatan
secara menyeluruh. Berbagai tinjauan literatur tentang kinerja perusahaan
tampaknya berfokus pada profitabilitas dan pertumbuhan pelanggan ketika
128 Financial Behavior
membahas kinerja perusahaan secara keseluruhan. Perilaku pengelolaan
keuangan (kebiasaan, bidang dan modal dan jenis kelamin) berpengaruh
signifikan terhadap kinerja keuangan. Sedangkan secara parsial, kebiasaan
berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan. Lapangan
berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kinerja keuangan. Modal
berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja keuangan dan variabel
dummy menjelaskan bahwa laki-laki memiliki kinerja keuangan yang lebih
kecil daripada perempuan.
Tujuan literasi keuangan tidak hanya membelanjakan pendapatan yang
diperoleh untuk barang dan jasa yang tidak membutuhkannya, tetapi juga untuk
investasi yang lebih produktif dan akan mendatangkan keuntungan besar di
masa depan. Literasi keuangan memegang peranan penting dalam Kehidupan
Bisnis tidak hanya bagi pelaku usaha tetapi juga bagi lembaga keuangan..
Singkatnya, di daerah tertentu kemampuan keuangan mereka rendah. Dalam
penelitian ini diukur dengan jam kerja, pendidikan, dll. Jam kerja dan
pendidikan tinggi Individu tidak selalu bekerja secara finansial. Pengetahuan
Anda tentang cara melakukan pengelolaan keuangan mungkin masih minim
sehingga kinerja keuangan yang dihasilkan tidak maksimal. tetapi, ini belum
pasti, karena signifikansinya sangat tinggi sehingga menjadi jelas bahwa
medannya tidak signifikan.
Transparansi dan keterbukaan dalam pengungkapan laporan keuangan
merupakan tindakan yang terjadi pada saat laporan keuangan disajikan. Secara
normatif dan operasional, perilaku manajemen saat mengungkapkan laporan
keuangan berbeda. Penyebab kesulitan keuangan terbagi menjadi dua
kelompok: guncangan ekstrinsik atau makroekonomi dan masalah intrinsik atau
mikroekonomi. Faktor risiko eksternal diwakili oleh kondisi makroekonomi ,
kelebihan kapasitas dan perubahan struktural, deregulasi industri besar, krisis
politik dan bencana alam. Kisaran faktor risiko internal lebih luas. Ini dapat
mencakup tingkat utang yang tinggi, aktivitas bisnis yang buruk, penipuan,
kurangnya kapasitas manajemen, dan tata kelola perusahaan yang lemah, tetapi
bagaimanapun juga, semua ini tidak memadai. Karena manajemen dan atau
kesadaran penyebaran yang tidak menguntungkan dan kegagalan respons.
Investasi di pabrik, infrastruktur, dapat menggunakan peralatan dan pelatihan
untuk menyediakan produk untuk dijual untuk menghasilkan keuntungan dan
uang tunai. Masuk dan meningkatkan nilai perusahaan. Kinerja keuangan
adalah pencapaian hasil di berbagai kegiatan. Keputusan untuk mencapai tujuan
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 129
keuangan. Ada tiga kategori modal untuk memberikan kontribusi perusahaan
yaitu modal finansial, modal sosial, dan modal manusia.
Kinerja keuangan UKM dalam kondisi ekonomi normal, tergantung pada saat
kualitas kewirausahaan digunakan. Kualitas Kewirausahaan digunakan. Tujuan
literasi keuangan tidak hanya untuk membelanjakan pendapatan yang diperoleh
untuk barang dan jasa yang tidak membutuhkannya, tetapi juga untuk investasi
yang lebih produktif dan akan mendatangkan keuntungan besar di masa depan.
Literasi keuangan memegang peranan penting dalam Kehidupan Bisnis tidak
hanya bagi para pelaku usaha tetapi juga bagi lembaga keuangan. Pelaku usaha
yang rela menabung di bank setelah terlebih dahulu menyimpan uang di lemari
dan akhirnya mengetahui dan memahami produk-produk industri jasa
keuangan. Jadi salah satu produknya adalah dari ekonomi, yang juga bermanfaat
bagi lembaga keuangan. Beberapa solusi potensial untuk masalah UKM antara
lain peningkatan literasi keuangan, pengusaha UKM. Literasi keuangan terkait
dengan pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan di bawah ini:
Pengelolaan keuangan yang lebih baik.
Salah satu hal yang harus diperhatikan perusahaan untuk memperoleh laba
adalah kepemilikan. Kinerja bisnis suatu perusahaan merepresentasikan besar
kecilnya pencapaian perusahaan setelah melakukan berbagai kegiatan secara
menyeluruh. Berbagai tinjauan literatur tentang kinerja perusahaan tampaknya
berfokus pada profitabilitas dan pertumbuhan pelanggan ketika membahas
kinerja perusahaan secara keseluruhan. Profitabilitas adalah indikator terbaik
apakah perusahaan telah melakukan sesuatu dengan benar. Ini menyatakan
bahwa kebiasaan memiliki dampak negatif pada kinerja keuangan.
Evaluasi kinerja keuangan termasuk kegiatan utama setiap perusahaan sambil
mengevaluasi keadaan saat ini dan membandingkannya dengan tujuan. Istilah
kinerja dapat dicirikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghargai
investasi yang diberikan ke dalam kegiatan bisnis. Pertumbuhan ekonomi.
Survei ini juga menyoroti kebutuhan pengusaha dan pemegang saham. Gunakan
informasi kinerja keuangan untuk membuat keputusan bisnis yang penting dan
penting. risiko yang terkait dengan profitabilitas menegaskan perlunya
wirausahawan untuk menangani alat dan teknik alat untuk kontrol keuangan
Anda yang lebih baik. Selain itu, pengusaha perlu menghubungkan kinerja
keuangan mereka dengan lingkungan eksternal perusahaan yang lebih besar.
130 Financial Behavior
10.6 Financial Distress pada Usaha Kecil
dan Menengah
Uang merupakan faktor penting dalam semua kehidupan kita (Wernimont dan
Fitzpatrick, 1972). Purnanandam (2005) menentukan financial distress dari segi
solvabilitas. Dia mengembangkan model teoritis manajemen risiko perusahaan
dengan adanya biaya kesulitan keuangan. Kesulitan keuangan dilihat sebagai
keadaan peralihan antara solvabilitas dan insolvensi. Sebuah perusahaan
tertekan ketika melewatkan pembayaran bunga atau melanggar perjanjian
utang. Model menurut Purnanandam (2005) mirip dengan konsep financial
distress oleh Gilbert et al. (1990).
Denis (1990) mengidentifikasi kesulitan keuangan ketika sebuah perusahaan
mengalami kerugian (pendapatan operasi sebelum pajak negatif atau laba
bersih) selama setidaknya tiga tahun berturut-turut. Hasil analisis empiris
mereka terhadap kebijakan dividen dalam financial distress menunjukkan
bahwa setelah perusahaan mengalami financial distress, biasanya mengalami
masalah arus kas dan tidak mampu membayar dividen. Oleh karena itu,
pengurangan dividen yang cepat dan agresif bersama dengan pendapatan negatif
berturut-turut dapat digunakan untuk menentukan situasi kesulitan keuangan.
Transparansi dan keterbukaan dalam pengungkapan laporan keuangan
merupakan bagian dari tindakan yang terjadi dalam penyajian laporan
keuangan. Biasanya, dan eksekutif, ketika laporan keuangan diungkapkan,
transparan dari Tuhan, kebijaksanaan yang bertanggung jawab, iman,
kerendahan hati, kejujuran, dan kehidupan setia yang kekal. Tujuan literasi
keuangan tidak hanya untuk membelanjakan pendapatan yang diperoleh untuk
barang dan jasa yang tidak membutuhkannya, tetapi juga untuk investasi yang
lebih produktif dan akan mendatangkan keuntungan besar di masa depan.
