BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Tegangan
Tegangan (voltage) atau sering disebut sebagai beda potensial adalah kerja
yang dilakukan untuk menggerakkan muatan sebesar satu coulomb dari satu
terminal ke terminal lainnya. Atau, dengan, kata lain, jika suatu muatan sebesar satu
coulomb digerakkan atau dipindahkan, maka akan terdapat beda potensial pada
kedua terminalnya.
Kerja yang dilakukan sebenarnya adalah energi yang dikeluarkan. Jadi,
berdasarkan pengertian diatas, tegangan adalah energi per satuan muatan.
(Ramdhani, 2008 : 22).
Tegangan listrik dapat juga dianggap sebagai gaya yang mendorong
perpindahan elektron melalui konduktor dan semakin tinggi tegangannya semakin
besar pula kemampuannya untuk mendorong elektron melalui rangkaian yang
diberikan. Muatan listrik dapat kita analogikan sebagai air di dalam sebuah tangki
air, sedangkan Tegangan listrik dapat kita analogikan sebagai tekanan air pada
sebuah tangki air, semakin tinggi tangki air di atas outlet semakin besar tekanan air
karena lebih banyak energi yang dilepaskan. Demikian juga dengan tegangan
listrik, semakin tinggi tegangan listriknya maka semakin besar energi potensial
yang dikarenakan semakin banyak elektron yang dilepaskan.
Sebuah sumber tegangan listrik yang konstan biasanya disebut dengan
tegangan DC (tegangan searah) sedangkan sumber tegangan listrik yang bervariasi
secara berkala dengan waktu disebut dengan tegangan AC (tegangan bolak balik).
Tegangan listrik diukur dengan satuan Volt yang dilambangkan dengan simbol
huruf “V”. 1 Volt (satu Volt) dapat didefinisikan sebagai tekanan listrik yang
dibutuhkan untuk menggerakan 1 Ampere arus listrik melalui konduktor yang
beresistansi 1 Ohm.
Baterai dan pencatu daya (power supply) merupakan contoh sumber yang
menghasilkan tegangan DC (tegangan searah) yang stabil seperti menghasilkan
tegangan DC 1,5V, 3V, 5V, 9V, 12V dan 24V. Sementara sumber tegangan AC
5
6
Politeknik Negeri Sriwijaya
(tegangan bolak-balik) tersedia untuk keperluan peralatan rumah tangga dan
industri. Tegangan AC standar yang digunakan di Indonesia adalah 220V,
sedangkan di negara lain ada yang menggunakan 100V, 110V ataupun 220V.
2.1.1 Simbol Tegangan Listrik DC dan Simbol Tegangan Listrik AC
Rangkaian-rangkaian Elektronik pada umumnya beroperasi dengan
menggunakan tegangan DC yang rendah seperti 1,5V hingga 24V DC. Simbol
sumber tegangan DC pada rangkaian-rangkaian elektronik biasanya adalah simbol
baterai dengan tanda positif (+) dan tanda negatif (-) yang menunjukan arah
polaritasnya. Sedangkan simbol tegangan AC pada rangkaian listrik atau rangkaian
elektronik adalah sebuah lingkaran bulat dengan gelombang Sinus didalamnya.
Berikut dibawah ini adalah simbol tegangan DC dan simbol tegangan AC.
Gambar 2.1 Simbol Tegangan AC dan DC
(Dickson Kho, 2018)
2.2 Converter
Converter berfungsi untuk mengubah sinyal listrik dari satu bentuk ke
bentuk lain yang dibutuhkan. Terdapat empat macam konverter, yaitu:
1. Chopper (konverter DC ke DC)
2. Rectifier (konverter AC ke DC)
3. Inverter (konverter DC ke AC)
4. Cycloconverter (konverter AC ke AC)
Laporan Akhir
7
Politeknik Negeri Sriwijaya
1. Converter daya dari DC ke DC (Chopper)
Converter DC – DC juga dikenal sebagai dc chopper atau pensaklaran
regulator dan suatu rangkaian transistor chopper. Tegangan keluaran rata – rata
dikendalikan dengan mengubah – ubah conduction time t dan transistor Q1. Jika T
adalah periode chopping, maka t1 = δT. δ dikenal sebagai sebagai duty cycle dari
chopper-nya.