Literasi keuangan memegang peranan penting dalam kehidupan bisnis tidak
hanya bagi para pelaku usaha tetapi juga bagi lembaga keuangan. Pelaku usaha
yang rela menabung di bank setelah terlebih dahulu menyimpan uang di lemari
dan akhirnya mengetahui dan memahami produk-produk industri jasa
keuangan. Jadi salah satu produknya adalah dari ekonomi, yang juga bermanfaat
bagi lembaga keuangan. Beberapa solusi potensial untuk masalah UKM antara
lain peningkatan literasi keuangan, pengusaha UMKM. Literasi keuangan
terkait dengan pengetahuan dan pemahaman yang diperlukan di bawah ini:
Pengelolaan keuangan yang lebih baik.
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 131
Administrator membutuhkan sumber daya keuangan yang cukup Melek huruf
untuk pengelolaan keuangan bisnis yang tepat. Perilaku keuangan dapat
dianalisis dari perspektif yang berbeda. Pengembalian pasar saham adalah
sektor keuangan di mana perilaku psikologis sering dianggap memengaruhi
hasil dan pengembalian pasar, tetapi ada juga berbagai sudut pandang. Tujuan
dari klasifikasi behavioral finance adalah untuk memahami mengapa orang
membuat keputusan keuangan tertentu dan bagaimana keputusan tersebut
memengaruhi pasar. Dalam lingkup keuangan perilaku, diasumsikan bahwa
profesional keuangan cenderung berpengaruh secara psikologis, agak normal
dan dikelola sendiri, daripada sepenuhnya rasional dan dikelola sendiri. Analisis
kinerja keuangan melihat perusahaan pada titik waktu tertentu (biasanya kuartal
fiskal terakhir atau tahun fiskal). Neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas
adalah tiga laporan keuangan terpenting yang digunakan dalam analisis kinerja.
Analisis kinerja keuangan dapat fokus pada area yang berbeda. Jenis analisis
dapat mencakup survei spesifik perusahaan. Modal Kerja: Perbedaan Aset
Likuid Perusahaan seperti kewajiban lancar struktur keuangan: kombinasi
hutang dan modal yang digunakan oleh perusahaan untuk mendanai bisnis.
Evaluasi kinerja keuangan termasuk kegiatan utama setiap perusahaan sambil
mengevaluasi keadaan saat ini dan membandingkannya dengan tujuan. Istilah
kinerja dapat dicirikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghargai.
Dampak pada kinerja keuangan. Perusahaan memiliki banyak pemangku
kepentingan, termasuk kreditur perdagangan, pemegang obligasi, investor,
karyawan, dan pemilik bisnis. Kinerja keuangan menunjukkan seberapa baik
perusahaan menghasilkan pendapatan dan mengelola aset, kewajiban, dan
kepentingan ekonomi perusahaan induk dan pemegang sahamnya. Ada banyak
cara untuk mengukur kinerja keuangan Anda, tetapi Anda perlu melakukan
semua tindakan bersama-sama. Anda dapat menggunakan item seperti laba
operasi , laba operasi, dan arus kas operasi, serta total penjualan per unit. Selain
itu, analis atau investor mungkin ingin menggali lebih dalam laporan keuangan
untuk pertumbuhan margin atau pengurangan utang. Metode Six Sigma
berfokus pada aspek ini.
Setiap kelompok memiliki kepentingan yang unik dalam melacak kinerja
keuangan perusahaan. Kinerja keuangan menunjukkan seberapa baik
perusahaan menghasilkan pendapatan dan mengelola aset, kewajiban, dan
kepentingan ekonomi perusahaan induk dan pemegang sahamnya. Ada banyak
cara untuk mengukur kinerja keuangan Anda, tetapi Anda perlu melakukan
semua tindakan bersama-sama. Anda dapat menggunakan item seperti laba
132 Financial Behavior
operasi, laba operasi, dan arus kas operasi, serta total penjualan per unit. Itulah
mengapa perlu fokus pada analisis entitas bisnis yang memperoleh keuntungan
hanya dari teknologi informasi. Berdasarkan sampel yang dianalisis, dapat
dinyatakan bahwa perusahaan yang bergerak di bidang penyediaan layanan
teknologi informasi saat ini mencapai hasil yang sangat baik di bidang kinerja
keuangan. Oleh karena itu, akan sangat menarik untuk terus mengamati
perubahan kinerja keuangan perusahaan di sektor ini dan mengidentifikasi
aspek-aspek penting untuk mencapai kinerja tinggi.
Selain itu, analis atau investor mungkin ingin menggali lebih dalam laporan
keuangan untuk pertumbuhan margin atau pengurangan utang. Metode Six
Sigma berfokus pada aspek ini.
1. Akuntansi mental mengacu pada kecenderungan orang untuk
mengalokasikan uang untuk tujuan tertentu.
2. Perilaku Kawanan: Perilaku kawanan menyatakan bahwa orang
cenderung meniru sebagian besar perilaku ekonomi kawanan.
3. Harding terkenal di pasar saham karena menyebabkan reaksi yang
dramatis dan terjual habis.
4. Kesenjangan emosional adalah keputusan yang didasarkan pada emosi
ekstrem atau tekanan emosional seperti ketakutan, kemarahan,
kecemasan, atau agitasi.
5. Emosi seringkali menjadi alasan utama orang tidak membuat
keputusan yang rasional.
6. Tetap berarti menambahkan tingkat pengeluaran tertentu ke referensi
tertentu. Contohnya adalah pembelanjaan yang konsisten berdasarkan
tingkat anggaran, atau rasionalisasi pembelanjaan berdasarkan
manfaat kepuasan yang berbeda.
7. Deskripsi diri mengacu pada kecenderungan untuk membuat
keputusan berdasarkan terlalu percaya diri pada pengetahuan dan
kemampuan seseorang.
Untuk memenuhi modal mereka, orang dapat menggunakan modal sendiri dan
mencari dukungan modal dari keluarga dan teman, menyediakan atau
mengumpulkan dana untuk bisnis Anda dengan keluarga dan teman dari luar
atau modal ventura Keputusan investasi terkait dengan jumlah aset Anda.
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 133
Selanjutnya, tempatkan konfigurasi masing-masing aset, seperti jumlah yang
akan dialokasikan kas, aset tetap atau aset lainnya. Berinvestasi dalam aset
Profitabilitas yang solid Investasi di pabrik, infrastruktur, dapat menggunakan
peralatan dan pelatihan untuk menyediakan produk untuk dijual guna
menghasilkan keuntungan dan uang tunai. Masuk dan meningkatkan nilai
perusahaan. Kinerja keuangan adalah pencapaian hasil di berbagai kegiatan.
Penilaian diri biasanya didasarkan pada bakat khusus untuk area tertentu. Dalam
kategori ini, individu cenderung menghargai pengetahuan mereka lebih dari
yang lain, bahkan jika mereka secara objektif kurang. Pendekatan terpadu untuk
menganalisis kesulitan keuangan memiliki banyak keuntungan. Ini secara logis
menghubungkan tiga elemen metodologis kunci penyebab, pemicu, dan pemicu
kesulitan keuangan. Penting untuk dipahami bahwa keadaan darurat keuangan
tidak selalu mengarah pada default.
Ada konflik serius dalam kesulitan keuangan antara dapat diamatinya proses
yang tidak menguntungkan dan waktu respons. Pengalaman financial distress
membuat seseorang bertindak lebih hati-hati terhadap segala perbaikan yang
berkaitan dengan masalah keuangan. Ini adalah proses mengukur hasil
kebijakan dan operasi perusahaan dalam istilah moneter. Ini digunakan untuk
mengukur kesehatan keuangan perusahaan secara keseluruhan selama periode
waktu tertentu dan juga dapat digunakan untuk membandingkan perusahaan
serupa di industri yang sama atau untuk membandingkan industri atau sektor
secara agregasi.
Anda dapat melihat posisi untuk periode waktu tertentu, seperti di neraca, atau
serangkaian aktivitas selama periode waktu tertentu, seperti di laporan laba rugi.
Oleh karena itu, istilah "laporan keuangan" umumnya mengacu pada dua
laporan dasar: neraca dan laporan laba rugi. Dengan adanya literasi keuangan
diharapkan masyarakat dapat memperoleh kesejahteraan keuangan dan
menghasilkan produktivitas yang tinggi. Lembaga internasional OECD
menggunakan tiga komponen untuk mengukur literasi keuangan, yaitu
pengetahuan keuangan, perilaku keuangan, dan sikap keuangan. Masyarakat
diharapkan tidak hanya mengetahui dan memahami lembaga keuangan, produk
atau jasa. Masyarakat juga diharapkan mengalami perubahan sikap dan perilaku
keuangan. Mempromosikan tujuan keuangan, rencana keuangan, keputusan
keuangan, dan manajemen keuangan yang lebih baik.
Dengan cara ini, UKM terus memainkan peran penting. Pertumbuhan ekonomi.
Survei ini juga menyoroti kebutuhan pengusaha dan pemegang saham. Gunakan
134 Financial Behavior
informasi kinerja keuangan untuk membuat keputusan bisnis yang penting dan
penting. risiko yang terkait dengan profitabilitas menegaskan perlunya
wirausahawan untuk menangani alat dan teknik alat untuk kontrol keuangan
Anda yang lebih baik. Selain itu, pengusaha perlu menghubungkan kinerja
keuangan mereka dengan lingkungan eksternal perusahaan yang lebih besar.
Selain itu, perbandingan kinerja UKM di negara juga dapat menjadi Masalah
karakteristik keuangan kinerja keuangan dibawa ke perspektif UKM karena
berbagai alasan, misalnya Pembiayaan UKM, agunan, biaya awal keuangan,
kewajiban kontinjensi biaya hukum dan transaksi biaya.
Kinerja Keuangan dalam arti yang lebih luas mengacu pada sejauh mana tujuan
keuangan telah dicapai dan merupakan aspek penting dari manajemen risiko
keuangan. Ini adalah proses mengukur hasil kebijakan dan operasi perusahaan
dalam istilah moneter. Ini digunakan untuk mengukur kesehatan keuangan
perusahaan secara keseluruhan selama periode waktu tertentu dan juga dapat
digunakan untuk membandingkan perusahaan serupa di industri yang sama atau
untuk membandingkan industri atau sektor secara agregasi. Anda dapat melihat
posisi untuk periode waktu tertentu, seperti di neraca, atau serangkaian aktivitas
selama periode waktu tertentu, seperti di laporan laba rugi. Oleh karena itu,
istilah "laporan keuangan" umumnya mengacu pada dua laporan dasar: neraca
dan laporan laba rugi.
Neraca menunjukkan status keuangan perusahaan pada titik waktu tertentu.
Menyediakan snapshot yang dapat ditampilkan sebagai gambar diam."
Manajemen keuangan adalah tindakan untuk mencapai tujuan keuangan masa
depan. Manajemen keuangan pribadi, manajemen keuangan keluarga dan
manajemen keuangan perusahaan. Berbagai tinjauan literatur kinerja
perusahaan tampaknya berfokus pada profitabilitas dan pertumbuhan pelanggan
ketika membahas kinerja perusahaan secara keseluruhan. Profitabilitas adalah
indikator terbaik apakah perusahaan telah melakukan sesuatu dengan benar. Ini
menyatakan bahwa kebiasaan berdampak negatif pada kinerja keuangan.
Lapangan memiliki sedikit dampak negatif pada kinerja keuangan. Singkatnya,
di area yang dihadapi responden kemampuan keuangannya rendah Dalam
penelitian ini lapangan diukur dengan jam kerja, pendidikan, dll. Jam kerja dan
pendidikan tinggi Individu tidak selalu bekerja secara finansial. mungkin masih
minim sehingga kinerja keuangan yang dihasilkan belum optimal, namun hal ini
belum dapat dipastikan, sebagai kance sangat tinggi sehingga menjadi jelas
bahwa bidangnya tidak signifikan.
Bab 10 Financial Behavior and Financial Performance pada Usaha Kecil Menengah 135
Pelaku usaha yang rela menabung di bank setelah terlebih dahulu menyimpan
uang di lemari dan akhirnya mengetahui dan memahami produk-produk industri
jasa keuangan. Jadi salah satu produknya adalah dari ekonomi, yang juga
bermanfaat bagi lembaga keuangan. Operator dalam permintaan. Kinerja
perusahaan adalah representasi lengkap dari keadaan perusahaan selama periode
sebagai akibat atau kinerja yang dipengaruhi oleh kegiatan. Pertumbuhan
ekonomi.
Survei ini juga menyoroti kebutuhan pengusaha dan pemegang saham. Gunakan
informasi kinerja keuangan untuk membuat keputusan bisnis yang penting dan
penting. Risiko yang terkait dengan profitabilitas menegaskan perlunya
wirausahawan untuk menangani alat dan teknik alat untuk kontrol keuangan
Anda yang lebih baik. Selain itu, pengusaha perlu menghubungkan kinerja
keuangan mereka dengan lingkungan eksternal perusahaan yang lebih besar.
Perilaku pengelolaan keuangan (kebiasaan, bidang dan modal dan jenis
kelamin) berpengaruh signifikan terhadap kinerja keuangan. Sedangkan secara
parsial, kebiasaan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja keuangan.
Lapangan berpengaruh negatif tidak signifikan terhadap kinerja keuangan.
Modal berpengaruh positif tidak signifikan terhadap kinerja keuangan dan
variabel dummy menjelaskan bahwa laki-laki memiliki kinerja keuangan yang
lebih kecil daripada perempuan. Literasi keuangan memegang peranan penting
dalam Kehidupan Bisnis tidak hanya bagi para pelaku usaha tetapi juga bagi
lembaga keuangan.
Pencapaian nilai keuangan berpengaruh positif terhadap kesulitan keuangan
artinya jika seseorang ingin mencegah agar tidak terjerumus ke dalam kesulitan
keuangan, maka harus bertindak sesuai dengan itu. Dalam penelitian ini,
karakteristik perilaku ekonomi meliputi manajemen, perencanaan, dan
kesabaran. Di antara karakteristik ini, menyimpulkan bahwa kesabaran
memiliki dampak terbesar pada penderitaan finansial . Siapa pun dapat
menemukan posisi keuangan yang lebih baik jika setiap orang memiliki
kesabaran untuk mengelola uang mereka dengan cara yang memberi mereka
lebih banyak uang di masa depan.
Untuk kesuksesan finansial, setiap orang perlu belajar bagaimana mengelola
uang. Ini berarti setiap orang harus mengendalikan uang mereka yang pada
akhirnya membutuhkan pengambilan tindakan berkelanjutan dengan kesabaran
dan ketekunan. Selain itu setiap orang harus memiliki kapasitas kontrol berarti
setiap orang harus mengendalikan impulsifnya. Temuan penelitian ini
menyarankan bahwa lembaga yang berwenang harus lebih dari sekedar
136 Financial Behavior
berusaha mencegah UKM mengalami kesulitan keuangan dengan membuat
kebijakan yang tidak boleh diabaikan untuk memahami karakteristik perilaku
UKM dan individu . Financial distress adalah keadaan tidak mampu membayar
kewajiban pada saat jatuh tempo (Kaplan, 1998).
Oleh karena itu, kebijakan Pemerintah dalam membangun pengetahuan
keuangan dan keterampilan keuangan UKM juga harus mempertimbangkan
kebijakan yang dapat mengubah mental dan karakter individu dan keterampilan
organisasi sehingga dapat meminimalkan dampak sifat perilaku terhadap
kesulitan keuangan. Distress ekonomi terjadi baik di boom dan resesi, tetapi
karena korelasi negatif antara probabilitas default dan siklus bisnis, konsekuensi
dari tekanan ekonomi dalam resesi dapat menyebabkan kebangkrutan lebih dari
ke atas. Akan lebih tinggi. Analisis deret waktu risiko marabahaya dan hasil
regresi multivariat menunjukkan bahwa premi risiko marabahaya tergantung
pada kondisi pasar dari waktu ke waktu. Salah satu hal yang harus diperhatikan
perusahaan untuk memperoleh laba adalah kepemilikan. Kinerja bisnis suatu
perusahaan merepresentasikan besar kecilnya pencapaian perusahaan setelah
melakukan berbagai kegiatan secara menyeluruh. Berbagai tinjauan literatur
tentang kinerja perusahaan tampaknya berfokus pada profitabilitas dan
pertumbuhan pelanggan ketika membahas kinerja perusahaan secara
keseluruhan. Profitabilitas adalah indikator terbaik apakah perusahaan telah
melakukan sesuatu dengan benar. Ini menyatakan bahwa kebiasaan memiliki
dampak negatif pada kinerja keuangan.