2. Converter dari AC ke DC (Rectifier)
Pengkonversi tegangan AC ke DC disebut juga sebagai rectifier atau
penyearah gelombang. Komponen utama dalam rectifier adalah diode yang
dikonfigurasikan secara forward bias. Dalam sebuah power supply tegangan AC
rendah, sebelum tegangan AC tersebut diubah menjadi tegangan DC, maka
tegangan AC tersebut perlu diturunkan menggunakan trafo step-down. Ada 3
bagian utama penyearah gelombang pada power supply, yaitu transformer, diode,
dan kapasitor. Penyearah gelombang ini dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Penyearah setengah gelombang (Half Wave Rectifier)
Rectifier ini menggunaka 1 buah komponen utama dalam
menyearahkan gelombang AC. Prinsip kerjanya adalah mengambil sisis
sinyal positif dari gelombang AC dari transformator. Pada saat
transformator memberikan outout sisi positif daari gelombang AC, maka
diode dalam keadaan forward bias sehingga sisi positif dari gelombang AC
tersebut dilewatkan dan pada saat transformator memberikan sinyal sisi
negative, gelombang AC maka diode dalam posisi reverse bias, sehingga
sisi negative tegangan AC tersebut ditahan atau tidak dilewatkan.
2. Penyearah Gelombang Penuh (Full Wave Rectifier)
Prinsip kerja dari penyearah gelombang penuh ini adalah
menggunakan 4 dioda. Pada saat output transformator memberikan level
tegangan sisi positif, maka D1,D4 pada posisi forward bias dan D2,D3 pada
posisi reverse bias. Kemudian paada saat output transformator memberikan
Laporan Akhir
8
Politeknik Negeri Sriwijaya
level tegangan sisi puncak negative, maka D2,D4 pada posisi forward bias
dan D1,D2 pada posisi reverse bias sehingga level tegangan sisi negative
tersebut dialirkan melalui D2,D4.
3. Converter daya dari DC ke AC (Inverter)
Converter DC – AC dikenal juga sebagai inverter. Jika transistor M1 dan
M2 tersambung pada setengah periode, dan M3 dan M4 tersambung pada setengah
periode lainnya, keluaran akan berbentuk tegangan ac. Tegangan keluaran dapat
dikendalikan dengan mengubah – ubah conduction time dari transistor.
4. Converter daya dari AC ke AC (Cycloconverter)
Converter ini digunakan untuk memperoleh tegangan keluaran ac variable
dari sumber ac tetap dan converter satu fasa dengan suatu TRIAC. Tegangan
keluaran dikendalikan dengan mengubah – ubah conduction time dari TRIAC atau
sudut delay penyalaan, α. Tipe converter ini dikenal juga sebagai controller
tegangan ac.
2.3 Load Break Switch (LBS)
Saklar pemutus beban atau Load Break Switch (LBS) merupakan saklar atau
pemutus arus tiga fasa untuk penempatan di luar ruas pada tiang pancang, yang
dikendalikan secara manual maupun secara elektronis. Load Break Switch (LBS)
mirip dengan alat pemutus tenaga (PMT) atau Circuit Breaker (CB) dan biasanya
dipasang dalam saluran distribusi listrik.
Load Break Switch (LBS) berfungsi sebagai peralatan hubung yang bekerja
membuka dan menutup rangkaian arus listrik, mempunyai kemampuan memutus
arus beban dan tidak mampu memutus arus gangguan. LBS juga berfungsi sebagai
pemutusan lokal atau penghubung instalasi listrik 20 kV pada saat dilakukan
perawatan jaringan distribusi pada daerah tertentu sehingga tidak mengganggu
daerah lain yang masih beroperasi.
Laporan Akhir
9
Politeknik Negeri Sriwijaya
Gambar 2.2 Load Break Swich (LBS)
(Swastika Mahardika, 2014)
Monitoring dan pengendaliannya menggunakan sistem SCADA
(Supervisory Control And Data Acquisition) dengan peralatan modul pengontrol
berupa RTU (Remote Terminal Unit). Basis komunikasi antara RTU pada panel
LBS dan ruang kontrol PLN secara umum terdiri dari dua jenis, yaitu GPRS dan
radio.