Glosarium
Afektif (Perasaan) : adalah emosional yang berada dalam diri setiap individu.
Akuisisi: aksi korporasi yang dilakukan sebuah perusaaan dengan membeli
sebagian besar atau seluruh saham dari perusahaan lainnya untuk
mendapatkan kontrol atas perusahaan tersebut.
Ambiguity Aversion : keinginan untuk menghindari hal-hal yang belum jelas
(ambigu), meskipun tidak akan meningkatkan expected utility
Anchoring : suatu hal yang jika terjadi akan memicu suatu perasaan atau emosi
tertentu.
Arbitrase : Arbitrase adalah cara penyelesaian sengketa dengan cara
menyerahkan kewenangan kepada pihak ketiga yang netral dan
independen yang disebut Arbiter.
Auditor : sebuah profesi seseorang yang memiliki kualifikasi tertentu untuk
mengaudit laporan keuangan dan kegiatan suatu perusahaan,
organisasi, lembaga, atau instansi.
Behavior finance : perilaku keuangan adalah pendekatan baru dalam pasar
keuangan yang telah muncul sebagai respon terhadap komplikasi
yang dihadapi oleh teori keuangan tradisional. Secara umum, perilaku
keuangan mengusulkan bahwa beberapa fenomena keuangan dapat
dipahami dengan lebih baik dengan menggunakan model di mana
beberapa pemain yang tidak sepenuhnya rasional.
Behavioral Asset Pricing Model (BAPM) : Model ini menjelaskan interaksi
pasar dari dua kelompok pedagang, yaitu informational trader dan
noise trader.
Behavioral Portfolio Theory (BPT) : suatu alternatif dari teori portofolio
Markowitz, investor membangun portofolio berdasarkan nilai
138 Financial Behavior
varians, dengan demikian mencoba untuk mengoptimalkan trade off
antara risiko dengan rata-rata keuntungan.
Better-than-average effect: orang cenderung berpikir bahwa dia memiliki
kemampuan yang di atas rata-rata.
Capital Aset Pricing Model (CAPM) : menentukan tingkat pengembalian yang
diharapkan dari sekuritas pada titik waktu tertentu.
Closed-end fund puzzle : Dana dengan jumlah saham yang diterbitkan tetap, dan
semua perdagangan dilakukan antara investor di pasar terbuka. Harga
saham ditentukan oleh harga pasar, bukan nilai aset bersihnya.
Competence Effect : kesediaan masyarakat untuk bertindak atas penilaian
mereka sendiri di daerah tertentu akan tergantung pada kompetensi
subyektif mereka.
Day of the week effect : anomali di mana perbedaan hari perdagangan
berpengaruh terhadap pola return saham dalam satu minggu (alteza
2006:36). Biasanya return yang signifikan negatif terjadi pada hari
Senin, sedangkan return positif terjadi pada hari-hari lainnya.
Decision problem : Keputusan yang berakibat pada permasalahan yang terjadi.
Due process procedure : proses yang lazim dalam penyusunan suatu pedoman
akuntansi.
Efficient Market Hypothesis (EMH) : merupakan salah satu teori keuangan
modern yang dianggap paling berpengaruh dengan asumsi bahwa
seluruh informasi yang relevan telah tercerminkan pada harga
sekuritas ketika sekuritas tersebut diperdagangkan.
Effort : diartikan sebagai seseorang merasa pantas memiliki uang dari apa yang
dikerjakannya.
Emotion : dorongan hati yang lebih dengan melibatkan perasaan dalam
melakukan suatu tindakan.
Evaluasi : berkaitan dengan seberapa sering seseorang melakukan control dan
penilaian atas segala sesuatu yang menjadi tujuannya.
Excess volatility : ukuran tingkat fluktuasi harga sekuritas dari waktu ke waktu.
Excessive Trading Theory : perilaku overconfidence tinggi yang ditunjukkan
dengan derajat miscalibration yang tinggi akan membawa pada
Glosarium 139
kecenderungan investor untuk melakukan strategi trading yang
agresif dan berlebihan. Pada akhirnya hal tersebut akan menyebabkan
kinerja investasi yang buruk (poor performance).
Expected Utility Theory : sebuah sistem aksioma dibanding sebuah obyek
disebut prospek, terkait probabilitas konsekuensi pasti, di mana
probabilitas dan konsekuensi diketahui agen.
Faktor emosional : faktor yang dipengaruhi oleh perasaan dan pikiran-pikiran
khasnya, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak.
Faktor kognitif : faktor yang dipengaruhi oleh persoalan yang menyangkut
kemampuan untuk mengembangkan kemampuan rasional (akal).
Faktor sosial : faktor yang dipengaruhi oleh orang-orang disekitar kita.
Komponen yang termasuk di dalamnya yaitu kelompok acuan,
keluarga, serat peran dan status sosial konsumen.
Financial attitude : perilaku dalam hal keuangan, baik dalam hal pengelolaan
keuangan, penganggaran keuangan pribadi, atau bagaimana
keputusan individu mengenai bentuk investasi yang akan diambil.
Financial Cognitive Dissonance Theory: Teori ini menyatakan bahwa manusia
merasakan tekanan internal dan keraguan atau ketakutan manakala
dihadapkan pada benturan atau perbedaan keyakinan. Sebagai
individu, sebaiknya mencoba untuk mengurangi konflik internal yang
ada pada diri (mengurangi dissonance).
Financial distress : peristiwa penurunan kinerja keuangan perusahaan secara
terus menerus dalam jangka waktu tertentu. Bagi perusahaan,
financial distress adalah salah satu kondisi penyebab kebangkrutan
paling sering.
Financial Knowledge : Pengetahuan keuangan berkaitan dengan apa yang
diketahui seseorang akan masalah keuangan pribadi, yang diukur
dengan tingkat pengetahuan mereka mengenai berbagai konsep
keuangan pribadi
Financial literacy : dikatakan sebagai kemampuan memproses informasi dan
membuat keputusan pribadi
140 Financial Behavior
Financial management behavior : adalah kemampuan seseorang dalam
mengatur yaitu perencanaan, penganggaran, pemeriksaan,
pengelolaan, pengendalian, pencarian dan penyimpanan dana
keuangan sehari-hari.
Financial Performance: menunjukkan seberapa baik perusahaan menghasilkan
pendapatan dan mengelola aset, kewajiban, dan kepentingan ekonomi
perusahaan induk dan pemegang sahamnya.
Financial skill : sebuah teknik untuk membuat keputusan dalam personal
financial management.
Frame Dependence : memanifestasikan dirinya dalam cara orang membentuk
sikap terhadap keuntungan dan kerugian.
Framing Effect : atau efek pembingkaian merupakan suatu fenomena yang
menjelaskan tentang penyajian suatu informasi yang sama dengan
format berbeda.
Hedge Fund : kontrak investasi kolektif privat yang dikenakan biaya imbal jasa
berbasis kinerja (performance fee) dan biasanya ditawarkan secara
terbatas kepada investor kelas atas.
Herding: perilaku seseorang yang suka ikut-ikut terhadap apa yang dilakukan
orang lain.
Heuristic : seni atau sebuah ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan sebuah
penemuan baru atau sebuah solusi untuk memecahkan suatu masalah.
Homo Economicus : manusia mempunyai kebutuhan dan juga keinginan. Di
mana kebutuhan merupakan hal hal yang diperlukan oleh manusia
untuk hidup.
Illusion Of Control bias : berkaitan dengan perilaku orang dalam penerimaan,
pemahaman, penalaran atau pemikiran saat dihadapkan dalam
membuat keputusan investasi.
Illusion-of-control : suatu keyakinan yang lebih dalam hal kemampuan untuk
memprediksi atau hasil yang lebih memuaskan ketika seseorang
memiliki keterlibatan yang lebih di dalamnya.