Sistem pengendalian elektronik Load Break Switch (LBS) ditempatkan pada
sebuah kotak pengendali yang terbuat dari baja anti karat sehingga dapat digunakan
dalam berbagai kondisi lingkungan. Panel pengendali atau kubikel LBS merupakan
alat yang mempermudah dalam proses pengoperasian LBS, serta harus rutin pada
pemeliharaannya.
Laporan Akhir
10
Politeknik Negeri Sriwijaya
Gambar 2.3 Kubikel/Panel pengendali Load break switch (LBS)
(Swastika Mahardika, 2014)
2.4 Transformator
Transformator atau trafo adalah suatu peralatan/mesin listrik statis (tidak
bergerak/berputar) yang dapat memindahkan sekaligus mengubah besaran energi
listrik dari satu rangkaian listrik ke rangkaian listrik lain. Proses pemindahan
dilakukan melalui suatu magnetic antara kedua rangkaian listrik yang
dihubungkan, sementara proses transformasi besarannya menggunakan prinsip
induksi elektromagnetik di dalam gandengan magnetic tersebut.
Transformator umumnya terbentuk dari dua kumparan induktif yang
terpisah/terisolasi satu sama lain secara elektris (agar tak terjadi aliran arus hubung
singkat antara keduanya) tetapi tergandeng secara magnetik melalui suatu
rangkaian magnetic (hantaran fluks dalam inti besi).
Gambar 2.4 Prinip Kerja transformaor
(Citarsa, 2012)
Laporan Akhir
11
Politeknik Negeri Sriwijaya
Transformator menggunakan prinsip hukum induksi faraday dan hukum
lorentz dalam menyalurkan daya, dimana arus bolak balik yang mengalir
mengelilingi suatu inti besi maka inti besi itu akan berubah menjadi magnet.
Apabila magnet tersebut dikelilingi oleh suatu belitan maka pada kedua ujung
belitan tersebut akan terjadi beda potensial. Arus yang mengalir pada belitan primer
akan menginduksi inti besi transformator sehingga didalam inti besi akan mengalir
flux magnet dan flux magnet ini akan menginduksi belitan sekunder sehingga pada
ujung belitan sekunder akan terdapat beda potensial. (PLN Buku Petunjuk
Transformator Tenaga, 2010). Ada beberapa jenis transformator berdasarkan
perubahan tegangannya yaitu sebagai berikut :
1. Tipe penaik tegangan (step-up)
Dilakukan dengan membuat N2 > N1, sehingga V2 akan > V1 (V =
tegangan kumparan) karena N2/N1 = V2/V1.
Gambar 2.5 Trafo step-up.
(Citarsa, 2012)
2. Tipe penurun tegangan (step-down)
Dilakukan dengan membuat N2 < N1, maka V2 akan < V1.
Gambar 2.6 Trafo step-down.
(Citarsa, 2012)
Laporan Akhir
12
Politeknik Negeri Sriwijaya
Keadaan operasi transformator dapat dibedakan menjadi 2, yaitu:
1. Keadaan transformator tanpa beban
Bila kumparan primer suatu trafo dihubungkan dengan sumber V1 yang
sinusoidal, akan mengalirkan arus primer I0 yang juga sinusoidal dan dengan
menganggap belitan N1 reaktif murni. I0 akan tertinggal 90° dari V1. Arus primer
I0 menimbulkan fluks (Փ) yang sefasa dan juga berbentuk sinusoidal. Rangkaian
trafo dalam keadaan tanpa beban dapat dilihat pada Gambar 2.2.c.
Gambar 2.7 Trafo dalam keadaan tanpa beban,
(Sujono, 2012)
2. Keadaan transformator berbeban
Apabila kumparan sekunder dihubungkan dengan beban ZL, I2 mengalir
𝑉
pada kumparan sekunder, dengan 𝐼 = 2. Rangkaian trafo dalam keadaan berbeban
dapat dilihat pada Gambar 2.22. Arus beban I2 ini akan menimbulkan gaya gerak
magnet (ggm) N2 I2 yang cenderung menentang fluks (Փ) bersama yang telah ada
akibat arus pemagnetan. Agar fluks bersama itu tidak berubah nilainya, pada
kumparan primer harus mengalir I2ˈ, yang menentang fluks yang dibangkitakan
oleh arus beban I2 hingga keseluruhan arus yang mengalir pada kumparan primer
Gambar 2.8 Trafo dalam keadaan berbeban
(Sujono, 2012)
Laporan Akhir
13
Politeknik Negeri Sriwijaya
2.5 Arduino
Arduino dirilis oleh Massimo Banzi dan David Cuartielles pada tahun
2005. Arduino merupakan sistem mikrokontroler yang relatif mudah dan cepat
dalam membuat aplikasi elektronika maupun robotika. Arduino terdiri dari
perangkat elektronik atau papan rangkaian elektronik open source yang di
dalamnya terdapat komponen utama yaitu sebuah chip mikrokontroler dengan jenis
AVR dari perusahaan ATmel. Arduino memiliki software dan hardware. Gambar
2.3 menunjukkan logo Arduino.