Inadequacy : merujuk pada seseorang yang selalu merasa tidak cukup memiliki
uang,
Glosarium 141
Income : Biasanya disebut sebagai laba bersih karena jumlahya dapat mewakili
jumlah total uang tunai yang tersisa dari jumlah pendapatan asli
setelah memperhitungkan semua biaya dan pendapatan tambahan
yang ada.
Independence: diartikan sebagai seseorang mendapatkan hak untuk
mengendalikan uang tanpa campur tangan orang lain dan atau tidak
bergantung pada orang lain lagi.
Inefficient market : Efisiensi pasar mengacu pada sejauh mana harga pasar
mencerminkan semua informasi relevan yang tersedia. Jika pasar
efisien, maka semua informasi sudah dimasukkan ke dalam harga,
sehingga tidak ada cara untuk "mengalahkan" pasar karena tidak ada
sekuritas yang nilainya terlalu rendah atau terlalu tinggi.
Information cascade : teori yang digunakan dalam bidang behavioral economics
serta ilmu sosial lainnya.
Informational trader : pedagang rasional yang mengikuti capm
Intentional herding: Perilaku herding yang disengaja (Intentional Herding) lebih
sentimen dan melibatkan imitasi pelaku pasar lainnya, sehingga
menstimulasi pembelian atau penjualan saham yang sama terlepas
dari keyakinan sebelumnya atau informasi yang ada
Investasi: yakni mengalokasikan atau menanamkan sumber daya saat ini dengan
tujuan mendapatkan manfaat di masa mendatang
Investor : Penanam uang atau modal; orang yang menanamkan uangnya dalam
usaha dengan tujuan mendapatkan keuntungan-besar penanam uang
yang bermodal banyak; kecil penanam uang yang bermodal sedikit;
publik masyarakat yang menanamkan modalnya dalam pasar modal
atau bursa efek.
Irrasional : tindakan yang diluar logika dan nalar
January effect : fenomena musiman di awal tahun ketika harga-harga saham
bergerak naik. Infovesta Utama mencatat hal ini terjadi karena
optimisme awal tahun dari para pelaku pasar dengan banyak
melakukan pembelian saham yang sudah dijual pada akhir tahun.
Karakteristik utilitarian : suatu paham etis yang berpendapat bahwa yang baik
adalah yang berguna, berfaedah, dan menguntungkan. Sebaliknya,
142 Financial Behavior
yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan
merugikan.
Kognitif : suatu opini atau keyakinan dari sikap yang menentukan tingkatan
untuk sesuatu atau bagian yang lebih penting dari sikap.
Konsumsi : yakni pengeluaran oleh rumah tangga atas berbagai barang dan jasa
(kecuali pembelian untuk rumah baru).
Literasi keuangan : kemampuan seorang individu untuk mengambil keputusan
dalam hal pengaturan keuangan pribadinya.
Locus of Control : tingkatan di mana seseorang menerima tanggung jawab
personal terhadap apa yang terjadi pada diri mereka.
Loss aversion : merupakan salah satu faktor yang memengaruhi emosi
seseorang. Loss aversion pada dasarnya membahas kepekaan
seseorang terhadap kerugian yang mengakibatkan rasa penyesalan
yang begitu dalam dibandingkan saat menerima keuntungan
Manajemen Kas : suatu sistem pengelolaan perusahaan yang mengatur arus kas
untuk mempertahankan likuiditas perusahaan serta memanfaatkan
ide cash dan perencanaan kas.
Manajemen Kredit : proses pemberian kredit, penetapan persyaratan kredit,
pemulihan kredit pada saat jatuh tempo, dan memastikan kepatuhan
terhadap kebijakan kredit perusahaan, di antara fungsi-fungsi terkait
kredit lainnya.
Mental accounting : Hal ini merujuk pada kecenderungan investor untuk
mengelompokkan keuangan mereka pada rekening yang berbeda-
beda didasarkan pada kriteria-kriteria yang subjektif, seperti sumber
pendanaan dan maksud pemanfaatan penghasilan
Miscalibration : probabilitas subyektif akan lebih tepat daripada probabilitas
yang sesungguhnya
Mispricing : pergerakan harga saham perusahaan yang menyimpang dari nilai
fundamentalnya.
Modern portfolio theory (MPT): merupakan teori portofolio modern dengan
asumsi bahwa investor sejatinya tidak ingin mengambil risiko.
Karenanya, investor lebih nyaman memilih produk investasi dengan
risiko lebih rendah untuk tingkat return tertentu.
Glosarium 143
Money belief : merupakan pola pikir yang menganggap uang ada cara untuk
memperoleh kebahagiaan, cinta, dan menunjukkan nilai diri yang
mana dapat memicu krisis keuangan individu yang merupakan
penyebab terjadinya kebangkrutan keuangan personal.
Noise trader : orang yang tidak mengikuti CAPM dan melakukan kesalahan
kognitif.
Obsession : pola pikir seseorang tentang uang dan persepsinya tentang masa
depan untuk mengelola uang dengan baik.
Overconfident: keyakinan bahwa distribusi probabilitas prediksi seseorang lebih
tinggi dari sesungguhnya
Overreaction : Ini adalah hipotesis pasar yang tidak konsisten dengan hipotesis
pasar efisien, karena hipotesis ini menyatakan bahwa investor dan
pedagang mungkin bereaksi secara tidak proporsional terhadap
informasi baru tentang sekuritas.
Perilaku : Perilaku atau tindakan adalah cerminan dari bagaimana individu
berperilaku dalam sesuatu atau seseorang.
Perilaku Herding: sebuah perilaku investor yang tidak rasional sebagaimana
yang dijelaskan dalam teori keuangan klasik dikarenakan para pelaku
pasar atau investor tidak membuat keputusan dalam berinvestasi
sesuai dengan dasar-dasar pemikiran dalam ekonomi terkait dengan
investasi, namun mereka bertindak berdasarkan tindakan investor lain
apabila mereka berada pada kondisi yang sama atau mengikuti
konsensus pasar.
Portofolio : kumpulan hasil karya atau pencapaian yang mempresentasikan
pengembangan diri. Karya atau pencapaian tersebut bisa berupa hasil
dari kerja individu maupun kelompok, bahkan pencapaian
perusahaan.
Power : merujuk pada penggunaan uang oleh seseorang sebagai alat untuk
mengendalikan orang lain dan uang dapat menyelesaikan masalah
yang dihadapi.
Prospect Theory: Teori prospek (prospect theory) berkaitan dengan ide bahwa
manusia tidak selalu berperilaku secara rasional. Teori ini
beranggapan bahwa ada bias yang melekat dan terus ada yang
144 Financial Behavior
dimotivasi oleh faktor-faktor psikologi yang memengaruhi pilihan
orang dibawah kondisi ketidakpastian.
Rasional : menurut pikiran atau akal yang sehat.
Reference dependence : prinsip utama dalam teori prospek dan ekonomi
perilaku secara umum
Regret aversion : faktor yang menentukan tingkat emosi seseorang dalam
menghadapi suatu masalah
Regret Theory: Teori penyesalan (regret theory) menyatakan bahwa individual
melakukan evaluasi reaksi harapan pada suatu kejadian atau situasi di
masa depan.
Resistensi : suatu perlawanan ataupun penolakan untuk memprotes perubahan-
perubahan yang terjadi dan yang tidak sesuai.
Retention : merujuk pada seseorang yang memiliki kecenderungan tidak ingin
menghabiskan uang.
Returns over trading : pengembalian atas perdagangan
Risk attitudes : Asumsi mendasar dalam teori ekonomi menganggap bahwa
manusia merupakan makhluk yang tidak menyukai risiko. Investor
akan lebih memilih sebuah investasi yang memberikan tingkat
pengembalian yang pasti dibandingkan dengan investasi yang
mengandung ketidakpastian dalam pengembaliannya.
Risk averse : istilah berasal dari kata “risk” artinya risiko dan “averse” berarti
“enggan”. Jadi, risk averse adalah jenis investor yang cenderung
mempertahankan kondisi aman untuk menghindari risiko kerugian
yang tinggi. Tipe investor risk averse adalah orang yang tidak nyaman
dengan pilihan investasi berisiko.