Gambar 2.9 Logo Arduino
(Mareta Rahayu, 2016)
2.5.1 Programming Arduino
Arduino uno dapat diprogram menggunakan software arduino IDE yang
tersedia gratis dan open source di website official arduino dan tersedia untuk
berbagai macam platform sistem operasi komputer seperti Mac, Windows, dan
Linux. Pada AT-Mega 328 yang terdapat di arduino uno telah disediakan
bootloader di dalamnya sehingga kita tidak perlu lagi mengupload kode baru ke
AT-mega 328 agar dapat menggunakan program hardware eksternal.
Laporan Akhir
14
Politeknik Negeri Sriwijaya
Gambar 2.10 Software Arduino IDE
(Mada Sanjaya, 2016)
2.5.2 Hardware
Komponen utama di dalam papan Arduino adalah sebuah mikrokontroler 8
bit dengan merk Atmega yang dibuat oleh perusahaan Atmel Corporation. Berbagai
papan Arduino menggunakan tipe Atmega yang berbeda-beda tergantung dari
spesifikasinya, sebagai contoh Arduino Uno menggunakan Atmega328 sedangkan
Arduino Mega 2560 yang lebih canggih menggunakan Atmega2560. (Mada
Sanjaya, 2016 : 39)
Tabel 2.1 Beberapa Jenis Arduino
Analog PWM
Frekuensi Digital
No Jenis Arduino Processor Input
(MHz) IO Pin Pin Pin
1 ADK ATmega 2560 16 54 16 14
2 BT (Bluetooth) ATmega 328 16 14 6 4
3 Diecimila ATmega 168 16 14 6 6
4 Due AT91S AM 84 54 12 12
5 Duemilanova ATmega168/328P 16 14 6 6
6 Ethernet ATmega 328 16 14 6 3
7 Fio ATmega328P 8 14 8 6
8 Leonardo ATmega32u4 16 14 12 6
ATmega 168v
9 LilyPad atau ATmega 8 14 6 6
328
Laporan Akhir
15
Politeknik Negeri Sriwijaya
10 Mega ATmega 1280 16 54 16 14
11 Mega 2560 ATmega 2560 16 54 16 14
ATmega 168 atau
12 Nano 16 14 8 6
ATmega 328
13 Uno ATmega 328P 16 14 6 6
14 Micro ATmega 32u4 16 20 12 7
Arduino Uno dapat ditenagai dengan supply yang diperoleh dari koneksi
kabel USB, atau via eksternal dengan tegangan berkisar 7 Volt hingga 12 Volt.
Gambar 2.2 menunjukkan bentuk fisik dari arduino uno.
Gambar 2.11 Arduino Uno
(Raharja,2014)
Salah satu jenis mikrokontroler yaitu Arduino Uno. Arduino Uno merupakan
salah satu jenis arduino dengan menggunakan IC Atmega328. Arduino memiliki
pin I/O sejumlah 14 buah digital I/O pin dan 6 pin analog input. Arduino Uno
dilengkapi dengan sebuah oscillator 16 Mhz, sebuah port USB, power jack DC,
ICSP header, dan tombol reset. Board ini sudah cukup lengkap, dan hampir
memiliki segala sesuatu yang dibuthkan untuk sebuah mikrokontroler. Dengan
penggunaan yang cukup sederhana, anda tinggal menghubungkan catudaya dari
USB ke PC anda atau melalui adaptor AC/DC ke jack DC. (Ilearning Media. 2015)
Laporan Akhir
16
Politeknik Negeri Sriwijaya
Arduino Uno terbentuk dari prosessor yang dikenal dengan Mikrokontroler
ATmega 328. Mikrokontroler ATmega 328 memiliki beberapa fitur atau spesifikasi
yang menjadikannya sebagai solusi pengendali yang efektif untuk berbagai
keperluan. Fitur-fitur tersebut antara lain :
Tegangan operasi sebesar 5 V.
Tegangan input sebesar 6 – 20 V.
Tegangan input yang disarankan 7 – 12 V.
Jumlah pin I/O digital sebanyak 14 pin dimana 6 pin diantaranya merupakan
keluaran dari PWM.
Jumlah pin I/O analog sebanyak 6 pin.
Arus DC tiap pin I/O sebesar 40 mA.
Arus DC untuk pin 3.3 V sebesar 50 mA.
Flash memory sebesar 32 Kb dan sekitar 0,5 Kb digunakan oleh bootloader.
SRAM 2 Kb.
EEPROM 1 Kb.
Kecepatan clock sebesar 16 MHz.
Berikut ini adalah bagian-bagian dari Arduino Uno yang ditunjukkan pada
gambar 2.3 dan dijelaskan pada tabel 2.1.
Gambar 2.12 Bagian-bagian Arduino Uno
(Data sheet Arduino Atmega328,2017)
Laporan Akhir
17
Politeknik Negeri Sriwijaya
Tabel 2.2 Penjelasan Bagian-bagian Arduino Uno
NO Nama Deskripsi
1. USB FemaleType-B Sebagai sumber DC 5V sekaligus untuk jalur
pemrograman antara PC dan arduino
2. BarrelJack Sebagai input sumber antara 7-12V
3 Pin GND Sebagai sumber pentanahan (Ground)
4 Pin 5V Sebagai Sumber tegangan 5V
5 Pin 3,3V Sebagai Sumber tegangan 3,3V
6 A0-A5 Sebagai AnalogInput
7 2-13 Sebagai I/O digital
8. 0-1 Sebagai I/O sekaligus bisa juga sebagai Rx Tx
9. AREF Sebagai Analog Referensi untuk fungsi ADC
10. Tombol RESET Sebagai perintah ResetArduino
11. LED Sebagai Indikator Daya
12. LED Rx Tx Sebagai Indikator Rx Tx saat pengisian program
13. Mikrokontroler Sebagai otak arduino dengan menggunakan
mikrokontroler AVR Atmega328
14. Regulator Tegangan Berfungsi sebagai pembatas atau penurun
tegangan yang masuk melalui barreljack dengan
tegangan maksimul input sebesar 20V.
Laporan Akhir
18
Politeknik Negeri Sriwijaya
2.6 Sensor Arus ACS 712
Sensor ACS 712 merupakan sensor pendeteksi arus yang paling sering
digunakan untuk mengerjakan project yang diinginkan dan berhubungan dengan
pembacaan arus. Penggunaan sensor arus ACS712 ini Kebanyakan memiliki
kekurangan yakni nilai arus yang di dapatkan dari sensor tidak linear sehingga
terkadang kita membutuhkan tingkat linear yang lebih tinggi. Sebelum membahas
lebih lanjut, akan di jelaskan terlebih dahulu tentang sensor arus ACS712. ACS712
ini memiliki tipe variasi sesuai dengan arus maksimal yakni 5A, 20A, 30A. ACS712
ini menggunakan VCC 5V.
Gambar 2.13 Sensor ACS 712
(Jimmy Sitepu, 2019)
Tabel 2.3 Spesifikasi ACS712
ACS712 5A ACS712 20A ACS712 30A
5Vdc Nominal 5Vdc Nominal 5Vdc Nominal
-5 to +5 Amps -20 to +20 Amps -30 to +30 Amps
VCC/2 VCC/2 VCC/2
(nominally (nominally (nominally
2.5Vdc) 2.5Vdc) 2.5VDC)
185 mV per Amp 100 mV per Amp 66 mV per Amp
ACS712ELC-05A ACS712ELC-10A ACS712ELC-30A
Laporan Akhir
19
Politeknik Negeri Sriwijaya
Sensor arus ini memiliki ouput analog, sehingga jika kita ingin membacanya
dengan menggunakan mikrokontroller atau arduino, cukup kita baca output nya
melalui pin ADC, jika Arduino menggunakan pin A0 ( atau pin A yang lainnya).