Risk taker : investor yang berani mengambil kesempatan dengan tingkat risiko
tinggi. Selanjutnya, perbedaan keduanya adalah dari segi keberanian.
Rules of thumb : pedoman heuristik yang memberikan saran yang
disederhanakan atau beberapa aturan dasar mengenai subjek atau
tindakan tertentu. Ini adalah prinsip umum yang memberikan
instruksi praktis untuk menyelesaikan atau mendekati tugas tertentu.
Sentimen Investor: keyakinan perilaku berbasis heuristic atau aturan praktis
daripada rasionalitas Bayesian dalam membuat keputusan investasi
Glosarium 145
Standar Akuntansi Keuangan (SAK): Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan
(PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang
diterbitkan oleh Dewan Standar Ikatan Akuntan Indonesia (DSAK
IAI) dan Dewan Standar Syariah Ikatan Akuntan Indonesia (DSAS
IAI) serta peraturan regulator pasar modal untuk entitas yang berada
di bawah pengawasannya.
Stock return volatility : fluktuasi selisih harga pengamatan harian dalam suatu
periode pengamatan tertentu. Fluktuasi nilai suatu instrumen dalam
pasar saham salah satunya dapat disebabkan karena adanya pengaruh
faktor irasional yang memengaruhi per- mintaan dan penawaran suatu
pasar (Maskur, 2009).
Tabungan : yaitu bagian pendapatan yang tidak dikonsumsi oleh sebuah rumah
tangga pada suatu periode tertentu.
The Internet Phenomenon : Fenomena internet
Trade off : situasi di mana seseorang harus membuat keputusan terhadap dua
hal atau lebih, mengorbankan/ kehilangan suatu aspek dengan alasan
tertentu untuk memperoleh aspek lain dengan kualitas yang berbeda
sebagai pilihan yang diambil.
UKM : UKM (Usaha Kecil dan Menengah) adalah istilah yang mengacu ke
jenis usaha kecil yang memiliki pemasukan paling banyak Rp 200
juta dengan jumlah pekerja di bawah 20 orang. Selain itu, UKM juga
bukan anak perusahaan atau cabang perusahaan
UMKM : usaha produktif yang dimiliki perorangan maupun badan usaha yang
telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro.
Underreaction : kondisi ketika investor dan trader bereaksi tidak proporsional
terhadap informasi baru mengenai sebuah saham. Jika reaksi mereka
berlebihan dikatakan overreaction dan jika harga tidak spontan
merespons atau bereaksi kurang dari semestinya, kita sebut
underreaction.
Unintentional Herding: Perilaku herding yang tidak disengaja (Unintentional
Herding) pada dasarnya didorong dan muncul karena institusi yang
mungkin menguji faktor-faktor yang sama dan menerima informasi
pribadi yang berkorelasi, menyebabkan mereka untuk sampai pada
kesimpulan yang sama tentang saham individu.
146 Financial Behavior
Value stock : saham dari emiten yang dipersepsikan murah karena harga saham
di bawah harga intrinsiknya. Murah yang dimaksud bisa dilihat
dengan rasio price earning ratio (PER) atau price book value (PBV)
yang lebih rendah dari rata-rata industri sejenis atau dari nilai historis.
Volatilitas : Volatilitas disebut “market mood” untuk melihat apakah harga
melonjak tajam atau bahkan terjun bebas melemah (kisaran fluktuasi)
yang artinya sedang terjadi volatilitas tinggi.
Indeks
Evaluasi, 71, 121, 122, 123, 129, 131, 137
A Excess volatility, 137
Excessive Trading Theory, 26, 137
Afektif, 100, 137
Expected Utility Theory, 17, 18, 138
Akuisisi, 137
Ambiguity Aversion, 22, 137
Anchoring, 12, 137 F
Arbitrase, 137
Faktor emosional, 138
Auditor, 35, 137
Faktor kognitif, 138
Faktor sosial, 138
B Financial attitude, 138
Financial Cognitive Dissonance Theory,
Behavior finance, 8, 137
31, 138
Behavioral Asset Pricing Model (BAPM),
Financial distress, 107, 136, 138
18, 137
Financial Knowledge, 57, 99, 102, 106,
Behavioral Portfolio Theory (BPT), 18,
109, 138
137
Financial literacy, 68, 103, 138
Better-than-average effect, 25, 137
Financial management behavior, 47, 124,
138
C Financial Performance, 111, 115, 122, 138
Financial skill, 106, 138
Capital Aset Pricing Model (CAPM),, 137 Frame Dependence, 138
Closed-end fund puzzle, 137 Framing Effect, 138
Competence Effect, 23, 137
H
D
Hedge Fund, 138
Day of the week effect, 1, 137 Herding, 27, 28, 69, 138, 141
Decision problem, 137 Heuristic, 138
Due process procedure, 137 Homo Economicus, 138
E I
Efficient Market Hypothesis (EMH),, 137 Illusion Of Control bias, 138
Effort, 50, 101, 137 Illusion-of-control, 25, 138
Emotion, 62, 137
148 Financial Behavior
Inadequacy, 50, 101, 138 O
Income, 57, 138
Independence, 138 Obsession, 50, 101, 140
Inefficient market, 139 Overconfident, 140
Information cascade, 139 Overreaction, 140
Informational trader, 18, 139
Intentional herding, 139
Investasi, 11, 42, 48, 55, 59, 60, 61, 90, 92,
P
105, 118, 121, 125, 128, 133, 139 Perilaku, 2, 3, 4, 5, 7, 12, 15, 20, 27, 28, 29,
Investor, 22, 26, 27, 29, 70, 71, 72, 77, 83, 33, 40, 45, 47, 53, 55, 56, 57, 59, 62, 65,
139 78, 81, 88, 93, 99, 100, 112, 114, 123,
Irrasional, 139 124, 128, 131, 132, 135, 140
Portofolio, 140
J Power, 50, 101, 140
Prospect Theory, 17, 20, 31, 78, 140
January effect, 139
R
K
Rasional, 140
Karakteristik utilitarian, 139 Reference dependence, 140
Kognitif, 100, 112, 139 Regret aversion, 67, 140
Konsumsi, 55, 124, 139 Regret Theory, 31, 83, 140
Resistensi, 140
Retention, 102, 140
L Returns over trading, 140
Literasi keuangan, 89, 90, 92, 111, 112, Risk attitudes, 77, 140
118, 121, 122, 124, 128, 129, 130, 135, Risk averse, 65, 140
139 Risk taker, 140
Locus of Control, 57, 139 Rules of thumb, 140
Loss aversion, 64, 67, 139
S
M Standar Akuntansi Keuangan (SAK), 33,
Manajemen Kas, 54, 139 140
Manajemen Kredit, 54, 104, 125, 139 Stock return volatility, 75, 140
Mental accounting, 139
Miscalibration, 25, 139 T
Mispricing, 139
Money belief, 139 Tabungan, 55, 90, 92, 105, 125, 141
The Internet Phenomenon, 1, 141
Trade off, 141
N
Noise trader, 140
Indeks 149
U
UKM, 113, 114, 115, 117, 118, 119, 123,
124, 127, 129, 131, 134, 136, 141
UMKM, 40, 56, 57, 58, 117, 118, 119, 122,
123, 127, 131, 141
Underreaction, 141
V
Value stock, 141
Volatilitas, 141
150 Financial Behavior
Daftar Pustaka
Alqaydi, F, R & Ibrahim, M, E, (2013). Financial literacy, Personal Financial
Attitude, and forms of Personal Debt among Residents of the UAE.
International Journal Of Economics and Finance, 5 : 7.
Alteza, Muniya dan Harsono, Mugi. (2021). Keuangan Keperilakuan: Telaah
Atas Evolusi Teori Dan Studi Empiris . Jurnal Ilmu Manajemen, Volume
18, Nomor 1, 2021.
Amanah, E., Dr Rahadian, D., Iradianty, A. (2016). Pengaruh Financial
Knowledge, Financial Attitude dan External Locus of Control Terhadap
Personal Financial Management Behavior Pada Mahasiswa S1
Universitas Telkom. e-Proceeding of Management, Vol 3 No 2, Hal
1228-1235.