2.7 Sensor Tegangan ZMPT101B
Sensor ZMPT101b merupakan salah satu sensor yang digunakan untuk
melakukan monitoring terhadap parameter tegangan, serta dilengkapi dengan ke
unggulan memiliki sebuah ultra micro voltage transformer, akurasi tinggi dan
konsistensi yang baik untuk melakukan pengukuran tegangan dan daya.
Beberapa hal yang dapat dilakukan dengan menggunakan sensor tegangan
ZMPT101b ini diantaranya adalah:
1. Sebagai sensor untuk mendeteksi arus lebih.
2. Sebagai ground fault detection.
3. Pengukuran besaran listrik.
4. Sebagai perangkat untuk analog to digital converter.
Gambar 2.14 Sensor Tegangan ZMPT101b
(Agus Firdaus, 2017)
Laporan Akhir
20
Politeknik Negeri Sriwijaya
Tabel 2.4 Spesifikasi Elektrik ZMPT101b
Spesifikasi Elektrik
Arus Primer 2mA
Arus Sekunder 2mA
Rasio Balik 1000:1000
Error Sudut Fasa ≤20° (50Ω)
Jarak Arus 0-3mA
Linearitas 0.1%
Tingkat Akurasi 0.2
Nilai Beban ≤200Ω
Range Frekuensi 50-60 Hz
Level Dielektrik 3000VAC/min
Resistansi DC 20°C 110Ω
2.8 Relay
Relay merupakan bentuk hambatan terdiri atas titik-titik kontak bawah
dengan gulungan spool-nya tidak bergerak dan titik kontak bagian atas yang
bergerak. Prinsip kerja hambatan adalah menghubungkan titik-titik kontak bagian
bawah dengan titik bagian atas yaitu terletak gulungan spool dialiri arus listrik
yang timbul elektromagnet. (Handy Wicaksono,1996 : 12).
Secara sederhana relay elektromekanis ini didefinisikan sebagai berikut:
1. Alat yang menggunakan gaya elektromagnetik untuk menutup (atau
membuka) kontak saklar.
2. Saklar yang digerakkan (secara mekanis) oleh daya/energi listrik.
Dibawah ini adalah gambar fisik, bentuk dan Simbol Relay yang sering
ditemukan di Rangkaian Elektronika.
Laporan Akhir
21
Politeknik Negeri Sriwijaya
Gambar 2.15 Bentuk dan Simbol Relay
(Dickson Kho, 2019)
Bagian titik kontak dibagi menjadi 2 bagian yaitu bagian kontak utama dan
kontak bantu yaitu: Bagian kontak utama gunanya untuk menghubungkan dan
memutuskan arus listrik bagian yang menuju beban/[Link] kontak bantu
gunanya untuk menghubungkan dan memutuskan arus listrik ke bagian yang
menuju bagian pengendali. Kontak Bantu mempunyai 2 kontak yaitu kontak
hubung (NC) dan kontak putus (NO) menandakan masing-masing kontak dan
gulungan [Link] umum, relay digunakan untuk memenuhi fungsi–fungsi
berikut :
1. Remote control: dapat menyalakan atau mematikan alat dari jarak jauh.
2. Penguatan daya: menguatkan arus atau tegangan.
3. Pengatur logika kontrol suatu sistem. Susunan kontak pada relay adalah:
a. Normally Open: Relay akan menutup bila dialiri arus listrik.
b. Normally Close: Relay akan membuka bila dialiri arus listrik.
4. Changeover: Relay ini memiliki kontak tengah yang akan melepaskan
diri dan membuat kontak lainnya berhubungan.
Pada dasarnya, Relay terdiri dari 4 komponen dasar yaitu :
1. Electromagnet (Coil)
2. Armature
3. Switch Contact Point (Saklar)
4. Spring
Laporan Akhir
22
Politeknik Negeri Sriwijaya
2.9 Accumulator (Aki)
Accumulator adalah sebuah sel listrik dimana didalamnya berlangsung
proses elektrokimia yang reversibel (dapat berbalikan) dengan efisiensinya yang
tinggi. Yang dimaksud dengan proses eltrokimia reversibel, adalah didalam baterai
dapat berlangsung proses pengubahan menjadi tenaga listrik (pengosongan) dan
sebaliknya dari tenaga listrik menjadi tenaga kimia (pengisian kembali dengan cara
regenerasi dari elektroda-eletroda yang dipakai, yaitu dengan melewatkan arus
listrik dalam arah (polaritas) yang berlawanan didalam sel
Tiap sel baterai ini terdiri dari dua macam elektroda yang berlainan, yaitu
elektroda positif dan elektroda negatif yang dicelupkan dalam suatu larutan kimia.
(Daryanto, 2016 : 1)
Baterai terdiri dari dua jenis yaitu, baterai primer dan baterai sekunder.
Baterai primer merupakan baterai yang hanya dapat dipergunakan sekali pemakaian
saja dan tidak dapat diisi ulang. Hal ini terjadi karena reaksi kimia material aktifnya
tidak dapat dikembalikan. Sedangkan baterai sekunder dapat diisi ulang, karena
material aktifnya didalam dapat diputar kembali. Kelebihan dari pada baterai
sekunder adalah harganya lebih efisien untuk penggunaan jangka waktu yang
panjang.
2.9.1 Kapasitas Baterai
Kapasitas baterai merupakan kemampuan baterai menyimpan daya listrik
atau besarnya energi yang dapat disimpan dan dikeluarkan oleh baterai. Besarnya
kapasitas, tergantung dari banyaknya bahan aktif pada plat positif maupun plat
negatif yang bereaksi, dipengaruhi oleh jumlah plat tiap-tiap sel, ukuran, dan tebal
plat, kualitas elektrolit serta umur baterai. Kapasitas energi suatu baterai dinyatakan
dalam ampere jam (Ah), misalkan kapasitas baterai 100 Ah 12 volt artinya secara
ideal arus yang dapat dikeluarkan sebesar 5 ampere selama 20 jam pemakaian.
Besar kecilnya tegangan baterai ditentukan oleh besar / banyak sedikitnya
sel baterai yang ada di dalamnya. Sekalipun demikian, arus hanya akan mengalir
bila ada konduktor dan beban yang dihubungkan ke baterai. Kapasitas baterai juga
Laporan Akhir
23
Politeknik Negeri Sriwijaya
menunjukan kemampuan baterai untuk mengeluarkan arus (discharging) selama
waktu tertentu, dinyatakan dalam Ah (Ampere – hour). Berarti sebuah baterai dapat
memberikan arus yang kecil untuk waktu yang lama atau arus yang besar untuk
waktu yang pendek. Pada saat baterai diisi (charging), terjadilah penimbunan
muatan listrik. Jumlah maksimum muatan listrik yang dapat ditampung oleh baterai
disebut kapasitas baterai dan dinyatakan dalam ampere jam (Ampere - hour),
muatan inilah yang akan dikeluarkan untuk menyuplai beban ke pelanggan.
Kapasitas baterai dapat dinyatakan dengan persamaan :
2.9.2 Konstruksi Baterai Aki
Aki yang ada dipasaran ada 2 jenis yaitu aki basah dan aki kering. Aki basah
media penyimpanan arus listrik ini merupakan jenis aki yang paling umum
digunakan. Aki jenis ini masih perlu diberi air aki yang dikenal accu zuur.
Gambar 2.16 Konstruksi aki
(Eprints Universitas Diponegoro, 2016)
Sedangkan jenis aki kering merupakan jenis aki yang tidak memakai cairan,
mirip seperti baterai telepon seluler. Aki ini tahan terhadap getaran dan suhu rendah.
Dalam aki ini terdapat jenis elemen dan sel untuk menyimpan arus yang
mengandung asam sulfat (H2SO4). Tiap sel berisikan pelat positif dan negatif. Pada
pelat positif terkandung oksidal timbal coklat (PbO2), sedangkan pelat negatif
mengandung timbal (Pb). Pelat-pelat ditempatkan pada batang penghubung.
Pemisah atau separator menjadi isolasi diantara pelat itu, dibuat agar baterai acid
mudah beredar disekeliling pelat. Bila ketiga unsur kimia ini berinteraksi, maka
akan muncullah arus listrik.
Laporan Akhir
24
Politeknik Negeri Sriwijaya
Aki memiliki 2 kutub / terminal, kutub positif dan kutub negatif. Biasanya
kutub positif (+) lebih besar atau lebih tebal dari kutub negatif (-), untuk
menghindarkan kelalaian bila aki hendak dihubungkan dengan kabel-kabelnya.