Andrani Novi & Sadalia Isfenti. (2016). Perilaku Keuangan : Teori dan
Implementasi. Medan : Pustaka Bangsa Press
Barber, B.M., and Odean, T. (2000). Trading is Hazardous to your Wealth: The
Common Stock Investment Performance of Individual Investor. Journal
of Finance, 55 (2): 773 – 806.
Barberis N., and Thaler, R (2008) A Survey of Behavioral Finance
Constatinides, G.M., Harris, M and Stulz, (Eds), Handbook of Economics
and Finance, Vol 1B, North Holland, Amsterdam.
Bartik, A. W., Bertrand, M., Cullen, Z. B., Glaeser, E. L., Luca, M., & Stanton,
C. T. (2020). How are small businesses adjusting to covid-19? Early
evidence from a survey (No. w26989). National Bureau of Economic
Research.
152 Financial Behavior
Bell, D. (1982). Regret in Decision Making Under Uncertainty, Operation
Research, 30: 961 – 981.
Bourdieu, Pierre. (1990). The Logic of Practice. California: Atanford University
Press. “The Space and Symbolic Power”. Springer Vol.7, No.1, 1989,
hal:14-25. Diterbitkan tahun 2005 data online: [Link]
Chen, H, dan Volpe, (2008). An Analysis of Personal Financial Literacy Among
College Student. Financial Services Review, 7(2), 107-128.
Dahmen, P.,and Rodriguez, E. (2014).” Financial Literacy and the success of
Small Businesses: An Observation from a Small
Daniel. Kent, and Sheridan Titman. "Market Efficiency in an Irrational World"
Einancial Analysis Journal, 55. 1999. pp. 28-40.
De Bondt, W. et al. (2008). Behavioral Finance: Quo Vadis ?.Journal of Applied
Finance; Fall 2008; 18, 2; ABI/INFORM Research.
Dew, J., & Xiao, J. J. (2011). The Financial management Behavior Scale :
Development and Validation. Journal of Financial Counseling and
Planning Volume 22, 43-59.
Eichholtz and Yonder. (2011). CEO Overconfidence, Corporate Investment
Activity, and Performance: Evidence from REITs. Working
[Link] of Business and Economics. Maastricht University
Netherlands.
Elbannan, M.A. (2015). The Capital Asset Pricing Model: An Overview of the
Theory. International Journal of Economics and Finance; Vol. 7, No. 1,
pp. 216-228.
Fama, E.F. dan French, K.R. (2004). The Capital Asset Pricing Model: Theory
and Evidence. Journal of Economic Perspectives. Vol. 18, No. 3, pp. 25–
46.
Fishchhoff, B., Slovic P., and Lichtenstein, S. (1977). Knowing with Certainty
the Appropriateness of Extremes Confidence. Journal of Experimental
Psychology: Human Perception and Performance, 3: 522 – 564.
Forbes, William. (2009). Behavioural [Link] [Link] Wiley & Sons
Ltd.
Friedman, Henry. (2007). Does Overconfidence Affect Entrepreneurial
Investment ?.Wharton Research Scholars Journal. 5-1-2007.
Daftar Pustaka 153
Fuller, R. J. (2000). Behavioral Finance and the Sources of Alpha. Forthcoming:
Journal of Pension Plan Investing. Vol. 2, No. 3, pp. 1-22.
Goetzmann, W., N and Peles, N. (1997). Cognitive Dissonance and Mutual
Fund Investors. Journal of Financial Research, 20: 145 – 148.
Gumanti, Ary Tatang. (2009), Behavior Finance: Suatu Telaah. Usahawan No.
1/Th,XXXVIII.
Handbook Of Finance: Vol. 3: Valuation, Financial Modeling, and Quantitative
Tools, Frank J. Fabozzi, ed., pp. 11-38, John Wiley & Sons
Handi, A. K. & Mahastanti, L. A. (2012) Perilaku Penggunaan Uang: Apakah
Berbeda Untuk Jenis Kelamin Dan Kesulitan Keuangan.
[Link]/257.
Hartono, Jogiyanto (2015). “Teori Portofolio dan Analisis Investasi” Edisi
Kesepuluh. Yogyakarta: BPFE.
Hartono, Jogiyanto. (2010), Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta
: BPFE UGM.
Herdjiono, Irine dan Lady Angela Damanik. 2016. Pengaruh Financial Attitude,
Financial Knowledge, Parental Income terhadap Financial Management
Behavor. Jurnal Manajemen Teori dan Terapan. Tahun 9. No.3,
Desember 2016.
Hilgert, M. A., Hogarth, J. M., & Beverly, S. G. (2003). Household financial
management: The connection between knowledge and behavior. Federal
Reserve Bulletin, 309-322.
Hilgert, M. A., Hogarth, M. & Baverly, S. G. (2003) “Household Financial
Management: The Connection between Knowledge and Behavior”.
Federal Reserve Bulletin July 2003.
Humaira, Iklima dan Endra Mukti Sagoro. (2018). Pengaruh Pengetahuan
Keuangan, Sikap Keuangan, dan Kepribadian terhadap Perilaku
Manajemen Keuangan UMKM Sentra Kerajinan Batik Kabupaten
[Link] Nominal. Vol 7. No. 2.
Hutabarat, Dody Dharma, Windasena Winarno, & Rizky Diananto, (2021).
Manajemen Keuangan Satuan Kerja Luar Negeri, Penerbit Kementrian
Keuangan, Jakarta.
154 Financial Behavior
Ishikawa, Masaya and Takahashi, Hidetomo. (2010). Overconfident Managers
and External FinancingChoice. Review of Behavioral Finance, Vol. 2, pp.
37-58.
Kahneman, D., and Theversky, A., (2000), Choices, Values and Frames.
Cambridge: Cambridge University Press.
Kannadhasan, M. (2009) Role of behavioral finance in investment decisions.
[Link] [Link]. 14 Maret 2009.
Kholilah, Naila Al, and Rr Iramani. (2013). Studi Financial Management
Behavior pada Masyarakat Surabaya. Journal of Business & Banking
(JBB) 3.1 (2013): 69-80.
Klontz, B, Beitt, S. L, Mentzer, J. & Klontz, T. (2011) “Money Beliefs and
Financial ehaviors: Development of the Klontz Money Script Inventory”.
The Journal of Financial Therapy, 2(1).
Klontz, B., Kahler, R., & Klontz, T. (2008) “Facilitating Financial Health: Tools
for Financial Planners, Coaches, and Therapists”. Journal of Financial
Counseling and Planning, 20(1).
Lintner, G. (1998). Behavioral Finance: Why Investors Make Bad
[Link] Planner, 13 (1), 7- 8. Vol. 68, No.4.
Lubis, Nurbaity Arlina, dkk. (2013). Perilaku Investor Keuangan. Medan: Usu
Press
Lubis, Tona Aurora. (2016). Manajemen Investasi dan Perilaku Keuangan.
Jambi: Salim Media Indonesia
Mahajan, J. (1992). The Overconfidence Effect in Marketing Management
Predictions. Journal of Marketing Research 29: 329 – 342.
Marsh B, A, (2008). Examaning the personal Finance Attitudes, Behaviour and
Knowledge levels Of first-year and senior student at Baptist University In
the State of Texas
Marsh, Brent A. (2006). Examining the personal finanial attitudes,behavior and
knowledge levels of first-year and senior students at Baptist Universities
in the State of Texas. Bowling Green State University.
Masuo, D. M, Malroutu, Y. L, Hanashiro, R. & Kim, J.H. (2004) “College
Students’ Money Beliefs and Behaviors: An Asian Perspective”. Journal
of Family and Economic Issues, 25(4).
Daftar Pustaka 155
Mien,Nguyen Thi Ngoc dan Thao,Tran Phuong. (2015). Factors Affecting
Personal Financial Management Behaviors: Evidence from Vietnam.
Proceedings of the Second Asia-Pacific Conference on Global Business,
Economics, Finance and Social Sciences (AP15 Vietnam Conference)
ISBN: 978-1-63415-833-6. 10-12 July, [Link]-Vietnam.
Mohammed, E dan Fatima, S, (2013). Financial Literacy, Personal Financial
Attitude, and Forms Of Personal Debt Among residents Of The UAE.
Munizu, Musran. (2010). Pengaruh Faktor-Faktor dan Internal Terhadap
Kinerja Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Sulawesi Selatan. Jurnal
Manajemen dan Kewirausahaan, Vol 12, No.1, Maret 2010:33-41.
Munizu, Musran. 2010. Pengaruh Faktor-Faktor Eksternal dan Internal
Terhadap Kinerja Usaha Mikro dan Kecil (UMK) di Sulawesi Selatan.
Jurnal Manajemen dan Kewirausahaan. Vol 12. No.1 Maret 2010
33-41
Ningsih, R. O. & Rita, M. R. (2010) “Financial Attitude dan Komunikasi
Keluarga Pengeluaran Uang Saku: Ditinjau Dari Perbedaan Gender”.
JMK, 8(2).
Permana, Andi. dkk. (2017). Effect Of Performance-Base Budgeting Good
Getting, Internal Control, And Reporting On Performance Accountability
Goverment West Lombok. International Conference And Call For
Papers. Jember.
Pompian, Michael. (2006). Behavioral Finance and Wealth Management.
United States of America : John Wiley & Sons, Inc.
Purwaningsih, R., & Kusuma, P. D. (2015). The Analysis of Factors Affecting
the Performance of Small and Medium Enterprises (SMEs) with the
Structural Equation Modeling Method (Case Study of SMEs based on
Creative Industries in Semarang). Prosiding SNST Fakultas Teknik, 1(1).
Puspitaningtyas, Zarah, (2017), “Efek Moderasi Kebijakan Dividen dalam
Pengaruh Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan Manufaktur”, Jurnal
Akuntansi, Ekonomi, dan Manajemen Bisnis Vol 5 No 2, hal 173-180.
Rabin, M (1998) Psychology and Economics Journal of Economic Literature,
36. 11 – 46.
156 Financial Behavior
Ramadhan, Muhammad Ilham. (2017). Analisis Financial Literacy, Financial
Behavior dan Financial Attitute Mahasiswa Strata 1 Fakultas Ekonomi
dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Skripsi : Universitas Sumatera
Utara, Medan.
Ramadhianisa, Amelia. (2017). Analisis Tingkat Financial Literacy dan
Financial Behavior Karyawan PT Telkom Semarang. Jurnal : Universitas
Islam Indonesia, Yogyakarta.
Ramiah; Zhao; Graham and Moosa. (2012). Behavioural Aspects of Working
Capital Managers. School of Economics, Finance and Marketing, RMIT
University, Australia.
Ricciardi, V. (2008). Risk: Traditional Finance Versus Behavioral Finance.
Ricciardi, V. (2000). “A Research Starting Point for a New Scholar: A Unique
Perspective of Behavioral Science.” Working Paper. Golden State
University.
Ricciardi, V. dan Simon, H.K. (2000). What is Behavioral Finance? Business,
Education and Technology Journal, pp. 1-9.
Riyanto, Bambang. (2011). Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan. Yogyakarta
: BPFE.
Rubin, J. (1989). Trends – The Dangers of Overconfidence, Technology Review
92: 11 – 12.
Schwartz,H. (1998). Rationality Gone Awry? Decision Making Inconsistent
With Economic and Financial Theory Westport – Connecticut,
Greenwood Publishing Group.
Shefrin, H. (2007). Behavioral Corporate Finance: Decision thar Create Value.
Mc Grwall-Hill/Irwin.
Sina, Peter Garlans. (2012). Analisis Literasi Ekonomi. Jurnal Ecnomia, volume
8, No.2, Oktober 2012.
Srimindarti, Ceacilia. (2004). Balanced Scorecard Sebagai Alternatif untuk
Mengukur Kinerja. Fokus Ekonomi. Vol. 3, No. 1, April.
Statman, M. (2014). Behavioral finance: Finance with normal people. Borsa
Istanbul Review, pp. 1-9 [Link]
Daftar Pustaka 157
Statman, Thorley and Vorkink. (2006). Investor Overconfidence and Trading
[Link] Review of Financial Studies, Vol. 19, No. 4, pp.1532-1565.
Sunariyah. (2011). Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, Edisi ke empat.
Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan AMP YKPN.
Suriani, Seri. Alam, Sayamsu. Nursyamsi, Idayanti & Nohong, Mursalim.
(2018). Moderasi Of Asimetri Informasi, Self Esteem Pada Hubungan
Budgetary Slack Terhadap Kinerja. Jurnal Riset Edisi XXVI. Vol 4, No.
003.
Suriani, Seri. Alam, Sayamsu & Nohong, Mursalim. (2017). Moderation Of
Information Asymmetry, Self Esteem To The Effect Of Participatory
Budgeting On Budgetary Slack. Advances in Economics, Business and
Management Research, volume 40. 2nd International Conference on
Accounting, Management, and Economics (ICAME 2017).
Sutrisno. (2012). Manajemen Keuangan Teori, Konsep dan Aplikasi.
Yogyakarta: EKONISIA.
Tandelilin, Eduardus. (2010). Portofolio dan Investasi Teori dan Aplikasi. Edisi
pertama. Yogyakarta : Kanisius
Tang, T. L. (1992) “The meaning of money revisited”. Journal of Organizational
Behavior, 13(2), 197-202.
Tatang Ary Gumanti, (2009). Behavior Finance: Suatu Telaah. Usahawan No.
01 TH XXXVIII 5-15.
Thaversky, A and Kahneman, D. (1974). Judgment Under Uncertainty:
Heuristics and Biases 3-20. Science New Series, Vol. 185. American
Association for the Advancement of Science.
Tim Penulis, (2017). Literasi Keuangan: Kumpulan Hasil Liputan Peserta
Banking Journalist Academy 2017, Edisi Pertama, Penerbit Sekolah
Jurnalisme AJI, Jakarta.
Varian, H.R. (1987). The Arbitrage Principle in Financial Economics. The
Journal Of Economic Perspectives. Vol. 1, No. 2, pp. 55-72.
Wibisono, H, C dan Budiono, T, (2014). Keterkaitan Financial Attitudes,
Financial Behaviour dan Financial Knowledge pada Mahasiswa Strata 1
Universitas atmajaya Yogyakarta.
158 Financial Behavior
Yohana, Indriani. (2010). “Pengaruh Kualitas Auditor, Corporate Governance,
Leverage dan Kinerja Keuangan terhadap Manajemen Laba pada
Perusahaan Perbankan yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI)”.
Skripsi S-1, Program Studi Akuntansi Universitas Diponegoro.
Yulistia, Rika. (2018). Faktor- faktor yang memengaruhi perilaku pengelolaan
keuangan keluarga di kabupaten tuban. Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi
Perbanas Surabaya.
Yuningsih. (2020). Perilaku Keuangan dalam Berinvestasi (Laboratorium
Experiment dan Field Experiment). Surabaya: Indomedia Pustaka.
Zakaria, R. H, Jaafar, N. I. M. & Marican, S. (2012) “Financial Behavior And
Financial Position: A Structural Equaling Modelling Approach”. Middle-
East Journal of Scientific Research, 11(5), 602-609.
Biodata Penulis
Dr. Seri Suriani, SE, [Link]., lahir di Paria Kec.
Majauleng pada tanggal 27 September 1972. Ia
menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar
Sarjana Manajemen Keuangan pada tanggal 16
Juni 1994. Ia merupakan alumnus Program Studi
Manajemen pada Universitas “45” Makassar.
Pada tahun 2004 mengikuti Program Magister
Manajemen Keuangan di Universitas
Hasanuddin Makassar dan lulus pada tanggal 23
Oktober 2006. Tahun 2014 Mengikuti program
Doktor dengan konsentrasi fiancial behavior di
Universitas Hasanuddin, berhasil menyelesaikannya pada tanggal 01 Oktober
2018. Pada akhir tahun 1999 diangkat menjadi Dosen Tetap di Universitas “45”
Makassar yang berubah nama Universitas Bosowa dan ditempatkan di Program
Studi [Link]
160 Financial Behavior