Pada aki terdapat batas minimum dan maksimum tinggi permukaan air aki untuk
masing-masing sel. Bila permukaan air aki di bawah level minimum akan merusak
fungsi sel aki. Jika air aki melebihi level maksimum, maka akan mengakibatkan air
aki menjadi panas dan meluap keluar melalui tutup sel.
2.9.3 Charger Aki
Cara kerja charger aki atau adaptor atau power suplai adalah dengan merubah
arus listrik bolak-balik dari PLN sebesar 220v untuk dirubah menjadi listrik arus
DC dengan tegangan yang telah ditentukan sehingga bisa di gunakan untuk charger
accu. Didalam Alat Charger aki terdapat komponen utama yaitu Trafo atau
transformator yang berfungsi untuk menurunkan tegangan listrik PLN serta
penyearah atau rectifier atau disebut juga dioda rectifier/kiprox.
Gambar dibawah ini adalah gambar rangkaian sederhana alat untuk charger aki
yang menggunakan trafo jenis CT atau trafo yang memiliki titik Tengah (Center
Tap). Gambar rangkaian nya cukup sederhana hanya diperlukan beberapa
komponen saja sudah bisa digunakan untuk charging atau setrum aki.
Gambar 2.17 Charger aki dengan trafo CT
(Gusta, 2016)
Laporan Akhir
25
Politeknik Negeri Sriwijaya
Fungsi trafo adalah untuk menurunkan tegangan listrik PLN 220 Volt
menjadi sekitar 12-15 volt sesuai yang di butuhkan. Sedangkan Fungsi Dioda atau
rectifier adalah untuk menyearahkan tegangan yang sudah diturunkan oleh trafo
sehingga bisa digunakan untuk carger aki.
Pada sebuah Alat untuk charger Aki kalaupun terdapat saklar atau selektor
adalah untuk memilih tegangan sesuai dengan banyaknya aki yang dicharger.
Terdapat alat ukur arus atau Amperemeter untuk menunjukan besarnya arus
pengisian aki, terdapat pula Volt meter yang merupakan alat untuk mengukur
tegangan.
2.10 Liquid Crystal Display (LCD)
Liquid Crystal Display atau LCD adalah alat tampilan yang biasa digunakan
untuk menampikan karakter ASCII sederhana, dan gambar pada alat- alat digital
seperti ja tangan, kalkulator dan lain- lain (Syamsudin, 2008). LCD merupakan
sebuah modul yang digunakan untuk menampilkan data. Salah satu jenis LCD
adalah LM004L merupakan modul LCD dengan tampilan 20x4 (20 kolom x 4 baris)
dengan konsumsi daya rendah. Modul LCD terdiri dari sejumla memori untuk
menampilkan teks ke modul LCD (Syarif, 2005). Alamat awal karakter adalah 00H
dan alamat akhir adalah 39H untuk baris pertama. Jadi, alamat awal pada baris
kedua dimulai dari 40H. jika ingin meletakkan suatu karakter pada baris kedua
kolom pertama, maka harus diatur pada alamat 40H. jadi meskipun LCD ya ng
digunakan 2x16 atau 2x24 atau bahkan 2x40, maka penulisan programnya
sama saja. Bentuk fisik dari LCD akan tampak seperti pada Gambar 2.2.
Gambar 2.18 Modul LCD Karakter 4x20
(Muhamad Syefudin, 2018)
Laporan Akhir
26
Politeknik Negeri Sriwijaya
Keterangan pin pada modul LCD 4 x20 dapat dilihat pada Tabel 2.5
berikut ini.
Tabel 2.5 Pin dan Fungsi LCD 4x20
PIN Nama Level Fungsi
1 Vss 0V Ground
2 Vdd 5V Supple Voltage for logic
3 V0 (Variabel) Operating voltage for LCD
4 RS H/L H: Data, L: Instruction Code
H: Read (MP U->Module), L: White (MPU-
5 R/W H/L
>Module)
6 E H,H>L Chipe enable signal
7 DB0 H/L Data bit 0
8 DB1 H/L Data bit 1
9 DB2 H/L Data bit2
10 DB3 H/L Data bit3
11 DB4 H/L Data bit4
12 DB5 H/L Data bit5
13 DB6 H/L Data bit6
14 DB7 H/L Data bit7
15 LED+ - Anode of Led Backlight
16 LED- - Cathode of Led Backlight
Laporan Akhir